9 May 2011

Sanksi Terhadap Citibank yang Tidak Tepat

Posted under: at 15:26

Beberapa minggu setelah kasus Malinda Dee dan meninggalnya Irzen Octa di kantor Citibank, akhirnya Bank Indonesia mengenakan sanksi kepada Citibank. Sanksi yang dikenakan kepada Citibank adalah sebagai berikut:

  1. Melarang Citibank untuk menambah nasabah baru layanan prioritas Citigold.
  2. Melarang penerbitan kartu kredit baru selama dua tahun.
  3. Melarang penggunaan jasa penagihan pihak ketiga selama dua tahun.

Menurut saya, untuk urusan kartu kredit, sanksi-sanksi tersebut tidak tepat dan tidak memecahkan masalah yang sesungguhnya. Berikut alasan-alasan saya:

Pertama, praktik penagihan yang dilakukan oleh Citibank juga dilakukan oleh penerbit kartu kredit lainnya. Ini bisa dilihat misalnya dari pencarian ‘debt collector’ di suara pembaca di Detik.com. Bukan hanya Citibank penerbit kartu kredit yang proses penagihannya bermasalah. Bisa dibilang semua penerbit kartu kredit di Indonesia seperti itu, termasuk di antaranya juga adalah bank-bank milik pemerintah. Dan rasanya bukan hanya Citibank yang menyerahkan tanggung jawab terhadap kredit dan proses penagihannya kepada pihak ketiga.

Kalau BI mau adil, maka bank-bank lainnya tersebut juga harus dikenai sanksi.

Kedua, berdasarkan pengalaman saya menggunakan kartu kredit dari lebih dari selusin penerbit kartu kredit, Citibank adalah salah satu penerbit yang layanannya lebih baik dibandingkan yang lain.

Sekitar tahun 2003-2004 saya mengalami kesulitan untuk membayar kartu kredit. Pembayaran saya memang masih lancar, hanya saja saya tidak mampu untuk membayar penuh. Akibatnya tagihannya saya dipenuhi dengan bunga dan praktis pembayaran yang saya lakukan mayoritas hanya digunakan untuk membayar bunganya saja. Suatu ketika saya dihubungi pihak Citibank yang menawari kredit dengan cicilan tetap dan bunga rendah. Saya yang skeptis langsung menolak. Tapi kemudian petugas Citibank tersebut memberi saran kalau saya bisa gunakan pinjaman tersebut untuk melunasi tagihan kartu kredit, dan bunga yang harus saya bayarkan akan jauh lebih kecil daripada bunga reguler kartu kredit, asalkan saya membayar penuh setiap kali tagihan datang.

Petugas yang sama juga menawarkan untuk memindahkan pendebetan rutin saya (listrik, telepon, dll) ke kartu kredit saya yang lain karena kebetulan saya memiliki dua kartu kredit di Citibank. Alasannya, kalau saya tidak melunasi secara penuh, maka pendebetan rutin hanya akan menambah jumlah bunga yang harus saya bayar. Akhirnya saya mengambil kredit cicilan tetap tersebut yang langsung saya gunakan untuk melunasi tagihan. Sedangkan untuk pendebetan rutin, saat itu saya tutup semua dan saya bayar langsung melalui rekening tabungan saya.

Saya memang tidak tahu apakah itu cuma trik ‘kejar setoran’ ataukah memang ada program khusus dari Citibank untuk membantu nasabahnya. Yang jelas, yang saya rasakan saat itu adalah bahwa petugas Citibank tersebut sangat membantu saya.

Pada waktu yang lain lagi, saya pernah dihubungi oleh petugas Citibank yang mengingkatkan bahwa kartu kredit saya sudah overlimit. Petugas tersebut memberi saya saran untuk melakukan pembayaran sampai penggunaan kartu kredit saya di bawah limit yang diberikan. Jika saya melakukan hal tersebut sebelum tagihan kartu kredit saya terbit, maka saya tidak akan terkena biaya overlimit. Telepon dari petugas Citibank tersebut sangat saya hargai dan saya langsung melakukan apa yang disarankan. Kebanyakan penerbit kartu kredit lainnya mungkin akan dengan senang hati menerima pemasukan tambahan dari denda overlimit yang saya bayarkan.

Itu adalah beberapa pengalaman saya menggunakan kartu kredit dari Citibank. Mungkin tidak akan serupa dengan pengalaman nasabah-nasabah lainnya. Saya cuma satu orang, dan pengalaman satu orang tentunya tidak mewakili seluruh nasabah Citibank. Yang saya bisa pastikan adalah bahwa penerbit-penerbit kartu kredit selain Citibank yang tidak terkena sanksi BI ini sebenarnya tidak lebih baik daripada Citibank. Hanya mengenakan sanksi kepada Citibank tidak akan memperbaiki masalah ini.

Kalau BI dan pemerintah mau serius memberantas masalah kartu kredit di Indonesia, berikut adalah beberapa saran dari saya:

  • Merumuskan dan memberlakukan Undang-Undang Penagihan, seperti misalnya Fair Debt Collection Practices Act di Amerika Serikat.
  • Mempermudah proses pembangkrutan dan penyitaan aset nasabah yang macet melalui pengadilan, sehingga kebutuhan untuk menggunakan jasa penagih pihak ketiga bisa ditekan.
  • Memperketat seleksi nasabah kartu kredit dan melarang pemasaran kartu kredit secara membabi buta.
  • Menerapkan sistem rekening simpanan sebagai jaminan, bahkan untuk penerbit kartu kredit yang berbeda.

Dan tidak perlu saya informasikan bahwa saya bukanlah pegawai Citibank dan tidak memperoleh keuntungan apapun dari tulisan ini :).

30 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!