21 July 2005

Kekerasan Pada Sistem Pendidikan Indonesia

Posted under: at 22:25

Kekerasan sepertinya sudah mendarah daging pada sistem pendidikan di Indonesia. Seperti biasa, penerimaan siswa baru selalu diikuti oleh kegiatan yang dinamakan ospek (atau MOS, atau OS, atau istilah-istilah lainnya). Sebagai contoh adalah seperti yang digambarkan pada artikel Pikiran Rakyat ini.

Tiba-tiba terdengar suara sirene. Semuan anak berseragam SMP diperintahkan segera masuk ke dalam kelas. Bertimpalan dengan suara sirene itu, terdengar bentakan-bentakan dan aksi fisik antar senior.

Sebagian senior, yang disebut sebagai Komite Disiplin, membentaki senior lainnya. Ada yang diseret dari dalam kelas, ada yang disuruh push up, ada yang dikeroyok hingga jatuh ke lantai.

Sebagian anggota Komisi Disiplin itu menggebrak-gebrak pintu dan jendela. Seraya membentak orang-orang yang ada di dalam kelas.

“Anak saya sampai demam gara-gara dibentak-bentak seperti itu. Hari ini dia nggak masuk, karena sakit dan takut. Makanya, saya datang ke sini, pingin lihat, ngapain aja sih anak-anak ini,” ujarnya.

Orang tua siswa lainnya, yang dihubungi melalui telefon, mengungkapkan kekesalannya atas perilaku para siswa senior. Anak perempuan bapak itu, pada hari kedua MOS, sempat pingsan akibat tendangan tak sengaja, yang dilakukan seorang siswa senior.

Sayangnya, guru sepertinya membela seluruh aksi tersebut dengan dalih yang menurut saya cukup aneh.

“Itu hanya sandiwara. Siswa baru juga tahu, itu hanya sandiwara. Semuanya masih terkontrol kok,” ujar seorang guru.

“Guru-guru juga tahu kejadian itu. Tapi mereka bilang kepada siswa baru, agar masalah ini jangan sampai bocor ke pers,” ujarnya.

Tapi ketika beberapa guru ditanyai mengenai peristiwa itu, tidak ada yang mengetahuinya. Seorang guru mengatakan, seharusnya orang tua siswa itu melaporkan kejadiannya kepada pihak sekolah, jangan hanya berbicara di pesawat telefon.

Beberapa guru yang ditemui di SMAN kawasan Buahbatu itu mengatakan, kegiatan MOS seperti itu masih pada tahap wajar. Menurut mereka, selama tidak ada kekerasan fisik, tidak ada yang menjadi persoalan.

“Kalau dibentak-bentak sih biasa. Kita juga waktu SMA dulu, lebih keras dari ini kan,” ujar seorang guru.

Sayang sekali jika guru-guru menganggap hal seperti itu sebagai hal yang wajar, padahal guru seharusnya tahu bahwa hal-hal semacam itu sangat tidak mendidik dan sama sekali tidak berguna. Terlepas dari kenyataan bahwa para guru mendapat perlakuan yang lebih keras ketika masih menjadi siswa SMA. Hal tersebut tidak bisa menjadi pembenaran kekerasan di sekolah.

Berdasarkan pengalaman saya, beberapa guru juga tak segan-segan melakukan kekerasan di kelas, misalnya ketika seorang siswanya tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru maka ada beberapa guru yang akan marah kelewat batas. Menurut saya hal-hal seperti ini bisa mempengaruhi psikologis dari siswa siswi.

Ini baru SMA, setelah di perguruan tinggi, para mahasiswa akan mendapat perlakuan yang lebih parah lagi. Terkadang nyawa dan kesehatan peserta yang menjadi taruhannya, contohnya seperti penganiayaan junior oleh senior yang terjadi di kampus STPDN beberapa tahun yang lalu. Saya sendiri bahkan pernah kehilangan seorang teman baik, Zaki, akibat penganiayaan senior ketika yang bersangkutan masuk ITB.

Apa yang sebenarnya menjadi alasan para senior mengerjai junior sampai sebegitu parahnya? Motif klasik adalah ‘balas dendam’, mengerjai junior adalah kesempatan untuk balas dendam atas perbuatan yang dilakukan para senior pada tahun sebelumnya. Tentunya motif semacam ini tidak akan dapat diterima oleh siapapun. Tetapi selain itu ada juga yang dengan berbusa-busa mencari-cari pembenaran atas kegiatan semacam ini. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari menjalin kebersamaan, propaganda ke arah yang baik sampai dengan memupuk kedisiplinan. Tetapi yang jelas saya melihat tidak ada korelasi antara tujuan mulia yang ingin dicapai dengan kejadian yang saya lihat di lapangan.

Apa yang menjadi penyebabnya?

Kekerasan seperti ini sudah terjadi secara tradisional dan turun temurun. Sebelum memasuki suatu sistem yang mendukung kekerasan kemungkinan besar para peserta bukanlah orang-orang yang mendukung kekerasan itu sendiri. Tetapi ketika memasuki sistem, peserta terpengaruh dengan nilai yang ada dalam sistem itu sendiri.

Selain itu mungkin beberapa acara orientasi tidak direncanakan dalam bentuk kekerasan, tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan tidak seperti yang direncanakan. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh psikologi orang yang berkumpul (crowd psychology). Teori contagion mengatakan bahwa kumpulan orang-orang secara hipnotis mempengaruhi anggota-anggotanya secara individu. Orang-orang tersebut menganggap kumpulan mereka sebagai perisai sehingga mereka meninggalkan tanggungjawab mereka sebagai individu masing-masing dan mengikuti emosi kumpulan orang secara keseluruhan. Hasilnya, kumpulan orang-orang tersebut seakan-akan mengajak anggota-anggotanya untuk menjurus kepada aksi-aksi brutal.

Penyebab lainnya adalah sindrom Stockholm. Sindrom Stockholm adalah keadaan psikologis dimana korban yang disekap atau disiksa menjalin hubungan positif dengan penangkap atau penyiksanya. Terkadang bahkan korban membantu penyiksanya sendiri untuk mencapai tujuan si penyiksa. Sindrom ini dapat menerangkan mengapa korban masa orientasi siswa/mahasiswa dapat berbaikan dengan senior-seniornya setelah masa penyiksaan dan bahkan melakukan hal yang sama ke junior-juniornya pada tahun berikutnya.

Saya secara pribadi pernah mengalami masa-masa seperti itu, baik sebagai junior maupun sebagai senior. Sebagai junior biasanya saya merasakan hal ini adalah hal yang salah, tetapi ketika menjabat sebagai senior saya dan kawan-kawan justru mendukung diselenggarakannya acara tersebut dan tidak merasa salah sama sekali. Perasaan waswas dan bersalah justru baru muncul ketika adik saya baru mengikuti orientasi siswa.

Bagaimana memutuskan rantai masalah ini? Pihak pengajar yang bertanggung jawab atas keberadaan siswa/mahasiswa di sekolah/kampus tentunya bertanggung jawab untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang tidak bertanggung jawab tersebut. Pihak orang tua siswa/mahasiswa juga bertanggung jawab untuk melarang anak-anaknya mengikuti acara-acara yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Tetapi yang terpenting adalah sikap dari anak didik itu sendiri yang harus dapat menolak kegiatan-kegiatan semacam itu, mereka bukanlah pihak yang sepenuhnya tidak berdaya. Sekali mengikuti acara kekerasan semacam itu, psikologi dan idealisme mereka akan berubah arah.

72 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!