Hukum Kekekalan Energi

Manusia mendapatkan masalah baru di awal abad 21 ini, yaitu krisis energi. Kebutuhan energi selalu meningkat, sedangkan ketersediaan energi selalu berkurang atau ongkos produksinya bertambah mahal. Sebenarnya hanya ada sedikit jenis sumber energi primer yang tersedia di bumi:

* [Energi surya](http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_energy), berupa radiasi yang berasal dari matahari.
* [Energi panas bumi](http://en.wikipedia.org/wiki/Geothermal_power), yaitu energi yang berasal dari perbedaan temperatur antara inti bumi dan permukaan bumi.
* [Bahan bakar fosil](http://en.wikipedia.org/wiki/Fossil_fuel), yaitu peninggalan dari hewan dan tumbuhan purbakala yang mengendap di perut bumi, termasuk di antaranya adalah [batu bara](http://en.wikipedia.org/wiki/Coal), [minyak bumi](http://en.wikipedia.org/wiki/Petroleum) dan [gas alam](http://en.wikipedia.org/wiki/Natural_gas).
* [Bahan bakar nuklir](http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_fuel) seperti [Uranium](http://en.wikipedia.org/wiki/U-235) dan [Plutonium](http://en.wikipedia.org/wiki/Pu-239).
* [Pasang surut air laut](http://en.wikipedia.org/wiki/Tidal_force) yang disebabkan oleh efek gaya gravitasi matahari dan bulan terhadap bumi.

Sebagian energi surya sendiri diserap secara alamiah menjadi misalnya [energi hidro](http://en.wikipedia.org/wiki/Hydropower), [energi angin](http://en.wikipedia.org/wiki/Wind_power), [energi ombak](http://en.wikipedia.org/wiki/Wave_power) dan [energi kimiawi yang tersimpan pada tanaman](http://en.wikipedia.org/wiki/Photosynthetic). Terkadang lebih praktis dan ekonomis bagi manusia untuk memanfaatkan energi-energi sekunder ini ketimbang memanfaatkan energi surya secara langsung.

Di antara energi-energi primer tersebut, hanya energi surya (beserta hasil konversi alaminya), panas bumi, dan pasang surut air laut yang merupakan [energi terbaharui](http://en.wikipedia.org/wiki/Renewable_energy), atau dengan kata lain energi-energi tersebut tidak akan pernah habis dalam jangka waktu kehidupan umat manusia. Sedangkan bahan bakar fosil dan nuklir suatu saat nanti akan habis.

Masalah paling serius adalah masalah [pemanasan global](http://en.wikipedia.org/wiki/Global_warming) yang diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar fosil. Masalah yang terakhir merupakan yang dibicarakan pada [UNFCCC 2007](http://en.wikipedia.org/wiki/2007_United_Nations_Climate_Change_Conference) di Nusa Dua, Bali. Di masa yang akan datang, penggunaan jenis bahan bakar ini akan ditekan seminimal mungkin. Semakin sedikit penggunaan bahan bakar fosil, maka semakin ramah terhadap lingkungan.

Bicara soal energi tentunya kita juga perlu mengetahui hukum-hukum alam tentang energi. Yang paling penting adalah [hukum kekekalan energi](http://en.wikipedia.org/wiki/Conservation_of_energy) dan [hukum pertama termodinamika](http://en.wikipedia.org/wiki/First_law_of_thermodynamics): energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Implikasi lain dari hukum ini adalah: [efisiensi konversi energi](http://en.wikipedia.org/wiki/Energy_efficiency) dari satu bentuk ke bentuk lain tidak akan pernah melebihi 100%.

Dengan demikian setiap klaim apapun tentang ide dan penemuan energi serta hal-hal lain yang berhubungan dengan energi perlu kita cermati bersama, paling tidak sesuai dengan hukum kekekalan energi yang seharusnya tidak terlalu sulit untuk dimengerti ini. Selain itu kita juga perlu menelusuri apa sumber energi primer dari ide atau penemuan tersebut.

Sebagai contoh, tahun lalu media sering membicarakan minyak [pohon jarak](http://en.wikipedia.org/wiki/Jatropha) yang diproyeksikan untuk menggantikan bahan bakar diesel. Pohon jarak menghasilkan minyak yang kemudian diproses menjadi biodiesel. Sedangkan energi yang digunakan pohon jarak untuk mensintesis minyak jarak tersebut berasal dari sinar matahari. Konversi energi dari sinar matahari ke energi kimiawi tersebut tentunya tidak 100% efisien, tetapi hal ini tidak begitu menjadi masalah karena sinar matahari itu gratis dan melimpah. Menyebut minyak jarak sebagai ‘sumber energi’ sebenarnya tidak tepat, karena sumber energi sebenarnya adalah sinar matahari.

Beberapa tahun yang lalu waduk Jatiluhur (kalau tidak salah) mengalami kekeringan. Akibatnya, pembangkit listrik tenaga air Jatiluhur tidak bekerja dengan optimal. Kemudian seseorang memiliki ide brilian, “Bagaimana kalau kita pompa air laut ke waduk Jatiluhur, Indonesia kan punya banyak laut?” Tentunya ini adalah argumen yang melupakan hukum kekekalan energi. Energi yang dikeluarkan untuk memompa air laut ke waduk Jatiluhur dapat dipastikan lebih besar daripada energi yang didapatkan dari PLTA Jatiluhur tersebut. Dengan demikian, memompa air laut ke waduk Jatiluhur sebenarnya hanya akan membuang-buang energi.

Kembali lagi [ke urusan bahan bakar berbasis air](https://priyadi.net/archives/2007/12/06/bahan-bakar-blue-energy/). Informasi soal teknologi ini sampai saat ini masih sangat tidak jelas, yang ada hanyalah klaim-klaim belaka. Tetapi untuk keperluan pembahasan, anggaplah yang dilakukan penemunya adalah mensintesis bahan bakar dari air (saya pun tidak yakin ini yang dimaksud). Jika itu yang dilakukan, maka proses tersebut haruslah membutuhkan energi karena air sendiri sudah berada dalam potensial energi yang rendah. Menyebut air sebagai ‘bahan bakar’ adalah pernyataan yang menyesatkan. Berdasarkan hukum kekekalan energi, maka energi yang dipakai untuk mensintesis bahan bakar dari air haruslah lebih tinggi daripada energi yang dihasilkan. Jika energi ini berasal dari bahan bakar fosil, maka masalah justru bertambah besar. Segala klaim dan perhitungan tentang ramah lingkungan dan sebagainya haruslah dilakukan terhadap emisi dari energi masukan ini, dan tentunya bukan dengan misalnya mengukur atau bahkan mencium emisi dari knalpot mobil yang menggunakan bahan bakar tersebut.

> In this house, we obey the laws of thermodynamics. –[Homer Simpsons](http://imdb.com/Quotes?0778454)

79 comments

  1. Pada saat mengkonsumsi energi itu memang kelihatan “hijau”, tapi apakah kita terus menutup mata bahwa sebenarnya dalam proses memproduksi energi itu ternyata “hitam”?
    Kalau energi itu kekal, berarti kita tak perlu cemas terhadap habisnya minyak bumi ya, karena pasti akan berubah dalam bentuk lainnya :d

  2. Bagaimana berhemat energi?bisa dari yg kecil2 dulu,klw memungkinkan bisa jalan,ga usah bawa kendaraan,mematikan lampu yg gak kepake,minimalkan penggunaan ac,segera cabut charger klw penuh.matikan komputer klw ga penting.dsb.tapi kok susah ya? :(

  3. Satu-satunya (yang bisa saya temukan sejauh ini) penggunaan bahan bakar air yang sudah sukses terbukti (bahkan dalam penggunaan komersial) adalah HFI (Hydrogen Fuel Injection).

    Walaupun sekilas terkesan mahal, namun (1) jika sudah diproduksi dalam skala yang lebih besar lagi maka pasti harganya akan turun lagi, dan (2) penghematan yang tersebut disitu sudah termasuk cukup bagus / sudah terbukti meningkatkan efisiensi setiap unit truk.
    Komentar-komentar di halaman tersebut sangat menarik untuk disimak.

    Selain HFI, saya belum menemukan lagi sistem bahan bakar air lainnya yang sudah teruji di lapangan secara komersial / bukan sekedar demo.

  4. Prioritas kita sebaiknya melakukan energy saving melalui konservasi energi, karena negara kita adalah negara yang kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar fossil.

    Misal sektor transportasi ada pemborosan energi sebesar 25%. Disektor rumah tangga ada 10-30% yang bisa dilakukan penghematan. Sayang khan. :)>-

  5. oh tentang enegi lg, saya pribadi ga’ terlalu ngeh ma masalah per-energi-an, saya yakin yg laen-pun sama ~X( dan ketidak-terlalu-paham-nya kebanyakan kita tentang IP memang menjadi salah satu ciri khas warga RI dari dulu, anehnya, soal mengklaim sesuatu, kita warga RI ini, adalah jagonya :)>-

    btw, ada baiknya kalo kang Pri, ngebahas problem per-energi-an mulai dari yg basik (kalo mau dan ada waktu), kek tentang “hukum kekekalan energi” di atas tsb. sehingga nantinya diharapkan kita warga RI ini bisa menjadi warga yg punya muka bin malu alias ga’ nungging ke sebelah atas, pun ga’ mudah mengklaim sesuatu yang bukan hak milik, kek kebanyakan yg terjadi karna memang ada budaya yg bekembang yg seingkali mengklaim sesuatu tsb, di “sana” (dibesarkan dengan budaya kek gt).

    seperti apa itu budaya mengklaim, yaaaaach ke konsep “asal usul” gt dech :P kasihan ‘khan yang lain, ga’ dianggap punya kepribadian dan identitas sendiri :P

    lha? koq saya jadi ngelantur gini, pokoknye intinye adalah biar kita bisa jadi orang pinter dan bertanggungjawablaaaahhhh :D

    cheers
    -stanch

  6. …”energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya…”
    Ada ga ya mesin yang bisa merubah asap knalpot menjadi bensin/solar kembali?

  7. Kalau energi itu kekal, berarti kita tak perlu cemas terhadap habisnya minyak bumi ya, karena pasti akan berubah dalam bentuk lainnya

    Energi yang dihasilkan minyak bumi kan sudah berubah menjadi energi kinetik sehingga mobil/motor kita bisa bolak-balik rumah-kantor. Merusak aspal-aspal dan menabrak mobil/motor lainnya. Dan energi2 itu tidak disimpan seperti minyak jarak. Jadi ya tetap ada, tapi tidak/belum bisa dimanfaatkan kembali.

  8. Pada saat mengkonsumsi energi itu memang kelihatan “hijau”, tapi apakah kita terus menutup mata bahwa sebenarnya dalam proses memproduksi energi itu ternyata “hitam”?

    Setuju. Proses mendapatkannya pun harus dilihat tingkat pencemarannya bukan cuma pas penggunaan. Seperti halnya mobil listrik itu memang ramah lingkungan, tapi kalo listriknya didapat dari membakar batu bara atau diesel ya sama saja.

    Apa mungkin concern Pak SBY adalah “Yang penting udara Jakarta (kota besar) bebas polusi. Perkara di tempat lain polusinya meningkat ya tidak apa-apa.”

  9. wow fantastic mpri
    jadi kira kira idemu apa mpri untuk masalah kekurangan energi ini. air jatiluhur habis mau diisi air laut mpri bilang malah buang2 energy, kasih ide dong mpri, biar kusampekan lewat sms ke Pak SBY nanti, siapa tau idemu lebih keren dan lebih fantastic :) biarpun bbm naik indonesia tetep lancar gak ngalami krisis :)

  10. kenapa PLN tidak membuat pembangkit listrik tenaga angin ya ?
    bukannya garis pantai Indonesia ini sangat panjang dan angin di pantai juga gag akan habis ?
    kalo main SIMS City, pembangkit listrik tenaga angin ini kan biaya investasi dan perawatan paling kecil, tp dah cukup untuk menyalakan 1 kampung

    * ngigau *

  11. kenapa PLN tidak membuat pembangkit listrik tenaga angin ya ?

    PLTA (pembangkit listrik tenaga angin) setahu saya biaya investasinya cukup mahal.

    Selain itu, beberapa waktu yang lalu ada yang menjalankan simulasi komputer, dimana disitu diperlihatkan bagaimana jika ada banyak PLTA di seluruh dunia. Ternyata, jadi mempengaruhi iklim bumi secara global.
    Energi yang dibawa angin yang semustinya mempengaruhi iklim secara normal, jadi lenyap karena kita serap melalui PLTA.

    Memang setiap proses konversi energi ada efeknya, jadi kita yang musti pintar saja meneliti & memilah-milahnya.

  12. Masalah kita: Bentuk tenaga itu tidak kekal. Kita mempunyai masalah dengan bentuk tenaga yang bisa kita gunakan untuk keperluan sehari-hari.

    PS: jangan pakai kata energi dong. tenaga lebih tepat.

  13. Petir saya kira mempunyai potensi energy yg tinggi dan gratis lagi

    tetapi kenapa ya belum ada yg memanfaatkannya…kalo di crita dongeng dulu katanya ada orang jawa namanya Ki Ageng Sela yg bisa nangkap petir…tapi itu khan cuman dongeng ..yg banyak bohongnya

  14. Saya sendiri sih ragu kalau Pemerintah sendiri serius dalam masalah lingkungan hidup, terutama dalam hal penghematan energi fosil.

    Contohnya Pemda Jakarta tidak pernah perduli untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, malah memperparah kemacetan dengan segala macam proyek “yang penting jalan dulu, selesainya sabodo teing”. Gubernur sendiri, kalo ke kantor, bukannya menggunakan moda transportasi yang diprakarsai olehnya (misalnya Busway dan feeder), tapi melalui voorider lebih dari 5 kendaraan bermotor.

    Bang… mane ahlinya? haahhhah

  15. Dalam 50 tahun ke depan, menurut saya ketergantungan ke energi fosil masih sangat besar. Dan soal global warming, barangkali terlalu agak sedikit dibesar-besarkan.

  16. penggunaan bahan bakar bio sendiri saat ini dikritisi karena pengembangannya sering mengabaikan aspek lingkungan (pembabatan hutan dsb), selain itu ditengarai akan menimbulkan persaingan dengan ketersediaan bahan pangan.

  17. #23:

    Dan soal global warming, barangkali terlalu agak sedikit dibesar-besarkan.

    soal global warming, sebaiknya jangan cari berita dari media massa, terutama amerika serikat. coba baca blog semacam misalnya realclimate

  18. Seperti banyak teori-teori fisika, kadang setelah berabad-abad teori tersebut dinyatakan salah. Kira-kira teori Hukum Kekekalan Energi ini berlaku terus sampai kiamat apa enggak ya?

  19. soal global warming, sebaiknya jangan cari berita dari media massa, terutama amerika serikat

    Yak setuju..

    bahkan mencium emisi dari knalpot mobil

    :)).

  20. Sori mas Pri,

    Kan hukum kekekalan energi udah di revisi setelah ada penemuan enstein. Massa bisa dikonversi ke energi. Reaksi fisi dan fusi.
    Energinya besar tapi juga limbahnya.

  21. isu tentang pemanasana global dan sodaranya
    akhir-akhir ini kok begitu menyeruak dan sedang naik daun,
    …bahkan sampai-sampai ada yang bisa bikin bahan bakar dari air,
    dan bahkan di dukung pimpinan negeri ini.

    ini hanya sesaat apa akan terus berkelanjutan ya?
    apa karena adanya konperensi apa tuh di bali?

    Kita tunggu dan amati saja kelanjutannya…..

  22. Formula Einstein juga tidak membatalkan Hukum Kekekalan Energi. Anda tidak dengan mudahnya me-nembakkan sebutir atom hanya untuk mendapatkan reaksi berantai yang akan menghasilkan energi yang dikatakan tidak terhingga. Tetap ada batasnya, sehingga suatu reaktor nuklir musti membutuhkan material Uranium atau Plutonium baru. Jangan lupa, ada istilah sampah nuklir (berupa air berat untuk pendingin raktor dan material Uranium/Plutonium).

    Yaa kira-kira begitulah.

  23. Mungkin cara yang paling efektif untuk mengatasi krisis energy bisa degan cara ini .. jadi masing masing orang belajar tenaga dalam dan ilmu meringatkan tubuh.. jadi kalau pergi kemana mana tinggal lompat …. sana sini …. atu embuat Pembangkit Listrik Tenaga Dalam … PLTD ..:d/

  24. #31:

    Kan hukum kekekalan energi udah di revisi setelah ada penemuan enstein. Massa bisa dikonversi ke energi. Reaksi fisi dan fusi. Energinya besar tapi juga limbahnya.

    ya tinggal dihitung saja pakai rumus kesetaraan massa dan energi: E=m*c^2. sebenarnya jadinya lebih tepat kalau disebut sebagai hukum kekekalan massa-energi.

  25. #15, Pembangkit listrik tenaga angin (nama resminya Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) sudah dibangun di Nusa Penida, Bali. Sekarang baru mensupport listrik di pulau itu saja, pertengahan Desember ini SBY akan kesana bersama dengan investor untuk merancangnya menjadi lebih besar sehingga bisa support listrik Bali – Lombok.

  26. Sains Empirik, dan Budaya Pembuktian

    Sejak manusia ditakdirkan untuk hidup di alam materi, sejak itu pula lah misteri akan materi (dan energi) menyelimuti rasa penasaran manusia.

    Sebelum era sains empirik, manusia mempersepsikan alam semesta (baca: materi) dengan berbagai cara, dari mulai cara tahayul yang sulit dipertanggungjawabkan hingga melalui penalaran (filsafat) yang mulai mencoba mengurai unsur-unsur yang membangun semesta.

    Pada era ilmuwan muslim, klaim-klaim kebenaran tentang semesta mulai dipertanyakan kebenarannya dan dituntut buktinya, hingga sesuatu klaim/teori/hipotesis dapat divalidasi sebagai “benar” setelah terbukti secara empiris. Sejak ini pula lah sains empirik materialistik mulai menemukan prospeknya.

    Makanya kita mengenal dalam metoda ilmiah, selalu ada tahap yang bernama eksperimen, hal tersebut untuk menguji dan sekaligus memvalidasi apakah sebuah hipotesis dapat diakui kebenarannya atau tidak.

    Sejarah Model Atom

    Penggambaran ini dapat kita nikmati misalnya dengan membaca sejarah manusia dalam memodelkan Atom dari sejak Democritus, Dalton, Thompson, Rutherford dst dst.

    Apa yang mereka ajukan adalah model tentang atom, sejauh apa model tersebut diyakini kebenaranya? Tidak ada yang tahu! bahkan si ilmuwan yang bersangkutan sekalipun. Yang bisa dilakukan adalah mendekati kebenaran berdasarkan fakta-fakta eksperimental. Siapa yang paling mendekati kenyataan empirik, maka teorinya lah yang dianggap mendekati kebenaran.

    Sama halnya dengan pembenaran melalui eksperimen, penyangkalan (falsifikasi) terhadap sebuah teori juga bisa dilakukan melalui eksperimen, seperti isu di seputar pemodelan ttg alam semesta antara Newton yang mekanistik yang kemudian difalsifikasi oleh model Einstein yang relativistik di kemudian abad.

    Dalam konteks ini lah saya mendukung sikap skeptis nya Bung Priyadi untuk menuntut bukti empirik, bahkan lebih dari itu menuntut perumusan akan hipotesisnya sendiri yang sampai saat ini masih tersamar, entah karena dari sumber awalnya tersamar atau karena hasil pengolahan media yang membuat gagasannya menjadi tersamar.

    Disisi lain apresiasi juga tetap perlu diberikan kepada setiap niat dan upaya positif untuk merumuskan solusi atas krisis energi yang sedang kita alami.

    Di samping juga rasa berbaik sangka kepada Pak Joko, mungkin saja beliau bukan berasal dari komunitas ilmiah sehingga tidak terlalu mengerti ataupun perhatian terhadap metodologi saintifik ini.

    Karena jika demikian adanya, jangan sampai pertanyaan-pertanyaan skeptik khasnya akademisi ini malah memadamkan asa orang biasa ini sehingga pada gilirannya memperbesar jurang psikologis dari elemen2 lain yang non-akademisi untuk masuk kedalam isu-isu sains yang bukan tidak mungkin mereka membuat gagasan terobosan yang bermanfaat untuk kemanusiaan.

    wallahu’alam..

    Salam..

  27. #44:

    Di samping juga rasa berbaik sangka kepada Pak Joko, mungkin saja beliau bukan berasal dari komunitas ilmiah sehingga tidak terlalu mengerti ataupun perhatian terhadap metodologi saintifik ini.

    saya pribadi tidak punya masalah apa2 dengan siapapun. saya hanya menyayangkan pihak yang terburu2, misalnya dengan membawa temuan ini ke ajang internasional tanpa ada skeptisme sama sekali.

  28. Menurut saya posting an mas Pri edisi ini dalam rangka menjelaskan kesimpangsiuran pendapat dalam posting “blue energy”.
    Saya bisa menerima penjelasan mas Pri. Harus logis (berdasar hukum2 fisika -termasuk kekekalan energi) kalau mempublish penemuan.
    Kecuali dia punya hukum baru. Seperti enstein. Jadi hukum kekekalan energi tetap berlaku sejauh tidak ada konversi massa-energi.

  29. energi akan habis apabila manusia berhenti berpikir, energi terkecil tapi mempunyai kekuatan terbesar adalah energi pikiran, jadi jangan sering sering piktor ya, :d

  30. Menurut paklik saya Mr.Einstein bahwa E=MC^2 itu tidak salah. Bahkan benda apapun selain radioaktif pun bisa dijadikan energi.
    Coba dibayangkan : sebuah batu bata secara teori diatas bisa menjadi energi, sungguh luar biasa. kalo uranium cukup ditembak dengan sebuah elektron maka memecah molekulnya atomnya menjadi atom yang lebih ringan dan mengeluarkan energi. nah bagaimana dengan baru bata? batu bata tersebut harus diapakan supaya atomnya bisa terpecah mengeluarkan energi … mbuh @#$%^
    Energi petir mas pri, sebenernya sih gampang aja menangkap petir. tp siapa yang bisa menyiapkan penyimpan energi (batere) untuk kapasitas petir tersebut dalam waktu singkat ? kalo endonesa bisa mbuat batere tersebut, kenapa tidak
    (petir :loncatan listrik ratusan ribu volt dan ratusan ribu ampere dalam waktu 5 detik … )

  31. Alhamdulillah, semoga dengan banyak pemerhati kehidupan ini ada juga realitas dari para peneliti untuk menunjang kehidupan lebih baik. Namun Tetep memohon yang terbaik Pada Sang Pemberi Kehidupan Azza Wa Jalla

  32. #50: tulisan om rovicky itu bagus sekali, dan rasanya tidak kontradiktif dari apa yang saya tulis. bedanya mungkin om rovicky lebih ‘diplomatis’ daripada saya hehehe.

  33. Lah…kok padha jauh-jauh to mas…
    back to nature aja..
    pake horse power ato cow power aja..
    bisa dinamakan recycling energy
    energi matahari –> tanaman –> Sapi/kuda –>Bio gas kotoran –> pupuk –> tanaman –> seterusnya lah

  34. Rekans yth,
    Saya melihat apa yg ditulis Mas Priyadi murni bersifat konstruktif mencoba melihat masalah dari sudut pandang logika dan keilmuan.

    Saya yakin mereka yg mengkritisi *klaim* temuan tersebut (i.e. bukan personal Pak Djoko-nya) bermaksud mencari tahu kebenarannya, bukan untuk menjegal ataupun memupus ide kreatif anak bangsa. Kritik adalah hal biasa dalam dunia ilmiah dan teknologi.

    Klaim penemuan bisa dilakukan siapa saja, tidak bisa dimonopoli oleh ilmuwan, peneliti di universitas atau kelompok tertentu atau bangsa tertentu. Hanya saja setiap klaim, apalagi yg sifatnya breaktrough / terobosan dan kemungkinan besar berdampak besar bagi manusia dan kemanusiaan wajib dikawal / dikritisi / diuji secara ilmiah.

    Menurut saya, fokus utama saat ini adalah bagaimana mengawal sang penemu bisa membuktikan klaim tersebut dalam kerangka ilmiah -tidak dalam bahasa iklan maupun politis.

    Cepat atau lambat, klaim tersebut akan diuji. Seandainya sang penemu mengajukan aplikasi paten, maka sang penemu harus meyakinkan tim penguji yg ditunjuk kantor paten bahwa yg diklaim tidak melebihi yang sudah dicapai. Jika bahan bakar yg diklaim baru tersebut akan dijual secara masal, suka atau tidak suka, institusi yg berwenang pun akan mengujinya secara ilmiah. Hanya menunggu waktu.

    Saya hanya bisa berdoa bahwa klaim yg sudah diucapkan benar-benar bisa terbukti, meski engineering judgement saya meragukannya :)>-

    wassalam
    boed | http://budihartono.wordpress.com

  35. Saya sangat mendukung argumentasinya Pak Priyadi terutama terkait dengan masalah hukum konservasi energi (hk termodinamika).

    Bahkan sekitar 2 tahun lalu, waktu heboh2nya kenaikan BBM yang signifikan, saya sempat menuliskan sebuah penjelasan kepada kawan yang bertanya-tanya ttg apakah bisa sebuah proses konversi energi mengalami efisiensi 300% alias > 1.

    Dengan sejauh pemahaman fisika saya yang dangkal saya memberanikan diri untuk bilang tidak, dan saya coba tuturkan ulang disini:

    Efisiensi Konversi Energi

    Salam

    -Yugi-

  36. jd inget pilem GUNDAM 00 :D, di sana diceritakan pd abad ke 24 nanti bahan bakar fosil hampir habis, manusia membangun 3 elevator orbital yang menembus sampai luar angkasa untuk “menangkap” energi matahari …..

  37. Nusa Penida Renewable Energy Park consist of several power plants which use solar and wind energy instead of gas as their fuel to produce electricity. There are two windmill in this park, each produces 80 kWh electric power. There is also a solar based power plant which is able to produce 32 kWh electric power. The Klungkung government plan to built another seven windmills to fulfill the need for cheap electricity in Nusa Penida.

    berita lengkap + photo ada di http://blog.baliwww.com/environment-nature/1152/

  38. energi listrik dari sekam,

    padahal potensi listrik dari sini sangat besar, limbah gabahnya (sekam) saja mencapai 13 juta ton pertahun.
    belum lagi dry biomass yang lain.
    ini bahkan bisa dimanfaatkan menjadi energi biomass yang cukup besar.
    jadi arah pembangunanya bisa lebih terkosentrasi dengan agriculture-industri.

    12 kg saja bisa menghasilkan listrik sebesar 38-100mw dengan teknologi FBC (fluidized bed combustion)

  39. Indonesia memiliki potensi konversi energi terbarukan yang luar biasa dari hampir semua bentuk: air,angin, panas, surya dan juga memiliki ribuan konsep luar biasa tentang ini. Namun juga kita sadari, kita brilian sekali membuat konsep dan seringkali melupakan praktek….

    [-(

  40. mas Pri, (OOT dikit ah) pernah dibahas nggak ya tentang kompor induksi? soalnya,setelah pake itu kompor, jadi jarang beli gas dan pemakaian listrik juga nggak begitu nanjak. kalau bisa diproduk masal tentunya harganya akan jadi murah, dan masyarakat bisa memanfaatkan energy lebih efisien.

  41. bisa jelasin gak kenapa terjadi “KRISIS ENERGI?”
    padahal dalam hukum termodinamika pertama dijelaskan “energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan.”
    So? bagaimana bisa terjadi krisis energi kalau energi itu tidak dapat dimusnahkan?

    please explain it

    thanks

  42. Mas priyadi jadi ngingetin saya waktu SD diajari kekelan energi oleh Guru saya, saya langsung bertanya.. “Pak, kalau misalnya energi itu kekal, bapak bilang energi dari makanan dirubah menjadi energi untuk mengayuh sepeda, lalu energi yang saya pakai untuk mengayuh sepeda itu lepas kemana pak? Udara? kalau begitu banyak donk energi yang terkandung di udara?” :))

    Setelah beranjak SMA baru tersadar kalau hukum kekelan Energi berbicara bahwa jumlah energi potensial dan kinetik dari suatu benda itu pasti sama. ^^… bukan terus energi itu kekal…

  43. #68

    Hukum pertama Termodinamika menerangkan bahwa perubahan Energi Dalam (internal energi)adalah setara dengan selisih antara Energi yang masuk dan keluar dari suatu SISTEM TERTUTUP baik dalam berupa panas maupun kerja.

    ‘The change in the internal energy of a CLOSED thermodynamic system is equal to the sum of the amount of heat energy supplied to the system and the work done on the system.’

    Ini yang sering menjadi salah penafsiran dalam pemahaman mengenai Kekekalan Energi. Hati2 ketika menyebut Energi adalah Kekal. Energi itu Kekal jika dipenuhi syarat2 dari Hukum pertama Termodinamika, yaitu kita menganalisis pada Sistem Tertutup.

    Pada akhirnya, Hukum kekekalan energi menjelaskan kekekalan energi dengan SEMESTA sebagai sistem.

    Diluar semesta, sistem apapun yang kita pilih selama ia adalah himpunan bagian dari semesta adalah sistem terbuka. Penggunaan Sistem tertutup dalam banyak analisis termodinamika untuk alasan praktis adalah bentuk idealisasi. Sehingga, muncullah apa yang disebut dengan Entropi.

    Pada planet bumi sendiri, dengan peningkatan entropi terus menerus maka exergy (energy availability) akan terus berkurang. Dan jika kita memilih Bumi sebagai sistem, maka Energi dalam sistem Bumi BISA HABIS.

    Bagaimana dengan Semesta? jika kita setia pada Hukum Kekekalan Energi, seharusnya Semesta itu kekal. Inilah yang masih bisa diperdebatkan. Hukum Kekekalan Energi masih bisa digugurkan oleh campur tangan Tuhan. Inilah yang terjadi pada Kehancuran Besar. Mekanismenya dapat dilakukan Tuhan dengan menginjeksikan energi secara besar2an yang tidak dapat ditangani oleh ruang Semesta, atau langsung dilakukan Pencabutan Energi. Karena, jika kita percaya dengan agama, pada akhirnya yang kekal hanyalah Tuhan.

    Tapi jika memang kiamat itu terjadi, maka Hukum pertama Termodinamika sebenarnya tetap berlaku. Karena, pada saat itu maka Semesta berubah menjadi Sistem Terbuka dan Tuhan campur tangan didalamnya.

    Dari semua Hukum Termodinamika, Hukum ke 2 lah yang paling penting dalam menjelaskan fenomena alam dan dapat diterima baik oleh logika maupun agama.

    Dari wikipedia :
    http://en.wikipedia.org/wiki/Thermodynamics

    Sir Arthur Eddington in The Nature of the Physical World:“ The second law of thermodynamics holds, I think, the supreme position among the laws of Nature. If someone points out to you that your pet theory of the universe is in disagreement with Maxwell’s equations – then so much the worse for Maxwell’s equations. If it is found to be contradicted by observation, well, these experimentalists do bungle things sometimes. But if your theory is found to be against the second law of thermodynamics I can give you no hope; there is nothing for it but to collapse in deepest humiliation.

    Salam energi,

  44. elo-elo jangan terlalu banyak comment and teori lah ,yang penting prakte ,buktikan and wujudkan.

  45. Wah, emang dunia ini serba salah. pakai banyak-banyak energi dimarahi. tapi kalau irit masih kurang.
    kalau saya sih mudah saya, manfaatkan aja panas matahari sebagai pengganti energi listrik rumahan.

  46. salam-mualaykum wr.wb.
    Dasar dari kesulitan ini adalah keyakinan akan materialisme kapitalis sebagai penentu kehidupan.Perlu wawasan akan sustainable development bagi kelangsungan alam tuk anak cucu. Pendekatan bahwa alam raya adalah titipan bagi anak cucu lebih memadai sebagai sebuah epistemologi ( ingat Qur’an mengajarkan bahwa semua memiliki jiwa, baca konteks gunung muslim terhadap Allah).
    Untuk Mas Cukurungan , ini email saya, saya ingin email anda . ksm3wjy@yahoo.com . Salam ! ( Man zakka bi qouli haq )

  47. Terlambat merespon: saya pernah diingatkan bahwa terjemahan untuk Conservation of Energy bukan “kekekalan energi”, melainkan lebih tepat “kelestarian energi.” Pemakaian kata “kekal” itu sempat menjadi polemik besar pada periode yang lalu terutama dikaitkan dengan keyakinan agama.

    Conserve sendiri memang lebih tepat diterjemahkan sebagai “lestari” (melestarikan, kelestarian) dibanding kekekalan. Penekanannya pada, “menjaga sesuatu agar tidak hilang atau rusak.”

    Saya belum tahu riwayat penerjemahan menjadi “kekekalan” yang memang tidak cocok namun digunakan luas, sehingga sempat menjadi polemik.

  48. sebenarnya energi di Indonesia itu sangat melimpah, hanya saja kita belum memanfaatkan secara maksimal. sedangkan yang selama ini digunakan hanya sebagian kecil saja… Klu kita bisa memanfaatkannya kita gak akan kebingungan dengan kenaikan harga BBM

  49. MENURUT SAYA ENERGI BISA DICIPTAKAN DARI ENERGI LAIN YANG KEKAL, HASIL PENELITIANKU……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

    02168626127
    08888147390
    KARNOGIYANTONO2007@YAHOO.COM

  50. energi listrik dari alat berat Haulpack ketika proses braking (pengereman) itu sangat besar sekali sekitar += 1 MW.. lumayan tuh buat nyalain satu kampung… hehehehe (numpang lewat aja mas pri)..

Leave a Reply to wadiyo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *