Mengapa Gentoo Linux?

Gentoo Linux

Untuk urusan sistem operasi yang saya gunakan sehari-hari, saya menjatuhkan pilihan ke [Gentoo Linux](http://www.gentoo.org). Pilihan yang saya ambil ini jelas bukan pilihan yang populer. Kebanyakan pengguna komputer tidak menggunakan Linux, dan jika memang menggunakan Linux, sangat sulit untuk menemukan yang memilih distribusi Gentoo Linux.

Gentoo Linux adalah distribusi Linux yang relatif tidak ramah kepada pemula. Gentoo Linux menuntut pengguna untuk sedikit banyak mengetahui cara kerja sistem. Hampir semua paket perangkat lunak di Gentoo harus di-*compile* dari *source code*. Walaupun hal ini sudah diotomatisasi oleh utilitas [Portage](http://en.wikipedia.org/wiki/Portage_(software\)), tetap saja dibutuhkan pengetahuan yang lebih dari pengguna. Soal instalasi? Jangan bandingkan dengan distribusi *user friendly* semacam [Ubuntu](http://ubuntu.org) yang bisa diinstal kurang dari 30 menit. Instalasi ‘normal’ Gentoo Linux bisa memakan waktu sehari atau lebih.

Jadi mengapa saya tetap memilih Gentoo Linux?

Sebelum Gentoo, distribusi pilihan saya adalah [RedHat Linux](http://en.wikipedia.org/wiki/Redhat_Linux). Siklus rilis RedHat adalah sekitar enam bulan sekali. Walaupun demikian RedHat tetap memberi dukungan terhadap versi lama sampai kurang lebih dua tahun setelah versi tersebut dirilis. Hal tersebut memungkinkan saya untuk melakukan *upgrade* setiap dua tahun sekali, walaupun biasanya saya sudah melakukan *upgrade* lebih cepat lagi.

Masalah timbul setelah RedHat menghentikan produksi RedHat Linux, dan beralih untuk mengembangkan [Fedora Linux](http://en.wikipedia.org/wiki/Fedora_(Linux_distribution\)). Untuk Fedora, RedHat juga memiliki kebijaksanaan siklus rilis setiap kurang lebih enam bulan sekali. Tetapi tidak seperti RedHat Linux, dukungan *update* berhenti setelah versi baru dirilis. Jadi setiap enam bulan sekali pengguna terpaksa untuk memperbaharui sistemnya jika ingin mendapatkan pembaharuan.

Bagi saya *upgrade* setiap enam bulan terlalu cepat, apalagi dalam keadaan terpaksa. Setiap kali *upgrade* harus ada waktu yang diluangkan untuk melakukan migrasi berkas-berkas konfigurasi dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan *upgrade*. Untuk itu saya mulai menjajaki distribusi lainnya. Distribusi yang saya coba waktu itu adalah [Mandrake](http://en.wikipedia.org/wiki/Mandriva_Linux), [Debian](http://en.wikipedia.org/wiki/Debian), dan terakhir Gentoo.

Pilihan akhirnya saya jatuhkan ke Gentoo. Alasan utama saya adalah bahwa Gentoo bisa diperbaharui secara kecil dan terus menerus (*incremental*). Beban untuk melakukan migrasi ke versi baru bisa dilakukan secara sedikit demi sedikit setiap minggu, dan bukan secara sekaligus setiap enam bulan sekali misalnya.

Memang Gentoo adalah distribusi yang membutuhkan waktu yang sangat lama dalam melakukan instalasi. Pertama saya menggunakan Gentoo, saya membutuhkan kurang lebih tiga hari untuk melakukannya. Untungnya hal ini hanya perlu dilakukan satu kali saja, paling tidak jika pengguna belum berniat untuk memperbaharui versi [GCC](http://en.wikipedia.org/wiki/GNU_Compiler_Collection), [glibc](http://en.wikipedia.org/wiki/GNU_C_Library) atau paket perangkat lunak dasar lainnya. Jika sudah mahir, instalasi Gentoo tidak perlu sampai menghalangi produktivitas. Pada instalasi Gentoo saya yang kesekian, saya melakukan instalasi di bawah [KNOPPIX](http://en.wikipedia.org/wiki/Knoppix). Dengan demikian saya bisa tetap melakukan aktivitas sehari-hari sambil menunggu proses instalasi Gentoo berakhir.

Terkadang memang ada beberapa kasus *upgrade* yang membutuhkan perlakuan khusus, semisal *upgrade* ke [modular X.org](http://www.gentoo.org/proj/en/desktop/x/x11/modular-x-howto.xml) dan sebagainya. Tetapi biasanya pencarian sederhana di Google, [Gentoo Wiki](http://www.gentoo-wiki.com), maupun [Gentoo Forum](http://forums.gentoo.org) akan membuahkan solusinya.

Gentoo adalah salah satu distribusi dengan komunitas yang sangat kuat. Hampir semua aplikasi yang saya inginkan sudah dapat di-*emerge* dengan mudah. Saya pikir hanya Debian yang bisa mengalahkan Gentoo dalam urusan jumlah paket perangkat lunak yang didukung dengan resmi. Sebuah aplikasi yang baru dirilis terkadang sudah memiliki [ebuild](http://en.wikipedia.org/wiki/Ebuild) dalam kurang dari 1-2 hari saja. Jika *repository* utama Gentoo belum memiliki aplikasi yang kita inginkan, biasanya ebuild yang kita cari bisa dapat dengan mudah ditemukan di [bugs.gentoo.org](http://bugs.gentoo.org) atau di [Gentoo Forum](http://forums.gentoo.org). Selain itu, membuat ebuild juga sangat mudah: aplikasi yang ber-[*autoconf*](http://en.wikipedia.org/wiki/Autoconf) hanya membutuhkan ebuild sepanjang beberapa baris saja. Ebuild adalah sebuah *script* yang berisi instruksi untuk melakukan instalasi program, dari mulai mengunduh program, melakukan kompilasi sampai meng-*install*-nya ke dalam sistem. Karena ebuild adalah sebuah *script*, maka ebuild bisa bekerja terlepas dari berapa versi GCC atau glibc yang digunakan, tidak seperti paket perangkat lunak yang berisi *binary* hasil kompilasi yang biasanya sangat tergantung dari tempat dimana *binary* tersebut dihasilkan. Dengan demikian, keberadaan *repository* pihak ketiga tidak terlalu membawa masalah seperti halnya pada distribusi-distribusi yang mengandalkan paket perangkat lunak *binary*.

Sekitar tiga bulan yang lalu, saya berniat ingin mencoba *game* [Simutrans](http://www.simutrans.com/). *Game* *freeware* tanpa kode sumber ini ternyata tidak jalan di Gentoo Linux saya. Alasannya, sistem saya masih menggunakan GCC versi 3.3, sedangkan Simutrans di-*compile* menggunakan GCC 4.1. Sedangkan untuk memperbaharui sistem saya ke GCC 4.1 akan membutuhkan waktu kurang lebih sama dengan yang dibutuhkan untuk melakukan instalasi ulang. Untuk itu saya terlebih dahulu mencoba *distro* lainnya dengan harapan ada yang bisa memenuhi selera saya dan saya tidak perlu menghabiskan 1-2 hari untuk melakukan rekompilasi atau reinstalasi.

Distro yang saya evaluasi tentunya tidak jauh-jauh dari [Ubuntu](http://www.ubuntu.org) dan [OpenSuSE](http://www.opensuse.org). Tetapi ujung-ujungnya saya tetap menghabiskan waktu dan *bandwidth* saya untuk melakukan reinstalasi Gentoo Linux. Kedua distro tersebut tentunya bukan sembarang distro, tetapi ternyata saya lebih cocok dengan Gentoo Linux, entah sampai kapan. Walaupun demikian, saya gila jika menganjurkan Gentoo Linux kepada pengguna komputer kasual. Kebanyakan pengguna Linux mungkin akan lebih cocok dengan [OpenSuSE](http://www.opensuse.org) maupun [Ubuntu](http://ubuntu.org) dan derivatif-derivatifnya.

Bagi yang ingin mencicipi Gentoo tanpa harus menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga mungkin bisa mencoba [Sabayon Linux](http://en.wikipedia.org/wiki/Sabayon_Linux). Sabayon adalah *distro* turunan dari Gentoo, tetapi berbeda dengan Gentoo, Sabayon menyediakan paket *binary* lengkap pada DVD-nya. Pengguna Sabayon tidak perlu melakukan kompilasi sampai sistemnya dapat dipakai secara penuh. Walaupun demikian, pengguna Sabayon juga memiliki pilihan untuk berpindah ke Gentoo.

137 comments

  1. wah gak jadi kasih komen ah, takut saya, saya belum tau linux sih, masih harus banyak belajar. itu powerbook btw masi dipikir2 nih mo latest ubuntu, fc8, ato leopard aja hmmm semua DVD dan CD sdh siap/ada / masi nge-backup data ampe malam2 :(( sorry, jadi curhat.

  2. Sepertinya debian lebih cocok bagi saya, apt-get nya sangat memanjakan pengguna, Namun demikian sekali-kali bolehlah compile untuk meng-upgrade aplikasi :d

  3. Buat saya mungkin bukan opreknya yang menakutkan, melainkan lamanya waktu :). Lha waktu iseng compile koffice yg butuh waktu bermenit2 aza sudah gelisah apalagi yang berjam-jam atau harian.

    Mengenai OpenSUSE, update software cukup cepat karena tersedia juga build servicenya. Software dapat dicari melalui repo atau online melalui http://software.opensuse.org/search yang sudah mendukung one-click-install.

    Soal bandwidth, mungkin bisa pakai pendekatan DVD repo, baik Ubuntu-id maupun OpenSUSE-id menyediakannya.

    Oh ya, untuk upgrade, OpenSUSE menyediakan dukungan untuk versi sebelumnya dengan baik. Variatif sih karena ini pengalaman pribadi.

    Btw, kalau mau coba [lagi] OpenSUSE 10.3, termasuk repo, nanti saya kirim deh. Hitung2 pengganti distribusi waktu pestablogger :-D.
    Kalau bisa scam fav blogger kan bagus buat promosi, hehehe…

  4. weh masih setia gentoo tooh.

    setelah 2thn+ pake gentoo, akhirnya balik lagi ke turunan debian yaitu ubuntu.

    alasannya: pake gentoo itu tiap hari ato tiap minggu ada aja yg pengen di oprek dan ini menggangu produktivitas jam kerja karena keasikan ngoprek

  5. Gentoo sudah saya tinggalkan sekitar 3 tahun yang lalu. Bukan apa-apa, kadang untuk compile satu paket seperti mozilla butuh berjam-jam sampai satu harian.

    Sekarang beralih ke Debian utk server dan Ubuntu untuk desktop. Tentu saja Windows XP nya jg masih digunakan, seperti sekarang ini :D

  6. #6:

    Oh ya, untuk upgrade, OpenSUSE menyediakan dukungan untuk versi sebelumnya dengan baik. Variatif sih karena ini pengalaman pribadi.

    yang masalah dengan upgrade bukan proses upgradenya, tapi yang harus dilakukan user untuk migrasi. misalnya kalau apache diupgrade dari 2.0 ke 2.2, ada kemungkinan kita harus migrasi confignya. di gentoo ini bisa dilakukan 5-10 menit setiap minggu, dan bukan seharian tiap upgrade distro. sebenernya sih bisa aja sih pake binary hasil backport, tapi ini terlalu eksperimental dan kadang gak dilanjutkan setelah versi barunya dirilis. pake gentoo saya bisa maintain sistem berbasis gcc 3.3 dengan software2 terbaru sampai 3 tahun lebih.

    Btw, kalau mau coba [lagi] OpenSUSE 10.3, termasuk repo, nanti saya kirim deh. Hitung2 pengganti distribusi waktu pestablogger :-D. Kalau bisa scam fav blogger kan bagus buat promosi, hehehe…

    nah, ini baru bener. kemaren waktu bagi2 opensyusye masa saya gak kebagian :)

    #7:

    pake gentoo itu tiap hari ato tiap minggu ada aja yg pengen di oprek dan ini menggangu produktivitas jam kerja karena keasikan ngoprek

    ah kompulsif ngoprek itu ada dimana2 kok. nginstall (k)ubuntu di desktop rumah ujung2nya dioprek juga :)

    #9:

    Gentoo sudah saya tinggalkan sekitar 3 tahun yang lalu. Bukan apa-apa, kadang untuk compile satu paket seperti mozilla butuh berjam-jam sampai satu harian.

    untuk paket software yang lama diinstall biasanya ada paket -bin-nya. buat mozilla bisa pake mozilla-bin, firefox pake firefox-bin, openoffice pake openoffice-bin

  7. Kalo masalah upgrade, Slackware juga mudah untuk diupgrade. Selama ini saya mengikuti Slackware-Current dan hasilnya sistem tetap stabil, meskipun itu sebetulnya untuk proses development rilis Slackware selanjutnya.

    Mengenai dukungan, sampai saat ini, Slackware masih mendukung versi 8.1, meskipun tidak untuk semua paket, tapi hanya paket-paket yang berhubungan dengan masalah keamanan saja.

    Cobain pake Slack mas Pri :d

  8. waduh, ngebayangin instalasinya aja udah pusing sampe makan waktu berhari2 gitu, kayaknya gak bakalan nyoba deh, at least dalam waktu dekat…. :d

  9. :o rajin banget di perbaharui terus :d yang terpenting kan penggunaan sesuai kebutuhan kalo nggak ada permasalahan yang berarti sesuai kebutuhan, apa ngaruhnya kecuali kita emang punya niat juga ngembangin linux :d/

  10. Simutrans kaya TTD (Transport Tycoon Deluxe) yah, apakah simutrans memang turunan dari TTD? Kalau dilihat dari websitenya kayanya simutrans lebih kompleks.

  11. Walaupun demikian, saya gila jika menganjurkan Gentoo Linux kepada pengguna komputer kasual.

    keputusan yang bijak, soalnya kalo dipaksain ntar malah kontra produktif ama memasyarakatkan linux dan melinuxkan masyarakat; bisa langsung pada kabur ntar..hehehe

  12. pegel linux hiks….nyoba donglot opensuse live saja gak klaar²…nasib kismin benwit
    *semoga blom tergoda nyoba gentoo

  13. update unt fedora tdk langsung berhenti ketika ada versi yg baru keluar, contohnya dukungan unt fc6 baru dihentikan satu bulan setelah fedora 8 release, jd kurang lebih waktu dukungannya sekitar 1 thn. kalo sdh terbiasa dg keluarganya redhat dan pengen dpt dukungan yg lebih lama (seperti rhel), alternatif lainnya tentu bisa melirik ke centos.

  14. heheheh… gentoo termasuk distro oprekan dulu jaman “mencari jati diri”… hehehe komen gua cuma thanks to Daniel Robbins (founder Stempede yg kemudian hengkang bikin Gentoo) dia nemuin teknik prefetch jadi apps bisa jauh lebih cepat jalan dibandingkan teknis non prefetch.

    *perbandingan distro yang “populer” dulu Fedora awal (lupa 1 ato 2) ato masih RedHat? *lupa launch Firefox in 9 seconds (banyak bouncingnya … geuleh), tapi distro yang di recompile pake prefetch bisa kurang dari 1 detik :D

    Distro awal saya kenal linux dulu SLS (Sunsite Linux?) sebelum adanya Slackware dan Redhat. Bertahan dengan Slackware sampe versi 9 *versi 11 udah jarang pake… tapi basically mungkin udah terlalu tua untuk “berani” melawan mainstream, karena aplikasi gede2 seperti “menelan” kompatibilitas distro kecil *tapi maut ini.

    Kalo mau lebih brutal lagi bisa pilih http://www.linuxfromscratch.org, bener-bener bagus buat yang mau belajar how-the-operating-system-works, compilasi makan 1 hari lebih hehehee….

    Salut buat Pak Pri yang konsisten bertahan dengan Gentoo :) … gua merasa cukup tua untuk ngoprek segitunya karena secara kerjaan banyak sekarang cuma bikin dokumen, browse web, dan email… well I stick with Mac OS X for that purpose :D

    Linux? Secara umum kalo main aplikasi yang hidup di Open Source ya masih linux, tapi untuk aplikasi yang basic, seperti networking dll, kalo ga ada ketergantungan dengan aplikasi besar yang “linux only” ya gua pilih OpenBSD. Membangun from scratch cuma butuh 5-10 menit :D

    Apapun distronya, tetep Open Source kredit pointnya :)) … hidup Open Source, dan hidup semangat membangun negara ini lewat teknologi informasi.

    *halah udah kayak message siaran TV populer itu… bwakakakkaak *ngacirrrr

  15. Pri said:
    nah, ini baru bener. kemaren waktu bagi2 opensyusye masa saya gak kebagian :)

    => Wakakaka secara gitu loh boss, sampeyan kan center of the stage susah takut ngeganggu bwakakaka… soal CD bisa minta Kang Vavai, ato juragan batere punya seabreg tuh… apalagi beli batere buat IBM T41p nya bonus deh satu pack seabreg OpenSUSE bwakakaka… secara kita calon walikota mendukung gerakan open source *ngacirrr :D sekemmmmm :D

  16. Saya sih demen distro yang seperti “Mac” package nya, jadi aplikasi semua terpaket satu folder kalo mau install tinggal tarik alias ngopy, ga perlu mikir dependencies dll, sayang distro bagus konsepnya (mirip Mac) seperti GoboLinux ga jelas nasibnya :( huuh :(

  17. hare geeeeeeene masih pakai Linux?
    Vista gitu lho, trendy dan mencerminkan orang kaya (soalnya hardwarenya kudu kelas berat…hihiih)

  18. Halo Priyadi,

    mau comment sedikit tentang Gentoo, saya sempet pake gentoo sekitar 2 tahun-an dan sebelon gentoo, saya pake debian.

    Pengalaman pahit pribadi saya sewaktu memakai gentoo yaitu ketika meng-upgrade satu system yang sudah lama tidak di ‘upgrade’, jadi istilahnya tidak di upgrade selama hampir 2 tahun misalnya. Pada saat waktunya untuk emerge –newuse –emptytree –update world – hampir 30% packagenya broken sewaktu di compile, setiap issue harus search forum.gentoo.org dan sekitar 50% tidak ada di forum dan bugs.gentoo. pada akhirnya saya lihat problemnya cuma satu yaitu karena ebuild yang di bikin tidak lengkap yaitu ebuildnya gagal untuk mendeteksi dependency system saya karena sudah terlalu lama tidak di upgrade. hasilnya yaitu upgrade yang menyakitkan selama kira2 2 hari.

    dan juga selama saya memakai gentoo ini, gentoo distribution telah mengganti config layout buat beberapa package yang buat saya penting, yaitu apache dan network config (net.eth0). Apache yang terutama sangat berpengaruh karena butuh waktu untuk memindahkan file2 configurationnya dan menggabungkan config2 yang lama dengan yang baru, karena formatnya berubah total, hampir 90% dari mergingnya harus manual.

    saya tidak keberatan kalau pengalaman di atas terjadi di system pribadi, tapi kalau untuk production system yang harus 24×7 hidup, sungguh tidak bisa di terima.

    pilihan linux untuk system saya di kantor sekarang ini adalah ubuntu LTS, alasan terutama dari LTS karena ubuntu men-support user LTS sampai 5 tahun, jadi untuk saya jangka waktu yang cukup lama ini sesuai dengan system requirement saya, dan as always, apt-get is superior :)

  19. #12:

    Mengenai dukungan, sampai saat ini, Slackware masih mendukung versi 8.1, meskipun tidak untuk semua paket, tapi hanya paket-paket yang berhubungan dengan masalah keamanan saja.

    pengennya sih bukan cuma masalah keamanan saja :)

    #25:

    Bukannya debian juga begitu ?? bagaimana dengan linuxmint ??

    terakhir pake debian kalau gak salah mereka punya policy ngepatch, bukan update dari upstream. tujuan pake gentoo itu untuk pakai sistem yang bleeding edge, dengan versi terbaru dari upstream, tapi bisa diupdate secara berkala. debian kalau gak salah bisa pake backports tapi rasanya punya masalah sama kalau misalnya udah ada versi baru dari distro.

    linuxmint blum pernah coba :)

    #26:

    kalo sdh terbiasa dg keluarganya redhat dan pengen dpt dukungan yg lebih lama (seperti rhel), alternatif lainnya tentu bisa melirik ke centos.

    centos rasanya terlalu konservatif. baru diupdate setiap 3 tahun.

    #28:

    Salut buat Pak Pri yang konsisten bertahan dengan Gentoo :) … gua merasa cukup tua untuk ngoprek segitunya karena secara kerjaan banyak sekarang cuma bikin dokumen, browse web, dan email

    wah sebenernya justru pake gentoo niatnya untuk meminimalkan ‘kewajiban’ untuk ngoprek :).

    #30:

    Saya sih demen distro yang seperti “Mac” package nya, jadi aplikasi semua terpaket satu folder kalo mau install tinggal tarik alias ngopy, ga perlu mikir dependencies dll, sayang distro bagus konsepnya (mirip Mac) seperti GoboLinux ga jelas nasibnya

    ini kok kayanya gak cocok, paling ngga di linux. kalau pake sistem gitu, artinya semua dependency harus dimasukin ke satu folder juga. kecuali kalo usernya mau ngurusin secara manual :). macosx bisa gitu karena API-nya stabil didefinisikan.

    #34:

    Vista gitu lho, trendy dan mencerminkan orang kaya (soalnya hardwarenya kudu kelas berat…hihiih)

    wah, gentoo juga mencerminkan ‘orang kaya’ (soalnya butuh bandwidth gede dan prosesor kelas berat) :)

    #35:

    saya tidak keberatan kalau pengalaman di atas terjadi di system pribadi, tapi kalau untuk production system yang harus 24×7 hidup, sungguh tidak bisa di terima.

    oh, gentoo memang bukan buat server. kalo server saya lebih suka centos.

  20. Halo saya pribadi cenderung suka ke debian dan turunannya, mungkin karena di kampus saya banyak pengguna dan ada repositorinya :-D

    Tapi dari dulu saya pengen banget coba gentoo, tapi kagak ada mesin yang bisa diinstall :-( Klo diinstall di laptop jadi kagak bisa kerja nantinya :-D

  21. wah iya gw pernah donlot iso nya trus nyoba install. gada wizard sama sekali. boot langsung ke terminal..bingung mo ketik apa. akhirnya gw ketik aja c spasi d

    pantes sabayon langsung melesat peringkatnya di distrowatch. ternyata turunan gentoo toh

  22. #37:

    Kalau baca review begini gua sudah malas duluan menggunakan Gentoo. Seram.

    no problem :). tujuannya juga bukan advocacy kok :)

    #40:

    wah, mas Pri hobi bgt ya nyusahin diri sendiri :d, tp gpp, kan hobi yak?

    wah, sebenernya justru pake gentoo biar gak nyusahin :)

  23. Yang saya suka dari OpenSource adalah adanya pilihan yang sangat flexible.
    Jadi kalo suka Gentoo … silakan saja, bukan berarti Gentoo paling bagus.
    Suka Centos ? silakan saja, bukan berarti Centos paling bagus …
    Demikian juga dengan distro lainnya. Tergantung selera man ….
    Kalo orang yang ekstrim malah bisa-bisa dia pilih LinuxFromScrath.
    Saya sendiri pilih Debian. Bukan apa-apa sih … males updatenya … he he

  24. Ini yang paling menarik bagi saya, karena isi yang lain nggak saya pahami. Maklum, awam. :)

    Sebagai konsumen saya butuh aplikasi apa saja yang murah syukur gratis, tapi andal dan… itu tadi… seperti kata Priyadi.


    Bagi saya upgrade setiap enam bulan terlalu cepat, apalagi dalam keadaan terpaksa.

  25. di kantor juga, server pd awalnya memakai gentoo, fungsinya cuman buat repository SVN/CVS duank, jd temen2 sy walaupun kompienya Windoze, tetep aja kalo kerja “harus” di gentoo menggunakan emacs via ssh

    namun semenjak mysqlnya rusak (diotak-atik sm boss), tuh server skrng nganggur dah, jarang dipake, soalnya temen2 juga udah diperbolehkan kerja di kompie masing2 dgn pilihan OS masing2

  26. DOS sudah gak laku ya???
    BTW, untuk pemula, saya harus belajar lewat distro yang mana ya?

    Ada yang bilang Knoppix, ada juga bilang langsung pake Debian / Ubuntu

    Bingung… !!

  27. BTW, untuk pemula, saya harus belajar lewat distro yang mana ya?

    Ada yang bilang Knoppix, ada juga bilang langsung pake Debian / Ubuntu

    Bingung… !!

    @51:
    Kuliax!! :D
    akhir2 ini doyan bagi2 cd kuliax ke teman2 yang gak pernah menyentuh linux. Kemarin bahkan menginstalkan teman Kuliax (trus download game2 dari repository debian buat anaknya).

    back to topic:
    Gentoo yah?
    Kemarin2 kalau googling2 begitu, memang banyak sih yang hasilnya nemu di wiki Gentoo. Beberapa artikelnya memang membantu banget.

    Tapi kayaknya aku masih akan stay di Kuliax (plus Debian).

  28. Distribusi yang saya coba waktu itu adalah Mandrake, Debian, dan terakhir Gentoo.

    Memang, awalnya perlu mencoba beberapa distro linux dan pada akhirnya menjatuhkan pilihkan pada salah satu distro linux yg dirasa paling cocok.

  29. I’m sticking with Ubuntu, software updatenya menyenangkan sekali, bahkan untuk berganti dari 7.04 ke 7.10 pun bisa dilakukan dengan mudah menggunakan software update.

    Mudah2an bisa nantinya dari 7.10 ke 8 :P

  30. # 33 …kita samaan. Masih newbie juga sehhh. Aku mo coba linux mint aja ah soalnya tampilannya asyik. Ubuntu juga kayanya keren, palagi sekarang ada UbuntuMe. Apapun, linux the best lah. (tapi sekarang gi pake jendela…wakakakak)

  31. Sebelumnya salam kenal mas priyadi …

    Hmm … gentoo :”>
    sebagai user linux baru, saya langsung jatuh cinta sama gentoo, awal kenal linux make fedora core3 ( saat itu jangankan linux, install windows aja belum pernah ) selanjutnya beralih ke slackware, …

    setelah beberapa lama dikenalkan (lebih tepatnya dicekoki) temen untuk menggunakan gentoo walhasil sampai sekarang masih setia menggunakan gentoo sebagai desktop :)

    #21
    http://www.openttd.com,
    saya sudah coba juga (tersedia juga di portage nya gentoo)
    jadinya ngegame mulu :((

    #36
    wah, gentoo juga mencerminkan ‘orang kaya’ (soalnya butuh bandwidth gede dan prosesor kelas berat) :)

    wah saya kurang setuju dg mas priyadi, internet saya hanya dijatah 300M sebulan (itupun lambat dan dibatasi) , dan komputer saya juga komputer lama, :d

  32. “Jadi mengapa saya tetap memilih Gentoo Linux?”

    Sepertinya sih biar bisa pamer di sini hehe…

  33. Hampir 10 tahun saya memakai Linux. Mulai dari Mandrake dan Slackware serta berakhir di Gentoo Linux.

    Untuk kebutuhan personal, sekarang saya memakai Mac OS.

    Untuk urusan kantor, sekarang saya menjadi Windows user (urusan lisensi dan instalasi sudah disediakan).

    Untuk urusan pekerjaan, saya berhadapan dengan OpenVMS, Linux Enterprise dan Solaris.

    Untuk urusan komunikasi bergerak, saya percayakan pada perangkat Symbian UIQ.

    *I miss my Linux desktop*

  34. gento, bahasa jawanya preman. sering digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang preman. contoh: gento pasar, gento terminal dll dkk. woh gentone teko woh awas minggir gentone liwat :D

  35. Memang Gentoo adalah distribusi yang membutuhkan waktu yang sangat lama dalam melakukan instalasi. Pertama saya menggunakan Gentoo, saya membutuhkan kurang lebih tiga hari untuk melakukannya.

    Lah, kalo situ aja butuh 3 hari, gimana dengan saya yang udah melupakan berbagai script ?

  36. Hmm, aq punya misi bikin anak kost ditempatku pake linux. Tapi masih bingung distro apa yang paling tepat? Distro apa yang paling mudah dan paling mendekati windoz?

    Padahal pas dikasi liat beryl dan compiz fusion (yang bikin vista KO), semua udah mau ikut install.

    Tapi karena masih trgantung terminal, pada tetep pake windoz.

    Aq sendiri pake Mandriva.

  37. Itu dia kelemahan GNU/Linux…membuat orang-orang ketagihan (hehehe)!!!
    Setidaknya Mas Priyadi bisa melihat postingan saya ini, dan saya memilih distro populer ini hanya karena kemudahan semata.

  38. Begitu dikenalkan Mandriva, seminggu berikutnya saya bunuh Win$ dari laptop saya. Hingga kini saya mampu menyelesaikan semua pekerjaan tanpa ada masalah. Ayo!!

  39. gentoo memang menyenangkan saya ga punya keluhan sama gentoo :D

    #28, ya kalao urusan server saya tetep milih freebsd atau openbsd. kekeuh! (beberapa kasus centos deh, ngaku)

    #36, mencerminkan orang kaya? orang kaya macam apa yg pake gentoo di notbuk pentium II seperti saya :p

  40. Hehehe..bicara soal penggunaan distribusi GNU/linux pasti tidak akan pernah habisnya karena menyangkut selera dari individu masing-masing.

    Salam

  41. Pengennya bisa pake linux, daripada vista sucks ini, tapi lha kerjaanku mengharuskan pake: adobe photoshop CS2, CorelDraw X3, Sony Vegas, Pinnacle Studio, Adobe Premiere. Lha terus apa di Linux ada sopwer yang bisa menggantikan sopwer2 di atas? Kalo di rumah buat fun aja sih pake Fedora 6.

  42. Pingin juga sebener-nya sekali2 nyoba gentoo, tapi belum sempet, kalo urusan kemudahan masalah pemaketan software sekarang kayaknya keluarganya debian masih rajanya :D.

  43. wah…. saya klo sabayon dah nyoba, tp yaitu krn biasa pake yg udah compile… jd pas pake sabayon ndadak set VGAnya..

    klo ubuntu tinggal install sante dah selesai langsung bisa dipake :D

  44. Kayaknya belon ada koreksi deh soal support thdp fedora yang..
    Quote:
    “Tetapi tidak seperti RedHat Linux, dukungan update berhenti setelah versi baru dirilis.”

    Yang benar seharusnya:
    “Mirip-mirip dengan RedHat Linux, dukungan update Fedora terus berjalan sampai 2 versi Plus 1 bulan, jadi misalnya untuk Fedora 8 yang sekarang, update masih akan ditemukan sampai 1 bulan setelah fedora 10 dirilis.”

    Apalagi kalau ditambahkan:
    “Lagipula saat ini sudah cukup banyak yang berhasil melakukan upgrade langsung dari fedora versi sebelumnya ke versi baru misalnya dari Fedora 7 ke Fedora 8. Tapi memang ada trik yaitu akan kerepotan bila sistem kita banyak mengandung paket yang non standard dan tidak/belum ada update untuk fedora 8.”

    jadi kapan kembali ke fedora om? :)

  45. pake winxp, vista, hackintosh, dan opensuse..
    pernah juga pake slackware, redhat, dan mandrake..

    Susahnya pake linux kalo mo install di komputer gress,device baru..= “kerja keras”.
    saya bingung kenapa vendor vendor hardware nggak seberapa mendukung ni O/S. takut ketahuan source code drivernya kah.

  46. Saya juga pake gentoo :)
    berlawanan dengan komen2 disini (gentoo butuh bandwidth gede, upgradenya susah, dll), justru aku pake gentoo karena di kos ga ada internet dan upgradenya gampang … :)
    tinggal emerge -upDf world > list.txt
    bawa ke warnet, tinggal pake wget -bci list.txt (setelah dibersihkan) …. trus logoff dari aplikasi billing, tinggal pulang ke kos, ntar sore/besoknya datang, ambil file2 yang sudah jadi :p
    copy ke /usr/portage/distfiles, jalanin emerge -uaD world … jadi dah ..
    klo mau upgrade, download snapshot aja, diekstrak, trus jalanin kayak yang diatas .. :P

    nakal – ya …. kreatif – tentu :p

  47. #105:

    tinggal emerge -upDf world > list.txt bawa ke warnet, tinggal pake wget -bci list.txt (setelah dibersihkan)

    hahaha, sama, dulu saya juga gitu. bedanya saya di kantor, bukan di warnet. sebelum berangkat siapkan list.txt, pas pulang kantor langsung wget di dalam screen. besok paginya sudah ada dan tinggal disedot :)

  48. Mas Pri, bisa minta tips instalasi & penggunaan Gentoo? Sepeti yang diatas. Saya pingin nyobain nih. Tapi koneksi internetnya terbatas. Thanks.

  49. Mas Pri, bisa minta tips instalasi & penggunaan Gentoo? Sepeti di yang atas.
    Saya pingin install tapi terbatas koneksi internetnya. Thanks.

  50. kalo dipikir-pikir, sebenarnya belajar linux itu mendingan pake Gentoo dan sejenisnya, karena sejak awal banget kita udah ditunjukin dan dipaksa untuk mengerti “jeroan” linux. Masalahnya seperti yang teman-teman lain sampaikan di atas, untuk spending time and bandwidth are the worst thing for me.

    Bukankah bandwidth mahal? Apalagi saya yang tidak beruntung, di tempat yang bandwidth terbatas dan harus di share ke puluhan unit komputer.. Hiks..

    Akhirnya saya menjatuhkan hati saya ke Ubuntu untuk kebutuhan desktop dan CentOS untuk kebutuhan server.

    NB: Kalau CentOS dipake karena emang pertama kali kenal yah RH itu… apalagi CentOS itu EL.

  51. Klo saya ngasih ke anak-anak SMA, PCLinuxOS 2007. Untuk yang baru migrasi dari Wind Blows dan cuma buat desktop aja kayanya mudah dipahami tuh. Pastinya levelnya ga sampai ngoprek segala. Reponya juga ada di tokonya bang vavai.

  52. human being yang baik pake ubuntu. human being yang punya server pake debian di servernya. yang pake gentoo biasanya turunan greencreatures dari mars. huahahaha…

    kesimpulan saya, dari kemudahan instalasi, resolving dependensi, debian dan ubuntu rojone. gentoo, dont try that at home! you have been warned. huahahaha…

    regards.

  53. wah pengen install gentoo lagi, terakhir install X nya gak jalan , udah mana 2 hari lebih install nya :(( . tapi sekarang i stick with ubuntu aja deh…

    now being forced using w2k :((

  54. Saya pernah ingin nyoba, download livecd pun sudah selesai ( burn ke cd ). Cuman belom sempat install, Ahh.. saya yakin Gentoo tak sulit bagi yang mau mencoba secara sungguh-sungguh.

  55. saya baru kurang dari 3 bulan pakai gentoo, dah kepincut abis… bahkan pernah 1 hari s1 malam untuk menginstall open office. Saya setuju dengang hampir semua yang anda ceritakan, tapi jangan salahkan gentoo, karena memang “Gentoo is a Distro for advanced, aware, patient users and also for those who like to mess up a lot :)”

    Saya juga mohon bimbingannya nih mas pri :)

  56. :d he..he. Kalo saya mah pake PCLinuxOS tuh.. tapi sebelomnya ganti2 distro melulu yng pertama kali Mandrex, Ubuntu, Opensuse, Fedora dll, akhirnya jatuh hati ke PCLinuxOS. Diantara temen2 ada gak pake pclinuxos ?

  57. boleh dicoba nih sarannya om pri. Meskipun saat ini aku sdh terbiasa dengan ubuntu tapi nyoba2 distro lain kan ndak ada salahnya…ya ndak? ada ulasan ttg freeBSD om? :d

  58. Salam kenal mas Priyadi, OSnya boleh apa saja yang penting harus tetap produktif dalam belajar dan bekerja, saya sendiri memakai kubuntu 7.10 dan WinXP untuk mengerjakan tugas sehari-hari, untuk distro gentoo mungkin saya harus mempertimbangkan lagi soal instalasinya melihat tingkat kesulitan dan waktu yang diperlukan tersebut.Saya masih merasa nyaman dengan OS yang saya gunakan sekarang.

  59. _RALAT_ Gentoo TOP, akhirnya hari ke-5 pemasangan berhasil dan memuaskan :)>-. Sayang g bisa ambil paket bin.

    Terima kasih artikel-nya Pak!

  60. sing penting, produktif..jangan make Linux untuk sekedar gaya-gayaan dan asal ‘beda’

  61. make ubuntu yg katanya gampang aja msh keteteran mas … apg gento linux … uih kudu banyak belajar lagi. Maklum pemula banget. 8-|

  62. belakangan tim gentoo kok ya bermasalah dgn manajemen pengembangan..

    rilis 2008.0 (yg lama ditunggu2 oleh bbrp pengguna..) bermasalah shg segera direvisi jd 2008.0r1,
    kde-4.x yg tersendat (masih masked; maklum sih kl emang blm stabil..) :)

    tp ya mendingan installer gentoo yg skrg..apalg buat newbie spt saya.. :D

  63. saya sebelumnya cm pake “jendela” doank..belum pernah terpikirkan buat coba “pinguin”..

    tapi begitu saya coba “Gentoo Linux” yang susah banget installnya, ternyata saya malah jadi penasaran dan ketagihan sama distro ini..

    sampe sekarang saya masih asik dengan “konsol”, belum berhasil install window manager..

    Gentoo bener2 bikin saya penasaran..

  64. salam kenal Om dari saya yogieza, pengguna pemula Sabayon 5.5 KDE :D.izinkan saya berguru pada Om karena masih belum mudeng soal compile dsb.
    terima kasih :D

  65. Bagus bgt bro ulasannya..
    makasi bnyak atas infonya
    makin semangat saya make Linux / Opensourcce
    saya make Ubuntu ma Fedora
    pengen juga ngerasai sensasi rumitnya Gentoo

Leave a Reply to Taryan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *