2 January 2007

Domain .id dan Isolasi Akibat Gempa Taiwan

Posted under: at 22:58

Akhir tahun yang lalu, jaringan Internet Indonesia sempat terisolasi akibat gempa Taiwan. Pada sebagian besar penyedia layanan Internet di Indonesia, terputusnya jaringan Internet ini sempat terjadi sampai beberapa hari. Saat ini kita semua sudah kembali dapat menikmati Internet, walaupun dampak dari bencana tersebut masih dapat kita rasakan dalam bentuk kecepatan ber-Internet yang masih belum optimal.

Bencana ini mendorong beberapa pihak untuk mencari jalan untuk meminimalkan dampak jika bencana serupa terjadi di masa yang akan datang. Sayangnya, jalan yang paling ‘populer’ dipromosikan di berbagai media massa adalah dengan menggunakan domain .id, yang tidak efektif untuk menangkal dampak dari kejadian serupa. Berikut adalah kutipan berbagai media massa yang dikutip dari Direktif.

Dari artikel ‘Internet Pingsan Disengat Lindu’, Koran Tempo, 29 Desember 2006:

Jika server komputer itu berada di Purwakarta, Taufik tentu tidak harus menggunakan Internet. Tapi server itu berada di Amerika Serikat sehingga alamatnya memiliki akhiran com. Jika berada di Jakarta atau Surabaya, alamat situsnya akan berakhiran co.id.

Kutipan tersebut sepertinya telah direvisi pada edisi online-nya di Tempo Interaktif.

Dari artikel Akses Internet Se-Asia Ngadat, Jawa Pos, 28 Desember 2006:

Dengan kejadian itu, seharusnya server nasional bisa terlecut untuk memberdayakan diri. “Terbukti kan yang pakai server nasional (.id, Red) seperti saya, komunikasi internet tidak terganggu,” katanya.

Dan terakhir, dari artikel Tingkatkan Domain .id, Komunitas TI Bentuk PANDI, DetikInet, 30 Desember 2006:

Ketergantungan terhadap domain asing, menurut dia bisa dilihat dari kejadian akhir-akhir ini. Akibat terputusnya koneksi internasional, maka banyak pengguna internet Indonesia yang terganggu aktifitasnya karena mengandalkan koneksi internasional, tambah Teddy.

Sepertinya miskonsepsi ini sudah sangat meluas. Bermigrasi dari domain .com ke domain .co.id misalnya, dianggap sebagai obat mujarab yang dapat menyembuhkan dampak jika terjadi bencana serupa di masa yang akan datang. Tentunya hal ini tidak benar karena nama domain bukanlah faktor yang menentukan atau paling tidak bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan.

DNS adalah sistem di balik penamaan domain di Internet. DNS hanya bertanggung jawab dalam hal penamaan. Sebuah hostname berakhiran .com dapat saja diletakkan di Amerika Serikat, di Indonesia dan dimanapun di dunia selama ada koneksi Internet. Dan sebaliknya, hostname berakhiran co.id dapat pula diletakkan di manapun ada koneksi Internet. Saya yang memiliki domain priyadi.net misalnya dapat saja meletakkan domain ini di dalam Indonesia dan meletakkan us.priyadi.net di Amerika Serikat serta meletakkan my.priyadi.net di Malaysia. Sampai di sini rasanya cukup untuk dapat meluruskan miskonsepsi yang saya kutip di atas.

DNS bersifat terpusat dalam artian ada sedikit pihak yang menangani server inti dari DNS. Walaupun demikian, DNS juga terdistribusi secara hirarkis sehingga tidak semua fungsi DNS dikelola oleh server yang dikelola satu pihak. Bagian yang paling rentan dari sistem ini tentunya adalah server inti tersebut. Sebagai contoh, tahun 2002, ketigabelas server inti ini diserang dan sebagian di antaranya tidak dapat diakses selama kurang lebih satu jam.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah terpusatnya server inti dari DNS adalah dengan menaruh server replika di berbagai tempat di dunia. Hal ini dapat dilakukan dengan mekanisme Anycast. Sebagai contoh, saat ini paling tidak ada dua buah server inti dari DNS yang diletakkan di dalam Indonesia, yaitu i.root-servers.net dan f.root-servers.net. Dimana pun di dunia, kedua server ini memiliki alamat IP yang sama, yaitu 192.36.148.17 dan 192.5.5.241. Tetapi belum tentu mengarah ke server yang sama jika diakses dari tempat yang berbeda. Untuk mengetahui kode root server mana yang kita akses dapat diketahui melalui perintah misalnya dig +norec @f.root-servers.net hostname.bind chaos txt.

Akibat mekanisme ini, DNS tidak lumpuh total dalam situasi terputusnya Internet secara berkepanjangan seperti pada bencana gempa Taiwan akhir tahun lalu.

Masalah berikutnya adalah delegasi ke domain tingkat atas. Domain .com misalnya, dikelola oleh tiga belas server dari a.gtld-servers.net sampai dengan m.gtld-servers.net. Walaupun di antara server-server ini ada yang didistribusikan secara Anycast, saya tidak mengetahui persis apakah ada mirror-nya di dalam Indonesia. Begitu pula dengan TLD lainnya. Saya sendiri masih dapat mengakses detik.com misalnya, tetapi saya tidak menyelidiki secara terperinci bagaimana saya dapat mengakses detik.com, apakah memang salah satu server DNS yang digunakan .com dapat dijangkau, atau hanya karena cache lokal saja.

Domain tingkat atas .id sendiri memiliki empat server, satu di Australia dan tiga di Indonesia, masing-masing di Indosatnet, Radnet dan Indonet. Saya tidak tahu apakah ada di antaranya yang didistribusikan secara anycast, tetapi sepertinya tidak.

Jika koneksi Internet Indonesia 100% terputus secara berkepanjangan, yang terjadi kurang lebih adalah sebagai berikut:

  • Root server DNS tetap berfungsi karena ada mirror anycast-nya di dalam Indonesia.
  • Domain .id tetap berfungsi dari dalam Indonesia karena tiga dari empat server-nya tetap dapat diakses.
  • Domain .id tetap berfungsi dari luar Indonesia karena satu dari empat server-nya tetap dapat diakses, walaupun mungkin satu server bisa jadi terlalu berat untuk menangani domain sebuah negara.
  • Domain .com tidak berfungsi dari dalam Indonesia karena tidak ada mirror-nya di dalam Indonesia (ada yang dapat memberikan verifikasi?)
  • Pengguna Internet di dalam Indonesia tidak dapat mengakses server di luar Indonesia, terlepas dari apa nama domain dari server tersebut.
  • Pengguna Internet di luar Indonesia tidak dapat mengakses server di dalam Indonesia, terlepas dari apa nama domain dari server tersebut.

Tentunya situasi di atas tidak akan sama persis seperti bencana gempa Taiwan kemarin karena bencana tersebut berpengaruh secara regional. Sedangkan asumsi saya di atas bencana yang terjadi adalah dalam skala nasional.

Dan tentunya walaupun server dapat kita akses, belum tentu seluruh layanan akan berfungsi 100%. Email dari luar negeri yang dikirim ke server dalam negeri misalnya, tentunya tidak akan sampai dalam situasi semacam ini.

84 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!