3 May 2005

Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas

Posted under: at 01:23

Pada tahun 1973, presiden Amerika Serikat Richard Nixon menginstruksikan anak buahnya untuk menyelundup ke kantor pesaingnya, Daniel Elsworth, yang berada pada Watergate Building untuk mencari informasi yang dapat mendiskreditkan lawan-lawan politiknya. Inilah yang kita kenal sebagai skandal Watergate yang menyebabkan pengunduran diri dari Richard Nixon dari kursi kepresidenan Amerika Serikat.

Kunci keberhasilan publik Amerika Serikat dalam membongkar kasus ini adalah informasi yang diberikan oleh orang dalam Gedung Putih kepada Bob Woodward, salah seorang wartawan dari harian Washington Post. Identitas orang dalam ini tidak diketahui bahkan sampai saat ini. Kita semua hanya mengetahui nickname-nya, yaitu “Deep Throat“.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, hal-hal semacam ini dapat kita temukan di Internet. Contoh yang paling hangat adalah si “Satria Kepencet” yang mencoba untuk memberikan informasi mengenai KPU. Siapakah “Satria Kepencet” ini? Tidak ada yang tahu persis. Yang kita semua ketahui secara pasti adalah bahwa dia mengirimkan beberapa email ke Basuki Suhardiman yang kemudian meneruskannya ke milis ITB.

Email-email tersebut kini dapat kita lihat di arsip milis ITB:

Siapakah identitasnya? Ada yang berpendapat bahwa dia adalah Basuki Suhardiman sendiri. Ada juga yang berpendapat bahwa dia adalah Emir Wiraatmaja. Tetapi yang jelas, semua itu hanyalah dugaan semata. Tidak ada yang tahu persis atau mungkin tidak akan ada yang akan pernah tahu identitas sebenarnya dari sang “Satria Kepencet”.

Email terakhir dari Satria Kepencet seperti ‘membakar’ amarah dari redaksi harian Kompas. Email itu berisi sebuah tuduhan kepada Kompas dan salah satu wartawannya bahwa mereka tidak objektif dalam membuat berita.

Salah satu staf KPU mengungkapkan Dik dan segelintir wartawan lain menerima gaji bulanan dari SY karena kedekatannya itu. Imbalannya, jelas Dik dan segelintir wartawan lain juga harus membuat tulisan sesuai dengan kepentingan SY. Sabtu, 23 April 2003, Dik menurunkan feature tentang Kotak Suara sebagai Kunci Pembuka? Dik dalam tulisannya menyebutkan “Jika mau mengurutkan proses pengadaan di KPU, adakah yang peduli dengan apa yang terjadi dengan pengadaan logistik yang dilakukan pada 2002? Saat itu ada proses pengadaan logistik yang berkaitan dengan kegiatan P4B yang sepenuhnya ditangani staf Sekretariat Jenderal KPU. Pencetakan formulir pengadaan dan beragam perlengkapan petugas pencacah P4B toh sempat dipersoalkan, Nilai proyeknya pun boleh diadu dengan proyek pengadaan pada tahun anggaran 2003 dan 2004.”

Tulisan Dik merupakan isapan jempol dan membuktikan Kompas tidak obyektif dalam pemberitaannya. Dari bekas peserta lelang terungkap bahwa pengadaan yang sepenuhnya ditangani staf Setjen KPU bukannya tanpa kebocoran. Kebocoran terjadi dengan mark up harga 39 unit heavy duty scanner.

Kompas kemudian bereaksi dengan mengirimkan sebuah email protes kepada Basuki Suhardiman yang kemudian meneruskannya kembali ke milis ITB. Email protes tersebut diakhiri dengan:

Demikian tanggapan dari kami, kolega dik di Kompas. Kami mengharapkan kerjasamanya untuk memberikan data lebih jauh soal adanya gaji bulanan yang diterima dik dan wartawan lain. Kami juga mengharapkan Satria Kepencet mau membuka jati dirinya secara jelas sehingga bisa membantu kami untuk mendapatkan informasi tentang perilaku wartawan Kompas di lapangan. Dengan mau membuka diri, tentunya kami bisa juga ikut menilai kualitas dari Satria Kepencet dan kualitas informasi yang disampaikannya. Kami terbuka untuk menerima masukan apapun — dengan data yang bisa dipertanggungjawaban bukan sekadar fitnah dan tudingan tak berdasar– untuk perbaikan kami di masa depan. Kami menerima segala kritik dan masukan dan karena itu kami juga membuka ruang kritik melalui Forum Pembaca Kompas dan Ombudsman Kompas yang anggotanya orang-orang luar Kompas untuk “mengadili” Kompas jika Kompas melakukan kesalahan.

Menurut saya ini sebuah permintaan yang tidak realistis dari pihak Kompas. Satria Kepencet memilih untuk anonim untuk alasan tertentu. Saya tidak tahu alasannya, mungkin dia takut diintimidasi, mungkin dia takut karena hukum Indonesia tidak cukup melindungi para whistleblower, atau mungkin dia cuma tidak ingin berurusan dengan hingar bingar yang berhubungan dengan kasus ini.

Saya tidak bermaksud memberi kesan bahwa saya setuju dengan semua yang dikatakan oleh Satria Kepencet, saya bahkan belum selesai membacanya. Tetapi menurut hemat saya sebuah pernyataan benar karena memang kenyataannya adalah benar, bukan karena siapa yang membuat pernyataan tersebut dan juga bukan karena apakah identitas yang membuat pernyataan tersebut jelas atau tidak jelas. Anonimitas tidaklah mengurangi nilai kebenaran dari sebuah informasi, dan dalam beberapa kasus bahkan sangat dibutuhkan. Contohnya adalah kasus Watergate yang saya angkat sebagai pembuka tulisan saya ini.

Dalam kesempatan ini saya juga ingin mengomentari pernyataan di bawah ini.

Kami menerima segala kritik dan masukan dan karena itu kami juga membuka ruang kritik melalui Forum Pembaca Kompas dan Ombudsman Kompas yang anggotanya orang-orang luar Kompas untuk “mengadili” Kompas jika Kompas melakukan kesalahan.

Well… saya pernah jadi anggota milis FPK dan ditendang setelah mengkritik Kompas soal Roy Suryo. Rekan saya juga ditendang setelah mengkritik pemuatan Persona Anne Ahira. Rekan saya yang lain bahkan tidak diizinkan untuk ikut milis tersebut. So much for “membuka ruang kritik” :). OK, sampai disini saja keluhan saya :).

Selanjutnya, pada kolom Tekno pada tanggal 2 Mei 2005, Kompas dengan nada sangat emosional memuat sebuah editorial berjudul Tendangan Milis.

Namun, ketika milis mulai membahas berbagai kebobrokan di negara ini, informasi yang berada di dalam milis ini pun menjadi sangat rawan. Masalahnya, sering kali milis ini menjadi tidak memiliki kredibilitas dalam memberikan analisis dan persoalan yang sedang dihadapi.

Apalagi, milis sering kali ditulis oleh orang-orang yang merahasiakan identitas dirinya dengan berbagai tujuan, yang hanya diketahui oleh penulis anonim tersebut. Ketika penulis milis ini anonim, segera saja ia menjadi monyet yang dengan nakalnya mempermainkan orang-orang.

Satu hal yang tidak dimiliki oleh milis, betapa pun akuratnya informasi yang dimilikinya, adalah kredibilitas. Dan percayalah, kredibilitas ini tidak bisa tegak hanya dalam beberapa hari saja, apalagi hanya melalui milis, yang fungsinya menampung aspirasi para anggotanya sendiri.

Sepertinya sekarang sedang musim menyerang kredibilitas media baru yang isinya tidak sesuai dengan yang kita harapkan :). Sebelumnya kita pernah mendengar Friendster dan blog tidaklah kredibel. Sekarang kita mendengar hal yang sama dituduhkan kepada mailing list. Sedangkan mailing list dan blog hanyalah media, sama seperti surat kabar atau televisi.

Adakah informasi yang tidak kredibel di mailing list? Tentu saja. Adakah informasi yang tidak kredibel di surat kabar? Tentu saja. Kredibilitas tidaklah ditentukan dari jenis media dan teknis penyampaiannya, tetapi dari kualitas informasi yang disampaikan. Sebuah informasi tidak otomatis menjadi kredibel jika disampaikan melalui surat kabar. Sebuah informasi juga tidak otomatis menjadi tidak kredibel jika disampaikan melalui mailing list.

76 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!