9 November 2004

Masalah Besar Kepolisian dan Penegakan Hukum

Posted under: at 02:38

Saya dapat informasi ini dari blog-nya Benny. Kompas online edisi 7 November 2004 kali ini memuat Surat Pembaca yang isinya berhubungan dengan kepolisian.

Kasus-kasus yang diangkat dalam surat pembaca tersebut sungguh memalukan. Saya tidak akan kutip disini, silakan anda baca sendiri. Yang paling memalukan adalah pelecehan seksual yang dilakukan aparat kepolisian kepada dua orang warga negara Australia.

Kebetulan, saya sendiri pernah melakukan ‘pelanggaran’ yang kemungkinan sama dengan yang dilakukan oleh kedua orang warga negara Australia tersebut. Waktu itu saya dan istri meluncur dari Semanggi ke arah Fatmawati. Hanya saja saya salah mengambil lajur, sehingga terpaksa harus belok kiri ke jalan Melawai. Saya pikir saya bisa berputar untuk selanjutnya belok kiri ke Fatmawati. Ternyata saya tidak tahu kalau arah yang berlawanan adalah lajur khusus bus. Sama sekali tidak ada rambu-rambu yang mengatakan demikian. Yang ada hanyalah aparat kepolisian yang sudah menunggu di perempatan Fatmawati-Melawai. Aparat itu kemudian membawa saya ke posnya di jalan Bulungan.

Di sana, aparat tersebut ‘mengancam’ untuk menilang saya. Saya bilang kalau begitu prosedurnya silakan lakukan saja. Tetapi aparat tersebut terus menerus mengeluarkan ancamannya. Jawaban saya dan istri saya tetap sama. Di sela-sela ‘percakapan’ tersebut, ‘beliau’ ini sempat mengobrol, misalnya dengan memberi tahu kalau sekarang aturan 3-in-1 sudah berbeda, dan sempat pula memberitahukan jumlah pelanggaran yang sudah terjadi. Saya mendapat kesan ‘beliau’ ini sok baik, dan tentunya saya sudah tahu maksudnya, apa lagi kalau bukan menunggu saya mengeluarkan uang? Sewaktu saya mengeluarkan SIM saya, tentunya dia sudah melihat dompet saya saat itu kebetulan sedang lumayan tebal.

Melihat kami tetap bersikukuh dan pura-pura tidak mengerti maksudnya apa, aparat ini kemudian memisahkan saya dengan istri saya. Mungkin ‘beliau’ melihat istri saya lebih banyak menjawab, sedangkan saya orangnya jauh lebih ‘pendiam’ :). Tentunya walaupun saya diam, saya juga tidak terpengaruh. Akhirnya beliau dengan amat sangat terpaksa mengeluarkan surat tilangnya “Kalau gitu saya tilang saja ya”. Jawaban saya tetap sama “Kalau begitu prosedurnya ya silakan saja”. Sebelum menandatangani surat tilangnya pun, beliau ini masih saja menanyakan hal yang sama. :)

Setelah selesai urusan dengan aparat tersebut yang memakan waktu kurang lebih 30 menit, kami meluncur ke arah tempat kami berputar. Kami juga menyempatkan diri untuk mengambil gambar, dengan harapan jika ada kesempatan kami akan gunakan gambar itu sebagai bukti di pengadilan. Setelah melewati jalan tersebut, kami melihat jika rambu larangan tersebut hanya ada di ujung jalan.

Beberapa hari kemudian, kami mendatangi kantor pengadilan di jalan Ampera Raya. Kami datang pagi-pagi tetapi ternyata tempat parkir pengadilan sangat tidak memadai. Hampir saja kami tidak mendapatkan tempat. Setelah masuk ternyata ruang pengadilan sangatlah tidak layak untuk dikatakan sebagai ruang pengadilan. Ruangan tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang sama nasibnya seperti kami. Untuk masuk saja sangat sulit karena sangat berdesak-desakan. Tempat duduk yang tersedia tidak cukup, hampir seluruh ‘pengunjung’ berdiri di dalam ruangan tersebut.

Urusan kami di pengadilan selesai dalam waktu tidak kurang dari empat jam, padahal denda yang harus kami bayarkan tidak lebih dari 50 ribu rupiah. Setelah melihat kondisi demikian, saya pikir wajar saja kalau para pelanggar lebih suka membayar polisi daripada harus menunggu lama di pengadilan. Bukti-bukti yang kami bawa pun tidak sempat kami gunakan, bahkan kami sama sekali tidak mengajukan keberatan kepada hakim karena kasihan melihat masih banyak orang-orang lain yang menunggu gilirannya.

Ini masalah besar penegakan hukum di Indonesia. Proses peradilan harus dibenahi. Istri saya yang sering bepergian ke Amerika Serikat melihat perbedaan yang sangat jauh sekali. Di Amerika, pembayaran denda dapat dilakukan melalui bank, sedangkan pengadilan baru dilakukan jika ada gugatan balik. Di Indonesia, ada dua cara pembayaran: menyogok aparat polisi atau lama berdesak-desakan di pengadilan. Orang yang idealis sekalipun akan memilih menyogok aparat daripada harus berdesak-desakan di ruang pengadilan yang penuh sesak. Bukti-bukti yang kami bawa pun tidak dapat dijadikan masukan positif bagi pihak kepolisian untuk memperbaiki layanannya (misalnya dengan memasang rambu tambahan).

15 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!