Ad Hominem tu Quoque

Bulan Maret 2005, saya membuat *plugin* [WordPress Browser Detection Plugin](https://priyadi.net/archives/2005/03/29/wordpress-browser-detection-plugin/). Dengan *plugin* ini, setiap komentar di blog ini akan dilengkapi dengan informasi sistem operasi serta perambah yang digunakan. Tujuan saya menggunakan *plugin* ini adalah dengan niat baik serta tujuan mulia untuk membuka wawasan pembaca bahwa di luar sana ada yang menggunakan perambah alternatif, dan untuk memperkenalkan perambah alternatif agar masyarakat luas dapat memperbaiki kualitas berselancar di Internet. Walaupun pada kenyataannya lebih mungkin disebabkan karena blog ini adalah [jablai blogâ„¢](http://wiki.id-gmail.info/Jablai_Blog) :).

Dan karena salah satu topik yang sering saya bahas adalah tentang perangkat lunak bebas, mau tidak mau akan sedikit banyak menyinggung perangkat lunak yang tidak bebas. Di sini bisa terjadi konflik opini dan tidak jarang pembicaraan melebar sampai kepada informasi sistem operasi serta perambah tersebut.

Pola yang sering saya lihat adalah sebagai berikut:

* Komentar A mendukung perangkat lunak bebas dengan opini tertentu.
* Komentar A ditulis dengan menggunakan sistem operasi Windows dan/atau perambah Internet Explorer.
* Komentar B menuduh A munafik dan dengan demikian menyimpulkan komentar A tidak berbobot.

Walaupun demikian pada kenyataannya komentar A bisa jadi benar, terlepas dari sistem operasi serta perambah yang digunakan oleh A. Kenyataan bahwa A menggunakan Windows dan Internet Explorer tidak menjadikan opini A menjadi salah atau dapat diabaikan begitu saja. Dan jika seandainya komentar A ditulis dengan menggunakan Firefox di atas Linux, tidak lantas menjadikan komentar A menjadi lebih benar daripada jika ditulis dengan menggunakan Windows dan Internet Explorer.

Jurus perdebatan seperti ini dinamakan [Ad hominem tu quoque](http://en.wikipedia.org/wiki/Tu_quoque): memanfaatkan kenyataan bahwa kritik atau keberatan yang diajukan seseorang juga berlaku bagi dirinya. Orang tersebut bisa jadi memang hipokrit, namun argumen seperti itu tidak dapat menjawab benar atau tidaknya pernyataan yang diusung. Ujung-ujungnya jurus *tu quoque* mungkin hanya akan mengalihkan diskusi dari topik yang sebenarnya. *Tu quoque* paling jauh hanya akan menyimpulkan apakah pengusung ide adalah hipokrit atau bukan, tetapi tidak akan dapat menjawab permasalahan yang sebenarnya sedang didiskusikan.

\*\*\*

Seperti yang bisa saya duga sebelumnya, hal ini kembali terjadi dalam kasus [MoU siluman antara Microsoft dan Pemerintah Indonesia](https://priyadi.net/archives/2006/12/22/rangkuman-dan-analisis-mou-siluman-antara-pemerintah-indonesia-dan-microsoft/).

Pertama adalah tulisan Pak Budi Rahardjo tentang [pahlawan kesiangan](http://rahard.wordpress.com/2006/12/03/pahlawan-kesiangan-linux-dan-microsoft/). Katanya, ada orang yang memaki-maki pemerintah karena tidak menggunakan Linux, sedangkan yang memaki-maki sendiri menggunakan Windows. Karena beliau tidak mencantumkan seperti apa maki-makinya, saya tidak dapat berkomentar mengenai kebenaran argumennya. Tetapi yang jelas fakta bahwa dia menggunakan Windows tidak dapat menjawab benar atau tidaknya argumen yang diusung orang yang katanya memaki-maki tersebut.

Selain itu, katanya ada yang melakukan presentasi dengan topik bahwa kita harus menggunakan sistem operasi Linux. Namun di sisi lain, presenter menggunakan Microsoft PowerPoint. Sangat mudah untuk menemukan sesuatu yang janggal dari presentasi tersebut dan menggunakan fakta tersebut sebagai jurus untuk melakukan bantahan. Tetapi jika langkah itu yang diambil, maka kita tidak akan membahas topik utama yang sedang dibahas. Kita hanya akan membahas pembawa topiknya.

Kemudian, tulisan Eko tentang [walking the path](http://ryosaeba.wordpress.com/2006/12/22/walking-the-path/) yang melakukan tabulasi terhadap sistem operasi yang digunakan komentator pada tulisan saya sebelumnya. Beliau menyimpulkan bahwa sebagian besar komentator masih menggunakan Windows, namun mayoritas komentar menyalahkan pemerintah atau Microsoft. Tetapi sebenarnya kenyataan tersebut tidak dapat menyimpulkan benar atau salahnya argumen yang diusung komentator yang ‘anti MoU’ dengan menggunakan Windows. Paling jauh hanya akan menyimpulkan bahwa yang berkomentar seperti itu adalah hipokrit.

Masalahnya, apakah untuk mengeluarkan pendapat yang pro perangkat lunak bebas harus dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak bebas pula? Jawaban yang benar secara politis yang sering diusung untuk perang sistem operasi biasanya adalah: “gunakan sistem operasi yang sesuai dengan situasi yang ada”. Jika kita memaksakan pendapat pro perangkat lunak bebas harus berasal dari perangkat lunak bebas pula, maka secara tidak langsung kita hanya akan menerima pendapat yang berasal dari pengguna ultra fanatis, yang dalam kondisi apapun tidak mau menggunakan sistem operasi selain yang dia sukai.

Pada kenyataannya, sefanatis apapun kita terhadap perangkat lunak bebas, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar komputer di dunia terinstal Windows. Bisa jadi komputer kantor masih menggunakan Windows. Bisa jadi kita harus mengakses Internet dari komputer publik yang hampir pasti menggunakan Windows. Bisa jadi kita memang menggunakan Windows walaupun aplikasi di atasnya adalah perangkat lunak bebas. Bisa jadi kebutuhan saat ini mengharuskan menggunakan Windows. Dan tentunya bisa saja kita mengeset *string user-agent* perambah kita ke Internet Explorer agar kita bisa melakukan transaksi perbankan tanpa masalah.

\*\*\*

Tahun lalu, DPRD DKI Jakarta menetapkan Perda untuk menertibkan perokok di tempat-tempat umum. Setelah Perda tersebut ditetapkan, beberapa perokok melakukan protes dengan alasan bahwa masih banyak anggota DPRD yang merokok. Jika untuk menetapkan Perda ini harus menunggu sampai semua anggota DPRD tidak merokok, bisa jadi Perda ini sampai kapanpun tidak akan pernah ditetapkan.

Kemudian soal pembajakan perangkat lunak, kenyataannya Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pembajakan perangkat lunak terbesar di dunia. Besar kemungkinan orang Indonesia menggunakan atau setidaknya pernah menggunakan perangkat lunak bajakan. Jurus pembelaan yang paling sering saya dengar adalah kurang lebih, “Kayak kamu gak pernah membajak aja.” Masalahnya, bukan berarti lantas pembajakan adalah sesuatu yang bisa dibenarkan. Jika memang ingin mengurangi pembajakan perangkat lunak di Indonesia, langkah awal sederhana yang perlu kita lakukan adalah menghentikan penggunaan jurus *ad hominem tu quoque* dalam hal-hal yang berhubungan dengan ini.

Dan tentunya jika hal ini dibiarkan tanpa terkendali, peserta diskusi lama kelamaan akan mengeluarkan jurus *tu quoque* pamungkas: “Kayak kamu gak pernah buat dosa aja.” Seandainya inisiatif untuk memperbaiki sesuatu harus datang dari orang yang tidak pernah berbuat dosa, maka kita tidak akan pernah dapat memperbaiki hal tersebut, sampai kapanpun dan untuk masalah apapun.

\*\*\*

Tulisan ini ditulis oleh seorang pengguna Gentoo Linux Gentoo Linux fanatik yang tetap pragmatis dengan menggunakan Internet Explorer Internet Explorer 6.0 di Windows Windows XP, legal tentunya :).

119 comments

  1. WP-Browser detectionnya bener-bener berguna mas, karena saya liat mayoritas pengguna blog sudah menggunakannya sebagai salah satu hal yang wajib dipakai.

    Jablai Blognya udah dipaten yah..??? :d

  2. Kayaknya saya termasuk yang “JABLAI BLOG nih…..Jadi Malu (moga tidak)…Makin di baca makin pusing nih mas PRI artikelnya (hehehehe)

    Salam Salut dari “KUWAIT”

  3. Komentar ini ditulis oleh seorang pengguna Ubuntu Linux pemula yang tetap ‘dinamis’ dengan menggunakan Firefox 2.0.0.1 dan terkadang Internet Explorer 6.0 Di Windows XP, legal ‘crack’an tentunya :)

  4. Seandainya inisiatif untuk memperbaiki sesuatu harus datang dari orang yang tidak pernah berbuat dosa, maka kita tidak akan pernah dapat memperbaiki hal tersebut, sampai kapanpun dan untuk masalah apapun.

    Sangat setuju, dan hal ini juga berlaku untuk bidang-bidang yang lain.. apapun itu. Seharusnya kita bisa mengambil sisi positif dan menilai secara obyektif isi dari “nasihat” ataupun “ceramah” yang kita terima.

    Jangan sampai mata kita membutakan hati untuk menerima kebenaran dari orang yang kelihatannya “pernah berbuat salah” ataupun “membenarkan kesalahan” dari orang yang kelihatannya “tak pernah berbuat salah”

    “Hendaklah kamu tidak melihat siapa yang mengatakannya, tapi lihatlah apa yang dikatakannya” – Sahabat –

  5. Dengan kata lain, kita harus bisa membedakan antara apa yang diomongin dan siapa yang ngomong. Memang gak gampang. Suka keburu ‘judge the book by the cover’ duluan..

  6. Memang kita dapat membedakan “isi pesan” (message) dan “pembawa pesan” (media). Akan tetapi akan aneh jika kelakukan pembawa pesan berbeda dengan isi pesan yang dia bawakan. (Kalau dalam Islam, validitas dari sebuah hadist tidak sekedar berdasarkan isinya saja akan tetapi bergantung kepada siapa yang meriwayatkan hadist tersebut.)

    Contohnya, misalnya ada seorang perokok berat yang berkhotbah di beberapa tempat untuk tidak merokok, bahkan dia marah-marah melihat orang yang merokok. Bagaimana? Apakah Anda akan percaya dengan dia.

    Atau contoh lain adalah orang yang mabok kemudian memberikan khotbah supaya jangan mabok (sambil mabok). Saya yakin kita hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali kan?

    Sama seperti melihat orang yang belum pernah pakai Linux kemudian berkoar-koar untuk pakai open source. Sebal juga melihatnya. Lain halnya kalau melihat orang yang setiap hari pakai open source kemudian bicara tentang perlu atau tidaknya pakai open source. Yang ini tentu saja pantas untuk didengarkan.

    Kata orang sono, practice what you preach…

  7. Kalau saya sih pengin make’ yang legal tapi harganya :O jadi ya pake aja yang ada dulu –mbajak–
    Pernah coba pake linux 2 bulan di warnet saya tapi ngga’ nutup setorannya.. :d

  8. #13

    Contohnya, misalnya ada seorang perokok berat yang berkhotbah di beberapa tempat untuk tidak merokok, bahkan dia marah-marah melihat orang yang merokok. Bagaimana? Apakah Anda akan percaya dengan dia

    Saya yakin nasihat dari perokok itu adalah “Jangan ikut-ikutan merokok seperti saya ! sekali kecanduan sulit bgt berhentinya ! Kesehatan saya terus dirong-rong dan uang saya mengalir tiada henti untuk rokok !” he3. :d Begitu juga pesan pembajak seperti saya ” Jangan ikut-ikutan pake software pembajak ! Kalau udah kebiasaan ntar susah pindahnya ! Ayo pindah ke open source sebelum kena grebek ! ”

    Btw, waktu saya kecil kawan saya ketauan morokok oleh ayahnya, saat ayahnya marah2 sampai berbusa2 ( hiperbola ) dengan entengnya dy menjawab “ah, bapak juga ngerokok, ngapain ngelarang2” . :-“

  9. temanya jadi berat-berat gini…
    kapan-kapan ngomong disain produt dunk…
    ngomongin jonathan ive, dedengkotnya desain apple gimana
    (setudju….!)

  10. #13

    setuju ama pak budi. kalau apa yg diucapkan nggak selaras dengan perbuatannya, kadang sk bikin ilfil :D

    *pake xp home edition, legal donk*

  11. #13,

    Dalam beberapa hal, analogi yang Pak Budi sampaikan ada benarnya, namun sebagai generalisasi tentu saja tidak bisa seperti itu. Pengecualian yang disampaikan Priyadi benar adanya.

    Mengapa tulisan “Pahlawan Kesiangan” menjadi polemik karena bapak hanya mencantumkan satu sisi tanpa membahas sisi lain. halah, apa sih maksud eke… Maksud saya, bapak hanya mencela pahlawan kesiangan tersebut tanpa melihat banyak juga pahlawan kepagian, dalam arti orang yang memang benar-benar selaras antara tindakan dengan ucapan.

    Sekarang, tanpa pretensi artikel “pahlawan kesiangan” (yang memang menjadi salah satu link yang ditautkan oleh Priyadi), secara obyektif (tuh ada orangnya), tulisan Priyadi benar adanya. Ya khan…

  12. Jurus penangkis jurus tu quoque pemungkas: “Plis deh, tu quoque banget sich luh?” :d Tapi mungkin teteup lebih amannya sih sebelum beropini hendaknya menyiapkan “bekal” pribadi dulu, supaya mantap dan meyakinkan (IMHO) :d

  13. Yang agak sulit ketika terlibat dalam diskusi adalah: tetap dalam topik dan mendeteksi inti masalahnya.

    Penjelasan pak Budi di atas ini masuk akalku. Pake iBook G4-nya ya, pak? *keluar dari topik* :D

  14. WP-Browser detectionnya bener-bener berguna mas, karena saya liat mayoritas pengguna blog sudah menggunakannya sebagai salah satu hal yang wajib dipakai.

    Jablai Blognya udah dipaten yah..?
    idem 1 gitu lho

  15. Saya cenderung untuk teriak “gunakan legal software”, bukan “gunakan opensource software”. Ada banyak pilihan legal software, tapi pilihan menjadi lebih sedikit di opensource software. ;)

  16. Memang bisa juga sih orang mengatakan kebenaran, walaupun itu tidak ia lakukan, cuma biasanya kurang berkesan. Kecil kemungkinan orang berubah karena perkataannya.

    Kalau orang sudah “do”, sangat besar kemungkinannya orang bisa berubah, karena sudah ada contoh teladan yang dapat diikuti.

    Asal ada teladan yang konsisten, orang mestinya mau kok ikut.

  17. meskipun masih ngga ngerti apa hubungannya antara bagian atas dengan bagian bawah postingan ini, tapi makasih udah di pasangin link jablay blog :)

    mudah-mudahan jadi makin terkenal :p

    jadi makin diperhatiin orang gitu :p

  18. #6 kesimpulan anda terhadap judul itu SALAH.
    Dari statement:
    “Be Legal with Open Source”
    tidak bisa disimpulkan:
    “Kalo Bukan Open Source Berarti Tidak Legal”

    Lebih cocok kalo disimpulkan:
    “Daripada gak mau bayar lisensi sehingga pake bajakan (ilegal), lebih baik pake open source (yang mana free dan legal)” \:d/

  19. Wah keduluan, saya juga mau nulis soal Ad Hominem (artinya personal attack kan) berbulan-bulan yang lalu, tapi ndak nemu topik yang pas. :P

    Walaupun ad hominem ini sangat enak untuk digunakan dalam diskusi, saya rasa penting diketahui bahwa penggunaan ad hominem itu tidak sehat karena justru membelokkan inti diskusi dan mengaburkan tujuan diskusi.

  20. Hehehe….

    Postingan Priyadi emang bisa menjalar kemana-mana. Dari politik sampai agama :)

    Dari sekian banyak komen, kayaknya beberapa yang saya tangkep sich gini:
    1. Jangan liat siapa yang menyampaikan tapi apa yang disampaikan. Walapun keluar dari d***r ayam kalo telur ya diambil, tapi keluar dari d***r bangsawan kalo kuning ya pergi.
    2. Supaya lebih nyampe pesen yang ingin disampaikan (halah), harusnya ada kesatuan antara kata dan perbuatan (tidak hipokrit, munafik, dll).
    3. Saya pribadi gak rela negara keluar uang banyak buat M$ (kayak kasus jeruknya Priyadi), tapi sampai sekarang gak bisa pake linux. Pakenya windows bajakan. Padahal kita seharusnya mengakui HaKI.
    4. Sebenernya mimpi/harapan para user pada umumnya adalah adanya free OS dan software yang sama atau lebih baik dari Windows atau produk M$ lainnya namun lebih user friendly. Kapan ya? :)

  21. Jadi tambah menaraik saja. Semoga sikap dan niat kita utk menghemat uang negara dengan OpenSource dapat kesampaian.

    Tidak susah ternyata pindah ke OpenSource.

  22. #32: Lebih mudah begini gak;

    Jika open source maka legal. (jika P maka Q)
    Jika tidak legal maka tidak open source. (jika ~Q maka ~P)

    Jadi kesimpulannya tidak tampak ‘meloncat’ :)
    *halah, aku ngomongin apa sih ini*

  23. Walaupun gw sekarang pake mac os, tapi tetep aja gw gak mau menghina windows, karena gw juga masi pake windows untuk aplikasi engineering yang tentu saja gak ada di mac.

  24. Torvalds says:

    Microsoft isn’t evil, they just make really crappy operating systems. (Linus Torvalds)

    My name is Linus, and I am your God. (Linus Torvalds)

    See, you not only have to be a good coder to create a system like Linux, you have to be a sneaky bastard too. (Linus Torvalds)

    Software is like sex: it’s better when it’s free. (Linus Torvalds)

    …and Bill replies: “So, where do you want to go today boy?” :-b

  25. Siapa sih yang nulis Jablay Blog -> Sirik amat. Kalo sesutu yang (Inspector Gadget Wannabe) itu berguna, ma yang bagus kan, bisa nambah informasi. 2 bulan yang lalu, aku juga pernah nanya bagaimana buat Browser Detection. Tapi mas priyadi gak jawab2, mungkin sibuk, jadinya buat sendiri aja Silahkan lihat.

    Bodoh amat mo dibilang Jablay Blog atau apa maju terus,:d
    biarkan anjing mengonggong kita jalan terus.

  26. Kayak kamu gak pernah buat dosa aja.” Seandainya inisiatif untuk memperbaiki sesuatu harus datang dari orang yang tidak pernah berbuat dosa, maka kita tidak akan pernah dapat memperbaiki hal tersebut, sampai kapanpun dan untuk masalah apapun.

    nah saya setuju yang ini…
    mulailah melakukan perubahan, walau sekecil apapun.
    Kearah yang lebih baik tentunya… :D

  27. os dan browser itu adalah pilihan. setiap orang berhak untuk memilih os dan browser yang digunakan, selama itu memungkinkan (punya lisensi, atau punya softwarenya, atau mau mendownload softwarenya terlebih dahulu, ataupun mau membeli dahulu bahkan meminjam). jadi gak bisa dijadikan lama untuk menganiaya orang dikarenakan os dan browser yang digunakannya….

    komentar ini ditulis oleh pengguna FreeBSD-Firefox, dengan menggunakan Camino-Mac OS X.

  28. Berdasarkan pengalaman pribadi gua sih jujur aja, selama ini sudah termanjakan dengan program-2 mahal non open source yang udah user friendly banget di “otak gua” yang gila ini :d, tapi karena gak mampu beli yah jadi dengan agak terpaksa sekitar 3 atau 4 tahun mencoba berpaling ke program-2 Open Source yang “masih sedikit beredar”, dan ternyata otak dan jari gua (sumpah) gak mampu berpikir (entah karena males atau ogah ribet, pokoknya bawaanya bete aja kalau liat program-2 yang ribet itu) serta bekerja untuk mengikuti program “open Source” yang agak sedikit beda dengan yang biasa dijejalkan di otak ini :d:d , dimana gua rasa kesel dan menyebalkan banget. So gua dengan sangat terpaksa 100% mendukung program Open Source, tapi sorry gak mau, males dan sejuta alasan lainnya ogah belajar lagi dari awal untuk menggunakannya. Disisi lain gua juga agak berat untuk mengeluarkan ongkos untuk memakai Program Original yang mahal, jadinya saat ini tetep 1000000% pakai bajakan :d . Kesimpulannya mungkin gua termasuk tipe-2 orang indonesia yang males belajar dan pelit untuk ngeluarin duit, berharap berubah ke arah yang lebih baik, tapi untuk merealisasikannya ntar dulu :”>. Tulisan ini dibuat oleh Firefox Fanatix di MS Windows XP 100% Original yang sudah gua hapus dan diganti dengan yang 1000% bajakan, dan tetap dengan mengharapkan program Open Soure Sukses sehingga gua bisa ikutan didalamnya walaupun dengan rasa yang enggan banget saat ini :d

  29. hai kawan2 disini, maaf ya OOT. saya blogger pemula nih, pengen tahu cara ngasih pingback ama trackback tuh gimana ya ? saya cari2 di google gak dapet2 tuh.. tolong jawab ya.. Majulah perbloggeran INdoneSia !!!

  30. Selama ini saya adalah orang yang lama dimanjakan pakai program Open Source (flexible, bebas didownload, bebas dioprek, gampang update, dan tentu saja murah).

    Sehingga rasanya sulit saya kalau harus bekerja di lingkungan Windows di notebook saya (Windows, Office dan aplikasi lainnya beli asli). Apalagi kadang harus ngescan virus dan error lainnya bikin stress (aduh harus reinstal lagi deh tuh XP).

    Tapi kali lain, kalau saya presentasi tentang Open Source saya akan pakai Windows XP dengan PowerPoint, dengan tujuan menunjukkan proses migrasi itu tidak sesulit yg dibayangkan :-) Slide presentasi disajikan dalam 4 tahap

    1. Babak 1, Slide awal pakai PowerPoint di Windows XP
    2. Babak 2, langsung switch ke Open office di Windows dengan presentasi sama
    3. Babak 3. langsung switch ke Open Office di Linux
    4. Babak 4. Openoffice di Linux dengan GUI 3 dimensi kekekeke

    Mungkin biar smooth, jalankan semuanya diatas virtualisasi.

    Masih salahkah dan pahlawan kesiangan kah kalau presentasi ttg Open Source seperti di atas ???

  31. Ah…pokokna mah Open Source (sumber terbuka?) en Linux (pinguin ?) sama-sama kedinginan coz jarang dibelai bow…

    Punten dey ah…! Sayah mah suka error klo terlalu serius…8-}

  32. pri, quelque fois tu utilise aussi ‘ad hominem tu quoque’ dans tes commentaires, je pense…
    (tu comprends ce que je dis, right?~parce que t’es tres intelligent)

  33. #54: yang mana?

    #51:

    4. Openoffice di Linux dengan GUI 3 dimensi kekekeke

    Mungkin biar smooth, jalankan semuanya diatas virtualisasi.

    yang terakhir ini kayanya susah dijalanin di virtualisasi :)

  34. Trend yang ada sekarang itu: Linux adalah OS hacker. Hampir tiap remaja pake Linux biar dibilang hacker, abis itu menghina Windows habis2an dengan alasan yang kurang masuk akal. Windows juga bagus kok, tapi kalau masalah coding, saya lebih suka Linux, karena lebih simple dan ga usah pusing masalah API. Tapi, linux tidak lebih baik dari pada windows.

  35. #13:

    suatu hari perusahaan acme sedang membutuhkan armada mobil. untuk membicarakannya, tim direksi mengadakan rapat. direksi A mengusulkan untuk beli kijang karena beberapa faktor yang menurut perhitungan A menjadikan kijang cocok untuk dipakai sebagai armada perusahaan.

    direksi A sendiri datang ke rapat dengan mobil volvo. dan direksi lain gak ada yang menuduh A hipokrit karena sadar kebutuhan A dan kebutuhan perusahaan berbeda.

    sayangnya semua jadi beda kalo benda yang akan di-procure adalah sistem operasi.

  36. tambahan lagi:

    kompas pernah memuat editorial yang anti mou RI-MS, tapi saya gak pernah dengar ada yang protes, padahal web servernya pake MS-IIS. untuk setting cetaknya juga rasanya software MS pasti terlibat.

    detik juga pernah memuat editorial anti mou RI-MS, beberapa kali. ini juga gak ada yang protes, padahal si donnybu pake windows di laptopnya.

    anehnya, di sini software yang dipake untuk komen jadi penting banget.

  37. Buat buka distro Linux, pelatihan SDM Linux, dan pusat support :-)

    Eh nanti yg biasa dapat komisi jualan lisensi akhirnya berubah jadi penyedia support Linux juga deh. Lha proyeknya yang ada itu.

    Ada gula ada semut, dan sesuai jurus palugada, apa loe minta gua ada.

  38. Saya juga pake XP legal, mau dikata apa lagi meski saya mendukung Linux apa daya saya belum mampu memakainya.
    apakah saya juga hipokrit?

  39. Saya rasa, OS mana yang digunakan, sebaiknya tetap lihat kembali ke kebutuhan pengguna. Mungkin saja pemerintah mengadakan MoU (terlepas segala polemiknya) dengan MS karena merasa bahwa kebutuhannya memang MS. Mungkin Linux/Open source dianggap tidak bisa memenuhi kebutuhan, selain mungkin karena tidak adanya support yang baik.

    Menurut saya di titik inilah sebaiknya para pendekar-pendekar open source berjuang. Menyediakan support, menyediakan penerangan bahwa ada produk alternatif yang bisa digunakan yang jauh lebih murah selain produk Microsoft. Bukan malah menghabiskan energi untuk gontok-gontokan, kampanye hitam, perang urat syaraf di forum2, dll.

  40. #71: seandainya MoU ini digolkan, maka praktis tertutup kemungkinan pemerintah menggunakan opensource di desktop, bertentangan dengan asas menggunakan os sesuai kebutuhan pengguna. padahal belum tentu windows selalu solusi yang paling baik. di sisi lain ada masalah beratnya terms di MoU tersebut.

    coba baca analisis saya di posting sebelumnya. ini bukan sekadar gontok2an gak jelas.

  41. Sebenarnya ini bukan hanya masalah OS ato MieKocok saja. Yang terpenting adalah perilaku pejabat publik yg dibayar rakyat. Masa urusan jual-beli bernilai miliaran rupiah harus rahasia?

    Lucunya, itu utk komputer hingga Pentium 3. Saya lihat di berbagai lembaga pemerintah, terutama di kota besar komputernya canggih-canggih. Sebagian besar menggunakan Pentium IV.

    Jadi nanti tentunya komputer2 tersebut harus diisi OS yang harganya tidak masuk pada MoU :)

  42. #37 Kalo dari Teori Logika Matematika kamu benar Lita. Tapi penggunaan kata ‘tidak’ yang berulang2 dalam satu kalimat biasanya dihindari. Kalo ada padanan kalimat yg bisa meng-eliminir kata ‘tidak’ kan lebih bagus :)

    Statement:
    Jika open source maka legal. (jika P maka Q)

    Lebih baik (menurut saya) daripada:
    Jika tidak legal maka tidak open source. (jika ~Q maka ~P)

    Walaupun dua-duanya sebenernya sama. \:d/

    Kalo mau legal alternatifnya:
    1. Pakelah open source
    2. Pakelah OS non-open source berlisensi

    Kalo mau ilegal:
    1. Pakelah OS berbayar tanpa lisensi

    Wah…Banyakan alternatif yang legal yach, tapi kok masih ada yang ilegal :d

  43. maunya seh pake linux, apa daya berat jg ninggalin photoshop yg sangat ok punya…
    lagian saya klo ngenet di warnet yg pake windows, jd-ny yaaa kedetect-nya windows xp teruss:d

  44. To #13…..
    Pak Budi,
    Walaupun dulu saya mahasiswa bapak, kali ini saya gak setuju dengan pendapat Pak Budi (lah dulu juga saya bisa gak setuju). Hehehehe….:d

    Saya setuju dengan “practice what you preach”, tapi kalo belum “practice” ya sah-sah saja “preach”.

    Guru saya di SMA bilang “Nanti daftar ke fakultas kedokteran atau teknik saja ya. Supaya lebih mudah nyari kerja dan bisa dapet gaji gede.” Saya nurut saja. Makanya ketemu Pak Budi di ITB :d

    Tapi saya gak nge-cap guru SMA saya hipokrit atau apa. Juga gak bilang “Bapak nyaranin saya masuk FK atau Teknik. Lah kok Bapak malah masuk IKIP???” Kualat nanti saya :) :d

  45. masalahnya beda lagi klo udah di kantor, mo ngotot pake linux, kompie gantian. mo ngotot masalah legal/ga legal posisi cuman tukang ketik, mana bos ngirim memo aja pake word, ngirim data 2 baris pake excel.
    // kok jd curhat

  46. kayaknya user di indonesia masih lebih familiar pake windows dari pada pakai produk open source, kalo pake windows kan banyak yang tahu jadi gak usah pake training2 segala, otodidak mulut ke mulut lama2 juga tahu, tapi kalo pake open source kan harus pake “belajar” dulu, nah ini yang biasanya pada gak mau alias males mikir.

    produk windows kan cuma ada beberapa versi, produk open source kayaknya kebih banyak, itu juga bikin bingung,

    kalo duit-nya nyampe sih disarankan pake yang legal, taat peraturan, kalo duitnya gak nyampe gimana? proses penegakan hukumnya apakah sudah berjalan dengan baik?

  47. Thx mas pri, sudah memajang tautan parodi wikinya kampung gajah yg ternyata isinya cuma menuh2in otak dg hal2 yg tak berguna. Bobotnya sama dg komen2 macam “pertamaaax” ato “hore 10 besar” cuma formulasi bentuknya aja lbh rumit. Kepada semuanya JANGAN SIA2KAN BIAYA KONEKSI INTERNET ANDA DENGAN MEMBUKA TAUTAN PARODI WIKI KAMPUNG GAJAH! Demikian untuk menjadikan periksa dan harap maklum. :)

  48. #13: (Budi Rahardjo) Wah bahaya sekali itu Pak, kalau menilai kualitas sesuatu dari siapa yang mengatakan. Misalkan mengenai sesuatu hal, seorang yang terkemuka sebagai pakar memberi pernyataan, dan ada orang lain yang tidak terkenal memberi pernyataan yang bertentangan, maka yang benar adalah yang pakar itu? :-)
    Bapak ini dosen kan? Pernah tahu prosedur review anonimus di yang dilakukan di jurnal-jurnal? Di situ makalah yang masuk sengaja dibuat anonim terhadap tim reviewer, tujuannya supaya dalam penilaiannya, tim reviewer benar-benar mendasarkan pada _kualitas_isi_ makalah tersebut. Bukannya siapa yang membuat makalah tersebut.
    He he bapak ini kok malah bawa-bawa hadist :-)

  49. [-x Simbah mau demooo sama bloger di INDONESIA …Tolong Di sampaikan Di dewan Bloger.. sebagai Orang Alit..dan AWAN (mendung) Kenapa definisi jablai blog di hapusss..padahal itu istilah yang membanguunn … Kan mudah kalau kita mau kritik teman biar tambah maju…8->

  50. GUe pake XP bajakan :d
    pengen pindah ke Open Source tp males belajar..~X(
    Pengen yang legal tapi ga punya duit..:(
    Mending pake mesin tik aja kali yeeeeeeeeee =))
    *peringatan pemerintah : jangan tiru orang ini!! :-“

  51. pindah ke lain OS tak semudah membalik telapak tangan. :D
    lagian kantor pake windows ori. :]>-

    ** gak pasang link ah… ntar dikira jablai **

  52. Aku rasa pas pertama kali migrasi dari MS-DOS ke MS-Windows nggak perlu belajar2 lagi deh (nggak tau knapa?), tapi kalo mau migrasi ke Linux harus ngerti macem2, ah jadi riweuh/ribet, atau mungkin aku orangnya males belajar ya? recheck lagi…

  53. Sorry OOT nih,
    Mengingat banyaknya komentar yg terus-menerus mampir di setiap posting-an Pak Priyadi. Apa tidak sebaiknya memasang WP-Plugin Apa-Namanya-Ya yang memungkinkan komentar itu hadir di setiap paragraf dari posting-an Bapak.Sekali lagi, di setiap paragraf. Jadinya kan komentar lebih fokus pada kalimat apa, dalam paragraf mana dari postingan berjudul apa dalam blog Bapak.
    Beberapa bulan yg lalu saya terkagum menemukan WP-Plugin Apa-Namanya-Ya itu. Tapi karena saya blm mengenal Alat-Penanda-Web-Bagus-Tanpa-Hrs-Lihat-Di-PC-Yg-Sama seperti del.icio.us, maka saya jadi susah menemukan lagi WP-Plugin Apa-Namanya itu.
    Terimakasih atas perhatian Pak Priyadi.
    Selamat menemukan WP-Plugin Apa-Namanya-Ya .
    Apapun OS-nya yg penting nda SO-nya.
    Salam.

  54. Hmm… Jadi pingin nge-tes kommen nih…

    Salam kenal semuanya, kami mahasiswa Fisika ITB pengguna Linux sejati…
    Kapan-kapan kunjungi blog kami ya (sori numpang promosi, soalnya baru bikin)
    JABLAI deh…

  55. teman2 ada yg tau forum ato blog yg isinya maniak windows and agen FUD nya microsoft gak ? pengen tau apa sih yang diobrolin… :) oh ya met taon baru ya…

  56. contoh Tu Quoque juga:
    Seorang pengendara ngebut, dikejar polisi, kemudian ketangkep.
    Saat ditilang bahwa ia ngebut, ia menjawab enteng, “.. tapi, bapak ngebut juga khan… berarti legal donk, wong polisi aja boleh..”

  57. sip..sip, tapi keliatan semua ya mas, yang make Open Source apa gak :d. Tapi intinya bukan itu kan mas\:d/. Cuma pengen tahu aja….;), apa aku benar?:x

  58. Pingback: things left unsaid
  59. Linux Bagus dan menarik untuk dipelajari … tapi ya mo gimana kerja developing web pake ASP.NeT yah harus windows dong :P

    *diposting pake FireFox OS Ms.XP Legal boso wong londo*

  60. Baru baca post ini… Jablai Blogs-nya bagus… :)
    Ah, sekalian nge-test aku pake browser apa dech… (browser aneh? :o )

Leave a Reply to Herman Saksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *