<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Jawaban Basuki Suhardiman Atas Somasi Kompas</title>
	<atom:link href="http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/</link>
	<description>Changing the world, one person at a time...</description>
	<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 13:25:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: TORO</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-47713</link>
		<dc:creator>TORO</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2006 20:03:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-47713</guid>
		<description>Ini informasi saja untuk menilai siapa BS: aku cukup kenal siapa BS: 
BS suka blunder,contoh :IT KPU,anti hacker ternyata...?
-Mengaku pakar IT ITB padahal di ITB tidak diakui Pakar IT, wong basicnya kimia, cuma hobi Internet.Tapi bicara internet sih sekarang sih semuanya juga bisa.Sebelum di IT KPU orangnya kurang PD, waktu masuk ITB jurusan Kimia (dari alumni SMA cuma 1 masuk ITB )pas liburan ngaku ke alumni SMA masuk TEKNIK KIMIA.Setelah di IT KPU mendadak dia mendadak menjadi ahli semuanya termasuk juga ahli AMDAL(lihat komentarnya di ML).
Pas di IT KPU sering ngaku punya jabatan di ITB padahal saat belum menjabat di ITB, hanya di CNRG (tanpa ITB ) sebagai informasi CRNG bukanlah lembaga/bagian struktural di ITB, CNRG mengelola jaringan internet di ITB sebagai konpensasi CNRG bisa bertindak sebagai provider untuk umum walau pakai sarana dan prasarana ITB.Tapi yang mengherankan BS sering menginformasikan CNRG dengan CNRG-ITB.Sebagai informasi CNRG dibidani oleh Pak Onno waktu itu Pak Onno masih di ITB&#38;CRNG, BS hanyalah seorang sukarelawan dari sekian banyak mahasiswa yang magang.Setelah Pak Onno hengkang di ITB barulah BS pegang CNRG.Tapi setelah BS di IT KPU koq bilang udah rekan sejawat (apakah maksudnya selevel ?),wah terlalu jauuuh kemampuan dan karya anda dibanding Pak Onno.
Nah..sudah tahu kira2 bagaimana kira2 BS, ya begitulah sejak di IT KPU orangnya Over dan suka nyari sensasi (lihat komentar di ML-ML).Yang jadi pertanyaan saya apa pertimbangan KPU ( Chusnul M)memilih BS sebagai IT KPU apakah sama arek2?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini informasi saja untuk menilai siapa BS: aku cukup kenal siapa BS:<br />
BS suka blunder,contoh :IT KPU,anti hacker ternyata&#8230;?<br />
-Mengaku pakar IT ITB padahal di ITB tidak diakui Pakar IT, wong basicnya kimia, cuma hobi Internet.Tapi bicara internet sih sekarang sih semuanya juga bisa.Sebelum di IT KPU orangnya kurang PD, waktu masuk ITB jurusan Kimia (dari alumni SMA cuma 1 masuk ITB )pas liburan ngaku ke alumni SMA masuk TEKNIK KIMIA.Setelah di IT KPU mendadak dia mendadak menjadi ahli semuanya termasuk juga ahli AMDAL(lihat komentarnya di ML).<br />
Pas di IT KPU sering ngaku punya jabatan di ITB padahal saat belum menjabat di ITB, hanya di CNRG (tanpa ITB ) sebagai informasi CRNG bukanlah lembaga/bagian struktural di ITB, CNRG mengelola jaringan internet di ITB sebagai konpensasi CNRG bisa bertindak sebagai provider untuk umum walau pakai sarana dan prasarana ITB.Tapi yang mengherankan BS sering menginformasikan CNRG dengan CNRG-ITB.Sebagai informasi CNRG dibidani oleh Pak Onno waktu itu Pak Onno masih di ITB&amp;CRNG, BS hanyalah seorang sukarelawan dari sekian banyak mahasiswa yang magang.Setelah Pak Onno hengkang di ITB barulah BS pegang CNRG.Tapi setelah BS di IT KPU koq bilang udah rekan sejawat (apakah maksudnya selevel ?),wah terlalu jauuuh kemampuan dan karya anda dibanding Pak Onno.<br />
Nah..sudah tahu kira2 bagaimana kira2 BS, ya begitulah sejak di IT KPU orangnya Over dan suka nyari sensasi (lihat komentar di ML-ML).Yang jadi pertanyaan saya apa pertimbangan KPU ( Chusnul M)memilih BS sebagai IT KPU apakah sama arek2?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ulie</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-46554</link>
		<dc:creator>ulie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2005 14:34:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-46554</guid>
		<description>:-? Pak BS pancen oye. aja klalen karo liane ya &#92;:d&#38;#47;;)
bagi-bagi ilmu berbesar hatinya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> Pak BS pancen oye. aja klalen karo liane ya &#92;<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#100;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#100;' />&amp;#47<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_batting.gif' alt='&#59;&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#59;&#41;' /><br />
bagi-bagi ilmu berbesar hatinya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hendrik</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-43314</link>
		<dc:creator>Hendrik</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2005 22:43:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-43314</guid>
		<description>Ada satu aspek yang kayaknya belum dibahas.

Seorang alumni ITB, seperti BS, mestinya memiliki kebiasaan untuk memeriksa sumber berita. Sekalipun dia tidak menambahkan komentar, tetap aja sumbernya harus jelas. Kalau perlu, dia konfirmasi dulu sebelum meneruskan. Dan hal ini mestinya menjadi kebiasaan setiap orang, bukan hanya BS, khususnya dalam mailing list di kalangan seperti ITB. 

Banyak analogi yang disebutkan sebelumnya yang tidak relevan. Tindakan BS tidak sama dengan wartawan yang meneruskan dugaan atau pendapat, dari sumber dia tahu secara jelas (sekalipun identitas sumbernya dirahasiakan, namun diketahui). Sumber BS, seperti yang dia katakan sendiri, tidak jelas. Apakah berita yang tidak jelas sumbernya harus diteruskan? BS, yang sudah lama aktif dalam kegiatan semacam ini, mestinya mengerti. Bahkan, justru karena dia mestinya mengerti, forward tsb mungkin bisa dianggap kesengajaan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu aspek yang kayaknya belum dibahas.</p>
<p>Seorang alumni ITB, seperti BS, mestinya memiliki kebiasaan untuk memeriksa sumber berita. Sekalipun dia tidak menambahkan komentar, tetap aja sumbernya harus jelas. Kalau perlu, dia konfirmasi dulu sebelum meneruskan. Dan hal ini mestinya menjadi kebiasaan setiap orang, bukan hanya BS, khususnya dalam mailing list di kalangan seperti ITB. </p>
<p>Banyak analogi yang disebutkan sebelumnya yang tidak relevan. Tindakan BS tidak sama dengan wartawan yang meneruskan dugaan atau pendapat, dari sumber dia tahu secara jelas (sekalipun identitas sumbernya dirahasiakan, namun diketahui). Sumber BS, seperti yang dia katakan sendiri, tidak jelas. Apakah berita yang tidak jelas sumbernya harus diteruskan? BS, yang sudah lama aktif dalam kegiatan semacam ini, mestinya mengerti. Bahkan, justru karena dia mestinya mengerti, forward tsb mungkin bisa dianggap kesengajaan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: p34c3</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17748</link>
		<dc:creator>p34c3</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 12:09:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17748</guid>
		<description>#28
wah, Zen menjurus, tuh.... (provokasi)

buat BS &#38; dik : kemungkinan adu domba macam itu harus diperhitungkan juga lho....
bicarakan lagi deh scr baik2....
:)&gt;-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#28<br />
wah, Zen menjurus, tuh&#8230;. (provokasi)</p>
<p>buat BS &amp; dik : kemungkinan adu domba macam itu harus diperhitungkan juga lho&#8230;.<br />
bicarakan lagi deh scr baik2&#8230;.<br />
<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_peace.gif' alt='&#58;&#41;&#62;&#45;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#41;&#62;&#45;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17745</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 12:07:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17745</guid>
		<description>#28
wah, Zen menjurus, tuh.... (provokasi)

buat BS &#38; dik : kemungkinan adu domba macam itu harus diperhitungkan juga lho....
bicarakan lagi deh scr baik2....
:)&gt;-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#28<br />
wah, Zen menjurus, tuh&#8230;. (provokasi)</p>
<p>buat BS &amp; dik : kemungkinan adu domba macam itu harus diperhitungkan juga lho&#8230;.<br />
bicarakan lagi deh scr baik2&#8230;.<br />
<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_peace.gif' alt='&#58;&#41;&#62;&#45;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#41;&#62;&#45;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: opo wae thooo???</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17703</link>
		<dc:creator>opo wae thooo???</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 11:11:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17703</guid>
		<description>Gini lho masalahnya: Basuki merasa perlu melempar email dr SK ke milis ITB dan ITB 75 dengan harapan kebenaran atau ketidakbenaran berita tsb bisa muncul dari hasil diskusi. Nah sekrg pertanyaannya, betul enggak Dik itu seperti yang diberitakan oleh surat SK? harus ada yg berani mengaudit hartanya Dik dong...atau Dik bisa tidak membuktikan ke khalayak bahwa tabungannya memang tidak terkait dengan "gaji" dari KPU dan berbagai macam tuduhan seperti suratnya SK? Kalau gak mampu membuktikan ya jangan protes2, opo meneh menuntut Basuki...

Buat saya sih biar ini juga jadi bahan pelajaran buat para WARTAWAN, agar juga tidak ngomong seenaknya, tanpa bukti, trus kalau diprotes bilangnya: itu hak kami utk tidak membuka identitas narasumber...atau: ya pakai HAK JAWAB dooonggg...  

Ini saya kasih tau ya mas2 WARTAWAN: yang namanya harga diri itu gak cukup ditebus pake HAK JAWAB... yg namanya harga diri yg dipermalukan di depan orang banyak itu seringkali cuman bisa ditebus dgn: TAK PATENI KOWE!!

Nah sekrg wartawan KOMPAS dipermalukan oleh wartawan DETIK.COM tapi yg dipersalahkan BASUKI... trus sudah diberikan HAK JAWAB masih mau menuntut, baru pada tahu tho Mas kalau HAK JAWAB itu tidak memuaskan?? </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gini lho masalahnya: Basuki merasa perlu melempar email dr SK ke milis ITB dan ITB 75 dengan harapan kebenaran atau ketidakbenaran berita tsb bisa muncul dari hasil diskusi. Nah sekrg pertanyaannya, betul enggak Dik itu seperti yang diberitakan oleh surat SK? harus ada yg berani mengaudit hartanya Dik dong&#8230;atau Dik bisa tidak membuktikan ke khalayak bahwa tabungannya memang tidak terkait dengan &#8220;gaji&#8221; dari KPU dan berbagai macam tuduhan seperti suratnya SK? Kalau gak mampu membuktikan ya jangan protes2, opo meneh menuntut Basuki&#8230;</p>
<p>Buat saya sih biar ini juga jadi bahan pelajaran buat para WARTAWAN, agar juga tidak ngomong seenaknya, tanpa bukti, trus kalau diprotes bilangnya: itu hak kami utk tidak membuka identitas narasumber&#8230;atau: ya pakai HAK JAWAB dooonggg&#8230;  </p>
<p>Ini saya kasih tau ya mas2 WARTAWAN: yang namanya harga diri itu gak cukup ditebus pake HAK JAWAB&#8230; yg namanya harga diri yg dipermalukan di depan orang banyak itu seringkali cuman bisa ditebus dgn: TAK PATENI KOWE!!</p>
<p>Nah sekrg wartawan KOMPAS dipermalukan oleh wartawan DETIK.COM tapi yg dipersalahkan BASUKI&#8230; trus sudah diberikan HAK JAWAB masih mau menuntut, baru pada tahu tho Mas kalau HAK JAWAB itu tidak memuaskan??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17614</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 07:14:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17614</guid>
		<description>#56:

&lt;blockquote&gt;
Tulisan “hey teman2, saya terima surat ini, menurut pendapat teman2 gimana?” spt ditulis #23 juga ndak ada tuh di postingnya BSD (ato itu udah embedded di budaya milis?).
&lt;/blockquote&gt;

betul, hal tersebut sudah implisit di dunia milis. apalagi ada kutipan pengirim asli dari email tersebut.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#56:</p>
<blockquote><p>
Tulisan “hey teman2, saya terima surat ini, menurut pendapat teman2 gimana?” spt ditulis #23 juga ndak ada tuh di postingnya BSD (ato itu udah embedded di budaya milis?).
</p></blockquote>
<p>betul, hal tersebut sudah implisit di dunia milis. apalagi ada kutipan pengirim asli dari email tersebut.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cahcilik</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17603</link>
		<dc:creator>cahcilik</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 04:45:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17603</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;...
Pada saat menerima email-email tsb. kondisi saya adalah:
- Tidak mengetahui siapa SK 
- Tidak mengetahui kebenaran dari isi email SK 
- Tidak mengetahui maksud dan tujuan SK
Dalam kondisi seperti itu, saya memforward email SK tersebut ke forum milis tertutup itb@itb.ac.id (selanjutnya disebut: milis ITB) dan itb75@itb.ac.id (selanjutnya disebut: milis ITB75), dengan tujuan mendapatkan umpan balik dalam bentuk komentar atau informasi lain dari rekan-rekan di forum milis ITB dan ITB75 yang isinya bisa mengklarifikasi isi dari email SK....&lt;/blockquote&gt;
+++++
Comment: Saya ingin comment ttg etikanya.
Nurut saya sih, emang lebih baek kalo BSD melakukan klarifikasi dulu ke Kompas soal tuduhan itu atau ke Obursman. Kalo ngebaca 3 email yg diterusin sama BSD itu, kan isinya ttg borok2 KPU, ya. (Juga terkesan tendensius: nyerang anggota KPU lain, kecuali Chusnul Mar'iyah --bosnya BSD di KPU). Nurut saya, alangkah sopannya kalo email2 semacam itu (asalnya ndak jelas juntrungannya) disimpan saja sama BSD, tidak diforward ke mana pun. Mau klarifikasi? Pertanyaan usilnya: "orang dalam" (kpu) kok klarifikasi ke luar (kpu)? silakan komentar... ;)
Satu lagi, nurut saya, BSD agak teledor, karena arsip milis ini bisa diakses dari luar. BSD nggak jaga-jaga sih dengan pasang tulisan "DO NOT FORWARD" di awal postingnya (ato itu udah embedded di budaya milis?). Tulisan “hey teman2, saya terima surat ini, menurut pendapat teman2 gimana?” spt ditulis #23 juga ndak ada tuh di postingnya BSD (ato itu udah embedded di budaya milis?).
anyway, mudah2an BSD ngerti juga kalo ada risiko spt itu yg harus dia tanggung, at least sbg forwarder sekalipun. ndak perlu nyalahin orang lain yg belum tentu salah, wong semua juga tau kalo yg forward pertama BSD; ntar malah bisa2 ngurangi simpati orang ke kita. ini pelajaran berharga buat kita semua. Kalopun ini sampe pengadilan, ya ikuti aja prosesnya, itu juga bagian dari risiko "perjuangan" sbg forwarder, mungkin. ;)
siapa pun emang berhak ngebela diri, ya. Sarannya emang satu sih: hati2 dg apa yg kita sampaikan, Dg kata lain: sampaikan apa yg kita ketahui, ketahuilah apa yg kita sampaikan. Kalo gitu, aman, deh... dunia+akhirat :)&gt;-
Boleh nambah comment lagi? udah aja ya, mau ma'em dulu... dadah semuanya...:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8230;<br />
Pada saat menerima email-email tsb. kondisi saya adalah:<br />
- Tidak mengetahui siapa SK<br />
- Tidak mengetahui kebenaran dari isi email SK<br />
- Tidak mengetahui maksud dan tujuan SK<br />
Dalam kondisi seperti itu, saya memforward email SK tersebut ke forum milis tertutup <a href="mailto:itb@itb.ac.id">itb@itb.ac.id</a> (selanjutnya disebut: milis ITB) dan <a href="mailto:itb75@itb.ac.id">itb75@itb.ac.id</a> (selanjutnya disebut: milis ITB75), dengan tujuan mendapatkan umpan balik dalam bentuk komentar atau informasi lain dari rekan-rekan di forum milis ITB dan ITB75 yang isinya bisa mengklarifikasi isi dari email SK&#8230;.</p></blockquote>
<p>+++++<br />
Comment: Saya ingin comment ttg etikanya.<br />
Nurut saya sih, emang lebih baek kalo BSD melakukan klarifikasi dulu ke Kompas soal tuduhan itu atau ke Obursman. Kalo ngebaca 3 email yg diterusin sama BSD itu, kan isinya ttg borok2 KPU, ya. (Juga terkesan tendensius: nyerang anggota KPU lain, kecuali Chusnul Mar&#8217;iyah &#8211;bosnya BSD di KPU). Nurut saya, alangkah sopannya kalo email2 semacam itu (asalnya ndak jelas juntrungannya) disimpan saja sama BSD, tidak diforward ke mana pun. Mau klarifikasi? Pertanyaan usilnya: &#8220;orang dalam&#8221; (kpu) kok klarifikasi ke luar (kpu)? silakan komentar&#8230; <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /><br />
Satu lagi, nurut saya, BSD agak teledor, karena arsip milis ini bisa diakses dari luar. BSD nggak jaga-jaga sih dengan pasang tulisan &#8220;DO NOT FORWARD&#8221; di awal postingnya (ato itu udah embedded di budaya milis?). Tulisan “hey teman2, saya terima surat ini, menurut pendapat teman2 gimana?” spt ditulis #23 juga ndak ada tuh di postingnya BSD (ato itu udah embedded di budaya milis?).<br />
anyway, mudah2an BSD ngerti juga kalo ada risiko spt itu yg harus dia tanggung, at least sbg forwarder sekalipun. ndak perlu nyalahin orang lain yg belum tentu salah, wong semua juga tau kalo yg forward pertama BSD; ntar malah bisa2 ngurangi simpati orang ke kita. ini pelajaran berharga buat kita semua. Kalopun ini sampe pengadilan, ya ikuti aja prosesnya, itu juga bagian dari risiko &#8220;perjuangan&#8221; sbg forwarder, mungkin. <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /><br />
siapa pun emang berhak ngebela diri, ya. Sarannya emang satu sih: hati2 dg apa yg kita sampaikan, Dg kata lain: sampaikan apa yg kita ketahui, ketahuilah apa yg kita sampaikan. Kalo gitu, aman, deh&#8230; dunia+akhirat <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_peace.gif' alt='&#58;&#41;&#62;&#45;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#41;&#62;&#45;' /><br />
Boleh nambah comment lagi? udah aja ya, mau ma&#8217;em dulu&#8230; dadah semuanya&#8230;<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: deLLa</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17599</link>
		<dc:creator>deLLa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 May 2005 04:06:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17599</guid>
		<description>wow..
e-mail dari BS emang poll..

brarti skarang yang jadi masalahnya adalaaahhh.. *ini opini pribadi*.. syapakah sang OKNUM yang tidak bertanggung jawab itu?? seharusnya OKNUM itu lah yang harus dicari dan bertanggung jawab atas smua kekacauan ini.. tapii.. mo digimanain lagih.. klo ga ada yang ngaku.. kita bisa apa dong? ya sperti itulah fenomena yang sering terjadi di skitar kita.. selalu ada provokator.. jadinya di adu domba dehh..

yaahh.. smoga aja permasalahan ini ga berlarut-larut.. dan tidak melibatkan lebih banyak orang lagi..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow..<br />
e-mail dari BS emang poll..</p>
<p>brarti skarang yang jadi masalahnya adalaaahhh.. *ini opini pribadi*.. syapakah sang OKNUM yang tidak bertanggung jawab itu?? seharusnya OKNUM itu lah yang harus dicari dan bertanggung jawab atas smua kekacauan ini.. tapii.. mo digimanain lagih.. klo ga ada yang ngaku.. kita bisa apa dong? ya sperti itulah fenomena yang sering terjadi di skitar kita.. selalu ada provokator.. jadinya di adu domba dehh..</p>
<p>yaahh.. smoga aja permasalahan ini ga berlarut-larut.. dan tidak melibatkan lebih banyak orang lagi..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zen</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17548</link>
		<dc:creator>Zen</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2005 07:42:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17548</guid>
		<description>#46 dan #49

Kalau saya amati, sejak komentar #1 di halaman ini, tidak pernah ada yang menyebut inisial RS. Andalah yang pertama kali menyebutkan inisial tsb. dalam komentar Anda. 

Saya ingin kejelasan, siapakah oknum yang anda maksud dengan RS (apakah Roy Suryo, atau Ratih Sanggarwati, atau Raja Singa, atau apa ?) yang telah anda singgung dalam kalimat-kalimat sbb.:

1. "...regardless of sikap RS yg kekanak-kanakan.."
2. "Apakah ada bukti bahwa RS merupakan spy dr detik?"

Selain itu, tolong (for the sake of my curiousity) dijelaskan pula apa latar belakang anda menuliskan dua frasa/kalimat di atas.

Thx sebelumnya.

--Zen--</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#46 dan #49</p>
<p>Kalau saya amati, sejak komentar #1 di halaman ini, tidak pernah ada yang menyebut inisial RS. Andalah yang pertama kali menyebutkan inisial tsb. dalam komentar Anda. </p>
<p>Saya ingin kejelasan, siapakah oknum yang anda maksud dengan RS (apakah Roy Suryo, atau Ratih Sanggarwati, atau Raja Singa, atau apa ?) yang telah anda singgung dalam kalimat-kalimat sbb.:</p>
<p>1. &#8220;&#8230;regardless of sikap RS yg kekanak-kanakan..&#8221;<br />
2. &#8220;Apakah ada bukti bahwa RS merupakan spy dr detik?&#8221;</p>
<p>Selain itu, tolong (for the sake of my curiousity) dijelaskan pula apa latar belakang anda menuliskan dua frasa/kalimat di atas.</p>
<p>Thx sebelumnya.</p>
<p>&#8211;Zen&#8211;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zen</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17547</link>
		<dc:creator>Zen</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2005 07:30:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17547</guid>
		<description>#41:

Abah, meneruskan fitnah adalah perbuatan yang kurang baik. Persoalannya, sebelum seseorang (misal: abah) bisa dikatakan meneruskan fitnah, maka syarat-syarat logis sbb. perlu dipenuhi:
1. Abah tahu bahwa berita yang akan abah sebarkan adalah fitnah, dan
2. Abah dengan sadar menyebarkan berita (yang sudah abah ketahui adalah fitnah) tsb. ke publik.

Tidaklah bisa disebut "abah menyebarkan fitnah" apabila:
1. Abah tidak tahu kalau berita yang akan abah sebarkan adalah fitnah
2. Abah tidak sadar pada saat menyebarkannya (misal: mengigau)

Jadi, jika pada saat abah menyiarkan suatu cerita/berita kepada orang lain abah tidak tahu itu fitnah, maka belum bisa dikatakan abah menyebarkan fitnah. Mungkin lebih tepat jika abah dikatakan menyebarkan gossip, dan bisa dijuluki "Abah Tukang Gossip" :))

Setahu saya, menyebarkan gossip seperti yang dilakukan banyak media massa infotainment di Indonesia bukanlah tindak kejahatan (CMIIW).

--Zen--</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#41:</p>
<p>Abah, meneruskan fitnah adalah perbuatan yang kurang baik. Persoalannya, sebelum seseorang (misal: abah) bisa dikatakan meneruskan fitnah, maka syarat-syarat logis sbb. perlu dipenuhi:<br />
1. Abah tahu bahwa berita yang akan abah sebarkan adalah fitnah, dan<br />
2. Abah dengan sadar menyebarkan berita (yang sudah abah ketahui adalah fitnah) tsb. ke publik.</p>
<p>Tidaklah bisa disebut &#8220;abah menyebarkan fitnah&#8221; apabila:<br />
1. Abah tidak tahu kalau berita yang akan abah sebarkan adalah fitnah<br />
2. Abah tidak sadar pada saat menyebarkannya (misal: mengigau)</p>
<p>Jadi, jika pada saat abah menyiarkan suatu cerita/berita kepada orang lain abah tidak tahu itu fitnah, maka belum bisa dikatakan abah menyebarkan fitnah. Mungkin lebih tepat jika abah dikatakan menyebarkan gossip, dan bisa dijuluki &#8220;Abah Tukang Gossip&#8221; <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setahu saya, menyebarkan gossip seperti yang dilakukan banyak media massa infotainment di Indonesia bukanlah tindak kejahatan (CMIIW).</p>
<p>&#8211;Zen&#8211;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zen</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17546</link>
		<dc:creator>Zen</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2005 07:14:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/archives/2005/05/06/jawaban-basuki-suhardiman-atas-somasi-kompas/#comment-17546</guid>
		<description>#46:
Bung ME, nampaknya Anda kurang jeli dalam berpikir:

Pertama:
&lt;i&gt;"Itu sama saja seperti ngomongin orang di media masa dengan harapan orangnya tidak akan baca, kalau ketahuan nge-less bahwa yg salah adalah orang yang ngasih tahu, bukan dia."&lt;/i&gt;

Sejak awal saya lihat, banyak yang mempermasalahkan tindakan BS (forward) karena menyamakan milis dengan media massa. Kalau anda mau berpikir dengan lebih tenang sedikit, maka anda akan melihat bahwa di mata hukum, milis adalah berbeda dengan media massa. Perbedaannya antara lain:

1. Milis (ITB dan ITB75) itu audiensnya dibatasi dan terdaftar, media massa tidak.
2. Media Massa punya badan hukum, ada SIUPP, dsb. sedangkan Milis tidak. 

Proses sampainya email dari SK ke publik adalah sbb.:
SK -&#62; BS -&#62; Milis -&#62; Archive -&#62; Oknum -&#62; MediaMassa -&#62; Publik. 

Jika proses ini diceritakan, ceritanya akan terdengar seperti ini:
"SK membuat email dan mengirimkannya ke BS, kemudian BS meneruskannya ke Milis ITB. Milis ITB meneruskannya ke Archive, Archive dibaca oleh Oknum, kemudian Oknum memberitahu Media, Media memuat berita email SK, kemudian Media dibaca oleh Publik sehingga Publik tahu mengenai keberadaan email SK."

Kalau yang dipermasalahkan oleh Kompas dan Sidik adalah tersebarnya email tsb. ke publik melalui media massa, maka dengan melihat proses penyebaran tadi, sub-proses yang terkait dengan keberatan Kompas dan Sidik adalah: 
1. Oknum -&#62; MediaMassa  (trigger proses: Oknum)
2. MediaMassa -&#62; Publik (trigger proses: Media)

Jadi, kalau mau mencari siapa yang bertanggungjawab (trigger) atas tersebarnya email ke publik, maka sub-proses yang harus ditinjau adalah 2 sub-proses di atas dan pihak yang patut untuk ditanyai adalah Oknum dan/atau MediaMassa.

Kedua:
&lt;i&gt;"Sebenarnya masalahnya mudah jika BS bersikap secara jantan mengakui “kesalahannya”, regardless of sikap RS yg kekanak-kanakan."&lt;/i&gt;

Apabila seseorang menerima tuntutan untuk mengakui kesalahan, maka persoalan utama yang dia hadapi adalah: &lt;b&gt;Kesalahan yang mana yang harus diakui?&lt;/b&gt;

Jika kesalahan yang dimaksud adalah sembrono dalam memforward email ke &lt;b&gt;milis&lt;/b&gt; (tidak memeriksa dulu kebenaran isinya), maka BS saya lihat sudah mengakuinya dan menyesalinya (di jawaban somasi), dan ini sudah sesuai dengan tuntutan Sidik point ke-1(&lt;a href="http://jkt1.detiknews.com/index.php?fuseaction=detik.read&#38;tahun=2005&#38;bulan=5&#38;tgl=3&#38;time=16446&#38;idnews=354661&#38;idkanal=10" rel="nofollow"&gt;lihat: Detik&lt;/a&gt;). Jika kesalahan yang dimaksud adalah me-mediamassa-kan, maka wajar kalau BS tidak bisa mengakuinya, karena dia tidak merasa mengirimkan email SK tsb. ke media massa.

Ketiga:
&lt;i&gt;"Memforward sesuatu ke publim itu tindakan bodoh, tapi tdk mengakui perbuatan tsb merupakan tindakan bodoh dan *pengecut*."&lt;/i&gt;

Anda melakukan &lt;b&gt;false generalization&lt;/b&gt;. "Memforward sesuatu ke publik" itu bisa dikatakan tindakan bodoh bisa pula dikatakan pintar, tergantung konteksnya (apa yang diforward, kapan, di mana, dsb.) Jadi, pernyataan anda "Memforward sesuatu ke publik itu tindakan bodoh" adalah kurang tepat, demikian pula halnya dengan kalimat kedua.

BTW, Bagaimana dengan tindakan: "Mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya", menurut Anda, apakah tindakan tersebut bodoh atau pintar? :-)

-- Zen --
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#46:<br />
Bung ME, nampaknya Anda kurang jeli dalam berpikir:</p>
<p>Pertama:<br />
<i>&#8220;Itu sama saja seperti ngomongin orang di media masa dengan harapan orangnya tidak akan baca, kalau ketahuan nge-less bahwa yg salah adalah orang yang ngasih tahu, bukan dia.&#8221;</i></p>
<p>Sejak awal saya lihat, banyak yang mempermasalahkan tindakan BS (forward) karena menyamakan milis dengan media massa. Kalau anda mau berpikir dengan lebih tenang sedikit, maka anda akan melihat bahwa di mata hukum, milis adalah berbeda dengan media massa. Perbedaannya antara lain:</p>
<p>1. Milis (ITB dan ITB75) itu audiensnya dibatasi dan terdaftar, media massa tidak.<br />
2. Media Massa punya badan hukum, ada SIUPP, dsb. sedangkan Milis tidak. </p>
<p>Proses sampainya email dari SK ke publik adalah sbb.:<br />
SK -&gt; BS -&gt; Milis -&gt; Archive -&gt; Oknum -&gt; MediaMassa -&gt; Publik. </p>
<p>Jika proses ini diceritakan, ceritanya akan terdengar seperti ini:<br />
&#8220;SK membuat email dan mengirimkannya ke BS, kemudian BS meneruskannya ke Milis ITB. Milis ITB meneruskannya ke Archive, Archive dibaca oleh Oknum, kemudian Oknum memberitahu Media, Media memuat berita email SK, kemudian Media dibaca oleh Publik sehingga Publik tahu mengenai keberadaan email SK.&#8221;</p>
<p>Kalau yang dipermasalahkan oleh Kompas dan Sidik adalah tersebarnya email tsb. ke publik melalui media massa, maka dengan melihat proses penyebaran tadi, sub-proses yang terkait dengan keberatan Kompas dan Sidik adalah:<br />
1. Oknum -&gt; MediaMassa  (trigger proses: Oknum)<br />
2. MediaMassa -&gt; Publik (trigger proses: Media)</p>
<p>Jadi, kalau mau mencari siapa yang bertanggungjawab (trigger) atas tersebarnya email ke publik, maka sub-proses yang harus ditinjau adalah 2 sub-proses di atas dan pihak yang patut untuk ditanyai adalah Oknum dan/atau MediaMassa.</p>
<p>Kedua:<br />
<i>&#8220;Sebenarnya masalahnya mudah jika BS bersikap secara jantan mengakui “kesalahannya”, regardless of sikap RS yg kekanak-kanakan.&#8221;</i></p>
<p>Apabila seseorang menerima tuntutan untuk mengakui kesalahan, maka persoalan utama yang dia hadapi adalah: <b>Kesalahan yang mana yang harus diakui?</b></p>
<p>Jika kesalahan yang dimaksud adalah sembrono dalam memforward email ke <b>milis</b> (tidak memeriksa dulu kebenaran isinya), maka BS saya lihat sudah mengakuinya dan menyesalinya (di jawaban somasi), dan ini sudah sesuai dengan tuntutan Sidik point ke-1(<a href="http://jkt1.detiknews.com/index.php?fuseaction=detik.read&amp;tahun=2005&amp;bulan=5&amp;tgl=3&amp;time=16446&amp;idnews=354661&amp;idkanal=10" rel="nofollow">lihat: Detik</a>). Jika kesalahan yang dimaksud adalah me-mediamassa-kan, maka wajar kalau BS tidak bisa mengakuinya, karena dia tidak merasa mengirimkan email SK tsb. ke media massa.</p>
<p>Ketiga:<br />
<i>&#8220;Memforward sesuatu ke publim itu tindakan bodoh, tapi tdk mengakui perbuatan tsb merupakan tindakan bodoh dan *pengecut*.&#8221;</i></p>
<p>Anda melakukan <b>false generalization</b>. &#8220;Memforward sesuatu ke publik&#8221; itu bisa dikatakan tindakan bodoh bisa pula dikatakan pintar, tergantung konteksnya (apa yang diforward, kapan, di mana, dsb.) Jadi, pernyataan anda &#8220;Memforward sesuatu ke publik itu tindakan bodoh&#8221; adalah kurang tepat, demikian pula halnya dengan kalimat kedua.</p>
<p>BTW, Bagaimana dengan tindakan: &#8220;Mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya&#8221;, menurut Anda, apakah tindakan tersebut bodoh atau pintar? <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#41;' /></p>
<p>&#8211; Zen &#8211;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
