15 November 2006

Benarkah Bahan Bakar Bio Tidak Ramah Lingkungan?

Posted under: at 16:00

Kesimpulan yang dikutip dari kopipakegula.blogspot.com:

Jadi kamu jangan percaya 100% kalo ada opini “biofuel ramah lingkungan”. Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.

Benarkah demikian?

Untuk menghitung luas ladang yang harus dibebaskan kita harus mengetahui produksi bahan bakar bio setiap hektarnya.

Biodiesel:

  • Kacang kedelai: 375 liter/hektar/tahun
  • Rapeseed: 1000 liter/hektar/tahun
  • Mustard: 1300 liter/hektar/tahun
  • Jarak: 1590 liter/hektar/tahun
  • Minyak sawit: 5800 liter/hektar/tahun
  • Alga: 95000 liter/hektar/tahun

Sumber: 1

Bioetanol:

  • Gandum: 2900 liter/hektar/tahun
  • Jagung: 3500 liter/hektar/tahun
  • Switchgrass: 5700 liter/hektar/tahun
  • Tebu: 6500 liter/hektar/tahun

Sumber: 1 2

Dari presentasi Kebijakan Penyediaan dan Mutu Bahan Bakar Minyak Untuk Kendaraan Bermotor oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi tahun 2004 diketahui bahwa konsumsi bahan bakar minyak untuk transportasi pada tahun 2003 adalah sebagai berikut:

  • Premium: 11482,8 megaliter/tahun
  • Premium TT: 3164.7 megaliter/tahun
  • Pertamax: 386,3 megaliter/tahun
  • Pertamax Plus: 111 megaliter/tahun
  • Solar: 12108,9 megaliter/tahun

Sedangkan dalam urusan konsumsi, biodiesel murni (B100) lebih boros 10% dibandingkan petrodiesel. Sedangkan bioetanol murni (E100) lebih boros 34% dibandingkan bensin.

Dengan demikian, untuk dapat mengganti tingkat konsumsi Premium sebesar 11482,8 megaliter pada tahun 2003 dibutuhkan 15387 megaliter bioetanol. Di sisi lain, untuk mengganti tingkat konsumsi Solar sebesar 12108.9 megaliter pada tahun 2003 dibutuhkan biodiesel sebanyak 13320 megaliter.

Berdasarkan data di atas, untuk memroduksi 15387 megaliter bioetanol setiap tahunnya dibutuhkan 2367231 hektar ladang tebu. Sedangkan untuk memroduksi 13320 megaliter biodiesel setiap tahunnya dibutuhkan 8377358 hektar ladang pohon jarak.

Dalam satuan km², yang diperlukan untuk mengganti seluruh konsumsi Premium dan Solar di Indonesia pada tahun 2003 ke bentuk energi yang terbarukan adalah 23672 km² ladang tebu dan 83773 km² ladang pohon jarak. Jumlah keduanya adalah 107445 km² atau kurang lebih dua kali luas Jawa Barat! Sebagai perbandingan, menurut FAO Stat, lahan tebu di Indonesia tahun 2004 hanya seluas 4200 km².

Pesimis? Melihat data di atas mungkin wajar untuk pesimis. Tapi masih ada teknologi yang belum benar-benar dimanfaatkan, yaitu ladang alga yang berpotensial menghasilkan biodiesel 60 kali lipat dibandingkan pohon jarak. Selain itu, alga dapat dikembangkan di perairan sehingga tidak memerlukan banyak tempat di daratan sehingga tidak berkompetisi dengan produksi makanan untuk manusia. Dan tentunya biodiesel dan bioetanol bukanlah satu-satunya cara untuk memecahkan masalah pencemaran lingkungan dan/atau krisis energi.

Selain itu masih ada kemungkinan saya yang salah melakukan perhitungan :-?. Dan mudah-mudah memang salah hitung :D.

Dalam kesempatan ini saya juga ingin sedikit mengoreksi beberapa hal dari tulisan tersebut.

Pada campuran dengan bensin, bioethanol mampu meningkatkan nilai oktan bensin. Jadi kalo mobil kamu minum gasohol E-10, maka efisiensi kerjanya akan lebih baik dibanding kalo minum bensin biasa. Pleus…. emisi gas buangnya otomatis lebih kecil 10%…

Yang benar justru sebaliknya, kalau mobil kita minum gasohol E10, maka justru akan lebih boros. Percobaan yang dilakukan oleh Ethanol.org berkesimpulan bahwa mobil dengan bahan bakar E10 lebih boros 1.5% daripada jika menggunakan bensin biasa. Etanol memang memiliki nilai oktan lebih tinggi daripada bensin, tetapi tingginya nilai oktan belum tentu mempengaruhi efisiensi atau kadar emisi gas buang. Walaupun demikian, mereka berkesimpulan gasohol E10 lebih efisien dari sisi harga, tapi ini tentunya mengasumsikan bahan bakar minyak tidak disubsidi.

Dari banyak manfaat yang digembar-gemborkan oleh orang-orang, sebenernya cuman ada dua manfaat utama biofuel, yaitu sifatnya yang biodegradale dan kemampuannya memperpanjang umur mesin dengan cara peningkatan efisiensi kerja motor.

Sebenarnya manfaat utama bahan bakar bio adalah bahwa bahan bakar bio adalah sumber energi yang terbarukan dan efektif tidak menambah kadar polutan karbondioksida di atmosfer (netral karbon). Sedangkan bahan bakar bio tidak lebih biodegradable dibandingkan bahan bakar minyak karena hasil reaksi yang terjadi kurang lebih sama.

Bullshit kalo biofuel dibilang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya mau tidak mau hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut.

Ini setuju, jika bahan bakar bio dikedepankan menjadi satu-satunya solusi masalah tersebut.

Tapi kan biofuel bisa terbakar secara bersih alias biodegradable, tanpa emisi bo…..! Eh jeng…. emangnya situ yakin kita mampu pake bioethanol 100%? Kalo ekeu sih tidak yakin akan hal itu…. Ketika iyey menggunakan gasohol E-10, artinya yey hanya mengurangi dampak emisi sebesar 10% saja. Selama bensin di Indonesia tetep ada timbalnya, mobil yey tetep aja berkontribusi atas udara kotor di Indonesia (walopun hanya 90%)…

Ini mungkin miskonsepsi yang sangat meluas. Polutan utama BBM bukanlah timbal, bukan pula nitro-oksida, belerang-oksida atau karbonmonoksida. Polutan utama BBM adalah karbondioksida. Karbondioksida adalah polutan yang paling banyak menyebabkan efek rumah kaca. Peningkatan karbondioksida di atmosfer adalah yang menyebabkan peningkatan temperatur rata-rata bumi dalam satu abad terakhir.

Jika reaksi pembakaran bahan bakar minyak dan bahan bakar bio keduanya sama-sama menghasilkan karbondioksida dan uap air, lalu mengapa bahan bakar bio lebih ramah lingkungan? Jawabannya karena tanaman penghasil bahan bakar bio menangkap karbon dari atmosfer, yang pada reaksi pembakaran di mesin mobil akan dilepas kembali ke atmosfer. Sedangkan bahan bakar minyak berasal dari minyak bumi yang selama jutaan tahun tersimpan di dalam perut bumi. Menggunakan bahan bakar bio praktis tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer. Sedangkan menggunakan bahan bakar minyak jelas akan menambah jumlah karbon di atmosfer.

Jadi, apakah bahan bakar bio tidak ramah lingkungan? Dari sisi ekologi bisa jadi tidak ramah lingkungan karena harus ada hutan seluas dua kali Jawa Barat yang harus dibebaskan untuk ladang pohon jarak untuk menggantikan 100% penggunaan minyak bumi. Tetapi di sisi lain, penggunaan bahan bakar minyak juga bukannya tidak mempengaruhi ekologi secara negatif, dan ini terlepas dari apakah kita menghemat penggunaan bahan bakar atau tidak.

Info melalui Rendy.

122 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!