Dampak Ekonomi New7Wonders

Beberapa minggu ini kita semua dihadapkan pada pemasaran yang luarbiasa dan tak henti-henti untuk mendorong kita semua untuk memilih Taman Nasional Komodo sebagai pemenang dari New 7 Wonders of Nature. Alasan yang dikemukakan panitia untuk mendorong kita semua untuk ikut memilih adalah alasan ekonomi: jika Taman Nasional Komodo terpilih menjadi pemenang, maka industri pariwisata kita akan meningkat.

Kontes New7Wonders ini bukanlah yang pertama. Tahun 2007, New7Wonders juga mengadakan kontes serupa dengan pemenang-pemenang Chichen Itza dari Meksiko, Patung Kristus Penebus dari Brazil, Colloseum dari Italia, Tembok Besar Cina dari RRC, Machu Picchu dari Peru, Petra dari Yordania dan Taj Mahal dari India.

Untuk membuktikan klaim meningkatnya industri pariwisata jika negara kita terpilih menjadi pemenang New7Wonders, marilah kita telaah statistik pariwisata dari negara-negara  yang telah terlebih dahulu menjadi pemenang di kontes serupa pada tahun 2007.

Statistik Monumen Pemenang

Pertama-tama mari kita lihat statistik kenaikan jumlah pengunjung dari monumen yang menjadi pemenang pada kontes New7Wonders 2007. Sayangnya, saya hanya berhasil mengumpulkan statistik untuk tiga monumen pemenang, yaitu Machu Piccu, Petra dan Taj Mahal:

Year Machu Picchu Petra Taj Mahal
1995 43.67% 68.19%
1996 24.48% 22.90%
1997 -4.85% -8.18%
1998 20.46% -8.78%
1999 25.86% 23.78%
2000 22.92% 12.00%
2001 -16.42% -51.95%
2002 4.88% -31.30% -20.90%
2003 8.09% 1.15% 5.30%
2004 1.38% 93.13% 19.32%
2005 40.46% 26.72% 62.64%
2006 1.14% -8.60% -17.23%
2007 14.03% 61.71% 19.28%
2008 12.39% 38.15% 0.93%
2009 -5.56% -9.31% -16.91%
2010 -18.76% 33.95%

Catatan: Data kenaikan pengunjung Machu Picchu hanya menghitung pengunjung luar negeri, data Petra menghitung seluruh pengunjung baik domestik maupun mancanegara. Data Taj Mahal sebelum 2005 menghitung seluruh pengunjung, sedangkan 2005 dan setelahnya menghitung kenaikan pengunjung mancanegara saja.

Tahun yang harus diperhatikan adalah tahun 2007 dan 2008, tentunya dengan memperhatikan tren pada tahun-tahun sebelum dan setelahnya sebagai bahan perbandingan. Pada tahun 2007 dan 2008, ketiga monumen ini mengalami kenaikan pengunjung. Walaupun demikian tentunya tak seluruh kenaikan pengunjung tersebut merupakan kontribusi dari terpilihnya mereka menjadi pemenang New7Wonders.

Sejak 1995, jumlah pengunjung ke Macchu Piccu hampir selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya, kecuali pada tahun 1997 dan 2001. Selain itu, kenaikan sebesar 14% dan 12% pada tahun 2007 dan 2008 tidaklah sebesar kenaikan pada tahun 2005 sebesar 40%. Pada tahun 2009-2010 jumlah pengunjung mengalami penurunan sebesar 6% dan 19%, yang praktis mengembalikan jumlah pengunjung ke tingkat sebelum 2007.

Petra mengalami kenaikan pengunjung di tahun 2007 dan 2008 yang fantastis, yaitu sebesar 62% dan 38%. Walaupun demikian, angka ini tidaklah sebesar kenaikan pengunjung di tahun 2004 dan 2005 yang sebesar 93% dan 27%.

Untuk Taj Mahal, saya tidak melihat adanya kenaikan yang signifikan pada tahun 2007 dan 2008. Tahun 2007 jumlah pengunjung hanya naik 19% setelah tahun sebelumnya turun 17%. Sedangkan 2008 hanya melihat kenaikan tak lebih dari 1%.

Bisa jadi ada efek kenaikan jumlah pengunjung dari terpilihnya monumen-monumen tersebut sebagai pemenang New7Wonders. Walaupun demikian, rasanya tak sulit untuk menyimpulkan bahwa kontribusi New7Wonders terhadap kenaikan pengunjung ke monumen-monumen tersebut tidak begitu signifikan.

Statistik Negara Pemenang

Sekarang mari kita lihat statistik kenaikan pengunjung negara yang mengusung pemenang New7Wonders tahun 2007. Negara-negara tersebut adalah Peru, Yordania, Meksiko, Brazil, Italia, RRC dan India.

Year Peru Jordan Mexico Brazil Italy China India
2000 -15.98% -11.73% 4.26% 4.03% 10.96% 15.46%
2001 -0.09% 5.82% -7.67% -10.16% 1.73% 6.21%
2002 8.44% 42.58% -9.40% -20.70% 1.54% 10.96% -9.19%
2003 2.52% -1.30% 9.25% 9.19% -3.71% -10.41% 31.51%
2004 41.27% 21.25% 14.49% 15.99% 4.88% 26.66% 26.82%
2005 4.13% 4.68% 8.60% 11.76% 3.84% 12.09% 13.34%
2006 4.00% 18.76% 1.33% -6.36% 8.04% 6.63% 13.49%
2007 14.26% -3.27% 0.90% 0.18% 4.08% 9.63% 11.92%
2008 18.33% 8.68% 1.54% 0.68% -2.51% -3.05% 6.90%
2009 -3.72% 1.61% -10.63% -5.10% -1.61% -4.10%
2010 11.14% 20.27% 2.27% 7.48%

Kali ini rasanya kita tak dapat melihat adanya kenaikan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelum 2007-2008. Barangkali hanya Peru yang mengalami kenaikan yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, dan itupun masih jauh lebih kecil dibandingkan kenaikan tahun 2004 yang sebesar 41%. Bahkan Yordania mengalami penurunan pengunjung pada tahun 2007, sedangkan Italia dan RRC mengalami penurunan pengunjung pada tahun 2008.

Perbandingan dengan Negara Bukan Pemenang

Tahun 2007-2008 merupakan masa-masa krisis ekonomi global dimana negara-negara maju mengalami resesi. Bisa saja ada anggapan bahwa industri pariwisata di 7 negara tersebut  ‘tertolong’ oleh terpilihnya mereka menjadi pemenang New7Wonders. Untuk itu mari kita buat perbandingan dengan negara-negara lain yang tidak menjadi pemenang New7Wonders tahun 2007. Negara-negara yang saya pilih adalah Turki, Maroko, Chile dan Mesir. Ditambah dengan negara kita Indonesia. Mesir sendiri adalah ‘pemenang honorer’ dari New7Wonders 2007, namun biasanya tidak dimasukkan ke dalam daftar pemenang, karena dengan demikian akan membuat jumlah pemenang menjadi delapan.

Year Turkey Morocco Chile Egypt Indonesia
2000 7.24% 12.08% 6.74% 13.94%
2001 30.00% 2.38% -1.09% -14.84%
2002 23.08% 1.67% -18.05% 12.60%
2003 3.91% 6.92% 14.31% 17.12% -11.25%
2004 26.32% 15.04% 10.59% 35.66% 19.12%
2005 26.19% 6.68% 13.56% 5.76% -6.00%
2006 -12.74% 12.24% 11.15% 4.88% -2.61%
2007 26.17% 12.96% 11.27% 22.72% 13.02%
2008 12.83% 6.36% 7.66% 15.89% 13.24%
2009 2.81% 5.86% 1.89% -3.11% 1.43%
2010 5.74% 18.25% 10.74%

Dari data-data tersebut di atas, ternyata dugaan saya tidak terbukti. Walaupun tahun 2007-2008 ada krisis ekonomi, ternyata industri pariwisata juga meningkat di negara-negara lain. Dan industri pariwisata di negara-negara pemenang New7Wonders 2007 bertumbuh bukan karena tertolong oleh New7Wonders.

Satu hal yang menarik adalah bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan asing di Indonesia pada tahun 2007-2008 ternyata lebih tinggi daripada negara-negara pemenang New7Wonders 2007, kecuali Peru.

Catatan lain dan Kritik terhadap penelitian lainnya mengenai kontribusi New7Wonders terhadap perekonomian negara-negara pemenang

Pihak New7Wonders sering mengutip tiga penelitian independen tentang dampak ekonomi dari terpilihnya negara-negara sebagai pemenang kontes New7Wonders. Menurut saya ketiga penelitian ini bukan tanpa masalah.

Penelitian pertama adalah yang dilakukan Grant Thornton Afrika Selatan yang menyimpulkan bahwa New7Wonders dapat menghasilkan lebih dari US$ 1000 milyar dalam 5 tahun setelah terpilih menjadi pemenang. Yang jadi masalah adalah bahwa penelitian ini mengambil data dari kenaikan pengunjung di Petra Yordania dan Patung Kristus Penebus Brazil dan sepenuhnya mengaitkan hal tersebut dengan terpilihnya mereka menjadi pemenang New7Wonders. Padahal tanpa mengikuti New7Wonders pun sudah pasti jumlah pengunjung akan berubah.

Kritik yang sama juga dapat disampaikan kepada penelitian yang dilakukan oleh Jeju Development Institute. Kali ini mereka menyampaikan bahwa Pulau Jeju dapat menghasilkan sampai dengan US$ 1837 milyar/tahun jika mereka menjadi pemenang. Mereka mengambil data dari kenaikan pengunjung Petra Yordania dan Agra di India. Dan sama seperti Grant Thornton, mereka mengaitkan kenaikan jumlah pengunjung tersebut sepenuhnya pada terpilihnya mereka menjadi pemenang.

Padahal kenaikan jumlah pengunjung sudah dapat terlihat pada tahun-tahun sebelum 2007. Kesalahan ini biasa disebut dengan kesalahan post hoc ergo propter hoc. Singkatnya: setelah terpilih menjadi pemenang New7Wonders, jumlah pengunjung meningkat, lalu disimpulkan bahwa peningkatan jumlah pengunjung tersebut adalah karena terpilih menjadi pemenang. Padahal, bisa saja ada faktor lain yang juga berpengaruh.

Sedangkan ‘penelitian’ yang terakhir hanyalah kutipan sebuah publikasi yang diterbitkan oleh Pearson of London. Pearson mengutip angka US$ 5 milyar dari New7Wonders. Dan kemudian New7Wonders mengutip Pearson sebagai hasil ‘penelitian’ yang dilakukan Pearson (circular referencing).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya third-cause fallacy atau spurious relationship. Yaitu adanya efek dari faktor ketiga. Contoh:

  1. A terpilih menjadi nominasi New7Wonders
  2. Dewan pariwisata A meningkatkan pemasaran tentang A
  3. A terpilih menjadi pemenang New7Wonders
  4. Pengunjung A meningkat.

Setelah 4 terjadi, maka banyak pihak yang akan mengklaim bahwa 4 disebabkan oleh 3. Padahal bukan tidak mungkin 3 dan 4 terjadi karena 2. Dan sebenarnya 2 dapat saja dilakukan tanpa 1. Apalagi mengingat bahwa New7Wonders tidak melakukan pemasaran apapun selain menobatkan A menjadi pemenang.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penelitian-penelitian tersebut, dalam tulisan saya di atas, saya juga menyertakan data sebelum penunjukan pemenang dilakukan, dan juga sesudahnya. Selain itu saya juga menyertakan data negara-negara non-pemenang untuk perbandingan. Berdasarkan karakteristik data yang ada, sulit untuk melakukan perhitungan matematis, tapi rasanya tak sulit untuk membuat kesimpulan.

Kesimpulan dan Referensi

Ada peningkatan pengunjung monumen-monumen setelah terpilih menjadi New7Wonders. Akan tetapi sebagian besar dari peningkatan ini merupakan tren dan bagian dari fluktuasi normal yang telah ada sebelumnya, jadi tak dapat seluruhnya dikaitkan dengan faktor New7Wonders. Peningkatan pengunjung yang terjadi pada 2007-2008 bukanlah rekor individu mereka. Ketiga monumen yang saya dapatkan datanya juga pernah mengalami peningkatan yang jauh lebih tinggi sebelumnya.

Di tingkat negara, praktis tak terlihat adanya peningkatan signifikan jumlah pengunjung yang disebabkan oleh terpilihnya monumen sebagai pemenang New7Wonders.

Data mentah dan sumber referensi.

72 comments

  1. nice analysis, om.

    jika seperti itu, keuntungan negara2 tersebut adalah lebih dipromosikan saja? selain itu, apa keuntungan panitia new7wonder?

    sebenarnya tanpa dipromosikan pun, monumen2 itu sudah terkenal sebelumnya.

  2. Saya termasuk orang yang mendukung utk N7W, bukan dengan alasan ekonomi atau apapun. Tapi untuk merasakan energi positif tentang satu keinginan yang membawa nama Indonesia lebih besar lagi. Suatu rasa bangga dan kebersatuan. Sudah terlalu lama rasa mendukung itu hilang, bahkan dalam kompetisi olahraga. Di hasil akhir nanti, saya rasa tiap orang Indonesia bisa bangga pada kebersatuan yang sudah dilakukan. Thank you for sharing mas Pri :)

  3. ini baru priyadi! hihi

    fyuh analisis yang saya saja berkeringat membacanya. dan ide menunjukkan artikel ini ke JK kayaknya mending gak usah. gak yakin beliau mau baca. karena kalau emang benar-benar concern dengan pulau komodo, dia mustinya tahu dong kisah ribut-ribut kemenbudpar kemarin, dari situ sudah jelas keliatan fishy kok ini kontes, nyatanya dia tetep maju.

    tulisan ini lebih pas ditujukan ke semua orang, nasionalisme jangan sampai membuat buta. dikibuli bule, lebih menyedihkan dari devide et impera :p

  4. @paydjo Rp 1,- itu kan yg dipotong dari pelanggan. di sisi operator tetap saja masih hitungan rp 1000 (seperti yg terjadi pada beberapa voter sebelum pengumuman). pemotongan karena ada orang tajir tapi goblok ngebayarin/subsidi. pun tetap dipotong satu rupiah, ndak nol rupiah. pihak n7w sendiri tentu ndak mau tahu, mereka tahunya lisensi vote sms sesuai aturan mereka pembayarannya.

    1. @lantip @paydjo: selain itu bernard weber dkk pasti gak terima bayaran dalam rupiah, maka akan ada devisa yang keluar. jadi, walaupun voter cuma keluar pulsa Rp 1, ongkos real-nya jauh lebih gede daripada itu.

  5. Setiap SMS vote yang dikirim untuk mendukung Komodo, dijanjikan akan di-convert menjadi coblosan buat Partai Beringin di Pemilu 2014

  6. Makasih pak priyadi atas datanya. Memang ini yang tidak disadari pleh masyarakat kita, padahal kalau di pikir2 sepertinya kita di koq di KADAL in oleh mereka :mad:

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. yg menarik adalah:
    – 9818 sendiri CP yg pernah diinfokan bermasalah … sial cek di Google
    – siapakah pemilik 9818?
    – bagaimana mekanisme kerjasama 9818 dgn operator? krn biaya real sms itu tidak 0… siapa yg subsidi?
    – apakah 9818 dpt keuntungan?

  8. Klo saya sbnarnya cukup respek dgn new7wonders ini, terutama krn inisiatifnya sudah memicu suatu proses. Entah pro atau kontra, atensi thd pulau komodo meningkat, dan ada proses ekonomi berjalan. Sesederhana sebuah mug atau kaos bertuliskan vote for komodo island, atau blog yg membahas komodo, itu sudah merupakan nilai tambah yg valuasi scr ekonominya mungkin tdk terdata, tp real.

    Btw, saya emg cenderung suka dgn inisiatif/ide yg bisa tereksekusi, krn eksekusi itu bkn hal mudah. Tadinya sempat kepikir, aneh2 aja bikin new7wonder…trus inisiatornya dpt apa?..monetisasinya gmn? Well,..ternyata bule2 itu bisa…gila. salut aja.

    1. @poside: makanya saya singgung soal third cause fallacy di atas :). Setelah jadi nominasi new7wonders, banyak yang bilang kalau pariwisata ke komodo meningkat, dan kemudian peningkatan wisata tersebut dihubung-hubungkan dengan new7wonders. Padahal new7wonders gak pernah promo apapun. Sebenernya wisata bisa meningkat ya karena promosi yang dilakukan budpar dan promosi ini sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus menghubung-hubungkannya dengan new7wonders

  9. Mantap mas.. Perlu disebarluaskan…
    Nasionalisme perlu dan penting.. Tapi kebodohan bukanlah nasionalisme dan harus dikikis.

    Makasih..met hari sumpah pemuda

  10. bagaimana dengan teori musuh bersama om pri ? kalau ada musuh bersama bernama kompetisi new7wonder, akhirnya memacu kita untuk berkompetisi all out dengan sms.
    jika tak ada kompetisi, gak ada nilai ukur yang dikenal. Walaupun secara statistik bisa, tapi sangat jarang pengetahuan objek wisata apa saja didunia yang sering dikunjungi wisatawan dibanding 7 keajaiban dunia, 10 keajaiban dunia, 100 objek yang dikunjungi sebelum mati dsb..

    Mirip juga dengan sepakbola, jauh lebih terukur jika timnas ikut turnamen fifa, dibanding koar2 timnasnya paling bagus sedunia. Kalau dipikir2 dengan ikut turnamen fifa, menghabiskan biaya tidak ada nilai efek ekonomi.

    1. @ristianto: ya itu pinternya oknum2 New7Wonders. mereka bisa ngadu negara2 yang berdaulat. ngadu untuk banyak2 ngirim duit ke mereka.

  11. 1. A terpilih menjadi nominasi New7Wonders
    2. Dewan pariwisata A meningkatkan pemasaran tentang A
    3. A terpilih menjadi pemenang New7Wonders
    4. Pengunjung A meningkat.

    Dan sebenarnya 2 dapat saja dilakukan tanpa 1.

    Jika dibalik lagi, iya sebenarnya bisa dilakukan, tapi pertanyaanya apakah mereka mau melakukan pemasaran jika tidak ada faktor terpilihnya A menjadi nominasi New7Wonder. Terpilihnya A dalam New7Wonder menjadi salah satu dorongan untuk melakukan pemasaran.

    Pemasaran bisa dilakukan tanpa adanya New7Wonder dan kembali lagi, apakah Bupdar mau melakukan pemasaran jika tidak ada New7Wonder??????????

  12. Dan sebenarnya 2 dapat saja dilakukan tanpa 1.

    Jika dibalik lagi, iya sebenarnya bisa dilakukan, tapi pertanyaanya apakah mereka mau melakukan pemasaran jika tidak ada faktor terpilihnya A menjadi nominasi New7Wonder. Terpilihnya A dalam New7Wonder menjadi salah satu dorongan untuk melakukan pemasaran.

    Pemasaran bisa dilakukan tanpa adanya New7Wonder dan kembali lagi, apakah Bupdar mau melakukan pemasaran jika tidak ada New7Wonder??????????

    1. @blog teknik it: artinya salahnya ada di budpar. kenapa harus nunggu new7wonders sebelum melakukan pemasaran? hal ini gak bisa dijadikan justifikasi untuk new7wonders.

  13. Sebuah analisa yang menarik disimak, Bung. Tapi, ini kasus luar negeri lho ya. Khusus bagi Indonesia, negara kita ini agak unik. Orang Indonesia itu seperti gong, kalu gak ditabuh gak bunyi alias reaksioner. Soal komodo, benar tanpa masuk nominasi New7Wonders komodo sudah jadi keajaiban dunia. Tapi bisa apa Pemerintah kita dengan modal itu? NOL! Bahkan promosi ke warga sendiri pun tak maksimal. Coba saja telisik, berapa banyak warga Indonesia yang tahu letak P. Komodo sebelum ramai-ramai vote komodo ini?

    Jadi, kalau mau dibalik, menyalahkan New7Wonders terus juga bukan tindakan bijak. Kenapa selalu menyalahkan N7W, JK, dll. telah melakukan kebodohan dan pembodohan? Bukankah kita sendiri yang bodoh tidak bisa mempromosikan potensi alam yang dipunyai? Kita!

    Salam.

    1. @bung eko:

      betul kalau pemerintah salah soal manajemen pariwisata selama ini. tapi bukan berarti dapat disimpulkan N7W tidak bersalah.

  14. ijin share di blog-ku ya mas :)
    juga seputar fakta New7Wonder

    terima kasih :)

    http://bit.ly/komodalf

    – – –

    mungkin kita masih terbiasa diketok baru jalan…

    semoga bisa berubah ke arah yang lebih baik. :)

    Setidaknya kontes ini mengingatkan bahwa Indonesia punya banyak potensi wisata, harus dipelihara dengan baik. :)

    1. @mahmurarifien: biayanya Rp 1 atau Rp 0 karena ada sponsor yang membiayai. ongkos real yang mesti dikeluarkan voter (dan non voter juga) tentunya lebih tinggi daripada itu karena ada devisa yang keluar negara.

  15. Wah, keren dengan analisisnya, seidikit kritik: sori to say…perolehan datanya ya mbok dibuat catatan kaki di bawah artiker, kalau open source nggak semua bisa liat mas..jadi semua orang bisa liat. yang ke 2, penurunan jumlah turisme di negara-negara berkembang kok nggak dijelaskan lebih detail, sebetulnya itu karena krisis 2008-2009 jadinya menurun. negara maju lebih memilih disekitarnya kontinennya khususnya negara eropa krn lebih murah dari ongkos…ke-3 sah-saha aja kalau dukung nggak harus via sms lewat email gratis kan juga bisa di website http://www.new7wonders.com. dukung promosi gak selalu lewat pemerintah, kita juga harus terlibat..bener nggak mas Priyadi, bukan kritik mas hanya input buat negara ini, sukses selalu bt mas priyadi

  16. komentar saya soal jumlah pengunjung 2007-2008-2009. dugaan saya mengapa cenderung minus adalah karena di tahun itu terjadi resesi global. sehingga wajar terjadi keengganan untuk berwisata secara global.

    lebih menarik data yang anda sajikan menampilkan jumlah kuantitas oarng yang datang dari 2006 sampai 2010, bukan persentasenya.

    Terimakasih,

    cheers :)

  17. keren analisanya. faktor teknis 0 besar deh untuk 7wonders. yang bermain banyak non teknis, seperti common enemy, rasa kebangsaan, dan rasa kebanggaan.

  18. I wish I have adequate time to do such research! Mungkin pemerintah juga sudah gelap mata, alih-alih memperhatikan pembenahan infrastruktur pariwisata, mereka terjebak dalam iming2 7 wonders.

  19. 2007 naik 60 % 2008 naik 20 % tapi dengan cara menampilkan data anda…terlihat turun dari 60 ke 20 %….ngawur banget lu…..belajar lagi sana…tapi good try…untuk meningkatkan jumlah pembuka blog anda….dapat donasi mas? dari byknya org yg buka?

    darimana anda bisa bilang secara objectif Patung di brasil seharusnya kalah dari liberty ama eifel?….

  20. #46:

    perolehan datanya ya mbok dibuat catatan kaki di bawah artiker, kalau open source nggak semua bisa liat mas..jadi semua orang bisa liat.

    bisa pakai converter/plugin ODF kalau di MS Office. atau pakai google docs.

    yang ke 2, penurunan jumlah turisme di negara-negara berkembang kok nggak dijelaskan lebih detail, sebetulnya itu karena krisis 2008-2009 jadinya menurun.

    itu sudah saya bahas di atas kan? karena itu saya cari data untuk negara2 non peserta untuk mengeliminasi kemungkinan krisis ini. tapi ternyata untuk kebanyakan, pengunjung tetap naik, yang menurun adalah ‘jumlah kenaikannya’

    #51:

    komentar saya soal jumlah pengunjung 2007-2008-2009. dugaan saya mengapa cenderung minus adalah karena di tahun itu terjadi resesi global. sehingga wajar terjadi keengganan untuk berwisata secara global.

    betul, sudah saya bahas di atas kan?

    lebih menarik data yang anda sajikan menampilkan jumlah kuantitas oarng yang datang dari 2006 sampai 2010, bukan persentasenya.

    ada di data mentahnya. saya bikin pakai kenaikan dibanding tahun lalu supaya bisa membandingkan satu negara dengan negara lain dan grafiknya bisa disatukan.

    #58:

    2007 naik 60 % 2008 naik 20 % tapi dengan cara menampilkan data anda…terlihat turun dari 60 ke 20 %….ngawur banget lu…..belajar lagi sana…

    ngawur dari mana? kalau gitu silakan bikin versi yang benar. nanti saya lihat hasilnya.

    saya bikin pake persen kenaikan terhadap tahun sebelumnya itu supaya bisa saling dibandingkan, dan grafiknya bisa disatukan.

    tapi good try…untuk meningkatkan jumlah pembuka blog anda…. dapat donasi mas? dari byknya org yg buka?

    sayangnya gak dapat apa2 dari ini :)

  21. Mas, mau tanya, itu data-data referensinya dari mana ya? Bukan apa-apa, ada (ehm, mungkin banyak) yang menuduh Anda memanipulasi data tersebut. Saya pribadi tidak demikian, ehm tidak terlalu peduli dengan data itu tepatnya, karena concern saya soal lainnya, tapi dalam diskusi (debat) alasan “validitas data” Anda dijadikan argumen untuk menolak argumentasi Anda. Maaf mungkin sudah dijelaskan tapi saya terlewat membacanya? Terima kasih

  22. Buat anda yg sudah maupun berpikiran untuk mengirim SMS: kalau anda mau banyak yang datang ke taman nasional komodo, ya pergilah ke sana. kumpulin duit buat liburan, bukan dgn kirim SMS yg duitnya diambil dari jatah CSR untuk kegiatan sosial dan perbaikan lingkungan. kalo anda masih liburan ke luar negeri macam singapura dan thailand, gak ada gunanya sok2 nasionalis dgn mempromosikan komodo secara semu lewat New7Wonders. setelah click activism sekarang malah SMS (premium) activism, ngambil jatah kegiatan sosial pula. perusahaan asing aja mau CSR di indonesia, bikin keran2 air bersih di daerah2 susah air. ini malah perusahaan indonesia buang2 duit CSR buat subsidi SMS premium yg dibayarin ke perusahaan asing!

  23. Sakit hati lah pemerintah & banyak pihak yang buang-buang uang cuma untuk menangin TNkomodo di acara ginian, tapi dana riset konservasi nggak banyak, bahkan untuk penelitian komodo. Mahasiswa harus ngumpulin recehan.

Leave a Reply to mizan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *