21 July 2005

Gunakan Istilah Bebas, Bukan Gratis Untuk Linux

Posted under: at 12:47

Miskonsepsi yang banyak beredar saat ini adalah bahwa Linux (dan perangkat lunak FLOSS lainnya) adalah perangkat lunak gratisan. Hal ini terutama terjadi setelah hukum mengenai HAKI diberlakukan secara tiba-tiba. Secara tiba-tiba pula, masyarakat mencari alternatif perangkat lunak yang murah atau gratis. Disinilah miskonsepsi yang sebelumnya adalah masalah kecil menjadi miskonsepsi yang meluas di masyarakat.

Penyebab lainnya miskonsepsi ini adalah keterbatasan Bahasa Inggris. Pada Bahasa Inggris, terkadang menyebut Linux sebagai salah satu Free Software. Sedangkan kata ‘Free’ memiliki beberapa arti. Sayangnya arti yang paling umum digunakan adalah ‘gratis’ atau ‘tak berharga’. Sedangkan yang dimaksud adalah free as in freedom.

Perangkat lunak yang gratis (yang bisa didapatkan tanpa membayar) belum tentu Free Software/Open Source). Sedangkan perangkat lunak yang Free Software/Open Source juga belum tentu gratis (bisa didapatkan tanpa membayar).

Sebagai contoh, aplikasi IRC populer mIRC multimedia Winamp adalah freeware, dapat di-download secara gratis tetapi bukanlah Free/Open Source Software.

Sebaliknya, distribusi Linux seperti RedHat Enterprise Linux adalah Free/Open Source Software, tetapi tidak dapat didapatkan secara gratis. RedHat Enterprise Linux yang beredar di pasaran dan dijual murah adalah perangkat lunak bajakan. Hal ini diakibatkan karena RedHat menjual dukungan teknis dan memaksakannya melalui merk dagang, sedangkan Free/Open Source Software hanya berlaku di lingkup hak cipta. Walaupun demikian, pengguna yang ingin menggunakan RedHat Enterprise Linux tetapi tidak ingin mengeluarkan banyak uang dapat mencoba Fedora Linux, WhiteBox Linux atau CentOS. Fedora adalah distribusi yang dijadikan basis dari RedHat Enterprise Linux. Sedangkan WhiteBox Linux dan CentOS adalah distribusi yang dibuat berdasarkan kode sumber RedHat Enterprise Linux. Keduanya 100% legal karena tidak mengandung merk dagang RedHat.

Selain itu ada distribusi-distribusi seperti Xandros dan Linspire. Keduanya adalah distribusi Linux, tetapi tidak dapat didistribusikan secara cuma-cuma karena mengandung beberapa perangkat lunak yang bukan Free/Open Source Software. Sama seperti RHEL, keduanya sudah pasti bajakan jika anda menemukannya di tempat-tempat seperti Mangga Dua atau Glodok.

Miskonsepsi seperti ini juga menelurkan istilah Libre untuk menggantikan Free di Eropa. Istilah yang semakin sering digunakan adalah FLOSS: Free Libre Open Source Software untuk menghindari kebingungan terhadap istilah ‘Free’ maupun ‘Open Source’.

Bagaimana di Indonesia? Saya lihat media lebih suka menggunakan istilah ‘perangkat lunak gratis’, atau ‘perangkat lunak Open Source’. Yang terakhir masih bisa dibenarkan, sedangkan yang pertama sangatlah tidak akurat. Richard Stallman –penggagas proyek GNU yang bisa berbahasa Indonesia– pernah menyarankan untuk menggunakan istilah ‘bebas’ atau ‘merdeka’. Bersyukurlah bahwa Bahasa Indonesia tidak ambigu untuk hal ini. Jika ingin menggunakan singkatan, mungkin PLB (Perangkat Lunak Bebas) adalah singkatan yang dapat menggantikan FOSS atau FLOSS.

Lihat juga:

45 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!