Ketika Penerus Informasi Disomasi
“Don’t shoot the messenger”, itu adalah sebuah ungkapan umum yang menyatakan bahwa pembawa informasi tidak bertanggung jawab atas isi informasi yang disampaikan. Tapi ternyata ungkapan itu tidak berlaku untuk Kompas.
Hal ini bermulai dari Basuki Suhardiman yang menerima tiga buah email dari seseorang yang menamakan dirinya “Satria Kepencet”. Salah satu email ini menuduh Kompas kehilangan objektivitas pers. Email-email ini kemudian diteruskan oleh Basuki ke milis ITB.
Di milis ITB sendiri, email-email hasil forwarding tersebut tidak mendapat banyak tanggapan. Email pertama tidak ditanggapi, hanya ada beberapa email hasil ‘pembajakan’ thread yang sama sekali tidak relevan dengan topik utama. Email kedua sama sekali tidak ditanggapi. Sedangkan pada email ketiga hanya ada lima buah tanggapan. Jadi bisa dibilang penghuni milis ITB sama sekali tidak tertarik pada email-email tersebut.
Berbeda halnya dengan detikcom. Setelah mengetahui informasi tersebut (mungkin dari you know who), detikcom langsung membahasnya habis-habisan. Tak kurang ada tiga artikel yang berhubungan dengan ini:
- Kompas, KPU dan Sengatan Tajam Satria Kepencet di Milis ITB
- Satria Kepencet Tinggalkan Jejak EW di Milis ITB
- Basuki Suhardiman Didesak Ungkap Jati Diri Satria Kepencet
Kemudian, Kompas pun bereaksi dengan menuntut Basuki. Sebuah perbuatan yang sangat aneh, karena yang Basuki lakukan hanyalah meneruskan pesan ke mailing list internal. Kalaupun ada pihak luar mailing list yang dapat membaca isi mailing list, maka harus disadari bahwa pesan tersebut hanya ditujukan ke mailing list tersebut.
Jika Kompas berniat untuk menuntut Basuki, maka menurut saya Kompas juga perlu menutut pihak-pihak lain yang turut serta mendukung penyebaran pesan tersebut:
- detikcom yang melakukan pemberitaan
- informan detikcom yang memberitahu detikcom informasi tersebut
- Mail-Archive.com karena menghosting arsip dari milis ITB
- dan sebagainya
Lucunya, Kompas menuntut permintaan maaf dari Basuki melalui media massa. Sedangkan Basuki hanya memforwardkan email tersebut ke milis internal. Bukankah jika Basuki dinyatakan bersalah, maka Basuki hanya perlu meminta maaf pada media yang sama? Atau mungkin Kompas butuh berita ini untuk meningkatkan omsetnya?
Ini adalah tindakan yang sangat konyol dari Kompas. Di sisi lain, Kompas berkoar-koar mengenai kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Tetapi di sisi lain Kompas bisa bertindak gegabah seperti ini. Ironis sekali, terutama melihat artikel “Wartawan “Kompas” Tuntut Basuki” ditempatkan secara bersebelahan dengan artikel “Terancam, Kebebasan Berekspresi”. Apakah kebebasan berekspresi hanya berlaku untuk media massa besar? Terlebih lagi yang dilakukan Basuki hanyalah memforward sebuah pesan yang tidak ditulisnya sendiri.
Kompas bisa saja mengatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan masalah akan selesai. Saya yakin Basuki juga tidak akan mempersoalkannya kembali. Kompas juga tidak perlu takut reputasinya terancam, kecuali jika memang informasi yang disampaikan sang “Satria Kepencet” tersebut memang benar adanya.
Hal itu menunjukkan kearogansi media seperti Kompas. Menuntut agar Basuki memberitahu jati diri pengirim e-mail yg sebenarnya sama saja dengan menuntut Kompas jangan pernah lagi menulis berita dgn kutipan dari “sumber Kompas yang tak mau disebut namanya”! Atau harus mau juga membuka jati diri sebenarnya dari “sumber-sumber Kompas yang tak mau disebut namanya”. Setuju?! Harus konsekuen dong!
bhwahahhaa luthu of the week
aneh. terlalu tidak ‘wajar’ untuk media sekelas kompas.
Tuh kan, makanya jangan baca Kompas, mending baca Republika aja

kebakaran jenggot mungkin karena emang panik bersalah [ayo somasi gue]
untung gw baca jp
gelooooo pisan…. kampoeng banget sih cara nanggappinnya? gile, pdhl banyak alumni dari sekolah *elit* disitu yg dulu ikut koar koar kebebasan berpendapat.
minta BS minta maaf? emang dia terbukti salah apa? pengadilan mana yg udah memvonis BS salah?
gombal bener…
satu lagi, ahli Multimedia dan pakar IT kita nggak bisa ngelacak siapa Satria Kepencet?
Menurut saya BS juga salah, mem-forward email (yg isinya tdk bermutu) ke public. Apalagi kalau benar spt yag ada di detik bahwa BS sendiri mengaku tidak tahu siapa SK.
Ini blunder bagi orang dgn reputasi baik spt BS, jalan terbaik menurut saya adalah secara gentle mengakui kesalahan tersebut.
#9: BS gak memforward email itu ke publik tapi ke mailing list ITB. sedangkan yang mempublikasikannya adalah detikcom.
sensitif informasi
Gampang saja. Siapa yang bisa membuktikan bahwa Basuki itu adalah pembawa informasi? Apakah ini sudah terbukti?
Apakah tidak ada kemungkinan bahwa email itu ditulis sendiri oleh Basuki? Jelas kemungkinan ini ada bukan?!
Menurut saya, selama tidak ada kejelasan tentang hal ini, jangan terlalu gegabah mengambil kesimpulan.
Terlalu dini kalau menganggap Basuki hanyalah pembawa informasi. Sekali lagi, apakah sudah terbukti? BELUM!
Apakah sudah ada pihak yang memeriksa hal ini? Misalnya header email, ip address, gaya tulisan, dslb. Jawabnya: BELUM!
Apakah tidak mungkin Basuki berkomplot dengan “Satria Kepencet”? BISA SAJA! Siapa tahu, Basuki ini memang memiliki agenda politik tersembunyi.
Siapa saja bisa bersalah. Siapa saja bisa khilaf.
Sekali lagi, selama belum ada kejelasan, sebaiknya kita tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Siapa tahu dengan tuntutan kompas ini, maka hal2 ini menjadi lebih jelas.
#12: jika SK memang bermaksud untuk anonim, maka bisa dibilang hampir tidak mungkin untuk bisa mengetahui identitas sebenenarnya dari SK. termasuk jika SK memang adalah BS atau BS berkomplot dengan SK. dugaan pasti ada, tapi untuk membuktikannya adalah hal yang lain. kecuali jika memang SK atau BS mengakui perbuatannya, tapi kalau niatnya sudah anonim jangan harap untuk tahu identitas aslinya atau hubungan SK dan BS jika mereka adalah orang yang berbeda.
#9, coba baca yang lengkap deh. BS cuma forward ke milis ITB, dan member milis ITB sendiri nggak ada yang komentar di posting yang pertama, dan cuma 5 komen di forward yang berikutnya. padahal member milisnya 1100 lebih. yang kebakaran jenggot/melakukan blow-up yang aneh tuh.
tambahan: kalau kompas memang merasa informasi tersebut gak benar, ya tinggal dikoreksi. gak susah, kenapa musti repot2 segala? sedangkan kalau dilihat dari jumlah pembaca, yang mengetahui informasi ini jauh lebih banyak yang tahu dari detikcom dibandingkan dari posting BS sendiri, lalu kenapa kompas gak somasi detikcom? aneh2 aja.
#12, coba anda ikuti kronologis-nya. semua yang direfer baik oleh informan, kompas maupun detik adalah archive di mail-archive.com. di mail-archive.com, header mail dibuang. bahkan alamat mail juga obfuscated. jadi, kalau menurut anda itu belum tentu bukan BS, pernyataan sebaliknya juga berlaku, belum tentu juga yang forward itu BS, wong nggak ada bukti teknis sama sekali yang bisa dijadikan acuan di mail-archive.com.
fyi saja, yang jadi informan itu pun tidak punya kemampuan teknis yang memadai untuk melacak email ketika header emailnya masih lengkap, apalagi yang sudah dibuang seperti mail-archive.com.
Wah….kayaknya Roy Suryo juga perlu dituntut tuh karena sering spy-ing di millis ITB.
Btw pers itu lutchu, pengen menang sendiri. kalo ada orang yang menentang pers, konsekuensinya di media karakternya akan terbunuh.
Kalau memang bukan BS yang memforward karena tidak ada bukti teknis, ya kita tunggu saja bantahan dia.
Saat ini BS sedang berkonsultasi bagaimana menanggapi somasi tersebut (baca detik.com).
Jadi sebenarnya wajar saja kompas melayangkan somasi ke BS. Kalau memang BS merasa tidak bertanggung jawab, jelas nanti dia akan membantah, atau mungkin menuntut ganti rugi? Bisa saja.
Kompas tidak melayangkan somasi ke detik.com, mungkin belum dilakukan. Apa perlu? Relatif sekali jawabannya. Atau masih belum dilakukan? Bisa saja kan. Proses seperti ini kan tidak bisa dalam sekejab. Mungkin kompas lebih menitik-beratkan ke sumbernya (yang dianggap sebagai sumber, BS). Itu dulu.
Kalau mengada-ada, masa mesti somasi google segala (seperti ditulis Priyadi)? Apa mesti somasi ISP juga karena memfasilitasi penggunaan internet? Atau somasi ITB?
Kalaupun mau, bisa aja BS somasi detik.com karena menyebarkan beritanya? Bisa saja kan.
Walaupun email2 itu cuma ditanggapi oleh sangat sedikit orang, bukan berarti bahwa isinya tidak bisa menyinggung orang lain. Bisa jadi orang2 ITB memang tidak perduli berita politik? Siapa yang tahu. Hal ini tidak bisa dijadikan ukuran.
Saat ini kan masih belum jelas, apa benar BS cuma memforward (bukan penulisnya)? belum terbukti. Apa benar BS = Satria Kepencet? belum terbukti. Apa benar BS berkomplot dengan Satria Kepencet? belum terbukti.
BELUM TERBUKTI. Tunggu saja kelanjutannya, jangan terburu nafsu membuat kesimpulan.
dari dulu saya gak respek tuh sama kompas,
(lupa sumbernya)
pastinya semenjak ada isu manipulasi gambar (walaupun cuman isu sih) di kasus ambon
#18: repot amat ya kalau dikit2 somasi sana sini untuk sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dapat dibuktikan. menurut saya sudah cukup kompas melakukan bantahan, dan BS juga sudah mem-forward bantahan kompas ke milis ITB.
lebih baik energinya diarahkan untuk menyelidiki isi dari email forward tersebut, dan bukannya membuang-buang energi untuk menyelidiki siapa yang mengirim pesan tersebut. silakan baca posting saya sebelumnya: Satria Kepencet, Whistleblower, Anonimitas dan Kompas.
Google saya masukkan ke list somasi hanya sebagai ilustrasi betapa tidak berdasarnya kasus ini
Saya setuju dengan mas “obyektif”. Jangan ambil kesimpulan sebelum semua data jelas. Janganlah kita melakukan kesalahan menalar yang sering dilakukan orang-orang bodoh, yaitu menarik kesimpulan secara tergesa-gesa.
Contohnya seperti orang yang diberitakan dalam URL di bawah ini. Salah satu statement dia yang menampakkan bahwa penalarannya lemah dan cenderung berusaha menarik kesimpulan secara tergesa-gesa adalah:
“Agar tidak dibuat sulit menebak-nebak siapa yang memakai nama Satria Kepencet, ada baiknya nama itu diidentikkan dengan Basuki Suhardiman saja”
Apakah rekan-rekan bisa melihat kesembronoan dia dalam menalar dan membuat pernyataan di ruang publik? Harap dicatat, pernyataan tsb. dia sampaikan secara tertulis kepada Detik, jadi tidak ada faktor kepeleset lidah di situ.
Menurut rekan-rekan, apabila dia tidak bisa membuktikan perkataannya tersebut, apakah dia bisa di-somasi juga?
Reference:
http://jkt1.detikinet.com/index.php?fuseaction=detik.read&tahun=2005&bulan=5&tgl=3&time=11831&idnews=354352&idkanal=110
Salut dengan Kompas !!! Kompas memang yang paling tahu sopan santun dan menjaga asas praduga tak bersalah dalam melakukan pemberitaan.
Terang aja, dia sangat menderita ketika dituduh oleh email Satria Kepencet.
Untuk anda-anda, juga untuk basuki, coba contoh Kompas dalam menyajikan berita. Contohnya spt ini :
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/23/Fokus/1703303.htm
atau
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/23/Fokus/1703362.htm
Terima kasih atas simpatinya …
Tapi jangan membuat rekan rekan takut untuk menulis atau mem forward sesuatu walaupun harus lebih hati hati supaya tidak ada yang memanfaatkan. Niat kita baik ,kalau ada yang memanfaatkan tidak baik ,menjadi tidak baik.
#22: for the record, BS tidak pernah mencoba untuk ‘menyajikan berita’. yang ‘menyajikan berita’ pertama kali pada kasus ini adalah detikcom.
Tambahan : Bener Om Pri. Saya koreksi kalimat “Untuk anda-anda, juga untuk basuki, coba contoh Kompas dalam menyajikan berita.” menjadi “Untuk anda-anda dan untuk Satria Kepencet, coba contoh Kompas dalam menuliskan informasi, dugaan, indikasi dll”
Maksudnya memang untuk Satria Kepencet, bukan Basuki. Tapi Satria Kepencet juga bukan menyajikan berita, melainkan menuliskan informasi, dugaan dan indikasi.
*yang sebelumnya tolong di hapus*
*memandang prihatin pada oknum-oknum gajah duduk*
1. Kenapa Kompas mensomasi BS, bukan Detik.com?
Karena yang pertama kali mengeluarkan tulisan itu ke public domain adalah BS, bukan Detik.com. Selain itu, yang dilaporkan oleh Detik.com adalah “fakta mengenai eksistensi email tersebut di milis ITB”, ini tulisan netral dan berisi fakta yang bisa diverifikasi.
Apakah Yahoo, Google, ISP juga bisa disomasi? Banyak yang pernah mencoba (they put “We have no control over the contents of linked website” in the disclaimer for a reason). Tapi posisi Yahoo, Google dll beda dengan BS, karena dalam hal ini mereka hanya pasif (dimanfaatkan) sedangkan BS secara aktif menulis/memforward email itu.
2. “Lho, milis ITB itu bukan publik domain..”
Milis ITB (setidaknya sampai May 2) bisa diakses semua orang melalui web (mail-archive.com). Semua orang bisa mendaftar menjadi anggota, mengakses informasi yang ada di situ tanpa limitasi. If this is not public domain, then what is? Try look up the definition of “public domain”.
Klaim bahwa milis ITB adalah forum internal bisa dianalogikan dengan orang yang memasang billboard besar di perempatan jalan & keep telling themself bahwa itu “billboard internal, jadi orang luar dilarang menoleh ke sini”.
#14, #24 ini menyedihkan..
*meratapi uang rakyat yang dibakar di ganesha 10*
3. Tapi kan BS cuma memforward..
Bedanya apa antara mengklik “forward” dengan mengetik ulang semua isi email tersebut secara manual?
For all that matters, satria kepencet can claim innocence. He can just say that email was just a personal discussion between him and BS.
Yang disomasi adalah yang mengeluarkan pernyataan itu ke public domain.
4.
a. Apakah Kompas berhak secara hukum untuk mensomasi?
Sure.
b. Apakah Kompas mesti introspeksi & melakukan investigasi internal? Yup.
Masalahnya, kalau seandainya nanti hasilnya negatif (tuduhan SK tidak beralasan), orang bisa memandang ini sebagai just another effort in covering up, dan in the end, tidak ada jalan lain bagi Kompas untuk membersihkan namanya selain dengan melalui jalur hukum, atau permohonan maaf secara terbuka dari BS/SK.
,demikian.
*mengajak para oknum untuk memanfaatkan dana rakyat di ganesha 10 dengan lebih efektif, efisien, terarah dan terencana*
Somasi utk Pri krn memuat berita ini di blog!
BS forward ke milis ITB ya bisa dibilang “kirim ke publik”, krn milis nya gak totally closed, krn ada mail-archive dan anggota milis jg bisa forward ke tempat lain.
Tp gimana pun jg, itu kan bukan salah BS … salahin si penulis yg asli donk! Piye sih. Dudulz.
#16
Ya, itu salah satu jalan BS kalau mau mengelak. Siapa yang bisa yakin 100% kalau email itu memang diforward oleh BS. Bahkan kalaupun dari header bisa di trace, mungkin saja ada yang menghack email account atau PC BS, dan sejenisnya.
Tapi sepertinya BS sudah mengkonfirmasi dalam berita Detik.com kalau dia yang memforward.
Kalau masih mau lebih jauh lagi, bisa juga mengklaim kalau email/telpon wawancara dari Detik.com diterima/dijawab oleh orang lain =). Tidak akan ada ujungnya.
Mailinglist tempat publik gak ya. Bisa ya dan bisa tidak kali ya. Kalau saya buat mailinglist sendiri dan saya masukin teman-teman satu SMA saya sebagai anggota mailinglist terus kita postingin hal-hal yang sux bahkan berimajinasi bahwa Kompas itu adalah komplotan teroris ataupun berimajinasi bahwa SBY itu pernah berselingkuh dengan nini pelet, terus di copy oleh detik.com dan dipublish akan kah saya bisa dituntut oleh pa SBY atau Kompas. Apakah saya harus meminta maaf ?? lantas kepada siapa saya meminta maaf ??. Kalau yang merasa tersinggung adalah anggota malinglist maka saya akan meminta maaf ke mailinglist. Kalau yang merasa tersinggung adalah pembaca detikcom maka saya tidak akan meminta maaf karena saya tidak mempublish ke detikcom tapi ke mailinglist saya. Urusannya adalah antara saya dengan anggota mailinglist yang merasa gak suka dengan tulisan saya dan selesai.
Andaikan dirumah saya ada tulisan MAonah brengsek (mantan ehmm ..).Terus ada yang menuliskan dikoran kalau si Ganteng (nama gw) menulis MAonah brengsek. Apakah orang luar rumah berhak menuntut isi tulisan saya ?. Ini rumah saya kok terserah mau saya. Kecuali kalau yang tersinggung adalah orang yang serumah dengan saya ya saya selesaikan dengan orang yang serumah dengan saya. Memangnya rumah saya milik publik, enak aja.
Bagaimana jika rumah saya terbuat dari kaca (like the internet). Apakah rumah saya akan disebut milik publik ?. Wah makin ribet.Terus mailinglist ITB itu milik publik bukan ya. Gak tahu ah.Detikcom milik publik gak ya. Jika ya minimal harus berapa user yang mengunjungi site tersebut ?. Batasannya harus jelas, antara milik publik dan bukan publik
pertanyaannya:
1. Bolehkah milik pribadi/komunitas sendiri jadi milik publik ?
2. Haruskah ada izin jika milik pribadi/komunitas sendiri diberitakan ke publik ?
3. Jika ada milik Pribadi/komunitas sendiri dikopi ulang oleh media Publik tanpa izin apakah berhak dituntut isi tulisan/statement oleh publik ?
4. Apakah saya berhak untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan publik terhadap isi tulisan/statement yang notabene milik pribadi/komunitas dan bertanggungjawab pada diri pribadi saya atau komunitas saya ?
5. Apakah saya berhak menulis apapun baik berita benar dan tidak benar pada tempat pribadi/komunitas sendiri ?
Kalau menurut saya urusan mailinglist yang menyelesaikan adalah anggota mailinglist. Kalau Kompas juga adalah anggota mailinglist tersebut (dengan membawa institusi) maka tinggal di somasi aja di mailinglist, atau ada anggota mailinglist yang difitnah ya tinggal di somasi aja di mailinglist tersebut. Kalau ada yang keberatan dengan tulisan detikcom ya somasi aja detikcom.
Kalau saya tangkap, inti dari tulisan Priyadi adalah semestinya Kompas lebih mencurahkan energinya untuk meneliti/mengusut apakah isi dari berita yang diungkapkan oleh Satria Kepencet itu benar apa engga daripada ngubek2 siapa yg nyebarin info.
Saya setuju bgt dg Priyadi, karena akan lebih produktif dan bijak kalau Kompas berlapang hati utk fokus ke pengusutan benar/tidaknya indikasi dari SK. Kalau ternyata ngga bener, Kompas bisa membantah dan pasti bakal muncul bantahannya di milis-milis en berbagai blog..intinya Kompas ngga usah kebakaran jenggot…harsh facts are friendly, so don’t shoot the messenger
Btw,dengan artikel&diskusi seperti komentar2 ini, saya semakin yakin dengan makin meningkatnya pengaruh media alternatif spt milis & blog dalam penyebaran informasi
kom Pasikom
#29, kalau menurut saya, mailing list bisa berarti bukan bersifat publik jika mengikuti aturan tertentu, misalnya: tidak semua orang bisa daftar, arsip tidak bisa dibaca oleh orang yang bukan menjadi anggotanya. Ini jelas sekali bedanya. Sekarang bandingkan sifat2 ini dengan mailing list ITB seperti yang sedikit ditulis oleh #26. Saya aja yang tidak pernah sekolah di ITB pernah join kok
.
Apabila informasi diharapkan untuk tidak diketahui publik, ya sebaiknya “keep it private”. Begitu kira-kira. Apalagi kalau informasinya sensitif, bisa menyinggung perasaan orang lain.
Cara orang menyelesaikan masalah bermacam-macam. Ada yang cukup dengan ketemu muka lalu saling menjelaskan, ada juga yang adu otot, berkelahi, ada juga yang melalui jalur hukum.
Analogi Anda tentang kejadian di rumah, ya memang benar bahwa rumah Anda bukan milik publik. Tapi ingat, rumah Anda terletak di area publik! MUNGKIN tetangga atau orang lewat bisa melihat dan mendengar tindak-tanduk Anda di dalam rumah Anda. Apa Anda bisa seenaknya berbuat apa saja? Ya bisa, itu rumah Anda kok.
Tapi coba periksa lagi analogi Anda. Bagaimana misalnya Anda berbuat mesum di halaman rumah Anda? Bagaimana bila Anda menyetel tv/radio sekencang-kencangnya? Bagaimana bila Anda berteriak-teriak menyinggung agama lain? Walaupun itu Anda lakukan di dalam rumah Anda, saya yakin bahwa publik tidak akan setuju, terlebih mereka yang secara langsung tersinggung dengan ulah Anda tersebut.
Jadi harap berhati-hati, berpikir dulu sebelum bertindak, dan bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukan.
Untuk BS, apabila tidak merasa salah, bantah aja somasinya, sudah ada prosedur dan tata caranya bukan?
milis itb banyak orang luar ITB..
ada dari UNIv lain…
ada dari wartawan gadungan
ada dari RS..
ada dari RSJ… ??????
ga etis ah.. ngintip-ngintip milis internal..
ah media. ujungnya duit.
sensasi = duit.
kasus = duit.
makin ribut, makin laku, makin banyak oplah.
bahkan koran sebesar kompas (sebesar gajah kali ya). sigh..
kalo dicari mana yang salah, menurutku semuanya bisa saja salah.
- SK bersalah karena bercerita (bukan melapor) keburukan orang lain (kalo bener). Apapun alasannya bercerita keburukan orang adalah salah.
- BS bersalah karena memforward email, yang sebenarnya “mungkin” ditujukan hanya kepada BS pribadi, bukan utk disebarkan walau ke milis sekalian, apalagi kalo belum mendapat ijin dari si “pengirim”
- Detik.Com salah karena terburu-buru mempublikasikan masalah ini.
- Kompas adalah pihak korban.
#32: mailing list tidak publik, tapi tidak bersifat rahasia juga. walaupun dengan syarat-syarat yang anda sebutkan, seorang anggota bisa saja memforward email ke luar milis, secara sadar atau akibat dari virus
.
terlebih lagi yang dilakukan BS hanyalah memforward secara verbatim tanpa menyebut secara eksplisit pendapatnya pribadi, mungkin kira seperti ini: “eh teman2, ada yang ngirim saya ini, gimana pendapat teman2?” seandainya ada yang nguping pembicaraan dan memuatnya ke media massa apakah itu salah si pembawa berita? salahkan pembuat informasi, bukan pembawanya. kalau mau menyalahkan pembawa informasi, salahkan juga seluruh pembawa informasi, jangan cuma satu orang saja.
mengenai apakah BS adalah SK atau BS berkomplot dengan SK, itu gak perlu dipertanyakan. sadarilah bahwa di internet seseorang bisa memilih menjadi anonimus dan praktis tidak akan ketahuan.
untuk Kompas, apabila tidak merasa salah, bantah saja pernyataannya, gak susah kan? gitu aja kok repot.
Menurut saya, inti dari permasalahan bukan pada memforward email, juga bukan pada definisi ruang publik atau ruang tertutup. Yang dikeluhkan oleh wartawan kompas itu kan, basuki telah memforward email yg berisi “informasi yang belum di cek kebenarannya”. Kalau kita tidak secara langsung memposisikan diri sebagai sumber berita (dalam kasus ini, sebagai Satria Kepencet), namun hanya sebatas sebagai orang yang “meneruskan” informasi tsb, dengan tujuan mendapat tanggapan pihak lain, apakah ini salah ?
Padahal, yang namanya “indikasi” korupsi, suap, KKN, dan segala macam tindakan negatif lainnya, apabila ada, memang harus di ungkapkan agar bisa mendapat pembuktian. Kalau tindakan untuk menyampaikan informasi mengenai “indikasi” akan di ancam dengan pencemaran nama baik, mungkin sudah lama Kompas di tuntut orang.
Mau bukti ?
Ini ada berita kompas berjudul Isu Gaya Hidup Petinggi KPU.
Bayangkan, judulnya saja sudah “Isu”. Isinya kompas memang isu, coba simak :
“Beragam isu dan rumor pun menjalar dan paling santer dialamatkan kepada Chusnul. Chusnul dikabarkan memiliki mobil mewah sekelas Jaguar, Land Cruiser, dan properti senilai miliaran rupiah berupa unit apartemen dan rumah luks di kawasan elite Jakarta Selatan.”
Mau yg pakai anonim ? Nih, lagi2 kompas punya :
“Sedangkan Anto-bukan nama sebenarnya-seorang manajer percetakan besar di Jakarta mengaku mengalokasikan dana sekurangnya 10 persen bagi orang dalam KPU untuk mengegolkan proyek pencetakan surat suara pemilu. Lebih parah lagi, beberapa percetakan lain dengan modal nekat berani memberikan komisi besar.”
Mungkin sebaiknya kita ganti saja kalimatnya dengan “Sedangkan Satria Kepencet, bukan nama sebenarnya-seorang….” hehehe. Atau, mau berlindung di balik kalimat “diduga”, atau “konon” ? Nih, Kompas jagonya :
“Persoalan logistik ini memang diduga menjadi sumber kekayaan mendadak oknum di KPU. Konon, seorang pegawai setingkat kepala biro di KPU memiliki rumah di Pondok Indah. Sedangkan seorang pegawai rendahan disebut memiliki rumah lebih dari satu di bilangan Bekasi dan memiliki keleluasaan untuk menerima dan merekomendasikan rekanan logistik KPU.”
Apa di situ Kompas menjaga asas praduga tak bersalah ? Saya pikir nggak perlu. Tujuan kita memang mau mengungkap korupsi, suap, KKN dll. Jadi, kalau memang ada indikasi, sebut saja spt di atas. Saya setuju kok, dengan yg dilakukan Kompas ini. Yang korupsi, suap, di pemerintahan, di KPU, bahkan di media massa, harus dibabat.
TAPI….. ternyata kita terkejut (hehe, gue sih terkejut, yg lain mungkin udah pada tahu), betapa KERDIL nya KOMPAS, betapa Kerdilnya Budiman Tanuredjo, yang dengan kalimat “tahi kerbau” nya (bener kan, “bullshit”), mengatakan :
“Kami terbuka untuk menerima masukan apapun — dengan data yang bisa dipertanggungjawaban bukan sekadar fitnah dan tudingan tak berdasar– untuk perbaikan kami di masa depan. Kami menerima segala kritik dan masukan dan karena itu kami juga membuka ruang kritik melalui Forum Pembaca Kompas dan Ombudsman Kompas yang anggotanya orang-orang luar Kompas untuk “mengadili” Kompas jika Kompas melakukan kesalahan.”
Bayangkan SODARA SODARA…. “kami menerima masukan APAPUN”. APAPUN tahi kerbau ? Kayaknya lebih pantes jual obat saja dia.
go go Priyadi! gua setuju sama pendapatmu!
#26: Oom RSWW, Anda sewot kok banget sih sama Ganesha?? apa Anda pikir Univ Anda yang di Bogor itu juga ga makan duit rakyat?? ayo lahh ngaku, tunjukkan jati diri Anda.
Saya wartawan, harap maklum kalau lebih tertarik soal amlop-nya dari pada soal milis-milisnya. Info saya ini sahih: mau kompas, mau tempo, mau republika, mau detik, mau JP, mau media indonesia, mau bisnis indonesia, mau indopos/jawa pos, ada saja wartawannya yg doyan amlop. Bodoh kalo ada yg menganggap yakin media langganannya “halal” 100%.
Bagi kompas…selain menyoal BS, selidiki pula wartawan yg dituduh terima amlop. Caranya sama seperti ompas investigasi pejabat yg “dituduh” korupsi. bandingkan gaji dan fasilitas yg diterima si wartawan dari kantor dengan gaya hidup, belanja, pertambahan kekayaan dll. Sebangsat-bangsatnya wartawan penerima amplop ya dari kompas, gaji gede fasilitas komplit masih saja ada yang doyan sogokan. Bukan berarti saya menuduh “dik” ngamplop,lo.
Bagi para blogger dan member milis yg suka nulis dan gembira kalau tulisannya dibaca orang, ngapain sewot kalau ada orang tersinggung yg menyomasi. Risiko jadi “jurnalis” ya seperti itu. Jangan cuma mau terkenal, tapi gak mau terima risiko disomasi atau dituduh pencemaran nama baik.
Kalau aku jadi BS info berharga itu tak hanya diposting di milis internal, melainkan sebar ke semua milis. Kalau yakin itu benar ngapain takut? Masuk penjara itu gak ada apa-apanya kalau niatnya mengungkap kebenaran. Jangan tanggung begitu. Tapi, kalau tak yakin benar ngapain juga disebar-sebar?
#36, apa definisi publik? Saya cuma merefer ke #29. Terlepas dari masalah mem-forward, apabila setiap orang bebas menjadi anggota, apakah ini bukan disebut “terbuka untuk publik” ? Dalam hal ini publik berarti “siapa saja”. Ya ngga?
Sifat rahasia atau tidak sangatlah relatif, tergantung mailing-listnya sendiri. Ini bukan definisi umum, apakah sifat rahasia tidak mungkin terdapat dalam sebuah mailing-list? Tentu saja tidak kan. Yang membuatnya menjadi tidak rahasia lagi adalah hal/orang yang membuatnya menjadi tidak rahasia, misalnya pembocoran berita. Bocor karena virus, ini kan accident, sekali lagi bukan definisi umum tentang sifat sebuah mailing-list.
… salahkan pembuat informasi, bukan pembawanya. kalau mau menyalahkan pembawa informasi, salahkan juga seluruh pembawa informasi, jangan cuma satu orang saja.
Siapa yang disebut pembuat informasi? Ada yang tahu? Kenapa kok si pembawa berita tidak boleh ditanya ttg. ini? Alasannya apa? Ingat, Basuki adalah penulis berita yang pertama.
untuk Kompas, apabila tidak merasa salah, bantah saja pernyataannya, gak susah kan? gitu aja kok repot.
Sudah saya sebutkan bahwa tiap orang/institusi punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Sekedar penjelasan, bantahan tertulis, baku hantam, ataupun lewat jalur hukum. Ini hak tiap orang. Lagipula ini boleh dikatakan sebagai pembelajaran agar orang tidak hanya asal ngomong. Tidak ada salahnya kan? Kalau kompas milih jalur hukum, ya itu hak dia. Salahnya dimana?
Tulisan Basuki itu bisa diartikan bermacam-macam: BS = SK? BS berkomplot dengan SK? Apakah ini tidak disadari? Ataukah kita harus menganggap bahwa BK bukan SK dan BK tidak punya kepentingan apa-apa? Sebagai orang yang tidak terlibat, tentu saja iya!
#38 Andhi, kok bendera kita sama? jangan-jangan..
Anda kok bisa menyebut-nyebut Bogor, apa ada data yang bisa memback-up tuduhan tersebut? Jangan sampai Pemda Bogor mengirimkan somasi. Kritis terhadap ITB tidak selalu berarti anti ITB, malah mungkin saja orang dalam ITB yang ingin melihat ITB lebih baik.
“…ketika Kompas menuntut BS, justru berarti Kompas telah membantu mengancam kebebasan pers di Indonesia.”
Kalau Kompas melakukan ini dengan sengaja, mari bersama-sama kita kecam. Ini sangat berbahaya bagi kepentingan kita semua.
Tapi kalau ini dilakukan Kompas tanpa menyadari bahayanya, mari kita ingatkan bersama-sama juga.
Mudah-mudahan Kompas bisa menyadari kekeliruannya disini.
Perhatikan comment #37, yang memberikan beberapa contoh lainnya mengenai perbedaan antara ucapan dan tindakan Kompas.
Disatu pihak Kompas banyak mengutip informasi anonim.
Di lain pihak, Kompas menuntut penyampai berita dari sumber anonim…. (padahal dirinya sendiri juga melakukan itu)
Jika Dik merasa integritas dan kredibiltasnya rusak karena email itu berarti isi email itu benar.
#41. Pilihan pertamanya dulu ITB ya, tapi sayang keterimanya dipilihan ketiga…
Hi Roy!
Sumpah.. Pusingg…




Nyesel ngikutin pertengkaran ini.. tapi dah tanggung..
ah.. jadi pengen tau ending nya..
#26, gimana cuaca di odaiba? banyak ikan nggak?
[...] B tidak kredibel. “milis tidak butuh kredibilitas”, demikian ungkap Pak ErTe. Don’t shoot the messenger, begitu ungkapan yang dilontarkan Priyadi m [...]
#48: adanya wedokan (cewek), ga ada ikan di sana. pengen pindah ke odaiba nih, biar ketemu sama adminnya RSWW, jadi bisa lebih akrab deh
#477 Aqua..aqua.. yang panas..yang panas….
wah .. bisa menaikkan oplah nih
39#, Tulisan Basuki itu bisa diartikan bermacam-macam: BS = SK? BS berkomplot dengan SK? Apakah ini tidak disadari?
kenapa harus mempermasalahkan siapa si penyampai beritanya dan bukan ISI DARI INFORMASI TERSEBUT? apakah mencecar siapa yang bicara adalah satu-satunya cara untuk mencari kebenaran? kebenaran yang seperti apa? statement anda sendiri lebih banyak meragukan kebenaran hanya karena ketidakjelasan sumber, dan BUKAN PADA MATERI INFORMASI-nya.
53#, ups maksud saya refer atas 40#, dan bukan 39#. sorry..
Hi Roy ……………… (copyrighted)
Tentang Kompas vs Milis roundup
http://yulian.firdaus.or.id/2005/05/06/kompas-semakin-rusak/...
dibawa ke pengadilan saja. biar nanti ketahuan siapa yang benar dan siapa yang salah. hidup milis!
hi wartawan 86!
gw dulu pernah punya kasus kayak gini.
di mana gw dalam posisi si SK tp gw gak pake samaran. gw kirim email yg isinya kritikan pd seorang dosen, email gw kirim ke semua asisten se-lab dan dosen lab.
ternyata salah satu asisten lab yg sangat senior memforwardkan email tsb ke “mana2″ *termasuk ke dosen yg dimaksud* dengan sengaja, tp “lupa” menghapus informasi sapa pengirimnya, krn niatnya email tanpa info pengirim.
walhasil, dosen antar lab jd rame termasuk dosen2 se-jurusan.
ya mo gimana pun jg yg diusut dan dituntaskan adalah isi dr email tsb dan sapa pengirim dan sapa yg diomongin. nah soal asisten senior yg forward email, kena sangsi krn memforward email yg mengakibatkan “kegegeran” antar lab, yg mustinya efeknya bisa direduce.
ujung2nya sih semua masalah terselesaikan dg baik. asal semua orang bersikap jantan dan berani mempertanggungjawabkan setiap omongannya.
mudah2an kisah nyata ini dapat membantu
#48: buat rsww.admin, tgl 15 katanya ada pertandingan bola lagi.. asia cup… lu mau jadi kiper?
kalau nggak tau duduk perkaranya, tidak usah komentar!!!! kompas tidak dibaca segelintir orang, juga tidak rugi!
rsww——> amatiran sama kayak gw.
#59 : Yup, kalo mau ikut maen bola tgl 15 daftar ke gua ya. Kita butuh 12 orang pemain.
Oh ya, ttg BS, hari ini dah baca tanggapan terhadap somasi Kompas dan menurut saya bijak sekali pernyataan beliau. Bravo Pak Basuki!
yang harus ditelaah, dicermati, ditelusuri dan diselidiki adalah kebenaran ISI dari informasi dan bukan pada SIAPA penyampainya.
Roy aduh roy……………
Time will tell. ™
Buat pri:
milis itu bukan publik?
Saya juga benci RS sama seperti anda, tp jangan sampai kebencian memudarkan obyektifitas anda.
Jika saja yg memforward itu RS, saya yakin judulnya akan spt:
“Dasar idiot, email gak jelas kok diforward ke publik”
Buat BS:
Anda memforward krn isi email sangat bias dan mendukung kpu. Jika anda teliti lebih jauh isinya lebih banyak berisi opini daripada fakta.
Saya yakin anda kenal dgn SK, kalau tdk tdk mungkin mau memforward, iya kan?
Buat SK:
Saya tidak peduli KPK mau konspirasi dgn bin laden, bush, ahira, RS atau setan sekalipun, yg penting para tikus koruptor harus diadili.
Saya tahu para “akademisi” ini masih belajar (untuk korupsi) jadi caranya blm se-elegan seniornya. Tapi tikus tetap tikus, jangan hanya krn RS, kita jadikan para tikus ini sbg “korban” dari kedzaliman kpk.
cheers
#53, karena bisa diartikan macam-macam, berarti ada beragam pendapat orang, bukankah demikian? Kompas menuntut BS, karena dialah sumber kemunculan berita tersebut. Dari situ bisa ditelusuri lebih lanjut.
Kalau kasus seperti ini bisa muncul ke pengadilan, siapa yang salah? orang yang mencari keadilan (bisa dikatakan demikian menurut orang itu)? atau sistem hukum di indonesia? atau orang yang mencari gara-gara?
Siapa yang salah? Ya biar pengadilan yang memutuskan, karena ternyata jalur hukum yang dipilih! Kalau musyawarah yang dipilih, bakal lain lagi ceritanya
Siapa tahu di pengadilan nanti malah si SK muncul! Atau malah si BS membuktikan bahwa isi tulisan itu benar (karena dia kan orang KPU, “mungkin” aja dia tahu)
#61: sebagai orang Kompas seharusnya anda tidak membuat pernyataan yang merugikan kredibilitas Kompas seperti itu.
#67: no, saya rasa saya cukup objektif, saya bahkan sudah berpendapat seperti ini jauh sebelum tahu bahwa RS berada di belakang semua ini.
Heran juga. Kompas maupun si Sidik itu, belum pernah menyatakan bahwa “isi dari informasi itu adalah tidak benar”. Mereka sibuk mengatakan kena fitnah, menuntut BS menyebarkan informasi yg belum di cek kebenarnnya (padahal yg begitu itu sih KOMPAS jagonya).
Buat yg mbaca, ada yg bisa menghubungi si Sidik ini, untuk bikin pernyataan di media massa secara jelas, bahwa apa yg dituduhkan dalam informasi itu adalah “TIDAK BENAR” ?
Harusnya, si SK ini pakai kata-kata “Konon, Isu yang beredar”.
Mbaca di Detik, Kompas (atau Sidik?) resmi mengadukan BS telah melanggar pasal 310 KUHP. Jadi penasaran, mbaca2 KUHP pasal 310 mengenai PENGHINAAN itu, ternyata ayat 3 nya berbunyi : (3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.
Nah, walaupun Kompas atau Sidik menganggap Basuki menghinanya di muka “umum”, tapi kalau perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan umum : membongkar korupsi, tidak termasuk pencemaran itu. Kompas salah pasal rupanya.
Daripada repot2, mending kita tantang saja Kompas dan Sidik. “Halo-halo, apakah anda berani mengatakan didepan “umum” bahwa apa yang dituduhkan dalam email satria kepencet itu, bahwa anda terima uang dari oknum KPU, adalah TIDAK BENAR ?
Kalau tidak berani secara tegas mengatakan itu, bahkan malah balik bertanya “mana buktinya”, ya berarti apa yg dituduhkan itu benar (tapi anda heran kok orang bisa tahu, sehingga nanya2 bukti). Mirip sama para pejabat yg kewalahan dituduh korupsi, ramai2 bertahan dengan balik bertanya “mana buktinya” ?
#70, mungkin Kompas tidak mau susah2, sudah terlanjur prosesnya masuk pengadilan, sekalian di sana.
Eh itu kalo dapet email phising yg ngakunya dari ebay, paypal, atau bank2 lain itu memangnya pasti dari ebay, paypal atau banknya? How naive.
Emailnya yg difwd ke milis itb itu ada digital signaturenya? Trus walaupun signaturenya match, emangnya disign pake key yg pasti punya orangnya? Jadi bisa dipastiin 100% gak kalo yg ngirim email itu memang benar org itu? Kalo gak ada digital signature, paling banter ngetrace sampe ke IP address doang. Itu pun gak bisa dipastiin 100% dia yg pake IP addr itu (spoofing, dhcp, komputer yg dipake bergantian, header forging, log forging, sapa yg punya akses ke logs, etc). Jadi kalo ini tidak bisa dibuktikan, ya good luck deh buat kompas kalo mau menuntut orangnya ke pengadilan, berharap aja lawyernya orangnya nggak ngerti teknis gini (which is very unlikely considering orgnya dr ITB).
kalau patik tidak salah, itu ada di mata kuliah pengantar filsafat
patik hendak bertanya kepada tuan dan puan, jika itu terjadi pada tuan dan puan (ada yang sebar kabar di milis bahwa tuan a melakukan b atau puan c melakukan d. reaksi tuan dan puan akan seperti apa?)
majelis bloger, patik cuma orang awam. tapi bagi sebagian jurnalis, persoalan amplop adalah persoalan besar. bukan hanya persoalan dipecat dari pekerjaan (itu hanya salah satu persoalan). yang lebih besar, soal kredibilitas.
dalam dunia kerja, itu amat penting. jika tuan dan puasn sudah bekerja, mungkin akan mengerti apa arti itu
tabik

#74: ya tinggal dicounter saja hal tersebut di milis yang bersangkutan. selain itu harus disadari bahwa memforward sebuah email TIDAK BERARTI menyetujui isi dari email tersebut.
“Hey teman-teman, ada yang ngirim saya surat ini, menurut teman-teman gimana ya?”
#75: Yang dipermasalahkan bukan apakah BS setuju atau tidak pada isi email, tapi MEYEBARLUASKAN INFORMASI YANG TIDAK BENAR YANG DAPAT MERUSAK NAMA BAIK ORANG (Diasumsikan salah karena BS tidak bisa mengeluarkan bukti. Burden of proof ada pada yang menuduh). Tidak perlu setuju untuk menyebarluaskan fitnah.
Memang kalau yang terlibat hanya orang-orang selevel member id-gmail, mungkin Kompas tidak akan repot-repot. Tapi karena ini adalah Basuki Suhardiman, yang dikenal luas dan dianggap tokoh di kalangan media, IT & KPU semua isu yang disebarluaskan beliau jadi punya nilai lebih, lebih di dengar orang & bisa dipercaya sebagai (mendekati) fakta. Masalah yang mungkin anda anggap sepele pada level anda, menjadi besar karena melibatkan BS.
Kalau Husni yang bilang “Gus Dur itu kan bego..”, nggak akan ada yang protes. Tapi kalau SBY yang bilang, pasti akan ada pertumpahan darah.
Jadi, kalau sudah di “atas”, bicara (termasuk lewat email) mesti lebih hati-hati.
Mari kita hitung ada berapa monyet yang berkomentar di sini, dan kita undang Kompas untuk menjadi tim jurinya.