<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Penggunaan Istilah Obat Generik dan Obat Paten</title>
	<atom:link href="http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/</link>
	<description>Changing the world, one person at a time...</description>
	<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 08:01:05 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: riki</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-575189</link>
		<dc:creator>riki</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 11:11:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-575189</guid>
		<description>Nice.,tapi bukan nya yang dipaten kan itu emang mereknya??
perlu diingat., pembuatan obat generik hanya bisa dilakukan pabrik yang sudah dapat lisensi., jadi ga semua pabrik bisa produksi obat generik., prosedur pun cukup ketat. Kandungan obat generik sama dengan dengan yang paten..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nice.,tapi bukan nya yang dipaten kan itu emang mereknya??<br />
perlu diingat., pembuatan obat generik hanya bisa dilakukan pabrik yang sudah dapat lisensi., jadi ga semua pabrik bisa produksi obat generik., prosedur pun cukup ketat. Kandungan obat generik sama dengan dengan yang paten..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: roni</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-552273</link>
		<dc:creator>roni</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 04:36:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-552273</guid>
		<description>Kenapa harus pake yang mahal kalau yang ekonomis dengan tingkat penyembuhan yang sama...:-w</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa harus pake yang mahal kalau yang ekonomis dengan tingkat penyembuhan yang sama&#8230;<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: roni</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-552272</link>
		<dc:creator>roni</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 04:33:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-552272</guid>
		<description>Udah beredar Obat generik berlogo amlodipine bisylate keluaran PT. Bernofarm:-?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Udah beredar Obat generik berlogo amlodipine bisylate keluaran PT. Bernofarm<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hs</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-524735</link>
		<dc:creator>hs</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 21:43:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-524735</guid>
		<description>http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/12_MENKES_I_2005.pdf</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/12_MENKES_I_2005.pdf" rel="nofollow">http://www.pom.go.id/public/hukum_perundangan/pdf/12_MENKES_I_2005.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: KD</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-474587</link>
		<dc:creator>KD</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2007 00:07:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-474587</guid>
		<description>trims om, atas infonya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>trims om, atas infonya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-471007</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 20:46:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-471007</guid>
		<description>#95:

ok jadi masalahnya cuma satu: di indonesia tidak ada exclusivity, adanya cuma paten. sedangkan saya mengambil contoh paten amerika yang menganut sistem exclusivity (atau mungkin yang dimaksud oleh artikel yang saya kutip sebenarnya adalah exclusivity, bukan paten. artikelnya sendiri bilang patent dan exclusivity).

sebelumnya saya gak tahu ada sistem exclusivity untuk produk farmasi di US. pemahaman saya cuma dalam konteks intellectual property secara umum. untuk itu saya tambahkan catatan tambahan di tulisan saya.

&lt;blockquote&gt;
It is my right to be anonym. If you have problem with that I am ready to tell you who I am.
&lt;/blockquote&gt;

i don't have a problem with anonimity. i do have problems with anonymous users taking cheap shots. your identity is the least of my concern.&lt;ins datetime="2007-04-09T21:16:24+00:00"&gt;&lt;/ins&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#95:</p>
<p>ok jadi masalahnya cuma satu: di indonesia tidak ada exclusivity, adanya cuma paten. sedangkan saya mengambil contoh paten amerika yang menganut sistem exclusivity (atau mungkin yang dimaksud oleh artikel yang saya kutip sebenarnya adalah exclusivity, bukan paten. artikelnya sendiri bilang patent dan exclusivity).</p>
<p>sebelumnya saya gak tahu ada sistem exclusivity untuk produk farmasi di US. pemahaman saya cuma dalam konteks intellectual property secara umum. untuk itu saya tambahkan catatan tambahan di tulisan saya.</p>
<blockquote><p>
It is my right to be anonym. If you have problem with that I am ready to tell you who I am.
</p></blockquote>
<p>i don&#8217;t have a problem with anonimity. i do have problems with anonymous users taking cheap shots. your identity is the least of my concern.<ins datetime="2007-04-09T21:16:24+00:00"></ins></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi Watch</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-470923</link>
		<dc:creator>Priyadi Watch</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 17:46:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-470923</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;oh ya, mungkin perlu saya ingatkan ini bukan partai politik atau pertandingan sepakbola. di sini gak ada ‘pendukung’. yang menurut anda ‘pendukung’ saya bisa berubah menjadi ‘pendukung fanatik tim lawan’ pada tulisan yang lain. bisa jadi yang merasa ada partisanship di sini mungkin cuma anda, atau bisa jadi hanya anda sendiri yang partisan.
&lt;/blockquote&gt;
Mohon maaf saya bukan ahli bahasa dan saya enggan sekali untuk merasa atau bahkan mengaku sebagai ahli bahasa. Yang saya maksud adalah artikel utama itu terbagi dua entah saya salah atau tidak. 

Bagian satu adalah kasus terdiri dari alinea 1 sampai 5 di akhiri dengan tanda ***

Dan bagian kedua adalah tulisan pendukung, yaitu seluruh tulisan setelah tanda ***


&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;nah, sekarang bagian mana yang rancu?&lt;/strong&gt; dari tulisan anda ‘kerancuan’ cuma ada hanya karena anda membaca sepintas (anda sendiri yang bilang lho). rasanya saya sudah cukup ‘covering all the bases’ waktu menulis, anda tidak membaca bagian ‘di negara2 yang mengakui paten ini’ sesuai yang saya tulis.&lt;/blockquote&gt; 

Komentar anda no #11, #51 dan #71 Jelas menunjukkan suatu pemahaman yang berbeda tentang paten dan generik. Saya pikir tulisan anda di dasari oleh pemahaman anda seperti tertulis di #11, #51, dan #71 maka agak terkesan janggal.

&lt;blockquote&gt;saya cuma butuh sebuah contoh paten untuk menggambarkan apa yang terjadi sebelum patent expire, dan apa yang terjadi sesudahnya. saya tidak dapat menemukan contoh kasus paten di indonesia, saya hanya dapat menemukan paten di amerika serikat dan itu saya gunakan sebagai contoh. saya juga sudah cukup hati2 menambahkan bahwa paten tersebut hanya berlaku di negara2 yang mengakui paten amerika serikat tersebut. kurang apa lagi?
&lt;/blockquote&gt;
Linguistik ini hanya untuk bahasa Indonesia atau juga untuk bahasa inggris? karena permasalahan yang anda sebutkan diatas adalah sama sekali bukan masalah paten di Amerika tetapi masalah exclusivitas. Ini untuk menjelaskan masalah komentar anda di #92

Karena menurut saya anda coba menutupi kesalahan anda dengan memaksakan suatu pemahaman baru. Sangat bertolak belakang dengan tulisan anda di #11, #51 dan #71

&lt;blockquote&gt;
your so called ‘criticsm’ (sic) tell about yourself more than about myself. thank god you are posting anonymously&lt;/blockquote&gt;
It is my right to be anonym. If you have problem with that I am ready to tell you who I am.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>oh ya, mungkin perlu saya ingatkan ini bukan partai politik atau pertandingan sepakbola. di sini gak ada ‘pendukung’. yang menurut anda ‘pendukung’ saya bisa berubah menjadi ‘pendukung fanatik tim lawan’ pada tulisan yang lain. bisa jadi yang merasa ada partisanship di sini mungkin cuma anda, atau bisa jadi hanya anda sendiri yang partisan.
</p></blockquote>
<p>Mohon maaf saya bukan ahli bahasa dan saya enggan sekali untuk merasa atau bahkan mengaku sebagai ahli bahasa. Yang saya maksud adalah artikel utama itu terbagi dua entah saya salah atau tidak. </p>
<p>Bagian satu adalah kasus terdiri dari alinea 1 sampai 5 di akhiri dengan tanda ***</p>
<p>Dan bagian kedua adalah tulisan pendukung, yaitu seluruh tulisan setelah tanda ***</p>
<blockquote><p><strong>nah, sekarang bagian mana yang rancu?</strong> dari tulisan anda ‘kerancuan’ cuma ada hanya karena anda membaca sepintas (anda sendiri yang bilang lho). rasanya saya sudah cukup ‘covering all the bases’ waktu menulis, anda tidak membaca bagian ‘di negara2 yang mengakui paten ini’ sesuai yang saya tulis.</p></blockquote>
<p>Komentar anda no #11, #51 dan #71 Jelas menunjukkan suatu pemahaman yang berbeda tentang paten dan generik. Saya pikir tulisan anda di dasari oleh pemahaman anda seperti tertulis di #11, #51, dan #71 maka agak terkesan janggal.</p>
<blockquote><p>saya cuma butuh sebuah contoh paten untuk menggambarkan apa yang terjadi sebelum patent expire, dan apa yang terjadi sesudahnya. saya tidak dapat menemukan contoh kasus paten di indonesia, saya hanya dapat menemukan paten di amerika serikat dan itu saya gunakan sebagai contoh. saya juga sudah cukup hati2 menambahkan bahwa paten tersebut hanya berlaku di negara2 yang mengakui paten amerika serikat tersebut. kurang apa lagi?
</p></blockquote>
<p>Linguistik ini hanya untuk bahasa Indonesia atau juga untuk bahasa inggris? karena permasalahan yang anda sebutkan diatas adalah sama sekali bukan masalah paten di Amerika tetapi masalah exclusivitas. Ini untuk menjelaskan masalah komentar anda di #92</p>
<p>Karena menurut saya anda coba menutupi kesalahan anda dengan memaksakan suatu pemahaman baru. Sangat bertolak belakang dengan tulisan anda di #11, #51 dan #71</p>
<blockquote><p>
your so called ‘criticsm’ (sic) tell about yourself more than about myself. thank god you are posting anonymously</p></blockquote>
<p>It is my right to be anonym. If you have problem with that I am ready to tell you who I am.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Togar Silaban</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-470112</link>
		<dc:creator>Togar Silaban</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 04:27:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-470112</guid>
		<description>Sepertinya diskusinya antara masalah linguistik (bahasa) dan substansi obat paten atau obat generik. Karena diawalnya mengutip istilah yang sering dipakai media tentang "obat paten", mungkin akan lebih baik kembali persoalan asal. Kebiasaan media yang memang sering memicu silang pendapat.  Kan dalam bahasa media sah-sah saja memancing beda pendapat yang ekstrim. 

Saya jadi ingat waktu kecil dulu, dalam istilah di Sumatera Timur dan di Medan khususnya, kalau disebut "obat paten" itu berarti obat mujarab. 
"Paten kali" kata istilah Medan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya diskusinya antara masalah linguistik (bahasa) dan substansi obat paten atau obat generik. Karena diawalnya mengutip istilah yang sering dipakai media tentang &#8220;obat paten&#8221;, mungkin akan lebih baik kembali persoalan asal. Kebiasaan media yang memang sering memicu silang pendapat.  Kan dalam bahasa media sah-sah saja memancing beda pendapat yang ekstrim. </p>
<p>Saya jadi ingat waktu kecil dulu, dalam istilah di Sumatera Timur dan di Medan khususnya, kalau disebut &#8220;obat paten&#8221; itu berarti obat mujarab.<br />
&#8220;Paten kali&#8221; kata istilah Medan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-469971</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 02:45:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-469971</guid>
		<description>#91:

&lt;blockquote&gt;
Tulisan &lt;strong&gt;pendukung&lt;/strong&gt; anda berkesan lain
&lt;/blockquote&gt;

oh ya, mungkin perlu saya ingatkan ini bukan partai politik atau pertandingan sepakbola. di sini gak ada 'pendukung'. yang menurut anda 'pendukung' saya bisa berubah menjadi 'pendukung fanatik tim lawan' pada tulisan yang lain. bisa jadi yang merasa ada partisanship di sini mungkin cuma anda, atau bisa jadi hanya anda sendiri yang partisan.

alangkah baiknya jika semua yang berdiskusi bisa fokus ke apa yang didiskusikan, dan tidak bawa urusan lain yang sama sekali tidak relevan (seperti urusan KRMTRSN misalnya &#58;&#38;#80;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#91:</p>
<blockquote><p>
Tulisan <strong>pendukung</strong> anda berkesan lain
</p></blockquote>
<p>oh ya, mungkin perlu saya ingatkan ini bukan partai politik atau pertandingan sepakbola. di sini gak ada &#8216;pendukung&#8217;. yang menurut anda &#8216;pendukung&#8217; saya bisa berubah menjadi &#8216;pendukung fanatik tim lawan&#8217; pada tulisan yang lain. bisa jadi yang merasa ada partisanship di sini mungkin cuma anda, atau bisa jadi hanya anda sendiri yang partisan.</p>
<p>alangkah baiknya jika semua yang berdiskusi bisa fokus ke apa yang didiskusikan, dan tidak bawa urusan lain yang sama sekali tidak relevan (seperti urusan KRMTRSN misalnya &#58;&amp;#80<img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-469923</link>
		<dc:creator>Priyadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 02:03:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-469923</guid>
		<description>#91:

&lt;blockquote&gt;
Tidak lah saya hanya bermaksud mengingatkan, anda ini terkadang terkesan seperti termakan ucapan anda sendiri ke sdr KRMT R.S, Sering tulisan anda di baca sepintas, dua pintas dan tiga pintas tetap menghasilkan sesuatu yang rancu, suatu pemahaman yang justru membingungkan dan terkadang menyesatkan.
&lt;/blockquote&gt;

nah, sekarang bagian mana yang rancu? dari tulisan anda 'kerancuan' cuma ada hanya karena anda membaca sepintas (anda sendiri yang bilang lho). rasanya saya sudah cukup 'covering all the bases' waktu menulis, anda tidak membaca bagian 'di negara2 yang mengakui paten ini' sesuai yang saya tulis. rasanya anda sendiri yang termakan niat anda yang cari2 kesempatan sekecil apapun untuk 'bawa2' urusan KRMTRSN kesini.

&lt;blockquote&gt;
Karena paten ini, tidak ada obat lain dengan kandungan yang sama &lt;strong&gt;di negara-negara yang mengakui paten ini&lt;/strong&gt;.
&lt;/blockquote&gt;

saya cuma butuh sebuah contoh paten untuk menggambarkan apa yang terjadi sebelum patent expire, dan apa yang terjadi sesudahnya. saya tidak dapat menemukan contoh kasus paten di indonesia, saya hanya dapat menemukan paten di amerika serikat dan itu saya gunakan sebagai contoh. saya juga sudah cukup hati2 menambahkan bahwa paten tersebut hanya berlaku di negara2 yang mengakui paten amerika serikat tersebut. kurang apa lagi?

&lt;blockquote&gt;
Ini tetap tidak relevan. Karena obat paten yang di tulis di media massa memang mengacu pada sebuah atau beberapa obat paten. Memang mereka bermerk tapi secara spesifik saya yakin mereka juga berpaten.
&lt;/blockquote&gt;

di media lain (tidak saya kutip karena tidak bisa menemukan artikel yang dimaksud), obat2an yang dimaksud adalah cotrimoxazole, metronidazole, dan amoxicillin.

&lt;blockquote&gt;
Well it was amaze me to realize that that’s how you respond to such criticsm
&lt;/blockquote&gt;

your so called 'criticsm' (sic) tell about yourself more than about myself. thank god you are posting anonymously :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#91:</p>
<blockquote><p>
Tidak lah saya hanya bermaksud mengingatkan, anda ini terkadang terkesan seperti termakan ucapan anda sendiri ke sdr KRMT R.S, Sering tulisan anda di baca sepintas, dua pintas dan tiga pintas tetap menghasilkan sesuatu yang rancu, suatu pemahaman yang justru membingungkan dan terkadang menyesatkan.
</p></blockquote>
<p>nah, sekarang bagian mana yang rancu? dari tulisan anda &#8216;kerancuan&#8217; cuma ada hanya karena anda membaca sepintas (anda sendiri yang bilang lho). rasanya saya sudah cukup &#8216;covering all the bases&#8217; waktu menulis, anda tidak membaca bagian &#8216;di negara2 yang mengakui paten ini&#8217; sesuai yang saya tulis. rasanya anda sendiri yang termakan niat anda yang cari2 kesempatan sekecil apapun untuk &#8216;bawa2&#8242; urusan KRMTRSN kesini.</p>
<blockquote><p>
Karena paten ini, tidak ada obat lain dengan kandungan yang sama <strong>di negara-negara yang mengakui paten ini</strong>.
</p></blockquote>
<p>saya cuma butuh sebuah contoh paten untuk menggambarkan apa yang terjadi sebelum patent expire, dan apa yang terjadi sesudahnya. saya tidak dapat menemukan contoh kasus paten di indonesia, saya hanya dapat menemukan paten di amerika serikat dan itu saya gunakan sebagai contoh. saya juga sudah cukup hati2 menambahkan bahwa paten tersebut hanya berlaku di negara2 yang mengakui paten amerika serikat tersebut. kurang apa lagi?</p>
<blockquote><p>
Ini tetap tidak relevan. Karena obat paten yang di tulis di media massa memang mengacu pada sebuah atau beberapa obat paten. Memang mereka bermerk tapi secara spesifik saya yakin mereka juga berpaten.
</p></blockquote>
<p>di media lain (tidak saya kutip karena tidak bisa menemukan artikel yang dimaksud), obat2an yang dimaksud adalah cotrimoxazole, metronidazole, dan amoxicillin.</p>
<blockquote><p>
Well it was amaze me to realize that that’s how you respond to such criticsm
</p></blockquote>
<p>your so called &#8216;criticsm&#8217; (sic) tell about yourself more than about myself. thank god you are posting anonymously <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Priyadi Watch</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-468734</link>
		<dc:creator>Priyadi Watch</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2007 22:06:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-468734</guid>
		<description>Tidak lah saya hanya bermaksud mengingatkan, anda ini terkadang terkesan seperti termakan ucapan anda sendiri ke sdr KRMT R.S, Sering tulisan anda di baca sepintas, dua pintas dan tiga pintas tetap menghasilkan sesuatu yang rancu, suatu pemahaman yang justru membingungkan dan terkadang menyesatkan.

&lt;blockquote cite=""&gt;point saya sebenarnya cuma satu: “yang dimaksud dengan ‘obat paten’ yang ditulis di media massa sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘obat bermerk’”. ini bukan tulisan medis, tapi tentang tata bahasa (lihat kategorinya).
&lt;/blockquote&gt;
Ini tetap tidak relevan. Karena obat paten yang di tulis di media massa memang mengacu pada sebuah atau beberapa obat paten. Memang mereka bermerk tapi secara spesifik saya yakin mereka juga berpaten.


&lt;blockquote&gt;kapan saya bilang paten norvasc yang saya maksud berlaku di indonesia? ini kutipan saya: “di negara-negara yang mengakui paten ini”. saya malah gak tahu apakah norvasc dipatenkan di indonesia dan sampai kapan patennya berlaku. norvasc saya ambil dari salah satu artikel (dikutip juga di atas) cuma sebagai contoh saja untuk menggambarkan point saya, terutama karena saya gak tahu paten mana saja yang berlaku untuk norvasc di indonesia.
&lt;/blockquote&gt;

Tulisan pendukung anda berkesan lain. Rancu dan menyesatkan.

Dari alinea 1 sampai 4 anda menjelaskan tentang paten indonesia dan di Alinea 5 anda memberikan contoh norvasc. Salahkah bila saya berasumsi anda memberikan contoh tentang undang2 paten Indonesia?

Terus terang saya berkesimpulan demikian karena menganggap anda punya pemahaman bahwa paten amerika tersebut berlaku pula di Indonesia.

&lt;blockquote cite=""&gt;
gak pernah. tapi komentar anda sebelumnya bernada nitpicking, arguing for the sake of arguing, kalau mau nitpicking, saya merasa itu komentar berikutnya yang akan keluar . your latest comments are better though. &lt;/blockquote&gt;
No it wasn't. It was not for the sake of arguing. Even tough I wrote it with sinistic tone. If you read it clearly once or twice, think and deep think, check and recheck sources. They are not for the sake of arguing. Well yes in my mind I was(am) underestimate you in this case, that's where the tone came from. 

Well it was amaze me to realize that that's how you respond to such criticsm. :) That was an honest answer i got so far from you :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak lah saya hanya bermaksud mengingatkan, anda ini terkadang terkesan seperti termakan ucapan anda sendiri ke sdr KRMT R.S, Sering tulisan anda di baca sepintas, dua pintas dan tiga pintas tetap menghasilkan sesuatu yang rancu, suatu pemahaman yang justru membingungkan dan terkadang menyesatkan.</p>
<blockquote cite=""><p>point saya sebenarnya cuma satu: “yang dimaksud dengan ‘obat paten’ yang ditulis di media massa sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘obat bermerk’”. ini bukan tulisan medis, tapi tentang tata bahasa (lihat kategorinya).
</p></blockquote>
<p>Ini tetap tidak relevan. Karena obat paten yang di tulis di media massa memang mengacu pada sebuah atau beberapa obat paten. Memang mereka bermerk tapi secara spesifik saya yakin mereka juga berpaten.</p>
<blockquote><p>kapan saya bilang paten norvasc yang saya maksud berlaku di indonesia? ini kutipan saya: “di negara-negara yang mengakui paten ini”. saya malah gak tahu apakah norvasc dipatenkan di indonesia dan sampai kapan patennya berlaku. norvasc saya ambil dari salah satu artikel (dikutip juga di atas) cuma sebagai contoh saja untuk menggambarkan point saya, terutama karena saya gak tahu paten mana saja yang berlaku untuk norvasc di indonesia.
</p></blockquote>
<p>Tulisan pendukung anda berkesan lain. Rancu dan menyesatkan.</p>
<p>Dari alinea 1 sampai 4 anda menjelaskan tentang paten indonesia dan di Alinea 5 anda memberikan contoh norvasc. Salahkah bila saya berasumsi anda memberikan contoh tentang undang2 paten Indonesia?</p>
<p>Terus terang saya berkesimpulan demikian karena menganggap anda punya pemahaman bahwa paten amerika tersebut berlaku pula di Indonesia.</p>
<blockquote cite=""><p>
gak pernah. tapi komentar anda sebelumnya bernada nitpicking, arguing for the sake of arguing, kalau mau nitpicking, saya merasa itu komentar berikutnya yang akan keluar . your latest comments are better though. </p></blockquote>
<p>No it wasn&#8217;t. It was not for the sake of arguing. Even tough I wrote it with sinistic tone. If you read it clearly once or twice, think and deep think, check and recheck sources. They are not for the sake of arguing. Well yes in my mind I was(am) underestimate you in this case, that&#8217;s where the tone came from. </p>
<p>Well it was amaze me to realize that that&#8217;s how you respond to such criticsm. <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> That was an honest answer i got so far from you <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fukutenshi Youfan</title>
		<link>http://priyadi.net/archives/2007/03/21/penggunaan-istilah-obat-generik-dan-obat-paten/#comment-465292</link>
		<dc:creator>Fukutenshi Youfan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2007 17:04:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://priyadi.net/?p=769#comment-465292</guid>
		<description>Wah, aku baru tau ada yang namanya Om PriyadiWatch.Org ... :-? :) (j/k)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah, aku baru tau ada yang namanya Om PriyadiWatch.Org &#8230; <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> <img src='http://priyadi.net/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> (j/k)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
