13 July 2006

Mempertanyakan Alat Penghemat Listrik (2)

Posted under: at 20:18

Sebelumnya, saya pernah menulis bahwa alat penghemat listrik tidaklah benar-benar menghemat listrik, atau paling tidak kenyataannya jauh dari klaim yang diberikan. Akan tetapi, mulai kemarin PLN melarang penggunaan alat-alat penghemat listrik.

PT Perusahaan Listrik Negara melarang penggunaan alat penghemat daya listrik, terutama di industri-industri.

Pasalnya, alat penghemat daya tersebut berpotensi merugikan PLN karena energi listrik yang terukur pada meteran menjadi lebih kecil.

Untuk tahap awal, larangan penggunaan alat penghemat daya tersebut diterapkan di wilayah Jawa Barat dan Banten. General Manajer PLN Wilayah Jabar Murtaqi Syamsuddin, Selasa (11/7) di Jakarta, mengatakan, industri atau perusahaan diberi waktu satu minggu untuk mencabut alat tersebut.

Langkah PLN ini cukup mengejutkan saya karena hampir semua dari alat-alat yang diklaim sebagai ‘alat penghemat listrik’ ini sebenarnya tidak menghemat tagihan pemakaian listrik seperti yang diklaim. Selain itu, penggunaan alat ini justru akan menguntungkan PLN karena rugi jaringan akan menjadi kecil, sedangkan yang dibayar oleh konsumen tetaplah sama.

Berikut adalah beberapa perkiraan saya mengapa PLN merasa perlu untuk melarang alat-alat ini. Untuk dasar teori bisa anda baca pada artikel saya sebelumnya.

Kemungkinan 1: Ada alat penghemat listrik jenis baru

Kemungkinan pertama adalah adanya penghemat listrik jenis baru yang menghasilkan beban reaktif secara variabel. Hasilnya akan bisa jadi akan membingungkan kWh meter yang bisa jadi didesain hanya untuk menghitung daya dengan pola tertentu.

Kemungkinan 2: Pengambil keputusan tidak mengerti teknik kelistrikan

Bisa jadi petinggi PLN yang mengambil keputusan ini tidak memahami hal-hal teknis kelistrikan yang berhubungan dengan cara kerja alat penghemat listrik.

Kemungkinan 3: PLN tidak rela jika daya reaktif (Q) dieliminasi supaya konsumen dapat memakai peralatan lebih banyak

kWh meter hanya menghitung komponen daya aktif (P), sedangkan circuit breaker memutuskan jaringan berdasarkan arus lewat. Sedangkan arus ini adalah komponen dari daya nyata (S). Hasilnya, alat-alat ‘penghemat’ listrik tipe kapasitor memang tidak akan menghemat tagihan bulanan, tetapi akan mengizinkan penggunaan alat-alat listrik yang lebih banyak. Bisa jadi PLN tidak rela jika pelanggan dapat menggunakan alat-alat listrik yang lebih banyak dengan menggunakan alat ini.

Kemungkinan 4: ada kWh meter yang sebenarnya merupakan kVAh meter

Ini kemungkinan terburuk. kWh meter menghitung daya aktif (P), sedangkan kVAh meter menghitung daya nyata (S). Daya aktif (P) selalu lebih kecil atau sama dengan daya nyata (S). Dengan demikian jika meteran listrik di rumah kita merupakan kVAh meter, maka hampir pasti kita akan membayar lebih besar daripada yang seharusnya kita bayar. Dalam kasus ini, alat penghemat listrik akan benar-benar berfungsi. Tetapi langkah yang perlu dilakukan bukanlah dengan memasang alat penghemat listrik, melainkan dengan melayangkan protes ke PLN.

Apa alasannya kWh meter ditukar menjadi kVAh meter? Ada banyak kemungkinan, bisa jadi ada meter yang tidak lulus kontrol kualitas, bisa jadi ada penyalahgunaan wewenang, atau mungkin barangkali ada komponen pada kWh meter yang tidak berfungsi setelah sekian lama beroperasi.

Untuk mengetahui apakah meter di rumah kita benar-benar kWh meter lakukan langkah-langkah berikut ini.

  1. Matikan seluruh peralatan listrik di rumah anda.
  2. Pastikan bahwa kWh meter tidak berputar. Jika berputar berarti ada kebocoran, atau masih ada alat listrik yang masih menyala.
  3. Tancapkan ‘alat penghemat listrik’ ke salah satu soket listrik. Jika anda tidak memiliki ‘alat penghemat listrik’ (selamat!), anda dapat ganti dengan kapasitor 10 µF 380 V 450 V yang harganya tidak mencapai Rp 20 ribu.
  4. Jika kWh meter berputar, maka kWh meter anda tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Silakan layangkan protes anda ke PLN.

***

Tapi itu semua baru perkiraan. Mari kita tunggu jawaban dari PLN, jika ada :).

Tambahan

104 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!