Validasi Situs Web Nominator BubuAwards

Ini adalah waktu bagi saya untuk kembali melakukan validasi terhadap nominator kontes desain web! Kali ini [BubuAwards](http://www.bubuawards.net/web/) sudah menelurkan masing-masing [10 kontestan terbaik](http://bubuawards.detik.com) untuk kategori ‘Web Celebrities’ dan ‘Blog’. Berikut adalah analisis terhadap 20 situs web tersebut dengan menggunakan [W3C Validator](http://validator.w3.org/). Perlu diingat bahwa saya hanya melakukan tes mendasar dengan cara mentes situs-situs ini dengan menggunakan Validator, saya belum melihat bentuk dan desain situs-situs tersebut kecuali untuk situs-situs yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya.

**Nominator Web Celebrities**

* [Serieus](http://www.seurieus.com): Tidak memiliki DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 75 kesalahan.
* [Slank](http://www.slank.com): Tidak ada informasi encoding, tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan sebuah kesalahan.
* [Naif](http://www.naifband.com): Tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 101 kesalahan.
* [Tasya](http://www.tasya.tv): Tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 28 kesalahan.
* [ShivaBand](http://www.shivaband.net): Tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 12 kesalahan.
* [Helena Andrian](http://www.helenaandrian.com): Tidak ada informasi encoding, analisis dengan DTD XHTML 1.1 menghasilkan 23 kesalahan.
* [Samuel Rizal](http://www.samuelrizal.com): Analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 11 kesalahan.
* [Micky FC](http://www.micky-fc.com): Analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 36 kesalahan.
* [Syaharani](http://www.queenfireworks.org): Analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 2 kesalahan.
* [Icha Rahmanti](http://www.icharahmanti.com): Analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 2 kesalahan.

Tidak ada nominator yang lepas dari kesalahan. Hanya satu nominator yang menggunakan XHTML. Yang terbaik dari kategori ini mungkin adalah [Syaharani](http://www.queenfireworks.org) dan [Icha Rahmanti](http://www.icharahmanti.com) karena memiliki DOCTYPE dan jumlah kesalahan cukup minim. Satu-satunya yang menganut format XHTML 1.1, situs [Helena Andrian](http://www.helenaandrian.com), juga patut dihargai karena jumlah kesalahannya relatif minim untuk format *strict* seperti XHTML.

**Kategori Blog**

* [Adham Somantrie](http://www.adhamsomantrie.net): tidak dapat diakses pada saat tulisan ini dibuat.
* [Oesoep Tjhai](http://oesoep835.blogdrive.com): masih menggunakan frame, analisis dengan DTD HTML 4.01 Frameset menghasilkan 14 kesalahan, belum termasuk dokumen elemen frame.
* [Cicilia Anita G.](http://familyweb.shockez.com): tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 5 kesalahan.
* [Purdie Chandra](http://www.purdiechandra.com): analisis dengan DTD XHTML 1.0 Transitional menghasilkan 533 kesalahan.
* [Agus Swastika](http://www.surabayabangkit.com): tidak ada DOCTYPE, tidak ditemukan informasi encoding, analisis dengan DTD XHTML 4.01 menghasilkan 13 kesalahan.
* [Viking Karwur](http://www.vikingkarwur.com): analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 51 kesalahan.
* [Anantya Bronckhorst](http://www.nantya.com): tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 38 kesalahan.
* [Dian Agus Triadi](http://www.didats.net): analisis dengan DTD XHTML 1.1 menghasilkan 4 kesalahan.
* [Octavianus Ken M.](http://kenz.web.ugm.ac.id): tidak ada DOCTYPE, analisis dengan DTD HTML 4.01 Transitional menghasilkan 2 kesalahan.
* [Yulian Hendriyana](http://yulian.firdaus.or.id): analisis dengan DTD XHTML 1.1 menghasilkan 2 kesalahan.

Bukan KKN (karena keduanya ada di *blogroll* saya), tetapi yang terbaik menurut saya (dan validator) adalah blognya [Didats](http://www.didats.net) dan [Jay](http://yulian.firdaus.or.id). Keduanya sudah menggunakan XHTML 1.1 dan jumlah kesalahan sangatlah minim.

Yang disayangkan adalah metoda penilaian kontes ini. Penilaian dilakukan dengan voting dari SMS dan satu nomor bisa mengirim lebih dari satu suara. Kesimpulannya, kontes ini tak lebih daripada sebuah kontes popularitas, bukan kontes desain situs web. Bisa jadi pemenang kontes ini ditentukan dari siapa yang paling banyak mengirim SMS (dengan kata lain mengirim uang ke penyelenggara), sedangkan kualitas teknis situs web itu sendiri sama sekali tidak mempengaruhi hasil.

53 comments

  1. Pri: kayaknya loe harus tulis kenapa harus ada DOCTYPE, biar argumen yang bilang “google gak pake DOCTYPE” bisa mentah hehehe.

    bung obyektif: begitu pula amazon dan ebay kok. jadi kesimpulannya ngapain pakai DOCTYPE kalau the big 3 juga gak pake kan? problemnya, apakah situs kita sekelas the big 3 – terutama dalam nama dan brandingnya?

  2. Gw ikutin mekanisme Vote Online-nya…
    Dan ternyata…, untuk Kategori Blog, punya-nya si Adham Soemantri yang ngga bisa dibuka itu yg mempunyai pemilih terbanyak..
    Ngga tanggung2 1844 Vote… :o
    Dan yang lucu.. posisi kedua hanya 500-an Vote..
    Sepetinya… :-?
    Info lain, Didats ada di urutan 5, Jay di 9 & Kenz di 10.
    Ayo maju terus….:d

  3. masuk aja ke isnoop.net, minta inpait-an gmail sebanyak2nya…. :d
    btw yang dinilai sms-nya, vote via webnya ato, designnya….

    dukung priyadi ah…..

  4. oh, salahnya cuma tag img tidak diakhiri />

    btw, gue cuma iseng submit ke Bubu, gak pernah kepikir jadi nominator. font aja gonta-ganti sakarep dewek!

    sms voting sux!

  5. Yang penting, asal dapat massa banyak, dan bisa approach untuk mendukung (dan punya pulsa atau mungkin duit lebih untuk pulsa, bisa memang deh.. ;)

  6. #7 Ya itulah yang saya bingungkan, kenapa kok mereka tidak pakai DOCTYPE. Jumlah kesalahan yang dimunculkan validator juga mungkin tidak bisa dijadikan patokan, lebih bagus kalau dilihat bobot kesalahannya.

    Seringkali orang cuma lupa tanda ” (petik), ini kan bisa menghasilkan banyak sekali kesalahan pada validator. Apakah kesalahan ini fatal? Sepertinya kok tidak ya (test pakai beberapa jenis browser).

    Apakah kontes web design harus dimenangkan oleh web yang jumlah kesalahan validasi paling sedikit? Haruskah pakai tolok ukur ini?

    Ataukah, mana yang lebih banyak disukai pengunjung?

  7. Harusnya untuk kategori blog, penilaiannya adalah: berapa tulisan yang diplagiat oleh media komersil? Hehehehee….

    Menurut saya, kalau kontes ini bukan untuk popularitas (melainkan kualitas) maka harusnya misi dan manfaat si weblog atau situs tersebut yang mendapat bobot utama. Kemudian baru tinjauan teknis seperti ada tidaknya DOCTYPE dan pengecekan validasi tag html.

    Ini mirip2 dengan riset di Fisika… kalau model fisisnya emang top dan sanggup menjawab fenomena yang diteliti… sedikit kok yang peduli dan benar-benar ngerti gimana penurunan matematikanya. Malah banyak yang menuduh para fisikawan melenceng dalam memakai tool matematika yang dibuat para matematikawan. (Contoh yang sempat hangat adalah metoda normalisasi di fisika.) Tapi tho, kalau emang modelnya bekerja… jadi… ^_^

    Maaf maaf… ngelantur kemana-mana, ampun Boz Pri…

  8. Gajah Award, jurinya W3C Validator + CSS Validator. Tampilan rapi di semua browser dan ringan diakses bandwidth beragam ukuran. Kapan???

  9. #20: ketidakvalidan itu seperti cacat produksi yang tersensor oleh Quality Control. cacat produksi biasanya disebut Barang Reject dan dijual murah di pasar lokal karena tidak bisa diekspor, jadilah fenomena Sisa Ekspor di Bandung dulu sebelum ada Factory Outlet.

    Sisa Ekspor disukai? tentu, karena tetap Branded bagi mereka yang membudakkan diri pada merek.

  10. #22 #25 Iya betul, saya tidak mengecilkan arti validasi kok, ini memang penting untuk web design. Hanya saja seberapa penting? Dibanding unsur lainnya, misalnya faktor non teknis (disukai banyak orang).

    Tujuan orang membuat web kan untuk dilihat orang lain (dikunjungi). Walaupun validasinya sehebat apapun, tapi kalau tidak populer, apa bisa dibilang berhasil untuk pembuatan web?

    Dan apakah validator ini foolproof?

  11. I do agree with Mas Avi (#18) -> it’s all just popularity contest. Budaya popularitas sepertinya tidak bisa dihentikan dari dunia new media. Penilaian website/log seharusnya tidak dinilai hanya dari segi visual ataupun popularitas. Kalau ya, lihat saja contoh ‘korban’ pemenang reality show, pada kemana mereka tuh sekarang?

    Sebagai contoh saja, coba kunjungi Best Asian Weblog 2005 versi bloggies, lihat ke blognya xiaxue -> HTML 4.01 transitional; error: 336. Gitu2, dia berhasil mengalahkan Wannabegirl-nya Firda. Entah apa dasar penilaiannya, puyeng liatnya juga…8-|

  12. #28: validasi memang bukan satu2nya faktor yang penting dalam web desain, tapi juga bukan faktor yang bisa diabaikan. maksud saya cuma mau menyampaikan kalau validasi belum termasuk faktor yang menentukan dalam melakukan desain web terutama di indonesia.

    popularitas juga harusnya tidak mempengaruhi penilaian. misalnya internet explorer lebih populer daripada firefox, tapi apakah kualitasnya lebih bagus? kan ngga :)

  13. #30: Benar sih. Untuk orang-orang yang mengerti betul soal teknis website, tentu tidak bisa mengecilkan peran validasi tersebut. Namun penikmat web kan bisa digolongkan jadi 2: Yang ngerti teknis, dan yang ga ngerti teknis.

    Ga bermaksud berbantahan, karena secara prinsip saya sepakat dengan Pri dan Bang Jay, namun sekarang saya kepikiran harusnya si pihak penyelenggara jelas mau mempertandingkan apa: kualitas, atau ketenaran?

    Dari pada ngabisin waktu ngomongin mereka (tho mereka juga punya hak buat begituan, dan terserah mereka mau ngapain), mending kita-kita buat sesuatu yang kita rasa ideal yu! Entah versi beta, entah apa namanya… kita rumuskan peniliannya, kita rumuskan aturannya, kita uji coba, dan kita liat gimana hasilnya. Simulasi aja, kayak sahamblog itu lho :-?

  14. #22: O iya… maaf, khilaf membaca…. Kalau memang demikian, jelas sih validasi penting sekali. Tapi kok peniliannya pake sms segala??? [-(

  15. #28: bikin sebuah web yang memiliki tampilan bagus dan validasi yang strict adalah hal yang rumit. Dan ini adalah tantangan terbesar dalam web design.

    Jadi menurut saya seharusnya kontes web design harus lebih mementingkan design dan validasi daripada popularitas (yang banyak dikunjungi orang).

    Sekarang bubuawards itu kontes web design atau kontes popularitas? ini saya kutip dari situs bubuawards:

    Welcome to BuBu Awards 2005, a unique Web Design Competition for Indonesians

  16. Kalo menurutku sih….harus ada kriteria yang jelas apakah ini lomba design yang lebih ngejurus ke sisi design (art) atau lebih ke efisiensi akses ke web-nya (dilihat dari jumlah kesalahan) or just a #:-s>:)popularity contest (hah, pake sms sgl?). Yang kalah masukin aja jadi buburaward deh.hehe.

  17. kalo ngeliat antara perolehan sms ama isi/tampilan web nya kok rasanya aneh ya? :-? bener2 popularity contest [-(

  18. #9, Budi jangan mengenyek saya yaaa:-w

    itu kan tante saya penyanyi jazz… :)>- huehuehue I know u’r kidding bud :p gimana kabar nih? :)>-

  19. ketik :vote[spasi]bubu[spasi]w3

    kita dukung Om Priyadi :d

    lapor om,
    dokumen elemen frame –> lebih dari 500 kesalahan

    maklumlah blogger amatiran (plus otodidak)bisanya cuma kopi dan paste :D

    btw,
    tengkyu yaks atas koreksinya,
    oesoep coba benerin ntar…

    eeiiittthhh, jangan lupa
    ketik :
    ketik :vote[spasi]bubu[spasi]w3

    dukung terus Om Priyadi ;))

  20. hmmm… gue mo ngejunk apaan yah disini ? :D
    *tuing tuing*

    eh iya pri.. nulis comment elu berat nih kebanyakan plugin..
    kasihanilah daku yg masih pake PIII…

  21. wuih seru juga yak,.. :D
    Mas Priyadi, Gimana kalo review kita ubah ke kategori individual,.. jadinya ngga jenuh n sebel ma kondisi yang terkondisikan sebagaimana yang diatas,.. kekeke :-” …… poor winner …..:(

  22. Lapor Om,

    Dokumen elemen frame skarang errornya tinggal 58 !!:)>-

    sisanya binun ngilanginnya…

    btw,
    tengkyu yah om atas koreksinya… :x

  23. Pingback: Jay adalah Yulian

Leave a Reply to idban Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *