Ilusi Finansial
Alkisah pada suatu hari ada dua orang penerbit koran yang saling berkompetisi, sebutlah namanya A dan B. Kedua koran ini memiliki kualitas yang sama persis. Penerbit A menjual langganan korannya seharga Rp 50 ribu per bulan. Sedangkan penerbit B tidak puas dengan harga Rp 50 ribu per bulan karena merasa keuntungannya tidak cukup banyak, dia menjual korannya dengan biaya Rp 100 ribu/bulan.
Walaupun demikian, jika B menjual korannya dengan harga tersebut, maka korannya tidak akan laku. Dengan kualitas yang sama, bisa dibilang hampir semua konsumen akan memilih koran A yang harganya cuma setengah koran B. Dalam pasar bebas, B dihadapkan pada dua pilihan: tetap menjual dengan harga mahal tetapi mendapatkan pangsa pasar yang sedikit; atau menjual dengan harga lebih murah dan mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. B tidak menginginkan kedua pilihan tersebut, yang diinginkan B adalah menjual dengan harga mahal dan mendapatkan pangsa pasar yang besar pula. Mungkinkah B melakukan hal tersebut tanpa misalnya meningkatkan kualitas korannya?
Selain pengusaha koran, B juga seorang ahli finansial yang licik sekaligus jeli dalam melihat kesempatan. Dia bukannya menjual korannya lebih murah untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar, dia justru meningkatkan harga berlangganan koran B dua kali lipat. Koran B yang tadinya dijual seharga Rp 100 ribu, kini dia jual seharga Rp 200 ribu.
Logika mengatakan bahwa posisi B di pasar koran seharusnya akan semakin terjepit. Tapi tunggu dulu. B tidak begitu saja menaikkan harga korannya. Harga berlangganan koran B yang Rp 200 ribu/bulan ini dia bagi menjadi dua porsi: porsi pertama sebesar Rp 100 ribu dialokasikan untuk biaya berlangganan korannya itu sendiri, dan sisanya sebesar Rp 100 ribu adalah porsi investasi. Dengan kata lain, B tetap menikmati harga berlangganan korannya seperti sebelumnya yaitu sebesar Rp 100 ribu/bulan. Sedangkan tambahan Rp 100 ribu yang dia pungut dari pelanggan akan disetorkannya ke sebuah instrumen investasi yang hasilnya nanti akan dikembalikan kepada pelanggan.
Jika seorang konsumen berlangganan koran B selama 10 tahun, dengan asumsi perkembangan investasi 13%, maka nilai tunai hasil investasinya akan berjumlah lebih dari Rp 24 juta. Atau dengan kata lain sudah ‘balik modal’. Selama 10 tahun, pelanggan B telah menyetorkan biaya berlangganan sebesar Rp 24 juta, dan pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang dia dapatkan sudah melebihi Rp 24 juta. Secara nominal, pelanggan mengeluarkan Rp 24 juta untuk berlangganan selama 10 tahun dan pada akhir tahun ke-10 uang tersebut akan dikembalikan seluruhnya. Sebagian pelanggan akan merasa telah menikmati koran B dengan gratis!
Lebih daripada itu, pelanggan dapat pula meneruskan berlangganan setelah tahun ke-10 dengan sebuah catatan: konsumen dibebaskan atas biaya berlangganan sama sekali! Pelanggan bisa terus berlangganan koran B seumur hidupnya hanya dengan membayar biaya berlangganan selama 10 tahun! Bukan hanya itu, pada akhir tahun ke-20, selain bisa menikmati koran B dengan gratis, pelanggan juga dapat menikmati hasil investasi sebesar hampir Rp 60 juta.
Jika ada yang menanyakan kepada seorang konsumen mana yang lebih dia sukai:
- Membayar Rp 50 ribu seumur hidup untuk berlangganan koran A; atau
- Membayar Rp 200 ribu selama 10 tahun untuk berlangganan koran B, lalu seluruh uang tersebut akan dikembalikan di akhir tahun ke-10, atau pelanggan bisa meneruskan untuk berlangganan seumur hidup dengan gratis ditambah dengan menikmati hasil investasi yang berlipat-lipat jumlah yang telah disetorkan sebelumnya.
Secara intuitif, konsumen yang awam urusan finansial akan memilih koran B. Konsumen akan merasa koran B lebih menguntungkan karena jumlah yang dia dapatkan secara nominal jauh lebih banyak daripada jumlah yang dia setorkan. Tetapi tentunya ini salah kaprah, di balik itu semua, biaya berlangganan koran B tetap saja dua kali lipat lebih mahal daripada koran A. Pelanggan tetap membayar biaya berlangganan dua kali lipat lebih mahal daripada koran A, tetapi mereka tidak menyadari telah melakukannya. Teknik berjualan seperti ini saya sebut sebagai ‘ilusi finansial’. Hanya dengan ilusi finansial, seseorang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah besar tetapi tidak merasa mengeluarkan uang sama sekali.
Dengan memasarkan koran B dengan menggunakan ilusi finansial, B bisa menjual korannya dengan harga dua kali lipat koran A, sekaligus mendapatkan pangsa pasar yang lebih banyak dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Selain itu, B juga dalam posisi yang lebih bagus karena memiliki margin keuntungan yang jauh lebih besar. Posisi ini bisa dimanfaatkan misalnya dengan melakukan pemasaran yang jauh lebih agresif untuk meraup pangsa pasar lebih banyak lagi.
***
Orang yang mengerti urusan finansial dan jeli melihat situasi tersebut di atas akan berpikir lain lagi: “Bagaimana jika saya tetap berlangganan koran A, dan selisih harga berlangganan koran A dan B saya investasikan sendiri secara terpisah?” Hasilnya sebagai berikut:
- Pada akhir tahun ke-10, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 37 juta, dan bukan hanya Rp 24 juta seperti di koran B.
- Pada akhir tahun ke-20, nilai tunai yang didapatkan adalah lebih dari Rp 114 juta, dan bukan hanya Rp 60 juta seperti di koran B.
Kesimpulannya, dengan biaya yang dikeluarkan sama persis (Rp 200 ribu/bulan), berlangganan koran A tentunya jauh lebih menguntungkan daripada koran B. Sayangnya, tidak banyak konsumen yang mengerti masalah finansial sehingga bisa dipastikan mayoritas akan terjebak pada ilusi finansial dan berlangganan koran B.
Tulisan saya di atas memang cuma wacana. Saat ini tidak ada koran yang dijual seperti koran B (dan mudah-mudahan tidak akan pernah ada). Tetapi apakah anda tahu produk lain yang saat ini kebanyakan dijual seperti B menjual korannya? Dan apakah anda cukup waspada dalam menyikapi produk-produk tersebut?
Wah Mas Pri saya belum tahu tuh kalo ada perusahaan koran yang sampe begitu….
apalagi mengingat sebenarnya 50% biaya produksi koran besar sudah ditutup oleh pemasang iklan dan mungkin 40-50% berita yang ada di koran sekarang sudah bisa di dapat gratis oleh pembacanya lewat TV dan Internet…jadi bayangkan kerugian sebenarnya pelanggan koran….cuma kalo taktik penjualan produk seperti itu biasanya sih yang pake produk MLM….
Mantabs.. bisa dijadikan inspirasi di bagian finansial nie..
Thanks..
Bukan lagi nggak waspada

malah nggak mikir sejauh itu
mungkinkah?
btw, ini menyinggung hal apaan sih? apaan yang mau di-debunk?
Lam kenal mas pri,
Kalau tebakan saya, mas pri lagi ngomongin asuransi ya?
Koran B= Unit link, koran A = asuransi murni+reksadana.
betul kah?
emang produk lainnya apa ? pasti yang paket 2 in 1 itu
priyadi mau nyindir masalah asuransi unitlink lagi tuh..
Nah, sekarang mau kasih komen benarannya nih
“.
Saya belum pernah tahu barang yang dijual seperti itu. Tapi si penjual koran B sepertinya menggunakan teknik marketing yang bagus (plus kelicikan), soalnya sampai bisa bikin
pembodohanilusi seperti itu. Mirip MLM.Btw, (becanda serius nih)Gimana kalo konsumen keduanya pindah menjadi pelanggan koran di Internet alias ekoran
. Intinya gimana analisisnya kalao ada barang subsitusi? Belum ada asumsi tentang ini di atas.
Ada contoh ilusi lagi?
produk asuransi kali yah yg banyak dijual seperti B menjual korannya.
#2
ya unit link lah, apa lagi
klo begitu ‘ilusi finansial’ sama dengan penipuan gaya baru?
ilustrasi yg baik tapi knp ga langsung bilang ini masalah asuransi? hehehehe
Ilusi apa halusinasi?
Besok pasti jadi ganti judul “Ilusi Asuransi”
sulit jg nih mesti nebak2 apa yg disindir
Udah jelas sih mas Pri nyindir siapa. Kalo saya maunya tebak-2an dalam sebulan berapa comment yang masuk. Saya pasang angka 80 aja deh.
frans
Mungkin sebulan kelamaan, seminggu aja deh. 60 comment.
seandainya mas pri posting beginian dari dulu

Jadi ingat Time Magazine lifetime subscribers.
wah… Om pri ngekritik program asuransi investasi nih…
tapi ga papa sih… mata saya jadi terbuka. thanks.
wadoh aku ndak ngerti mpri
Jelas sekali siapa yang disindir

Masalahnya, jika ada orang yang pilih langganan koran A lalu sisanya berinvestasi, tapi juga ingin berlangganan koran B untuk kepraktisan selain juga untuk diversifikasi investasi
Menyindir Asuransi Unitlink nih ye.. btw kok gak ada yang ngomong secara gamblang yah?
jadi bingung
benernya nyindir siapa sih?
selama pelanggan tersebut merasa untung, saya pikir tdk jd masalah..
simbiosis mutualisme berlaku di sini..
wah, ulasan yang sangat menarik. nggak terlintas oleh awam seperti saya
Ilusi finansial? Ah ya, pas sekali untuk diterapkan di negeri kita yang banyak yang ndak pinter itung-itungan ini
PAS jika diterapkan di negeri ini,
because banyak pemimpi di negeri ini,
mimpi keadilan terwujud,
mimpi kesejahteraan terwujud,
mimpi kemakmuran terwujud.
Jadi Sebaiknya Jangan gunakan ASURANSI gitu?
*ndak mudeng*
ntah kenapa saya kok tidak pernah tertarik dengan yg namanya produk asuransi
lirik koran sebelah, mereka mempraktekkan A atau B?
“
saya pikir saya paham, saya sependapat dengan mas pri .. saya juga coba bikin tulisan soal ini (pemula sih) … mohon petunjuk
hmmm, menarik juga. Yang jelas koran yang itu (hihihi) tidak melakukan seperti A atau B.
apa nggak mungkin ada perubahan harga selama 10 tahun, tuh? Inflasi gimana?
*maaf, saya buta urusan finansial*
produk apa yah ..??
asuransi ..??
kredit ..??
atau ..??
emuh lah .. aku binun juga masalah finansial ..
senengnya yang jelas2x aja nggak syubhat ..
Salam kenal mas pri
Sedikit paham membaca tulisan diatas…
Tapi permisalan mendapat 37 juta dalam 10 tahun itu gimana ya prosesnya (maklum orang sangat awam)
wah..om pri hebat euy ngeilustrasiinnya…
sempet ga ngerti ini ngomong apa…tp akhirnya ngerti jg..
asuransi unit-link yach…produk asuransi yang langsung jadi primadona
iya, sayang sekali priyadi kali ini justru lebih banyak menggunakan analogi. Padahal dari beberapa posting yang serupa, sempat uring2an karena banyak yang menggunakan analogi dalam diskusi. Jadi kalo memang mau mengulas lagi masalah asuransi unitlink, reksadana, instrumen investasi, manajemen finansial dsb, kenapa tidak dibahas langsung saja? jadi biar tidak terkesan tendensius. Dan lagi saya tidak percaya suatu perusahaan yang kegiatan usahanya licik dan membodohi masyarakat bisa bertahan sebegitu lama dan tumbuh makin besar. Dan faktor2 yang mempengaruhi tidak saja berupa variabel2 finansial, tapi ada juga faktor kepercayaan dan kredibilitas perusahaan di mata masyarakat.
asuransi = ilusi

MAU ???
#23:
diversifikasi investasi bisa dilakukan tanpa harus melalui unit… eh koran B
#26:
jika pelanggan merasa untung dengan berlangganan koran B, artinya dia tidak ngerti masalah finansial dan/atau tidak cukup jeli. bagaimanapun ceritanya, tetap saja dia bayar koran B dua kali lipat koran A. hanya saja, koran B dijual dalam selimut investasi sehingga kebanyakan pelanggan tidak akan menyadari kalau dia membayar 2x lipat. saya pikir ini sama sekali bukan simbiosis mutualisme.
#37:
kita sediakan uang Rp 200 ribu untuk langganan koran dan investasi (jumlah yang sama jika seandainya kita beli koran B). dari Rp 200 ribu tersebut, 50 ribunya kita pakai untuk langganan koran A. dan Rp 150 ribu sisanya kita invest ke reksadana. itu dilakukan secara rutin setiap bulan dalam 10 tahun pertama, maka dengan perkembangan investasi 13%/tahun maka uangnya akan menjadi 37 juta di akhir tahun 10.
#39:
bahasan saya sama sekali bukan analogi. ilusi finansial juga dapat diterapkan secara sempurna dalam menjual produk di luar asuransi. tulisan saya di atas memang cuma wacana, tapi bukan berarti tidak ada contoh real world-nya. salah satu contoh nyata bisa dilihat di komentar 19. contoh lainnya misalnya adalah rebate jangka panjang (misalnya anda bayar kami 5x lipat lebih mahal, tapi uangnya akan kami kembalikan 100% di tahun 10). jangan2 nanti malah orang koran jualan pakai ilusi finansial setelah dapat ide dari posting ini
.
tapi memang yang paling terkenal melakukan ilusi finansial di indonesia baru perusahaan asuransi
.
kenyataannya seperti itu kok
. kita harus balik premisnya dan balik bertanya: “kenapa perusahaan yang kegiatan usahanya licik dan membodohi masyarakat bisa bertahan sebegitu lama dan tumbuh semakin besar?”
jadi mumet mikirin para kapitalis…

mas pri, makan-makan….
kan kemaren menang…
jika pelanggan merasa untung dengan berlangganan koran B, artinya dia tidak ngerti masalah finansial dan/atau tidak cukup jeli. bagaimanapun ceritanya, tetap saja dia bayar koran B dua kali lipat koran A. hanya saja, koran B dijual dalam selimut investasi sehingga kebanyakan pelanggan tidak akan menyadari kalau dia membayar 2x lipat. saya pikir ini sama sekali bukan simbiosis mutualisme.
- saya kadang beli teh botol seharga 3000, bukan saya ga ngerti harga, tapi demi kenyamanan saya beli yg deket saya aja daripada jalan jauh ke depan
- saya kadang beli kebutuhan rumah di supermarket, bukan berarti saya ga tau hypermarket lebih murah, tapi demi kenyamanan aja
apakah tukang teh botol itu atau supermarket itu licik atau membodohi?
maksudnya adalah saya membayar lebih untuk kenyamanan, bukannya ga ngerti atau ga jeli
perbedaan harga sebesar 50rb, bisa dianggap sebagai uang lebih untuk membayar kenyamanan (debatable, tingkat kenyamanan masing2 orang beda2)
lebih jauh reksadana juga bisa dianggap sebagai koran B, karena komisi yang harus dibayarkan masih lebih besar dibanding terjun langsung (syarat & ketentuan berlaku)
intinya, jangan dipukul rata si X ga ngerti/ga jeli, ada kemungkinan lain
Yup, idem bung iip. Hanya saja bandrol teh botol n harga barang dpt dgn mudah diliat n dibandingkan, sedang “koran2″ ini harus dihitung nilai akhirnya. Nilai jual koran B ada di keengganan orang2 kita dlm mencari, menghitung, dan membandingkan. Mencari, menghitung dan membandingkan tu bukan hal yang nyaman lho…, mending untung dikit daripada mikir, orang sama2 keluar duit juga…,hehe.
ah ini masalah unit link lagi. unit link tidak bisa disamakan dengan term life insurance karena unit link adalah variabel universal life insurance.
asuransi itu sama halnya dengan kebutuhan kita yg lain: sandang, pangan, papan. jika saya bilang baju A bagus karena cocok dengan bentuk badan dan warna kulit saya belum tentu orang lain bilang baju itu juga bagus. motif orang membeli sesuatukan beda-beda.
untuk perbandingan macam2 tipe asuransi bisa lihat disini dan disini
Hehehe, pasti ini ilustrasi dari “ilusi” asuransi investasi kan
saya lebih respect sama #44. to the point dan bisa langsung di baca oleh masing2. Bagaimanapun, asuransi memiliki peluang bisnis bagi penyedianya dan memberikan benefit bagi nasabahnya. Dan suatu peluang bisnis tercipta karena disana ada supply and demand. Tergantung siapa yang jeli memanfaatkan dan melihat peluang tersebut. Dan memang sebagian besar konsumen memilih suatu produk hanya berdasarkan reputasi dari produk tersebut, bukan berarti mereka nggak ngerti. hanya saja tidak semua orang memiliki waktu dan sarana yang cukup memadai untuk melakukan riset pasar sendiri. Dan di dunia ini saya yakin tidak ada orang berjualan dengan cara menjelek2kan produknya sendiri, tetapi hal itu bukan berarti dia sudah melakukan suatu bentuk penipuan. Jika memang seperti itu, maka lembaga Bank pun sudah melakukan suatu bentuk penipuan yang bahkan dilegalisir oleh pemerintah.
#43: Er… komisi yang dibayarkan kepada reksadana tidak dapat disamakan dengan koran B. Karena ketika nasabah memasukan dananya ke reksadana, nasabah “membayar” expertise si money manager untuk mengelola uang mereka.
Nah apakah dalam kasus koran B ini kita membayar expertise juga? Tentu engga kan.
Waduh kalo baca2 tulisan mas pri jadi pengin buat tulisan turunannya nih… Bisa membantu buat membukakan pengetahuan masyarakat Indonesia yang gak paham tentang arti investasi.. Thanks buat masukan2nya yang sangat bagus buat gua sebagai agen asuransi yang pengin menjalankan misi untuk kemanusiaan dan pelayanan yang trbaik bagi nasabah…..
#43:
kalau beli teh botol Rp 3000, kita tahu harganya memang 3000, kita bayar memang Rp 3000, gak ada urusan macam2 di luar itu. sedangkan kalau beli ‘koran B’, pelanggan kadang2 tidak diberitahu berapa harga realnya (whole life/endowment), atau diberitahu sekilas (unit link) tapi penjualan produk tersebut menitikberatkan pada besar nilai tunai tahun2 kedepan.
pada pemasaran ‘koran B’, pelanggan menjudge produknya bukan berdasarkan harga produk, tapi berapa besar nilai tunai yang akan dia dapatkan. kalau dia menjudge produknya berdasarkan harga produk, B jelas kalah telak karena kualitasnya sama tapi harganya 2x lipat.
kalau memang pelanggan memilih koran B karena alasan nilai intrinsiknya yang dia rasa lebih tinggi dan sesuai dengan harganya yang lebih tinggi, saya sama sekali gak ada masalah. tapi pelanggan yang seperti ini harus terlebih dahulu melalui proses ‘jungkir balik’ mencari data dan ngitung di spreadsheet selama berhari2
.
komisi yang kita bayarkan ke reksadana itu untuk membayar manajer investasi sehingga kita gak perlu mengelola sendiri. kalau nasabah gak mau bayar manajer investasi, ya invest sendiri saja. gak ada yang ditutup2i di sini.
Saya ndak habis pikir, dari mana sampean bisa nemu pemikiran yg kayak gitu :mrgreen: Pemikiran yg menarik, mengingat koran adl produk komoditas yg biasanya dijual murah dan bisa digantikan dg relatif mudah.
Apa yg jadi issue belakangan ini setau saya adalah terkait model berlangganan media massa di internet. Kebanyakan lalu meminta agar digratiskan, hingga suatu saat anak cucu kita akan bertanya2 dan keheranan ketika ada perusahaan koran masih menarik uang kepada pelanggannya. Kan sudah ada internet.
Tapi entah apa di Indonesia akan terjadi fenomena spt itu. Dunia media massa tanpa kertas sampe skr juga masih jadi semacam ilusi.
Good Article.
Makasih mas.. sering-sering bikin ilustrasi yang seperti ini. Gimana kalau mas Pri bikin sub-blog yang khusus tentang analisa
kecurangankecerdasan dalam marketing seperti ini. Kemudian blog utama (PriyadidotNet) untuk membahas issue-issue terkini.Jangan lupakan Mr You-know-how ….
#45:
bisa saja dibandingkan asalkan term lifenya dipasangkan dengan reksadana. unit link = term life + reksadana.
sama sekali tidak ada kasus dimana whole life, endowment atau unit link/VUL lebih menguntungkan daripada term+reksadana dengan kondisi di indonesia. di amerika bisa jadi ada keuntungan dari insentif pajak (dan ini pun masih debatable), tapi di Indonesia gak ada.
selain itu, kalau kita mengasuransikan sesuatu yang dapat dipastikan terjadi, maka kita cuma memberi uang gratis ke perusahaan asuransi.
#47:
secara garis besar saya setuju nasuransi memberikan benefit bagi nasabahnya selama asuransi dibeli sesuai kebutuhan. tapi benefit ini harus dibandingkan dengan harga yang harus nasabah bayarkan. beberapa jenis asuransi dijual dengan menggunakan ‘ilusi finansial’ sehingga nasabah tidak tahu atau tidak menyadari harga yang sebenarnya harus dibayar.
coba baca baik2 tulisan saya. salah satu parameter yang harus dipertimbangkan untuk membeli suatu produk adalah harganya. dengan membeli ‘koran B’, pelanggan tidak membeli setelah mempertimbangkan harganya. pelanggan cuma melihat besarnya nilai tunai yang akan dia dapatkan. harga sebenarnya sih koran A cuma 1/2 koran B, tapi fakta ini tidak diketahui kebanyakan pelanggan.
kalau saya sih gak masalah jika koran B menjual produknya Rp 500ribu/bulan sekalipun selama dia tidak menyembunyikan fakta kalau dia jual seharga tersebut. dalam produk yang transparan, akan berlaku mekanisme pasar. yang mahal akan otomatis mendapatkan pangsa pasar lebih sedikit daripada yang murah, jika faktor2 penentu lainnya (kualitas, brand) sama persis.
memang benar bahwa selama ini produk yang dijual kurang transparan. namun hal ini bukan disengaja tapi lebih karena:
1. Agen asuransi kurang menguasai product knowledge terutama pada unsur investasi
2. Calon nasabah tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk agen menerangkan masalah investasi
untuk kasus ini saran gue cuma dua:
1. beli polisnya dan buktikan kalau produk tsb memang tidak lebih baik dari term and invest
2. jadi agen agar lebih produk dan alur dana yg dialokasikan
tp gue tetep tidak setuju kalau lo bilang term life insurance lebih baik daripada whole life insurance karena membeli asuransi itu seperti menempati rumah.
orang bisa tinggal disebuah rumah pada periode tertentu dengan cara membayar kontrak tapi rumah tidak menjadi hak miliknya dan jika nilai rumah naik orang tersebut tidak bisa merasakan manfaatnya. belum lagi harga kontrakan yang setiap tahun pasti naik.
disisi lain, orang bisa menyicil rumah tersebut. walaupun harga cicilannya lebih mahal namun rumah tersebut menjadi hak milik (asset). rumah ini nantinya bisa dijual, dijaminkan, dll. orang tersebut juga berhak atas keuntungan yg didapatkannya dr penjualan rumah.
ayo ayo berikan edukasi asuransi yang lebih objektif.
gag dong
* baca lagi *
hebat…banget saya suka sekali ide tentang ilusi finansial nya, thanks !!
To #55 Basibanget
Saran yang aneh. Tidak semua harus dialami dulu supaya kita yakin. Apa perlu nyoba terjun dari atap gedung 24lt ke basement untuk yakin kalo hal itu berbahaya? Tidak perlu bukan? Saya sendiri sudah 3 tahun 2 bulan ikut unit link. Sudah tahu berapa yang saya setorkan dan berapa hasil akhirnya dengan tingkat investasi yang dihasilkan. Kesimpulannya: Jauh lebih menguntungkan membeli Term Life dan Meng-investasikan sisanya. Karena itu saya tutup.
Untuk saran kedua, saya juga tidak bisa menjual sesuatu yang saya sendiri tidak setuju dengannya. Ini tidak sama dengan kita jualan masakan seafood walaupun kita alergi seafood. Tapi mirip dengan kita jualan jeruk asem dan bilang kalo jeruknya manis. Padahal kita tahu jeruknya asem.
#55:
tidak transparan karena memang dari sananya sudah tidak transparan. jangan salahin agennya
. contohnya: di unit link, mana informasi besar premi yang harus dibayarkan dari tahun ke tahun? di whole life, berapa besar biaya mortalita dari tahun ke tahun? sejago apapun agennya, kalau tidak diperlengkapi informasi ini ya tetap saja gak bakalan bisa kasih tahu nasabahnya
.
ya ini inti persoalannya. kalau untuk cari tahu detil suatu produk saja harus beli polis atau bahkan jadi agen, artinya ya produknya memang gak transparan. harusnya konsumen tahu persis apa yang dia beli sebelum dia menjatuhkan pilihan.
tapi gua udah bikin kok perhitungannya. dengan manfaat yang sama, term+reksadana akan jauh lebih menguntungkan daripada unit link.
hehehe, analogi rumah dan asuransi ini emang gak pernah hilang2
. yang jelas ini analogi yang salah. rumah itu aset, asuransi itu liabilitas. rumah itu properti, asuransi bukan properti. rumah diperlukan sepanjang hidup, asuransi tidak.
pilih mana: asuransi dengan UP 1 milyar atau punya uang 1 milyar? keduanya punya efek yang sama kalau kita meninggal: anak kita dapat warisan 1 milyar. tapi mana yang lebih bagus? ya jelas punya uang 1 milyar karena pertama, tidak perlu bayar premi, dan kedua, uangnya akan berkembang lebih banyak lagi. kalau kebutuhan proteksi adalah sebesar 1 milyar, asuransi cuma perlu diambil kalau nilai aset kita masih di bawah 1 milyar. lebih baik lagi kalau diatur supaya jumlah aset + UP asuransi = 1 milyar, misalnya dengan mengambil decreasing term life atau diadjust sendiri secara manual secara berkala.
hehehe, bagian mana yang gak objektif yah?
Kurang obyektif dengan mengatakan bahwa permanent life insurance tidak ada kelebihannya sama sekali dibandingkan term life insurance.
Term life insurance = murni asuransi jiwa (manfaat hanya didapat jika tertanggung meninggal dunia)
Permanent life insurance = asuransi jiwa + proteksi + tabungan + investasi
Adalah salah juga dengan menganggap bahwa permanent life insurance (seperti unit link) merupakan instrumen investasi. Pada dasarnya insurance tetap insurance.
#60:
jangan lupa bandingin juga harganya
. term life jauh lebih murah daripada permanent life. perbedaan harga yang besar itu adalah opportunity cost, dan ini juga harus diperhitungkan. harus diperhitungkan selisih harga sebesar itu enaknya diapain. dimasukin sekaligus permanent life atau diinvestasikan di tempat yang lain.
selanjutnya balik lagi ke urusan koran A vs koran B
salah juga menganggap asuransi dengan nilai tunai itu murni asuransi, karena di dalamnya pasti ada komponen investasi.
btw, unit link itu sebenernya bukan permanent life murni. ilustrasi biasanya dibuat sampai 99 tahun, tapi bedanya asuransi permanen biasanya ada penalti kalau dicairkan sebelum tanggal maturity. kalau unit link gak ada penalti. dan harusnya memang dibatalkan kalau nasabah sudah gak perlu lagi asuransi jiwa.
gak mudeng
*gelar tiker dulu ah…*
hmm… ada lo mas Pri di suatu daerah, koran nasional, inisial “K” yang menurunkan harga jual menjadi 30% dari harga normalnya di sore hari. Koran itu dijual sore Rp 1.000 harga normalnya Rp 3.000-an. Kalau saya, yang gak berkepentingan dengan berita2 yang mesti up to date info, pilih beli yang model ginian aja.
ini bukan ilusi lo mas
sebelumnya, balik ke inti yg sudah saya tulis sebelumnya
“intinya, jangan dipukul rata si X ga ngerti/ga jeli, ada kemungkinan lain”
keywordnya di”kadang2″, balik ke inti “jangan pukul rata”, ada aja orang yg sudah tau, atau malah belum tau tapi ga ada waktu buat cari tau, tapi memang ga mau ambil pusing, harga yg dibayarkan adalah harga yg mau dibayarkan, biar lah mahal2 dikit toh dia nyaman dengan itu
dalam menjual produk, harga jual tidak harus berpatokan ke harga dasar, ada nilai2 plus yang membuat produk A lebih mahal dari produk B. Ok secara kualitas sama, tapi nilai plus produk B adalah tambahan fasilitas investasi yang dimasukan ke harga jual.
kalau strategi marketing model gini dibilang licik atau membodohi ya orang2 marketing pensiun aja dari sekarang
ya itu faktor kenyamanan, daripada jungkir balik ngitung2 asuransi+reksadana, ambil yg simple aja kopi+susu 2in1
gimana kalau kalimatnya gini,
komisi yang kita bayarkan ke unit link itu untuk membayar manajer investasi+asuransi sehingga kita gak perlu mengelola sendiri. kalau nasabah gak mau bayar manajer investasi+asuransi, ya urus sendiri saja.
kalau mau menghimbau investasi+asuransi lebih tinggi returnnya ya sok aja, saya ga komplain disini, tapi dipermasalahkan soal penyamarataan kalau yg ikut ini berarti ga ngerti, juga yg menjual dengan model itu berarti membodohi
#64:
ya kalo orang tersebut udah tau perbedaan harganya dan tetap ngambil barang yang lebih mahal, ya itu saya gak ada masalah
. kalau misalnya ada orang beli rolls royce yang nilai utilitasnya kurang lebih sama dengan avanza ya sok aja itu urusan dia.
yang jadi masalah itu kalau orang beli barang dan karena dibungkus rapi dengan investasi, dia jadi tidak tahu harga intrinsik sebenarnya dari barang yang dia beli. dia beli barangnya hanya karena terkesima dengan hasil perkembangan investasinya yang berjuta2 itu, dan bukan karena hasil evaluasi kalau barang yang dia beli memang adalah deal yang lebih baik daripada barang lain di pasaran, dan atau apakah dia memang memerlukan barang tersebut.
bundling investasi di sini bukan ‘tambahan fasilitas’, tapi lebih ke ’strategi marketing’.
jungkir balik itu hanya karena ada produk yang namanya ‘unit link’. kalau tidak ada produk ini, saya gak perlu cape2 ngitung. asuransi term & reksadana itu produk dengan struktur harga yang sederhana, dan jelas gak perlu jungkir balik untuk ngitung. jungkir balik hanya diperlukan kalau mau membandingkan unit link dengan unit link lain atau term+reksadana.
biaya ekstra yang dibayarkan ke unit link itu diberikan kepada agen sebagai imbalan dalam melakukan pemasaran. dan secara intrinsik sebenarnya tidak banyak manfaat ekstra yang diberikan dari bundling kedua produk ini. sedangkan biaya manajer investasi dan asuransi sudah ada posnya tersendiri yaitu ‘biaya pengelolaan investasi’ dan ‘biaya administrasi’.
bisa jadi ada yang ikut koran B, dan memang menyadari biaya ekstra yang harus dibayarkan setelah membandingkannya dengan koran A. untuk kasus ini saya sama sekali gak masalah. tapi saya tetap berpendapat yang menjual dengan model koran B adalah membodohi pelanggan. dari beberapa pelanggan ‘koran B’ yang sempat saya bantuin ngitung opportunity costnya, hampir semuanya merasa dikadalin. yang tidak merasa dikadalin ternyata adalah agen koran B
#16 & # 17
Ramalannya meleset tuh. Baru 2 hari dah tembus 60 post ^_^
Halah malah nge-junk
“
Saya cuma bisa salut untuk orang yang mau meluangkan waktu untuk menuliskan dan menganalisa masalah-masalah seperti ini.Yang mau repot-repot tanpa pamrih apa pun ikut mencerdaskan kehidupan bangsa (kita yang emang guoblok ini). Urusan bodoh-membodohi, bego-ngebegoin, atau kadal-mengkadalin, memang perlu kita waspadai. Terlalu banyak orang pintar yang licik yang selalu mencari peluang utk menangguk untung sebesar-besarnya dari sebagian besar bangsa kita yang emang kurang kritis dan malas berpikir ini.
nah yg ini gue setuju karena pada dasarnya produk yg dipasarkan adalah asuransi jiwa yang meng-cover nasabah seumur hidup namun nasabah cukup membayar selama periode tertentu dan selanjutnya nasabah dibebaskan dari premi…yaa kurang lebih seperti itulah
do your best and we will do the rest
btw Pri..pas ditraining ada namanya konsep agen mandiri. kayanya tidak muluk-muluk juga kalo gue sebut loe nasabah mandiri. salut
#68:
betul, gua nasabah mandiri. selain itu gua juga nasabah bank niaga, BNI dan BCA
males bacanya…kepanjangan…ngantuk
Saya tidak tahu apakah ada teori ekonomi seperti itu, namun saya yang awam ilmu ekonomi merasa teknik ini tidak efektif:
1. Dengan harga 2x lipat, kemungkinannya ada 2, pelanggan berkurang sedikit maka teori Pak Pri bisa jalan, atau pelanggan berkurang drastis sehingga perusahaan COLLAPSE.
2. Siapa yang bisa menjamin banyak pelanggan yang mau tetap berlangganan selama 20thn lebih? Setahu saya jumlah pembeli koran lebih dominan yang membeli eceran
3. Setiap orang menyadari ia tidak tahu apa yg terjadi 10 thn lg (apakah masih hidup?), berapa orang yg mau membayar mahal untuk 10 thn dengan mengharap keuntungan setelah 10thn.
4. Hampir sSetiap orang selalu mengira kondisi finansialnya akan terus meningkat dari-waktu-ke-waktu. Naik pangkat, naik gaji, naik tunjangan pengabdian, dll. Jadi, kalau menurut saya tidak masalah berlangganan koran 50rb seumur hidup karena dengan meningkatnya kondisi finansial 50rb akan semakin kecil nilainya.
Aku ikut jadi penonton saja…, soalnya asuransi, reksadana dll tu mainan orang yang ada sisa uang di saku. Aku masih berusaha mencari yg sebaliknya, yang enaknya di depan, susahnya belakangan…, ngebon apa utang gitu…, kan enaknya di depan, pas harus bayar kali aja udah mati duluan.., lebih enak lagi kalo dikasih utangnya tiap bulan, terus menerus, wajib, bertahun - tahun,…dari banyak orang…
#65
lebih tepat pakai analogi beli pc ngerakit sendiri atau beli aja yg paketan
kalau ini yg menjadi masalah seharusnya yg dipermasalahkan orangnya bukan barangnya
tambahan fasilitas (nilai plus) untuk mempermudah orang berinvestasi
boleh tau kenapa berpendapat bukan ‘tambahan fasilitas’?
biaya2 dan lain lain, semakin ga nyaman semakin bisa dipangkas, makanya saya bilang reksadana ga lebih dari koran B dibanding terjun langsung
tergantung cara pandang aja, kalau anda menganggap memberikan agen imbalan suatu masalah ya silakan (anda ga masalah jalan ke depan buat dapetin teh botol yg harganya 2000), tapi (balik lagi) orang yg ga seperti itu bukannya ga ngerti
(un)fortunately saya bukan agen, ikutan aja ga
tapi saya bisa memaklumi bisnis mereka tanpa perlu menuduh mereka membodoh2i
toko elektronik di pi mall menjual camdig jauh lebih mahal dibanding beli di mall ambassador, dan di mangga dua masih lebih murah dibanding di mall ambassador
ketika ada pembeli yg baru ’sadar’ kalau toko di pi mall itu mahal lantas kemudian bilang itu toko membodohinya, orang itu yg dibodohi toko atau memang dari awal dianya yg bodoh (tidak tahu)
pada awalnya dulu reksadana masalah yg dihadapi kurang lebih sama, tingginya komisi ini bayar itu, daripada nyalahin reksadananya, prakteknya yg dibenerin
kalau sekarang unit link itu main problemnya soal transparansinya dan komisi yg bermacam2, salahin prakteknya, jangan salahin makhluknya