3 February 2006

Ubuntu Linux, Bea Cukai, dan Kantor Pos (2)

Posted under: at 19:26

Pada acara kedatangan Mark Shuttleworth dalam acara roadshow Ubuntu tanggal 1 Februari yang lalu, Eko Juniarto membawa ‘oleh-oleh’ berupa surat Berita Acara Penegahan terhadap pengiriman 200 keping CD Ubuntu Linux yang masuk melalui Semarang.

Ada dua buah surat yang dibawa oleh Eko. Kedua-duanya dibuat oleh petugas Bea Cukai Semarang. Sedangkan jumlah CD yang ditahan berjumlah 200 keping untuk masing-masing kasus.

Surat tersebut mengatakan bahwa ke-200 CD Ubuntu Linux tersebut ditahan berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 05/M-DAG/PER/4/2005. Eko juga memaparkan definisi ‘Penegahan’ adalah ‘tindakan untuk menunda pengeluaran, pemuatan dan pengangkutan barang impor atau ekspor sampai dipenuhinya kewajiban pabean’.

Jadi inti permasalahan dari penahanan 400 keping CD Ubuntu di Semarang ini adalah bahwa petugas Bea Cukai menyangka bahwa kegiatan pengiriman tersebut adalah dalam rangka ekspor dan impor.

Saya tidak tahu persis definisi impor, tetapi dalam pikiran saya adalah memasukkan barang ke dari luar ke dalam negeri dengan tujuan untuk dijual di dalam negeri. Dengan definisi ini tentunya pengiriman CD Ubuntu tidaklah masuk dalam kategori impor. Penerima CD Ubuntu di Indonesia adalah konsumen akhir, dan kemungkinan bukan penjual yang akan menjual kembali CD tersebut. Saya pribadi melihat hal ini hanyalah ketidaktahuan dari pihak Bea Cukai. Pihak penerima seharusnya bisa mengklaim kiriman tersebut jika dapat meyakinkan Bea Cukai bahwa barang-barang tersebut bukan untuk dijual kembali.

Jumlah CD yang cukup banyak mungkin membuat pihak Bea Cukai menyangka bahwa ini adalah aktivitas impor. Apalagi CD-CD tersebut dihargai dengan sangat murah oleh pengirim, bisa jadi Bea Cukai mencurigai bahwa ini adalah usaha untuk menghindari kewajiban yang dilakukan importir. Seingat saya, dulu sewaktu SuSE mengirim satu krat SuSE Linux Professional sekitar 8 tahun yang lalu, hal tersebut juga dikategorikan sebagai aktivitas impor oleh pihak Bea Cukai. Saya memang gagal untuk mengklaim paket tersebut, tetapi bukan karena dicurigai menghindari kewajiban.

Sebagai perbandingan, hal yang juga bersinggungan dengan kasus ekspor impor adalah jasa makelar pembelian barang-barang di Internet. Karena kartu kredit Indonesia ditolak oleh hampir semua penjual di luar negeri, beberapa pihak membuat usaha makelar pembelian barang di Internet. Usaha seperti ini sempat populer di akhir tahun 90-an, tetapi tidak bertahan lama. Pertama-tama memang bebas beroperasi, tetapi setelah melihat volume transaksi yang cukup tinggi pihak Bea Cukai (di dalam maupun di luar negeri) mengklasifikasikan usaha semacam ini sebagai aktivitas ekspor impor ilegal.

Berdasarkan pengalaman ini, saya menyarankan agar pemesan CD Ubuntu di Indonesia tidak memesan CD dalam jumlah yang terlalu banyak. Jika memang membutuhkan banyak CD, mungkin lebih baik jika proses penggandaan dilakukan di dalam negeri. Selain itu hindari pula memesan CD terlalu sering. Hal-hal ini bukan hanya akan memudahkan proses klaim barang di Kantor Pos atau Bea Cukai, tetapi juga akan meringankan beban di pihak Ubuntu.

50 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!