5 July 2012

Berwisata ke Taman Nasional Tanjung Puting

Posted under: at 13:05

Pertengahan Juni 2012 lalu saya dan beberapa kawan berkesempatan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Tanjung Puting adalah sebuah taman nasional dengan luas lebih dari 3000 km² yang berada di selatan Provinsi Kalimantan Tengah. Daya tarik utama taman nasional ini tentu saja adalah orangutan. Taman Nasional ini merupakan pusatnya penelitian dan konservasi orangutan di seluruh dunia.

Untuk mencapai Taman Nasional Tanjung Puting, kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Iskandar di Pangkalan Bun menggunakan pesawat Boeing 737-200 dari maskapai penerbangan Trigana Air. Penerbangan ini ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Selain Trigana Air, maskapai penerbangan lain yang melayani rute Jakarta-Pangkalan Bun adalah Kalstar. Praktis setiap hari ada penerbangan dari Jakarta ke Pangkalan Bun dan sebaliknya.

Sesampainya di Bandara Iskandar, tim penjemput membawa kami ke sebuah dermaga di Kumai. Tak jauh perjalanan dari Bandara Iskandar ke Kumai, hanya memakan waktu tak lebih dari setengah jam. Di Kumai, kami langsung disambut dengan atraksi tarian khas Kumai.

Untuk mencapai Taman Nasional Tanjung Puting, angkutan paling populer adalah ‘klotok’. Klotok adalah sebutan untuk perahu tradisional bermotor yang digunakan di sungai-sungai di Kalimantan. Klotok yang kami gunakan berukuran sekitar 3m x 12m, terdiri dari dua geladak. Geladak dasar digunakan oleh kapten, awak klotok, juru masak dan pemandu. Sedangkan geladak utama (atas) dihuni oleh penumpang atau wisatawan. Fungsi geladak atas dapat diubah dengan seketika oleh awak klotok menjadi tempat bersantai, tempat makan ataupun tempat tidur, sesuai keperluan. Karena geladak atas bersifat terbuka, tak ada privasi bagi wisatawan.

Setiap klotok memiliki satu atau dua toilet atau kamar mandi. Air bersih bersumber dari tangki air, ataupun dari air yang dipompa langsung dari sungai. Klotok memiliki fasilitas lemari pendingin, jadi dapat membawa cukup makanan untuk beberapa hari. Makanan yang disajikan adalah makanan khas Indonesia lengkap dengan variasi minuman dan buah-buahan. Kualitas makanan menurut saya sangat enak, dan makanan selalu tersaji dengan rapih.

Klotok menyediakan beberapa colokan listrik. Akan tetapi, sumber listriknya perlu dipertanyakan. Satu klotok kami menggunakan genset, tetapi hanya dapat berfungsi saat mesin mati, dan sistemnya mengalami kerusakan di hari ketiga. Klotok lain menggunakan inverter yang dihubungkan ke baterai mobil yang hanya bisa diisi ulang saat klotok sedang bergerak. Sayangnya, ini jauh dari cukup jika listriknya ‘diperkosa’ seperti di bawah ini:

Sebelumnya, sebagian besar klotok-klotok ini dulunya berfungsi untuk mengangkut kayu gelondongan dari hulu sungai ke pelabuhan Kumai. Pada masa itu, klotok-klotok ini tak memiliki geladak atas, dan hanya memiliki kabin kecil tempat mengemudi bagi kapten kapal. Setelah penebangan pohon dibatasi dan ditertibkan, klotok-klotok ini kemudian diretrofit menjadi seperti sekarang dan dialihkan fungsinya untuk menunjang ekowisata.

Selain klotok, alternatif moda transportasi yang tersedia adalah perahu cepat (speedboat). Kecepatannya barangkali bisa mencapai 5 kali lipat atau lebih kecepatan klotok yang rata-rata hanya sekitar 10 km/jam. Walaupun demikian, untuk keperluan ekowisata, klotok tak tertandingi. Klotok jauh lebih nyaman untuk dikendarai, memiliki kamar mandi, dan dapat berfungsi sebagai tempat makan maupun tempat bermalam. Selain itu, kadang-kadang kecepatan 10 km/jam pun masih terlalu cepat untuk dapat menikmati pemandangan sekitar.

Peta perjalanan hari pertama

Dari dermaga Kumai kami menuju muara Sungai Sekonyer yang merupakan gerbang ke Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan dari dermaga Kumai ke muara Sungai Sekonyer ditempuh dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Setelah memasuki Sungai Sekonyer, kami semua melalukan tradisi yang dilakukan warga setempat, yaitu membasuh muka dengan air sungai.

Memasuki Sungai Sekonyer, di sebelah kanan kami (selatan) adalah hutan bagian dari taman nasional. Sedangkan di sebelah kiri (utara) adalah zona hutan penyangga (buffer forest). Sungai Sekonyer menjadi pemisah antara keduanya. Menurut pemandu kami, hanya beberapa kilometer ke arah utara sudah dapat ditemukan monokultur perkebunan kelapa sawit yang luar biasa luasnya. Invasi perkebunan kelapa sawit memang menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hutan hujan di Pulau Kalimantan.

Pemberhentian pertama kami adalah Tanjung Harapan, 15 kilometer dari muara Sungai Sekonyer. Di camp ini terdapat satu petak lahan yang ditanami tanaman-tanaman obat yang endemik di Pulau Kalimantan. Terdapat pula pusat informasi yang berisikan informasi-informasi mengenai tanaman endemik setempat dan juga tentang orangutan.

Pertemuan pertama kami dengan orangutan adalah di tempat pemberian makan orangutan, sekitar 750 meter masuk ke dalam hutan dari pusat informasi Tanjung Harapan. Di sini ada sebuah panggung yang berfungsi sebagai tempat memberi makan kepada orangutan. Makanan diletakkan di atas panggung untuk menghindari kompetisi dengan hewan lain. Walaupun demikian tetap ada hewan lain seperti tupai atau babi hutan yang tampak mencuri dan menikmati makanan yang disajikan.

Tanjung Harapan adalah satu dari tiga tempat pelepasan orangutan ke alam liarnya di Taman Nasional Tanjung Puting. Tempat lainnya adalah Pondok Tanggui dan Camp Leakey. Hampir seluruh orangutan di lokasi ini merupakan orangutan hasil rehabilitasi yang dilepas ke alam liarnya, dan juga keturunannya. Saat ini, tak ada orangutan baru yang dilepaskan ke tiga tempat pelepasan tersebut karena sudah penuh dan di lokasi ini ada banyak koloni orangutan liar. Dikhawatirkan pelepasan orangutan ke kawasan ini akan membawa penyakit atau membuat kompetisi yang tidak sehat dengan orangutan liar. Saat ini orangutan yang lulus proses rehabilitasi dilepaskan ke Cagar Alam Lamandau, di sebelah barat Pangkalan Bun.

Setiap hari, orangutan-orangutan ini diberi makan di tempat pemberian makan. Pemberian makan ini sifatnya suplemental, dan tidak menggantikan makanan utamanya. Setiap individu orangutan tak setiap hari selalu mendatangi tempat pemberian makan ini. Bahkan jika makanan di hutan melimpah, bisa jadi tak satupun orangutan yang mendatangi tempat pemberian makanan ini.

Beruntung, saat kami mendatangi panggung pemberian makan ini, ada banyak orangutan yang mendatangi dan menikmati makanan ini, termasuk pimpinan setempat: Yani si raja orangutan. Tak seperti orangutan lainnya yang terlihat tidak berbahaya, pejantan dominan terlihat jauh lebih garang. Setiap kali pejantan memenangkan duel dengan pejantan lainnya, hormon akan membentuk lapisan tebal di pelipis, menumbuhkan jenggot, mempertebal bulu dan membuat bulu berwarna lebih kemerahan. Akibatnya sang jantan terlihat jauh lebih ‘garang’.

Setelah dari Tanjung Harapan, kami pergi ke Desa Sei Sekonyer, yaitu sebuah desa kecil yang letaknya tak lebih dari 100 meter dari seberang dermaga Tanjung Harapan. Desa yang letaknya di tengah Taman Nasional Tanjung Puting ini sedang diarahkan pemerintah untuk mendukung ekowisata. Memasuki desa ini, kami langsung disambut beberapa pesan tuntutan warga terhadap BW Plantation, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Akibat dampak lingkungan yang diakibatkannya, kualitas hidup warga di desa ini menjadi menurun.

Dalam desa ini terdapat beberapa tempat penginapan untuk wisatawan serta sebuah toko suvenir. Di luar ekowisata, mata pencaharian warga setempat lainnya adalah bertani, menangkap ikan serta bekerja di taman nasional, kebun kelapa sawit atau perusahaan tambang.

Saat kami meninggalkan Desa Sei Sekonyer, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sore hari adalah saat yang tepat untuk mengamati kawanan bekantan (bahasa Inggris: proboscis monkey). Sepanjang malam, bekantan tinggal berkelompok di atas pohon, terutama di sisi sungai. Sedangkan siang hari mereka mencari makan ke dalam hutan. Sore dan pagi hari adalah saat yang tepat untuk mengamati bekantan, mereka mudah ditemukan di sisi sungai, dan matahari masih bersinar sehingga tak sulit untuk mengamati mereka. Ciri fisik bekantan adalah jantannya berhidung panjang dan besar, dan semakin besar hidungnya semakin disukai betina.

Setelah ‘berburu’ bekantan, klotok kami kemudian merapat ke penginapan Rimba Orangutan Ecolodge yang letaknya hanya satu kilometer dari Desa Sei Sekonyer. Penginapan ini hanya dapat diakses melalui Sungai Sekonyer dan satu-satunya penginapan dengan pelayanan profesional sepanjang Sungai Sekonyer. Semua kamarnya dibuat di atas tanah rawa dan seluruhnya terbuat dari kayu. Seluruh kamarnya dihubungkan dengan jalan kayu yang dibuat di atas permukaan tanah. Kamar yang kami tempati memiliki fasilitas listrik, AC, brankas, tempat tidur berkelambu, dan (katanya) kamar mandi dengan pancuran air panas.

Selesai mandi, kami kembali ke klotok untuk menikmati makan malam pertama di atas klotok. Awak klotok memilih tempat berlabuh yang terdapat banyak kunang-kunang. Hanya dengan penerangan berupa lilin, cahaya kunang-kunang dan bintang di langit, kami semua menikmati makan malam. Langit sangat cerah dan bulan tak tampak, sehingga banyak bintang yang dapat terlihat, bahkan hamparan Bima Sakti pun dapat diamati dengan mata telanjang.

Saat kami makan malam, bulan sedang berada di bawah horizon sehingga tidak mengganggu suasana. Jika bulan terlihat, maka cahaya bintang lebih sulit untuk diamati dan kunang-kunang tidak akan menampakkan dirinya. Menurut saya ini adalah salah satu hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan kunjungan ke Taman Nasional Tanjung Puting.

Setelah makan malam, kami kembali ke Rimba Ecolodge untuk bermalam.

***

Di pagi hari, saya memutuskan untuk bangun lebih cepat untuk melihat situasi di pagi hari. Pagi ini, bekantan di seberang sungai masih terlihat berkumpul di atas pohon. Tiga ekor monyet terlihat di area dermaga, membuat saya khawatir tentang barang-barang yang saya bawa. Sedangkan burung-burung mulai terlihat dan berkicau di sekitar dermaga. Di Taman Nasional Tanjung Puting sendiri terdapat sekitar 250 spesies burung yang sekitar 20-nya adalah endemik.

Hari kedua ini dimulai dengan perjalanan ke Pondok Tanggui. Sama seperti Tanjung Harapan, atraksi utama Pondok Tanggui adalah orangutan. Di Pondok Tanggui, pemberian makan dimulai pukul 9 pagi, sehingga kami harus segera menuju lokasi. Dari Rimba Ecolodge menuju dermaga Pondok Tanggui berjarak 12 km dan ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit. Sedangkan dari dermaga Pondok Tanggui ke tempat pemberian makanan ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 1 kilometer selama 25 menit.

Sayangnya, sang raja orangutan setempat yang ditunggu-tunggu, Doyok, tak kunjung menampakkan dirinya. Memang tak dapat dipastikan mereka akan selalu datang. Kadang-kadang berhari-hari tak datang sama sekali. Tetapi kadang setiap hari selalu datang.

Dari Pondok Tanggui, kami melanjutkan perjalanan menuju Camp Leakey, yaitu tempat dimana penelitian orangutan dimulai. Camp Leakey terletak Sungai Sekonyer Kanan, yaitu anak sungai Sekonyer yang lebarnya lebih kecil daripada Sungai Sekonyer. Tak seperti Sungai Sekonyer yang berwarna kecoklatan akibat aktivitas pertambangan dan perkebunan di hulu sungai, Sungai Sekonyer Kanan berwarna hitam. Berdasarkan informasi dari pemandu kami, sebelum ada aktivitas pertambangan, kedua sungai ini sama-sama berwarna hitam dengan air bening. Warna hitam ini adalah warna dasar sungai, sedangkan airnya sendiri berwarna bening. Percabangan ini berjarak sekitar 7 km dari dermaga Pondok Tanggui ke arah hulu, dan perjalanan memakan waktu 45 menit.

Untuk mencapai Camp Leakey, klotok masih harus menempuh jarak 7 km selama sekitar 50 menit menyusuri Sungai Sekonyer Kanan yang jauh lebih sempit daripada Sungai Sekonyer Besar. Terkadang satu bagian sungai hanya dapat dilalui satu klotok sekaligus, dan klotok yang berpapasan harus menunggu giliran sebelum dapat lewat.

Peta perjalanan hari kedua

Camp Leakey didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Birute Mary Galdikas dan mantan suaminya Rod Brindamour. Nama Camp Leakey berasal dari Louis Leakey, yaitu guru dari Birute Galdikas. Birute Galdikas adalah salah satu dari Leakey’s Angels, yaitu julukan bagi tiga anak didik Louis Leakey yang menjadi perintis dalam mempelajari hewan primata hominid. Selain Galdikas yang mempelajari orangutan, ada Jane Goodall yang mempelajari simpanse dan Dian Fossey yang mempelajari gorila. Warga setempat, termasuk pemandu kami, memanggil Birute Galdikas dengan sebutan ‘Ibu Profesor’.

Dari dermaga Camp Leakey kami harus berjalan di atas papan kayu sejauh 400 meter untuk mencapai pusat Camp Leakey. Selama di Camp Leakey kami bertemu dengan beberapa orangutan. Orangutan-orangutan ini sebenarnya telah dilepas ke alam bebas. Namun beberapa di antaranya lebih suka untuk menghabiskan waktunya di Camp Leakey.

Selain orangutan, di daerah sekitar Camp Leakey juga dapat ditemukan primata lain seperti monyet dan ungka (bahasa lokal: uwa-uwa, bahasa Inggris: gibbon).

Camp Leakey memiliki pusat informasi yang terdiri dari berbagai macam informasi tentang orangutan seperti makanan dan kebiasaannya. Di sini ada foto Birute Galdikas di sampul National Geographic tahun 1975, dan anaknya, Fred Galdikas, yang sedang mandi dengan orangutan di sampul National Geographic tahun 1980. Ada pula satu dinding terisi penuh dengan silsilah orangutan di area sekitar Camp Leakey. Juga ada tempat pemutaran film yang sayangnya saat ini dalam kondisi rusak.

Salah satu orangutan yang lebih suka menghabiskan waktunya di Camp Leakey adalah Siswi. Dia adalah salah satu binatang film di film Born to be Wild 3D. Di film tersebut, Siswi adalah orangutan yang mengambil mie instan dari piring milik Birute Galdikas. Siswi dijuluki sebagai ‘resepsionis’, karena biasanya merupakan orangutan pertama yang dijumpai oleh wisatawan di Camp Leakey.

Cerita tentang orangutan ini bermacam-macam. Seperti manusia, mereka memiliki sifat dan persona yang berbeda-beda. Dan mereka memperlakukan orangutan lain dengan berbeda-beda sesuai dengan sifatnya masing-masing. Contoh saja, dulunya Siswi merupakan betina favorit dari Kusasi, sang raja orangutan terdahulu, sampai-sampai dia dijuluki sebagai ratu orangutan. Tetapi kemudian dia sakit, dan setelah sembuh Siswi seperti kehilangan daya tariknya, dia dicuekin Kusasi. Tak lantas putus asa, Siswi selalu caper di hadapan Kusasi, walaupun Kusasi tak pernah lagi memperhatikannya.

Ketika Kusasi digulingkan, dan Tom memegang takhta kerajaan orangutan setempat, Siswi juga selalu caper di hadapan Tom. Sampai suatu saat Tom merasa terganggu dengan aksi Siswi dan kemudian mengusirnya. Siswi merasa sedih dan selama beberapa hari lebih suka diam dan menyendiri. It’s complicated adalah status hubungan Siswi seandainya saja dia memiliki akun Facebook.

Saat menceritakan kisah-kisah orangutan ini, pemandu kami selalu menceritakannya dengan semangat dan berapi-api, tak jauh berbeda dengan pembawa acara infotainment di televisi. Memang inti ceritanya pun tak jauh berbeda dari gosip-gosip di antara manusia, yaitu cinta dan kekuasaan. Beberapa film dokumenter pun mengambil sudut pandang Orangutainmentâ„¢ ini, misalnya The Orangutan King dari BBC Natural World, atau From Orphan to King dari PBS Nature.

Dari pusat informasi kami berjalan sejauh 1,2 km untuk menuju tempat pemberian makan. Di Camp Leakey, makan diberikan pada jam 2 siang. Kami berjalan bersama dengan Siswi yang juga menuju tempat pemberian makan. Namun karena Siswi berjalan lambat, dan di belakang kami ada beberapa orangutan yang dengan cepat mendekati kami, kami memutuskan untuk meninggalkan Siswi.

Situasi menegangkan sempat terjadi di tempat pemberian makan ketika Tom, raja orangutan setempat bermaksud untuk mendatangi tempat pemberian makan. Tetapi ia datang dari belakang tempat wisatawan, dan harus melewati kami semua. Pemandu kami dengan sigap menyuruh kami untuk memberi jalan kepada sang raja orangutan seberat 140 kg tersebut. Saat akan melewat kami, Tom sempat mengamuk dan melempar sebuah balok hanya dengan satu tangan. Setelah ditenangkan pemandu, akhirnya Tom bergerak ke tempat pemberian makanan dan menyantap makanannya.

Dari Camp Leakey kami menaiki klotok dan menuju dermaga Pondok Ambung untuk mandi. Dermaga Pondok Ambung masih berada di daerah Sungai Sekonyer Kanan yang airnya jernih. Klotok kami memompa air sungai ke pancuran di dalam kamar mandi. Dan ternyata air sungai ini memang jernih dan menyegarkan.

Pondok Ambung sendiri merupakan tempat penelitian hutan tropis. Tetapi kami tidak turun dan hanya singgah untuk mandi.

Dari Pondok Ambung, kami kemudian bergerak ke dermaga Pesalat untuk bermalam. Dari Pondok Ambung ke Pesalat berjarak 19 km ke arah muara sungai, dan memakan waktu sekitar 2 jam 45 menit.

***

Pagi hari, kami menuju tempat rehabilitasi hutan Pesalat yang berjarak sekitar 1,2 km dari dermaga Pesalat. Daerah ini dulunya adalah ladang yang menggunakan teknik pembakaran ladang berpindah. Walaupun dikelilingi hutan lebat, daerah ini sulit untuk tumbuh menjadi hutan dengan sendirinya karena dipenuhi alang-alang.

Sisa-sisa hasil pembakaran hutan dapat ditemui di sini. Termasuk sisa dari sebuah pohon ulin setinggi sekitar 20 meter yang dalamnya berongga. Pohon ini dihuni burung pelatuk, dan mengeluarkan suara yang khas jika burung-burung tersebut mematuk.

Di sini dapat ditemukan sebuah tempat penginapan sederhana dan sebuah pusat informasi yang juga menjual suvenir.

Di Pesalat kami melakukan penanaman sebanyak sekitar 20 bibit pohon dari berbagai jenis. Setiap pohon nantinya akan diberi identitas siapa yang melakukan penanaman.

Dari Pesalat, kami menaiki klotok untuk menuju Taman Wisata Alam Tanjung Keluang. Tanjung Keluang terletak di teluk Kubu, di tepi Laut Jawa, dan sudah jauh di luar daerah Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan dari Pesalat ke dermaga Tanjung Keluang menempuh jarak 35 km dan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.

Tanjung Keluang adalah lokasi seluas 2000 hektar di ujung selatan Kabupaten Kotawaringin Barat yang ditetapkan sebagai taman wisata alam. Tempat berlabuh kami adalah sebuah semenanjung tipis memanjang dengan lebar hanya sekitar 50-100 meter. Dulunya pernah terjadi kebakaran hutan di daerah ini, tetapi sudah diperbaiki dengan penanaman pohon-pohon cemara laut. Sayangnya, abrasi pantai masih menjadi masalah serius di daerah ini.

Peta perjalanan hari ketiga

Di Tanjung Keluang terdapat sebuah pusat pengembangbiakan penyu sisik. Setiap malam, petugas akan menyusuri pantai untuk mencari penyu yang bertelur. Penyu-penyu ini akan dibantu untuk bertelur dan dilindungi dari hewan pemangsa. Sedangkan telur-telurnya akan dibawa ke pusat pengembangbiakan dan ditetaskan, aman dari ancaman hewan pemangsa. Setelah cukup umur, penyu-penyu kecil tersebut akan dilepaskan ke laut. Harapannya, setelah mereka dewasa, mereka juga akan kembali lagi ke pantai ini untuk bertelur.

Sore hari, kami melepaskan beberapa anak-anak penyu itu ke laut.

Keunikan pantai Tanjung Keluang ini adalah berbentuk semenanjung tipis yang membentang dari utara ke selatan. Jadi, di pantai ini wisatawan dapat menikmati matahari terbit dan juga matahari terbenam tanpa harus berjalan jauh. Kekurangannya adalah cakrawala tidak steril dari daratan. Di sisi barat pantai ini ada Pantai Kubu. Sedangkan di sisi timur terbentang Taman Nasional Tanjung Puting. Walaupun demikian, menurut saya ini tidak mengurangi keindahan pantai ini.

Malam hari, kami bersama petugas dari Tanjung Keluang menyusuri pantai timur Tanjung Keluang sepanjang tiga kilometer untuk mencari penyu yang bertelur. Sayangnya malam ini tak ada penyu yang dapat kami temukan. Kami kembali ke dermaga setelah membeli udang dari sebuah gubuk nelayan yang terletak di sisi barat pantai. Malam kami habiskan dengan pesta udang sambil menikmati pemandangan bintang di langit.

Malam ini, kami kembali bermalam di klotok, yang ditambatkan ke dermaga pantai Tanjung Keluang.

***

Hari berikutnya adalah waktunya kembali ke peradaban. Kami menaiki klotok untuk menuju Pantai Bugam Raya di Desa Kubu. Pantai ini berjarak lima kilometer ke arah utara dari dermaga Tanjung Keluang. Dari Desa Kubu, kami menaiki mobil yang telah disiapkan untuk kemudian kembali ke Pangkalan Bun. Dalam perjalanan sejauh 28 km yang memakan waktu satu jam itu, kedua sisi jalan didominasi oleh perkebunan kelapa sawit, pemandangan yang sangat berbeda ketika kami masih di taman nasional. Setibanya di Pangkalan Bun, kami langsung menuju Yayasan Orangutan Indonesia.

Peta perjalanan hari keempat dan kelima

Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk menyelamatkan satwa liar melalui pelestarian hutan hujan sebagai habitatnya. Markas Yayorin yang rimbun dengan pepohonan ini sangat mengesankan. Di dalamnya terdapat perpustakaan luas, tempat pemutaran film, pendopo, toko suvenir dan masih banyak lagi. Ada juga kebun dengan berbagai macam tanaman dan kolam ikan. Kabarnya, masyarakat sekitar dapat menikmati fasilitas di markas Yayorin ini tanpa dipungut biaya.

Dari Yayorin, kami menuju Swiss-Bel Inn untuk bermalam. Saat artikel ini ditulis, hotel yang baru dibuka dua bulan lalu ini adalah satu dari dua hotel berbintang yang ada di Pangkalan Bun, dan satu-satunya hotel berbintang tiga di Pangkalan Bun. Setelah merasakan bermalam di atas klotok dua malam berturut-turut, bisa merasakan tidur di kamar yang rapih dan nyaman tentu merupakan suatu kenikmatan. Walaupun ini semua tentunya tak dapat menggantikan sensasi tidur di alam bebas yang kami rasakan dua hari sebelumnya.

***

Hari terakhir di Kalimantan (berdasarkan rencana) dimulai dengan kunjungan ke Istana Kuning. Istana Kuning merupakan pusat kerajaan Kota Waringin, yaitu sebuah kerajaan Islam yang berada di selatan Pulau Kalimantan. Lokasi kerajaan ini meliputi daerah yang saat ini menjadi Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Sukamara dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Istana Kuning yang ada sekarang merupakan hasil pemugaran, setelah sebelumnya terbakar pada tahun 1986.

Kota Pangkalan Bun menjadi ibukota Kotawaringin sejak tahun 1814. Sebelumnya ibukota kerajaan ini terletak di Kotawaringin Lama. Perpindahan ibukota ini diresmikan dalam bentuk tiang bendera yang saat ini masih berdiri dan dilestarikan di seberang Istana Kuning.

Sore hari, seharusnya kami langsung terbang ke Jakarta. Tetapi karena ada masalah teknis, penerbangan kami dibatalkan. Kami terpaksa terbang ke Pontianak dan transit semalam, sebelum akhirnya terbang kembali ke Jakarta. Berdasarkan beberapa ulasan yang saya baca di Internet, kejadian seperti ini tidak jarang. Wisatawan dianjurkan untuk merencanakan jadwal penerbangan yang fleksibel untuk menghindari hal-hal seperti ini, terutama bagi wisatawan dengan jadwal penerbangan lain yang terhubung.

31 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!