10 April 2007

Memutuskan Mata Rantai Sindrom Stockholm

Posted under: at 03:11

Beberapa hari terakhir ini semua media massa heboh memberitakan meninggalnya seorang praja IPDN akibat penganiayaan yang dilakukan seniornya. Tetapi sebenarnya kekerasan di kampus bukan hanya terjadi di IPDN dan tentunya kekerasan masih dapat terjadi tanpa perlu ada korban meninggal dunia. Kekerasan juga tidak harus berupa kekerasan fisik. Kekerasan dapat berupa kekerasan mental. Diteriak-teriaki, dipaksa mengenakan atribut yang tidak pantas dan disuruh mengerjakan tugas yang tidak jelas tujuannya juga merupakan bentuk-bentuk kekerasan.

Kasus IPDN/STPDN memang adalah kasus yang paling parah dilihat dari frekuensi kekerasan dan jumlah korban jiwa. Tetapi bukan berarti kita harus berhenti di sini saja. Terus terang kesan yang saya dapatkan sekarang adalah “semuanya tidak menjadi masalah asalkan tidak ada yang mati,” karena semuanya baru akan ribut-ribut hanya jika ada yang meninggal dunia.

Peraturan-peraturan yang melarang anarkisme seperti ini juga telah cukup banyak dikeluarkan, baik di tingkat kampus maupun di tingkat nasional. Tetapi sepertinya masih belum cukup untuk mencegah terulangnya kegiatan-kegiatan semacam ini.

***

Pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia terjadi sebuah perampokan bank. Perampok sempat menyandera beberapa petugas bank selama enam hari. Setelah drama penyanderaan usai, ternyata para korban berubah menjadi bersimpati kepada orang-orang yang menyandera mereka. Lebih daripada itu, ternyata mereka membela orang-orang penyandera ini.

Karena kasus tersebut, fenomena ini kemudian dinamakan sebagai sindrom Stockholm.

Contoh kasus serupa adalah Patty Hearst yang diculik oleh kelompok separatis Symbionese Liberation Army. Setelah diculik selama dua bulan, dia tertangkap membantu penculiknya untuk melakukan sebuah perampokan.

Dan tentunya masih banyak contoh-contoh kasus lainnya selain dari dua contoh di atas.

***

Pada kasus IPDN dan ospek di beberapa kampus-kampus lainnya, para praja junior tentunya keberatan jika mereka yang menjadi korban penganiayaan. Tetapi mengapa setelah mereka yang menjadi senior, mereka juga melakukan kegiatan serupa? Jawabannya ini adalah sebuah siklus sindrom Stockholm yang berlangsung secara terus menerus dan sistematis.

Usaha-usaha untuk melarang kegiatan penganiayaan yang dilakukan selama ini berfokus untuk melarang para senior untuk melakukan kegiatan penganiayaan. Tetapi menurut saya, hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap para junior. Jauh lebih mudah untuk melarang junior untuk mengikuti kegiatan semacam ini karena mereka masih dapat berpikir jernih akibat belum terekspos kekerasan oleh para senior yang nantinya akan menjurus pada sindrom Stockholm.

Yang jelas perlu ditanamkan kepada para junior bahwa mereka bukanlah makhluk yang tidak berdaya. Mereka harusnya sudah bisa menentukan mana kegiatan yang merupakan penganiayaan dan mana yang bukan. Dan mereka harusnya sadar bahwa orang yang lebih tua belum tentu benar.

Kalau kita lihat tayangan kekerasan IPDN di televisi, kita bisa melihat bahwa jauh lebih banyak yang dianiaya daripada yang menganiaya. Sebenarnya jika mereka kompak, mereka bisa saja dapat dengan mudah menguasai keadaan. Dan jika sistemnya tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut, kabur atau mengundurkan diri bukanlah perbuatan yang pengecut. Sebaliknya, kabur –seperti yang dilakukan beberapa mantan praja– adalah perbuatan yang pintar. Lebih baik lagi jika para junior secara kompak memboikot sebuah kegiatan sampai mereka diperlakukan secara manusiawi.

Yang kita inginkan bukanlah orang-orang yang selalu patuh menerima sebuah perlakuan betapapun aneh dan merendahkannya perlakuan tersebut. Kita menginginkan orang-orang yang ketika mendapat sebuah perlakuan yang merendahkan, mereka mempertanyakan apa maksud dan tujuan dari perlakuan tersebut. Dan jika memang tidak ada maksud dan tujuan yang jelas dan dapat diterima akal sehat, sama sekali tidak ada salahnya untuk menolaknya.

Dan ingat-ingat, perbaikan sistem tidak perlu hanya sampai di sini saja. Sebentar lagi adalah waktunya penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi yang tentu saja sangat rentan terhadap upaya-upaya kekerasan terhadap mahasiswa baru. Besar kemungkinan tidak akan ada yang meninggal dunia, tetapi bukan berarti tidak ada kekerasan dan penganiayaan.

125 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!