10 May 2005

Kompas dan Internet

Posted under: at 02:50

Kompas hari ini memuat sebuah tulisan yang sepertinya merupakan respon langsung terhadap pernyataan-pernyataan saya di blog ini yang menyangkut kasus Satria Kepencet vs Kompas. Tulisan ini berjudul Media Baru yang dimuat pada Kolom 8@9.

Berikut adalah kutipan dari tulisan Kompas tersebut diselingi dengan respon dari saya pribadi.

PERKEMBANGAN teknologi komunikasi informasi harus diakui memberikan paradigma baru yang mengubah keseluruhan cara pandang kita tentang berbagai masalah dan persoalan yang ada di muka bumi ini. Perubahan paradigma ini juga mempengaruhi media massa, termasuk harian ini.

Turunan teknologi internet seperti mailing list, e-mail, maupun blog yang di berbagai negara digunakan sebagai sarana efektif untuk berkomunikasi dan tukar-menukar pendapat, di Indonesia menjadi ajang yang sering tidak jelas tujuan dan manfaatnya.

Jadi mailing list, email, atau blog memiliki fungsi yang berbeda di luar Indonesia? Ini hanyalah sebuah omong kosong tanpa bukti yang jelas! I’ll pass.

Harus diakui kalau media baru dalam bentuk elektronik yang lalu lalang di jaringan internet adalah sebuah media informasi masa depan. Harus diakui juga kalau media baru ini memiliki footprint yang luar biasa menjangkau berbagai lapisan pembaca dari berbagai kelas, dan akan melampaui jumlah pembaca media tradisional.

Media baru ini adalah fenomena masa depan. Akan tetapi, sering kali kita tidak pernah bisa mengerti esensi media baru ini bagi kehidupan kita sehari-hari dan menjadikannya sebagai ajang “debat kusir” yang berkepanjangan.

Kemungkinan besar ‘debat kusir’ yang dimaksud adalah komentar-komentar pada tulisan Jay yang berjudul Kompas Semakin Rusak. Di sana, seorang yang berasal dari Kompas dengan nickname gendut (yang tentunya juga berniat untuk anonim) melontarkan pernyataan bahwa diskusi telah menjadi ‘debat kusir’.

Debat kusir terjadi jika peserta debat memutuskan untuk menyerang pribadi dari lawan debatnya ketimbang mendiskusikan hal yang menjadi topik perdebatan. Sebuah diskusi tidak dapat disebut sebagai ‘debat kusir’ hanya karena nyaris seluruh peserta debat lainnya tidak setuju dengan opini anda.

Ironisnya, debat ini sering kali bersembunyi atas hak anonimitas. Ini yang sekarang terjadi ketika harian ini menuntut Basuki Suhardiman, tim ahli sistem teknologi informasi Komisi Pemilihan Umum, karena dianggap telah menyebarkan e-mail berisi fitnah (Kompas, 3/5) yang dilakukan melalui mailing list ITB dan ITB75.

Anonimitas pulalah yang dijadikan tempat bersembunyi beberapa wartawan Kompas yang berkomentar pada blog saya dan rekan-rekan. Praktis hampir seluruh komentar yang mendukung Kompas baik pada blog saya maupun rekan-rekan adalah komentar anonim. Beberapa di antaranya bahkan datang melalui alamat IP milik Kompas dan tak seorang pun yang memperkenalkan dirinya sebagai orang Kompas.

Tidak, saya tidak menutut rekan-rekan dari Kompas untuk membuka jati dirinya dalam berpartisipasi pada dunia blog. Saya pribadi lebih suka menilai suatu pernyataan dari nilai kebenaran pernyataan itu sendiri ketimbang dari jati diri sang pembuat pernyataan. Saya masih bisa menghormati dan berdiskusi bersama rekan-rekan dari Kompas yang memilih untuk anonim walaupun terkadang saya pribadi sudah mengetahui bahwa rekan-rekan berasal dari Kompas. Tentunya dengan syarat bahwa perdebatan tidak menjurus kepada argumentatum ad hominem: anda harus menghargai saya yang ingin menghormati anonimitas anda.

Saya hanya mengharapkan pihak Kompas mau menghargai anonimitas orang lain. Atau jika pengharapan saya terlalu besar, paling tidak Kompas dapat berpegang teguh terhadap hal yang diyakininya selama ini yaitu anonimitas adalah hal yang tidak baik. Konsekuensinya, wartawan Kompas harus tidak anonim dalam berpartisipasi pada blog. Kompas juga tidak boleh lagi memuat pernyataan dari narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

Jika anda memiliki sebuah keyakinan, maka hiduplah dengan keyakinan itu!

SERING kali orang menganggap kalau Ctrl+F $ (perintah forward melalui aplikasi Outlook) adalah sebuah pekerjaan rutin sehingga tidak lagi terpikir dampak yang bisa ditimbulkan. Apalagi, e-mail yang diteruskan tersebut menuduh individu yang bekerja pada harian ini. Tanggapan atas kasus milis ITB dan ITB75 ini pun menjadi debat kusir. Ada yang menyamakan kalau Satria Kepencet, nama samaran dalam e-mail yang tersebar di milis tersebut, setara dengan Deep Throat dalam kasus Watergate. Konyol!

Deep Throat dalam Watergate identitasnya jelas dan diketahui oleh wartawan Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein. Satria Kepencet jelas bukan whistleblower, tapi menebar fitnah menuai opini di tengah maraknya penyidikan kasus korupsi di lingkungan KPU. Namun, sekali lagi perlu ditegaskan di sini siapa saja boleh mengemukakan pendapatnya. Akan tetapi, fitnah di era digitalisasi memang menjadi sesuatu yang murah dan diumbar oleh siapa saja tanpa pembuktian yang jelas.

Ini adalah jawaban Kompas terhadap tulisan saya Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas. Selalu ada cara untuk membantah hubungan antara sebuah analogi dan hal yang dianalogikan, dan ini adalah salah satu contohnya. Tetapi yang jelas Satria Kepencet dan Deep Throat sama-sama anonim. Keduanya juga sama-sama membocorkan informasi dari dalam sebuah institusi. Tentunya dapat dilihat kemiripan antara keduanya. Untuk informasi lebih lanjut silakan baca tulisan saya Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas.

Contohnya adalah sebuah web-blog lain yang mengulas sebuah fitur yang dimuat harian ini, para pesertanya pun memberikan tanggapan seenaknya dengan menyebutkan, “… atau entah lah, mungkin memang sudah disangu-in untuk menulis seperti itu”.

Ini adalah tanggapan Kompas atas komentar dari Jaimy Azle pada tulisan saya yang berjudul Mendambakan Media Massa Seperti Sediakala. Tulisan itu membahas tulisan pada harian Kompas tentang Anne Ahira. Tulisan tersebut memang mirip seperti iklan, jadi wajar saja kalau ada yang berpendapat demikian :). Rugi dong, masa ada yang masang iklan di Kompas tapi gak bayar :). Benny Chandra juga pernah menanyakan perihal ini ke pihak Kompas, tetapi tidak mendapatkan respon.

Dari kasus ini membuktikan, kemajuan teknologi mengisyaratkan perlunya peraturan dan perundang-undangan, agar siapa pun tidak seenaknya menuduh, memfitnah, dan sebagainya. Selain itu, kita pun menyadari sepenuhnya kemunculan media baru dalam format elektronik tidak bisa dibendung. Persoalannya apakah terus bisa seenaknya?

Khusus mengenai email dari Satria Kepencet yang menjadi pemicu kasus ini, saya pribadi juga tidak tahu kebenaran dari berita itu. Saya tidak pernah mendukung atau menganggap berita itu adalah sebuah kebenaran. Yang saya sesalkan adalah bagaimana Kompas menyikapi kasus ini. Dulu, sekarang dan pada masa yang akan datang akan ada orang-orang yang ‘seenaknya’. Tidak ada pertanyaan tentang itu. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita semua menyikapinya.

Yang saya sayangkan dari tulisan Kompas tersebut, Kompas sepertinya tak berani menyertakan tautan ke blog saya ini dalam artikel tersebut. Pengutipan secara sebagian –apalagi yang diberi bumbu editorial yang cenderung subjektif untuk menyetir opini pembaca yang mungkin sebagian besarnya awam Internet– tentunya berpotensi untuk menimbulkan kebingungan di sisi pembaca.

Apakah pada masa yang akan datang Kompas berani mencantumkan tautan ke halaman blog yang direferensikan? Kompas tidak perlu kuatir karena saya tidak akan mensomasi Kompas untuk membuat tautan ke blog saya ini. Saya yakin penulis blog lainnya juga akan berpendapat sama :).

Silakan juga lihat-lihat perkembangan kasus ini pada blogosphere:

115 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!