5 December 2006

Jeruk, MoU, Linux, dan Microsoft

Posted under: at 23:55

Pada suatu hari saya pergi ke pasar untuk membeli jeruk. Di pasar saya temukan ada dua penjual yang menjual jenis jeruk yang sama. Bedanya, penjual A menghargai jeruknya Rp 1000/ons, sedangkan penjual B menghargai jeruknya Rp 2000/ons. Mengingat kualitas dan jenis jeruknya yang sama dengan penjual B, dan harganya yang lebih murah, maka tidak sulit untuk menjatuhkan pilihan kepada penjual A.

Minggu depannya, saya kembali ke pasar yang sama. Harga yang ditawarkan kedua penjual tetap sama, tetapi kualitas jeruk dari penjual A lebih baik daripada penjual B. Dalam kasus ini, lebih mudah untuk mengambil keputusan untuk membeli jeruk dari A.

Ini tentunya sebuah hal yang wajar, dimana-mana konsumen akan berusaha untuk mencari transaksi yang lebih menguntungkan. Bagaimana jika ada orang lain yang membeli jeruk dari B? Itu murni hak dia, saya tidak dapat melarangnya, walaupun mungkin saya bertanya-tanya apa alasannya.

Kemudian, pada suatu hari kampung saya mengadakan sebuah acara yang tentunya membutuhkan jeruk sebagai konsumsi. Karena saya sudah berpengalaman dalam soal ‘perjerukan’, maka warga kampung mengutus saya untuk membeli jeruk. Tentunya sama seperti membeli untuk diri sendiri, saya harus mencari transaksi yang paling menguntungkan. Tetapi tidak seperti membeli untuk diri sendiri, jika saya salah memilih, yang rugi bukan cuma saya sendiri, tetapi seluruh kampung: bisa jadi saya akan diprotes oleh warga kampung.

***

Hal yang sama terjadi dalam hingar bingar MoU antara Microsoft dan Pemerintah Republik Indonesia. Bagi kebanyakan orang yang sudah akrab memakai perangkat lunak bebas, pilihannya bukanlah pilihan yang sulit. Namun melihat perkembangan yang terjadi, mau tidak mau beberapa pihak mempertanyakan apakah pemerintah telah mengambil keputusan yang tepat, terutama karena isi dari MoU tersebut juga terkesan dirahasiakan.

Tentunya ini adalah hal yang sangat wajar. Bukan hal yang aneh kita yang berposisi sebagai konsumen berusaha untuk mencari alternatif yang lebih menguntungkan. Walaupun demikian, negosiasi pada tingkat pemerintahan tentunya akan jauh lebih rumit daripada sekadar membeli jeruk untuk diri sendiri atau warga sekampung.

Yang menjadi masalah ada pihak-pihak tertentu yang memperumit masalah. Mereka menuduh orang-orang yang mempertanyakan keputusan pemerintah ini sebagai orang ‘ABG’, ‘memiliki fanatisme sempit’, ‘kurang kerjaan’, dan sebagainya. Saya pribadi tidak dapat menerima arogansi semacam ini, karena sebenarnya ini semua tidaklah rumit: orang-orang ini cuma protes sebagaimana saya akan diprotes jika pulang dengan membawa jeruk termahal dan terburuk yang ada di pasar.

Mungkin ada baiknya pihak-pihak ini mulai memberikan pendapat yang lebih konstruktif. Atau jika hal tersebut masih terlalu sulit untuk dilakukan, diamâ„¢ adalah perbuatan yang jauh lebih baik.

70 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!