17 September 2004

Ahira Gate: Rangkuman

Posted under: at 13:07

Ketika pertama sekali menulis tentang Anne Ahira saya tidak menyangka efeknya akan seperti ini. Saya mendapatkan spam yang tidak biasa, dan saya menulis pada jurnal saya. Saya sama sekali tidak mengira kontroversi antara saya dan rekan-rekan yang anti spam dan para spammer yang pro spam akan berlangsung di jurnal saya yang belum genap berumur dua minggu. Sebenarnya saya sudah jauh melanggar ‘rules of engagement’ saya sendiri dalam kasus ini. Jika ada rekan yang bertanya “Seorang spammer menghubungi saya. Apa yang harus saya lakukan?”. Kemungkinan besar jawaban saya adalah “Tangani secara profesional, jangan biarkan emosi dan ego anda terlibat. Spam adalah masalah Internet, bukan masalah pribadi anda.” Dengan membalas beberapa posting negatif sebenarnya saya sudah jauh terlibat secara emosi.

Ada baiknya saya pribadi (dan rekan-rekan lain yang juga terlibat secara emosi) introspeksi diri dengan merujuk kembali pada ‘Undang-Undang Dasar’ penanganan masalah spam The Rules of Spam yang dirawat oleh Patricia A. Shaffer pada newsgroup news.admin.net-abuse.email. Point-point yang kembali harus saya dan anda ingat baik-baik adalah Sharp’s corollary, Spinosa’s corollary, Moore’s corollary dan yang terpenting adalah Crissman’s corollary dan Spammer’s Standard of Discourse. Melihat point-point itu tidak produktif bagi saya untuk tetap ikut arus dalam diskusi ini. Untuk itu saya sudahi diskusi tentang Anne Ahira pada jurnal saya. Komentar pada jurnal yang berhubungan dengan Anna Ahira saya tutup, tetapi pingback/trackback bagi rekan-rekan pemblog akan tetap saya buka seperti biasa.

Selanjutnya sebagai orang yang berkepentingan dalam masalah Internet, saya akan tetap berjuang dalam kompetensi saya yaitu sebagai orang teknis. Saya sudah punya beberapa agenda yang akan saya kerjakan, misalnya membuat patch untuk SpamAssassin supaya lebih peka terhadap pola spam dari Indonesia. Kemudian mungkin saya akan berusaha mempopulerkan SPF di Indonesia. Selain itu masih banyak cara lain untuk memberantas spam yang masih harus saya pelajari.

Terima kasih banyak pada rekan-rekan yang telah mendengar ‘curhat’ saya selama ini. Keputusan saya ini didasarkan pada saran dari rekan-rekan yang telah meluangkan waktu dan tenaganya baik untuk mendengarkan saya atau menulis sesuatu tentang masalah ini pada blog masing-masing selama ini.

Rekan Eko Juniarto memberi saran bagi saya untuk jangan meneruskan apa yang telah saya lakukan kecuali kalau saya ingin jadi martir. Menurut Eko tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang-orang seperti ini, apapun yang kita lakukan tidak akan mengubah pandangan mereka. Lebih baik energi saya digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif. Kalau saya tetap memutuskan untuk jadi martir, dia janji akan datang ke pemakaman saya. Terima kasih banyak untuk Eko :). Saya pikir kalau Eko Juniarto saja yang saya anggap orang yang paling kritis terhadap segala sesuatu berkata begitu, mungkin saya harus pikir ulang lagi apa yang sedang saya lakukan saat ini.

Salah satu rekan yang tidak ingin disebutkan identitasnya ingin melakukan koreksi. Saya sebutkan di jurnal saya bahwa pada blog saya tidak ada demokrasi. Beliau keberatan dengan pendapat saya, menurut beliau hal ini adalah esensi dari demokrasi. Kita bisa berpendapat apa saja di Internet.

Rekan Ikhlasul Amal menganjurkan saya untuk tidak melihat masalah ini lebih jauh dari kompetensi saya. Sebenarnya saya memang fokus terhadap sisi teknisnya yaitu masalah spam. Mas Amal juga menulis dua buah komentar mengenai kejadian ini: komentar 1 dan komentar 2. Mas Amal juga memberi ‘gelar’ kepada saya Pawang Spam dan Scam. Tapi saya pribadi berpendapat masih banyak rekan-rekan yang lebih pantas menerima gelar tersebut. Misalnya rekan-rekan postmasters pada ISP-ISP besar di Indonesia lebih layak menerima gelar tersebut. Mereka yang adalah pihak yang paling menderita akibat masalah spam. Pekerjaan mereka jauh lebih mulia daripada saya yang cuma bisa menulis di jurnal saya :).

Pak Andika mencoba membahas masalah ini dari segi ekonominya.

Idban Secandri mencoba untuk mengingatkan kita pada definisi spam berdasarkan wawancara majalah Masterweb kepada beberapa spammer Indonesia. Sayangnya wawancara ini tidak sempat dimuat oleh majalah tersebut. Seperti biasa, kalau urusan definisi, saya akan arahkan ke definisi spam di Wikipedia.

Thomas juga mencoba membahas fenomena ini pada jurnalnya yang berjudul It’s more about attitude. Thomas mengatakan apa yang ingin saya katakan: “OK, back to discussion. Why Priyadi wrote the article?. I think we can see from the very beginning of the paragraph. Someone sent him spam (he considered it as spam). After that he wrote another paragraph about his opinion, research, and some facts. And all placed him into the discussion center. If some people do not agree, that will be no problem. But the disagreements lead to unhealthy discussions, that will be bad I think — take a look at comments from those who do not agree with Priyadi.”

Avianto as always is an exceptional writer (you could use a grammar checker though). Avianto menulis jurnal yang berjudul Get Rich Quick sambil menyebutkan bahwa ketiga kata tersebut bagaikan sihir. Dia kemudian menanyakan tiga buah pertanyaan untuk mereka. Tetapi saran saya untuk Avianto, baca kembali The Rules of Spam demi kesehatan mental anda :). Avianto juga punya beberapa point pendapat pada fenomena ini yang layak untuk diketahui masyarakat.

Terima kasih juga untuk rekan-rekan Benny Chandra dan Jay yang menyempatkan diri untuk melakukan trackback.

Untuk itu bahasan saya di situs saya tentang masalah ini saya cukupkan sekian saja. Kembali saya ucapkan terima kasih banyak atas dukungan rekan-rekan profesional Internet, sehingga saya tidak merasa ‘kesepian’ di dunia cyber ini :).

Let’s all get rich! But not filthy rich!

9 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

Sorry, comments are closed at this time.