2 July 2005

Open Source, Kita Pantas Memilikinya

Posted under: at 22:10

Sebuah artikel di harian Sinar Harapan dengan judul Open Source, Pantaskah Kita Memilikinya membahas perangkat lunak Open Source. Hanya saja artikel tersebut memuat pernyataan-pernyataan yang tidak akurat yang mengarah ke FUD.

Namun semua itu sebenarnya masih bisa dibilang tak pasti. Karena tak adanya garansi mengenai kemampuan jenis software, mereduksi semua keinginan pemakai. Hingga para pemakai tak akan bisa mengklaim apa pun bila ternyata jenis perangkat lunak ini ngambek, dan tidak mau menjalankan fungsinya.

… Dengan memakai perangkat open source, segala kemungkinan dapat saja terjadi. Bahkan kejadian yang paling buruk, seperti tak berfungsinya semua sistem bisa terjadi. Jelas ini akan menghambat laju perusahaan, yang berarti juga kerugian akibat berkurangnya faktor produksi. Dan inilah sulitnya, karena para pengacara kita tentu juga tak akan mudah untuk menentukan akan menuntut siapa, pada kasus ini. Sementara kerugian dan keluhan para konsumen terbayang di depan mata.

Lalu apakah perangkat lunak non Open Source menyediakan garansi seperti yang disebutkan di atas? Ini adalah petikan dari EULA Microsoft Windows XP Professional:

Except for any refund elected by Microsoft, YOU ARE NOT ENTITLED TO ANY DAMAGES, INCLUDING BUT NOT LIMITED TO CONSEQUENTIAL DAMAGES, if the Productdoes not meet Microsoft’s Limited Warranty, and, to the maximum extent allowed by applicable law, even if any remedy fails of its essential purpose. … Except for the Limited Warranty and to the maximum extent permitted by applicable law, Microsoft and its suppliers provide the Productand support services (if any) AS IS AND WITH ALL FAULTS, and hereby disclaim all other warranties and conditions, either express, implied or statutory, including, but not limited to, any (if any) implied warranties, duties or conditions of merchantability, of fitness for a particular purpose, of reliability or availability, of accuracy or completeness of responses, of results, of workmanlike effort, of lack of viruses, and of lack of negligence, all with regard to the Product, and the provision of or failure to provide support or other services, information, software, and related content through the Product or otherwise arising out of the use of the Product. ALSO, THERE IS NO WARRANTY OR CONDITION OF TITLE, QUIET ENJOYMENT, QUIET POSSESSION, CORRESPONDENCE TO DESCRIPTION OR NON-INFRINGEMENT WITH REGARD TO THE PRODUCT.

Kesimpulannya? Dalam hal ini Windows XP Professional tak berbeda dengan perangkat lunak Open Source. Pemakai tidak dapat mengklaim apapun jika Windows XP Professional tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Pertama yang perlu diketahui dari perangkat lunak tersebut adalah keterangan mengenai siapa nama pengarang asli dari sistem operasi perangkat lunak tersebut. Sebab dengan mengetahui namanya, paling tidak kita telah memiliki jaminan apakah jenis perangkat lunak tersebut dapat kita pergunakan.

Ini adalah hal yang sangat tidak realistis. Sebuah distribusi Linux bisa jadi ‘dikarang’ oleh lebih dari sepuluh ribu orang. Tentunya tidak realistis untuk mencatat seluruh orang yang berkontribusi dalam membuat distribusi Linux tersebut. Selain itu nama pembuat tidaklah relevan dengan yang kita butuhkan. Apakah kita menggunakan sebuah perangkat lunak hanya karena nama pembuatnya? Tentu tidak.

Adanya nama pengarang juga membuat kita memiliki daftar kemampuan per individu para programer tersebut. Dan nantinya, apabila kita tak suka pada jenis perangkat lunak tersebut, kita dapat membuangnya, dan mem-black list nama tersebut dalam daftar software berbasis open source yang bisa di-download.

Perangkat lunak Open Source bersifat terbuka, artinya kode sumbernya tersedia dengan bebas. Namun bukan hanya itu, proses pengembangan perangkat lunak Open Source juga bersifat terbuka. Artinya, walaupun perangkat lunak Open Source tertentu masih dalam tahap pengembangan dan masih jauh dari selesai, perangkat lunak tersebut dapat kita download. Akibatnya perangkat lunak yang berbeda dari pemrogram yang sama bisa jadi memiliki tingkat kualitas yang berbeda, tergantung dari berbagai macam faktor. Di antaranya adalah: jumlah kontributor selain pemrogram yang bersangkutan dan kematangan program. Program yang 80% jadi tentunya berkualitas lebih baik daripada program yang 20% jadi.

Artinya, nama pengarang sebuah perangkat lunak Open Source bukanlah jaminan kualitas perangkat lunak Open Source. Masih banyak faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kualitas sebuah perangkat lunak Open Source.

Kemudian hal lain yang bisa dilakukan adalah melakukan penjajagan mengenai perangkat lunak yang akan dipergunakan. Biasanya para programer perangkat lunak tersebut, akan meninggalkan alamat untuk menghubungi mereka. Catat alamat tersebut dan simpan baik-baik. Sebab kemungkinan itu akan berguna bila kita menemui kesulitan dalam pemakaian perangkat lunak.

Sebagian besar pemrogram perangkat lunak Open Source menulis programnya pada waktu luangnya tanpa dibayar. Menanyakan hal-hal sederhana kepadanya hanyalah akan membuang-buang waktu pemrogram tersebut. Jika hal yang anda tanyakan tidak berkualitas menurut pemrogram tersebut, kemungkinan besar anda tidak akan mendapatkan jawabannya.

Seandainya pemrogram tersebut dibayar untuk menulis program Open Source pun, biasanya pemrogram tersebut tidaklah dibayar untuk memberikan dukungan teknis ke end user secara langsung.

Lalu bagaimana mendapatkan dukungan teknis untuk perangkat lunak Open Source? Carilah mailing-list (atau forum online, atau newsgroup) dari proyek tersebut dan tanyalah ke media tersebut. Jangan habiskan waktu pemrogram dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dapat dengan mudah dijawab oleh pengguna lain.

Jangan lupakan juga meminta izin kepada sang pencipta sistem perangkat lunak. Karena ini berhubungan juga dengan bentuk penghargaan kita terhadap karya cipta mereka. Pengalaman kita dari peristiwa terdahulu seharusnya kita jadikan pelajaran. Biar bagaimanapun, hak cipta merupakan hal yang patut diperhatikan.

Dengan adanya sikap permisif yang direspons para pembuat program juga, paling tidak membuat lahirnya jaminan mengenai bonaviditas perangkat lunak tersebut. Adanya izin dari pencipta program, membuat kita lebih nyaman dalam memakai perangkat lunak tersebut. Selain juga menemukan tempat bertanya yang paling baik, bila kita memiliki masalah dalam pemakaian perangkat lunak tersebut.

Ini adalah hal yang tidak perlu. Sebuah perangkat lunak Open Source memiliki lisensi yang dapat dibaca pada distribusi perangkat lunak yang bersangkutan (biasanya pada berkas LICENSE). Meminta izin kepada pemrogram juga tidak realistis. Sebagaimana telah saya utarakan, sebuah distribusi Linux dapat saja dibuat oleh lebih dari sepuluh ribu kontributor.

Namun perlu diingat juga. Keputusan kita untuk memakai program gratisan berbasis open source ini, sebenarnya juga memiliki ancaman yang tak kalah penting. Apalagi pada bisnis-bisnis penting, yang memerlukan keandalan perangkat untuk memuluskan perjalanan keprofesionalan perusahaan.

Keandalan perangkat lunak bukan Open Source pada bisnis-bisnis penting, yang memerlukan keandalan perangkat untuk memuluskan perjalanan keprofesionalan perusahaan™ dapat dilihat pada situs-situs berikut ini: zem.squidly.org, windowcrash.com, theinquirer.net, dognoodle99.cjb.net, cnn.com, daimyo.org. Benar-benar mengangkat image profesional perusahaan bukan? :)

28 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!