Hitung-hitung ‘Blue Energy’
Masih tentang kontroversi Blue Energy. Menurut artikel Jawa Pos, bahan dasarnya adalah air. Tentunya tidak mungkin air dituangkan begitu saja ke tangki bensin, dan tidak seperti sensasi penemuan ini, bukan air yang merupakan sumber energi. Penemu mengklaim sumber energinya adalah listrik:
Sementara itu, Joko Suprapto mengungkapkan, blue energy bisa murah karena teknologi listrik yang murah pula. “Yang utama harus ada listrik murah. Kalau tidak, sama saja. Sebab, energi untuk membuat blue energy ini sangat besar,” ungkapnya.
Klaim lainnya adalah soal harga, katanya dengan teknologi ini, harga produk bahan bakar yang dihasilkan hanya Rp 3000/liter saja:
Joko mengaku, saat ini bisa menghasilkan blue energy dengan harga sekitar Rp 3.000 per liter untuk setiap bahan bakar pengganti. Termasuk premium dan solar. “Kalau minyak tanah sekitar dua ribuan tanpa subsidi,” jelasnya.
Berdasarkan kedua data tersebut, mari kita lakukan sedikit perhitungan untuk mengetahui wajar atau tidaknya klaim tersebut.
***
Satu liter bensin mengandung energi sebanyak 34.8 megajoule. Sedangkan 1 kWh listrik setara dengan 3,6 megajoule.
Dengan asumsi efisiensi 100%, maka energi listrik yang diperlukan untuk mensintesis satu liter bensin adalah: 34,8 megajoule * (1 kWh / 3,6 megajoule) = 9,67 kWh.
Harga grosir listrik PLN untuk industri adalah Rp 460/kWh. Pada harga tersebut, maka harga yang harus dibayarkan untuk mensintesis satu liter bensin dari listrik PLN adalah: 9,67 kWh * (Rp 460/kWh) = Rp 4448.
Pada realisasinya, efisiensi konversi energi tidak mungkin mencapai 100%. Karena itu harga dapat dipastikan akan lebih tinggi. Saya tidak tahu berapa nilai efisiensi yang realistis, tapi rasanya 50% sudah merupakan prestasi yang sangat baik. Pada efisiensi 50%, maka harga produksi akan meningkat dua kali lipat menjadi Rp 8896. Selain itu harga ini masih belum termasuk overhead seperti pajak, biaya abonemen PLN, biaya distribusi, biaya sumber daya manusia dan sebagainya. Dan jika yang diinginkan adalah listrik PLN tanpa subsidi, maka tentunya harga produk akhir akan lebih tinggi lagi.
Apapun teknologi yang digunakan, harga produk akhir tidak akan mungkin mencapai Rp 3000/liter, bahkan dengan efisiensi 100% sekalipun. Jika ada yang mengklaim memiliki kemampuan untuk mensintesis bahan bakar kendaraan dari listrik PLN dengan harga produk akhir hanya Rp 3000/liter saja, maka ada beberapa kemungkinan:
- Ada sumber energi lain di luar listrik PLN.
- Harga listrik PLN lebih murah daripada asumsi di atas, atau dengan kata lain disubsidi lebih besar lagi.
- Ada yang salah dengan klaim tersebut, bisa kesalahan perhitungan atau kesalahan lain, baik teknis maupun non teknis.
- Ada pelanggaran hukum kekekalan energi dan/atau hukum pertama termodinamika

Tebakan saya adalah yang nomor tiga. Rasanya kita semua tidak perlu berharap terlalu banyak kalau harga bahan bakar nantinya akan berada di bawah harga saat ini.
***
Selain itu, penemu akan menyiapkan produksi dengan kapasitas 10 liter/detik di Cikeas, Bogor:
Saat ini, tim pengembangan bio energy rendah emisi itu sedang menyiapkan insfrastruktur produksi dengan kapasitas 10 liter per detik. “Kami ingin secepatnya. Istilahnya, netesnya (sementara untuk) orang Jakarta itu April (2008),” kata Heru Lelono, staf khusus Presiden SBY.
Sekarang mari kita hitung berapa besar daya listrik yang harus disiapkan untuk itu: 10 liter/detik * 9.67 kWh/liter = 96.7 kWh/detik = 96.7 kW * 3600 = 348120 kW = 348 MW. Dengan efisiensi 50%, maka daya yang diperlukan menjadi dua kali lipat yaitu 696 MW. Saya pribadi tidak yakin infrastruktur listrik di Cikeas sudah siap untuk mengirimkan daya sebesar itu. Sebagai perbandingan, beban puncak penggunaan listrik PLN Jawa-Bali adalah sekitar 16000 MW.
wah bingung aku
bukannya menyelesaikan masalah krisis energi, malah membuat kebutuhan akan energi listrik bertambah
Wakaka
. Priyadi memang bukan hanya bapak blog, tetapi juga bapak akal sehat Indonesia. Maju terus, Pri. Bikin Indonesia maju. Perangi kebodohan.
Heboh namun berusaha tuntas. Hebat mas Pri ini
Gak usah diitung itung, kalo listriknya bisa nyantol di rumahnya Heru Lelono, kan ndak usah bayar. Jadi cuman ongkos buat kuli air aja cukup, mungkin bisa jadi Rp 3000 sekali makan siang.
/
Dan soal kapasitas listrik Jawa Bali…. jangan kawatir, Heru Lelono kan staf khusus SBY, pasti dapat prioritas dung, kalo perlu ruman Priyadi mati lampu biar bisa bikin Blue Energy ini.
Udah deh, jangan macem macem, lawan Staf Khusus je…. Khusus itu logikanya, dengkul aja kalah
perhitungan yang cermat mas pri..
:”> eheheh numpang mejeng aja deh nggak ada yang perlu dikoment kayaknya. tapi tetep harus mikir di luar kotak kan
“
itungannya manteb
hhmmm….
salut buat sang empoe ‘blue energy’.., tp apakah nantinya akan benar2 efektif.. ??
masalah itung2an.. it’s ok… tp saya ga yakin kalo biaya akhirnya ‘rp3000/liter’.. itupun bagi saya masih terlalu mahal.. minyak tanah rp2000/liter tanpa subsidi.. sekarang anda lihat, hampir rata2 disetiap dareah kecil di Indonesia masalah minyak tanah selalu jadi masalah utama.. orang penting “pejabat setempat” bilang kalo minyak tanah sampe sekian tahun pasti dijanjikan ada subsidiNya,, tapi nyataNya harga minyak tanah masih aja suka melambung tinggi… itu bukti real bahwa masalah energy khususNya bahan bakar di Indonesia ini masih tidak stabil…
blue energy di kelola oleh tenaga listrik..??
sekarang coba anda2 sekalian perhatikan masalah biaya listrik yang hampir tiap tahunNya selalu naiuk sekian persen bahkan bisa2 sampe 100%…. bagaimana anda bisa mengKlaim kalo blue energy hanya dipasarkan ‘rp3000/liter yang menurut saya masih tidak wajar/masih mahal…
tapi itulah indonesia.. tiap tahun semakin banyak akan angan2 yang diinginkan…. yang sampe saat ini belum ada bukti nyata/real/fact….
hopkiins_negerikucintanegerikumalang..oh..indonesiaa…
mumet aku!
wah rekor baru nih sepuluh besar!
Analisis yang mantab lan lengkap.
semoga penggunaan akal sehat, bisa jadi tren di Indonesia.
hehehe
presiden + energi alternatif = film the saint.
kalo dosen gw bilang sih… pseudoscience
how can we reduce electricity consumption at home? STOP WATCHING TV! I have not watched TV in 5 years.
PS: Instead, you should read books and you will be as smart as Priyadi
absen dulu… baru baca sambil ngopi….
Perangi kebodohan,perangi kemiskinan
habis(lah)terang(nya) terbit(lah) gelap
hari depan cerah ….
*ini laguku jaman SD
Yang deket2 Cikeas, tolong konfirm dong, klaim “sedang dibangun” pabrrik blue energi ini benar ada ato tidak?
lucu deh kalo bangun pabrik gak itung2 dulu……
#16
rumah saya deket banget dengan Cikeas, coba nanti saya cari tahu apakah ada “pabrik” Blue Energy. Yang saya tahu sih malah banyak pembangunan perumahan, ruko, dll
Kita memang paling jago kalau disuruh bikin yang ajaib2. Cuma sayangnya hanya ilusi.Makanya masyarakat perlu diberdayakan biar bisa kritis dan ga gampang dibodohi.
perhitungan yg simpel yah
Bravo Pak Prie.
Jangan2:
a. Blue energy ini nanti disubsidi pemerintah, jadi bisa dijual di bawah biaya produksi
b. Di Cikeas udah ada PLTN untuk mensupply listriknya.
iya, iya. betul nih.
Pak Priyadi,
Hitung-hitungan anda terlalu terburu-buru!
Kenapa?
Pertama
Menurut saya, anda tidak boleh menghitung dengan asumsi yang flat seperti itu! dengan cara mengkonversi Kwh dan Liter ke dalam Joule lalu memperbandingkan hasil konversinya masing-masing.
Dalam dunia konseptual-abstrak boleh lah anda lakukan, atau kalau untuk mengerjakan soal fisika di sekolah boleh juga anda buat hitung-hitungan seperti itu.
Tapi karena ini dunia real, yang justru harus dicari tau adalah konversi-langsung dari KWh ke Liternya. itu yang harus diperjelas.. Berapa KWH yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 liter premium dengan melakukan elektrolisis air tersebut.
Kenapa itu yang harus di perjelas?, Karena proses KWH-to-Liter conversion ini adalah proses industri, dan bukan sekedar proses fisika teoritik an sich.
Dalam proses industri banyak variable yang bisa dimainkan, serta sejumlah resource2 intangeble yang bisa dilibatkan. Termasuk didalamnya faktor policy, sosio-kultural, teknologi, atau intelectual resources lainnya.
Dari sini lah makanya perhitungan tidak bisa ditarik datar head-to-head, joule dari KWH terhadap joule dari Ltr bensin secara langsung.
Kedua
Alternatip mendapatkan listrik yang hanya dari PLN, bukan kah Ibu Tri Mumpuni sudah terbukti berhasil melakukan pemberdayaan desa dengan membangun pembangkitnya sendiri (mikro hidro), so PLN is not the only way. Jika serius mau membangun industri blue energy ini maka pilihan ini bisa ditempuh
Salam,
Yugi
rakyat kesulitan cari minyak tanah rakyat kesulitan cari duit terus gimana nih!!!
Pertanyaan dasarnya sih memang: “Listriknya dari sumber apa ya?”
Btw, ada lagi nih recycling tools: http://www.popsci.com/popsci/flat/bown/2007/innovator_2.html
#23:
di sini saya cuma menghitung kondisi ideal 100%. kesimpulannya, dengan kondisi 100% unrealistically ideal, maka harga semurah2nya bensin sintetis adalah Rp 4448. dalam praktiknya, sudah bisa dipastikan harga per liter PASTI di atas Rp 4448/liter karena situasi di real world tidak pernah bisa ideal. yang saya ingin tahu sebenernya cuma itu.
jadi, memproduksi BBM sintetis semurah Rp 3000/liter hanya dari listrik PLN adalah tidak mungkin, kecuali kalau ada faktor2 lainnya yang saya sebut di atas.
kalau begitu, maka yang jadi berita harusnya bukan ‘blue energy’, tapi ya pembangunan pembangkit listriknya itu sendiri.
#24:
oh ya, satu pembangkit mikrohidro menurut wikipedia paling cuma bisa menghasilkan 100 kW. untuk bisa sampai 348 MW artinya harus ada 3480 pembangkit.
Hemm.. Pak, menurut saya proses konversi energi secara fisik(a) adalah satu hal, Sedangkan pricing policy adalah hal lain yang berbeda.
Yang bisa dibicarakan oleh fisik(a) adalah berapa efisiensi dari sekian liter bahan bakar menjadi sekian joule kerja mesin. Atau berapa efisiensi sekian KWh listrik menjadi sekian joule kerja motor listrik. Itu saja, atau dari sekian liter air laut + listrik menjadi seberapa liter bensin.
Kenapa bensin yang selama ini kita kenal yang diproses dari crude oil harganya Rp. 4500/Liter,-? atau kenapa PLN menagih industri Rp460/Kwh? Karena selain proses-proses fisik(a) ada juga proses sosial yang didalamnya melibatkan keputusan-keputusan politik dan ekonomi.
Ada dibelakangnya hitung-hitungan industri, ada juga didalamnya perhitungan investasi, produksi banyak (mass production) atau produksi sedikit, dalam konteks minyak dunia bisa juga dilihat apakah ada perang atau tidak dst dst
Nah, variable2 yang non-fisik itu lah yang turut mempengaruhi berapa harga yang sampai ke end user. jadi faktornya cukup kompleks kalo kita mau bikin hitung-hitungan sampai ke Rupiah (which is rupiah bukan lah besaran fisika).
Untuk mengetahui berapa harga 1 solar dari bahan bakar fosil yang di proses di unit2 refinary perusahaan Oil&Gas mungkin akan berbeda jalan ceritanya dengan mendapatkan harga 1 liter solar dari hasil pengolahan minyak jarak, dan tentunya berbeda pula dengan harga 1 liter dari hasil elektrolisis air. Dan kalo sudah masuk pembahasan industri proses-proses fisik(a) menjadi salah satu faktor saja dari sekian banyak faktor sosial yang berpengaruh. Pemerintah yang punya political will bisa membuat harga lebih murah daripada yang tidak punya.
Saya sama sekali tidak meragukan keraguan pak priyadi ttg Rp 3000 ini, saya cuman menganggap penyangkalan anda tidak bisa dilakukan denagn hitung-hitungan yang mencampur adukan faktor-faktor fisik dan sosial.
Kalau mau, sebaiknya pak joko diundang untuk bercerita disini, gimana hitung2an nya sampai keluar harga Rp 3000, atau siapa yang ahli proses disini bisa bantu menyempurnakan hitungannya. Intinya kalau pura-puranya kita mau bikin bisnis plan, konversi dari Kwh listrik ke Liter Bahan bakar yang di hasilkan harus diketahui dulu..
Baru kita bisa bicara tentang rupiah lebih lanjut.
Why not? Bila perlu kedua-dua nya saja jadi berita, kalo yang diminta pak Joko adalah listrik yang murah sementara PLN masih mahal, maka kenapa tidak berkolaborasi dengan Ibu Trimumpuni ini.
Karena format energi yang dihasilkan masing2 berbeda yang satu bahan bakar, yang lain adalah listrik, kedua-duanya merupakan bentuk energi yang bisa dinikmati langsung oleh end user dalam konteks yang berbeda.
Salam
#29 Maaf salah menaruh bloquote seharusnya bagian atasnya tampil begini..
—–
Hemm.. Pak, menurut saya proses konversi energi secara fisik(a) adalah satu hal, Sedangkan pricing policy adalah hal lain yang berbeda.
Yang bisa dibicarakan oleh fisik(a) adalah berapa efisiensi dari sekian liter bahan bakar menjadi sekian joule kerja mesin. Atau berapa efisiensi sekian KWh listrik menjadi sekian joule kerja motor listrik. Itu saja, atau dari sekian liter air laut + listrik menjadi seberapa liter bensin.
Kenapa bensin yang selama ini kita kenal yang diproses dari crude oil harganya Rp. 4500/Liter,-? atau kenapa PLN menagih industri Rp460/Kwh? Karena selain proses-proses fisik(a) ada juga proses sosial yang didalamnya melibatkan keputusan-keputusan politik dan ekonomi.
Ada dibelakangnya hitung-hitungan industri, ada juga didalamnya perhitungan investasi, produksi banyak (mass production) atau produksi sedikit, dalam konteks minyak dunia bisa juga dilihat apakah ada perang atau tidak dst dst
Nah, variable2 yang non-fisik itu lah yang turut mempengaruhi berapa harga yang sampai ke end user. jadi faktornya cukup kompleks kalo kita mau bikin hitung-hitungan sampai ke Rupiah (which is rupiah bukan lah besaran fisika).
Untuk mengetahui berapa harga 1 solar dari bahan bakar fosil yang di proses di unit2 refinary perusahaan Oil&Gas mungkin akan berbeda jalan ceritanya dengan mendapatkan harga 1 liter solar dari hasil pengolahan minyak jarak, dan tentunya berbeda pula dengan harga 1 liter dari hasil elektrolisis air. Dan kalo sudah masuk pembahasan industri proses-proses fisik(a) menjadi salah satu faktor saja dari sekian banyak faktor sosial yang berpengaruh. Pemerintah yang punya political will bisa membuat harga lebih murah daripada yang tidak punya.
Busheddd… ngitungnya itu loh…
Mumet aku!
#29:
perhitungan saya di sini menitikberkat konversi energi dari listrik ke bensin. pada perhitungan, saya asumsikan efisiensinya 100% dan 50%. ini asumsi, bukan perhitungan. saya gak kompeten di bidang ini. yang saya tahu persis adalah: efisiensi tidak akan pernah melebihi 100%, apapun teknologi yang digunakan (hukum kekekalan energi)
pada pasar yang efisien, maka harga komoditas tidak akan jauh berbeda. jika listrik di sini harganya Rp 460/kWh, maka itulah harga pasarnya. kita gak perlu mempermasalahkan komponen harga di balik Rp 460/kWh tersebut. kita hanya perlu tahu kalau itu adalah harga yang harus kita bayar untuk mendapatkan resource energi sebesar 1 kWh.
satu2nya solusi politis saat ini yang bisa membuat harga bensin menjadi Rp 3000 hanyalah subsidi energi, tidak ada cara lain.
kenapa? bisa anda perbaiki hitung2an saya?
kesimpulan perhitungan saya sebenarnya cuma ini: dengan asumsi efisiensi 100% dan harga listrik sesuai harga pasaran saat ini, maka saya bisa mensintesis BBM dengan harga Rp 4448/liter. harga ini hanyalah harga produksi dengan kondisi ideal. realisasinya PASTI akan lebih tinggi daripada itu karena faktor2 yang anda sebutkan sebelumnya: perhitungan investasi, mass production, etc etc.
di sini saya tidak bermaksud untuk menghitung realisasi harga akhir produk dengan sedetil2nya, karena sebenarnya prosesnya masih blackbox, saya sama sekali gak tahu dan gak peduli teknologi apa yang dipakai
. saya cuma ingin menghitung apakah klaim BBM sintetis dari energi listrik seharga Rp 3000/liter adalah klaim yang plausible sesuai dengan hukum kekekalan energi. kesimpulan saya adalah tidak.
harga semurah2nya yang bisa saya dapatkan adalah Rp 4448, dan ini pun sama sekali tidak realistis, karena mengasumsikan efisiensi 100% dan belum memperhitungkan overhead dan faktor sosioekonomi. kalau memperhitungkan semua faktor, PASTI harganya akan di atas Rp 4448, kecuali kalau ada faktor tertentu lainnya yang saya sebutkan di atas.
ini kan sebenarnya yang ditunggu2?
kalau pak joko bersedia mengeluarkan hasil penelitiannya untuk kita bahas bersama sebenarnya gak perlu ada kontroversi. kita tunggu saja kelanjutannya.
selain yugi dan priyadi dilarang comment!! qt tunggu diskusi yang menarik ini setelah comment ga’ jelas dr gw, ayo diterusken lagi…
wah menarik sekali neh topiknya, tapi masih memplelajari itung-itungannya neh
pak yugi, mungkin kita kesampingkan dulu deh “pricing policy”, karena yagn menjadi tujuan dari pencarian energi alternatif adalah sumber energi yang :
- lebih efisien dan efektif jika digunakan
artinya dengan jumlah yang sama dan penggunaan, didapatkan energi yang lebih besar, misal 1 liter bahan bakar “X” menghasilkan lebih besar energi dibanding 1 liter bensin misalnya
- ramah lingkungan
artinya hasil dari pembakaran dan proses pembuatan bahan tersebut mempunyai emisi lebih rendah dari yang ada saat ini
- murah harga jualnya
artinya dengan besaran energy yang setara, bahan bakar tersebut lebih murah harganya tanpa subsidi!, jadi kalo murah hanya karena subsidi ya…. 11 - 12.
terus terang saya penasaran dengan apa yang dibikin pak joko…. cuman saya sendiri belum yakin dengan klaim “blue energinya”.
hmmm
blue energy?maksudnya energi alternatif yang ramah lingkungan ya?mencari energi alternatif kok baru saat ini?
setuju banget ama mb.herlina klo energi alternatif itu harus efektif,ramah lingkungan dan harga jualnya murah.Ya walau sekarang uda ada yang namanya sumber energi terbaharukan(sebenernya sih uda lama banget/uda dari jaman bahelak tapi baru ngetop lagi dengan nama baru or kemasan baru) yang bisa dibangun secara swadaya masyarakat(katanya!
).Tapi kenyataan nya apakah semua daerah tepatnya desa diindonesia mampu mengadakan swadaya pembangunan pembangkit energi?dan seberapa besar energi potensial yang ada serta berapa lama bisa diharapkan?karena untuk contoh aja nih…Pembangunan Pembangkit listrik Tenaga Mikrohidro(itu loh PLTA tp yang keci,Katanya) di beberapa desa(yang saya tau disumatera selatan di beberapa desa,seperti kabupaten OKU selatan dan LAHAT lagi dibangun,dijawa juga uda ada)masih ada aja rumah yang ga ada colokan listriknya coz ga ada duit untuk bayar iuran bulannan pengganti biaya investasi awal,n ditakutkan PLTMH tersebut ga bisa beroperasi lg dalam beberapa tahun kedepan(maaf data kurang akurat,lo cari aja lg)karena debit air yang ga mencukupi,hutan tempat resapan airnya di tebangi mulu’seeh.mo ganti pake’ tenaga matahari?emang pemerintah mo bayarin panel*suryanya?klo ga’salah harganya seharga 1jt per unit ya?masih ke hitung murah ga?
Blue energy yang dimaksud benar2 bahan bakarnya air? kalau tidak salah, tetap menggunakan karbon. air (H2O, yang nantinya dipecah menjadi H+ dan O2-) hanya digunakan sebagai “penambah” pada ikatan karbon itu (saya tidak tahu ikatannya apa, mungkin bukan oktana? *kira2 saja*).. Jadi sumber energinya ya tetap dari pembakaran karbon. Energi yang dikeluarkan oleh listrik untuk pemisahan H2O sama sekali tidak masuk ke dalam energi pembakaran. Saya juga lagi mencari2 informasi ini, tapi penemunya bungkam. belum dipatenkan sepertinya, jadi ditutup dulu *mungkin*. saya hanya kira2 saja. Soalnya tidak mungkin hidrogen dapat digunakan begitu saja di mesin bakar biasa, apalagi tanpa modifikasi pada pistonnya. sampai ke timing pengapiannya pun tidak diubah..
demikian pendapat saya. blue energy yang satu ini memang misterius
Kesimpulan, pricing dari harga listrik terhadap energi yang dikeluarkan tidak ada korelasi langsung.
Prosesnya :
listrik digunakan untuk memproduksi air. katakanlah sebagai X.
X + ikatan karbon –> pembakaran karbon –> energi output.
atau bisa juga :
listrik + X + ikatan karbon –> pembakaran karbon
–> energi output..
Jadi sumber energi adalah hanya dari entalpi si karbon.
Karena jika dari energi listrik langsung, ya ngapain diubah ke air dulu. sayang efisiensinya. mending langsung dari listrik ke motor penggerak. dan mesin yang ada sekarang tidak mendukung air menjadi bahan yang terbakar.. eantah jika someday ada yang menemukan dapat membakar air secara langsung. Dunia pun pasti gembira, karena bumi kita 2/3nya adalah air
hidup blue energy
#24
Kalo yang macam-macam itu dihitung, apa gak malah lebih mahal lagi jatuhnya?
Tapi bisa lebih murah ding kalo faktor yang diperhitungkan bernama “subsidi”
Lha padahal yang ingin dicapai di sini khan penghapusan subsidi?
Salut buat pak prie, semoga saja perhitungannya bisa lebih detail lagi. Terkait dengan subsidi yang mungkin belum sempat dimasukkan. Semoga saja utang negara benar2 dapat segera dilunasi, sehingga kita dapat menikmati kembali sumber energi lebih mudah dan murah.
wah, ngga masuk akal nih,… 3000/Liter
ngga lulus SMP nih…
seperti yang kita ketahui bahwa didalam blue energi ini molekul air akan dipecah menjadi ion H(hidrogen) dan ion O2 (oksigen)dengan menggunakan listrik. kita semua tidak tahu penggunaan listrik secara pastinya berapa. saya masih meraba-raba dengan statement “penambahan katalis”. mungkin saja panambahan katalis ini bisa mengurangi konsumsi listrik dalam pemisahan molekul air dan pengikatan karbon.
menurut saya sumber energi dari reaksi endoterm yang terjadi disini adalah energi listrik dan katalis itu sendiri. Jadi tetep hukum kekekalan energi berlaku.
Tetapi harus dibuktikan dulu dengan hitungan yang pasti berapa energi lisrik dan energi katalis nya.
saya hanya berasumsi dan tidak membela mas joko maupun mas pri. yang jadi permasalahan disini adalah kita tidak tahu rekasi kimiawi yang terjadi pada pemecahan molekul air tersebut dan katalis yang digunakan. Kalo mas joko bisa menjelaskan reaksi kimiawi dari blue energinya mungkin saya bisa menghitung energinya
#43:
katalis tidak akan mempengaruhi net energy. katalis hanya akan mengurangi energi aktivasi. net energy-nya akan sama persis. selisih antara energi input dan output akan tetap sama, baik pakai katalis atau tidak.
Let’s see. Moga2 kita ngga jadi bahan tertawaan negeri jiran
Anda mengamsusikan bahwa sumber blue energy ini adalah konversi dari energi listrik (hukum kekekalan energi).
Anda lupa menghitung sumber dari energi lain, seperti dari energi potensial, energi kimia.
http://en.wikipedia.org/wiki/Energy#Forms_of_energy
#46:
ini sudah saya ulas di atas: “Jika ada yang mengklaim memiliki kemampuan untuk mensintesis bahan bakar kendaraan dari listrik PLN dengan harga produk akhir hanya Rp 3000/liter saja, maka ada beberapa kemungkinan: 1. Ada sumber energi lain di luar listrik PLN.”
sumber energi yang di luar listrik PLN ini belum jelas keberadaannya dan wujudnya. yang sudah pasti baru listrik PLN. tapi apapun sumber energinya, rasanya sangat susah untuk mencapai Rp 3000/liter.
solusinya ya kita memang harus berhemat, jangan sampai anak cucu kita kelak kehabisan sumber energi
#32
Yang selama ini dipergunakan sebagai ukuran di PLN, tempat saya bekerja, adalah berapa liter bahan bakar untuk mendapatkan 1 kWH. Atau berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk memproduksi 1 kWH. Saya pikir demikian juga untuk kasus yang dibahas ini, untuk menghasilkan 1 liter hasil elektrolisis membutuhkan berapa kWh. Karena ada banyak faktor yang berpengaruh dalam proses produksinya.
Harga yang harus dibayarkan konsumen Rp 460/kWH memang benar adanya, meskipun sebenarnya harga produksi listriknya hampir 2xlipat lebih dari itu (jika dengan bbm).
Namun dari semuanya, saya sangat sependapat dengan mas priyadi, saya pikir blue energi yang sedang dibahas ini sulit masuk di akal. Kalo dibilang murah, bagaimana bisa? wong biaya produksi listrik masih mahal (padahal katanya untuk proses elektrolisisnya perlu banyak energi listrik). Kalau PLTAir, sekarang ini kenyataannya debit air semakin kecil saja. Untuk PLTMikroHidro, jelas butuh banyak PLTM, dan ini juga malah tidak efisien (kalau untuk melistriki desa2 terpencil saja sih tidak masalah, dan malah itu perlu didukung)
sama saja kalau pemerintah atau instansi yang terkait gak beri penyuluhan hasilnya noway..!!!
Priyadi berani mempertaruhkan kredibilitasnya tuh dengan tulisan “PASTI”, kalau saja Joko bisa membuktikan klaim/teorinya….
saya mah orang sales ga ngarti fisik(a)…ntar klo BE-nya jadi (murah) baru saya bergerak masarin hehehe
Analisis yang bagus sekali Pak Priyadi. Tapi hitungannya jangan pakai harga listrik PLN rumahan. Itu kan harga rugi karena ongkos produksi listrik lebih tinggi dari harga jual. Belum lagi rugi2 transmisi. Kalau proyek 10.000 MW PLN sudah selesai dan mayoritas pakai batubara, polusi dan inefisiensi energi akan lebih parah lagi. Jadi kalau penemunya masih ngaku “blue” energy, ya benar2 ngawur.
#52: itu bukan harga listrik rumahan, tapi industri.
@Priyadi
Aduh, Pak. perhitungan Rp3000 per liter anda salah..
kenapa? karena anda melupakan energi dari reaksi kimia (ledakan bahan bakar).. energi listrik itu hanya untuk memisahkan ion-nya saja. energi dari pembakaran blue energy itu berasal dari pembakaran karbon. jadi tidak ada hubungan kekekalan energi antara listrik dan energi pembakaran..
hukum kekekalan energi yang berlaku
energi listrik (input)-> pemisahan ion (output)
energi pembakaran karbon (input) -> ekspansi piston (output)
dan energi listrik yang dikonsumsi per liter produksi blue energy sangat kecil jika dibandingkan dengan energi pembakaran per liter blue energy..
mohon maaf,kalo saya menyanggah. tapi hal seperti ini harus diluruskan. saya pikir semua engineer atau mahasiswa teknik tahu hal ini..jadi, ada kemungkinan harga Rp3000/liter itu benar (belum tentu salah, belum tentu benar). karena pengurangan jumlah penggunaan karbon dapat dikurangi dibandingkan bensin biasa. harga yang termahalnya itu dari bahan karbon, bukan listrik.
semoga ada pencerahan
@sadikin
memang ini bukan benar2 blue energy. bukan karena penggunaan listrik dari batubara, tetapi karena bahan bakar ini tetap menggunakan bahan bakar fosil. hanya saja, ikatan karbonnya tidak sebanyak pada bensin biasa. sehingga emisi gas buangnya lebih ramah lingkungan. karena itu dinamakan “blue energy” …
blue energy yang asli, sebenarnya adalah energi yang dihasilkan oleh gelombang air laut. Prosesnya bukan dari pembakaran, tetapi dari pemutaran turbin oleh gelombang air laut. sama seperti pembangkit listrik di air terjun. hanya saja ini di laut, yang membutuhkan investasi yang lebih besar. sayangnya di Indonesia yang mayoritas wilayahnya adalah laut, belum bisa membangunnya karena ROI-nya lebih kecil dibandingkan dengan pembangkit listrik dari bendungan..
anyways, saya tetap bersyukur atas prestasi sang warga Nganjuk dalam usahanya mengurangi emisi karbon..
/
@Irawan
saya ngerti fisika (dan kimia dikit) ..
Sepertinya yang komen kebanyakan dari orang ekonomi atau sosial ya, atau IT.. jadi tidak menyadari adanya kesalahan yang mendasar pada konsep energi ini…
Maksud saya adalah, jangan skeptis dahulu dengan proyek ini jika kita belum paham…
#54:
jelas, kalau begitu ada sumber energi lain di luar listrik. pertanyaan selanjutnya:
1. dari mana sumber energi ini?
2. berapa harga energi ini?
anda tahu?
ini harus dijelaskan dulu mengapa bisa begitu. teknologinya seperti apa? kalau hanya dengan mengganti bahan bakar bisa mengurangi emisi karbon, yang realistis hanya jika kerapatan energi ‘blue energy’ lebih tinggi. tapi kalau kerapatan lebih tinggi, maka produksinya akan membutuhkan energi yang lebih banyak lagi. kembali lagi ke masalah semula.
#55:
kalau ikatan karbonnya tidak sebanyak bensin biasa, mesinnya bisa rusak
. perbedaan panjang rantai C bisa mempengaruhi nilai oktan.
#56:
kalau belum paham bukannya harus skeptis? anda mungkin bisa menjelaskan teknologi di balik ‘blue energy’? kelihatannya anda punya informasi lebih banyak daripada yang ditulis di koran2 selama ini.
“jelas, kalau begitu ada sumber energi lain di luar listrik. pertanyaan selanjutnya:
1. dari mana sumber energi ini?
2. berapa harga energi ini? ”
Ya jelas ini bukan energi listrik yang dikonversikan ke energi gerak piston >_
waduh. comment saya di atas terpotong, Pak…
saya ulangi lagi yah..
Blue energy ini bukan energi listrik yang dikonversikan secara langsung ke gerak piston mobil.
Mungkin ini versi Pak Priyadi:
Energi listrik -> proses pembuatan bahan bakar blue energy -> bahan bakar jadi -> tuang di mesin mobil -> Energi pembakaran
Saya belum pernah tahu ada reaksi pembakaran hanya dari senyawa hidrogen dan oksigen. kalau benar sudah ditemukan, ini adalah penemuan paling bersejarah, dan industri minyak pun akan runtuh. reaksi pembakaran tetap menggunakan rangkaian karbon. Inilah sumber energinya, dari REAKSI PEMBAKARAN KARBON. H2O hanyalah pendukung pembuatan bahan bakar blue energy ini. banyak yang salah kaprah “blue” itu refer ke “air”. blue yang dimaksud itu adalah ramah lingkungan (kata Pak SBY). karena salah kaprah ini, orang mengira bahan bakar air, tanpa unsur lain.
Jika memang berbahan bakar air, tidak mungkin dapat diaplikasikan di mesin biasa. wong mesin bensin dan mesin diesel saja prinsip kerjanya beda jauh. apalagi mesin berbahan bakar air tok tanpa ikatan karbon (yang belum ditemukan)
harganya berapa dan teknologinya gimana, saya juga belum tahu. Hanya warga nganjuk itu dan Tuhan yang tahu. Kalau saya sudah tau, saya yang diajak SBY ke Bali ^^.. Saya hanya meluruskan konsep dasar konversi energi yang tertulis di postingan ini saja
mengenai ikatan karbonnya apa, saya juga belum tahu, baru nebak2. betul juga jika penggunaan oktan numbernya lebih rendah, akan merusak mesin. ini juga yang masih jadi rahasia si warga Nganjuk itu. apakah tetap menggunakan oktana dan heptana dengan perbandingan yang sama dengan bensin biasa atau tidak. atau ada ikatan karbon yang beda.masih misteri.
mengenai kerapatan energi yang Pak Priyadi maksud, saya tidak nangkap. mungkin maksudnya densitas bahan? densitas tidak ada korelasi dengan besarnya energi pembakaran. densitas lebih besar bukan berarti energi bakar menjadi lebih besar, malah justru bisa2 tidak terjadi pembakaran. tergantung dari kadar ikatan karbonnya (maksud saya bukan panjang C-nya, tetapi kadar)..penggunaan blue energy ini masih diaplikasikan di mesin bakar, kan..
kalau saya sih bukan skeptis, tapi curious dengan teknologi yang dipakai. memang benar banyak yang ragu dengan produksi bahan bakar ini, karena produksinya membutuhkan listrik yang besar (tapi bukan berarti semua energi listrik itu yang dikonversikan ke bahan bakar)… saya dukung pemerintah untuk mengembangkan bahan bakar blue engergi ini. Bukan masalah harga, tapi masalah lingkungan..
ayoo pak dimasu lanjut jawabannya …
weleh. saya hanya amatiran -_-
ada yang jauh lebih paham. bung rovicky.. mungkin ada yang kenal dengan beliau? beliau lah pakarnya.. ^^
#58:
jelas, memang bukan itu maksud saya, saya gak sedang membahas mobil listrik. saya bilang: tidak mungkin mencapai harga Rp 3000/liter kalau sumber energinya hanya listrik. secara ekonomi harganya gak masuk. nah anda sepertinya yakin sekali, saya pikir anda harusnya tahu apa yang saya gak tahu. sekarang saya tanya: energi di luar energi listrik itu dalam bentuk apa?
dan kalau anda sendiri gak tahu kenapa anda yakin sekali dengan teknologi ini?
#59:
oh ada. ini bahan praktikum anak SMP
. waktu praktikum elektrolisis dulu untuk membuktikan gas yang ada di katoda adalah gas hidrogen, kita coba bakar pakai korek api. tapi sampai sekarang industri minyak belum runtuh 
#60:
kalau anda sendiri gak tahu, kenapa yakin amat dengan teknologi ini? apa yang membuat anda yakin?
densitas energi
#63:
entah kenapa banyak sekali yang menggunakan artikel mas rovicky untuk menyanggah pendapat saya. padahal saya rasa tulisan saya dan mas rovicky sama sekali tidak bertentangan. kuncinya silakan baca paragraf ini: “Tapi sekali lagi, proses inipun masih menyisakan pertanyaan. Proses ini adalah proses endoterm, yaitu proses (reaksi kimia) yang membutuhkan energi. Nah dari mana energi ini ? Kan ini reaksi kimia biasa, masih tidak mungkin menyalahi hukum fisika. Ini dongengan selanjutnya saja ya”
jadi balik lagi ke pertanyaan semula. dari mana energi ini?
walah.. walah…
…
kok saya sulit menjelaskannya ya..
Energinya dari mana? ya dari reaksi pembakaran karbon itu
Sedikit pencerahan: minyak mentah yang belum diolah apa2, diberi api sedikit, bisa menimbulkan ledakan dengan energi besar. menurut anda, darimana energi ledakan tersebut? apakah dari listrik? tidak ada listrik. energinya berasal dari reaksi pembakaran karbon pada minyak. begitu juga halnya dengan blue energy versi Nganjuk. bahan bakar ini tetap menggunakan ikatan karbon. ikatan karbon ini bereaksi dan menimbulkan energi. energi kimia diubah jadi energi gerak, panas, dll..
ah iya, ada gas yang mudah terbakar.ralat sedikit tulisan saya,
“Saya belum pernah tahu ada reaksi pembakaran di motor bakar hanya dari senyawa hidrogen dan oksigen..”
apakah anda mengerti prinsip motor bakar? menurut anda, apakah bensin pertamax dapat bekerja di mesin diesel? tidak.
Ini lah yang membuat saya yakin adanya ikatan karbon. tidak mungkin hanya air tok yang dielektolisis dapat menjadi bahan bakar di motor bakar yang konvensional. pasti tetap pakai ikatan karbon.
lalu, air itu buat apa? air digunakan untuk diambil Hidrogennya. pemisahan ini yang memerlukan energi listrik. reaksi pembakaran karbon membutuhkan unsur hidrogen. mungkin inovasi yang dilakukan oleh warga Nganjuk itu adalah membuat komposisi ikatan karbon dan Hidrogen yang tepat yang dapat membuat reaksi pembakaran lebih efektif, emisi karbon berkurang, efisiensi ledakan meningkat dibanding pada bensin biasa.
Oh iya. kenapa gas hidrogen bisa terbakar tetapi minyak tidak mati. Karena energi ledakan dari hidrogen saja tidak dapat menggerakkan piston mobil dengan baik. lagipula pembakaran dengan gas sulit untuk dibuat siklusnya pada motor bakar. gas adalah fluida termampatkan, sehingga tekanan berubah terus, sangat tidak stabil, dan sangat sulit jika digunakan dalam siklus motor bakar.. yang ada adalah, gas digunakan dalam pemutaran turbin. biasa dinamakan siklus gas.bergerak dalam pipa. elemen yang digunakan kompresor, valve, vessel. tidak sama dengan siklus motor bakar yang menggunakan piston (wah. jadi topik baru nih. siklus gas)
*Peace*
“Tapi sekali lagi, proses inipun masih menyisakan pertanyaan. Proses ini adalah proses endoterm, yaitu proses (reaksi kimia) yang membutuhkan energi. Nah dari mana energi ini ? Kan ini reaksi kimia biasa, masih tidak mungkin menyalahi hukum fisika. Ini dongengan selanjutnya saja ya”
walah… Pak Priyadi juga salah dalam mentafsirkan tulisan tersebut.. betul sekali membutuhkan energi untuk mengolah blue energy. tapi bukan berarti energi yang dikeluarkan itu disimpan dalam blue energi..tidak ada pengkonversian dari energi listrik ke dalam suatu bahan bakar seperti halnya konversi listrik ke batere. gimana juga caranya mengkonversikan energi listrik masuk bahan bakar cairan… capek deh..
proses elektrolisis pada kasus percobaan fisika ketika SMP dulu juga energi pembakarannya bukan berasal dari energi listriknya.. tadpi dari reaksi kimia..
*peace lagi*
#65:
ok, kalau begitu karbonnya berasal dari mana? dari bensin biasa?
kalau mesinnya sama, emisi karbonnya kurang lebih akan sama saja. yang bisa diperbaiki di sini cuma dalam bentuk apa emisi tersebut. biasanya tujuannya sedapat mungkin emisi dalam bentuk CO2, dan memiminalkan emisi CO atau bahkan C. kalau cuma ini yang dimaksud, sepertinya tidak mungkin penghematan bisa mencapai 1% karena pada mesin2 mobil jaman sekarang, emisi CO dan C-nya sudah sangat kecil.
kapan saya bilang begitu?
yang mengimplikasikan seperti ini ya artikel2 jawapos itu. bukan saya. pikiran saya bukan cuma sintesa bahan bakar hidrogen melalui elektrolisis, tapi sintesis bahan bakar hidrokarbon dari air dan udara. H berasal dari air, C berasal dari CO2 di udara. silakan baca2 artikel om rovicky kalau mau tahu lebih lanjut soal proses sintesis ini. kemudian, di antara semua teknologi yang dibahas om rovicky, yang ramah lingkungan hanya yang ini.
di sini saya gak mempermasalahkan teknologinya. apapun teknologi yang digunakan, energi input tidak mungkin lebih rendah daripada energi output, karena itu akan menyalahi hukum kekekalan energi.
#66:
ok. artinya menurut anda klaim kalau blue energy sebagai sumber energi adalah sama sekali tidak benar. pendapat saya kurang lebih sama
.
waduh. bukannya itu inti dari tulisan om rovicky? coba baca lagi baik2
om rovicky memberikan 3 contoh proses sintesis bahan bakar hidrokarbon tapi yang ramah lingkungan hanya satu: ‘Synfuel dari penangkapan CO2 (CO2 Capture) + H2 dari pemisahan air’.
walah, maaf, tapi kelihatannya anda gak ngerti apa yang anda katakan
#54
Wah, wah, wah… Ini dia nih. Menurut saya tidak ada sama sekali rumusan absolut bahwa orang mechanical atau fisika atau kimia lebih paham tentang energi dibanding orang sosial, ekonomi atau IT. Bukan tidak mungkin orang-orang itu lebih paham daripada Anda. Jangan berkonklusi seperti itu. Saya sendiri adalah orang “mechanical. Tapi bila berbicara dan mengerjakan pekerjaan design sampai conctruction masalah civil engineering tidak sedikit orang-orang civil yang sudah berpengalaman bertahun-tahun malah bertanya ke saya.
Saya tertarik dengan istilah konversi energi. Sepertinya Mas Dimasu ini salah kaprah dalam memahami istilah konversi energi.
#65
“minyak mentah yang belum diolah apa2, diberi api sedikit, bisa menimbulkan ledakan dengan energi besar. menurut anda, darimana energi ledakan tersebut? apakah dari listrik? tidak ada listrik. energinya berasal dari reaksi pembakaran karbon pada minyak.”
—> saya pikir tidak usah dijelaskan juga, hampir semua orang tahu itu.
#66
“tapi bukan berarti energi yang dikeluarkan itu disimpan dalam blue energi..tidak ada pengkonversian dari energi listrik ke dalam suatu bahan bakar seperti halnya konversi listrik ke batere. gimana juga caranya mengkonversikan energi listrik masuk bahan bakar cairan… capek deh..”
–> Yang namanya konversi energi bukan berarti harus menyimpan jenis energi yang sama dari wadah satu ke wadah yang lain. Konversi energi adalah semua usaha yang menggunakan energi sedemikian sehingga menjadikan sesuatu berenergi dan ini tidak selalu dalam wadah atau bentuk yang sama.
Dalam menghasilkan blue energy-nya pak joko (dari yang saya baca di media), ada pemisahan ion, dimana ion-ion ini nanti (yang kemudian, saya yakin dipadukan dengan carbon, entah itu prosesnya satu paket setelah elektrolisis atau bagaimana - pak joko yang tahu)menjadi penyusun bahan bakar blue energi. Dan untuk proses pemisahannya dibutuhkan litsrik. Lah, ini sebenarnya sudah disebut konversi energi. Jadi tidak langsung dari listrik menjadi ion-ion to???
Ini sama halnya konversi energi dari bbm/batu bara menjadi listrik. Gak langsung dari bbm/batu bara berubah bentuk jadi listrik to??? Tapi masih perlu dibakar, untuk pemanasan dalam boiler (economizer, heater bertingkat, dll), sehingga water demin terpanaskan jadi uap dan seterusnya hingga memutar turbin-generator. Sampai jadi listrik.
Saat ini para lulusan-lulusan perguruan tinggi teknik di negeri ini sangat kurang dalam hal engineering intuition, terlalu banyak berkutat dengan rumus-rumus dan itung-itungan. Sehingga sense dan pemahaman e