18 April 2011

Salah Kaprah AC Hemat Listrik

Posted under: at 12:34

Kemarin AC kamar tidur saya mendadak rusak. Memang masih bisa diperbaiki, hanya saja biaya untuk memperbaiki terlalu mahal sehingga saya memutuskan untuk sekalian membeli AC baru. Yang menjadi incaran utama tentu saja AC hemat energi yang ramai diiklankan dimana-mana.

Sayangnya ada salah kaprah yang meluas di iklan-iklan ini. Semuanya menggunakan Watt sebagai parameter hematnya penggunaan listrik.

AC dengan ‘Watt rendah’ belum tentu lebih hemat listrik dibandingkan AC dengan Watt yang lebih tinggi. Bisa saja konsumsi daya (Watt) lebih rendah, namun kapasitas pendinginannya juga lebih rendah. Untuk ruangan yang sama, AC yang seperti ini akan mengkonsumsi lebih banyak listrik untuk mendinginkan ruangan daripada AC dengan Watt yang lebih tinggi, tapi kapasitas pendinginannya lebih tinggi lagi. Hasil akhirnya, bukan lebih hemat yang didapat, tetapi malah lebih boros.

Cara yang benar untuk menghitung efisiensi adalah dengan membandingkan rasio masukan dan keluaran. Untuk AC, nilai efisiensi biasanya dinyatakan dalam angka EER (energy efficiency ratio) dengan satuan Btu/Wh. Angka EER merupakan perbandingan antara kapasitas pendinginan dalam satuan Btu/jam (Btu/h) dan konsumsi daya dalam satuan Watt (W). Semakin tinggi nilainya, artinya semakin hemat energi. Pada saat tulisan ini dibuat, AC hemat energi biasanya memiliki angka EER di atas 12.

Beberapa produsen AC tidak mencantumkan angka EER, melainkan COP (coefficient of performance). COP memiliki satuan W/W. Nilai COP dapat dengan mudah dikonversi ke EER dengan mengalikannya dengan 3,41 (EER = COP * 3,41). Kadang ada brosur produk AC yang mencantumkan nilai EER tapi dalam satuan W/W. Ini tidak tepat, untuk mendapatkan nilai EER yang sesungguhnya, kalikan dengan 3,41.

Berita baiknya adalah mayoritas produsen AC mencantumkan nilai EER atau COP pada brosur produknya. Selain itu, semua AC hemat listrik yang diiklankan memang memiliki EER yang tinggi, bukan hanya penggunaan dayanya rendah.

Berita buruknya adalah nilai EER atau COP bisa jadi tidak terstandarisasi. Perbedaan konfigurasi ruangan, temperatur dalam dan luar ruangan, cara pengambilan data, dan faktor-faktor eksternal lainnya di luar AC-nya itu sendiri bisa saja mempengaruhi nilai EER, terutama bagi AC inverter yang konsumsi dayanya dinamis. Setahu saya tidak ada standar yang mengatur pengukuran EER ini di Indonesia. Walaupun demikian, nilai EER atau COP yang tertera dalam brosur produk AC kemungkinan masih cukup berguna untuk memberi gambaran mengenai performa konsumsi energi bagi produk AC untuk produsen yang sama.

37 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!