12 December 2005

Herman Saksono, Roy Suryo dan Susilo Bambang Yudhoyono

Posted under: at 16:24

Dimulai dari senda gurau yang bertajuk Foto Mayangsari Adalah Rekayasa, Herman Saksono kini harus berurusan dengan kepolisian. Pada tulisan tersebut, Herman memodifikasi wajah pada foto intim Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo menjadi tokoh-tokoh lain, yaitu Roy Suryo, SBY, Surya Paloh, Yusril Izha Mahendra, Armand Maulana dan Rhoma Irama.

Pada pukul 10.00 pagi ini saya menerima pesan melalui Yahoo! Messenger dari Herman Saksono. Beliau mengabarkan bahwa atasan beliau mendapat SMS dari tak lain dan tak bukan adalah sang Pakar Pornomatika, Roy Suryo.

Setelah itu, saya pribadi menyarankan untuk merahasiakan masalah ini untuk sementara waktu untuk mengetahui apakah Roy Suryo serius dengan ancamannya ini. Pada saat itu saya masih berpendapat bahwa 68% ini cuma gertak sambal dari sang pakar gadungan. Tetapi ternyata dugaan saya salah, pada sekitar pukul 12.30, saya mendapat pesan dari Tika –rekan kerja Herman– bahwa Herman didatangi oleh orang-orang dari kepolisian! Tika melaporkan bahwa Herman dengan susah payah menerangkan kepada aparat –yang sepertinya awam komputer dan Internet– bahwa ini hanyalah main-main belaka.

Saya sempat berpikir bahwa ini hanyalah gertak sambal karena Eko Juniarto pernah merasakan hal yang sama. Roy Suryo –yang juga masih kerabat dari Eko Juniarto– pernah mengancam atasan dan mertua Eko melalui SMS. Pada saat itu Roy Suryo mungkin ingin membalas dendam hanya karena kalah telak dalam diskusi pada beberapa mailing list. Saat itu Eko dan 68% anggota mailing list mematahkan teori Roy Suryo bahwa ‘metadata’ sebuah citra digital tidak dapat dimodifikasi. Namun sampai saat ini, ancaman Roy Suryo tersebut ternyata hanyalah sebuah gertak sambal belaka.

Tentunya ini sebuah alasan yang kekanak-kanakan, dan sama kekanak-kanakannya dengan alasan yang ia gunakan untuk menjerat Herman Saksono. Rasanya SBY adalah presiden yang tidak kampungan untuk dengan ceroboh mengusut Herman Saksono untuk alasan yang remeh temeh™ seperti ini. Lain halnya dengan tokoh lain yang turut menjadi ‘korban’ dari Herman Saksono, yaitu Roy Suryo sendiri.

Jika Herman bisa diusut hanya karena senda guraunya, lalu bagaimana dengan media massa yang saya lihat tidak jarang menampilkan karikatur presiden maupun tokoh lain dengan pesan-pesan politis yang tentunya lebih daripada sekedar sebuah senda gurau?

Mungkin sudah saatnya bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat untuk merevisi kembali keputusannya untuk lebih selektif dalam memilih kadernya. Tentunya Presiden dan Partai Demokrat tidak ingin citranya hancur lebur hanya gara-gara merekrut seorang ‘pakar’ foto porno yang hanya ingin menggunakan kekuasaannya untuk menekan pihak-pihak yang secara pribadi tidak ia sukai.

Bebaskan Herman Saksono dan kembalikan kebebasan berekspresi!

Tulisan di blog lain yang terkait:

173 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!