16 September 2006

Maraknya ‘Bisnis’ Referensi

Posted under: at 15:04

Akhir-akhir ini semakin banyak jenis ‘bisnis’ yang menamai dirinya ‘bisnis’ referensi. Padahal, sebenarnya itu hanyalah skema untuk mengelabui orang untuk menyetorkan uangnya. Sebagai contoh, mari kita telaah ‘bisnis’ referensi yang menamakan dirinya Samijaya. Samijaya memiliki beberapa ‘program’ bagi anggotanya untuk mendapatkan mobil (termasuk mobil Jaguar), rumah, motor, dan bahkan ibadah umroh dan naik haji serta keanggotaan partai politik.

Tapi seperti biasa, dapat dengan mudah kita kalkulasi bahwa ini adalah tipu muslihat belaka. Hanya segelintir orang yang bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuannya dengan mengikuti ‘bisnis’ ini.

Dari banyaknya keterangan pada situs webnya, program yang paling populer sepertinya adalah program kepemilikan mobil yang diberi nama ‘Tambah Tabungan Bersama’ (Tamtama). Katanya, untuk mendapatkan mobil Suzuki APV seharga Rp 90 juta, peserta diharuskan membayar ‘uang muka’ sebesar Rp 3 juta. Sedangkan sisanya ‘dilunasi’ dengan cara mereferensikan program ini ke orang lain. Jika ada orang lain yang mengikuti program ini melalui seorang peserta, maka peserta tersebut akan mendapatkan Rp 500.000. Dan jika ada pendaftar di kiri dan kanan, maka peserta akan mendapatkan Rp 2 juta, terlepas dari siapa yang mereferensikan.

Artinya, setiap kali anggota baru menyetor Rp 3 juta, maka dari uang tersebut akan dipotong Rp 500 ribu untuk yang mereferensikan anggota baru tersebut. Selain itu Rp 2 juta akan dibagikan setiap kali rata-rata dua orang menjadi anggota baru. Kesimpulannya, dari setiap kali pendaftaran dua orang anggota baru, Samijaya mendapatkan Rp 6 juta, dan mengeluarkan Rp 3 juta. Atau dengan kata lain, anggota Samijaya secara keseluruhan menyetorkan Rp 6 juta dan mendapatkan Rp 3 juta.

Sedangkan mobil APV baru bisa didapatkan jika jaringan (downline) berjumlah 200 di sebelah kiri dan 200 di sebelah kanan. Atau dengan kata lain paling tidak sudah ada 400 peserta (lebih tepatnya ‘korban’) yang mendaftar di bawah nama peserta tersebut, dengan kata lain sudah ada setoran setidaknya sebesar 400 * Rp 3 juta = Rp 1,2 milyar. Dari Rp 1,2 milyar ini, 600 juta akan dibagikan ke anggota lain sebagai komisi, dan kurang lebih Rp 100 juta akan digunakan untuk membeli mobil.

Lalu bagaimana sisa setoran sebesar Rp 1.2 milyar – Rp 600 juta – Rp 100 juta = Rp 500 juta? Tentunya akan masuk kantong pemilik ‘bisnis’ Samijaya ini. Bahkan jika setelah dikurangi biaya-biaya administrasi, asuransi dan sebagainya, jumlah yang masuk ke kantong pemilik ‘bisnis’ masih sangatlah besar.

Satu mobil APV tersebut didapatkan atas usaha ‘gotong royong’ dari 400 anggota. Lalu bagaimana caranya agar 400 anggota ini dapat mendapatkan mobil yang sama? Tentunya dengan secara langsung maupun secara tidak langsung merekrut 400 orang lain untuk menjadi anggota. Dengan kata lain, kurang lebih hanya ada satu dari 400 anggota yang mendapatkan Suzuki APV, atau hanya 1/4% saja. Sisanya tidak akan mendapatkan mobil dan hampir semuanya tidak akan balik modal.

Perhitungan yang sama juga dapat diterapkan untuk program-program Samijaya yang lain. Dan dapat dibuktikan bahwa ini hanyalah sebuah money game. Yang sangat disayangkan adalah lagi-lagi ibadah umroh dan naik haji kembali digunakan sebagai komoditas untuk hal-hal semacam ini.

Informasi dari Indi.

280 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!