84 Juta Rupiah untuk Situs Kepresidenan itu Relatif Murah
Sudah banyak kasus-kasus penyelewengan dalam pengembangan situs web pemerintahan. Sebagai contoh adalah pengembangan situs Pemda Jawa Barat yang mencapai Rp 847 juta, atau pengembangan situs Kabupaten Mentawai yang membutuhkan biaya sampai Rp 1,95 milyar. Sedangkan pembuatan situs resmi kepresidenan hanya berharga Rp 84 juta, tetapi masih ada yang berpendapat bahwa harga demikian masih terlalu mahal. Lalu berapa harga ideal sebuah situs web kepresidenan?
Hal-hal yang sering terjadi adalah generalisasi yang berlebihan. Jika situs Priyadi.net bisa berdiri dengan membutuhkan usaha dua atau tiga malam begadang ditambah ongkos domain sebesar beberapa puluh ribu per tahun saja, lalu apakah situs kepresidenan juga hanya membutuhkan hal yang serupa? Tentu saja tidak. Masih ada faktor-faktor lain yang membedakan antara situs biasa dan situs-situs seperti situs web kepresidenan.
Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah:
Beban server dan utilisasi bandwidth. Sebuah situs kepresidenan akan jauh lebih sibuk daripada Priyadi.net. Jika Priyadi.net hanya mendapat permintaan (request) dua kali dalam satu detik, maka situs kepresidenan bisa jadi mendapat seratus atau bahkan seribu kali lebih banyak. Sangat jelas situs kepresidenan tidak akan dapat ditangani oleh hanya sebuah server, apalagi oleh sebuah akun shared-hosting. Rasanya situs kepresidenan membutuhkan lima sampai sepuluh buah server, baik yang berhadapan langsung dengan Internet, maupun yang berada di belakang.
Sumber daya manusia. Hitung-hitungan proyek IT kerap kali melupakan faktor yang satu ini dan terlalu terpaku kepada faktor fisik saja. Untuk merangkai bahan baku sebuah sistem IT tetap dibutuhkan sumber daya manusia. Bagaimana sumber daya manusia yang dibutuhkan? Hal ini tentunya dapat diperdebatkan. Tetapi yang jelas semakin murah sumber daya manusia maka semakin tinggi resiko yang akan dihadapi oleh kepresidenan. Berapa seharusnya biaya yang dikeluarkan untuk keperluan SDM? Saya pernah menghitung jika sistem ini dibangun oleh tiga orang selama dua bulan dan mereka dibayar Rp 5 juta/bulan/orang, maka total biaya yang dikeluarkan sudah mencapai Rp 30 juta. Dan rasanya perhitungan tersebut sangatlah konservatif.
Keamanan sistem. Karena ini adalah situs yang menyangkut negara, maka keamanan perlu mendapat perhatian yang lebih. Kita tidak ingin rahasia negara diketahui oleh pihak luar yang memanfaatkan kelemahan pada sistem ini. Bahkan, hal kecil seperti vandalisme situs akan berubah menjadi sesuatu yang sangat serius jika dilakukan pada situs sepenting situs kepresidenan.
Perawatan sistem. Satu hal lagi yang sering dilupakan adalah perawatan sistem. Banyak orang yang menganggap setelah pembuatan sistem selesai, maka sistem tersebut akan berjalan dengan sendirinya. Tentunya hal ini tidaklah benar. Perancang sistem perlu membuat dokumentasi dan SOP yang perlu diikuti oleh tim yang akan menangani sistem setiap harinya. Hal ini juga meliputi pelatihan staf serta perekrutan atau penambahan sistem komputer jika dibutuhkan. Jika hal ini tidak dilakukan, maka nasib situs ini rasanya akan seperti sebagian situs pemerintahan lainnya.
Biaya perangkat lunak. Jangan lupakan juga biaya perangkat lunak. Walaupun demikian dengan biaya ‘hanya’ Rp 84 juta, saya sepenuhnya yakin bahwa sistem ini didesain dengan menggunakan perangkat lunak FLOSS. Jika menggunakan perangkat lunak komersil saya yakin biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih tinggi, baik di awal pembuatan maupun biaya perawatannya.
Singkatnya, membuat situs kepresidenan tidaklah semudah beli domain, sewa hosting dan menginstall WordPress. Masih sangat banyak hal-hal lain yang perlu dipikirkan. Jangan sampai ucapan legendaris “Peralatan yang dipakai KPU terlalu hebat padahal yang dibutuhkan cuma program Excel saja”™ terulang kembali.
Bagaimana dengan pendapat bahwa hal-hal semacam ini hanya buang-buang uang? Media seperti ini sangatlah perlu untuk keperluan akuntabilitas. Tidak jauh berbeda dengan logging pada sebuah web server, kita tidak mematikan fungsi logging hanya karena proses logging memakan sumber daya. Kita membutuhkan informasi yang berasal dari proses logging karena kita ingin mengontrol server kita.
Rp 84 juta itu tak sebanding dengan manfaat yang kita dapatkan. Walaupun demikian sebaiknya memang tim IT situs kepresidenan tetap merinci untuk apa saja Rp 84 juta itu supaya segalanya menjadi lebih jelas lagi
.
idup open source..
Apakah faktor-faktor di atas sudah pasti sesuai fakta di lapangan? Atau masih berupa perkiraan pribadi?
Ide dasarnya adalah: masyarakat membutuhkan kejelasan, untuk apa uang mereka digunakan, untuk kemanfaatan bersama atau sekedar segelintir orang.
Semurah apapun harga teknologi masyarakat awam tidak akan tau jika tidak diberitau, dan semahal apapun harganya; masyarakat juga ingin tau. Jadi tau sama tau begito lo!
Yang lebih penting lagi: bagaimana untuk memasyarakatkan dan menaikkan daya beli masyarakat thd teknologi, sehingga tidak hanya 1:100 dari warga Indonesia yg bisa menikmati kecanggihan komunikasi.
Kok ya aneh jika situs presiden cuma dikunjungi orang itu2 saja hanya karena yg lain tidak mampu mengaksesnya (apapun alasannya)
P/S Kok Om Pri mengquote “itu” lagi? Cari quote yg lain dong
Pada prinsipnya, cost and benefit, gak ada kata “mahal” jika manfaatnya bisa dirasakan sebanding dengan biaya yang keluar


Mudah-mudahan ada manfaatnya ….

Mudah-mudahan manfaatnya terasa ….
hack yuuukkkk
j/k
saya awalnya merasa biaya itu juga terlalu besar, karena banyak yang bisa mengerjakan dengan biaya yang lebvih rendah.. namun, setelah dihitung-hitung dengan perhitungan awam (belum detail), memang akhirnya biaya itu masuk akal…
yaah, mudah2an bermanfaat ya pak SBY
#3 Butuh sejelas apa ? Dan siapa yang butuh sampai sejelas itu ? Apakah masyarakat juga butuh rincian biaya makan, bepergian, ngemil SBY ?
Urusan daya beli masyarakat jangan dikaitkan dengan situs ini, terlalu jauh.
Situs itu cuma dikunjungi oleh orang itu2 saja? Apa benar begitu? Orang itu2 yang mana? Siapa? Tau dari mana Anda? Jangan-jangan Anda sama aja dengan yang “di-quote” Priyadi
#2 : Prediksi akses dari Priyadi memang benar. Mesin yang digunakan lebih dari 5 mesin. Pada hari pertama akses ke jaringan nyaris membuat saturasi koneksi sehingga terjadi penambahan bandwidth oleh provider jaringan. Untuk kontrak ke provider jaringan cukup flexible. Ini belum kena slashdot
Karena faktor keamanan dan keberlangsungan sistem, maka setiap sistem (baik CMS, web server dsb) memiliki backup mesin yang sama dan siap beroperasi menggantikan sistem kalau ada kerusakan. Mesin ini walau tidak dipakai khan harus disewa juga. Mirip ban serep yang jarang dipakai tapi harus dibeli dan dibawa kemana-mana. Ini yang membuat biaya jadi bertambah.
Begitu juga fasilitas logging membutuhkan 1 mesin terpisah yang melog semua aktifitas baik pengelola maupun operasi sistem. Ini tambah biaya lagi khan. Memang faktor utk backup dan keamanan ini menambah biaya dan seperti tidak kelihatan fungsinya.
#3 : Situs prediden ini bukan saja untuk konsumsi pengguna Internet akses langsung, tetapi juga digunakan oleh media lainnya sehingga bisa digunakan sebagai materi untuk menyampaikan ke rakyat yang tidak mampu mengakses Internet.
Pertanyaannya: kenapa harus membuat website khusus Presiden SBY? Kenapa tidak memaksimalkan website resmi Republik Indonesia yang sudah ada saja? Sepertinya saya merasakan suatu “manajemen ruwet” di sini, juga suatu “tumpang tindih pekerjaan” yang tidak perlu.
84 juta untuk biaya investasi awal (cuma sekali doang), masuk akal deh ampe abis segitu.. Namanya juga buat presiden, harus dibikin double link dan servernya (buat back up kalo link yang satu mati yang lain hidup), belum biaya design, biaya maintenance, survey dll.. dsb..
Yang aku heran buat kelanjutannya, biaya server (hosting) aja, ke Telkom yang mencapai Rp 28,6 juta perbulan
.. nah itu apa ga kemahalan?
#8 : Di Jerman aja ada http://www.bund.de, http://www.bundeskanzler.de, http://www.bundesregierung.de dan juga http://www.bundespraesident.de
Masing-masing memiliki fungsi dan dikelola oleh badan yang berbeda.
Baiknya sih pak SBY itu nge-Blog diam-diam aja (nyamar jadi rakyat), nekat ikut milis idung panjang sampai kejunk-kejunk, rame-rame Piye Mit” naah udah setahun baru ikut kopdar Duuar, dijamin para pelawak digital miris semua deh kalo coba-coba carmuk-online (ketahuan belang).
#6 waah itu terlalu jauh
gak nyambung ya?
Dan saya masih tanya tentang domainnya yang berakhiran DOT INFO itu lo, kalau saya baca di tread idGmail yang dapat tendangan lupa dari milist mana
dikatakan bahwa situs ini di biayai APBN, tapi kenapa menggunakan domain DOT INFO? dan saya liat kalau dibiayai APBN kok make embel embel SBY, seharusnya kalau APBD khan situs Pemerintah jadi DOMAIN bisa presidenri.go.id ini baru saya setuju kalau di Biayai APBN. 
#5: ini dia nih contoh2 orang yang ngga bertanggung jawab dan kurang kerjaan. dari pada nge-hack situs kepresidenan, mbok ya lebih baik mikirin dirimu sendiri, pikirkan masa depanmu
masih banyak hal2 bermanfaat lainnya yang bisa dilakukan toh?
*sorry. klo niat kamu sekedar joke, itu joke yang ngga bermutu.
Kalo buat mahasiswa SEMUA itu MAHAL dan kenapa ga dipake buat beli BERAS heheheh
Saya setuju dengan Om Pri.
#9 : 29 juta yang dibayarkan ke TELKOM itu bukan hanya untuk server saja dan bukan 1 mesin saja. Masih BANYAK fasilitas lainnya termasuk juga untuk fasilitas backup storage dan lain-lainnya.
Oh ya itu termasuk untuk support yang diberikan oleh TELKOM bila ada permasalah teknis. Kalau dihitung dengan “standard” sistem yang baik malah fasilitas yang digunakan masih mepet (perbandingan dengan kampus saya Jerman untuk sistem yang harus online terus, misal perpustakaan dsb, utk 1 server akan selalu ada 1 backup, dan 1 development).
INPAIT KE KAMPUNG GAJAH AJA
Aneh, apakah tipikal orang Indonesia yang cenderung negatif dengan uang, kok banyak yang sinis dengan website Presiden ini, kenapa gak melihat informasi yang ditulis di website tersebut sebagai sesuatu yang mahal.
developernya websitenya siapa ya? asik bener bisa bikin situsnya presiden.
#2:
semua ini perkiraan dan hanya tim IT kepresidenan yang tau, tapi melihat faktanya (kualitas situs sangat baik, hari pertama gak susah diakses, dan bagus diakses dari luar negeri), maka YA, 84 juta itu murah untuk sistem seperti ini. dan kalau dihitung2 kok rasanya yang ngerjainnya underpaid
kalau pakai software proprietary, 84 juta itu mungkin baru bisa nutup biaya beli software dan hardware.
Jangan lupa mungkin ada uang pribadi yang disumbangkan ke dalam proyek ini yang di-omit dari realisasi dana. Jadi ya, realisasi dananya kelihatan kecil.
Tapi lain dr itu, masalah domain name, kalo beliau sudah tidak jadi presiden lagi berarti akan jadi “mantanpresidensby.info”.
Kalo di http://www.whitehouse.gov/president/ ga specific ke satu nama. Dan, Mr. Cheney juga punya page sendiri. Bagaimana dengan Bpk. Kalla?
apakah yang pegang projek adalah mister You Know WHO.??
Just Wantna Say Hi Mister Hi
Bagaimana kalau semua situs pemerintah (pusat/daerah) juga digabung di tempat yang sama dengan yang sekarang? Solusi baik atau burukkah?
dalam beberapa hal, mahal dan murah memang tergantung sudut pandang. di atas semua itu ada yang lebih penting; apakah 84 juta itu wajar? apakah 29 juta sebulan itu wajar? tidakkah itu berlebihan?
jawabannya mungkin ini; sangat wajar dan tidak berlebihan untuk ukuran istana yang bergelimang harta.
ya… selesailah perdebatan.
Untuk website dengan traffic sebesar itu, website sby masih cukup kencang dan semoga aman dan stabil.
Mantab deh pokoknya!
bagiku sih masih mahal pak priyadi…
bukan karena alasan2 diatas..
tapi karena perinciannya nggak jelas…
ah, sudahlah…
kan yang teriak-teriak sistem IT KPU kemahalan sekarang masuk sebagai penasehat web site SBY, jadi 84 juta itu pasti sudah sangat-sangat murah. tinggal bikin pake excel terus save as web, dan harga excel sendiri yang tergabung dalam paket microsoft office juga harganya nggak sampai 10 juta. sekarang tinggal menunggu pengumuman cara mengirim aspirasi ke website tersebut melalui fax, yang tentunya kertasnya harus di-laminating terlebih dulu.
#28: saya juga gak jelas pak didats, tapi coba ditaksir kira2 proyek seperti itu butuh dana berapa.
#26: mengingat sejarah indonesia ya memang sering kita setuju atau tidak setuju hanya dengan melihat kedudukan atau kaya miskinnya seseorang. kalau semuanya dikaitkan dengan isu daya beli masyarakat ya susah juga, kita gak akan maju2 nantinya. harusnya kita bisa melihat jauh lebih daripada itu.
Bahkan banyak yang berkomentar tanpa membedakan mana yang bersifat investasi dan mana yang bersifat biaya.
Ya memang jika dibandingkan dengan situs2 pelat merah yang lain, situs Pak SBY tergolong murah. Tapi untuk orang awam tetap saja ‘tampak’ mahal.
Terimakasih penjelasannya.
Saya baru paham kenapa bisa semahal itu.
jadi kapan mau pindah ke priyadi.info
Nama Domain dan Alokasi Dana untuk Situs Web Presiden
Tulisan kedua tentang situs Web Presiden Susilo Bambang Yudhoyono: berisi kutipan perkembangan selanjutnya yang saya peroleh dari mailing list dan blog. Perihal nama domain Sebagian orang mempertanyakan TLD .info yang dipakai dan yang lain tentang akhi…
#22, jika baru berupa perkiraan, saran saya, ada baiknya dalam posting di atas dicantumkan dengan jelas bahwa faktor-faktor itu adalah perkiraan pribadi.
Awalnya, saya pikir posting ini adalah press release dari tim pembuat situs web itu…
Tidak menyangkut rupiah, apakah situs ini mengenai presiden sebagai lembaga, atau SBY sebagai pribadi?
Kalau itu situs pribadi SBY, tak ada masalah apapun. Kalau itu situs pribadi, yang bisa jadi sorotan, tentu sumber dana yang dipakai. Kalau tentang angka 84 juta, masih sangat “masuk akal” dibanding 2 Milyar situs Mentawai Online 
Jika sebagai lembaga, mungkin masalah domain dan isi bisa jadi bahan kritikan. Misalnya kok sebagai lembaga, ada “istri presiden”
Biaya segitu saya setuju kalau dikatakan “relatif tidak mahal”.
Udahlah.. jujur aja, buat para developer software, network admin, dan IT related worker lainnya. Kira-kira berapa anda bakalan minta dibayar kalau urusannya sudah menyangkut NEGARA dan juga nama baik PRIBADI / KELOMPOK secara langsung. Bandingkan juga dengan proyek-proyek yang sudah pernah anda tangani.
Untuk license software propietary, 84 juta itu kadang-kadang enggak nutup.
Anyway, salut dengan kondisi ini
# ngga tau nanggepin yang mana…
1. misal, di daerah (APBD dan bukan APBN), untuk pengadaan 1 LCD infocus , 2 perangkat komputer, , camera digital, bisa sampai 100 juta (belum ppn+pph 10%), dan saya rasa masih terlalu mahal. So>> web pak pres masih relative(dibanding tukang becak s/d saya, ngga kuat) murah.
2. Harus lihat tugas pokok dan fungsi presiden (saya juga ngga tau) itu sudah termasuk tupoksi belum sampai-sampai menggunakan APBN?
3. Misal (mbandingin lagi). Denger-denger untuk tele conference dulu katanya pernah nyampe 400 jt, padahal pake YM/Google talk bisa lebih murah (&secure). Lha ini, tinggal lihat konteksnya, untuk gaya-gayaan atau tugas kenegaraan.
Masalahnya mungkin bukan itu toh mas. Cuma aliran dana 84 juta itu yang jelas (dan kenapa bisa dia yang dapet proyeknya). Saya juga kurang jelas, nilai proyek berapa minimal yang harus ditenderkan.
#35: ya kalo gua tahu ’sesuatu’ kenapa harus tanggung2!? ada sebabnya kenapa gua gak tulis perincian harganya di sana. karena gua memang gak tahu apa2. rasanya tulisan gua udah sangat jelas sekali bukan press release dari tim IT kepresidenan. setuju bahwa 84 juta itu murah bukan berarti gua itu juru bicara tim IT presiden.
Betul, saya setuju dengan pendapat ini. Seringkali kita terlalu cepat untuk memvonis proyek ini itu sebagai proyek “buang-buang uang”. Meskipun terkadang kenyataannya memang demikian, namun seringkali kita melupakan faktor manusia sebagai salah satu kunci sukses di dalamnya. Herannya di sisi lain, kita sering teriak-teriak sebagai “UNDERPAID WORKER“.
4. Maaf , barusan kedudul duluan.
Masalah kenyamanan, ada yang ngga nyaman pas saya nyoba dl. Perpu #1 ada yang bisa ngejelasin?
Kita tunggu aja,kapan Mr President nulis pemikiran dia untuk negeri.
#28 Pria Berkupluk di CHINA oe
IT itu mahal yah
#40, ah, gw gak nuduh lo adalah “juru bicara tim IT presiden”…
Mark up gila²an di Indo kadang dianggap sudah wajar sih, katanya karena yang kasih kita kerjaan (company man-nya) sering minta fee. Jadi kalau gak dimark-up bisa nombok deh sang kontraktor. Mo untung malah buuntung. pakuntungnya mana?
84 Juta, kalo hanya sekali sih beneran gak papa… karena seperti yang dijabarkan diatas semua itu masuk akal. cuman… SBY harus tahu rincian biaya itu untuk apa saja, itu yang lebih penting… mungkin Beliau harus cross check juga ama yang nerima uang, utuh gak dia dapet 84 Juta ato…. ada piritannya
“© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang”
Kalo SBY dah gak jadi presiden, gimana ya nasib web itu…Apa trus jadi web pribadi SBY, trus presiden berikutnya bikin web baru dengan segala macam “invest” untuk software/hardware baru yg biayanya ditanggung negara? Atow jadi : Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Mr/Mrs. X?
wajar lah kalau biayanya segitu memang teknologi itu mahal
pokoknya bakumba-kumba-kumba kero-kero
sebenernya gua masih bingung….emang itu situs untuk presiden?? Kok domainnya pakai presidensby.info seh? berarti setiap kali ganti presiden domain ama template desainnya bakal ganti. Wah, bakal berubah-ubah trus dong.
Dari situ aja dah keliatan, ini situs bukan untuk jangka panjang, cuman buat sementara. GAnti presiden, bikin situs baru dengan sistem baru dengan duit juga. Beuh, bakal jadi pengeluaran rutin neh. pengeluarannya rutin tapi jumlahnya bisa kayak harga daging sapi neh…naik teruuussss!!!!
jelas… sodara terjauuuuhnya pri ada dibalik itu
jadi ke 5 server itu bisa dipake download ISO gak ? sayang beli bandwidth mahal2 tapi ga dipakai secara maksimal.. hi hi hi
Cukup murahâ„¢ juga ya klo dikira2, biaya invest segitu.
Trims buat penjelasan faktor2 lainnya, Pak Pri.
84 juta termasuk murah ya?….hmmm…ternyata bikin website itu mahl ya….
buat SBY, mantap!!!
84 juta khan biaya pembuatan saja.
belom di hitung biaya maintenance, biaya server, biaya redaksi. total - total setahun juga 750 juta lebuh belom lage hidden cost yang tidak di publikasikan (gaji atau kompensasi para redaksi). Semua pekerjaan yang tidak di tender cenderung bermasalah kok
Saya menduga kuat, pasti ada yang digunakan untuk makan-makanâ„¢
cukup masuk akal kali ini
Menurut si gue mah 84 juta itu murah (rada2 terlalu murah malahan), apalagi kalo bener apa yg di*perkirakan* ama Pri di atas. Howepper si gue hakul yakin yg 84 juta itu mah cuma *biaya development* doang, gag mungkin lah termasuk operating cost, bandwitdh rental dll (coba deh kalkulasi total biaya development cost + operating + maintenance cost setaun, pasti ngagetin!). Mudah2an di sektor yg ini ntar gag ada mark-up2an.
Mohon dicatet, gimanapun juga ini (biayanya) masih jauh lebih murah dari biaya pembuatan (development cost doang lho!) kebanyakan situs plat merah di negeri kita! Lagian, siapa bilang teknologi itu murah? U pay peanuts u get monkey lah!
BTW, berhubung tgl 27 nanti Pak SBY mo dateng ke Brunei (n mudah2an ada acara ketemu ama kita2 disini), kira2 ini pantes ditanyain gag ya? Sarannya dung folks!
84 juta kalo dibeliin krupuk bisa dapet bertruk truk, kalo dibeliin es cendol bisa sampe mandi mandi tuh

BTW situs SBY seneng deh kasi liat wajah index.php
iya masalahnya soal domain. ini situs pribadi bukan lembaga kepresidenan. satu, apa justifikasi memakai apbn utk kepentingan pribadi? kedua, dengan gampang org curiga ini hanya alat kampanye utk 2009.
Pri, kalo disuruh ngerjain, kamu minta bayaran berapa?
*jongkok sambil ngitungin recehan hasil ngamen*
Presiden kita canggih! kenapa yah internet nggak dimurahin supaya bisa akses tiap hari situs Presiden kita
.
Saya setuju dengan pendapat ‘priaberkupluk’ bahwa perincian alokasi dananya tidak jelas karena kita tidak tahu seberapa besar proporsi ‘resource’ yang dipakai dalam pembuatannya (dalam arti ‘resource’ apa saja yang digunakan dan sampai tingkat apa). Sehingga seolah prediksi aspek teknis berbanding biaya menjadi tidak relevan lagi. Maksud saya, kita sedang berbicara pemerintahan di Indonesia, dimana konsep ‘Business is business’ tidak terlalu dipakai di sini (dalam arti tidak seperti di negara liberal) karena kemungkinan telah menyentuh ranah politik. Ada kemungkinan ongkos yang pantas dibawah 84 juta, tapi bisa juga diatas 84 juta untuk situs kepresidenan di Indonesia. Ranah politik yang saya maksud adalah kemungkinan presiden tidak ingin terjadi pemborosan biaya seperti pada kasus ‘teleconference’ kemarin dengan menekan angka dibawah 100 juta atau tetap juga terjadi pemborosan sehingga biayanya membengkak menjadi ‘84 juta’ padahal selayaknya (dari harga pasaran) tidak segitu.
Supaya tidak bingung dengan pendapat saya diatas, saya beri beberapa penjelasan maksud saya diatas.
- Untuk sistem2x e-learning bagi suatu instansi (setingkat pemda) atau perusahaan menengah, developer (termasuk aspek sekuriti standar) mematok kisaran harga 20 jutaan, 30 jutaan, 50 jutaan sampai 80 juta tergantung siapa developernya dan sampai tingkat mana ‘resource’ yang dipakai. Hal ini juga masih tergantung geografis konsumennya (sekali lagi acuan yang dipakai adalah setingkat pemda, bukan lembaga kenegaraan atau provinsi). Harga di Jakarta tidaklah sama dengan di Yogya meski ‘output’ yang dihasilkan setara. Akhirnya kesimpulan disini, harga 84 juta melampaui harga pasaran. Bagian yang ini setengahnya mendukung pendapat ‘priaberkupluk’ dan menjelaskan bagi rekan2x yang masih mempermasalahkan harga standar pasaran.
- Jika ada tetek bengek bahwa biaya hosting awal 28 juta, 5 programmer/designer/konsultan/atau SDM-lah di pukul rata (itupun kalau di pukul rata) berbayar 5 juta/bulan/orang selama 2-3 bulan (sekitar 50-75 juta), menggunakan 5 server dan tetek bengek lainnya biayanya sudah diatas 100 juta (28+50 atau 75 + tetek bengek lain). Maka kesimpulan disini, 84 juta adalah relatif murah.
- Ada sebuah kasus, dimana untuk pembuatan sistem e-learning disalah satu universitas negeri di Jakarta tahun 2003, ‘resource’ yang dipakai adalah cold fusion asli (developernya mah pakai yang bajakan), hosting co-location dengan server linux atau windows 2000 (maaf, saya lupa), ‘4 programmer 1 konsultan’, masa pengerjaan setahun, proposal budgetnya menyebut angka 240 atau 280 juta-an ‘tanpa’ tetek bengek lain. Tapi nilai keseluruhan proyek (proyek terintegrasi) adalah 700-800 juta untuk masa pengerjaan setahun (kalau tidak salah ingat he..he..he..). Maka kesimpulan silahkan diambil sendiri menurut sudut pandang masing2x (mau dianggap mahal atau murah untuk tahun 2003 dengan masa pengerjaan 1 tahun atau ada ‘intervensi’ didalamnya).
- Menurut saya, om pri juga tidak merinci secara jelas dibagian2x mana ‘resource’ dimasukkan sebagai bagian perhitungan ‘84′ juta, apa juga termasuk sektor instalasi hardware? (untuk lembaga setingkat kepresidenan). Kalau ya, maka seharusnya 84 juta itu adalah sangat jauh di bawah harga pasaran (dengan masa pengerjaan 2-3 bulan saja dan menggunakan ’software’ non ‘propietary’). Nah, kalau ada yang berpikir wong cuman buat web gituan (bukan model system integrator, kalau yang ini bisa ratusan juta sampai 2 miliar seperti pembuatan web BUMN di Surabaya beberapa tahun lalu) koq habis 84 juta selama 2-3 bulan saja, kan bisa tuh instal CMS macam mambo, drupal, wordpress, hosting 300 ribu (versi korporat) setahun, domain .info gratis setahun, ya emang gak nyambung.. Kita tidak sedang membahas hal ini, men..
- Yang jadi persoalan saya, memang perincian nggak jelas menurut ‘priaberkupluk’, ada ranah politik didalamnya, jadi soal pantas nggak pantas (murah or not) dilihat dari sisi mana harga ‘84′ juta itu? *bingung pol sama maksute om pri sambil geleng-geleng* . Opo aku sing OOT yo?
#65:
saya gak rinci karena saya memang gak tahu apa2
. ini cuma sekadar hitung2an kasar saya, merancang sistem seperti ini akan membutuhkan dana lebih dari 84 juta.
#66: oh iya, saya mengasumsikan 84 juta itu sudah mencakup SDM, hardware, koneksi dlldsb. karena umumnya nilai proyek itu ‘terima beres’, gak perlu biaya apa2 lagi selain perawatan. saya sendiri gak tahu apa benar demikian, mungkin IMW bisa kasih klarifikasi?
#62: kayanya sih pasti lebih dari 84 juta
semuanya hanya menduga dan mengira
Sudahlah, bukannya ada institusi yang berhak melakukan audit? Sudah sewajarnya dan seharusnya pembangunan situs ini diaudit, baik dari sudut keuangan maupun security-nya.
Usulkan saja biar dilakukan. Kalau SBY menolak? Ah, dia gak mungkin nolak. So? mari kita usulkan. Daripada bersyakwasangka, bikin sakit flu makin parah
#67, nah itulah yang saya maksud. Seharusnya ini yang ditulis diawal pembicaraan. Moga lebih teliti lagi ..
#68, Kikiki..
mana mungkin om pri dapat proyek ini. Belum melangkah saja om pri sudah minta diatas 84 juta padahal ada yang masang tarif cuman 84 juta saja (IMW crew)–aih, melihat IT dan progamming emang bikin kepalaku pening aja…
–kecuali om pri mau kerjasama dengan om KMRT yang dekat dengan kekuasaan, nah baru bisa pasang tarif yang dinginkan sebelum ada nada minor dari pesaing lain. Mau nggak kerjasama dengan beliau?
Yup, roda berputar, siapa tahu…
#Bagi yang suka olok2x meskipun cuma simbol aja, kurangi deh. Mengkritik harus, tapi mengolok==abuse..
PERTAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
Gila llo
kalo emang secara kasar diduga memakai resource opensource dan freeware … setidaknya ada langkah jelas menuju IGOS …. dah jenuh neh dibilang negara pembajak software
IMW keliatannya jam tidurnya akan berkurang gara-gara webpres ini
. Konsultan IT yang sering ikutan tender kira-kira kebakaran jenggot gak ya dengan harga segitu?
Bagi saya, 84 Juta Rupiah itu MENCURIGAKAN …!!
TERLALU MURAH kalo hanya membutuhkan 84 Juta utk Investasi+Develop situs ini.
Anda Bilang :
“Rasanya situs kepresidenan membutuhkan lima sampai sepuluh buah server, baik yang berhadapan langsung dengan Internet, maupun yang berada di belakang.”
Coba kalo kita itung : 10 x @ Rp. 10 jt per Server = 100 juta (???)
gak mungkin Server SBY pake komputer Pentium 4 rakitan yg harganya 3 jutaan … ???
jangan-jangan ada sponsor laen, yg nitip
84 juta untuk apa saja, itu harus dijelaskan disini !!
contek istilah dari kampung sebelah: profile, don’t speculate!

Mendadak semua orang ingin jadi auditor
Mendadak semua orang ingin dikirimi laporan rincian proyek kepresidenan
Kenapa tidak membuat perhitungan sendiri? Hayo coba bikin proposal untuk proyek ini, pasang online biar kita semua bisa menilai …
#70: apa lagi yang harus ditulis? rasanya sudah cukup jelas kalau tulisan saya di atas menganggap 84 juta itu sudah mencakup seluruh point2 yang saya sebut di atas. coba anda baca kembali. kalau 84 juta itu hanya untuk SDM mungkin saya gak perlu sebut seluruh point2 di atas.
secara pribadi saya berpendapat bahwa SBY seharusnya tidak dekat2 dengan orang semacam RS. dan kalau idealisme saya ini menyebabkan saya gak dapat proyek, then so be it. tulisan saya ini jelas bukan proposal proyek, tapi sekadar menunjukkan kalau 84 juta itu relatif murah.
#74: apa masalahnya dengan komputer rakitan, secara fisik sama saja dengan komputer built-up. saya pribadi gak ada masalah menggunakan komputer rakitan asalkan support-nya jelas.
#51 ya… ada apa
yang penting nge-FLOSS
masalah harga gak peduli
Jangan lupakan juga biaya perangkat lunak. Walaupun demikian dengan biaya ‘hanya’ Rp 84 juta, saya sepenuhnya yakin bahwa sistem ini didesain dengan menggunakan perangkat lunak FLOSS. Jika menggunakan perangkat lunak komersil saya yakin biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih tinggi, baik di awal pembuatan maupun biaya perawatannya.
ada om IMW dibalik layar jadi tambah yakin sistemnya pake FLOSS
Dalam menghitung nilai proyek semacam ini, mestinya tidak hanya melihat biaya-biaya yang tangible, tapi juga yang intangible, seperti risiko.
Jika kita menjadi dokter seorang presiden dan dokter seorang biasa2 saja spt saya, meskipun sama-sama cuma sakit flu, mestinya biayanya akan beda, bukan ?
Setuju sama pendapat Mas Pri, 80-an juta itu tidak mahal untuk ukuran situs presiden. Kisaran yang sama untuk situs pemerintahan juga tidak mahal, tapi tentu tidak sampai 800-an juta bahkan M!
Hehehe… 84juta trus mereka cuman pakai ginian: http://www.webservusb.com/default.htm.
pusing deh…
permisi..numpang lewat…
84 juta…..1 US $ = 9200 rupiah jadi total US $9130,5
…gw cuma mengkonversikan saja, barangkali perlu diperdebatkan dalam dollar…
oke..deh silakan lanjut…..