15 December 2005

Diskusi Tentang Blog dan Kasus Herman Saksono di Depkominfo

Posted under: at 09:39

Dua hari yang lalu (13 Desember) saya mendapatkan undangan dari Judith MS (Hi Bunda!) untuk menghadiri diskusi tentang kasus Herman Saksono dan (mudah-mudahan bukan) saya. Diskusi ini akan dihadiri oleh saya bersama teman-teman, pihak kepolisian dan Departmen Komunikasi dan Informatika.

Banyak isu yang beredar kalau pertemuan ini adalah ‘pemeriksaan secara intensif’ terhadap diri saya. Berita tersebut sama sekali tidak benar. Saya dan teman-teman datang dengan sukarela atas permintaan Bunda Judith MS, bukan atas permintaan pihak kepolisian. Diskusi dilakukan di tempat netral (Departemen Kominfo) dan bukan di kantor polisi. Polisi yang hadir juga cuma satu orang. Sedangkan saya ditemani oleh empat orang. Rasanya bukan ide yang baik untuk menciduk saya dalam kondisi seperti itu :).

Kemarin saya memenuhi undangan tersebut. Diskusi dimulai pada sekitar pukul 11.30. Saya sendiri ditemani oleh Andika Triwidada, Eko Juniarto, Idban Secandri dan Boy Avianto. Sedangkan kepolisian diwakili oleh seseorang yang tak ingin disebutkan namanya. Pihak mediator adalah Cahyana Ahmadjayadi (Dirjen Aplikasi Telematika) yang ditemani oleh Kisnu Widagso (Universitas Indonesia). Diskusi ini dihadiri oleh Judith MS Lubis, tokoh yang lebih saya kenal sebagai pejuang warnet Indonesia, beserta beberapa rekan-rekannya. Selain itu, Rourry dari detikcom juga turut mengamati jalannya diskusi.

Diskusi diawali dengan cerita kronologis saya tentang kasus ini. Saya bercerita dimulai dari foto Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo yang beredar di Internet. Herman Saksono kemudian memodifikasi foto-foto tersebut menjadi foto beberapa tokoh, di antaranya adalah Presiden SBY. Kemudian beliau diciduk polisi dan menandatangani surat perjanjian untuk menurunkan foto-foto tersebut. Sedangkan ‘kasus’ saya dimulai dari tulisan saya tentang Didikgate yang disertai taut ke tulisan Herman Saksono yang memuat foto-foto tersebut.

Ada dua buah kasus yang kami pertanyakan: kasus Herman Saksono yang dituduh menghina Presiden; dan kasus saya yang membuat taut ke halaman milik Herman Saksono.

Tuduhan Penghinaan Terhadap Presiden

Untuk kasus ini, argumen-argumen kami adalah sebagai berikut:

  • Herman melakukannya bukan untuk dengan sengaja menghina Presiden
  • Pasal-pasal yang dituduhkan sudah berlaku sejak Indonesia merdeka dan praktiknya tidak konsisten. Misalnya, pada jaman orde baru, pasal-pasal ini bisa digunakan untuk membungkam para kritikus. Sedangkan pada masa ini tidak digunakan lagi untuk hal-hal tersebut, padahal pasal-pasal tersebut masih ada dan berlaku. Hal ini bisa mengesankan kalau pasal ini sudah tidak berlaku saat ini, walaupun kenyataannya tidaklah demikian.

Setelah melihat fakta yang ada, Pak Kisnu berpendapat bahwa kasus Herman tidak cukup kuat karena niat Herman bukanlah untuk menentang Presiden. Jika penuntut ingin agar kasus ini diajukan ke pengadilan, maka pasal yang lebih cocok adalah pasal sapu jagat ‘perbuatan tidak menyenangkan’. Jika kasus ini sampai ke pengadilan, Pak Kisnu berpendapat akan sulit bagi penuntut untuk dapat memenangkan kasus ini.

Seluruh peserta diskusi tampaknya setuju kalau kasus ini terlalu mengada-ada.

Tuduhan ‘Turut Menyebarkan’

Tuduhan yang tadinya akan ditujukan kepada saya adalah ikut menyebarkan foto-foto hasil modifikasi hanya karena sebuah taut yang menunjuk halaman pada blog Herman yang memuat foto-foto itu. Menurut kami tuduhan ini tidak berdasar karena:

  • Mengapa cuma saya yang dituduh sedangkan bukan cuma saya yang berbuat hal yang sama.
  • Memberi taut adalah hal yang lumrah di Internet.
  • Media massa mainstream juga melakukan hal yang sama.
  • Membuat taut bukan berarti setuju dan mendukung isi halaman yang direferensikan.

Menurut Pak Kisnu, membuat taut bisa berarti salah dalam konteks saya membiarkan sebuah kejahatan terjadi. Orang yang membiarkan sebuah kesalahan terjadi juga salah. Walaupun demikian, jika saya dituntut, polisi harus menggunakan sumber dayanya untuk mengusut semua orang yang melakukan hal yang sama. Kami menunjukkan bahwa yang memberi informasi tulisan pada blog Herman Saksono berjumlah puluhan dan bahkan mungkin lebih dari seratus yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Selain itu, media massa seperti detikcom juga melakukan hal yang sama. Menurutnya, polisi harus berhati-hati dalam menggunakan sumber dayanya, apakah kasus yang diusut layak untuk menghabiskan sumber daya kepolisian yang terbatas. Selain itu, dampak pemberitaan pada media massa seperti detikcom tentunya jauh lebih besar daripada kasus saya.

Sewaktu technical meeting satu hari sebelumnya di Cilandak Town Square, saya mengatakan ke Bunda Judith bahwa beliau melanggar Undang-undang HAKI dengan melakukan copy-paste artikel-artikel surat kabar pada blognya. Ini yang disampaikan beliau ke forum diskusi. Bunda melakukannya atas dasar ketidaktahuan. Jika membuat hyperlink adalah salah, mengapa harus sampai menghukum orang yang tidak tahu bahwa itu salah.

Pak Kisnu dan wakil dari kepolisian juga sepakat bahwa usaha sosialisasi yang dilakukan pemerintah selama ini memang tidak memadai.

Saya masih memiliki keyakinan bahwa membuat hyperlink tidaklah salah. Rasanya para penulis blog tidak perlu takut untuk membuat hyperlink hanya gara-gara kasus ini. Walaupun demikian perlu dipertimbangkan juga contoh ekstrim yang diberikan oleh Pak Kisnu, bagaimana jika taut tersebut mereferensikan situs untuk membuat bom misalnya. Tentunya dampaknya akan lebih berat daripada yang saya alami saat ini.

Blog Sebagai New Media

Kami juga mengangkat apakah blog bisa disamakan dengan media masa tradisional. Belum ada kata sepakat yang jelas tentang hal ini. Belum pernah dibuktikan bahwa hukum-hukum yang mengatur media massa tradisional juga berlaku untuk para penulis blog, apakah hukum-hukum seperti Undang-Undang Pokok Pers juga berlaku untuk para penulis blog? Apakah hak dan kewajiban para penulis blog sama dengan hak dan kewajiban media massa tradisional? Sayangnya diskusi ini tidak berakhir pada kesimpulan karena memang bukan ini topik inti dari diskusi. Hanya saja kami cukup penasaran untuk mengangkat topik ini ;).

Wibawa Kepolisian

Karena ada kesempatan bertemu dengan wakil dari kepolisian, kami juga sekalian mengangkat isu tentang wibawa kepolisian. Selama ini wibawa kepolisian di masyarakat sangatlah buruk, untuk diskusi ini kami khususkan pada kasus-kasus di seputar teknologi informasi. Polisi terkesan asal-asalan dalam memilih saksi ahli untuk menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan teknologi. Contoh kasus yang kami angkat adalah kasus Andi Ghalib & Habibie dan juga kasus foto Sukma Ayu. Pemilihan saksi ahli yang sama sekali tidak kompeten tentunya akan mempengaruhi hasil dari proses persidangan.

Dalam kedua kasus tersebut kami sebagai anggota masyarakat mendapatkan kesan jika pihak kepolisian tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Hal ini dibantah oleh wakil polisi. Dalam kasus-kasus tersebut saksi ahli berjumlah lebih dari satu walaupun yang terekspos ke masyarakat hanya yang itu-itu juga. Pihak polisi juga memberi tahu beberapa nama lain yang menangani kasus tersebut dan Eko Juniarto juga mengiyakan bahwa tokoh-tokoh tersebut memang tokoh yang kompeten.

Walaupun demikian, tentunya kepolisian tidak dapat begitu saja membiarkan reputasinya hancur di masyarakat. Saya menambahkan bahwa kepolisian harus bereaksi jika ada ancaman terhadap reputasinya. Jika ada seorang saksi ahli yang memperburuk citra polisi di masyarakat, kami berpendapat bahwa polisi perlu meluruskannya. Jawaban dari pihak kepolisian adalah bahwa polisi tidak boleh melakukan hal-hal tertentu karena memiliki sumber daya yang terbatas.

Kesan yang saya dapatkan dari wakil kepolisian ini yaitu bahwa dia adalah orang yang banyak tahu, intelektual dan bisa membedakan mana kesaksian yang valid dan mana yang tidak. Kesan-kesan yang sepertinya tidak akan kami dapatkan jika tidak bertemu secara langsung.

Komentar Atas Beberapa Reportase

Detikcom adalah yang pertama kali melaporkan diskusi ini: Kasus Foto SBY: Terapi Kejut Komunitas Internet. Jika saya baca artikel tersebut rasanya tidak menggambarkan suasana dari diskusi. Seperti yang saya katakan di atas, diskusi ini tidak menempatkan saya, Herman dan penulis blog lainnya dalam posisi yang sulit. Justru sebaliknya kami yang banyak mempertanyakan hal-hal yang kami anggap tidak benar. Walaupun demikian, memang kesimpulan dari Pak Cahyana kurang lebih berbunyi seperti yang dikatakan oleh detikcom. Mungkin karena yang datang kemarin adalah Rourry, tetapi yang menulis artikel adalah Wicak?

Radio Elshinta memberitakan dukungan Roy Suryo terhadap proses ‘peradilan’ ini.

Sementara seorang blogger lain bernama Priyadi (http://priyadi.net), lanjut Roy, saat ini juga tengah diperiksa secara intensif oleh Polda Metro Jaya dan Kementerian Negara Komunikasi dan Informatika terkait dengan masalah penghinaan terhadap Kepala Negara.

Sekali lagi saya tekankan bahwa saya dan teman-teman datang atas inisiatif pribadi tanpa ada paksaan. Acara kemarin adalah murni diskusi dan bukan pemeriksaan. Dan rasanya Roy Suryo dan Elshinta juga bisa dituntut hal yang sama seperti yang dituduhkan kepada saya:

Dalam kesempatan itu Roy juga meminta kepada masyarakat untuk tidak mengikuti perbuatan iseng seperti yang dilakukan oleh Herman tersebut. Ia menambahkan, foto yang dipasang oleh Herman Saksono itu dapat dilihat di alamat situs http://www.hermansaksono.blogspot.com.

Ah, saya tidak suka dengan orang yang hobinya ‘lempar SMS sembunyi ponsel’™.

Klarifikasi

Beberapa kali dalam diskusi Bunda Judith dan yang lain mengatakan bahwa ini pertemuan antara pihak penulis blog dan kepolisian. Saya harus tekankan bahwa pertemuan kemarin adalah atas nama saya dan teman-teman pribadi dan bukan atas nama ‘penulis blog’. Blogosfer tidak memiliki struktur hirarkis yang memungkinkan seseorang mewakili mereka secara keseluruhan.

Status Saya Pribadi

Saat ini saya bukan tersangka dan rasanya saya tidak akan pernah menjadi tersangka untuk kasus ini. Dalam diskusi kemarin wakil kepolisian mengatakan bahwa kemungkinan besar saya tidak akan jadi tersangka walaupun sayangnya beliau belum bisa memberi jaminan 100%. Tapi paling tidak 68% saya tidak akan menjadi tersangka :).

Undangan Untuk Diskusi Selanjutnya

Pak Caksana mengajak komunitas IT untuk sering-sering melakukan diskusi seperti ini. Eko Juniarto mendapat mandat untuk mengatur diskusi ini. Mudah-mudahan akan terlaksana, dan penulis blog yang hadir juga jauh lebih banyak daripada diskusi kecil kami kemarin.

Ucapan-Ucapan

Terima kasih kepada Boy, Pak Andika, Eko & Idban untuk menemani saya kemarin. Terima kasih juga kepada yang mempekerjakan mereka untuk mengizinkan mereka bolos beberapa jam atau satu hari.

Terima kasih kepada Bunda Judith MS yang walaupun dalam kondisi yang tidak fit dengan susah payah telah memfasilitasi pertemuan ini. Jika Partai Demokrat nantinya membutuhkan pengganti Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi, rasanya Bunda Judith ini adalah sosok yang sangat tepat. Terima kasih juga kepada rombongan AWARI yang sudah menemani kami dalam diskusi ini.

Terima kasih kepada para penulis blog dan pihak-pihak lain yang telah mendukung saya selama ini. Mohon maaf jika ada komentar, email, PM, atau SMS dari rekan-rekan yang tidak sempat saya balas.

Mohon maaf kepada para wartawan yang telah menghubungi saya. Sebenarnya saya sudah niat ingin mengundang anda-anda ke pertemuan, tetapi saya kira ini pertemuan tertutup. Jika tahu ada wartawan lain yang ikut, saya akan undang anda-anda semua.

Taut Terkait

Berikut adalah taut kepada rekan-rekan yang juga mengikuti diskusi di blognya masing-masing:

Changelog

  • 2005-12-15 10:08: tambahkan taut ke blog Eko Juniarto dan ajakan diskusi oleh Pak Cahyana.

80 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!