<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Dukung Kenaikan Harga BBM! (2)</title>
	<atom:link href="http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/</link>
	<description>Changing the world, one person at a time...</description>
	<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 01:59:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577906</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 09:30:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577906</guid>
		<description>#271:

kalau ingin diskusi tolong jangan handwaving menggunakan teknik2 pelabelan seperti 'neoliberal' dll dsb.

opportunity cost adalah suatu kenyataan yang tetap eksis apapun orientasi politik anda. satu liter bensin laku dijual seharga 10 ribu. bisa saja kita jual 4,5 ribu, tapi kita kehilangan kesempatan yang bisa kita dapatkan dalam uang 5,5 ribu itu. 5,5 ribu ini bisa dipakai untuk membebaskan lahan untuk jalan tol/kereta api, membangun sekolahan, memberi bea siswa dll dsb.

kalau masih gak ngerti coba gini, persempit lingkupnya ke provinsi penghasil minyak seperti kaltim dan riau. mereka punya pilihan untuk menjual minyak dengan harga murah 4,5 ribu ke seluruh indonesia dan 90%-nya (?) dinikmati pulau jawa. atau mereka bisa menjual seharga 10 ribu dan menggunakan uangnya untuk pembangunan. rasanya mereka akan milih alternatif yang kedua.

jauh lebih baik orang beli bensin dengan harga pasar yang wajar, dan uangnya dipakai untuk hal2 yang produktif.

sumber masalah utama sebenarnya adalah BBMnya sudah hampir habis. kenaikan BBM itu hanyalah refleksi dari kenyataan ini. kalaupun ada banyak masalah dengan kenaikan BBM, sebagian besar bukan karena kenaikan BBM-nya per se, tapi akibat kenaikan yang tiba2 dan sekaligus. masyarakat gak punya banyak waktu untuk beradaptasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#271:</p>
<p>kalau ingin diskusi tolong jangan handwaving menggunakan teknik2 pelabelan seperti &#8216;neoliberal&#8217; dll dsb.</p>
<p>opportunity cost adalah suatu kenyataan yang tetap eksis apapun orientasi politik anda. satu liter bensin laku dijual seharga 10 ribu. bisa saja kita jual 4,5 ribu, tapi kita kehilangan kesempatan yang bisa kita dapatkan dalam uang 5,5 ribu itu. 5,5 ribu ini bisa dipakai untuk membebaskan lahan untuk jalan tol/kereta api, membangun sekolahan, memberi bea siswa dll dsb.</p>
<p>kalau masih gak ngerti coba gini, persempit lingkupnya ke provinsi penghasil minyak seperti kaltim dan riau. mereka punya pilihan untuk menjual minyak dengan harga murah 4,5 ribu ke seluruh indonesia dan 90%-nya (?) dinikmati pulau jawa. atau mereka bisa menjual seharga 10 ribu dan menggunakan uangnya untuk pembangunan. rasanya mereka akan milih alternatif yang kedua.</p>
<p>jauh lebih baik orang beli bensin dengan harga pasar yang wajar, dan uangnya dipakai untuk hal2 yang produktif.</p>
<p>sumber masalah utama sebenarnya adalah BBMnya sudah hampir habis. kenaikan BBM itu hanyalah refleksi dari kenyataan ini. kalaupun ada banyak masalah dengan kenaikan BBM, sebagian besar bukan karena kenaikan BBM-nya per se, tapi akibat kenaikan yang tiba2 dan sekaligus. masyarakat gak punya banyak waktu untuk beradaptasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus Nizami</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577904</link>
		<dc:creator>Agus Nizami</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 07:58:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577904</guid>
		<description>Silahkan cek:
http://infoindonesia.wordpress.com/2008/06/19/revisi-file-presentasi-%e2%80%9ctak-ada-subsidi-bbm%e2%80%9d-dan-penjajahan-kompeni/

Download juga file simulasinya kenapa Pemerintah justru untung Rp 167 trilyun dengan harga bensin Rp 4.500/liter.

Secara matematis hal itu memang benar.

Ada pun "Opportunity Cost" menurut saya itu paham Neoliberalis yang mencari untung sebesar2nya dengan mengikuti harga pasar yang sudah dimainkan para kartel dan spekulan minyak.

Bayangkan tahun 2002 harga minyak masih US$ 20/barrel sementara tahun 2008 sudah US$ 139/barrel. Naik hampir 7 x lipat selama 6 tahun. Padahal menurut CEO Shell tidak ada perubahan demand yang berarti.

Jika production cost hanya US$ 15/barrel sementara dgn harga jual US$ 77/barrel pemerintah sudah untung, kenapa harus menjual sampai US$ 103/barrel lebih? Bahkan Bappenas mengusulkan dinaikkan hingga US$ 128/barrel hingga tahun 2009.

Dengan kenaikan harga US$ 26/barrel, untuk 365 juta barrel setahun pemerintah dapat tambahan Rp 88 trilyun (total penerimaan Rp 365 trilyun).

Tapi sebagai gantinya PLN byar/pet, banyak perusahaan tutup (terutama transportasi dan industri yang banyak menggunakan BBM), nelayan tidak bisa melaut. Kerugian potensial ini tidak dihitung oleh kaum Neoliberalis.

Kaum Neoliberalis memaksa harga minyak Indonesia mengikuti harga minyak New York (NYMEX), padahal UMR Jakarta tidak sampai Rp 1 juta/bulan sementara UMR New York Rp 11 juta/bulan (US$ 7,15).

Banyak rakyat Indonesia yang bisa mati kelaparan kalau harga2 barang di sini mau disamakan dengan harga di New York, sementara UMR kita tidak disamakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Silahkan cek:<br />
<a href="http://infoindonesia.wordpress.com/2008/06/19/revisi-file-presentasi-%e2%80%9ctak-ada-subsidi-bbm%e2%80%9d-dan-penjajahan-kompeni/" rel="nofollow">http://infoindonesia.wordpress.com/2008/06/19/revisi-file-presentasi-%e2%80%9ctak-ada-subsidi-bbm%e2%80%9d-dan-penjajahan-kompeni/</a></p>
<p>Download juga file simulasinya kenapa Pemerintah justru untung Rp 167 trilyun dengan harga bensin Rp 4.500/liter.</p>
<p>Secara matematis hal itu memang benar.</p>
<p>Ada pun &#8220;Opportunity Cost&#8221; menurut saya itu paham Neoliberalis yang mencari untung sebesar2nya dengan mengikuti harga pasar yang sudah dimainkan para kartel dan spekulan minyak.</p>
<p>Bayangkan tahun 2002 harga minyak masih US$ 20/barrel sementara tahun 2008 sudah US$ 139/barrel. Naik hampir 7 x lipat selama 6 tahun. Padahal menurut CEO Shell tidak ada perubahan demand yang berarti.</p>
<p>Jika production cost hanya US$ 15/barrel sementara dgn harga jual US$ 77/barrel pemerintah sudah untung, kenapa harus menjual sampai US$ 103/barrel lebih? Bahkan Bappenas mengusulkan dinaikkan hingga US$ 128/barrel hingga tahun 2009.</p>
<p>Dengan kenaikan harga US$ 26/barrel, untuk 365 juta barrel setahun pemerintah dapat tambahan Rp 88 trilyun (total penerimaan Rp 365 trilyun).</p>
<p>Tapi sebagai gantinya PLN byar/pet, banyak perusahaan tutup (terutama transportasi dan industri yang banyak menggunakan BBM), nelayan tidak bisa melaut. Kerugian potensial ini tidak dihitung oleh kaum Neoliberalis.</p>
<p>Kaum Neoliberalis memaksa harga minyak Indonesia mengikuti harga minyak New York (NYMEX), padahal UMR Jakarta tidak sampai Rp 1 juta/bulan sementara UMR New York Rp 11 juta/bulan (US$ 7,15).</p>
<p>Banyak rakyat Indonesia yang bisa mati kelaparan kalau harga2 barang di sini mau disamakan dengan harga di New York, sementara UMR kita tidak disamakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577880</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 12:54:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577880</guid>
		<description>#268: rasanya tulisan tersebut terlalu naif dalam mempercayai omongan politisi2 oportunis yang membohongi diri sendiri semacam kwik kian gie. tentunya hitung2annya gak sesederhana itu. ada terlalu banyak hal2 yang luput diperhatikan:

1. opportunity cost. selisih penjualan BBM ke luar negeri dan subsidi ke dalam negeri dipakai untuk dana pembangunan. akibatnya, untuk menikmati pembangunan seperti sekarang, rakyat hanya perlu membayar pajak sebesar sekitar 90% daripada yang seharusnya.

2. bagi hasil dengan daerah. daerah penghasil minyak juga mendapatkan bagian dari laba. uang ini masuknya ke APBD, bukan APBN.

3. inflasi luar negeri. harga minyak naik, oleh karena itu harga barang2 yang kita impor juga akan naik. akibatnya nilai impor naik, APBN juga akan naik dan beban devisa semakin besar.

itu yang baru terpikir oleh saya saat ini. jadi, tidak perlu gegabah dan terlalu cepat mempercayai berita2 miring2 tak bertanggung jawab yang beredar di internet.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#268: rasanya tulisan tersebut terlalu naif dalam mempercayai omongan politisi2 oportunis yang membohongi diri sendiri semacam kwik kian gie. tentunya hitung2annya gak sesederhana itu. ada terlalu banyak hal2 yang luput diperhatikan:</p>
<p>1. opportunity cost. selisih penjualan BBM ke luar negeri dan subsidi ke dalam negeri dipakai untuk dana pembangunan. akibatnya, untuk menikmati pembangunan seperti sekarang, rakyat hanya perlu membayar pajak sebesar sekitar 90% daripada yang seharusnya.</p>
<p>2. bagi hasil dengan daerah. daerah penghasil minyak juga mendapatkan bagian dari laba. uang ini masuknya ke APBD, bukan APBN.</p>
<p>3. inflasi luar negeri. harga minyak naik, oleh karena itu harga barang2 yang kita impor juga akan naik. akibatnya nilai impor naik, APBN juga akan naik dan beban devisa semakin besar.</p>
<p>itu yang baru terpikir oleh saya saat ini. jadi, tidak perlu gegabah dan terlalu cepat mempercayai berita2 miring2 tak bertanggung jawab yang beredar di internet.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577878</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 12:31:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577878</guid>
		<description>#267:

&lt;blockquote&gt;
Berdasarkan pengamatan 40% yang diimpor adalah hasil re-impor bbm yang diselundupkan ke Spore lalu masuk kembali, sehingga terjadi pembengkakan subsidi
&lt;/blockquote&gt;

40% ini dari mana referensinya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#267:</p>
<blockquote><p>
Berdasarkan pengamatan 40% yang diimpor adalah hasil re-impor bbm yang diselundupkan ke Spore lalu masuk kembali, sehingga terjadi pembengkakan subsidi
</p></blockquote>
<p>40% ini dari mana referensinya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus Nizami</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577860</link>
		<dc:creator>Agus Nizami</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 06:38:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577860</guid>
		<description>Sebetulnya tidak ada yang namanya subsidi BBM sebab produksi minyak kita 1 juta bph (barrel per hari) dengan biaya US$ 15/barrel (Rp 867/liter). Sementara kebutuhan  1,2 juta bph. Jadi impor cuma 0,2 juta bph (17%).

Dengan harga jual Rp 4.500 liter (US$ 77/barrel) Pemerintah untung Rp 167 trilyun per tahun. Silahkan baca artikel lengkapnya di:

http://infoindonesia.wordpress.com

Pilih kategori BBM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebetulnya tidak ada yang namanya subsidi BBM sebab produksi minyak kita 1 juta bph (barrel per hari) dengan biaya US$ 15/barrel (Rp 867/liter). Sementara kebutuhan  1,2 juta bph. Jadi impor cuma 0,2 juta bph (17%).</p>
<p>Dengan harga jual Rp 4.500 liter (US$ 77/barrel) Pemerintah untung Rp 167 trilyun per tahun. Silahkan baca artikel lengkapnya di:</p>
<p><a href="http://infoindonesia.wordpress.com" rel="nofollow">http://infoindonesia.wordpress.com</a></p>
<p>Pilih kategori BBM</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tsubowo</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577855</link>
		<dc:creator>tsubowo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 05:21:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577855</guid>
		<description>Angka2 impor beda dengan angka pemakaian riil. Berdasarkan pengamatan 40% yang diimpor adalah hasil re-impor bbm yang diselundupkan ke Spore lalu masuk kembali, sehingga terjadi pembengkakan subsidi, dan ditambah dengan penjualan ilegal ke kapal2 asing di perairan kita, belum lagi perampokan oleh oknum pertamina di kalimantan timur dari kilang penampungan melalui pipa bawah laut yang baru terbongkar. Jadi apabila angka2 tsb bisa ditekan maka subsidi juga berkurang tentunya. Pemerintah harusnya lebih tahu bhw dgn menaikkan bbm berarti semua kebutuhan bhn pokok jg akan naik sehingga menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan menambah angka kemiskinan. BLT adalah identik dgn program BLBI, yang bila terjadi penyimpangan nanti maka sebagian rakyat miskin akan menjadi tamengnya, bedanya kalau BLBI para konglomerat menjadi kambing hitamnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Angka2 impor beda dengan angka pemakaian riil. Berdasarkan pengamatan 40% yang diimpor adalah hasil re-impor bbm yang diselundupkan ke Spore lalu masuk kembali, sehingga terjadi pembengkakan subsidi, dan ditambah dengan penjualan ilegal ke kapal2 asing di perairan kita, belum lagi perampokan oleh oknum pertamina di kalimantan timur dari kilang penampungan melalui pipa bawah laut yang baru terbongkar. Jadi apabila angka2 tsb bisa ditekan maka subsidi juga berkurang tentunya. Pemerintah harusnya lebih tahu bhw dgn menaikkan bbm berarti semua kebutuhan bhn pokok jg akan naik sehingga menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan menambah angka kemiskinan. BLT adalah identik dgn program BLBI, yang bila terjadi penyimpangan nanti maka sebagian rakyat miskin akan menjadi tamengnya, bedanya kalau BLBI para konglomerat menjadi kambing hitamnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577775</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 15:41:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577775</guid>
		<description>#265: angka2 tersebut kurang lebih sama dengan yang saya baca. memangnya menurut anda berapa angkanya? jangan2 anda menolak penghapusan subsidi hanya karena informasi anda gak update?

3 tahun yang lalu konsumsi sudah hampir melebihi produksi, saya pikir orang2 mulai tahu kalau subsidi BBM itu sesuatu yang absurd. ternyata saya salah, sekarang saat produksi sudah jauh di bawah konsumsi, ternyata masih banyak yang anti penghapusan subsidi BBM :(.

soal korupsi, mempertahankan subsidi tidak akan dapat menurunkan korupsi. kalau mau memberantas korupsi, solusinya adalah dengan memperbaiki penegakan hukum</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#265: angka2 tersebut kurang lebih sama dengan yang saya baca. memangnya menurut anda berapa angkanya? jangan2 anda menolak penghapusan subsidi hanya karena informasi anda gak update?</p>
<p>3 tahun yang lalu konsumsi sudah hampir melebihi produksi, saya pikir orang2 mulai tahu kalau subsidi BBM itu sesuatu yang absurd. ternyata saya salah, sekarang saat produksi sudah jauh di bawah konsumsi, ternyata masih banyak yang anti penghapusan subsidi BBM <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' />.</p>
<p>soal korupsi, mempertahankan subsidi tidak akan dapat menurunkan korupsi. kalau mau memberantas korupsi, solusinya adalah dengan memperbaiki penegakan hukum</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tsubowo</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577774</link>
		<dc:creator>tsubowo</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 14:00:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577774</guid>
		<description>#264:
Anda ngoco angka dari mana kebutuh kita segito buanyak per hari. Sedangkan angka pendapatan negara dari migas adalah kutipan hasil survey dari seorang ahli ekonom.
Kedua, bila subsidi dialihkan ke pendidikan anak gratis saya sangat setuju, karena pada akhirnya anak bangsa kita semua berpendidikan dan akan maju. Tetapi anda lihat sendiri uang tsb bocor dimana-mana krn dikorup besar-besaran spt kasus blbi sebesar rp.200 trilyun. Apakah anda tetap mendukung ?!. sah sah saja sih dialam demokrasi sekarang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#264:<br />
Anda ngoco angka dari mana kebutuh kita segito buanyak per hari. Sedangkan angka pendapatan negara dari migas adalah kutipan hasil survey dari seorang ahli ekonom.<br />
Kedua, bila subsidi dialihkan ke pendidikan anak gratis saya sangat setuju, karena pada akhirnya anak bangsa kita semua berpendidikan dan akan maju. Tetapi anda lihat sendiri uang tsb bocor dimana-mana krn dikorup besar-besaran spt kasus blbi sebesar rp.200 trilyun. Apakah anda tetap mendukung ?!. sah sah saja sih dialam demokrasi sekarang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: slash</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577759</link>
		<dc:creator>slash</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 06:23:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577759</guid>
		<description>numpang comment :osaya salah satu warga negara indonesia yang setuju naiknya BBM klo perlu disesuaikan dengan harga pasar dunia ,tapi dengan syarat subsidinya dialihkan ke dunia pendidikan dan kesehatan sehingga seluruh warga negara indonesia bisa sekolah dan berobat gratis!!!

sekedar ingin merevisi comment saudara rozi yang mengatakan:

"Penguasa selalu pandai bersilat lidah, dahulu bila harga BBM dunia turun pemerintah berteriak pendapatan negara turun sehingga subsidi harus dikurangi. Ehh pas harganya naik, bilangnya subsidinya terlalu besar, dan ujung-ujungnya subsidi juga dikurangi. Lalu bagaimana dengan pendapatan yang berlimpah dari hasil penjualan migas kita. Berdasarkan hitungan kasar, setiap kenaikan harga BBM dunia sebesar US$10/barel maka keuntungan bertambah rp14 trilyun, sedangkan penambahan subsidi hanya rp9 trilyun. Jadi tanpa menurunkan subsidipun, pemerintah telah meraup laba kl rp.5 trilyun. Dan keuntungan penguasa akan berlipat ganda bila subsidi dipangkas"

taukah saudara rozi bahwa produksi minyak mentah Indonesia hanya sekitar 800-900ribu barel/hari dan kebutuhan akan BBM per hari mencapai 1,4-1,5 juta barel /hari sehingga pemerintah harus mengimpor sebesar 600-700rb barel/hari yang artinya jika harga minyak mentah dunia sekarang yang mencapai $ 135/barel=kurang lebih rp 1.255.500(klo dirupiahkan dengan kurs 1$=rp 9300) berarti pemerintah harus mengeluarkan dana sebesar 1.255.500 x 700.000=hitung sendiri heheheh
jadi bisa dibayangkan berapa besar defisit APBN yang dapat terjadi jika pemerintah bersikeras untuk tidak menaikkan harGA BBM.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>numpang comment <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#111;' />saya salah satu warga negara indonesia yang setuju naiknya BBM klo perlu disesuaikan dengan harga pasar dunia ,tapi dengan syarat subsidinya dialihkan ke dunia pendidikan dan kesehatan sehingga seluruh warga negara indonesia bisa sekolah dan berobat gratis!!!</p>
<p>sekedar ingin merevisi comment saudara rozi yang mengatakan:</p>
<p>&#8220;Penguasa selalu pandai bersilat lidah, dahulu bila harga BBM dunia turun pemerintah berteriak pendapatan negara turun sehingga subsidi harus dikurangi. Ehh pas harganya naik, bilangnya subsidinya terlalu besar, dan ujung-ujungnya subsidi juga dikurangi. Lalu bagaimana dengan pendapatan yang berlimpah dari hasil penjualan migas kita. Berdasarkan hitungan kasar, setiap kenaikan harga BBM dunia sebesar US$10/barel maka keuntungan bertambah rp14 trilyun, sedangkan penambahan subsidi hanya rp9 trilyun. Jadi tanpa menurunkan subsidipun, pemerintah telah meraup laba kl rp.5 trilyun. Dan keuntungan penguasa akan berlipat ganda bila subsidi dipangkas&#8221;</p>
<p>taukah saudara rozi bahwa produksi minyak mentah Indonesia hanya sekitar 800-900ribu barel/hari dan kebutuhan akan BBM per hari mencapai 1,4-1,5 juta barel /hari sehingga pemerintah harus mengimpor sebesar 600-700rb barel/hari yang artinya jika harga minyak mentah dunia sekarang yang mencapai $ 135/barel=kurang lebih rp 1.255.500(klo dirupiahkan dengan kurs 1$=rp 9300) berarti pemerintah harus mengeluarkan dana sebesar 1.255.500 x 700.000=hitung sendiri heheheh<br />
jadi bisa dibayangkan berapa besar defisit APBN yang dapat terjadi jika pemerintah bersikeras untuk tidak menaikkan harGA BBM.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577671</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 07:32:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577671</guid>
		<description>#262:

&lt;blockquote&gt;
Sikaya maupun simiskin sebagai seorang warganegara mempunyai hak n kewajiban yang sama, rakyat berHAK menikmati hasil penjualan minyak bumi mentah Indonesia yang dikonversikan dalam bentuk subsidi bbm matang yang diimpor
&lt;/blockquote&gt;

warga negara tetap menikmati hasil penjualan minyak mentah walaupun harga minyak tidak disubsidi. ini dalam bentuk pembangunan yang bisa dilakukan kurang lebih 1.5x lipat daripada jumlah pajak yang dibayarkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#262:</p>
<blockquote><p>
Sikaya maupun simiskin sebagai seorang warganegara mempunyai hak n kewajiban yang sama, rakyat berHAK menikmati hasil penjualan minyak bumi mentah Indonesia yang dikonversikan dalam bentuk subsidi bbm matang yang diimpor
</p></blockquote>
<p>warga negara tetap menikmati hasil penjualan minyak mentah walaupun harga minyak tidak disubsidi. ini dalam bentuk pembangunan yang bisa dilakukan kurang lebih 1.5x lipat daripada jumlah pajak yang dibayarkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tsubowo</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577664</link>
		<dc:creator>tsubowo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 04:44:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577664</guid>
		<description>Sikaya maupun simiskin sebagai seorang warganegara mempunyai hak n kewajiban yang sama, rakyat berHAK menikmati hasil penjualan minyak bumi mentah Indonesia yang dikonversikan dalam bentuk subsidi bbm matang yang diimpor. Jadi jangan bandingkan dgn harga bbm di negara bukan penghasil minyak mentah. Penguasa berpikiran picik bila mengatakan bhw subsidi hanya dinikmati oleh sikaya, sebab dengan kenaikan bbm maka efek domino kenaikan harga2 kebutuhan pokokpun akan menyengsarakan semua warganegara tidak terkecuali simiskin tambah melarat.
Penguasa dengan ringannya menganjurkan bila keberatan jangan beli bbm, apakah biaya angkutan umum juga tidak naik ?. Lalu akan dijawab ya jangan naik kendaraan umum, jalan kaki saja.
Bagaimana dgn harga beras yang ikut naik akibat kenaikan biaya transportasi, "ya jangan makan nasi... begitu aja koch repot !". 
Mungkin ini sejalan dengan rencana penguasa untuk mengentaskan dan membasmi kemiskinan dengan cepat dengan banyaknya kasus2 bunuh diri akibat masalah perut ?!.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sikaya maupun simiskin sebagai seorang warganegara mempunyai hak n kewajiban yang sama, rakyat berHAK menikmati hasil penjualan minyak bumi mentah Indonesia yang dikonversikan dalam bentuk subsidi bbm matang yang diimpor. Jadi jangan bandingkan dgn harga bbm di negara bukan penghasil minyak mentah. Penguasa berpikiran picik bila mengatakan bhw subsidi hanya dinikmati oleh sikaya, sebab dengan kenaikan bbm maka efek domino kenaikan harga2 kebutuhan pokokpun akan menyengsarakan semua warganegara tidak terkecuali simiskin tambah melarat.<br />
Penguasa dengan ringannya menganjurkan bila keberatan jangan beli bbm, apakah biaya angkutan umum juga tidak naik ?. Lalu akan dijawab ya jangan naik kendaraan umum, jalan kaki saja.<br />
Bagaimana dgn harga beras yang ikut naik akibat kenaikan biaya transportasi, &#8220;ya jangan makan nasi&#8230; begitu aja koch repot !&#8221;.<br />
Mungkin ini sejalan dengan rencana penguasa untuk mengentaskan dan membasmi kemiskinan dengan cepat dengan banyaknya kasus2 bunuh diri akibat masalah perut ?!.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2005/09/23/dukung-kenaikan-harga-bbm-2/#comment-577545</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 08:02:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=468#comment-577545</guid>
		<description>#259:

&lt;blockquote&gt;
Berdasarkan hitungan kasar, setiap kenaikan harga BBM dunia sebesar US$10/barel maka keuntungan bertambah rp14 trilyun, sedangkan penambahan subsidi hanya rp9 trilyun. Jadi tanpa menurunkan subsidipun, pemerintah telah meraup laba kl rp.5 trilyun. Dan keuntungan penguasa akan berlipat ganda bila subsidi dipangkas.
&lt;/blockquote&gt;

tidak sesederhana itu :P. kenaikan harga BBM dunia pasti mengakibatkan harga barang2 lainnya juga naik, terutama yang kita impor. akibatnya segala macam pengeluaran pasti akan naik. dan kalau nilai impor naik, kita butuh devisa lebih banyak. dan devisanya juga sebagian besar dari minyak.

contoh ekstremnya: negara2 OPEC merasa harga minyak terlalu tinggi. kenapa? padahal kan mereka untung besar dari situ. jawabannya karena negara2 OPEC pada umumnya adalah importir kelas berat dan gak punya komoditas lain untuk diekspor selain minyak. harga minyak naik, maka nilai impor mereka juga bakalan naik.

#260:

&lt;blockquote&gt;
kalo pemerintah bisa berpikir apa salahnya dana yang direncakan buat blt itu di alihkan jadi subsidi bbm..,
&lt;/blockquote&gt;

ya jelas salah donk :). hak rakyat miskin kok mau diembat sama yang kaya? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#259:</p>
<blockquote><p>
Berdasarkan hitungan kasar, setiap kenaikan harga BBM dunia sebesar US$10/barel maka keuntungan bertambah rp14 trilyun, sedangkan penambahan subsidi hanya rp9 trilyun. Jadi tanpa menurunkan subsidipun, pemerintah telah meraup laba kl rp.5 trilyun. Dan keuntungan penguasa akan berlipat ganda bila subsidi dipangkas.
</p></blockquote>
<p>tidak sesederhana itu <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' />. kenaikan harga BBM dunia pasti mengakibatkan harga barang2 lainnya juga naik, terutama yang kita impor. akibatnya segala macam pengeluaran pasti akan naik. dan kalau nilai impor naik, kita butuh devisa lebih banyak. dan devisanya juga sebagian besar dari minyak.</p>
<p>contoh ekstremnya: negara2 OPEC merasa harga minyak terlalu tinggi. kenapa? padahal kan mereka untung besar dari situ. jawabannya karena negara2 OPEC pada umumnya adalah importir kelas berat dan gak punya komoditas lain untuk diekspor selain minyak. harga minyak naik, maka nilai impor mereka juga bakalan naik.</p>
<p>#260:</p>
<blockquote><p>
kalo pemerintah bisa berpikir apa salahnya dana yang direncakan buat blt itu di alihkan jadi subsidi bbm..,
</p></blockquote>
<p>ya jelas salah donk <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' />. hak rakyat miskin kok mau diembat sama yang kaya? <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
