20 June 2007

Tua di Jalan

Posted under: at 12:21

Waktu saya masih kecil saya tinggal di Cikutra, tapi bersekolah di seputaran Sukajadi (SD Giki Karangsari). Dari rumah ke sekolah ditempuh dalam waktu 30 menit. Dulu di Bandung tidak banyak orang yang lama perjalanan antara tempat tinggal dan pekerjaan lebih lama daripada 30 menit, apalagi cuma seorang anak SD. Komentar orang biasanya “Kok sekolahnya jauh-jauh amat?”

Seperempat abad kemudian, saya tinggal di Jabodetabek. 30 menit untuk lalu lalang antara rumah dan tempat kerja bukan lagi waktu yang lama. Banyak orang yang saya kenal harus menempuh waktu jauh lebih lama daripada 30 menit sekali jalan. Bahkan tidak sedikit yang waktu komuternya 1½ jam atau bahkan 2 jam sekali jalan.

Menurut data WorldMapper, lama rata-rata waktu komuter untuk seluruh dunia adalah 40 menit sekali jalan. Sedangkan negara yang rata-rata waktu komuternya paling lama adalah Thailand, dengan waktu 60 menit. Indonesia sendiri mendapat angka 35 menit rata-rata sekali jalan. Walaupun demikian perlu diingat bahwa ini adalah data tahun 1998, bukan tahun ini.

Menurut badan sensus Amerika Serikat, secara rata-rata Amerika mendapat angka 24,3 menit. Sedangkan kota New York mendapat nilai tertinggi yaitu 38,3 menit. Yang menarik dari data Amerika Serikat ini adalah proporsi extreme commuters yaitu orang-orang yang menempuh waktu dari rumah ke tempat kerja melebihi 90 menit sekali jalan. 4,3% warga New York termasuk dalam kelompok extreme commuters ini. Di Jabotabek, saya perkirakan proporsi extreme commuters akan jauh melebihi 4,3%.

Rekor commuting Amerika Serikat dipegang oleh pegawai Cisco, Dave Givens yang setiap harinya menghabiskan waktu 7 jam di perjalanan.

Menurut artikel BusinessWeek, ada yang dinamakan commuting paradox:

This is what economists call “the commuting paradox.” Most people travel long distances with the idea that they’ll accept the burden for something better, be it a house, salary, or school. They presume the trade-off is worth the agony. But studies show that commuters are on average much less satisfied with their lives than noncommuters. A commuter who travels one hour, one way, would have to make 40% more than his current salary to be as fully satisfied with his life as a noncommuter… more money, more material goods, more prestige — and underestimate the benefit of what they are losing: social connections, hobbies, and health. “Commuting is a stress that doesn’t pay off,” says Stutzer.

Dengan menempuh perjalanan yang lama, seseorang bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan sekaligus memiliki tempat tinggal yang layak pula. Tapi tentu ada batasannya, kita tidak ingin menghabiskan terlalu lama waktu di jalan. Untuk yang terakhir ini batasan setiap orang tentu berbeda-beda. Kalau saya pribadi, toleransi saya mungkin jauh di bawah rata-rata kebanyakan pekerja di Jakarta. Saya termasuk yang tidak tahan terlalu lama di jalan, apalagi kalau dilakukan setiap hari. Batas toleransi saya mungkin hanya sekitar 45 menit.

111 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!