21 October 2006

Jalur Mudik

Posted under: at 13:28

Memilih mudik pada puncak arus mudik artinya harus pintar-pintar mencari jalur alternatif. Jika tidak, maka biasanya kita akan terjebak kemacetan. Tadi malam sekitar pukul 23.00, saya dan keluarga mudik dari Depok menuju Bandung. Tadinya saya harapkan bisa mudik melalui jalur biasa: masuk dari Pancoran dan keluar di Pasteur, Bandung. Praktis tidak ada masalah melalui Jalan Margonda sampai ke Pasar Minggu.

Tetapi kemudian Radio Elshinta melaporkan bahwa jalan tol dalam kota Jakarta sangat padat. Karenanya saya memutuskan untuk berputar dan masuk tol ‘Jakarta Outer Ring Road’ di Lenteng Agung dan keluar di Jatiasih. Sayangnya, ruas terakhir Jatiasih-Cikunir tidak dioperasikan, padahal seingat saya, tahun kemarin ruas ini dioperasikan secara sementara. Dari Jatiasih, pintu tol Bekasi Barat dapat dijangkau tak lebih dari 15 menit. Mungkin karena tidak banyak yang mengetahui, jalur ini sangat sepi kendaraan sehingga kami dapat menikmati perjalanan tanpa banyak terganggu.

Sampai kemudian kami melewati flyover pintu tol Bekasi Barat. Ternyata sejauh mata memandang, yang ada hanyalah kemacetan di bawah kami di jalan tol Jakarta-Cikampek! Karena kami lihat arus nyaris tidak bergerak, niat untuk memasuki tol Bekasi Barat terpaksa kami urungkan dan kembali saatnya untuk melakukan rencana cadangan. Selamat tinggal Starbucks km 19!

Kami memutuskan untuk mengambil rute pantura non-tol: Bekasi-Tambun-Cibitung-Cikarang-Karawang. Saya sendiri belum pernah mengambil jalur ini, sehingga keputusan ini agak spekulatif. Walaupun demikian, jika terjebak macet hebat, kami masih bisa makan sahur di tempat-tempat makan pinggir jalan, tidak seperti di jalan tol yang hanya bisa pada tempat-tempat tertentu. Tapi ternyata nyaris tidak ada hambatan yang berarti selain jumlah pemudik sepeda motor yang luar biasa banyaknya.

Pada rute ini, saya dapat memacu kendaraan saya antara 40-60 km/jam. Tujuan saya pertama kali adalah pintu masuk pintu tol Cikarang, karena setelah itu tidak ada lagi penyempitan yang dapat menyebabkan kemacetan. Tapi ternyata radio memberitakan bahwa kemacetan masih ada sampai Cikarang dengan kecepatan 5 km/jam. Saya melihat tidak ada alasan untuk mengambil resiko terjebak kemacetan di jalan tol karena saya masih dapat memacu kendaraan saya 40-60 km/jam. Dengan demikian saya teruskan perjalanan menuju pintu tol Karawang Timur.

Setelah masuk tol di Karawang Timur, sudah tidak ada hambatan berarti di jalan tol sampai Bandung.

Masalah cuma ada pada saat istri saya ingin ke kamar kecil di tol Cipularang km 90. Antrian ke kamar kecil memang saya lihat agak panjang sekitar 4-5 orang, tetapi masih terlihat tertib. Sampai pada akhirnya ada bus yang berhenti. Beberapa penumpang menyerobot antrian kamar kecil, menggunakan kamar kecil secara bersama-sama, membuka celana tanpa menutup pintu dan bahkan menggunakan kamar kecil pria (disclaimer: ini kata istri saya, saya tidak melihat sendiri lho :) ). Akhirnya istri saya terpaksa menunda ke kamar kecil sampai tiba di Bandung.

Kami tiba di Bandung sekitar pukul 3.00, masih sempat untuk santap sahur dengan nyaman.

40 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!