25 March 2006

Resiko Akses Internet Dengan Pembatasan Transfer Data

Posted under: at 23:05

Umumnya, para ISP menawarkan paket akses Internet yang dinilai dalam satuan waktu, biasanya dihitung dalam satuan jam. Misalnya, dengan ISP X pelanggan dapat mengakses Internet dengan biaya Rp 3500 setiap jamnya. Semakin lama mengakses, maka semakin mahal pula biayanya.

Tetapi dengan tuntutan pelanggan dan perkembangan teknologi, para ISP semakin kreatif dalam merancang produk-produk yang mereka tawarkan ke pelanggan. Yang sedang menjadi tren saat ini adalah akses Internet yang dinilai dari besar transfer data yang dilakukan oleh pelanggan. Pelanggan membayar bukan berdasarkan lama waktu online di Internet, tetapi berdasarkan jumlah data transfer yang dilakukan. Semakin banyak melakukan transfer data, maka semakin besar biaya yang dikeluarkan. Metoda ini populer pada layanan yang selalu aktif seperti ADSL Speedy dari Telkom dan beberapa penyedia layanan Internet melalui ponsel.

Pada layanan Speedy, pelanggan diberi jatah transfer data yang ditentukan sebelumnya. Jika penggunaan transfer data melewati batas tersebut, maka pelanggan akan dibebankan biaya tambahan untuk setiap kelebihan Megabyte yang ditransfer.

Cara seperti ini memang masuk akal. Pelanggan yang banyak menyita lebar bandwidth membayar lebih banyak daripada pelanggan yang hanya menggunakan Internet untuk chatting. Walaupun bisa saja terjadi pengguna layanan chatting akan online jauh lebih lama.

Tetapi cara ini bukannya tanpa resiko pada sisi pelanggan, dan ini yang mungkin tidak disadari oleh sebagian besar pengguna layanan-layanan tersebut. Komputer yang kita pakai bukan tidak mungkin melakukan transfer data tanpa kita sadari. Berikut adalah beberapa kasus yang terpikirkan oleh saya:

  • Virus atau worm. Sekali kena virus atau worm tertentu, bisa saja jatah transfer data kita untuk satu bulan habis dan kita diharuskan membayar biaya yang sangat mahal di akhir bulan. Seperti yang kita ketahui, beberapa virus menyebarkan dirinya melalui jaringan. Menurut perhitungan saya, layanan ADSL Speedy, GPRS atau CDMA paling tidak dapat melakukan pengiriman data sebesar kira-kira 5 kB/detik atau dalam satu hari bisa mencapai lebih dari 400 MB jika komputer yang terkena virus dibiarkan terus menyala.

  • Dikerjai pihak yang tidak bertanggung jawab. Transfer data bukan hanya dapat dilakukan dengan inisiatif pengguna komputer, tapi bisa saja dilakukan atas inisiatif orang lain. Contoh paling sederhana, jika ada seseorang di luar jaringan anda melakukan ping ke komputer anda, maka komputer anda akan membalas ping tersebut. Artinya sudah ada satu paket yang masuk dan satu paket yang keluar, bagaimana jika ini dilakukan berkali-kali (ping flood) oleh pihak yang tidak bertanggung jawab? Otomatis anda akan membayar transfer data yang tak berguna tersebut pada akhir bulan.

  • Pembaharuan otomatis. Sistem operasi yang kita gunakan umumnya akan memperbaharui (update) dirinya secara otomatis melalui Internet. Terkadang kita tidak sadar bahwa hal ini juga akan kita bayar di akhir bulan. Sistem operasi Windows XP atau Linux yang baru saja diinstal akan membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan MB untuk memperbaharui dirinya.

Jadi, pelanggan layanan-layanan tersebut perlu berhati-hati supaya hal-hal semacam itu tidak memberatkan ketika harus membayar biaya Internet di akhir bulan. Saya sendiri selalu menghindari jenis layanan seperti itu karena resikonya terlalu besar, tetapi mungkin sebagian pengguna di Indonesia memang tidak memiliki alternatif yang lain.

Sekadar usulan dari saya untuk para ISP yang menerapkan skema tersebut. Jika memberikan layanan akses broadband unlimited dirasa terlalu berat, bagaimana dengan alternatif-alternatif ini?

  • Menurunkan kecepatan akses. Akses Internet unlimited selalu nyala dengan kecepatan 64kbps rasanya sudah amat sangat mewah untuk perumahan di Indonesia. Dengan kondisi saat ini, layanan seperti ini akan laku seperti kacang goreng.

  • Melakukan pembatasan bandwidth jika kuota transfer data terlampaui. Misalnya transfer data per bulan dibatasi sebesar 2000MB. Sebelum pemakaian mencapai 2000MB, ISP memberikan bandwidth sebesar 512kbps, tetapi setelah pemakaian tersebut terlampaui, maka bandwidth diturunkan menjadi 64kbps.

Dengan kedua cara tersebut, pelanggan senang, ISP juga senang karena tidak perlu melakukan rutinitas menangani komplain dari pelanggan setiap akhir bulan.

118 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!