<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menyoal Moralitas Aksi e-Ganyang</title>
	<atom:link href="http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/</link>
	<description>Changing the world, one person at a time...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 14:44:01 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
	<item>
		<title>By: blowing with the blog  ::  :: March :: 2005</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-14902</link>
		<dc:creator>blowing with the blog  ::  :: March :: 2005</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2005 21:33:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-14902</guid>
		<description>[...] anent Link: &quot;&gt;  Filed under: Uncategorized          	Membaca postingan Priyadi tentang Menyoal Moralitas Aksi e-Ganyang yang berlangsung di dunia cyber, membua [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] anent Link: &#8220;&gt;  Filed under: Uncategorized          	Membaca postingan Priyadi tentang Menyoal Moralitas Aksi e-Ganyang yang berlangsung di dunia cyber, membua [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-11961</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2005 11:18:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-11961</guid>
		<description>#40: ini salah satu yang saya takutkan, nasionalisme dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang secara etika tidak dapat dibenarkan.

&lt;blockquote&gt;
cuma defacing website mereka kok dipermasalahkan. saya juga nggak tahu, apakah itu melanggar peraturan di Indonesia, wong website temen gua pernah dideface dan orang yg ngedeface kagak diapa2in kok.
&lt;/blockquote&gt;

wah mengerikan sekali kalau ketertiban masyarakat hanya mengandalkan kontrol hukum semata. mungkin kasus deface belum baik proses penyelesaiannya secara hukum, tapi apakah secara moral dibenarkan? tentu tidak.

mengenai legalitas deface, itu tidak legal di Indonesia, sudah ada beberapa kasus deface yang pelakunya ditangkap dan dijatuhi hukuman. kalau dompet anda dicopet, tapi si pelaku tidak pernah kena hukum, apakah pencopetan bisa dibenarkan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#40: ini salah satu yang saya takutkan, nasionalisme dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang secara etika tidak dapat dibenarkan.</p>
<blockquote><p>
cuma defacing website mereka kok dipermasalahkan. saya juga nggak tahu, apakah itu melanggar peraturan di Indonesia, wong website temen gua pernah dideface dan orang yg ngedeface kagak diapa2in kok.
</p></blockquote>
<p>wah mengerikan sekali kalau ketertiban masyarakat hanya mengandalkan kontrol hukum semata. mungkin kasus deface belum baik proses penyelesaiannya secara hukum, tapi apakah secara moral dibenarkan? tentu tidak.</p>
<p>mengenai legalitas deface, itu tidak legal di Indonesia, sudah ada beberapa kasus deface yang pelakunya ditangkap dan dijatuhi hukuman. kalau dompet anda dicopet, tapi si pelaku tidak pernah kena hukum, apakah pencopetan bisa dibenarkan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-11952</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2005 09:15:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-11952</guid>
		<description>Udah lah, kan enak ngelihat org Indonesia punya nasionalisme yg tinggi, ini kan udah jarang jaman sekarang. Wong ini-pun cuma di dunia maya, kenyataanya gak perang tuh. Kita ini bangsa yg lapar, klo gua, harus ada pelampiasan dong, ngerusak properti fisik Malaysia aja kagak, cuma defacing website mereka kok dipermasalahkan. saya juga nggak tahu, apakah itu melanggar peraturan di Indonesia, wong website temen gua pernah dideface dan orang yg ngedeface kagak diapa2in kok. 

Untuk Datuk Priyadi yang gak bisa membedakan dunia nyata dengan dunia maya. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Udah lah, kan enak ngelihat org Indonesia punya nasionalisme yg tinggi, ini kan udah jarang jaman sekarang. Wong ini-pun cuma di dunia maya, kenyataanya gak perang tuh. Kita ini bangsa yg lapar, klo gua, harus ada pelampiasan dong, ngerusak properti fisik Malaysia aja kagak, cuma defacing website mereka kok dipermasalahkan. saya juga nggak tahu, apakah itu melanggar peraturan di Indonesia, wong website temen gua pernah dideface dan orang yg ngedeface kagak diapa2in kok. </p>
<p>Untuk Datuk Priyadi yang gak bisa membedakan dunia nyata dengan dunia maya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tuxkeren</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-9799</link>
		<dc:creator>Tuxkeren</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2005 11:04:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-9799</guid>
		<description>Kalo menurut gw, aksi-aksi seperti itu tak perlu lah.
yang ada merugikan pihak-pihak lain yang tidak bersalah, pihak IT apa bersalah menyangkut masalah ini? tidak kan? 

Aksi ini terlalu melebih-lebihkan. Jika ambalat di rebut. wajarkan, toh selamat ini pemerintah indonesia tidak pernah memperhatikan ambalat serta pulau-pulau terluar dari wilayah indonesia.

Satu lagi, jika di tanya kepada warga-warga yang hidup di perbatasan Indonesia dan malaysia. meraka akan memilih kemana jika di beri pilihan. ikut malaysia ato indonesia? gw yakin dan percaya mereka akan memilih Malaysia. Indonesia ? apa yang bisa mereka andalkan dari Indonesia? tak ada...

Kecuali bagi mereka yang tinggal di Jakarta. Tak usah jauh-jauh, Internetnya aja masih kelelet, klo mo yang cepet mahalnya setengah hidup Uuuuuu..... nggak ada yang bisa di andalin.:(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo menurut gw, aksi-aksi seperti itu tak perlu lah.<br />
yang ada merugikan pihak-pihak lain yang tidak bersalah, pihak IT apa bersalah menyangkut masalah ini? tidak kan? </p>
<p>Aksi ini terlalu melebih-lebihkan. Jika ambalat di rebut. wajarkan, toh selamat ini pemerintah indonesia tidak pernah memperhatikan ambalat serta pulau-pulau terluar dari wilayah indonesia.</p>
<p>Satu lagi, jika di tanya kepada warga-warga yang hidup di perbatasan Indonesia dan malaysia. meraka akan memilih kemana jika di beri pilihan. ikut malaysia ato indonesia? gw yakin dan percaya mereka akan memilih Malaysia. Indonesia ? apa yang bisa mereka andalkan dari Indonesia? tak ada&#8230;</p>
<p>Kecuali bagi mereka yang tinggal di Jakarta. Tak usah jauh-jauh, Internetnya aja masih kelelet, klo mo yang cepet mahalnya setengah hidup Uuuuuu&#8230;.. nggak ada yang bisa di andalin.:(</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: IMW</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8590</link>
		<dc:creator>IMW</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Mar 2005 12:22:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8590</guid>
		<description>Sorry baru nanggepin sekarang, btw abis ini saya ndak nangepin lagi (karena kesibukan di darat).  Ada beberapa hal yang perlu diluruskan :

#21 : memang situasi saat ini belum dinyatakan sebagai situasi perang militer.  Tetapi perang dalam bentuk lainnya telah terjadi (perang informasi, via media massa, perang pembentukan opini).  Saya menyebutkan dalam istilah situasi konflik, kalau istilah perang dikaitkan dengan konflik militer. Kejadian ini selalu berulang dan sering kita mengabaikan kenyataan telah terjadinya perang dalam bentuk non militer ini. 

Justru itu tindakan &quot;apapun&quot; dan dianggap apapun, dalam situasi ini harus dikontrol sehingga memberikan nilai positif di dalam pemecahan masalah.  Dengan mengabaikan bahwa suatu tindakan itu memiliki nilai positif (bukan berarti diharapkan untuk selalu dilakukan), maka kita mengurangi peranan suatu tindakan (yg telah terjadi, dan sering diluar kontrol siapapun), di dalam pemecahan situasi konflik.

Jadi terlepas apakah tindakan itu disebut &quot;moral&quot; atau &quot;amoral&quot; (saya tidak pernah memberikan komentar apakah tindakan itu tergolong amoral atau tidak, benar atau salah).  Tetapi saya lebih mencoba melihat tindakan tersebut di dalam masalah ini memberikan kontribusi pengaruh apa (baik dan buruk). Jadi saya lebih fokus bagaimana mengontrol dampak dari aksi tersebut.

#22 : Ada tindakan yang tidak didorong motif baik (bahkan cenderung hanya vandalis, menguntungkan diri sendiri), bila dikontrol bisa mendorong kejadian yang baik.  Dikontrol ini dalam arti yang luas, (media massa, klasifikasi tindakan dsb). Ini yang seperti saya sebutkan di dalam dunia intelijen disebut Active Measure. Si pelaku tindakan sendiri tidak sadar apa motiv sebetulnya (atau dampak secara luas) dari tindakannya. Si pelaku hanya peduli dengan motif pribadinya.

#23 : Sebetulnya saya tidak menghubungkan apakah tindakan defacement ini nasionalis atau tidak. Sebab terkadang seseorang melakukan suatu tindakan pada suatu saat (dengan dorongan dia yg mau enaknya saja, bukan karena sesuatu positif), tapi ternyata di masa mendatang atau pihak lain  melihat itu sebagai tindakan yang nasionalis atau dianggap konyol.

Kata orang Pahlawan itu diciptakan. 

#24 : Walau suatu desa tidak pernah menyuruh anak kampungnya, tentu saja ketika terjadi anak kampung itu masuk coret-coret ke desa lain. Dia akan berdiplomasi menggolongkan sebagai apakah coret-coret itu.

Dalam berdiplomasi sulit disebut &quot;benar&quot; atau &quot;salah&quot; (saya ingat ketika Sabam Siagian, masih jadi Dubes Australia, dan dia berkunjung ke kampus saya, dan ngobrol).  Situasinya seperti itulah.  Contoh lain ketika salah satu menteri Jerman menjuluki Bush itu Hitler, di satu sisi dia diberhentikan tetapi kecamannya itu di&quot;benar&quot;kan oleh banyak orang dan memberikan nilai positif, dengan tidak diberangkatkannya tentara Jerman ke Irak.   

Jadi kalau kita masukkan dalam kerangka diplomasi, seperti yang saya sebutkan terdahulu, kegiatan seperti defacement atau tindakan desktruktif lainnya, mau tidak mau akan menjadi bagian dari pertimbangan dalam diplomasi, walau sengaja/tidak sengaja, direncanakan/tidak direncanakan. Dan saya tidak menyebutkan bahwa dampak defacement itu akan selalu positif atau selalu negatif di dalam proses diplomasi.

Bila dari awal kita sudah &quot;meniadakan&quot; dampak ini, maka kita tidak pernah bisa memanfaatkannya.

Soal aturan perang dalam analogi dengan deface, sebetulnya secara tidak langsung ada (dari aksi yang dilakukan, apa yang diubah kita bisa menilai motif secara tidak langsung). Justru ini kita akan bisa me&quot;nilai&quot;, mana defacement yg bisa kita golongkan kontribusi positif kepada diplomasi dan mana defacement yg kontribusi negatif (dari awal sudah saya sebutkan tidak semua kontribusi atau pengaruh defacement ini positif di dalam diplomasi).

Misal defacement yg &quot;rm -rf&quot; atau defacement yg masuk tetapi tidak terlihat, atau defacement yg terlihat di situs yg cocok tapi tetap menyimpan data asli, dsb, dsb. Nah mungkin ini yang perlu diexplorasi lebih jauh, di dalam menilai. Dan bagaimana dampak suatu defacement terhadap expose (positif, negatif, membangkitkan sentimen positif/negatif)

Jadi sebetulnya saya tidak melakukan pembenaran/penyalahan tindakan itu.  Sebab sulit di dalam situasi konflik/intelijen melakukan hal itu. Contoh apakah Inggris mencuri mesin enkripsi adalah tindakan yang benar ?, dan Turing mengcrack mesin itu tindakan yang benar ?

#28 : Memang kita belum status perang militer.  Tetapi rasanya terlalu &quot;lugu&quot; bila kita menganggap tidak terjadi perang di dalam bentuk lain.  

#30 : Orang kecil jadi umpan bukan hanya monopoli Indoneisa. Jerman, UK, USA juga melakukan koq.  Hartz IV contohnya... Jangan terlalu apa-apa yang jelek itu monopoli Indonesia. Saya setelah 7 tahun di Jerman, koq malah lihat, beberapa hal seperti KKN, korupsi, pejabat tolol dsb juga banyak di Jerman he he he he

#33 : Pada situasi ini memang tidak ada yang bisa mengontrol, mengendalikan kegiatan deface.  Sekedar menyalahkan dan melarang mereka mungkin malah menjadikan mereka nekat.  Seperti yang saya tulis sebelumnya. Aksi kontrol seharusnya yang lebih dibahas.  

Gunakan bahasa dan pendekatan yang tepat kalau ingin mengontrol tindakan itu. Maaf ini berdasarkan pengalaman ngadepin mahasiswa yang badung-badung :-) Melarang langsung dan menyalahkan mereka, malah bisa-bisa membangkitkan semangat mereka. 

Ini yang lebih saya takutkan.  Pelarangan malah menjadi seperti tantangan. Sedangkan salah memberikan dorongan juga malah bisa menjadi aksi membabi-buta.

#34 : Sebetulnya tulisan saya di DETIK.COM khan mempertanyakan masalah advisory dan kontrol teknis (defensive approach dari tiap negara). Apakah sudah ada mekanisme Incident Response yg teroganisir ? Mekanisme Advisory yg baik dsb..dsb

Terutama di Indonesia (Malaysia saya ndak peduli, itu urusannya MYCERT).

-- PENUTUP --

Sebetulnya masalah perbedaan cara pandang adalah resolusi (keditailan cara melihat) dari suatu aksi. Ada yang melihat suatu aksi itu sebagai aksi terpisah dan bisa dikatalog terlepas dari suatu konteks (deface adalah deface titik), ada yang mencoba melihat suatu aksi terikat dari konteks (konteks ini juga bisa berbeda-beda). 

Tentu saja itu tergantung dari lingkupan pertimbangan masing-masing orang.  Terus terang saya mencoba melihat peristiwa defacement ini dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari proses Information Warfare yang tengah terjadi. Indonesia masih sangat &quot;lugu&quot; atau bahkan sering mengabaikan perang di sisi ini (perang pembentukan Informasi, emosi, dukungan dsb) di dalam suatu konflik.

Bukan berarti saya suka &quot;perang&quot; dan melihat segala sesuatunya dari sisi perang.  Tapi mencoba melihat bahwa ada kenyataan itu yang terjadi.  

Ada 1 buku lama yang menarik yaitu &quot;USA propaganda abroad&quot; yang banyak membahas bahwa beberapa kegiatan USA yg sepertinya tak berhubungan (misal pemberian beasiswa, membuat kerisuhan di negara lain), tetapi sudah masuk di dalam strategi mereka di dalam perang era kini. Saat itu masih gencar-gencarnya perang dingin.











</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sorry baru nanggepin sekarang, btw abis ini saya ndak nangepin lagi (karena kesibukan di darat).  Ada beberapa hal yang perlu diluruskan :</p>
<p>#21 : memang situasi saat ini belum dinyatakan sebagai situasi perang militer.  Tetapi perang dalam bentuk lainnya telah terjadi (perang informasi, via media massa, perang pembentukan opini).  Saya menyebutkan dalam istilah situasi konflik, kalau istilah perang dikaitkan dengan konflik militer. Kejadian ini selalu berulang dan sering kita mengabaikan kenyataan telah terjadinya perang dalam bentuk non militer ini. </p>
<p>Justru itu tindakan &#8220;apapun&#8221; dan dianggap apapun, dalam situasi ini harus dikontrol sehingga memberikan nilai positif di dalam pemecahan masalah.  Dengan mengabaikan bahwa suatu tindakan itu memiliki nilai positif (bukan berarti diharapkan untuk selalu dilakukan), maka kita mengurangi peranan suatu tindakan (yg telah terjadi, dan sering diluar kontrol siapapun), di dalam pemecahan situasi konflik.</p>
<p>Jadi terlepas apakah tindakan itu disebut &#8220;moral&#8221; atau &#8220;amoral&#8221; (saya tidak pernah memberikan komentar apakah tindakan itu tergolong amoral atau tidak, benar atau salah).  Tetapi saya lebih mencoba melihat tindakan tersebut di dalam masalah ini memberikan kontribusi pengaruh apa (baik dan buruk). Jadi saya lebih fokus bagaimana mengontrol dampak dari aksi tersebut.</p>
<p>#22 : Ada tindakan yang tidak didorong motif baik (bahkan cenderung hanya vandalis, menguntungkan diri sendiri), bila dikontrol bisa mendorong kejadian yang baik.  Dikontrol ini dalam arti yang luas, (media massa, klasifikasi tindakan dsb). Ini yang seperti saya sebutkan di dalam dunia intelijen disebut Active Measure. Si pelaku tindakan sendiri tidak sadar apa motiv sebetulnya (atau dampak secara luas) dari tindakannya. Si pelaku hanya peduli dengan motif pribadinya.</p>
<p>#23 : Sebetulnya saya tidak menghubungkan apakah tindakan defacement ini nasionalis atau tidak. Sebab terkadang seseorang melakukan suatu tindakan pada suatu saat (dengan dorongan dia yg mau enaknya saja, bukan karena sesuatu positif), tapi ternyata di masa mendatang atau pihak lain  melihat itu sebagai tindakan yang nasionalis atau dianggap konyol.</p>
<p>Kata orang Pahlawan itu diciptakan. </p>
<p>#24 : Walau suatu desa tidak pernah menyuruh anak kampungnya, tentu saja ketika terjadi anak kampung itu masuk coret-coret ke desa lain. Dia akan berdiplomasi menggolongkan sebagai apakah coret-coret itu.</p>
<p>Dalam berdiplomasi sulit disebut &#8220;benar&#8221; atau &#8220;salah&#8221; (saya ingat ketika Sabam Siagian, masih jadi Dubes Australia, dan dia berkunjung ke kampus saya, dan ngobrol).  Situasinya seperti itulah.  Contoh lain ketika salah satu menteri Jerman menjuluki Bush itu Hitler, di satu sisi dia diberhentikan tetapi kecamannya itu di&#8221;benar&#8221;kan oleh banyak orang dan memberikan nilai positif, dengan tidak diberangkatkannya tentara Jerman ke Irak.   </p>
<p>Jadi kalau kita masukkan dalam kerangka diplomasi, seperti yang saya sebutkan terdahulu, kegiatan seperti defacement atau tindakan desktruktif lainnya, mau tidak mau akan menjadi bagian dari pertimbangan dalam diplomasi, walau sengaja/tidak sengaja, direncanakan/tidak direncanakan. Dan saya tidak menyebutkan bahwa dampak defacement itu akan selalu positif atau selalu negatif di dalam proses diplomasi.</p>
<p>Bila dari awal kita sudah &#8220;meniadakan&#8221; dampak ini, maka kita tidak pernah bisa memanfaatkannya.</p>
<p>Soal aturan perang dalam analogi dengan deface, sebetulnya secara tidak langsung ada (dari aksi yang dilakukan, apa yang diubah kita bisa menilai motif secara tidak langsung). Justru ini kita akan bisa me&#8221;nilai&#8221;, mana defacement yg bisa kita golongkan kontribusi positif kepada diplomasi dan mana defacement yg kontribusi negatif (dari awal sudah saya sebutkan tidak semua kontribusi atau pengaruh defacement ini positif di dalam diplomasi).</p>
<p>Misal defacement yg &#8220;rm -rf&#8221; atau defacement yg masuk tetapi tidak terlihat, atau defacement yg terlihat di situs yg cocok tapi tetap menyimpan data asli, dsb, dsb. Nah mungkin ini yang perlu diexplorasi lebih jauh, di dalam menilai. Dan bagaimana dampak suatu defacement terhadap expose (positif, negatif, membangkitkan sentimen positif/negatif)</p>
<p>Jadi sebetulnya saya tidak melakukan pembenaran/penyalahan tindakan itu.  Sebab sulit di dalam situasi konflik/intelijen melakukan hal itu. Contoh apakah Inggris mencuri mesin enkripsi adalah tindakan yang benar ?, dan Turing mengcrack mesin itu tindakan yang benar ?</p>
<p>#28 : Memang kita belum status perang militer.  Tetapi rasanya terlalu &#8220;lugu&#8221; bila kita menganggap tidak terjadi perang di dalam bentuk lain.  </p>
<p>#30 : Orang kecil jadi umpan bukan hanya monopoli Indoneisa. Jerman, UK, USA juga melakukan koq.  Hartz IV contohnya&#8230; Jangan terlalu apa-apa yang jelek itu monopoli Indonesia. Saya setelah 7 tahun di Jerman, koq malah lihat, beberapa hal seperti KKN, korupsi, pejabat tolol dsb juga banyak di Jerman he he he he</p>
<p>#33 : Pada situasi ini memang tidak ada yang bisa mengontrol, mengendalikan kegiatan deface.  Sekedar menyalahkan dan melarang mereka mungkin malah menjadikan mereka nekat.  Seperti yang saya tulis sebelumnya. Aksi kontrol seharusnya yang lebih dibahas.  </p>
<p>Gunakan bahasa dan pendekatan yang tepat kalau ingin mengontrol tindakan itu. Maaf ini berdasarkan pengalaman ngadepin mahasiswa yang badung-badung :-) Melarang langsung dan menyalahkan mereka, malah bisa-bisa membangkitkan semangat mereka. </p>
<p>Ini yang lebih saya takutkan.  Pelarangan malah menjadi seperti tantangan. Sedangkan salah memberikan dorongan juga malah bisa menjadi aksi membabi-buta.</p>
<p>#34 : Sebetulnya tulisan saya di DETIK.COM khan mempertanyakan masalah advisory dan kontrol teknis (defensive approach dari tiap negara). Apakah sudah ada mekanisme Incident Response yg teroganisir ? Mekanisme Advisory yg baik dsb..dsb</p>
<p>Terutama di Indonesia (Malaysia saya ndak peduli, itu urusannya MYCERT).</p>
<p>&#8211; PENUTUP &#8211;</p>
<p>Sebetulnya masalah perbedaan cara pandang adalah resolusi (keditailan cara melihat) dari suatu aksi. Ada yang melihat suatu aksi itu sebagai aksi terpisah dan bisa dikatalog terlepas dari suatu konteks (deface adalah deface titik), ada yang mencoba melihat suatu aksi terikat dari konteks (konteks ini juga bisa berbeda-beda). </p>
<p>Tentu saja itu tergantung dari lingkupan pertimbangan masing-masing orang.  Terus terang saya mencoba melihat peristiwa defacement ini dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari proses Information Warfare yang tengah terjadi. Indonesia masih sangat &#8220;lugu&#8221; atau bahkan sering mengabaikan perang di sisi ini (perang pembentukan Informasi, emosi, dukungan dsb) di dalam suatu konflik.</p>
<p>Bukan berarti saya suka &#8220;perang&#8221; dan melihat segala sesuatunya dari sisi perang.  Tapi mencoba melihat bahwa ada kenyataan itu yang terjadi.  </p>
<p>Ada 1 buku lama yang menarik yaitu &#8220;USA propaganda abroad&#8221; yang banyak membahas bahwa beberapa kegiatan USA yg sepertinya tak berhubungan (misal pemberian beasiswa, membuat kerisuhan di negara lain), tetapi sudah masuk di dalam strategi mereka di dalam perang era kini. Saat itu masih gencar-gencarnya perang dingin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8263</link>
		<dc:creator>priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2005 04:29:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8263</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;
Artinya kalo kita membicarakan benar/salah definisi defacement gak akan ada habisnya, karena tiap orang/komunitas punya cara pandang yang berbeda-beda dan ini sulit untuk disamakan. Jadi saya pribadi lebih cenderung membicarakan tindakan preventifnya.
&lt;/blockquote&gt;

saya rasa udah cukup jelas apa yang dibicarakan di sini, yaitu aksi &#039;deface&#039;-nya, saya sengaja gak pakai istilah cracker atau hacker di posting saya karena istilah itu memang beda persepsinya. istilah hacker/cracker juga baru muncul di komentar #33 :) dari komentar-komentar lain juga saya rasa gak melihat ada yang rancu

&lt;blockquote&gt;
BTW, kita diskusi begini disini apa akan menghentikan tindakan sang defacer? Kayaknya enggak deh, atau perlu tindakan konkret? Makanya saya lebih cenderung EGP sama tindakan defacer, abis saya gak tau cara menghentikan mereka. Mending belajar ngamanin situs saya sendiri .
&lt;/blockquote&gt;

di dunia nyata kita juga tidak akan pernah menghilangkan kasus pencurian 100%, tapi bukan berarti kita harus melegitimasi perbuatan itu. yang saya lihat aksi-aksi seperti ini dianggap baik jika dilakukan di internet, tapi dianggap buruk jika dilakukan di dunia nyata :(

&lt;blockquote&gt;
Eh, kelupaan. Saya setuju sama statement Priyadi bahwa defacement ini lebih cenderung ke kontrol teknis dan moral. Nah, sekarang ini kalo kita bicara kontrol teknis, sudahkah ini dilakukan kedua belah pihak (Malaysia dan Indonesia)? Akan lebih bagus jika kontrol hukum juga mendukung.
&lt;/blockquote&gt;

untuk kontrol teknis, malaysia sudah menyebarkan advisory melalui MYCERT. sedangkan untuk indonesia saya gak tau :) kontrol hukum belum bisa diharapkan karena terlalu mudah pindah ke negara lain. misalnya orang indonesia men-deface situs malaysia, tapi bisa aja orang indonesia pakai IP di amerika untuk melakukannya. jadi susah sekali kecuali kalau sudah ada perjanjian dan prosedur standar internasional untuk menangani kasus sejenis ini.

&lt;blockquote&gt;
Sementara kalo kontrol moral kok rasanya sulit ya? sebab masing-masing orang bisa berbeda penilaiannya. Ini bisa jadi akan meluas juga ke contohnya nomer #9 yaitu ktp nembak, titip calo, damai tilang, dll.
&lt;/blockquote&gt;

memang susah, tapi jangan sampai aksi seperti ini dilegitimasi. isu lain jangan dijadikan alasan untuk tidak memperbaiki situasi.kalau begitu tidak akan ada masalah yang bisa diselesaikan :). persoalan lain juga harus diselesaikan, tapi secara independen, tidak dihubung-hubungkan dengan masalah-masalah lain. sebenernya gak susah kok, dengan menghimbau teman-teman kita untuk tidak melakukan hal ini maka itu juga sudah melakukan kontribusi. memang seperti yang katakan, ini tidak akan efektif 100%. tapi kalau kita lihat cara apapun tidak akan ada yang efektif 100%. kita cuma bisa berusaha.

&lt;blockquote&gt;
...

Sementara yang diatas ini elo cuma ngomong Indonesia menyerang Malaysia.

Yang bener yang mana?
&lt;/blockquote&gt;

dua-duanya gak bisa dibenarkan (aksi yang dilakukan indonesia maupun malaysia), tapi saya konsentrasi saja ke aksi yang dilakukan dari indonesia ke malaysia, karena saya orang indonesia :). biar mereka yang urus negara mereka sendiri :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
Artinya kalo kita membicarakan benar/salah definisi defacement gak akan ada habisnya, karena tiap orang/komunitas punya cara pandang yang berbeda-beda dan ini sulit untuk disamakan. Jadi saya pribadi lebih cenderung membicarakan tindakan preventifnya.
</p></blockquote>
<p>saya rasa udah cukup jelas apa yang dibicarakan di sini, yaitu aksi &#8216;deface&#8217;-nya, saya sengaja gak pakai istilah cracker atau hacker di posting saya karena istilah itu memang beda persepsinya. istilah hacker/cracker juga baru muncul di komentar #33 :) dari komentar-komentar lain juga saya rasa gak melihat ada yang rancu</p>
<blockquote><p>
BTW, kita diskusi begini disini apa akan menghentikan tindakan sang defacer? Kayaknya enggak deh, atau perlu tindakan konkret? Makanya saya lebih cenderung EGP sama tindakan defacer, abis saya gak tau cara menghentikan mereka. Mending belajar ngamanin situs saya sendiri .
</p></blockquote>
<p>di dunia nyata kita juga tidak akan pernah menghilangkan kasus pencurian 100%, tapi bukan berarti kita harus melegitimasi perbuatan itu. yang saya lihat aksi-aksi seperti ini dianggap baik jika dilakukan di internet, tapi dianggap buruk jika dilakukan di dunia nyata :(</p>
<blockquote><p>
Eh, kelupaan. Saya setuju sama statement Priyadi bahwa defacement ini lebih cenderung ke kontrol teknis dan moral. Nah, sekarang ini kalo kita bicara kontrol teknis, sudahkah ini dilakukan kedua belah pihak (Malaysia dan Indonesia)? Akan lebih bagus jika kontrol hukum juga mendukung.
</p></blockquote>
<p>untuk kontrol teknis, malaysia sudah menyebarkan advisory melalui MYCERT. sedangkan untuk indonesia saya gak tau :) kontrol hukum belum bisa diharapkan karena terlalu mudah pindah ke negara lain. misalnya orang indonesia men-deface situs malaysia, tapi bisa aja orang indonesia pakai IP di amerika untuk melakukannya. jadi susah sekali kecuali kalau sudah ada perjanjian dan prosedur standar internasional untuk menangani kasus sejenis ini.</p>
<blockquote><p>
Sementara kalo kontrol moral kok rasanya sulit ya? sebab masing-masing orang bisa berbeda penilaiannya. Ini bisa jadi akan meluas juga ke contohnya nomer #9 yaitu ktp nembak, titip calo, damai tilang, dll.
</p></blockquote>
<p>memang susah, tapi jangan sampai aksi seperti ini dilegitimasi. isu lain jangan dijadikan alasan untuk tidak memperbaiki situasi.kalau begitu tidak akan ada masalah yang bisa diselesaikan :). persoalan lain juga harus diselesaikan, tapi secara independen, tidak dihubung-hubungkan dengan masalah-masalah lain. sebenernya gak susah kok, dengan menghimbau teman-teman kita untuk tidak melakukan hal ini maka itu juga sudah melakukan kontribusi. memang seperti yang katakan, ini tidak akan efektif 100%. tapi kalau kita lihat cara apapun tidak akan ada yang efektif 100%. kita cuma bisa berusaha.</p>
<blockquote><p>
&#8230;</p>
<p>Sementara yang diatas ini elo cuma ngomong Indonesia menyerang Malaysia.</p>
<p>Yang bener yang mana?
</p></blockquote>
<p>dua-duanya gak bisa dibenarkan (aksi yang dilakukan indonesia maupun malaysia), tapi saya konsentrasi saja ke aksi yang dilakukan dari indonesia ke malaysia, karena saya orang indonesia :). biar mereka yang urus negara mereka sendiri :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yonky</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8118</link>
		<dc:creator>yonky</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 21:52:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8118</guid>
		<description>pokoknya aku gak setuju deh apa yang dinamakan &quot;deface&quot; itu. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pokoknya aku gak setuju deh apa yang dinamakan &#8220;deface&#8221; itu. :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dudi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8087</link>
		<dc:creator>dudi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 16:49:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8087</guid>
		<description>Ups, kelupaan lagi :). 
Pri, kayaknya tulisan diatas ada yang gak matching deh
&lt;blockquote cite=&quot;http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/&quot;&gt;Aksi e-Ganyang yang dilakukan baik oleh pihak Indonesia maupun pihak Malaysia mengundang banyak reaksi.&lt;/blockquote&gt;Diatas elo nulis kalo e-Ganyang dilakukan kedua belah pihak (Indonesia dan Malaysia). Sementara dibawah elo nulis gini:
&lt;blockquote cite=&quot;http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/&quot;&gt;e-Ganyang adalah &lt;strong&gt;sebuah aksi penyaluran aspirasi melalui deface masal yang dilakukan oleh orang-orang di Indonesia terhadap situs-situs Malaysia.&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;Sementara yang diatas ini elo cuma ngomong Indonesia menyerang Malaysia.

Yang bener yang mana? 

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ups, kelupaan lagi :).<br />
Pri, kayaknya tulisan diatas ada yang gak matching deh</p>
<blockquote cite="http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/"><p>Aksi e-Ganyang yang dilakukan baik oleh pihak Indonesia maupun pihak Malaysia mengundang banyak reaksi.</p></blockquote>
<p>Diatas elo nulis kalo e-Ganyang dilakukan kedua belah pihak (Indonesia dan Malaysia). Sementara dibawah elo nulis gini:</p>
<blockquote cite="http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/"><p>e-Ganyang adalah <strong>sebuah aksi penyaluran aspirasi melalui deface masal yang dilakukan oleh orang-orang di Indonesia terhadap situs-situs Malaysia.</strong></p></blockquote>
<p>Sementara yang diatas ini elo cuma ngomong Indonesia menyerang Malaysia.</p>
<p>Yang bener yang mana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dudi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8086</link>
		<dc:creator>dudi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 15:51:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8086</guid>
		<description>Eh, kelupaan. Saya setuju sama statement Priyadi bahwa defacement ini lebih cenderung ke kontrol teknis dan moral. Nah, sekarang ini kalo kita bicara kontrol teknis, sudahkah ini dilakukan kedua belah pihak (Malaysia dan Indonesia)? Akan lebih bagus jika kontrol hukum juga mendukung.

Sementara kalo kontrol moral kok rasanya sulit ya? sebab masing-masing orang bisa berbeda penilaiannya. Ini bisa jadi akan meluas juga ke contohnya nomer #9  yaitu ktp nembak, titip calo, damai tilang, dll.

Saya jadi inget lirik lagu Iwan Fals pada lagu &quot;Manusia Setengah Dewa&quot;

&lt;i&gt;Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau. 
Tegakkan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu.&lt;/i&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Eh, kelupaan. Saya setuju sama statement Priyadi bahwa defacement ini lebih cenderung ke kontrol teknis dan moral. Nah, sekarang ini kalo kita bicara kontrol teknis, sudahkah ini dilakukan kedua belah pihak (Malaysia dan Indonesia)? Akan lebih bagus jika kontrol hukum juga mendukung.</p>
<p>Sementara kalo kontrol moral kok rasanya sulit ya? sebab masing-masing orang bisa berbeda penilaiannya. Ini bisa jadi akan meluas juga ke contohnya nomer #9  yaitu ktp nembak, titip calo, damai tilang, dll.</p>
<p>Saya jadi inget lirik lagu Iwan Fals pada lagu &#8220;Manusia Setengah Dewa&#8221;</p>
<p><i>Masalah moral, masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau.<br />
Tegakkan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu.</i></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dudi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8085</link>
		<dc:creator>dudi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 15:29:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8085</guid>
		<description>Saya baca di wikipedia defacement memiliki arti sbb : 

&lt;i&gt;Web site &quot;defacement&quot; is usually the substitution of the original home page by a hacker&lt;/i&gt;

Sementara definisi hacker saya kutip sedikit dari wikipedia: &lt;i&gt;As a result of this conflict, the term is the subject of some controversy&lt;/i&gt;

Artinya kalo kita membicarakan benar/salah definisi defacement gak akan ada habisnya, karena tiap orang/komunitas punya cara pandang yang berbeda-beda dan ini sulit untuk disamakan. Jadi saya pribadi lebih cenderung membicarakan tindakan preventifnya. 

BTW, kita diskusi begini disini apa akan menghentikan tindakan sang defacer? Kayaknya enggak deh, atau perlu tindakan konkret?

Makanya saya lebih cenderung &lt;acronym title=&quot;Emang Gue Pikirin&quot;&gt;EGP&lt;/acronym&gt; sama tindakan defacer, abis saya  gak tau cara menghentikan mereka. Mending belajar ngamanin situs saya sendiri :).

Sorry kalo jadi ngelantur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baca di wikipedia defacement memiliki arti sbb : </p>
<p><i>Web site &#8220;defacement&#8221; is usually the substitution of the original home page by a hacker</i></p>
<p>Sementara definisi hacker saya kutip sedikit dari wikipedia: <i>As a result of this conflict, the term is the subject of some controversy</i></p>
<p>Artinya kalo kita membicarakan benar/salah definisi defacement gak akan ada habisnya, karena tiap orang/komunitas punya cara pandang yang berbeda-beda dan ini sulit untuk disamakan. Jadi saya pribadi lebih cenderung membicarakan tindakan preventifnya. </p>
<p>BTW, kita diskusi begini disini apa akan menghentikan tindakan sang defacer? Kayaknya enggak deh, atau perlu tindakan konkret?</p>
<p>Makanya saya lebih cenderung <acronym title="Emang Gue Pikirin">EGP</acronym> sama tindakan defacer, abis saya  gak tau cara menghentikan mereka. Mending belajar ngamanin situs saya sendiri :).</p>
<p>Sorry kalo jadi ngelantur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8047</link>
		<dc:creator>priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 06:01:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8047</guid>
		<description>#31: setiap hari juga ada situs yang diobok-obok. yang dipermasalahkan bukan itunya, tapi apakah perbuatan tersebut bisa dibenarkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#31: setiap hari juga ada situs yang diobok-obok. yang dipermasalahkan bukan itunya, tapi apakah perbuatan tersebut bisa dibenarkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: loper</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/03/18/menyoal-moralitas-aksi-e-ganyang/#comment-8044</link>
		<dc:creator>loper</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Mar 2005 05:44:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/03/18/273/#comment-8044</guid>
		<description>sebelum ada e-ganyang banyak situs yang di obok obok orang .. jadi so what gituloh !!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebelum ada e-ganyang banyak situs yang di obok obok orang .. jadi so what gituloh !!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

