Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah

Bulan lalu, Tabloid Kontan Edisi Khusus membahas asuransi unit link. Salah satu artikelnya membahas perbandingan asuransi unit link dengan mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah. Kontan membuat ilustrasi dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:

* Produk asuransi jiwa + kecelakaan, nasabah diilustrasikan meninggal dunia pada tahun keenam.
* Uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 50 juta dan bonus 20 juta.
* Besar setoran premi per tahun Rp 10 juta
* Instrumen investasi pendapatan tetap dengan asumsi keuntungan 14% per tahun.

Menurut perhitungan Kontan, dengan unit link uang pertanggungan yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 105.040.000. Sedangkan jika mengambil terpisah, uang pertanggungan yang akan dibayarkan sebesar Rp 122,1 juta.

**Kesalahan Perhitungan Tabloid Kontan**

Walaupun demikian ada kesalahan perhitungan yang dilakukan Kontan. Menurut perhitungan saya seharusnya bukan Rp 122,1 juta, tetapi hanya Rp 63,3 juta + Rp 50,4 juta = Rp 113,7 juta. Selain itu asuransi yang digunakan Kontan berjenis [*whole life*](http://en.wikipedia.org/wiki/Whole_life_insurance), sedangkan seharusnya yang diambil adalah yang berjenis [*term life*](http://en.wikipedia.org/wiki/Term_life_insurance). Pada ilustrasi yang dilakukan Kontan tersebut, nasabah membayar premi sebesar Rp 1.6 juta per tahun untuk uang pertanggungan Rp 50 juta. Sebagai perbandingan, besar premi asuransi *term life* untuk pria umur 30 tahun dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanyalah sebesar sekitar Rp 150 ribu per tahun saja. Selisihnya yang besar tersebut tentu lebih optimal jika disetorkan ke reksadana.

Di luar itu semua, saya tidak setuju dengan *benchmark* seperti ini karena hanya memperhitungkan satu skenario saja. Masih ada banyak skenario lainnya yang mungkin muncul dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ekstrim, saya bisa saja menggunakan uangnya untuk mengambil asuransi *term life* dengan uang pertanggungan sebesar Rp 1 milyar. Dan dengan skenario meninggal pada tahun ke-6, uang pertanggungan yang diperoleh jelas sangat jauh melebihi dua ilustrasi yang disajikan Tabloid Kontan tersebut, tetapi bukan berarti keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik.

**Reaksi Agen Asuransi Unit Link**

Sebagai pengamat asuransi dadakan, mau tidak mau saya terlibat pada perang opini. Apalagi artikel saya [Asuransi Unit Link vs Reksadana](https://priyadi.net/archives/2007/06/10/asuransi-unit-link-vs-reksadana/) –yang disinyalir mirip dengan artikel di Tabloid Kontan tersebut– kerap kali dijadikan bahan referensi oleh banyak pihak di berbagai forum.

Reaksi agen asuransi unit link pun bisa dengan mudah ditebak, mereka langsung mengeluarkan apa yang mereka anggap sebagai kartu as mereka, yaitu *rider payor*.

Pada asuransi jiwa ada manfaat yang namanya *waiver of premium*. Manfaat ini akan membebaskan pembayaran premi sampai batasan-batasan tertentu jika nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis atau tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya. Lebih jauh lagi, pada unit link manfaat *payor* bukan hanya akan membebaskan pembayaran premi asuransi jiwa, tetapi juga akan membebaskan setoran pada porsi investasi.

Jika pada ilustrasi unit link yang dilakukan Kontan tersebut di atas ditambahkan skenario nasabah menderita penyakit kritis dan polis *unit link* dilengkapi dengan perlindungan penyakit kritis serta *payor*, maka *unit link*-lah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.

**Menggantikan Manfaat Payor Jika Mengambil Terpisah**

Jika nasabah mengambil asuransi dan reksadana terpisah, jelas tidak ada layanan yang sama persis seperti *payor* pada *unit link*. Tetapi tidak sulit untuk mengambil manfaat yang setara dengan cara melakukan kompensasi berupa penambahan manfaat pada manfaat dasar dan penyakit kritis yang nilainya setara dengan *payor* di unit link.

Untuk menghitungnya cukup dengan menggunakan rumus standar ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ (*present value of an annuity*). Hal ini bisa [dihitung secara manual](http://en.wikipedia.org/wiki/Time_value_of_money#Present_value_of_an_annuity), menggunakan [fungsi PV()](http://www.techonthenet.com/excel/formulas/pv.php) pada *spreadsheet*, atau menggunakan salah satu dari sekian banyak [layanan kalkulator finansial](http://www.investopedia.com/calculator/AnnuityPV.aspx) yang ada di Internet.

*Contoh soal*: Pada sebuah polis asuransi unit link terdapat manfaat *payor* yang akan membayarkan Rp 12 juta setiap tahunnya sampai nasabah berusia 65 tahun jika nasabah didiagnosis menderita penyakit kritis. Sebagai informasi, usia nasabah saat ini adalah 35 tahun dan diasumsikan perkembangan investasi adalah sebesar 8% per tahun. Pertanyaannya, jika seandainya nasabah mengambil asuransi *term life* dan reksadana secara terpisah, berapa besar uang pertanggungan yang harus ditambahkan ke manfaat dasar dan penyakit kritis guna untuk mendapatkan manfaat yang setara dengan *payor* tersebut?

*Jawaban*: Gunakan rumus ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ dengan parameter-parameter suku bunga sebesar 8%, jumlah periode 65-35=30 dan besar pembayaran periodik Rp 12 juta. Jawabannya adalah Rp 135 juta.

Dari contoh tersebut, setelah mendapatkan uang pertanggungan, nasabah bisa menyetorkan Rp 135 juta secara sekaligus ke sebuah instrumen investasi dengan perkembangan 8%. Kemudian nasabah bisa saja menarik dana sejumlah Rp 12 juta setiap tahunnya dan uang tersebut tidak akan habis sampai nasabah berusia 65 tahun.

Praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja jika seandainya yang bersangkutan mengambil manfaat *payor* dari sebuah asuransi *unit link*.

**Perbandingan Versi Saya**

Dalam rangka memperingati Hari Asuransi 18 Oktober 2007 dan untuk menghilangkan segala keraguan di antara kita semua, maka kali ini saya ikut-ikutan membuat ilustrasi perbandingan dengan parameter-parameter sebagai berikut:

* *Budget* sebesar Rp 9 juta per tahun
* Perkembangan investasi sebesar 17% per tahun
* Suku bunga deposito berjangka sebesar 6.5% per tahun (untuk keperluan perhitungan manfaat yang setara dengan *payor*)
* Manfaat kematian sebesar Rp 500 juta
* Manfaat penyakit kritis sebesar Rp 250 juta yang memotong manfaat kematian.
* *Unit link* menggunakan *rider payor* sebesar Rp 9 juta/tahun yang akan dibayarkan sampai nasabah berusia 55 tahun setelah nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis.

Perbandingan dilakukan selama 20 tahun. Sepanjang 20 tahun tersebut, asuransi *term life* dalam ilustrasi saya selalu memberikan manfaat yang paling tidak setara dengan yang diberikan oleh *unit link*. Perlu diperhatikan pula dalam beberapa kasus di ilustrasi ini, *term life* memberikan manfaat asuransi yang lebih banyak daripada yang diberikan oleh *unit link*. Walaupun dengan *handicap* seperti ini, mengambil reksadana dan asuransi *term life* secara terpisah ternyata tetap bisa jauh mengungguli *unit link* secara terus menerus sepanjang periode. Pada akhir periode, reksadana + *term life* terpisah memberikan nilai tunai 37% lebih banyak daripada yang diberikan oleh *unit link*.

Perbandingan Nilai Tunai

Perbandingan Manfaat Kematian

Data mentah *spreadsheet* dalam format [OpenDocument](http://schtuff.priyadi.net/asuransi/unitlink-vs-terpisah.ods) dan [Microsoft Excel](http://schtuff.priyadi.net/asuransi/unitlink-vs-terpisah.xls).

Agen asuransi boleh saja terus berkutat dengan argumen “jika mengambil terpisah nasabah tidak akan mendapatkan manfaat *payor*”. Tetapi kenyataannya manfaat tersebut dapat dengan mudah direplikasikan jika nasabah mengambil terpisah, dan bukan hanya itu, hasil yang didapatkan masabah akan jauh lebih maksimal.

\*\*\*

Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2007. Semoga Gerakan Sadar Asuransi tidak berhenti semata-mata pada tujuan memaksimalkan keuntungan bagi penjual produk asuransi, tetapi juga memberikan manfaat yang sepadan bagi nasabah asuransi.

462 comments

  1. Aku ngikutin beberapa tulisan Pri tentang asuransi ini. Tulisannya reasonable dan secara pribadi aku setuju. Hanya saja aku masih ikut asuransi unit link karena dua hal:

    1) Sudah terlanjur
    2) Praktis

    Alasan praktis sebetulnya bentuk kemalasan untuk melakukan-segalanya-secara-manual seperti yang disarankan Pri. Aku yang notabene masih sangat awam dunia keuangan harus meluangkan waktu lebih banyak untuk, 1) Ngitung-ngitung sendiri, 2) Menghubungi lebih banyak pihak untuk mengalokasikan dana, suatu hal yang bagi orang awam tidak mudah.

    Sepertinya celah ini pula yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk memasarkan produknya. Seperti halnya banyak produsen lain memasarkan produk dalam bentuk “paket hemat” yang sebetulnya nggak bener-bener lebih hemat. Seperti alasan orang beli komputer Dell instead of rakit-sendiri-tanggung-sendiri-kalo-meleduk.

    Ada baiknya hitung-hitungan Pri bukan sekedar dari angka nominal uang, tapi memasukkan (dan mengkonversi ke angka) unsur waktu, profil risiko, dan kecenderungan orang untuk tidak disiplin jika harus secara manual mendapatkan manfaat payor.

    Halah, kok malah minta Pri ngitung lagi :D Maap. Maap :D

  2. ikutan koment donk pak priyadiii… (yaahh… no.4 yaa???:(( )

    dulu pernah dipaksa ikutan asuransi kecelakaan tuuh kalo bikin SIM, tapi ta tolak donk… ngurusnya ribettt !!! dan yang nawarinnya maksa lagi.. [-(

    ini nyambung ama yang diatas ga ya??? gpp yaahh, yang penting bisa masuk di blog nya pak priyadi.. hehehe

    emangnya ada hari Asuransi ya pak??? *bingung*

  3. #4:

    Aku yang notabene masih sangat awam dunia keuangan harus meluangkan waktu lebih banyak untuk, 1) Ngitung-ngitung sendiri, 2) Menghubungi lebih banyak pihak untuk mengalokasikan dana, suatu hal yang bagi orang awam tidak mudah.

    sebenernya gak perlu ngitung2 sendiri. masih lebih murah bayar orang ngitungin daripada beli unit link. dan sebenernya hitung2annya juga gak rumit kok.

    Ada baiknya hitung-hitungan Pri bukan sekedar dari angka nominal uang, tapi memasukkan (dan mengkonversi ke angka) unsur waktu, profil risiko, dan kecenderungan orang untuk tidak disiplin jika harus secara manual mendapatkan manfaat payor.

    soal subjektif itu sih masing2 saja. saya sudah kasih gambaran tentang overheadnya. jika biaya ekstra ini dianggap sebagai harga yang layak, ya silakan saja dibeli. tapi buat saya pribadi sih tidak, hehehe :)

    unsur waktu: membeli term dan unit link itu sama repotnya. membeli reksadana jaman sekarang tidak lebih rumit daripada transfer uang ke akun bank dan fax bukti pembayarannya.

    profil resiko: resiko investasi di unit link sama persis dengan resiko investasi di reksadana.

    tidak disiplin: pengalaman saya disiplin itu gak bisa dibeli. dulu saya pernah punya polis unit link, tapi karena nilai tunainya gak sebanding dengan yang saya setorkan, saya jadi gak semangat dan akhirnya lapse juga. beda waktu saya beli reksadana, perkembangannya bisa dimonitor dari waktu ke waktu. dan jumlah unit saya gak pernah dipotong. saya jadi semangat mau nabung karena reward-nya bisa langsung terasa.

  4. gak ikutan asuransi secara sengaja
    kecuali yg jd satu paket, spt asuransi yg jd satu ama SIM
    hihiihihi
    berasa de javu, kyk pernah baca artikel dgn tema ini di blognya andri gendut

  5. dari udah sering di tawarin ikut asuransi, tapi sampai sekarang belum niat untuk ikutan asuransi, masih ragu, soalnya masih kurang pemahamannya

  6. Persis seperti Mas Chen Hendrawan, saya juga udah terlanjur ikutan Unit Link, setelah bayar yang tahun pertama, saya menghubungi agen asuransi saya untuk menanyakan kemungkinan untuk menarik kembali uang saya, tetapi dia memberitahukan pada saya bahwa kalau dana di tarik sebelum tahun ke-lima, berarti dana saya tidak akan utuh diterima sesuai dengan yang saya setorkan. *gubrak*

    Payah deh ikutan beginian tapi gak ngerti-ngerti amat sih, jadinya begini deh, terjerumus hehe.

    Makasih buat artikelnya pak pri, btw ada rekomendasi kalau saya mau ikutan reksadana syariah dimana ya?

  7. #13:

    ada rekomendasi kalau saya mau ikutan reksadana syariah dimana ya?

    untuk reksadana syariah bisa coba PNM atau trimegah.

    #14:

    bahas soal yang syariah dong. Kan nanggung, mumpung di otak masih anget sekalian aja dibedah yang masih ada sambungannya.

    wah, nanti deh. lagian bahasannya beda banget kok :)

    #15:

    asuransi jenis apa sih yg sebenarnya diambil sama mas priyadi ini? atau, investasi apa yang dilakukan?

    sama seperti yang pernah saya tulis. asuransi ambil term life. investasi ke reksadana saham + emas.

  8. Makasih banget mas Pri, salut deh! Hehehe, akhirnya ada amunisi (+itungan2nya) buat menghadapi sales asuransi yg ngeyel “Lho pak ini kan sekalian investasi”, investasi tai kucing kali :d

  9. walaupun saya masih cukup bingung, uraian Mas Pri lebih mencerahkan saya. Terima kasih banyak. Wah, saya ingin belajar lebih banyak di sini

  10. Klo boleh tahu,

    Pak Priyadi milih asuransi term life & reksadana_nya apa ya??

    (sebutin brand-nya dong) :)

  11. #21:

    Walopun dibilang ngga rumit tapi kok makin kerasa rumit yah?

    di sini keliatan rumit karena saya berusaha seadil2nya untuk membandingkan dua produk asuransi yang berbeda. kalau nasabah casual gak perlu hitung serumit ini, dia hanya perlu menghitung berapa besar resiko yang perlu diserahkan ke asuransi.

    #23:

    Pak Priyadi milih asuransi term life & reksadana_nya apa ya??
    (sebutin brand-nya dong)

    term life: axa mandiri jiwa sejahtera
    reksadana: fortis, manulife, PNM (semuanya saham)

  12. :-? Kebetulan saya pakai unit link dan nggak begitu mempermasalahkan itung2an mereka pada saat menawarkan asuransinya. Ditilik ulasan mas pri ok juga buat masukkan terutama bagi mereka yang belum terjun kedunia asuransi, supaya berhati2 :-w . Yang dipilih suku bunganya, investasinya atau jaminan jangka panjangnya. Asal nggak pailit aja udah nyaman kok :d/

  13. Soal manipulasi angka Mas Priyadi emang mantap. Untuk sesaat saya hampir terkecoh, sayangnya mas Pri melakukan 1 kesalahan, yaitu perbedaan UP.

    Pada Unit Link, Mas Priyadi hanya memberikan UP 500 juta (meninggal) dan 250 juta (critical illness). Sedangkan pada Term Life, Mas Priyadi memberikan UP 588,7 juta (meninggal) dan 338,7 juta (ceritical illness).

    Saya akan coba menjelaskan dengan analogi yang sederhana :
    Beli Avanza VS Numpang Omprengan Avanza + Reksadana

    Dalam hitungan yang Mas Priyadi berikan, seolah mengatakan begini :
    – Naik mobil omprengan bisa dari BSD-Thamrin
    – Pakai Avanza hanya dari BSD-Slipi

    Perbandingan time value of money :
    – Dengan naik omprengan, uang yang seharusnya dipakai untuk beli Avanza bisa diinvestasikan dan hasilnya puluhan kali lipat untuk masa depan
    – Beli Avanza harus keluar duit banyak, belum dihitung biaya perawatan dan bahan bakar yang sekarang tidaklah murah

    Pertanyaan :
    Kenapa orang yang punya uang memilih beli Avanza daripada numpang omprengan ?

    Jika Mas Priyadi mampu menjawab pertanyaan tersebut, maka jawaban yang serupa juga pada nasabah yang memilih Unit Link.

  14. #28:

    Soal manipulasi angka Mas Priyadi emang mantap. Untuk sesaat saya hampir terkecoh, sayangnya mas Pri melakukan 1 kesalahan, yaitu perbedaan UP.

    Pada Unit Link, Mas Priyadi hanya memberikan UP 500 juta (meninggal) dan 250 juta (critical illness). Sedangkan pada Term Life, Mas Priyadi memberikan UP 588,7 juta (meninggal) dan 338,7 juta (ceritical illness).

    ini bukan manipulasi, dan sudah saya jelaskan secara sangat panjang lebar sekali baik pada posting di atas maupun pada ilustrasi. selisih UP antara term life dan unit link adalah untuk mengkompensasi manfaat rider payor yang ada pada unit link.

    sebelumnya anda bikin ilustrasi dengan menambahkan rider payor pada unit link, tetapi tidak menambahkan sesuatu apapun pada term life+reksadana.

    supaya perbandingan menjadi adil hanya ada dua pilihan:

    1. melepas rider payor dari unit link; atau
    2. menambahkan kompensasi yang setara dengan rider payor pada term life

    karena anda selalu menghindar kalau saya minta anda untuk menghapus rider payor pada ilustrasi anda, maka saya gunakan pilihan yang kedua.

    semoga menjadi jelas.

  15. #28
    Bung, emang dgn UP lebih gede, kita bayar premi term life ngga lebih gede? tapi ternyata, bayar untuk premi lebih gede dan yang anda bilang hangus itu pun kita masih lebih untung kok. hehehe

    UP yg lebih gede itu untuk menkompensasikan payor yg ngga ada di Unit link.

    klo mau UP nya sama coba anda buang semua rider nya, trus terserah anda mau bikin UP berapa dengan budget 9 juta. BERANI?????:d

  16. Sebelum Mas Priyadi dan Mbak bravo ber-alibi dan berkelit lebih jauh, tolong jawab ini dulu :

    Pertanyaan :
    “Kenapa orang yang punya uang memilih beli Avanza daripada numpang omprengan ?”

    Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.

  17. #31 Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.
    ——————————————–

    Coba brosing2 deh, hampir semua Independent Financial Planner menyarankan terpisah. Lagian kenapa banget anda kebakaran jenggot banget. Katanya bukan agen insurance ? :-D

  18. Priyadi berkata:
    reksadana (saya=priyadi): fortis, manulife, PNM (semuanya saham)

    Pertimbangannya apa, strateginya apa(buy and hold atau ga ?) ? knp ga satu MI aja ? dan beli dimana ?, Kalau perlu pa pri juga membahas reksadana hitung2anny…mencari return optimal dan loss minimal.

    saya dah hitung2 return pd saat ihsg jatuh2nya (16 agustus 2007) ke 11 oktober 2007 (cuma dua titik) (perubahan IHSG 38.2246 % pada periode yg sama) :

    dlm persentase :
    1.mega dana saham 49.00079274
    2.si dana saham syariah 47.02075054
    3.trim kapital 45.75906284
    4.pratama saham 45.33474134
    5.rd trim syariah saham 45.31790331
    6.bahana dana prima 44.23594317
    7.fortis infrastruktur plus 43.99122021
    8.phinisi dana saham 42.99958289
    9.nam investasi agresif 42.60989097
    10.si dana saham optimal 42.4015608
    11.maestrodinamis 42.38728768
    12.dana ekuitas prima 42.24559527
    13.fortis ekuitas 41.50710746
    dana ekuitas andalan 41.20794921
    aaa top gainer equity fund 41.11364111
    si dana saham 41.02081363
    rencana cerdas 40.8815795
    manulife dana saham 39.88373837
    platinum saham 39.1183377
    first state indoequity sectoral fund 39.04460792
    abn amro indonesia equity value fund 38.77192531
    pnm ekuitas syariah 38.61453579
    danareksa mawar 38.23294909
    schroder dana prestasi plus 38.11408999
    danareksa mawar agresif 38.07623737
    bni berkembang 37.8832875
    mahanusa dana ekuitas 37.72188158
    gmt dana ekuitas 35.76104746
    grow-2-prosper 34.80660355
    fs indoequity dividend yield fund 34.74113732
    lautandhana equity 34.23272889
    rd makinta mantap 33.23386639
    euro peregrine equity 32.87327619
    optima saham 32.62354491
    syariah fortis pesona amanah 31.98313507
    paramitra premium 30.70543468
    dana sentosa 30.65718203
    capital equity fund 29.12752119
    panin dana maksima 26.33002846
    big nusantara 24.02206312
    reliance equity fund 23.59348121
    rd saham bumn 23.27077748
    nikko saham nusantara 21.41059028
    big palapa 21.31201289

    Sedang CIMB syariah saham, belum masuk hitungan,,.. tp dalam sebulan (10/09/07 ke 11/10/07) dah return 29 % dia

  19. # 31

    Analogi anda lucu sekali dan walaupun ngga relevan, akan saya jawab. menjawab ini saya suka sekali hehehe :-)

    Ngga semua orang beli avanza walaupun org itu punya uang banyak.

    Mau contoh?

    hihihi, saya sendiri ngga punya mobil, walaupun untuk beli mobil uang saya jauh lebih dari cukup walaupun untuk beli BMW sekalipun apalagi cuma avanza. :p

    Mau tau kenapa?

    Alasan 1. jakarta macet, bensin mahal, parkir mahal.
    dengan naik angkot (sekali2 naik taxi) kalo macet buat saya jauh lebih fleksibel naik angkot krn saya bisa turun dulu dan jalan sambil berolahraga baru naik angkot lagi klo udah ngga ketemu lancar.

    Alasan 2. Saya blom merasa butuh mobil. ngapain pula saya beli pada saat blom butuh. Mendingan uang saya puter di bursa saham dan reksadana. Dengan modal uang setara 1 mobil dalam sethn dapet 2 mobil, kan jauh lebih menarik? kalo saya beli mobil maka modal saya habis cuma demi yang nama nya GENGSI (karena saya ngga butuh)

    Inti nya ngga semua org BELI MOBIL walaupun MEREKA SANGGUP UNTUK ITU. saya buktinya JAUH LEBIH SUKA NAIK ANGKOT DARI PADA BELI AVANZA’

    Btw, udah baca the millionaire next door? buku bagus yg mengungkapkan survey tentang kebiasaan org2 kaya di amerika hehehe.

  20. #33
    Kalo saya pake metode nabung rutin perbulan, trus masuk market pas lagi crash (seperti minggu2 ini rasanya akan big correction). trus hold minimal 10 thn.

    Semoga membantu

  21. #31: untuk om firesquid, silakan saja kalau mau buat ilustrasi tandingan. terserah mau UP berapa. syaratnya cuma satu. anda harus memperhitungkan skenario sepanjang periode seperti yang saya lakukan. bukan hanya memperhitungkan satu skenario saja seperti yang sudah2.

  22. #33:

    Pertimbangannya apa, strateginya apa(buy and hold atau ga ?) ? knp ga satu MI aja ? dan beli dimana ?, Kalau perlu pa pri juga membahas reksadana hitung2anny…mencari return optimal dan loss minimal.

    strategi buy and hold, top up tiap bulan. ambil manulife karena tidak ada load fee dan dulu belinya paling mudah (daftar langsung ke cikini). ambil fortis karena performance lebih tinggi dan management fee lebih rendah, dan bisa beli lewat internet banking commonwealth. beli pnm karena saya dapat deal potongan load fee.

  23. #38
    Pembahasan udah ngga relevan lagi deh kayanya. Kok jadi nyerang pribadi?

    Kalo ngga setuju dgn pendapat pak priyadi, counter pake logika dong…

    atau jgn baca sekalian kalo ngerasa terganggu.

  24. Mas Priyadi, ini benar2 cara cerdik u/ membuat perbandingan. Setelah liat excel-nya, kuncinya ada koreksi premi & manfaat meninggal. Excellent job.

    Ternyata Unit Link rata2 20% lebih tinggi dari manfaat meninggal Terpisah. Saya hitung lagi, walaupun dengan biaya pengelolaan & penarik RD 1%, Terpisah masih lebih tinggi rata2 16% dr Unit Link.

    20% dan 16% ini adalah “premium” Unit Link yg dicomot dr manfaat Terpisah. Namanya juga bisnis, pasti ada untungnya.

  25. hihihi, saya sendiri ngga punya mobil, walaupun untuk beli mobil uang saya jauh lebih dari cukup walaupun untuk beli BMW sekalipun apalagi cuma avanza

    Boleh saja. Ini kan pertimbangan Anda yang NGA PUNYA MOBIL dan NGA MAU BELI MOBIL.
    Bagaimana dengan pertimbangan orang yang PUNYA MOBIL?

    Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.

    Sama seperti pertimbangan orang yang memilih beli mobil sendiri daripada naik omprengan. Kalau mas Pri menganjurkan naik omprengan seumur hidup yah boleh saja, tapi tidak semua pertimbangannya demikian.

    Ada hal lain yang tidak bisa dinilai dengan uang. Dan di tulisan blog lainnya Mas Priyadi pernah mengatakan mahalnya komisi agen, itu juga pendapat Mas Priyadi pribadi.

    Saya sudah menghitung komisi agen cuma 15% dari total premi yang disetorkan. Tapi karena Mas Priyadi tidak ngerti ttg Unit Link, menuliskan 205%.

  26. #42
    Boleh saja. Ini kan pertimbangan Anda yang NGA PUNYA MOBIL dan NGA MAU BELI MOBIL.
    Bagaimana dengan pertimbangan orang yang PUNYA MOBIL?____________________________________________________

    Ngapain juga pake analogi MOBIL.

    jelas2 beli mobil beda dgn beli asuransi.Jangan2 anda sendiri ngga tau bedanya? jadi ragu nih……sebenernya anda beli asuransi buat apa sih? biar CEPET KAYA? hehehe………BIAR HIDUP NYAMAN……?

    karena anda suka sekali analogi AVANZA, sekarang saya balik deh. klo di dealer A jual AVANZA + aksesoris X harganya 150 juta., trus dealer B jual AVANZA dgn harga 80 juta dan dibengkel B juga dijual aksesoris X seharga 20 jt. Anda pilih yang mana?

    dari tulisan anda seolah2 SEMUA ORANG punya uang harus beli AVANZA daripada NAIK OMPRENGAN.
    Seolah2 semua org yg punya duit HARUS punya asuransi dan asuransi tsb berlabel UNIT LINK.

    hehehe, kebutuhan setiap org beda mas, baik itu terhadap brg konsumsi(mobil), investasi maupun asuransi.

    Dan ingat kita semua adalah NASABAH yg mencari deal terbaik, kita bukan agen asuransi atau sales reksadana atau apapun yg punya kepentingan terhadap produk yg dijual.CUMA NASABAH BIASA yg menurut kita beli terpisah jauh lebih menguntungkan buat arus kas kita. kalo anda ngga berkepentingan untuk JUALAN UNIT LINK, kenapa pula anda begitu sewot dan ngototnya?

  27. #42:

    Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.

    anda yakin? karena menurut pengalaman saya dan rekan2, orang ikut unit link terutama karena tidak tahu kalau mereka punya alternatif untuk beli sendiri. agen unit link ‘lupa’ untuk memberi tahu kalau layanan yang mereka berikan hanyalah layanan nilai tambah yang tidak perlu dibeli jika nasabah tidak memerlukan atau menginginkannya.

    silakan saja nasabah ambil unit link selama dia merasa ‘nilai tambah’ yang diberikan agen sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

    Saya sudah menghitung komisi agen cuma 15% dari total premi yang disetorkan. Tapi karena Mas Priyadi tidak ngerti ttg Unit Link, menuliskan 205%.

    total biaya akuisisi unit link P** adalah 205% dari setoran premi tahunan. sedangkan ada mungkin menghitung dari total bayaran premi setelah 10 atau 20 tahunan.

    sebagai tambahan, saya sudah hitung potensi kehilangan pendapatan jika biaya akuisisi dikenakan dengan struktur 100% 60% 15% 15% 15% untuk 5 tahun pertama vs 15% untuk selamanya, detailnya bisa dilihat di: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/biaya-akuisisi.xls. tetap jauh lebih rugi jika biaya akuisisi dikenakan di awal2 tahun pembayaran premi.

  28. Masukan dari Fin. Planner yang aku kenal (sering ngisi acara di Hardrock FM):
    Buat yang terlanjur beli unit link, JUAL sekarang!! daripada rugi lebih jauh :d

  29. by Firesquid
    Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.
    ——————————————————

    Bro aku kira kenapa kok orang banyak pilih unitlink bukan hanya karena nyaman dan praktisnya lho… dari 5 orang temen yg ikut semua pada ngak ngerti tentang reksadana… dan tidak ada pilihan selain unitlink dg nabung 300 rb bisa buat investasi. jadi menganggap unitling adalah bentuk investasi yg lebih baik dari deposito.. (karena tolak ukurnya hanya bunga bank dan deposito). Jadi bisa kita katakan hampir 99,9% dari 5 temen yang memilih unitlink karena Tidak mengerti dan tahu bener tentang unitlink ama RD ini.

    kalo mau bicara praktis Reksadana =
    1. di bank commanwealth setor minim 2Jt bisa beli banyak macam RD….. kayak dari Fortis, manulife, schoder… (ini pemegang dana terbesar RD di indonesia)
    2. bisa beli lewat internet banking dan jual tinggal fax di transfer deh uang kita ke rekening kita.. ( kalo mau jual beli RD yg online di HSBC tapi minimal 50Jt) jg banyak pegawai yg ngak sangup rasanya.
    3. DI bank Mandiri juga lagi dibuka RD dg minimal setor 1jt dan pembelian selanjutanya (top up) minim dari 100rb, 250rb, 500rb.

  30. #45
    Sama, dari buku2 ttg perencana keuangan yg banyak saya baca (terbitan luar maupun dalam) juga menganjurkan beli asuransi berjangka(TERM)

  31. #42 Om Firesquid

    Saya sudah menghitung komisi agen cuma 15% dari total premi yang disetorkan. Tapi karena Mas Priyadi tidak ngerti ttg Unit Link, menuliskan 205%.

    Kayaknya perlu baca buku ekonomi teknik lagi :p

    Sebelum Mas Priyadi dan Mbak bravo ber-alibi dan berkelit lebih jauh, tolong jawab ini dulu :

    Pertanyaan :
    “Kenapa orang yang punya uang memilih beli Avanza daripada numpang omprengan ?”

    Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.

    Analogi anda kayaknya NGAWUR. Walaupun Mbak Bravo dah menjawab, kayaknya anda tidak akan puas. Lah NGAWUR. Anda tidak menggunakan logika dengan baik dan benar.


    Coba jawab pertanyaan saya: “Atas dasar apa anda meng-analogikan UL vs BTAID dengan AVANZA vs OMPRENGAN?”

    Lagian Unit Link anda cuma 500rb/bln (dari cerita anda sendiri). Tanya kenapa?

    Kalau anda yakin dengan kelebihan Unit Link, masukkan saja semuanya ke Unit Link. Toh ada Reksadana juga di dalamnya (bisa dipilih).


    Repot mana: Beli Unit Link + Instrumen Investasi dengan Term Life + Instrumen Investasi???

    Saya pribadi membeli mobil untuk GENGSI (makan tuh gengsi) :d Saya beli Accord yang CC-nya besar padahal cuma dipake sendiri. Sebenernya Jazz atau Estillo lebih murah dan irit. Motor malah lebih enak :) (kadang saya masih suka bawa motor juga sih). Untuk keluarga saya pilih Innova. Klo untuk Off Road, Wrangler. Ini gak bisa dianalogikan dengan Unit Link atau BTAID. Enak saja.

    Tapi membeli Unit Link dan BTAID kan gak ada hubungannya dengan gengsi (atau ada ya?). Saya memiliki planning (misalnya):
    1. Punya anuitas 20jt/bln setelah umur 55 thn (dengan inflasi 5%, 20jt pada 25 thn lagi ~ 6jt saat ini).
    2. Punya uang sejumlah tertentu saat anak masuk SD, SMP, SMU, dan PT (kalau bisa lebih tinggi dari biaya sekolah saat itu, minimal sama lah).
    3. DLL

    Nah planning di atas lebih mudah dengan UL atau BTAID??? Itu saja yang penting. Polis Asuransi tidak akan saya pajang di ruang tamu atau dimanapun. Paling saya taruh di SBD (Safe Box Deposit).

    Gak mau ribet itu kan senjatanya agen asuransi. Yang punya duit mau aja tuh ribet sedikit. Temen yang jadi supplier buah dan sayur ke supermarket mau aja tuh ribet2 nyari cargo yang murah, nyari packing yang murah, dll. Karena setiap margin yang didapat sama dengan profit. Gak karena mau praktis dia minta 1 agen untuk mengurus semuanya. Kalaupun dia mambayar orang untuk mengerjakan semua, pasti dipilih yang paling cost effective (ngerti gak?) Dan UL buat saya tidak Cost Effective.

    Orang yang ngerti Reksadana tidak akan tertarik dengan UL. Percaya deh.

    Dulu menyamakan TAXI dengan BAJAJ. Sekarang AVANZA SENDIRI dengan AVANZA OMPRENGAN. Gak bisa dong. Logikanya kemana???

  32. Boleh saja. Ini kan pertimbangan Anda yang NGA PUNYA MOBIL dan NGA MAU BELI MOBIL.
    Bagaimana dengan pertimbangan orang yang PUNYA MOBIL?

    Saya punya mobil Mas. Tapi pertimbangan membeli mobil atau naik omprengan jauh panggang dari api dengan pertimbangan membeli UL vs BTAID.

    Kenapa harus pake analogi segala?

    Analogi Mbak Bravo masih lebih logis (tapi mending gak usah analogi-analogian, bandingin aja langsung) :d

    karena anda suka sekali analogi AVANZA, sekarang saya balik deh. klo di dealer A jual AVANZA + aksesoris X harganya 150 juta., trus dealer B jual AVANZA dgn harga 80 juta dan dibengkel B juga dijual aksesoris X seharga 20 jt. Anda pilih yang mana?

    Analogi di atas lebih pas.

    Nih gambarannya:
    1. PT XXX menjual Term Life dan Unit Link. Unit Link dia porsi investasinya diserahkan ke Schroeders.

    2. Tunas Motor menjual Avanza Standard dan Avanza Full Accessories. Accessoriesnya dikerjakan di Salon Mandiri.

    Seharusnya dengan membeli 1 paket harga bisa lebih murah, tapi ternyata tidak….Harga Avanza Standard 105jt, aksesoris+pemasangan 20jt. Harga Avanza plus aksesoris 150jt. Ya seperti Mbak Bravo, saya pilih bawa sendiri Avanza Standard saya ke Salon Mandiri. Hemat 25jt. Hasil akhirnya sama saja.

    Orang yang membeli Avanza Full Aksesories dari Tunas Motor kebanyakan tidak tahu bahwa mereka bisa membeli Avanza Standard dan membawanya ke Salon Mandiri dengan harga jauh lebih ekonomis.

    Agen asuransi cuma menunjukkan kelebihan Avanza Full Aksesoris dan mengatakan ke nasabah bahwa beda harga Avanza Standard dan Avanza FA yang 45jt adalah wajar. Sering saya dengar agen unit link membandingkan unit link dengan asuransi biasa (term life). Sangat tidak fair.

    Yang mau ambil Unit Link saja jadi mundur waktu saya sampaikan tabel perbandingan UL vs BTAID. Kalau semua orang (calon nasabah) tahu fakta seputar UL vs BTAID, kita bisa lihat berapa banyak yang masih mau membeli UL dengan kondisi seperti saat ini. Lain cerita kalau ternyata beda UL vs BTAID cuma di biaya administrasi 50rb/bln. Mungkin masih menarik.

    Teman saya ada yang tergoda membuka Tabungan M** R** dari Bank M** karena diiming2i hadiah motor dan gratis asuransi. Begitu saya cek Term & Conditionnya dan di FV, ternyata motor dan asuransinya itu tidak benar2 gratis :) Nice try… That money must come from somewhere…

  33. #42
    Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.

    Are you sure??? :-?

    Kenyamanan dan Praktis. Suatu yang sangat subyektif dan kualitatif. Agak sulit meng-kuantifikasi-nya.

    Jika saya punya Unit Link di XXX dan Reksadana di Schroeders, kira2 mana yang lebih MUDAH dan MURAH dicairkan??? Reksadana di Schroeders atau porsi investasinya Unit Link???

    Bukannya lebih ribet ya di Unit Link??? Lebih mudah nyairin JAMSOSTEK kaleee :d

    Ada kasus seperti ini:
    Ada orang yang mau jual murah rumahnya (jual butuh 200jt saja). Harga rumah itu normalnya 350jt. Kalo kita punya reksadana tinggal cairkan dan beli rumah itu. Kita bisa jual 300jt. Masukkan lagi ke reksadana. Kalo Unit Link??? Bisa saja…Tapi….??? Kalo nilai investasinya saat itu pas cuma 200jt???

    Praktis heh…???

  34. Tadinya mo bilang,

    Kayaknya seh unit link itu buat orang-orang yang dah males ngurusi duitnya…

    Misal unit link paling cuma lost 10jt/month dengan income 1M dan investasi lain 5M rada malas dia mungkin untuk mengurusi tetek bengek asuransi….

    But then again, gue bukan orang kaya jadi gak bisa bilang begitu…hehehe…

    Ilustrasi mas rachmat 2 terakhir ini menarik….Especially tentang pencairan Unit Link…

    Tapi bener seh, kalo diimingi sesuatu yang gratis kudu mikir dua kali….Ini gratisnya dateng darimana?….

    Gratis dari duit kantong ndiri tanpa discount, gratis karena discount, ato gratis dari duit orang lain (undian)…keh keh keh…

  35. DON’T EVER BUY anything else other than TERM LIFE.

    WHOLE LIFE or any INVESTMENT LINKED LIFE INSURANCE is very front-end load heavy. Plus, they are never going to reveal the truth about what’s going on inside their investment house.

    Learn about INVESTMENT from Malkiel. Do-It-Yourself. Buy no-front-load index fund. Or if you have a lot of money to invest, learn from Warren Buffet. Invest in businesses.

    PS: Think like a Jew: “Don’t trust anyone to handle your money”. Take the responsibility to yourself only.

  36. Coba brosing2 deh, hampir semua Independent Financial Planner menyarankan terpisah. Lagian kenapa banget anda kebakaran jenggot banget. Katanya bukan agen insurance ? :-D

    Lah kan Firesquid pernah bilang kalo dia adalah ‘calon agen‘. Ya kalo belum jadi agen sudah ada penghalang seperti ini ya jadi lebih berat kerjanya kan?

    Coba kalo postingan Priyadi pro Unit Link. Kan minimal opini yang terbentuk lebih mendukung.

  37. Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2007. Semoga Gerakan Sadar Asuransi tidak berhenti semata-mata pada tujuan memaksimalkan keuntungan bagi penjual produk asuransi, tetapi juga memberikan manfaat yang sepadan bagi nasabah asuransi.

    Amin.

    Ngurus asuransi akan jadi seperti ngurus tabungan / deposito di bank jika kita memang sudah ‘melek asuransi

    Untuk mobil bisa ambil TLO atau AR. Untuk rumah ada kebakaran, kebanjiran, kebongkaran (kemalingan), dll. Untuk diri dan keluarga bs Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, dll sesuai Kebutuhan, bukan gengsi kayak pas beli mobil.

    Untuk investasi, banyak macam dan ragamnya. Reksadana Saham bisa jadi yang paling menarik saat ini. Saya kenal pensiunan VP perusahaan minyak yang saat ini aktif sharing’Berternak Uang di Pasar Saham‘.

    Bisa juga invest di properti (tanah, rumah, ruko, dll). Atau emas (perhiasan/koin). Atau Forex.

    Gak menutup kemungkinan juga invest langsung ke Saham (bukan reksadana saham lagi).

    Atau di-deposito-kan saja per bulan ARO. Kalo perlu tinggal dicairkan saja.

    Nah…Kalo sudah ‘cukup besar‘ investasinya, kita bisa menikmati passive income.

    Misalnya kita punya dana 1M dan dimasukkan ke RDS dengan kinerja rata2 5%/bln. Return yang didapat 50jt. Kita bisa sisihkan (misalnya) 10jt untuk income kita. Sisanya akan menambah capital kita di RDS. Kalo return-nya kecil atau malah negatif (-)? Ya resiko lah. High Risk High Return.

    Mau yang resikonya minimal ya ambil RD Fix Income. Dengan rata 12%/thn maka didapat 1%/bln. Tinggal dialokasikan saja berapa yang untuk nambah modal dan berapa untuk passive income.

    Bisa juga digabungkan keduanya. Misalnya 50% RDS dan returnya ditambahkan ke modal, 50% RDFI dengan returnnya untuk passive income.

    Atau dicampur sari dengan Emas, Property, dll. Misalnya 25% beli emas, 25% beli property, dan 50% sisanya RDS.

  38. Mas Rachmat benar..
    Idiom “yang kaya makin kaya, yang miskin …” sangat relevan.
    Itu jg yang menyebabkan saya saat ini mengencangkan ikat pinggang satu lobang lebih ketat dari normal. Menunda kesenangan sesaat, untuk mencapai kemapanan finansial buat saya berikut istri dan anak2 di masa depan, ikut asuransi term life dan invest sedikit recehan yang tersisa di reksadana.
    Mudah2an prinsip sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit bisa terwujud.
    Amin..

  39. Saya pribadi membeli mobil untuk GENGSI (makan tuh gengsi)

    Itu menurut Anda. Kalau saya masih belum sanggup gengsi-gengsian. Saat ini memang saya belum mampu beli mobil, Avanza yang saya punya masih pinjaman dari kantor. Saya berpendapat mobil digunakan untuk sarana transportasi. Tapi yang saya tau bawa mobil sendiri lebih nyaman daripada bayar omprengan tiap hari.

    Saya baru baca di forum tetangga. Ada yang memberikan analogi yg bagus untuk Unit Link vs Term Life + Reksadana, analogi-nya sbb :
    Unit Link = beli rumah
    Term Life + Reksadana = ngontrak rumah + reksadana

    Semua orang tau kok apa manfaat dari sebuah rumah. Baik sewa rumah ataupun beli rumah, manfaatnya sama saja. Sebagai tempat tinggal, melindungi penghuninya dari panas dan hujan.

    Rata-rata orang pasti ngerti kenapa orang yang punya anggaran rela membayar cicilan tahunan yang mahal untuk dapatkan sebuah rumah daripada ngontrak rumah seumur hidup.

    Saya memilih Unit Link juga karena prinsip yang sama. Saya memang bayar cicilan yang mahal. Tapi setelah 10 tahun saya tidak perlu setor lagi, dan saya tetap memiliki proteksi sampai tua.

    Tapi hal ini kembali lagi ke masing-masing orang.
    Saya baru ingat, waktu lebaran kemarin ketemu 1 teman lama yang perhitungan bgt soal uang, dan memilih ngontrak rumah seumur hidup. Padahal dia punya duit yang lebih dari cukup kalau mau beli 1 rumah di Jakarta. Katanya duit yang buat bayar cicilan rumah lebih baik diputar sendiri, dan lebih enak pindah-pindah tempat tinggal.

    Mas Priyadi, Mas Rahmat, dan Mbak Bravo mungkin tipe orang yang sama seperti teman saya itu. Memang ada benarnya juga sih pemikiran spt itu.

  40. Kalau saya pribadi.

    mau masuk asuransi yang manfaatnya pasti di akhir asuransi (Habis Kontrak)

    saya nggak mau, seperti teman2 yang terbuai dengan kata-kata “ASUMSI HASIL INVESTASI” yang begitu menggoda …

    :o:-?

  41. #58
    Itu jg yang menyebabkan saya saat ini mengencangkan ikat pinggang satu lobang lebih ketat dari normal. Menunda kesenangan sesaat, untuk mencapai kemapanan finansial buat saya berikut istri dan anak2 di masa depan, ikut asuransi term life dan invest sedikit recehan yang tersisa di reksadana.
    Mudah2an prinsip sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit bisa terwujud.
    Amin..
    ——————————————-

    =d> Idem….,makanya sampe sekarang saya masih naik OMPRENGAN demi punya masa depan financial yang OK

  42. #59
    Rata-rata orang pasti ngerti kenapa orang yang punya anggaran rela membayar cicilan tahunan yang mahal untuk dapatkan sebuah rumah daripada ngontrak rumah seumur hidup.
    _______________________________

    masalah ngontrak rumah seumur hidup, siapa bilang?
    pertama saya ngontrak, sisa uang cicilan saya investasikan dan kalo uang saya udah cukup saya beli rumah dong.Ini membuat uang saya bekerja dan beli rumah kita.

    beli asuransi seumur hidup? OGAH AH…. ehe ehehe
    pertama saya beli termlife dulu (ngontrak rumah), sisa saya nyicil untuk investasi, trus kalo uang saya udah banyak saya SELF INSURANCE (beli rumah sendiri)hihihi

    Beli UNIT LINK? OGAH…. karena walaupun keliatannya punya rumah sendiri tapi tetap bayar CICILAN SEUMUR HIDUP yang diambil dari NILAI RUMAH. Lama kelamaan nilai rumah (aset investasi)saya malah turun karena digrogoti rayap (premi asuransi)yang semakin saya tua semakin gede.

  43. #59
    Saya memilih Unit Link juga karena prinsip yang sama. Saya memang bayar cicilan yang mahal. Tapi setelah 10 tahun saya tidak perlu setor lagi, dan saya tetap memiliki proteksi sampai tua.
    ________________________________

    10 tahun ngga perlu bayar lagi? anda yakin? hihihi
    belajar dulu deh polis unit link anda. cape dehhhh…..

  44. Benernya saya nunggu ilustrasi si firesquid nih.
    setahu saya ilustrasi insurance itu basicnya cuman 4.

    – Nasabah idup sampe usia 99
    – Nasabah kena criticall illness (akhirnya hidup atau mati)
    – Nasabah kena cacat tetap
    – Nasabah mati dengan sukses tanpa nunggu usia 99

    Sebenarnya mau dimodel bagaimana sudah ada bempernya.

    Perhitungannya simple banget. Kalo teori mas pri, anuitas direplikasikan kepada up termlife yang ditambah hasil hitungan present value of an annuity. Kalo kata orang asuransi namanya nilai ekonomis seseorang.
    Sementara yang CI dan ADB sudah juga bisa direplikasikan di termlife.

    Saya ini jadi ikut bingung. Sulitnya dimana, sehingga tidak bisa dimengerti dengan jelas.

    Atau mungkin mas pri kudu menjelaskan seperti Safir Senduk. Setahu saya apa yang dia katakan sudah ada didalam otak kita selama ini. Dia hanya “nyentil” alam bawah sadar kita, dan Safir Senduk menjelaskannya dengan sangat simple. Sehingga seorang ibu2 pun tahu apa yang dimaksud perencanaan keuangan.

    Bagaimana ? Setuju ibu2? :-D

  45. Sebenarnya, orang ngambil UL, atau term life + reksadana itu khan tergantung dari kebutuhan masing-masing. Walaupun ada yg bilang UL nggak menguntungkan (dibandinkan dengan Term life + RD terpisah), bukan hak seseorang untuk memvonis bahwa UL harus dijual, atau menyarankan nggak usah beli UL.
    Saya sendiri punya UL, dan saya merasa fine-2 saja dg UL saya. Saya juga invest di property, kebun sawit + karet, dan juga saham (walaupun persentasenya sedikit), saya cuma mencoba untuk mendiversifikasi portofolio investasi saya. Kebetulan kami sekeluarga hidup dan tinggal di negeri orang, jadi bisa juga invest di forex, karena gaji yg saya terima dalam mata uang asing (yg fundamentalnya sangat kuat). Saya pilih UL karena merasa nyaman dan praktis, dan saya bisa konsentrasi penuh ke pekerjaan dan keluarga. Buat apa menghitung-2 uang hasil investasi kalau hal itu membuat pikiran dan hati kita nggak nyaman, terus dihantui oleh pergerakan saham, RD, dll. Jadi malah nggak berkah dech hidup kita.
    So, saran saya. Nikmati saja hidup ini, yg penting rejeki kita barokah. barokah nggak ada korelasinya dengan kuantitas uang yg kita dapat (dari hasil investasi UL maupun term life + RD.
    Saya bukan orang kaya, tetapi “merasa kaya” dengan apa yg saya miliki dan lakukan. Termasuk ikut UL yg kata orang “nggak menguntungkan”, yg penting saya masih bisa bayar zakat, kasih sedekah ke orang yg nggak mampu, menyantuni anak yatim, itu yg bisa bikin rejeki saya lancar. Bukan dari UL , RD, atau apalah…..
    So, mari berpikir jernih dan gunakan hati nurani. Baik bagi Mas Pri blum tentu baik bagi orang lain, begitu juga sebaliknya.

  46. O ya, saya lihat, perdebatan di blog nya Mas Pri ini cukup seru. Bahkan cenderung sudah “debat kusir” (CMIIW). Menurutku, nggak ada gunanya perdebatan ini dilanjutkan. Masing-2 kita punya preference dan argument yg beda-beda. Mari saling hargai atas apa yg dipilih oleh orang lain. BUkan hak kita untuk men”judge” bahwa suatu produk A lebih bagus dari produk B. Saya khawatir, walaupun perdebatan ini terjadi di ruang maya, akan lebih banyak membikin suasana nggak nyaman. So, mari saling hargai pilihan kita satu sama lain.

  47. #67:

    Saya sendiri punya UL, dan saya merasa fine-2 saja dg UL saya. Saya pilih UL karena merasa nyaman dan praktis, dan saya bisa konsentrasi penuh ke pekerjaan dan keluarga. Buat apa menghitung-2 uang hasil investasi kalau hal itu membuat pikiran dan hati kita nggak nyaman, terus dihantui oleh pergerakan saham, RD, dll. Jadi malah nggak berkah dech hidup kita.

    no problem. it’s your own money and your own decision.

    #68:

    BUkan hak kita untuk men”judge” bahwa suatu produk A lebih bagus dari produk B.

    kenapa? kalau saya bilang avanza lebih bagus daripada xenia boleh2 aja toh? kenapa untuk asuransi gak boleh?

  48. Pak pri, saya sudah melakukan pemisahan asuransi term life dan reksadana, tetapi masih belum menemukan asuransi khusus penyakit kritis (di UL biasanya sebagai rider) murni ? ada saran perusahaan asuransi apa yang jual asuransi penyakit kritis murni?
    Terima Kasih

  49. Ulasannya bagus sekali Pak. Memberikan pencerahan buat saya. Saya sebenarnya sudah bersiap-siap ikut salah satu asuransi. Setelah membaca ini, saya berpikir ulang. :)
    Saya selalu mengikuti tulisan Bapak. Cuma komennya baru di tulisan ini.
    Salam kenal,

    Didi

  50. Saya sangat sepakat dengan Pak Sastro, kita boleh berpendapat apa yang kita pikirkan dan pilih itu sudah benar, tapi belum tentu yang paling benar. UL maupun terpisah sebenernya sama2 punya tujuan yang baik kok, walau mungkin mereka tampil dengan busana yang berbeda karena objek yang mereka tuju juga “sebenarnya” berbeda. Mungkin bagi mereka yang menjadi objek yang dituju oleh UL, investasi terpisah kurang baik, dan tentunya juga sebaliknya. Ini hanya sebuah pilihan dan sudut pandang kita dalam melihat suatu produk.

    Awalnya saya kira diskusi di blog ini lebih kearah pertukaran pendapat agar kita dapat saling mencerahkan, tapi anehnya semakin kebawah kok malah jadi seperti debat antara agen asuransi dan UL ya?

    Sekali lagi, semua ini pilihan, ada yang merasa nyaman dengan UL ya silahkan, atau ada yang merasa nyaman dengan terpisah ya silahkan.

    :):d

  51. #70:

    Pak pri, saya sudah melakukan pemisahan asuransi term life dan reksadana, tetapi masih belum menemukan asuransi khusus penyakit kritis (di UL biasanya sebagai rider) murni ? ada saran perusahaan asuransi apa yang jual asuransi penyakit kritis murni? Terima Kasih

    saya juga belum menemukan CI yang murni. tapi banyak yang nempel sebagai rider di term life. contohnya: manulife proactive plus, allianz smartlife, commonwealth life danatra siaga, takaful falah.

  52. #72:

    kita boleh berpendapat apa yang kita pikirkan dan pilih itu sudah benar, tapi belum tentu yang paling benar. UL maupun terpisah sebenernya sama2 punya tujuan yang baik kok

    saya gak bilang UL jelek atau apa. saya cuma menghitung2 harga yang harus dibayar konsumen kalau dia mengambil UL. kalau nasabah merasa layanan yang diberikan UL sepadan dengan harganya, ya kenapa juga harus dihalang2i?

    masalahnya cuma satu: kebanyakan nasabah tidak tahu berapa harga yang harus dibayar sebelum membelinya. dengan kembali menggunakan analogi mobil, di sini saya cuma bilang “avanza harganya Rp 150 juta” kepada orang yang belum mengetahui harga avanza. jika pembeli merasa Rp 150 juta itu sepadan dengan barang yang dia beli, ya silakan saja dibeli :)

    tapi anehnya semakin kebawah kok malah jadi seperti debat antara agen asuransi dan UL ya?

    lebih tepatnya, debat antara nasabah asuransi vs agen UL :)

  53. #72 Awalnya saya kira diskusi di blog ini lebih kearah pertukaran pendapat agar kita dapat saling mencerahkan, tapi anehnya semakin kebawah kok malah jadi seperti debat antara agen asuransi dan UL ya?
    ————————————–

    Unitlink itu sebuah produk turunan dari asuransi. Agen unitlink juga agen asuransi kok.

    ————————————–
    #73 saya juga belum menemukan CI yang murni. tapi banyak yang nempel sebagai rider di term life. contohnya: manulife proactive plus, allianz smartlife, commonwealth life danatra siaga, takaful falah.
    ————————————–

    Yang takaful falah kayaknya asik tuh, termlife dengan nilai tunai. Diasuransi tradisional kayaknya gak ada termlife yang mempunyai nilai tunai. Hanya saja saya juga belum sempat tanya langsung ke agen yang bersangkutan.

    Kalo ada agen takaful, mungkin bisa “sharing” disini. Biar tambah pinter semua.

  54. Semakin saya berpikir, sebenarnya yang dilakukan oleh Mas Priyadi sama seperti yang dilakukan oleh perusahaan Unit Link.

    Misalnya saya pembaca blog Mas Priyadi. Karena tertarik dengan ulasan Mas Priyadi, maka saya minta saran dari Mas Priyadi. Menurut Mas Priyadi, uang saya dialokasikan di asuransi ABC dan reksadana XYZ.

    Lama kelamaan, makin banyak orang yang minta saran, dan Mas Priyadi merasa ini sebuah peluang bisnis. Maka Mas Priyadi memasang tarif untuk berkonsultasi. Lama kelamaan, bisnis jasa Mas Priyadi semakin besar. Sehingga tidak mampu lagi dia handle sendiri. Akhirnya Mas Priyadi merekrut orang dan mendidik untuk membantu operasional.

    Dan untuk membayar pegawai, tentu Mas Priyadi mengenakan tarif jasa yang lebih mahal kepada klien dia, dibandingkan ketika dia sendiri yang menjadi konsultan. Sebab perhitungannya adalah tarif tsb untuk operasional perusahaan dan gaji pegawai.

    Karena Mas Priyadi sudah berpengalaman dalam jasa konsultasi, akhirnya Mas Priyadi bekerja sama dengan Asuransi ABC dan Reksadana XYZ untuk mengelola dana nasabah.

    Dan untuk perkembangan lebih lanjut, Mas Priyadi mengeluarkan satu paket produk yang mencakup asuransi + investasi + jasa perusahaan. Dinamakanlah Unit Link Priyadi.

    Ini cuma sekedar ide yang kepikir setelah kenyang makan siang aja sih. Bisa saja loh suatu saat Mas Priyadi mengembangkan bisnis seperti itu :D

  55. Harus kita akui bahwa seorang agen ingin fee yang besar, namun harus Transfaran dalam menjelaskan kecalon nasabah jagan premi yang mereka setor habis semua… harus amanah

  56. Saat bisnis Mas Priyadi sudah seperti itu, kira-kira apakah Mas Priyadi masih berkomentar biaya akuisisi tidak pantas?

  57. #77
    Komentar anda semakin tendensius dan cenderung menyerang pribadi seseorang.
    Mas Pri menyebut produk karena diminta dan pilihan tetap terserah ke orang yang nanya, bukan suatu bentuk rekomendasi. Kounterlah opini yang berkembang dalam diskusi ini dengan data yang jelas, yang dapat memperlihatkan keunggulan UL dibanding term life+reksadana. Jangan menyebar opini pribadi tanpa dasar.

  58. #75:

    Yang takaful falah kayaknya asik tuh, termlife dengan nilai tunai. Diasuransi tradisional kayaknya gak ada termlife yang mempunyai nilai tunai. Hanya saja saya juga belum sempat tanya langsung ke agen yang bersangkutan.

    semua asuransi syariah seperti ini. kalau asuransi non syariah, harga premi-nya sudah termasuk perhitungan ekspektasi perkembangan investasi, sedangkan asuransi syariah belum. premi asuransi syariah sedikit lebih mahal karena belum memperhitungkan perkembangan investasi, tapi di akhir term, nasabah akan dikreditkan nisbah hasil investasi. sebenarnya net premi yang dibayarkan nasabah kurang lebih akan sama saja, tapi di syariah lebih transparan.

  59. #78:

    Saat bisnis Mas Priyadi sudah seperti itu, kira-kira apakah Mas Priyadi masih berkomentar biaya akuisisi tidak pantas?

    ini prinsip ekonomi dasar: mendapatkan keuntungan sebesar2nya dari modal sekecil2nya. kalau saya penjual tentu saya lebih suka menjual lebih mahal. tapi kalau saya pembeli saya lebih suka membeli lebih murah. market value-nya ada di tengah2. kalau saya setel harga terlalu mahal, pembeli akan lari ke produk lain. gak ada yang salah kalau saya jual apel Rp 100 ribu/buah, padahal penjual lain cuma jual Rp 10 ribu/buah, tapi urusan laku atau tidak itu urusan lain lagi :).

    masalah dengan unit link adalah: mekanisme pasar gak jalan karena sebagian besar pembeli tidak tahu harga yang harus dia bayarkan. seandainya mekanisme pasar bekerja, maka konsumen asuransi akan lari ke produk yang lebih murah, sebagaimana konsumen apel saya akan lari ke apel yang harganya cuma 10rb/buah.

  60. Mas Pri,

    Selain reksadana dan termlife, anda punya pilihan emas. Menurut anda, emas ini untuk jangka pendek atau jangka panjang ya? Menurut Logam Mulia Antam, mereka bisa menjual emas, tapi tidak bisa membeli kembali. Kalau boleh tahu, sebaiknya membeli (baca: koleksi) emas dari Logam Mulia atau di toko2 perhiasan? Apakah ada perbedaan dalam 2 hal ini?

    Sori, kalo komentar saya salah tempat. Harusnya di Saham vs Emas :D Tapi ga papa ya, wong niat saya baik kok. Thanks

  61. Menarik sekali topik yg di angkat oleh mas Pri ini. oh ya mas Pri, bisa minta file exell ttg biaya akusisi di atas kg? soalnya linknya broken tuh :D. kl bisa kirim aja ke mail saya.

    Thanks

  62. masalah dengan unit link adalah: mekanisme pasar gak jalan karena sebagian besar pembeli tidak tahu harga yang harus dia bayarkan. seandainya mekanisme pasar bekerja, maka konsumen asuransi akan lari ke produk yang lebih murah, sebagaimana konsumen apel saya akan lari ke apel yang harganya cuma 10rb/buah.

    Setuju mas, itu kalau membandingkan apple to apple.
    Tapi yang mas priyadi bandingkan adalah beli apple lalu jus sendiri vs juice apple yg sudah jadi.

    Menurut saya wajar donk kalau si tukang jual juice apple tersebut dapat untung lebih daripada buat sendiri. Oleh karena itu, hendaklah membandingkan sesama produk juice apple. FYI, ada perusahaan asuransi tertentu yang menjual Unit Link tapi tidak mengenakan biaya akuisisi seperti di P**.

    Kenapa mas priyadi tidak membahas mengenai itu sebagai perbandingan yang adil, atau Mas Priyadi tidak tau sama sekali?

    Jika keberatan dengan biaya akuisisi perusahaan tertentu, maka carilah Unit Link perusahaan lain yang biaya akuisisinya lebih kecil.

  63. Komentar anda semakin tendensius dan cenderung menyerang pribadi seseorang.

    Betul sekali. Sebab tujuan utama saya posting di sini adalah kritik thd tulisan Mas Priyadi yang salah konsep. Sehingga banyak pembaca yang ikut sesat.

    Terus terang, tulisan mas priyadi sangat agumentatif dan penuh sugesti. Sayangnya tidak semua yang ditulis tersebut benar.

    Jika semua orang tau bikin jus apel sendiri lebih murah, buat apa masih ada yang produsen jus apel dalam kemasan jadi, lebih mahal pula.

  64. #86
    bagi kami2, baik itu nasabah, calon nasabah dan mantan nasabah unit link, tulisan pak priyadi sangat jelas dan didukung oleh angka2 dan fakta2. trims pak pri, atas tulisan2 yang sangat berguna ini.

    hehehe kayak kami2 ini bodoh dan gampang banget disesatkan oleh tulisan orang lain…..

    mungkin buat agen, calon agen, maupun petinggi2 asuransi unit link, tulisan tsb memang sangat menyesatkan karena membuat banyak orang sadar FAKTA tentang unit link sehingga berpengaruh terhadap pendapatan/penghasilan pelaku2 industri unit link tsb.
    :p

  65. Saya berani jamin, seberapa banyak pun tulisan ttg ambil term life dan reksadana terpisah tidak akan pengaruh thd pendapatan pelaku unit link. Sama halnya juga dengan penjual jus apel kemasan jadi yang tidak terpengaruh dengan orang bisa bikin sendiri dengan biaya lebih murah.

    Namun saya yakin di masa yang akan datang semua produk asuransi akan mengikuti trend unit link. Karena produk ini sudah diakui sangat bagus oleh AAJI.
    Saat itu, ketika Anda ingin ikut unit link, mungkin sudah telat, karena besarnya biaya setoran yang diakibatkan oleh faktor usia.

    Sama seperti ketika banyak orang yang nyesal tidak beli properti ketika suatu pemukiman baru dibuka, karena terlalu banyak hitung-hitung biaya.

  66. #83:

    Menurut anda, emas ini untuk jangka pendek atau jangka panjang ya?

    menurut saya jangka menengah.

    Menurut Logam Mulia Antam, mereka bisa menjual emas, tapi tidak bisa membeli kembali. Kalau boleh tahu, sebaiknya membeli (baca: koleksi) emas dari Logam Mulia atau di toko2 perhiasan? Apakah ada perbedaan dalam 2 hal ini?

    saya pribadi beli dari toko perhiasan langganan saya. biasanya barang yang dijual ditempat yang sama barang itu dibeli harganya gak akan jatuh terlalu jauh.

    #84:

    Menarik sekali topik yg di angkat oleh mas Pri ini. oh ya mas Pri, bisa minta file exell ttg biaya akusisi di atas kg? soalnya linknya broken tuh :D. kl bisa kirim aja ke mail saya.

    filenya ada di: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/biaya-akuisisi.xls

    tapi ada yang kelupaan dalam perhitungan saya. biaya akuisisi di unit link itu basisnya bukan hanya biaya asuransi, tapi ada sebagian investasi yang masuk ke situ. sedangkan di term life, basisnya tentunya hanya biaya asuransi tersebut. dengan demikian selisihnya harusnya jauh lebih besar lagi.

    #85:

    Kenapa mas priyadi tidak membahas mengenai itu sebagai perbandingan yang adil, atau Mas Priyadi tidak tau sama sekali?

    Jika keberatan dengan biaya akuisisi perusahaan tertentu, maka carilah Unit Link perusahaan lain yang biaya akuisisinya lebih kecil.

    saya gak tahu. kalau anda tahu silakan kirimkan detailnya ke saya. nanti saya bahas juga supaya jadi alternatif untuk yang lain. tapi saya pribadi ngambil terpisah keuntungannya bukan hanya untuk mengeliminasi biaya akuisisi, ini sudah saya tulis pada tulisan sebelumnya.

    #86:

    Jika semua orang tau bikin jus apel sendiri lebih murah, buat apa masih ada yang produsen jus apel dalam kemasan jadi, lebih mahal pula.

    market value ditentukan kedua belah pihak: penjual dan pembeli. penjual yang menjual dengan harga jauh di atas market valuenya tentunya akan kehilangan banyak pembeli.

  67. #88
    “…Saya berani jamin, seberapa banyak pun tulisan ttg ambil term life dan reksadana terpisah tidak akan pengaruh thd pendapatan pelaku unit link…”
    ———
    Sampai saat ini, sudah pasti ada 2 pelaku unit link yang kehilangan “pendapatannya” dan 3 orang pelaku unit link yang sudah saya tolak setelah mereka mencurahkan waktu (dan harapannya) untuk saya. Maafkan saya bapak2 dan ibu. Karena sejauh ini pendapat Mas Pri cukup logis untuk saya jadikan sebagai alasan dibalik pembatalan dan penolakan ini. Thanks mas Pri.

  68. #88
    Saat itu, ketika Anda ingin ikut unit link, mungkin sudah telat, karena besarnya biaya setoran yang diakibatkan oleh faktor usia.
    ———————-
    Sorry pak, buat saya TIDAK AKAN PERNAH TELAT.
    gimana bisa telat, yang udah join juga saya batalin dan duitnya saya full masukin ke RDS. dan saya rasa rekan2 yg lain yg udah ngerti reksadana, term life dan time value of money juga ngga akan nyesel karena TELAT.

    kalo bapak bilang telat malah yg bakalan telat adalah yang nyetor duit di unit link, karena praktis tahun2 awal dana ngga bisa berkembang maksimal (besarnya biaya akuisisi) dan perbedaan 2 tahun aja untuk jangka panjang (mis 25 thn) udah sangat besar.

    dan kalo bapak bilang telat masuk berdasarkan usia…..
    ngga juga, kan sudah dicover term life dan investasi di reksadana. ngga nyimak ya pak? atau ngga ngerti reksadana?
    :-?

  69. #59 Firesquid

    Itu menurut Anda. Kalau saya masih belum sanggup gengsi-gengsian. Saat ini memang saya belum mampu beli mobil, Avanza yang saya punya masih pinjaman dari kantor. Saya berpendapat mobil digunakan untuk sarana transportasi. Tapi yang saya tau bawa mobil sendiri lebih nyaman daripada bayar omprengan tiap hari.

    Anda meng-counter pendapat Mbak Bravo dengan minta pendapat yang punya mobil sendiri. Sudah diberi contoh yang beli mobil masih gak mau terima. Lagipula, bagaimana anda bisa merasa nyaman bawa mobil sendiri lah sampai saat ini masih pake mobil kantor??? Aneh… Statemen saya tentang anda akan tetap berlaku: Analogi anda kayaknya NGAWUR. Walaupun Mbak Bravo dah menjawab, kayaknya anda tidak akan puas. Lah NGAWUR. Anda tidak menggunakan logika dengan baik dan benar.

    Saya baru baca di forum tetangga. Ada yang memberikan analogi yg bagus untuk Unit Link vs Term Life + Reksadana, analogi-nya sbb :
    Unit Link = beli rumah
    Term Life + Reksadana = ngontrak rumah + reksadana

    Analogi beli rumah dengan ngontrak juga NGAWUR. Bagaimana saya bisa mempercayakan keuangan saya ke orang-orang yang logikanya saja NGAWUR.

    Beli Unit Link = Beli Asuransi + Beli Investasi secara Terintegrasi. PRAKTIS.
    BTAID = Beli Asuransi + Beli Investasi secara Terpisah. LEBIH OPTIMAL.

    Gak ada yang NGONTRAK tuch :d

    Ini argumennya (saya ambil kasus saya pribadi):
    1. Tahun 2002-2003 saya ngontrak rumah 600rb/bln. Bisa jadi naik tiap tahun.
    2. Tahun 2004 saya ambil rumah sendiri dengan KPR dengan bunga 600rb/bln di tahun pertama (akan berkurang di tahun2 berikutnya sesuai pokok pinjaman yang tersisa).
    3. Saya tahu HARGA BELI/SEWA TANAH&RUMAH AKAN TERUS NAIK. Daripada saya membayar kontrakan rumah, lebih baik saya bayar bunga KPR dan nantinya akan memiliki rumah sendiri dan tidak perlu bayar sewa dan tidak membeli rumah dengan harga jauh lebih mahal (harga rumah 5 tahun lalu 75jt sekarang rumah type sama di lokasi sama adalah 200jt).

    Semua orang tau kok apa manfaat dari sebuah rumah. Baik sewa rumah ataupun beli rumah, manfaatnya sama saja. Sebagai tempat tinggal, melindungi penghuninya dari panas dan hujan.

    Anda punya rumah tidak???
    Tentu saja manfaat beli rumah dan sewa rumah JAUH BERBEDA! Apalagi dianalogikan dengan UL vs BTAID. Jauh panggang daripada api.

    Anda lupa fungsi INVESTASI dari beli rumah yang tidak ada di sewa rumah???

    Sementara UL vs BTAID sama-sama memiliki unsur ASURANSI dan INVESTASI. Hayooo….. Mau argumen apalagi???

    Rata-rata orang pasti ngerti kenapa orang yang punya anggaran rela membayar cicilan tahunan yang mahal untuk dapatkan sebuah rumah daripada ngontrak rumah seumur hidup.

    Saya ngerti kok (mengalami sendiri malah). Temen2 saya (ada 10-an orang) semuanya berpendapat seperti ini: Daripada bayar 600rb/bln lebih baik membayar 1200rb/bln TAPI DAPAT RUMAH setelah 5 tahun.

    Saya memilih Unit Link juga karena prinsip yang sama. Saya memang bayar cicilan yang mahal. Tapi setelah 10 tahun saya tidak perlu setor lagi, dan saya tetap memiliki proteksi sampai tua.

    Masalah ‘Tidak perlu setor lagi‘ atau ‘setor terus‘ TIDAK PENTING BUAT SAYA. Masalahnya BERAPA YANG DISETOR SAAT INI dan BERAPA YANG DISETOR TIAP BULAN. Maksud saya, kalo disuruh pilih (asumsi tingkat investasi 15%/tahun):
    1. Bayar 200jt saat ini bebas premi bulanan 2jt selama 35 tahun atau
    2. Bayar 2jt/bln selama 35 tahun.

    Saya akan pilih opsi kedua. Padahal 2jt/bln x 12bln/thn x 35 thn = 840jt. Hehehe…Firesquid setuju tidak???

    Tapi hal ini kembali lagi ke masing-masing orang.
    Saya baru ingat, waktu lebaran kemarin ketemu 1 teman lama yang perhitungan bgt soal uang, dan memilih ngontrak rumah seumur hidup. Padahal dia punya duit yang lebih dari cukup kalau mau beli 1 rumah di Jakarta. Katanya duit yang buat bayar cicilan rumah lebih baik diputar sendiri, dan lebih enak pindah-pindah tempat tinggal.

    Itu urusan dia. Mungkin dia lebih suka uangnya diputer dan dia malas harus mengurusi rumah kalo ada kerusakan atau apalah. Maunya terima bersih saja. Kalo saya pribadi sih ada pertimbangan anak istri (lingkungan sosial) kalo harus pindah-pindah. Yang jelas: Beli Rumah vs Ngontrak TIDAK SAMA DENGAN UL vs BTAID. Cobalah membuat perbandingan yang baik. TIDAK PERLU ANALOGI (apalagi yang salah).

    Mas Priyadi, Mas Rahmat, dan Mbak Bravo mungkin tipe orang yang sama seperti teman saya itu. Memang ada benarnya juga sih pemikiran spt itu.

    Saya hargai teman anda dan pemikirannya, tapi maaf, saya tidak seperti dia.

  70. #88 Firesquid:

    Saat itu, ketika Anda ingin ikut unit link, mungkin sudah telat, karena besarnya biaya setoran yang diakibatkan oleh faktor usia.

    Saat ini, saya pribadi menyesal sudah ikut unit link. Tapi setidaknya saya belajar dari kesalahan masa lalu saya itu :)

  71. Buat Firesquid:
    Anda terlalu sering memberikan analogi, tapi hitung-hitungan real anda tidak ada (ada sih, tapi dah yang anda lakukan malah Kontra-Produktif terhadap pemobsolete dan kalah telak). Kalo saya calon nasabah Unit Link, saya pasti tidak tertarik lagi dengan Unit Link. Apaasaran Unit Link sendiri.

    Analogi Naik Taxi vs Naik Bajaj, yang di-kounter oleh Priyadi: Kalo naik taxi 10jt sementara naik bajaj 10rb tentu mending naik bajaj. Kalo 15rb sih masih mending :d

    Analogi Naik Avanza Sendiri vs Naik Omprengan Avanza, yang di-kounter oleh Mbak Bravo dengan: Lebih cocok bila analoginya Avanza Full Aksesoris (UL) vs Avanza Standard + Full Aksesoris (BTAID).

    Analogi Beli Rumah vs Sewa Rumah + Beli Reksadana, analogi yang NGAWUR.

    Buat saya pribadi (dan yang lainnya kalo setuju):
    1. Beli Unit Link = Beli Asuransi + Beli Investasi dalam 1 paket dengan membayar ‘biaya akuisisi’ melalui agen unit link (agen asuransi).
    2. BTAID = Beli Asuransi sendiri ke Perush Asuransi dan Membeli sendiri RDS (atau investasi lainnya) ke Manager Investasi secara langsung.

    Keuntungan/Kerugian Unit Link:
    (+) Praktis, One Stop Shopping. (Dalam hal membelinya yah, kalo mencairkannya/menutupnya ya lain lagi).
    (-) Adanya biaya akuisisi membuat hasil investasi tidak maksimal.
    (-) Sulit memisahkan antara yang kita perlukan dan yang ‘terpaksa’ kita beli.

    Keuntungan/Kerugian BTAID:
    (+) Investasi lebih optimal karena tidak ada biaya akuisisi dan management fee pun lebih rendah daripada di Unit Link.
    (+) Asuransi yang diambil bisa lebih flexible baik type/jenisnya maupun waktunya(lamanya asuransi jiwa tidak harus mengikuti lamanya investasi).
    (-) Mengurusi 2 hal yang terpisah.

  72. Koreksi #94 Paragraf pertama

    Buat Firesquid:
    Anda terlalu sering memberikan analogi, tapi hitung-hitungan real anda tidak ada (ada sih, tapi dah absolete dan kalah telak dengan ilustrasi Priyadi). Kalo saya calon nasabah Unit Link, saya pasti tidak tertarik lagi dengan Unit Link. Apa yang anda lakukan malah Kontra-Produktif terhadap pemasaran Unit Link sendiri.

  73. #86 Firesquid

    Betul sekali. Sebab tujuan utama saya posting di sini adalah kritik thd tulisan Mas Priyadi yang salah konsep. Sehingga banyak pembaca yang ikut sesat.

    Tunjukkan lah jalan yang benar dan berikanlah argumen-argumen serta hitungan-hitungan pendukungnya kalo begitu.

    Terus terang, tulisan mas priyadi sangat agumentatif dan penuh sugesti. Sayangnya tidak semua yang ditulis tersebut benar.

    Yang nulis Priyadi kok anda yang terus terang :d
    Seperti yang Priyadi katakan selalu “Sebutkan bagian mana yang tidak benar dan bagaimana yang benarnya?”

    Jika semua orang tau bikin jus apel sendiri lebih murah, buat apa masih ada yang produsen jus apel dalam kemasan jadi, lebih mahal pula.

    Another analogy??? Siapa bilang Jus Apel Kemasan lebih mahal daripada bikin Jus Apel dari Buah Apel Langsung? Berapa KG apel yang harus dibuat Jus untuk mendapatkan 1L Jus Apel dan apa saja alat yang diperlukan untuk itu???

    Analogy yang sangat tidak sesuai dengan UL vs BTAID. Lebih cocok ANALOGI BELI TIKET. Mau via CALO (AGEN) atau langsung ke COUNTER (PERUSH).

    Gambaran saya di #94 sepertinya sudah sesuai :d

  74. Saya udh ikut unit link. Mau keluar takut duitnya hangus, gak keluar malah rugi (bayar terus). ada yg bisa kasi masukann?

  75. #97
    sekedar sharing pengalaman pribadi:
    saya membatalkan 3 polis asuransi pak.
    1. polis unit link total setor 14 bln x 4,2 juta. uang yg kembali kira2 1,2 juta.
    2. Polis endowment 9 x 1,6 juta uang yang balik sekitar 9 jutaan.
    3. polis whole life baru join 2 thn @5,7 juta pertahun, semua hangus.

    sebagai gantinya:
    saya beli termlife dgn rp 3 jutaan per tahun dan sisanya sekitar 8,5 juta pertahun saya masukin ke RDS.

    total nilai tunai yg saya dapet dari polis 1 dan 2 semua juga saya masukin ke RDS.

    jadi yang tadinya saya harus bayar sekitar 1 juta perbulan untuk premi asuransi, sekarang tinggal 250 rb/bulan. ada sisa 750rb buat memperkuat cash flow saya berinvestasi.

  76. Buat Ibu bravo :
    Kenapa saya bilang telat?
    Karena saat ini sudah banyak perusahaan asuransi yang mengalihkan produk asuransi mereka ke model Unit Link. Produk Unit Link mendapat response yang positif dari pasar, dan juga lebih menguntungkan bagi perusahaan.

    Dengan demikian, lama kelamaan produk asuransi term life akan diterminate. Kalaupun ada hanya untuk korporasi bisnis, sebab salah satu peraturan pemerintah adalah perusahaan wajib menjamin kesehatan karyawannya.

    Saat program term life di terminate dan nasabah hendak memperpanjang masa asuransi, maka akan diarahkan ke produk Unit Link. Namun dikarenakan pertambahan usia, maka setoran premi tentu menjadi tinggi.

    Namun untuk penjualan secara personal akan diarahkan ke Unit Link. Program Unit Link selain memberikan manfaat proteksi juga memberikan manfaat tunjangan hari tua. Apalagi menurut Bisnis Indonesia edisi 24-Okt-2007, AAJI sedang menggarap program jaminan PHK untuk dipasarkan lewat Unit Link.

  77. #88 Namun saya yakin di masa yang akan datang semua produk asuransi akan mengikuti trend unit link. Karena produk ini sudah diakui sangat bagus oleh AAJI.
    —————————————-

    Mau dong link dari AAJI yang mengatakan hal ini.

  78. # 100
    produk asuransi tradisional masih akan tetap ada jangan khawatir, kecuali di perusahaan anda:-)

    unit link sendiri di negara2 tertentu malah ngga ada penggemarnya terutama di amerika serikat dan di china padahal di amerika sendiri unit link udah lama sekali muncul.

    lho, ngapain juga saya merasa telat? kan sekarang saya sudah punya term life? kan udah dijelaskan berkali-kali bahwa kalo ‘nanti’ saya ngga perlu asuransi lagi?

    taukah anda bahwa komponen premi asuransi jiwa yang ada di unit link sendiri adalah term life (kalo term life di terminate berarti unit link juga ngga ada lagi dong)?

    anda mau menakut-nakuti orang kok ngga pake dasar, sebelumnya bilang telat karena usia udah tua, sekarang bilang term life bakal di terminate hihihihiiii=))

  79. Buat Pak Rachmat :

    Ini argumennya (saya ambil kasus saya pribadi):
    1. Tahun 2002-2003 saya ngontrak rumah 600rb/bln. Bisa jadi naik tiap tahun.
    2. Tahun 2004 saya ambil rumah sendiri dengan KPR dengan bunga 600rb/bln di tahun pertama (akan berkurang di tahun2 berikutnya sesuai pokok pinjaman yang tersisa).
    3. Saya tahu HARGA BELI/SEWA TANAH&RUMAH AKAN TERUS NAIK. Daripada saya membayar kontrakan rumah, lebih baik saya bayar bunga KPR dan nantinya akan memiliki rumah sendiri dan tidak perlu bayar sewa dan tidak membeli rumah dengan harga jauh lebih mahal (harga rumah 5 tahun lalu 75jt sekarang rumah type sama di lokasi sama adalah 200jt).

    …bla..bla..bla…

    Anda lupa fungsi INVESTASI dari beli rumah yang tidak ada di sewa rumah???

    Kalau saya pribadi, yang saya tangkap dari analogi rumah di forum sebelah itu, program Unit Link memberikan manfaat UP-nya bisa semakin bertambah karena ada faktor investasi. Jadi prinsipnya sama seperti kenaikan harga properti.

    Jika bukan demikian, buat apa mas Rachmat memilih beli rumah? Kalau Mas Rachmat suka hitungan ttg uang, bukankah lebih bagus bayar sewa rumah 600 ribu/bulan daripada bayar cicilan KPR 6 juta/bulan.

    Selisih 5,4 juta/bulan mengingat time value of money kalau disetorkan ke For*** Equitas secara rutin, hasilnya akan lebih besar daripada invest di properti rumah loh. Soalnya kalau punya rumah sendiri ada biaya tambahan seperti PBB dan biaya asuransi rumah.

    Analogi Naik Taxi vs Naik Bajaj, yang di-kounter oleh Priyadi: Kalo naik taxi 10jt sementara naik bajaj 10rb tentu mending naik bajaj. Kalo 15rb sih masih mending

    Tentu saja ini hanya guyonan ringan Mas Priyadi untuk menunjukan ketidakpuasan dia thd setoran Unit Link yang mahal. Masa perbedaan setoran premi Unit Link dan Term life sampai 1000x lipat?
    Menurut Mas Rachmat logis tidak Mas Priyadi memberikan analogi yang berlebihan seperti itu. Tentu saja dia hanya bercanda doank toh.

  80. produk asuransi tradisional masih akan tetap ada jangan khawatir, kecuali di perusahaan anda

    Di perusahaan saya rasanya asuransi tradisional bakal selamanya ada. Saya masih belum bisa membayangkan asuransi mobil yang model Unit Link, karena ada batasan usia dan kategori kendaraan.

  81. Mau dong link dari AAJI yang mengatakan hal ini.

    Maaf Pak, saya tidak jago browsing seperti Bapak. Saya lebih banyak baca dari media cetak, misalnya majalah Proteksi, majalah Investor, koran Bisnis Indonesia. Kalau saya ketemu artikel tsb, akan saya scan dan posting di photobucket.

  82. #103
    Di perusahaan saya rasanya asuransi tradisional bakal selamanya ada. Saya masih belum bisa membayangkan asuransi mobil yang model Unit Link, karena ada batasan usia dan kategori kendaraan.
    ________________________

    kalo gitu udah terjawab kan? kenapa pula harus takut di terminate?
    atau pemahaman anda tentang asuransi tradisional cuma sebatas general insurance?

  83. Masalahnya bukan di pengetahuan saya mengenai general insurance. Tapi produk Unit Link lebih gampang dijual daripada produk Term Life, dan otomatis profit perusahaan lebih tinggi.

    Lama kelamaan perusahaan akan berpikir untuk menghentikan penjualan Term Life secara personal dan beralih ke Unit Link untuk meningkatkan pendapatan premi.

    Saya sendiri aja kaget membaca laporan tahunan, perusahaan asuransi jiwa P mampu membukukan premi tahunan 2T++. Sedangkan total premi di perusahaan kami aja cuma mendekati 1T. Padahal premi asuransi kendaraan bermotor lebih tinggi daripada asuransi jiwa, dan volume penjualan juga lebih tinggi daripada asuransi jiwa perusahaan P yang katanya hanya sekitar 1000 polis perhari.

    Saya sih juga pernah nyeletuk ke management ttg ide menjual asuransi rumah secara Unit Link, tapi masih ada beberapa kendala yang dihadapi. Semoga saja kedepan perusahaan kami bisa menjadi asuransi kerugian umum Unit Link pertama :)

  84. #107
    Masalahnya bukan di pengetahuan saya mengenai general insurance. Tapi produk Unit Link lebih gampang dijual daripada produk Term Life, dan otomatis profit perusahaan lebih tinggi.
    ————————–
    C7 sekali=d> emang sih buat perusahaan asuransi jauh lebih gampang buat jual UL dan lagian resikonya boleh dibilang ngga ada, profitnya juga jauh lebih gede.tapi profit perusahaan asuransi unit link kan sebenernya berasal dari nasabah unit link.

    tapi harusnya term life akan tetap ada sepanjang masa, kan ngga semua org mampu bayar premi unit link yang mahal itu?

    sebenernya di P** juga masih ada term life setahu saya, cuma emang ngga populer dan kalah bersaing dgn produk term perusahaan lain jadi ngga di jual lagi bahkan CS nya saya telp ngga ngerti sama sekali.

    yang anda harus tau kami semua disini ngga anti sama agen atau pun peusahaan asuransi manapun karena buat kami yg belum mapan secara financial, kalo ngga ada perusahaan asuransi kan berabe banget?

    cuma menurut kami, BTAID jauh lebih untung di banding unit link dipandang dari sudut manapun kecuali kepraktisannya.

    kalo perusahaan anda punya produk term life yang bagus atau produk general insurance yang bagus dan anda tawarkan ke kami , kenapa kami harus bilang jelek?

  85. Btw, saya juga baru dapat info dari agen saya kalau pengelolaan investasi di Unit Link tidak secara aktif memperjual-belikan saham seperti di reksadana.

    Info yang saya dapat tsb, alokasi Equity Fund di Unit Link tersebut dibelikan saham perusahaan unggulan untuk mendapatkan dividen dan kenaikan harga index.

    Keuntungan investasi demikian relatif lebih aman daripada memperjual belikan saham secara aktif. Kerugiannya adalah hasil investasi di Unit Link tidak maksimal :(. Cocoklah dengan prinsip High Risk High Return.

    Kalau info yang saya dapat tsb benar, berarti investasi di Unit Link tidak bisa dibandingkan dengan reksadana. Soalnya perbandingan tersebut jadi melenceng jauh dari perbandingan apple-to-apple. Seharusnya membandingkan :
    “Unit Linked vs Term Life + Saham”

    Jika Mas Priyadi memaksa membandingkan Unit Linked vs Term Life + Reksadana, nanti akan muncul opini “Unit Linked + Bisnis Sendiri vs Term Life + Reksadana”.

  86. Btw, saya sedikit sharing mengenai investasi di Unit Link.

    Saya baru dapat info dari agen saya bahwa pengelolaan investasi di Unit Link tidak secara aktif memperjual-belikan saham seperti di reksadana.

    Info yang saya dapat tsb, alokasi Equity Fund di Unit Link tersebut dibelikan saham perusahaan unggulan untuk mendapatkan dividen dan kenaikan harga index.

    Keuntungan investasi demikian relatif lebih aman daripada memperjual belikan saham secara aktif. Kerugiannya adalah hasil investasi di Unit Link tidak maksimal :(. Cocoklah dengan prinsip High Risk High Return.

    Kalau info yang saya dapat tsb benar, berarti investasi di Unit Link tidak bisa dibandingkan dengan reksadana. Soalnya perbandingan tersebut jadi melenceng jauh dari perbandingan apple-to-apple. Seharusnya membandingkan :
    “Unit Linked vs Term Life + Saham”

    Jika Mas Priyadi memaksa membandingkan Unit Linked vs Term Life + Reksadana, nanti akan muncul opini “Unit Linked + Bisnis Sendiri vs Term Life + Reksadana”.

  87. #109
    tetep saya lebih untung term + reksadana index dibanding dengan unit link index.
    kalo ngga mau high risk kan bisa juga masukin ke reksadana pasar uang. tetep lebih menguntungkan BTAID dimana reksadananya ditempatkan ke reksadana pasar uang dibandingkan beli unit link pasar uang.

    unit link itu pilihan investasinya bukan cuma di reksadana saham pak, tapi ada juga pilihan di reksadana pasar uang dan reksadana fixed income. memilihnya tergantung profile resiko dari si nasabah.

    ruginya di unit link itu bukan dari jenis investasinya (pasar uang, pendapatan tetap, index, maupun saham) tapi pada komponen biaya akuisisi, jangka waktu asuransi (dibanyak unit link rata2 sampai 99 tahun), dan fleksibilitas dalam switching portofolio.

    ada baiknya anda memahami komponen investasi (reksadana) di unit link anda terlebih dahulu sebelum menjualnya ke nasabah, ngga semua unit link itu berinvestasinya di saham, pak. kalo ini aja anda blom ngerti, wadohh…. gimana kalo ketemu calon nasabah kayak kami2 ini?:d

  88. #107
    Keuntungan investasi demikian relatif lebih aman daripada memperjual belikan saham secara aktif. Kerugiannya adalah hasil investasi di Unit Link tidak maksimal :(. Cocoklah dengan prinsip High Risk High Return.
    ———————————–
    anda tidak bisa bilang yang mana relatif aman atau ngga aman kalo investasi anda berhubungan dengan SAHAM hehehe.

    sama aja pak, klo anda bilang unit link anda mengacu ke reksadana index dan lebih aman kan kita bisa beli reksadana index + term life.

  89. #109
    kalo nasabah yg ngerti mungkin ngga beli unit link. tapi kalo nasabah kurang ngerti dan ngga bisa terima resiko gede, kan berabe kalo beliau menyalahkan bapak yang ngga menjelaskan resikonya kalo memilih equity fund?

    mending cuma menyalahkan, tapi kalo misalnya sampe stroke atau jantungan kan berbahaya pak….

    jadi sekali lagi pelajari dulu pak jenis2 investasi di reksadana berikut kelebihan dan kekurangannya. bagus juga pelajari produk2 keuangan lainnya mis: ORI, obligasi, saham dan lainnya. ngga perlu detil kalo bapak ngga berniat terjun langsung, tapi cukup kalo buat kita bahas produk2 investasi (baca : reksadana) agar bisa nyambung.

  90. Saya pilih Equity Fund karena hasilnya paling mantap untuk jangka panjang, dengan alokasi dana 100% di saham unggulan.

    ruginya di unit link itu bukan dari jenis investasinya (pasar uang, pendapatan tetap, index, maupun saham) tapi pada komponen biaya akuisisi, jangka waktu asuransi (dibanyak unit link rata2 sampai 99 tahun), dan fleksibilitas dalam switching portofolio.

    Kan nasabah tidak harus ikut sampai usia 99 tahun. Kalau nasabah mau menghentikan kontrak di usia 50 juga bisa kok. Hanya saja maximal pertanggungan kematian sampai nasabah berusia 99 tahun.

    Untuk switching dana, hanya perlu isi form. Saya sudah pernah melakukan ini karena awalnya saya ambil Managed Fund, dan setengah tahun kemudian switching ke Equity Fund.

    Mengenai biaya akuisisi, rasanya cukup jelas dengan analogi rumah di forum sebelah. Untuk kredit rumah, ada yang namanya uang DP. Uang DP ini sudah diperhitungkan dengan komisi marketing dan margin keuntungan perusahaan. Jika pembeli tidak jadi melanjutkan cicilan rumah, maka uang DP ini hangus.

    Jika memperhitungkan time value of money, seharusnya uang dp rumah tersebut bisa diinvestasikan di reksadana dan hasilnya akan lebih besar untuk 10 tahun kedepan daripada harga rumah tersebut.

    Tapi kenapa orang masih memilih untuk beli rumah daripada sewa rumah seumur hidup? Dan alasan orang pilih Unit Link juga prinsip nya demikian.

  91. #113

    Untuk switching dana, hanya perlu isi form. Saya sudah pernah melakukan ini karena awalnya saya ambil Managed Fund, dan setengah tahun kemudian switching ke Equity Fund.
    ______________________________________

    saya kemarin beli RDS begitu index dow malemnya minus 2% lebih dimana hampir 80% saham di JSX akan ngikut.
    paginya bener deh, minus 4 %. sebelum jam 12 siang saya tranfer pake internet banking dan fax ke MI nya, dapet harga hari itu juga.dan besoknya rebound sampai 4 % juga. coba klo saya telat sekian jam, maka NAB yang saya dapet udah NAB rebound nya.

    fleksibilitas yang kaya gini bisa di dapet di unit link anda?

  92. untuk analogi rumah udah bosen baik disini maupun di forum sebelah. capek deh, saya tadinya mikir anda udah paham ternyata saya sangat kecewa deh jadinya. :((

    coba sekarang anda mikir dari prospektif nasabah. apa untungnya buat kita bilang beli unit link rugi kalo ternyata unit link menguntungkan.

    tapi buat agen atau ‘calon agen’ pasti bilang beli unit link untung dong. mau gimana juga dijelasin ngga akan mudeng atau kalo anda mudeng pun pasti ngga mau nerima karena anda berkepentingan disini.

  93. Tapi yang paling penting dari Unit Link adalah manfaat Payor/Waiver yang menyetorkan setoran premi + investasi. Sedangkan asuransi tradisional hanya memiliki Waiver yang menyetorkan premi term life.

    Sayangnya Mas Priyadi tidak berani membuat perbandingan Unit Link vs Term Life + Reksadana dengan manfaat UP yang sama. Padahal di Unit Link maupun tradisional sama-sama memiliki fasilitas Waiver.

    Itulah sebabnya saya bilang sebagian pernyataan Mas Priyadi menyesatkan. Karena Mas Priyadi tidak membandingkan apple-to-apple. Akibatnya banyak orang yang terkecoh karena kekurangan info ttg asuransi.

  94. #113
    Saya pilih Equity Fund karena hasilnya paling mantap untuk jangka panjang, dengan alokasi dana 100% di saham unggulan.
    —————
    mau 100 persen disaham unggulan?
    saya sendiri juga bisa bikin reksadana kaya gini, beli 100 saham unggulan trus ditinggal tidur ngga usah capek2 mikir dan ngga rugi waktu hehehe, apa istimewa nya?

    kenapa juga harus lewat unit link? asal ada dana siapapun bisa buat portofolio begitu. masa dgn fee yg gitu gede cuma dapet yg kaya gitu yang siapapun bisa lakukan bahkan saya yg amatir ini bisa jadi fund manajer?

    kelebihan reksadana itu justru dari kepiawaian MI meracik portofolio bukan asal beli 100 saham unggulan terus akan ngasih hasil bagus…. hehehe. cuma segitu toh kualitas MI perusahaan mu? hihihi =))

  95. #116

    rasanya penjelasan dan ilustrasi pak pri udah cukup jelas, kalo anda masih belum jelas juga…. cape dehhhh

  96. coba sekarang anda mikir dari prospektif nasabah. apa untungnya buat kita bilang beli unit link rugi kalo ternyata unit link menguntungkan.

    Lagi-lagi membicarakan untung rugi.Angka seberapa baru disebut untung? Sangat relatif bagi tiap orang.

    Saya disini mengatakan Unit Link itu bagus bukan karena ada untung rugi, melainkan sekedar ingin memberikan info yang benar ttg Unit Link.

    Sejak awal saya sudah tidak setuju dengan perbandingan Unit Link vs Term Life + Reksadana. Karena membandingkan hal yang berbeda. Karena dua hal yang berbeda, tentu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    Untuk asumsi nasabah terkena sakit kritis di awal penyetoran, maka Unit Link lebih bagus. Sedangkan untuk asumsi nasabah sehat untuk jangka panjang, maka Term Life + Reksadana lebih unggul.

  97. mau 100 persen disaham unggulan?
    saya sendiri juga bisa bikin reksadana kaya gini, beli 100 saham unggulan trus ditinggal tidur ngga usah capek2 mikir dan ngga rugi waktu hehehe, apa istimewa nya?

    kenapa juga harus lewat unit link? asal ada dana siapapun bisa buat portofolio begitu. masa dgn fee yg gitu gede cuma dapet yg kaya gitu yang siapapun bisa lakukan bahkan saya yg amatir ini bisa jadi fund manajer?

    Kalau memang tidak ada istimewanya, kenapa Anda tidak melakukannya? :D

  98. #119

    kanapa bisa beda? anda membantah ngga kalo porsi di unit link adalah reksadana dan asuransinya adalah term life? rasanya mengenai ini kita juga udah capek deh…
    kalo ngga ada bantahan, maka ini adalah perbandingan yg sangat adil.

    mengenai payor, kan sudah direplikasikan di CI, masa anda ngga nyimak?

    dan saya rasa tantangan pak pri #36 masih berlaku. ayoo dong bikin ilustrasinya. masa cuma omong doang….

  99. #120
    emang tidak ada istimewanya, saking tidak istimewanya makanya saya TIDAK MAU MELAKUKANNYA.:p

    lha… investasi saya disaham returnnya jauh diatas itu kok. kalo lebih nguntungin, bahkan diatas RDS rata2 ngapain juga dana saya mati untuk sesuatu yang TIDAK ISTIMEWA.

    kalo saya investasi di RDS nya fund manajer yg profesional, rata2 mereka diatas IHSG kok ngga seperti MI perusahaan mu yg ngikut index doang.
    ini pun tujuan saya cuma untuk diversifikasi portofolio saja.

    trus apa istimewanya coba? beli saham unggulan ngikut index kompas 100 juga udah boleh, trus porsinya disesuaikan dgn bobot masing2 saham terhadap index. coba bilang apa istimewanya? :))

  100. #109:

    Saya baru dapat info dari agen saya bahwa pengelolaan investasi di Unit Link tidak secara aktif memperjual-belikan saham seperti di reksadana.

    Info yang saya dapat tsb, alokasi Equity Fund di Unit Link tersebut dibelikan saham perusahaan unggulan untuk mendapatkan dividen dan kenaikan harga index.

    Keuntungan investasi demikian relatif lebih aman daripada memperjual belikan saham secara aktif. Kerugiannya adalah hasil investasi di Unit Link tidak maksimal :(. Cocoklah dengan prinsip High Risk High Return.

    reksadana yang tidak mengelola portfolio secara aktif dinamakan ‘reksadana indeks’. jadi bukannya tidak ada reksadana semacam ini. kelebihannya, biaya pengelolaanya kecil, cuma sekitar 0.36%. bandingkan dengan reksadana saham yang rata2 sekitar 1.75%.

    dengan kata lain anda baru saja mengakui kalau porsi investasi di unit link anda sebenarnya adalah reksadana indeks, walaupun di ilustrasi bilangnya ‘equity fund’ dan pakai tarif standar pengelolaan reksadana saham!

    ini satu lagi alasan untuk tidak ikutan unit link anda.

  101. #105 Maaf Pak, saya tidak jago browsing seperti Bapak. Saya lebih banyak baca dari media cetak, misalnya majalah Proteksi, majalah Investor, koran Bisnis Indonesia. Kalau saya ketemu artikel tsb, akan saya scan dan posting di photobucket.
    ————————————

    Sekalian deh, scan Bisnis Indonesia. Ada artikel gede yang ditulis, “Banjir Unit Linked Bisa Jadi Bumerang”. Ditulis oleh Hanna Prabandari. Happy reading :-D

  102. #110 Btw, saya sedikit sharing mengenai investasi di Unit Link.

    Saya baru dapat info dari agen saya bahwa pengelolaan investasi di Unit Link tidak secara aktif memperjual-belikan saham seperti di reksadana.

    Info yang saya dapat tsb, alokasi Equity Fund di Unit Link tersebut dibelikan saham perusahaan unggulan untuk mendapatkan dividen dan kenaikan harga index.

    Keuntungan investasi demikian relatif lebih aman daripada memperjual belikan saham secara aktif. Kerugiannya adalah hasil investasi di Unit Link tidak maksimal :(. Cocoklah dengan prinsip High Risk High Return.
    ———————————-
    Hehehe … Asbun banget.
    Justru itu kelebihan MI. Dengan diperjual belikan secara aktif, MI bisa kapan saja switch ke saham yang lebih aman dikala index lagi jelek. Di reksadana saham bisa saja persentase dana pada sahamnya diswitch pada obligasi negara dan pasar uang untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

    Sebenarnya anda ini sudah pernah denger orang jelasin reksadana gak sih ?

    ——————————————–
    Kalau info yang saya dapat tsb benar, berarti investasi di Unit Link tidak bisa dibandingkan dengan reksadana. Soalnya perbandingan tersebut jadi melenceng jauh dari perbandingan apple-to-apple. Seharusnya membandingkan :
    “Unit Linked vs Term Life + Saham”
    ——————————————–

    Kalo info itu benar, kasihan banget yang naruh dana di UL anda. Ketika sentimen pasar saham negatif, ULnya akan bengong. NAB akan turun habis2an. Pengelola dana anda akan ongkang2 tidak menyelamatkan dana nasabah. Kan dia udah untung di 4 tahun awal. Kan dia udah ngambil 5% didepan. :-D

    Ya sudah, sekarang saya tanya. Unitlink yang anda bangga2kan itu pake MI apa ? Schroders ? Bagaimana anda tau itu aman ? Pernah liat efek didalamnya apa saja ? Palingan hanya 5 besar saham kan? Coba deh liat didalemnya apa saja. Kalau bisa. Bagaimana anda tau itu LQ45 semua ? Katanya ?

    Atau malah dikelola oleh MI dari luar negeri (Yang merujuk dari peraturan Bapepam, informasi ini adalah BS banget)

    Inilah repotnya orang Indonesia. Belum pernah pegang atau lihat sebuah produk tapi sudah bisa komentar kemana2. Hanya dengan modal “katanya”.

    Terlalu banyak orang pinter hanya dengan “katanya”

  103. #94 Keuntungan/Kerugian BTAID:
    (+) Investasi lebih optimal karena tidak ada biaya akuisisi dan management fee pun lebih rendah daripada di Unit Link.
    (+) Asuransi yang diambil bisa lebih flexible baik type/jenisnya maupun waktunya(lamanya asuransi jiwa tidak harus mengikuti lamanya investasi).
    (-) Mengurusi 2 hal yang terpisah.
    ————————————————-

    Yang terakhir kayaknya udah kagak tuh. Manulife punya pilihan autodebet pada rekening reksadananya untuk pembayaran insurance di Manulife.

    Seharusnya insurance yang juga bisa seperti ini adalah AXA Mandiri. Karena mereka bekerja sama dengan Bank Mandiri dan mempunyai Mandiri Investment. Lebih mudah dari Manulife yang tidak mempunyai “sodara” Bank. Dan Bank Mandiri sendiri juga punya produk Wealth Management yang menjual banyak reksadana dari macam2 MI. Entah ini sudah diaplikasikan pada AXA Mandiri atau tidak. Padahal secara infrastruktur sangat memungkinkan.

  104. Hebat nih analisanya pak Pri. Masuk akal semua.
    Ditunggu analisa mengenai asuransi syariah ya…

    Untuk investasi, gimana kalo langsung main saham dibanding reksadana? High risk memang. IHSG naik terus apalagi mendekati akhir tahun, bakal ada window dressing. Ada pendapat?

    Kalo option udah ada belum ya di pasar lokal?

    salam

  105. #130
    saat ini saham2 yang bisa dimainin di KOS baru ada 4 pak, yaitu: BBCA, TLKM, ASII dan INDF.

    cuma sekarang preminya masih tinggi hiks…

  106. @Buat abang Firesquid

    bang… aku rasa argumen abang mulai manadakan abang tidak menguasai 2 hal yg didiskusikan :
    bang priyadi, bu bravo, bang peter mengetahui seluk beluk UL, asuransi dan Reksadana.
    tapi abang Firesquid rasanya argumennya hanya berkutat di UL dan sedikit term tanpa didasari pengetahuan tentang Reksadana yang cukup.
    kalo masalah diskusi dikaskus.. kita juga udah nimbrung lama.

    sebelum diskusi dilanjutkan apa abang setuju kalo dikatakan UL = asuransi + RD… karena ini dasar diskusinya.. kalo ini tidak setuju ya mendingan membahas ini dulu, baru dilajutkan.

  107. Bravo,..

    Saya setuju dengan isi artikel ini. Saya awal 2007 ini sudah terlanjur ikut unit link P*****l karena kebutuhan proteksi. Saya mengenal reksa dana sebulan setelah saya masuk unit link tsb (terlanjur basah jadinya).

    Awal presentasi sih agennya meyakinkan dengan ilustrasi yang bisa bikin kita melongo. Tapi ternyata setelah saya hitung2 lebih baik ambil terpisah (apalagi setelah baca artikel ini, makin yakin saya).

    Ternyata unit link P******l memang menyesatkan, biaya fee 5% tiap bulan atau disebut jg subscription fee tidak disebut2 oleh sang agen bahkan ilustrasinya tidak mengikutkan biaya tsb. Padahal 5%/bln itu besar sekali. MI ternama saja subcription fee paling besar 2%.

    Kalau menghitung kasaran 5% sebulan, setahun sudah 60%. Return unit link P*****l saja tidak sebesar itu. Berarti kita RUGI sebenarnya.

    Mudah2an dengan tulisan mas Pri ini makin banyak masyarakat yang sadar finansial dan tidak TERTIPU dengan bank/insurance agen yang mementikan keuntungan pribadi saja.

  108. hari rabu sore kmrn di siaran HRFM, pak safir senduk menyatakan (kalo ga salah) unitlink vs termlife + reksadana sama saja hasilnya, trus katanya hanya saja investasi di unitlink lebih transparan (?????) Walah walah..padahal waktu itu saya ikutan via sms dan mengkonfirmasikan bahwa hal tersebut bukannya malah terbalik? Waah..bahaya tuh kalo pak safir aja bilang begitu. Tapi terserah aja deh…yang penting setelah ikutan baca-baca blog ini, saya baru aja ikutan termlife, RD dan asuransi kesehatan.Mungkin telat kali ya tapi gakpapa deh… thx to you all :)

  109. dan saya rasa tantangan pak pri #36 masih berlaku. ayoo dong bikin ilustrasinya. masa cuma omong doang….

    Mas Priyadi sendiri tidak berani membuat perhitungan ilustrasi dengan UP yang sama.

    Saya naik mobil yang saya cicil sendiri untuk jarak tempuh 100 KM. Mas Priyadi juga naik mobil, tapi bayar omprengan. Untuk membuktikan naik omprengan lebih bagus, Mas Priyadi menambahkan ongkos omprengan dia untuk menempuh jarak 130 KM.

    Kalau dibandingkan jaraknya, tentu saja lebih unggul punya Mas Priyadi. Karena selain murah juga lebih jauh. Coba yang diperbandingkan itu jarak tempuh yang sama.

    Sekarang ngerti? Kalau saya mau menempuh jarak 130 KM juga, bisa aja kok. Paling cuma menambahkan ongkos bensin.

    Saya sih mengerti bahwa tujuan Mas Priyadi baik, memberitahukan bahwa ada pendapatan pasif yang lebih bagus sekaligus mendapatkan proteksi dengan beli term life dan reksadana secara terpisah.

    Sayangnya konsep tersebut masih banyak kekurangan, misalnya nasabah direpotkan oleh urusan klaim sendiri dan harus cari tau sendiri perkembangan informasi ttg asuransi dan investasi.

    Mas Priyadi pernah mengatakan tidak repot. Memang benar, sebelumnya mas Priyadi pernah mengatakan dirinya terlalu kurang kerjaan alias memiliki banyak waktu luang dan masih sempat urus ini itu. Bagi orang yang sudah direpotkan oleh urusan bisnis dan keluarga, tentu paket Unit Link tersebut sangat bermanfaat.

    Dari sudut pandang perusahaan, saya yakin asuransi Unit Link masih akan terus berkembang. Karena sistem Unit Link sudah dikembangkan secara profesional sejak 1960. Dan di Asia sendiri sudah terbukti perusahaan yang menjual Unit Link mendapatkan kenaikan premi yang sangat signifikan.

    Jika memang Mas Priyadi, Mbak bravo, Mas Rachmat, dan Mas Peter ingin mengembangkan konsep Term Life + Reksadana terpisah, maka lakukan secara profesional. Dan lihat saja bagaimana respon masyarakat thd sistem tersebut.

  110. hari rabu sore kmrn di siaran HRFM, pak safir senduk menyatakan (kalo ga salah) unitlink vs termlife + reksadana sama saja hasilnya, trus katanya hanya saja investasi di unitlink lebih transparan (?????)

    Ini keliru. Sampai saat ini saya masih belum mendapatkan portofolio alokasi saham dari perusahaan asuransi. Padahal data tersebut sudah saya minta lebih dari 1/2 tahun yang lalu.

    Yang transparan dari Unit link adalah alokasi dana dan biaya yang ditanggung oleh nasabah. Sedangkan di asuransi Term Life, nasabah tidak tau seberapa besar margin keuntungan perusahaan dan komisi marketing.

  111. #133:

    Kalau menghitung kasaran 5% sebulan, setahun sudah 60%. Return unit link P*****l saja tidak sebesar itu. Berarti kita RUGI sebenarnya.

    5% itu harusnya diambil dari jumlah yang disetorkan, bukan dari nilai tunai investasi. yang diambil dari nilai tunai investasi itu biaya pengelolaan yang 1.75% per tahun.

    #135:

    Mas Priyadi sendiri tidak berani membuat perhitungan ilustrasi dengan UP yang sama.

    ini kayanya sudah cukup jelas saya jelaskan berkali2. harusnya sih anda sudah ngerti sekarang. tapi kalau tidak mau mengerti, ya saya nyerah deh. terserah anda saja, yang penting nasabah yang lain bisa menangkap maksud dari perhitungan saya tersebut :)

    Mas Priyadi pernah mengatakan tidak repot. Memang benar, sebelumnya mas Priyadi pernah mengatakan dirinya terlalu kurang kerjaan alias memiliki banyak waktu luang dan masih sempat urus ini itu. Bagi orang yang sudah direpotkan oleh urusan bisnis dan keluarga, tentu paket Unit Link tersebut sangat bermanfaat.

    kurang kerjaan di sini adalah kurang kerjaan untuk membongkar hitung2an unit link. serta jungkir balik membandingkannya dengan term+RD. jadi yang repot justru adalah ngitung2 unit link, kalau perhitungan term+RD justru sama sekali tidak repot.

  112. #137
    ini kayanya sudah cukup jelas saya jelaskan berkali2. harusnya sih anda sudah ngerti sekarang. tapi kalau tidak mau mengerti, ya saya nyerah deh. terserah anda saja, yang penting nasabah yang lain bisa menangkap maksud dari perhitungan saya tersebut :)
    _____________________________
    tadinya saya pikir bung firesquid sudah bisa ngerti semua konsep yang kita bahas dgn sangat panjang lebar dgn mengakui bahwa perusahaan asuransi lebih gampang jualan unitlink, juga untung gede dgn jualan unit link dibandingkan jualan produk tradisional.

    bener sekali, kalo perusahaan nya untung gede trus siapa yang dirugikan? ini laba gede datang nya darimana? turun dari langit?

    tapi what ever we say, tetep aja ngga bisa masuk hanya karena mereka berkepentingan disini.

  113. #139 Mbak Bravo,

    Kalo kata orang bijak, ‘orang yang tidak tahu masih mending daripada orang yang tidak mau tahu.’ dan ‘orang yang tidak mengerti masih mending daripada orang yang tidak mau mengerti.’

    #103 Firesquid:

    Jika bukan demikian, buat apa mas Rachmat memilih beli rumah? Kalau Mas Rachmat suka hitungan ttg uang, bukankah lebih bagus bayar sewa rumah 600 ribu/bulan daripada bayar cicilan KPR 6 juta/bulan.

    Capeee deehhhh……
    Masa 1200rb/bulan jadi 6juta/bulan???? Sejak kapan 1juta = 200rb??? Hehehe….

    Udah…Kembali ke LAPTOP!

    Anda sering mengulang2 supaya dlm perbandingan, UP-Term Life Priyadi = UP-Unit Link padahal dengan UP yang lebih tinggi berarti para ‘praktisi BTAID‘ harus membayar premi lebih mahal. Toh dengan premi lebih mahal pun kita semua bisa melihat bahwa hasil akhir investasi UL vs BTAID adalah lebih bagus di BTAID.

    Saya sendiri dulu memiliki UL dr AXA. Investasinya di RDS dengan MI Schroeders. Saya bandingkan jika saya langsung ke Scroeders membeli RDS dan memproteksi-nya dengan Term Life. Ternyata lebih bagus konsep BTAID itu. Kalo buat anda lebih bagus UL, tolong dijawab:

    Kenapa anda cuma mengalokasikan 500rb/bln ke UL??? Kok gak semua saja ke UL???

    Don’t put your egg at the same basket heh??? Kan UL gak cuma 1 produknya. Pilihan investasinya juga beragam. Beli saja 1 di AXA, 1 di Manulife, dst. Yang jelas, kalo konsep UL lebih baik daripada BTAID, saya sih bakal memasukkan semua investasi ke Unit Link.

    Jadi alasan membeli UL karena praktis sudah tidak bisa diterima lagi. Kenapa?
    1. Anda membeli UL dan RDS (anda sebutkan dalam beberapa komen).
    2. Praktisi BTAID membeli Term Life dan RDS.
    (RDS di sini cuma contoh bukan satu2nya pilihan investasi baik di UL maupun BTAID).

    Kalo sama2 ngurus RDS, berarti yang UL-Mania mengurusi UL-nya (diurusin agen dengan biaya akuisisinya?) dan ngurusin RDS juga sementara yang Praktisi BTAID mengurusi Term Life-nya dan RDS-nya. LEBIH PRAKTIS BTAID DONG???

  114. Kenapa anda cuma mengalokasikan 500rb/bln ke UL??? Kok gak semua saja ke UL???

    Karena saya tidak butuh UP yang berlebihan. Bagi saya UP yang bisa mengcover pendapatan saya selama 2 tahun sudah cukup. Lagipula UP di Unit link bisa bertambah seiring dengan bertambahnya harga unit.

    Saya juga ada Reksadana Saham karena sudah lebih duluan ambil For*** Equitas yang ditawarkan oleh marketing Bank Lippo.

    Saat tersebut saya sudah punya asuransi tradisional yang kesehatan. Tapi karena saya tidak pernah masuk rumah sakit, maka saya merasa sia-sia membayar premi mahal.

    Kemudian baru saya ditawarkan Unit Link. Karena saya sering punya kelebihan dana yang nganggur di bank, maka saya merasa lebih baik alokasikan sebagian di asuransi Unit Link dan tutup asuransi tradisional saya. Sebab duit tersebut saya setor di bank ataupun taruh di Unit Link sama saja. Apalagi mengingat bunga tabungan di bank sangat minim. Malah di Unit Link saya mendapatkan proteksi.

    Jika uang yang saya dapatkan di dari bunga bank sama seperti yang saya dapatkan di Unit Link, buat apa saya perdulikan biaya akuisisi segala. Saya menabung bukan untuk 1-2 tahun kok, tapi untuk jangka panjang.

    Memang sih secara logika, daripada banyak uang nganggur di bank sebaiknya saya menambahkan setoran di reksadana atau ambil reksadana lain. Tapi salah satu prinsip investasi adalah jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama.

  115. #135 Firesquid:

    Dari sudut pandang perusahaan, saya yakin asuransi Unit Link masih akan terus berkembang. Karena sistem Unit Link sudah dikembangkan secara profesional sejak 1960. Dan di Asia sendiri sudah terbukti perusahaan yang menjual Unit Link mendapatkan kenaikan premi yang sangat signifikan.

    Money Game dan Arisan Berantai saja berkembang kok. Dan saya yakin ada orang-orang yang menikmati hasilnya (di samping banyak sekali orang yang tidak dapat apa-apa).

    Dalam hal ini, saya tidak membandingkan Unit Link dengan Money Game atau Arisan Berantai, tapi saya ambil contoh ekstrem bahwa yang jelas-jelas salah menurut hukum (money game dan arisan berantai) saja masih bisa berkembang. Unit Link yang memang sah menurut hukum tentu saja sangat bisa berkembang.

    Dalam diskusi ini, fokus kita adalah membandingkan Unit Link dengan BTAID dari sudut pandang nasabah bukan perusahaan asuransi apalagi agen asuransi :d

    Jumlah nasabah tentunya jauh lebih banyak daripada agen apalagi perusahaan dan dalam hal ini, Priyadi adalah Nasabah.

    Sebagai nasabah, saya pribadi (setelah membaca posting dan komen di sini) menyimpulkan:
    1. BTAID lebih menguntungkan secara financial daripada Unit Link For Any Given Scenario.
    2. Kesimpulan nomor 1 didukung oleh ilustrasi Priyadi dan ternyata disetujui oleh Firesquid .
    3. Tidak susah kok membeli Term Life dan membeli RDS atau instrumen investasi lainnya secara langsung (Priyadi, Peter, dan Mbak Bravo menjelaskan pengalaman2 mereka dengan jelas dan gamblang).

  116. Memang sih secara logika, daripada banyak uang nganggur di bank sebaiknya saya menambahkan setoran di reksadana atau ambil reksadana lain. Tapi salah satu prinsip investasi adalah jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama.

    Saya setuju dengan prinsip ‘jangan menaruh semua telur di keranjang yang sama‘.

    Tapi kalo buat saya, daripada ditaruh di UL, mending ditaruh di RDS dari MI lain. Misalnya seperti Priyadi yang menaruh di PNM, Fortis, dan 1 lagi lupa.

    Coba anda jawab: Mana lebih menguntungkan, membeli RDS Schroeders melalui Unit Link di AXA atau langsung ke Schroeders???

  117. Btw, pemerintah sedang merancang UU untuk mengenakan pajak atas Reksadana. Tapi sampai sejauh ini belum goal. Prinsipnya sama seperti pajak atas tabungan dan deposito.

    Maka, menurut analisa saya suatu saat Unit Link bisa menjadi pilihan utama dalam berasuransi dan berinvestasi. Selain itu juga banyak perusahaan asuransi yang sudah mengurangi produk tradisional mereka dan beralih ke produk Unit Link, karena produk tradisional terbukti kurang laku.

  118. #135 Firesquid:

    Dari sudut pandang perusahaan, saya yakin asuransi Unit Link masih akan terus berkembang. Karena sistem Unit Link sudah dikembangkan secara profesional sejak 1960. Dan di Asia sendiri sudah terbukti perusahaan yang menjual Unit Link mendapatkan kenaikan premi yang sangat signifikan.

    Money Game dan Arisan Berantai saja yang ilegal tetep berkembang kok, apalagi UL yang legal. Bahkan MG dan AB memberikan keuntungan yang sangat signifikan (terutama buat pendiri dan segelintir orang).

    Saya mengambil contoh MG dan AB sebagai contoh ektrem bahwa tidak semua yang berkembang pesat itu baik.

    Saya pribadi sebagai nasabah menyimpulkan (dari postingan dan komen yang ada) sbb:
    1. Konsep BTAID lebih menguntungkan secara financial (ini disetujui juga oleh yg Pro-UL/Firesquid). Yang jelas, ilustrasi Priyadi sudah menggambarkan dengan sangat gamblang.
    2. Ternyata mengurusi RDS dan Term Life secara terpisah tidak repot kok (Priyadi, Peter, dan Mbak Bravo menjelaskannya dengan baik dan disertai pengalaman-pengalaman mereka).

    Jika memang Mas Priyadi, Mbak bravo, Mas Rachmat, dan Mas Peter ingin mengembangkan konsep Term Life + Reksadana terpisah, maka lakukan secara profesional. Dan lihat saja bagaimana respon masyarakat thd sistem tersebut.

    Sistem BTAID ini justru membuat setiap individu bisa langsung mengerjakan sendiri 2 hal tersebut (Invest & Protect) tanpa melalui calo/agen. Paling-paling kami jadi ‘freelance financial advisor‘ :d

    Kalau Konsep BTAID sudah sampai ke semua calon nasabah/masyarakat luas, kita bisa melihat bagaimana respon calon nasabah terhadap Unit Link :)

    Oh ya, di Kompas kemarin ada iklan AXA:
    4.000 tenaga penjual (agen)
    320.000 nasabah
    6T aset.
    Jadi 1 agen rata-rata ‘mengurusi’ 80 nasabah.
    Dan rata-rata dana masing2 nasabah adalah 18jt.

    Menarik juga iklannya :)
    Dulu ada yang pro-UL mengatakan bahwa UL ini kelasnya beda (untuk yang menengah ke atas).

    Padahal 18jt/nasabah itu menurut saya kecil. Katakanlah rata-rata nasabah sudah ikut 1 tahun (asumsi). Jadi preminya ‘hanya’ 1.5jt/bln (rata-rata). Jumlah yang menurut saya sangat kecil untuk kalangan menengah ke atas.

    Atau saya salah hitung?

  119. #143 Btw, pemerintah sedang merancang UU untuk mengenakan pajak atas Reksadana. Tapi sampai sejauh ini belum goal. Prinsipnya sama seperti pajak atas tabungan dan deposito.
    —————————————

    Reksadana memiliki beban pajak yang dibayar investor secara kolektif melalui Reksadana

    Deviden Saham – PPh Tarif Umum
    Transaksi saham pada saat jual – PPh Final 0,1%
    Bunga Deposito/SBI – PPh Final 20%
    Commercial Paper dan surat hutang lainnya – PPh Tarif Umum
    Bunga dan Capital Gain Obligasi – Tidak kena pajak

    Karena beban investor sudah dipenuhi oleh reksadana, hasil investasi yang diperoleh investor sudah bukan merupakan obyek pajak. Pengenaan pajak “lagi” ke investor akan menyebabkan pajak berganda bagi investor.

    Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pajak ini. Salah satunya karena dirjen pajak sendiri gak mampu memaksimalkan pendapatan pajak mereka dikalangan kakap.
    Semakin gede pengusaha, semakin gede kemungkinan penggelapan pajaknya. Sehingga yang paling mudah bagi dirjen pajak tentunya dengan “menodong” transaksi yang tercatat oleh pihak ketiga. Dalam hal ini adalah MI.

    Wacana ini sudah ada dari tahun 2003 dan tetap nyantol.

    Salah satu usaha pemerintah menghilangkan beban bunga pada SBI adalah “memaksa” masyarakat menaruh uangnya pada instrumen investasi lain.

    Jika reksadana dikenakan pajak, maka investasi ini akan “tidak menarik”, sehingga masyarakat tidak akan menaruh dananya pada RDS yang merupakan salah satu cara emiten untuk mendapatkan dana dalam jangka panjang.

    Kalo masih bingung googling aja. :-D

    Kembali ke pembicaraan awal aja deh … hehehe ..

  120. #136 Ini keliru. Sampai saat ini saya masih belum mendapatkan portofolio alokasi saham dari perusahaan asuransi. Padahal data tersebut sudah saya minta lebih dari 1/2 tahun yang lalu.
    ——————————————

    Sulit sekali kayaknya. Karena peraturan Bapepam-LK sendiri mensyaratkan HANYA 5 besar saham yang wajib tercantum. Oleh karena itu sebenarnya lucu jika ada sebuah perusahaan unitlink mengatakan bahwa Unitlink A sama dengan hasil Reksadana X.

    Perbedaan jumlah dana kelolaan antara unitlink dan RD membuat ini berbeda. Mungkin anda bisa cari tahu mengenai peraturan bahwa berapa persen sebuah MI bisa membeli sebuah efek dari NAB yang beredar, dsb. Kalau anda sudah paham ini, maka akan mengerti kenapa secara teknis hasil UL dan RD akan berbeda. Walaupun didalamnya terdapat efek saham yang sama jenisnya.

    —————————————–
    Yang transparan dari Unit link adalah alokasi dana dan biaya yang ditanggung oleh nasabah. Sedangkan di asuransi Term Life, nasabah tidak tau seberapa besar margin keuntungan perusahaan dan komisi marketing.
    —————————————–
    Ini aneh. Pada UL akan ada AJB, Asuransi Jiwa Berjangka, alias termlife. Perhitungan biaya termlife ini menggunakan tabel mortalita. Tetapi pada ujungnya setiap insurance memiliki RATE yang berbeda, tentunya dengan dasar tabel mortalita DITAMBAH BIAYA masing2 insurance.

    Logika saja sebenarnya. Perusahaan tentu tidak ingin rugi seperti kata anda. Pertanyaan selanjutnya, berapakah keuntungan dari setiap polis yang dibuat oleh UL anda ? Dapatkah anda menghitungnya secara pasti ?

    Jika termlife tidak transparan dan akhirnya menjadi mahal, mengapa dengan premi yang sama dengan UL termlife mendapatkan UP yang lebih besar ?

    One big question huh ?

    Mengenai kesuksesan unitlink, unitlink sukses karena faktor pemasaran. Masuk ketika masyarakat mulai “sadar” akan kebutuhan asuransi. Banyak insurance yang menghilangkan produk tradisionalnya. Apalagi perusahan kecil. Mereka ingin menghilangkan efek negatif spread yang mungkin terjadi pada produk tradisional. Pada unitlink dengan adanya biaya yang besar dan dikenakan pada nasabah, perusahaan insurance merasa sangat nyaman dan aman. Toh dananya sudah “dipisah” menjadi dua, account insurance dan investasi.
    Sehingga jika terjadi redempt maka gak bingung2 amat.

    Satu lagi yang jadi pemikiran saya. Unitlink ini baru booming. Sehingga klaim pada rider “payor” yang membayarkan premi plus investasi sangat jarang. Apa yang terjadi jika sudah berjalan sekian lama dan klaim mulai berdatangan. Bagi insurance besar mungkin RBC nya cukup gemuk. Tapi pada insurance kecil ? Bisa menjadi bom waktu.

  121. Polling aja deh :
    Siapa yang paling banyak mikir tidak logis dalam diskusi ini?

    Saya pilih Priyadi, bagaimana dengan anda?

  122. Menurut #135 Firesquid:

    Dari sudut pandang perusahaan, saya yakin asuransi Unit Link masih akan terus berkembang. Karena sistem Unit Link sudah dikembangkan secara profesional sejak 1960. Dan di Asia sendiri sudah terbukti perusahaan yang menjual Unit Link mendapatkan kenaikan premi yang sangat signifikan.

    Money Game dan Arisan Berantai saja yang ilegal tetep berkembang kok, apalagi UL yang legal. Bahkan MG dan AB memberikan keuntungan yang sangat signifikan (terutama buat pendiri dan segelintir orang).

    Saya mengambil contoh MG dan AB sebagai contoh ektrem bahwa tidak semua yang berkembang pesat itu baik.

    Saya pribadi sebagai nasabah menyimpulkan (dari postingan dan komen yang ada) sbb:
    1. Konsep BTAID lebih menguntungkan secara financial (ini disetujui juga oleh yg Pro-UL/Firesquid). Yang jelas, ilustrasi Priyadi sudah menggambarkan dengan sangat gamblang.
    2. Ternyata mengurusi RDS dan Term Life secara terpisah tidak repot kok (Priyadi, Peter, dan Mbak Bravo menjelaskannya dengan baik dan disertai pengalaman-pengalaman mereka).

    Jika memang Mas Priyadi, Mbak bravo, Mas Rachmat, dan Mas Peter ingin mengembangkan konsep Term Life + Reksadana terpisah, maka lakukan secara profesional. Dan lihat saja bagaimana respon masyarakat thd sistem tersebut.

    Sistem BTAID ini justru membuat setiap individu bisa langsung mengerjakan sendiri 2 hal tersebut (Invest & Protect) tanpa melalui calo/agen. Paling-paling kami jadi ‘freelance financial advisor‘ :d

    Kalau Konsep BTAID sudah sampai ke semua calon nasabah/masyarakat luas, kita bisa melihat bagaimana respon calon nasabah terhadap Unit Link :)

    Oh ya, di Kompas kemarin ada iklan AXA:
    4.000 tenaga penjual (agen)
    320.000 nasabah
    6T aset.
    Jadi 1 agen rata-rata ‘mengurusi’ 80 nasabah.
    Dan rata-rata dana masing2 nasabah adalah 18jt.

    Menarik juga iklannya :)
    Dulu ada yang pro-UL mengatakan bahwa UL ini kelasnya beda (untuk yang menengah ke atas).

    Padahal 18jt/nasabah itu menurut saya kecil. Katakanlah rata-rata nasabah sudah ikut 1 tahun (asumsi). Jadi preminya ‘hanya’ 1.5jt/bln (rata-rata). Jumlah yang menurut saya sangat kecil untuk kalangan menengah ke atas.

    Atau saya salah hitung?

  123. #143
    menambahkan komentar om peter,
    udah diulas lengkap sekali oleh om peter mengenai pajak yg dipotong pemerintah di reksadana. yang mau digodok dan dikenakan pajak oleh pemerintah adalah mengenai capital gain dan bunga obligasi, sementara yang lain sudah merupakan pajak final.

    buat bung firesquid:
    kalau reksadana dikenakan pajak, karena komponen investasi pada unit link juga merupakan reksadana, otomatis peraturan ini juga berlaku buat unitlink anda.
    sebelum buat komentar/posting ada bagus nya anda riset dulu, agar ngga keliatan anda tidak menguasai bahan.

  124. #143
    tambahan:
    biasanya bunga dan capital gain pada obligasi 5 tahun pertama bebas pajak, tapi diatas 5 tahun sekarang pun sudah jadi obyek pajak.

    MI2 yang mengelolah reksadana fix income karena portolio sebagian besar pada obligasi biasanya mengakali ini dengan membubarkan reksadananya yg sudah berumur 5 tahun dan membentuk reksadana baru dan semua dananya dialihkan ke reksadana yang baru dibentuk tersebut.

  125. MaT pilih Pa Priyadi… >-

    I love reksadana…. nda perlu repot2 mikirin saham apa yg musti di hold or di buang… :)

    Tapiiii masih blm punya asuransi term life… need advice s… mending ngambil dari perusahaan asuransi apa ya? yg track recordnya bagus… :)

    Thanks,
    MaT

  126. Satu lagi yang jadi pemikiran saya. Unitlink ini baru booming. Sehingga klaim pada rider “payor” yang membayarkan premi plus investasi sangat jarang. Apa yang terjadi jika sudah berjalan sekian lama dan klaim mulai berdatangan. Bagi insurance besar mungkin RBC nya cukup gemuk. Tapi pada insurance kecil ? Bisa menjadi bom waktu.

    Masalah ini tidak usah khawatir. Di dunia asuransi, ada yang namanya Re-asuransi. Sebagian resiko nasabah dialihkan oleh perusahaan asuransi ke perusahaan re-asuransi. Jadi perusahaan asuransi hanya bertindak seperti seorang broker/calo.

    Kecuali asuransi model syariah, dimana klaim diambil dari dana tabarru peserta.

  127. To Priyadi, kenapa ada pesan di bawah ini pas saya kirim komen?

    Duplicate comment detected; it looks as though you’ve already said that!

  128. kembali buat bang @Firesquid

    bung… awalnya aku salut degan anda.. tapi setelah lama aku ikutin anda kok keliatan ngak mau mengakui kebenaran pendapat orang.. selalu berkelit pada analogi dan membahas permasalah baru. dan tidak berusaha mengkounter atas perhitungan dari bang priyadi sendiri…
    setelah saya hitung kembali emang rasanya kalo dibuat 20 tahun itu dari segi manfaat dan hasil investasi memang unitlink tetap kalah sama term+RD…
    masalah perbedaan nilai tunai waktu meninggal yg menjadi 588 jt dan 338 jt untuk kritis saya kira maklum karena ini untuk menambah yg tdk dimiliki oleh term yaitu rider payornya… tapi ini kan tetap menambah nilai premi dan mengurangi investasi RDnya, jd saya kira ini masih bisa digunakan.

  129. apapun itu… saya salut priyadi.net ternyata juga bisa bicara tentang investasi, bukan hanya linux dan sebangsanya… Good !!!

    but anyway saya tetap pilih reksadana dan asuransi jiwa secara terpisah… go to hell untuk unitlink dan sebangsanya !!!

  130. masalah perbedaan nilai tunai waktu meninggal yg menjadi 588 jt dan 338 jt untuk kritis saya kira maklum karena ini untuk menambah yg tdk dimiliki oleh term yaitu rider payornya

    Di term life ada waiver of premium.
    Kalau di Unit Link ada 2 pilihan : waiver of premium, atau payor.

    Jika yang dibandingkan sesama waiver of premium, term life tetap kalah dengan perbandingan UP yang sama. Karena term life tidak berfungsi sebagai asuransi dwiguna.

    Dari segi keuntungan jangka panjang, asumsi nasabah sehat selalu, memang investasi Reksadana lebih menguntungkan dibandingkan investasi di Unit Link. Karena investasi Unit Link dan investasi di Reksadana merupakan 2 hal yang berbeda.

    Jika membandingkan keuntungan, saya yakin investasi di bisnis sendiri lebih menguntungkan daripada investasi di Reksadana. Pada bisnis sendiri, dengan dikelola oleh manajemen yang baik, tidak mustahil dalam 1 tahun bisa mendatangkan keuntungan 200% bahkan lebih dari modal yang diinvestasikan.

    Makanya saya heran dari awal sampai sekarang, yang dibahas itu adalah masalah hitungan angka. Jika suka hitung-menghitung angka, kenapa tidak buka bisnis sendiri saja yang hasilnya angkanya lebih menguntungkan.

    Setiap investasi tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sepengetahuan saya, akan jauh lebih menguntungkan ambil term life + invest bisnis sendiri.

  131. saya sebagai eks. kary ass. kerugian dan pernah nyambi sbg agen ass. jiwa setuju dgn pendapat pak pri.
    mo tanya nich…
    1. ada gak ya ? buku / panduan gak ya…belajar reksadana / saham.
    2. bagaimana kl di kota saya gak ada ktr. trimegah / danareksa. yg ada hanya philip.
    dan bank2 komersil (lippo) yg jual fortis…
    3. sisa uang sy hy 1 jt per bulan…
    apakah bs ikutan investasi reksadana..??

  132. #159
    pak firesquid,

    udah berapa kali dijelaskan mengapa kita membandingkan unit link dgn reksadana + term life, dan udah cape deh di tanya ke anda setuju ngga dulu unit link = term life + reksadana. barangnya sama, kenapa juga kita ngga boleh membandingkan?

    trus anda bilang kelebihan unit link anda itu ada di payor, OK. cuma kan udah dikasih penjelasan, payor anda itu juga bisa di replikasikan dgn CI? nah, anda tanya kenapa UP kita lebih gede, udah di jelasin berkali2 dgn ngambil UP lebih gede, otomatis premi yg kami bayar juga lebih gede dan porsi investasi kami jadi lebih kecil, tapi kenapa hasil secara keseluruhan bisa lebih baik dgn ngambil terpisah.

    anda ngga bisa membandingkan dgn usaha sendiri, karena resiko jelas beda. selain itu harus full time.jenisnya udah beda banget.logika anda kok selalu ngga nyambung sih, dan terkesan sekali terlalu anda paksakan.

    saya juga ngga pernah membandingkan beli term + main saham sendiri misalnya walau saya juga invest di saham, karena memang ngga nyambung. komponen unit link anda kan bukan invest saham sendiri + term life, juga bukan term life + usaha sendiri. sampai sini paham pak?

    jadi keliatan sekali bahwa anda cuma mengada2 dgn logika yg diputar-putar sesuai dgn kemauan anda.

  133. buat mas budi

    untuk reksadana 1 jt udah lebih dari cukup mas.. malah ada yg 100rb juga boleh.
    Pembelian reksadana bisa di :
    1. Bank Mandiri dengan produk RD dari MI (Schoder, mandiri, manulife, Danareksa, Batavia, ABN AMRO) program setor pertama 500rb dan untuk selanjutnya 100 Rb.
    2. Bank Commonwealth dengan produk RD dari MI (Fortis, Schoder, Mandiri, Manulife dll….) kelebihannaya bisa beli lewat online dan jual lewat fax. kekurangannya hanya ada dikota besar.
    3. beli langsung di kantor RD tanpa agen.. tapi untuk MI besar mereka ngak mau melayani harus lewat agen penjual (citibank, hsbc, mandiri, lippo, permata, coomonwealth dlll).

    info dan belajar dasar bisa di : http://portalreksadana.com
    dan diskusi di :
    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=454812

  134. #159
    Jika membandingkan keuntungan, saya yakin investasi di bisnis sendiri lebih menguntungkan daripada investasi di Reksadana. Pada bisnis sendiri, dengan dikelola oleh manajemen yang baik, tidak mustahil dalam 1 tahun bisa mendatangkan keuntungan 200% bahkan lebih dari modal yang diinvestasikan.
    ——————————————–

    Manajeman yang baik itu bagaimana kang ? Sangat subyektif bagi setiap bidang usaha. Satu2nya bisnis legal yang saya tahu bisa mengembalikan modal 200% dalam 1 tahun hanya makanan, atau mungkin ada bisnis lain? Saya gak ngerti itungan bisnis jasa sekarang, hanya saja tahun 99an saya sudah desain web. Beli komputer 7 juta, terima garapan dalam setahun bisa senilai 15-20 juta. Ini yang anda maksud ? Lebih dari 200% loh :-D

    Lah saya gak ngitung biaya belajar, biaya bikin proposal, biaya browsing buat cari kerpekan script, biaya kongkow dan melekan di lab, biaya personal branding, biaya promosi, dsb.

    Kalo reksadana sih biayanya jelas, subscription fee (itupun kalo ada) dan redemption fee. Bisa dihitung pake kalkulator pasar.

    ——————————————–
    Setiap investasi tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sepengetahuan saya, akan jauh lebih menguntungkan ambil term life + invest bisnis sendiri.
    ——————————————–

    Saya tanya dahulu, anda pernah punya bisnis sendiri ?
    OK, sekarang kita perbandingkan antara reksadana dan bisnis sendiri.

    Bisnis Sendiri
    Jika mengalami kerugian :
    – Menutup usaha, dengan ini kerugian lebih lanjut dapat dihindari.
    – Memperbaiki manajemen, promosi dan sebagainya. Dan ini berarti si pengusaha wajib menggelontor biaya tambahan.

    Jika usaha tersebut tutup :
    – Si Pengusaha wajib menjual seluruh asetnya yang belum tentu pada saat itu BEP.
    – Menjual kembali aset memerlukan sebuah effort yang tidak sedikit, karena si pengusaha harus mempertahankan standard harga agar kerugian tidak terlalu besar.

    Investasi menggunakan reksadana
    Jika mengalami kerugian :
    – Menjual seluruh unit yang dimiliki, walaupun saat itu belum mengalami keuntungan.
    – Menambah dana karena mendapatkan harga unit yang lebih murah.

    Pada reksadana tidak membutuhkan :
    – Effort dalam menjual asetnya. Investor hanya mengisi form redempt, 3 hari kemudian dana cair.
    – Diribetkan dengan adanya pengaturan pegawai, manajemen perusahaan, cashflow, stock, promosi dsb.

    Jika mengalami keuntungan (baik usaha sendiri maupun reksadana):
    – Menunggu investasinya bertambah besar
    – Menambah modal agak return yang diharapkan juga semakin besar.
    – Mengambil sebagian keuntungan untuk investasi di tempat lain.

    Kesimpulan :
    – Resiko yang didapatkan sama.
    – Kemudahan (liquiditas) yang didapatkan berbeda.
    – Kesempatan mendapatkan keuntungan adalah sama. Kenapa saya katakan sama, pada usaha sendiri masih ada effort yang menurut saya juga harus dihargai.

    Kelemahan dari reksadana dilihat dari pandangan saya adalah, prestise. Sebuah hal yang sulit dibeli. Kata2 “dia adalah bos perusahaan X” adalah hal yang sering membuai orang kita.

    Ndak tau buat sampeyan. Hanya saja bagi saya yang sudah mulai bisnis sendiri dari tahun 95 rasanya capek sekali. Sayangnya saya baru mengenal reksadana beberapa waktu ini. Jika tidak, sudah saya tutup usaha saya dan saya investkan ke reksadana. Dan saya pun akan membuka usaha yang lebih simple. Usaha yang tidak membutuhkan cash flow, stok, barang selalu ada dan tidak pernah basi alias ketinggalan jaman (saya tidak menyarankan MLM loh)

    Yang membuat saya bertahan pada usaha saya, kasihan dengan pegawai dan tunggakan di bank masih banyak. :-D

    Capek juga hidup didunia ritel. Hehehehe …

  135. #160 saya sebagai eks. kary ass. kerugian dan pernah nyambi sbg agen ass. jiwa setuju dgn pendapat pak pri.
    mo tanya nich…
    1. ada gak ya ? buku / panduan gak ya…belajar reksadana / saham.
    ——————————-

    Ada, buku yang lumayan menurut saya.
    “Berwisata kedunia reksadana”. Potongan bukunya dapat didownload pada link dibawah ini.

    http://www.bapepam.go.id/reksadana/fileupload/BerwisataReksaDana.pdf

    ——————————-
    2. bagaimana kl di kota saya gak ada ktr. trimegah / danareksa. yg ada hanya philip.
    dan bank2 komersil (lippo) yg jual fortis…
    ——————————-

    Kalau gak salah mas pri sudah pernah bahas di comment awal2. Monggo scroll keatas.

    ——————————-
    3. sisa uang sy hy 1 jt per bulan…
    apakah bs ikutan investasi reksadana..??
    ——————————-

    Lah wong minimal 100rb, ya jelas bisa mas :-D

  136. #147
    Jika termlife tidak transparan dan akhirnya menjadi mahal, mengapa dengan premi yang sama dengan UL termlife mendapatkan UP yang lebih besar ?

    One big question huh ?

    ======

    Yang membikin beda adalah lamamya masa pertanggungan (masa asuransi). Premi untuk UP sebesar X dengan masa pertanggungan katakanlah 5 tahun tentu lebih murah dibandingakan premi dgn UP yg sama dengan masa pertanggunggan yg lebih lama katakan hingga umur 88 tahun. Pada unit link ataupun whole life premi diperhitungkan untuk memberikan perlindungan hingga umur 88 (UL) dan 99 (WL). Bila anda mencoba membeli term life dengan masa perlindungan sama dengan whole life atau UL total biaya yg dikeluarkan untuk membeli term life akan jauh lebih mahal.

    Wass

  137. Saya cuma mau menanggapi illustrasi yg diberikan oleh Mas Pri..

    1. Umur tertanggung pada sheet detil unit link tertulis 34 tahun sedangkan pada term life umur tertangung 30 tahun (Saya harap ini hanya salah ketik belaka)

    2. Bagaimanapun juga lamanya masa pertanggungan turut mempengaruhi nilai investasi. Dengan budget 9 juta yang dibayarkan selama 20 tahun pada unit link masa pertanggungan yang diberikan adalah hinga umur 88 tahun untuk asuransi jiwa dan hingga umur 55 tahun untuk penyakit kritis. Sedangankan pada term life + reksadana terpisah masa perlindungan hanya sampai umur 49. Dengan mengabaikan perlu atau tidaknya asuransi sampai umur 88 (ini bisa kita perdebatkan lagi) mungkin lebih fair bila perjitungan nilai investasi dengan sistem term life + reksadana terpisah adalah hingga umur 88 tahun utk asuransi jiwa dan 55 tahun utk penyakit kritis (sama dengan yang diberikan oleh unit link). Bagaimana pendapat bung priyadi?

    Wass

  138. sy udah tlanjur beli unit link..udah jalan hampir dua tahun ini…gmn y caranya klo sy mw jual unit link tsb?

  139. Saya setuju dgn Mas Pri bahwa unit link lebih mahal dibanding mengambil terpisah.

    Baru2 ini saya me-riset asuransi2 untuk kesehatan (health insurance). Dari hasil riset saya, asuransi kesehatan terpisah jauh lebih murah dibanding unit link.

    Hanya saja ada satu point yang membuat saya pada akhirnya membeli unit link:
    * unit link meng-garansi bahwa pihak asuransi tidak bisa menolak perpanjangan asuransi sampai si klien ber-umur 65 tahun.

    Saya membaca sendiri di surat pembaca Kompas, dimana pihak asuransi menolak perpanjangan asuransi kesehatan klien-nya yang sakit parah tahun itu. Walaupun pihak asuransi membayar semua klaim si klien tahun itu, tapi tentu si klien masih membutuhkan perawatan dan mengharapkan pihak asuransi masih meng-cover utk tahun -tahun berikutnya.

    Karena point inilah, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil unit link untuk asuransi kesehatan saya, walaupun saya sadar bahwa biaya yang saya bayar jauh lebih mahal.

    Bagaimana pendapat Mas Pri? Apakah keputusan saya benar?

  140. # 167
    setiap kehidupan manusia ada dua resiko besar:
    pertama: resiko meninggal terlalu cepat dimana semua rencana keuangannya blom tercapai, nah jenis ini butuh asuransi jiwa.

    asuransi jiwa berfungsi untuk memberikan proteksi terhadap resiko financial karena meninggal/invalid terlalu cepat. begitu sudah bebas financial tentunya manusia udah ngga butuh asuransi jiwa lagi.

    kedua: hidup terlalu lama. kalo resiko jenis ini dicover dengan mengambil anuitas seumur hidup dan jelas ngga butuh asuransi jiwa.malah asuransi jiwa dalam kasus ini dapat membebani cash flow.
    yang dibutuhkan adalah uang tunai/dana kas yang besar untuk membeli anuitas ini.

    ini juga sudah dibahas berkali-kali deh rasanya

  141. #169
    begitu kita join asuransi kesehatan, ada yang namanya MASA TUNGGU selama 1 thn untuk penyakit2 tertentu.
    begitu lepas dari masa tunggu ini, pihak perusahaan asuransi ngga berhak untuk menolak polis asuransi kesehatan kita, asal masih sesuai plan yang pertama diambil sampai umur maksimal.

    mengenai kasus di kompas rasanya udah ada penjelasanya diatas.

    setau saya khusus asuransi kesehatan di unit link CUMA RIDER yg bisa juga dilekatkan di jenis asuransi yang lain juga :-) mau lengket di TERM,WL,atau UL statusnya SAMA.

  142. #166:

    Yang membikin beda adalah lamamya masa pertanggungan (masa asuransi). Premi untuk UP sebesar X dengan masa pertanggungan katakanlah 5 tahun tentu lebih murah dibandingakan premi dgn UP yg sama dengan masa pertanggunggan yg lebih lama katakan hingga umur 88 tahun. Pada unit link ataupun whole life premi diperhitungkan untuk memberikan perlindungan hingga umur 88 (UL) dan 99 (WL). Bila anda mencoba membeli term life dengan masa perlindungan sama dengan whole life atau UL total biaya yg dikeluarkan untuk membeli term life akan jauh lebih mahal.

    ini bukan masalah karena kita tidak perlu asuransi jiwa sampai umur 88/99 tahun. perhitungan saya, 20 tahun sudah terlalu lama. paling sial mungkin 30 tahun. untuk agen unit link mungkin bisa lihat di ilustrasi masing2 kapan nilai tunai melebihi UP asuransi, atau kalau mau lebih aman, nilai tunai melebihi 2xUP asuransi.

    #167:

    Umur tertanggung pada sheet detil unit link tertulis 34 tahun sedangkan pada term life umur tertangung 30 tahun (Saya harap ini hanya salah ketik belaka)

    salah ketik. karena sebelumnya data yang saya punya hanya untuk umur 34 tahun.

    Dengan mengabaikan perlu atau tidaknya asuransi sampai umur 88 (ini bisa kita perdebatkan lagi) mungkin lebih fair bila perjitungan nilai investasi dengan sistem term life + reksadana terpisah adalah hingga umur 88 tahun utk asuransi jiwa dan 55 tahun utk penyakit kritis (sama dengan yang diberikan oleh unit link).

    ini jelas sama sekali gak realistis karena setelah pensiun, nasabah butuh perlindungan dari anuitas seumur hidup, dan bukan lagi asuransi jiwa.

    #168:

    sy udah tlanjur beli unit link..udah jalan hampir dua tahun ini…gmn y caranya klo sy mw jual unit link tsb?

    silakan anda hubungi tempat anda membeli unit link.

    #169:

    unit link meng-garansi bahwa pihak asuransi tidak bisa menolak perpanjangan asuransi sampai si klien ber-umur 65 tahun.

    Saya membaca sendiri di surat pembaca Kompas, dimana pihak asuransi menolak perpanjangan asuransi kesehatan klien-nya yang sakit parah tahun itu. Walaupun pihak asuransi membayar semua klaim si klien tahun itu, tapi tentu si klien masih membutuhkan perawatan dan mengharapkan pihak asuransi masih meng-cover utk tahun -tahun berikutnya.

    setahu saya kebanyakan asuransi kesehatan punya klausul guaranteed renewability. kalau ada asuransi yang tidak punya klausul tersebut, solusinya ya dengan menghindari asuransi tersebut.

  143. mas pri, makasih atas upload ulang ilustrasi biaya akuisisinya. tp setelah saya lihat kok sepertinya perbandingan itu lebih menguntungkan akuisisi yg 5 thn pertama di banding dengan akuisisi setiap tahun? ato saya yg salah ngerti :D. bisa gak mas pri tolong di jelaskan sedikit? :p

  144. wah,… pri punya banyak reksadana. :.. knp ga satu aja ? Atau main saham langsung aja lebih menarik dan sport jantung.. di http://www.indofinanz.com cukup deposit awal 2.5 jt. Bisa gain 30 % dalam sehari atau mungkin sejam… bandingkan reksadana saham yang 30 % dlm 6 bulan. Atau mungkin dalam 4 bulan kalo swing.

    Sok tau mode on. (*)

  145. #173:

    mas pri, makasih atas upload ulang ilustrasi biaya akuisisinya. tp setelah saya lihat kok sepertinya perbandingan itu lebih menguntungkan akuisisi yg 5 thn pertama di banding dengan akuisisi setiap tahun? ato saya yg salah ngerti :D. bisa gak mas pri tolong di jelaskan sedikit?

    angka2 itu adalah potensi kehilangan pendapatan. makin besar makin jelek :)

  146. mas pri, kasi tau aku asuransi ikesehatan yg bagus donk…
    Trus aku uda telanjur ikutan UL yg 300rb per bulan.
    Apakah aku bs adpet asuarnsi + RD scr terpisah dengan uang sgtu???

  147. #171
    Saya membaca polis kesehatan dari 3 asuransi (Sinar Mas, Allianz, AIG), semua memasukan klausa bahwa pihak asuransi berhak menolak perpanjangan polis.

    Kasus di Kompas, dijawab oleh pihak asuransi (melalui kompas jg) bahwa pihak asuransi berhak menolak perpanjangan polis sesuai dgn klausa yang ada di polis.

    #172
    Mungkin saya harus riset lebih banyak lagi, tapi sejauh ini saya belum menemukan asuransi kesehatan terpisah yang punya klausa ‘guarantee renewability’. Memang fokus saya pada awalnya adalah asuransi yang proses klaim-nya tidak curang.

  148. #172:

    penilaian bung irawan ada benernya juga ya. jika kita masuk asuransi dalam jangka tertentu. eh pas mau renew di tolak karena history kesehatan saat itu. repot juga. ada saran lain kg utk mengatasi masalah ini ?

    mas pri saat ini ambil term di assuransi mana? RD di mana? berapa besar pembagian porsi antara premi dan investasi yg mas pri buat? lalu benefit apa aja yg di dapat dari asuransi term yg mas pri ambil saat ini?

    thx utk infonya :D

  149. #178:

    Saya membaca polis kesehatan dari 3 asuransi (Sinar Mas, Allianz, AIG), semua memasukan klausa bahwa pihak asuransi berhak menolak perpanjangan polis.

    betul betul. saya juga tadi baru tanya2 sinarmas, ternyata klausulnya memang seperti itu. tapi coba dicek di polis UL-nya apa rider kesehatannya memang punya klausa guaranteed renewability yang ditulis secara eksplisit. setahu saya semua asuransi kesehatan itu direasuransikan. jadi harusnya coverage antar produk yang berbeda gak akan berbeda jauh. terus terang saya juga belum terlalu dalam lihat2 produk asuransi kesehatan.

    #179:

    mas pri saat ini ambil term di assuransi mana? RD di mana? berapa besar pembagian porsi antara premi dan investasi yg mas pri buat? lalu benefit apa aja yg di dapat dari asuransi term yg mas pri ambil saat ini?

    saya ambil term di axa mandiri. RD punya di 4 tempat. porsi pembagian gak terlalu dipikirin, tapi sebisa mungkin top up tiap bulan dan kalau ada dana lebih. di asuransi term juga ambil rider waiver, ADD dan kesehatan cash plan.

  150. #180
    tapi coba dicek di polis UL-nya apa rider kesehatannya memang punya klausa guaranteed renewability yang ditulis secara eksplisit
    _________________
    saya sudah baca polis saudara saya, dan P**hospital & surgical sama juga, mereka dan atau nasabah juga berhak menghentikan perpanjangan polis dgn surat pemberitahuan 14 hari sebelumnya ulang tahun polis.

    dan pihak asuransi juga berhak untuk merubah biaya asuransinya dengan pemberitahuan selambat-lambatnya 3 bln sebelum perpanjangan otomatis, dan perubahan biayanya tidak dijanjikan/dijamin besaran kenaikannya.

    Jadi intinya adalah SAMA, merupakan produk tahunan juga. hehehe

  151. #181
    Hmmm, betul juga ya. Saya kurang teliti:(. Saya fokus ke halaman pertamanya yg menyebutkan tanggal akhir pertanggungan thn 2038 (when i’m 65).

    But there’s a hope though: dalam klausul-nya ada point ‘kami tidak akan menghentikan / menolak perpanjangan masa berlakunya asuransi dalam hal Tertanggung sedang atau hendak menjalani Rawat Inap dan Tindakan Bedah, sepanjang tidak ada atau tidak terjadi salah satu hal yang menyebabkan berakhirnya asuransi’

    Kelihatannya sih artinya pihak asuransi tidak akan menolak perpanjangan polis walau kita sedang sakit. Any lawyer here who can comment?
    :-?

  152. Okay, saya sudah minta teman saya yang ikut asuransi kesehatan Sinar Mas untuk men-cek polisnya. Ternyata tidak ada klausa tambahan seperti #182 (pihak asuransi tidak akan menolak perpanjangan dalam hal tertanggung sedang atau hendak menjalani rawat inap atau tindakan bedah).

    Saya sudah membuang copy polis Allianz dan AIG, jadi saya tidak bisa mencek lagi. Tapi rasanya saya tidak ingat membaca klausa tambahan tsb diatas.

    Saya tidak tahu apakah klausa tambahan ini ada disemua asuransi kesehatan Unit Link atau tidak. Ada yang bisa cek?

  153. #182

    But there’s a hope though: dalam klausul-nya ada point ‘kami tidak akan menghentikan / menolak perpanjangan masa berlakunya asuransi dalam hal Tertanggung sedang atau hendak menjalani Rawat Inap dan Tindakan Bedah, sepanjang tidak ada atau tidak terjadi salah satu hal yang menyebabkan berakhirnya asuransi’
    _________________________________

    kausul ini membingungkan krn di pasal sebelumnya membuat pengecualian seperti di #181

    …..berakhirnya asuransi’ seterusnya ada kata2 tambahan ‘sesuai dgn pasal 8 diatas’

    jadi kalo diteliti benar maka perusahaan asuransi tsb berhak membatalkan perpanjangan polis kita selama mereka sudah memenuhi syarat pada point #181 diatas.

    dengan kata lain, selama mereka blom memenuhi syarat #181 diatas memang mereka tidak berhak untuk menolak perpanjangan polis kita…..

  154. hahaha, gara2 topik ini jadi buka2 polis.

    Ok, udah buka polis Hospital Benefit di Manulife dan sudah tanya kebagian klaim. Jadi kalo di Manulife, misal nasabah A ikut termlife dengan kontrak awal 10 tahun. Klaim hospital berjalan selama 10 tahun dengan kondisi bahwa nasabah memang tidak memiliki riwayat penyakit kritis yang terecord. Dan memang jujur dalam melaporkan kondisi awal.

    Kontrak hospital bisa ditolak, apabila masa perpanjangan dari nasabah A. Misal 10 tahun kedua. Jadi pihak insurance hanya bisa menolak untuk perpanjangan. Bukan untuk rider yang sudah berjalan.

    Ini lagi cari2 polisnya. Ketinggalan dirumah. Nanti saya coba posting lagi.

  155. Hanya ikut menambahkan komentar mengenai asuransi kesehatan.

    Adalah benar, bahwa asuransi term 10 tahun tidak akan menolak/menghentikan perpanjangan masa berlaku rider hospital untuk masa 10 tahun.

    Jika terjadi kasus klaim yang cukup besar, misalnya sakit berkepanjangan atau bahkan sakit kritis, ada 2 kemungkinan :
    1. Perpanjangan akan ditolak untuk 10 tahun kedua.
    2. Perpanjangan diterima dengan menaikan rate premi asuransi

    Khusus untuk rider kesehatan di Unit Link, perusahaan tidak akan menolak/menghentikan perpanjangan sampai usia 65 tahun. Kecuali terjadi hal-hal berikut :
    – polis lapse/surrender
    – nasabah meninggal atau cacat tetap total
    – provider kesehatan (rumah sakit) stop kerjasama dengan perusahaan penyedia Unit Link

    Sedangkan jika nasabah telah mengalami perawatan sakit berkepanjangan atau sakit kritis, rate premi asuransi kesehatan tahunan tetap mengikuti tabel usia dan jenis kelamin.

  156. Maaf ada yang ketinggalan.
    Provider asuransi kesehatan tradisional yang saya maksudkan AIG dan CAR.

    Provider asuransi Unit Link yang saya maksudkan adalah Prudential.

  157. # 186

    Khusus untuk rider kesehatan di Unit Link, perusahaan tidak akan menolak/menghentikan perpanjangan sampai usia 65 tahun. Kecuali terjadi hal-hal berikut :
    – polis lapse/surrender
    – nasabah meninggal atau cacat tetap total
    – provider kesehatan (rumah sakit) stop kerjasama dengan perusahaan penyedia Unit Link

    yg di maksud dengan “provider kesehatan (rumah sakit) stop kerjasama dengan perusahaan penyedia Unit Link” ini apa ?

    Sedangkan jika nasabah telah mengalami perawatan sakit berkepanjangan atau sakit kritis, rate premi asuransi kesehatan tahunan tetap mengikuti tabel usia dan jenis kelamin.

    ini tarifnya mengikuti tabel usia dan jenis kelamin sebelum nasabah mengalami sakit atau sesudah mengalami sakit?

  158. #182:

    ‘kami tidak akan menghentikan / menolak perpanjangan masa berlakunya asuransi dalam hal Tertanggung sedang atau hendak menjalani Rawat Inap dan Tindakan Bedah, sepanjang tidak ada atau tidak terjadi salah satu hal yang menyebabkan berakhirnya asuransi’

    kalau menurut interpretasi saya ini begini. ambil contoh saya daftar asuransi tanggal 1 januari. kemudian saya sakit tanggal 28 desember dan perlu dirawat sampai tanggal 5 januari tahun berikutnya, maka pemegang polis punya opsi untuk memperpanjang polis satu tahun ke depan.

    kalau seandainya saya sakit tanggal 1 februari tahun yang sama dan dirawat sampai 10 februari, maka asuransi akan membayarkan klaim, tapi dia punya opsi untuk menghentikan polis kalau di akhir tahun nasabah gak sakit lagi.

    #185:

    Ok, udah buka polis Hospital Benefit di Manulife dan sudah tanya kebagian klaim. Jadi kalo di Manulife, misal nasabah A ikut termlife dengan kontrak awal 10 tahun. Klaim hospital berjalan selama 10 tahun dengan kondisi bahwa nasabah memang tidak memiliki riwayat penyakit kritis yang terecord. Dan memang jujur dalam melaporkan kondisi awal.

    kalau saya kok gak yakin ya. perpanjangan rider kesehatan itu setiap tahun karena bayarnya setiap tahun. kecuali kalau ada klausal khusus ‘guaranteed renewability’ yang biasanya ada di term life atau YRT. kalau udah lihat polisnya, coba saya mau tahu apa bunyi pasalnya.

    #186:

    Khusus untuk rider kesehatan di Unit Link, perusahaan tidak akan menolak/menghentikan perpanjangan sampai usia 65 tahun. Kecuali terjadi hal-hal berikut :
    – polis lapse/surrender
    – nasabah meninggal atau cacat tetap total
    – provider kesehatan (rumah sakit) stop kerjasama dengan perusahaan penyedia Unit Link

    ini kontradiktif dengan yang disebutkan oleh mbak bravo di #181. pelajaran buat kita semua, manfaat yang nempel di manfaat utama yang punya ‘guaranteed renewability’ belum tentu punya ‘guaranteed renewability’.

    saya juga udah baca kesehatan saya (cash plan sebagai rider dari AXA mandiri jiwa sejahtera), ternyata mereka juga bisa terminate kalau mereka mau :(.

    #187:

    Maaf ada yang ketinggalan. Provider asuransi kesehatan tradisional yang saya maksudkan AIG dan CAR.

    kalau boleh tahu apa bunyi pasal yang dimaksud?

    @all:

    kalau mau contoh plan kesehatan yang punya guaranteed renewability bisa lihat incomeshield dari NTUC income singapura: http://www.income.com.sg/insurance/incshield/

    mereka klaim mereka yang pertama kali punya klausul guaranteed renewability, paling tidak di singapura. dan mereka baru launching awal 2006 kemarin kalau gak salah. jadi rasanya masih wajar kalau di indonesia belum ada produk yang seperti ini :-?

    Most medical plans only cover up to age 80 or 85, and coverage may stop when there is a major claim. NTUC Income is the first insurer to offer guaranteed renewable lifetime coverage. With Incomeshield, you and your family are covered for life, even if there is a major claim.

  159. #184
    Iya memang membingungkan. Kaya-nya saling kontradiktif antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Tapi karena masih satu pasal (pasal 8) MUNGKIN ayat yg mencegah terminasi cukup kuat. I think we need a lawyer before we sign-up with an insurance :-w

    #185
    Mr Peter, tolong klarifikasi anda sudah baca ulang polisnya atau baru cek ke agen anda. Polis Pru Hospital saya juga di halaman pertama ditulis sampai 2038, tapi di polis ada klausa terminasi tahunan.

    #189
    Saya pikir tadinya masalah terminasi asuransi kesehatan hanya ada di Indo, ternyata di Singapura juga sama [-(. Oh ya, biar ada guaranteed renewability, tapi apakah premi-nya tetap (berdasarkan umur tentunya)?

  160. #190:

    Saya pikir tadinya masalah terminasi asuransi kesehatan hanya ada di Indo, ternyata di Singapura juga sama [-(. Oh ya, biar ada guaranteed renewability, tapi apakah premi-nya tetap (berdasarkan umur tentunya)?

    yang pasti sih yang punya guaranteed renewability pastinya lebih mahal daripada yang gak punya :)

  161. #189: kalau saya kok gak yakin ya. perpanjangan rider kesehatan itu setiap tahun karena bayarnya setiap tahun. kecuali kalau ada klausal khusus ‘guaranteed renewability’ yang biasanya ada di term life atau YRT. kalau udah lihat polisnya, coba saya mau tahu apa bunyi pasalnya.
    ———————————
    Pasal 7 – Pengulangan dan Perubahan Tarif Premi
    7.1 Pertanggungan Tambahan Hospital Benefit Plus (Manfaat Rumah Sakit Plus) ini dapat diulang pada saat tahun polis.

    7.2 Pengulangan sebagaimana dimaksud pada pasal 7.1 dapat dilakukan dengan cara membayar premi sesuai dengan tarip premi yang berlaku pada saat pengulangan dan tidak diperlukan seleksi ulang.

    7.3 Maksimum usia pada saat pengulangan bagi :
    a. Tertanggung adalah 65 tahun
    b. Suami/Istri tertanggung adalah 65 thn
    c. Anak2 yg belum menikah adalah 18 thn
    d. Anak2 yang berstatus mahasiswa dan belum menikah adalah 24 thn

    7.4 Premi pengulangan akan berubah sesuai dengan premi untuk kelompok usia pada saat pengulangan.

    7.5 Penanggung mempunyai hak untuk menolak pengulangan yang diajukan oleh pemegang polis, dengan memberitahukan secara tertulis ke alamat pemegang polis sesuai yang tercatat pada penanggung dan premi pengulangan yang telah dibayar oleh pemegang polis kepada penanggung akan dikembalikan

    7.6 Setiap saat penanggung mempunyai hak untuk mengubah tarip premi. Perubahan tarip premi tersebut mulai berlaku pada ulang tahun polis berikutnya dan akan diberitahukan secara tertulis ke alamat terakhir pemegang polis sesuai yang tercatat pada penanggung

    Ok. Jika melihat pada pasal yang saya bold diatas, saya ternyata salah menginterpretasikan. Setelah saya baca gak pake skipskip, pihak insurance berhak menolak perpanjangan rider insurance.
    Mengapa ? Pengulangan yang dimaksud adalah setiap ulang tahun polis (pasal 7.1). Bukan masa akhir kontrak. Pada awal saya cek ke departemen klaim (saya kok jadi yakin ini interpretasi seseorang, bukan departemen secara keseluruhan, saya belum crosscheck lagi kepada orang yang berbeda), person yang saya tanya mengatakan bisa diperpanjang selama masa kontrak awal belum habis.

    Kesimpulan saya sementara …
    Percayalah pada pasal polisnya, jangan kata orang. yang tertulis lebih kuat secara hukum daripada “katanya” :-D

    Terakhir, saya coba cek ke underwriting aja. Dan coba melihat apakah sudah pernah ada case yang seperti ini.

  162. #190 Iya memang membingungkan. Kaya-nya saling kontradiktif antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Tapi karena masih satu pasal (pasal 8) MUNGKIN ayat yg mencegah terminasi cukup kuat. I think we need a lawyer before we sign-up with an insurance :-w
    ———————————-

    Sepertinya ini tugas YLKI, lembaga yang selama ini dikacangin oleh para pelaku industri. Kalo sewa lawyer ..
    premi berapa … sewanya berapa … :-D

  163. Pak Pri,

    cuma pengen tau apakah dengan kasus begini masih tetap menguntungkan…

    Unit Link (UL)
    – usia : 30 tahun laki
    – total bayar 12 juta per tahun dengan komposisi premi dasar 3 juta, premi top up regular 9 juta, dibayar bulanan yaitu Rp 1 juta per bulan
    – asumsi masa bayar premi 35 tahun/35x (sampai dengan usia 65 thn)
    – UP Dasar 420 juta
    – asuransi tambahan : premium waiver s/d usia 65 tahun
    – asumsi suku bunga : 20%

    Anggap si laki hidup ampe usia 65 tahun, so
    Manfaat Hidup pada tahun ke 65 : Rp 52,239 milyar (asumsi diilustrasi dengan bunga 20%)

    Asuransi term + reksadana

    – usia 30 tahun laki
    – Total kesanggupan bayar Rp 12 juta per tahun….ntar dipisah antara beli asuransi ama beli reksadana
    – UP term 420 juta

    Untuk beli term 420 juta, premi di salah satu insurer itu adalah Rp 3.053.400 per tahun..tapi karena bayar bulanan biasanya ada loading, jadi per bulannya jadi 280,913 per bulan, sehingga jatoh2nya setahun jadi Rp 3.370.954.

    Sisa duit yang bisa beli reksadana jadi Rp 8.629.046 per tahun

    Ini duit saya invest ke reksadana selama 35 tahun/35x (atau sampai dengan usia 65 tahun) dengan return 20%…Kira2 jadi berapa ya Pak pada usia 65 tahun?…Kalo angkanya lebih kecil, bagusan UL dong, apalagi disana udah ada PW segala dimana kalo ditengah jalan kena penyakit kritis or cacat total premi yang 12 juga yang bayarin perusahaan asuransi….

    mohon pencerahan Pak…

  164. #194: angkanya gak masuk pak, mungkin ada yang salah di ilustrasinya. untuk bisa dapat 52 milyar dalam 35 tahun dengan perkembangan investasi 20%, dibutuhkan setoran per tahun 14,697 juta

    kemudian, term life 420 juta di umur 30 tahun, 3 juta itu kemahalan pak. rata2 mungkin cuma sekitar 1.3 jutaan. terus, saya pikir lebih baik bayar tahunan daripada bulanan, kalau gak sanggup bayar lump sum tahunan, lebih baik cairkan reksadananya. perhitungannya juga gak bisa gitu, karena asuransi jiwa selalu naik setiap periode. terakhir, kalau punya 52 milyar pada umur 65 tahun, lebih baik asuransi jiwanya dibatalkan jauh sebelum itu karena nilainya sudah jauh melebihi UP.

    kalau mau coba kirim ilustrasinya ke email saya, nanti saya buat perbandingannya.

  165. confirm, ternyata pada Manulife Hospital Benefit Plus pun, pihak penanggung berhak tidak memperpanjang atau menambah premi dari rider Hospitalnya. Hanya saja penjaminan perpanjangan polis pada termlifenya tetap berlaku.

  166. Mas Pri Mohon Tanggapannya utk Ilustrasi berikut.

    Data Asuransi Unit Link dan Term Life saya dapat dari satu perusahaan yang sama.

    Budget : Rp 4 juta/tahun
    Pria, 35 tahun
    UP Asuransi Jiwa: 100 jt
    UP ADDB : 40 jt
    UP Penyakit Kritis : 50 jt
    Asumsi Cuti Premi pada unit link: Tahun ke 11
    Masa Pertanggungan 20 tahun
    Asumsi Perkembangan Investasi 13% & 20%

    Premi Term Life
    35-44 : Rp 1,878,651
    45-54 : Rp 3,205,154

    Untuk Reksadana saya menggunakan data yg digunakan mas pri yaitu selling fee 1.5%, redemption fee 0%.

    Dikarenakan adanya cuti premi pada unit link maka mulai tahun ke 11 premi term life untuk umur 45-54 dibayar dengan melakukan penarikan/pemotongan dari hasil investasi pada reksadana.

    Dari perhitungan diatas didapat

    Nilai Tunai Unit Link pada tahun ke 20 adalah :
    Untuk asumsi perkembangan investasi 20% adalah Rp 322,891,000 sedangkan manfaat kematian Rp 422,891,000
    sedangkan untuk perkembangan investasi 13% nilai tunai terkumpul adalah Rp 101,797,000 dengan manfaat kematian Rp 201,797,00 (Data ini berdasarkan illustrasi yang saya peroleh)

    Untuk pembelian terpisah antara term life dan reksadana didapat nilai tunai pada perkembangan investsi 20% adalah Rp 303,176,350 dengan manfaat kematian Rp 403,176,350 sedangkan untuk perkembangan investasi 13% didapat nilai tunai Rp 80,923,819 dan manfaat kematian Rp 180,923,819.

    Saya tunggu tanggapannya ya mas pri

    Thanks

  167. yg di maksud dengan “provider kesehatan (rumah sakit) stop kerjasama dengan perusahaan penyedia Unit Link” ini apa ?

    Misalnya perusahaan asuransi AAA bekerjasama dengan perusahaan BBB yang specialis di asuransi kesehatan. Dalam kasus ini perusahaan BBB disebut provider kesehatan.

    Ternyata perusahaan AAA klaim rumah sakit jauh lebih besar daripada pendapatan premi. Dengan demikian perusahaan BBB berasumsi underwriting perusahaan AAA tidak becus menilai resiko dan merugikan BBB. Maka kontrak kerjasama diputus.

    Kasus kedua, semua rumah sakit bekerja sama dengan perusahaan asuransi XYZ. Tapi ternyata perusahaan XYZ ini susah kalau membayar tagihan rumah sakit. Maka semua rumah sakit memutuskan tidak mau menerima jaminan kesehatan pasien dari asuransi XYZ, kecuali sistem reimbust.

    ini tarifnya mengikuti tabel usia dan jenis kelamin sebelum nasabah mengalami sakit atau sesudah mengalami sakit?

    Sebelum nasabah sakit kritis.
    Saya tidak tau benar atau tidak, tapi saya sudah cross check ke customer service juga dan mereka membenarkan.

  168. #189
    Maaf mas, saya tidak bisa menuliskan pasal tersebut. Saya tidak punya polis di kedua asuransi tersebut. Saya langsung tanyakan ke marketing CAR dan agen AIG.

  169. #197 Mas Pri Mohon Tanggapannya utk Ilustrasi berikut.

    Data Asuransi Unit Link dan Term Life saya dapat dari satu perusahaan yang sama.

    Budget : Rp 4 juta/tahun
    Pria, 35 tahun
    UP Asuransi Jiwa: 100 jt
    UP ADDB : 40 jt
    UP Penyakit Kritis : 50 jt
    Asumsi Cuti Premi pada unit link: Tahun ke 11
    Masa Pertanggungan 20 tahun
    Asumsi Perkembangan Investasi 13% & 20%

    Premi Term Life
    35-44 : Rp 1,878,651
    45-54 : Rp 3,205,154
    ———————————–

    Kasihan banget yang bayar premi 1,8juta cuman dapet UP 100juta. Coba brosing2 lagi, dengan UP yang sama dan profil nasabah yang sama

    MNS, 35thn
    UP : 100 jt
    ADDB : 100jt
    CI : 50jt
    Premi 35-44: 782.500 rupiah

    yang 1juta kemana ya ? dijadikan RBC perusahaan insurancenya kali :-D

    btw, kalo mau brosing BUANYAK yang bisa lebih murah dari perhitungan saya diatas. Cuman perusahaannya yang mungkin agak gak jelas. Hehehehe …

    Jadi case ini gak bisa dibuat contoh perbandingan.
    NEXT !

  170. #197:

    Pria, 35 tahun
    UP Asuransi Jiwa: 100 jt
    UP ADDB : 40 jt
    UP Penyakit Kritis : 50 jt
    Premi Term Life
    35-44 : Rp 1,878,651
    45-54 : Rp 3,205,154

    sepertinya kemahalan. anda yakin ini term life dan bukannya endowment/whole life? kalau memang term life mungkin lebih baik lari ke toko sebelah. tapi menurut saya lebih mungkin ada kesalahan perhitungan.

    kalau boleh saya minta scan ilustrasinya lewat email priyadi(a)priyadi.net, baik untuk term life maupun unit link.

  171. #197

    Saya belum sempet scan untuk yang unit link tapi ini data term lifenya :

    Umur 35-44
    Premi Asuransi Dasar (UP 100 jt) : Rp 352,000
    Premi Asuransi Kecelakaan (UP 40 jt): Rp 81,550
    Premi Penyakit Kritis (UP 40 jt): Rp 1,349,500
    Waiver of Premium utk penyakit Kritis (UP 433,550): Rp 24,279
    Waiver of Premium Cacat Total (UP 1,783,050): Rp 71,322
    TOTAL: Rp 1,878,651

    Umur 45-54
    Premi Asuransi Dasar (UP 100 jt) : Rp 768,000
    Premi Asuransi Kecelakaan (UP 40 jt): Rp 93,200
    Premi Penyakit Kritis (UP 40 jt): Rp 2,074,000
    Waiver of Premium utk penyakit Kritis (UP 861,200): Rp 105,585
    Waiver of Premium Cacat Total (UP 2,935,200): Rp 164,371
    TOTAL: Rp 3,205,154

    Penyakit Kritis yang dicover ada 40 jenis penyakit.

    #200

    Saya sengaja membuat perbandingan pada satu perusahaan yang sama dengan asumsi mereka menggunakan dasar perhitungan yang sama untuk menghitung biaya2 yang dikeluarkan. Jadi apabila term life mereka mahal, sudah pasti biaya unit link mereka juga mahal :)

    Mungkin kita harus mencari term life yang paling murah kemudian dibandingkan dengan unit link yang memberi biaya2 termurah juga. Kemudian kita bikin berbagai macam skenario perbandingan.

    Cheerz

  172. #202:

    Saya sengaja membuat perbandingan pada satu perusahaan yang sama dengan asumsi mereka menggunakan dasar perhitungan yang sama untuk menghitung biaya2 yang dikeluarkan. Jadi apabila term life mereka mahal, sudah pasti biaya unit link mereka juga mahal

    belum tentu. komentar anda adalah buktinya :)

  173. ikutan nimbrung pak,
    masih baru banget kenalan sama yang beginian
    saya ada beberapa pertanyaan:
    1. Tabungan Rencana Mandiri (TRM) itu termasuk unit link bukan?
    saat ini saya ikut program TRM dengan premi Rp. 300rb/bulan sejak juni 2007 karena memang sebelumnya tidak pernah tau apa itu reksadana.
    2. Setelah banyak baca dan cari informasi mengenai reksadana, saya jadi tertarik untuk investasi dibidang ini tapi yang saya masih bingung untuk menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan saya. Saya tertarik dengan produk Mawar danareksa dan RD Manulife dana saham. Tujuan investasi saya adalah untuk jangka panjang >10 tahun. Menurut pak pri sebaiknya saya pilih yang mana?

  174. #205:

    Tabungan Rencana Mandiri (TRM) itu termasuk unit link bukan? saat ini saya ikut program TRM dengan premi Rp. 300rb/bulan sejak juni 2007 karena memang sebelumnya tidak pernah tau apa itu reksadana.

    mirip unit link tapi bukan. bedanya:

    * bunga TRM dijamin, tapi unit link tidak. dalam kondisi normal bunga TRM lebih kecil daripada unit link.
    * perlindungan asuransi jiwa cuma sekadarnya, tidak selengkap di unit link.

    Setelah banyak baca dan cari informasi mengenai reksadana, saya jadi tertarik untuk investasi dibidang ini tapi yang saya masih bingung untuk menentukan produk yang sesuai dengan kebutuhan saya. Saya tertarik dengan produk Mawar danareksa dan RD Manulife dana saham. Tujuan investasi saya adalah untuk jangka panjang > 10 tahun. Menurut pak pri sebaiknya saya pilih yang mana?

    kalau ini yang jelas adalah reksadana saham. tapi kalau untuk rekomendasi produk yang spesifik saya gak tahu.

  175. Saya cuman mo ngajak kita berhitung sendiri. Seandainya dana yang kita investasikan tersebut lewat reksadana dan unit link ternyata tidak ada perkembangan (0%). Sementara itu kita terkena penyakit kritis yang nota bene di unit link kita akan dibayarkan sejumlah premi bulanan sampai usia tertentu (bisa 55 atau 65). Saya rasa jauh lebih menguntungkan di unit link dari pada terpisah, karena di asuransi biasa kita tidak akan dibayarin perbulannya. Kalau pertanggungan yah pasti sama2 keluar (ditanggung) baik di asuransi biasa atau unit link. Gimana frend….

  176. Mas Pri saya suka pencerahannya, dari ulasan, kritik dan saran-saran. Banyak terjadi pencerahan terutama mengenai pengelolaan investasi kita.

    Ada sesuatu yang memang sudah semestinya kita keluarkan karena kita malas dan ada juga yang mestinya tidak harus kita keluarkan karena kemahalan.

    Saya pribadi sudah 4 tahun ikut UL Prudential yang harga unit awalnya Rp.2500 dan sekarang Rp.6200. Preminya 750 rb/bulan x 48 = 36 juta, saya tarik dananya hanya tersisa 13 juta, karena agar tidak lapse saya sisakan 1 juta.

    Terus saya ditawarkan Life jacket dari Sequislife bayar 15 juta 1x bayar langsung dapat term 100 jt selama 75 tahun, UL nya dgn harga 12.000,- saat ini sudah 13.000,- eh saya tergoda dan masukin aja dananya kesana 2 bulan lalu. (Sep-07)

    Pertanyaannya adalah apa saran mas Pri kalau saat ini saya juga ditawarkan Reksadana Schroder Dana Istimewa yang katanya sampai bulan Oktober saja telah memberikan return 70% p.a.

    Apakah saya harus menarik kembali dana UL saya untuk berinvestasi di Reksadana?

    Sebetulnya saya ini orang yang praktis-praktis saja tapi saya juga tidak rela kalau saya harus membayar telalu mahal ongkosnya, apalagi kalau sampai rugi.

    Mohon sarannya mas Pri, terimakasih.

  177. #208:

    Saya cuman mo ngajak kita berhitung sendiri. Seandainya dana yang kita investasikan tersebut lewat reksadana dan unit link ternyata tidak ada perkembangan (0%).

    ini gak realistis, karena ada yang namanya suku bunga tanpa resiko, contohnya adalah deposito berjangka, surat utang negara atau bahkan bunga tabungan bank.

    ini sebenarnya satu lagi alasan untuk tidak ngambil unit link. dengan memisahkan asuransi dan investasi, nasabah bisa dengan mudah mengalihkan dananya ke instrumen investasi tanpa resiko. di unit link, nasabah mau tidak mau tetap harus invest ke pilihan yang disediakan perusahaan asuransi. dan tidak satupun dari pilihan tersebut yang merupakan instrumen investasi tanpa resiko.

  178. #209:

    Terus saya ditawarkan Life jacket dari Sequislife bayar 15 juta 1x bayar langsung dapat term 100 jt selama 75 tahun, UL nya dgn harga 12.000,- saat ini sudah 13.000,- eh saya tergoda dan masukin aja dananya kesana 2 bulan lalu. (Sep-07)

    Pertanyaannya adalah apa saran mas Pri kalau saat ini saya juga ditawarkan Reksadana Schroder Dana Istimewa yang katanya sampai bulan Oktober saja telah memberikan return 70% p.a.

    Apakah saya harus menarik kembali dana UL saya untuk berinvestasi di Reksadana?

    kalau saya sarankan, anda ambil term life. kalau diterima, anda batalkan yang lain, dan hasil redeptionnya anda simpan di reksadana. di masa yang akan datang jangan terlalu mudah tergoda dengan angka2 karena hasil yang sama dapat dengan mudah direplikasikan dengan reksadana.

  179. #210
    ini sebenarnya satu lagi alasan untuk tidak ngambil unit link. dengan memisahkan asuransi dan investasi, nasabah bisa dengan mudah mengalihkan dananya ke instrumen investasi tanpa resiko. di unit link, nasabah mau tidak mau tetap harus invest ke pilihan yang disediakan perusahaan asuransi. dan tidak satupun dari pilihan tersebut yang merupakan instrumen investasi tanpa resiko.
    +++++

    Bukan kah di unit link ada pilihan investasi di pasar uang seperti deposito berjangka dan SBI ataupun surat utang?

    Lagipula tidak ada investasi yang benar2 bebas resiko. suku bunga tanpa resiko pun memiliki resiko lain yaitu (ini saya kutip dari wikipedia)
    “risk of changes in market interest rates, liquidity risk (the risk of being unable to sell the instrument for cash at short notice without significant costs) etc.)”

    Seiring dengan berkembangya dana kelolaan unit link saya rasa pilihan investasi pada unit link akan berkembang.

  180. #212:

    Bukan kah di unit link ada pilihan investasi di pasar uang seperti deposito berjangka dan SBI ataupun surat utang?

    surat utang itu termasuk pendapatan tetap.

    sedangkan pasar uang tidak bisa cuma mengandalkan SBI dan deposito berjangka. kalau begitu mereka akan punya masalah besar pada likuiditas, sedangkan yang dijual oleh dana pasar uang adalah likuiditas.

    Lagipula tidak ada investasi yang benar2 bebas resiko. suku bunga tanpa resiko pun memiliki resiko lain yaitu (ini saya kutip dari wikipedia) “risk of changes in market interest rates, liquidity risk (the risk of being unable to sell the instrument for cash at short notice without significant costs) etc.)”

    betul, tetap ada resiko perubahan suku bunga dan likuiditas (seperti di deposito), tetapi tetap saja TIDAK ADA resiko suku bunga akan drop sampai 0% seperti yang dikatakan komentator sebelumnya. kalaupun itu terjadi, perusahaan asuransi akan mengalami kesulitan untuk membayar klaim dalam bentuk anuitas.

    Seiring dengan berkembangya dana kelolaan unit link saya rasa pilihan investasi pada unit link akan berkembang.

    bisa jadi. tapi kenapa maksa ikutan unit link kalau dengan memisahkan asuransi jiwa dan investasi kita bisa mendapatkan semuanya, pada saat ini juga. saya pribadi melihat sama sekali tidak ada nilai tambah yang diberikan unit link kepada nasabahnya. justru sebaliknya, dengan ikut unit link, nasabah membatasi pilihan yang tersedia untuknya.

  181. Mas Pri, sarannya saya terima, tapi LIFE JACKET-nya bisa ga ya???. dan reksadana yang sekarang sedang oke apa ya Mas?

    Takutnya ke jeblos lagi, gampang tergoda soalnya. Schroder sudah saya cek memang return-nya cukup lumayan, harganya juga ga mahal-mahal amat masih kejangkau 3000-an lah, kalau Manulife harganya udah mahal returnnya kurang lebih sama.

    Kalau sarannya seperti apa nich, dan kalau tujuan saya untuk jangka pendek sebaiknya di instrumen yang mana Mas?

    Tk’s ya.

  182. #214:

    Mas Pri, sarannya saya terima, tapi LIFE JACKET-nya bisa ga ya???. dan reksadana yang sekarang sedang oke apa ya Mas?

    maaf saya gak ada pengalaman dengan produk Life Jacket. tapi kalau anda masih punya ilustrasinya, coba kirim ke alamat email saya, nanti saya coba hitung2. reksadana yang sedang oke gak tahu juga karena tergantung definisi ok masing2 :). coba silakan intip http://portalreksadana.com

    Takutnya ke jeblos lagi, gampang tergoda soalnya. Schroder sudah saya cek memang return-nya cukup lumayan, harganya juga ga mahal-mahal amat masih kejangkau 3000-an lah, kalau Manulife harganya udah mahal returnnya kurang lebih sama.

    harga unit di reksadana ditentukan secara arbitrary dan bukan jaminan mahal atau murah.

    Kalau sarannya seperti apa nich, dan kalau tujuan saya untuk jangka pendek sebaiknya di instrumen yang mana Mas?

    sependek apa dulu? di bawah 1 tahun mungkin bisa ambil reksadana pasar uang. antara 1-3 tahun mungkin bisa ambil reksadana pendapatan tetap.

  183. #216:

    Bbrp waktu lalu sy menemukan forum sejenis yang berargumentasi terbalik. Sy sarankan untuk membaca forum ini, dan komentarnya ada di link bawah ini.

    http://www.kaskus.us/showpost.php?p=22287713&postcount=213

    sebaiknya jangan menanggapi agen asuransi yang emosional seperti itu. urusan finansial perlu ditanggapi dengan perhitungan, bukan dengan emosi. tapi untuk menanggapi point2 yang diberikan oleh agen asuransi tersebut:

    * besarnya proporsi uang pertanggungan kematian yang bisa dialihkan menjadi uang pertanggungan penyakit kritis bisa diubah2. dan jelas tidak semua uang pertanggungan bisa ‘dimakan’ oleh penyakit kritis. pada contoh saya, saya mengambil contoh UP kematian 500 juta dan 250 juta di antaranya bisa untuk UP penyakit kritis. jadi seandainya kena penyakit kritis, kita masih punya UP kematian sebesar 250 juta.
    * kartu yang katanya kartu sakti itu bukan cuma monopoli prudential. manfaat kesehatan bisa diambil secara terpisah dari manfaat asuransi jiwa. contoh saya tidak memasukkan manfaat kesehatan karena saya menganjurkan untuk memisahkan asuransi kesehatan dan jiwa karena kita butuh asuransi kesehatan lebih lama daripada asuransi jiwa.
    * orang itu bilang masuk 100jt di april 2007 bisa jadi 125 juta di november 2007 atau perkembangan sebesar 25% dalam jangka waktu 7 bulan. sebagai perbandingan, pada sebuah produk reksadana, saya bisa mendapatkan return sebesar 85% dalam waktu 12 bulan terakhir.

    semoga membantu.

  184. Frend,

    Saya yakin pengembangan dana di danareksa dan di unit link pasti tdk sama. Karenanya saya kembali melihat institusi atau fund manager yang mengelolanya. Untuk antar asuransi juga tidak sama. Besar kecilnya pertanggungan yg kita dapat tergantung perusahaannya / pengelolanya. Bukan dengan hitung2an seperti yang frend buat. Kalau kita mau buat perbandingan harus mengikuti asumsi/postulat, dan asumsi/postulat itu tergantung penulis atau pencetusnya. Jadi kita tdk bisa membandingkannya seperti aple to aple. Sebagai contoh: Kita naik pesawat pergi dari bumi ke angkasa dengan kecepatan 10 x kecepatan cahaya kemudian kita pulang ke bumi 10 tahun kemudian. Ternyata perhitungan teman2 yang dibumi sudah melewati 10 tahun. Asumsi/postulatnya adalah kalau kita bisa pergi dengan 10 kali kecepatan cahaya. Siapa yang percaya? Pasti banyak yang tidak percaya, tapi menurut hitungannya dalam Fisika modern memang seperti itu. Dibuku pelajaran SMA juga ada.
    Sekarang kalau memang hitungan frend itu benar kenapa AAJI dan BI tidak melarang asuransi unit link?
    Kenapa mereka tidak minta menggantikan asuransi unit link dengan asuransi biasa + danareksa?
    Apakah orang AAJI dan BI itu orang bodoh semua????
    Kalau mau hitung2an ilmu yang ada di wikipedia itu sudah ketinggalan zaman. Rumus yang digunakan cuman sampai pangkat 2 atau 3.
    Menurut saya rumus untuk di asuransi biasa + danareksa berbeda dengan rumus yang harus digunakan di asuransi unit link. Asumsi / postulat tadi harus dimasukkan kedalam hitung2an. Bisa pake integral differensial pangkat 4, 5 atau kalau mungkin sampai pangkat 8.
    Ingat pemenang nobel ekonomi yang baru-baru ini karena keberhasilan mereka membuat model / hukum ekonomi baru yang diangkat dari ketidak pastian? Ketidakpastian itu yang dimasukkan kedalam rumus dan akhirnya menang nobel.

    Kalau frend membuat asumsi / postulat yang tadi saya sebutkan, apapun kesimpulan frend sangat saya hargai.

    Thanx n Rgrds.

  185. #218:

    Sekarang kalau memang hitungan frend itu benar kenapa AAJI dan BI tidak melarang asuransi unit link? Kenapa mereka tidak minta menggantikan asuransi unit link dengan asuransi biasa + danareksa?

    AAJI jelas gak akan melarang unit link karena mereka mewakili kepentingan perusahaan asuransi yang tentunya menginginkan keuntungan sebesar2nya, dan itu bisa mereka peroleh dari unit link, terlepas dari apakah konsumen mendapatkan deal yang bagus atau tidak.

    BI? apa hubungannya dengan BI di sini? yang berhubungan mungkin YLKI atau BMAI.

    Kalau mau hitung2an ilmu yang ada di wikipedia itu sudah ketinggalan zaman. Rumus yang digunakan cuman sampai pangkat 2 atau 3. Menurut saya rumus untuk di asuransi biasa + danareksa berbeda dengan rumus yang harus digunakan di asuransi unit link.

    kalau anda pikir hitungan2 tersebut ketinggalan jaman, tolong anda beri tahu hitung2an yang tidak ketinggalan jaman. gitu aja kok repot :)

    Kalau frend membuat asumsi / postulat yang tadi saya sebutkan, apapun kesimpulan frend sangat saya hargai.

    seluruh asumsi rasanya sudah jelas. kalau ada yang kurang jelas silakan anda tanyakan asumsi mana yang anda ingin ketahui.

  186. seluruh asumsi rasanya sudah jelas. kalau ada yang kurang jelas silakan anda tanyakan asumsi mana yang anda ingin ketahui.

    Ada…beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Dan sampai sekarang Mas Priyadi masih tidak bisa menjawabnya.
    1. Yang diperbandingkan produk Prudential dan produk AT Manulife. Kata agen saya, Prudential memang tidak menjual lagi produk AT. Tapi Manulife juga ada produk Unit Link. Kok Mas Priyadi tidak membuat perbandingan dari perusahaan yang sama (dari Manulife). Apakah ada maksud tertentu?

    2. Kenapa tidak membuat perbandingan dengan manfaat yang sama. Mas Pri bilang di AT tidak ada Payor, maka bisa dibandingkan dengan Waiver saja?

    3. Pada produk Unit link saya, dalam 1 polis saya bisa mendapatkan Crisis Cover Benefit tanpa harus memotong UP meninggal. Apakah ada AT yang menawarkan demikian?

  187. #220:

    1. Yang diperbandingkan produk Prudential dan produk AT Manulife. Kata agen saya, Prudential memang tidak menjual lagi produk AT. Tapi Manulife juga ada produk Unit Link. Kok Mas Priyadi tidak membuat perbandingan dari perusahaan yang sama (dari Manulife). Apakah ada maksud tertentu?

    pertama, asuransi UL yang paling banyak memakan korban di Indonesia adalah Prudential. tentu saja target pertama harusnya asuransi ini, terlepas dia punya produk term atau tidak :). kedua, belum pernah ada yang menawari UL dari manulife ke saya, jadi saya gak bisa membandingkan.

    2. Kenapa tidak membuat perbandingan dengan manfaat yang sama. Mas Pri bilang di AT tidak ada Payor, maka bisa dibandingkan dengan Waiver saja?

    sudah pernah saya buat di sini: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/unitlink-vs-terpisah-2.xls

    3. Pada produk Unit link saya, dalam 1 polis saya bisa mendapatkan Crisis Cover Benefit tanpa harus memotong UP meninggal. Apakah ada AT yang menawarkan demikian?

    saya belum pernah menemukan yang seperti ini. tapi gak sulit untuk direplikasikan: jika diinginkan 300 juta UP jiwa + 200 juta UP CI tanpa memotong jiwa, maka ambillah 500 juta UP jiwa + 200 juta UP CI yang memotong jiwa.

  188. pertama, asuransi UL yang paling banyak memakan korban di Indonesia adalah Prudential. tentu saja target pertama harusnya asuransi ini, terlepas dia punya produk term atau tidak . kedua, belum pernah ada yang menawari UL dari manulife ke saya, jadi saya gak bisa membandingkan.

    Karena belum mengetahui produk Unit Link yang lain, berarti Mas Priyadi masih belum bisa membandingkan apple to apple. Apel malang gak bisa dibandingkan dengan apel fuji, seharusnya bandingkan sesama apel tapi dari kebun yang berbeda.

    Apakah Mas Priyadi tau kenapa Prudential menguasai pasar Unit Link di Indonesia dan beberapa negara asia lainnya?
    Agen saya bilang karena produk Prudential adalah no 1. Saya menganggap omongan itu bullshit.

    Jika hanya melihat produk, maka saya akan pilih produk Unit Link dari asuransi lain. Tapi saya memilih Prudential karena kepercayaan. Unit link erat kaitannya dengan investasi. Jika membicarakan investasi, tentu saya memilih perusahaan yang terpercaya.

    Jika Mas Priyadi bilang banyak korban dikarenakan Prudential, berarti lebih banyak korban lagi dari BCA. Di BCA, selain suku bunga yang kecil, biaya administrasinya termasuk tinggi. Tapi tetap aja banyak orang buka rekening di BCA.

    Menurut saya korban itu bukan disebabkan oleh perusahaan bersangkutan, melainkan ada faktor pihak ketiga. Misalnya kondisi yang menyebabkan nasabah terpaksa surrender, atau surrender yang dipengaruhi oleh pihak lain.

    sudah pernah saya buat di sini: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/unitlink-vs-terpisah-2.xls

    Pada ilustrasi tersebut, gimana kalau kondisinya nasabah menderita sakit kritis di tahun ke-2. Siapa yang akan melanjutkan setoran untuk investasinya?

    Pada unit link, setoran untuk waiver juga bisa dimasukan ke nilai tunai. Karena pada dasarnya Unit Link adalah asuransi + investasi.

    saya belum pernah menemukan yang seperti ini. tapi gak sulit untuk direplikasikan: jika diinginkan 300 juta UP jiwa + 200 juta UP CI tanpa memotong jiwa, maka ambillah 500 juta UP jiwa + 200 juta UP CI yang memotong jiwa.

    Gak masalah kalau hal ini merupakan keterbatasan Mas Priyadi.
    Tapi saya bisa menginformasikan bahwa ambil UP 300jt jiwa + UP 200jt CI terpisah, biaya asuransinya lebih murah daripada ambil UP 500jt + 200jt CI yg memotong jiwa.

    Selain lebih murah, juga praktis karena sudah dikemas dalam paket 1 polis, termasuk juga manfaat kesehatan. Setau saya di Term Life harus ambil terpisah jika menginginkan proteksi yang demikian, dan juga menjadi jauh lebih mahal.

  189. Sorry buat rekan-rekan asuransi jiwa yang membaca blog ini, postingan terakhir malah jadi promosi. Padahal saya bukan karyawan ataupun agen Prudential.

    Hanya sekedar sharing pendapat doank, karena kebetulan saya lebih percaya pada Prudential. Tentu masing-masing orang punya faktor kepercayaan yg berbeda thd suatu perusahaan.

  190. Mas Priyadi,

    Ada beberapa hal yg saya mau mengenai data yg mas gunakan sebagai pembanding.

    Pada ilustrasi pertama anda menggunakan asumsi premi 9 juta pertahun untuk UP 500 jt dgn critical illness 250 jt plus ada payor dan waiver premium. pada asumsi kedua anda menggunakan premi 12 juta/tahun utk nilai UP jiwa dan critical ilness yang sama. Faktor umur dan lainnya sama.

    Yang jadi pertanyaan:

    Komposisi/perbandingan antara premi asuransi berkala dengan premi investasi berkala pada masing2 ilustrasi yg anda gunakan. Karena hal ini berkaitan dengan nilai tunai yg akan didapat.

    Pada ilustrasi unit link dengan premi 9 juta nilai tunai yg terbentuk adalah Rp 1,223,000. Melihat ini asumsi saya adalah komposisi premi yang dibayarkan adalah sekitar Rp 8 juta untuk premi asuransi berkala dan 1 juta untuk premi investasi berkala.

    Pada ilustrasi unit link kedua (http:schtuff.priyadi…) dengan premi 12 juta, nilai tunai yang terbentuk adalah Rp 1,756,000. Melihat ini asumsi saya adalah komposisi premi yg dibayarkan adalah sekitar 10 juta ke premi asuransi berkala dan 2 juta ke premi investasi berkala.

    Secara logika bila untuk mendapatkan UP jiwa sebesar 500 jt dan CI 250 jt cukup dengan membayarkan premi asuransi berkala 8 juta (ilustrasi unit link pertama) maka seharusnya bila kita meningkatkan jumlah pembayaran premi menjadi 12 juta pertahun maka seharusnya komposisi premi yg dibayarkan adalah 8 juta untuk premi asuransi berkala dan yg 4 juta ke premi investasi. Tidak ada gunanya kita menambah porsi premi asuransi berkala bila UP yg kita ambil sama. Lebih baik penambahan sebesar 3 juta itu dialokasikan ke premi investasi berkala. Jadi seharusnya pada ilustrasi kedua pada tahun pertama nilai tunai yg terbentuk bisa mencapai Rp 4 juta lebih.

    Saya mohon tanggapan mas priyadi.

  191. #222:

    Karena belum mengetahui produk Unit Link yang lain, berarti Mas Priyadi masih belum bisa membandingkan apple to apple. Apel malang gak bisa dibandingkan dengan apel fuji, seharusnya bandingkan sesama apel tapi dari kebun yang berbeda.

    silakan anda kirim ilustrasinya ke saya. nanti saya buatkan perbandingannya.

    Jika Mas Priyadi bilang banyak korban dikarenakan Prudential, berarti lebih banyak korban lagi dari BCA. Di BCA, selain suku bunga yang kecil, biaya administrasinya termasuk tinggi. Tapi tetap aja banyak orang buka rekening di BCA.

    nasabah BCA tahu kalau dia punya opsi untuk ikutan deposito dengan bunga yang lebih tinggi lagi. dan deposito juga ditawarkan oleh BCA. kalau mau, nasabah juga punya pilihan untuk ikut produk dari bank lain dan antar produk yang berbeda tidak sulit bagi nasabah untuk melakukan perbandingan.

    di prudential apakah nasabah pernah ditawarkan BTAID? dan apakah bahkan punya produk term? :). selain itu tidak mungkin bagi nasabah untuk membandingkan satu produk unit link dengan produk lain dari perusahaan lain.

    Menurut saya korban itu bukan disebabkan oleh perusahaan bersangkutan, melainkan ada faktor pihak ketiga. Misalnya kondisi yang menyebabkan nasabah terpaksa surrender, atau surrender yang dipengaruhi oleh pihak lain.

    korban itu misalnya yang terkesima dengan angka2 di ilustrasi, dan dia gak tahu kalau dia punya opsi untuk mendapatkan realisasi yang jauh lebih tinggi lagi (potential loss of capital gain).

    Pada ilustrasi tersebut, gimana kalau kondisinya nasabah menderita sakit kritis di tahun ke-2. Siapa yang akan melanjutkan setoran untuk investasinya?

    Pada unit link, setoran untuk waiver juga bisa dimasukan ke nilai tunai. Karena pada dasarnya Unit Link adalah asuransi + investasi.

    no problem. silakan dihitung dengan rumus present value of an annuity kalau diinginkan manfaat tersebut.

    Gak masalah kalau hal ini merupakan keterbatasan Mas Priyadi. Tapi saya bisa menginformasikan bahwa ambil UP 300jt jiwa + UP 200jt CI terpisah, biaya asuransinya lebih murah daripada ambil UP 500jt + 200jt CI yg memotong jiwa.

    Selain lebih murah, juga praktis karena sudah dikemas dalam paket 1 polis, termasuk juga manfaat kesehatan. Setau saya di Term Life harus ambil terpisah jika menginginkan proteksi yang demikian, dan juga menjadi jauh lebih mahal.

    boleh saja anda berpendapat begitu. tapi mana hitung2annya? :)

  192. #224:

    Komposisi/perbandingan antara premi asuransi berkala dengan premi investasi berkala pada masing2 ilustrasi yg anda gunakan. Karena hal ini berkaitan dengan nilai tunai yg akan didapat.

    yang membuatkan ilustrasi bukan saya. yang pertama yang buat adalah agen kenalan saya. sedangkan yang kedua yang buat adalah seseorang yang email saya. ilustrasinya ada di sini:

    yang pertama: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/mns30.pdf
    yang kedua: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/pru30.pdf

    Secara logika bila untuk mendapatkan UP jiwa sebesar 500 jt dan CI 250 jt cukup dengan membayarkan premi asuransi berkala 8 juta (ilustrasi unit link pertama) maka seharusnya bila kita meningkatkan jumlah pembayaran premi menjadi 12 juta pertahun maka seharusnya komposisi premi yg dibayarkan adalah 8 juta untuk premi asuransi berkala dan yg 4 juta ke premi investasi. Tidak ada gunanya kita menambah porsi premi asuransi berkala bila UP yg kita ambil sama. Lebih baik penambahan sebesar 3 juta itu dialokasikan ke premi investasi berkala. Jadi seharusnya pada ilustrasi kedua pada tahun pertama nilai tunai yg terbentuk bisa mencapai Rp 4 juta lebih.

    di ilustrasi pertama kalau gak salah semua ‘premi unapplied’ semuanya dikonversi jadi PRUsaver. ilustrasi kedua saya gak tahu karena saya gak lihat proses pembuatannya.

    dalam eksperimen saya, gak terlalu ada bedanya uang masuk porsi asuransi atau PRUsaver karena kalau ada sisa, tetap akan masuk asuransi. silakan coba nolkan premi unapplied dengan cara menurunkan setoran bulanan (bukan dengan mengkonversinya menjadi PRUsaver), pasti grafik nilai tunainya tetap naik.

    bedanya cuma satu: kalau masuk premi asuransi kena biaya akuisisi yang 205% untuk 5 tahun pertama. kalau masuk PRUsaver kena biaya akuisisi yang 5%/setoran. dalam long term memang lebih menguntungkan sebanyak mungkin masuk PRUsaver.

  193. Pak, itu yang file excel bukannya setoran per tahun ya?
    Sheet asumsi – A3

    Nice spreadsheet … coba2 simulasi ah ….

  194. #227: ilustrasi unit linknya tetap dihitung per tahun, bukan per bulan, walaupun inputnya dibuat per bulan. jadi dalam ilustrasi tandingan saya pakai per tahun juga.

  195. #226

    Kalo saya lihat ke 2 ilustrasi tersebut saya lihat pada ilustrasi ke-2 agen sengaja membesarkan porsi asurasnsi untuk mendapatkan komisi yg lebih besar. Karena bila dilihat pada ilustrasi pertama premi asuransi yg dibutuhkan untuk mendapatkan UP sebesar 500 jt + Ci 250 jt + WP 7,9 jt adalah Rp 7,9 juta. Sedangkan Pada ilustrasi kedua dgn UP yang sama (perbedaan hanya pada UP untuk WP, yang saya percaya tidak terlalu besar perbedaannya premi yg harus dbayarkan) dibutuhkan premi asuransi sebsesar 10,420,000. Berarti ada selisih sekitar 2.5 juta. Selisih ini sebenarnya bisa dialokasikan ke prusaver yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai tunai nasabah.

  196. #229: saya sudah minta agen saya untuk buatkan dengan pesanan khusus ‘premi unapplied’ sebisa mungkin dieliminasi. ternyata hanya beda sekitar Rp 1000/bulan dari penawaran yang saya terima.

  197. nasabah BCA tahu kalau dia punya opsi untuk ikutan deposito dengan bunga yang lebih tinggi lagi. dan deposito juga ditawarkan oleh BCA. kalau mau, nasabah juga punya pilihan untuk ikut produk dari bank lain dan antar produk yang berbeda tidak sulit bagi nasabah untuk melakukan perbandingan.

    di prudential apakah nasabah pernah ditawarkan BTAID? dan apakah bahkan punya produk term? . selain itu tidak mungkin bagi nasabah untuk membandingkan satu produk unit link dengan produk lain dari perusahaan lain.

    Kenapa Anda bisa bilang tidak mungkin nasabah membandingkan satu produk unit link dengan produk lain dari perusahaan lain. Bukankah produk Unit Link juga gitu-gitu saja, asuransi jiwa + investasi.

    Lagipula Mas Priyadi sendiri juga sudah melakukan perbandingannya. Jadi yang keliru itu perbandingan yang dilakukan oleh Mas Pri atau gimana?

    korban itu misalnya yang terkesima dengan angka2 di ilustrasi, dan dia gak tahu kalau dia punya opsi untuk mendapatkan realisasi yang jauh lebih tinggi lagi (potential loss of capital gain).

    Berarti orang-orang yang nabung di BCA juga disebut korban donk. Karena ternyata ada bank lain yang menawarkan suku bunga lebih tinggi dan biaya administrasi yang lebih rendah.

    Kemudian perihal waiver….
    Pada Unit Link di ilustrasi Mas Priyadi, apabila nasabah menderita sakit kritis, maka otomatis nasabah akan disetorkan 10 jt/tahun sampai berusia 75 tahun.

    Misalnya nasabah sakit jantung di usia 33. Lalu operasi bypass jantung, dan sembuh. Maka nasabah akan disetorkan 10 jt/tahun selama 42 tahun. Artinya nasabah akan disetorkan 420 juta ke investasinya, dengan dipotong biaya akuisisi.

    Jika nasabah tersebut masih bisa bekerja, maka dia tinggal setorkan saja 12 juta pertahun ke top-up PRUSaver. Dengan kata lain, nasabah menyetorkan kurang lebih 20 juta/tahun ke investasinya.

    Sedangkan pada produk term life, nasabah hanya disetorkan sejumlah premi yang dibayar. Sedangkan sisi investasi nasabah masih harus setor sendiri 10 juta/tahun. Dengan kata lain nasabah hanya setor 10 juta/tahun ke investasi.

    Tentu saja Mas Priyadi bisa menghitung sendiri, nilai tunai mana yang lebih besar. Setoran 20 jt/tahun atau setoran 10 jt/tahun.

    Jadi silahkan saja pilih yang murah, tapi manfaat juga kecil.

    UP Critical Illness Terpisah
    Kebetulan saya pernah minta dibuatkan ilustrasi perbandingan jika ambil UP sakit kritis terpisah, dan ambil UP sakit kritis yang memotong UP meninggal.

    Waktu itu saya usia 27 tahun, untuk ultah berikutnya.
    * UP meninggal : 250 juta (150 juta, kalau CI terpisah)
    * UP sakit kritis : 100 juta

    Seingat saya, ambil terpisah memang lebih murah biaya asuransinya. Untuk konfirmasi masalah ini saya harus obrak abrik dulu dokumen di rumah.

    Kalau tidak percaya, silahkan Mas Priyadi tanyakan pada agen unit link kenalan Mas yang kirimkan ilustrasi. Bandingkan jika ambil UP meninggal 250 juta dan UP sakit kritis terpisah 250 juta.

    Hasil investasinya juga akan jauh lebih besar kalau ambil yang terpisah dengan perbandingan 50:50. Maka dari itu saya ambil yang terpisah.

  198. #231:

    Kenapa Anda bisa bilang tidak mungkin nasabah membandingkan satu produk unit link dengan produk lain dari perusahaan lain. Bukankah produk Unit Link juga gitu-gitu saja, asuransi jiwa + investasi.

    untuk membandingkan satu produk unit link dengan unit link lainnya, kita perlu pertama mengetahui biaya asuransi dari tahun ke tahun. biasanya agen pun gak tahu angkanya, mereka bisanya cuma input data dan print. dan biasanya gak tahu darimana angka2 yang ada di ilustrasi bisa diperoleh.

    kedua, kita menyamakan asumsi pertumbuhan investasi. contohnya, prudential pakai asumsi 5% 12% 17%, sedangkan sequislife pakai asumsi 5% dan 20% kalau gak salah. angka ini harus disamakan dulu dan ini hanya bisa dilakukan kalau kita bisa mengetahui darimana angka2 yang ada di ilustrasi bisa diperoleh.

    Lagipula Mas Priyadi sendiri juga sudah melakukan perbandingannya. Jadi yang keliru itu perbandingan yang dilakukan oleh Mas Pri atau gimana?

    saya membandingkan unit link dengan term life + reksadana, bukan unit link dengan unit link. big difference! saya tinggal menyamakan asumsi perhitungan term life+reksadana sesuai dengan asumsi ilustrasi yang ada di unit link.

    Berarti orang-orang yang nabung di BCA juga disebut korban donk. Karena ternyata ada bank lain yang menawarkan suku bunga lebih tinggi dan biaya administrasi yang lebih rendah.

    BCA dan bank2 lain gak pernah berusaha menyembunyikan besaran bunganya. bedakan ini dengan unit link. orang2 tidak pernah diberi tahu potential loss of capital gain, dan hanya sedikit yang bisa menghitungnya.

    Misalnya nasabah sakit jantung di usia 33. Lalu operasi bypass jantung, dan sembuh. Maka nasabah akan disetorkan 10 jt/tahun selama 42 tahun. Artinya nasabah akan disetorkan 420 juta ke investasinya, dengan dipotong biaya akuisisi.

    anda kembali melupakan time value of money. ini kesalahan fatal bagi penasihat finansial manapun. 10 juta/tahun selama 42 tahun itu cuma setara dengan Rp 174 juta di awal term dengan asumsi perkembangan investasi 5%. dan sayangnya bukan 420 juta, hehehe :).

    mau tahu apa yang dilakukan perusahaan asuransi untuk memberikan perlindungan tersebut? mereka akan mengasuransikan nasabah untuk penyakit kritis dengan UP 174 juta. jika ada kejadian, mereka simpan hasil klaimnya di sebuah instrumen investasi dan kemudian baru menyetorkan uangnya kepada nasabah sebesar Rp 10 juta/tahun selama 42 tahun. jika perkembangan investasi 5%, maka uangnya tidak akan habis sampai 42 tahun :). dan jika realisasi perkembangan investasi di atas 5% mereka akan untung besar :). dan ini masih belum memperhitungkan life expectancy yang jauh berkurang setelah seseorang mengidap penyakit kritis.

    semuanya dapat dengan mudah direplikasikan di term life. cukup tambahkan Rp 174 juta ke UP penyakit kritis. kalau ada kejadian, setorkan sebagian hasil klaim sebesar Rp 174 juta ke instrumen investasi. praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja :).

    Seingat saya, ambil terpisah memang lebih murah biaya asuransinya. Untuk konfirmasi masalah ini saya harus obrak abrik dulu dokumen di rumah.

    jelas lebih murah karena manfaatnya pun lebih kecil. contoh soal:

    UP kematian 250 juta, UP kritis 250 juta yang diambil terpisah:

    * meninggal setelah sakit kritis: mendapat 500 juta.
    * meninggal karena ditabrak bus: mendapat 250 juta.

    UP kematian 500 juta, UP kritis 250 juta yang makan UP kematian:

    * meninggal setelah sakit kritis: mendapat 500 juta.
    * meninggal karena ditabrak bus: mendapat 500 juta.

  199. #230

    Apakah yang mas pri maksud dengan “premi unapplied” adalah premi asuransi berkala yang tidak disetor kan ke investasi? kalo iya itu tidak mungkin dieliminasi. Karena selama 5 tahun di setiap produk unit link pasti akan ada premi unapplied. Katakanlah di Prudential premi unapplied selama 5 tahun pertama sebesar 41% dari total premi asuransi berkala (bukan 41% dari total premi yang dibayar. Dalam unit link ada 2 alokasi premi yaitu untuk asuransi dan investasi).

    Yang saya maksud dengan tulisan saya # 229 adalah perbedaan komposisi antara premi asuransi berkala dengan premi investasi/prusaver akan berpengaruh terhadap jumlah dana yang diinvestasikan terutama dalam 5 tahun pertama.

    Sebagai gambaran kasar :
    Berdasarkan ilustrasi pertama premi asuransi berkala yang dibutuhkan untuk mendapatkan UP 500jt + CI 250 jt + Waiver premium = Rp 7,9 jt. Seandainya nasabah memiliki dana sebesar 12 jt/tahunnya (ilustrasi ke 2)maka komposisi antara premi asuransi berkala dan premi investasi/pru saver yang bisa dia peroleh adalah :
    Premi Asuransi Berkala : Rp 7.9
    Premi Pru Saver : Rp 4.1
    dengan komposisi ini maka dalam 5 tahun pertama dana yang diinvestasikan adalah (kurang lebih) :
    (7.9 x 5)*59% = Rp 23,305,000.00 dari premi asuransi berkala ditambah Rp 20,500,000.00 dari prusaver. Jadi total dana yang diinvestasi = Rp 43, 805,000

    Bandingkan dengan komposisi pada ilustrasi ke2:
    Premi asuransi berkala : Rp 10,419,996.00
    Pru Saver : Rp 1,580,004.00
    Dengan komposisi seperti ini maka total dana yang diinvestasi adalah:
    (10,419,996×5)%59%= Rp 30,738,988.20 (Premi asuransi berkala) ditambah Rp 7,900,020.00 dari prusaver. Total Dana Investasi: Rp 38,639,008.20.

    Bayangkan ada selisih dana sebesar Rp 5,165,991.80 antara illustrasi ke 2 dengan komposisi yg saya buat.

    Sebenarnya dengan total premi 12jt/tahun untuk mendapatkan UP 500 jt dan CI 250 jt alokasi dana pada premi asuransi berkala tidaklah harus Sebesar Rp 10,419,996 sebagaimana yg tertera di ilustrasi ke2. Tapi cukup dengan Rp 7.9 juta (ilustrasi I) dan sisa Rp 4.1 jutanya dialokasi kan ke Pru Saver. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil investasi nasabah.

    Bagaimana mas pri…kira2 apa yg saya ungkapkan disini cukup jelas atau malah bikin bingung :)

  200. hi….guys…
    gua punya ilustrasi unit link yg lebih menguntungkan dari reksadana+termlife yg priyadi bikin pake exel itu…
    cuman karena gua gaptek, gimana caranya gua masukin ke dialog forum ini..
    tampaknya priyadi gemar serang prudential ya??
    gua ada bukti yg bsa memperlihatkan unit link mereka lebih unggul dari term+reksadana priyadi…
    dan saya rasa asuransi seperti AIG,Allianz, Manulife, dll unit linknya juga lebih unggul darianda punya..
    format ilustrasinya PDF..ada yg bisa bantu gmana caranya masuin ke forum ini??

  201. #233:

    Bagaimana mas pri…kira2 apa yg saya ungkapkan disini cukup jelas atau malah bikin bingung

    hmm, supaya lebih mudah gimana kalau anda buatkan saja ilustrasinya kemudian kirim ke email saya di priyadi(a)priyadi.net. nanti akan saya hitung2 di sini.

  202. #234:

    gua punya ilustrasi unit link yg lebih menguntungkan dari reksadana+termlife yg priyadi bikin pake exel itu… cuman karena gua gaptek, gimana caranya gua masukin ke dialog forum ini.. tampaknya priyadi gemar serang prudential ya?? gua ada bukti yg bsa memperlihatkan unit link mereka lebih unggul dari term+reksadana priyadi…

    ini blog saya, cuma saya yang bisa upload. coba kirim ilustrasinya ke email saya, nanti saya buatkan perbandingannya.

  203. Mas2 dan mba2 semua,salam kenal sebelumnya

    Saya 26th, baru aja ikut investra premi berkala nya Commlife(dulu astra) sudah berjalan 6 bulan @350(250/bln premi asuransi,100/bln premi investasi)dgn jangka waktu pembayaran 10 thn,dgn manfaat UP 500jt.Dan yah,perhitungan kontraknya sampai usia 99.
    Setelah 10 thn pembayaran disebutkan saya tidak perlu membayar menyetor apa2 lagi.

    Oh iya kebetulan saya terkena biaya tambahan saya lupa besarannya sebagai akibat resiko bidang pekerjaan saya di Bangunan Tinggi.
    Dan saya baru liat di webnya commlife baru meluncurkan produk payor/rider karena memang diawal belum ada.

    Setelah,baca2 memang jadi timbul keraguan akan pilihan saya ini.
    Pertama ingin saya tanyakan,sebenarnya kontrak unitlink biasanya seperti apa?
    dalam kasus saya Setelah 10 thn itu sebenarnya apa yang terjadi dgn dana sayaitu?
    Lalu misalnya saya berganti pekerjaan dan tidak ada lagi resiko bekerja di tmpat tinggi,apakah bisa dibatalkan tambahan premi itu?
    Dengan baru munculnya produk payor di commlife apakah saya otomatis disertakan?ato saya mesti mendaftar lagi?

    Saya sengaja membawa ini ke forum agar ada perbandingan ketika saya nanti konfirmasi ke agen saya.Mohon pencerahannya soal ini,siapa tau ada yang punya pengalaman.Karena memang pada awal ikut saya cuman mikir pengen punya perlindungan tambahan diluar yang sudah dijaminkan perusahaan.Jadi yah mungkin ada unsur gampang tergoda juga.

    Terima kasih sebelumnya,maaf jika terlalu panjang.

  204. #237:

    Pertama ingin saya tanyakan,sebenarnya kontrak unitlink biasanya seperti apa?

    ini bisa dilihat di polis anda.

    dalam kasus saya Setelah 10 thn itu sebenarnya apa yang terjadi dgn dana sayaitu?

    biaya asuransi akan memotong investasi anda.

    Lalu misalnya saya berganti pekerjaan dan tidak ada lagi resiko bekerja di tmpat tinggi,apakah bisa dibatalkan tambahan premi itu?

    ini harus ditanyakan ke agen anda. atau mungkin bisa baca2 di polis anda.

    Dengan baru munculnya produk payor di commlife apakah saya otomatis disertakan?ato saya mesti mendaftar lagi?

    kemungkinan besar tidak. karena premi yang harus anda bayarkan akan lebih besar.

  205. Halo Pak Priyadi,

    Tolong tanya untuk asuransi term life itu apakah kalau tertanggung pernah klaim untuk sakit kritis maka pihak asuransi berhak untuk memberhentikan perlindungan setelahnya.

    Misalnya kasusnya sama dengan ilustrasi unitlink vs terpisah milik Pak Priyadi. Apabila tertanggung pada umur 35 kena sakit jantung dan harus operasi bypass dan pihak asuransi sudah membayarkan UP sakit kritisnya (Rp. 250 juta), apakah pihak asuransi berhak untuk menolak meneruskan perlindungan untuk tahun-tahun berikutnya? Atau dengan kata lain, apakah berarti sisa Rp. 250 juta (UP meninggal – UP sakit kritis) akan hilang begitu saja?

    Terima kasih banyak untuk informasinya ya Pak Priyadi.

  206. untuk membandingkan satu produk unit link dengan unit link lainnya, kita perlu pertama mengetahui biaya asuransi dari tahun ke tahun. biasanya agen pun gak tahu angkanya, mereka bisanya cuma input data dan print. dan biasanya gak tahu darimana angka2 yang ada di ilustrasi bisa diperoleh.

    Kalau ini tergantung agennya Mas, dia bersedia membikinkan tabel biaya asuransi untuk Anda atau tidak.
    Kalau ngomong soal biaya asuransi, Mas Priyadi juga tidak mengetahui besaran biaya asuransi sebenarnya pada Term Life. Mas Priyadi hanya diinformasikan mengenai premi yang dibayarkan.

    Ada perbedaan besar antara istilah premi asuransi dengan biaya asuransi. Rasanya Mas Priyadi bisa googling sendiri untuk cari tau.

    kedua, kita menyamakan asumsi pertumbuhan investasi. contohnya, prudential pakai asumsi 5% 12% 17%, sedangkan sequislife pakai asumsi 5% dan 20% kalau gak salah. angka ini harus disamakan dulu dan ini hanya bisa dilakukan kalau kita bisa mengetahui darimana angka2 yang ada di ilustrasi bisa diperoleh.

    Mas…untuk hal ini saya perlu informasikan 1 hal penting. Asumsi itu hanya dipergunakan untuk memudahkan perhitungan ilustrasi, bukan hasil yang sebenarnya.

    Yang penting Mas Priyadi bisa mengerti bahwa dalam asuransi Unit Link ada yang namanya biaya akuisisi, biaya asuransi, biaya administrasi, dan investasi thd nilai tunai.

    Jika dengan asumsi besaran investasi rendah, maka nilai tunai akan tergerus perlahan-lahan oleh berbagai pemotongan biaya. Tapi dengan hasil tinggi, nilai tunai bisa berkembang, dan sewaktu-waktu bisa dicairkan jika ingin mengakhiri masa pertanggungan.

    Saran saya, jangan terlalu terpengaruh oleh bujuk rayu agen Unit Link yang sering mengatakan premi yang sudah disetorkan akan dikembalian + hasil investasi sekian pada tahun tertentu. Mas Priyadi tidak usah terlalu perduli akan investasinya, yang penting manfaat asuransinya itu. Anggaplah investasi sebagai nilai tambah dari produk itu, karena premi yang kita setorkan tidak hangus begitu saja seperti di Term Life.

    BCA dan bank2 lain gak pernah berusaha menyembunyikan besaran bunganya. bedakan ini dengan unit link. orang2 tidak pernah diberi tahu potential loss of capital gain, dan hanya sedikit yang bisa menghitungnya.

    Saya pikir di Unit Link manapun, besaran hasil investasi sangat transparant. Ada berapa produk Unit Link yang sudah dipelajari oleh Mas Priyadi?
    Mungkin Mas Priyadi bisa sedikit menceritakan produk unit link yang menyembunyikan besaran hasil investasinya.

    Mengenai potensial loss of capital, di Bank juga sama. Jika bunga bank lebih kecil daripada biaya administrasi, maka lama-kelamaan uang akan tergerus habis. Dan tidak ada yang Bank menceritakan hal ini sama sekali.

    semuanya dapat dengan mudah direplikasikan di term life. cukup tambahkan Rp 174 juta ke UP penyakit kritis. kalau ada kejadian, setorkan sebagian hasil klaim sebesar Rp 174 juta ke instrumen investasi. praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja

    Mas Priyadi seharusnya tau, bahwa di Unit Link juga bisa dilakukan hal demikian. Tambahkan saja 174 juta ke UP sakit kritis.

  207. UP kematian 250 juta, UP kritis 250 juta yang diambil terpisah:

    * meninggal setelah sakit kritis: mendapat 500 juta.
    * meninggal karena ditabrak bus: mendapat 250 juta.

    UP kematian 500 juta, UP kritis 250 juta yang makan UP kematian:

    * meninggal setelah sakit kritis: mendapat 500 juta.
    * meninggal karena ditabrak bus: mendapat 500 juta.

    Kalau masalah ini tergantung usia.
    Jika meninggal ditabrak bus, setelah berakhirnya masa pertanggungan sakit kritis memang hanya dapat 250 juta.

    Tapi jika meninggal ditabrak bus, sebelum berakhirnya masa pertanggungan sakit kritis, maka UP yang akan dibayarkan 500 juta.

  208. #239:

    Tolong tanya untuk asuransi term life itu apakah kalau tertanggung pernah klaim untuk sakit kritis maka pihak asuransi berhak untuk memberhentikan perlindungan setelahnya.

    tidak. karena ada yang namanya guaranteed renewability. tapi sebelum terima polis, ada baiknya cek dulu apakah memang pasalnya memang tertera hitam di atas putih di polisnya.

  209. #240:

    Kalau ini tergantung agennya Mas, dia bersedia membikinkan tabel biaya asuransi untuk Anda atau tidak.

    kalau anda bisa mengetahui tabel biaya asuransi di unit link, saya mau tahu. silakan email saya atau buat komentar baru di sini. selama ini berhubungan dengan beberapa agen, belum ada yang bisa kasih tahu angka2nya.

    Kalau ngomong soal biaya asuransi, Mas Priyadi juga tidak mengetahui besaran biaya asuransi sebenarnya pada Term Life. Mas Priyadi hanya diinformasikan mengenai premi yang dibayarkan.

    no problem. sebagai konsumen saya bisa dengan mudah mencari deal yang terbaik karena tidak sulit untuk membandingkan satu produk term dengan produk term lainnya. kurang lebih sama kalau saya beli jeruk di pasar, saya gak perlu ngitung2 berapa ongkos produksinya.

    jauh berbeda dengan unit link :)

    Mas…untuk hal ini saya perlu informasikan 1 hal penting. Asumsi itu hanya dipergunakan untuk memudahkan perhitungan ilustrasi, bukan hasil yang sebenarnya.

    betul. tapi kalau saya mau membandingkan satu produk unit link dengan produk unit link lain tetap saja saya harus menyamakan asumsi ini. kalau pakai asumsi yang berbeda ya gak bisa dibandingkan :)

    Mas Priyadi tidak usah terlalu perduli akan investasinya, yang penting manfaat asuransinya itu. Anggaplah investasi sebagai nilai tambah dari produk itu, karena premi yang kita setorkan tidak hangus begitu saja seperti di Term Life.

    sudah berkali2 saya katakan kalau hangus vs tidak hangus itu cuma hoax :). kalau time value of money diperhitungkan, maka semuanya juga hangus. kalau tidak hangus gimana caranya mereka bayar klaim dan bayar karyawannya? :)

    Saya pikir di Unit Link manapun, besaran hasil investasi sangat transparant. Ada berapa produk Unit Link yang sudah dipelajari oleh Mas Priyadi?

    ada 4-5 produk. semuanya tidak transparan. kalau transparan mereka akan memberi tahu harga mereka, dan bukannya menyembunyikannya dalam selubung investasi.

    silakan anda beri tahu saya kalau ada unit link yang memberi tahu besaran biaya asuransi di ilustrasinya. ini bukan cuma tahun pertama saja lho ya, tapi juga tahun2 berikutnya.

    Mas Priyadi seharusnya tau, bahwa di Unit Link juga bisa dilakukan hal demikian. Tambahkan saja 174 juta ke UP sakit kritis.

    betul bisa saja. kenapa tidak? anda bisa saja hapus waiver/payor, dan kemudian mengkonversikannya dalam bentuk lump sum present value.

    tapi sayangnya anda ngelantur :). perhitungan tersebut saya lakukan hanya untuk menanggapi klaim anda kalau “unit link lebih bagus karena ada payor dan di term tidak ada payor”. secara teknis memang benar, tapi bukan berarti manfaat yang sepadan tidak bisa diperoleh di term life :).

  210. Halo Pak Priyadi,

    Saya telah men-download file Excel Bapak (“unitlink-vs-terpisah”) dan mencoba mempelajarinya. Terima kasih banyak untuk file yang sangat bermanfaat ini.

    Pak, saya mau tolong tanya 1 hal yang saya bingung mengenai file tersebut. Di dalam tersebut, di worksheet “Asumsi”, diasumsikan bahwa Biaya pengelolaan per tahun adalah 0% karena perkembangan investasi pada ilustrasi unit link sudah bersih termasuk biaya pengelolaan.

    Apakah bukannya malah asumsi biaya pengelolaan reksadana per tahun seharusnya malah tidak boleh 0% karena kalau tidak maka perbandingannya akan tidak fair karena di ilustrasi unit link sudah bersih sedangkan di ilustrasi term life+reksadana terpisah masih bruto (belum dikurangi dengan biaya pengelolaan per tahun, yang besarnya pada umumnya sekitar 1% – 2% per tahun)?

    Terima kasih banyak ya Pak Priyadi untuk penjelasannya.

    Best regards,

    Thomas

  211. Mas Priyadi…thanks berat untuk pencerahaannya…aku juga sering browsing di http://www.tujuanloapa.com…sebuat website tentang financial planning …di anjurkan juga untuk memilih reksa dana ketimbang unit link…aku emang selalu menyukai reksa dana…lebih jelas dan pro dan kontranya juga kita bisa manage sendiri serta potongan2nya juga jelas ada di prospektus reksadana tersebut….Go for reksa dana….that is all i want to say….

  212. #244:

    Pak, saya mau tolong tanya 1 hal yang saya bingung mengenai file tersebut. Di dalam tersebut, di worksheet “Asumsi”, diasumsikan bahwa Biaya pengelolaan per tahun adalah 0% karena perkembangan investasi pada ilustrasi unit link sudah bersih termasuk biaya pengelolaan.

    Apakah bukannya malah asumsi biaya pengelolaan reksadana per tahun seharusnya malah tidak boleh 0% karena kalau tidak maka perbandingannya akan tidak fair karena di ilustrasi unit link sudah bersih sedangkan di ilustrasi term life+reksadana terpisah masih bruto (belum dikurangi dengan biaya pengelolaan per tahun, yang besarnya pada umumnya sekitar 1% – 2% per tahun)?

    dalam ilustrasi unit link disebut asumsi perkembangan investasi 17%, ini sudah bersih termasuk biaya pengelolaan. oleh karena itu perhitungan reksadana+term juga harus menggunakan angka asumsi 17% yang sudah bersih termasuk biaya pengelolaan. sudah bersih termasuk biaya pengelolaan artinya tidak perlu lagi dipotong oleh biaya pengelolaan. jadi untuk kedua perhitungan di sini, 17% itu sudah bersih termasuk biaya pengelolaan.

    tapi itu kondisi di ilustrasi. dalam laporan keuangan realnya beda lagi. NAB di reksadana itu sudah bersih setelah dipotong biaya pengelolaan, karena biaya pengelolaan menjadi tanggungan reksadana, bukan pemegang unit. sedangkan harga unit di unit link masih kotor dan belum termasuk biaya pengelolaan. biaya pengelolaan di unit link akan dipotong dari jumlah unit dan bukan dari harga unit. singkatnya, NAB reksadana yang ada di koran2 itu sudah bersih, sedangkan harga unit di unit link belum dipotong biaya pengelolaan.

  213. no problem. sebagai konsumen saya bisa dengan mudah mencari deal yang terbaik karena tidak sulit untuk membandingkan satu produk term dengan produk term lainnya. kurang lebih sama kalau saya beli jeruk di pasar, saya gak perlu ngitung2 berapa ongkos produksinya.

    jauh berbeda dengan unit link

    Kalau boleh tau, beda jauhnya di mana ya?
    Seharusnya di Unit Link lebih transparant, karena segala biaya sudah diperincikan (bisa dilihat di laporan transaksi bulanan).

    Lagipula sebelum join juga agennya sudah menjelaskan biaya akuisisi dan lain-lain. Nasabah tinggal memilih apakah setuju dengan biaya tersebut atau tidak. Jika merasa biaya akuisisi suatu perusahaan terlalu mahal, maka silahkan pilih yang lebih cocok.

    Jauh berbeda dengan Term Life yang tidak jelas berapa biaya terselubung dalam premi yang dibayarkan :).

    sudah berkali2 saya katakan kalau hangus vs tidak hangus itu cuma hoax . kalau time value of money diperhitungkan, maka semuanya juga hangus. kalau tidak hangus gimana caranya mereka bayar klaim dan bayar karyawannya?

    Mas..ada perbedaan antara premi asuransi dengan biaya asuransi. Saya ingin Mas Priyadi mengerti dulu hal ini.

    Premi asuransi sudah digabung dengan biaya akuisisi dan biaya administrasi. Ini yang digunakan untuk bayar klaim dan karyawan.

    Kemudian ada yang namanya biaya pengelolaan investasi. Ini yang digunakan untuk komisi bagi Fund Manager. Di reksadana juga ada biaya seperti ini.

    Dari seluruh premi yang dibayarkan dan dipotong biaya-biaya yang ada, tentu masih ada sisa. Sisa dana inilah yang dimasukan ke investasi, sehingga premi yang dibayarkan tidak hangus.

    Jauh berbeda dengan Term Life, yang biaya-biaya serta pengelolaan dana yang tidak jelas. Saking tidak jelasnya, semua premi yang sudah disetorkan hangus semua. Sehingga Mas Priyadi terpaksa harus mengambil reksadana untuk menutupi pembayaran premi asuransi.

    silakan anda beri tahu saya kalau ada unit link yang memberi tahu besaran biaya asuransi di ilustrasinya. ini bukan cuma tahun pertama saja lho ya, tapi juga tahun2 berikutnya.

    Sudah saya bilang biaya asuransi tahunan tergantung pada agennya. Kalau Mas Priyadi punya hubungan yang dekat dengan agen tersebut tentu saja dia tidak keberatan memberikan perincian biaya asuransi.

    Silahkan Mas Priyadi tuliskan data-data pribadi dan kebutuhan pertanggungan asuransi. Mungkin agen saya bersedia membuatkan tabel tersebut. Tapi saya tidak janji.

    Jika berbicara soal biaya asuransi, tentu Mas Priyadi tidak bisa memberikan perincian biaya asuransi tahunan dari Term Life. Yang Mas Priyadi ketahui hanya premi asuransi tahunan.

    Kalau besarnya setoran premi, di Unit Link sudah sangat jelas. Malah besarnya tetap dan hanya cukup setor sampai tahun tertentu.

    Sekali lagi, silahkan Mas Priyadi pelajari dulu definisi Premi Asuransi dan Biaya Asuransi.

    betul bisa saja. kenapa tidak? anda bisa saja hapus waiver/payor, dan kemudian mengkonversikannya dalam bentuk lump sum present value.

    tapi sayangnya anda ngelantur . perhitungan tersebut saya lakukan hanya untuk menanggapi klaim anda kalau “unit link lebih bagus karena ada payor dan di term tidak ada payor”. secara teknis memang benar, tapi bukan berarti manfaat yang sepadan tidak bisa diperoleh di term life .

    Secara logika memang benar, Payor/Waiver bisa dihapus dan ditambahkan saja ke lump sum.

    Tapi ada 2 pertanyaan yang harus dipikirkan :
    1. “Bagaimana kalau hasil investasi di tahun mendatang ternyata tidak bagus, dan tidak mampu menutupi premi asuransi”

    2. “Bagaimana kalau perusahaan asuransi tidak mau memperpanjang manfaat proteksi karena nasabah tidak ambil waiver/payor”

    dalam ilustrasi unit link disebut asumsi perkembangan investasi 17%, ini sudah bersih termasuk biaya pengelolaan. oleh karena itu perhitungan reksadana+term juga harus menggunakan angka asumsi 17% yang sudah bersih termasuk biaya pengelolaan. sudah bersih termasuk biaya pengelolaan artinya tidak perlu lagi dipotong oleh biaya pengelolaan. jadi untuk kedua perhitungan di sini, 17% itu sudah bersih termasuk biaya pengelolaan.

    Untuk yang satu ini Mas Priyadi keliru.
    Hasil investasi 17% merupakan bruto. Belum dipotong dengan biaya-biaya. Yang dimaksudkan bersih itu adalah nilai tunai pada ilustrasi.

    Untuk konfirmasi, silahkan Mas Priyadi hitung perkembangan nilai tunai di tahun 11. Jika dihitung, tentu hasilnya bukan 17% dari tahun 10, melainkan kurang dari 17%.

    Tapi saya pikir tidak terlalu masalah, sebab dihitung gimanapun hasil investasi di reksadana tetap lebih tinggi daripada investasi di unit link. Soalnya tiap kali melakukan pembelian unit link, akan dipotong 5% untuk akuisisi. Sedangkan untuk penarikan, tidak dikenakan biaya sama sekali.

    Saya tidak tau banyak mengenai biaya yang dikenakan bank yang menjual reksadana. Tapi seharusnya fee untuk jual/beli juga sekitar 5%. Dan ini yang luput dari perhitungan Mas Priyadi.

    Atau apakah nasabah bisa jual/beli reksadana langsung ke Fund Manager tanpa melalui bank yang ditunjuk? Sehingga tidak dikenakan fee jual/beli. Hal ini saya kurang tau, soalnya dulu saya beli Fortis Equitas melalui Lippo Bank, dan kata marketing saya tidak bisa beli langsung dengan Fortis.

  214. #247:

    Kalau boleh tau, beda jauhnya di mana ya? Seharusnya di Unit Link lebih transparant, karena segala biaya sudah diperincikan (bisa dilihat di laporan transaksi bulanan).

    hahahahah, di laporan transaksi bulanan katanya :)). artinya untuk tahu semua biaya2nya kita harus jadi nasabah dulu :P

    Lagipula sebelum join juga agennya sudah menjelaskan biaya akuisisi dan lain-lain. Nasabah tinggal memilih apakah setuju dengan biaya tersebut atau tidak. Jika merasa biaya akuisisi suatu perusahaan terlalu mahal, maka silahkan pilih yang lebih cocok.

    setuju. oleh karena itu saya tidak memilih unit link :). saya di sini cuma menjelaskan harga yang harus dibayarkan nasabah akibat biaya akuisisi ini.

    Jauh berbeda dengan Term Life yang tidak jelas berapa biaya terselubung dalam premi yang dibayarkan

    no problem :). term life adalah produk dengan struktur harga yang sederhana. antara produk term life yang berbeda ada persaingan bebas. oleh karena itu saya bisa yakin biaya overhead term life itu layak jual. jika ada perusahaan yang menjual produknya terlalu mahal, saya bisa dengan mudah cari produk lain.

    Dari seluruh premi yang dibayarkan dan dipotong biaya-biaya yang ada, tentu masih ada sisa. Sisa dana inilah yang dimasukan ke investasi, sehingga premi yang dibayarkan tidak hangus.

    Jauh berbeda dengan Term Life, yang biaya-biaya serta pengelolaan dana yang tidak jelas. Saking tidak jelasnya, semua premi yang sudah disetorkan hangus semua. Sehingga Mas Priyadi terpaksa harus mengambil reksadana untuk menutupi pembayaran premi asuransi.

    nah anda baru saja mengakui kalau biaya asuransi itu sebenarnya ‘hangus’ :). biaya asuransi ini tidak akan pernah kembali karena dipakai untuk membayar klaim, gaji karyawan, biaya operasional, profit perusahaan dan sebagainya.

    yang dilakukan perusahaan unit link sebenarnya cuma: menarik biaya dari nasabah dan menyetor biaya sebagian ke perusahaan asuransi dan sebagian lagi ke reksadana :). yang disetor ke asuransi jelas gak akan balik lagi uangnya. dan yang disetorkan ke asuransi ini besarnya kurang lebih sama saja dengan biaya ikut term life :).

    sebenarnya jualan apapun juga bisa pakai model seperti ini. contoh misalnya saya jualan langganan koran secara tradisional Rp 50rb/bulan. saya bisa aja jual korannya seharga Rp 500 ribu misalnya, kemudian Rp 50 ribu dibelikan koran sedangkan sisanya Rp 450 ribu dimasukkan ke reksadana. kemudian saya bisa bilang ke pelanggan saya “cukup bayar biaya langganan 10 tahun anda bisa dapat langganan koran seumur hidup!”, “uang anda akan kembali 100% dan bahkan lebih!”, dan sebagainya.

    orang2 yang tidak mengerti time value of money akan bilang kalau itu adalah ‘model bisnis yang revolusioner’â„¢, tapi yang mengerti akan tahu trik dibalik model bisnis seperti itu :). untuk mencetak koran tetap butuh uang, dan uang itu tetap pelanggan bayarkan. hanya saja pelanggan dipaksa untuk membandingkan produk bukan menggunakan parameter harga.

    Sudah saya bilang biaya asuransi tahunan tergantung pada agennya. Kalau Mas Priyadi punya hubungan yang dekat dengan agen tersebut tentu saja dia tidak keberatan memberikan perincian biaya asuransi.

    Silahkan Mas Priyadi tuliskan data-data pribadi dan kebutuhan pertanggungan asuransi. Mungkin agen saya bersedia membuatkan tabel tersebut. Tapi saya tidak janji.

    pakai umur standar saja. pria pekerja kantoran, umur 30 tahun, tidak merokok.

    Tapi ada 2 pertanyaan yang harus dipikirkan :

    1. “Bagaimana kalau hasil investasi di tahun mendatang ternyata tidak bagus, dan tidak mampu menutupi premi asuransi”

    perhitungan saya di atas sudah sangat konservatif sekali karena menggunakan suku bunga deposito berjangka sebesar 5%.

    2. “Bagaimana kalau perusahaan asuransi tidak mau memperpanjang manfaat proteksi karena nasabah tidak ambil waiver/payor”

    ada klausul ‘guaranteed renewability’. no problem at all :)

    Untuk yang satu ini Mas Priyadi keliru. Hasil investasi 17% merupakan bruto. Belum dipotong dengan biaya-biaya. Yang dimaksudkan bersih itu adalah nilai tunai pada ilustrasi.
    Untuk konfirmasi, silahkan Mas Priyadi hitung perkembangan nilai tunai di tahun 11. Jika dihitung, tentu hasilnya bukan 17% dari tahun 10, melainkan kurang dari 17%.

    heheheh. justru karena sudah saya hitung maka saya jadi yakin :). jangan hitung di tahun 10 karena pada waktu tersebut biaya asuransi masih signifikan terhadap besar nilai tunai :). jika ada perbedaan biaya itu karena overhead biaya premi asuransi.

    coba hitung pada tahun 95-99 pada saat besar premi asuransi sudah tidak lagi signifikan terhadap jumlah nilai tunai. untuk menghitungnya silakan gunakan rumus: (n(99)/n(95))^(1/4). hasilnya pasti cuma sedikit di bawah 17% :). seandainya biaya pengelolaan yang 1.75% diperhitungkan, maka hasilnya pasti jauh di bawah itu.

    lagi2 di sini ilustrasinya menyesatkan. bilangnya “ilustrasi manfaat di atas sudah diperhitungkan dengan: c. biaya pengelolaan investasi antara 0.75%-1.75% per tahun dari dana investasi yang dipilih”, padahal sebenarnya angka perkembangan investasi sudah bersih. nice try though :).

    Saya tidak tau banyak mengenai biaya yang dikenakan bank yang menjual reksadana. Tapi seharusnya fee untuk jual/beli juga sekitar 5%. Dan ini yang luput dari perhitungan Mas Priyadi.

    ilustrasi saya mengenakan biaya pembelian sebesar 1.5%. silakan anda baca lagi dengan lebih teliti. reksadana yang paling mahal mengenakan biaya pembelian berdasarkan pengalaman saya adalah PNM ekuitas syariah, yaitu sebesar 3%. tidak ada yang semahal unit link, sampai 5% :).

  215. #248:

    WOW makin seru aja diskusinya :D. oh ya mas pri mo nanya nehh, BTAID itu maksudnya apa ya ? thanks

    BTAID = buy term and invest the difference

  216. #243 Atau apakah nasabah bisa jual/beli reksadana langsung ke Fund Manager tanpa melalui bank yang ditunjuk? Sehingga tidak dikenakan fee jual/beli. Hal ini saya kurang tau, soalnya dulu saya beli Fortis Equitas melalui Lippo Bank, dan kata marketing saya tidak bisa beli langsung dengan Fortis.
    ————————————-

    Bisa mas,
    coba aja brosing2 ke beberapa MI. Masalah dasar kebanyakan orang Indonesia adalah ignorance terhadap banyak hal. Ketika mereka sudah mengetahui sebuah produk A dengan spesifikasi XYZ, jarang sekali mau brosing untuk cari produk lainnya dengan spesifikasi yang sama.

  217. hahahahah, di laporan transaksi bulanan katanya . artinya untuk tahu semua biaya2nya kita harus jadi nasabah dulu

    Di ilustrasi proposal juga sudah dijelaskan.

    Sejak awal Mas Priyadi sudah ada kekeliruan mengenai konsep premi dan biaya. Coba lihat kembali komentar #243:

    sudah berkali2 saya katakan kalau hangus vs tidak hangus itu cuma hoax . kalau time value of money diperhitungkan, maka semuanya juga hangus. kalau tidak hangus gimana caranya mereka bayar klaim dan bayar karyawannya?

    Jelas-jelas saya membicarakan mengenai premi yang tidak hangus, bukan biaya, tapi Mas Priyadi malah mengatakan itu hoax.

    Sebagai pembaca, saya perlu bersikap kritis thd pandangan Mas Priyadi mengenai asuransi jiwa, yang menurut saya masih kurang obyektif. Ada beberapa point penting yang kurang dalam tulisan Mas Priyadi :
    1. Mas Priyadi tidak punya pengetahuan yang cukup mengenai asuransi jiwa

    2. Mas Priyadi hanya menghitung diatas kertas/komputer, belum merasakan manfaat dari kedua produk yang dibahas. Jika hanya sekedar menghitung, berarti hanya melihat kondisi sekarang. Sedangkan asuransi adalah proteksi untuk sesuatu yang kemungkinan kecil sekali akan terjadi di masa depan.

    coba hitung pada tahun 95-99 pada saat besar premi asuransi sudah tidak lagi signifikan terhadap jumlah nilai tunai. untuk menghitungnya silakan gunakan rumus: (n(99)/n(95))^(1/4). hasilnya pasti cuma sedikit di bawah 17% . seandainya biaya pengelolaan yang 1.75% diperhitungkan, maka hasilnya pasti jauh di bawah itu.

    Tentu saja hanya sedikit dibawah 17%.
    Bayangkan saja 17% dari ratusan miliar seberapa banyak. Dikurangi biaya-biaya, tentu tidak terlalu pengaruh thd hasil investasi.

    Kenapa Mas Priyadi tidak mau menghitung perbedaan di tahun 10-11 yang lebih real, dimana nasabah sudah bebas setoran dan tidak lagi kena biaya akuisisi.

    Mengakui kekeliruan tidak akan memalukan, apalagi memang banyak pembaca yang ngerti Mas Priyadi kurang paham dengan Unit Link. Malah membuat orang makin menghargai Mas Priyadi karena tidak merasa diri sendiri paling tau.

    Bukan berarti saya menguasai 100% ttg Unit Link. Saya hanya tertarik doank dengan cara kerja Unit Link setelah membaca tutorial AAJI, dan membayangkan unuk mengaplikasikan ke asuransi rumah.

    yang dilakukan perusahaan unit link sebenarnya cuma: menarik biaya dari nasabah dan menyetor biaya sebagian ke perusahaan asuransi dan sebagian lagi ke reksadana .

    Apa dasar dari pernyataan ini?
    Sudah cek di bapepam mengenai daftar reksadana. Apakah ada Fund Manager perusahaan asuransi tersebut yang terdaftar sebagai reksadana.

    Pengelolaan dana di Unit Link berbeda dengan Reksadana.

    yang disetor ke asuransi jelas gak akan balik lagi uangnya. dan yang disetorkan ke asuransi ini besarnya kurang lebih sama saja dengan biaya ikut term life

    Kalau yang namanya biaya, tentu saja tidak akan kembali. Lagipula seperti yang Mas Priyadi bilang, bahwa yang disetorkan ke asuransi kurang lebih sama dengan ikut Term Life, buat apa saya harus repot ambil asuransi dan investasi terpisah.

    Bukankah lebih baik semuanya dipercayakan ke satu perusahaan yang sama. Tinggal pilih saja perusahaan unit link mana yang lebih cocok.

    Boleh saja bilang ambil terpisah bisa memilih perusahaan investasi yang lebih menguntungkan. Tapi itu untuk saat ini, masa depan tidak ada yang tau. Apalagi reksadana masih terus dibayang-bayangi isu akan dikenakan pajak penghasilan.

  218. @Mas Peter
    Saya sudah tanya ke Schroder yang katanya bisa beli langsung. Untuk reksadana lain yang kurang terkenal saya tidak tanya. Memang prosedurnya cukup gampang, cukup isi form dan setor ke rekening mereka.

    Walaupun sudah beli langsung tetap saja kena fee pembelian dan fee penjualan. Dan fee penarikan ini jumlahnya bisa sangat besar nilai tunainya jika invest untuk jangka panjang.

  219. #252:

    Di ilustrasi proposal juga sudah dijelaskan.

    sudah dijelaskan dari hongkong kali :). mana informasi soal biaya asuransi dari tahun ke tahun? memberi penjelasan ala kadarnya dan memberi penjelasan agar nasabah mengerti juga jauh berbeda. silakan anda survey sendiri ada berapa dari sekian banyak nasabah yang mengerti yang tertera pada ilustrasi.

    1. Mas Priyadi tidak punya pengetahuan yang cukup mengenai asuransi jiwa

    bagian mana yang tidak saya mengerti?

    2. Mas Priyadi hanya menghitung diatas kertas/komputer, belum merasakan manfaat dari kedua produk yang dibahas. Jika hanya sekedar menghitung, berarti hanya melihat kondisi sekarang. Sedangkan asuransi adalah proteksi untuk sesuatu yang kemungkinan kecil sekali akan terjadi di masa depan.

    dalam perhitungan saya, saya buat perlindungan yang sama persis dengan yang ada di unit link. apapun yang terjadi di masa yang akan datang, nasabah mendapatkan coverage yang persis sama pula. perbedaannya cuma satu: nilai tunai yang terjadi, dan ini yang dijadikan sebagai parameter perbandingan.

    Tentu saja hanya sedikit dibawah 17%. Bayangkan saja 17% dari ratusan miliar seberapa banyak. Dikurangi biaya-biaya, tentu tidak terlalu pengaruh thd hasil investasi.

    hanya sedikit di bawah 17% berarti masih di atas 14.95%, dan dengan demikian bisa disimpulkan kalau perhitungan ilustrasi tidak lagi memperhitungkan biaya pengelolaan. kalau seandainya ilustrasi mengurangkan biaya pengelolaan, maka pertumbuhan investasi bersih maksimum hanyalah sekitar 14.95%.

    Mengakui kekeliruan tidak akan memalukan, apalagi memang banyak pembaca yang ngerti Mas Priyadi kurang paham dengan Unit Link. Malah membuat orang makin menghargai Mas Priyadi karena tidak merasa diri sendiri paling tau.

    hahaha… kata2 tersebut jauh lebih pantas dikatakan kepada anda sendiri. “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends on his not understanding it.” :)

    anda membela unit link karena punya agenda, sedangkan saya mendukung BTAID karena hasil perhitungan saya mengatakan demikian. silakan tanya2 sendiri ke financial advisor manapun yang independen, yang tidak punya konflik kepentingan. pasti semuanya mendukung BTAID.

    kalau mau menyanggah point saya silakan anda buat perhitungan tandingan dari anda sendiri. jangan ngomong doang! :)

    Apa dasar dari pernyataan ini? Sudah cek di bapepam mengenai daftar reksadana. Apakah ada Fund Manager perusahaan asuransi tersebut yang terdaftar sebagai reksadana.

    reksadana: “mengumpulkan dana dari masyarakat untuk dikelola secara kolektif”. praktis sama saja dengan yang dilakukan oleh unit link. sedangkan bapepam cuma mendaftar reksadana yang menawarkan produknya secara retail. dari sekian banyak unit link, ada yang mengelola dananya sendiri, ada yang menyerahkannya ke pihak ketiga, dan ada yang menggunakan jasa manajemen investasi pihak ketiga. tapi semuanya sama, pada prinsipnya semua mengumpulkan dana dari masyarakat untuk dikelola secara kolektif.

    Pengelolaan dana di Unit Link berbeda dengan Reksadana.

    apa bedanya? biayanya yang lebih mahal kali ya? :)

    Kalau yang namanya biaya, tentu saja tidak akan kembali. Lagipula seperti yang Mas Priyadi bilang, bahwa yang disetorkan ke asuransi kurang lebih sama dengan ikut Term Life, buat apa saya harus repot ambil asuransi dan investasi terpisah.

    Bukankah lebih baik semuanya dipercayakan ke satu perusahaan yang sama. Tinggal pilih saja perusahaan unit link mana yang lebih cocok.

    seandainya di unit link tidak banyak biaya2 yang tidak diperlukan, maka bisa jadi unit link menjadi pertimbangan. tetapi untuk saat ini jauh lebih menguntungkan untuk ambil BTAID karena di unit link terlalu banyak biaya2 tambahan. untuk perlindungan yang sama persis, manfaat nilai tunai dari BTAID jauh lebih tinggi daripada unit link.

    #253:

    Walaupun sudah beli langsung tetap saja kena fee pembelian dan fee penjualan. Dan fee penarikan ini jumlahnya bisa sangat besar nilai tunainya jika invest untuk jangka panjang.

    dari sekian banyak reksadana yang saya punya prospektusnya, tidak ada yang biaya pembelian + biaya penjualan > 5%.

  220. #253 @Mas Peter
    Saya sudah tanya ke Schroder yang katanya bisa beli langsung. Untuk reksadana lain yang kurang terkenal saya tidak tanya. Memang prosedurnya cukup gampang, cukup isi form dan setor ke rekening mereka.

    Walaupun sudah beli langsung tetap saja kena fee pembelian dan fee penjualan. Dan fee penarikan ini jumlahnya bisa sangat besar nilai tunainya jika invest untuk jangka panjang.
    ———————————-

    Fee masing2 MI berbeda2. Silahkan browsing2 saja. Kalau gak salah mas pri pernah mengutip alasan kenapa dia memilih RD di MI yang berbeda. Kalau saya pilih Manulife karena gak ada fee masuk dan fee keluar kalau dana ngendon lebih dari 1 tahun (kalaupun kudu keluar sebelum 1 tahun, kena 1.25% dari pokok yang diambil). Mengenai return, saya gak terlalu mikir, memang gak untuk jangka pendek.

    Semoga membantu

  221. # 253
    Walaupun sudah beli langsung tetap saja kena fee pembelian dan fee penjualan. Dan fee penarikan ini jumlahnya bisa sangat besar nilai tunainya jika invest untuk jangka panjang.
    _________________________

    Hampir semua RDS yg saya pernah join, fee penarikan 0% setelah diatas 2 thn.:p

  222. sudah dijelaskan dari hongkong kali . mana informasi soal biaya asuransi dari tahun ke tahun? memberi penjelasan ala kadarnya dan memberi penjelasan agar nasabah mengerti juga jauh berbeda.

    Kenapa Mas Priyadi masih terus berkutat-kutat soal biaya asuransi tahunan. Sudah saya bilang berkali-kali, tergantung agen tersebut bersedia membuatkan atau tidak.

    Apakah di Term Life dijelaskan mengenai biaya asuransi dan biaya lain-lain secara jelas? Bahkan di tahun pertama pun tidak ada sama sekali.

    silakan anda survey sendiri ada berapa dari sekian banyak nasabah yang mengerti yang tertera pada ilustrasi.

    Kalau masyarakat Indonesia sudah sangat sadar akan asuransi, maka perusahaan asuransi tidak perlu lagi membayar agen untuk membantu marketing.

    Selama masih banyak agen asuransi yang masih harus jualan door to door, saya rasa survey ini tidak perlu dilakukan.

    dalam perhitungan saya, saya buat perlindungan yang sama persis dengan yang ada di unit link. apapun yang terjadi di masa yang akan datang, nasabah mendapatkan coverage yang persis sama pula. perbedaannya cuma satu: nilai tunai yang terjadi, dan ini yang dijadikan sebagai parameter perbandingan.

    Betul…perhitungan Mas Pri memang boleh dijadikan referensi. Masalahnya adalah, berapa banyak orang yang mau repot membuat hitung-hitungan buat menyamakan manfaat tersebut.

    Menurut Mas Priyadi, ada kemungkinan tidak, ketika sedang sibuk membuat perhitungan, terjadi musibah pada calon nasabah. Dan Mas Priyadi sendiri tau bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membuat perbandingan hitungan tersebut tidak singkat.

    Daripada repot dan musibah bisa terjadi kapan saja, lebih baik ambil yang sudah ada. Toh, memang sudah ada anggaran untuk itu.

    Dan jika berbicara soal pengetahuan asuransi, sebenarnya Mas Priyadi beli asuransi untuk cari untung atau cari aman?
    Kedua, apa yang Mas Priyadi ketahui ttg Unit Link, kenapa harus ada investasinya sedangkan di Term Life tidak?

    seandainya di unit link tidak banyak biaya2 yang tidak diperlukan, maka bisa jadi unit link menjadi pertimbangan. tetapi untuk saat ini jauh lebih menguntungkan untuk ambil BTAID karena di unit link terlalu banyak biaya2 tambahan. untuk perlindungan yang sama persis, manfaat nilai tunai dari BTAID jauh lebih tinggi daripada unit link.

    Mungkin Mas Priyadi bisa sebutkan biaya2 yang tidak diperlukan itu apa saja. Saya rasa masih banyak pembaca yang tidak tau biaya apa saja yang dimaksudkan oleh Mas Priyadi.

    Mas Priyadi cukup menyebutkan semua biaya tersebut, saya bisa bantu menjelaskan. Kebetulan saya orang bagian teknik asuransi, jadi tidak sulit untuk menjelaskan biaya-biaya. Seharusnya asuransi umum dan jiwa kurang lebih sama.

  223. #257: rasanya anda lupa untuk membalas point saya yang paling penting, very convenient :)

    kalau mau menyanggah point saya silakan anda buat perhitungan tandingan dari anda sendiri. jangan ngomong doang!

    ngomong doang sih gampang. tapi coba anda buat perbandingan yang membuktikan kalau unit link jagoan anda memang lebih bagus daripada term life + reksadana.

    kalau anda sudah buat, baru kita lanjut lagi ‘ngomong’-nya :). mari kita lihat apakah anda bisa kasih bukti2nya atau cuma bisa ngomong doang :)

  224. #254

    seandainya di unit link tidak banyak biaya2 yang tidak diperlukan, maka bisa jadi unit link menjadi pertimbangan. tetapi untuk saat ini jauh lebih menguntungkan untuk ambil BTAID karena di unit link terlalu banyak biaya2 tambahan. untuk perlindungan yang sama persis, manfaat nilai tunai dari BTAID jauh lebih tinggi daripada unit link.

    ===========

    Dalam Unit Link tidak ada biaya yang tidak diperlukan ataupun biaya tambahan. Biaya-biaya yg ada di unit link adalah sama dengan biaya-biaya yang ada dalam asuransi tradisional lainnya. Biaya-biaya yang ada dalam unit link adalah biaya2 yang diperlukan bagi seseorang untuk mendapatkan suatu perlindungan asuransi.

    Jika biaya akusisi yang dimaksud oleh mas pri adalah biaya yang tidak diperlukan, hal ini kurang tepat karena dalam asuransi tradisional pun biaya akusisi ini juga ada. Biaya akusisi ini biasanya adalah biaya yg dikeluarkan oleh pihak asuransi untuk memperoleh bisnis, antara lain komisi agen/broker, biaya advertising dll.

    Thanks

  225. Tambahan aja…

    dalam BTID biaya2 tambahan seperti yang mas pri maksud ada dalam term lifenya dan memang bukan berada pada reksadananya.

    Salam

  226. #259:

    Jika biaya akusisi yang dimaksud oleh mas pri adalah biaya yang tidak diperlukan, hal ini kurang tepat karena dalam asuransi tradisional pun biaya akusisi ini juga ada. Biaya akusisi ini biasanya adalah biaya yg dikeluarkan oleh pihak asuransi untuk memperoleh bisnis, antara lain komisi agen/broker, biaya advertising dll.

    ok, yang lebih tepat mungkin bukan ada atau tidaknya biaya tersebut, melainkan besar biaya2 tersebut. di unit link jelas jauh lebih besar.

  227. ngomong doang sih gampang. tapi coba anda buat perbandingan yang membuktikan kalau unit link jagoan anda memang lebih bagus daripada term life + reksadana.

    Buktinya sudah jelas dalam ilustrasi yang sudah Mas Priyadi sendiri buat. Misalnya nasabah tersebut sakit kritis pada tahun kedua, maka dia akan menerima setoran 10 juta/bulan sampai berusia 75 tahun atau sampai nasabah tersebut meninggal

    Dalam ilustrasi BTAID tersebut, nasabah hanya disetorkan sejumlah premi yang dia bayarkan. Sementara pada investasi dia hanya mendapatkan 17% dari uang dia.

    Dihitung bagaimanapun tetap saja mendapatkan 10 juta lebih besar daripada setoran premi + hasil investasi pada tahun kedua.

    ok, yang lebih tepat mungkin bukan ada atau tidaknya biaya tersebut, melainkan besar biaya2 tersebut. di unit link jelas jauh lebih besar.

    Ada buktinya?
    Bahkan Mas Priyadi sendiri tidak tau seberapa besar biaya-biaya yang terselubung dalam Term Life jagoan Mas Priyadi.

    Sebaiknya Mas Priyadi cari dulu buktinya daripada cuma ngomong doank :)

    Point yang ingin saya sampaikan adalah, apakah Mas Priyadi sudah paham dengan asuransi jiwa? Dan apa yang Mas Priyadi ketahui ttg Unit Link.

    Silahkan saja Mas Priyadi mencatut beberapa nama ahli finansial, tapi sekali lagi saya tekankan bahwa ahli finansial belum tentu ahli asuransi. Boleh saja dia bisa membuat perhitungan BTAID lebih bagus, tapi apakah semua orang merupakan ahli dalam mengelola keuangan seperti dia?

    Dan Mas Priyadi sendiri, ahli keuangan bukan, ahli asuransi juga bukan. Bukankah Mas Priyadi cuma orang yang pandangannya ter-sugesti oleh kata “lebih menguntungkan”.

    Sekali lagi coba Mas Priyadi pikirkan, orang beli asuransi untuk cari untung atau cari aman?

    Mas Priyadi boleh saja berargument, bisa mendapatkan manfaat nilai pertanggungan yang sama dengan harga lebih murah. Tapi apakah cuma itu saja manfaat dari asuransi Unit Link ?

  228. #261

    ok, yang lebih tepat mungkin bukan ada atau tidaknya biaya tersebut, melainkan besar biaya2 tersebut. di unit link jelas jauh lebih besar.
    =============================

    Darimana mas pri tahu kalo biaya2 di unit link lebih besar? Sepanjang diskusi di blog ini justru biaya yang tidak diketahui besarnya yang selalu diributkan oleh mas pri :)

  229. #262:

    Buktinya sudah jelas dalam ilustrasi yang sudah Mas Priyadi sendiri buat. Misalnya nasabah tersebut sakit kritis pada tahun kedua, maka dia akan menerima setoran 10 juta/bulan sampai berusia 75 tahun atau sampai nasabah tersebut meninggal

    time value of money :). setelah beberapa kali berkomentar, anda harusnya gak bisa lagi pura2 gak tahu konsep time value of money :).

    Ada buktinya? Bahkan Mas Priyadi sendiri tidak tau seberapa besar biaya-biaya yang terselubung dalam Term Life jagoan Mas Priyadi.

    heheheh. buktinya ya tulisan saya di atas :). kesimpulannya tetap sama terlepas dari argumen anda, apapun itu: dengan asumsi perkembangan investasi yang sama, dengan besar perlindungan yang sama, nilai tunai yang didapatkan BTAID lebih besar daripada unit link. dengan demikian, maka biaya2 yang dikeluarkan nasabah lebih besar di unit link dariapda di BTAID.

    kalau anda tidak setuju, silakan keluarkan hitung2an anda. jangan cuma omong doank :P

    Silahkan saja Mas Priyadi mencatut beberapa nama ahli finansial, tapi sekali lagi saya tekankan bahwa ahli finansial belum tentu ahli asuransi. Boleh saja dia bisa membuat perhitungan BTAID lebih bagus, tapi apakah semua orang merupakan ahli dalam mengelola keuangan seperti dia?

    anda pikir saya harus percaya kepada omongan agen asuransi? anda pikir agen asuransi itu adalah ahli asuransi? apakah sales mobil itu adalah ahli otomotif? tentu saja tidak :). dimana2 penjual selalu bilang produknya lebih bagus :)

    kalau mau pendapat ahli asuransi beneran, bisa baca2 blognya mr. tan: http://tankinlian.blogspot.com/

    hint: dia menyarankan untuk BTAID :)

    Dan Mas Priyadi sendiri, ahli keuangan bukan, ahli asuransi juga bukan. Bukankah Mas Priyadi cuma orang yang pandangannya ter-sugesti oleh kata “lebih menguntungkan”.

    saya gak ngaku2 ahli keuangan atau ahli asuransi, tapi kalau ada yang salah anda bisa tunjukkan mana pernyataan yang salah. sayangnya argumen anda selama ini tidak kuat.

    Sekali lagi coba Mas Priyadi pikirkan, orang beli asuransi untuk cari untung atau cari aman?

    untuk cari aman. oleh karena itu saya ambil term life dan bukan unit link :). untuk urusan cari untung saya ambil reksadana.

  230. time value of money . setelah beberapa kali berkomentar, anda harusnya gak bisa lagi pura2 gak tahu konsep time value of money

    Betul, saya sama sekali tidak mengerti kenapa Mas Priyadi menganggap nasabah menolak mendapatkan uang 10 juta di tahun kedua. Dan lebih suka mendapatkan 1,7 juta (premi term life) + hasil investasi reksadana. Jika dihitung, paling sekitar 5-6 juta.

    Logika saya mengatakan 10 juta lebih besar jumlahnya daripada 5 juta.

    heheheh. buktinya ya tulisan saya di atas . kesimpulannya tetap sama terlepas dari argumen anda, apapun itu: dengan asumsi perkembangan investasi yang sama, dengan besar perlindungan yang sama, nilai tunai yang didapatkan BTAID lebih besar daripada unit link. dengan demikian, maka biaya2 yang dikeluarkan nasabah lebih besar di unit link dariapda di BTAID.

    kalau anda tidak setuju, silakan keluarkan hitung2an anda. jangan cuma omong doank

    Nilai tunai yang didapatkan dari BTAID lebih besar daripada nilai tunai yang didapatkan di Unit Link bukan berarti biaya yang dikeluarkan lebih kecil.

    Penyebab nilai tunai Unit Link di tahun ke 26 (usia 55) kalah dengan perhitungan BTAID adalah karena Mas Priyadi menggunakan produk yang biaya akuisisi di 5 tahun pertama cukup tinggi sebagai pembanding.

    Secara logika, jika pada 5 tahun pertama nilai tunai yang terbentuk kecil, otomatis untuk 20 tahun kedepan nilai tunai akhir juga menjadi kecil.

    kalau mau pendapat ahli asuransi beneran, bisa baca2 blognya mr. tan: http://tankinlian.blogspot.com/

    hint: dia menyarankan untuk BTAID

    Mas, lain padang lain belalang.
    Profile keuangan tiap orang belum tentu sama seperti Mr Tan. Dari blog dia, terkesan semua saran dia adalah yang paling benar.

    Silahkan saja Mas Priyadi menggunakan saran dia sebagai referensi. Tapi jika terjadi hal yang diluar perhitungan, resiko ditanggung sendiri.

    Sebagai pertimbangan, kata “UNTUNG” lebih kuat sugestinya daripada kata “MANFAAT”.

  231. saya gak ngaku2 ahli keuangan atau ahli asuransi, tapi kalau ada yang salah anda bisa tunjukkan mana pernyataan yang salah. sayangnya argumen anda selama ini tidak kuat.

    Kalau Mas Priyadi memaksa, biar saya paparkan :
    1. Mas Priyadi keliru ttg istilah premi dan biaya.
    Premi pada Term Life hangus, dan premi pada Unit Link tidak hangus. Karena premi Term Life hangus, Anda menganggap itu adalah biaya asuransi. Padahal dalam premi tersebut juga sudah dibungkus biaya-biaya lain yang tidak kelihatan.

    2. Mas Priyadi keliru mengenai besarnya biaya.
    Karena merasa BTAID mendapatkan nilai tunai lebih besar daripada di Unit Link, maka Mas Priyadi berasumsi biaya di Unit Link lebih tinggi.
    Kekeliruan di sini adalah memperbandingkan produk BTAID dengan produk Unit Link yang biaya akuisisinya besar di 5 tahun pertama. Padahal di luar produk itu, ada Unit Link yang biaya akuisisinya jauh lebih kecil. Karena di 5 tahun pertama nilai tunai yang terbentuk kecil, otomatis nilai tunai di 20 tahun mendatang juga tidak banyak-banyak.

    3. Menyamakan profil keuangan semua orang dengan pandangan ahli finansial.
    Beberapa ahli finansial menyarankan ambil BTAID karena mereka memang punya kemampuan yang bagus mengenai keuangan. Dan yang jelas mereka belum merasakan kelebihan manfaat yang ditawarkan Unit Link daripada Term Life. Fokus pertimbangan adalah keuntungan.

    4. Karena kekurangan Mas Priyadi mengenai pengetahuan asuransi, Mas Priyadi juga tidak mengetahui ada apa dibalik semua biaya-biaya yang diselipkan dalam premi.

    5. Kekeliruan paling besar adalah membandingkan Unit Link dengan Reksadana.
    Unit Link digunakan untuk asuransi jiwa jangka panjang, sedangkan Reksadana digunakan untuk investasi jangka panjang.
    unit link = proteksi/jaminan jangka panjang
    term life = proteksi/jaminan sementara
    investasi = cari untung
    Dari segi tujuan saja sudah merupakan hal yang berbeda. Tentu hasilnya juga berbeda.

    Setau saya, asuransi jiwa Whole Life dan Unit Link bisa digunakan sebagai jaminan kredit pada bank. Sedangkan Term Life tidak. Untuk yang Unit Link, polis yang ingin digunakan sebagai jaminan harus dipastikan nasabah sudah bisa cuti premi. Dan juga nasabah yang menjaminkan polisnya tersebut tidak bisa melakukan transaksi penarikan dengan polisnya.

  232. #265:

    Betul, saya sama sekali tidak mengerti kenapa Mas Priyadi menganggap nasabah menolak mendapatkan uang 10 juta di tahun kedua. Dan lebih suka mendapatkan 1,7 juta (premi term life) + hasil investasi reksadana. Jika dihitung, paling sekitar 5-6 juta.

    Logika saya mengatakan 10 juta lebih besar jumlahnya daripada 5 juta.

    heheheh. pada perbandingan saya di atas itu besarnya nilai pertanggungan untuk term life+reksadana dan untuk unit link itu SAMA PERSIS. kalau anda masih bersikukuh kalau itu berbeda, ya saya nyerah deh. yang terpenting orang selain anda bisa mengerti :)

    Nilai tunai yang didapatkan dari BTAID lebih besar daripada nilai tunai yang didapatkan di Unit Link bukan berarti biaya yang dikeluarkan lebih kecil.

    gak ngaruh. jika biaya produksi jeruk A lebih murah daripada jeruk B, tapi jeruk A ternyata lebih mahal daripada jeruk B, ya tetap saja jeruk A lebih mahal daripada jeruk B :)

    Penyebab nilai tunai Unit Link di tahun ke 26 (usia 55) kalah dengan perhitungan BTAID adalah karena Mas Priyadi menggunakan produk yang biaya akuisisi di 5 tahun pertama cukup tinggi sebagai pembanding.

    saya pakai contoh produk itu karena merupakan ‘market leader’.

    silakan buatkan saya ilustrasi produk lain yang menurut anda lebih menguntungkan tersebut. nanti saya buatkan perbandingannya.

    Mas, lain padang lain belalang. Profile keuangan tiap orang belum tentu sama seperti Mr Tan. Dari blog dia, terkesan semua saran dia adalah yang paling benar.

    dari komentar anda terkesan semua komentar anda adalah yang paling benarâ„¢ :)

    Silahkan saja Mas Priyadi menggunakan saran dia sebagai referensi. Tapi jika terjadi hal yang diluar perhitungan, resiko ditanggung sendiri.

    no problem. besar perlindungan pada ilustrasi saya SAMA PERSIS antara BTAID dan unit link.

    Sebagai pertimbangan, kata “UNTUNG” lebih kuat sugestinya daripada kata “MANFAAT”.

    betul. oleh karena itu banyak yang terjebak ikutan unit link :). karena mereka tidak tahu kalau sebenarnya biaya asuransi yang terkandung di dalamnya ternyata lebih tinggi :). karena dibungkus dalam selimut investasi, mereka keburu terkesima dengan angka2 proyeksi return investasi :).

  233. #266:

    1. Mas Priyadi keliru ttg istilah premi dan biaya. Premi pada Term Life hangus, dan premi pada Unit Link tidak hangus. Karena premi Term Life hangus, Anda menganggap itu adalah biaya asuransi. Padahal dalam premi tersebut juga sudah dibungkus biaya-biaya lain yang tidak kelihatan.

    no problem. kenyataannya untuk perlindungan yang sama persis, BTAID jauh lebih menguntungkan.

    Karena merasa BTAID mendapatkan nilai tunai lebih besar daripada di Unit Link, maka Mas Priyadi berasumsi biaya di Unit Link lebih tinggi. Kekeliruan di sini adalah memperbandingkan produk BTAID dengan produk Unit Link yang biaya akuisisinya besar di 5 tahun pertama. Padahal di luar produk itu, ada Unit Link yang biaya akuisisinya jauh lebih kecil. Karena di 5 tahun pertama nilai tunai yang terbentuk kecil, otomatis nilai tunai di 20 tahun mendatang juga tidak banyak-banyak.

    silakan buatkan saya ilustrasi unit link yang biaya akuisisinya kecil tersebut. kirim ke email saya, nanti saya buatkan perbandingannya.

    Beberapa ahli finansial menyarankan ambil BTAID karena mereka memang punya kemampuan yang bagus mengenai keuangan. Dan yang jelas mereka belum merasakan kelebihan manfaat yang ditawarkan Unit Link daripada Term Life. Fokus pertimbangan adalah keuntungan.

    perbandingan saya di atas menggunakan perlindungan yang SAMA PERSIS. jadi tidak ada kelebihan manfaat baik di term life maupun di BTAID. perbedaan hanya ada pada detail yang bisa dibaca di halaman ‘apples and oranges’.

    4. Karena kekurangan Mas Priyadi mengenai pengetahuan asuransi, Mas Priyadi juga tidak mengetahui ada apa dibalik semua biaya-biaya yang diselipkan dalam premi.

    sebenarnya saya tahu :). cuma beda terminologi saja kali. saya sudah sebutkan berkali2: biaya mortalita, komisi agen, profit untuk perusahaan asuransi, biaya administrasi, dll dsb. anda gak bisa pura2 anda lebih tahu daripada saya :)

    5. Kekeliruan paling besar adalah membandingkan Unit Link dengan Reksadana. Unit Link digunakan untuk asuransi jiwa jangka panjang, sedangkan Reksadana digunakan untuk investasi jangka panjang.
    unit link = proteksi/jaminan jangka panjang
    term life = proteksi/jaminan sementara
    investasi = cari untung
    Dari segi tujuan saja sudah merupakan hal yang berbeda. Tentu hasilnya juga berbeda.

    di sini saya gak membandingkan unit link ddengan reksadana, tapi unit link dengan BTAID.

    Setau saya, asuransi jiwa Whole Life dan Unit Link bisa digunakan sebagai jaminan kredit pada bank. Sedangkan Term Life tidak. Untuk yang Unit Link, polis yang ingin digunakan sebagai jaminan harus dipastikan nasabah sudah bisa cuti premi. Dan juga nasabah yang menjaminkan polisnya tersebut tidak bisa melakukan transaksi penarikan dengan polisnya.

    reksadana bisa digunakan sebagai jaminan kredit :).

  234. @firesquid:

    untuk bung firesquid. rasanya anda terlalu NATO (no action talk only). supaya lebih konstruktif, saya mohon anda untuk paling tidak memberi saya:

    * bukti perhitungan kalau unit link lebih menguntungkan daripada BTAID
    * ilustrasi unit link yang menurut anda lebih kecil biaya akuisisinya.

    ilustrasi saya harapkan dibuat untuk pria tidak merokok umur 30 tahun. karena itu perbandingan yang saya miliki sekarang.

    saya tunggu di email saya.

  235. kepada bapak/ibu pengamat asuransi……
    mengapa terlalu meributkan perbedaan-perbedaan antara Unit Link dengan RD + Term Life………

    semua itu tergantung dengan tujuan perencanaan keuangan masing-masing kok…..Unit Link juga banyak variasinya antara beberapa perusahaan asuransi…..banyak juga yang menawarkan fleksibilitasnya…seperti dalam Prulink ada unsur fleksibilitas dalam menentukan prosentase portfolio investasinya dan dapat diubah sewaktu-waktu jadi dapat mempunyai portfolio sendiri…..tapi bila beli RD saham maka hanya saham aja portfolionya……
    dan juga dalam unit link ada unsur kemudahan dalam menentukan UP sesuai dengan perencanaannya jadi ga masalah dalam penentuan UP nya……

    So…..tolong semua itu bagus bila setiap individu mengerti apa yang telah dibelinya……akan disesuaikan dengan perencanaan dan disarankan untuk di contoll perjalanannya…..jangan sampai nilai UP nya tidak sesuai dengan risiko yang terjadi

    Yang ga bener itu yang pura-pura ngerti
    Ok…..sukses semua

  236. sori bro ada salah penulisan takut salah persepsi juga…..akan disesuaikan dengan perencanaan dan disarankan untuk di contoll perjalanannya…..maksudnya di controll bro….bukan contoll…..sori coy

    ok salam hangat

  237. #270:

    banyak juga yang menawarkan fleksibilitasnya…seperti dalam Prulink ada unsur fleksibilitas dalam menentukan prosentase portfolio investasinya dan dapat diubah sewaktu-waktu jadi dapat mempunyai portfolio sendiri…..tapi bila beli RD saham maka hanya saham aja portfolionya……

    kalau kita beli RD saham bukan berarti gak boleh beli RD lain. selain itu kalau sudah beli RD saham misalnya, dapat dengan mudah kita switching ke jenis RD yang lainnya. no problem.

    dan juga dalam unit link ada unsur kemudahan dalam menentukan UP sesuai dengan perencanaannya jadi ga masalah dalam penentuan UP nya……

    di term life juga bisa kok. no problem.

    tidak ada manfaat di unit link yang tidak bisa didapatkan di BTAID.

  238. * bukti perhitungan kalau unit link lebih menguntungkan daripada BTAID

    Ini untuk ketiga kalinya saya posting. Sepertinya Mas Priyadi kurang bisa menyimak. Jika nasabah mengalami sakit kritis di tahun kedua, maka setoran waiver untuk nasabah Unit Link akan jauh lebih besar daripada setoran waiver di Term Life + hasil investasi reksadana.

    Sehingga nilai tunai akhir di Unit Link juga akan lebih besar. Perhitungan ala Mas Priyadi bisa dilihat di sini :
    http://rapidshare.com/files/73462576/Unit_Link_vs_BTAID.xls.html

    * ilustrasi unit link yang menurut anda lebih kecil biaya akuisisinya.

    Untuk yang satu ini saya tidak bisa. Karena saya tidak punya kenalan dengan agen perusahaan bersangkutan.

  239. #273:

    Ini untuk ketiga kalinya saya posting. Sepertinya Mas Priyadi kurang bisa menyimak

    hahahahah, hebat hebat, asli ngakak guling2 =)). sebelumnya anda SAMA SEKALI BELUM PERNAH posting file Unit_Link_vs_BTAID.xls di sini. selain itu, dari metadatanya, file tersebut ternyata baru dibuat jam 9 pagi tanggal 1 desember 2007 alias hari ini :P. “ketiga kalinya saya posting” dari hongkong? =)). nice try though :))

    kalau soal ini saja sudah bohong, mari kita lihat kebohongan apa lagi yang ada di ilustrasinya =))

    Jika nasabah mengalami sakit kritis di tahun kedua, maka setoran waiver untuk nasabah Unit Link akan jauh lebih besar daripada setoran waiver di Term Life + hasil investasi reksadana.

    ini perbandingan yang salah karena sebagian premi asuransi di unit link masih ada yang masuk ke investasi. dan anda sama sekali tidak berusaha untuk melakukan kompensasi untuk ini. akibatnya, besar pertanggungan di unit link dan di BTAID menjadi berbeda. sedangkan perbandingan saya melakukan kompensasi terhadap perbedaan tersebut.

    sebenarnya hal ini gampang dilihat kok. jika ada perbedaan dalam hal besar nilai pertanggungan, maka artinya anda tidak cukup adil dalam melakukan perbandingan. kalau mau adil, silakan perbaharui ilustrasi anda, yang tadinya “STOP SETOR” di worksheet ‘Reksadana’ anda buat supaya sama dengan besar setoran ke porsi investasi yang ada di unit link.

    itu kalau anda mau serius untuk membuat perbandingan :P

  240. hahahahah, hebat hebat, asli ngakak guling2 =)). sebelumnya anda SAMA SEKALI BELUM PERNAH posting file Unit_Link_vs_BTAID.xls di sini. selain itu, dari metadatanya, file tersebut ternyata baru dibuat jam 9 pagi tanggal 1 desember 2007 alias hari ini :P. “ketiga kalinya saya posting” dari hongkong? =)). nice try though

    Ternyata memang terbukti Anda tidak menyimak postingan orang. Silahkan baca kembali postingan saya di :
    Pertama : #231
    Kedua : #262
    Ketiga : #265

    Opps….sorry, berarti jika dihitung postingan #273 menjadi 4 kalinya saya posting di sini untuk menjelaskan ttg waiver di Unit Link vs BTAID.

    Excel yang diatas memang baru saya buat hari ini berdasarkan sample bentuk perhitungan yang Mas Priyadi berikan. Saya pikir dengan format yang mirip, Mas Priyadi bisa lebih memahami. Dan ternyata Mas Priyadi masih tidak mengerti.

    ini perbandingan yang salah karena sebagian premi asuransi di unit link masih ada yang masuk ke investasi.

    Bagus….ada kemajuan.
    Akhirnya sekarang Anda tau kenapa premi Unit Link lebih tinggi daripada premi Term Life.

    dan anda sama sekali tidak berusaha untuk melakukan kompensasi untuk ini. akibatnya, besar pertanggungan di unit link dan di BTAID menjadi berbeda.

    Betul…
    Di sini saya mau menunjukkan kelebihan di Unit Link. Yaitu Waiver of Premium pada Unit Link membantu membayarkan biaya asuransi dan menyetorkan investasi secara berkala.

    Saya tidak bermaksud mengunggulkan atau menjatuhkan produk perusahaan tertentu seperti yang Mas Priyadi lakukan. Saya hanya ingin menjelaskan kelebihan Unit Link.

    Harap Anda pahami dengan benar maksud kalimat diatas. Jika belum paham, baca lagi berulang-ulang. Jika sudah baca berulang-ulang dan masih belum paham juga, saya nyerah :o.

    sedangkan perbandingan saya melakukan kompensasi terhadap perbedaan tersebut.

    Jika kompensasi yang Anda maksudkan adalah menambahkan UP pada sakit kritis, maka pada Unit Link juga bisa dilakukan hal yang sama.

    kalau mau adil, silakan perbaharui ilustrasi anda, yang tadinya “STOP SETOR” di worksheet ‘Reksadana’ anda buat supaya sama dengan besar setoran ke porsi investasi yang ada di unit link.

    Sudah saya jelaskan bahwa diasumsikan nasabah tidak punya uang tambahan lagi untuk setor asuransi ataupun investasi, karena uang tersebut dipakai untuk alokasi pengobatan rutin.

    Apakah Mas Priyadi mengerti kata “asumsi“?

    Jika Mas Priyadi mau perbandingan yang lebih adil, Anda bisa kontak dengan agen asuransi Anda dan buatlah perbandingan Term Life vs Unit Link dari perusahaan yang sama. Soalnya perhitungan premi dan biaya didalamnya bisa berbeda untuk perusahaan yang berbeda. Bahkan perusahaan yang sama aja bisa memiliki perhitungan yang berbeda untuk produk yang berbeda.

    Sedikit saran buat Mas Priyadi yang tidak bekecimpung di bidang asuransi dan finansial :
    “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends on his not understanding it.”

  241. #275:

    Ternyata memang terbukti Anda tidak menyimak postingan orang. Silahkan baca kembali postingan saya di : Pertama : #231 Kedua : #262 Ketiga : #265

    hihihi, saya sudah baca komentar tersebut, dan TIDAK ADA perhitungan yang hasilnya sama dengan excel anda yang terakhir :). jangan ngeles ah :P

    Akhirnya sekarang Anda tau kenapa premi Unit Link lebih tinggi daripada premi Term Life.

    maaf, tapi saya sudah tahu dari dulu :P

    Saya tidak bermaksud mengunggulkan atau menjatuhkan produk perusahaan tertentu seperti yang Mas Priyadi lakukan. Saya hanya ingin menjelaskan kelebihan Unit Link.

    ‘kelebihan’ yang anda maksud tersebut dapat dengan mudah direplikasikan di term life. ini adalah salah satu point dari posting saya ini.

    Jika kompensasi yang Anda maksudkan adalah menambahkan UP pada sakit kritis, maka pada Unit Link juga bisa dilakukan hal yang sama.

    betul. anda bisa saja menghapus waiver dan memindahkannya dalam bentuk lump sum ke manfaat utama. no problem.

    Sudah saya jelaskan bahwa diasumsikan nasabah tidak punya uang tambahan lagi untuk setor asuransi ataupun investasi, karena uang tersebut dipakai untuk alokasi pengobatan rutin.

    let me get this straight. waiver di unit link itu mengcover premi asuransi + investasi. sedangkan waiver di term life itu HANYA mengcover premi asuransinya saja. jelas di sini manfaat yang didapat unit link yang di ilustrasi anda itu lebih besar daripada BTAID. jika terjadi musibah, maka manfaat yang didapatkan tertanggung unit link akan lebih besar daripada yang didapatkan tertanggung BTAID.

    jadi saya sama sekali gak kaget dengan ‘kesimpulan’ anda. kalau anda ingin membandingkan dengan adil, anda gak boleh berat sebelah. silakan anda coba buat ilustrasi plain asuransi tanpa waiver maupun payor kalau dirasa perhitungan present value of an annuity terlalu sulit untuk anda mengerti.

    Jika Mas Priyadi mau perbandingan yang lebih adil, Anda bisa kontak dengan agen asuransi Anda dan buatlah perbandingan Term Life vs Unit Link dari perusahaan yang sama. Soalnya perhitungan premi dan biaya didalamnya bisa berbeda untuk perusahaan yang berbeda. Bahkan perusahaan yang sama aja bisa memiliki perhitungan yang berbeda untuk produk yang berbeda.

    saya sih mau2 saja seandainya perusahaan asuransi ‘yang itu tuh’ punya produk term life :)

    Sedikit saran buat Mas Priyadi yang tidak bekecimpung di bidang asuransi dan finansial : “It is difficult to get a man to understand something when his salary depends on his not understanding it.”

    hahahah, saya sih sama sekali gak dapat bayaran apa2 dari nulis ini. orang ikut unit link atau ikut BTAID, saya sama sekali gak dapat bayaran :)

  242. Halo Pak Priyadi,

    Tolong tanya apakah Pak Priyadi tidak keberatan untuk me-load term life-nya (seperti yang file pdf untuk unit link)?

    Atau kalau mungkin Pak Priyadi keberatan, apakah saya boleh tahu premi untuk usia 50 – 99? Karena dalam file Excel perbandingan antara unit-link vs term itu hanya ada premi sampai dengan usia 49.

    Dan tolong tanya apakah di asuransi term life tidak ada biaya administrasi bulanan (Rp. 27.500 per bulan di dalam unit link)? Atau sudah termasuk di dalam preminya?

    Terima kasih banyak ya Pak Priyadi untuk informasinya.

  243. #277:

    Tolong tanya apakah Pak Priyadi tidak keberatan untuk me-load term life-nya

    saya gak punya. saya cuma punya informasinya saja.

    Atau kalau mungkin Pak Priyadi keberatan, apakah saya boleh tahu premi untuk usia 50 – 99? Karena dalam file Excel perbandingan antara unit-link vs term itu hanya ada premi sampai dengan usia 49.

    agen yang menyuruh anda ikut asuransi jiwa sampai umur 99 itu sedang mengkadali anda :). pada umur 99 tahun:

    * nasabah sudah tidak produktif
    * nilai tunai yang di miliki sudah jauh di atas uang pertanggungan

    dengan demikian tidak lagi perlu asuransi.

    di ilustrasi saya, perhatikan nilai tunai yang terbentuk pada tahun ke 20. baik untuk unit link maupun term life, keduanya sudah di atas nilai uang pertanggungan. dan sudah waktunya bagi nasabah untuk berpikir membatalkan polis asuransi jiwanya, terlepas apakah dia ambil unit link atau term life.

    ilustrasi yang sampai 99 tahun itu fungsinya cuma untuk membuat nasabah terkesima dengan angka2nya.

    Dan tolong tanya apakah di asuransi term life tidak ada biaya administrasi bulanan (Rp. 27.500 per bulan di dalam unit link)? Atau sudah termasuk di dalam preminya?

    sudah termasuk di dalam preminya.

  244. jadi saya sama sekali gak kaget dengan ‘kesimpulan’ anda. kalau anda ingin membandingkan dengan adil, anda gak boleh berat sebelah. silakan anda coba buat ilustrasi plain asuransi tanpa waiver maupun payor kalau dirasa perhitungan present value of an annuity terlalu sulit untuk anda mengerti.

    Berarti Mas Priyadi hendak mengarahkan orang untuk melihat Unit Link tanpa kelebihannya. Orang setor premi lebih mahal kepada suatu produk asuransi tentu ada kelebihannya donk, jika tanpa kelebihan buat apa bayar lebih mahal.

    saya sih mau2 saja seandainya perusahaan asuransi ‘yang itu tuh’ punya produk term life

    Masa Mas Priyadi cuma tau perusahaan “yang itu tuh” doank yang menjual Unit Link. Berarti Mas Priyadi memang kurang banget pengetahuan ttg Unit Link. Segala tulisan Mas Priyadi terkesan sok tau….

    Kecuali memang sejak awal tulisan Mas Priyadi berniat menunjukkan kekurangan perusahaan “yang itu tuh”. Kalau Mas Priyadi sejak awal terus terang mengatakan maksud menunjukkan kekurangan perusahaan tsb, pembaca akan lebih bisa menerima. Daripada tulisan yang menyesatkan soal Unit Link.

    Sebagai informasi, ada perusahaan yang menjual Unit Link dan Term Life dan cukup dikenal daripada perusahaan “yang itu tuh”, misalnya AIG Life, CAR Insurance, AXA, dan ManuLife Insurance. Silahkan gunakan produk dari perusahaan tsb sebagai perbandingan.

    Kalau cuma sekedar sentimen karena pasar asuransi jiwa didominasi oleh perusahaan “yang itu tuh”, maka seharusnya Mas Priyadi menganalisa lebih teliti. Bagaimana masyarakat bisa menaruh kepercayaan kepada perusahaan tsb daripada perusahaan lain.

    Tolong Mas Priyadi pahami juga kata : “percaya

    Jika tingkat pemahaman Mas Priyadi agak kurang, coba bayangkan saja masyarakat yang lebih memilih buka rekening di BCA dan Mandiri daripada bank lainnya. Tentu ada faktor kepercayaan pada kedua bank tersebut.

    agen yang menyuruh anda ikut asuransi jiwa sampai umur 99 itu sedang mengkadali anda . pada umur 99 tahun:

    Lagi-lagi tulisan Mas Priyadi terkesan sok tau.
    Masa Mas Thomas menanyakan premi setelah tahun 50-99 untuk informasi masa tidak boleh? Soalnya usia 50-75 merupakan usia yang besar terkena resiko sakit dan meninggal.

    Mengetahui perbandingan premi Term Life dan Unit Link untuk usia 50-75 juga merupakan salah satu hak dari calon nasabah untuk memilih asuransi. Jika ternyata premi Term Life di usia 50-75 malah banyak menguras hasil investasi, tentu bukan merupakan pilihan yang cocok.

  245. Banyak pembaca mengunjungi blog Mas Priyadi juga karena percaya dengan analisa dan tulisan Mas Priyadi.

    Jika semua tulisan Mas Priyadi ttg Unit Link dan BTAID hanya seputar masalah untung rugi…saya sarankan jangan ikut asuransi sama sekali. Dapat UP meninggal 100 milyar juga tidak bisa menutupi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Lebih baik uang tersebut digunakan buat amal, anggap sebagai duit nyicil kapling di Surga.

  246. #279:

    Berarti Mas Priyadi hendak mengarahkan orang untuk melihat Unit Link tanpa kelebihannya. Orang setor premi lebih mahal kepada suatu produk asuransi tentu ada kelebihannya donk, jika tanpa kelebihan buat apa bayar lebih mahal.

    kalau lawan yang dibandingkan juga tidak diberikan kelebihan tersebut, artinya perbandingan tersebut tetaplah adil.

    kalau lawannya sepadan harusnya tidak perlu takut bertanding, kecuali kalau sebelum bertanding sudah yakin bakalan kalah :)

    Sebagai informasi, ada perusahaan yang menjual Unit Link dan Term Life dan cukup dikenal daripada perusahaan “yang itu tuh”, misalnya AIG Life, CAR Insurance, AXA, dan ManuLife Insurance. Silahkan gunakan produk dari perusahaan tsb sebagai perbandingan.

    kalau ada ilustrasinya saya sih mau2 saja. tapi selama ini anda kan juga selalu pakai contoh asuransi ‘yang itu tuh’ :)

    Kalau cuma sekedar sentimen karena pasar asuransi jiwa didominasi oleh perusahaan “yang itu tuh”, maka seharusnya Mas Priyadi menganalisa lebih teliti. Bagaimana masyarakat bisa menaruh kepercayaan kepada perusahaan tsb daripada perusahaan lain.

    karena dipasarkan secara kelewat agresif. karena nasabah tidak menyadari kalau asuransi ini mahal. saya gak sentimen, tapi saya lihat banyak nasabah yang merasa dikadalin. this has to stop!

    Lagi-lagi tulisan Mas Priyadi terkesan sok tau. Masa Mas Thomas menanyakan premi setelah tahun 50-99 untuk informasi masa tidak boleh? Soalnya usia 50-75 merupakan usia yang besar terkena resiko sakit dan meninggal.

    bukan tidak boleh, tapi terus terang saya gak tahu. selain itu asuransi jiwa itu BUKAN untuk menutupi resiko kematian. ini yang sama sekali kurang dipahami oleh kebanyakan agen dan nasabah. asuransi jiwa itu gunanya untuk menutupi resiko kehilangan sumber penghasilan.

    orang yang ngambil BTAID atau unit link pada usia 30 tahun, maka saat dia berusia 50-75 tahun sudah punya dana yang jauh lebih besar daripada uang pertanggungan.

    #280:

    Banyak pembaca mengunjungi blog Mas Priyadi juga karena percaya dengan analisa dan tulisan Mas Priyadi.

    ini bukan soal kepercayaan, ini adalah kepastian matematis. semua pernyataan saya berlandaskan bukti2 matematis yang bisa dilihat di spreadsheet.

    Jika semua tulisan Mas Priyadi ttg Unit Link dan BTAID hanya seputar masalah untung rugi…saya sarankan jangan ikut asuransi sama sekali. Dapat UP meninggal 100 milyar juga tidak bisa menutupi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Lebih baik uang tersebut digunakan buat amal, anggap sebagai duit nyicil kapling di Surga.

    alternatif lainnya, daripada ikut unit link mendingan ikut BTAID, dan uang yang tadinya dipakai untuk biaya akuisisi lebih baik digunakan untuk amal :)

  247. #281

    karena dipasarkan secara kelewat agresif. karena nasabah tidak menyadari kalau asuransi ini mahal. saya gak sentimen, tapi saya lihat banyak nasabah yang merasa dikadalin. this has to stop!

    =====

    Apakah mas pri sudah mengadakan perhitungan secara matang bahwa premi unit link lebih mahal dibanding term life? Boleh donk saya liat perhitungannya?

  248. #282:

    Apakah mas pri sudah mengadakan perhitungan secara matang bahwa premi unit link lebih mahal dibanding term life? Boleh donk saya liat perhitungannya?

    perhitungan saya ya yang di atas ini. jika biaya yang dikeluarkan nasabah untuk mendapatkan proteksi di unit link memang lebih murah daripada BTAID, maka nilai tunai pada tahun terakhir di unit link harusnya lebih tinggi daripada BTAID, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

  249. ah, perdebatan yang tiada akhir.

    jadi ingat cerita beberapa orang buta yang meraba-raba gajah lalu ngotot mendefinisikan gajah menurut versi masing-masing, menurut bagian yang teraba.

    diskusi yang awalnya objektif, karena sama-sama ngotot jadi subjektif dan tidak bisa dinikmati lagi.

  250. #284:

    jadi ingat cerita beberapa orang buta yang meraba-raba gajah lalu ngotot mendefinisikan gajah menurut versi masing-masing, menurut bagian yang teraba.

    diskusi yang awalnya objektif, karena sama-sama ngotot jadi subjektif dan tidak bisa dinikmati lagi.

    betul sekali pak. kalau mau objektif, sebenarnya diskusi sudah berakhir pada saat saya menulis posting ini. subjektifitas muncul karena ada yang berdiskusi dengan niat berdasarkan agenda pribadi, bukan mencari solusi yang terbaik.

    kalau mau objektif, lihat saja perhitungan matematisnya. angka2 tidak bisa bohong.

  251. #281 karena dipasarkan secara kelewat agresif. karena nasabah tidak menyadari kalau asuransi ini mahal. saya gak sentimen, tapi saya lihat banyak nasabah yang merasa dikadalin. this has to stop!
    —————————-
    :-D
    Bukannya mau rame sih, cuman …
    dilapangan yang terjadi memang seperti itu. Ada temen yang ditawarin asuransi unitlink.
    Premi 300rb sebulan, setahun 3,6juta. Potong biaya admin 25rb sebulan. Porsi investasi 1 juta dari premi 3,6juta setahun.

    Hebatnya, si agen ngomong kalo hanya perlu bayar 3 kali. Temen gw (mungkin juga nasabah laennya) tidak pernah diberitahukan bahwa sebenarnya premi akan dipotongkan dari hasil investasi. Yang bikin miris adalah dari kasus teman saya adalah, jika pada tahun ke 3 dia berhenti bayar, sementara investasi hanya 1 jt pertahun. Dapat dipastikan bahwa pada tahun ke 6 bakal lapsed polisnya. Karena dipotongin terus.

    Akhirnya gw sampe pada kesimpulan, sebenarnya AAJI ngomong proud to be professional agent sih boleh. Hanya saja jika perusahaan insurance yang memberikan rules, bisa di bending sama agennya ya repot.

    Lucu juga ada komentar diforum ini, bahwa tabel biaya bisa diminta oleh nasabah jika diperlukan, bahwa porsi asuransi dan investasi bisa dinaik turunkan. Emang nasabah tau masalah ginian ? Toh saya baca beberapa polis unitlink dari beberapa perusahaan tidak pernah ada juga ada klausul bisa naek turunkan (atau saya kurang teliti?). Nasabah sih kena iming2 dapet duit sekian di usia sekian. Rakyat kita masih banyak yang gak peduli dapet duit dari langit atau gimana, pokoknya ada ilustrasi X Milyar langsung sabet !

    Just my 2 cents (duh, jadul banget rasanya kalimat ini)

  252. @ FireSquid
    Abis baca excelnya, ada tulisan dibawah ini
    – Perbandingan ini kurang fair, karena membandingkan 2 produk asuransi dari perusahaan yang berbeda

    lucu juga, karena kelebihan dari BTAID adalah mendapatkan produk yang terbaik di bidangnya dan membiarkan nasabah memilih apa yang terbaik bagi mereka pada masing bidang tersebut (investasi dan asuransi). IMHO sah2 saja pake beda perusahaan.

    Yang saya tunggu benernya ada yang ngasih ilustrasi BEL (Back End Loading). Karena yang dibahas adalah FEL (Front End Loading) mulu. Ada Agen insurance yang mau share proposal BEL disini ?

    Biar lebih adil :-D

  253. Yang saya dengar katanya AIG punya unit link yg back end load. tapi saya bingung juga karena asuransi biasanya front end load. Bisa rugi kalo biaya asurasni belum dibayar tapi udah keburu meninggal. :)

  254. saya lagi cari yang BTAID + asuransi kesehatan dulu nih sebelum tutup “yang itu tuh”.

    Sudah jalan 18 bulan, dan baru aja buka 1 polis lagi buat anak (salah perencanaan yah ternyata).

    Tapi gpp, anggep aja ongkos belajar, drpd ngeyel thd fakta yg jelas.

    ada rekomen ga sekalian agentnya ?

    kalo dr unit link, raider hospital kesimpulannya tetap bisa di putus sepihak yah ?

  255. #289 :
    Kalau sudah jalan 18 bulan apakah tidak sayang kalau ditutup? Soalnya selisih utama dari Unit-Link dengan Term Life + Reksadana adalah selisih Nilai Tunai 2 tahun pertama yang dikembangkan terus sampai tahun ke – 20.

    Coba bapak liat selisih nilai tunai pada tahun ke – 2 terus Bapak kembangkan dengan 17% per tahun sampai tahun ke – 20 (menggunakan ilustrasi Pak Priyadi). Jadinya hampir Rp 250 juta atau dengan kata lain hampir seluruh selisih antara unit-link dengan term life + reksadana itu karena selisih nilai tunai di 2 tahun pertama. 2 tahun pertama itulah memang banyak porsi yang untuk biaya akuisisi unit link (komisi, dll).

    Kalau Bapak sudah jalan 18 bulan, menurut saya ya sayang kalau dibatalkan Pak. Soalnya setelah selisih nilai tunai 2 tahun itu, antara unit link dengan term-life + reksadana sudah tidak terlalu banyak bedanya.

    Solusi yang mungkin lebih baik adalah Bapak cuti premi aja secepat mungkin dan uangnya dimasukkan ke reksadana full.

    Ini menurut perhitungan sementara saya sih.

  256. #290:

    Kalau sudah jalan 18 bulan apakah tidak sayang kalau ditutup? Soalnya selisih utama dari Unit-Link dengan Term Life + Reksadana adalah selisih Nilai Tunai 2 tahun pertama yang dikembangkan terus sampai tahun ke – 20.

    kalau baru 18 bulan kelihatannya belum lunas seluruh overheadnya, unit link paling ‘populer’ di indonesia baru selesai biaya akuisisi setelah 5 tahun. jadi menurut saya lebih baik dibatalkan saja. selain itu walaupun sudah lebih dari 5 tahun, komisi setoran lebih tinggi dibandingkan dengan reksadana. jadi setelah 5 tahun, pilihannya adalah menghilangkan top up investasi di unit link, atau membatalkan unit link. tapi biasanya agen gak suka kalau top up investasi dihilangkan karena dia akan kehilangan komisi.

  257. Capek dehhhhhhhhh.
    Isteri saya punya asuransi biasa dan ada juga asuransi unit link.
    Setelah dia hitung-hitung dari segi pelayanan, ternyata pelayanan yang diberikan oleh unit link jauh lebih baik dan dia memutuskan berhenti dari asuransi biasa.
    Saya punya unit link dan mau nambah lagi preminya, selain itu saya juga mau berinvestasi di reksadana.
    Saya tidak menganggap reksadana + asuransi biasa lebih baik dari unit link atau sebaliknya.
    Yang saya mau adalah ketenangan bekerja seperti yang saya lakukan saat ini sambil berharap nantinya uang saya bisa bertambah sesuai perkiraan perhitungan awal baik dari unit link ataupun dari reksadana.
    Kalau saya jadi ribut hanya karena hitung2an dari mas Pri mending saya investasi tambal ban di pinggir jalan, sehari minimal untungnya 150%.
    Gimana?
    Yang penting kita jangan terlalu ngotot pakai hitung2an kita sendiri.
    Semua hitung2an ada asumsinya sendiri baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
    Marilah kita saling menghargai, jangan menghakimi….

  258. #292:

    Kalau saya jadi ribut hanya karena hitung2an dari mas Pri mending saya investasi tambal ban di pinggir jalan, sehari minimal untungnya 150%.
    Gimana?

    ini cuma pengalihan perhatian dari urusan yang sedang dibicarakan. kita membicarakan investasi, bukan untuk modal usaha sendiri. selain itu, perbandingan yang saya lakukan menggunakan asumsi perkembangan investasi yang sama persis.

    Yang penting kita jangan terlalu ngotot pakai hitung2an kita sendiri. Semua hitung2an ada asumsinya sendiri baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Marilah kita saling menghargai, jangan menghakimi….

    membandingkan asuransi itu sulit karena produk2 seperti unit link tidak memberi tahu harga mereka sebenarnya. nasabah hanya bisa menilai dari potensi capital gain setelah melalui perhitungan yang lebih rumit setelah menyamakan asumsi. dan hanya itulah yang saya lakukan di sini.

    kesimpulannya: asuransi unit link lebih mahal daripada term life tradisional. soal manfaat subjektif seperti ‘pelayanan’ dan lain sebagainya itu silakan saja dinilai masing2. sebagian besar tentunya berkesimpulan kalau layanan yang diberikan asuransi unit link tidaklah sepadan dengan harganya. tapi saya tidak menutup kemungkinan kalau ada yang berpendapat sebaliknya.

  259. #291 :

    Saya menyimpulkan bahwa overhead terbesar terjadi di tahun 1 dan 2 karena selisih nilai tunai di tahun 2 dalam ilustrasi Pak Priyadi adalah Rp. 14.572.863.

    Kemudian kalau Rp. 14,5 juta itu tadi saya kembangkan terus dengan 17% sampai tahun 20, maka hasilnya adalah Rp. 245.974.674. Selisih nilai tunai tahun 20 sendiri adalah Rp. 250.326.907, atau dengan kata lain selisih nilai tunai antara unit link dengan term+reksadana (hampir) murni disebabkan oleh selisih nilai tunai di tahun 2 saja.

    Tolong tanya apakah perhitungan saya sudah benar Pak Priyadi?

    Terima kasih untuk masukan dari Pak Priyadi.

  260. #294:

    Saya menyimpulkan bahwa overhead terbesar terjadi di tahun 1 dan 2 karena selisih nilai tunai di tahun 2 dalam ilustrasi Pak Priyadi adalah Rp. 14.572.863.

    benar. overhead paling besar di unit link adalah biaya akuisisi. pada unit link ‘yang itu tuh’â„¢, biaya akuisisinya 100%, 60%, 15%, 15%, 15% di 5 tahun pertama.

    Kemudian kalau Rp. 14,5 juta itu tadi saya kembangkan terus dengan 17% sampai tahun 20, maka hasilnya adalah Rp. 245.974.674. Selisih nilai tunai tahun 20 sendiri adalah Rp. 250.326.907, atau dengan kata lain selisih nilai tunai antara unit link dengan term+reksadana (hampir) murni disebabkan oleh selisih nilai tunai di tahun 2 saja.

    gak murni selisih nilai tunai di 2 tahun pertama saja. tapi selain itu juga ada perbedaan2 misalnya:

    * biaya penyetoran investasi
    * biaya mortalita
    * biaya administrasi
    * dst

    beberapa biaya lebih besar di UL, beberapa lebih besar di term+RD. tapi secara keseluruhan, term+RD lebih murah.

  261. Sorry mas Pri..
    Saya terpaksa masuk lagi di blog ini karena saya tdk puas dengan keterangan dari mas Pri.
    Saya sudah check di beberapa reksadana ternyata biaya maksimum untuk manajemen fee, bank kustodian, biaya beli dan jualnya ternyata besar2. Kalau dijumlahkan bisa sampai 8% atau 9%.
    Memang sih itu maksimum. Tapi kalau mau aman sih mending hitung yang maksimum aja.
    Di Amerika juga biayanya bisa sampai 9%. Jadi yah direksadana biayanya besar juga.
    Jangan minta saya untuk memberi contoh reksadananya karena kalau memang mas Pri jeli lihat aja di portal reksadana. Kalau teman2 yang lain mau lihat juga silahkan cari sendiri disitu.
    Saya tidak punya banyak waktu untuk tulis2 disini.
    Yang penting saya tenang…..
    Thanx n Rgrds.

  262. #296:

    Saya sudah check di beberapa reksadana ternyata biaya maksimum untuk manajemen fee, bank kustodian, biaya beli dan jualnya ternyata besar2. Kalau dijumlahkan bisa sampai 8% atau 9%.

    biaya beli di unit link itu sudah 5% sendiri lho! saya belum pernah menemukan biaya biaya setor + biaya redemption di reksadana yang mencapai 5%.

    kalau soal manajemen fee, unit link ‘yang itu tuh’ mencharge fixed sebesar 1.75%, sedangkan di reksadana rasanya gak ada yang lebih dari 3%. di reksadana, biaya pengelolaan itu tanggung jawab reksadana, bukan tanggung jawab nasabah. jadi angka NAB yang didapat nasabah itu sudah bersih gak perlu lagi dikurangi biaya pengelolaan investasi. selain itu, biaya ini variabel, yang tertera di prospektus itu biaya maksimal. sedangkan realisasi biaya pengelolaan investasi salah satunya ditentukan oleh mekanisme pasar. kalau satu fund underperforming, dia harus turunkan biaya pengelolaannya, kalau tidak nasabah bisa lari ke fund lain. salah satu komponen harga NAB adalah biaya pengelolaan ini.

    alternatif lain, kalau gak mau bayar biaya pengelolaan yang mahal, bisa ikutan reksadana indeks. di danareksa indeks syariah, biaya pengelolaan (sudah termasuk bank kustodian) cuma 0.36%/tahun.

    di unit link, biaya pengelolaan itu besarnya tetap, dan merupakan tanggung jawab nasabah. jadi harga unit yang diterima nasabah itu belum bersih, dan harus dipotong oleh biaya pengelolaan. dan ada desas desus kalau di unit link ‘yang itu tuh’â„¢, ternyata aset tidak dikelola secara aktif, sama dengan teknik yang digunakan reksadana indeks. tapi mereka pakai standar biaya pengelolaan aktif.

    Jangan minta saya untuk memberi contoh reksadananya karena kalau memang mas Pri jeli lihat aja di portal reksadana. Kalau teman2 yang lain mau lihat juga silahkan cari sendiri disitu. Saya tidak punya banyak waktu untuk tulis2 disini.

    kalau tidak punya waktu, ya gak perlu tulis2 :). anda yang mengklaim, anda yang kasih buktinya. jangan menyerahkan tanggung jawab tersebut ke orang lain. nice try though :).

  263. @Mas Peter
    #287

    lucu juga, karena kelebihan dari BTAID adalah mendapatkan produk yang terbaik di bidangnya dan membiarkan nasabah memilih apa yang terbaik bagi mereka pada masing bidang tersebut (investasi dan asuransi). IMHO sah2 saja pake beda perusahaan.

    Tentu saja hasilnya tidak fair karena perbandingan tersebut merupakan perbandingan hasil investasi yang dengan asumsi 17% /tahun, bukan angka sebenarnya.

    Kenyataannya orang beli BTAID bisa memilih produk asuransi dengan premi termurah dan memilih investasi dengan hasil paling tinggi. Dan yang jelas investasi yg return tinggi tsb bukan reksadana spt asumsi Mas Priyadi.

    Untuk unit link sendiri, cara investasinya memang terlihat mirip dengan reksadana, tapi bukan. Investasi di unit link lebih berupa asset management yang resikonya lebih kecil dari reksadana saham, dan hasilnya tentu tidak sebesar reksadana.

    Untuk yang asuransi unitlink yang Back End Loading, Mas Peter silahkan contact dengan agen AIA (atau AIG? saya lupa yang mana). Dulu pernah ada agen yang datang menawarkan, kelihatannya memang cukup menarik juga.

  264. @hutanlebat
    #289

    kalo dr unit link, raider hospital kesimpulannya tetap bisa di putus sepihak yah ?

    Kalau polis unitlink saya (PAA+), raider hospital akan ditanggung sampai usia 65 tahun.
    Raider hospital hanya akan direview ulang/diputus oleh pihak perusahaan jika polis lapse dan dipulihkan kembali.

    Entah perusahaan lain gimana.
    Semoga bisa membantu.

  265. @295

    tapi secara keseluruhan, term+RD lebih murah.

    Lebih murah apakah lebih bagus? Siapa yang berani menjamin produk murah tidak berarti murahan.

    Kedua, beli asuransi unit link bukan berarti lebih merugikan daripada beli Term+RD dimana nasabah bisa memilih asuransi premi termurah dan investasi yg terbesar. Melainkan Unit Link UNTUNGNYA KALAH BESAR dengan beli terpisah.

    Sepengetahuan saya, reksadana punya resiko yang besar, sedangkan unit link relatif lebih aman. Reksadana Equity lebih aktif memainkan dana nasabah di bursa saham, sedangkan Unit Link Equity berupa asset management di beberapa saham unggulan. Terserah profil masing-masing, cari untung atau cari aman.

  266. #298:

    Tentu saja hasilnya tidak fair karena perbandingan tersebut merupakan perbandingan hasil investasi yang dengan asumsi 17% /tahun, bukan angka sebenarnya.

    kalau gitu yang fair seperti apa? return investasi untuk unit link dinaikkan sampai 10% gitu? :P

    Investasi di unit link lebih berupa asset management yang resikonya lebih kecil dari reksadana saham, dan hasilnya tentu tidak sebesar reksadana.

    heheheh. coba kasih bukti kalau resikonya lebih kecil :)

    #299:

    Kalau polis unitlink saya (PAA+), raider hospital akan ditanggung sampai usia 65 tahun. Raider hospital hanya akan direview ulang/diputus oleh pihak perusahaan jika polis lapse dan dipulihkan kembali.

    ini FUD. di PAA+ manfaat kesehatan TIDAK ditanggung. kalau ditanggung coba anda sebutkan bunyi pasalnya.

    #300:

    Lebih murah apakah lebih bagus? Siapa yang berani menjamin produk murah tidak berarti murahan.

    dalam hitung2an saya, manfaat asuransi di unit link dan BTAID saya buat sama. kalau dilihat manfaat asuransinya, tidak ada yang lebih bagus dan lebih buruk.

    Kedua, beli asuransi unit link bukan berarti lebih merugikan daripada beli Term+RD dimana nasabah bisa memilih asuransi premi termurah dan investasi yg terbesar. Melainkan Unit Link UNTUNGNYA KALAH BESAR dengan beli terpisah.

    dalam ilustrasi saya, saya buat perkembangan investasi sama persis di 17%. kalau ternyata return di unit link kalah besar maka itu akibat dari overhead yang lebih tinggi di unit link.

    Sepengetahuan saya, reksadana punya resiko yang besar, sedangkan unit link relatif lebih aman. Reksadana Equity lebih aktif memainkan dana nasabah di bursa saham, sedangkan Unit Link Equity berupa asset management di beberapa saham unggulan

    wah, ini salah besar. reksadana saham ada yang dikelola aktif atau pasif, yang pasif dinamakan reksadana indeks. dan kelebihan reksadana indeks adalah biaya pengelolaan yang rendah. dari informasi yang saya dapatkan, dana equity unit link PAA+, ternyata dikelola secara pasif, padahal menggunakan standar harga pengelolaan aktif yang jauh lebih tinggi.

    saya setuju reksadana saham yang dikelola aktif lebih besar resikonya daripada reksadana indeks (walaupun tidak jauh berbeda).

  267. MENGAPA MEMILIH UNIT-LINK SYARIAH?
     Tidak semua orang mempunyai waktu dan keahlian untuk berinvestasi
    dalam mengelola keuangannya.
    Tanpa keahlian dalam berinvestasi, seseorang yang mengharapkan
    keuntungan dalam berinvestasi malah akan mengalami kebuntungan.
    Berinvestasi dengan unit link agar terlihat keuntungannya, dilakukan pada
    jangka waktu yang panjang (long term) yaitu 10 – 20 tahun atau lebih.
    Dengan kata lain, bagi yang ingin hasil investasinya diambil dalam waktu 3
    – 5 tahun, disarankan untuk mengambil produk yang lebih likuid.
    Memang secara teori, mengambil term life+RD, dilihat dari hasil investasi lebih tinggi dibanding hasil dari Unit-link. Tetapi prakteknya, dibutuhkan usaha yang lebih jika kita mengambil terpisah. Karena sifat malas untuk menganalisa pasar, faktor waktu yang sedikit, dan disiplin yang berdasrkan hukum entropi di kimia cenderung menuju ketidakberaturan, alias perlu energi untuk mengerjakannya. Analoginya, membuat biodiesel itu caranya:Campur etanol dgn NaOH, kemudian panaskan, dan masukkan minyak jarak atau sawit.Jadilah biodiesel.Tapi kenyataannya kita bisa mendaptkan gel atau lainnya.

     Musibah lebih-lebih kematian adalah satu hal yang pasti.
    Tidak ada seorangpun yang dapat menghindarinya. Seorang pencari nafkah
    dalam keluarga merupakan tulang punggung. Kehilangan tulang punggung,
    akan menyebabkan ketimpangan ekonomi keluarga. Kematian yang 92%-
    nya (WHO, 2002) didahului oleh penyakit kritis, tentunya menyedot biaya
    yang cukup besar hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Pada kondisi
    beginilah seorang yang awalnya menolak pentingnya asuransi akan
    menyesal tidak mengambil program asuransi ketika dia masih sehat dan
    mampu secara ekonomi. Pentingnya asuransi lihat di
    http://www.geocities.com/niharder/Prudential/jaring-penyelamat.pdf
    Dengan uang pertanggungan (UP)-lah kita memproteksi nilai ekonomi hidup
    keluarga jika terjadi apa-apa dengan pencari nafkah. Cara menghitung UP
    bisa dilihat di http://www.geocities.com/niharder/Prudential/up-asuransi.pdf
    
    Pengalaman masyarakat dengan asuransi tradisional (asuransi jiwa atau
    umum), dimana uang yang disisihkan untuk membayar premi/iuran asuransi
    akan hilang jika peserta tidak mengalami apa-apa selama masa
    pertanggungan, memberikan perasaan sia-sia mengikuti asuransi
    tradisional (tanpa investasi).
    Dengan adanya produk unit link (proteksi disandingkan dengan investasi),
    akan menghilangkan perasaan sia-sia tersebut. Nilai tunai yang terbentuk
    dapat diambil untuk mewujudkan impian di masa depan (biaya pendidikan
    anak, dana pensiun, untuk biaya naik haji dan dana darurat lainnya).
     Unit link syariah merupakan produk yang mengandung manfaat proteksi
    dan investasi dengan azas tolong-menolong yang sesuai dengan syariah
    Islam.
    Produk ini diawasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

     Manfaat yang lengkap disertai dengan fleksibilitas dalam hal waktu dan cara
    membayar dan cuti premi di program unit link, menjadikan produk unit link
    sebagai solusi dalam berinvestasi sekaligus mengambil manfaat
    proteksinya (proteksi jiwa, sakit kritis, kesehatan, kecelakaan).

  268. #303:

    Memang secara teori, mengambil term life+RD, dilihat dari hasil investasi lebih tinggi dibanding hasil dari Unit-link. Tetapi prakteknya, dibutuhkan usaha yang lebih jika kita mengambil terpisah. Karena sifat malas untuk menganalisa pasar, faktor waktu yang sedikit, dan disiplin

    ah ini terlalu dibesar2kan. beli reksadana sama sekali tidak repot, bisa autodebet, bisa lewat internet banking, bisa lewat ATM, etc. seperti unit link, beli reksadana sama sekali tidak perlu analisis macam2. yang perlu analisis macam2 itu kalau kita jual/beli langsung underlying assetnya, misalnya saham, obligasi atau sertifikat deposito.

    Pengalaman masyarakat dengan asuransi tradisional (asuransi jiwa atau umum), dimana uang yang disisihkan untuk membayar premi/iuran asuransi akan hilang jika peserta tidak mengalami apa-apa selama masa pertanggungan, memberikan perasaan sia-sia mengikuti asuransi tradisional (tanpa investasi).

    betul. itu pandangan orang2 yang gak ngerti asuransi. untuk mengatasi ‘masalah’ tersebut, maka perusahaan asuransi membuat produk unit link. sayangnya ini bukannya menyelesaikan masalah, tetapi lebih cocok kalau dibilang mengeksploitasi ketidaktahuan masyarakat akan asuransi dan investasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar2nya. dari sudut pandang orang2 ini, mereka keluar mulut harimau, masuk mulut buaya. solusinya bukan unit link, tapi memberi pembelajaran kepada masyarakat akan pentingnya asuransi.

  269. :x gua sebagai agen asuransi yang biasa jual terpisah merasa kasian kalo ketemu nasabah yang beli unit link. Emang gua lebih repot sedikit dan fee gua lebih kecil sih… tapi buat gua yang penting nasabah puas dan pasti ambil lagi ke gua… malahan banyak direkomendasikan. buat gua prinsip 4d tu penting. diterima, disukai, dipercaya and so pasti gua dipromosikan. hehehe… salut buat mas pri… :)>-:)>-:)>-

  270. debat terus kapan actionnya kalo gak setuju unit link ya udah ikut reksa dana …. setiap orang punya kebutuhan masing-masing… dan jenis investnya juga beda-beda… jadi serahkan ke pribadi sendiri2. Kalo aku…pinginnya deposito ada, reksadana ada, unitlink ada, rumah petak ada, rumah kost ada, emas batangan ada, sehat sekeluarga, dan bersyukur… trims mas pri bagi2 ilmunya …

  271. #307: diversifikasi melalui unit link setelah sebelumnya punya reksadana adalah salah kaprah, karena porsi investasi di unit link sebenarnya adalah reksadana juga.

  272. “gua sebagai agen asuransi yang biasa jual terpisah merasa kasian kalo ketemu nasabah yang beli unit link”

    Pak Patric,bisa kirim nomor contoh2 produk bapak ke dedy.bagus@yahoo.com?Kebetulan kantor saya jauh dari lokasi agent/kantor AXA (di kantor cabang mandiri dkt kantor,mereka cm nawarin TRM).
    Frankly,saya sudah menjadi nasabah Prudential selama 4 bulan.Tergoda karena teman yg sudah jd nasabahnya,saat baru ikut Prudential 1 bulan dia dirawat 1 minggu akibat DBD.Eh,duitnya bisa di reimburst.Pokoknya minimal dirawat 2 hari di RS,bisa di reimburst deh.
    Tapi,setelah membaca penjelasannya Om Pri,saya mau coba belajar tentang term life.Mumpung belum telat2 amat.Kalo untuk investasi,saya malahb sudah invest (lebih tepatnya trading) ke saham langsung.

    Thanks bgt.Bls scptnya ya/send to my address immediately.

    Best Rgds,

  273. bagaimana kalo skenarionya seperti ini, Pak Pri…

    Pak Pri beli term, misalnya UP nya 5 milyar trus invest di muatual fund or saham or yang lain2 lah…

    Baru jalan 3 tahun, pak Pri mendapat kecelakaan lalu lintas..ga sampe mati seh, cuma ilang 2 kaki doang (maaf…skenarionya sadis amat heheheh).Kemudian Pak Pri dipecat secara “halus” dari kantor….

    Kira2 kalo begitu pak Pri dapat ya dari yang namanya Term itu?..Duit yang terkumpul dari beli saham or reksdana paling juga segitu-gitunya (baru 3 tahun soalnya)….

    Di luaran sana sering banget di dengungkan “Buy term and Invest the Difference”….Tapi banyak yang lupa juga kalo ada juga istilah tandingannya “Buy Term Invest The Difference Does Not Work For Everyone”…..

    Manusia itu ga ada yang sama kebutuhannya…La wong isi otaknya aja beda2 hehehhe..

    Unit linked juga bukan “obat” dari segala penyakit….Tapi hanya salah satu dari sekian banyak pilihan “obat” yang tersedia di pasar. Tinggal diracik sendiri, mana yang cocok dengan tujuan financial kita. Kalo ga tau cara meraciknya, serahkan pada ahlinya.^_^

  274. #310:

    Baru jalan 3 tahun, pak Pri mendapat kecelakaan lalu lintas..ga sampe mati seh, cuma ilang 2 kaki doang (maaf…skenarionya sadis amat heheheh).Kemudian Pak Pri dipecat secara “halus” dari kantor….

    lho, yang adil dong :). masa term lifenya dikasih polos sedangkan ULnya dikasih AD&D? kalau seandainya term lifenya dikasih AD&D juga, ya dia tetap akan mendapat klaimnya.

    sama sekali gak ada manfaat yang ada di UL yang tidak ada di term life.

  275. Unit link nya polos kok, Pak….Di prudential asuransi dasarnya udah termasuk cacat total tetap, dimana jika nasabah meninggal dunia atau cacat total tetap, UP langsung keluar kok..^_^…

    Lagian comparasinya Pak Pri masih dengan unit linked font end (biaya akusisi di awalnya emang “luar biasa”..heheh..)…Udah compare ama back end load unit link Pak.?…No acqusition cost at font, it is only active if customer do surrender…Biar makin seru negh…^_^

  276. #312: ok, rasanya ini salah satu kelebihan PRU. tapi in practice gak terlalu bermanfaat karena tidak memberi perlindungan cacat parsial dan selain itu manfaatnya overlap dengan AD&D.

    kalau unit link back end loading anda bisa kasih saya ilustrasinya? setahu saya walaupun back end loading, tapi si agen tetap dibayar di muka.

  277. #304

    ah ini terlalu dibesar2kan. beli reksadana sama sekali tidak repot, bisa autodebet, bisa lewat internet banking, bisa lewat ATM, etc. seperti unit link, beli reksadana sama sekali tidak perlu analisis macam2.

    wah sikap menggampangkan kayak gini ini yg giliran reksadananya turun bisa2 nanti menyalahkan perusahaan reksadana :p

    apalagi 1-2 minggu terakhir, hampir semua reksadana saham/campuran minus semua

    mencari, menganalisis, memilih, membeli reksadana jelas ga bisa ga bikin repot, perusahaannya aja ada puluhan, dari 1 perusahaan ada lagi varian2nya
    the repot the better

  278. #316:

    wah sikap menggampangkan kayak gini ini yg giliran reksadananya turun bisa2 nanti menyalahkan perusahaan reksadana

    yang masalah bukan naik turunnya, tapi bagaimana cara melakukan pembelian :). porsi investasi di UL dan reksadana itu sama aja. kalau di reksadana turun, di UL kemungkinan besar juga bakalan turun (untuk instrumen yang sama).

    tapi setuju, menganjurkan produk reksadana spesifik itu susah. i’m not a fortune teller :).

  279. mau unit linked back end load maupun front end load komisi mah tetap dibayar di depan pak pri…Kalo fron end enak buat insurer karena udah ada premi yang masuk, so ada duit buat bayar komisi…tapi di back end, terpaksa nalangin komisi dulu di depan..that way, back end load tidak populer di insurer, karena butuh capital gede…that way yang kedua, di AIG, penjualan unit link tipe ini dibatasi….that way yang ketiga, dengar2 unit linked tipe ini di AIG akan ditutup (atau udah tutup kali heheh) dan diganti ama jenis front end load..

  280. mencari, menganalisis, memilih, membeli reksadana jelas ga bisa ga bikin repot, perusahaannya aja ada puluhan, dari 1 perusahaan ada lagi varian2nya
    the repot the better

    Kita gak perlu repot. Pakai saja manager investasi yang dipakai sama Unitlink. Liat hasilnya. PASTI lebih besar yang langsung daripada yang via unit link. Saya bukan peramal lho :)

    apalagi 1-2 minggu terakhir, hampir semua reksadana saham/campuran minus semua

    Yang unit link juga PASTI ikutan minus juga. Lah instrumennya sama kok. Makanya baca juga NAB untuk unitlink. Mana ada perbedaan 5% antara NAB beli dan NAB jual.

  281. Kayaknya unit Link ini lebih bagus daripada terpisah mas. sekarang jamannya serba praktis. kita lebih senang segala kebutuhan finansial kita sudah di cover oleh satu instansi, merepotkan rasanya jika beli terpisah. unit link adalah produk revolusioner dan modern, biasanya yang modern ini akan mengikuti perkembangan yang akan merubah konten dari si produk itu sendiri. kita lihat saja, pasti unit link ini akan terus berkembang karena segi kepraktisannya itu.:d/ berinvestasi sekaligus melindungi diri.

  282. #321:

    Kayaknya unit Link ini lebih bagus daripada terpisah mas. sekarang jamannya serba praktis. kita lebih senang segala kebutuhan finansial kita sudah di cover oleh satu instansi

    menurut saya ngga tuh :). kalau sudah tahu:

    * cara beli reksadana dan term terpisah; dan
    * harga tambahan yang harus dibayar dengan beli UL

    maka bisa dibilang rasanya hampir semua nasabah UL gak bakalan ikutan UL.

  283. Pak Priyadi,
    saya agent asuransi di Manulife.
    Ada 1 produk unit link baru di Manulife yang namanya Max Protection Plan (MPP).
    Menurut saya MPP ini sangat berbeda dengan unit link yang sudah ada di pasaran. Bolehkah saya sharing dengan pak Priyadi? Bukan bermaksud ini prospect ke bapak tetapi lebih ingin meminta masukan yang fair dari pak Priyadi tentang program baru ini. Terima kasih.

  284. To #320 Nia

    saya dah punya UL Axa mandiri selama 3 th. klo sekarang mo di cut rugi gak ya ?

    Saya punya pengalaman yang sama. Kalo di-cut tentu saja rugi. Akhirnya saya cut saja supaya tidak semakin besar ruginya.

    AXA Mandiri memotong 80% dari premi untuk tahun pertama dan 20% untuk tahun kedua. Tahun ketiga dan seterusnya 100% di-investasikan. Tapi tunggu dulu… Ada biaya administrasi 25rb/bln yang dipotong dari unit link yang kita miliki.

    Saya memang tidak paham sama sekali waktu itu. Makanya ‘cuma’ ambil yang setoran minimum (250rb/bln). Pengen tahu seperti apa hasilnya. Ternyata jauh dari yang saya harapkan. Lebih baik beli asuransi dan invest-kan sisanya.

    Dengan premi 250rb/bln, UP yang didapat ‘cuma’ 40jt. Biaya administrasi yang 25rb per bulan dalam kenyataannya hampir sama dengan 26.5rb karena ada selisih harga jual dan beli unit. Artinya lebih dari 10% dari premi kita ‘hilang’ untuk biaya administrasi. Bandingkan dengan reksadana yang cuma +/- 2.5% untuk fee jual&beli (maksimum). Saya malah cuma keluar 0% dengan Manulife.

    Selain itu, kita tidak bisa memilih menejer investasi yang kita inginkan. Juga untuk menambah (top up)& me-redem (meng-uangkan) biasanya ada biaya lagi.

  285. trus asuransi kesehatan darimana dapatnya kalau terpisah kan kalau di UL prud dg setoran 300rb per bulan asuransi kesehatan dicover 450 rb kalau sakit?

  286. :d, thxss P’Pri. saya coba telaah dari awal tulisan anda ini and menurut saya lebih make sense !. saya baru jalan
    3 bln asuransi UL di “yg itu tuh”, langsung sy putuskan berhenti and ambil RD,untuk asuransi term life – boleh saran nya ke Asuransi mana ? ( paket yg diambil P’Pri apa yah)

  287. Satu hal lg mengenai reksadana saran dr Mas Pri mengenai pemilihan reksadana “Biaya jasa pengelolaan investasi” kenapa ini jarang tercantum tidak seperti subs/redem fee – apa ini sudah termasuk di dalam “redem fee”. kalau tidak berarti di waktu redem kita kena fee redem + fee jasa pengelolaan ? benar begitu Mas Pri. apakah tetap menguntungkan dengan pemotongan tsb terhadap produk2 lain. thxs untuk “pendidikan”nya.:d

  288. #329: biasanya gak tercantum karena biaya pengelolaan sudah bersih dengan nilai NAB reksadananya sendiri. jadi gak dipotong lagi secara terpisah, gak seperti biaya pembelian atau penjualan.

  289. #329: jadi gini. biaya pembelian itu dipotong di dana yang kita setorkan. kalau kita setor 1 juta dan biaya pembelian 1%, maka bersihnya kita setor 990 ribu, 10 ribunya untuk biaya pembelian.

    kalau untuk biaya pengelolaan, misalnya biaya pengelolaannya 2%/tahun, maka itu sudah otomatis dipotong dari NAB-nya. misalnya sekarang harga unit 5000 dan biaya pengelolaan dibayar langsung semua saat itu juga, maka harga unitnya akan berkurang menjadi 4900. jadi dipotongnya di NAB, bukan di jumlah unit. jumlah unit yang dimiliki nasabah sih tetap sama seperti sebelum dipotong biaya pengelolaan. nilai NAB yang ada di laporan & di koran2 itu juga sudah termasuk pemotongan biaya pengelolaan ini.

  290. Mas Priyadi dan rekan2,

    Saya butuh pencerahan neh..banyak jargon2 yg tidak saya pahami. maklum urusan dengan hal2 begini agak2 susah di cerna.

    apa yg dimaksud term lif dan unit link terpisah; saya punya beberapa polis unit link dan reksadana, antara lain:

    -Axa Mandiri (Dynamic)by Schroder: sekali setor saja preminya
    -Axa mandiri (Attractive)by Mandiri: sekali setor saja preminya
    -Prudential (Equity fund): 6 juta/bulan beserta dengan asuransi jiwa
    -Danareksa mawar aggressive

    Nah untuk polis di Axa mandiri hanya ambil investasi aja tanpa asuransi.

    yan saya mau tanyakan dari polis saya di atas mana yg termasuk term life dan mana yg unit link terpisah?

    juga sya mohon komentar apakah saya sudah di jalan yg benar dalam menginvestasikan uang saya.

    -terima kasih

  291. #333:

    yang dari axa mandiri itu adalah unit link premi tunggal. yang dari prudential itu unit link premi berkala. danareksa mawar aggresive itu adalah reksadana.

    yang di axa mandiri itu ada asuransinya, tapi mungkin cuma beberapa tahun pertama (jika anda meninggal, maka nilai tunainya minimal sama dengan yang anda setorkan, walaupun nilai investasinya berkurang). unit link premi tunggal tidak semahal premi berkala (yang dari prudential), tapi tetap lebih menguntungkan reksadana murni. tapi kalau anda sudah masuk unit link premi tunggal lebih baik anda teruskan saja, karena overheadnya sudah anda bayar lunas di awal. tapi kalau mau nambah dana, lebih baik beli reksadana murni yang bisa dibeli di counter customer service bank mandiri.

    yang paling merugikan itu polis anda yang dari prudential. saya gak tahu anda sudah ambil untuk berapa lama. tapi kalau di bawah 5 tahun saya sarankan anda untuk berhenti. dengan ikutan prulink dengan setoran 6 juta/bulan, bisa jadi agen anda akan makan uang anda sampai 144 juta!

    silakan baca juga tulisan saya pedoman membeli asuransi jiwa dan reksadana

  292. mas priyadi, aku dah nanya2 term life ke manulife (protective plus) dan axa mandiri (jiwa sejahtera), tp koq premi axa mandiri lebih mahal dr manulife ya (dengan UP dan kondisi yg sama)?
    apakah krn axa mandiri lebih bagus (dalam hal ini asetnya lebih gede dbndngkan manulife, seperti yg dikemukakan agen kpd saya)?
    ada kriteria2 perusahaan asuransi yg bagus utk ngambil term life gak mas, supaya nanti2 klo claim UP gak jd bermasalah?
    makasih mas.

  293. #335:

    mas priyadi, aku dah nanya2 term life ke manulife (protective plus) dan axa mandiri (jiwa sejahtera), tp koq premi axa mandiri lebih mahal dr manulife ya (dengan UP dan kondisi yg sama)?

    coba dibandingin keduanya itu term untuk berapa tahun. semakin panjang termnya, maka semakin mahal. sebelum dibandingkan, lebih baik disamakan dulu tahunnya. kalau harganya berbeda ya wajar saja, asalkan gak terpaut terlalu jauh.

    apakah krn axa mandiri lebih bagus (dalam hal ini asetnya lebih gede dbndngkan manulife, seperti yg dikemukakan agen kpd saya)? ada kriteria2 perusahaan asuransi yg bagus utk ngambil term life gak mas, supaya nanti2 klo claim UP gak jd bermasalah?

    kalau menurut saya semua perusahaan asuransi itu ‘bagus’ karena pemerintah punya aturan tentang kesehatan perusahaan asuransi. yang tidak sehat akan disuruh merger.

  294. #336
    mas pri aku dah bandingin 2 produk tersebut dengan term yg sama, yaitu 5 tahun. didapat perbedaan 207.500 rupiah lebih mahal axa mandiri. dan itu pun tidak ada rider critical illness di axa, krn menurut agen axa rider CI hanya ada di produk unit link mereka. lumayan mas pri 207.500 utk invest di Fortis. hehe….

    oya mas.pri, ternyata dalam proposal term life utk jangka waktu 5 tahun lebih mahal dibanding 20 tahun dilihat dari akumulasi biaya asuransinya (dengan manfaat yg sama persis). akumulasi biaya asuransi per tahun utk jangka waktu 5 tahun pada akhir tahun yg ke-20 sebesar 47,480 juta. sedangkan akumulasi biaya asuransi per tahun utk jangka waktu 20 tahun, pada akhir tahun yang ke-20 sebesar 39,860 juta. padahal mas pri menyarankan ambil term life yg berjangka pendek karena lebih murah. memang biaya per tahunnya lebih murah, tetapi jika biaya term life jangka waktu yg lebih lama diakumulasikan, lebih murah. menurut pendapat mas pri bagaimana???
    merci beaucoup..

  295. #337:

    mas pri aku dah bandingin 2 produk tersebut dengan term yg sama, yaitu 5 tahun. didapat perbedaan 207.500 rupiah lebih mahal axa mandiri. dan itu pun tidak ada rider critical illness di axa, krn menurut agen axa rider CI hanya ada di produk unit link mereka. lumayan mas pri 207.500 utk invest di Fortis. hehe….

    207500 untuk UP berapa nih? kalau di atas 500 juta mungkin perbedaannya masih bisa ditolerir, walaupun yang pasti tentunya lebih bagus yang lebih murah :).

    oya mas.pri, ternyata dalam proposal term life utk jangka waktu 5 tahun lebih mahal dibanding 20 tahun dilihat dari akumulasi biaya asuransinya (dengan manfaat yg sama persis). akumulasi biaya asuransi per tahun utk jangka waktu 5 tahun pada akhir tahun yg ke-20 sebesar 47,480 juta. sedangkan akumulasi biaya asuransi per tahun utk jangka waktu 20 tahun, pada akhir tahun yang ke-20 sebesar 39,860 juta.

    jangan terlalu terpaku pada nilai nominal kalau perbandingannya berbeda waktu. uang Rp X saat ini lebih berharga daripada Rp X 10 tahun kemudian. perhitungannya harus melibatkan faktor perkembangan investasi atau inflasi berdasarkan time value of money.

    selain itu kalau ngambil terlalu lama ada faktor resiko terlalu cepat tidak butuh lagi asuransi daripada yang diperkirakan sebelumnya. kalau dicancel juga rugi karena sebagian biaya mortalita tahun2 terakhir sebenarnya sudah dibayar pada saat tahun2 awal.

  296. :d, thxs Mas Priyadi untuk info nya di #332 jadi makin tahu nih untuk berinvestasi di RD. Oh yah Mas Pri di kontan hari ini 29/2 Fortis mau launching produk RD baru salah satunya RD saham, apa kebiasaan pasar akan langsung ramai membeli seperti peluncuran “IPO” ? atau kebiasaan pemain RD khususnya akan wait and see dulu, berapa lama penilaian kinerja layak/tidaknya? Apa ada habit juga RD yg sudah lama di tinggalkan oleh “investor2 awam” and beralih ke RD2 baru ?. Action Mas Pri pribadi terhadap RD2 baru bagaimana? thxss:d/

  297. #339: wah saya sendiri kurang begitu tahu. tapi kalau fortis mungkin bakalan rame juga :). saya sendiri lebih suka cari aman pakai reksadana indeks :).

  298. gw baru aja buka salah satu produk unit link..bodohnya gw..biasalah marketingnya cuma bilang kalo itu produk investasi dgn bonus asuransi jiwa. ga tau ada angin apa gw bisa bilang setuju aja. pulang dari bank gw langsung baca baca..baru gw tahu klo emang rugi ikutan produk itu. besoknya gw telpon untung katanya masih bisa dibatalin. itu juga saran dr temen gw yg kerja di insurance..katanya selama polis belum terbit masih bisa di batalin krn masih masuk grace period. janjinya sih dana gw bakal balik dalam 7 hari…tapi ini udah hampir lewat 7 hari belom balik juga. gila !!…meskipun mungkin itu ga seberapa tapi gw selalu coba ingat masa masa susah gw..kalo semua duit yg gw dapet sekarang bukan didapet dalam semalem aja. kenapa ya bisa selama itu…apa mungkin aplikasi gw ga dibatalin ..tapi waktu itu gw udah tanda tangan form pembatalan sih ( meskipun gw sendiri ga baca judul formnya apa)

  299. #317

    yang masalah bukan naik turunnya, tapi bagaimana cara melakukan pembelian :).

    Mas Pri, cara melakukan pembelian yg baik dan benar ini gimana yah?

    Thx ya mas.. :)

  300. Pak Priyadi,
    Kalau unit linked itu bayarnya kan bisa pake credit card – so kita bisa “tunda” 30 hari kan. Kalo terpisah artinya harus tepat waktu dong, ga bisa “nelat” artinya ya :) dan rata2 kalo mencairkan dari reksadana kan butuh waktu 5-10 hari kerja… so mesti nyairkan dulu minim 10hari sebelum jatuh tempo kalo mau aman kan. Otomatis dapat harga unit juga 10 hari sebelum jatuh tempo dong. Padahal kalo pas harga saham lagi kenceng 10 hari itu lumayan lho bisa sampai 1% bahkan lebih.
    Total kepaut bisa 30hari+10 hari = 40 hari lho daripada kalo pake credit card. Wah, kentara “perhitungan” banget nih saya ya :) Oya, kalo reksadana kan rata2 harus mengendap 6bln-3thn dulu baru bunganya bisa diambil tanpa kepotong PPH 20% (lumayan banyak tuh). Padahal maksudnya kan duit di reksadana nya ini yang dimasuk-keluarkan per bulan utk bayar premi link term. Udah diperhitungkan ngga ya, soalnya kalo sampai kepotong PPH yang 20% lagi, plus bayarnya gak bisa “nunda”, bisa2 sama aja nih pisah dengan unit link ini. Soalnya kan yah… time value money juga to. Nah, masalah teknis praktis gini gimana ngatasinnya Pak? Apa udah termasuk dalam perhitungan? Atau gimana pengalaman pribadi Pak Pri dalam me-manage account asuransi & reksadananya yg terpisah utk menghindari hal2 tsb ?

    Oh ya, ini ada yg nawari sy produk syariah (unit linked foreign company) masa akuisisinya hanya 12 bulan (akuisisi = 80%dalam 1 th) terus bisa cuti premi. Nah, kalo cuti premi bayarnya cuma biaya asuransi yg notabene sama dng link term. Dan enaknya kalo gak klaim dalam setahun biaya asuransi dikembalikan bisa sampai 25%an pada bulan April tahun berikutnya. Ini gimana ya, soalnya unit linked kan praktis – cuman menurut Bpk lebih mahal krn akuisisi itu. Kalo akuisisinya kecil dan ada pengembalian bila tidak ada klaim tiap tahun kan oke juga. Saya sih maunya tetap unit linked (karena praktis & mbayarnya bisa “nelat” krn pake Credit Card – resiko lupa bayar juga minim) tapi kalo bisa BIAYAnya sebanding dengan yang terpisah, gitu lho…. :) Mohon sarannya ya. Tq

  301. #342:

    Mas Pri, cara melakukan pembelian yg baik dan benar ini gimana yah?

    setor rutin tiap bulan :)

    #343:

    Mas, kalo perlindungan kesehatan mas priyadi dimana??

    saya ambil rider dari asuransi jiwa saya (manulife)

  302. #344:

    Pak Priyadi, Kalau unit linked itu bayarnya kan bisa pake credit card – so kita bisa “tunda” 30 hari kan. Kalo terpisah artinya harus tepat waktu dong, ga bisa “nelat” artinya ya :) dan rata2 kalo mencairkan dari reksadana kan butuh waktu 5-10 hari kerja… so mesti nyairkan dulu minim 10hari sebelum jatuh tempo kalo mau aman kan. Otomatis dapat harga unit juga 10 hari sebelum jatuh tempo dong. Padahal kalo pas harga saham lagi kenceng 10 hari itu lumayan lho bisa sampai 1% bahkan lebih. Total kepaut bisa 30hari+10 hari = 40 hari lho daripada kalo pake credit card. Wah, kentara “perhitungan” banget nih saya ya

    pertama-tama, term life bisa pakai kartu kredit, reksadana juga bisa (silakan tanya ke danareksa). kedua, kartu kredit itu cuma leverage sebulanan, cuma menggeser pembayaran selama sebulan. kalau setor rutin tiap bulan, dalam jangka panjang, pengaruhnya gak banyak.

    mencairkan reksadana pengalaman saya paling lama H+7. rata2 cuma 3-4 harian. bukan 10 harian seperti kata anda.

    Oya, kalo reksadana kan rata2 harus mengendap 6bln-3thn dulu baru bunganya bisa diambil tanpa kepotong PPH 20% (lumayan banyak tuh).

    info dari mana nih? PPH belum diterapkan di reksadana. masih dibicarakan. kalaupun diterapkan, tarifnya nanti cuma 0.05% final, bukan 20%. setahu saya justru aturan ini cuma ada di unit link, tapi tidak di reksadana.

    Oh ya, ini ada yg nawari sy produk syariah (unit linked foreign company) masa akuisisinya hanya 12 bulan (akuisisi = 80%dalam 1 th) terus bisa cuti premi.

    80% rasanya masih terlalu banyak. kalau kita setor sejuta/bulan, maka si agen masih dapat 9,6 juta. buat saya masih kemahalan.

    Dan enaknya kalo gak klaim dalam setahun biaya asuransi dikembalikan bisa sampai 25%an pada bulan April tahun berikutnya.

    ini bukan monopoli perusahaan tersebut. semua asuransi syariah modelnya seperti ini, termasuk juga asuransi jiwa syariah term life.

    Saya sih maunya tetap unit linked (karena praktis & mbayarnya bisa “nelat” krn pake Credit Card – resiko lupa bayar juga minim) tapi kalo bisa BIAYAnya sebanding dengan yang terpisah, gitu lho

    mau tahu unit link premi reguler yang biaya akuisisinya 0%? provisa dari AIG yang dibeli lewat BCA. kekurangannya, penaltinya besar kalau dicairkan sebelum tahun ke-8. jadi masih mendingan beli terpisah.

  303. Mas, nanya lagi ya….
    Kalau term life, misalkan Proactive Plus nya Manulife gitu… kok jarang banget ya agennya yg ngerti dan nawarin produk ini. Padahal kan dia juga jualan itu. Apakah memang beda dari segi komisinya? Oya, term life kesehatan gini yang pake Kartu Rumah Sakit (jadi kalo masuk RS gak perlu deposit dulu tapi pake kartu langsung) ada nggak ya? Saya tertarik juga tuh – tapi kalo bisa yang SYARIAH dan dari Perusahaan Asing – biar ada pengembalian bila tidak ada Klaim & terus terang kalo insurance saya merasa lebih aman di perushan Asing yg udah terbukti kuat. Walau saya non-muslim tapi produk asuransi Syariah ini sangat menarik bagi saya :) krn dengan konsep syariah itu kelihatannya perusahaan asuransi harus mengembalikan sebagian premi asuransi bagi nasabah yg tidak klaim. Benar gak Mas?

  304. #347:

    Kalau term life, misalkan Proactive Plus nya Manulife gitu… kok jarang banget ya agennya yg ngerti dan nawarin produk ini. Padahal kan dia juga jualan itu. Apakah memang beda dari segi komisinya?

    beda banget :). di term life komisinya jauh lebih kecil.

    Oya, term life kesehatan gini yang pake Kartu Rumah Sakit (jadi kalo masuk RS gak perlu deposit dulu tapi pake kartu langsung) ada nggak ya?

    allianz kalau gak salah bisa. tapi saya gak rekomendasi allianz karena term lifenya cukup mahal. untungnya manfaat kesehatannya bisa diambil terpisah.

    tapi masalah ini gampang diakalin pakai kartu kredit. kalau masuk rumah sakit gesek aja dulu, bebas bunga untuk 20-50 hari. kalau kurang limitnya, bisa telpon minta kenaikan limit sementara. pengalaman saya 1 minggu dananya sudah cair kok. dan kalau 20-50 hari belum cair, masih bisa diganjel dengan cara mencairkan dana dari reksadana (max 7 hari cair).

    harusnya lebih untung gini karena premi asuransi manfaat kesehatan dengan sistem reimburse harusnya jauh lebih murah. si perusahaan asuransi gak perlu menyiapkan dana reserve dalam bentuk cash dalam jumlah besar, seluruh setoran premi nasabah bisa diinvestasikan, dan karena itu harga preminya seharusnya bisa lebih murah.

    Saya tertarik juga tuh – tapi kalo bisa yang SYARIAH dan dari Perusahaan Asing – biar ada pengembalian bila tidak ada Klaim & terus terang kalo insurance saya merasa lebih aman di perushan Asing yg udah terbukti kuat.

    kesukaan anda kepada perusahaan asing tidak beralasan, apalagi untuk asuransi syariah:

    1. pemerintah sudah punya aturan tentang permodalan. perusahaan asuransi yang modalnya tidak cukup kuat gak bakalan boleh beroperasi dan akan disuruh merger dengan perusahaan lain.

    2. di asuransi syariah, perusahaan asuransi bisa dibilang nyaris tidak menanggung resiko. jadi kuat modal tidak sepenting di asuransi non syariah.

    3. semakin kuat modal belum tentu semakin bagus. semakin kuat modal, maka pemodal akan minta keuntungan lebih besar. dan oleh karena itu perusahaan asuransi harus menjual dengan profit margin yang lebih tinggi pula. akibatnya harga produk yang ditanggung nasabah akan semakin mahal.

    Walau saya non-muslim tapi produk asuransi Syariah ini sangat menarik bagi saya :) krn dengan konsep syariah itu kelihatannya perusahaan asuransi harus mengembalikan sebagian premi asuransi bagi nasabah yg tidak klaim. Benar gak Mas?

    betul. di asuransi syariah praktis premi yang dibayarkan sama persis dengan resiko yang ditanggung. perusahaan asuransi gak ambil untung dari biaya mortalita. besar keuntungan untuk mereka disebutkan secara terpisah dari biaya mortalita.

  305. Mas Pri, sekarang saya sedang mencoba memisahkan asuransi dengan investasi, untuk asuransi jiwa saya coba di manulife (laki2 tidak merokok, usia 30 tahun) Rp. 1.665.000/thn kemahalan ngak ya?

  306. Mas Pri, sekarang saya sedang mencoba memisahkan asuransi dengan investasi, untuk asuransi jiwa saya coba di manulife (laki2 tidak merokok, usia 30 tahun) Rp. 1.665.000/thn kemahalan ngak ya? dengan manfaat meninggal 500 juta. makasih ya.

  307. Mas pri, saya baru download spreadsheet nya tapi kok gak ngerti ya. Soalnya yang terpisah grafiknya jadi menukik ke bawah gitu dibandingkan unit link yang naik ke atas, apakah terpisah yang lebih baik?

  308. #349:

    Pri, sekarang saya sedang mencoba memisahkan asuransi dengan investasi, untuk asuransi jiwa saya coba di manulife (laki2 tidak merokok, usia 30 tahun) Rp. 1.665.000/thn kemahalan ngak ya? dengan manfaat meninggal 500 juta. makasih ya.

    sepertinya harganya wajar. tapi tebakan saya ini untuk jangka waktu 10 tahun? semakin pendek jangka waktu akan semakin menguntungkan.

    #351:

    Mas pri, saya baru download spreadsheet nya tapi kok gak ngerti ya. Soalnya yang terpisah grafiknya jadi menukik ke bawah gitu dibandingkan unit link yang naik ke atas, apakah terpisah yang lebih baik?

    waduh saya gak ngerti. ini grafik dari spreadsheet yang mana yah?

  309. Oh maaf,
    Ternyata yang di asumsi kalau kita masukkan Rp. 500.000, grafik tl + rd jadi turun.Ternyata maksud yang di asumsi itu per tahun ya mas bukan per bulan seperti yang ditulis?

  310. Aku ambil url dari kata2 ini, yang ada di bawah grafik ke dua: Data mentah spreadsheet dalam format OpenDocument dan Microsoft Excel. Jadi kalau aku ubah angka 9.000.000 di sheet asumsi menjadi 500.000, grafiknya jadi tl + rd jadi jauuhhhh menukik ke bawah, karena yang di unit link tetap 9.000.000. Yah jelas lah.. maaf ya mas pri salah saya kurang teliti. TApi mungkin lebih enak kalau di sheet asumsi kalau kita ubah2 angkanya, semua angka berubah termasuk yang untuk unit link, supaya dapet gambaran aja. Thx

  311. Mas, saya dikasih penjelasan agen ayariah perusahaan asing, bahwa kalau ternyata dana bersama yg terkumpul dari nasabah tidak cukup utk membayar klaim – maka perusahaan asuransi itu yang harus menalangi dulu. Artinya perusahaannya juga harus kuat modal juga kalau2 ada masalah tsb. Lalu utk perusahaan asing, saya pikir kalau misalnya ntar sakit dan berobat ke luar negeri kan lebih enak krn mrk ada cabang dimana2 dan terbukti perusahaan2 asing sperti Manulife dan Pru pernah “dipailitkan” oleh pengadilan ternyata terbukti tidak bisa kolaps karena dijamin Reasuransi internasional. Untuk penjelasan tentang kartu RS itu, masuk akal juga sih… secara financialnya. Cuman memang kalau saya liat kartu RS Pru misalkan sama yg rawat inap reimburse nya, biayanya walau bisa 3x lipat manfaat dari mereka juga jauh lebih banyak – bisa dapat klaim rawat jalan juga, dan penggantian obat&biaya dokter, lab dll 30 hari sblm rawat inap nya dan 90 hari setelah keluar dari RS, sdgkn kalau yg reimburse gak ada. Kalau Allianz saya liat biaya asuransinya kok mahal ya, lebih mahal dari Pru walau terpisah, blm cek lagi yg Manulife sih – saya juga rada bingung akhirnya. Soalnya di Pru syariah cuti preminya bisa cepat sih. Cuman ini tergantung kerelaan agen nya terbuka menjelaskan hal tsb dan kelihatannya gak semua agen tahu krn para leadernya pun juga tidak memberitahukan – soalnya nanti kan juga ga dapet lagi komisi. Gimana Mas, kalau cuman diliat dari biaya asuransi nya aja – dengan kita bisa menghindari akuisisi, apakah yang Pru syariah ini udah oke dari segi biaya asuransinya? kalo company mestinya kan udah kuat. Tq atas sarannya

  312. Sory ya Mas, nanya lagi nih… soalnya ini bukan utk pribadi aja sih nyarinya. Tapi buat guru2 yayasan pendidikan jadi kita bener2 mau yg terbaik dan kalau bisa yang biaya nya masuk akal. Jadi yayasan ngasihnya juga ga sembarangan krn utk masa depan para guru yg udah senior2 (rata2 usia di atas 45th). Saya denger2 Cigna juga ada yg terpisah, katanya sih lumayan murah (tp kt agen Pru dicek lebih mahal dikit dari Pru syariah-yg nyaris tanpa akuisisi. Sama2 ada pengembalian premi bagi yg gak klaim, tapi yg Cigna pengembaliannya 25% dari premi yg masuk. Di winterthur saya liat2 kok mahal, walau janji pengembalian bisa 30-40% kalau tidak ada klaim. Kalau di Pru syariah, kt agen Pru mekanisme nya dana dijadikan unit di Tabarru lalu selama setahun (jan-dec) diliat yg tidak klaim pengembaliannya 56% dari Dana Tabarru yang tersisa (setelah dikurangi pembayaran2 klaim), yg 30% utk cadangan teknis, perusahaan dapetnya 14% aja. Terus nanti dikembalikannya dlm btk unit – tapi bisa dicairkan juga langsung kalau mau. kalau tidak dicairkan maka ya diharapkan unitnya naik terus. Kita ada pemikiran, kalau terpisah buat pegawai gini nanti pengembalian premi bisa2 sama mereka tidak ditabung ke reksadananya utk pensiun tapi dipakai utk lain2 dulu. Jadi ada plus minusnya juga. Mohon tanggapannya
    tq

  313. #356:

    kalau ternyata dana bersama yg terkumpul dari nasabah tidak cukup utk membayar klaim – maka perusahaan asuransi itu yang harus menalangi dulu. Artinya perusahaannya juga harus kuat modal juga kalau2 ada masalah tsb.

    kalau kejadian seperti itu terjadi, di produk syariah, perusahaan asuransi hanya menalangi, nantinya tetap dibayar balik oleh nasabah. tapi kalau di produk konvensional, perusahaan asuransi menanggung total resiko tersebut, nasabah gak mau tahu apakah si asuransi punya uangnya atau tidak. di syariah, kalaupun kejadian itu terjadi, efeknya tidak akan separah di produk konvensional.

    kedua, masalah tersebut hanya akan terjadi kalau ada kejadian luar biasa, misalnya perang, bencana alam, epidemi dsb. dalam kondisi normal tidak akan terjadi karena semuanya sudah diperhitungkan dengan matang. selain itu, biasanya di polis juga ada klausul eksepsi kalau ada kejadian luar biasa, bisa jadi klaim tidak akan dibayar penuh jika dalam kondisi luar biasa.

    Lalu utk perusahaan asing, saya pikir kalau misalnya ntar sakit dan berobat ke luar negeri kan lebih enak krn mrk ada cabang dimana2 dan terbukti perusahaan2 asing sperti Manulife dan Pru pernah “dipailitkan” oleh pengadilan ternyata terbukti tidak bisa kolaps karena dijamin Reasuransi internasional.

    biasanya cabang di luar negeri itu gak punya hubungan dengan cabang di indonesia. yang berhubungan dengan soal klaim jika nasabah di luar negeri biasanya bukan perusahaan asuransinya langsung, tapi layanan pihak ketiga yang digunakan oleh asuransi tersebut. kurang lebih sama kasusnya seperti asuransi perjalanan yang ada di kartu kredit. secara teknis bisa saja perusahaan asuransi lokal mengadakan layanan darurat internasional, tapi saya tidak tahu persis siapa yang punya layanan tersebut.

    Soalnya di Pru syariah cuti preminya bisa cepat sih. Cuman ini tergantung kerelaan agen nya terbuka menjelaskan hal tsb dan kelihatannya gak semua agen tahu krn para leadernya pun juga tidak memberitahukan – soalnya nanti kan juga ga dapet lagi komisi. Gimana Mas, kalau cuman diliat dari biaya asuransi nya aja – dengan kita bisa menghindari akuisisi, apakah yang Pru syariah ini udah oke dari segi biaya asuransinya?

    pertama, di prudential, cuti premi cuma menunda biaya akuisisi, bukan menghindari. kedua, cuti premi baru bisa dilakukan setelah 2 tahun berjalan, dan pada waktu tersebut, harusnya tidak banyak dana yang tersedia untuk membayar biaya asuransi, kecuali kalau di awal dilakukan top up tak terjadwal dalam jumlah yang cukup besar. ketiga, sebagian besar biaya akuisisi (78%) justru dibayarkan di 2 tahun pertama ini. menurut saya masih gak worth it.

    #357:

    soalnya ini bukan utk pribadi aja sih nyarinya. Tapi buat guru2 yayasan pendidikan jadi kita bener2 mau yg terbaik dan kalau bisa yang biaya nya masuk akal. Jadi yayasan ngasihnya juga ga sembarangan krn utk masa depan para guru yg udah senior2 (rata2 usia di atas 45th).

    kalau untuk institusi, lebih baik langsung hubungi perusahaan asuransinya. mereka biasanya punya produk khusus untuk institusi dan harganya jauuuuuh lebih murah daripada yang dijual retail. untuk kesehatan, harganya bisa sampai 1/2-nya dengan manfaat yang lebih banyak.

  314. Pak, biaya mortalita itu apa ya? Btw, saya punya PRU yang lama sejak 2002 – yg 2 tahun bisa cuti itu – kalau kita nggak minta cutinya selesai tetap bisa cuti terus kok. Dulu ikut kecil hnya 500rb/bln – ini mau cari2 lagi. Saya udah bertahun2 cuti sih di Pru-dan ga masalah krn biaya asuransinya masih bisa terbayar dari bunganya aja. Kalau Pru syariah kan baru tahun lalu produknya – yang ini katanya bisa benar2 menghindari biaya akuisisi Pak dan ada surplusnya bila tidak klaim. Cuman agennya blm tentu mau kasih cuti segera, tapi ya kalo saya sih – kasian juga kalau si agen ga dapet sama sekali kecuali di bulan pertama – soalnya mereka juga ada biaya operasional kan, juga biar ga sungkan kelak kalau minta klaim diuruskan. Ga tahu lagi kalau temen2 yang lain mau semurah mungkin, silakan aja nego dengan agen masing2 – mungkin dengan janji bila kelak klaim mau urus sendiri misalnya. Tapi itu memungkinkan di Pru syariah. Jadi cukup menarik juga buat pribadi sih. Justru ini saya mau nanya pendapat Pak Pri dan teman2 lain. Saya terus terang tertarik ambil Pru syariah dengan cuti cepat – 100% asuransi, setelah cuti top up aja tiap 3-6 bulan (tgt jumlah biaya asuransi yg diambil). Sedangkan kalau investasi saya reksadana pun tidak tertarik, krn saya trader IHSG dan Forex :) jadi 50-80% setahun bisa lewat. Tapi trading bukan investasi yg tepat utk setiap orang memang. Kalau yg mau tenteram silakan di reksadana. Jadi asuransi nya ini yg penting sekarang. Btw kalau utk institusi cocok nya mana ya Pak, Manulife ya? Apa ada pengembalian premi juga bila tidak klaim ya? Kalau asuransi utk institusi yg syariah ada ga ya? Tq atas semua saran nya.

  315. #359:

    Pak, biaya mortalita itu apa ya?

    biaya yang dibayarkan untuk mengatasi resiko kematian (atau resiko lainnya) dalam premi asuransi jiwa. di prulink, ini ada di field ‘biaya asuransi’, walaupun bisa jadi tidak semua biaya asuransi adalah biaya mortalita.

    Btw, saya punya PRU yang lama sejak 2002 – yg 2 tahun bisa cuti itu – kalau kita nggak minta cutinya selesai tetap bisa cuti terus kok. Dulu ikut kecil hnya 500rb/bln – ini mau cari2 lagi. Saya udah bertahun2 cuti sih di Pru-dan ga masalah krn biaya asuransinya masih bisa terbayar dari bunganya aja

    ini hanya bisa kalau top up premi berkala anda sangat besar, atau anda top up premi tunggal dalam jumlah yang relatif sangat besar. tapi secara garis besar sama saja, semua layanan asuransi akan dibayar oleh nasabah, apakah itu dari setoran premi ataupun dari nilai tunai yang sudah terbentuk, tidak ada yang gratis. daripada melakukan ‘hack’ seperti ini kepada layanan UL, saya lebih suka ambil terpisah. jauh lebih simple dan mudah dimengerti.

    Kalau Pru syariah kan baru tahun lalu produknya – yang ini katanya bisa benar2 menghindari biaya akuisisi Pak dan ada surplusnya bila tidak klaim.

    sebenarnya harusnya gak bakalan jauh beda harga yang harus dibayar nasabah baik di syariah maupun konvensional. bedanya cuma profit margin perusahaan asuransi di syariah itu fixed, sedangkan di konvensional masih tergantung claim rate. kalau perusahaan asuransi setel profit margin produk syariahnya di 15%, dia pasti akan dapat 15%. kalau untuk produk syariahnya dia setel margin di 15%, untuk produk konvensionalnya kemungkinan dia akan setel juga di 15%, walaupun angka ini gak diekspos ke nasabah. bedanya di konvensional dia belum tentu dapat 15%, bisa lebih atau bisa kurang, tergantung claim rate saat itu. jadi perkiraan saya, soal harga yang dibayar nasabah harusnya gak bakalan terpaut terlalu jauh, kecuali kalau ada internal policy yang mengatur supaya profit margin produk syariah lebih kecil daripada produk konvensional.

    menurut saya kelebihan syariah itu transparansi dan sesuai syariah. kekurangan syariah itu adalah resiko tetap ditanggung oleh nasabah. kalau soal harga yang dibayarkan nasabah harusnya gak bakalan jauh berbeda (jika segala sesuatunya sama persis)

    tapi ya kalo saya sih – kasian juga kalau si agen ga dapet sama sekali kecuali di bulan pertama – soalnya mereka juga ada biaya operasional kan, juga biar ga sungkan kelak kalau minta klaim diuruskan.

    ini harusnya sudah menjadi urusan hubungan profesional agen dan perusahaan asuransi. kalau agen tidak mendapat renumerasi yang cukup untuk pekerjaan yang dia lakukan, agen harusnya protes ke perusahaan asuransi (atau cari kerjaan lain). dari sisi konsumen, for all intent and purposes, agen adalah bagian dari perusahaan asuransi. gak ada bedanya berhubungan dengan agen atau dengan perusahaan asuransi langsung, bedanya yang terasa cuma dalam harga yang dibayarkan. dan rasanya gak ada manfaat penting yang didapat dari keberadaan agen daripada tidak ada agen. sebenarnya agen di sini cuma memperpanjang jalur komunikasi saja, menurut saya jauh lebih baik berurusan langsung dengan perusahaan asuransinya daripada harus lewat agen.

    kalaupun pengurusan asuransi harus diwakilkan, ini bisa dengan mudah dilakukan pakai surat kuasa. dan kalaupun harus bayar orangnya, harganya gak bakalan semahal yang harus dibayarkan lewat agen.

    Saya terus terang tertarik ambil Pru syariah dengan cuti cepat – 100% asuransi, setelah cuti top up aja tiap 3-6 bulan (tgt jumlah biaya asuransi yg diambil).

    daripada pakai ‘hack’ seperti itu, kalau saya lebih suka ambil terpisah, jauh lebih praktis :).

    Sedangkan kalau investasi saya reksadana pun tidak tertarik, krn saya trader IHSG dan Forex :) jadi 50-80% setahun bisa lewat. Tapi trading bukan investasi yg tepat utk setiap orang memang.

    kalau tidak tertarik reksadana, harusnya anda juga tidak tertarik dengan unit link :-?, karena praktis porsi investasi yang ada di unit link itu adalah reksadana juga. apalagi kalau 50-80% setahun bisa lewat, rasanya jauh lebih baik anda ambil term life, kemudian hasil investasinya digunakan bayar premi. daripada ikut unit link dan perkembangan investasinya jauh lebih pelan.

    Btw kalau utk institusi cocok nya mana ya Pak, Manulife ya? Apa ada pengembalian premi juga bila tidak klaim ya? Kalau asuransi utk institusi yg syariah ada ga ya? Tq atas semua saran nya.

    ini silakan anda tanya2 sendiri. saya belum punya pengalaman di sini.

  316. Thanks ya Mas Pri,
    Nanti kalau saya dah dapet penawaran dari yang lain2 saya share lagi ya… Btw dana saya di unit link Pru kecil banget Mas, cuman asal cukup buat bayar biaya asuransi aja krn udah cuti – jadi cuman 4juta-an. Soalnya kalau terlalu kecil lagi ntar saya tidak bisa swaitching bila ada gejala saham mau jatuh. Yg lalu saya switch ke fixed income dan barusan senin lalu saya balikin ke equity. Ini cuman buat nambahin unit aja. Memang kena biaya 1% tapi nilai tambahan unitnya lebih gede dari itu.

    Oya, saya liat2 nih kalau link term misal lima tahun gitu biayanya kan flat selama 5th. Sory kalau sering bandingin dengn Pru – krn saya punyanya itu – kalau di Prulink kan naik sesuai umur, jadi kalau sewaktu2 saya mau tutup gak rugi overhead di depan (kalau dianggap akuisisi kecil). Saya sih pengennya nyari alternatif link term yg gitu juga – nggak flat… apa bener gitu ya? Soalnya saya liat link term nya Axa juga biaya asuransinya lebih mahal ya jatuhnya.

    Kalau masalah agen asuransi mah, memang sih kalau kita inisiatif sendiri langsung mau ikutan mending ga bayarin agen ya :) cuman rasanya di Indonesia ini jarang nih orang inisiatif sendiri ikutan asuransi. Teman2 saya aja banyak yg beli rumah beli mobil, jalan ke luar negeri oke – udah berkeluarga ini. Tapi asuransi – no way – ga perlu katanya :) Toh ortunya kaya – jd mrk tidak berusaha mandiri scr financial.

    Saya pikir apa mungkin di Indonesia ini komisi agen jadi gedhe krn banyak penolakan juga krn gak insurance minded dan yg mau ikutan juga kemampuannya banyak yg terbatas. Misal dari 100 orang ditawari yang mau ga ada 10% gitu. Agen asuransi yg sukses memang kaya raya – kayak leader MLM gitu lah – tapi yang gak sukses rasanya jauh lebih banyak. Mungkin bagi kita2 yang inisiatif sendiri ikut asuransi merasa bayar komisi segitu gedhe (memang gedhe sih-makanya bikin blog ini ya Mas?) cuman kalau saya sendiri disuruh jadi agen asuransi aja mikir2 tuh – soalnya keliatannya tidak segampang itu cari nasabahnya di sini-masih banyak penolakan, bahkan sometimes saya lihat (krn jujur – sy walau insurance minded juga gitu) banyak yang gengsi jadi agen asuransi krn takut dijauhi temen2nya yg notabene gak ngerti perlunya asuransi :) walaupun kita tahu komisinya gede.

    Yah, anyway… bagaimana pun jalannya – saya berharap insurance minded di masyrkt Indo lebih besar, perusahaan asuransi lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat, dan agen2 semakin profesional dengan cara2 yg makin win-win solution utk semuanya. Gitu deh… makanya saya salut dengan adanya blog Mas Pri ini. Apalagi lihat pengetahuan yg oke dan kerelaan Mas Pri berbagi tanpa komisi apapun melalui blog ini. Terimakasih… G-luck

  317. #361:

    Oya, saya liat2 nih kalau link term misal lima tahun gitu biayanya kan flat selama 5th. Sory kalau sering bandingin dengn Pru – krn saya punyanya itu – kalau di Prulink kan naik sesuai umur, jadi kalau sewaktu2 saya mau tutup gak rugi overhead di depan (kalau dianggap akuisisi kecil). Saya sih pengennya nyari alternatif link term yg gitu juga – nggak flat… apa bener gitu ya? Soalnya saya liat link term nya Axa juga biaya asuransinya lebih mahal ya jatuhnya.

    coba tanya2 produk term 1 tahunan atau YRT (yearly renewable term). di manulife nama produknya ‘proactive’ (bukan yang plus), di commlife nama produknya ‘danatra siaga 1’, di axa mandiri nama produknya ‘mandiri jiwa sejahtera tahunan’. di tempat lain mungkin juga ada.

    Teman2 saya aja banyak yg beli rumah beli mobil, jalan ke luar negeri oke – udah berkeluarga ini. Tapi asuransi – no way – ga perlu katanya :) Toh ortunya kaya – jd mrk tidak berusaha mandiri scr financial.

    kalau sudah banyak uang memang kemungkinan tidak perlu asuransi jiwa. asuransi jiwa untuk orang seperti itu cuma buang2 duit. kalau misalnya nilai aset sudah jauh melebihi resiko kehilangan penghasilan, artinya sudah self insured, tidak perlu lagi asuransi jiwa. asuransi jiwa hanya diperlukan jika resiko kehilangan penghasilan (akibat meninggal dunia, sakit kritis, kecelakaan) tidak dapat ditutupi dari aset yang sudah dimiliki.

    Saya pikir apa mungkin di Indonesia ini komisi agen jadi gedhe krn banyak penolakan juga krn gak insurance minded dan yg mau ikutan juga kemampuannya banyak yg terbatas.

    komisi besar bukan karena banyak penolakan, tapi karena jumlah agen terlalu banyak. perhitungan saya mengatakan setiap agen asuransi rata2 hanya memperoleh 40 nasabah seumur hidupnya. dan ini masih terlalu konservatif karena jumlah nasabah yang ikut dari kanal non agen juga ikut dihitung (misalnya lewat tempat kerja, customer service atau bancassurance). bisa jadi sebenarnya 1 agen cuma dapat sekitar 20 nasabah seumur hidupnya. supaya ‘profesi’ agen ini tetap menarik, mereka terpaksa meningkatkan harga, dan terpaksa konsumen yang nanggung semuanya. dan bukannya meningkatkan kualitas hidup agen, AAJI justru malah mau meningkatkan jumlah agen ini.

    dan sebaliknya saya justru sering lihat banyak orang yang sebenarnya gak perlu asuransi jiwa ngambil asuransi jiwa. selama ini saya lihat keberadaan agen asuransi justru memperburuk kondisi asuransi. sebenarnya kondisinya akan jauh lebih baik jika tidak ada agen daripada ada agen. masyarakat tetap dapat memanfaatkan jasa konsultan finansial jika mereka memerlukannya.

  318. Mas Pri,
    memang blog ini tentang asuransi jiwa – tapi saya sih terus terang maksudnya tadi tentang asuransi kesehatan.
    Kalau asuransi jiwanya saya justru merasa kurang perlu karena memang bisa ditutup kepemilikan asset lagian toh ntar kita pasti meninggal walau gak tahu kapan.
    Tapi kalau kesehatan ini kan kita ga pasti ya, soalnya kalau tiba2 sakit kritis biayanya sekarang ini sangat besar. Teman sekantor saya 5th lalu tiba2 terkena gagal ginjal, shg operasi cangkok dll – tabungan habis, rumah dijual, mobil dijual. Setelah operasi harus cuci darah seumur hidup. Itupun krn orangnya juga stress krn keluarganya udah habis2an dan stress juga, akhirnya setelah 2 tahun meninggal juga. Padahal dia tidak merokok & gaya hidupnya cukup sehat krn tiap 6bln sekali general check up. Kalau kita pasti meninggal langsung tanpa melalui proses sakit yang habis2an gitu sih ga masalah. Tapi kalau sampai habis2an (sakit kritis kalau mau dapat pengobatan terbaik biayanya bisa milyaran) terus gak sembuh & meninggal – wah, gak cukup nih asset2 saya. Apa kita bisa PASTI tidak terkena penyakit kritis itu dengan kondisi lingkungan yg tambah tidak sehat gini? Kalau di USA&Eropa aja asuransi kesehatan ini wajib hukumnya kayak bayar pajak, asal tinggal di sana lebih dari 3bulan pasti wajib ikut deh-ga pake nawar2&milih2.

    Oya, tentang Prusyariah tadi, itu bukan “Hack” mas, tapi udah “Hak” nasabah. Ini karena saya sudah lihat sendiri pasal2 di polisnya & cek ke kantor pusat Pru. Jadi itu memang hak nasabah, yg belum tentu disampaikan oleh agen – gitu aja. Dan kalau cuti premi, top up gak usah gede2an di awal (saya juga pasti gak mau ya gede2 di UL wong bunganya paling 50-70% setahun), secukupnya utk bayar biaya asuransi aja. Ini bukan bela2in Pru, cuman sharing aja pengalaman pribadi sy. Juga krn sekarang di Pru ini UP sakit kritis nya bisa 3x lipat UP jiwa (yg sy ga merasa perlu gede2). Saya juga blm pernah klaim sakit apapun sejak ikut 2002 itu, krn untungnya masih sehat terus&tidak ada keturunan sakit berat apapun-kecuali tek.darah rendah&kolesterol :) Cuman dulu memang blm sempet compare mendalam dng yg Proactive Manulife, Axa mandiri jiwa sejahtera, & link term lain-krn dulu ikutnya kecil2an&blm berkeluarga.

    Oya tentang agen asuransi – setahu saya sistem penjualan asuransi keagenan gini berlaku di seluruh dunia-jadi susah juga kalau kita berharap hal itu dirubah. Kalau saya sih netral aja terhadap profesi agen asuransi-saya juga punya bbrp teman agen asuransi yg menurut saya cukup profesional dan fair. Yang penting saya berusaha semaksimal mungkin ngerti produk yang akan saya beli, bisa pinjam polisnya dulu-kalau mau kita bisa tanyakan langsung hal2 yg ga dimengerti ke kantor pusat langsung atau rekan yg ngerti asuransi. Seringnya orang sini sistem percaya aja ke agen (yg memang sering juga error menjelaskan)-bahkan tidak ngerti kebutuhan asuransinya sendiri, dan setelah “diaturkan” oleh sang agen-yg notabene blm tentu juga ngerti kebutuhan kita&biasanya menganjurkan yg komisinya gede-biasalah orang jualan :) terus kita belakangan merasa tertipu-padahal dulu awalnya juga tidak banyak meluangkan waktu repot2 mencari info dulu selengkap mungkin-yg mungkin juga karena keterbatasan akses informasi.

    Semua pilihan kan harus kembali ke prinsip, kemampuan & kebutuhan masing2 – yang harus diketahui dulu dengan pasti oleh masing2 pribadi tidak asal ikut aja. Apalagi kita harus sign kontrak utk beli polis itu. Mending cerewet&ribet di depan drpd menyesal belakangan. Dan saya akui, sangat jarang orang seperti Mas Pri yg mau repot bikin blog seperti ini utk memberikan wadah komunikasi bagi kita semua. Boleh tahu nggak Mas, pengalaman pribadi apa yg membuat Anda dulu membuat blog seperti gini?

    Wah, sabtu minggu ini saya intens banget ya,nanya2&nulis di blog ini… apalagi balasannya cepet banget. Semoga ga merepotkan, soalnya hari biasa sy cukup sibuk sih. Thanks

  319. #363:

    memang blog ini tentang asuransi jiwa – tapi saya sih terus terang maksudnya tadi tentang asuransi kesehatan. Kalau asuransi jiwanya saya justru merasa kurang perlu karena memang bisa ditutup kepemilikan asset lagian toh ntar kita pasti meninggal walau gak tahu kapan.

    betul, kalau asuransi kesehatan saya setuju. oleh karena itu rekomendasi saya adalah memisahkan manfaat kesehatan dan jiwa jika memungkinkan (asuransi kesehatan retail di indonesia memang belum banyak pilihan). unit link sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan ini.

    Oya, tentang Prusyariah tadi, itu bukan “Hack” mas, tapi udah “Hak” nasabah. Ini karena saya sudah lihat sendiri pasal2 di polisnya & cek ke kantor pusat Pru. Jadi itu memang hak nasabah, yg belum tentu disampaikan oleh agen – gitu aja.

    ini saya sebut ‘hack’ karena memang tidak dirancang untuk diperlakukan seperti itu. nasabah harus melakukan hal yang sangat tidak lazim untuk mendapatkan manfaat tersebut. jauh lebih nyaman ikut asuransi secara terpisah, lebih jelas, transparan serta tidak merepotkan.

    Oya tentang agen asuransi – setahu saya sistem penjualan asuransi keagenan gini berlaku di seluruh dunia-jadi susah juga kalau kita berharap hal itu dirubah.

    tidak juga. di inggris, asuransi biasanya dijual lewat penasihat finansial independen. di prancis, asuransi dijual oleh bank. idealnya memang seperti itu, tidak seperti sekarang di Indonesia, jalur distribusi asuransi sangat tidak efisien.

    terus kita belakangan merasa tertipu-padahal dulu awalnya juga tidak banyak meluangkan waktu repot2 mencari info dulu selengkap mungkin-yg mungkin juga karena keterbatasan akses informasi.

    tidak mungkin bagi mayoritas nasabah untuk mendapatkan informasi2 tersebut. unit link adalah produk yang sengaja didesain untuk menutup2i sebanyak mungkin informasi. saya sendiri butuh waktu 1 bulan sebelum saya bisa mengerti semuanya.

    Boleh tahu nggak Mas, pengalaman pribadi apa yg membuat Anda dulu membuat blog seperti gini?

    dulu saya ikut participating endowment (dipasarkan sebagai asuransi pendidikan), ternyata setelah saya hitung2 tidak worth it, returnnya jauh di bawah perkiraan. saya juga ikut unit link, sama saja, hasilnya tidak worth it dan sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhan finansial saya. setelah itu saya ditawari prulink, untungnya saya sudah pernah jadi korban sebelumnya, jadi kali ini saya jauh lebih waspada. berdasarkan perhitungan saya, prulink jauh lebih buruk daripada yang saya ikuti sebelumnya. sayangnya, produk ini yang jadi model untuk produk2 unit link lainnya. oleh karena itu saya tulis semuanya, biar pembaca tidak perlu kejeblos seperti saya.

  320. Oh bener juga, kalau endowment memang setahu saya gak worth ya. Jauh mendingan di reksadana sih-apalagi kalau yg untuk pensiun atau pendidikan. Asal nabungnya sama2 disiplin. Sedangkan kalau saya dulu ikut Pru sih, krn agen menceritakan dengan lengkap biaya2nya: akuisisi, biaya asuransi, administrasi, switching di depan – dan juga hak-hak nasabah akan cuti premi (ini sangat jarang dijelaskan agen), kalau memang mau ikut walau mahal ya minim tidak merasa tertipu belakangan. Saya dulu ikut juga gak merasa tertipu oleh agen hingga sekarang, krn tahu di awal jadi ya tidak sy tutup. Soalnya manfaat crisis cover yg lama walau hanya 18 macam yg ditanggung tapi persyaratan kategori utk klaimnya kt agen saya lebih mudah. Di yang baru lebih tinggi kategorinya-walau 34 macam. Ada plus minusnya sih. Jadi sy putuskan tidak ditutup.

    Jaman th 2002 juga gak banyak pilihan asuransi kesehatan dan waktu itu reksadana belum moncer seperti sekarang. Kalau gak salah IHSG pun kinerja mulai mantapb baru mulai akhir 2002. Cuman Pru sifat investasinya masih reksadana index tuh, pasti kinerja kalah dengan reksadana berportofolio yg lebih agresif. Saya pun ambil Pru 100% alokasi utk asuransi aja dan kalau pun tidak trade-memang mending di reksadana drpd di invesnya Pru. Jadi memang saya ada unit linked Pru, tapi saya ambil gaya terpisah-alokasi 100% asuransi. Ini memang sangat tidak biasa, tapi bukan tidak bisa dilakukan. Dan saya cuman sekedar sharing cara saya ini, tidak menyarankan orang lain ikutan.

    Cerita selanjutnya saya dikasih tahu ada produk yg baru lagi – Pru syariah dengan masa cuti lebih cepat&surplus sharing-saya pikir lebih oke lagi krn yang lama tidak bisa cuti cepat & tidak ada pengembalian bila gak klaim – bayarnya juga bisa bulanan. Lagian kalo udah cuti bayarnya per bulan paling 25-30% dr ilustrasi awal krn udah ga ada akuisisi. Tapi ya bayar terus-kayak link term bayar selama di-cover gitu. Juga konsep syariah ini bikin lebih transparan memang-toh resiko dana klaim kurang (yg hrs ditanggung nasabah) juga kecil.

    Sekarang pun asuransi kesehatan terpisah yg “murah” dr perusahaan bagus susah ditemui. Btw Axa mandiri jiwa sejahteranya apa bisa bulanan Mas, kok kelihatannya mesti tahunan ya. Soalnya saya ga terlalu kenal agennya, sapa tahu bisa bulanan tapi ga dikasih tahu.

    Tapi saya tiap 5 tahun sekali-kalau ada rejeki, rencana review terus apa asuransi yg saya punya sudah cukup dng kondisi biaya2,tanggungan&gaya hidup saat itu. Kalau 5th lagi mau nambah, semoga kelak ada lagi produk baru yang lebih menguntungkan. Namanya juga perusahaan2 asuransinya saling bersaing, toh saya skrg masih muda (ini benarnya tidak bisa dijadikan alasan krn kita gak bisa tahu kapan mati/sakit kan) :)

    Benar juga Mas, kalau ada financial consultant independent khusus produk asuransi mestinya kondisi nasabah tidak ngerti dan merasa tertipu oleh agen2 asuransi yg hanya kejar komisi&target pribadi yg gak ngerti atau tidak mau menjelaskan terbuka di depan bisa dikurangi. Sebagian besar memang kualitas agen asuransi gak oke. Meski tidak semuanya. Juga memang dengan komisi segitu dan dapetnya di depan, membuka peluang agen jadi greedy alias mata duitan – dan banyak kejadian setelah dapet gedhe, abis gitu gak jadi agen lagi atau pindah perusahaan lain tanpa pamit ke nasabah. Kalau saya di Pru-link stlh cuti dng cara top up gitu kepotongnya 5% aja utk byr komisi-inipun tiap 2 tahun sekali aja&tetap bisa ditutup kan sewaktu2 tanpa merasa rugi krn tidak terakuisisi gede di depan& bayarnya bisa bulanan. So agennya kalau mau dapet komisi dari saya harus long term & mau ngurusi terus :) kalau mau keluar duluan ya dak dapet. Kondisi ini lebih masuk akal. Ini pasti akan membuat profesi agen kurang menarik bagi yg niat ngejar komisi doang. Kembali ke agen masing2, sejauh mana profesi ini akan dipergunakan utk profesional dan mau membantu orang lain dlm jangka panjang di bidang asuransi.

    Masalahnya kalau nasabah tidak cuti-artinya komisi dibayar semua di 5th pertama. So gede banget memang & bisa tahu2 ditinggal bye-bye setelah dapet komisi. Padahal dalam 5th pertama kemungkinan terjadi klaim masih kecil. Jadi mestinya agen unit linked kalau udah mau bicara terbuka ttg biaya akuuisisi & fasilitas cuti premi, minimal mestinya agen itu tdak terlalu mata duitan dan benar2 siap kerja long term di perusahaan tsb. Semoga…. Toh (kalau di Pru) dapet juga terus komisi 5%nya selama kita top-up. Btw apa kalau di Eropa sana itu jasa konsultasinya gratis-dilakukan oleh LSM gitu- atau mesti bayar ya?

    Tq ya

  321. Dear Mas Pri…
    Terus terang saya pusing membaca pembahasan mengenai hitung-hitungan asuransi unit link dan tradisional. Saya mempunyai 3 macam asuransi dengan link yaitu 1 asuranci jiwa berbasis link (Allianz) dan 2 asuransi pendidikan berbasis link untuk ke2 anak saya(Axa Mandiri):(. Ketiga asuransi tersebut saya ambil karena ketidaktahuan saya tentang asuransi (saya mencari yang praktisnya saja)dan kebetulan agentnya adalah teman sendiri. Setelah membaca penjelasan mas Pri saya jadi menyesal mengambil 3 asuransi unit link tersebut. Kalo boleh minta sarannya, bagaimana solusi yang terbagus untuk mengurangi ‘kerugian’ yang saya derita (karena setahu saya dana asuransi tersebut tidak dapat saya ambil sebelum 3 tahun)??? Mohon penjelasannya agar saya tidak kembali tertipu oleh agent-agent yang tidak bertanggungjawab. Terima kasih sebelumnya

  322. #366 Dear Mas Pri…
    Terus terang saya pusing membaca pembahasan mengenai hitung-hitungan asuransi unit link dan tradisional. Saya mempunyai 3 macam asuransi dengan link yaitu 1 asuranci jiwa berbasis link (Allianz) dan 2 asuransi pendidikan berbasis link untuk ke2 anak saya(Axa Mandiri)
    ——————————————

    Sori nyelonong kang …
    Produk A*A Man**** ini lucu banget. Mau yang buat pensiun, tabungan pendidikan, untuk keluarga muda, semuanya sama produknya. Yang beda cuman brosur. Cara marketing yang “hebat”. hahahahah

  323. #365 Sekarang pun asuransi kesehatan terpisah yg “murah” dr perusahaan bagus susah ditemui. Btw Axa mandiri jiwa sejahteranya apa bisa bulanan Mas, kok kelihatannya mesti tahunan ya. Soalnya saya ga terlalu kenal agennya, sapa tahu bisa bulanan tapi ga dikasih tahu.
    ————————————-
    Kagak mas, masalahnya komisi untuk produk ini gak gede. Persentase sih gede, tapi premi kecil sekali untuk UP yang sama dengan UL. Sehingga agen2 banyak yang males jualan produk ini

  324. #365:

    Sedangkan kalau saya dulu ikut Pru sih, krn agen menceritakan dengan lengkap biaya2nya: akuisisi, biaya asuransi, administrasi, switching di depan – dan juga hak-hak nasabah akan cuti premi (ini sangat jarang dijelaskan agen), kalau memang mau ikut walau mahal ya minim tidak merasa tertipu belakangan. Saya dulu ikut juga gak merasa tertipu oleh agen hingga sekarang, krn tahu di awal jadi ya tidak sy tutup.

    rasanya anda ini sangat minoritas. hampir semua agen memberi tahu seluruh informasi yang anda katakan tersebut, tapi tetap saja nasabah tertipu. kenapa? karena nasabah gak ngerti apa implikasi dari informasi tersebut. contoh: agen bilang biaya akuisisi 100% 60% 15% 15% 15% untuk 5 tahun pertama. apa tanggapan calon nasabah? paling cuma “oh iya”, dia gak tahu kalau implikasi hal tersebut adalah dia harus bayar dengan nilai nominal total 24 juta lebih (kalau nasabah setor premi 1 juta/bulan). kenapa gak langsung dikasih tahu saja jumlah nominalnya? padahal di halaman sebelumnya ada proyeksi nilai tunai sampai usia 100 tahun. masa ngitung total nominal biaya akuisisi yang cuma 5 tahun mereka gak bisa? :)

    jawabannya ya kalau mereka bilang “biaya akuisisi yang harus anda bayarkan untuk 5 tahun pertama adalah Rp 12 juta, 7.2 juta, 1.8 juta, 1.8 juta, 1.8 juta”, bisa jadi calon nasabah langsung kabur karena mayoritas calon nasabah tentunya merasa yang harus dia bayarkan terlalu mahal. oleh karena itu informasi tersebut harus disamarkan supaya nasabah tidak menyadari, yaitu dengan cara memberikan informasi yang belum matang. nasabah masih harus menghitung sendiri dan tentunya harus tahu cara menghitungnya. ini yang tidak diinformasikan dengan jelas kepada nasabah.

    Cuman Pru sifat investasinya masih reksadana index tuh, pasti kinerja kalah dengan reksadana berportofolio yg lebih agresif.

    wah ini salah. Pru tidak mengklaim dana ekuitasnya menggunakan teknik passive management. selain itu harganya sangat mahal sekali untuk ukuran reksadana indeks. biaya pengelolaan investasi di pru adalah 1.75%, sedangkan di danareksa cuma 0.36%. sangat tidak worth it sekali kalau ternyata itu memang reksadana indeks.

    Sekarang pun asuransi kesehatan terpisah yg “murah” dr perusahaan bagus susah ditemui. Btw Axa mandiri jiwa sejahteranya apa bisa bulanan Mas, kok kelihatannya mesti tahunan ya. Soalnya saya ga terlalu kenal agennya, sapa tahu bisa bulanan tapi ga dikasih tahu.

    saya gak tahu. dulu saya sih ambil tahunan.

    Tapi saya tiap 5 tahun sekali-kalau ada rejeki, rencana review terus apa asuransi yg saya punya sudah cukup dng kondisi biaya2,tanggungan&gaya hidup saat itu. Kalau 5th lagi mau nambah, semoga kelak ada lagi produk baru yang lebih menguntungkan.

    sebenarnya ganti2 produk asuransi atau nambah produk asuransi itu tidak menguntungkan. kalau kebutuhan proteksi meningkat, lebih baik coverage yang lama diperbesar. kalau nambah produk baru, anda akan kena charge overhead dua kali.

    Kalau saya di Pru-link stlh cuti dng cara top up gitu kepotongnya 5% aja utk byr komisi-inipun tiap 2 tahun sekali aja&tetap bisa ditutup kan sewaktu2 tanpa merasa rugi krn tidak terakuisisi gede di depan& bayarnya bisa bulanan.

    kepotong 5% rasanya masih terlampau besar. load fee reksadana rata2 cuma 1-2%, bahkan ada yang gratis.

  325. Mas, ini saya udah padet yg proposal Pru syariah dan Commlife term Medical Fund, juga Allianz. Kondisi saya pria 34 th, tidak merokok, kelas pekerjaan 1.

    Kalo di Pru syariah – yg murni investasi:
    – UP jiwa & cacat total 300 jt Rp 60.750,-
    – biaya asuransi prumed Rp 58.436/bln dng pertanggungan :
    rawat inap 800rb/hr – max 100hr/th
    ICU 1.6jt/hr – max 30hr/th
    Bedah : max 15jt/th

    Ini dengan kondisi, kalau 1 bulan pertama bayar akuisisi Rp 400rb, sesudahnya bayarnya biaya admin 37.500/bln + biaya asuransi (total 194rb) melalui top up. Krn top up kena potong 5%, maka dianggap kita bayar bersih per bulan 205rb. Cuman setelah cuti bayarnya top up minimal 1jt – tp potong biaya asuransi tetap per bulan, dan dpt bunga juga sesuai alokasi investasi. Bila tidak ada klaim dari Jan-Dec dilihat sisa Dana bersama akan dikembalikan 56% ke nasabah tiap tahun.

    Kalau Commlife dengan Madical Fund yg term life mahal, biaya per bulannya kira2 215rb/bln (sy tidak jelas biaya administrasinya) hanya dapet asuransi kesehatannya saja, rawat inapnya 300rb/hari dan biaya obat2an 750rb/hr. Max 90hr/thn. Bedah dan ICU max 10jt/th. Bila tidak klaim akan dikembalikan 30% dari premi tiap tahun.

    Untuk Allianz Smart Health – Maxi Violet-term life tipe E – Rp2,812jt/th:
    rawat inap 500rb/hr (max 180hr per tahn)
    ICU RP 700/hr – max 15hr/thn
    Kunjungan dokter umum 150rb/hr – max 180hr/th
    Kunjungan dokter specialis 175rb/hr – max 180hr/th
    Pembedahan: – Komplex 82jt/th
    – Besar 53,3jt/th
    – Sedang 36,9jt/th
    – Kecil 20,5jt/th
    Lain2 utk rawat inap: 8,5jt/th
    Perawat pribadi di rumah – 250rb/hr – max 180hr/th
    Ambulan per periode rawat inap 350rb
    Santunan kematian 6jt
    No Claim Bonus 20% setahun.

    Dari tiga alternatif di atas mana kira2 yg terbaik? sebenarnya Allianz paling lengkap, tapi justru terlalu lengkap utk kondisi saya saat ini. Dan cukup mahal biayanya serta harus tahunan bayarnya. Nah, yang Axa/Manulife blm muncul2 lg agennya – mungkin males krn saya terlalu compare2 & minta byr bulanan :) Bisa tolong nanya kalau yg Axa mandiri jiwa sejahtera dan Manulife Proactive gimana?

    Tq ya

  326. Sorry maksudnya PRU syariah yang murni asuransi :)
    saya tetap tdk tertarik unit linked ataupun reksadana investment. ini aja IHSG dalam 2 hari bisa drop 7%an. Kalau reksadana bisa2 gak sempet selamatkan dana tuh.

    Tq

  327. #370

    Saya coba bantu ya…
    Kalau Pro Active Manulife, ada limit premi minimal utk pembayaran bulanan adalah 150 ribu / bulan excl premi rider.
    Jadi utk kasus Pria NS 34 Premi bulanan:
    Pro Active UP 610Juta Premi 150.700
    Keclk & Cct UP 610Juta Premi 115.900
    HB Plus Plan PC1 Premi 220.500
    Manfaat (per ketidakmampuan):
    Biaya Kamar/hari (max 60 Hari) 800.000
    ICU/hari (max 18 hari) 800.000
    Doctor Visit/hari(max 60 hari) 800.000
    Biaya lain2 16.000.000
    Dokter ahli bedah 32.000.000
    Dokter spesialis 800.000
    Dokter ahli bius 9.600.000
    Ruang Operasi 6.400.000
    Rawat Jalan 2.000.000
    (akibat kecelakaan)
    Santunan Meninggal dunia 8.000.000

    Memang coveragenya jadi berlebihan karena ada limit premi minimal, makanya agent kita jarang bisa memberi Pro Active sebagai solusi utk client.

  328. Thanks P. Jimmy,
    Mungkin hal itu memang yg membuat agen Manulife yg saya tanyain “mundur” – karena memang saya dari awal jelaskan tidak ingin UP jiwa terlalu besar, krn saya sudah ada-dan mestinya sudah mencukupi. Saya perlu tambahan coverage kesehatan saja. Artinya kalau Pro Active juga kita mesti ikut minimal UP jiwanya saja 150rb/bulan (UP=600an juta) ya… baru boleh nambah utk kesehatannya. Saya pikir tidak sesuai kebutuhan saya sih. Kebesaran UP jiwa nya.
    Oya, Pak Jimmy – saya ingin tanya – katanya di Manulife ada nilai tunai yang dijamin di unit linked nya.
    Nah, dengan adanya “jaminan” itu apakah kinerja invetasi di unit linked tsb setara dengan kinerja Manulife Dana Saham/Saham Andalan ya. Soalnya kalau ada jaminan dan kinerja sama dengan kinerja reksadananya mestinya cukup menarik apalagi dengan kondisi IHSG sekarang ini. Saya sudah bersih2 dari IHSG sejak kemarin krn kuatir dng harga BBM (skrg tinggal 3 lot aja saham TLKM) dan mempertimbangkan utk masuk ke bursa negara lain atau trading balance forex yg minim 3% sebulan itu-no loss memang-sekarang dengan kondisi IHSG seperti ini 3% sebulan terasa jadi menarik, kalau 2007 dulu kurang menarik krn bursa lagi oke banget. Lalu saya ingat adanya nilai tunai yg dijamin di Manulife yg pernah saya dengar itu, apakah itu jaminan minimal yg kita dapat-dengan catatan bahwa bila kinerja IHSG bagus kita juga akan dapat setara dengan reksadananya?
    Tq ya….

  329. mempertimbangkan utk masuk ke bursa negara lain atau trading balance forex yg minim 3% sebulan itu-no loss memang-sekarang dengan kondisi IHSG seperti ini 3% sebulan terasa jadi menarik

    Pak Chris, bisa dijelaskan lbh lanjut mengenai balance forex yg 3%?secara memang IHSG sdg krg baik jadi mesti switch dlu posisi.klo krg berkenan disini sy tggu via japri…
    thanks a lot…

  330. Pak,
    gimana bisa japri ya? saya kan tidak tahu e-mail Anda? Dan sebenarnya ini kan blog ttg asuransi … nanti ga enak cerita2 di luar tema.
    Intinya trading balance itu ada “ilmu”nya – saya dapat dari seminar Forex di Lumen Capital Resources yang ada di Surabaya – dan juga ada di Jakarta sih. Anda telpon saja sendiri ke 031-5460619 bilang saja kenalannya Bu Lily Elizabeth dr Sby – itu istri saya. Nanti biar mereka yang jelaskan ke Anda- termasuk bila Anda mau coba2 inves ke bursa negara lain yg lebih oke saat ini seperti di China, Australia atau India.

    Ini memang jadinya tidak nasionalis – tapi bagaimana lagi – fundamental RI mengkhawatirkan dengan potensi naiknya BBM, naiknya BI rate dan inflasi tinggi, juga menjelang pemilu gini. Obligasi dan SUN aja drop banyak – jadi asing mulai kurang percaya dengan RI dan masuk ke China yg udah mau ada big event macam Olimpiade, India yg gak ada subsidi BBM, atau Australia yg SDAnya oke. Tapi intinya saya sih pasti balik lagi ke IHSG bila nanti kondisi fundamental RI sudah membaik. So, yang mau long term more than 3-5 year di IHSG atau reksadana saham – tenang2 aja lah… tapi yg hanya mau 1 tahun terus diambil – hati2 ya… Take care

    G-luck

  331. #373

    Betul ada Pak, bahkan Manulife mempunyai 4 Jenis Unit Link. 2 Single Premium, 2 lagi Regular.
    Yang bpk maksud ada Nilai tunainya saya rasa produk Manulife Investa. Produk ini cukup unik karena menggabungkan produk Whole Life Insurance dengan Investasi, sehingga ketika selesai masa pembayaran premi, sudah tidak ada potongan2 premi yg “terselubung” seperti unit link lain & dijamin tidak akan lapse. Tetapi berdasarkan perhitungan saya, tetap kalah kalau dibandingkan dengan BTAID.
    Meskipun begitu, Portfolio saham di Unit Link Manulife (namanya Manulife Dana Ekuitas) performancenya lebih baik dibanding dengan M Dana Saham, bahkan jika kita termasuk tipe pemain “swing”, MDE tsb bisa lebih bagus performancenya daripada M Saham Andalan atau Reksadana yg diterbitkan MI lain (saya tidak akan sebut nama).
    Tentu disini saya tidak asal omong, kalau perlu data2nya bisa contact saya pak :)

  332. P Jimmy,

    Thx infonya ya. Saya perlunya yg asuransi kesehatan besar – UP jiwa kalau bisa tidak ada juga lebih baik. Apakah bisa di Manulife Investa soalnya hal ini pernah saya singgung kepada agen Manulife yg menawarkan produk ke saya katanya tidak bisa sih. Untuk yang ada jaminan nilai tunai tsb dan bisa swing, kira2 biaya switching berapa ya? Dan harus mengendap berapa lama? Saya baru saja beli bbrp saham di US market yaitu saham Visa bagus sekali performance nya. Dalam 1 bulan ini aja sudah sekitar 25% kenaikannya.

    Saya kurang suka investasi unit linked krn harus mengendap utk hindari pajak yg 20% atas bunga itu. Tapi intinya, kalau utk investasi sy benernya tidak terlalu perlu yg dikelola Fund Manager, krn saya lebih suka pilih2 sendiri sih…. tapi kalau ada jaminan seperti itu dan kinerja oke menarik juga. Tapi kok bisa ya masuk saham lalu kasih jaminan ? saya kurang jelas juga maksudnya. Apa bisa masuk ke investasinya saja bila ternyata asuransinya tidak bisa full utk kesehatan saja.

    utk p Idwan, saya akan pergi 1 minggu full jadi maaf ntar ptengahan bulan saya baru bisa balas, sementara telp aja ke no yg saya beri itu krn setahu saya meski di Jakarta kalau mau ikut daftar ke surabaya by referensi bisa dapat lebih murah sejuta-an utk seminarnya.

  333. Pusing deh saya aja yg kerja di Manulife 10 thn baca ini jadi ikut pusing, tergantung Anda semua mau ambil investasi murni atau investasi + Proteksi.

    jawabnya :

    Investasi Murni = Reksa Dana
    Investasi+Proteksi = Unit Link ( Manulife Investa )

    Thank’s 0818.299.299 – 024-70.299.299

  334. waduh….serem juga baca ‘diskusi panas’ ttg unit link VS
    mengambil terpisah,sebetulnya tidak `seribet itu lah,karena dibandingkan seperti apapun tidak akan ketemu kesepakatan.Kita kembali ke konsep dasar asuransi`adalah membeli ‘rasa aman’..jikalau didalam masa`produktif terjadi resiko (khususnya sakit kritis),maka biaya berobat tidak akan mengganggu/menghabiskan asset kita salah `satunya investasi kita direksadana.pemecahan paling gampang,modal pokok kita tetap masukkan diinvestasi yang menurut kita menguntungkan,misalnya reksadana tadi,nah 35% dari keuntungan reksadana itulah yang digunakan utk`beli asuransi unit link,kenapa tidak saya`sarankan yang`term,karena resikonya `adalah pada masa perpanjangan asuransi term itu,dimana kita tidak bisa jamin kondisi kesehatan kita`sama dengan diawal,dan itu berrati`ada resiko perpanjangan term itu bisa ditolak perusahaaan asuransi dimanapun,sedang di asuransi pru link resiko ditolak bisa diminimalkan karena asuransi sakit kritisnya bisa mengcover`sampai usia maksimal 85 tahun……ini sekilas masukan dari saya,smoga bisa membantu menambah wawasan ttg asuransi unit link…..thank you

  335. #380:

    kenapa tidak saya`sarankan yang`term,karena resikonya `adalah pada masa perpanjangan asuransi term itu,dimana kita tidak bisa jamin kondisi kesehatan kita`sama dengan diawal,dan itu berrati`ada resiko perpanjangan term itu bisa ditolak perusahaaan asuransi dimanapun,sedang di asuransi pru link resiko ditolak bisa diminimalkan karena asuransi sakit kritisnya bisa mengcover`sampai usia maksimal 85 tahun…

    coba baca lagi polisnya. untuk asuransi term, ada yang namanya klausus guaranteed renewability. artinya kalau masa polis berakhir, pemegang polis berhak untuk memperpanjang dengan besar premi yang telah ditentukan sebelumnya TANPA PEMERIKSAAN KESEHATAN sama sekali. perusahaan asuransi tidak berhak menolak perpanjangan. justru di unit link prulink, perusahaan asuransi punya hak untuk sewaktu2 menambah besar premi kalau mereka mengetahui nasabah mengidap penyakit.

  336. Mas Priyadi,

    setelah tau reksadana lebih menguntungkan drpd UL, krn masih masa 21 hari, saya membatalkan
    polis saya, jadi saya pergi ke bank saya.

    Waktu saya mau membatalkan bancassurance saya,
    kan ditanyain tuh, alesannya kenapa ?
    padahal polis sudah keluar.
    (kok mudah sekali ya polis keluar ?
    tanpa ada cek kesehatan, ditanya ngerokok sgala,
    apa jangan2 polisnya tidak VALID ?)

    saya jawab aja, sebab banyak biaya2 terselubung,
    komisi2 yg besar serta setiap nambahin top-up
    akan di potong 5% dari tiap penambahannya.
    (saya hanya mengutip aja kalimat2 yg ada di forum sini,
    padahal ngerti banget juga nggak sih…he-he-he)

    lalu jawab CS bank ini kira2 sbb :
    bapak akan dapet laporan tiap tahunnya,
    dan disitu bapak bisa liat biaya2nya.
    Kami lain dengan agen2 asuransi, karena
    bersifat bancassurance.

    kami juga tidak memotong top-up 5%,
    kan nanti keliatan di laporannya.
    saat bapak nambah top-up, dan harga Unit saat itu,
    bapak bisa liat tidak ada pemotongan.

    lagian ketimbang duit bapak “nganggur”
    di deposito dgn bunga kecil, kan lebih baik bapak
    ikut program kami ini, bunga/return-nya bisa
    mencapai 18%/tahun dan ditambah pula jaminan
    asuransi jiwa + dinyatakan sakit klinis dari
    38 penyakit pertama kali bapak akan mendptkan 100 jt.

    Nah buat Mas Priyadi atau pembaca lain,
    yang siapa tau bisa membantu saya….

    1. apakah CS bank ini hanya cuap2 aja ?
    lain janji/kata dengan kenyataan ?

    2. apakah betul bancassurance sifatnya
    lebih mudah dibanding dgn UL liwat agen ?

    segala macam balesan akan saya hargai.
    Terimakasih sebelum dan sesudahnya,

    salam.

  337. #382:

    Waktu saya mau membatalkan bancassurance saya, kan ditanyain tuh, alesannya kenapa ? padahal polis sudah keluar. (kok mudah sekali ya polis keluar ? tanpa ada cek kesehatan, ditanya ngerokok sgala, apa jangan2 polisnya tidak VALID ?)

    kemungkinan karena nilai UP-nya kecil sekali. kalau kecil sekali (misalnya di bawah 100-200 juta), ada kemungkinan mereka gak melakukan cek kesehatan. mungkin karena resiko yang mereka tanggung terlalu kecil daripada biaya underwriting yang harus mereka keluarkan (bayar dokter, dll).

    saya jawab aja, sebab banyak biaya2 terselubung, komisi2 yg besar serta setiap nambahin top-up akan di potong 5% dari tiap penambahannya. (saya hanya mengutip aja kalimat2 yg ada di forum sini, padahal ngerti banget juga nggak sih…he-he-he)

    hehehe, sebenarnya ada bancassurance yang biaya akuisisinya 0% (misalnya AIG provisa) tapi saya tetap rekomendasi term + reksadana untuk alasan transparansi. bisa saja kan dia ujung2nya dapat keuntungan yang jumlahnya besar tapi dipotong dari pos biaya yang lain, misalnya biaya mortalitas atau pemotongan keuntungan. untuk kebanyakan term life, biaya yang harus nasabah keluarkan sudah jelas terpampang di polisnya, gak bakalan ada biaya2 siluman yang gak disadari.

    biaya top-up ada yang 3%, ini tetap lebih mahal daripada biaya di reksadana. ada juga yang gak pakai biaya top-up, tapi mengenakan spread jual dan beli (mirip transaksi valas). ini praktis sama saja sebenarnya, cuma beda cara memotongnya. ada juga unit link yang gak bisa top-up terpisah, kalau ini jelas gak ada biaya yang 5%, lha untuk top-up saja gak bisa :).

    lagian ketimbang duit bapak “nganggur” di deposito dgn bunga kecil, kan lebih baik bapak ikut program kami ini, bunga/return-nya bisa mencapai 18%/tahun dan ditambah pula jaminan asuransi jiwa + dinyatakan sakit klinis dari 38 penyakit pertama kali bapak akan mendptkan 100 jt.

    return investasi memang lebih besar daripada deposito, tapi resikonya juga lebih besar. selain itu, untuk berinvestasi lebih baik langsung ke reksadana, daripada harus lewat unit link.

    btw, ini bank apa ya? BCA?

  338. Pak Priyadi,

    Wah, makasih banget atas jawabannya.

    Iyaa, itu dah makanya saya mau batalin polisnya,
    karena tentu lebih tertarik dengan RD.

    Saya buka aja deh, banknya Bank Permata
    dan asuransinya ALLIANZ, bayarnya per tahun 6 juta
    dgn 5 juta premi 1 juta top-up. Tergantung duluan yang mana :
    Kalo saya mati, di gantinya cuma 200 juta.
    kalo saya dinyatakan sakit yg ada di daftar, 100 juta
    kalo saya kecelakaan cacat yg di daftar … lupa…

    setelah 5 tahun, kalo saya mau lanjutin asuransi
    saya sdh boleh gak usah setor2 uang lagi s/d usia 100
    tahun, tapi asuransi tetap berfungsi.

    krn saya cukup heran saking mudahnya polis keluar,
    saya sempet ngeledek CS bank bahwa kalo saya jadi
    ambil program asuransi mereka, maka :
    saya sebenernya sudah sakut jantung, nanti tinggal dokternya aja deh, saya suruh bikin surat keterangan sakit jantungnya dgn tanggal setelah polis yg sudah keluar itu he-he-he…:-)

    Oh ya, saya sudah sempet nge-cek di denpasar sini
    ternyata ada juga bank commonwealth, juga Danareksa.

    Apa ada bedanya gak sih Pak, beli RD lewat bank
    dengan langsung di Danareksanya ?

    Sperti yg bapak sarankan, RD yg diambil itu
    RD Danareksa Index Syariah kan ya ?
    (yg kita taroh aja modal, misal 30 juta, lalu
    tidak kita kutak-kutik lagi, tunggu 5 – 10 taon
    sudah beranak lebih subur drpd di deposito…:-)

    Makasih sekali lagi mas Pri.

    salam,
    reko

  339. Mas, sorry…nambah …

    mas Priyadi tulis :
    “ada juga yang gak pakai biaya top-up, tapi mengenakan spread jual dan beli (mirip transaksi valas)”

    Bapak betul….

    Ya, saya ingat … hal ini dikatakan oleh
    CS banknya, bahwa tidak ada potong 5%, yang ada
    adalah perbedaan dari nilai jual dan belinya..

    ternyata sami-mawon aja dgn potong 5% ya…
    rumpi…:-)

    salam.

  340. #384:

    bayarnya per tahun 6 juta dgn 5 juta premi 1 juta top-up. Tergantung duluan yang mana : Kalo saya mati, di gantinya cuma 200 juta. kalo saya dinyatakan sakit yg ada di daftar, 100 juta kalo saya kecelakaan cacat yg di daftar … lupa…

    sebagai perbandingan, untuk usia 30 tahun, UP jiwa 200 juta di term life itu bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp 500 ribu/tahun, UP CI 100 juta sekitar Rp 300 ribu/tahun (kalau gak salah ingat), UP kecelakaan per 100 juta harganya sekitar 100-200 ribu/tahun. kalau ambil term life, total preminya mungkin cuma sekitar 1 juta/tahun. selisihnya yang 5 juta bisa diinvestasikan langsung melalui reksadana.

    setelah 5 tahun, kalo saya mau lanjutin asuransi saya sdh boleh gak usah setor2 uang lagi s/d usia 100 tahun, tapi asuransi tetap berfungsi.

    ini cuma ilusi finansial. kalau ikutan reksadana terpisah, kita juga bisa lakukan hal yang sama dengan cara mencairkan sebagaian dana di reksadana dan menggunakannya untuk bayar premi term life. memang lebih repot, tapi ini hanya perlu dilakukan sekali setiap tahun.

    Apa ada bedanya gak sih Pak, beli RD lewat bank dengan langsung di Danareksanya ?

    posisi bank di sini cuma sebagai agen penjual. dananya yang muterin tetap manajer investasi. tapi biasanya kalau beli lewat agen (misalnya bank), kadang2 harganya lebih murah daripada beli langsung ke manajer investasi. sama saja seperti beli TV misalnya, kalau beli ke Sony-nya langsung biasanya lebih mahal daripada beli lewat toko yang gak khusus jualan Sony.

    Sperti yg bapak sarankan, RD yg diambil itu RD Danareksa Index Syariah kan ya ? (yg kita taroh aja modal, misal 30 juta, lalu tidak kita kutak-kutik lagi, tunggu 5 – 10 taon sudah beranak lebih subur drpd di deposito…

    betul, tapi pelajari dulu resikonya. resikonya tetap ada, tapi semakin lama disimpan semakin kecil resikonya. jangan sampai nanti saya yang disalahkan kalau nilai investasi anda turun hehehe :). di sisi lain, di unit link juga sama saja. kalau di reksadana turun, di sana sudah pasti turun juga. bedanya mereka tidak cukup memperkenalkan faktor resiko ini.

  341. #385:

    Ya, saya ingat … hal ini dikatakan oleh CS banknya, bahwa tidak ada potong 5%, yang ada adalah perbedaan dari nilai jual dan belinya..

    ternyata sami-mawon aja dgn potong 5% ya…

    betul, samimawon. bedanya kalau pakai sistem spread, mereka bisa ‘merevisi’ spread sesuai situasi. kalau pakai sistem potong, biasanya nilainya sudah ditetapkan dari awal, dan gak bisa diubah semau mereka.

  342. Mas Priyadi tulis :
    jangan sampai nanti saya yang disalahkan kalau nilai investasi anda turun hehehe :).

    Weleh…..yang tentu tidak donk Mas.
    Masa saya yg nanem modal, terus kalo rugi
    org laen yg disalahin….

    lagian setelah ngabisin waktu lama banget
    utk baca2 di forum ini, saya ambil kesimpulan
    emang betul kok yg mas Pri bilangin.
    Asuransi terpisah dgn RD, lebih baik drpd
    asuransi dgn UL.

    masalah untung-rugi kan emang kita gak bisa prediksi.

    makasih banyak ya Pak.

    salam.

  343. :d/
    secara teknis keunggulan dari instrumen investasi reksadana dengan unit link bukan hanya dari itungan biaya, itu semua cuma itungan matematis, yang penting fleksibilitas dan kapasitas dari manejer investasi dalam menjaga aset bersama di instrumen. Nah kalau reksadana yang mana umumnya terbatas penerbitannya sampai dengan jumlah kapasitas tertentu, tentunya beda dengan kapasitas dari unit link yang tidak terbatas dalam pembentukan unit investasinya… untuk jelasnya bisa hubungi saya untuk penjelasan… sederhana juga bisa pelajari kinerja investasi dari reksadana vs unitlink dengan umur yang sama…. salam Suwardi 021-32508818

  344. #389:

    kalau reksadana yang mana umumnya terbatas penerbitannya sampai dengan jumlah kapasitas tertentu, tentunya beda dengan kapasitas dari unit link yang tidak terbatas dalam pembentukan unit investasinya

    ini jarang jadi masalah. kalau reksadana sudah oversubscribed, tinggal pindah ke reksadana lain. gitu aja kok repot :).

    justru kelemahan unit link adalah kita terikat pada fund yang disediakan perusahaan asuransi. kalau ternyata fund tersebut underperforming, nasabah akan sulit pindah.

  345. Pak Priyadi,

    Saya sudah ke combank di bali sini,
    terus nanya RD danareksa yang index syariah

    CS-nya bilang dgn ngliatin daftar list mereka
    bahwa index syariah resiko paling tinggi.
    (kategori D resiko paling tinggi).
    mereka saran ambil PNM syariah, resiko kategori C
    Saya baca2 di internet baik yg inggris
    maupun indonesia, kenapa ada yg bilang
    sistim index-fund resiko lebih kecil.
    seperti quote dari text ini :

    INDEX FUND
    “The fund invests in a wide variety of assets,
    with the emphasis on lower risk, income type investments such as fixed interest and cash.”

    lalu dari link lain :

    “Index funds typically hold more securities than actively managed funds, offering the potential for increased diversification. By holding more securities you reduce the risk, because while some of the investments may go down, others may go up.”

    Nah yg saya mau tanya / minta tolong mas :
    apakah Danareksa Index Syariah itu memang BUKAN
    RD dgn sistim index-fund yg seperti di LN ?
    sehingga termasuk kategori resiko paling tinggi ?

    (pdhal kalo gak salah, harusnya sih iya,
    kan produk DINAR ini berdasarkan index JII ?)

    oh ya, ada satu lagi :
    di list-nya combank, saya liat beberapa
    RD di table kinerja masa-lalu, contoh
    PNM Ekuitas Syariah…. tabelnya sbb :
    1 bulan : 6.98%
    3 bulan : -1.97%
    6 bulan : 2.91%
    1 tahun : 0%
    tahun berjalan : 3.88%

    kok ngeri amat ya ? setelah satu tahun
    bisa sampe titik 0% ?

    wah, saya jadi ngerepotin mas nih.
    Makasih banyak ya mas.

    salam,
    reko

  346. #391: reksadana indeks itu resikonya kurang lebih sama saja dengan reksadana saham, yaitu reksadana yang paling beresiko. resiko ini bisa diminimalkan kalau kita invest untuk jangka panjang (10 tahun ke atas). kadang2 dalam satu tahun bisa jadi nilainya akan turun. tapi untuk jangka panjang trennya bisa dibilang akan naik.

    kalau menurut anda resikonya terlalu tinggi untuk ditoleransi, lebih baik ambil reksadana pendapatan tetap. ini resikonya lebih kecil tapi returnnya juga lebih kecil.

    ada juga reksadana campuran, yaitu campuran pendapatan tetap dan saham. tapi saya pribadi lebih suka dicampur sendiri, misalnya ikut reksadana saham 50% ditambah reksadana pendapatan tetap 50%.

  347. Selamat, Bung Priyadi.
    Dari ahli IT menjadi ahli finansial.

    Seluruh ulasan anda terbaca sangat awam, banyak hal yg terasa sekedar mengutip atau dicari2 jawabannya via google, tidak merujuk pada investment principles.

    Pertanyaan sederhana: dgn background anda di IT, apakah anda cukup kompeten & credible untuk memberikan financial advice :)?

    Memang benar, be careful terhadap insurance agent. Tapi juga be careful terhadap ahli IT yg memberikan financial advice :)

  348. #393:

    Pertanyaan sederhana: dgn background anda di IT, apakah anda cukup kompeten & credible untuk memberikan financial advice :)?

    no problem. saya tidak merasa cukup kompeten walaupun saya yakin dengan apa yang saya tulis di atas. urusan kredibilitas juga jebakan batman. sebagian besar yang ngaku kredibel ternyata punya konflik kepentingan, dan menurut pengalaman saya advicenya gak lebih baik daripada orang awam yang tidak punya konflik kepentingan :).

    Seluruh ulasan anda terbaca sangat awam, banyak hal yg terasa sekedar mengutip atau dicari2 jawabannya via google, tidak merujuk pada investment principles

    kalau mau konstruktif lebih baik anda kasih tahu bagian mana yang tidak sesuai dengan ‘investment principles’ dan bagaimana yang seharusnya :)

  349. waaah enak ya yang pada punya kerjaan… kalo yang penggangguran mah jangankan mikirin investasi, mikir makan besok aja 1/2 mati.. internetan aja numpang.. dasar nasib jadi orang ga lulus sma.. cari kerjaan aja susah apalagi mikir investasi

  350. Saya baru baca tulisan mas Priyadi yg ini (katrok sekali ya saya, orang lain udah sampai comment ke 395, tapi saya malah baru baca, hehehe, tapi lebih baik terlambat daripada ngga sama sekali).

    Terimakasih mas Priyadi, mata saya baru terbuka lebar tentang unit link.

    Sebetulnya saya punya 1 unit link dari A*G L*f* nama produknya Ak**va, umur polis 1 tahun lebih bbrp hari, saya bayar triwulanan 1.2 jt premi dasar (utk diinvestasikan), dan 78 ribu untuk paiyor waiver (asuransi jiwa).
    Kinerja NAB-nya, waktu terbit polis sekitar 6.500, saat ini 6.900. Untuk 1 tahun terakhir tertinggi 8.361, terendah 5.860.
    Kalo hanya diliat dari kinerja NAB-nya sih, sepertinya investasi saya profit ya, tapi ternyata setelah dihitung-hitung, ternyata buntung. Soalnya ada biaya bulanan seperti administrasi (27.500 per bulan), pemeliharaan (2.4% per tahun x nilai akun), biaya asuransi (0.19% x nilai akun). Juga ada biaya tahunan 2.5% per tahun x nilai akun. Setiap tahun biaya asuransi juga berubah sesuai umur penanggung.
    Pokoknya ribet deh, dan setelah dihitung-hitung, ternyata biaya-biaya itu menggerus return dari kenaikan NAB-nya, sehingga saat ini saya rugi sekitar 15% dari total uang premi dasar yg saya keluarkan.

    Saya ingin close produk unit link ini dan beralih ke reksadana + termlife insurance, tapi masalahnya adalah dana di unit link ini kalo diambil pada saat umur polis kurang dari 1 tahun, cuma bisa diambil 10%-nya (90% hangus), kalo kurang dari 2 tahun cuma bisa diambil 25% (75% hangus), dst meningkat setiap tahun hingga tahun ke 5 baru bisa diambil 100%.
    Rugi besar dong saya kalo nutup sekarang cuma bisa dapet 25%. Dan rugi juga kalo unit link ini terus dilanjutkan.
    Jadi gimana dong ? Ada usul ngga ? hehehehe… bingung nih.

    Terimakasih.

  351. #396: saya belum pernah lihat ilustrasi/polis AIG life aktiva, jadi gak bisa kasih saran sebaiknya diapakan. tapi kalau pakai aturan ‘kalau dicairkan tahun pertama kena penalti 75%’ misalnya, kemungkinan besar backend loading, dan sebaiknya ditunggu sampai bisa diambil 100%. tapi ini cuma perkiraan lho, belum saya lakukan hitung2an pastinya :).

  352. Wuaahh pertama2 saya mengucapkan banyak terima kasih atas usaha Pak Priyadi dan kawan-kawan dalam membahas sekaligus menjawab pertanyaan2 berkaitan dengan asuransi UL vs Terpisah. Analisa Pak Priyadi (yang meskipun tidak memiliki background keuangan) dibuat dengan sederhana dan menggunakan logika dasar yang dapat diterima semua orang, sehingga saya justru lebih menyukai tulisan sederhana semacam ini.

    Jujur saja, saya benar-benar mendapat ‘pencerahan maksimum’ mengingat usia saya yang masih 22 tahun dan jelas belum terlambat untuk berinvestasi dan berasuransi. Saya menemukan Blog ini via Google ketika saya ingin mencari asuransi manakah yang terbaik. Tadinya saya ingin mengambil Unit Link, namun setelah membaca maka saya memutuskan akan mengambil Term Life sejak dini dan sisa penghasilan saya akan diinvestasikan ke reksadana. Tahun lalu saya mencoba investasi saham dan untung besar, namun tahun ini saya mulai bekerja dan saya tidak memiliki waktu untuk mengawasi pergerakan saham sehingga saya mengalami loss besar di kuartal 1 & 2 2008 sehingga saya akan mengambil reksadana saja.

    Sekedar berbagi, waktu saya membandingkan Asuransi Term Life antar Perusahaan Asuransi rasanya sulit karena rata2 sama saja, makin mahal premi makin mahal benefit. Saya cukup hanya memilih paket yang sesuai dengan kebutuhan ketimbang memilih perusahaan. Mungkin yang menjadi faktor lebih penting adalah kualitas layanan perusahaan asuransi terhadap nasabah (kemudahan & waktu proses pengambilan klaim, reputasi, dll).

    Pertanyaan:
    Tadinya saya ingin mengambil Asuransi Term Life Kesehatan + Jiwa. Untuk asuransi kesehatan, apakah itu keputusan yang tepat? Atau mungkin cukup asuransi jiwa saja? Saya hanya khawatir jika harus masuk rumah sakit maka akan memakan tabungan saya. Kantor memang sudah mengcover untuk kesehatan, namun saya rasa cukup minim sehingga saya perlu melakukan tambahan. Masa orang sakit suruh kipas2 gara2 ga ada AC? =p

  353. #398: coba baca dulu tulisan saya yang lain.

    anda masih 22 tahun, dugaan saya anda belum punya tanggungan. mungkin belum butuh asuransi jiwa. tapi butuh asuransi kesehatan dan kecelakaan. untuk asuransi kesehatan dari tempat kerja yang gak memadai, mungkin bisa dicoba untuk opt out dari kantor kalau bisa. kalau gak bisa mau gak mau harus mencari asuransi kesehatan yang bisa double claim.

  354. Ow iya, maaf pak tidak sempat membacanya dahulu..
    Benar juga saya belum memiliki tanggungan jadi kebutuhan asuransi jiwa belum terlalu mendesak..

    Ada kemungkinan solusi bahwa saya mengambil produk term-life dari perusahaan asuransi yang sama dengan asuransi kantor saya.. Tapi sifatnya hanya membayar kekurangan klaim biaya yang belum tercover asuransi kantor.. Atau adakah asuransi kesehatan yang tipe klaimnya bersifat santunan?

    Bingung juga memilih perusahaan asuransi, ad saran Pak Priyadi? =)

    BTW Pak Priyadi sudah pernah mendengar mengenai asuransi UL back-end?
    Berbeda dengan front end yang biaya akuisisi mulai tahun pertama, tetapi untuk tipe back-end biaya akuisisi baru dilakukan pada tahun ke-5.
    Tetapi kekurangannya adalah investasi tidak dapat ditarik sebelum memasuki tahun ke 5 dan minimal premi tahunan 25 juta. Saya memiliki ilustrasi investasi-nya namun tertinggal di kos, mungkin minggu depan akan saya scan dan upload.

  355. #400:

    Ada kemungkinan solusi bahwa saya mengambil produk term-life dari perusahaan asuransi yang sama dengan asuransi kantor saya.. Tapi sifatnya hanya membayar kekurangan klaim biaya yang belum tercover asuransi kantor.. Atau adakah asuransi kesehatan yang tipe klaimnya bersifat santunan?

    coba dicek dulu apa jadinya bisa double claim. kalau cuma bisa diklaim salah satu sayang juga.

    BTW Pak Priyadi sudah pernah mendengar mengenai asuransi UL back-end? Berbeda dengan front end yang biaya akuisisi mulai tahun pertama, tetapi untuk tipe back-end biaya akuisisi baru dilakukan pada tahun ke-5. Tetapi kekurangannya adalah investasi tidak dapat ditarik sebelum memasuki tahun ke 5 dan minimal premi tahunan 25 juta. Saya memiliki ilustrasi investasi-nya namun tertinggal di kos, mungkin minggu depan akan saya scan dan upload.

    dulu saya sudah pernah lihat, tapi sekarang gak punya ilustrasinya. kalau anda bisa kasih saya ilustrasinya bagus juga untuk koleksi saya :).

  356. Pada dasarnya mengambil unitlink terpisah atau langsung itu tergantung pilihan. Bagi yg punya waktu dan uang lebih utk mengurus dan berkecimpung lgsg ke RD tentu akan lebih baik karena nilai investasi akan jauh lebih besar. Tapi bagi yg tidak mau pusing dapat mengambil unitlink. Yang penting adalah jangan sampai mengabaikan proteksi (asuransi), baik itu asuransi tradisional (bukan unitlink) maupun unitlink demi menjamin hidup kita maupun orang yg kita tinggalkan.

    Semoga kesadaran akan asuransi semakin meningkat bagi masyarakat Indonesia.:)

  357. Dear Pak Priyadi
    Saya mencari informasi perusahaan asuransi yang menyediakan proteksi untuk usaha saya. Pernah perusahaan asuransi yang berbasis di Jerman menawari asuransi usaha. Cuma saya tidak tahu apakah premi yang dibayarkan pantas atau tidak. Mungkin Pak Priyadi bisa memberitahu saya perusahaan asuransi yang saya butuhkan. Terimakasih.

  358. Hmm…kalo mau return tinggi reksadana memang lebih tinggi, tapi tidak ada yg bisa menggantikan asuransi, apalagi semakin lengkap produknya beda sama asuransi tradisional….nah kalo unit link bagian dari asuransi..yah gampang…simpan duit besar di reksadana sebagai instrument investasi tetapi cicil investasi kecil di prulink sebagai proteksinya..gitu aja kok repot…..Asuransi tidak bisa digantikan dengan reksadana karena beda bgt…..ok?..ok donk…:)>-

  359. Maaf pak Pri,
    sy mau pilihkan asuransi term life (termasuk asuransi kesehatan kan?)untuk istri berumur 42 th (kalo saya sudah terlanjur UL,maklum baru baca nih),apakah untuk 2010 ini masih bapak pilihkan AXA Mandiri Sejahtera? Atau ada pilihan lainnya pak?
    Terimakasih pak…

  360. hmmm..mau baca2 ah..smoga dpt pencerahan yg sejelas2nya. pusing jg udh 1 minggu nyari artikel ttg compare asrnsi+invest unit link compare to asuransi terpisah+reksadana… pusing pusing…ga mudeng2.. haha

  361. Aduhh tnyata bnyak jg yg mesti dibaca…kynya baru 1/2nya.. lanjut besok lg deh.. dung dung dung.. pusing…hehhe:(:d

  362. Senang baca tulisan mas Pri.
    istri dan anak saya sudah mengambil asuransi di P tanpa sepengetahuan saya, satu sudah berjalan 2 tahun dan yang satu 5 tahun. Uang utk rawat inap 450 rb per bulan, apakah selamanya 450 rb/bulan? alangkah ruginya kalau benar demikian krn uang segitu ga ada artinya 10 tahun lagi!
    Sebaiknya saya harus ambil asuransi kesehatan term life di perusahaan asuransi mana?
    thanks atas jawabannya

  363. Saya heran….,di Amerika asuransi unit link tidak bayak dilirik,eh di Indonesia malah tumbuh pesat. (Apa karena di Amerika sudah byak reksdana ya..(8.000 produk smp tahun 2008).

  364. Baru baca blog ini, keren..walaupun telat,hehe.. Aku pingin banyak tau tentang Asuransi..setelah panjang lebar baca komentar komentar dari mulai no 1 sampai n0 90-an dah gk sanggup, selain emang bener bener gk ngerti, jadi tambah ribet dg analogi dan penjabarannya…:( Tapi aku masih pingin belajar..apalagi banyak sekali penawaran penawaran Asuransi yg menggiurkan, dan penawaran menjalankan bisnisnya (jadi tertarik )… Nggak mau salah pilih ajah, padahal belum tau sama sekali apa itu Unit Link, Reksadana, Term Life and bla bla bla…
    Mungkin Mas Pri berkenan membantu saya untuk memberikan konsultasi gratis (hehehehe…) by email, paling tidak dasarnya dulu…atau mungkin bisa memberikan rekomendasi website yang bisa membantu saya mempelajari mengenai dunia Financial seperti ini yang bener bener untuk pemula.

    Thankyou banget loh..

    Salam

  365. Pak Pri, bukankah asuransi Term itu berdasarkan Termin…

    Asuransi Term, contohnya Pernah ada pengalaman, orang yg sakit melulu tiap tahunnya. Premi tahun depannya naik banyak, bahkan perusahaan asuransi kebanyakan ga mau lanjutin kontraknya ( Rugi gede claim melulu ). Sedangkan klo kondisinya sperti itu, nasabahnya jadi kepepet… Term ud ga bisa beli, Unit Link jg pasti ga diterima lagi. Ikut asuransi kan harus saat orang msh sehat.

    Tapi unit link kan kontrak seumur hidup. Setau saya, jika orang sdh beli unit link, manfaat nya akan nyantol terus seumur hidup nasabahnya, asalkan tabungannya ga ditutup. CMWIW.

    Bukanny belain unit link sih…tapi menurut saya, setiap produk ada +/- nya.

  366. Saya nggak ngerti asuransi axa mandiri dan prudential tapi ikut asuransi itu dua duanya. Nggak tahu manfaatnya.mau berhenti gimana ya .bayarnya saya pake kartu kredit mandiri dan debit bca.sudah berjalan kurang lebih 3th. apa saya tutup aja ya kartu kredit mandiri biar orang axa mandiri nggak bisa ngambil duit di kartu kredit mandiri. tolong dong Bos…bos yang pinter…terima kasih atas bantuannya

  367. Melihat dari grafik ternyata lumayan juga selisihnya ya. Namun saya tetap melanjutkan program pada unit link dan meningkatkan nilai pertanggungan lewat sana.

    Bagaimanapun untuk mengawasi kebijakan keuangan terlalu banyak akan memakan pikiran dan waktu saya, dan itu amat berarti. Mungkin kalo kantong saya pas-pas-an dan ‘punya waktu banyak’, selisih hampir 20% akan saya ributkan.

    Agen saya pun menceritakan seluruh biaya sejak awal, dan saya senang memiliki mitra seumur hidup yang menangani masalah yang tak dapat ditangani akuntan saya: keluarga saya. Betapa tenang saya menenggelamkan diri dalam usaha sejak saat itu.

    Wassalam

  368. mayoritas penduduk indonesia memang belum insurance minded, terutama untuk manusianya..kalaupun pake asuransi lebih diutamain buat mobil (yang resiko hariannya tinggi sekali mengingat kondisi jalanan jakarta fiuuuuhhhhh), rumah, n aset2 tangible lainnya. mangkanya masyarakat masih alergi sama asuransi apalagi agen asuransinya http://priyadi.net/smilies/yahoo_tongue.gif
    padahal mengasuransikan si ayam akan jauh lebih aman dan menguntungkan daripada hanya sekedar mengasuransikan telur emasnya
    tapi berdasarkan pengalaman pribadi dan teman2 gw, asuransi jiwa (entah itu unit link atau apalah)memang bermanfaat mengingat biaya pengobatan yang semakin bikin orang sakit dan paling ga membantu pembiayaan sekolah anak (walaupun mungkin ga full ya) untuk para ibu yang statusnya janda dan tidak memiliki penghasilan sebesar spouse-nya terdahulu

  369. hihihihihi pak priyadi ini agen reksadana ya?
    ato agen asuransi2 yg disebut2 diatas..apa tadi takaful dll?
    cara berjualan yang aneh :p

    1. @gopal: saya bukan agen reksadana atau asuransi manapun. saya cuma nasabah (atau ex nasabah) yang prihatin. orang2 mau ambil asuransi apapun saya gak dapat untung apa2.

  370. Oalah, saya baru ambil polis unitlink, pas dilihat2 UPnya kok kecil bgt kalo dibandingkan dgn kondisi 10 th mendatang (inflasi). pdhl itu udh yg equity fund loh.. Ternyata memang lbh baik dipisah antara asuransi dgn investasi, bukan soal mana yg lbh untung, tp mana yg lbh adil buat kita.

  371. salam kenal mas pri,

    saya sangat tertarik sama itung-itungannya, walaupun belum mudeng sepenuhnya, tapi saya nangkep intinya.

    saya mau minta saran, saat ini saya udah keburu ambil polis unitlink, sudah jalan selama 2 tahun 2 bulan, premi 3.600.000/tahun, tapi nilai unit saya sampai saat ini cuma 3.414.189,18

    saya minta sarannya, apakah lebih baik ditutup dengan resiko uang kembali sangat minim (atau hangus?) atau tetap diteruskan?

    mohon pencerahannya dengan bahasa yang mudah, saya masih sangat awam :)

    thanks before

  372. salam kenal pak PRI.
    sy usia 19 tahun.Kami keluaga wiraswasta,praktis semua punya asuransi.setidaknya semua anggota keluarga udh punya Bumiputera,ad jg Pru n Panin Life.Semua UL,exc Bumiputera.

    Sy sendiri yg blum ada n rencana th ini harus ada.udh survei ke beberapa perush asuransi.Yg sy butuhkan fokus ke kesehatan,sy masih single jd sy hanya butuh UP 200jt sj utk backup utang.

    yg jadi masalah pak PRI, utk askes dgn manfaat cashless sesuai tagihan,yang terbaik ada di ACE Life (1) n Sequislife(2).di Ace Life, ambil UL lebih untung drpd yg tradisional.sementara di Sequis, ada term life s/d 65th,tp askesnya s/d 75 th.padahal mw sy jadikan rider,gmn tuh?ad jg yg endowment s/d 75th,tp sy rasa lebih baik ke reksadana plus term life.

    Yg bwt sy bimbang Pak PRI,gmn jk sy ambil term life dgn rider hospital,trus ada beberapa kali klaim RS, apa msh bs sy ajukan perpanjangan ? kalopun bs,gmn dgn perminya y pak?

    mohon pncerahannya !

    1. @vai: setahu saya di indonesia belum ada askes yang punya renewal guarantee, baik rider maupun standalone. ada juga askes yang katanya punya jaminan renewal guarantee, tapi gak ada jaminan dengan harga preminya (sama juga bohong). soal askes usia tua, berlawanan dengan intuisi kita, semakin besar resiko justru semakin gak perlu asuransi. semakin tua semakin tinggi resiko kena penyakit, maka semakin tidak perlu asuransi. asuransi itu perusahaan yang cari untung, jadi kalau resiko semakin tinggi, dia juga akan menaikkan premi-nya. jika resiko mendekati 100%, maka premi-nya juga mendekati 100%. jika resiko mendekati 100%, maka probabilitasnya semakin besar kita kita bayar lebih besar dengan ikut asuransi daripada tidak ikut asuransi.

  373. Sy ingin tanya ttg asuransi. Di polis misalnya tertulis uang pertanggungan rawat inap adalah 200rb. Yg jdi pertanyaan apakah uang pertanggungan itu akan tetap nilainya sampai kita berumur 60 tahun misalnya, karena sy yakin ketika sy berumur 60 tahun, duit 200rb itu mgkin cm bisa beli semangkok mie ayam. Kita kan ga bisa prediksi berapa % inflasi puluhan tahun ke depan.

    Mohon pencerahannya

  374. saya punya pengalaman yang gak enak serhubungan dengan asuransi unit link, saya merasa tertipu akhirnya sepakat ama suami ditutup aja pada taun ke 5 padahal uang yang udah masuk sekitar Rp45,4jt saya cuma terima Rp26jt lainnya kemana? katanya pada pertengahan th2008 nilai saham turun. nah lo . . .? kacian deh aku:((