Pedoman Membeli Asuransi Jiwa dan Reksadana
Setelah membuat tiga tulisan tentang asuransi (1, 2, 3), saya sering mendapatkan banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya membeli asuransi jiwa dan reksadana. Sebagai referensi bagi yang bertanya hal serupa di masa yang akan datang, cara-caranya saya tuliskan saja di posting kali ini.
Membeli Asuransi Jiwa
Pertama, tentukan dulu apakah kita memerlukan asuransi jiwa. Jika kita memiliki tanggungan dan/atau hutang yang tidak dilindungi asuransi kredit, maka kita membutuhkan asuransi jiwa. Jika tidak, maka kita tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Kedua, hitung berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang diperlukan. Untuk tahap yang ini jawabannya bisa berbeda-beda tergantung dari teknik perhitungan yang dilakukan. Tapi untuk mempersingkat waktu kita pakai cara paling sederhana saja:
- Cari tahu besar pengeluaran keluarga per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia.
- Kalikan dengan 10 untuk mendapatkan besar uang pertanggungan yang diinginkan.
Sebagai contoh pengeluaran per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia adalah Rp 50 juta/tahun, maka uang pertanggungan yang akan kita beli adalah sebesar Rp 500 juta. Seharusnya jumlah tersebut sudah mencukupi untuk menutupi resiko kehilangan penghasilan dari tertanggung selama 20 tahun dengan asumsi pekembangan investasi bersih sebesar 9%.
Ketiga, saatnya untuk mencari produk yang sesuai. Produk yang kita cari adalah ‘asuransi jiwa term life’. Ciri-cirinya:
- Tidak memiliki unsur investasi.
- Masa perlindungan relatif singkat, biasanya 5 atau 10 tahun, tetapi ada juga yang 1, 2, 3 dan 20 tahun.
- Besar premi relatif kecil, sebagai perbandingan, pria 30 tahun yang tidak merokok akan dikenakan premi asuransi sebesar kurang lebih Rp 300 ribu/tahun untuk setiap Rp 100 juta uang pertanggungan.
Carilah keterangan tentang produk yang kita inginkan di beberapa perusahaan asuransi dengan cara mendatangi langsung perusahaan asuransi yang bersangkutan. Walaupun demikian, biasanya nasabah tidak pernah ditawarkan produk term life, melainkan produk lainnya yang memiliki unsur investasi. Untuk itu tanyakanlah secara spesifik: “Saya ingin mencari informasi produk term life (atau asuransi jiwa berjangka) dengan jangka waktu 5 tahun atau kurang dengan uang pertanggungan Rp sekian. Sebagai informasi umur saya sekian tahun,”
Untuk menghindari salah membeli produk, berikut adalah daftar beberapa produk asuransi jiwa term life dari beberapa perusahaan asuransi di Indonesia:
- Allianz SmartLife
- AXA Mandiri Jiwa Sejahtera
- Bumiputera Mitra Sejati
- Commonwealth Life Danatra Siaga dan Danatra Siaga 1
- Manulife ProActive dan ProActive Plus
- Sun Life Term Life
- Takaful Falah
Keempat, banding-bandingkan beberapa produk asuransi untuk mendapatkan produk yang paling menguntungkan. Tidak seperti unit link atau asuransi lainnya yang mengandung unsur investasi, sama sekali tidak sulit untuk membandingkan beberapa produk term life.
Beberapa kriteria pemilihan yang perlu dipertimbangkan adalah:
- Klausul guaranteed renewability. Klausul ini memastikan nasabah dapat memperpanjang perlindungan setelah kontrak berakhir tanpa syarat sama sekali dengan kenaikan premi seperti yang tertera dalam polis. Dengan klausul ini, perusahaan asuransi tidak berhak untuk memutuskan perlindungan jika misalnya nasabah menderita sakit keras. Hindari produk yang tidak memiliki klausul ini.
- Harga premi, semakin rendah tentunya semakin menguntungkan. Tapi jangan terlalu terpaku pada harga premi pada saat pertama kali anda masuk asuransi. Bandingkan pula harga premi untuk tahun-tahun berikutnya. Prioritaskan evaluasi harga premi pada 10-15 tahun pertama.
- Jangka waktu perlindungan, semakin rendah semakin baik. Ambillah asuransi term life dengan masa pertanggungan 5 tahun atau lebih kecil lagi. Jika memungkinkan ambillah masa pertanggungan 1 tahun, atau yang lebih dikenal dengan YRT/ART (yearly/annual renewable term). Karena adanya klausul guaranteed renewability, tidak menjadi masalah jika nasabah nantinya akan mengambil asuransi jiwa selama 20 tahun misalnya.
- Perlindungan tambahan (rider). Tetapi tidak perlu mengambil manfaat kesehatan karena kemungkinan besar kita akan membutuhkan asuransi kesehatan lebih lama daripada asuransi jiwa. Sebaiknya manfaat kesehatan diambil secara terpisah jika memang diperlukan.
Kelima, setelah menjatuhkan pilihan, kita bisa membeli produk pilihan kita. Perusahaan asuransi akan melakukan proses underwriting yang mungkin melibatkan hal-hal seperti pemeriksaan kesehatan dan sebagainya.
Setelah menerima polis periksalah dengan seksama apakah polis tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Membeli Reksadana
Pertama, tentukan jenis reksadana yang akan kita beli. Jenis reksadana yang kita beli terutama ditentukan dari berapa lama kita membutuhkan uang yang saat ini kita tanamkan di reksadana. Selera setiap orang berbeda-beda, tetapi untuk pemula saya bisa beri saran sebagai berikut:
- Di bawah satu tahun: reksadana pasar uang
- Antara satu sampai tiga tahun: reksadana pendapatan tetap
- Antara tiga sampai enam tahun: reksadana campuran
- Enam tahun atau lebih: reksadana saham atau reksadana indeks
Kedua, untuk membeli reksadana, cukup datangi penjual reksadana, misalnya ke agen penjual reksadana atau perusahaan manajer investasi.
Agen penjual reksadana yang paling populer akhir-akhir ini mungkin adalah Bank Commonwealth. Pembelian reksadana di Bank Commonwealth bisa dilakukan secara praktis melalui Internet. Bank Commonwealth menjual puluhan produk reksadana dari berbagai manajer investasi. Untuk membuka rekening di Bank Commonwealth, dibutuhkan dana sebesar Rp 2 juta.
Alternatif lain adalah Bank Mandiri. Bank Mandiri juga menjual puluhan reksadana yang dapat dibeli melalui customer service di hampir setiap cabangnya.
Beberapa produk reksadana juga bisa dibeli secara langsung ke manajer investasinya tanpa melalui agen reksadana. Contohnya adalah Manulife, Trimegah, PNM dan Danareksa.
Pertimbangkan produk reksadana yang akan dibeli berdasarkan kriteria sebagai berikut:
- Data perkembangan investasi historis
- Biaya pembelian
- Biaya penjualan
- Biaya jasa pengelolaan investasi
- Biaya minimal setoran pertama
- Biaya minimal setoran selanjutnyas
- Data lain-lainnya yang tertera pada prospektus reksadana yang bersangkutan
Terlalu rumit? Bagi pemula yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang atau yang tidak ingin direpotkan dengan urusan investasi, saya pribadi menyarankan reksadana indeks. Reksadana indeks adalah subset dari reksadana saham yang dikelola secara pasif sehingga biaya jasa pengelolaan investasi menjadi minimal. Biasanya, dalam jangka panjang, performa reksadana indeks akan mengalahkan reksadana saham konvensional. Sayangnya reksadana indeks di Indonesia saat ini adalah ’spesies langka’. Satu-satunya produk indeks yang populer saat ini adalah Danareksa Indeks Syariah yang dapat dibeli melalui Bank Commonwealth maupun Sentra Investasi Danareksa.
Ketiga, nasabah bisa mengetahui perkembangan investasinya melalui beberapa cara. Beberapa manajer investasi akan memberikan laporan bulanan sehingga nasabah bisa mengetahui nilai investasinya. Selain itu data perkembangan investasi dari semua reksadana yang terdaftar di Indonesia dapat diketahui melalui beberapa media seperti Koran Tempo, Bisnis Indonesia (dapat pula dilihat di Internet) atau PortalReksadana.com.
Nasabah tidak perlu melihat informasi perkembangan investasinya setiap hari secara religius. Untuk jangka panjang, bagi investor kasual, satu tahun sekali sebenarnya sudah cukup.
Keempat, yang paling penting tentunya adalah menyetorkan dana untuk diinvestasikan ke reksadana. Hal ini tentunya harus dilakukan secara periodik. Beberapa penasihat keuangan memberi saran untuk menginvestasikan 10%-30% dari penghasilan keseluruhan secara rutin setiap bulannya.
wah ini info yang penting banget nih mas, terutama yang asuransi jiwa
tapi ngomong2 mas priyadi sendiri pake yang mana nih asuransi jiwanya? siapa tahu bisa jadi referensi

Mas priyadi, saya mau nanya. Kalau memang kecenderungan reksadana index lebih bagus hasilnya dalam jangka panjang, kenapa kok di indonesia masih langka? dan faktor apa yang mempengaruhi dibandingkan dengan reksadana saham konvensional?
Saya pake Allianz cuman ga jelas namanya apa (diurus sodara). bayarnya 4 jt/tahun selama 10 th. Nilai pertanggungannya 250 jt. plus tanggungan beberapa macam penyakit.
eladala panjang nian mpri
Terima Kasih Mas Pri Atas Infonya, sangat bermanfaat.
Untuk hal-hal yang perlu analisa mendalam seperti ini, alhamdulillah ada Pak Priyadi
wah pak priyadi nih prinsipnya cocok bgt sama Burton Malkiel dan Jack Bogle ya, pendukung index fund
.
Um Pri sendiri make yang mana?
*blm berpikir utk beli asuransi*
Kayaknya Unit-Link ya? Kalau asuransi murni, 4jt pertahun cuma dapat UP 250jt + penyakit kritis (gak ada kesehatan?) rasanya kemahalan.
Buat yang mau tahu apa yang Priyadi gunakan beserta alasan-alasannya, ada di komen Priyadi di 3 postingan sebelumnya (terutama 2 postingan terakhir).
Ada baiknya Priyadi menuliskannya kembali di postingan ini (atau di-link ke komen yang dulu?).
Tips untuk yang mau buka rekening investasi di commwealth. Kalo disuruh sama CS nya minimal bukanya harus 10jt jgn mau (kecuali memang mau invest langsung dalam jumlah besar) soalnya seperti yg kata pak pri bilang, minimal dana untuk buka rekening di commwealth itu 2jt. si CS menyarankan 10jt supaya dia dapet komisi yg lebih besar.
Selain itu pelayanan di commwealth memuaskan kok
Dan yang sangat menjadi nilai lebih adalah dana yang kita masukkan semuanya bisa dibelikan reksadana. Jadi kalo kita buka tabungan sebesar 5jt, semuanya bisa dibelikan reksadana dan saldo kita diperbolehkan 0 (ini khusus untuk tujuan investasi saja) Fasilitas internet bankingnya jg oke
wah jadi viral marketing nih..
Panjang juga. Terima kasih atas postingannya pak. Saya ikut Allianz yang 3,6jt per tahun.
pak pri sih enak tinggal di depok, walikotanya kasih asuransi jiwa 2juta bagi yang meninggal
Mas Pri, klo asuransi pendidikan gmn?.
ada tips untuk membeli asuransi sekaligus investasi nggak?
tetep gag dong
kalo BSM Investa Cendikia masuk kategori asuransi pendidikan gag ohm ?
waaah, oom Pri keknya cocok nih jadi insurance marketer ?, mungkin cuma satu2nya insurance marketer yg punya blog (halah)
mas pri…berguna bgt nih websitenya…harusnya mas pri jadi financial planner beneran aja…jauh lebih ok daripada safir senduk, ligwina hananto, ahmad gozali dll…

Saya ga pernah tau sual asuransi dan investasi, tp tulisan ini cukup mencerahkan. Thanks mas ^_^
Makin mantap nih….
Thanx a lot
#1:
asuransi jiwa pake mandiri jiwa sejahtera. gak ada alasan apa2 sebenernya, dulu pilih ini karena cuma ini yang dekat
. dulu juga belum sempat membuat perbandingan dengan produk lain.
#2:
karena mungkin reksadana saham konvensional memberi keuntungan lebih banyak untuk manajer investasinya?
reksadana indeks gak perlu bayar analis yang mahal, fungsi analis digantikan oleh komputer. intervensi manusia mungkin cuma ada sewaktu eksekusi dan ini pun mungkin bisa diotomatisasi. di reksadana konvensional biaya pengelolaan investasi bisa mencapai 3%/tahun, sedangkan di danareksa indeks syariah cuma 0.36%/tahun.
#3:
sepertinya bukan term life. untuk manfaat jiwa sebesar 250 juta mungkin harganya cuma sekitar 800 ribu/tahun (pria 30 tahun).
#10:
asurnasi jiwa pakai axa mandiri jiwa sejahtera. reksadana ambil fortis ekuitas, manulife dana saham, PNM ekuitas syariah dan danareksa indeks syariah.
#13:
lumayan buat ongkos pemakaman
#14:
untuk mendapatkan manfaat asuransi pendidikan lebih baik dengan cara memisahkan asuransi dan reksadana seperti yang saya tulis di atas.
#15:
ada: “jangan membeli asuransi yang sekaligus dengan investasi”
#16:
sepertinya masuk asuransi pendidikan, tapi saya lebih suka mengambil asuransi pendidikan dengan cara memisahkan asuransi dan reksadana seperti yang saya tulis di atas.
Artikel yang bagus. Cuman klo nurut teman saya, klo emang bisa muter duitnya nggak usah repot2x make asuransi.
Soalnya asuransi hanya mau membayar klaim HANYA kalau dokumen yang diminta sebagai syarat jumlah atau datanya lengkap. Bisa jadi karena tidak mengetahui maka dokumen yang diberikan rumah sakit jadi tidak lengkap shg klaim asuransi akhirnya nggak dibayar.
Tapi klo muter duit sendiri pas ada butuh dana nggak perlu repot2x minta surat keterangan dari rumah sakit, tinggal tarik duitnya dari bank udah keluar deh duitnya.
Ini cuman masalah “bisakah kita menghasilkan uang lebih dari mereka/ perusahaan asuransi atau nggak?”
Gmn komennya temen2x yang laen?
wah… part “4″.. the saga continues nih…
Gimana kalo part 1 s/d 4, dijadikan buku saja bos. siapa tau jadi best seller di Gramed.
anyway, thx for panduannya… information that can come in handy anytime.
#22:
ini bukan urusan asuransi kesehatan, tapi asuransi jiwa.
kalau sudah ada duitnya. kalau belum ada duitnya masih perlu asuransi.
artikel yang bagus sekali, mas.

saya mo nanya, jadi bingung. saya susun dulu lah pertanyaannya.
personally, saya setuju dgn sampeyan. memisahkan reksadana dan asuransi. makanya sekarang mo beli reksadana. lagi liat2…
Bung Pri, permisi, saya hanya mau nebeng ngetest ‘Gravatar’ saya. Mudah-mudahan berkenan dan ndak marah.
reksadana yang resmi dimana ya? kayaknya di situsnya bapepam stuck….
wah info yang bagus sekali neeh, kebetulan ada niat untuk mencoba asuransi
dah banyak tulisam bapak pri soal nyang beginian, saya jadi pensaran, sebenarnya apa sech latar belakang sehingga bapak pri semangat banget menulis ttng asuransi jiwa ?
itung2 investasi buat keluarga..
#30:
hmmm, gak ada latar belakang apa2. sama aja dengan latar belakang nulis hal lain kali ya.
wah ini dia ulasan yang ditunggu tunggu. makasih mas
Dear priyadi,
Trimakasih penjelasannya ya.., untuk informasi teman2 sebelumnya aku juga baca penjelasan yg sama dari taufik gumulya di http://www.portalreksadana.com pejelasan yg singkat dan sangat bermutu..
Jadi aku skarang sdh terbuka wawasan ttg unit link, thanks u priyadi dan taufik g!!
Best regards,
maureen
Tx buat informasinya,but kalau buat ass pendidikan apa yang lebih perlu diperhatikan bung priyadi.
Maklum dah lama tertarik ama Ass tetapi trauma kalo mau klaim
Tx
Yadi
Minta analisis mengenai investasi Dinar Irak dong
Om pasti milih Allianz kan?
Lha wong ditulis di listing nomer satu tuh.
hehehe
#35:
jangan ambil asuransi pendidikan. tapi gantinya beli reksadana + asuransi jiwa untuk bapaknya.
#37:
allianz nomer satu karena depannya ‘a’ hehehe
post yang menarik pak pri.. terima kasih banyak..
kebetulan saya sedang berniat menyisihkan uang untuk investasi..
Mas Pri,
Terima kasih atas infonya selama ini. Saya sudah menutup P*****k saya dan sedang dalam proses underwriting di Manulife Proactive dgn kontrak 10 tahun.
Tapi ada tawaran lebih murah dari AIG Life Executive Term dgn masa pertanggungan 1 tahun.
1. Tolong share ke kami ini info yang Mas Pri ketahui tentang AIG Life dan produknya Executive Term
2. Kenapa masa pertanggungan yang lebih pendek itu lebih baik?
Terima kasih
#41:
wah, saya gak tahu. dicari di internet juga gak ada infonya. mungkin anda bisa cerita2 tentang penawaran mereka?
kalau misalnya ambil term 20 tahun, maka nasabah bayar premi flat setiap tahunnya (level term), dari tahun pertama sampai tahun ke 20, padahal resiko meninggal/sakit kritis tetap meningkat. artinya premi yang dibayar di tahun2 pertama lebih mahal dari seharusnya dan kelebihan ini digunakan untuk mensubsidi pembayaran premi di tahun2 terakhir.
jadi alasannya ada beberapa:
1. pakai sistem subsidi silang artinya perusahaan asuransi harus menyimpan sebagian pembayaran premi tahun2 pertama untuk menutupi pembayaran premi tahun2 terakhir. uang ini oleh perusahaan asuransi akan disimpan secara konservatif. kalau seandainya nasabah ambil term 5 tahun atau lebih singkat lagi, maka nasabah punya pilihan untuk memasukkan selisih dana tersebut ke instrumen investasi yang agresif. dan kalau tetap diinginkan instrumen investasi yang konservatif hal ini tetap juga bisa dilakukan.
2. kalau misalnya setelah tahun 15 ternyata sudah tidak membutuhkan asuransi jiwa lagi, nasabah akan rugi kalau dia membatalkan polisnya karena sebagian premi tahun 15-20 sudah dia bayar di tahun2 sebelumnya (ada asuransi yang reimburse biaya ini, tapi ada juga yang tidak)
3. ada klausul guaranteed renewability. dengan demikian sebenarnya gak perlu lagi nasabah menerka kebutuhan ngambil asuransi sampai berapa tahun. kalau masih perlu dilanjutkan, tapi kalau sudah gak perlu ya dibatalkan.
Mas Pri,
Terima kasih atas quick respond nya.
Info tentang Executive Term ini bisa dilihat di http://www.aig-life.co.id/index.asp?sec=PK2
Penawarannya biasa saja Mas, sama dengan asuransi term life Manulife Proactive. Bedanya ExeTerm ini bisa dibeli dengan masa pertanggungan 1 tahun saja sedangkan Manulife tidak bisa (min 10 tahun).
Tapi kedua produk ini, Proactive maupun ExeTerm ini sama2 tidak guaranteed renewability. Info ini saya dapat dari agen AIG dan Manulife.
Berhubung Proactive kontrak 10 tahun, maka guaranteed renew nya yah selama kontrak 10 tahun. Di tahun ke-11 akan dilakukan underwriting ulang.
Nah, kalau dari dilihat sisi ini kan berarti masa pertanggungan yang lebih panjang akan lebih baik karena lebih ada kepastian proteksi.
Tapi kayaknya gak banyak yah cerita2 di internet tentang ExeTerm dari AIG ini. Jadi ragu juga saya nya…
Mas Pri,
Saya baru mengenal reksadana dan tertarik untuk memulai invest. Bagaimana prosedur pembelian reksadana lewat internet di commonwealth. Saya coba buka websitenya tapi tidak ada fasilitas untuk pembelian online. Saya bertempat tinggal salah satu kota kecil di Jawa Tengah, jadi susah untuk mencari agen penjual reksadana. Saya sebenarnya tertarik untuk invest di fortis infrastruktur plus dan fortis pesona amanah (karena masih baru). Apa mas pri punya petunjuk?
Terima Kasih atas tanggapannya
#43:
sepertinya ini memang term life.
saya familiar dengan proactive plus, dan dia punya masa pertanggungan 5 tahun.
saya gak familiar dengan proactive, tapi coba tanya tentang proactive plus. setahu saya di proactive yang plus ada guaranteed renewability. tapi lebih baik anda minta salinan contoh polis kalau bisa, dan dilihat sendiri apakah memang ada guaranteed renewabilitynya. kadang2 agen bukan sumber informasi yang reliabel.
dimana2 produk term gak dipasarkan
. jadi jangan kaget kalau belum pernah dengar
. nasabah harus minta sendiri secara spesifik, kalau tidak begitu pasti disodori produk unit link.
#44:
pertama2 harus buka rekening dulu. sayangnya kalau di kota kecil tidak ada cabang bank commonwealth yang saat ini baru ada di kota2 besar saja. alternatif lain, mungkin anda bisa beli lewat bank mandiri saja.
halo mas pri,
topik favorit kita kalo japri nih akhirnya dibahas lagi hehehe
to all… yes this is to support mas pri’s effort… i do recommend that people go for pure insurance and invest the rest… mulainya dari reksadana dulu, biar tau rasanya jadi investor pemula
semua orang harus punya asuransi, tapi yang bener! kalo uang pertanggungan cuma 100 juta padahal pengeluaran per bln 10 juta.. artinya kalo ada apa2 sama lo, keluarga lo cuma dapat uang untuk hidup 10 bulan… kasian banget…
single atau couple belum punya tanggungan (belum punya anak atau ortunya mampu/mapan) ya gak perlu asuransi jiwa lho
perlunya asuransi kecelakaan dan asuransi kesehatan. itupun masih bisa diprotek lewat kepemilikan aset… panjang deh ceritanya
good luck ya…
/
Terima kasih Pak Pri atas artikelnya yang menarik dan informatif.
Ada sedikit pertanyaan, di tulis di atas Pak Pri membeli reksadana PNM ekuitas syariah, apakah ini sama dengan reksadana PNM syariah ? dan bagaimana cara membelinya ? makasih sebelumnya
#47:
thanks atas komentarnya mbak
#48:
beda pak. PNM syariah itu reksadana campuran. PNM ekuitas syaraiah itu reksadana saham. untuk membelinya waktu itu saya datang langsung ke kantor PNM di arthaloka, sudirman, jakarta.
#43:
saya sudah tanya yang manulife proactive memang tidak ada guaranteed renewability. yang ada itu di proactive PLUS.
Wah bagus banget nih infonya. saya baru aja ma ukin anak saya ke !!!link buat rencana pendidika. tp abis baca ini jd ngerti.
untuk asuransi kesehatannya gmn yah pak Priyadi ? maksudnya ambil terpisah bisa ada contohnya juga sekalian ? thanks
Saat ini untuk reksadana yang paling diburu adalah fortis infrastruktur, seperti priyadi katakan untuk membeli nya cukup mudah dan murah meriah.
Anda bisa datang ke bank commonwelt di sudirman sana, tapi perlu diingat, investasi reksadana kurang ‘nendang’ kalau untuk keperluan jangka pendek.
Baru trasa ‘cola dan sodanya’ kalau invest diatas 3 bulan dengan catatan invest diatas 300jt, kalau invest dibawah 10jt, baru bisa ketahuan ‘dapat cuan’ jika ‘nabung’ diatas 2 tahun. dan kabar baiknya adalah ndak segawat yang dikatakan priyadi juga, harus 6 tahun…., yang 6 tahun mah kalau investnya 2jt only
Salam.
#52:
untuk asuransi kesehatan ya tinggal ambil saja secara terpisah, jangan disatukan sebagai rider dari asuransi jiwa.
#53:
walah. itu kan hanya karena pasar sekarang sedang sangat bullish. kalau misalnya invest di reksadana awal tahun 2000-an, kalau cuma 3 bulan jelas gak bakalan terasa. semakin lama berinvestasi semakin kecil resikonya.
dr Pak Priyadi/rekan lainnya ada tau nama productnya yg kesehatan terpisah ga ? kan yg term life sdh ada contohnya diatas.
Biar makin lengkap
Udah coba telp yang di cwlife, dah 2 hr lom di kontak balik sama sales/agennya.
hiks
#56:
coba anda cek produk2 ini:
* simas sehat
* allianz smarthealth
* winterthur hospital plus
* asuransi bumida
“saya sudah tanya yang manulife proactive memang tidak ada guaranteed renewability. yang ada itu di proactive PLUS.”
Memang bener kata Mas Pri, kadang agen itu juga bukan sumber yang reliable.
Setau saya Proactive Plus itu bukan murni termlife karena Proacktive Plus ini mengandung nilai tunai hasil investasi. Saya yakin akan hal ini karena memang saya dijelaskan secara detail oleh agennya (lengkap dengan brosur+ilustrasi).
Sedangkan Proactive murni termlife tanpa nilai tunai.
Sedangkan jika kita liat dari websitenya http://www.manulife-indonesia.com/Individual_Insurance/individual_all.htm
tampak bahwa baik Proactive maupun Proactive Plus itu bisa diperpanjang secara otomatis tanpa seleksi resiko ulang..
Memang jalan terbaik adalah melihat langsung contoh polisnya ya..
#58:
wah salah kali. mungkin yang dimaksud adalah proLIFE, bukan proactive.
wah, betul pak. saya juga baru lihat. dari data yang ada di saya cuma kelihatan bedanya yang plus dan yang ngga itu cuma kalau yang plus ada opsi critical illnessnya.
reksadana berbasis saham mestinya pelajari dulu sekilas saja tentang analisa sederhana, baru kita bisa tentukan kapan berinvest dan kapan tidak berinvest. Reksadana indeks populer karena market saham sedang bull, jika sebaliknya maka investasi di reksadana berbasis saham atau indeks bisa merugikan. Saran dari fund manager tentu saja agar nasabah masuk terus tiap bulan, bagaimanapun fund manager membutuhkan dana sebesar-besarnya untuk produknya, dan tidak bertanggung jawab atas naik turunnya investasi nasabah. Be careful

tidak semudah itu berinvestasi di reksadana indeks mas Pri..bahwa sekarang investasinya tumbuh terus karena kita di era yearly bull market. Sebaiknya kita kenali produk investasi apapun ketimbang main “bejo-bejoan/ untung-untungan”
#60, #61: tergantung, semakin lama berinvestasi, semakin rendah resikonya. kalau berinvestasi selama 15-20 tahun di saham/index ternyata nilainya turun, maka ada masalah lain yang jauh lebih besar. kalau cuma mau berinvestasi 1 tahun, saham/index jelas gak cocok.
tulisan saya ini diperuntukkan bagi yang mau berinvestasi jangka panjang, dan terutama bagi yang baru pindah dari asuransi unit link.
statistik membuktikan jika memang ingin zero risk di investasi berbasis saham, maka definisi “long term” atau “jangka panjang” adalah minimal 30 tahun. Di bawah itu, maka sebaiknya kita kenali bagaimana tips dan strategi berinvestasi di instrumen berbasis stock. Be smart investor, not follower
beberapa hal/pemikiran yang bisa saya sumbangkan disini adalah kenali trend. Maka kita bisa dengan mudah tentukan kapan kita masuk dan keluar dari reksadana indeks. Sistem masuk tiap bulan (monthly blind avarage) kurang bijaksana menurut saya, dan ini malah yang disarankan kebanyakan marketing reksadana. No problem, memang seperti itu tugas marketing fund manager, but at the end it’s all your money guys, not theirs. Be smart, you work hard to earn money, dont waste it by unwise step
Once more, be smart 
pendapat saya diatas bukan dimaksudkan untuk meng-counter tulisan mas pri, tetapi justru memperlengkap dan enrich ide2 dalam blog mas pri. Bravo
#64:
anda menyarankan setiap orang jadi swinger? ini jelas tidak realistis karena tidak setiap orang punya kemampuan dan waktu untuk itu. alternatif yang lebih cocok bagi yang punya pekerjaan tetap di luar pasar finansial ya buy and hold.
bagi orang2 ini, dengan buy and hold merka memiliki kemungkinan mendapat lebih banyak keuntungan ketimbang jika mereka menjadi swinger.
Berhubung japri belum dpt balasan,aku kirim ulang aja lewat forum ini
..
Halo mas Priyadi,
Perkenalkan nama saya Rudi, 2 bulan terakhir mulai
mengamati & mengikuti secara pasif (nggak ikutan
posting) blog anda. Terus terang, saya pikir gokil
juga ini orang..he3..semua topik bahasan lengkap
tersedia,mulai finance sampai gadget, dari asuransi
sampai current issues. SALUT! Hampir semua topik
dibahas dg “kaya”…
Oya,sehari2 saya bekerja di Manulife Indonesia. Saya
se7 100% soal topik unit link. Saya juga selalu
menyarankan ke klien2 saya untuk memisahkan antara
kebutuhan proteksi & investasi. Beruntung kami memang
punya ke-2nya..termlife insurance & reksadana..
Kecuali kalau klien “memaksa” utk ambil program yang
mereka inginkan spt unit link,asuransi pendidikan
tradisional,dll…setelah saya jelaskan kelebihan &
kekurangan masing2 produk, pada akhirnya klien-lah
yang menentukan pilihan.
Btw,saya minta tolong sm mas Priyadi utk berbagi rumus
cara menghitung future value utk skenario top up tetap
& berkala (misalnya: setiap bulan setor reksadana
saham 1 juta selama 10 tahun berturut2,dg asumsi gain
investasi sebesar 30% per tahun). Jujur,selama ini
saya selalu menghitung secara manual. Walaupun
akhirnya ketemu juga jumlah final-nya, tapi kl ada
short cut rumus kenapa nggak? He3..
Sementara itu dulu mas priyadi,terimakasih kalau
berkenan utk membalas email ini,
Matur Nuwun…
RUDI
http://www.manulife-indonesia.com
gak mas, tdk satupun pendapat sy yg menyarankan tiap orang jadi swinger, sy cuma sarankan kita kenali trend, dan sudah sewajarnya dikenali kalau memang ingin masuk ke instrumen apapun yg berbasis saham atau yg volatile.
Just my view, buy and hold hanya valid di market bull, di market bear, buy and hold sangat merugikan, apalagi untuk yg awam pasar modal dan punya kerja tetap. In fact mengenali trend tidak butuh waktu lama, buat saya hanya beberapa menit, dan sy yakin rekan2 kalo mau juga tidak lama dan tdk sulit.
Pendapat sy saat ini terasa hambar dan kurang valid karena kita sedang berada di masa euforia bull, (dan ingat bull yg sudah masuk thn ke-5). Anda2 yg mempunyai jam terbang di bawah 5 tahun (sebelum 2002) tentu sedang berpesta saat ini dan tdk keberatan masuk tiap bulan. However harap diingat semua investor saham paham bahwa ada 3 jenis trend, yaitu bull (naik), bear (turun), dan sidesway. Dengan tetap netral saya cuma memberi info bahwa dalam market bear yg berlangsung sangat lama (tahunan), strategi buy and hold dan avarage tiap bulan sangat merugikan. Diterima monggo, gak diterima ya it’s ok, sy ga untung atau rugi apa2.
Once more, ini bukan untuk meng-counter tulisan mas Pri di atas. Sy tdk terafiliasi kelompok trading manapun, broker manapun, institusi manapun, tidak mengajak menjadi swinger atau tipe apapun, dan tidak punya kepentingan apa2, sy hanya sharing, mudah2an berguna.
You work hard to earn money, be smart to invest..
Hallo Mas Pri,
Mas ,ada beberapa agen penjual reksadana dlm hal ini bank yang menawarkan untuk reksadana untuk jangka waktu 1 tahun bahkan ada yg 6 bln lho,produk2nya pun terpercaya (Trim, danareksa,schroder,dan manulife). Lumayan juga untuk yang ingin cepat kaya kan?
#68:
wah, ini saran yang berbahaya. bagi orang yang tidak punya kemampuan dan banyak waktu untuk menganalisis pasar, besar kemungkinan dia akan kehilangan lebih banyak kalau jadi swinger, alasannya:
* yang tidak punya kemampuan dan tidak punya waktu jelas akan kalah telak daripada yang punya kemapuan dan waktu tersebut
* untuk masuk dan keluar berkali2 membutuhkan jauh lebih banyak overhead yang perlu dibayar daripada masuk sekali dan keluar sekali (biaya pembelian, biaya pengeluaran, pajak)
* kalau kita berinvestasi secara periodik dalam jangka waktu yang lama, kita merata2kan performance pada saat market sedang bearish dan saat sedang bullish
* menganalisis pasar bisa jadi akan sangat mengganggu produktivitas kerjaan utama
bagi anda mungkin merasa gampang untuk menganalisis pasar, tapi kebanyakan orang tidak begitu, bahkan ada yang merasa sebagai ‘jagoan’, padahal menurut saya biasa2 saja
. begitu jadi swinger, mereka mulai berspekulasi, dan tidak lagi berinvestasi. saran saya tetap sama: beli reksadana indeks secara periodik, evaluasi satu tahun sekali sudah cukup. if you are investing for your retirement, time is important, timing is not.
bearish tidak berlangsung selamanya, tidak akan mencapai 30 tahun. dan untuk investor kasual, resiko bearish di pasar finansial gampang di-hedge dengan diversifikasi, misalnya dengan emas atau deposito berjangka. beli emas secara berkala, dan beli deposito berjangka dengan auto rollover. kalau terjadi krisis berkepanjangan, harga emas akan naik dan/atau BI akan menaikkan suku bunganya.
#69:
dimana2 reksadana bisa ditarik kapan saja, gak perlu nunggu misalnya 6 bulan. kalau mau invest hari ini kemudian ditarik lagi besok juga bisa. tapi kenali dulu resikonya, semakin pendek jangka waktu berinvestasi semakin tinggi resikonya.
wah..ok mas..itu just my view, dan sedang tidak mendebat atau meng-counter pendapat utama blog ini
ibarat sedang berkendara di jalan naik, basah, dan berbelok, sy cuma bantu pasang tanda “hati-hati”..sekali lagi, tanpa bermaksud..ups..sok jago?..mau diperhatikan boleh mau di-abaikan juga boleh kok..
note:
1. statistik 30 thn itu benar-benar ada/valid dan jauh sebelum IHSG ada, boleh japri saya (kalo diuraikan disini panjang sekali)
2. tentang diversifikasi komoditi misal emas, wah..mohon obyektive-lah. Panjang sekali uraiannya. Untuk uraian sepintas coba review kembali harga emas mulai thn 1982, anda akan mengerti maksud saya..
3. diversifikasi ke deposito pun perlu mengenali trend, lets say sekarang deposito anda akan kalah dibanding inflasi, tp dengan pengenalan trend, anda akan paham kapan sebaiknya ke deposito kapan tidak.
4. Kalaupun market masih mau bull, strategi pengenalan trend meningkatkan pertumbuhan investasi berdasarkan pengalaman riil saya dan banyak sekali rekan2 saya yg tidak full time. Teman2 sama sekali tdk mengalami kesulitan (spt digambarkan diatas). Kita sudah buat perbandingan kinerjanya chart kedua tipe tsb (mas, ini bukan untuk menyarankan menjadi tipe apa atau mencoba “membahayakan” lho ya..). Kalaupun ada bear, pengenal trend safe, dan rekan2 tsb bukan full timer. Lagipula kenapa kita mesti keberatan belajar sedikit saja untuk memelihara portofolio investasi kita. Jadi apa ruginya?
I just say “be carefull”..mo diterima boleh diabaikan juga boleh.
This is end of my view kalo dianggap mas Pri kontroversi
for me cuman sharing kok
“
NB:
sy coba pilah-pilah beberapa artikel hardcopy, offline maupun online, mmm..however untuk beberapa teman2 yg mungkin masih awam di investasi pasar modal, mungkin bisa ke sini untuk baca-baca ringan:
http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com
sebelum dianggap membahayakan, mengajak, atau me-apa, note bhw link tsb bukan punya saya, bukan mempromosikan siapa2, apalagi menandingi pendapat blog ini, (atau membahayakan?) just to open our view to wider one..
-tidak ada salahnya belajar dan membuka wawasan-