Hitung-Hitung Tenaga Surya
Slashdot memberitakan bahwa Google akan memasang pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi kantor pusatnya di Silicon Valley, California. Berita bagus, tapi saya lebih tertarik pada komentar ini:
OK. One square meter of solar panel is typically good for 130 watts at peak, but only about 655 watt hours per day, or 27 watts averaged over 24 hours. In other words, the average power is about 20% of the peak.
Sekarang bagaimana jika seluruh genting di atap rumah saya diganti dengan panel tenaga surya?
Berdasarkan perkiraan, luas atap rumah saya adalah paling tidak 60 m². Jika seluruhnya dipenuhi panel tenaga surya, maka kami akan mendapatkan 60 m² * 655 (Wh/hari)/m² = 39,3 kWh/hari atau kurang lebih 1179 kWh/bulan.
Tentunya itu adalah kondisi idealnya. Pertama, angka 655 Wh/hari mengasumsikan matahari bersinar terus menerus 12 jam pada siang hari. Sedangkan menurut Weather Centre BBC, sinar matahari tidak menyinari kota Jakarta selama 12 jam terus menerus. Menurut BBC, kota Jakarta mendapat sinar matahari selama rata-rata 6.5 jam setiap harinya, perhitungan: (5+5+6+7+7+7+7+8+8+7+6+5)/12 = 6.5. Dengan memperhatikan faktor cuaca, maka pendapatan energi dari panel tenaga surya di atap rumah saya menjadi 1179 kWh/bulan * 6.5/12 = 639 kWh/bulan. (Ya, saya tidak bermimpi punya rumah sendiri di Jakarta, tapi Depok tidak terdaftar pada BBC)
Selain itu, panel tenaga surya menghasilkan listrik arus searah, sedangkan peralatan di rumah membutuhkan listrik arus bolak balik. Untuk mengkonversikan listrik arus searah ke listrik arus bolak balik dibutuhkan inverter. Menurut solar-electric.com, efisiensi rata-rata inverter adalah sekitar 90% dan lebih kecil dari itu jika beban bersifat reaktif. Anggaplah rata-rata efisiensi inverter yang digunakan adalah 75%, maka pendapatan energi dari panel surya akan menjadi 75% * 639 kWh/bulan = 479 kWh/bulan.
Kemudian, ada masalah penyimpanan energi. Panel surya jelas hanya dapat beroperasi pada siang hari. Jika energi ini ingin digunakan pada malam hari, maka kita akan memerlukan penyimpanan energi. Mungkin satu-satunya penyimpanan energi yang cocok untuk pengguna rumahan adalah baterai. Menurut xtronics.com, efisiensi baterai adalah antara 45% sampai 68%. Anggaplah efisiensinya adalah 50%, sehingga pendapatan energi saya akan menjadi (479 kWh/bulan * (6,5 / 24)) + (50% * 479 kWh/bulan * ((24-6.5)/24)) = 304 kWh/bulan. Catatan: perhitungan mengasumsikan matahari bersinar 6,5 jam dalam satu hari.
Untuk pelanggan golongan R2, PLN menerapkan biaya sebesar Rp 575/kWh. Maka, 304 kWh setara dengan Rp 575/kWh * 304 kWh = Rp 174.800. Dengan kata lain, dengan menutupi atap rumah saya dengan panel tenaga surya, maka saya diperkirakan akan menghemat biaya listrik kurang lebih sebesar Rp 174.800 setiap bulannya, tentunya jika pemakaian saya di atas 304 kWh.
Panel surya 175 W merk Shell dengan ukuran 63.9″x32.1″ (setara dengan 1.3 m²) dapat dibeli dengan harga $810. Untuk memenuhi atap rumah saya, maka saya akan memerlukan dana sebesar 60 m² * $810 / 1.3 m² = $37385, atau dalam Rupiah sekitar $37385 * Rp 9500/$ = Rp 355.157.500. Dan ini masih belum termasuk biaya perangkat dan instalasi lainnya yang diperlukan.
Dengan demikian, investasi awal baru akan kembali paling tidak setelah Rp 355.157.500/(Rp 174.800/bulan) = 2031 bulan, atau 169 tahun! Artinya, penggunaan panel tenaga surya di Jakarta tidaklah menguntungan secara ekonomis, paling tidak untuk saat ini.
Atau ada yang salah dengan perhitungan saya? ![]()
**Catatan: ** Mohon jangan anggap tulisan ini sebagai ‘anti energi surya’, tapi sekadar hitung-hitungan mengingat di beberapa negara maju sektor privat mendapatkan keuntungan ekonomis dengan menggunakan energi surya (penghematan biaya, insentif pajak, dan sebagainya). Tulisan saya hanya mencari apakah ada keuntungan ekonomis dengan menggunakan energi surya di Indonesia.
Tarik teknologi sel surya ke Indonesia. Sepengetahuan saya sel surya sekarang efisiensinya sudah lebih baik lagi.
Pemakaian tenaga surya sebenarnya sangat menghemat. Apalagi sekarang ini teknologinya sudah tidak mahal lagi.
halah… masuk lima besar kali ini…
btw, investasi awalnya kembali setelah 169 tahun?? keburu jamuran duluan lah…
#2 seberapa murahnya?
Hitung-hitung Tenaga Surya
Priyadi.net melakukan hitung-hitung tentang apakah tenaga surya ‘worth it’.
yah.. sebenarnya harus juga di “take into consideration”, environmental cost.
Di US, skarang mereka uda start consider environmental cost. Soalnya mereka uda ‘environment-conscious’, so kalo uda di tambah environmental cost, lebih make sense sih.
Tapi tetap saja tidak bisa lebih murah dari metode konservatif, mkanya mobil hybrid ampe skarang juga masih tidak isa di ‘embrace’ sepenuhnya.
Arrrghh.. gagal jadi yang pertama….
Tapi masuk lima besar atau nggak yah?
#5: di sana environmental cost dioffset pakai environmental tax. di sini justru disubsidi
Komen dulu, baru baca…
10 besar?
10 besar…
aku pernah dengar dosen fisika ITB ada yang menemukan paten mengenai sel surya yang memiliki efisien sangat tinggi… lupa baca artikelnya di mana…
berarti listrik yang dihasilkan akan berkurang jika masuk inverter
Nggak ada yang salah dengan itung-itungannya mas Pri. Yang salah itu mimpinya
*Mimpi PLTN di Indonesia aja yuk*
Kalo seluruh atap rumah dipasangi PV cells akan jadi kurang efisien kayaknya. Katanya sih paling sip kalo diarahkan ke true south jadi dapet maximum amount of sunlight, katanya sih orientation dan angle of inclinationnya harus bener, kalo satu aja dari 36 cells (misalnya) gak dapet cukup maka outputnya bisa berkurang sampe setengah!
Info di atas (plus banyak yg lain) gua dapet dari sini:
http://science.howstuffworks.com/solar-cell.htm
http://home.howstuffworks.com/question418.htm
hihihi…udah ngitung banyak2 sampe binun baca-nya ternyata hasil-nya jauh dr kemampuan…tapi kalo nggak di-itung ya nggak bakalan tau…mmhhh…satu atap penuh pake panel tenaga surya…??? jd-nya kaya apa ya…???
oom pri memang jago itung-itungan
kenapa musti tenaga surya !! bukan ka lebih baik bio gas !??!! kan di indonesia masih banyak potensi bio gas ?!? klo pake tenaga surya gimana dengan jawapos dengan kompas


Selama teknologi batere masih mahal harganya maka penggunaan tenaga surya tidak akan menarik.
mas pri ini emang slalu punya banyak waktu untuk itung2an kaya gini
klo pak pri gak mao tenaga surya, mungkin tenaga angin bs masuk itungan, ato tenaga aer sekalian, tp emang dibutuhin kuping yg tebal, soalnya berisiikk bgt…gak cucok dipasang di jakarta
Hmm … masih mahal juga ya, tapi bagaimana dengan yang menyebutkan teknologi ini sudah tidak mahal dan sebenarnya sangat hemat pemakaian?
PLN?
Adakah tehnik yang lebih murah? 169 taon? Sejatinya itu terlalu lama!
coba hitung ulang pri
*sodorin kalkulator*
169 taon dengan asumsi sinar matahari ampe 6.5jam, lah sbg org depok qt tau ndiri kan um depok lbh sering mendung&ujan dibanding jakarta, jangan2 cuman 5jam doanx
mgk teknologinya akan cucok di Indo bag timur ato afrika
tolong um di itung lagi
Kalo gak salah udah ada yang murah deh, tapi entah dimana carinya
Kalau tidak efisien, kenapa banyak jam tangan dan kalkulator memakai tenaga surya?
Mungkin beda hitungan dan faktor-faktor lain, tapi kan sama-sama solar cell.
Size does matter?
keren itungannya….
INTInya teknologi Solar Panel blon bisa di aplikasikan ke endonesia yah? belom lagi kalo kena asap seperti sekarang saya di Balikpapan…tambah mubazir tuh teknologi.disini orang cuman pake buat water heater doang.
solar cell paling ekonomis digunakan pada kalkulator
#25: jam tangan dan kalkulator kan skalanya miliwatt, bahkan ada jam tangan yang hanya butuh energi setengah cahaya lilin untuk berdetak setahun lamanya.
#1, panel surya yang dibahas di sini apa bedanya dengan sel surya yang anda klaim “lebih efisien”?
Kalau solar cell nya dibuat sendiri, secara massal, dengan semangat seperti bikin busway atau tanggul sidoarjo, pasti bisa lebih murah.
Dan semua genteng nantinya wajib diganti dengan solar cell.
*mimpi?*
Harga Solar Cell mahal karena belum mencapai skala ekonomis. Tetapi jika penggunaannya semakin banyak, bukan tidak mungkin bila menjadi sangat murah. Kalau tdk salah kalkulator solar cell harganya cuma Rp. 5,000. Semoga dlm waktu dekat harga per meter perseginya (atau per watt-nya) menurun.
Saya juga pernah berangan-angan memiliki modul solar cell sendiri untuk pembangkit listrik di rumah.
(http://energi.wordpress.com)
Hitung..hitung teruss..
energi dari panel/sel surya yang mahal itu perlu disimpan dalam storage energy berupa deepcycle battery, nah itu kerjaan gw, so jika butuh battery untuk storage energy ini let me know lah… heheheh
tertanda dari tukang battery
ah… tunggu aja akhir tahun… biasanya kan diskon gede2an tuh
… kalo diskon 75%… berarti harga nya jadi 88.789.375… dibagi 174.800 = 507 bln= 42 th
Eh… ternyata tetep lama juga ya…
Kalo menurut aku… ga masalah lah pake tenaga surya… setidaknya itu lebih efektif karena merupakan sumber daya yang lebih terjamin keberadaannya daripada hanya mengandalkan minyak bumi (yang tidak bisa diperbarui)…
Yakin deh… kedepannya juga bakal ada pembaruan teknologi… yang membuat kita ga bakal menunggu selama itu…
Perlu dingat Indonesia terletak di Khatulistiwa sehingga lebih banyak spektrum matahari dibanding Eropa. So, lebih banyak listrik yang tercipta.
Yang kedua, coba hitung investasi jika Mas Pri membuat energi listrik menggunakan turbin air (seperti PLTA). Dengan kata lain, Mas Pri memiliki PLN sendiri. Menggunakan turbin sendiri (kincirnya diputar pakai air PAM?), transformator sendiri, dll. Pasti jatuhnya akan sangat mahal, lebih mahal dari langganan PLN.
Itung-itungan efisiensi mestinya pada skala masif. Kalau dihitung menggunakan skala rumah tangga, misalnya Mas Pri bikin listrik tenaga surya sendiri, bikin PLN sendiri, atau malah ingin bikin listrik tenaga nuklir sendiri, jelas tidak efisien.
Pada umumnya, industri-industri besar di Indonesia menggunakan catu daya internal seperti menggunakan genset, setidaknya untuk cadangan. Ini untuk menjaga jaminan ketersediaan pasokan, karena “listrik negara” masih belum bisa diandalkan.
itung2an itu hanya berlaku untuk rumah Mas Pri saja. menurut saya, harga akan berbanding terbalik dengan jumlah solar cell yg dibutuhkan.
Ada dosen saya di ITB (Pak Pekik) yang bilang kalo Sumber Energi Alternatif tidak akan (belum?) bisa menggantikan Fosil Fuel (MiGas dan Batu Bara). Jadi penggunaan Panel Surya, Tenaga Angin, dll ya emang bukan dengan alasan ekonomis semata. Di Jakarta kok pake panel surya buat keperluan sehari-hari
Kayaknya emang cuma PLTN yang bisa lebih ekonomis daripada Fosil Fuel.
Link ini mungkin bisa jadi referensi?
http://khairulu.blogsome.com/2006/05/10/solare-tenaga-surya-led/
Ngapain juga ngeluarin modal mahal-mahal pake solar cell, wong pake PLN disubsidi… hehehehehe
IN SOME CASE
Alternatif penggunaan energi surya bukan ditilik dari segi ekonomisnya, palagi dibanding dengan PLN. tapi lebih melihat dari sisi penghematan sumber energi yang ada.
jelas tidak ekonomis jika dibandingkan tarif PLN. tarif PLN itu juga karena asas “Pasal 33 UUD” untuk kemakmuran rakyat, seharusnya jauh lebih mahal daripada itu
Solar energi ini emang masih rendah efesiensinya kalo di konvert dulu ke energi listrik. Efesiensi tinggi kalau langsung digunakan untuk jemur pakaian, krupuk dan ikan asin. btw jadi inget menristek (bukan yang sekarang) pernah bilang hasil riset di BPPT tentang “solar energi” bisa dimanfaatkan oleh para nelayan (yang lagi krisis minyak solar?)
Hitung2annya u/ perumahan nggak masuk akal karena harga PLN kan harga disubsidi (yg Rp170an rb/bln). Walaupun mungkin BBMnya tdk disubsidi lagi, investasi awal untuk alat, bangunan, teknologi, jalus distribusi dll dulu2nya sudah disubsidi.
Selama masih ada subsidi bagi sumber energi tertentu, maka sumber energi lain akan terlihat lebih ‘mahal’. Tapi yang jelas peralihan ke sumberdaya terbarukan harus mulai dikembangkan teknologinya, krn yg tidak terbarukan sudah *pasti* akan habis. Semakin langka, semakin mahal.
Beralih ke biofuel (apalagi dengan subsidi) sebenarnya hanya mengulang ketotolan jaman dulu. Apa menanam jathropa/kelapa sawit/lain-lain tanaman tidak perlu LAHAN? Sedangkan kita tahu bahwa lahan di Indonesia sudah sangat bersaing penggunaannya u/ industri, pertanian, pemukiman, resort, konservasi, dll. Sebentar lagi (dan di berbagai tempat sudah terjadi), lahan pun menjadi langka.
Kuncinya diversifikasi energi. Seperti warung tenda: untuk masak capcay pakai gas; untuk semur pakai arang; untuk sate kombinasi arang dan kipas angin (listrik PLN); untuk lampu dari listrik PLN.
Saya lihat di pulau2 di Riau, dan di pedesaan di Merauke, penggunaan solar panels masuk akal. Alasan terutama 1) krn keperluan daya tidak besar, 2) biaya investasi tidak besar dibandingkan sumber energi lain. Daripada membangun infrastruktur listrik PLN hanya untuk puluhan keluarga, tdk ekonomis.
Dalam skala keluarga/rumah tangga, diversifikasi ini juga perlu, tapi teknologi tidak akan sampai ke level konsumen kalau salah satu sumber energi unggul scr tdk wajar (i.e. disubsidi)…
hmm,
kenapa di bagian akhir harus dibagi 24 lagi?
hitungan 6.5 jamnya kan sudah di bagian atas.
problem yang pernah saya alami sehubungan dengan solar panel adalah rumitnya maintenance. meskipun penggunaannya lebih pada memasok energi untuk mengoperasikan sirine peledakan, namun maintenance costnya bisa sangat mahal.
jadi (kalo niat) itungannya bisa ditambahkan maintenance cost dan juga kemungkinan kenaikan harga TDL (pasti naik kan?) yang akan mengurangi jumlah tahun kembalinya investasi.
mas pri, belum ngitung bea beban, masih pake tarip subsidi, nggak ngitung kerusakan lingkungan.
mungkin perlu juga mengembangkan storage yang handal dan alat listrik yang yang makin irit kaya’ jam dan kalkulator
sepintas.dulu saya pernah kepikiran juga tentang TS ini waktu liat ada “bang jo” yang pake Ts.
Cuman males nyari referensi aja
tenkyu mas pri yang udah ngasih itung2an.
waduhh, hold your horses… tulisan saya bukan maksudnya anti energi surya lho. ini cuma ngitung2 apa ada keuntungan ekononis kalau saya masang panel surya di atap rumah saya. garis bawahi ‘keuntungan ekonomis’
#44:
yup, ini memang cuma perhitungan dari sisi ekonomis. sektor privat sih gak peduli pakai energi tersubsidi atau tidak tersubsidi, mereka akan pilih yang paling menguntungkan untuk mereka.
#43:
yang diatas karena ada asumsi sinar matahari tidak tertutup awan selama 12 jam terus menerus. sedangkan yang di akhir karena diasumsikan malam hari juga pakai energi surya yang disimpan di siang hari.
#40:
betul. tapi bagi rakyat jelata, segala jenis energi tetap harus bersaing, disubsidi atau tidak. jadi, saya setuju kalau subsidi energi dihapuskan.
#36:
betul, ini harga ‘early adopter’
. tapi sebenernya, harga di atas mengacu pada harga pasaran di amerika utara, yang pasti akan lebih murah daripada harga ‘early adopter’ di indonesia.
#35:
sengaja saya hitung pakai skala rumah tangga, karena skenarionya apa yang terjadi kalo saya masang itu di atap rumah saya sebagaimana google memasang di instalasi mereka
. mereka jelas dapat keuntungan karena listrik gak disubsidi, dan ada tax incentive, beda dengan di sini.
#19:
mungkin di negara lain, dimana energi tidak disubsidi?
coba genting atapnya diperbesar…pasti untung deh
Haha, mas Pri keren juga, harusnya dapet gelar SE manajemen ekonomi.
.
Kalau satu komplek perumahan akan jauh lebih baik, biayanya jadi lebih ringan (hitungan feeling). Good idea juga sih mas.
Itungannya jelas bikin rugi untuk rumah tangga, untuk bisnis terjadi polarisasi. Yang mas Pri liat dari kacamata manajemen. Jelas rugi untuk Rumah Tangga.
.
Nice Article Mas
itung itungan diatas masih lebih murah dibanding memakai listrik tenaga Surya Paloh bayangin aja 1 jam surya paloh di bayar berapa … buat mutar generator ……. kaburrrrrrr
hummm, gimana kalo dibalikkan bahwa justru si energy surya ini untuk yang massif? sebuah plant besar2an… mungkin itung2an justru berbeda (malah jadi ekonomis?) aku pernah baca artikel di majalah renewable energy tentang sebuah ‘desa’ yang seluruh energinya disuplai dari energi terbaharukan (termasuk energi surya)… nanti cari lagi dulu deh majalahnya, semoga masih ada
…
menggunakan angin? sayangnya gak bakalan mungkin pasang wind turbine (dalam skala wind farm?) di deket jakarta… anginnya kurang kenceng dan agak2 ‘basah’… untuk kawasan indonesia, sepertinya hanya di daerah NTT dan Lombok saja yang anginnya memadai (CMIIW)
solusi mikro & mini hidro? sangat menarik… tapi di Jakarta? sungainya ajah pada buntet… gak cocok juga ya? hehehe.. jadi apa dong yang cocok untuk jakarta?
bisa investasi tujuh turunan… 169 taun bo
wah, ide bgs jg tu
stidaknya kita jd tidak dependent ama PLN yang udah mulai keabisan listrik 
kalau begitu saya tak akan mengganti atap rumah dengan panel sel surya… karena belum ada rumahnya
Kebanyakan negara maju punya nuklir buat pasokan /kebutuhan energinya, udah saatnya kita explor kesana sambil terus mengembangkan alternatif sumber pembangkit energi lainya.
Ayo hembuskan semangat membangun nuklir
, menggandeng Iran? - ada yang takut?(kena embargo?)
Kalo listrik yang diproduksi panel surya itu tidak disimpan, tapi dijual ke PLN pada siang hari dan malam hari kita tetap pake listrik dari PLN gimana? Siang hari, meteran listrik kita berputar terbalik dan malam hari berputar normal.
Di US, skarang mereka uda start consider environmental cost. Soalnya mereka uda ‘environment-conscious’, so kalo uda di tambah environmental cost, lebih make sense sih.
Hanya gw yang pake…
kok ikonnya ga pake emas?
Test browser baru
100 besar! Gimana kalo ngumpulin panel surya punya kalkulator bekas yg masih jalan, trus ditempelin di atap rumah. Kira2 butuh berapa biji kalkulator ya?
Kalau melihat besarnya biaya investasi awal, pastilah tidak terjangkau kebanyakan rakyat Indonesia. Menurut pendapat saya, biofuel lebih murah. Tapi biofuel yang yang saya maksud bukan sebangsanya biodiesel, metanol, dsb, melainkan berbagai macam limbah atau hasil sampingan pertanian/perkebunan seperti tongkol jagung, kulit kacang, ranting kayu, tandan kelapa sawit, dll. Suply relatif kontinyu dan tidak perlu menambah lahan terlalu banyak. Yang sekarang menjadi masalah adalah belum ditemukan teknologi yang memungkinkan untuk diterapkan dalam skala kecil dengan investasi awal dan biaya operasional yang kecil pula. Sekedar info, saya sedang melakukan eksperimen untuk mengembangkan teknologi dimaksud dan sudah sampai tahap pembuatan prototype. Info perkembangannya dapat dilihat di http://energi.wordpress.com/
Terimakasih.
Kalau kita bicara mahal itu karena belum seimbangnya antara supply dan demand, tetapi bila nanti datang waktunya atau trend kita harus menggunakan tenaga surya maka harga akan terus turun seiring dengan demand yang makin membesar.
Dulu tahun 1990-an tidaklah effektif untuk menggunakan HP karena pada waktu itu tidak banyak demand akan teknologi ini jadi sangat mahal untuk 1 unit hp seharga lebih dari 15 juta. Tetapi lihatlah sekarang tukang becak pun sudah tenteng2 hp.
Apalagi nanti bila panel surya ini sudah dibuat di negeri Jungkuo (Baca: Cina) wah bakalan harganya bisa cuma 1 jutaan untuk seluruh genteng rumah.
Makanya jangan pesimis dulu, tinggal menunggu waktu saja.
Saya sangat setuju sekali akan penggunaan alternatif energi Tenaga surya.
#Ikmanputra#
mending duit buat beli panel surya nya dikasih pinjem ke PLN, buat beli mesin diesel, kasihan tuh wilayah NTB dapet pemadaman bergilir karena mesin nya gak memadai:
(
Horeeee…..libur panjang….ciiihhuuyy…..
Efisien kalo minyak bumi udah habis sehingga PLN nggak bisa ngutang BBM lagi. Gimana kalo kita ikut ngetes Nuklir aja…
absen dulu, komentar belakangan.. hore 100 besar
Teknologi kalo baru pertama di ciptakan emang berat di ongkos . Banyak cost yang harus keluar buat penelitian, uji coba dan tetek bengek lainnya(biaya investasi). Jadi itungannya jatuhnya mahal. Tapi lihat ke depannya, kalo tenaga surya bener2 bisa dioptimalkan, dan sistemnya dah bisa dipabrikasi, ada kemungkinan bisa menghemat, karena Indonesia kaya akan matahari, ga kaya negara Eropa atau Amerika yang bener2 miskin matahari. Semoga matahari di negeri tercintaku akan terus bersinar.. jangan seperti di sini yang mau cicipin matahari aja suseh! Huhhhuuu, kangen matahari Indo euy..
mimpi punya listrik sendiri dan murah …. memang mahal mewujudkan mimpi .. tapi tidak mustahil suatu saat pemerintah bisa menggratiskan solar cell kayak BLT
sempet mikir begitu, namun stelah sampeyan ngitung koq jadi urung niat saya.
Informasi sedikit dari yang udah make: Saya lupa konversinya, cuman bila dibandingkan dengan UPS 500(500W/Jam), –biasanya isinya 3 Baterre Kering. harganya 1.500.000 s/d 2.500.000. 1 Unit cukup sekali untuk penerangan rumah sederhana. Katakanlah 1 lampu pakai bolham TL hemat energy, 15W jadi kalau ada 3 bolham bisa dipakai 10 Jam atau lebih dalam 1 hari. Kalau untuk Tiang antena Wireless atau BTS lainnya, kayaknya model ini udah banyak dipakai deh, arahnya harus jam 10-11, atau jam 13-14 agar waktu pengisian lebih panjang.
wah.. aku malah bingung baca komentarnya
Emang masih sangat mahal mas. Kebetulan belum lama kantor saya dengan dana APBN ada memasang PLTS untuk desa2 belum berlistrik dengan daya 50 Watt Peak untuk tiap rumahnya. Dengan investasi sekitar 4 - 5 jt per perumahnya, mungkin ada yang bilang mahal, tapi memang lokasinya yang emang benar2 mantap, krn di tengah lautan hehehe. Jadi gede di ongkos angkutnye, karena tidak ada transportasi reguler…
Kita pasang sekitar 200 rumah berarti biaya investasi sekitar Rp. 5 jt x 200 = 1 Milyar. (kita angggap 5 jt)
Nah masalah timbul karena typikal watak orang Indonesia adalah tidak dapat menjaga / merawat, biasaynya 3 bln, udah mulai timbul masalah, mulai akinya dilepas, males isi air aki, malah ada yang dibawa kabur, biasanya pas kita evaluasi 1 tahun kemudian yang masih beroperasi paling dibawah 10% padahal pada awal kita sudah berikan pelatihan perawatan, dan kita harapkan adanya iuran, bukan untuk kantor kami tapi untuk mereka sendiri.
Tapi ya itulah yang terjadi, mungkin kalau yang dikasih mas priyadi, bakalan awet tuh PLTSnya hehehe…
Harga energi memang sangat mahal. Mas yang di Pulau Jawa mungkin jarang mengalamin yang namanya mati lampu. Di kota kami Pontianak status kelistrikan bukan lagi kritis tapi sudah krisis.
Sebgain besar pembangkit menggunakan diesel yang sangat mahal operasionalnya. Kata orang PLN harga Solar Industri sekitar Rp. 6.500,- dan tiap 1 Liter efektif ngasilin 3 kWH yang harganya gope’ untuk tiap kWHnya, jadi untuk tiap liter subsidinya Goceng, itu belum termasuk oli dll.
Belom lama saya ada ngitung Cashflow Pembangkit Listrik Tenaga Kopra teknologi Jerman, setelah tak hitung secara kasar harga per kWHnya yang pantas adalah sekitar 3 rb ke atas jadi bayangin aja mahalnya harga energi.
Jadi hemat2 ya hehehe.
Solusi lain :
1. Angin (Masih mahal) - kondisi angin kita pelan banget sekitar 5 m/s bandingin di negeri asalnya sekitar 15 m/s…
2. Air (Murah) - tidak semua daerah ada, lokasi terpecah2
3. Batubara (murah) - tapi bakalan habis
4. Biofuel (Mahal)
5. Nuklir (Handal) - cocok nih untuk pulau jawa, sekali bangun kalau gak salah 1000 MW
6. Surya (Mahal)
Sekedar menambah info:
http://news.com.com/Dishing+out+power+with+a+solar+engine/2100-1008_3-6129168.html?tag=nefd.lede
mungkin bisa sedikit lebih irit jika panel suryanya nyomot yg ada di lampu merah depan lab pramitha jogja. lumayan ada 3 panel (atau lebih yach) ukuran sekitar 80×50 cm

Aneh kok banyak banget yang support PLTN? Apa tidak pernah melihat dokumentasi insident Chernobil? Birokrat Indonesia ngurus WC di Airport International ajah engak becus… apalagi mo ngurus PLTN?
Fokus kita sebaiknya adalah bagaimana mengefisienkan kinerja dan keuangan PLN, terutama korupsi2nya. Kalau korupsinya masih besar, mau pakai PLTAM (Pembangkit Listrik Tenaga Anti Matter), listrik di Indonesia juga tetap akan langka dan mahal.
===
Kalau di Jakarta, bagaimana kalau pemda mulai membangun tempat pengelolaan sampah muktahir seperti di Singapur, yang juga bisa menghasilkan energi listrik dari pembakaran sampah.
masih mending pake Nuklir ya


Hmm, gimana kalo bikin stasiun panel surya luar angkasa yang mengorbit bumi, terus tinggal tarik kabel ke bumi. Berapa m2 panel yang dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi se-Indonesia?
Siapa yang mau ngitungin?
*ngasal mode*
Hehe, 169 tahun yah? Padahal operation time perangkatnya max cuman 30 tahun.
wow..silau maan….
Problemnya ada di efisiensi solar sel existing rata gak sampe 10%. Jika efisiensi solar sel bisa mencapai 70-80% (artinya dg dimensi yg sama, power output 7-8 kali dari solar panel existing) maka baru make sense.
…tau sendiri lah 
Jadi kalo udah kepaksa pake solar sel, ya anggap aja “better than never” deh.
Kayaknya secara teknis emang nuklir cocok, tapi non teknis gak
Rekan2 Milist yg berbahagia,
Menarik nich temanya,
ada beberapa hal penting yg saya ingin informasikan berhubungan perhitungan dr rekan kita ini,
1. Penyinaran matahari berbeda dgn light utk membangkitkan electric convertion photogeneration, maksud saya sinar matahari mutlak harus ada, namun bila mendung, ketutup awan dll, spectral matahari bisa tembus dan itu sudah 60% utk meng’active’kan electron di wafer solar cell. jadi perhitungan waktu jelas keliru. Kemudian Irradiance harus diperhitungkan sebab daya yg di cantumkan di module (dibalik module ) adalah perhitungan STC (standard test condition, 1000w/m2, 25 C, AM 1.5) kalau di indonesia Irradiance (G) bisa sampai 1500W/m2 dan T bisa 40C dan airmass bisa dibawah 1.5 (pososi matahari tepat di atas Indonesia sbg daerah katulistiwa) maka utk Material Amorphous ada hal2 yg harus di hitung ulang secara lebih significant
1. Suhu 40C material amorphous sudah ber-annealing- dan memberi recovery degradation (dimana crystalline sudah drop effeciencynya)
2. Amorphous bekerja sempurnah pada spectrum merah, sedang Crystalline (singgle dan poly) bekerja pd spectrum biru. artinya eff crystalline sempura di pagi hari sampai kira3 pk 11 siang kemudian enurun dan kembali optimal sekitar jam 3.30 sore. sedang Amorphous terus maksimum di siang hari.
3. Irradiance linier dgn photocurrent. jadi ini berhubungan dgn Inverter ke AC, akan bisa mendekati 100%
4. dengan metoda MPPT maksimum power point tracking, storage pada batteray bisa maksimum sampai 100%. Dalam hal ini bukan penyimpanan yg dibawah 100% namun banyak energy kita yg tdk tersimpan, karena keterbatasan kapasitas batteray itu sendiri.
dan ini yg terpenting…. mengapa PLN murah??? karena pemerintah mensubsidi total di FOSIL RESOURCE…. sampaikapan kita bisa begini???,20 th, 30th..??, pada saat itu ..pada saat kita sudah tidak lagi mampu mensubsidi, karena cadanga minyak sudah habis, saat itu .. baru kita panik… sedang di dunia renewable energy sudah semarak….
sekarang pemerintah negara2 Eropa mengambil TAX (pajak) dr penggunaan FOSIL RESOURCES (spt TOTAL, MOBIL OIL /dua perusaaan minyak inggris ini 40% pengexplorasi minyak Indonesia )contoh di Inggris minyak harganya 90p atau sekitar Rp. 15 ribuan (100 p = GBP 1=Rp 17.500-18.000) dimana minyak perliter harga dunia sekitar Rp.9000 an, nah dari pajak itu disubsidilah , renewable energy.
jadi kalau kita konversi atau bandingkan dgn perhitungan dibawah iya,… silakan saja, namun banyak sisi yg harus ikut diperhitungkan seperti saya uraikan diatas.
Namun, saya sangat menyadari masyarakat Renewable energy di Indonesia saat ini bukanlah anak emas, namun rekan2 yg bergerak di dunia FOSIL yg sedang tertawa.
salam sejahtera
k_astawa
rekan2 bisa juga berbagi informasi ttg solar cell di milist Solar_EnergiIndonesia juga bisa lihat2 informasi solar cell di link web ini
http://www.geocities.com/k_astawa/Solar_Energy.html