Independensi Blog
Saya cuma bisa senyum-senyum melihat tulisan Pak Budi Rahardjo yang berjudul To Adinoto dan Eep karena sebenarnya saya sudah cukup sering mengalaminya. Saya sudah tidak ingat lagi berapa kali saya mendapatkan komentar-komentar dengan nada semisal:
- Kok tidak pernah menulis lagi tentang ________?
- Kok gak bosen-bosen sih nulis tentang _________?; atau bahkan
- Kok postingan kali ini gak mutu?
Biasanya akan saya abaikan komentar-komentar seperti itu, walaupun saya tidak menyangkal komentar-komentar tersebut memang terkadang bisa mempengaruhi diri saya dalam menulis blog. Kalaupun terpaksa dijawab, akan saya jawab kurang lebih sama dengan jawaban Pak Budi: “Silakan anda baca blog lain,” atau “Anda berhak untuk tidak membaca blog saya.”
Saya pun sempat menuangkan hal ini dalam tulisan saya Kemerdekaan Dalam Menulis Blog, walaupun tentunya tidak se-’tajam’ atau se-’terus terang’ tulisannya Pak Budi
. Kalau ternyata komentar-komentar bernada negatif tersebut saya rasa terlalu mempengaruhi diri saya dalam penulisan blog, saya sempatkan diri saya untuk membaca ‘deklarasi’ yang saya nyatakan pada Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2006 tersebut.
Mungkin yang dibutuhkan Pak Budi saat ini adalah memproklamasikan kemerdekaannya kepada Adinoto dan Eep. Dan yang dibutuhkan ’selebriti yang mulai ngeblog’ adalah proklamasi kemerdekaannya kepada Pak Budi
.
walah, di respon juga oleh mas pri,
Keduax? Ketigax? (ga penting)
Sebenernya cuma pengen ngetes lokasi pembuatan komentar ini terdeteksi dengan benar ga?
Tapi soal BR, adinoto dan Eep, IMHO, sebagai penikmat planet terasi tulisan2 BR yang “membanjiri” aggregator ini kurang “sesuai” dengan bagian About planet terasi:
Tapi, memang harus diakui kalau blog itu personal, jadi memang mau-maunya yang buat. Saya, sebagai penikmat, ngelewat2-in aja posts yang tidak sesuai dengan minat saya
Comment aku sih: Kok jadi jarang nulis, Pri?
Merdeka pak!
Loh kok ada iconnya ??
Hi hi hi.
Setuju, Pri.
Kemunculan tulisan saya seperti itu kan bukan dipicu oleh *satu* komentar mereka saja, Pri. Berkali-kali komentar gak mau baca blog saya tapi bolak balik … baca blog saya dan komentar yang ada adalah *mencari-cari* kesalahan. he he he. Sampai titik koma pun dicari kesalahannya. Ha ha ha. Ah udah ah. Di sana saya males komentar. Jadi saya gak komentar sama sekali. Soalnya, seperti saya tulis, pasti ngeyel. Lha wong modenya adalah mencari-cari kesalahan. Ini pun pasti dikomentari lagi. ha ha ha.
Betul Pri, “silahkan baca blog lain”.
Hidup Blogger!!…Merdeka!!
Ah, betapa beruntungnya menjadi orang yang sering dikomentari. (sambil melihat blog saya yang sepi komentar…)
Setuju banget sama Mas Pri
wah sampe sini juga toh … kok lanjut nehh? padahal udah saya bikin closing ceremony he he he.
emang solusinya adalah kalo om BR nggak suka udah cuekin, karena klo di bahas kan udah tau bakal ngeyel, ah terlanjur jadi blogger, apapun akan di posting …
halah kok gini
dulu pak BR pernah nulis ini “blog aing ya kumaha aing” mungkin dg pedoman itu beliau spt itu
ah memang susah jd seleb
Ibarat pepatah,
Gajah dipelupuk mata tak nampak *halah*
yg penting keep bLogging aja deh
btw, met pagi dan met beraktivitas
Budi Rahardjo wrote:
Hi hi hi. Setuju, Pri.
Kemunculan tulisan saya seperti itu kan bukan dipicu oleh *satu* komentar mereka saja, Pri. Berkali-kali komentar gak mau baca blog saya tapi bolak balik … baca blog saya dan komentar yang ada adalah *mencari-cari* kesalahan. he he he. Sampai titik koma pun dicari kesalahannya. Ha ha ha. Ah udah ah. Di sana saya males komentar. Jadi saya gak komentar sama sekali. Soalnya, seperti saya tulis, pasti ngeyel. Lha wong modenya adalah mencari-cari kesalahan. Ini pun pasti dikomentari lagi. ha ha ha.
Betul Pri, “silahkan baca blog lain”.
=> Saya setuju dengan Pri. Tapi rasanya masalah sebenarnya mungkin justru bukan soal kritik dikritik. Kelihatannya ada sesuatu yang mengganjal di hati Pak Budi soal saya atau Eep. Ini mungkin yang publik tidak tahu. Jadi kalo dibahas ke arah yang lain mislead deh.
Untuk Pak Budi, kenapa sensi sekali sih padahal kalimat yang saya pake juga ga jauh dengan gaya kalimat yang anda pergunakan “Pasti Ngeyel, Mencari-cari kesalahan sampe titik koma” Apa ga berlebihan reaksinya tuh Pak?
Sorry sampe disini saja komentar terakhir saya, saya rada nanti lebih banyak mudhoratnya daripada faedahnya, dan ini bukan Popularity Contest. Apalagi akan jadi kesempatan buat orang-orang memancing di air keruh.
Pak Budi, saya lagi pulkam nih. Lusa sudah di Bandung. Anda tahu telpon saya kan? Saya tunggu deh kontaknya untuk ngopi bareng mungkin?
Mau ikut kalau ada kopdar di Bandung
Bapak2 berdua (pri, br) ini kok lucu ya, kalo independen kok ribut? Anda dapat rating jelek ato bagus dari org lain ya bukan urusan anda, kan independen toh? Kok kayak ORBA, dikomentari jelek, yg ngomentari dilarang masuk Indonesia. Sama aja, anda juga bilang “you are not welcome” “go away”. Itu mah bukan independen namanya bapak2 terhormat
yuk… mari kita ngobrol2 sambil ngopi2…
pri ikutan yuk k bdg….
kadang-kadang kita membutuhkan suasana panas untuk menghangatkan suasana……………kawan
“
bagus, selesaikan secara personal.
btw, klo kopdar pas di bandung pengen ikut
kopdar bandung? IKOT!
nasib jadi seleb blog, Pak Pri…
tulisan bagus, dikomentari.. jelek, dikomentari juga, serasa blog si pengomentar lebih bagus saja..
ayo kopdar bandung, jadi kan semua peserta makan-makan, yang nraktir kang eep, aa noto dan om BR
Namun bagaimanapun juga memperhatikan harapan dan masukan pelanggan sangat penting
Sebab mereka juga termasuk pilar keberlangsungan blog kita, dan konsumen utama kita
kagak ngikud ngikuuud….
Benar sekali…..
ada hak kita untuk menulis dan membuat opini..
namun jika ada suatu kritik dan nasehat dari pembaca, maka lapang dada menerimanya adalah sebuah kebaikan.
Kecuali jika memang pembacanya rese dan cuma mencari-cari kesalahan orang lain…hmm..dibiarkan saja mungkin yah !
http://ocehankoe.blogspot.com
Barangkali perlu disusun kode etik untuk Blogger dan para pemberi komentar?
ya itulah resiko jd blogger ngetop, om pri

anggap aja mereka penggemar anda yg selalu mencari postingan terbaik anda, tp anda emang gak bs memuaskan semua org kan?
Wah, kok saya sampai ke blog ini ya? Rame juga…
(btw, udah pernah belum ya saya ke sini sebelumnya? *ingat-ingat…*)
Ya udah deh salam kenal ajah…
Sedih juga sih harus end up seperti ini, tapi apatah daya?
Petisi untuk mengeluarkan blog blog nya Budi Rahardjo dari Planet Terasi
http://www.petitiononline.com/nobrinpt/
#15:
lha. kalau komentarnya mengkritisi isi tulisan atau pendapat saya sih gak ada masalah. misalnya saya tulis 1+1=3, terus ada yang bilang “itu salah, harusnya 1+1=2″. itu sih no problem. yang masalah itu kalau inti kritiknya itu “topik yang kamu tulis gak sesuai dengan selera saya”, kalo gitu what the hell are you doing here in the first place? silakan saja cari blog lain yang sesuai dengan selera ente
#3:
energi ngeblog terkuras di bagian komentar. topik soal asuransi itu ‘very maintenance intensive’
.
#26:
kalau kritiknya tentang apa yang ditulis sih gak ada masalah. yang masalah itu kalau kritiknya apa yang ditulis gak sesuai dengan selera kita. kalau gitu ngapain dibaca?
BR dgn adinoto&eep ada mslh pribadi kan?
selesaikan lah, jgn dibawa-2 ke blogosphere.
ato ini skenario ndogkrak popularitas???? sdh kehilangan mutu nulis???
hmmm….siapa menabur siap menuai
saya bkn mancing di air keruh. kita tdk tahu apa sustansi polemik BR vs adinoto&eep ini, ya kan??
Perbedaan pendapat adalah suatu yang wajar
Kalo semua pendapat sama mungkin blog anda juga jadi kurang seru. But, overall saya tetap salut dengan anda Pri.
Penting atau tidak penting; yang penting dibahas.
*gossip is everywhere…*
mo komentar apapun biarin aja
itu hak mereka
yg lucu adalah ada yg bilang blog sesorang ngebosenin tapi giliran blogny dibilang gitu marah
apa kata dunia??? (mentang2 gua petugas pajak nh!) hehehe
Hahaha…
Itu karena Pak Pri seleb blog. Para fans biasanya sangat menunggu Pak Pri menulis hal-hal yang dirasa menarik. Saya akui, kualitas tulisan Anda juga sangat bagus, kok.
Tinggal niat Anda ngeblog itu untuk memenuhi selera penggemar atau dengan gaya Anda sendiri. Selamat ngeblog!
kok jadi lucu yah ? gyahahahhaa.
#33:
Bukannya ini sama persis seperti ungkapan pak budi sendiri tentang seleb yang tulisannya gak mutu pri? kalo tulisan seleb gak mutu kok pak budi mau baca? malah kemudian ditulis diblognya yang mengakibatkan dibaca orang lain?
mungkin itu yang menyebabkan adinoto berkomentar seperti itu.
CMIIW aja deh, daripada ntar gw dianggep ikut-ikutan
#40: silakan baca sampai paragraf yang paling akhir
lucu saja.. seru..
/
yang saya sayangkan, mengapa mereka bertiga menjadi saling berbantah2-an dan bahkan menjadi debat kusir yg ad hominem,. padahal mereka boleh dibilang adalah panutan bagi banyak orang(terutama di dunia BLOG)
ok lah mereka manusia yg punya perasaan, berbantahan still ok, itu menandakan mereka masih sebagai manusia, namun di sisi lain, sy berharap kebijaksanaan dari ketiga orang tsb dalam waktu dekat kan dilakukan, lalu diiringi dengan pesan berdamai di blog masing2
aku pribadi masih menganggap ketiga orang tsb sbg orang penting di bloghosphere indonesia, so dengan adanya damai, bukankah itu bisa menjadi contoh yg baik bagi komunitas bangsa ini yg terus2an dilanda konflik ?,
HIDUP blogger, HIDUP damai, HIDUP pak br, aa nata dan kang EEP……., juga mas Pri he he
PEACE
pas bgt, gw bru aja dihujat kayak gtu, tpi bukan di blog ini
maksud saya, di blog saya
merdeka!
Konon kita sudah merdeka hampir 62 tahun 7 bulan.
ikutan ah… Merdeka…..
kok mulai saling senggol ya

Jika ada independesi Blog, adakah independensi komentar?
Saya pikir ketika seseorang membuka fasilitas komentar pada Blognya berarti dia sudah siap menerima segala komentar yg masuk (kecuali spam), baik itu yg bersifat objektif terhadap tulisan di blog tersebut maupun yg sifatnya subyektif terhadap penulisnya.
Setiap publikasi pasti ada audiencenya, termasuk blog. Menurutku tidak salah jika seseorang memberikan komentar “Tulisan Anda tidak sesuai dengan seleraku”, penulis blog tidak perlu membalas “Baca saja blog lain”. Semestinya dari komentar-komentar tersebut sang penulis blog dapat menilai dirinya dan memilah-milah seperti apa audience yg cocok dengan tulisan-tulisannya. Dengan demikian ia dapat meningkatkan kualitas dia dalam berpikir dan menuliskannya di blog.
Untuk apa tulisan di suatu blog dipublikasikan bahkan dibuka ruang komentar di dalamnya jika tulisan atau bahkan penulis blog tersebut tidak mau dinilai/didiskusikan/dibicarakan?
*belajar bijak*
wah disini rame juga ngebahas para seleb blog kita ya, ikutan menyimak juga ah siapa tau dapat ilmu-ilmu baru dalam hal ngeblog
Kalo aku sih aku biarin aja. Ntar mereka juga bosen2 sendiri
nambah seru
salah satu hal yang saya salut dengan mas Priyadi adalah tautan atau flash back yang sangat baik
#50:
ya ngga mungkin lah
. gak mungkin penulis blog yang milih siapa yang jadi audiencenya. yang mungkin itu audience yang milih blog mana yang sesuai dengan seleranya
. kalo emang blognya gak sesuai dengan seleranya ya tinggal baca blog lain. gitu aja kok repot
. kalo penulis blog yang harus ngikutin selera SEMUA pembacanya, ya gak bakalan bisa nulis2 
senggol-senggolan di dunia maya… sakit ngga ya?
wah sampe sini juga, overall saya sih setuju sama mas pri sama pak br, di dunia blog, audience lah yang memilih mana content yang di baca dan di komentari, mereka lah yang harus selektif memilih bacaan mereka sendiri. Toh gak ada orang yang memaksa untuk membaca blog - blog tertentu kan ?
Mungkin yang dimaksud mas pri dengan independesi adalah kemerdekaan untuk menulis blog sesuai dengan selera hati. Tanpa harus dipaksa untuk mengikuti satu tema saja, saat seseorang bilang “blog nya tidak mutu” atau “temanya gak suka/gak sesuai” mereka ( pak br, dan mas pri ) mungkin ngerasa klo hak mereka untuk menulis blog atau menyalurkan aspirasi nya terkekang.
Ya sudah lah, saya cuman ngeliat dari sisi saya aja… semoga bisa rukun semua nya.
# 50
“Semestinya dari komentar-komentar tersebut sang penulis blog dapat menilai dirinya dan memilah-milah seperti apa audience yg cocok dengan tulisan-tulisannya”
Lah emang ada batasan suatu server blog hanya menerima akses dari suatu reader yang ingin membahas tema tertentu? Belum ada kan yang di-enforce dengan metoda itu? Perkecualian blog yang read by invitation/closed blog only. Itupun hanya dibatasi based on userID si reader, bukan tema posting.
klo pak pri senyum2 melihat tulisan pak br terhadap adinoto&eep…
klo saya senyum2 melihat the last tulisan pak pri yang terakhir…tepat sasaran/target masalahnya
Buat Kang Priyadi,
Boss, I’m not in anyway against your writing. Soal independensi blogger apalagi bener banget. Apalagi tulisan Pak Pri, aset bangsa ini banget. Berapa banyak yg lu pinterin dari tulisan elo boss. Mungkin masalah ini bukan masalah komen tapi ada sesuatu yang lain. Semoga ga jadi melebar kemana-mana. Personally gua ga ada problem dengan Pak Budi. Jadi buat komentator semoga ga diperpanjang masalahnya. Sampe disini saja.
Soal yg komen tulisan elo miring/ga sesuai topik yg mereka seneng/dikira nulis itu-itu mulu, jangan diwaruh (jangan ditanggapi) boss. Sejauh gua tau tulisan elo tetep konsisten dan indepth. Rasional dan berguna bagi banyak masyarakat pembaca.
Sukses selalu sob.
Cheers, Aa Nata.
#50 & 55; ya ya ya blog aing kumaha aing, komentar aing kumaha aing! tapi slamming on public? lame!
Namanya juga blog
A short reply is available here
http://rahard.blogdetik.com/2008/02/23/blognya-seleb-membosankan/#comment-85
Mas Pri, berhubung saya nggak kenal Pak Budi, tolong dong bilang ke beliau “Wisss, sing sabar”. Abis kayaknya Pak Budi lagi sensi banget yah pas itu? Hmm, mau komen langsung di blognya beliau tapi ogah ah, atuuuttt.. Ntar dihajar juga.
Oya, saya yang tadinya ga pernah baca-baca detil, jadi ikutan merunut satu-satu artikel mana aja sih yang bikin mereka pada panas..
Kesimpulan saya, nggak ada yang salah tuh dengan komentar Eep & Adinoto. Biasa-biasa aja. Apalagi kalau ternyata mereka “mengomentari pedas” tulisan pak Budi yang judulnya “Blog Seleb membosankan” di blogdetiknya Pak Budi.. wah-wah, rasanya hampir semua orang akan berpendapat sama dengan adinoto ataupun Eep kalau baca tulisannya pak Budi yang itu. Tulisan yang sedikit bernuansa “arogan”.
Yaaa harusnya beliau maklum lah, artis jangan disamain sama dosen dong.. Udah jelas background pendidikannya aja beda. Jadi jangan mengharap seorang artis akan menulis tentang “Operasi Pemisahan Difusional” atau “Kinetika Reaksi Orde 3″ atau “elektronika-elektronika dan sejenisnya”. Maklum aja lah.. dunianya aja udah beda.
Saya sih nggak bela siapa-siapa.. tapi Pak Budi harusnya maklum kalau “dikritik” adalah resiko seorang seleb.
energi ngeblog terkuras di bagian komentar. topik soal asuransi itu ‘very maintenance intensive’
Betul, melayani komentar memang cukup memakan waktu. Apalagi kalau fasilitas komentar memang terbuka terus (tidak ditutup otomatis setelah beberapa waktu).
Kadang ada posting yang sudah bertahun-tahun dan mendapat komentar baru lagi, hehe. Memang satu atau dua, tapi dikalikan sekian ratus postingan yang ada, jadinya… banyak juga ya?
Pantesan saya juga tidak terlalu sering posting jadinya. (cari alesan)
yap! yang namanya kemerdekaan dalam ngeblog itu maha penting!
#50, #58, Memilah tidak sama dengan memilih. Memang saat ini di teknologi blog tdk ada filter pembaca, namun yg saya maksud adalah penulis blog mestinya tahu siapa yg menjadi peminat/penikmat tulisannya dari komentar-komentar yg masuk. Kalau dia tidak mau tau ya jg tdk masalah, tapi ya gak perlu bilang “silakan baca blog lain”.
Intinya, untuk apa buka ruang komentar kalau tidak mau dikomentari (apapun komentarnya), toh blogger jg bisa hapus komentar2 yg dia tidak suka.
blogging aja dengan perasaan merdeka…
ga usah peduliin apa kata orang, apakah tulisan kita bermutu atau tidak, apakah tulisan kita dikomentari apa tidak, dsb.
toh, blogging is blogging. semua bisa ditulis dalam blog…
regards mas pri
untuk blog pribadi memang terserah mau ditulisi apa saja sesuka pribadi pemiliknya.
tapi kalo sudah terlibat dalam sebuah komunitas (aggregator misalnya), perlu diperhatikan juga tata krama di komunitas tersebut. kalo memang ‘gaya’nya beda, kenapa nggak bikin sendiri aggregator lain yg se’gaya’? soalnya kalo bertahan di komunitas tsb dg cueknya nulis sak karepe dewe, berarti sama dg makan di restoran jawa, tapi nyedot mie sampek bunyi srooot… ato glekek’en. kalo di restoran jepang memang nggak masalah, tapi di restoran jawa jadi nggak sopan.
tapi kasus ini bisa jadi pemicu teknologi baru di blogosphere, mungkin nanti ada yg bikin aggregator engine baru dg feature yg memungkinkan query aturan semacam “select * from feed where author != budirahardjo”, gituuu…
gw setuju sama fahmi
Pada comment no 55 itu:
Saya sepakat pada komentar mas Pri di atas. Menurut saya, justru itulah perbedaan blog dengan media komersial. Blog komersial sangat tergantung pada selera pembaca, dan cenderung mengukuhkan selera pembaca yang dangkal. Kita bisa nulis apa saja di blog tanpa tunduk pada selera-selera semacam itu.
Kalau perdebatan mengenai pak BR, Eep, Adi, saya sih berpendapat disudahi saja ya. Hayo kita petik pelajaran dari perdebatan ini.
IDE yang bagus. Membuat eyel-eyelan begini untuk menaikkan rating blog. Saya mau coba juga ah…
Mana tahu bisa menyaingi rating Pak Budi… hehehe
Mimpi kali ye…
Mungkin emang yg sering berkomentar miring ini adalah para fans dari blog seleb yg merasa gak puas sama tulisan dari si seleb tersebut. Tapi harusnya para fans ini juga harusnya nyadar donk ya, kalo tiap seleb pun juga punya keinginan untuk menulis hal2 yg gak bermanfaat untuk orang lain, tapi bermanfaat untuk dirinya atau bermanfaat untuk para junkers buat komen. Jangan sampe si selebnya stress sama fans nya yg suka ngejar2 tulisan si seleb ampe keujung dunia blog *halah*.
“
#61:
ini namanya ad hominem tu quoque. sama aja, yang komen ‘kumaha aing’ juga sama lame-nya
#64:
ini sama juga ad hominem tu quoque
. saya juga gak dukung komentar pak BR soal itu. tapi bukan berarti komentar adinoto/eep sama sekali gak arogan
seleb juga manusia
. hanya karena seseorang jadi seleb gak bisa dijadikan alasan untuk melakukan hal tersebut.
#67:
ya menghapus komentar itu salah satu solusi. tapi kalau mau dijawab, ya jawaban satu2nya yang masuk akal ya “silakan baca blog lain”, gak ada jawaban lain yang lebih tepat
. masa sudah dikasih kesempatan berkomentar, justru yang punya blognya gak boleh komentar balik? kan ngga 
#69:
nah ini
. biasanya satu blog masuk agregator itu BUKAN karena inisiatif yang punya blog. saya sendiri masuk selusinan agregator, tapi cuma sekali dimana saya sendiri yang minta masuk agregator (merdeka.or.id). biasanya pemilik agregator yang atas inisiatif sendiri memasukkan blog tertentu ke dalam agregatornya, dan ini pun belum tentu atas sepengetahuan yang punya blog.
jadi kalau misalnya pembaca agregator gak suka postingan tertentu dari blog tertentu, lalu kemudian protes ke yang punya blog maka artinya protesnya jelas salah alamat
. harusnya protesnya ke yang punya agregator. dan di sini pun sebenarnya pembaca gak punya hak apapun untuk menuntut pengubahan konfigurasi agregatornya.
kalau mau punya kontrol terhadap konfigurasi agregator, ya tinggal bikin agregator sendiri. ini gampang kok. bisa nginstall wordpress, maka bisa nginstall agregator. tapi kalau audiensnya cuma 1 orang, ya mendingan baca lewat RSS reader saja
.
Sepertinya sepanjang kotak diskusi masih dibuka, jadi sudah siap dengan komentar . Seburuk apapun.
No hard feelings.
Salam Boss
ini kan soal selera masing-masing individu, kalo selera kita tidak cocok dengan selera orang lain ya kita jgn memaksa orang lain untuk menyamakan dengan selera kita.
nge-blog adalah kebebasan masing-masing individu, begitu juga pembaca dan berkomentar. Tanya pada masing-masing diri anda, apakah ada aturan yg mewajibkan anda untuk berkomentar bila membaca sebuah blog? adakah yg mewajibkan anda untuk menjadikan blog tersebut sebagai referensi bacaan anda?
bagi saya pribadi tidak ada istilah pembaca berhak mengkritik, [kecuali mengkoreksi sebuah pernyataan yg mana informasinya berasal dari sumber yg lain, bukan berasal dari hasil karya penulis dan ternyata terjadi kesalahan penulisan atau informasi]. Kalopun mau mengkritik hakikatnya kalo bicara etis gak etis kan bisa dilakukan dengan jalur pribadi bukan dengan di publish di blog. Dengan anda mempublish di blog berarti anda bertanggung jawab dengan distorsi-distorsi yg bakalan muncul. Jelas pro dan kontra pasti ada
saya tidak membela siapapun, tapi saya lebih setuju dengan Bung Pri, independensi blog. Bagi penulis blog silahkan menulis, bagi pembaca silahkan membaca. Bila suka dan mau meninggalkan komen ya monggo, bila pembaca tidak suka dengan gaya dan informasi yg disajikan, ngapain repot-repot, alt+f4 atau klik silang di pojok kanan atas. Beres kan!!!
semoga permsalahan ini terselesaikan dengan damai
Go Blog!!!
sekali lagi, ngeblog itu memang perlu energi, energi untuk menyiapkan hati biar tetap dingin walau komentar berasa pedas. tetap semangat mencerahkan dunia blogosphere
Dulu ketika baru merintis bisnis, saya dilanda “demam” bisnis, dan itu berpengaruh terhadap isi blog saya. Selama beberapa bulan, isi blog saya hanya mengenai bisnis dan lagi-lagi bisnis.
Saat itu ada teman yang protes. Katanya, “Kok sekarang tulisan mas jonru mengenai bisnis melulu? Kapan nih menulis yang bermutu lagi seperti dulu?”
“Lho… apakah tulisan mengenai bisnis tidak bisa bermutu?” begitu saya berpikir di dalam hati.
Seterusnya, saya setuju dengan pendapat Mas Pri. ngeblog adalah kebebasan, jadi kita bebas menulis apa saja yang kita mau.
Namanya juga iseng - iseng berhadiah, pak. Kalau hadiahnya dapet bomb, yah jelas marah. Rame - rame deh, sekalian buat lembaga legislatif blog.
Bagaimana jika posting dalam suatu blog menyinggung orang atau komunitas lain? Adakah suatu “mekanisme” orang atau kelompok tersebut memberikan hak jawab?
Di luar konteks Adinoto dan Eep, mungkinkah komentar “sampah” merupakan respon kejengkelan dari suatu posting?
Imho, independensi blog dan kelapangan hati. Siapapun punya hak akan kebebasan ngeblog apapun yang dia mau, tapi begitu masuk ke arena public, yah siap2 saja untuk menerima komentar baik yang berupa pujian maupun kritik.
Analoginya, kita semua berhak akan kebebasan menggunakan pakaian apapun yang kita mau. Saya boleh memilih untuk memakai singlet, t-shirt, kemeja batik, safari, atau bahkan tidak pakai apa-apa. Jika saya berani menjadi seorang fashionita di PUBLIK, dengan berpakaian modis bak Iwan Gunawan, saya harus siap mental untuk menerima pujian maupun kritikan. Pujian dan kritikan datangnya tidak diminta.
Kalau saya tidak tahan kritikan, yah mendingan saya jadi fashionita di rumah saja. Palingan yang kritik cuman istri saya “asset segitu ajah dipamer2 segala…. pake baju gih!!!”.
Kalo kata Slank, piss….
Karna yang ribut nya seleb blog, nanti masuk ke Acara Gosip di Indonesia ga yah.. itu tuh, Info tai ment…
Ya gitu deh… saat sudah masuk kelas seleb-blog, ngurusin komentar bisa lebih menyita energi daripada nyari topik…
“