4 May 2005

Ketika Penerus Informasi Disomasi

Posted under: at 16:07

“Don’t shoot the messenger”, itu adalah sebuah ungkapan umum yang menyatakan bahwa pembawa informasi tidak bertanggung jawab atas isi informasi yang disampaikan. Tapi ternyata ungkapan itu tidak berlaku untuk Kompas.

Hal ini bermulai dari Basuki Suhardiman yang menerima tiga buah email dari seseorang yang menamakan dirinya “Satria Kepencet”. Salah satu email ini menuduh Kompas kehilangan objektivitas pers. Email-email ini kemudian diteruskan oleh Basuki ke milis ITB.

Di milis ITB sendiri, email-email hasil forwarding tersebut tidak mendapat banyak tanggapan. Email pertama tidak ditanggapi, hanya ada beberapa email hasil ‘pembajakan’ thread yang sama sekali tidak relevan dengan topik utama. Email kedua sama sekali tidak ditanggapi. Sedangkan pada email ketiga hanya ada lima buah tanggapan. Jadi bisa dibilang penghuni milis ITB sama sekali tidak tertarik pada email-email tersebut.

Berbeda halnya dengan detikcom. Setelah mengetahui informasi tersebut (mungkin dari you know who), detikcom langsung membahasnya habis-habisan. Tak kurang ada tiga artikel yang berhubungan dengan ini:

Kemudian, Kompas pun bereaksi dengan menuntut Basuki. Sebuah perbuatan yang sangat aneh, karena yang Basuki lakukan hanyalah meneruskan pesan ke mailing list internal. Kalaupun ada pihak luar mailing list yang dapat membaca isi mailing list, maka harus disadari bahwa pesan tersebut hanya ditujukan ke mailing list tersebut.

Jika Kompas berniat untuk menuntut Basuki, maka menurut saya Kompas juga perlu menutut pihak-pihak lain yang turut serta mendukung penyebaran pesan tersebut:

  • detikcom yang melakukan pemberitaan
  • informan detikcom yang memberitahu detikcom informasi tersebut
  • Mail-Archive.com karena menghosting arsip dari milis ITB
  • Google
  • dan sebagainya

Lucunya, Kompas menuntut permintaan maaf dari Basuki melalui media massa. Sedangkan Basuki hanya memforwardkan email tersebut ke milis internal. Bukankah jika Basuki dinyatakan bersalah, maka Basuki hanya perlu meminta maaf pada media yang sama? Atau mungkin Kompas butuh berita ini untuk meningkatkan omsetnya?

Ini adalah tindakan yang sangat konyol dari Kompas. Di sisi lain, Kompas berkoar-koar mengenai kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Tetapi di sisi lain Kompas bisa bertindak gegabah seperti ini. Ironis sekali, terutama melihat artikel “Wartawan “Kompas” Tuntut Basuki” ditempatkan secara bersebelahan dengan artikel “Terancam, Kebebasan Berekspresi”. Apakah kebebasan berekspresi hanya berlaku untuk media massa besar? Terlebih lagi yang dilakukan Basuki hanyalah memforward sebuah pesan yang tidak ditulisnya sendiri.

Kompas bisa saja mengatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan masalah akan selesai. Saya yakin Basuki juga tidak akan mempersoalkannya kembali. Kompas juga tidak perlu takut reputasinya terancam, kecuali jika memang informasi yang disampaikan sang “Satria Kepencet” tersebut memang benar adanya.

124 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!