29 July 2011

Pengalaman Menjadi Nasabah Kartu Kredit UOB Buana

Posted under: at 10:32

Saya adalah pemegang kartu kredit gold UOB Buana (sekarang Bank UOB Indonesia) 4027-3620-0039-xxxx sejak Februari 2008 dan UOB One Card 4027-3620-1005-xxxx sejak Mei 2010. Berikut adalah pengalaman buruk saya dalam menjadi nasabah kartu kredit bank ini.

Pada akhir bulan Februari 2011, saya untuk berniat mengajukan penutupan kartu kredit emas UOB Buana saya. Mengapa ingin saya tutup? Pertama, saya merasa iuran tahunan (annual fee) yang saya keluarkan tidak sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Kedua, saya tahu bahwa iuran tahunan kartu kredit UOB Buana saya ini akan ditagihkan pada bulan April setiap tahunnya. Maka saya membuat jadwal di ponsel saya untuk melakukan penutupan kartu kredit UOB Buana pada setiap bulan Februari. Jika penerbit menghapuskan iuran tahunan, maka saya lanjutkan penggunaan kartu saya untuk satu tahun ke depan. Jika tidak, maka tidaklah menjadi masalah besar, bukan saya yang rugi dan saya masih memiliki banyak kartu kredit dari penerbit lainnya.

Permintaan saya untuk menutup kartu kredit saya di call center 021-23559000 dibalas dengan tawaran penghapusan iuran tahunan dengan menggunakan point reward. Saya yang tidak menyadari bahwa saya memiliki point reward yang cukup banyak langsung menolak mentah-mentah, dan saya langsung meminta penukaran point reward yang saya miliki dengan selembar voucher belanja Rp 100 ribu di Carrefour. Saya hanya bersedia menerima penghapusan iuran tahun tanpa syarat apapun. Akhirnya mereka menerima dan mengatakan bahwa mereka bersedia menghapuskan iuran tahunan.

Voucher Carrefour yang mereka janjikan pun datang kurang lebih satu minggu setelah telepon saya tersebut.

Karena sudah ada komitmen dari mereka untuk menghapuskan iuran tahunan, maka saya tidak memiliki beban lagi untuk menggunakan kartu kredit tersebut, dan saya gunakan untuk melakukan tiga kali transaksi dengan menggunakan fasilitas cicilan 0% di merchant yang menawarkan promo tersebut. Transaksi saya lakukan tiga kali pada tanggal 28 Februari, 27 Maret dan 6 April, untuk pembelian perlengkapan fotografi.

Sekitar tanggal 18-19 April, saya menerima tagihan dan melihat ternyata iuran tahunan yang mereka janjikan untuk dihapus ternyata tetap tercetak, yaitu sebesar Rp 350 ribu. Saya pikir ini bukan masalah besar, dan hanya merupakan kesalahan administrasi semata. Saya pun menghubungi call center, mereka pun menjanjikan untuk memproses kesalahan ini dan akan menghubungi saya dalam tiga hari.

Tanggal 27 April, jauh melebihi waktu tiga hari yang mereka janjikan, sama sekali  ada kabar dari mereka. Dan karena jatuh tempo adalah pada tanggal 2 Mei, saya segera melakukan pembayaran melalui Bank Mandiri dengan jumlah di atas jumlah tagihan termasuk iuran tahunan. Ini karena saya lupa jumlah tagihan persisnya dan kertas tagihan tertinggal. Saya lakukan ini untuk menghindari bunga dan denda keterlambatan pembayaran mengingat tanggal jatuh tempo yang sudah sangat dekat.

Tanggal 28 April, saya kembali menghubungi mereka. Alangkah terkejutnya saya ketika petugas call center memberi tahu saya bahwa mereka tidak dapat menghapuskan iuran tahunan karena saya masih memiliki transaksi cicilan. Saya berkali-kali mencoba untuk memberi tahu bahwa transaksi cicilan dilakukan setelah menerima komitmen dari UOB Buana bahwa iuran tahunan akan dihapuskan. Lebih kaget lagi ketika diberi tahu bahwa dalam catatan mereka disebutkan bahwa saya menyetujui untuk membatalkan penutupan kartu hanya karena menerima voucher belanja Carrefour, yang bahkan saya dapatkan dengan cara memotong reward point!

Pada titik ini, tekad saya sudah bulat untuk menutup kartu ini. Setelah kejadian ini, saya tidak akan tenang selama saya masih menjadi nasabah kartu kredit UOB Buana. Saya khawatir di masa yang akan datang akan terjadi lagi masalah seperti ini.

Ketika saya menyampaikan hal tersebut kepada petugas call center, saya diberi tahu bahwa saya harus terlebih dahulu melunasi seluruh tagihan cicilan, ditambah dengan denda sebesar Rp 200 ribu untuk setiap transaksi cicilan yang saya lakukan. Karena transaksi cicilan yang saya lakukan berjumlah tiga buah, maka denda yang mereka kenakan adalah sebesar Rp 600 ribu! Saya sudah minta agar denda ini dihapuskan karena denda ini terjadi karena kesalahan pihak UOB Buana yang menolak untuk menepati komitmennya. Namun, seperti yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya, mereka menolak permintaan saya tersebut.

Sebenarnya akan lebih murah jika saya dengan pasrah membayar iuran tahunan yang hanya berjumlah Rp 350 ribu. Namun ini sudah menyangkut urusan pelanggaran komitmen yang tidak dapat saya terima. Jadi saya memutuskan untuk tetap menutup kartu kredit saya tersebut, walaupun biaya yang akan saya tanggung lebih tinggi. Saya langsung menanyakan apa yang harus saya lakukan jika ingin menutup kartu saya.

Petugas call center kemudian meminta waktu untuk melakukan perhitungan mengenai jumlah yang harus saya bayarkan agar saya dapat menutup kartu saya tersebut. Katanya, kartu saya baru dapat ditutup jika saya menyisakan tagihan sejumlah iuran tahunan Rp 350 ribu yang nanti akan dihapuskan pada saat penutupan kartu saya. Setelah saya hitung-hitung, jumlah yang harus saya bayarkan ini sudah memperhitungkan denda Rp 600 ribu serta bea materai dan biaya transaksi pembayaran di tagihan bulan depan.

Karena hanya tersisa dua hari kerja menuju tanggal jatuh tempo, saya memutuskan untuk melakukan pembayaran langsung melalui konter Bank UOB Buana. Tujuannya supaya pembayaran bisa langsung tercatat pada hari itu juga. Saya ambil dana tunai dari Bank BNI, untuk kemudian disetorkan ke Bank UOB Buana cabang Depok. Ini adalah cara yang sangat merepotkan untuk membayar kartu kredit, ditambah dengan ongkos pembayaran melalui konter yang sebesar Rp 15 ribu, atau 2-3 kali lipat biaya pembayaran melalui ATM atau Internet.

Hari Senin, 2 Mei 2011, waktunya bagi saya untuk mengeksekusi penutupan kartu. Ternyata ceritanya belum selesai sampai di sini saja. Permintaan saya untuk menutup kartu kredit ke call center ternyata ditolak mentah-mentah. Katanya, mereka tidak dapat menutup kartu saya karena saya masih memiliki tagihan iuran tahunan! Dan mereka tidak dapat menghapuskannya karena iuran tahunan sudah tercetak dalam tagihan! Ini benar-benar hal yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Saya sudah mengikuti instruksi penutupan kartu dari petugas call center tiga hari yang lalu, tapi kini petugas yang lain mengatakan kepada saya kalau mereka tidak bisa melakukan penutupan kartu saya?

Petugas penutupan kartu menawarkan untuk menghapuskan iuran tahunan dan denda Rp 600 ribu, tapi dengan syarat saya harus melakukan transaksi sebesar Rp 6 juta rupiah selama enam bulan! Saya benar-benar tercengang. Setelah berkali-kali mengerjai saya, mereka ternyata masih berani menerapkan syarat kepada saya!

Saya menolak mentah-mentah segala tawaran dari petugas penutupan kartu. Saya ingin segera melakukan penutupan kartu, supaya saya bisa terbebas dari kewajiban untuk berhubungan dengan pihak UOB Buana di masa yang akan datang. Karena petugas penutupan kartu tidak bersedia mengabulkan permintaan saya, saya minta bicara dengan atasannya langsung. Setelah beberapa kali bolak-balik memberikan waktu kepada petugas penutupan kartu untuk berbicara dengan atasannya, saya tetap tidak berhasil bicara langsung dengan atasannya. Walaupun demikian, petugas call center akhirnya bersedia untuk melakukan penutupan kartu kredit saya tanpa syarat apapun, walaupun saya harus merelakan Rp 600 ribu yang secara teknis masih menjadi hak saya.

Pada saat penutupan kartu, saya lupa bahwa saya masih memiliki kartu kredit lainnya dari UOB Buana, yaitu UOB One Card. Karena itu, saya juga lupa untuk menutup kartu ini. Keesokan harinya, tanggal 3 Mei 2011, saya menelepon call center dengan niat untuk menutup kartu UOB One Card saya. Seperti biasa, petugas penutupan kartu yang belum mengetahui duduk persoalannya menawarkan berbagai macam program untuk menghapuskan iuran tahunan. Saya menolak dan balik mengajukan syarat: jika ingin saya tetap menjadi nasabah kartu kredit UOB Buana, saya minta Rp 600 ribu yang secara teknis adalah hak saya dikreditkan kembali kepada kartu ini. Setelah menunggu petugas ini bernegosiasi dengan atasannya, dia menawarkan untuk mengaktifkan kembali kartu gold yang kemarin telah ditutup, ditambah dengan penghapusan iuran tahunan, penghapusan denda pelunasan cicilan dan pengaktifan kembali program cicilan.

Sejujurnya ini adalah penawaran yang saya harapkan sebelumnya, tapi sudah sangat jauh terlambat dan saya tidak bersedia mengambil resiko untuk harus kembali jungkir balik berurusan dengan petugas call center di masa yang akan datang. Saya menolak, dan tetap meminta kartu yang kemarin ditutup tetap ditutup. Dan saya tetap bermaksud untuk menutup kartu UOB One Card saya, kecuali jika pihak UOB Buana bersedia untuk mengkreditkan Rp 600 ribu yang masih menjadi hak saya kepada kartu UOB One Card saya. Tentu saja mereka tidak bersedia untuk melakukannya, dan dengan senang hati membukukan uang Rp 600 ribu tersebut sebagai keuntungan. Pilihan saya akhirnya hanyalah menutup kartu tersebut.

Apakah ceritanya selesai sampai di sini saja? Ternyata jauh dari itu. Bulan Juni 2011 saya tidak menerima tagihan kartu kredit dari UOB Buana. Jika saya tidak menerima tagihan pada satu minggu sebelum tanggal jatuh tempo, biasanya saya langsung menghubungi call center untuk menanyakan jumlah tagihan yang harus saya bayar. Namun karena saya merasa sudah tidak memiliki hubungan dan kewajiban apapun kepada UOB Buana, tentunya saya merasa tidak perlu lagi menghubungi mereka. Namun alangkah terkejutnya saya setelah menerima tagihan pada tanggal 21 Juli 2011 yang isinya ‘tagihan bulan lalu’ sejumlah Rp 347.042 yang saya pikir adalah iuran tahunan karena jumlahnya mendekati Rp 350.000. Ditambah dengan bunga Rp 19.030, denda keterlambatan Rp 100.000 dan sebuah peringatan bernada agak keras.

Karena malas harus kembali berurusan dengan mereka, sambil mengelus dada, saya langsung lunasi tagihan ini tanpa menghubungi pihak call center yang saya rasa tidak akan banyak bersedia membantu dan hanya akan membuat sakit hati saja.

Jumlah kerusakan yang disebabkan oleh kartu kredit UOB Buana adalah sebagai berikut:

  • Biaya pelunasan transaksi cicilan: 3 * Rp 200.000 = Rp 600.000
  • Iuran tahunan: Rp 350.000
  • Bunga: Rp 19.030
  • Denda keterlambatan: Rp 100.000

Itu belum termasuk kerusakan-kerusakan yang sulit dikuantifikasi seperti biaya telepon, transportasi, dan sebagainya. Tidak termasuk pula kerugian ‘recehan’ seperti ongkos pembayaran melalui konter sebesar Rp 15 ribu. Secara time value of money saya juga dirugikan karena tidak lagi dapat mencicil tanpa bunga selama 6 bulan.

Oh ya, pada akhir eksekusi penutupan kartu, petugas penutupan kartu meminta saya untuk menggunting kartu kredit saya tersebut menjadi dua bagian. Saya melakukannya dengan menggunakan fasilitas dari PT. Kereta Api Indonesia. Terima kasih banyak kepada PT. Kereta Api Indonesia atas pinjaman fasilitasnya.

79 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!