17 December 2005

Kronologi Kasus Roy Suryo

Posted under: at 15:02

Sekarang hari Sabtu, akhir minggu biasanya waktunya orang untuk beristirahat. Satu minggu ini terlalu banyak kejadian, terutama yang berhubungan dengan Roy Suryo. Berikut adalah kronologis dari kejadian-kejadian tersebut yang saya rangkum sebisa mungkin.

Sabtu, 26 November 2005

Herman Saksono memuat sebuah tulisan yang disertai gambar-gambar hasil modifikasi foto Bambang Trihatmodjo dan Mayangsari yang beredar di Internet. Di antara gambar-gambar tersebut, terdapat gambar Roy Suryo dan Presiden SBY.

Senin, 12 Desember 2005

Pagi hari, tersiar kabar bahwa berita tentang gambar-gambar tersebut telah sampai ke Paspampres dan sedang ditangani oleh Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Siang hari, Herman dijemput oleh polisi dan mengalami proses pemeriksaan. Beberapa penulis blog di Indonesia dengan serta merta menyatakan dukungannya terhadap Herman Saksono.

Pada sore hari, Roy Suryo mengirim SMS masal yang berbunyi:

Kalau boleh menyarankan, selain si Herman yg sudah jadi tsk, sebenarnya si PRIYADI (www.priyadi.net) ini yg lebih berbahaya.Dia “menjaring kekuatan” di blog-nya, bahkan menunjukkan alamat2 blog teman2 lain & menyebarluaskan foto2 Rekayasa Presiden tsb.Berbeda dgn Herman, kalau si Priyadi ini di Jakarta.

Herman dibebaskan pada sore hari setelah menandatangani perjanjian untuk menurunkan tulisan serta gambar-gambar tersebut. Pukul 22.30, Herman menurunkan gambar-gambar tersebut.

Selasa, 13 Desember 2005

Pagi hari, saya mendapat undangan dari Bunda Judith MS Lubis untuk mendiskusikan kasus Herman dan SMS fitnah yang saya terima dengan wakil dari kepolisian. Bunda Judith sendiri yang akan menjadi mediator dalam diskusi tersebut.

Supaya tidak berkesan sebagai sebuah pemeriksaan terhadap diri saya, Bunda Judith menyarankan agar yang datang tidak cuma saya, oleh karena itu saya mencoba mengajak beberapa teman saya. Boy Avianto dan Idban Secandri menyanggupi ajakan saya tersebut.

Sore hari, saya & istri, Judith MS, Boy Avianto dan Eko Juniarto bertemu di Cilandak Town Square untuk melakukan technical meeting. Disepakati bahwa diskusi akan dilaksanakan pukul 11.00 di gedung Departemen Kominfo di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Malam hari, Pak Andika Triwidada menyanggupi untuk turut hadir.

Ada SMS masal baru yang beredar:

UPDATED: Kabarnya bloger2 mau minta Budi Rahardjo untuk ke Kominfo mengajukan petisi agar Herman dibebaskan. Saya sangat menyayangkan jika BR mau “diperalat”.

Beberapa rekan di milis Gadjah memang merekomendasikan saya untuk mengundang Pak Budi Rahardjo. Tetapi karena menurut Pak Andika Pak Budi tidak akan bisa hadir, maka saya sama sekali tidak mengajak beliau. Dan walaupun jika saya mengajak beliau pada waktu itu, itu tentunya bukan untuk ‘mengajukan petisi’.

Rabu, 14 Desember 2005

Pagi hari, Eko Juniarto menyanggupi untuk ikut hadir.

Siang hari adalah waktu pelaksanaan diskusi. Silakan baca intisari dari diskusi ini untuk informasi yang lebih lengkap.

Pada saat yang kurang lebih bersamaan, Roy Suryo sedang bertugas menjadi moderator pada sebuah acara di Hotel Aryaduta.

Sore hari, Elshinta.com memuat pernyataan fitnah bahwa diri saya sedang ‘diperiksa secara intensif’ oleh Polda Metro Jaya.

Sementara seorang blogger lain bernama Priyadi (http://priyadi.net), lanjut Roy, saat ini juga tengah diperiksa secara intensif oleh Polda Metro Jaya dan Kementerian Negara Komunikasi dan Informatika terkait dengan masalah penghinaan terhadap Kepala Negara.

Kami berusaha melakukan klarifikasi terhadap isi berita tersebut. Namun Elshinta menolak dengan seribu alasan.

Kamis, 15 Desember 2005

Koran Tempo memuat artikel Blogger Disangka Menghina Presiden.

Roy juga mengungkapkan, blogger lainnya, Priyadi, hari itu diundang khusus oleh tim dari Departemen Komunikasi dan Informatika dan Unit Kejahatan di Internet Kepolisian Jakarta. Priyadi menulis soal pesan singkat (SMS) massal dari Yudhoyono yang, menurut dia, adalah spam. “Kalau di luar negeri spamming itu adalah tindak kejahatan,” katanya.

Republika juga memuat artikel Makna Lain Dari Sebuah Kelucuan.

Kata Roy, bukan cuma Herman yang ‘tersandung’ SBY. Kemarin, seorang blogger lain, Priyadi Iman Nurcahyo (28 tahun), diundang tim khusus Departemen Kominfo dan Unit Cyber Crime Polda Metro Jaya. Dalam situs pribadinya, pria yang pernah kuliah di Teknik Informatika ITB itu menyebut SBY suka mengirimkan SMS-SMS tak bermutu, sehingga perlu diperiksa.

Kedua tulisan itu tentunya salah total dan saya sudah mengirim klarifikasi ke kedua media tersebut. Tak ketinggalan, saya juga menulis melalui blog dalam artikel Tanggapan Terhadap Pernyataan Roy Suryo di Hotel Aryaduta dan Jawaban Atas Pemberitaan Republika.

Sore hari saya diwawancarai oleh Elshinta, dan Elshinta memuat klarifikasi dari saya.

Malam harinya, di Bangkok, Thailand, Presiden SBY menggelar acara temu muka dengan warga Indonesia di Bangkok. Enda Nasution –Bapak Blog Indonesia yang baru saja pulang setelah menghadiri Global Voices 2005 London Summit ini– bertanya langsung ke Presiden perihal kasus ini. Ternyata Presiden sama sekali belum pernah mendengar kasus ini dan menanggapinya dengan bijak.

Jumat, 16 Desember 2005

Tanggapan Presiden terhadap kasus ini menghiasi media massa:

Klip video serta rekaman suara temu muka Presiden di Bangkok tersebut dapat didownload di blog Enda Nasution.

Koran Tempo memuat editorial Foto Rekayasa Presiden

Malam harinya saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan sekitar 25 orang penulis blog dari Jakarta, Depok, Yogyakarta dan Surabaya. Mereka semua menanyakan tindakan hukum apa yang akan saya lakukan. Sayangnya saya belum bisa menjawab apa-apa pada saat itu.

Sabtu, 17 Desember 2005

Tanggapan saya dimuat oleh Koran Tempo di surat pembaca.

Herman Saksono kembali berulah. Kini yang menjadi korban adalah Bill Gates, Tux, Pertamina dan Palang Merah Indonesia! Berhati-hatilah Herman!

Senin, 19 Desember 2005

Menkominfo Sofyan Djalil menanggapi editorial dari Tempo.

Majalah Tempo memuat artikel Siapa Kepeleset Foto Presiden dan Akibat Foto Montase Presiden.

Majalah ini hanya mempertanyakan tindakan kelewatan dalam “membina” keisengan ala Herman ini. Bukan saja tindakan ini tak produktif, melainkan bisa memberikan citra buruk bagi komitmen pemerintah dalam menjamin kebebasan berekspresi setiap warga negaranya. Apalagi pernyataan Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika Partai Demokrat, Roy Suryo, yang mengatakan bahwa Herman sudah “dibina” karena kasus ini, terdengar sangat beraroma suara pembela pemerintah zaman Orde Baru”yang alergi dengan segala yang berbau kritik dan kebebasan berekspresi. Seharusnya kita lebih terfokus menangani seabrek masalah penting lainnya ketimbang perkara perentil-perentil begini.

Well said!

***

Pembaharuan:

  • Tambahkan waktu Herman menurutkan foto tersebut
  • Tambahkan ‘pelecehan’ versi kedua
  • Tambahkan SMS yang diterima Budi Rahardjo
  • Tambahkan editorial Koran Tempo
  • Tambahkan balasan dari Sofyan Djalil
  • Tambahkan dua artikel dari Majalah Tempo

110 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!