Pertanyaan-Pertanyaan yang Harusnya Diajukan Kepada Yang Tidak Setuju Revisi Harga BBM

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan kepada pendemo anti kenaikan harga BBM, supaya lebih konstruktif, dan tidak sekadar hanya berteriak-teriak “TURUNKAN HARGA BBM!”

\*\*\*

  1. Tahukah anda kalau BBM berasal dari minyak bumi yang merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan? (Suatu saat minyak bumi akan habis dan tak akan dapat kita nikmati lagi.)
  2. Jika suatu saat nanti BBM akan habis, maka sadarkah anda jika suatu saat subsidi BBM harus dihilangkan? (Apanya yang mau disubsidi? BBM-nya saja tidak ada.)
  3. Tahukah anda bahwa negara-negara yang menjual BBM dengan harga murah ke rakyatnya merupakan negara yang produksi minyaknya jauh di atas konsumsinya? Tahukah anda jika saat ini Indonesia adalah net-importir minyak bumi? (Dengan kata lain, kita mengimpor minyak bumi lebih banyak daripada mengekspornya.)
  4. Jika saat ini anda tidak setuju subsidi BBM dikurangi, kapan menurut anda saat yang tepat untuk mengurangi subsidi BBM?
  5. Tahukah bahwa Indonesia (dan negara-negara lain) mengalami inflasi, artinya harga barang-barang kebutuhan selalu naik. Hanya BBM yang harganya dipatok sama dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa anda tidak setuju kenaikan harga BBM, tetapi diam saja ketika harga barang-barang lainnya selalu naik?
  6. Tahukah anda bahwa tak mungkin menetapkan harga tanpa mengubah supply atau demand-nya? Jika anda di posisi pemerintah, apa yang akan anda lakukan untuk mengatur supply atau demand dari BBM?
  7. Mengapa BBM harus dihargai Rp 4500? Mengapa tidak Rp 3000, Rp 1500, Rp 500 atau bahkan gratis misalnya? Berapa harga yang pantas menurut anda?
  8. Mengapa harus BBM yang disubsidi? Mengapa tidak beras misalnya? Mengapa pula tidak pendidikan atau kesehatan? Apa menurut anda yang lain-lain itu tak  penting dibandingkan BBM?
  9. Tahukah anda bahwa dengan menyubsidi BBM, maka kita menganjurkan masyarakat untuk menggunakan BBM? Konsumsi BBM akan selalu naik terus, padahal produksi terbatas dan BBM merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan. Apa yang akan anda lakukan untuk membatasi konsumsi BBM?
  10. Tahukah anda bahwa populasi manusia berkorelasi dengan ketersediaan energi? Tahukah anda bahwa subsidi BBM memberi kesan ketersediaan energi yang melimpah dan dengan demikian akan meningkatkan populasi manusia di atas carrying capacity sumber daya alam kita? Apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi masalah ini?
  11. Tahukah anda bahwa kelebihan daya beli akibat subsidi BBM akan dengan sangat cepat ‘dibelanjakan’ dengan cara ‘nambah anak’? Tahukah anda bahwa perbedaan daya beli jika BBM disubsidi adalah sama saja dengan jika BBM tidak disubsidi, dan perbedaan akhirnya hanyalah jumlah populasi Indonesia? Apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi masalah ini?
  12. Tahukah anda bahwa sebagian besar konsumsi BBM berasal dari Pulau Jawa? Dan tahukah anda bahwa sebagian besarnya berasal dari Jabodetabek? Sadarkah anda bahwa dengan demikian sebagian besar subsidi BBM hanya akan dinikmati penduduk ibukota?
  13. Mengapa menurut anda tidak menjadi masalah jika minyak disedot habis-habisan dari daerah, dan kemudian sebagian besarnya dijual dengan harga sangat murah di Pulau Jawa dan ibukota?
  14. Tahukah anda bahwa populasi Indonesia adalah sekitar 240 juta jiwa, atau peringkat empat dunia? Tahukah anda bahwa produksi minyak bumi Indonesia itu hanya sekitar 1 juta barrel/hari, atau hanya peringkat 21 dunia? Sadarkah anda bahwa jika produksi minyak bumi dibagikan sama rata ke seluruh penduduk Indonesia, maka setiap jiwa hanya akan mendapat 1,52 barrel/tahun, atau setara dengan hanya 242 liter minyak bumi/tahun? (dan tak seluruhnya dapat dikonversikan menjadi BBM) Sadarkah anda bahwa untuk setiap mobil yang mengisi BBM sebanyak 2000 liter/tahun, akan ada 7 warga lain tak menikmati BBM sama sekali? Apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi ketidakadilan ini?
  15. Tahukah anda bahwa cadangan minyak (proven reserve) Indonesia adalah sekitar 4.050.000.000 barrel. Tahukah anda dengan produksi 1 juta barrel/hari, maka cadangan minyak itu akan habis hanya dalam waktu 11 tahun?
  16. Tahukah anda akan konsep opportunity cost? Tidak adakah cara lain yang lebih baik untuk memanfaatkan BBM yang kita miliki selain dengan menjualnya dengan harga murah? Apa tak terpikirkan bahwa ada cara lain yang lebih baik untuk mengelola BBM yang kita miliki?
  17. Sadarkah anda bahwa salah satu orang yang paling keras menentang kenaikan harga BBM adalah orang yang sama yang menandatangani nota kesepahaman dengan IMF untuk menghapus subsidi BBM? Yakinkah bahwa anda bukan semata-mata korban politik yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu?

160 comments

  1. Mas Pri, mungkin bisa ditambah data proven reserved oil dan produksi/hari, biar makin nyadar tinggal berapa tahun negara kita bukan sekedar net importer, tapi fully importer :(

  2. IMHO: Seandainya APBD gak dikorup atau disalahgunakan tentu gak masalah naek om.

    Seandainya pemerintah serius memakai anggaran utk membangun transportasi massal. Yg nyaman + merata di seluruh indonesia, tentu yg memakai kendaraan pribadi akan sedikit, maka akan sedikit pula konsumsi bbm

  3. Hapus subsidi BBM, banyakin KA commuter, Gw terbantu bgt dgn KA commuter…Gw gak pake BBM subdidi? gw pake pertamax!!!

  4. Pemerintah pernah akan menggarap monorel, tapi diprotes habis2an oleh para pengamat, politisi, aktivis, dsb dgn alasan biayanya terlalu tinggi sehingga pada akhirnya proyek yg sudah mulai dikerjakan hanya menyisakan tiang2 beton saja, sbg gantinya dibangun busway yg konon biayanya lebih murah. Dampaknya terasa skrg, lajur jalan raya berkurang hingga menambah kemacetan, berapa banyak waktu terbuang? Berapa banyak bbm yg terbakar sia2 karena terdiam di kemacetan, berapa tinggi kadar polusi udara yg dihasilkan? Kalo menurut saya cost value nya jauh lebih mahal dibanding bikin monorel. Lihatlah negeri jiran, di KL tiap pagi monorel disesaki orang2 yg akan berangkat kerja dan sekolah, waktu tempuhnya relatif singkat utk membelah kota KL dari selatan ke utara atau dari barat ke timur dan yg pasti bebas macet. Makanya bila ada program pemerintah utk mengatasi permasalahan di masyarakat seharusnya dipikirkan secara cerdas jgn emosional yg belum apa2 sudah tdk setuju dan banyak protes.

  5. Kalau begitu cabut saja subsidi BBM sepenuhnya. Biar semua mikir kalau ngeluarkan BBM dari perut bumi perlu biaya banyak dan gak gampang. Oleh karena itu kita layak bayar mahal. Sisan wae dab :)

  6. ok, setuju dinaikan terserah berapa pun harga bbmnya,
    tp pajak usaha,PPN dan pajak pembangunan dan pajak” lainnya dihapuskan dari Indonesia,
    kurang apa org yg berusaha mati”an bayar pajak mahal” ke pemerintah, dananya buat apa?
    tiap mau bli atau jual harus bayar ppn buat apa?
    uang pajak yg di bayarkan buat apa?
    pajak barang yg bikin barang makin mahal buat apa?
    apa ada yg di buat dri pajak tersebut,
    gk ada gy jlas..
    rakyat cuman nikmati subsidi BBM dengan harga murah apa lg?
    presiden mengimingkan bantuan buat rakyat, memangnya rakyat ini pengemis?

  7. semoga rakyat bisa menyadari bahwa negara kita masih dalam keadaan ekonomi yg sangat rendah, dan tidak mungkin terus menerus memberikan subsidi :)

  8. klo kita merasa tanah air ini pinjaman dari anak cucu kita.., apa kata mereka nanti, kalo kita mngembalikannya dalam keadaan tanpa minyak..???

  9. Tau jawaban semua pertanyaan itu ato ngga juga ngga ada bedanya, kalo semua kebijakan masih dipolitisir pihak tertentu.. (doh)

  10. Pertanyaan-pertanyaan itu retorika, like minyak menjurus ke habis maka Indonesia semakin berantakan. Apa mau nasib kita digantungkan ke subsidi yang jadi dagelan politik? –juga retorika. Semua tahu jawabnya, sekaligus tidak tahu apa jawabnya.

    PS: di-copy dari fb, gara2 ngeshare.

  11. Temen saya ada yang SR di Pertamina. Dia bilang, cost untuk angkut itu premium sampe Papua bila dihitung sekitar Rp 15.000 per liter. Mau tetep dijual Rp 4500?

    Yang menolak revisi BBM adalah yang nggak paham itung2an dagang. Majulah Priyadi ke kursi Presiden 2014! :D

  12. mau tdk mau hrs naik dr pada negara bangkrut,krn sebagian yg menikmati subsidi adlh pengusaha n org kaya.lht para petani-ktnya pupuk d subsidi tp krn prmainan pngsaha jahat petani byk beli hrga tggi,tp hsl tani d beli pngsha jht dg hrga murah.subsidi byk mencekik rakyat miskin.jgn smp isu bbm mlpkan kta dr mslh korupsi

  13. SETUJU BBM NAIK!

    Bikin orang mikir, ngga sembarangan pake kendaraan. Subsidi mendingan buat barang2 kebutuhan pokok. (+ bandwidth murah :D )

    kalau alesan “pejabat korup” itu sih masalah lain.

    kadang bosen juga dengan para ‘penolak’ pake alasan: “untuk rakyat”, “rakyat semakin susah”, … (tanpa ‘mengecilkan’ segala kesulitan yg akan muncul), perkataan2 tersebut sudah mulai terasa membosankan, klise!

  14. Jauh sebelum ada kata subsidi dikeluarkan, mestinya jawaban jaminan kesejahteraan dan alternatif energi sudah jalan. tiap tahun APBN bolong 25-40%, tp nilainya terus naik. Sementara subsidi APBN yg 8.9% malah dicabut.

    Jadi bukan soal BBM nya .. tapi soal anggarannya yg menipu,
    Selain itu, silahkan Pemerintah transparan dulu soal cost LRT, baru deh bicara harga.. thats fair :)

    1. @leksa: ya itu memang salahnya pemerintah, gak melihat subsidi BBM lebih dari sekadar urusan anggaran. padahal masalahnya jauh lebih banyak dan fundamental. di tulisan saya, saya sama sekali gak singgung urusan APBN kan? :)

  15. tahukah anda kalau judul anda itu benar, saya suka judul anda, tapi berlawanan dengan isinya, di isi anda sebut pengurangan subsidi.. saya tahu oppurtunity cost, tapi tahukah anda negara bukan perusahaan yg opurtunis? tahukah anda bahwa pemerintah reaktif, tidak aktif apalagi kreatif? hanya memikirkan paling luas seluas parpol? tahukah anda rakyat itu ibarat anak puber yang kalau dilarang keluar rumah malah keluar, tapi coba orangtua kreatif dengan menyediakan fasilitas yg disenanginya dirumah agar tak keluar rumah?
    ya saya setuju penyesuaian harga bbm, kalaulah pemerintah dari dulu tidak sombong yg membanggakan angka2 kemajuan, dan menyesuaikan harga sedikit demi sedikit, dan memikirkan dan beraksi nyata membangun perekonomian, tidak koruptif dan oppurtunis.. ya saya setuju! bahkan dari dulu!

    1. @abdul rahman:

      opportunity cost itu selalu ada, tapi bukan berarti oportunis :). ini jangan disalahartikan :). kalau gak mengerti opportunity cost, maka gayus itu gak salah, karena dia gak ngambil duit milik negara, dia kan cuma ngambil duit sebelum masuk kas negara. sama aja dengan subsidi BBM. apanya yang disubsidi? minyak dari indonesia, dan gak ada duit APBN yang dipakai untuk beli itu.

      tapi tetap aja, BBM bisa saja tetap dijual di harga pasar. yang beli BBM, duitnya masuk kas APBN, anggap aja sebagai pajak. artinya output ABPN bisa lebih tinggi tanpa harus rakyat bayar lebih banyak. itu opportunity costnya.

      soal analogi, saya setuju. pendemo kemarin itu seperti anak puber yang ngancam keluar rumah kalau gak dibeliin barang2 yang disenanginya, padahal orang tuanya orang gak mampu :).

  16. Cara pandang yang menarik..
    Itu kalau negara kita beneran miskin..
    Nyatanya negara kita kan kaya banget tuh..
    BBM naik diganti tunjangan pun, pasti ga akan sampe ke yang benar2 membutuhkan..
    Jadi, bantai dulu korupsinya..
    :D

  17. Nice point of view..
    Secara hitung2an, kalau harga BBM naik, harga distribusi barang naik juga sejumlah kenaikan harga bbmnya.. Dampaknya ya semua barang naiknya bareng..

    Tapi sesungguhnya Indonesia ini negara kaya loh..
    Menurut saya, kalo ga ada para koruptor itu bisa aja kita ga impor minyak, bisa aja kita masih jual bensin murah ke rakyat..

    Lha yang korupsi pemerintahan, yang bikin bangkrut pemerintah itu koruptor, ya janganlah rakyat yang kena batunya.. Maaf2 kalo ada salah..

  18. Pertanyaan pertanyaan yang menarik. Andainya saja rezim ini bertanya dengan pertanyaan yang sama maka 1) mereka seharusnya sudah memiliki rencana jangka panjang (energy strategy) sejak semula,dan bukan hanya menaikkan harga BBM saja, 2)lebih efficient dalam anggaran negara.

    1. @ridwan: betul, salahnya gak ada rencana jangka panjang. pemerintah cuma mikirin situasi saat mereka menjabat. sebisa mungkin urusan BBM ini diserahkan kepada pemerintah berikutnya. gak ada yang mau beresin masalah BBM ini dengan tuntas, karena risikonya digulingkan :(

  19. Ternyata ada blogger lain yang sepaham dengan saya :)
    Kebanyakan dari kita sok kaya. Sok punya kendaraan, ampe bela2in kredit bertahun2. Ngerasa bangga dengan kendaraan yang dimilikinya, tapi pake BBM nya premium. Sok ngomongin biaya produksi yang naek, padahal BBM lebih banyak dipake buat jalan2.

  20. tahukah anda kenapa pemerintah mengedepankan perihal APBN jebol ketimbang cadangan minyak yang semakin menipis sebagai alasan kenaikan BBM?
    karena konteksnya ABPN, maka dari sekian banyak yang bisa dirubah oleh pemerintah, tahukah anda kenapa opsi menaikkan harga BBM yang dipilih?
    Karena konteksnya APBN, tahukah anda kenapa pemerintah tidak memilih meningkatkan penerimaan dari sumber2 pendapatan negara seperti pajak, kontrak2 migas dibandingkan penerimaan dari pengurangan kemampuan daya beli masyarakat?

    1. @arif: betul, itu salahnya pemerintah. urusan BBM baru diomongkan kalau udah bener2 kepepet. padahal masalahnya jauh lebih fundamental daripada urusan anggaran. kalau pemerintah benar, harusnya dari dulu udah diberesin. yang ada, pemerintah lepas tangan dan niatnya menyerahkan tanggung jawab kepada pemerintah periode berikutnya.

  21. Mengapa harus BBM yang disubsidi? Mengapa tidak beras misalnya? Mengapa pula tidak pendidikan atau kesehatan?

    Tahukah anda pertanyaan ini lebih tepat ditanyakan kepada pemerintah?

  22. Tahukah anda kenapa INDONESIA mengimpor minyak ?
    *padahal sumberdaya minyak INDONESIA sangat banyak

    satu aj deh pertanyaannya , sebenernya banyak yg ga relevan di tulisannya

  23. 1 lagi pa ..

    apakah subsidi utk org kaya ga boleh? :)

    Mari kita lihat sejarah historis mengenai kasus BLBI, Century, ataupun kebijakan Tax Holiday.. #BBM @KM_ITB

    Skandal dana BLBI (1997) pemerintah melalui Bank Indonesia memberikan bantuan dalam bentuk obligasi rekapitalisasi Rp645T.#BBM @KM_ITB

    Dari jumlah tesebut, sebesar Rp144,54 triliun dalam bentuk obligasi BLBI. #BBM @KM_ITB

    Obligasi ini dlm bentuk SUN, dcicil selama 30 thn sejak 2003. Hingga skrg pemerintah masih “menyicil” sisa ini hingga 2033. #BBM @KM_ITB

    BLBI adalah salah satu bentuk “subsidi” yang bukan untuk orang miskin.. #BBM @KM_ITB

    Sumber dari : hasil kajian kenaikan BBM KM ITB @KM_ITB

    1. @zulfi:

      BLBInya sendiri maksudnya baik, tapi teknis pelaksanaannya terlalu gampang diselewengkan. tujuannya supaya nasabah bank tetap bisa ambil duitnya. bailout bank century bukan subsidi, karena aset bank century diambil alih negara tanpa memutihkan kewajiban dari pihak yang salah. tax holiday harus dilihat kasus per kasus.

      subsidi untuk yang kaya? menurut saya harusnya gak perlu. fakta bahwa orang kaya pernah disubsidi sebelumnya tak menjadikan subsidi kepada orang kaya sebagai hal yang bisa dibenarkan.

  24. Saya tidak tahu jawabannya mas, saya juga gak perduli bbm naik atau tidak, saya gak pernah beli bbm. tp biaya hidup sehari2 saya udah pas2an, gak bisa naik lagi. jd kalo mas2 yg pinter2 dan tau jawaban2 pertanyaan diatas dan setuju bbm naik bisa menjamin tidak ada kenaikan biaya hidup sehari2 jika harga bbm nambah, yaaaa saya ikut setuju saja mas. (jawaban fiktif orang susah)

  25. ini seperti yang saya share ke adikku kemarin, ketika itu dia didebat temannya yang marah-marah di fb karena engga setuju BBM naik. Setelah saya beri penjelasan mereka diam. Sayang mereka engga tau kalau…Indonesia belum bisa mengolah BBM sendiri, jadi harus membeli bahan bakar dengan harga dunia dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Tentu saja seperti membeli celana dengan harga 150rb dan menjualnya dengan harga 80rb, kalau dihitung seperti pedagang pasti rugi. Makanya perlu dinaikkan harganya. Bukankah negara tetangga juga lebih mahal menjualnya. Pilih bayar dengan harga dunia apa harga subsidi? Coba hitung berapa jumlah golongan menengah ke atas yang masih pakai subsidi. Pertamax dong!!

  26. @mas pri
    ya, rasanya terkesan jauh lebih pintar pemerintahan orde baru dengan gaya REPELITA nya, rasanya pemerintahan sekarang tidak bisa menjawab : mau seperti apa Indonesia nanti, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi 50 tahun lagi? mereka hanya sibuk sandera menyandera sesama, diam tak bergerak, hanya bisa menambal dan menambal, bagai katak dalam tempurung PARPOL, parpol sudah setara negara dengan anggota PARPOL sebagai rakyat, apapun yang menyakiti parpol berarti menyakiti rakyat. tidak ada pemimpin, yang ada pemimpin parpol dan golongan. kalau orde sekarang cerdas, sudah pasti negara ini akan menjadi negara superagri dengan petani menjadi motor utama pembangunan.
    tapi ya bagaimana “anaknya” tidak begitu, kalau “bapaknya” tidak berlagak sombong dengan angka2 kemajuan yang cuma angka2? mungkin belum pernah baca berita demi beberapa lembar rupiah bunuh2an!

  27. @mas pri
    maaf saya melebar, oya tentang oppurtunity cost, hmm.. saya tarik kata2 saya, saya tidak sepenuhnya mengerti oppurtunity cost, tapi saya mau tanya kalaulah analoginya pajak dan gayus, yang mana oppurtunity costnya? misalnya pajak diasumsikan bisa ditarik 700 angka moderat dengan mengerahkan kemampuan yang ala kadarnya, ternyata bisa ditarik 650 thanks to gayus dan rekan2, padahal jika sedikit optimis demi rakyat bisa dimaksimalkan menjadi 750 dengan kemampuan ditambah tenaga dalam dari banten yang maksimal. 50 yang mana yang oppurtunity cost? maaf saya tarik lagi kata2 saya, saya tidak mau mengerti oppurtunity cost, yang menurut saya hanyalah pantas menjadi penyebab penyesalan yang sering dijadikan sugesti2 para rahib materialis demi kemajuan diri katanya. saya masih berpegang dengan kata2 orang tua 1 burung ditangan lebih berharga dari 3 burung diudara, asal prosesnya maksimal, benar dan lurus.
    dan untuk hubungan “bapak-anak”, video game dan buku2 bermutu sama2 fasilitas, video game itu ibarat BLT yang bisa buat anak tenang dirumah biar bapak bisa tenang di rumah tetangga yang kebetulan kosong, kalau buku2? wah itu menuntut kemampuan yang lebih agar anak menyukainya, perlu waktu dan tenaga lebih, itu sih tergantung bapaknya.
    hmm.. otak sih bisa menerima penyesuaian harga, tapi hati tidak terima,apalagi kalau nanti pake acara turun harga saat mendekati pesta rakyat dan acara bagi2 video game. mungkin itu masalahnya. maaf kalau ada kata2 yang salah.

    1. @abdul rahman:

      gayus itu tidak ngambil duit dari kas negara, gayus tidak ngambil duit wajib pajak yang telah disetorkan ke negara. dia ‘cuma’ mendapat bayaran dari wajib pajak, bayaran yang harusnya disetorkan ke kas negara. jika tidak mengerti konsep opportunity cost, maka negara tidak kehilangan apapun dari aksi gayus (lha dia kan gak ngambil apapun dari negara), gayus tidak bisa dikategorikan korupsi dan kasus gayus gak bakalan digugat KPK.

      contoh lain: kita punya pilihan beli barang yang sama dari A sebesar 1000 dan dari B sebesar 2000. kalau gak ngerti opportunity cost, maka kita beli dari B itu ngga ‘rugi’. apanya yang rugi? saya bayar 2000 untuk sesuatu yang saya mau kok.

      silakan search “biaya kesempatan” atau “biaya peluang” jika ingin penjelasan dalam bahasa indonesia.

    2. @abdul rahman:

      subsidi energi itu menyebabkan populasi manusia tumbuh di atas kemampuan alam untuk menopangnya (carrying capacity). jika subsidi ditarik, maka akan ada sebagian masyarakat yang tadinya mampu, menjadi tidak mampu. gimana cara penyelesaiannya? paling gampang adalah dengan BLT (untuk sementara, kalau seterusnya, maka itu cuma mindahin persoalan dari BBM ke BLT). caranya ini bisa dibicarakan, tapi yang jelas masalah masyarakat yang menjadi tidak mampu ini harus ada jalan keluarnya.

      jepang masuk perang dunia kedua karena tiba2 diembargo amerika. jumlah populasi mereka jauh di atas kemampuan alam untuk menopang jumlah populasinya (karena gak bisa lagi impor kebutuhan dari luar negeri). mau gak mau harus perang.

      iran juga hampir masuk perang setelah diembargo barat dan dilarang bikin reaktor nuklir. untungnya ahmadinejad lebih cerdik.

      jika jumlah populasi kita di atas carrying capacity, maka mau gak mau jumlah populasi itu harus turun ke level di bawah carrying capacity. ini bisa gradual, sedikit demi sedikit menyesuaikan sesuai situasi yang ada; atau tiba-tiba, misalnya lewat perang atau kelaparan. jika subsidi energi tidak ditarik sampai terlalu terlambat, maka jumlah populasi akan berkurang secara tiba-tiba, dan ini yang gak kita inginkan.

  28. Dinaikkan atau tidak, konsumsi bbm tetap saja naik dari tahun ke tahun. Tidak ada ceritanya BBM naik lantas penggunaannya jadi irit. BBM naik bukan hal baru. Riak2nyapun sebentar, habis itu ya normal2 saja. Yg jadi masalah, naiknya BBM dijadikan ATM untuk meng adjust anggaran pemerintah biar nggak timpang. Terlalu enak buat pemerintah kalau caranya spt itu.

    Transportasi murah harusnya jadi faktor kompetitif pebisnis dalam negri untuk lebih kompetitif dibanding manca. Nilai kompetitif ini yg harusnya distimulasi pemerintah sehingga bisa meningkatkan pendapatan negara.

    Pemerintah harusnya tahun ini mampu menyeimbangkan neraca tanpa menaikkan harga BBM, dalam arti ada peningkatan/pembenahan di sektor lain. Kalau endingnya tetap harus naikin harga BBM, yah… cara lama. Seluruh rakyat yg akhirnya diajak nombok.

    1. @poside: ini pemikirannya juga terlalu pendek :). subsidi BBM masalahnya jauh lebih mengakar dan fundamental daripada sekadar masalah anggaran (walau itu juga gak bisa diabaikan). di atas saya sengaja menghindari menyinggung-nyinggung soal anggaran, tapi banyak yang merespon soal anggaran :).

      memang salah pemerintah yang pakai alasan anggaran untuk mencabut subsidi BBM, tapi sekali lagi, masalahnya jauh lebih fundamental daripada itu.

  29. Jika ketersediaannya yg terbatas lantas BBM layak dibandrol mahal, justru itu pemikiran yg lebih pendek lagi :). Negara2 yg sudah kaya raya (dgn menjajah negara seperti Indonesia ini), bisa seenaknya mengkonsumsi BBM (yg mereka sama sekali ga produksi) meski mahal karena mereka mampu, sementara kita yg miskin wajib berhemat meski minyak itu keluar di halaman belakang kita sendiri? Aneh.

    Minyak itu faktor penggerak yg penting untuk negara yg sedang tumbuh. Pada akhirnya, minyak bumi tetap habis, tapi saya lebih rela minyak bumi itu habis dengan harga murah (bagi warga kita) untuk meningkatkan daya saing negara ini daripada digunakan oleh bule2 di negara kaya yg menggunakannya untuk menikmati hidup.

    1. @poside:

      nah, omong2 tentang ‘pemikiran yang lebih pendek’â„¢ :). kutipan dari tulisan saya di atas:

      Tahukah anda bahwa tak mungkin menetapkan harga tanpa mengubah supply atau demand-nya? Jika anda di posisi pemerintah, apa yang akan anda lakukan untuk mengatur supply atau demand dari BBM?

      jadi solusinya cuma ada 3:

      1. menjual BBM di harga pasar (menghapus subsidi BBM)
      2. mensubsidi BBM dan menaikkan supply
      3. mensubsidi BBM dan menurunkan demand

      pilih mana? dan gimana caranya?

      nomer 1 gak mau. nomer 2 adalah yang dilakukan pemerintah selama ini, tapi udah gak mungkin karena minyaknya udah hampir ludes. tinggal sisa nomer 3. tapi gimana caranya?

      kutipan dari tulisan saya:

      Sadarkah anda bahwa jika produksi minyak bumi dibagikan sama rata ke seluruh penduduk Indonesia, maka setiap jiwa hanya akan mendapat 1,52 barrel/tahun, atau setara dengan hanya 242 liter minyak bumi/tahun? (dan tak seluruhnya dapat dikonversikan menjadi BBM)

      tak semudah membalikkan tangan…

      salahkan tuhan karena membuat BBM sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan…

  30. @mas pri
    maaf mas, saya hanya berbicara sesuai kemampuan saya, tapi mohon menjawab pertanyaan, bukan menyerang kekurangan untuk membuktikan siapa yg superior dan lebih mengerti inggris. rasanya konsep ekonomi jauh lebih dulu ada ketimbang orang belajar kata oppurtunity cost. lihatlah analogi mas tentang si a dan si b diamanakah letak waktu oppurtunity cost terjadi? apakah sebelumnya dia tau si a menjual lebih murah? kalau itu terjadi, tentunya insting ekonominya akan menuntunnya ke a. tapi bisa saja dia tetap memilih b walau mahal, saya kasitau rahasia kecil : si b lebih miskin dan sangat membutuhkan bantuan, mari saya perkenalkan heaven cost!! balik lagi, apakah oppurtunity cost terjadi pada saat dia ingin menilai kebijakan dia memilih membeli ke si b? maka dia cari2 info dimana yg menjual lebih murah? untuk apa dia lakukan itu? kecuali mungkin dia ingin membeli barang yg sama lagi, tapi pekerjaan dia mencari info itu bukanlah oppurtunity cost itu namanya cari cari info (menurut bahasa yg sesuai kemampuan saya), kalau itu benar maka oppurtunity cost berarti setelah satu kejadian ekonomi dengan motif ekonomi yang juga tidak masuk laporan keuangan, hanya saja diperlukan datanya untuk pengambilan keputusan2 kedepan. tapi sesungguhnya negara ini merugi kalau diliat dari oppurtunity cost, seharusnya negara bisa menjual atau menyewakan sebagian pulau atau seluruh pulau di Indonesia itu lebih menguntungkan. tapi itu tidak bisa karena akan menyebabkan membengkaknya beban dosa “sin cost”, satu lagi mengapa pemerintah tidak memperhitungkan oppurtunity cost saat menjabarkan keberhasilan2 pembangunannya? misalnya : “angka kemiskinan berkurang 20% tapi kalau bukan kami yang memimpin maka akan berkurang 50% berarti jadi -30%, untuk itu kami mohon maaf dan akan bekerja lebih giat, salam sayang.”
    tapi saya benar2 minta maaf mas kalau ada kata2 yang tidak berkenan, semua yang saya bilang tidak ada di buku dan saya mungkin tidak bisa mempertanggungjawabkannya saya hanya ingin berkomentar saja.

    1. @abdul rahman:

      tentunya contoh a & b saya di atas sudah mengasumsikan ongkos lainnya adalah setara (kalau ngga, ya ngga bisa dijadikan contoh). ongkos untuk cari barang a & b tentunya sudah diasumsikan sama.

  31. Harga murah atau mahal, suply n demand di negara ini relatif stabil. Meningkat tiap tahun. Bukan sekali dua kali lho BBM naik,.. apa BBM naik lantas demand menurun? Nggak kan? Demand meningkat krn negara ini tumbuh.

    Subsidi bertambah itu tidak masalah selama pendapatan negara juga bertambah. Yg jadi masalah itu subsidi bertambah tapi pendapatan negara stagnan, alias salah urus.

    Pilihan harusnya tetap di no 2, paling tidak untuk tahun ini. Subsidi BBM dan peningkatan supply. Yg bilang minyak hampir ludes itu siapa. Supply utk konsumsi dalam negri itu impor, dari minyak kualitas rendah yg banyak kandungan pengotornya jd emang murah harganya. Indo dijadiin lumbung limbah hasil penyulingan minyak jelek. Apalagi Petral (div jual beli minyak pertamina), kabarnya suka beli minyak jelek dr pasar gelap yg harganya super murah lantas masuk ke Indo dgn bandrol harga pasar. Selisih yg sekian puluh $/barrel itu entah masuk kantong siapa…

    1. @poside:

      demand tetap naik karena:

      1. harga BBM tetap murah
      2. populasi naik lebih cepat daripada jika BBM tak disubsidi.

      seandainya BBM dari dulu gak disubsidi, maka konsumsi saat ini kurang lebih akan tetap sama. tapi populasi ngga bakalan 250 juta, tapi mungkin cuma 200 juta. ini karakteristik subsidi energi yang akan ‘diarbitrage’ dengan ‘nambah anak’. seandainya subsidi ditambah, populasi akan nambah juga. kalau premium dijual 1000 misalnya, populasi mungkin udah lebih dari 300 juta, atau bahkan 400 juta.

      tapi akan lebih arif rasanya untuk menilai kebijakan subsidi BBM ini lebih daripada sekadar anggaran. saya selalu mengalihkan diskusi ke isu non-anggaran, tapi tetap dijawab dalam konteks anggaran, bukan cuma di sini saja :).

      gimana misalnya dengan faktor keadilan sosial. ada rakyat kecil di luar sana yang ngga mengkonsumsi BBM, dan nyaris tidak menerima imbas dari subsidi BBM. 60% BBM dikonsumsi jawa-bali, maka 60% subsidi BBM juga dinikmati jawa-bali. jika konsumen BBM bayar full, paling ngga duit itu masuk ke APBN dan output APBN bisa lebih tinggi tanpa rakyat harus bayar pajak lebih tinggi.

      pendapatan negara stagnan??? really?

  32. komentar saya Abdul Rahman tidak bisa masuk lagi padahal udah ngetik tanggapan yang panjang yang berisi pertanyaan2 agar saya bisa menambah pengetahuan, komputer saya yg salah atau komputer mas pri yang salah?? atau karena saya yg tidak punya kemampuan bahasa inggris?? mohon pencerahan.

  33. Sayangnya argumen2 di atas tidak ditonjolkan pemerintah dalam perdebatan seputar kenaikan bbm kemarin, alih2 mereka seolah terjebak dalam akrobat politik para badut2 di dpr. Dan lelucon pun semakin lengkap karena pemerintah menawarkan solusi bodoh BLSM sebagai kompensasi kenaikan BBM.

    1. @deistisida:

      karena subsidi BBM membuat jumlah populasi meningkat di atas carrying capacity SDA kita, maka akan ada rakyat yang tadinya mampu menjadi tidak mampu. dan ini harus dibenahi. pemerintah dulu pakai BLT, sekarang nawarin solusi BLSM. tapi kalau gak setuju BLT/BLSM, harusnya seperti apa?

  34. No 2 lebih bijak kawan, tapi begini pemerintah itu gak cerdas (pura2 bodoh).dulu ramai-ramai penanaman jarak sebagai energi alternatif, sekarang mana hasilnya (itu penanamannya pake APBN + APBD loh)??konversi BBM ke BBG, itu sudah isu lama. artinya dalam waktu 5 tahun terakhir banyak waktu pemerintah untuk memikirkan cara mengurangi ketergantungan terhadap BBM seperti pembangunan sarana konversi, aturan ketat konsumsi premium, bongkar mafia minyak di pertamina dll sehingga masyarakat tidak kaget ketika suatu saat BBM naik.bukan dengan bagi2 BLT yang cenderung dipolitisasi dan tidak mendidik.
    selama perangkat-perangkat itu belum disediakan dan pemerintah mau seenaknya saja mencabut subsidi BBM (tidak kreatif). maka SUBSIDI BBM tetap harga mati karena itu dah diatur dalam konstitusi (batang tubuh UUD 1945)

  35. Dengan asumsi hitungan BBM mas pri benar dan terkait subsidi BBM, saya setuju dikurangi, kalau perlu dihapuskan. Dengan mengambil prinsip opportunity cost dipersempit ke 2 pilihan subsidi atau barang publik. Saya setuju jika subsidi diahlikan 100% untuk barang publik seperti transportasi massal,pendidikan (sampai level tertentu), jaminan kesehatan (sebagian/sepenuhnya)

    Tapi bagaimana kalau pilihan opportunity cost dari subsidi bbm itu adalah korupsi, Bantuan Langsung Tunai yang justru tak produktif. Jadi akses publik ke APBN untuk masalah pengurangan subsidi ini perlu diketahui juga dan dikritisi.

    Dan yang paling penting dari pengorbanan kita, adalah jaminan pemerintah di masa mendatang. Berhubungan dengan opportunityu cost, Apa jaminan kita berkorban sekarang untuk generasi mendatang yang lebih baik atau tetap berkorban sekarang, apbn sebagian besar di korup, dan generasi mendatang (anak cucu) kita mengalami nasib yang sama dengan kita
    Ujung2nya kita berpikir untuk apa ada negara karena tak mampu menyediakan fasilitas publik yg baik, lebih baik sedikit berkorban buat negara, termasuk meminta subsidi bbm.
    Terkait BBM habis 11 tahun mendatang (jika benar), kalau negara tidak bisa memberi jaminan dengan pengurangan/penghilangan subsidi, mari kita menanggung bersama2 dengan para pejabat publik pada saat itu. (Semoga Indonesia gak bubar dan terpecah2)

    1. @keio: korupsi jangan dijadikan alasan untuk tidak membenahi sektor lain. biarkan orang2 hukum dan KPK kerja melawan korupsi, dan orang2 energi melaksanakan tugasnya. kalau semua harus nunggu korupsi 0%, ya urusannya gak bakalan beres2 :). semua masalah harus bisa dibereskan secara paralel.

  36. terkait opportunity cost, IMO ini kok konsep yang agak berandai2 ya.
    Misal saya punya sapi, sapi itu ditabrak mobil dan mati.
    Kemudian saya meminta ganti rugi ke pengendara mobil, saya minta opportunity cost akibat kematian sapi, jika sapi itu beranak akan menghasilkan sapi2 sampai 3 generasi dan susu-susu segar.
    Tapi pengendara mobil protes, justru kalau sapi itu dibiarkan hidup bisa saja akan menghasilkan penyakit sapi gila dan menyebarkan penyakit sapi ke seluruh desa, jadi dia menyelamatkan

    1. @keio: hehehe. kalau sapi ditabrak mobil, ya pengendara mobil harusnya balikin sapinya sesuai spec sapi yang dia tabrak :). itu aja. kalo pemilik sapi minta ganti ditambah anak2 sapi ya gak bisa, kecuali kalo pengendara baru balikin sapinya 10 tahun kemudian misalnya :).

  37. saya setuju, dengan asumsi kepercayaan ke pemerintah tinggi. Dan pemerintah benar b3rusaha agar korupsi dihilangkan terkait anggaran akibat penambahan masukkan/pengurangan subsidi.

    Masalah kenaikan bbm ini jadi simple, kalau kepercayaan kita terhadap negara cukup tinggi untuk mengambil kebijakan yang tepat. Jadi ada jaminan bagi kita menjadi lebih baik setiap saat.

    1. @keio: betulll. harusnya urusan BBM ini langsung diberesin waktu awal2 menjabat, sewaktu kepercayaan masih tinggi. bukan di akhir-akhir :).

  38. BBM itu kebutuhan, bukan keinginan yg tidak ada batasnya. Berapapun harganya, konsumsinya tetap sesuai kebutuhan. Saya msh ga ngerti relevansi harga BBM dgn nambah anak…

    Kenaikan BBM dampaknya tdk langsung di harga BBM itu sendiri. Krn mie instant didistribusikan pakai BBM, tentunya harganya jg bakal naik, spt semua produk konsumer lain yg penyebarannya butuh BBM. Tingkat kebutuhan jawa – luar jawa tentunya beda2 sesuai kebutuhan, klo di luar jawa kebutuhan BBMnya sedikit masa dipaksa untuk konsumsi banyak biar adil kan malah aneh. Lagian dgn mengkonsumsi lebih banyak BBM tidak menjamin kehidupan mereka lebih enak dibanding yg sedikit konsumsi BBMnya. Yg dibutuhkan luar jawa itu distribusi murah biar harga sampai di sana terjangkau.

    Harga BBM naik itu sebenarnya ga masalah selama periodenya jelas. Wong harga aja udah di set, knapa ga sekalian periode kenaikannya diset? Masa kenaikan BBM kayak mecah celengan pas lg butuh duit…

    1. @poside:

      subsidi energi itu efeknya menaikkan daya beli. tapi ujung2nya, orang yang sebenarnya cuma mampu minghidupi 1 anak, jadi merasa mampu menghidupi 3 anak, misalnya. itu kenyataan yang terjadi. ujung2nya kita hidup di atas carrying capacity sumber daya alam kita.

      soal mie instan & komoditas lain. tentu saja ada komponen subsidi BBM di situ. tapi bukan berarti harga mie instan turun 30% ketika BBM disubsidi 30% misalnya. penurunan harga mie instan akibat adanya subsidi BBM tak akan mencapai 30%. akibatnya, orang yang mengkonsumsi mie instan tapi sama sekali tidak beli BBM tidak menikmati subsidi sebanyak orang yang langsung beli BBM.

      dan ini tentu saja mengabaikan fakta bahwa subsidi ke sektor lainnya juga punya dampak terhadap harga2 di pasaran. bukan cuma monopoli subsidi BBM saja.

      soal jawa dan luar jawa. kok aneh? ini mudah dimengerti kok sebenernya. misalnya harga pasar BBM tanpa subsidi 8000, dan BBM dijual seharga 4500. kemudian mobil beli bensin 2000 liter/tahun, maka mobil itu dapat subsidi (8000-4500)*2000=7 juta/tahun. bandingkan dengan rakyat kecil yang gak beli bensin sama sekali. dia cuma dapat efek tak langsung yang gak bakalan sebesar 7 juta/tahun. adilkah ini? paling tidak kalau pengguna mobil bayar full, duitnya masuk APBN dan output APBN bisa lebih besar tanpa harus rakyat kecil ini bayar pajak lebih banyak.

      kemudian, bagaimana dengan daerah penghasil minyak. wajarkah jika minyak disedot habis2an dari riau, kaltim, kepri, kemudian 60% hasilnya dijual dengan harga super murah ke pulau jawa? memang ada ‘bagi hasil’ tapi besarnya gak seberapa, cuma 30T. sangat jauh di bawah subsidi BBM sendiri yang 123T. dan kita semua terheran2 ketika ada sentimen separatisme. tanya kenapa?

      mekanisme kenaikan BBM memang gak sempurna. tapi lebih bijak kalo kita kasih masukan yang konstruktif ketimbang cuma teriak2 “POKOKNYA STOP KENAIKAN BBM! POKOKNYA!”, apalagi kalau anarkis.

  39. @Priyadi: BLSM mungkin efektif untuk sementara mendinginkan suasana hati “rakyat” yang terlanjur terbakar oleh naiknya harga BBM, tapi selanjutnya apa? Toh rakyat yang diberi bantuan itu akan tetap sama pendapatannya seperti saat sebelum BBM naik, padahal harga kebutuhan sudah melonjak tinggi. Pemerintah seharusnya menawarkan solusi yang lebih berdampak panjang, yang membuat rakyat lebih berdaya. Program subsidi pendidikan dan penciptaan lapangan kerja sepertinya lebih masuk akal dibandingkan dengan program bagi2 uang yang untuk penyalurannya saja masih belum ada kata sepakat, karena partai2 kanibal pemakan daging rakyat itu berlombalomba menjadi semacam robin hood yang membagi2kan uang untuk rakyat, yang ujung2nya kita bisa tebak agar citra mereka terdongkrak di pemilu 2014 nanti…

    1. @deistisida:

      terus terang saya sendiri gak tahu solusi mana yang lebih bagus. subsidi pendidikan, lapangan kerja itu jangka panjang. sedangkan kebutuhan pokok itu jangka sangat pendek.

      yang saya pikir kanibal itu adalah partai2 yang anti penghapusan/pengurangan subsidi BBM. mereka rela mengorbankan kita semua demi suara di pemilu nanti. tapi kalau mereka yang jadi pemerintah, mereka juga bakalan melakukan hal yang sama.

      kalau saya sih mungkin kenaikan BBMnya yang diganti, misalnya dinaikan setiap bulan sebesar 2 x BI Rate. minim penyewengan, juga harusnya gak perlu semacam BLT.

  40. Bagaimana dengan alternatif energi yang harus dipakai Indonesia?
    Saya dengar implementasi energi thorium merupakan alternatif yang sedang dikembangkan diluar. Tapi di Indonesia tampaknya belum ada. Dan saya juga tidak melihat bagaimana energi listrik bisa dipakai dalam transportasi.

    1. @anonymous: energi alternatif gak mungkin masuk lah ke indonesia. gimana caranya? lha BBM aja disubsidi. tanpa subsidi BBM saja energi alternatif sudah sulit bersaing, apalagi kalau BBM disubsidi.

  41. Harga suatu produk ditentukan oleh titik temu antara grafik penawaran dan permintaan. Itulah yg kita dapat di ilmu ekonomi SMU. Permintaan BBM dunia sedang melonjak, sedangkan penawaran tak mungkin digenjot karena BBM adalah sumber daya alam tak terbarukan, eksplorasi makin sulit dan eksploitasi semakin mahal. Sangat masuk akal kalau harga BBM naik, ya kan?

    Rakyat kita (termasuk saya sendiri) selama ini dibuai oleh harga BBM ‘murah’ yang disubsidi pemerintah. Bahayanya, fondasi ekonomi kita dibangun di atas asumsi yang semu (patokan harga BBM subsidi) sehingga harga komoditi kita juga jadi ‘semu’. Bayangkan kita membangun rumah yang megah mentereng di atas fondasi pasir… Itulah yang dilakukan rejim terdahulu (lihat link terakhir di artikel ini)pada kita.

    Pemerintah2 selanjutnya sadar akan bahaya ini dan berusaha m’perbaiki, tapi harus dilakukan dgn hati2 supaya tak terlalu mengguncang sendi ekonomi rakyat. Naiknya harga BBM akan meningkatka kemiskinan DALAM JANGKA PENDEK, tapi akan memperbaiki harga komoditi, memperkuat fondasi ekonomi, dan ujung2nya mensejahterakan masyarakat DALAM JANGKA PANJANG.

    Kebijakan naikkan harga BBM tak mungkin populer di mata rakyat, rakyat pasti ingin harga BBM murah, kalau perlu gratis, tis, tis! (termasuk saya hehe). Tapi coba tanya : APAKAH KEBIJAKAN YANG POPULER ITU PASTI BENAR? TIDAK. Kenyataannya harga BBM di pasar internasional terus naik, fakta itu tak bisa disangkal dgn popularitas. Kita manusia ditakdirkan punya sifat rakus tamak, ingin harga BBM murah kalo bisa gratis, tapi itu tidak mungkin, kalau dipaksakan keuangan negara akan jebol, bangkrutlah kita… Kita harus ambil keputusan berdasar fakta, pertimbangan akal sehat, dan kebenaran… Bukan berdasar popularitas semata.

    Kita tahu pemerintah saat ini tak bebas dari KKN juga. Kita wajib mengutuk dan menyalahkan tindakan mereka yang salah, tapi juga wajib menyatakan tindakan mereka yang benar sebagai benar. Pemerintah SBY coba perbaiki fondasi ekonomi supaya ekonomi kita jadi kuat dalam jangka panjang, ITU TINDAKAN BENAR, haruskah kita cemooh karena mereka tersangkut kasus KKN lain? Biarkan mereka bekerja memperbaiki keadaan, untuk kasus KKN bawalah ke KPK lalu ke pengadilan, itu urusan mereka.

    Bagi yang masih ngotot ogah naikkan harga BBM, selamat ya, pemerintah masih membiarkan anda bermimpi beberapa bulan ke depan lagi. Tapi ingat, suatu saat mimpi itu akan berakhir. Pada saat mimpi itu berakhir, kita semua harus siap. Suka tidak suka, mau tidak mau

  42. Produksi minyak kita tu ga dinikmati kita sendiri. Hasilnya diekspor krn kualitas minyak kita bagus. Minim limbah. Yg kita konsumsi tu impor.

    BBM itu utk menggerakkan ekonomi. Entah untuk berangkat ngantor, distribusi produk, atau sekedar belanja ke mall. Berapapu harga BBM, dampak akhirnya tetap ke konsumen, n rakyat kecil yg paling ngerasa. Nilai “kenikmatan” itu tetap sama. Kalau Bos2 yg bawa mobil itu dipaksa bayar BBM mahal, mereka juga jual produk n layanan mahal. Distribusi mahal, dst. Endingnya tetap end user yg kena.

    BBM itu kebutuhan. Nilai subsidi yg dlm kalkulasinya berapapun, entah itu berapa juta per tahun per orang…, itu bukan suatu kenikmatan krn itu terdistribusi ke bawah, digunakan untuk suatu proses ekonomi. Meski kita saat ini dpt subsidi, apa kita pernah berfikir..”Wah tahun ini dpt subsidi BBM 7jt…buat karaoke aja yuk….” … nggak ada yg seperti itu.

    1. @poside:

      Produksi minyak kita tu ga dinikmati kita sendiri. Hasilnya diekspor krn kualitas minyak kita bagus. Minim limbah. Yg kita konsumsi tu impor.

      sama aja. ini cuma optimasi di lapangan gimana caranya subsidi BBM bisa dipertahankan selama mungkin.

      BBM itu utk menggerakkan ekonomi. Entah untuk berangkat ngantor, distribusi produk, atau sekedar belanja ke mall. Berapapu harga BBM, dampak akhirnya tetap ke konsumen, n rakyat kecil yg paling ngerasa. Nilai “kenikmatan” itu tetap sama. Kalau Bos2 yg bawa mobil itu dipaksa bayar BBM mahal, mereka juga jual produk n layanan mahal. Distribusi mahal, dst. Endingnya tetap end user yg kena.

      betul. pasti ada efek pengurangan subsidi ke barang2 lain. tapi besarnya gak akan sebesar efek pencabutan subsidi ke BBM itu sendiri. ini kan udah dibahas di atas. kalau boss indomie dipaksa bayar BBM naik 30%, ya kenaikan indomienya gak bakalan 30%. contoh betulan: tahun 2005 BBM naik 150%, tapi inflasi cuma 17%.

      BBM itu kebutuhan. Nilai subsidi yg dlm kalkulasinya berapapun, entah itu berapa juta per tahun per orang…, itu bukan suatu kenikmatan krn itu terdistribusi ke bawah, digunakan untuk suatu proses ekonomi. Meski kita saat ini dpt subsidi, apa kita pernah berfikir..”Wah tahun ini dpt subsidi BBM 7jt…buat karaoke aja yuk….” … nggak ada yg seperti itu.

      lah justru itu kan masalahnya? BBM disubsidi tapi praktis konsumen gak sadar kalau disubsidi. akibatnya orang yang tadinya cuma sanggup beli rumah sederhana, jadi mampu beli rumah mewah. yang tadinya cuma sanggup punya 1 anak, jadi punya 2 anak. beda kalau subsidi ke orangnya atau subsidi ke sektor produktif.

  43. Sadarkah anda kalau 1 liter air mineral dihargai Rp 3,000 dan 1 liter premium hanya Rp 4,500?

    Air = Practically everywhere
    Minyak = Jutaan tahun, butuh tenaga ahli, mesin2 dan pengolahan dll.

    Singkatnya, setuju BBM naik!

  44. Persoalan energi (baca ketahanan energi) di negeri ini memang sudah seharusnya dari dulu diselesaikan secara menyeluruh, bukannya hanya secara parsial dengan menaikkan harga bbm bersubsidi pada suatu waktu tertentu. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh Pemimpin yang mumpuni. Kalau toh memang suatu saat pemerintah menaikkan harga bbm, mau tidak mau kita harus bisa menyiasatinya agar kualitas hidup kita tidak menjadi lebih buruk. Dan di tahap ini kita hanya bisa berdoa, Semoga Allah SWT mau memilihkan pemimpin negara yang punya konsep jelas untuk menyelesaikan masalah energi ini dan punya “NYALI” untuk mewujudkannya. He he he, ngarep dot com buat tahun.

  45. Efeknya ke yang lain itu justru yg terasa besar. BBM naik 30%. Untuk BBM sebulan tadinya habis 100rb jadi 130rb. Ga kerasa. Barang2 lain rata2 naik cuman 5-10%, tapi belanja utk yg lain itu per bulannya nyampe 2jt. 5-10% dari 2juta itu jauh lebih kerasa drpd naiknya bea BBM yg cuman 30rb.

    Dana utk subsidi BBM terdistribusi scr lebih alamiah ke bawah, relatif lebih aman n merata dgn penyelenggara negara korup spt saat ini. Subsidi ke sektor lain (yg nampak begitu bijak) hampir tidak beda pelaksanaannya dengan alokasi anggaran belanja negara saat ini. Bocor kemana2, proyek2 sekedar untuk mengeluarkan dana…, malah banyak anggaran tdk terserap krn utk mengeluarkan dana,.. oknum diatas sana masih suka minta pelicin…, alhasil dana triliunan dibiarin nganggur tdk terserap…, bahas yg ginian cuma bikin jengkel aja.

    1. @poside:

      5-10% itu tiap tahun kenaikan barang juga segitu. bisa lihat data di BPS.

      memang jangka pendek harga2 bakalan naik. tapi untuk jangka panjang, populasi terkontrol, inflasi turun, kenaikan harga2 gak bakalan sebesar ketika BBM disubsidi. cuma ya kebanyakan dari kita cuma berpikir pendek dan gak jauh ke depan.

      seandainya 10% orang kaya menerima 90% subsidi pendidikan, maka efeknya akan sama saja, subsidi tersebut tetap akan ‘trickle down’ dan mempengaruhi harga barang lainnya. tapi kita semua tetap akan teriak2 “subsidi tak tepat sasaran!” “subsidi bocor kemana2!”

      berbeda kalau 90% subsidi BBM dinikmati 10% orang kaya. kita akan diam & bela subsidi itu. kenapa? karena ‘kebocoran’ dianggap ‘wajar’ dan bukan sebagai suatu yang salah.

  46. kalau hubungan cuaca dingin dan pertambahan populasi saya percaya.. tapi bbm dengan nambah anak kok kayaknya maksa? kata capacity dalam carrying capacity lebih dekat dengan besaran nafsu ketimbang besaran populasi, bahkan bumi tak cukup luas untuk satu orang yang tamak, materialis dan oppurtunis!
    kalau soal kenaikan bbm dan masalah turunan seperti demo dsb, ya ini bukan lagi masalah logika tapi udah masalah hati, apa yang mau diperbuat kalau soal hati? sedangkan putih saja kelihatan abu2 bahkan hitam.para bangsawan disana sedang menuai apa yang dulu mereka tanam, apa yang dulu mereka tinggalkan dan biarkan, tidak mungkin tidak ada yang sepintar dan setau mas pri diantara mereka, tapi tidak berbuat apa2 karena mereka hanya berpikir 5 x 2 periode. saatnya keadaan mendesak mereka pikir dengan menekan tombol emergency kenaikan harga akan selamat. ternyata tidak secepat dan semudah itu, sedangkan mereka tidak bersepeda pergi kerja.
    mengenai yang membenci harga tidak naik, tidak sesederhana itu, kecuali pernah antre seharian dan berpanas panasan demi 150 ribu yang disunat 50% itupun harus menghadapi pandangan remeh dan sepele yang memaksa kepala tertunduk. pernah dengar orang tewas gara2 antre zakat yang tidak seberapa besar menurut kantong anda? jangan2 anda berpikir mereka itu adalah orang2 bodoh dan itu adalah salah mereka kenapa bisa miskin.
    mengenai parpol lain yang mengambil kesempatan dalam hajatan ini, wow anda tidak lebih baik dari mereka.
    mengenai demonstran anarkis, tidak ada yg membenarkan itu, janganlah seperti pahlawan pembela kebetulan, apalagi kalau ada yang bermotif ekonomi, anda tidak lebih baik dari penghianat.
    mengenai Indonesia, kita sudah bergerak menuju bangsa yang tidak berbudaya (kalau tidak beragama), hedonis, materialis dan kampungan. sadarkah kalau kita diperlukan untuk dikuras sumber dayanya, setelah diolah menjadi barang jadi, sebagai pasar yg potensial dengan bumbu2 modern?? ayoo, buktikan kita punya ciri dan kemampuan sendiri, tanpa menelan mentah2 semua teori2 dari luar. apa yang dari luar belum tentu lebih baik dan belum tentu ikhlas dan terbebas dari konflik kepentingan.
    ayoo Indonesia!! berubahlah mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan dari saat ini juga. (meminjam kata2 khas AA Gym), jangan terlalu dipenuhi kebencian kepada penguasa, karena kita belum tentu lebih baik dari mereka, jangan tunggu mereka berubah untuk berubah. kita adalah saudara, kita bersaudara.

  47. oya satu lagi : hidup petani Indonesia!! mari berbangga hati sodara2ku! walau kita tak sepenuhnya dapat balasan yang cukup secara ekonomi, walau kita ini merugi kalau dilihat dari prinsip oppurtunity cost, dengan atau tanpa bantuan penguasa, kita akan wujudkan Indonesia sebagai negara adi kuasa pangan teman2ku! walau kita dipandang sebelah mata oleh para calon mertua dan para bangsawan kaya yang memakan keringat kita, walau bbm harus naik yang akan menambah ongkos distribusi kita, melemahkan daya saing harga produk kita, menambah mahal pupuk kita, dan sebagai alasan para tengkulak membayar rendah produk kita, kita bisa sodaraku!! karena suatu saat mereka sadar, pertanian lah kekuatan kita, mereka sadar mereka tidak bisa memakan gadget dan meminum minyak, Tuhan akan membayar oppurtunity cost kita dengan hitungan yang memuaskan.. salam sodaraku!

  48. Mendingan subsidi BBM dihapus, kalo perlu gak usah jual BBM :P. Asal di Indonesia transportasi masal cukup dan layak. Saya lebih suka pake transportasi umum, misal subway, monorail, KRL, dll, untuk pergi kemanapun, masalahnya di Indo gak ada. Di jkt aja cuman busway yg kondisinya ‘baik’ itupun bus, yg kapasitasnya kurang lebih 50 orang, lah kalo kereta kan bisa 10x nya, plus pake listrik, bukan BBM.
    Coba ada jaringan kereta listrik yg sangat baik di Indo terutama kota-kota besar. Plus nya pake kereta : gak macet, murah, gak keujanan (dibanding motor, saya pake motor :D ), minusnya cuma 1, harus sedikit jalan dari dan ke stasiunnya, tapi kan sehat.
    Coba ada kereta dai bandung ke pangalengan yg jaraknya 40km (tempat dulu saya kerja), mungkin cuma 40 menit saya dah bisa nyampe dan bisa tiap hari pulang pergi, kalo pake mobil 2,5 jam (macet, dll).
    Satu permasalahan di Indo yg juga cukup parah yaitu TRUK. Truk selama ini dipake buat angkut barang atar kota, dimana lambat (overweight sampe 3x kapasitasnya), pake BBM, polusinya parah, ongkosnya mahal. Coba ada kereta (kereta lagi..) atau setidaknya jaringan jalan bebas hambatan di Indo sudah cukup, kan bisa pake trailer (masih truk, n pake BBM) tapi setidaknya liter per kg barang yg diantar jauh lebih kecil, waktu tempuh jauh lebih cepat, dll –> cost lebih sedikit –> BBM naik gak masalah, balik lagi, liter per kgnya sangat efisien. dah segitu dulu aja, bingung sendiri jadinya :D

  49. Dgn subsidi yg makin menipis, negara ini makin mirip dgn negara maju dgn bea hidup tinggi, sementara scr infrastruktur, produktifitas dlsb, kita masih tertinggal.. apa lg yg menarik dari Indonesia? Klo bea hidup naik, UMR lantas juga terpaksa naik, dgn birokrasi yg masih seperti ini, siapa yg mau bangun pabrik di sini? Yg udah adapun paling lebih memilih tutup pabrik n pindah ke malaysia ato thailand. Kontrol populasi via penghapusan subsidi mungkin sukses, tapi caranya bakal mengenaskan.

    BBM naik sebenarnya wajar n oke2 aja, tp bukan dgn revisi kayak mecah celengan saat kepepet spt saat ini. Harusnya kenaikan itu terjadwal jadi merupakan komitmen bersama. Bukan buat nutup lubang tp dilakukan bertahap mengikuti pertumbuhan daya saing yg kita miliki.

    1. @poside:

      terbalik, negara maju bisa maju salah satunya justru karena gak ada subsidi BBM, termasuk negara2 yang produksi BBMnya tinggi (rusia, amerika, canada, uni eropa, skandinavia, china). pertumbuhan populasi mereka relatif rendah. budget untuk sektor produktif (infrastruktur, pendidikan) sangat tinggi.

      jangan takut gak kompetitif, nilai tukar akan otomatis menyesuaikan sampai kita jadi kompetitif lagi.

      tapi paling ngga sekarang kita sudah setuju kalau subsidi harus dihapuskan. walaupun caranya belum ideal.

  50. Saya gak bisa bayangkan wajah rakyat yg kurang mampu, begitu tahu bulan depan mereka tidak bisa sedikit meringankan beban hidup huuft

  51. Subsidi BBM diperlukan justru karena di luar sana udah ada negara yg maju duluan. Subsidi jd semacam alat dumping biar industri negara berkembang punya daya saing melawan negara2 maju. Negara2 yg maju duluan itu banyak faktor penyebabnya, jgn lantas semua2nya direlasikan dgn ada atau tidaknya subsidi, apalagi masalah beranak – pinak.

    Daya saing yg mempengaruhi nilai tukar, yg imbasnya mempengaruhi harga BBM dalam negri, bukan sebaliknya. Makanya hg BBM perlu dihitung cermat biar pas dgn kemampuan bersaing kita. Terlalu murah atau terlalu mahal akibatnya sama buruknya. Misal bensin jadi 8000 tanpa subsidi, lantas daya saing kita jadi sangat2 lemah, pabrik2 pada tutup, rupiah tdk berharga… sedolar jadi 16000,..niatnya menghilangkan subsidi malah subsidinya jadi lebih gedhe lagi ntar…

    Yg kita harapkan kan negara yg punya daya saing kuat tanpa harus dibantu subsidi.., tp untuk saat ini, kayaknya masih belum deh…, subsidi BBM masih penting utk negara ini.

    1. @poside:

      hehehe, cara pandang yang benar2 terbalik :). apapun efek baiknya, subsidi BBM jangan dianggap sebagai solusi, tapi sebagai masalah yang harus dipecahkan. alasannya kan harusnya udah sangat jelas sekali: suatu saat akan habis. jadi ya kembali lagi ke pertanyaan2 saya di atas :). kalau ngga sekarang, kapan dicabutnya? dan kenapa? jangan lupa, waktu kita gak banyak, mungkin cuma 5-10 tahun lagi.

      sementara negara2 lain makin kompetitif dengan membangun infrastruktur, kita malah mengesampingkan infrastruktur dan dengan berdarah2 mempertahankan subsidi dengan alasan “jika subsidi dicabut kita ngga kompetitif lagi”. tanya kenapa?

    2. @poside:

      jangan takut kalau nilai tukar turun. malah bagus, jadinya industri & ekspor kita berkembang, barang impor jadi mahal. cina malah sengaja memperlemah kursnya, biar lebih kompetitif.

      pemerintah sekarang maunya kuat2an kurs. kenapa? karena tekanan inflasi, salah satunya ya lagi2 akibat subsidi BBM puluhan tahun.

      jadi jangan salahkan yang mencabut subsidi BBM, salahkan yang pertama kali membuat kebijakan subsidi BBM.

  52. @mas pri
    ya saya tidak tau apa itu oppurtunity cost, tapi saya mengerti essensinya, saya rasa mas pun seperti itu, atau sebaliknya mas tau tapi tidak mengerti. saya bilang begitu karena mas pun tidak menjawab dari awal. hanya mereka reka.
    saya mengerti karena kami pun petani idealis seharusnya telah meninggalkan apa yang kami tanam kalau kami memikirkan oppurtunity cost, tapi kami lebih memilih tetap menanam produk yg sama tidak beralih ke perkebunan yang lebih menguntungkan secara ekonomi, karena dengan lahan yang sama, modal yang hampir sama tetapi berbeda karakteristik tetapi hasil bisa jauh berbeda. tapi kami lebih memilih bertahan dan mensukuri apa yang kami dapat dan menghibur hati kami karena kami tau orang2 seperti mas pri membutuhkannya agar bisa bertahan hidup. apa mau mas pri kami mengerti oppurtinity cost?? pasti tidak, tapi saya penasaran, apa mau mas pri kalau kami mengerti oppurtunity cost? biar saya cari data2 perbandingannya kalau kami memilih meninggalkan pertanian beralih ke perkebunan, dan kami pun akan membagi bagikannya ke petani hortikultura lain. sudahlah, lebih baik bagi anda kami tidak mengerti.

  53. maaf mas, tetapi dari sekian banyak komentar mas, seperti tergambar kalau komentar mas tidak sepenuhnya dari hati, seperti ada konflik kepentingan disitu.. apa ada hubungannya dengan bagian paling atas kanan dibawah gambar mas pri?, tapi saya pasti salah.. ah saya becanda kok..

    1. @abdul rahman:

      anda pikir kwik kian gie, rizal ramli dan ichsanuddin noorsy itu gak dapat bayaran apa2 ketika cuap2 di tvone? kenapa saya gak dengar anda gak tuduh mereka2 itu punya konflik kepentingan? sebagai informasi, saya gak dapat apa2 dari kencleng itu. seumur hidup saya cuma dapat sekitar 20 ribuan dari situ.

      anda dan saya itu sama saja, sama2 punya hati nurani. perbedaannya, saya tahu situasinya, saya punya data2 & fakta. anda gak punya. tapi karena saya pro pencabutan subsidi BBM, anda lalu tuduh saya tak punya hati nurani. dan ketika saya kasih data2 dan fakta2, anda memilih untuk menutup mata. data dan fakta itu bukan karangan saya lho.

      kalau gak punya hati nurani, saya gak bakalan bahas dari sisi keadilan sosial (baca pertanyaan 12, 13, 14). dan korban ketidakadilan sosial dari subsidi BBM ini ya anda2 sendiri yang rakyat kecil.

      bukan saya gak tahu ada efek jelek dari pencabutan subsidi BBM. saya tahu persis, tapi saya juga tahu kalau subsidi dipertahankan, dalam jangka panjang efeknya akan jauh lebih jelek lagi. pemerintah juga tahu itu, mereka milih pakai BLT/BLSM untuk mengatasi masalah jangka pendek pencabutan subsidi BBM. tapi hanya karena penyaluran BLT bermasalah, anda gak setuju BLT. menurut anda harusnya gimana? tapi jangan bilang “POKOKNYA BBM gak boleh naik.”

  54. Hehe,.. kurs yg sengaja dibikin lemah sama yg lemah alamiah krn miskalkulasi itu beda dong mas. China siap dgn industrinya. Mulai staples sampe alat berat mereka bikin. Lha kita? Klo nilai tukar turun, boro2 ningkatin export, klo kolaps iya, wong beli alat produksinya aja dah impor, ngutang,.. nyicilnya senin kemis…

    Btw, BBM mo habis aja kok jadi masalah to mas,…perkara bakal habis itu kan udah pasti. Yg jadi masalah tu barang mo abis n kita cuman kebagian dikit….hehe

    1. @poside:

      haha lagi2 terbalik nih hubungan sebab akibatnya :)). cina bisa produksi macam2 itu ya karena dari dulu taktiknya ya melemahkan kurs. bukan terbalik, karena sekarang bisa produksi macam2, lalu melemahkan kurs :). kurang lebih sama lah dengan “karena saya jalan2 pakai payung, maka terjadi hujan” :)

      lho apanya yang cuma kebagian dikit? justru konsumsi kita udah jauuuuh di atas produksi. dan kalaupun ada yang gak kebagian, ya itu justru gara2 subsidi BBM. coba lihat lagi pertanyaan 3, 12, 13, 14 di tulisan saya kalau mau lihat dari aspek keadilan sosial.

  55. @dani prasetyo
    posting anda terasa menyejukkan, itulah sebenarnya pokok permasalahannya, tapi suka tidak suka, bagus tidak bagus pemimpin kita pastilah direstui ALLAH SWT untuk jadi pemimpin, baik sebagai berkah maupun hukuman, kita2 saja yang harus pandai mencari hikmah dan kemudian memperbaiki diri.
    @ poside
    posting anda mewakili sebagian besar pemikiran rakyat, taruhlah program pemerintah baik dari niat baik, tapi program satu hal, eksekusi adalah satu lainnya, dimanapun letak kegagalannya baik program yg salah, atau eksekusi yang salah, atau sosialisasi diantara rencana program dan eksekusi program, adalah kegagalan tanpa alasan apapun.
    @ mas pri
    cakrawala berpikir dan pengetahuan anda sangat luas, gaya bahasa dan rasa humor anda enak dibaca, saya kagum dengan anda, tapi maaf mas, terkesan sombong. ini kritik membangun mas.

  56. Ya kan kalau bbm naik, harga yang lain juga ikut naik. Jadinya protes.

    Mungkin mereka itu protes karena, bbm naik tanpa ada kompensasi lainnya (perbaikan di sarana transportasi lainnya)

    Klo orang2x yg di daerah mungkin gpp bbm naik, yang penting stocknya ada

  57. Hehe.., kok jadi sebab akibat sih. Yg diatas tu bukan naratif, bukan sebab akibat yg saya maksud. Berbasis saat ini, china udah mature metodenya krn emg dah lama prosesnya. Kita ga bisa spt china. Cuma di china tenaga kerja murah bisa disuruh kerja 14 jam sehari n ga demo, paling2 bunuh diri masal. Klo di sini ya bakar2an ban dimana2. Kondisi politiknya aja udah beda.

    Bicara konsumsi BBM dalam negeri jgn dikaitkan ma produksi minyak dlm negri. Itu kan dah beda urusan. Udah produk A dan produk B. Konsumsi minyak negara yg tumbuh kan wajar meningkat terus, china misalnya. Kebutuhan minyak mereka meningkat pesat krn industrinya tumbuh pesat. Yg jd masalah di Indo kan konsumsinya melebihi budget subsidi yg dialokasikan.

    Dilihat dr politik, pemerintah ingin naiknya skr jd pas pemilu nanti efek kenaikannya udah mereda, sementara partai lain mikir sebaliknya. Diundurlah sebentar… naiknya deket2 pemilu aja gitu, biar pas nyontreng sebelnya sama pemerintah masih kerasa, hehe…

    1. @poside:

      Bicara konsumsi BBM dalam negeri jgn dikaitkan ma produksi minyak dlm negri.

      lho kenapa? itu adalah segalanya. itu sebabnya ada subsidi BBM. orang2 sibuk ngutip pasal 33 untuk dukung subsidi BBM. jadi menurut anda, seandainya indonesia bukan produsen BBM, maka BBM tetap harus disubsidi???

  58. Ada Org2 yg biasa hidup dalam kemiskinan berkata:”Jgn kalian berdemo mengatas namakan kepentingan kami,kami sudah terbiasa hidup serba susah,BBM tdk naik pun kami tetap susah.Ketika mendengar BBM akan naik saja kalian baru ingat kami.Setiap hari kami sudah kelaparan.
    KAMI SUDAH TERBIASA DAN KAMI TIDAK MENYERAH TETAP BERJUANG & BERUSAHA,sebenarnya KALIAN HANYA TAKUT MENJADI GOLONGAN SEPERTI KAMI,ORANG YG HIDUP DALAM KEMISKINAN.
    KAMI TIDAK PERLU ULURAN TANGAN KALIAN (BLT), YANG KAMI INGINKAN JANGAN KALIAN MENGHALANGI (korupsi) PERJUANGAN KAMI YANG HANYA SEKEDAR TUK BERTAHAN HIDUP

  59. Saya sih setuju dengan BBM naik, namun disertai dengan transparansi pengelolaan migas.
    Dosen saya yang bekas orang dalam pertam*na pernah cerita, sindikat yang ‘bermain’ di pertamina sudah terlalu masif, sehingga dirut dan direktur yang berintegritaspun malah disingkirkan. Sistem yang sudah dibuat untuk menjamin kehandalan pengelolaan minyak malah ndak jadi diimplementasikan. Bahkan ketika rapat kerja dengan DPR pun daftar pertanyaan yang diajukan anggota dewan dikirim dari sumber luar. Tanya kenapa…??

    **akhirnya mas pri ngeblogh lagiii**

  60. Sebenarnya yg saya maksud relasi itu dlm kaitannya dgn supply n demand, tp ya gpplah.. lanjut aja…

    Indonesia produsen atau bukan, subsidi BBM secara gradual harus dihilangkan, cuma jgn dengan cara seperti saat ini. Revisi? ..Harusnya terjadwal dgn komitmen bersama, jadi tiap kali BBM naik (subsidi dikurangi), industri siap, rakyat juga siap. Jangan sampai menaikkan harga BBM jadi semacam ATM, dana instant, atau ritual mecah celengan buat pemerintah yg timingnya bisa seenaknya. Enak di pemerintah ga enak buat yg lain, yg juga bikin perencanaan anggaran masing2.

    1. @poside:

      bagus kalau anda sekarang sudah mengerti :). saya sepakat kalau cara mengurangi subsidi ini memang masih belum sempurna. lain kali akan saya buat tulisan tentang ini.

  61. Poin 12 dan 13 itulah sebenarnya yang memicu ada reaksi juga menolak kenaikan BBM (meski, setidaknya di daerahku, tidak mutlak menolak penghapusan subsidi). Aku tak tahu harus setuju atau tidak denganmu, Bung Pri, tapi mari kubagi pengalaman sedikit:

    Di daerah kami di Aceh, dengan harga BBM 4500 per liter, harga BBM di kabupaten-kabupaten bisa tembus di atas 10.000 atau 15.000, persis postingan teman asal Kalimantan. Itu masih mendingan. Kabarnya di Papua, harga bensin bisa mencapai 18.000.

    Ini sebuah hal yang tidak adil. Propinsi seluas kami yang lebih luas dari Jakarta, miskin SPBU dan BBM sering langka. Sememtara kalian/mereka yang di Jawa dan di Bali, menikmati BBM bersubsidi dengan SPBU seperti jamur di musim hujan. Ada dimana-mana, gampang ditemui seperti aneka waralaba. Jika bicara soal kenaikan BBM, orang daerah seperti kami menolak dengan alasan, harga sekarang saja sudah mahal, apalagi kalau sebentar-bentar SPBU tutup dan ditempel palang: MAAF, SEDANG KOSONG. Yang antri di pinggiran SPBU sudah macam orang kenduri, ramai dan duduk sambil makan/minum menunggu minyak datang sesuai jatah dari Jawa. Aku tak menolak subsidi dihapuskan, tapi kalau imbas dari kenaikan BBM bermakna kami di daerah mesti menanggung BBM sampai nanti tembus diangka yang sama atau lebih dari mereka yang di Papua, aku kira wajar kalau kami di daerah menolak. Atau ada cara lain? Temanku berpendapat, naikkan saja di Jawa. Toh di sana yang paling rakus makan minyak, dan paling bejibun kendaraan. Atau hapuskan subsidi di Jawa tapi jangan naikkan harga, sehingga step-by-step seluruh daerah akan dicabut subsidi perlahan-lahan. Aku cenderung setuju pada gagasan temanku itu, karena memang kami tak pintar-pintar benar soal hitung-hitungan subsidi dan kenaikan BBM, cuma memandang dari sudut pandang sederhana orang daerah luar Jawa. Naif mungkin, tapi begitulah adanya.

  62. @maspri
    maaf ya mas, saya cuma becanda kok kemarin, mgkin karena kesal.. sudahlah..
    tapi kliatan lo si masnya membaca komentar hanya sepintas lalu saja dan langsung memvonis yang justru kalau dibaca benar2 sudah terbantahkan sendiri, jadinya kesel kemarin.. tapi ya sudahlah namanya juga pengen nambah2 ilmu dan asyik juga ternyata tanya jawab.
    ya saya gak punya data, tapi berpikir rasional saja, misalnya mas punya data pertanyaan pertama pastinya validkah data tersebut? kedua, kalaupun benar penelitian yang dilakukan pastinya tidak mengikutkan semua faktor dan mempergunakan asumsi2, misalnya minyak akan habis dalam sekian tahun kalau diasumsikan tidak menemukan sumber baru, penggunaan tetap atau tumbuh stabil sekian persen. apalagi mengenai kehidupan seperti carying capacity yang mas sebut itu, tidak ada faktor sekecil apapun yang pantas dihilangkan, semuanya sangat menentukan bahkan seekor nyamuk pun, jadi tidak mungkin pasti, bisa juga jauh dari kepastian, kalau pasti sudah banyak tuhan. paling tidak teori2 seperti itu digunakan sebagai peringatan saja agar lebih hati2, tapi tidak untuk alasan pembenar apalagi sebagai senjata untuk menyalahkan yang lain.
    yang terakhir siapa bilang saya gak setuju penyesuaian harga bbm? kan sudah jelas di komentar pertama saya?
    tapi sudahlah, lebih baik kita membiasakan diri bersepeda, badan jadi sehat, pikiran pun jadi tenang..
    salam sahabat maspri, salam buat keluarga…

  63. @maspri
    oya maspri nanya klu gak blt apa solusinya, hmm klu untuk tujuan penyelamatan jangka menengah-panjang ya banyak tapi klu jangka pendek ya.. hmm bentar tak pikir2 dulu..
    kalau blt itu kira2 maksudnya untuk kompensasi biaya hidup keluarga miskin dari efek kenaikan harga yang mungkin terjadi agar tetap bisa hidup, kasarnya nambah uang makanlah, tapi prakteknya sulit dari awal sampai ke tangan yang berhak (walau sulit tetap bisa dilakukan), juga rentan masalah apabila sudah diterima karena berbentuk uang cash bisa aja buat modal judi atau rokok si bapak. oya! langsung saja paket sembako yang dikasi, ntah titip di kelurahan atau sistem kupon, berasnya dari bulog tapi harus dari petani lokal kualitas sedang, jangan yang berulat seperti sekarang ini. ada telor n mie instant.. kayak gitulah kira2, tapi klu untuk jangka menengah panjang ya pastinya di proyek infrastruktur padat karya banyain yang buat kemajuan pertanian.. yah gitulah kira2 dari saya..

  64. Tuh kan…
    Kenaikan BBM ga dilolosin, pemerintah lantas ada niat buat ngirit. Anggota dewan juga diminta ga jalan2 ke luar negri lagi…Nyekik sumber dana pemerintah, anggota dewan juga balas dicekik. Ntar para pejabat paling2 juga saling bisik.. klo korupsi jgn banyak2…hehe, dompet lagi tipis.. mesin ATMnya ngadat…

  65. doktrin bahwa Indonesia negara “kaya minyak” udah mesti dihilangkan, hal tsb. mengakibatkan pola pikir boros energi bagi masyarakat

  66. Klo dalam bahasa akuntansi itu ada istilah “deplesi” yaitu nilai pengurang bagi sumber daya alam, dihitung dari taksiran cadangan dan perkiraan produksi, jadi yang namanya sumber daya alam non renewable “pasti” akan habis!

  67. 18. Tahukah siapa yang paling diuntungkan dengan murahnya BBM mengingat BBM merupakan produk komplementer dari kendaraan bermotor?

  68. Subsidi semakin membengkak, artinya utang makin membengkak, dan yang bayar ……anak, cucu, cicit, sampai tujuh turunan pun mungkin nggak kebayar…..akhirnya harga diri pun ikut terjual ……

  69. memang benar yang demo merusak rakyat jakarta, yang nikmatin bbm terlalu banyak rakyat jakarta, jalan-jalan bagus mulus dipenuhi tol2 dan jalan layang adalah jakarta. Pemilik migas seperti kalimantan timur, jawa timur sengsara. Jalan berlubang, pembangunan nol. Malah di jatim dirusak oleh lapindo. Memang ini negara jakarta?adilkah bila hal ini terjadi? Apakah wilayah yang kaya migas itu melakukan gerakan perlawanan terhadap jakarta. Jangan anggap kami tidak tahu akan ketidakadilan ini. Kami sudah banyak berdiam diri.

  70. memang benar yang demo merusak rakyat jakarta, yang nikmatin bbm terlalu banyak rakyat jakarta, jalan-jalan bagus mulus dipenuhi tol2 dan jalan layang adalah jakarta. Pemilik migas seperti kalimantan timur, jawa timur sengsara. Jalan berlubang, pembangunan nol. Malah di jatim dirusak oleh lapindo. Memang ini negara jakarta?adilkah bila hal ini terjadi? Apakah wilayah yang kaya migas itu melakukan gerakan perlawanan terhadap jakarta. Jangan anggap kami tidak tahu akan ketidakadilan ini. Kami sudah banyak berdiam diri.

  71. Lebih baik subsidi BBM dihentikan tapi beralih fungsi menjadi fasilitas lain untuk rakyat. contoh: membebaskan biaya kesehatan bagi selurh rakyat yang tidak mampu atau yang sedang sakit, tanpa harus membuat surat keterangan tidak mampu. kan kasihan orang lagi sakit disuruh ngrusin surat segala. dari pada APBN jebol lagi gan….

  72. Saya ambigu mengenai hal ini. Di satu sisi saya bisa memahami bahwa subsidi BBM ini memang harus secara bertahap dicabut. Dan saya memahami jelas alasan yang dikemukakan Mas Pri.

    Disisi lain, saya juga sudah melihat langsung dengan mata kepala saya imbas dari kenaikan harga BBM ini ke kalangan terbawah dari yang terbawah.

    Di sebuah gerai fast-food tempat saya biasa duduk, saya terhenyak menyaksikan anak-anak penjual puzzle yang biasa berjualan disitu berebut makanan sisa pengunjung. Sementara pemerintah kelihatan mandul mencegah kebocoran anggaran yang berkisar antara 20-50% (tergantung sumber yang digunakan)

    Lebih miris lagi ketika saya mengetahui patokan orang miskin menurut BPS adalah sekitar 200 ribu sebulan. Artinya anak-anak jalanan itu sudah tidak termasuk ke kelompok masyarakat miskin lagi.

    Akhirnya saya memilih untuk melihat gambar besar keadilan sosial ini dan menolak rencana pemerintah untuk mencabut subsidi BBM, tanpa rencana yang jelas untuk mencegah kelompok miskin ini semakin terpuruk.

    Sungguh tidak lucu membiarkan anak-anak jalanan itu makan makanan sisa sementara pejabat-pejabat itu berfoya-foya dengan uang pajak yang saya bayarkan …

  73. Tahukah Anda?? bahwa pendemo pendemo itu adalah orang2 yang tidak bermutu, tidak punya aturan dan meresahkan masyarakat?? alih alih membela rakyat.
    mending pada masuk kuliah, ngerjain skripsi gitu..

  74. ah… bukannya subsidi BBM hanya dinikmati oleh kalangan menengah ke atas? warga yang benar-benar orang cilik mana mungkin menikmati subsidi tsb? lha wong setiap harinya jalan kaki, bersepeda atau naik becak..

  75. Harga BBM gak jadi naik, harga tetap gak turun.
    Kenapa juga para pendemo gak turun ke para pedagang besar supaya mereka menurunkan harga sembako?
    Hehehe… Asli konyol juga bangsa ini.
    Baru mau issue harga BBM naik, eh harga sudah naik duluan.
    Awal tahun gaji PNS-Polri-TNI-pensiunan mau naik 10%, inflasi sudah gila2an. Hasil akhirnya tetap saja tekor.
    Mau bicara penyebab itu semua adalah mekanisme pasar, tetap saja yang menentukan harga adalah manusia yang memiliki power untuk menaikkan harga.
    Saya setuju dengan kenaikan harga BBM walau dengan catatan (hehehe… Meminjam istilah para anggota dewan yang terhormat).

  76. biar bagaimanapun, tolong jangan naikkan harga bbm. karena jika harga bbm murah maka banyak orang menggunakan kendaraan bermotor. dan kami para minoritas terutama saya yang bersepeda akan terlihat KEREN. kalau bbm mahal, banyak yang beralih ke sepeda, akhirnya tidak keren lagi dehhhhhh……
    salam gowesssss

  77. Kalo ndak usah naikin Premium, tapi stop saja produksinya bagaimana? Apakah ada peraturan hukum yang memaksakan pemerintah untuk memproduksi BBM bersubsidi?

    Jadi biar Pertamina juga streamline produknya cuman Pertamax saja.

  78. Wah, bergizi sekali diskusinya.
    Sebelumnya saya ucapkan salam kenal kepada Pak Priyadi dan peserta diskusi.
    Kalau menurut saya, akar dari berbagai permasalahan bangsa ini adalah: Minimnya pemahaman tentang “Pembangunan Berkelanjutan” dari para politisi (wakil rakyat) kita, sehingga setiap alan menggodok kebijakan, mereka gampang “dikompori” oleh pihak-pihak yang ada kepentingan (besar maupun kecil) dibalik kebijakan tsb. dan rata2 Mereka lebih berpikir utk kepentingan jangka pendek dan populeritas sesaat.

    Nah, situasi sikap spt itu, kebetulan saat ini memang memungkinkan dlm sistem politik multi partai ini, sehingga para politisi yg tdk mengerti(atau tdk memiliki wawasan kebangsaan dan visi yg jauh kedepan) itu, byk yg memancing di air keruh, dan sambil menyelam mereka jg merasa bisa minum air, dengan mengatasnamakan atau menyuarakan suara rakyat.Pa lg bg mereka yg Narsis.. hehe
    Padahal besar kemungkinan rakyat jd ribut, akibat byk yg terpancing dg situasi di tingkat para politisi yg meributkan rencana kebijakan tersebut.
    Oleh karena itu, sebaiknya kedepannya, Negara menetapkan syarat2 yg ketat kpd warga negara yg ingin jd Politisi.
    Krn seharusnya wakil rakyat itu bkn hanya menyuarakan suara mentah dari rakyat, namun suara rakyat itu harusnya diolah, dicerna, dan dianalisa dahulu, sebelum di angkat menjadi sebuah isu.
    Maka dari itu, SDM atau Politisi itu, harus memiliki wawasan kebangsaan yg bagus, luas dan berpandangan jauh kedepan.
    Minimal mereka mengerti apa itu “pembangunan berkelanjutan”, mengerti kalau generasi yg akan datang jg sama2 punya hak utk menikmati SDA yg ada skrg, mengerti sikon geopolitik, dan tentu saja harus menguasai hukum dan tata negara.

    Salam

  79. Nah yang point 5 itu tak pernah diributkan, kenapa harus BBM???
    Di daerah saya, BBM batal naik tapi harga kebutuhan sudah lebih dulu naik. Hitung2an produksi mereka dibuat dengan harga BBM belum naik,… tapi tak ada yang ribut. Padahal konsumsi ‘kebutuhan’ lebih besar dibanding konsumsi BBM

  80. si miskin : bloger…..
    bloger : ia….
    si miskin : ada yang baru nih..blog tentang filsafat

    kunjungin ya di miskinsi.blogspot.com
    bloger : haaaah blog baru…

  81. Saya setuju saja kalo BBM naik tapi apa daya uang saya kalo dihitung-hitung enggak cukup untuk membeli BBM yang mahal. Misal saja kalo pegawai setiap hari naik motor untuk transportasinya itu saja sudah pas-pasan. Kalo BBM naik terus gaji pas-pasan itu harus dihemat lagi untuk makan, listrik, dsb. Sementara pastinya barang pokok juga bakal naik akibat BBM naik. Rakyat bukannya menolak untuk BBM naik tapi berusaha untuk bertahan hidup. Beda dengan mas priyadi yang hidup berkecukupan.

    Kalo gaji saya yang pas-pasan hanya habis untuk transportasi saja mending enggak usah kerja.. Capek-capek kok cuma cukup buat beli bensin aja. Perusahaan mana mau naikkan gaji mereka juga bakal terpengaruh BBM yang naik itu. Mungkin malah akan mengadakan pemecatan massal. Duh susahnya hidup di Indonesia ini ya..

    Saya harap janganlah menghina rakyat yang menolak BBM naik.. Kami hanya mempertahankan hidup saja.. Berharap hidup nanti akan lebih baik itu saja.

    Semoga saja kelak ada pemimpin yang lebih bijaksana, lebih mencintai rakyat dan lebih cerdas.. Kami rakyat selalu berdoa semoga pemimpin itu segera datang.

  82. sejak duduk di Sekolah Dasar kami sdh diajarkan bahkan di tanamkan Indonesia adalah Negara yg kaya akan minyak Bumi,,
    sekarang Indonesia hanya mengikut negara2 yang miskin akan minyak buminya, tanpa memikirkan nasib rakyat, hanaya alasan klasik yang diterima oleh rakyat,
    silahkan baca pasal 33 UUD .
    key

  83. Kurangi dan filter kendaraan mobil dan motor di Indonesia. Jangan asal masuk dan import. kualitas harus diperhatikan juga.

    iya ngga coy?

  84. sekarang gk perlu banyak komen. tp tindakan. jgn cuma gayanya mempertanyakan orang yg menolak kenaikan BBM tp ttp senang minum premium. buktikan dengan beli pertamax. bagi yg menolak kenaikan BBM krn cuma mau ambil keuntungan untuk pribadi atau segolongan, dimohon ganti otak dan hatinya. itu pun klo punya.

  85. Saya setuju BBM naik om, tp disisi lain harus diimbangi action pemerintah buat mensejahterahkan rakyatnya dan mengontrol pertumbuhan penduduk.

  86. buat saya, kenaikan harga BBM adalah sebuah keniscayaan. cepat atau lambat, hal ini sangat sulit untuk dihindari. tapi memang karena dalam prakteknya selama ini yang lebih banyak menikmati adalah golongan menengah ke atas, membuat setiap keputusan kenaikan ini akan selalu terasa tidak adil bagi golongan menengah ke bawah. ini menjadi PR yang wajib diselesaikan oleh pemerintah.

  87. saya vote jempol 4 mas semoga saja dan kalo bisa secepatnya siapa saja yang bisa menggantikan BBM Denengan AIR yah seenggaknya kadi tarbarukan :D

  88. mo mahal mo murah… kalo pemerintahannya ga korup pasti rakyat ga mempermasalahkan!
    biarpun mahal kalo kebeli ya ga masalah :)
    tapi nyatanya indonesia penuh koruptor… palagi dengan presiden dan partai yang berkuasa saat ini…! 100% koruptor!

  89. Dari artikel pengusir tikus iseng-iseng baca artikel tentang bbm. ada hubungannya juga sih, gimana cara ngusir tikus-tikus negara ini?hehe …dan jawaban saya juga sama, …pake racun tikus aja, langsung mati, biar ga “kebal”

  90. Siapa yang mempolitisasi BBM………..? bukan hanya KKG, lebih buruk lagi SBY dan konco-konconya, buktinya BBM saat ini harganya turun…?. Dan anda-anda yang protes dengan kenaikan BBM, silahkan konsisten beli Pertamax, jangan cuman ngomong doank.

  91. saya dari pertama beli sepd motor Honda Supra X 125, selalu beli pertamax… walau paling cuman 1 – 2 liter..

    dulu saat masih punya astrea prima.. saya belinya Premix.

    dan gak masalah juga tuh…

  92. Permasalahannya ga sesederhana itu Mas Bro, bukan masalah setuju atau tidak setuju BBM naik, tapi kenyataan yang sebenarnya adalah:

    1. Istilah subsidi bbm berarti pemerintah nombokin uang untuk ganti biaya produksi bbm. Pendapat Kwiek Kian yg paling betul, pada saat itu tidak ada satupun menteri energi yg bisa membantah. Karena sejak tahun 70 an pemerintah tdk pernah buat kilang baru, jadi tidak ada akumulasi biaya investasi yang harus dikembalikan. Yang ada pendapatan dari sektor migas berkurang, itu betul, tapi tidak ada subsidi yang harus dibayarkan !

    2. Percuma saja subsidi dicabut, kalau angka korupsi masih gede, uangnya cuma dikorupsi. buktinya BP Migas dibubarkan sama MK, karena tumpang tindih fungsinya dgn Pertamina. Artinya ada in-efisiensi dan peluang korupsi dalam sistim distribusi migas.

    3. Merujuk pada pasal 33 UUD 45, berarti semua warga negara berhak ikut menikmati kekayaan alam yg dikelola oleh negara. Pasal ini sangat berbeda dgn negara manapun diseluruh dunia, Misal jika ‘Tanah Milik Pribadi’ seseorang mengandung mineral atau migas, itu harus diambil alih oleh negara. Kalau dinegara lain tanah itu tetap milik pribadi, pemerintah tdk bisa mengabil alih, kecuali kerja sama. Hampir semua negara didunia menganut sistim ini.

    4. Sejak jaman Soeharto sampai sekarang, pemerintah selalu teriak subsidi bbm, padahal itu utk meredam gejolak politik dan dimanfaatkan utk promosi pemerintah. Contohnya subsidi bbm dialihkan untuk Bantuan Langsung Tunai dsb, seolah-olah pemerintah yg berkuasa baik hati. Padahal tidak, itu hak semua rakyat.

    5. Yg paling utama, selisih BBM yang kita eksport dan kita import utk bbm premium, solar dsb itu, menurut perhitungan Kwik Kian Gie, pemerintah tidak nombok sedikitpun, hanya pendapatannya berkurang !

    Pada saat Kwik ngomong seperti itu, tidak ada satupun menteri esdm yg membantah atau membenarkan pendapat tersebut. Tapi tetap ngeyel dengan mengalihkan pembicaraan bahwa negara rugi. artinya org awam pun bisa tahu bahwa sebenarnya itungan Kwik yg benar.

    Setiawan Jody juga ngomong bahwa seharusnya kita pakai Gas untuk industri maupun rumah tangga, karena gas jauh lebih murah daripada BBM. BBM hanya untuk eksport

    Tapi kenyataannya Gas kita justeru sudah dikontrak oleh RRC dan bebrapa negara selama 30 tahun, lebih gila lagi kontrak itu harganya tetap, tdk mengikuti harga pasar ! Bahkan utk keperluan gas dalam negeri sendiri pemerintah masih kurang, ini khan Gila !

    Ini berarti kolusi dan korupsi kontrak sejak pemerintahan soeharto. Pemerintah yg sekarang hanya menerima warisan kontrak.

    Seharusnya pemerintah sekarang Re-negosiasi ulang Kontrak Gas, tapi mereka takut dituntut wan prestasi di Arbitrase Internasional serta dikucilkan perdagangannya oleh dunia internasional. Padahal kalau pemerintah bisa membuktikan bahwa kontrak terdahulu itu penuh dengan kolusi. Seharusnya itu batal demi hukum sesua ketentuan UU Perdagangan Internasional.

    Itu sering terjadi dalam perdagangan internasional, contohnya kasus Kontrak pembelian Boeing dengan Jepang dahulu. Setelah ditelusuri ternyata kontrak dsb hasil kolusi dgn salah satu menteri di Jepang, yang akhirnya menteri tsb bunuh diri karena malu.

    Akhirnya Kontrak pembelian Boeing bisa dibatalkan oleh pemerintah Jepang, dan Boeing tdk bisa menuntut, karena terbukti kontraknya hasil kolusi dan gratifikasi.

    Masih banyak alasan lain, soal subsidi BBM, karena memang pemerintah sejak dahulu tdk mengalami kerugian apapun, hanya pendapatan APBN berkurang.

    Solusinya sebtulnya pemerintah harus cari cara agar memfasilitasi barang-barang kita supaya bisa di ekspor utk menambah APBN dan Produk Domestik Bruto, bukan menyetop subsidi BBM.

    Tapi pemerintah justeru dari dahulu tidak pernah mampu menggenjot eksport. Yang ada para pengusaha mengeksport barangnya sendiri-sendiri tanpa bantuan pemerintah.

    Contoh paling gampang kalau kita main Dropshipping dari Ebay, Alibaba.com dsb. Bisa gak kita ekspor barang kita ke AS atau Eropa, apalgi ke China ? Ga bakal bisa ! karena ongkos kirimnya jauh lebih mahal, tapi kalau kita import dari sana malah lebih murah

    Coba cek ongkos kirim dari AS ke Indonesia atau dari China ke Indonesia pakai EMS (kantor pos gironya China) Bandingkan dengan ongkos kirim Kantor Pos Giro atau DHL atau apapun dari Indonesia ke China, lebih mahal 2 X lipat, aneh khan ?

    Siapa yang salah ? silahkan nilai sendiri

    Yang paling penting pemerintah harus bisa benahi eksport seperti pemerintah China, semua barangnya sebisa mungkin di eksport, kemudian babat korupsi. Baru bicara cabut subsidi BBM, pasti rakyat setuju.

    Karena kalau mayoritas pengusaha (besar dan kecil) bisa mengeksport barang ke luar negeri, berarti industri jalan, ekonomi bagus, pengangguran berkurang, rakyat lebih sejahtera. Itu Rumus pastinya.

    Buktinya di China, pengusaha kecil perumahan pun bisa mengeksport barangnya. Mereka yg tadinya miskin, sekarang sudah jadi pengusaha. Pemerintah jadi lokomotif yg menarik gerbong (pengusaha).

    Cuma karena penduduknya yg terlalu banyak, mereka masih tetap pusing. Tapi angka kemiskinan di China sudah jauh berkurang dibandingkan 10 tahun yang lalu.

    Coba bandingkan dengan lingkungan kita sendiri dalam 10 tahun terakhir, berapa jumlah org yg kita kenal yg menjadi kaya sekarang dan berapa yang masih tetap miskin sampai sekarang, selama 10 tahun terakhir ini (orang swasta, jangan pegawai negeri atau aparat pemerintah) mereka bisa kaya karena jabatan, relasi, kolusi dsb.

    Sebagai rakyat kita setuju saja harga BBM naik (Bukan istilah Cabut Subsidi BBM)karena memang sebenarnya TIDAK ADA YANG DI SUBSIDI !. Dengan catatan selama angka korupsi kecil dan harga barang stabil !

  93. Dulu, waktu zaman suharto, premium naik dari 350 jadi 500 rupiah (cmiiw), orang orang udah pada ribut (tapi masih takut demo).

    Trus naik ke 700 rupiah, lagi lagi pada ribut (tetep masih takut demo) trus sampe sekarang juga ribut rbut.

    Jadi gak ada yang namanya bbm naik = masyarakat gak ribut/demo.

    Yang pasti, begitu BBM naik, harga harga pasti naik. Mungkin efek “samping” yang ini yang lebih dikeluhkan masyarakat.

Leave a Reply to anas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *