<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mein Kampf versi Israel: &#8220;Samson Blinded: A Machiavellian Perspective on the Middle East Conflict&#8221;</title>
	<atom:link href="http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/</link>
	<description>Changing the world, one person at a time...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 05:02:38 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
	<item>
		<title>By: isnan chodri</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-572958</link>
		<dc:creator>isnan chodri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 03:05:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-572958</guid>
		<description>obrak-abrik posting lama mas pri asik juga ternyata</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>obrak-abrik posting lama mas pri asik juga ternyata</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yudha</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-563321</link>
		<dc:creator>Yudha</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 09:25:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-563321</guid>
		<description>Wah!! Capek deh!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah!! Capek deh!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Israelist</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-232024</link>
		<dc:creator>Israelist</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2006 09:57:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-232024</guid>
		<description>Ya Israel sebetulnya telah bermetamorfosis menjadi NAZI atau turunan NAZI. Bahkan mereka sendiri yg &#039;menciptakan&#039; NAZI. 

Mengutip surat dari Farid Gaban sbb:

Ada banyak cara untuk menunjukkan
ketidaksetujuan kepada Amerika dan Israel.

Tapi, dari banyak cara itu, boikot mungkin hanya
satu-satunya cara yang paling sederhana yang
bisa dilakukan semua orang, sekarang juga.

Sudah beberapa pekan terakhir ini, setelah agresi
brutal Israel di Gaza dan Lebanon, istri saya
mengingatkan anak-anak untuk tidak lagi beli
Fanta dan Coca Cola dengan uang sakunya, atau
coba makan di McDonald&#039;s. &quot;Ingat anak-anak di
Palestina dan Lebanon,&quot; katanya.

Saya terus terang terpengaruh dan menyetujuinya
untuk mulai melakukan boikot. Saya rela untuk
tidak memakai sampho atau sabun buatan
perusahaan Amerika kesukaan saya.
Bagaimanapun ini hanya pengorbanan yang
sangat kecil. Dulu waktu kecil saya memakai
merang bakar untuk membersihkan rambut,
kenapa sekarang tidak bisa?

Saya setuju boikot itu tidak hanya karena alasan
membela Palestina dan Lebanon, tapi untuk
kepentingan Indonesia sendiri juga, yakni
memperkecil tingkat konsumsi dan
ketergantungan negeri ini terhadap barang asing,
termasuk barang-barang yang bahkan sebenarnya
tidak perlu. Dan bagi kocek keluarga, ini juga cara
berhemat yang efektif.

Meski tidak terlalu sering ke Starbuck&#039;, kini saya
akan berhenti minum di situ. Saya akan
memperbanyak minum kopi dan makan di Warung
Teteh, warung masakan Sunda depan kantor Pena.

Saya tidak akan mengisi bensin sepeda motor
saya di pompa bensin milik Shell. Memilih
Pertamina atau Petronas saja.

Saya agak heran bahwa Ketua NU Hasyim Muzadi
dan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz justru
menghimbau agar warga Muslim tidak melakukan
boikot, karena boikot, katanya, hanya akan
merugikan Indonesia.

Boikot ekonomi itu akan memiliki dampak bagi
ekonomi Indonesia sendiri, terutama jangka
pendek. Tidak perlu dipertanyakan. Tapi,
dampaknya sangat kecil jika kita mengalihkan
konsumsi ke barang-barang sederhana yang
diproduksi orang Indonesia sendiri. Justru akan
menggerakkan sektor riil seperti Warung Tetah.
Dalam jangka lebih panjang, jika dibarengi dengan
semangat kemandirian, ini akan jauh
menguntungkan. Kita justru akan memperkecil
devisa yang lari ke luar negeri.

Saya tahu Bambang Rahmadi, seorang muslim,
akan rugi jika kita boikot McDonald&#039;s, tapi mudah-
mudahan tanpa harus diboikot dia mulai melepas
lisensi dan beralih pada jaringan restoran lokal
bikinan sendiri. Banyak karyawan muslim juga
akan menganggur. Ini bagian dari pengorbanan.
Jika semua masjid mengabarkan berhenti membeli
di McDonald&#039;s dan beralih ke restoran lokal, maka
dampaknya pada pengangguran mungkin bisa
dikurangi. Ingat swadesi-nya Mahatma
Gandhi &#039;kan? Meski sekarang zaman globalisasi,
saya tidak menganggap idenya telah usang dan
tidak bisa diterapkan sekarang.

Ajaran Gandhi adalah ajaran radikal yang damai
dan sederhana. Dan di situlah justru letak
keindahannya. Setiap orang, kaya atau miskin,
JIKA MAU, bisa melakukannya. 
Masalahnya
hanyalah JIKA MAU, tidak lebih kompleks dari itu.
Dan ini tidak perlu aturan. Yang perlu adalah
KESADARAN dan MOTIF KUAT kenapa kita
melakukan seperti yang Gandhi lakukan.

Mungkin saya tidak bisa seperti Mahatma Gandhi,
yang menenun baju sendiri dan hanya berpakaian
ala baju ihram itu, ketika dia melawan kolonialisme
dan kebrutalan Inggris di India. Tapi saya akan
memulainya. Bagaimanapun kita bisa mulai dari
hal-hal sederhana, hal-hal kongkret yang bisa
dilakukan ketimbang hanya bicara dan berdiskusi.

Saya tahu, dalam situasi sekarang jelas sangat
sulit untuk menunjuk satu benda yang murni
Amerika atau Israel. Tapi, boikot dengan tujuan
politik memang tidak perlu konsisten (harus
semua produk, dan harus benar-benar jelas).
Tujuannya adalah tekanan ekonomi-politik.
Sisanya adalah simbol perlawanan, yang juga
penting.

Sebagai awal, saya akan memilih boikot produk
konsumsi, bukan barang produksi, seperti
komputer. Bukan pula barang
intelektual/seni/budaya seperti buku, VCD, film
dan sejenisnya. Saya juga akan memilih boikot
barang-barang yang ada substitusinya di sini. Dan
mudah-mudahan pula kita akan makin
bersemangat mencari substitusi dari produk
imporan, yang sebanarnya ada banyak meski
tidak semua barang ada buatan Indonesia.

Mungkin boikot itu tidak ada artinya, dan mungkin
tidak ada pengaruhnya. Tapi, sekali lagi, ini hanya
satu-satunya cara yang kongkret bisa dilakukan
setiap orang.

Saya teringat Mahatma Gandhi yang tidak banyak
pretensi itu justru menjadikan dirinya senjata
paling digdaya, lebih dari cendekiawan dan politisi
kaya, baik Muslim maupun Hindu, dalam
perlawanan menentang kebrutalan kolonialisme
Inggris.

Ketimbang hanya diskusi, kita perlu bertindak
kongkret. Mungkin tidak efektif, namun jika
dijalankan secara lebih massif dan bertahan lama,
mungkin di tengah jalan kita akan menemukan
cara yang lebih efektif untuk menekan Amerika
dan Israel.

Saya akan mulai.... dari diri sendiri. Mungkin tidak
konsisten benar... mungkin tidak semua jenis
barang... Oke saja, saya akan memaafkan diri,
untuk sementara, ketidakberdayaan saya
melakukan bahkan hal yang sangat sepele:
berhenti mengkonsumsi barang Amerika. Yang
penting mulai melakukan, bukan hanya berpikir
dan berdiskusi.

Saya juga melihat gejala yang sama: aksi boikot
berkali-kali muncul tanpa memberi dampak. Tapi,
mungkin lebih bagus jika kita memilih untuk
bersikap produktif bagaimana membantu secara
kongkret agar itu lebih efektif, bukan
mencibir... &quot;ah...paling cuma segitu....&quot; Very
discouraging....

Ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk simpati
kita pada Palestina atau Lebanon. Salah satu
krisis terbesar negeri ini, menurut saya, justru
karena kita terlalu banyak bicara, tapi tergagap
ketika harus melakukan sesuatu yang kongkret,
apalagi secara kolektif.

Beberapa orang menganggap tindakan kongkret
kecil-kecilan terlalu sepele, mereka ogah
melakukannya, atau mencibir orang yang
melakukannya. (Paling cuma segitu....). Hal-hal
besar disusun dari hal-hal kecil.

Dalam hidup sehari-hari saya lebih
suka &quot;menyalakan lilin ketimbang mengutuk
kegelapan&quot;. Dan kadang menyalakan lilin secara
harafiah.... Masih ingat &#039;kan ketika saya
melakukan demo di Bunderan HI untuk
perdamaian di Aceh? Dalam satu pekan bahkan
saya hanya sendirian membawa poster di situ.
Saya tahu orang lain menganggap itu sepele dan
mungkin mencibir saya sebagai gila. Tidak
masalah... Pada kenyataannya saya sendiri
memang menganggap itu hanya pengorbanan kecil
saja. Itu mungkin lebih tepat menunjukkan betapa
frustrasi saya, muncul dari rasa ketidakberdayaan.
Dalam situasi seperti itu, saya menganggap berarti
bahkan langkah yang paling sepele.... (saya
membayangkan apa yang dilakukan Gandhi pun
pernah dicibir sebagai sepele).

Jika Anda setuju pesannya, saya mengajak Anda
juga bisa membantu aksi ini boikot lebih efektif.

salam,
farid gaban</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Israel sebetulnya telah bermetamorfosis menjadi NAZI atau turunan NAZI. Bahkan mereka sendiri yg &#8216;menciptakan&#8217; NAZI. </p>
<p>Mengutip surat dari Farid Gaban sbb:</p>
<p>Ada banyak cara untuk menunjukkan<br />
ketidaksetujuan kepada Amerika dan Israel.</p>
<p>Tapi, dari banyak cara itu, boikot mungkin hanya<br />
satu-satunya cara yang paling sederhana yang<br />
bisa dilakukan semua orang, sekarang juga.</p>
<p>Sudah beberapa pekan terakhir ini, setelah agresi<br />
brutal Israel di Gaza dan Lebanon, istri saya<br />
mengingatkan anak-anak untuk tidak lagi beli<br />
Fanta dan Coca Cola dengan uang sakunya, atau<br />
coba makan di McDonald&#8217;s. &#8220;Ingat anak-anak di<br />
Palestina dan Lebanon,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya terus terang terpengaruh dan menyetujuinya<br />
untuk mulai melakukan boikot. Saya rela untuk<br />
tidak memakai sampho atau sabun buatan<br />
perusahaan Amerika kesukaan saya.<br />
Bagaimanapun ini hanya pengorbanan yang<br />
sangat kecil. Dulu waktu kecil saya memakai<br />
merang bakar untuk membersihkan rambut,<br />
kenapa sekarang tidak bisa?</p>
<p>Saya setuju boikot itu tidak hanya karena alasan<br />
membela Palestina dan Lebanon, tapi untuk<br />
kepentingan Indonesia sendiri juga, yakni<br />
memperkecil tingkat konsumsi dan<br />
ketergantungan negeri ini terhadap barang asing,<br />
termasuk barang-barang yang bahkan sebenarnya<br />
tidak perlu. Dan bagi kocek keluarga, ini juga cara<br />
berhemat yang efektif.</p>
<p>Meski tidak terlalu sering ke Starbuck&#8217;, kini saya<br />
akan berhenti minum di situ. Saya akan<br />
memperbanyak minum kopi dan makan di Warung<br />
Teteh, warung masakan Sunda depan kantor Pena.</p>
<p>Saya tidak akan mengisi bensin sepeda motor<br />
saya di pompa bensin milik Shell. Memilih<br />
Pertamina atau Petronas saja.</p>
<p>Saya agak heran bahwa Ketua NU Hasyim Muzadi<br />
dan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz justru<br />
menghimbau agar warga Muslim tidak melakukan<br />
boikot, karena boikot, katanya, hanya akan<br />
merugikan Indonesia.</p>
<p>Boikot ekonomi itu akan memiliki dampak bagi<br />
ekonomi Indonesia sendiri, terutama jangka<br />
pendek. Tidak perlu dipertanyakan. Tapi,<br />
dampaknya sangat kecil jika kita mengalihkan<br />
konsumsi ke barang-barang sederhana yang<br />
diproduksi orang Indonesia sendiri. Justru akan<br />
menggerakkan sektor riil seperti Warung Tetah.<br />
Dalam jangka lebih panjang, jika dibarengi dengan<br />
semangat kemandirian, ini akan jauh<br />
menguntungkan. Kita justru akan memperkecil<br />
devisa yang lari ke luar negeri.</p>
<p>Saya tahu Bambang Rahmadi, seorang muslim,<br />
akan rugi jika kita boikot McDonald&#8217;s, tapi mudah-<br />
mudahan tanpa harus diboikot dia mulai melepas<br />
lisensi dan beralih pada jaringan restoran lokal<br />
bikinan sendiri. Banyak karyawan muslim juga<br />
akan menganggur. Ini bagian dari pengorbanan.<br />
Jika semua masjid mengabarkan berhenti membeli<br />
di McDonald&#8217;s dan beralih ke restoran lokal, maka<br />
dampaknya pada pengangguran mungkin bisa<br />
dikurangi. Ingat swadesi-nya Mahatma<br />
Gandhi &#8216;kan? Meski sekarang zaman globalisasi,<br />
saya tidak menganggap idenya telah usang dan<br />
tidak bisa diterapkan sekarang.</p>
<p>Ajaran Gandhi adalah ajaran radikal yang damai<br />
dan sederhana. Dan di situlah justru letak<br />
keindahannya. Setiap orang, kaya atau miskin,<br />
JIKA MAU, bisa melakukannya.<br />
Masalahnya<br />
hanyalah JIKA MAU, tidak lebih kompleks dari itu.<br />
Dan ini tidak perlu aturan. Yang perlu adalah<br />
KESADARAN dan MOTIF KUAT kenapa kita<br />
melakukan seperti yang Gandhi lakukan.</p>
<p>Mungkin saya tidak bisa seperti Mahatma Gandhi,<br />
yang menenun baju sendiri dan hanya berpakaian<br />
ala baju ihram itu, ketika dia melawan kolonialisme<br />
dan kebrutalan Inggris di India. Tapi saya akan<br />
memulainya. Bagaimanapun kita bisa mulai dari<br />
hal-hal sederhana, hal-hal kongkret yang bisa<br />
dilakukan ketimbang hanya bicara dan berdiskusi.</p>
<p>Saya tahu, dalam situasi sekarang jelas sangat<br />
sulit untuk menunjuk satu benda yang murni<br />
Amerika atau Israel. Tapi, boikot dengan tujuan<br />
politik memang tidak perlu konsisten (harus<br />
semua produk, dan harus benar-benar jelas).<br />
Tujuannya adalah tekanan ekonomi-politik.<br />
Sisanya adalah simbol perlawanan, yang juga<br />
penting.</p>
<p>Sebagai awal, saya akan memilih boikot produk<br />
konsumsi, bukan barang produksi, seperti<br />
komputer. Bukan pula barang<br />
intelektual/seni/budaya seperti buku, VCD, film<br />
dan sejenisnya. Saya juga akan memilih boikot<br />
barang-barang yang ada substitusinya di sini. Dan<br />
mudah-mudahan pula kita akan makin<br />
bersemangat mencari substitusi dari produk<br />
imporan, yang sebanarnya ada banyak meski<br />
tidak semua barang ada buatan Indonesia.</p>
<p>Mungkin boikot itu tidak ada artinya, dan mungkin<br />
tidak ada pengaruhnya. Tapi, sekali lagi, ini hanya<br />
satu-satunya cara yang kongkret bisa dilakukan<br />
setiap orang.</p>
<p>Saya teringat Mahatma Gandhi yang tidak banyak<br />
pretensi itu justru menjadikan dirinya senjata<br />
paling digdaya, lebih dari cendekiawan dan politisi<br />
kaya, baik Muslim maupun Hindu, dalam<br />
perlawanan menentang kebrutalan kolonialisme<br />
Inggris.</p>
<p>Ketimbang hanya diskusi, kita perlu bertindak<br />
kongkret. Mungkin tidak efektif, namun jika<br />
dijalankan secara lebih massif dan bertahan lama,<br />
mungkin di tengah jalan kita akan menemukan<br />
cara yang lebih efektif untuk menekan Amerika<br />
dan Israel.</p>
<p>Saya akan mulai&#8230;. dari diri sendiri. Mungkin tidak<br />
konsisten benar&#8230; mungkin tidak semua jenis<br />
barang&#8230; Oke saja, saya akan memaafkan diri,<br />
untuk sementara, ketidakberdayaan saya<br />
melakukan bahkan hal yang sangat sepele:<br />
berhenti mengkonsumsi barang Amerika. Yang<br />
penting mulai melakukan, bukan hanya berpikir<br />
dan berdiskusi.</p>
<p>Saya juga melihat gejala yang sama: aksi boikot<br />
berkali-kali muncul tanpa memberi dampak. Tapi,<br />
mungkin lebih bagus jika kita memilih untuk<br />
bersikap produktif bagaimana membantu secara<br />
kongkret agar itu lebih efektif, bukan<br />
mencibir&#8230; &#8220;ah&#8230;paling cuma segitu&#8230;.&#8221; Very<br />
discouraging&#8230;.</p>
<p>Ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk simpati<br />
kita pada Palestina atau Lebanon. Salah satu<br />
krisis terbesar negeri ini, menurut saya, justru<br />
karena kita terlalu banyak bicara, tapi tergagap<br />
ketika harus melakukan sesuatu yang kongkret,<br />
apalagi secara kolektif.</p>
<p>Beberapa orang menganggap tindakan kongkret<br />
kecil-kecilan terlalu sepele, mereka ogah<br />
melakukannya, atau mencibir orang yang<br />
melakukannya. (Paling cuma segitu&#8230;.). Hal-hal<br />
besar disusun dari hal-hal kecil.</p>
<p>Dalam hidup sehari-hari saya lebih<br />
suka &#8220;menyalakan lilin ketimbang mengutuk<br />
kegelapan&#8221;. Dan kadang menyalakan lilin secara<br />
harafiah&#8230;. Masih ingat &#8216;kan ketika saya<br />
melakukan demo di Bunderan HI untuk<br />
perdamaian di Aceh? Dalam satu pekan bahkan<br />
saya hanya sendirian membawa poster di situ.<br />
Saya tahu orang lain menganggap itu sepele dan<br />
mungkin mencibir saya sebagai gila. Tidak<br />
masalah&#8230; Pada kenyataannya saya sendiri<br />
memang menganggap itu hanya pengorbanan kecil<br />
saja. Itu mungkin lebih tepat menunjukkan betapa<br />
frustrasi saya, muncul dari rasa ketidakberdayaan.<br />
Dalam situasi seperti itu, saya menganggap berarti<br />
bahkan langkah yang paling sepele&#8230;. (saya<br />
membayangkan apa yang dilakukan Gandhi pun<br />
pernah dicibir sebagai sepele).</p>
<p>Jika Anda setuju pesannya, saya mengajak Anda<br />
juga bisa membantu aksi ini boikot lebih efektif.</p>
<p>salam,<br />
farid gaban</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Syriu</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-181208</link>
		<dc:creator>Syriu</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 08:31:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-181208</guid>
		<description>Kejamnya dikau Israel!!!:((</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kejamnya dikau Israel!!!:((</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amaik</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-154240</link>
		<dc:creator>amaik</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jul 2006 18:29:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-154240</guid>
		<description>perselisihan itu dapat diatasi yaitu dengan cara yang cocok dengan kodisi kehidupan. jika itu cara mereka maka itu yang cocok. tapi menurut saya tak ada salahnya mereka perang, karena itu sasatunya jalan, sama hal nya pada zaman nabi perang merupakan jalan dan takada jalan lain. jika negara lain menentang palestina maka kenapa tidak ada yang menyalah kan perang dunia ketika negara besar menyerang dan meluluh lantahkan negara kecil. tapi perang di palestina merupakan hanya politik yang tetap di pertahan kan oleh sebuah diktator besar yang takut akan kebesarannya di kalahkan. perang di timur tengah atau negara arab akan terus dijaga oleh adidaya untuk mempertahankan negara nya supaya tidak ber satu mengalahkan negara besar.sejarah membuktukan bahwa negara arab bisa mengalah kan eropa. dan mereka takut itu terulang maka diciptakan perang terhadap negara itu, baik dari negara itu sendiri diciptakan lawan atau negara tetangganya. perang itu hanya latihan bagi mereka negara yang menjaga perang itu untuk nantinya menghadapi serangan sesungguhnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>perselisihan itu dapat diatasi yaitu dengan cara yang cocok dengan kodisi kehidupan. jika itu cara mereka maka itu yang cocok. tapi menurut saya tak ada salahnya mereka perang, karena itu sasatunya jalan, sama hal nya pada zaman nabi perang merupakan jalan dan takada jalan lain. jika negara lain menentang palestina maka kenapa tidak ada yang menyalah kan perang dunia ketika negara besar menyerang dan meluluh lantahkan negara kecil. tapi perang di palestina merupakan hanya politik yang tetap di pertahan kan oleh sebuah diktator besar yang takut akan kebesarannya di kalahkan. perang di timur tengah atau negara arab akan terus dijaga oleh adidaya untuk mempertahankan negara nya supaya tidak ber satu mengalahkan negara besar.sejarah membuktukan bahwa negara arab bisa mengalah kan eropa. dan mereka takut itu terulang maka diciptakan perang terhadap negara itu, baik dari negara itu sendiri diciptakan lawan atau negara tetangganya. perang itu hanya latihan bagi mereka negara yang menjaga perang itu untuk nantinya menghadapi serangan sesungguhnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Biru</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-67115</link>
		<dc:creator>Biru</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Apr 2006 01:15:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-67115</guid>
		<description>Emang udah takdir untuk spt itu israel/yahudi...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Emang udah takdir untuk spt itu israel/yahudi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: etika</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-64071</link>
		<dc:creator>etika</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Apr 2006 04:43:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-64071</guid>
		<description>permusuhan  antara islam dan yahudi adalah permusuhan yang abadi, yahudi tidak akan mempan dilawan dengan perundingan damai.  hanya satu kata perangi yahudi.  tapi sampai kapan pun peperangan dengan yahudi tidak akan membuahkan kemenangan jika kaum muslimin tidak bersatu untuk memeranginya.  dan persatuan itu hanya ada dalam naungan daulah khilafah islamiyah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>permusuhan  antara islam dan yahudi adalah permusuhan yang abadi, yahudi tidak akan mempan dilawan dengan perundingan damai.  hanya satu kata perangi yahudi.  tapi sampai kapan pun peperangan dengan yahudi tidak akan membuahkan kemenangan jika kaum muslimin tidak bersatu untuk memeranginya.  dan persatuan itu hanya ada dalam naungan daulah khilafah islamiyah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sotogebrak</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-62973</link>
		<dc:creator>sotogebrak</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2006 10:07:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-62973</guid>
		<description>ah gw jadi inget filem buatan palestina asli yg judulnya mengandung heaven, ehem bukan kingdom of heaven, itu mah ttg perang sabil walaupun tuh filem lumayan banyak ngawur (seinget gw itu menurut wikipedia) tapi gw lumayan salut sama tuh filem, abis ada kata2 klo ternyata para penjajah dari eropa itu berperang demi keserakahan, jadi terkesan mereka ngakuin klo tentara dari eropa itu niatnya cuman serakah, eh jadi ngeleceng, back to topik deh, filem yg gw lupa itu bercerita ttg orang2 yg jadi bom bunuh diri, pas gw liat imdb, rame deh tuh orang israel dan palestina yg saling &#039;diskusi&#039; 
yg dari israel ngomong &quot;itu tanah yg dijanjiin tuhan ke gw ! bukan ke elu !&quot;
dibales sama yg dari palestina &quot; wah emang tuhan itu agen real estate?, maksain amat tuhan elu n kepercayaan elu ke gw! ngarti HAM kagak ?! liat donk pake mata hati, nenek moyang gw dari kakeknya sampe ke gw tuh tinggal di palestina, pup (maaf) di sana, eehh elu main terjun pake parasit di situ langsung bilang palestina kampung elu, dasar semprul, let palestine for palestinian !!&quot;
yah kira2 seperti itu diskusi mereka, emang kaum israel itu selalu nganggep dirinya bener mulu kali yah, gimana mo damae deh kalo nyerobot, n ngerampok tanah orang eeh berasa bener sendiri lagi..
duh maap om Priyadi saya telat banget ye..maap lagi klo ada yg tersungging :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ah gw jadi inget filem buatan palestina asli yg judulnya mengandung heaven, ehem bukan kingdom of heaven, itu mah ttg perang sabil walaupun tuh filem lumayan banyak ngawur (seinget gw itu menurut wikipedia) tapi gw lumayan salut sama tuh filem, abis ada kata2 klo ternyata para penjajah dari eropa itu berperang demi keserakahan, jadi terkesan mereka ngakuin klo tentara dari eropa itu niatnya cuman serakah, eh jadi ngeleceng, back to topik deh, filem yg gw lupa itu bercerita ttg orang2 yg jadi bom bunuh diri, pas gw liat imdb, rame deh tuh orang israel dan palestina yg saling &#8216;diskusi&#8217;<br />
yg dari israel ngomong &#8220;itu tanah yg dijanjiin tuhan ke gw ! bukan ke elu !&#8221;<br />
dibales sama yg dari palestina &#8221; wah emang tuhan itu agen real estate?, maksain amat tuhan elu n kepercayaan elu ke gw! ngarti HAM kagak ?! liat donk pake mata hati, nenek moyang gw dari kakeknya sampe ke gw tuh tinggal di palestina, pup (maaf) di sana, eehh elu main terjun pake parasit di situ langsung bilang palestina kampung elu, dasar semprul, let palestine for palestinian !!&#8221;<br />
yah kira2 seperti itu diskusi mereka, emang kaum israel itu selalu nganggep dirinya bener mulu kali yah, gimana mo damae deh kalo nyerobot, n ngerampok tanah orang eeh berasa bener sendiri lagi..<br />
duh maap om Priyadi saya telat banget ye..maap lagi klo ada yg tersungging :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: LORENTZ</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-61667</link>
		<dc:creator>LORENTZ</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Apr 2006 01:49:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-61667</guid>
		<description>#26 WONG GENDENGb-(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#26 WONG GENDENGb-(</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Benyamin Rubenstein</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-61461</link>
		<dc:creator>Benyamin Rubenstein</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 02:59:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-61461</guid>
		<description>Shalom :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Shalom :-)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: J</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-61451</link>
		<dc:creator>J</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 01:31:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-61451</guid>
		<description>kalo mengenai bani israel mah, no komen dah....
dari jaman jebot sampe sekarang, kelakuannya dah terpola begitu...cuman apakah kita cuman bisanya nunggu? nunggu imam mahdi? kenapa ya umat islam kok gak bangkit-bangkit...?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo mengenai bani israel mah, no komen dah&#8230;.<br />
dari jaman jebot sampe sekarang, kelakuannya dah terpola begitu&#8230;cuman apakah kita cuman bisanya nunggu? nunggu imam mahdi? kenapa ya umat islam kok gak bangkit-bangkit&#8230;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jauhari</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2006/04/03/mein-kampf-versi-israel-samson-blinded-a-machiavellian-perspective-on-the-middle-east-conflict/#comment-61448</link>
		<dc:creator>Jauhari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2006 00:45:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=598#comment-61448</guid>
		<description>Israel dan Palestina damai? mimpi kali yee :D
(bukang ngompori lo yaa...)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Israel dan Palestina damai? mimpi kali yee :D<br />
(bukang ngompori lo yaa&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.789 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-09 09:30:06 -->

