Benarkah Bahan Bakar Bio Tidak Ramah Lingkungan?
Kesimpulan yang dikutip dari kopipakegula.blogspot.com:
Jadi kamu jangan percaya 100% kalo ada opini “biofuel ramah lingkungan”. Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.
Benarkah demikian?
Untuk menghitung luas ladang yang harus dibebaskan kita harus mengetahui produksi bahan bakar bio setiap hektarnya.
Biodiesel:
- Kacang kedelai: 375 liter/hektar/tahun
- Rapeseed: 1000 liter/hektar/tahun
- Mustard: 1300 liter/hektar/tahun
- Jarak: 1590 liter/hektar/tahun
- Minyak sawit: 5800 liter/hektar/tahun
- Alga: 95000 liter/hektar/tahun
Sumber: 1
Bioetanol:
- Gandum: 2900 liter/hektar/tahun
- Jagung: 3500 liter/hektar/tahun
- Switchgrass: 5700 liter/hektar/tahun
- Tebu: 6500 liter/hektar/tahun
Dari presentasi Kebijakan Penyediaan dan Mutu Bahan Bakar Minyak Untuk Kendaraan Bermotor oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi tahun 2004 diketahui bahwa konsumsi bahan bakar minyak untuk transportasi pada tahun 2003 adalah sebagai berikut:
- Premium: 11482,8 megaliter/tahun
- Premium TT: 3164.7 megaliter/tahun
- Pertamax: 386,3 megaliter/tahun
- Pertamax Plus: 111 megaliter/tahun
- Solar: 12108,9 megaliter/tahun
Sedangkan dalam urusan konsumsi, biodiesel murni (B100) lebih boros 10% dibandingkan petrodiesel. Sedangkan bioetanol murni (E100) lebih boros 34% dibandingkan bensin.
Dengan demikian, untuk dapat mengganti tingkat konsumsi Premium sebesar 11482,8 megaliter pada tahun 2003 dibutuhkan 15387 megaliter bioetanol. Di sisi lain, untuk mengganti tingkat konsumsi Solar sebesar 12108.9 megaliter pada tahun 2003 dibutuhkan biodiesel sebanyak 13320 megaliter.
Berdasarkan data di atas, untuk memroduksi 15387 megaliter bioetanol setiap tahunnya dibutuhkan 2367231 hektar ladang tebu. Sedangkan untuk memroduksi 13320 megaliter biodiesel setiap tahunnya dibutuhkan 8377358 hektar ladang pohon jarak.
Dalam satuan km², yang diperlukan untuk mengganti seluruh konsumsi Premium dan Solar di Indonesia pada tahun 2003 ke bentuk energi yang terbarukan adalah 23672 km² ladang tebu dan 83773 km² ladang pohon jarak. Jumlah keduanya adalah 107445 km² atau kurang lebih dua kali luas Jawa Barat! Sebagai perbandingan, menurut FAO Stat, lahan tebu di Indonesia tahun 2004 hanya seluas 4200 km².
Pesimis? Melihat data di atas mungkin wajar untuk pesimis. Tapi masih ada teknologi yang belum benar-benar dimanfaatkan, yaitu ladang alga yang berpotensial menghasilkan biodiesel 60 kali lipat dibandingkan pohon jarak. Selain itu, alga dapat dikembangkan di perairan sehingga tidak memerlukan banyak tempat di daratan sehingga tidak berkompetisi dengan produksi makanan untuk manusia. Dan tentunya biodiesel dan bioetanol bukanlah satu-satunya cara untuk memecahkan masalah pencemaran lingkungan dan/atau krisis energi.
Selain itu masih ada kemungkinan saya yang salah melakukan perhitungan
. Dan mudah-mudah memang salah hitung
.
Dalam kesempatan ini saya juga ingin sedikit mengoreksi beberapa hal dari tulisan tersebut.
Pada campuran dengan bensin, bioethanol mampu meningkatkan nilai oktan bensin. Jadi kalo mobil kamu minum gasohol E-10, maka efisiensi kerjanya akan lebih baik dibanding kalo minum bensin biasa. Pleus…. emisi gas buangnya otomatis lebih kecil 10%…
Yang benar justru sebaliknya, kalau mobil kita minum gasohol E10, maka justru akan lebih boros. Percobaan yang dilakukan oleh Ethanol.org berkesimpulan bahwa mobil dengan bahan bakar E10 lebih boros 1.5% daripada jika menggunakan bensin biasa. Etanol memang memiliki nilai oktan lebih tinggi daripada bensin, tetapi tingginya nilai oktan belum tentu mempengaruhi efisiensi atau kadar emisi gas buang. Walaupun demikian, mereka berkesimpulan gasohol E10 lebih efisien dari sisi harga, tapi ini tentunya mengasumsikan bahan bakar minyak tidak disubsidi.
Dari banyak manfaat yang digembar-gemborkan oleh orang-orang, sebenernya cuman ada dua manfaat utama biofuel, yaitu sifatnya yang biodegradale dan kemampuannya memperpanjang umur mesin dengan cara peningkatan efisiensi kerja motor.
Sebenarnya manfaat utama bahan bakar bio adalah bahwa bahan bakar bio adalah sumber energi yang terbarukan dan efektif tidak menambah kadar polutan karbondioksida di atmosfer (netral karbon). Sedangkan bahan bakar bio tidak lebih biodegradable dibandingkan bahan bakar minyak karena hasil reaksi yang terjadi kurang lebih sama.
Bullshit kalo biofuel dibilang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya mau tidak mau hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut.
Ini setuju, jika bahan bakar bio dikedepankan menjadi satu-satunya solusi masalah tersebut.
Tapi kan biofuel bisa terbakar secara bersih alias biodegradable, tanpa emisi bo…..! Eh jeng…. emangnya situ yakin kita mampu pake bioethanol 100%? Kalo ekeu sih tidak yakin akan hal itu…. Ketika iyey menggunakan gasohol E-10, artinya yey hanya mengurangi dampak emisi sebesar 10% saja. Selama bensin di Indonesia tetep ada timbalnya, mobil yey tetep aja berkontribusi atas udara kotor di Indonesia (walopun hanya 90%)…
Ini mungkin miskonsepsi yang sangat meluas. Polutan utama BBM bukanlah timbal, bukan pula nitro-oksida, belerang-oksida atau karbonmonoksida. Polutan utama BBM adalah karbondioksida. Karbondioksida adalah polutan yang paling banyak menyebabkan efek rumah kaca. Peningkatan karbondioksida di atmosfer adalah yang menyebabkan peningkatan temperatur rata-rata bumi dalam satu abad terakhir.
Jika reaksi pembakaran bahan bakar minyak dan bahan bakar bio keduanya sama-sama menghasilkan karbondioksida dan uap air, lalu mengapa bahan bakar bio lebih ramah lingkungan? Jawabannya karena tanaman penghasil bahan bakar bio menangkap karbon dari atmosfer, yang pada reaksi pembakaran di mesin mobil akan dilepas kembali ke atmosfer. Sedangkan bahan bakar minyak berasal dari minyak bumi yang selama jutaan tahun tersimpan di dalam perut bumi. Menggunakan bahan bakar bio praktis tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer. Sedangkan menggunakan bahan bakar minyak jelas akan menambah jumlah karbon di atmosfer.
Jadi, apakah bahan bakar bio tidak ramah lingkungan? Dari sisi ekologi bisa jadi tidak ramah lingkungan karena harus ada hutan seluas dua kali Jawa Barat yang harus dibebaskan untuk ladang pohon jarak untuk menggantikan 100% penggunaan minyak bumi. Tetapi di sisi lain, penggunaan bahan bakar minyak juga bukannya tidak mempengaruhi ekologi secara negatif, dan ini terlepas dari apakah kita menghemat penggunaan bahan bakar atau tidak.
Info melalui Rendy.
Pertamax?
kayaknya kalo nekat dilaksanakan pun lumayan susah terjadi.banyak yang gak rela kehilangan pekerjaan dan bursa saham pun akan rontok kalo minyak diganti.dunia gonjang ganjing.jadi biarin gini aja dulu.maybe next generation kali yach.
ayo nanam alga saja….
no papat euy
absen dulu baru komen
hakakakaka
ditulis juga…
sumpah pri… niyat bangeed…
tambahin…ah…yg lg tren sekarang…pake buah jarak (minyak jarak)
piss dulu ah!!
fuih.. terus terang ndak kepikir sampe kaya om pri..t o p dah
ada yg bilang emisi gas buang biofuel lebih rendah dari fosilfuel bener gak tuh?
Komen Dulu 10 Besar kah?
masih 10 besarkah???
eh..mbaca dulu ah..
Yg mencurigakan adalah iklan persh2 minyak spt Cevron, Exxon etc. banyak yg menampilkan bintang2/tokoh yg menemukan energi alternatif, tp kenapa belum ada implementasi, apakah ini memang akal2an persh tsb u “m’bungkam” para tokoh tsb. atau memang saya yg kurang mencari info aja
waduh.. tanggapannya seserius ini ya.. padahal kan gua nulis cuman iseng doang…
1. alga, pernah baca tuh… bagus juga.. lagi diteliti sama temen biologi gua.
2. tentang efisiensi.. terus terang karena bukan anak mesin, gua ga begitu ngerti. tapi salah satu buletin yang mengulas tentang bioethanol mengatakan demikian. berarti buletinnya ga mutu ya..
3. masalah emisi.. yang saya maksud adalah megnifikasi timbal (Pb), bukan efek rumah kacanya.. jadi memang benar apa yagn kamu katakan.
btw makasih udah baca dan mengkritisi tulisan gua yang mungkin terlalu ekosentris dan menyudutkan orang2 antroposentris, haha..
btw, minggu depan gua mau ke bali loh…
yang bener-bener ramah lingkungan adalah tenaga surya (selama produksi sel suryanya itu sendiri ramah lingkungan)
1. Kesalahan memandangnya adalah: 2x luas Jawa Barat itu tidak dalam satu lokasi. Tapi terpecah di banyak lokasi. Susah memang kalo mo disatukan dalam 1 lokasi.
2. Pohon jarak itu praktis tidak memerlukan lahan khusus untuk tumbuh, kecuali kita memang mengkhususkan diri menanam pohon jarak.
3. Penulis aslinya tidak memberikan data seperti Pri soal luas lahan yang diperlukan, cuma bilang “bayangin sebesar apa”
Absen dulu… baru baca
*kaboooor!*
“..Pesimis? Melihat data di atas mungkin wajar untuk pesimis. Tapi masih ada teknologi yang belum benar-benar dimanfaatkan, yaitu ladang alga yang berpotensial menghasilkan biodiesel 60 kali lipat dibandingkan pohon jarak…”
Tolong hitung2an panjang pantai yang dibutuhkan untuk budidaya alga. Terima kasih.
20 besaaar
Wah tumben nih bisa 20 besar
.
yah semoga aja apapun itu energi alternatif bisa menggantikan harga bensin yg harganya gak akan pernah turun lagi…
@mbah dukun: Budidaya alga tidak harus di pantai, bisa dengan kolam atau semacam tambak, bahkan bisa jauh dari laut.
pokoknya kalo kita mau bisa daah….. gantiin bahan bakar fosil ke bio apapun jenisnya, yang penting nggak import bbm lagi… nanti negara kita tambah miskin….
memang tuh, kalo buat ngejar minyak sawit berlimpah…dah ribuan hektar tanah hutan indonesia hilang kok…orang pinter ngakalin..dah dapet duit banyak hasil kayu yang ditebang & sekarang dah pada panen deh sawitnya. berdoá aja biar gak ada penyakit yang bikin sawit mati dalam beberapa hari…kalau itu terjadi…tambah gersanglah endonesa
*hiks..gak nyambung
bisa dipakai di mobil yang pake bensin gak ya?
Koreksi: memproduksi, bukan memroduksi; dalam kasus ini, p-nya tidak luluh.
[kasus lain yang p-nya luluh tentu ada, misalnya memukul, memisahkan, dan memesona]
Eh, OOT yah… maap2.
nanam alga untuk biofuel? apa tidak berkompetisi dg penanam alga utk dijadikan agar2?
so, alga-nya harus tidak berpotensi ekonomi, spt sargassum, bgm?
*sekedar nanggapi*
weh… dapet ilmu baru.
belum pernah bikin obor berbahan bakar alga.
Gw suka bagian yang ini neh. Hehe, ga kepikir. Mantap!
ceritanya mau cari bahan bakar yang bener2 ramah lingkungan nih? coba aja ini yang 100% ramah lingkungan:
|
|
|
|
|
|
|
Bahan bakar dorong jalan pake kaki…
Paling tidak kita mempunyai alternatif selain bahan bakar fosil yang diestimasikan akan habis dipertengahan abad ini. Mungkin dengan pengelolaan yang efisien kita menemukan solusi yang tepat antara lahan dan besar produksi biodiesel
wah padahal baru baca ini tadi pagi
http://www.carbibles.com/fuel_engine_bible.html
Bahan bakar “AIR” mantaf tuh
Intinya, mendingan pake bahan bakar alternatif. Tetap saja kalo pake mobil, itu bakalan merusak lingkungan indirectly, biar sehat dan tidak polusi, jalan kaki aja loh!
fosil vs non fosil … ? bikin lintasan sepeda aja … di eropa kabarnya ada subsidi dari negara untuk warganya yg bike 2 work
test.., test, adakah laptop yang ramah lingkungan?
Ramah yah….
Misi pak.. misi bu… bukannya sifat seperti ini juga disebut ramah….???
Indonesia harusnya pake nuklir biar semuanya bisa murah
btw, kok komen yang kmaren aku masukin di sini ga masuk ya…?
Setelah re-studi literatur tentang bioethanol yang menurut kalian ramah lingkungan tapi menurut gua tetap tidak ramah lingkungan, beberapa literatur menyebutkan bahwa peningkatan nilai oktan akan meningkatkan efisiensi mesin. (ini literatur berupa bacaan lepas dan buletin, bukan dari website)
Tapi ada satu literatur berupa slide presentasi seminar bioekspo 2006, yang disusun oleh Dr. Iman K. Reksowardojo dari Lab Motor Bakar dan Sistem Propuisi FTI ITB, menyebutkan bahwa efisiensi diperoleh jika mesin mobil dilengkapi dengan sel tunam yang memiliki efisiensi termal tinggi (40%-60%).
Jadi mungkin menurut literatur yang menyatakan peningkatan nilai oktan akan meningkatkan efisiensi kerja mesin, mesin yang dimaksud adalah mesin yang sudah dimodifikasi atau mempergunakan sel tunam.
Nah, berarti selama mesin yang kita gunakan bukan mesin bersel tunam atau motor bensin berbahan bakar luwes, keuntungan efisiensi kerja mesin ga akan kita dapet.
Sebenarnya penemuan teknologi ini sangat cerdas dan inovatif. Sayangnya ekstensifikasinya punya potensi kerusakan yang sangat besar, seperti yang terjadi di Brazil.
tunggu tunggu.. sebelum mengganti bahan bakar aku mo tanya..
apa harus ganti tengki bahan bakar juga? ganti mesin dong?
itu kan juga ada harganya .. *keluh*
wah, klo gak ramah lingkungan, trus kita pake tenaga alternatif apa donk? mungkin perlu dicoba tenaga listrik ato tenaga surya kali yah?
semoga ada penemuan baru dr indonesia yg menggunakan tenaga alternatif diatas…
#22, #36: untuk mesin diesel jaman sekarang harusnya udah langsung bisa pake biodiesel murni (B100). untuk mesin bensin belum tentu, karena ada komponen yang harus didesain khusus. E10 (10% ethanol 90% bensin) masih aman. tapi lebih dari itu mungkin harus lihat manual mobilnya dulu.
CMIIW
utk yg ngusulin pake alga, knp gak pake limbahnya, misal limbah karagenan.
setau gw, kandungan limbah karagenan hampir sama dgn kandungan karagenannya, ada polisakaridanya
cmiiw
tapi yang sering terjadi adalah ‘latah’ untuk berbagai kemungkinan2 tersebut diatas. saat jarak booming, hampir semua orang (biasanya dalam pameran) menampilkan tanaman ini. juga seminar tentang jarak, ini itu dan bla-blanya…
habis ini mungkin latah alga dan apalagi ya berikutnya…
alternatif sih alternatif, tapi mesti solutif…
Paling mudah? Bikin Nuke Plant buat listrik trus semua pake kendaraan listrik, kembangkan seefisien mungkin. Tanpa polusi, tanpa fosil. PLN gak jadi bangkrut, yang bangkrut Pertaminanya. Uranium? Katanya di sekitar Bogor ada tambang nya tuh? Masih ada gak ya?
Mending Naik Sepeda Selain Hemat Ramah Lingkungan kan Juga Sehaaaaat
Betul. Biofuel diangkat ke permukaan hanya untuk mengatasi fuel shortage dalam beberapa waktu ke depan. Mengenai apakah ramah atau tidak terhadap lingkungan, tentunya perlu dilihat lagi lebih jauh.
CEO ExxonMobil, Raymond Lee, pernah berujar dengan cukup ekstrim bahwa sumber energi alternatif adalah omong kosong. Riset untuk itu hanyalah buang-buang duit dan energi saja.
Walau begitu, toh kenyataannya selama beberapa tahun ke depan kita masih akan sangat tergantung pada oil & gas. Dan mungkin batubara.
#42
FYI, sesuai PP No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional, Pemerintah Indonesia merencanakan akan mengoperasikan PLTN pertama sekitar tahun 2016 untuk melayani area Jamali (Jawa-Madura-Bali).
mendingan semua mobil diganti berbahan bakar listrik, listrik kan bisa dari air/ uap/ angin/ surya, dll. Pasti lebih ramah lingkungan. Tapi emang sekarang mobilnya masih mahal ya…
Menurut saya malah asyik jika bahan bakar bio (biofuel) “disepelekan” apalagi oleh petinggi kumpeni yang memang sedang mencari makan di atas cipratan minyak. Dengan demikian para peneliti bahan bakar bio tambah tertantang dan akan mencari terobosan baru untuk menghadapi kesulitan yang sekarang muncul.
Dulu… perangkat lunak bebas juga dipandang sebelah mata oleh vendor-vendor besar.
Bagaimana dengan keuntungan bahan bakar bio yang memang dapat-diperbarui? Bukankah itu tetap terlihat sebagai alternatif dibanding bahan bakar fosil?
Di luar topik: katanya sekarang penghematan mulai digalakkan, mengapa masih ada perlombaan Formula-1 dan aneka reli mobil/sepeda motor?
Pengganti premium tidak ramah terhadap harga gula.
btw. tidak dibandingkan sekalian dengan yang berbahan bakar hidrogen? Kan tidak butuh menanam apapun.
yang perlu dibenerin bukan hanya bahan bakarnya tapi kendaraan-nya juga harus beres, akan lebih baik jika angkutan umum yang setiap hari bikin polusi ituw bisa ramah lingkungan, emang seh kalo mo sehat jalan kaki atau bersepeda saja, tapi apakah mungkin ???
nnng.. belum tentu, mas Pri. Terbarukan sih iya, tapi menaman tumbuhan tidak sertamerta/selalu menjadikannya ‘netral karbon’. Status perosot/sumber karbon oleh vegetasi bergantung dari jenis vegetasi, lokasi tanam, iklim, dll. Oiya, juga bergantung dari luasan dan masa tanamnya. Kalau melihat sosok dan pola tanamnya sih saya agak ragu dgn efektivitas Jarak menambat karbon. Bisa disimulasikan sih.. tapi kurang data (dan waktu)
Pendek kata, bicara lingkungan mesti menimbang ekosistem (biota, profesi biota, dan tempat kerja si biota) dan sosiosistem secara holistis.
#35, Rame wrote :
“Setelah re-studi literatur tentang bioethanol yang menurut kalian ramah lingkungan tapi menurut gua tetap tidak ramah lingkungan, beberapa literatur menyebutkan bahwa peningkatan nilai oktan akan meningkatkan efisiensi mesin. (ini literatur berupa bacaan lepas dan buletin, bukan dari website)”
Berikut penjelasannya,
Calorific value/Nilai kalor : Energi yg dilepaskan pada proses pembakaran bahan bakar, per-satuan volume atau per-satuan massanya.
Efisiensi thermal Engine = 1-(Qout/Qin)
Qout = Kalor yg dibuang pada proses blowdown diruang bakar engine.
Qin = Kalor masuk ke ruang bakar (terjadi pada proses pembakaran bahan bakar)
Makin besar Qin–>efisiensi thermal makin tinggi.
Calorific value makin besar–>makin besar Qin–>makin tinggi tekanan pendorong piston di dalam ruang bakar.
Calorific value untuk Ethanol = 29.7 MJ/Kg, Calorific Value untuk Bensin = 47.3 MJ/KG
Jadi secara teoritis efisiensi thermal engine jika pake ethanol bensin (91-98)
Pada bahan bakar dgn nilai oktan rendah, proses penyalaan terjadi ketika posisi piston masih agak jauh dari TDS, sehingga arah gerak piston sempat beberapa saat berlawanan dgn arah tekanan gas pembakaran. Setelah melewati TDS, maka arah gerak keduanya menjadi
searah dan melakukan kerja positif. Jadi sempat terjadi losses. Proses penyalaan ini terjadi dgn sendirinya, karena tekanan yg tinggi di ruang bakar, dikenal dgn istilah self ignition/knocking. Beda dgn
penyalaan oleh busi.
Pada bahan bakar dgn nilai oktan yg tinggi, proses penyalaan bahan bakar terjadi ketika piston sudah sangat dekat dengan posisi TDS. Karena itu tekanan dari gas pembakaran benar-benar digunakan untuk
mendorong Piston melakukan kerja positif (dalam hal ini mendorong mobil), karena arah tekanan gas & gerak piston searah.
Dengan demikian untuk etanol yg mempunyai nilai oktan tinggi, tekanan hasil pembakarannya benar-benar digunakan untuk mendorong piston melakukan kerja positif. Walaupun begitu, Ethanol mempunyai Calorific
Value yg lebih rendah dibanding bensin, sehingga tekanan/daya pendorong pistonnya juga lebih rendah.
Mungkin pernyataan yg lebih tepat : peningkatan nilai oktan bahan bakar akan meningkatkan efisiensi thermal engine. Tetapi hal ini berlaku jika pembandingnya adalah bahan bakar dgn Calorific value yg sama.Apple to apple. Contoh kasus : perbandingan bensin yg pake oktan booster dgn yg enggak.
now, back to reality.
Nice writing. Namanya juga bahan bakar alternatip,
ya tetap aja yang utama adalah bbm bumi. Ada satu lagi yang sedang dikembangkan terutama untuk bioetanol: pohon aren. Pohon ini ditemukan di beberapa daerah dan sudah tumbuh tp belum termanfaatkan.
ITS Surabaya berhasil membuat bahan bakar bio 100 persen…. bentar lagi mau bikin pom bbm bio ini menggantikan solar….
@42 : trus uraniumnya di proses ulang biar bisa jadi HEU ( Highly Enriched Uranium ) buat bikin bom atom yah
. masa di bogor ada tambang uranium ??? jangan2 pak Bush ke bogor sekalian meninjau tu tambang.
@13 : klo pake solar cell sangat bergantung kepada mataharinya. Dan juga perhitungannya mas pri : tentang tenaga surya
bahan bakar bio kalo dibakar tetap menghasilkan CO2 kan? mungkin itu maksudnya tidak ramah lingkungan
.
Sayang motorku pake premium..
–budiw
next = ?
Hidrogen + Oksigen = Future !
Perdebatan mana yang lebih ‘ramah lingkungan’ kadang irrelevant, karena hasil akhir pembakaran tergantung dari tehnologi mesin pembakarnya. (Contoh hasil knalpot metromini dan Land Cruiser diesel).
Point dari BioFuel adalah renewable source of energy. Sedangkan Fossil-based fuel adalah non-renewable.
Kalo memang dibutuhkan 2x pulau Jawa untuk menggantikan 100% pemakaian minyak bumi, let it be. Karena, cepat atau lambat, fossil based fuel akan habis, dan kita tidak akan bisa membudidayakan pohon jarak seluas 2x pulau jawa dalam 1 malam.
Soal lahan ? Perhitungan diatas kan dihitung pertahun. Masak ia panen cuma sekali setahun ? Kalo bisa diusahain setahun panen bisa 3-5 kali mungkin lahan-nya juga bisa 1/3 atau 1/5 dari yang seharusnya. seharusnya kan ?
setuju sama #58, kl gak dimulai dari sekarang kapan lagi, kl punya banyak pilihan khan enak, yang susah udah mahal gak bisa milih lagi
Maksutnya Priyadi, menggunakan bahan bakar bio praktis 68% tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer.
“Polutan utama BBM bukanlah timbal, bukan pula nitro-oksida, belerang-oksida atau karbonmonoksida. Polutan utama BBM adalah karbondioksida. Karbondioksida adalah polutan yang paling banyak menyebabkan efek rumah kaca”
emangnya berapa komposisi dari gas yg keluar dari knalpot?
yg bisa menyebabkan efek rumah kaca apa aja?
apa karena kalimat ke-3 maka timbul kalimat ke-2?
kayaknya ada bahan bakar motor/mobil yang lebih murah dan tidak merusak lingkungan de…
… ga ada gas-gas berbahaya yang keluar dari kanlpot… badan sehat… ga perlu membebaskan lahan buat ditanam phon penghasil energi… bener kan… 

didorong… tuh kan
tinggal dipikirin aja… kalo buat pesawat terbang gimana caranya…
Kalau pake tenaga matahari gimana OM?
Sumpehhhhhhhhhhh Lochhhhhhhhhhh……………….
@53
ya aku juga mendengar beritanya..
Tetapi aku belum tahu bagaimana kelanjutannya.
Nungguin bioetanol koq belum muncul2 ya?

yang ada baru biodisel. padahal kita kan mayoritas pake premium!
hidup premium
thx ni postingannya.. bener2 bermanfaat.. kemarin saya menghadiri rapat di kedubes RI di brussel bersama bayu krisnamurti dari staf ahli menko ekuin.. kita cuma diundang dr perwakilan pelajar saja.. kita mendengar banyak.. salah satunya rencana besar pemerintah memasarkan untuk memenuhi kebutuhan biofuel eropa.. saat itu ga kepikir pengembangan algae (soalnya kita ga tau topik pembicaraannya)… mungkin betul juga kalau diintensifkan dan diproduksi secara ekstensif habislah hutan2 di indonesia ini..
@57: wah kata siapa? hidrogen + Oksigen = future?
kalo menurut gue malah makin bahaya.. kebayang gak sih? begitu mudahnya orang2 yang suka ngebabat utan demi uang semata mendapatkan bahan bakar yang begitu murah untuk alat2 berat mereka? terkecuali bakalan ada UU yang bakalan ngelarang itu..
mending naek busway
.. 1 bus transjakarta = 65 mobil pribadi
.. kayaknya yang satu ini lebih relevan
(saat ini) untuk mengurangi polusi di jakarta saat ini
Sebenarnya bukan masalah boros atau ndak borosnya, bukan masalah lahan abis atau ndaknya. Tapi ini masalah persediaan minyak dunia yang kian menipis. JAdi penemuan biofuel ini harus disambut dan disempurnakan. Ini kan baru produk awal sebagaimana mobil dulu. Kelak insya Allah anak cucu kita akan mampu menyempurnakannya
Hidup Bio Fuel !!
Om, bikin tulisan soal Secret Service dung..mumpung lagi anget nih
Salah satu alternatif lagi ke depan adalah fuel cell berbahan baku ethanol dengan menggunakan teknologi Direct Ethanol Fuel Cell (DEFC). Pertama ramah lingkungan dan kedua ethanol dapat dibuat melalui fermentasi gula (yang berasal dari biomassa) yang notabene renewable. Keduanya lagi aku telit, mudah-mudahan kedepan menjadi harapan. Teknologi ini lebih sederhana dan lebih aman dibandingkan dengan fuel cell berbahan baku hidrogen yang susah penyimpannanya sekaligus mudah terbakar.
#57, mungkin benar, bahan bakar di masa depan adalah hidrogen. Tapi kalo baca artikel berikut ini, jadi pesimis.
http://www.popularmechanics.com/technology/industry/4199381.html?page=1
Selain ramah lingkungan juga harus ramah kantong.
(** kaboor **)
pohon jarak ya? gimana kalo pohon ganja?
ngebaca tulisannya kanjeng Pri, gue jadi berangan-angan….kapan ya jalan-jalan di Indonesia (terutama Jakarta) bebas dari kemacetan ??? (hahaha…kagak nyambung ya..??)
btw porsi yang diulas kok kebanyakan untuk kendaraan sih om ? kayaknya bahan bakar bio bukan hanya untuk kendaraan aja deh
Mending pake listrik aja kenapa?
cuma sumbernya aja yang dipilih pake solar cel apa pake PLTN
Kepikir ga?
Knape ga balik aja ke zaman doeloe pake kuda, kebo atau pake sapi aja
Biar tambah pesimis, ambil contoh tanaman Jarak:
Seandainya kita punya mobil panther, asumsi pemakaian solarnya sehari 5 lt.
Dalam seminggu mobil dipake 6 hari. Total pemakaian setahun : 5 x 6 x 52 = 1,560 lt.
Produktivitas pohon Jarak: 1,590 liter/hektar/tahun
Jadi 1 hektar kebun jarak dedicated buat 1 mobil panther….great.
Belum lagi data produktivitas kebun Jarak juga harus memperhitungkan effort/energi yg dikeluarkan utk menghasilkan 1,590 liter/hektar/tahun. Untuk menghasilkan minyak jarak, pastinya butuh Energi (BBM) yg dikonsumsi oleh traktor pertanian, transportasi buah jarak ke pabrik, pengeringan & pengolahan. Jadi, seharusnya produktivitasnya lebih kecil lagi.
Tapiiii, ilmu pengetahuan kan terus berkembang. Gue yakin dimasa depan manusia bisa menemukan :
1. Varietas tanaman Jarak yg kadar minyaknya lebih tinggi dibanding jaman sekarang.
2. Intensifikasi pertanian yg lebih maju, sehingga luas lahan yg dibutuhkan utk perkebunan Jarak bisa lebih kecil.
Hal ini bisa dianalogikan dgn kasus ramalannya si Malthus, bahwa umat manusia akan selalu terancam bencana kelaparan, karena pertambahan jumlah penduduk jauh lebih besar dibanding pertambahan supply pangan. Tapi sampe sekarang hal ini tdk terbukti, karena akal manusia terus berkembang, ya salah satunya adanya proses intensifikasi pertanian.
3. Proses pengolahan biji jarak yg lebih efisien, shg energi yg dikeluarkan pada proses produksi & produk wastage-nya jauh lebh kecil.
4. Mobil yg lebih irit pemakaian BBMnya. Sekarang ini, energi bahan bakar lebih banyak terbuang di asap knalpot & radiator. Roughly, distribusi konversi BBM di motor bakar (otomotif) : 1/3 daya poros yg
berguna + 1/3 panas Gas buang + 1/3 terbuang sbg panas di radiator.
Argumen-argumen di atas bisa juga diterapkan utk Bioethanol. Jadi, optimis aja…
mari kita naik sepeda tiap hari ke kantor. Kalau belum bisa full, ya separo, sepertiga, atau seperempat jarak tempuh
iseng ah nulis2 yg ginian…. belom tentu juga pemerintah 100% bakal mewujudkan sistem biofuel ini ke kenyataan………..
Jangan khawatir,
saya profesor paling pinter di dunia
Saya profesor dari ITB campur UGM + Undip
Pokoknya, saya akan menciptakan produk BBM yang murah dan irit.
Pokoknya, kalau udah profesor doktor kan pasti pinter
he..pakar IT kita, KRMT R S, sekarang jadi pakar politik lho, tadi pagi (22/11/08, 08-09 WIB) ada wawancaranya di RRI Pro 3