Beberapa Alasan Untuk Masih Memakai Produk Microsoft

No Windows Please!

Kemarin saya menyinggung sedikit mengenai [beberapa alasan untuk tidak menggunakan perangkat lunak dari Microsoft](https://priyadi.net/archives/2005/05/26/beberapa-alasan-untuk-tidak-memakai-produk-microsoft/). Tapi tentunya tidak 100% dari seluruh pengguna komputer dapat bermigrasi ke Linux karena berbagai alasan.

Kali ini saya mencoba untuk membahas alasan-alasan mengapa produk perangkat lunak dari Microsoft masih dibutuhkan. Jika memungkinkan akan saya ulas juga bagaimana rintangan bermigrasi ke sistem operasi FLOSS ini dapat diminimalisasi atau bahkan dieliminasi.

**Perangkat Keras Tertentu Tidak Mendukung Linux**

Mungkin ini adalah rintangan pertama dalam melakukan migrasi ke Linux: beberapa perangkat keras tidak mendukung sistem operasi Linux. Contoh perangkat keras umum yang patut dicurigai tidak memiliki dukungan untuk Linux adalah: kartu VGA, printer dan modem internal. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah:

* Dengan mengganti atau tukar tambah perangkat keras yang tidak mendukung Linux dengan yang mendukung Linux
* Dengan mensyaratkan kompatibilitas Linux untuk setiap perangkat keras yang akan dibeli pada masa yang akan datang. Anda memang tidak bisa melakukan migrasi saat ini, tapi jangan sampai lima tahun ke depan kondisinya masih tetap sama.

**Aplikasi-Aplikasi Masih Membutuhkan Windows**

Alasan umum lainnya adalah bahwa aplikasi yang dibutuhkan hanya bisa berjalan di atas Windows. Beberapa solusi untuk mengatasi rintangan ini adalah:

* Gunakan aplikasi alternatif yang bisa berfungsi di Linux
* Walaupun penggunaan Windows tidak dapat dihindari, pelan-pelan bermigrasi ke aplikasi yang memiliki versi Linux, sebagai contoh [Firefox](http://www.mozilla.org/products/firefox/), [Thunderbird](http://www.mozilla.org/products/thunderbird/) dan [OpenOffice](http://www.openoffice.org). Migrasi sistem operasi di masa yang akan datang akan jauh lebih mudah jika aplikasi yang dijalankan relatif sama.
* Terutama untuk para pemain game, lakukan *dualboot* antara Windows dan Linux. Bootlah ke Windows jika membutuhkan aplikasi-aplikasi yang hanya berfungsi di Windows.
* Selidiki apakah aplikasi yang anda gunakan dapat dijalankan dengan menggunakan *emulator* Windows seperti [Wine](http://www.winehq.com), [Cedega](http://www.transgaming.com) atau [Crossover Office](http://www.codeweavers.com/), atau *emulator* DOS seperti [DOSEMU](http://www.dosemu.org/) atau [DOSBOX](http://dosbox.sourceforge.net/).
* Jika memungkinkan, selidiki juga penggunaan *emulator* komputer seperti [VMWare](http://www.vmware.com) atau [Qemu](http://fabrice.bellard.free.fr/qemu/). Dengan cara ini, anda menjalankan Windows di atas Linux sehingga Windows berjalan secara bersama-sama dengan Linux.

Memang tidak 100% pengguna komputer dapat bermigrasi ke Linux, tetapi bagi pengguna kasual yang menggunakan komputernya untuk membuat dan mencetak dokumen, membuka web, mencek email, memainkan musik, memutar film dsb, maka Linux sudah lebih dari mencukupi.

**Pengguna Tidak Terbiasa Dengan Linux**

Walaupun Linux dapat memenuhi kebutuhan hampir semua pengguna kasual, tetapi jenis pengguna ini yang pertama kali akan menolak Linux. Alasannya bermacam-macam, tetapi intinya sama, yaitu tidak terbiasa dengan Linux.

Jika migrasi dilakukan pada lingkungan korporat yang cukup besar, masalah ini bisa diminimalisasi dengan melakukan pelatihan ulang karyawan. Perusahaan besar seharusnya sudah cukup terbiasa melakukan pelatihan ulang setiap kali melakukan *upgrade* sistem operasi Windows. Maka pelatihan dalam hal migrasi ke Linux juga tidak menjadi masalah yang besar.

**Sebagian Besar Pengguna Komputer Menggunakan Windows**

Ini adalah masalah yang paling besar menurut saya. Sebagian besar pengguna komputer masih menggunakan Windows, maka dukungan teknis akan lebih mudah didapatkan untuk sistem operasi Windows. Jika anda menggunakan Linux, maka anda akan kesulitan untuk mencari pertolongan dari teman atau anggota keluarga.

Perusahaan besar kemungkinan besar bisa mengatasi masalah ini karena memiliki *helpdesk* untuk melayani keluhan para pegawai. Sedangkan pengguna komputer rumahan akan mengalami kesulitan yang sangat berarti terutama jika tidak memiliki akses Internet.

Menurut saya kelebihan Windows satu-satunya saat ini adalah pangsa pasarnya yang besar. Jika Windows tidak memiliki pangsa pasar yang besar maka Windows akan mengalami nasib yang sama seperti Linux saat ini: sedikit aplikasi komersil yang berjalan di Windows dan sedikit pembuat perangkat keras yang akan membuat *driver* untuk Windows.

63 comments

  1. Simplikasi masalah: Sebenarnya yang jadi masalah adalah faktor “Tidak tahu kebutuhan”. Kebanyakan dari kita memakai komputer karena “harus memakai” dan tidak pernah berangkat dari level tersebut.

    Sederhananya: Apakah kita membutuhkan “Microsoft Word” atau “word processor”? Apakah kita membutuhkan “Microsoft Excel” atau “spreadsheet”? Hi Roy™!

    Selama level pemahaman perbedaan antara aplikasi dan merek masih belum dijembatani ya mayoritas akan susah untuk melakukan migrasi.

    Tanggung jawab siapa kalau sudah begini? Tentunya para “Sekte TI”, meminjam istilah dbu :d. Anggap saja sudah tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Otoriter sedikit sebenarnya tidak masalah kok, mayoritas pengguna juga cuma sekedar manut yang diatas. Yang parah itu kalau yang dipanut model selebritis terkenal kita… susah deh :)>-

  2. Tulisannya udah pas nih :D Memang benar untuk perusahaan level enterprise yg harus migrasi orang2 helpdesk nya dulu, soalnya mereka nanti yg bakalan support end-user. Setelah itu casual user, yg cuma make aplikasi tertentu. Baca berita ttg Munich yg akhirnya milih Debian, kayaknya asikan gitu: pilih 1 distro, trus develop skill orang2 yg support, nantinya mereka bisa bantuin migrasi nya end-user. Daripada bergantung sama 1 vendor linux. Wah, tapi nanti jadi perang distro donk ya :p gak pa-pa juga ketimbang perang tender produk MS. Buat pengguna rumahan, ini akibat orang yg jualan komputer juga nih yg udah memaketkan hardware dgn windows. Di indo ada vendor yg jual paket PC dgn linux gak ya?

  3. :-w kapan saya hrus me-migrasikan pc saya di tempat kerjaan, kira² ada tdk program editing plc [Nais,Omron dll] yg support dilinux :-\

  4. #1 setuju dengan anda :) memang ada kesalah-pahaman yang sayangnya sudah mendalam sekali. Misalkan saja, kalau ngetik itu pastilah Ms Word, kalo bikin tabel pastinya Ms Excel. Bikin presentasi? kalo nggak pake PowerPoint bukan presentasi… :(

    lalu bagaimana? apa kita cuma membanggakan memakai linux dgn kesan yang menyeramkan? marilah… seminar2 dan pengenalan atau pelatihan itu perlu… tapi bukan itu saja solusinya…
    memasyarakatkan jenis AbiWord, OpenOffice misalnya, juga merupakan cara menarik pelan2 dari jebakan2 kapital.

    karena, bagaimanapun sukar utk lepas dari jerat MS dan sejenisnya. Apalagi sistem bundle dari produsen yang ada…

    “Sekte TI” memang mesti bertanggung jawab, jgn ntar dituding hanya bicara msalah iPod, symbian, atau apalah yang end-user kompie gak ngerti… :D

  5. Yup, game, mungkin itu salah satu masalah mengapa masih banyak yang tidak bisa total pindah ke linux (termasuk saya ^^).

    Dulu pernah nyoba wineX (sekarang namanya Cedega yah?). Bisa jalan sih, tapi kalau gamenya sangat bergantung pada kehandalan kartu grafis, pake wineX terasa sangat berat … Ngga tau kalau Cedega sekarang, belum pernah coba lagi, katanya sih lebih bagus …

  6. Saya dari dulu mempergunakan Windows sebagai OS dan produk-produk MS lainnya untuk berbagai kebutuhan seperti yang disebut Mas Avi. Antipati banget deh sama yang namanya OpenSource/Linux, meskipun ocassionaly mempergunakan Linux diberbagai komputer teman, sampai tiba saatnya kuliah Student Centre pakai Linux semua ya terpaksa deh membiasakan diri dengan berbagai program dengan prinsip yang penting kebutuhan terpenuhi. Tapi saat ini saya dan beberapa teman, seriously berpikir untuk migrasi ke Mac :)>-

  7. kalau didats ?
    gak ada alasan lagi untuk tidak memakai linux.
    wong keseringan pake editor doang…. ;)

    tapi… hihihi :D

  8. BTW, ada yang udah nyoba PearPC?
    kalo PearPC bisa bikin run OS X di MS Windoze, berarti Windoze jg bisa jalan di Linux kan?
    Sing gak punya uang jangan pakai Linux, pake FLOSS aja,
    Sing gablek duit jangan pake Windoze, pakailah MAC :d

  9. #1 Mungkin “Sekte IT” bisa ganti nama jadi “Illuminati” ? ;-D

    IMHO salah satu cara membiasakan diri pakai Linux adalah dengan cara buang jauh2 instalasi Windows. Pemakaian dual boot Windows-Linux justru hanya membuat pengguna tidak bisa meninggalkan comfort zone yang dibangun ketika masih pakai Windows

  10. #8
    Kalau memang comfort dengan Windows, kenapa harus ganti ke Linux? Bukannya malah menggaggu produktivitas?

  11. Satu lagi neh, terkait dengan isu “sebagian besar pengguna komputer menggunakan Windows”. Masalah yang muncul adalah masalah interoperabilitas. kadangkala unutk spreadsheet atau wordprocessor, file format yang ada tidak bsia dipertukarkan secara mulus. Apa yang terbaca jelas di MS Word bisa jadi dirender dengan salah di Open Office, begitu juga sebaliknya. [-(

    vote for OASIS!! :)>-

  12. Agree dgn #8, dual boot emang sering kali jadi perangkap yg justru ngejauhin kita dari linux. Belum lagi masalah sebagian linux agak ‘cerewet’ dengan format file (mp3, ntfs, dll). Jadi bikin user pemula/awam makin blg linux itu susah. Cape juga pencet tombol hp.. Jempol gua brasa kaku.. :p

  13. masalah hardware bukan cuma di PC-nya aja, tapi juga accessories yang lain. [kamera2 digital terbaru masih belum bisa di-support Digikam :( ]

    memang masih perlu waktu & banyak tenaga. terus terang aja, saya masih memposisikan nunggu orang lain nge-develop. sementara menunggu, saya pake W****s :D

  14. #11, kalo anda punya resources cukup untuk memakai Windows, ya silahkan saja lho, gak perlu pusing2 pindah Linux.
    Saya sendiri tidak punya luxury itu, dari sisi personal (kalo dari sisi enterprise banyak tuh papernya). Contoh :
    1. gak punya duit beli Windows dan maintenancenya
    2. Gak punya duit beli MS OFfice
    3. Gak punya mesin yang cukup kuat untuk jalanin real time antivirus protection, dan gak punya duit buat subscribe antivirus
    4. Gak punya waktu dan tenaga untuk problem solving yang berkaitan dengan malware dan worm
    5. Jadi punya waktu luang dari kewajiban backup, karena bisa dengan mudah pakai script
    6. bisa remote akses murah pakai bandwidth kecil pakai CLI via SSH
    7. kalo lagi manage mesin Unix, gak perlu beli X Server.
    8. merasa lebih tenang karena less risk being hacked walau konek Internet 24 jam

    masih banyak lagi, jadi saya bener bener hemat resource nih, mending buat belanja istri dan anak. Just FYI, main dekstop saya 4 tahun ini cuman Duron 800 MHz. Main laptop saya 3 tahun ini cuman PIII 500 MHz.

    Saya gak pernah ngomong stability lho, karena saya akui Windows 2000 Pro is a very nice and stable desktop OS.

  15. #14: kamera digital apa sih?
    kamdig kalo dicolokin umumnya didetect sebagai usb mass-storage, dan chipset mass-storage sudah banyak di di driver linux usb

  16. apalagi ada asumsi yang beredar dimasyarakat skr ini kalo Linux itu “susah”. makanya jadi takut utk pake Linux (kebiasaan pake Windows) :D

  17. ya, sekarang saya pake slack. tapi install ym dan irc gagal. masih jadi pe-er. dan website saya ternyata ancur dibrowse pake konqueror. sigh..

    *kira-kira di tahan nggak ya komen ini :D*

  18. #19. kalau begitu, JANGAN BILANG komputernya pakai Linux. Bilang aja ini Windows baru dan beberapa fitur didisable biar aman. Lihat deh berapa orang yang berhenti protes dan langsung memakai komputer itu (Lebih dari 68% deh, Hi Roy™!). Level Psikologis.

    Setelah beberapa minggu coba beritahu bahwa itu sebenarnya Linux dan lihat level protes mereka akan meningkat. Level Psikologis lagi.

  19. #16 distro yang paketnya sangat banyak dan updatenya mendekati bleeding edge tapi masih stabil adalah Fedora Core 3. Sebentar lagi bakal ada Fedora Core 4

  20. #23 yup!! setuju :)>-

    Fedora Core (personally) dapat dikatakan bagus! Aku sendiri menggunakan fedora core 3 utk router. Dan sampai hari ini itu router yg melayani sefakultas adem aja.. :D

    Tapi masalah bukannya nggak ada, misalnya saja kita mesti nginstal plug-in masang mp3, pake yg standar kayak paket rpm xmms-mp3-1.2.8-3.p.i386 juga udah cukup, tapi kan buat pengguna biasa hal ini mengesalkan. Belum lagi kenyataan bahwa file system FAT32 mesti nge-root dulu, dan NTFS belum didukung :((

    tapi untuk akses me M$, pake vnc juga jalan :P

    hal lainnya, yaitu, aplikasi surfing semacam yahoo messenger, kaco banget deh :(

    Meski demikian udah cukup bagus, mungkin lebih baik dari (IMHO)debian yang paketnya tidak begitu “akrab” dibanding rpm.

    *pake ni windows juga karena udah dibundel sama toshiba M35 gw :(( *

    bakal dihajar linux juga nih! :))

  21. Yang jelas, lebih banyak yg pakai windows karena lebih banyak bajakannya. Hari ini aja saya koq masih yakin kalau cari Fedora, masih ditanya “Game? MP3? Bokep?” :d

  22. #27: wah, coba aja kalo Ubuntu gak ada distribusi pake Shipit, trus nyari ke penjual CD “Ada Ubuntu gak ?”
    “Ubuntu ? usus buntu?” :((
    :-? Sepertinya walau ada Shipit pun, Ubuntu masih tetap terdengar “aneh” ?
    Tak terbayang…

    test koreksi bug Firefox di Ubuntu Hoary

  23. #1,#22: Kelihatannya boy avi perlu didukung untuk menjadi KFC yang baru nih :-D.
    Setiap komentarnya selalu menyebut-nyebut _kamu_tahulah_siapa_

  24. Maaf ya buat rekan-rekan semua, saya masih pakai WinXP gara-gara Microsoft Visio 2003. Nggak usah ngomong replacementnya deh, gak bakal ada :P BTW FreeBSD 5.4 uenak tenan, terutama kalo udah berurusan ama /usr/ports dan portupgrade. Gak ada lagi dependency hell, tahunya jalan. :)

  25. #24 Kalau untuk production server yang life cycle-nya lama, sebetulnya Fedora bukan pilihan yang tepat. SAya sarankan pakai Red Hat Enterprise Linux. Tapi kalo gak bisa bayar license dan supportnya, pakai saja clone-nya, Centos. Saya deploy centos untuk partner company saya di Bangladesh, dan totally happy karena software commercial yang certified di RHEL, jalan dengan bagus di CentOS. Bahkan juga driver FC HBA dari QLogic untuk SAN.

  26. #31 Saya pakai Dia, dan itu cukup buat saya daripada Visio. Waktu kawinan juga bikin undangan dan map cuman pakai Gimp dan Dia.

    Untuk orang marketing dan acc manager di tempat saya kerja, ada Visio 2000+Wine over Java Dekstop System

  27. Kalo migrasi dari Microsoft ke Linux ntar komisi dari vendor jadi ilang :d Mana kerjaan jadi banyak karena harus ngajarin banyak karyawan yang gak bisa Linux. Lagian yang bayar kan kantor. Kok repot-repot ngurusin biayanya yang mahal. Ntar saya tanyakan ke Pengamat Telemedia Bapak KRMT Roy Suryo N apakah kita sudah waktunya beralih ke Linux :)

  28. Satu lagi alasan dikantor kita dulu (kantor konsultan) : client maunya file dalam MS Word, Excel, dan PP.
    Th lalu, saya nulis dokumen (MSW dan PP) dg notebook yg pake linux. Pas dibuka sama boss di notebook dia yg pake Windows, berantakan semua. (kenapa ya?)
    Boss stress dan memarahi manajer GA gara2 dia yang “menganjurkan” migrasi. hehehehe…. sejak itu, rapat pimpinan memutuskan untuk tetap memakai produk MS walau mahal dan get rid of all pirated softwares. (kalo OS sih masih boleh asal kejadian diatas tidak terulang lagi, akibatnya temen2 cuma pake buat keperluan pribadi)

  29. coba aja suatu hari windows lenyap begitu saja dari indonesia (…pasti bakal ada yg nyelundupin bajakannya dari luar), okelah, dari dunia ini. bisa nggak ya linux ngegantiin dengan sempurna? bayangkan pengguna korporat, ato mahasiswa non-geekie yg lagi nyusun skripsi, kiamat nggak ya? :-?

  30. kalo gue sih idup-mati pake windows. soalnye gue gamer sih. udah nyoba game di linux rata2 masih cemen kelasnya. hehehe…emang benar, buat game pasti windows dah !
    tapi tux racer di linux lumayan loh….:d

  31. “Menurut saya kelebihan Windows satu-satunya saat ini adalah pangsa pasarnya yang besar” (mas priyadi says)
    Nah sekarang pekerjaan rumah LINUX adalah bagaimana merebut pangsa pasar Microsoft tsb, mempelajari kenapa windows bisa mempunyai pangsa yg besar? Linux juga harus Harus lebih telaten menjalin hubungan dengan vendor2 hardware, dan developer software. win win solution biar diterima oleh banyak user karena more compatiblenya seperti halnya Plug and Play Windows yang bisa menampung beribu driver hardware, Di Eropa Linux mulai menjadi alternative sehingga bikin meradang microsoft Eropa. di Indonesia selama Microsoft Windows XP bisa dibeli dengan 5000 perak, dibajak maksud saya, Linux agak susah untuk dijadikan alternative. Jika saatnya tiba, disaat Microsoft memperketat Originalitas untuk kawasan indonesia tak ayal lagi Linux akan menjadi pilihan utama, Semoga

  32. yach…
    seandainya linux makin mampu memenuhi kebutuhan personal berkomputer kita…terutama kompatibilitasnya…
    driver2nya…walau dg specs comp pas2an…maka…
    gak kan ada lg sweeping2an…krn…gak ada yg mo pake W*****s lg…:d
    jp pengen nyicip linux nih…:x tuk slamanya…

  33. ya…bener….selama masih ada WINDOWS…pergunakanlah WINDOWS sebaik2nya…sebelum saya dating WARNET saudara…karena saya, skrg sdg di INDONESIA…kekeke :p

  34. Gue sih pragmatis aja. Gue programmer, bikin program buat dijual sama end-user. Kalau bikin program di Linux siapa yang mau beli? Di Linux hampir semuanya bisa didapat dengan gratis.

    BTW gue sebenernya punya bbrp unek unek ttg Linux, dan ini yang sampai sekarang masih jadi alasan beberapa kali gue uninstall Linux (khususnya kalau kepepet perlu space harddisk, hehehe ..).

    – GUI gak cukup responsif (emang kalau pake “today giga-hertz monsters” sih gak kerasa, but I still love my AMD K-6 II 330 Mhz). Konsep client-server-nya buat GUI emang cool, tapi kenapa sih gak di by-pass aja kalau login secara local.

    – Boot-up terlalu bertele-tele. Banyak service yang gak perlu, ikut dinyalakan by default. Kayaknya emang Linux dirancang untuk jarang dimati-hidupkan (baca: server). Kernel-nya di-compress juga.

    – Hardware stuff. Idem sama kayak di atas.

    – File system-nya bikin bingung. Kalo di Window$ kan kita mau naruh file di harddisk mana bisa ketahuan. Kalau di Linux bingung juga soalnya semua directory. He he he .. Emang cuman masalah kebiasaan aja.

    – Terlalu banyak file konfigurasi. Padahal kalu dibikin kayak sistem registry-nya Window$ pasti lebih mudah dan lebih sederhana.

    Tapi buat server, i agree, dari sisi performa dan kelengkapan, belum ada yg bisa nandingi Linux and friends.

  35. baru install fedora core 3,tape koneksi ke internetnya jd ngga stabil kenapa ya???:((:-w kadang lama (1.56 menit), kadang normal kebuka websitenye :( padahal koneksi 128kb/s pake leasedline lage.) nyangkut dimana tuh:-w

  36. Kebanyakan orang masih tidak dapat menggunakan OS selain Windows. Saya mulai mengenal komputer hanya pandai mengunakkan Windows dan tidak lain, Ditempat saya untuk mendapatkan Windows ‘Pirate’ amat senang.

  37. #35 Nah kalo gitu masukkan usaha mengajari itu jadi cost anda :D Dapat gaji kan?
    Soal komisi komisi-an itu membuktikan kalo core business-nya bukan IT, tapi trading :D

    #36 Ya kalo company-nya mau dan mampu bayar semua license dan support ya bagus lah. Lagian juga dalam praktek Linux commercial support di Indonesia belum ada yang level Multi National Company. Red Hat saja barusan buka di Singapore. Yang kudu dihindari itu adalah company yang pakai pirated software

  38. aku jadi ragu sama perkembangan gnu/linux di masa
    depan, jangan-jangan nanti di linux ada istilah shareware, trialware, demo kayak di windows.

    oh ya aku juga mau beri kabar ama kalian semua
    yg suka ama os nya apple (Mac OS X), tahun depan
    mereka akan bikinin versi mac so x untuk komputer
    berprosesor intel.:)

  39. #52:

    aku jadi ragu sama perkembangan gnu/linux di masa
    depan, jangan-jangan nanti di linux ada istilah shareware, trialware, demo kayak di windows.

    gak mungkin, kulturnya jauh berbeda. bisa aja ada shareware dll tapi menurut saya gak bakalan laku di linux

    oh ya aku juga mau beri kabar ama kalian semua
    yg suka ama os nya apple (Mac OS X), tahun depan
    mereka akan bikinin versi mac so x untuk komputer
    berprosesor intel.

    yup, tapi kabarnya gak bisa dijalankan di komputer rakitan biasa. cuma bisa dijalankan di hardware buatan apple.

  40. #52, Mac OS X udah dari sejak awal (5 th yg lalu) ada secret Intel versionnya walaupun mungkin skrg belum dijual. Yg bakal keluar itu hardware Apple yg berbasis Intel. Dari Mac OS X nya sendiri sepertinya sudah siap, tinggal third-party applicationsnya aja yg lagi disiapin. Preliminary developer version PowerMac dg prosesor Pentium 4 sudah available dr Apple utk select developers dg harga US$999 dan harus dipulangin ke Apple th depan. Semua referensi ini ada di keynote speechnya Steve Jobs waktu WWDC 2005 kemarin. Kalo mau liat videonya silakan cari ke http://www.apple.com

  41. Langkah keliru para jawara linux pada awal sosialisasinya bukan pada desktop. Tapi justru malah ke server dan networknya, sedangkan layer desktop baru belakangan digarap karena ada peluang pasar ngasih training desktop. Jadinya linux sudah terlanjur dianggap susah dan ribet. Selain itu Open Office juga masih memilki banyak keterbatasan kalau dibandingkan dengan M$ Office, belum lagi urusan konversi file dan sebagainya.
    # 14 Xandros dan Knoppix terbaru sudah mau deteksi Canon EOS 350 D tuuh… surprise :)>-

  42. #55:

    Langkah keliru para jawara linux pada awal sosialisasinya bukan pada desktop. Tapi justru malah ke server dan networknya, sedangkan layer desktop baru belakangan digarap karena ada peluang pasar ngasih training desktop

    yang jadi masalah adalah bikin sistem server jauh lebih gampang daripada membuat sistem desktop. bikin web server apache tidak sampai 2 tahun sudah bisa jadi web server paling populer, sedangkan bikin desktop sampai sekarang belum bisa dianggap memadai untuk sebagian besar orang.

    Selain itu Open Office juga masih memilki banyak keterbatasan kalau dibandingkan dengan M$ Office, belum lagi urusan konversi file dan sebagainya.

    lho? kok seakan2 jadi salah openoffice? masalahnya adalah standard format file MS office itu tidak terdokumentasikan dengan baik dan cenderung dirahasiakan. antara MS Word versi yang berbeda saja kadang2 gak 100% sempurna konversinya.

  43. sampai kapan pun Linux tidak akan bisa pernah menyaingi Windows dalam urusan user freindly , knp ?..jika hal itu dilakukan, maka sistem security-nya malah akan longgar dan malah nantinya tidak berbeda dari Windows

    IMHO

  44. kalo di perusahan tempat saya bekerja memakai 2 os. Linux dan windows. Selama ini tidak ada masalah dalam membuka file baik dari linux ke windows, ataupun sebaliknya. Asalkan kita menyimpan file dengan format yang benar.:)>-

  45. “sampai kapan pun Linux tidak akan bisa pernah menyaingi Windows dalam urusan user freindly , knp ?..jika hal itu dilakukan, maka sistem security-nya malah akan longgar dan malah nantinya tidak berbeda dari Windows”

    Saya nggak setuju, memang selama ini Linux masih ketinggalan tapi kita lihat aja gimana nantinya.

    masalah User Friendly atau tidak nggak ada kaitannya dengan kehebatan dari sistem security suatu OS. liat aja Mac OS (User Friendly-nya OK, Security-nya cukup OK bila dibandingin Win*ows)

  46. saya baru aja pake linux, buat running dos application, dosbox ato dosemu emang bisa, tapi kalo mau ngeprint dari dosbox ato dosemu kok susaaaaah banget padahal dah pindah2 distro, dari suse , fedora, kanotix, mandrake… trus distro yang pas buat jalanin dos application apaan ya?

Leave a Reply to geblek Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *