23 December 2006

Ad Hominem tu Quoque

Posted under: at 01:25

Bulan Maret 2005, saya membuat plugin WordPress Browser Detection Plugin. Dengan plugin ini, setiap komentar di blog ini akan dilengkapi dengan informasi sistem operasi serta perambah yang digunakan. Tujuan saya menggunakan plugin ini adalah dengan niat baik serta tujuan mulia untuk membuka wawasan pembaca bahwa di luar sana ada yang menggunakan perambah alternatif, dan untuk memperkenalkan perambah alternatif agar masyarakat luas dapat memperbaiki kualitas berselancar di Internet. Walaupun pada kenyataannya lebih mungkin disebabkan karena blog ini adalah jablai blogâ„¢ :).

Dan karena salah satu topik yang sering saya bahas adalah tentang perangkat lunak bebas, mau tidak mau akan sedikit banyak menyinggung perangkat lunak yang tidak bebas. Di sini bisa terjadi konflik opini dan tidak jarang pembicaraan melebar sampai kepada informasi sistem operasi serta perambah tersebut.

Pola yang sering saya lihat adalah sebagai berikut:

  • Komentar A mendukung perangkat lunak bebas dengan opini tertentu.
  • Komentar A ditulis dengan menggunakan sistem operasi Windows dan/atau perambah Internet Explorer.
  • Komentar B menuduh A munafik dan dengan demikian menyimpulkan komentar A tidak berbobot.

Walaupun demikian pada kenyataannya komentar A bisa jadi benar, terlepas dari sistem operasi serta perambah yang digunakan oleh A. Kenyataan bahwa A menggunakan Windows dan Internet Explorer tidak menjadikan opini A menjadi salah atau dapat diabaikan begitu saja. Dan jika seandainya komentar A ditulis dengan menggunakan Firefox di atas Linux, tidak lantas menjadikan komentar A menjadi lebih benar daripada jika ditulis dengan menggunakan Windows dan Internet Explorer.

Jurus perdebatan seperti ini dinamakan Ad hominem tu quoque: memanfaatkan kenyataan bahwa kritik atau keberatan yang diajukan seseorang juga berlaku bagi dirinya. Orang tersebut bisa jadi memang hipokrit, namun argumen seperti itu tidak dapat menjawab benar atau tidaknya pernyataan yang diusung. Ujung-ujungnya jurus tu quoque mungkin hanya akan mengalihkan diskusi dari topik yang sebenarnya. Tu quoque paling jauh hanya akan menyimpulkan apakah pengusung ide adalah hipokrit atau bukan, tetapi tidak akan dapat menjawab permasalahan yang sebenarnya sedang didiskusikan.

***

Seperti yang bisa saya duga sebelumnya, hal ini kembali terjadi dalam kasus MoU siluman antara Microsoft dan Pemerintah Indonesia.

Pertama adalah tulisan Pak Budi Rahardjo tentang pahlawan kesiangan. Katanya, ada orang yang memaki-maki pemerintah karena tidak menggunakan Linux, sedangkan yang memaki-maki sendiri menggunakan Windows. Karena beliau tidak mencantumkan seperti apa maki-makinya, saya tidak dapat berkomentar mengenai kebenaran argumennya. Tetapi yang jelas fakta bahwa dia menggunakan Windows tidak dapat menjawab benar atau tidaknya argumen yang diusung orang yang katanya memaki-maki tersebut.

Selain itu, katanya ada yang melakukan presentasi dengan topik bahwa kita harus menggunakan sistem operasi Linux. Namun di sisi lain, presenter menggunakan Microsoft PowerPoint. Sangat mudah untuk menemukan sesuatu yang janggal dari presentasi tersebut dan menggunakan fakta tersebut sebagai jurus untuk melakukan bantahan. Tetapi jika langkah itu yang diambil, maka kita tidak akan membahas topik utama yang sedang dibahas. Kita hanya akan membahas pembawa topiknya.

Kemudian, tulisan Eko tentang walking the path yang melakukan tabulasi terhadap sistem operasi yang digunakan komentator pada tulisan saya sebelumnya. Beliau menyimpulkan bahwa sebagian besar komentator masih menggunakan Windows, namun mayoritas komentar menyalahkan pemerintah atau Microsoft. Tetapi sebenarnya kenyataan tersebut tidak dapat menyimpulkan benar atau salahnya argumen yang diusung komentator yang ‘anti MoU’ dengan menggunakan Windows. Paling jauh hanya akan menyimpulkan bahwa yang berkomentar seperti itu adalah hipokrit.

Masalahnya, apakah untuk mengeluarkan pendapat yang pro perangkat lunak bebas harus dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak bebas pula? Jawaban yang benar secara politis yang sering diusung untuk perang sistem operasi biasanya adalah: “gunakan sistem operasi yang sesuai dengan situasi yang ada”. Jika kita memaksakan pendapat pro perangkat lunak bebas harus berasal dari perangkat lunak bebas pula, maka secara tidak langsung kita hanya akan menerima pendapat yang berasal dari pengguna ultra fanatis, yang dalam kondisi apapun tidak mau menggunakan sistem operasi selain yang dia sukai.

Pada kenyataannya, sefanatis apapun kita terhadap perangkat lunak bebas, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar komputer di dunia terinstal Windows. Bisa jadi komputer kantor masih menggunakan Windows. Bisa jadi kita harus mengakses Internet dari komputer publik yang hampir pasti menggunakan Windows. Bisa jadi kita memang menggunakan Windows walaupun aplikasi di atasnya adalah perangkat lunak bebas. Bisa jadi kebutuhan saat ini mengharuskan menggunakan Windows. Dan tentunya bisa saja kita mengeset string user-agent perambah kita ke Internet Explorer agar kita bisa melakukan transaksi perbankan tanpa masalah.

***

Tahun lalu, DPRD DKI Jakarta menetapkan Perda untuk menertibkan perokok di tempat-tempat umum. Setelah Perda tersebut ditetapkan, beberapa perokok melakukan protes dengan alasan bahwa masih banyak anggota DPRD yang merokok. Jika untuk menetapkan Perda ini harus menunggu sampai semua anggota DPRD tidak merokok, bisa jadi Perda ini sampai kapanpun tidak akan pernah ditetapkan.

Kemudian soal pembajakan perangkat lunak, kenyataannya Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pembajakan perangkat lunak terbesar di dunia. Besar kemungkinan orang Indonesia menggunakan atau setidaknya pernah menggunakan perangkat lunak bajakan. Jurus pembelaan yang paling sering saya dengar adalah kurang lebih, “Kayak kamu gak pernah membajak aja.” Masalahnya, bukan berarti lantas pembajakan adalah sesuatu yang bisa dibenarkan. Jika memang ingin mengurangi pembajakan perangkat lunak di Indonesia, langkah awal sederhana yang perlu kita lakukan adalah menghentikan penggunaan jurus ad hominem tu quoque dalam hal-hal yang berhubungan dengan ini.

Dan tentunya jika hal ini dibiarkan tanpa terkendali, peserta diskusi lama kelamaan akan mengeluarkan jurus tu quoque pamungkas: “Kayak kamu gak pernah buat dosa aja.” Seandainya inisiatif untuk memperbaiki sesuatu harus datang dari orang yang tidak pernah berbuat dosa, maka kita tidak akan pernah dapat memperbaiki hal tersebut, sampai kapanpun dan untuk masalah apapun.

***

Tulisan ini ditulis oleh seorang pengguna Gentoo Linux Gentoo Linux fanatik yang tetap pragmatis dengan menggunakan Internet Explorer Internet Explorer 6.0 di Windows Windows XP, legal tentunya :).

119 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!