Bedah Sistem MLM
Karena banyak yang menagih tulisan skema piramida vs. MLM pada tulisan terdahulu, maka saya tuliskan pendapat saya mengenai perbedaan dan persamaan skema piramida dan MLM. Banyak orang yang menganjurkan untuk menghindari skema piramida tetapi bukan MLM, termasuk saya. Tetapi apakah itu sudah cukup?
Skema piramida adalah sebuah model bisnis yang tidak dapat diandalkan. Keuntungan dari seorang anggota murni berasal dari hasil merekrut anggota yang lain. Jika anggota tidak melakukan perekrutan, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak akan mendapat keuntungan. Kebanyakan skema piramida tidak menjual produk, tetapi ada beberapa yang menggunakan ‘produk’ sebagai kedok. Anggota yang berada pada tingkat bawah atau dekat dengan tingkat paling bawah sudah dapat dipastikan merugi.
Di sisi lain, Multi level marketing (MLM) memiliki struktur mirip dengan skema piramida dimana seorang anggota berusaha merekrut orang lain untuk menjadi anggota. Perbedaannya, pada MLM ada produk yang diperjualbelikan. Keuntungan didapatkan jika seorang anggota atau downline-nya melakukan penjualan produk. Artinya, walaupun anggota berada pada tingkat paling bawah, potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka.
Potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka. Yang harus digarisbawahi di sini adalah kata ‘potensi’. Artinya terbuka kesempatan bagi anggota tingkat terbawah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tentunya belum dapat dipastikan bahwa semua anggota tingkat terbawah akan mendapatkan keuntungan.
Bagaimana ciri-ciri MLM (atau bisnis apapun lainnya) yang baik? Yang utama adalah bahwa seluruh anggota secara kolektif tidak merugi. Bisa saja ada anggota-anggota yang merugi secara pribadi, ini wajar dalam bisnis apapun, akan tetapi sistem secara keseluruhan tidak merugi, atau paling tidak tidak merugi secara terus menerus. Ini adalah prakondisi sistem perdagangan yang sustainable dan mengutamakan asas win win solution.
Pada sistem distribusi melalui MLM ada beberapa kelompok yang terlibat:
- Produsen, adalah produsen yang produk-produknya disalurkan melalui sistem MLM.
- Distributor, adalah anggota masyarakat yang direkrut untuk memasarkan produk-produk produsen dan merekrut distributor lainnya dengan imbalan tertentu.
- Konsumen non distributor, adalah masyarakat pengguna produk.
Menghitung untung rugi sistem ini sebenarnya tidaklah sulit, dan tidak perlu melibatkan hitung-hitungan komisi sangat rumit yang tentunya berbeda untuk MLM yang berbeda.
Kunci dari sistem ini adalah kelompok distributor. Pada MLM yang baik, kelompok distributor ini secara keseluruhan tidak merugi. Bagaimana supaya tidak merugi? Materi yang masuk ke kelompok distributor ini haruslah lebih besar daripada materi yang keluar meninggalkan kelompok ini. Untuk mengetahuinya kita harus memilah-milah jenis-jenis transaksi dari sudut pandang kelompok distributor.
Produsen mengirim produk ke distributor.
a. produk untuk dikonsumsi distributor sendiri.
b. produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor.Distributor mengirim produk ke konsumen.
Konsumen membayar harga produk ke distributor.
Distributor membayar harga produk ke produsen.
a. harga produk untuk dikonsumsi distributor sendiri.
b. harga produk untuk dikonsumsi konsumen di luar distributor.Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor.
Perpindahan dana akibat proses perekrutan.
a. Dana yang diterima oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki downline
b. Dana yang disetor oleh distributor sebagai konsekuensi memiliki upline
1b dan 2 saling mengeliminasi. 3 lebih besar daripada 4b, selisihnya adalah profit bagi distributor secara keseluruhan. 1a dan 4a dapat disatukan sebagai transaksi jual beli antara produsen dan distributor, produsen mendapatkan uang harga produk dari distributor, sedangkan distributor tidak mendapatkan profit, tetapi mendapatkan manfaat dari produk. 6a dan 6b saling mengeliminasi.
Setelah mengeliminasi faktor-faktor yang saling berlawanan, hasilnya adalah seperti di bawah ini:
- Transaksi jual beli antara produsen dan distributor (1a dan 4a). Produk dipakai oleh distributor sendiri.
- Konsumen mengirim dana sebagai keuntungan kotor ke distributor, jika distributor menjual produk ke konsumen di luar distributor (3 dan 4b).
- Sumber daya yang harus dikeluarkan distributor sebagai konsekuensi menjalankan tugas sebagai distributor.
Catatan: Transaksi di atas sudah melalui proses generalisasi. Bisa saja seorang distributor menerima bonus dari produsen, dari upline-nya, dari upline upline-nya. Tetapi pada dasarnya uang yang diterima berasal dari keuntungan hasil penjualan produk ke kelompok masyarakat non distributor. Sedangkan bonus yang diterima akibat merekrut seorang distributor akan saling menghilangkan dengan dana yang disetorkan oleh distributor baru tersebut.
Dengan demikian, satu-satunya sumber keuntungan yang didapatkan oleh kelompok distributor secara kolektif adalah jika mereka menjual produk ke masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok distributor. Pendapatan kelompok distributor secara keseluruhan menjadi positif seandainya 2 > 3.
Yang menjadi masalah adalah sistem MLM di dalam kelompok distributor sendiri tidak menganjurkan menjual langsung ke masyarakat non distributor. Distributor-distributor secara individu diberi insentif lebih tinggi untuk merekrut anggota kelompok konsumen untuk menjadi distributor, ketimbang untuk menjual produk ke mereka. Di sisi lain, semakin banyak anggota kelompok distributor, maka semakin tinggi beban untuk mencapai keuntungan kolektif. Mereka harus menjual lebih banyak produk lagi ke masyarakat non distributor, dan di sisi lain, anggota masyarakat yang tertarik dengan produk tersebut mungkin sudah tertarik untuk menjadi distributor.
Pada beberapa presentasi MLM yang saya ikuti (atau lebih tepatnya menjebak saya), mereka selalu melecehkan sistem penjualan door-to-door. “Untuk apa menjual seperti sales keliling, jika dengan merekrut distributor baru kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak?” Padahal pada kenyataannya sistem penjualan langsung ke masyarakat tanpa mengajak mereka menjadi distributor ternyata jauh lebih menguntungkan bagi kelompok distributor secara kolektif.
Singkatnya, menjual produk ke masyarakat non distributor sebanyak-banyaknya adalah sebenarnya yang harus dilakukan oleh kelompok distributor secara kolektif. Tetapi secara individu, merekrut masyarakat untuk dijadikan distributor jauh lebih menjanjikan.
Kesimpulannya, MLM yang baik adalah MLM yang memberi insentif lebih tinggi bagi distributornya untuk menjual produk ke anggota masyarakat non distributor ketimbang untuk merekrut distributor baru. Adakah MLM yang seperti itu? Saya pribadi belum menemukannya.
Jika ada manfaat yang nyata dengan menjadi ‘distributor’ MLM, maka itu adalah point nomor 1 di atas: untuk mendapatkan produk-produk dari produsen dengan harga diskon, dengan kata lain kelompok distributor menjadi mirip seperti keanggotaan klub belanja. Tetapi rasanya sebagian besar orang-orang memilih menjadi distributor bukan untuk mendapatkan produk-produk dengan harga diskon.
Kemudian ada masalah margin keuntungan. Untuk produk-produk yang dijual ke masyarakat non distributor melalui MLM, margin keuntungannya jauh lebih tinggi daripada jika dijual melalui jalur distribusi tradisional. Mengapa ini bisa terjadi? Karena distributor mendapatkan komisi dari produk-produk yang dijual ke masyarakat non distributor. Terkadang, margin keuntungan ini bisa mencapai 80%!
Bagaimana caranya menghitung margin keuntungan ini? Sebenarnya tidak sulit, hanya saja kita perlu mempelajari struktur komisi dari MLM yang bersangkutan. Singkatnya, harga produk setelah dikurangi komisi yang dibayarkan ke distributor akan tidak jauh berbeda seandainya produk yang bersangkutan dijual melalui jalur distribusi tradisional. Akibatnya, akan sangat sulit bagi distributor untuk menjual produk yang berkompetisi dengan produk lain yang dijual melalui jalur distribusi tradisional.
Bagaimana jika kita tinjau dari ruang lingkup produsen? Dari sisi produsen, kelompok distributor dan masyarakat di luar distributor keduanya adalah konsumen. Produsen akan mendapatkan keuntungan terlepas dari siapa yang membeli produknya. Produsen sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya pemasaran, kelompok distributor yang akan dengan sukarela melakukannya untuk mereka, dan bahkan produsen akan mendapatkan keuntungan tambahan yang sangat signifikan dari kegiatan tersebut! Tanpa mempertimbangkan faktor moralitas dan reputasi, dari ruang lingkup produsen, pemasaran melalui MLM adalah cara pemasaran yang revolusioner.
Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung. Perbedaannya terletak hanya pada status saja, resmi atau tidak resmi, legal atau tidak legal. Pengecualian ada pada MLM yang menitikberatkan penjualan produk ke masyarakat non distributor ketimbang melakukan perekrutan distributor baru.
***
Contoh soal:
Perusahaan PT. Acme Sejahtera adalah produsen tempaan merk AnvilX™. Perusahaan ini memasarkan AnvilX™ melalui jaringan MLM. Biaya modal untuk memroduksi AnvilX™ adalah Rp 900, dan produk ini dijual ke publik dengan harga resmi sebesar Rp 1500. Sedangkan jika yang membeli adalah distributor, harganya cuma Rp 1000. Setiap kali distributor menjual ke masyarakat non distributor maka ia akan mendapatkan komisi Rp 300, dan upline-nya mendapatkan komisi Rp 200.
Untuk menjadi seorang distributor, maka distributor tersebut harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 300. Sedangkan jika seorang distributor merekrut distributor baru, maka ia akan mendapat komisi Rp 300. Pekerjaan sebagai distributor ini menuntut biaya operasional sebesar Rp 100/bulan.
Karena MLM Acme adalah MLM yang masih baru, MLM ini baru memiliki 3 orang distributor, yaitu A sebagai distributor pertama, serta B dan C sebagai downline dari A.
Skenario 1: para distributor ini memfokuskan diri untuk merekrut distributor baru tanpa melakukan penjualan baik ke mereka sendiri maupun ke luar kelompok distributor.
Anggaplah B dan C pada bulan ini keduanya berhasil merekrut masing-masing dua orang distributor yaitu D, E, F dan G. Artinya D, E, F dan G masing-masing menyetorkan Rp 300 dengan total keseluruhan Rp 1200. Dan karena masing-masing merekrut dua orang, B dan C masing-masing mendapatkan komisi 2xRp 300 yaitu sebesar Rp 600, totalnya adalah Rp 1200. Melalui aktifitas perekrutan ini, kondisi keuangan A tetap, B dan C bertambah masing-masing Rp 600 sedangkan D, E, F dan G berkurang masing-masing sebesar Rp 300. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan A, B dan C adalah masing-masing Rp 100/bulan, dengan total Rp 300/bulan. Jika dihitung secara menyeluruh, maka kelompok distributor mendapat keuntungan sebesar 2xRp 600 dan kerugian sebesar 4xRp 300 + Rp 300. Jika dijumlahkan, kelompok distributor ini merugi sebesar Rp 300. Sedangkan keuntungan B dan C murni berasal dari kerugian D, E, F dan G.
Skenario 2: para distributor tidak berusaha untuk menjual keluar kelompok distributor maupun merekrut distributor baru, mereka hanya membeli AnvilX™ dari Acme.
Biaya operasional total untuk A, B, dan C adalah 3xRp 100/bulan = Rp 300/bulan. Anggaplah produk AnvilX™ dibutuhkan sebanyak satu buah untuk satu bulan. Maka A, B dan C akan membeli AnvilX™ sebanyak tiga buah dengan harga 3xRp1000 = Rp 3000. Anggaplah Rp 1000/produk adalah harga yang wajar, maka A, B dan C mendapatkan manfaat dari AnvilX™ yang sepadan dengan harga yang dibayarkan. Maka secara keseluruhan kelompok distributor merugi sebanyak biaya operasional yaitu sebesar Rp 300.
Catatan: seandainya upline mendapat komisi dari transaksi ini, maka hasilnya akan tetap sama. Karena biaya yang dikeluarkan sudah termasuk komisi untuk upline, sedangkan harga intrinsik AnvilX™ itu sendiri adalah harga AnvilX™ setelah dikurangi komisi untuk upline.
Skenario 3: para distributor tidak melakukan perekrutan, tidak membeli produk, tetapi hanya memfokuskan diri untuk menjual AnvilX™ ke masyarakat non distributor tanpa mengajak mereka untuk menjadi distributor (menjual secara retail).
Biaya operasional total untuk A, B dan C tetap konstan yaitu Rp 300/bulan. Asumsikan B dan C masing-masing berhasil menjual AnvilX™ sebanyak satu buah. Komisi penjualan masing-masing adalah Rp 300, dan dari dua penjualan itu juga maka A akan mendapatkan 2xRp 200 = Rp 400. Total pemasukan adalah Rp 300 + Rp 400 = Rp 700 dan total pengeluaran adalah Rp 300. Jika dijumlahkan, maka kelompok distributor secara keseluruhan akan mendapatkan untung sebesar Rp 700 - Rp 300 = Rp 400.
Skenario 1 adalah skenario skema piramida murni. Skenario 2 adalah skenario ‘klub belanja’. Sedangkan Skenario 3 adalah skenario penjualan langsung. Distributor pada sebuah MLM melakukan ketiga skenario ini, tapi yang menghasilkan keuntungan hanya skenario yang terakhir. Tinggal dihitung proporsinya, apakah secara keseluruhan menghasilkan keuntungan atau tidak.
***
Saya bisa mendengar di belakang ada yang berteriak, “Ah, itu kan cuma teori!!”
Lagi-lagi karena hukum perlindungan konsumen di Amerika Serikat yang jauh lebih baik daripada di Indonesia maka kita bisa melakukan perhitungan secara kuantitatif. Pada tahun 1979, Lembaga Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) mengharuskan Amway –nenek moyangnya bisnis MLM– untuk mencantumkan nilai rata-rata pendapatan dari seluruh distributor. Informasi ini tercantum dalam dokumen SA-4400 yang wajib untuk diserahkan kepada semua calon distributor baru. Informasi yang relevan adalah sebagai berikut:
The average monthly gross income for “Active” IBO was $115.
Approximately 66% of all IBOs of record were found to be “Active”.
Para punggawa MLM seringkali menitikberatkan presentasi pada keuntungan segelintir distributor yang berada pada puncak piramida, tetapi tidak melihat kelompok distributor secara keseluruhan. Ini adalah praktik cherry picking yang mengaburkan kondisi sebenarnya. Tetapi terima kasih kepada FTC, kini kita dapat mengetahui nilai pendapatan rata-rata dari hampir seluruh lapisan distributor, bukan hanya yang berada di dekat puncaknya saja.
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah kata-kata ‘gross’ dan ‘active’. Gross income artinya adalah keuntungan kotor yang belum memperhitungkan pengeluaran. Sedangkan ‘active’ berarti angka tersebut hanya berlaku untuk distributor yang dianggap aktif saja. Sayangnya perhitungan ini membagi kelompok distributor menjadi dua: yang aktif dan yang tidak aktif. Dengan demikian kita tidak dapat mengetahui apakah $115 itu murni berasal dari keuntungan dari penjualan ke masyarakat non distributor, ataukah sudah termasuk dana yang disetorkan oleh distributor non aktif. Tetapi walaupun demikian sudah jelas bahwa pendapatan sebesar $115/bulan sangat jauh tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari di Amerika Serikat, dan ini masih belum memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi menjadi seorang distributor.
Saat ini FTC sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan peraturan baru soal MLM dan bisnis peluang bisnis lainnya, bukan Amway saja. Nantinya jika sebuah MLM mengklaim jumlah pendapatan (termasuk di antaranya adalah klaim kualitas hidup seperti gambar-gambar rumah mewah, mobil mewah, pesawat terbang, kapal pesiar), maka mereka diharuskan untuk memberikan data-data kuantitatif lebih lanjut tentang klaim tersebut. Jika peraturan ini diberlakukan, calon anggota MLM di Indonesia mungkin nantinya akan dapat memanfaatkan data-data ini sebagai bahan pertimbangan untuk menilai sebuah MLM yang memiliki cabang di Amerika Serikat.
Seandainya Indonesia membutuhkan hukum perlindungan konsumen terhadap bisnis peluang bisnis, rasanya patut sedikit mencontoh langkah FTC di Amerika Serikat ini. Tetapi walaupun hukumnya belum ada, perusahaan yang jujur pasti bersedia untuk menyerahkan data-data yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan kepada calon distributornya. Mintalah data-data seperti jumlah penghasilan rata-rata, tren jumlah distributor, distribusi pendapatan, jumlah distributor yang berhenti dan data-data relevan lainnya ketika sedang ‘diprospek’.
Jika mereka menolak untuk memberikan data-data tersebut, maka sebaiknya anda lari kencang-kencang ke arah yang berlawanan.
pertama?
btw, penampakan blogger di metrotv kemarin koq gak dibahas mas?



puwanjange puwol …..
riplai fes
* sepuluh besar *

5 besar
Kira-kira di Indonesia, siapa (badan apa) yang cocok menjalankan peran seperti yang dilakukan FTC?
Saran yang paling bawah memang yang paling cocok menghadapi MLMster yang gag jelas
Yup!! Sebelum join Network Marketing teliti dulu Profil Perusahaan nya. Teliti legalitas nya. Seharusnya terdaftar di APLI(Asosiasi Penjual Langsung Indonesia). Teliti System Marketing nya. Coba ikuti pertemuannya!!
Jauhi Money Game!!
MLM gak jelek kok..
#6: justru itulah, terdaftar di APLI belum tentu bener. coba baca dari atas sampai bawah
No 8 kah?
yah selain jago presentasi, mesti jago ngomong juga! rayu2 maksa2 orang..hahaha
Setuju!!
Sepakat!!!
aku emang bertujuan mau menulis tentang MLM yang mengulas hal diatas.. ehh.. tapi keduluan om pri.. tp gpp deh.. ntar tetep kutulis pake bahasku sendiri..
Yang ke berapa yach…
Yah begitulah MLM…
Ulasannya bagus mas Pri, thanks.
Bikin yang lebih luas donk, Pri. Tulis di media2 misalnya. Pelaku Money Game gini udah mulai bekerja sama dengan lembaga2 resmi (bank, lembaga finance, dll), dan makin membuat bisnis semacam ini seolah sah dan etis.
aku pernah dapat email tentang keburukan dari mlm..
duh, mlm lagi mlm lagi…
ngga akan ada habis-habisnya selama orang masih ingin UANG. Semua akan kembali ke asal, yaitu uang…
Bang MLM siapa sih abang,
/
\
bang pesannya pake sayang-sayang
bang ayo jujur saja abang
bang nanti kamu aku tendang
“Potensi untuk mendapatkan keuntungan masih terbuka. Yang harus digarisbawahi di sini adalah kata ‘potensi’. Artinya terbuka kesempatan bagi anggota tingkat terbawah untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tentunya belum dapat dipastikan bahwa semua anggota tingkat terbawah akan mendapatkan keuntungan”
——————————————————
Pandangan,komentar,teori,hujatan….wah macem2..!!!!! deh priyadi ini.
Mungkin kedepannya lebih baik.buka topik dan sedikit kasih jalan solusinya doooong.jangan cuma ngomong doang pri..!!
mendingan cocoknya jadi komentator sepak bola aja kayak “KOMENG”.
ada yg riset belanja IT MLM ndak ? terutama hosting dan domain ? hwahahahaha indoglobal ada klien MLM nya ndak ?
1. Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung ?
2. justru itulah, terdaftar di APLI belum tentu bener ?
==>
1.
brarti Franchise juga money game terselubung ya ?
McDonald, Starbuck, Wong Solo, Edam dll
si A membeli hak bisnis/lisensi McD utk Indonesia
ada setoran blnan ke pusat/tutup point
burgernya dikonsumsi publik/produk
keuntungannya utk menggaji staffnya/bonus
& tentunya juga pemilik hak bisnisnya/sharing profit
apakh perush Konvensional juga money game terselubung ?
Trikomsel, Mataram Sakti, Unilever dll
si Trikomsel membuat perush distribusi HP Nokia
si A direkrut sbg marketing
si B sbg manager dll
omset penjualan A lbh tinggi dari B dlm 1 bln/pembeli lbh byk dari B
dptkah A menyalib peringkat B hanya krn mendptkan omset/pembeli lbh byk ? (bedakan: ini konvensional bukan network)
point target B berdasarkan kerja keras A
artinya B hrs naik peringkat dulu kalo A ingin naik peringkat
money game juga kah ?
2.
sdh menyelidik siapa saja yg duduk di APLI.or.id ? ingat bukan APLI.blogspot.com
bedakan or.id dgn blogspot.com
sdh menyelidik WFDSA.org atau MLMIA.com ?
atau cuma mlmlaw.blogspot.com ?
sdh menyelidik WFDSA.org atau MLMIA.com ?
atau cuma mlmlaw.blogspot.com ? (knapa tdk berani menampilkan profile)
tau bedanya org vs blogspot.com ?
dunia bisnis memang penuh persaingan
dukungan, cacian dll adlh hal yg natural
tau bedanya pelaku bisnis vs pengamat bisnis ?
sdh terjawab pd topik “Maraknya bisnis referensi”
sepakat bahwa ga semua yg di APLI itu adalah MLM yg baik. setuju dengan diadakannya lembaga semacam FTC. kalo cuma pamer si A penghasilannya sekian, si B jadi ini setelah sekian tahun… itu mah rejeki orang beda-beda
#17:
saya memberikan salah satu solusi untuk tidak kena tipu
Ya Allah Pri, engga ada topik yang lebih penting apa yak
#19:
ada beberapa perbedaan yang sangat mendasar antara franchise dan MLM:
* sebuah franchise tidak memiliki insentif untuk merekrut tetangga sebagai franchise (malahan merupakan kerugian)
* sebuah franchise memiliki 100% insentif untuk melakukan penjualan retail
sekarang coba anda lakukan cashflow analysis untuk bisnis franchise seperti yang saya lakukan untuk MLM di atas.
saya TIDAK PERNAH menyinggung soal salib menyalib peringkat pada tulisan di atas. mungkin anda baca dari tempat lain
.
tapi kalau mau lakukan cashflow analysis terhadap karyawan kantoran, silakan saja. tapi coba simak lagi perbedaannya:
* seorang karyawan tidak memiliki insentif untuk merekrut tetangga sebagai karyawan
* seorang karyawan memiliki titik berat untuk melakukan penjualan kepada masyarakat di luar sistem karyawan
hint: sama dengan franchise atau bisnis apapun yang baik. intinya ada pada penjualan retail.
MLM adalah pet peeve saya. anda tidak tahu berapa banyak situs yang sudah saya kunjungi tentang ini.
tapi intinya: “pada MLM yang menitikberatkan perekrutan, jika sebagian besar distributor melakukan apa yang disuruh, maka kelompok distributor secara keseluruhan akan merugi.”
itu bukan opini, tapi fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya. mohon perhatikan juga bahwa tidak semua MLM seperti itu, hanya MLM yang menitikberatkan perekrutan. walaupun saya sendiri belum pernah menemukan MLM yang dimaksud.
#23: hihihi gatel liat komentar di posting sebelumnya
waduh waduh.. MLM.. lebih baik dijauhi aja

btw, Met puasa semuanya
Comment untuk 2 paragraph terakhir.
Mimpi kali ye ?
Emang ini negara apaan, produk hukum yang gede-gede aja semisal kurupsi aja banyak bolongnya, apalagi mau ngurusin soal remeh temeh gituan
Dah ah, njelek in institusi ajah … Puasa eui …
well so far gw udah ikut 5 MLM dan 6 money game
buat pelajaran aja sih.
kalo mao ikut money game pilih yg baru mulai
kalo udah lama kagak ada yg ikut lagi hiks …
ga balik modal hiks
huaaaaaaaa
fenomena yg menarik lagi setelah MLM adalah ikut kuis dll via SMS. Dari kemudahannya smp biayanya yg smp 7x dari biaya sms regular. Coba deh hitung2 … ini kan sama aja dgn JUDI (terselubung) !!!!
alhamdulillah … sampai saat ini sy tak tergiur
Pilih yang tepat pilihan g(j)anda ini
yang bisa mengambarkan emelem sebagai suatu singkatan:
MLM = Mimpi Lu Mimpi.. (bangun-bangun…)
MLM = Memang Lu Miskin (pengetahuan.. baca dong..)
MLM = Maunya Lu Money.. (semua kali?)
MLM = Membuat Lu Miskin (kalo kaya)
MLM = Malu Lihat Mukelu (blom mandi kali?)
MLM = Mungkin Lumayan Mengikutinya (yaa.. ini ni yang harus baca..)
MLM = Muke Lu Mbau (orang mlm pas lagi marah?)
MLM = Mandi Lalu Makan (sahur..)
MLM = Makan Lalu Mandi (Kebo..)
MLM = Mengapa Lihat Mukaku? (keGeEran?)
MLM = .. tambahin..
-sori kalo ada yang kesinggung..
pis..
Moga aja mulai pada sadar ( pingsan kali yee..)
Saya masih lebih suka ditawari untuk membeli benda/produk dari seseorang anggota MLM daripada diajak menjadi anggota MLM.
Kalau aku sih dari dulu gak ikut MLM karena :
1. Kebanyakan produknya dikonsumsi oleh distributornya. Kalau diperbandingkan dengan BMW, kan gak mungkin penjualan BMW lebih banyak ke karyawan /agennnya daripada ke masyarakat ? hehehe
2. Kebanyakan merupakan produk produksi luar negeri (meskipun gak semua MLM begitu)
3. Saya rasa skema bisnisnya tidak sustain, apalagi bila jumlah membernya udah banyak
salam
Yang Pasti pada sistem MLM yang baik adalah selalu memakai produk yang berkualitas dan sistem yang benar-benar adil dan harus menguntungkan distributornya dan konsumennya.
Biasanya fee pendaftaran sebagai distributor sangat terjangkau. tidak memaksakan distributornya untuk belanja di awal dengan nilai tertentu.
Sangat prihatin juga ada beberapa distributor tidak mengerti betul fungsi dari suatu produk yang ditawarkan.
Sales /penjualan yang dilakukan door to door atau bagaimanapun bentuknya sebenrnya berpulang dari masing-masing distributor itu sendiri dimana keuntungn langsung yang mereka dapatkan secara otomatis akan lebih besar disamping keuntungan omset bulanan yang dihitung dari perusahaan daripada yang gak jualan. Prinsipnya MLM adalah bisnis distribusi pemakai atau jaringan konsumen yang direferensikan. kalo mau hasil pake sendiri dan mereferesnsikan ke banyak orang, kalo mau hasil yang lebih banyak lagi ya lakukanlah penjualan dan duplikasikan. Jadi gak selamanya yang diatas selalu diuntungkan. Kalo yang diatas enggak melakukan kegiatan apa-apa, yang nggak akan menikmati hasil apa-apa.
MLM yang baik adalah MLM yang memberi insentif lebih tinggi bagi distributornya untuk menjual produk ke anggota masyarakat non distributor ketimbang untuk merekrut distributor baru
Ya gitu deh…hehehe ga nyambung yah>!?!?!?!??!
Rekan,
Menurut saya sistem penjualan melalui MLM hanya merupakan salah satu pilihan dari beberapa sistem penjualan yang ada.
Sekarang tergantung dari orangnya, apakah mampu memanfaatkan beragam sistem penjualan yang ada untuk memaksimalkan penjualan produknya.
Mengenai baik/buruknya MLM itu sih tergantung kembali kepada orang yang menjual atau orang yang membuat sistem MLM tersebut.
Regards,
Banyak jalan menuju ROMA…….
MLM lagi MLM lagi… pusying…..


Hm… saya begitu sebel sama mlm yang maksa-maksa untuk ikut..
–budiw
http://budiwijaya.or.id/node/102
apa kabar Anne Ahira ?
kalo aku. No MLM No Piramida. Menurutku sama aja

kalo aku mendingan direct selling aja deh. yang pasti-pasti aja. Ada uang ada barang
ini pasti blog nya pri udah mulai gak poupuler lagi. makanya mengangkat tema MLM
Wiehhh … MLM lagieeeee bowww
Sabtu kmaren gw baru kejebak ma presentasi MLM yg S**K abisss … emang sie yg mereka tawarin kadang menarik, tp cara mereka itu loh yang gw ga setujuuu …
Multi Level Marketing or Multi Level Selling ya ?
Menurut saya yang namanya level tuh harus dibatasi kalau bisa maksimal sama dengan bisnis konvensional dengan barang yang sejenis atau sigma margin keuntungan bersihnya sama antara MLS dg Konvensional. Kecuali yang ada margin keuntungannya gila2an. (Modal 1 dijual 100)
(Produsen–distribusi 1—distribusi 2—……—Distribusi ke n—Konsumen. –>((n-1) level)).
Tujuannya agar bisa sustainable.
to: 43, agam
Direct Selling –> adlh nama awalnya, krn pd wkt itu sedang mencari nama yg tepat.
kemudian krn bisnis ini digerakkan oleh para distributornya, lahirlah terminologi MLM, Network Marketing, Personal Franchise (beda nama beda pendekatan).
saya sendiri memberi nama “Collective Commonwealth”, krn mirip dgn cara Inggris memakmurkan negara2 binaannya…kalo tdk bole saya bilang negara2 jajahan yg di-didik.
knapa ada yg memberi nama Personal Franchise ? krn mirip dgn sistem Franchise, bedanya:
1. pd Franchise
- ada owner
- ada employee
- ada buyer
2. pd Personal Franchise
- owner, employee, buyer= 1 org
sama spt ketika Franchise dulu muncul dicacimaki, tp skrg lihatlah Franchise dmn2…pun juga dgn Direct Selling, MLM, Network Marketing, Personal Franchise skrg dicacimaki.
sama spt saat Wright bersaudara membuat pesawat, dianggap sesat oleh gereja & massa saat itu krn dianggap ingin melebihi malaikat…tp lihatlah skrg, brp juta org yg merasakan manfaat pesawat ?
“org yg dikenang skrg adlh org yg dianggap aneh pd zamannya”
Doh, MLM oh MLM
Wah. Bosen. MLM lagi.
Sudahlah mas Pri.
Yang ngotot mau MLM ya biarin aja.
Nanti kalo sudah kapok , rasain sendiri.
Sudah sering Mas Pri, kasih peringatan di sini.
Orang Indonesia kan, suka penasaran kalo blom mencoba.
Saya dulu sekali pernah coba ikut Amway.Eh, belakangan sadar, harus cari downline dan beli barang yg tidak terlalu diperlukan….
Ya sudah saya tinggalin aja….
Ini kan fenomena sesaat saja. Sudah banyak orang kok yang males di MLM-in..
Peace!
om dolf, direct selling jelas beda dengan MLMELEM lah…
MLM kebanyakan mengadopsi direct selling
contoh : tukang jamu keliling di kompleks rumah saya = direct selling..
dia ngga berjualan produk MLM loh…
to: 50, Rendy
spt yg gw bilang seblmnya
gw juga gak berharap byk yg sepakat dgn gw/yg tergabung dlm APLI
ini Indonesia bung
tp blog priyadi adlh salah satu ruang publik yg menarik utk berdiskusi
ada yg setuju, ada yg gak, ada yg dukung, ada yg nolak adlh expresi natural inklusif
Direct Selling, MLM, Network Marketing, Personal Franchise adlh metode…inovatif atau tdknya kita lihat nanti…kalo tdk bole saya katakan, sedang kita lihat
& bisnis itu spt agama
kalo dgn beragama membuat kmu nyaman, anutlah agama
kalo dgn tdk beragama membuat kmu nyaman, gak usah menganut
pun juga dgn bisnis
kalo terjun ke bisnis membuat kmu nyaman, terjunlah ke dunia bisnis
kalo dgn tdk berbisnis membuat kmu nyaman, tdk usah berbisnis tetapi bekerja
mas pri, kalo bisa paragraf ini didukung juga dg angka yg menunjukkan bahwa penjualan door-to-door lebih menguntungkan daripada lewat mlm. thx.
nggak jadi komen lah, ini berat banget ngetiknya. gara-gara previewnya kali ya.
um pri menabur benih lagi, badainya mana niy?? ditunggu loh..
itung-itung buat referensi
Udahlah….kenapa sih kita ikut2an sistem pemasaran yg aneh2??? ini khan sistem yg dipaksakan para penjajah modern, The New Imperialism.MLM,NM,Franchise,dll semua memakai cara Brain Washing alias Cuci Otak, Indoktrinasi.Sistem Rekayasa terselubung, Gak Jelas!
Para penjajah itu sekarang pada ketawa terbahak2 lihat kita ini pada makai sistem pemikiran mereka.Sapa yg diuntungkan? jelas mereka donk! kalaupun kita ada yg untung nilainya gak sebanding dengan apa yg mereka peroleh.
Kalau ngaku beragama Islam yaa pakai cara yg dipakai Rasul dulu.Ya jual langsung tanpa pakai perantara,tanpa pakai sistem berjenjang,dll.Enak to! semua serba terbuka dan transparan tanpa ada yg ditutup-tutupi.
Anehnya sekarang pada bangga pakai sistem kapitalis liberal,sekuler lagi!!! semua hanya mementingkan duit…duit….untung…untung…gak peduli org lain menderita.Duh….pada keblinger semua.Kapan sih mau tobat?
#52: sebenarnya gak perlu dihitung juga sudah kelihatan kalau penjualan retail (tidak perlu door to door, asalkan retail, bisa jual ke teman, lewat toko pribadi, lewat internet, etc) adalah satu2nya jalan untuk mencapai keuntungan positif. tapi kalau mau pakai contoh, saya sudah tambahkan contoh soal pada posting di atas.
#51:
kita lihat nanti? sampai kapan? MLM sudah ada sejak 4 dasawarsa yang lalu dan selalu stagnan juga sejak 4 dasawarsa yang lalu.
#50: DFTT
stagnan ?
tdk juga sbetulnya
kalo dilihat dari luar kelihatan stagnan
tp kalo dilihat dari dlm malah expansif
perush A yg melihat perush B menggunakan metode NM etc
menampakkan perubahan linier naik
kemudian A berpikir “knapa tdk kami pake cara itu ?”
ada yg ikut aturan main…ada yg bikin aturan sendiri
tau gak sdh brp yg ditendang APLI ? salah satunya adlh yg baru2 bagi2 jaguar (tanpa menyebut nama)
yg sdh umur 40th lbh bknnya stagnan
ibarat pohon, byk tunas2 baru bermunculan
40th lbh sampe skrg msh exist, itu aja dah bisa dibilang prestasi luar biasa
drpd yg kurang dari 5th kemudian menghilang entah kmn ?
yg 40th bisa dibilang market leader krn dia yg tertua
nah kini tunas2 baru menjadikan dia sbg soko guru, kekurangan & kelebihan dipelajari
lihat saja diinternet
yg berkedok NM, MLM dll…bahkan tdk mau disebut demikian, tp byk perush skrg menggunakan metode ini & akan smakin bertambah…terlepas dari ikut atura main atau bikin aturan sendiri
bkn tdk mungkin ke depan nanti, ada warung pinggir jln yg menerapkan metode ini utk menambah jumlah pembeli wkwkwkwkk
to: 55, tejo
Anehnya sekarang pada bangga pakai sistem kapitalis liberal,sekuler lagi!!!
bknnya bangga
trus pake sistem apa, sosialis, komunis, syariah ?
ini bkn mslh ideologi bung
kalo org luar malah yg mempu membuat sesuatu yg dpt menyebabkan perubahan ke arah yg lbh baik
tanya sama negara mu sendiri, kpn bisa buat yg sama ?
anda sendiri di Australi lg ngapain, kuliah atau kerja ?
bknkah Aussie salah satu negara yg menerapkan sistem kapitalis liberal, sekuler juga ??
kira kira bung dolf berani gak ya alloow comment di blog nya.
#60:
dari sudut pandang produsen memang luar biasa. tapi gimana dari sudut pandang distributor? berapa perbandingannya yang mendapatkan untung vs yang merugi?
rumit juga ya? jadi wartawan aja lah. miskin miskin deh…hahaha
Saya sudah lama ditawari MLM, punya beberapa starter kit, punya puluhan kaset dari MLM tertentu, tapi saya tidak tertarik, karena saya pikir, bisa saya ikuti, tapi tidak bisa saya kembangkan.
beberapa waktu lalu saya ditawari MLM tertentu,, produknya bagus, ibu saya sudah membuktikan, (saya sekarang juga sudah membuktikan), saya cermati sistemnya, kelihatannya bisa jalan/berkembang (bisa offline bisa online)
teman saya sudah lama mengkonsumsi produknya, saya hanya pikir simple, kalau saya jadi member, khan teman-teman saya akan membeli produk itu dari saya, eee, bulan pertama saya gabung, produk yang saya beli habis, bulan kedua juga habis, bulan ketiga juga habis, ini mau masuk bulan ke empat.
MLM ini tanpa biaya pendaftaran, semua uang dapat produk,
sekarang saya jalankan pelan-pelan, tapi saya yakin makin lama jaringan saya makin besar (walau banyak yang anti MLM, tapi setelah diberi penjelasan yang masuk akal, jujur, tidak menipu, tidak memaksa dll) ada juga yang bisa menerima) Kalau saya tawarkan “MLM ini”, saya jujur sebutkan produk-produknya, perusahaannya, sistemnya (perbedaannya dg MLM lainnya) dan selalu saya katakan bahwa TIDAK ADA JAMINAN BERHASIL di bisnis ini. (tapi selalu TERBUKA PELUANG untuk BERHASIL….)
kalau produknya sih sudah banyak terbukti berkhasiat
dari pada saya beli produk dari member lain, ya mendingan saya jadi member saja, apalagi barang dikirim ke rumah, bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia,
pesan barang via email/SMS bisa, enak khan….
dan saya pikir kalaupun MLM punya kelemahan, bukankah sistem yang lain juga punya kelemahan. Bank yang menetapkan bunga (=riba) yang jelas-jelas dilarang oleh kitab suci-pun tetap exist, (kata teman saya yang ‘anti’ MLM, keberadaan bank = keniscayaan)
(eh… saya pikir MLM-pun nantinya juga merupakan keniscayaan, karena sudah tidak bisa dihindari lagi sebagai sebuah fenomena/sistem pemasaran selain sistem konvensional yang hanya menciptakan SEDIKIT distributor dan BANYAK SEKALI konsumen)
Bandingkan dengan MLM yang BANYAK DISTRIBUTOR, dan lebih BANYAK KONSUMEN (karena distibutor=konsumen juga)
Bagi saya MLM boleh-boleh saja, tapi jangan sampai MEMUJA MLM dan MEMUJA UANG dan KEBERHASILAN/KEMEWAHAN, kalau berhasil ya biasa-biasa saja lah…, kalau gagal ya jangan mengumpat, hidup ini khan gak cuma untuk mendukung MLM atau anti MLM.
masih banyak ‘urusan’ lain yang lebih urgent diselesaikan
‘tuh contohnya: lumpur lapindo, korupsi para pejabat, pembalakan hutan, pembakaran hutan, sampah dimana-mana, kasus-kasus hukum yang gak pernah tuntas, kecelakaan pesawat yang gak pernah terungkap sebabnya, sampai dibunuhnya tibo cs., dan nanti yang akan kita hadapi bersama adalah krisis listrik (karena gak bisa buat PLTN, padahal sungai makin kering, batubara makin sedikit, minyak makin langka dan mahal……
kalau yang mikro, ya urusan keluarga kita sendiri: anak-anak yang nakal (bagi yang punya anak ‘nakal’), sulit punya anak, terlalu banyak anak, biaya sekolah anak (kok di indonesia gak seperti finlandia yang gratis biasa sekolah hingga perguruan tinggi???), atau bahkan mungkin masih kesulitan menemukan orang yang bisa memberi kita anak……
Cat.
kita mungkin jadi bisa menerima dengan tulus perbedaan-perbedaan diantara kita dengan mempelajari ajaran Ki Ageng Suryamentaram, sebagian ada di http://www.geocities.com/kramadangsa/
silakan lihat…. (hidup ini bukan hanya MLM saja…)
to: 62, priyadi
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukah
wegh
byk yg hilang? pdhal dah posting…neh gw ulang
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukan
sekali lagi…kalo sama aja, anggap aja posting kebanyakan dipangkas
kalo dipikir yg terjun di bisnis NM, MLM dll akan seterusnya ikut…gak juga tuh
utk klasifikasi yg bergabung:
1. ada yg ikut terus
2. ada yg cuma konsum produknya door to door
film ttg seorg cacat yg terjun ke bisnis NM, MLM etc
based on true story
siapa sangka seorg cacat justru adlh distributor dgn prestasi tertinggi (?)
ada byk pelajaran berharga yg ingin disampaikan dlm film tsb…terlepas dari bisnis NM atau bukan
#64:
seandainya distributor baru tidak perlu menyetorkan uang pendaftaran dan tidak ada biaya bulanan; dan seandainya semua pendapatan berasal dari penjualan produk, maka kemungkinan ini adalah MLM yang baik (insentif untuk merekrut lebih kecil daripada insentif untuk menjual)
#67:
ini kesalahan logika lagi
. kerja kerasnya memang patut dihargai, tapi itu tidak lantas apa yang dilakukannya menjadi baik. orang cacat tersebut bisa saja berhasil dengan kerja keras sebagai seorang koruptor, tapi bukan berarti koruptor adalah perbuatan yang baik
.
Pernah saya baca iklan MLM Tianshi:
Emang sebelum dan sesudah tanggal 16 September 2006 jalan
protokol di ibukota Jakarta tidak macet.
#70:hehee.. jadi inget komentar di blog saya. “buktikan tanggal 16 september nanti di gelora bung karno”
kebetulan, saya lagi dijakarta tanggal itu.. tapi gak ke gelora bung karno..
–budiw
#71: wajar sih. perusahaan MLM besar sih pasti punya banyak duit untuk mengadakan acara mewah seperti itu. kelompok distributor mengira kalau perusahaan MLM mendapatkan banyak keuntungan, maka otomatis mereka juga akan mendapatkan banyak keuntungan. tapi kenyataannya kan gak gitu, bahkan keuntungan dari perusahaan MLM sebagian besar berasal dari kerugian distributor.
thanx…atas infonya ttg MLM ya.
Saya yang mengamati beberapa jenis MLM akhirnya mengambil kesimpulan dalam bisnis ini yang ada adalah TEMAN MAKAN TEMAN.
Kondisi di desa malah lebih parah, ada sebuah MLM yang menebar jaring ke orang desa yang rata2 petani lugu,hidup susah, mimpi jadi orang kaya.Banyak yg akhirnya jual sawah, akhirnya rugi.Nggak tau besok dan besoknya lagi mau makan apa.Sekali lagi, jangan menyerah untuk memberi rambu2 ke orang lain, agar orang lain tidak ikut terjerumus.
#64: mbak gitta, maaf saya harus koreksi, MLM anda mengharuskan distributor baru untuk membeli produk, dan biaya registrasi tersamarkan di dalam biaya untuk membeli produk ini. komisi untuk upline juga berasal dari margin pembelian ini.
jadi dengan sangat menyesal saya harus bilang MLM anda tidak jauh berbeda dengan MLM lain yang pernah memrospek saya.
Kalo gue ketemu cewek cakep terus punya minat buat ngobrol dgn gue, pasti ada 2 kemungkinan tu cewek :

1. Doi Sales MLM yang mao jual productnya
2. Don Sales Asuransi
Jadi semua MLM ngedekati orang dengan maksud mao jualan bukan murni minat ngobrol ama kita
Terlepas dari masalah sistemnya, yang jelas MLM sudah membuat saya kehilangan lebih dari 5 sahabat terdekat saya.
Mereka sekarang sudah menjadi pemimpi (yg berlebihan), tidak realistis dan memuja uang. Bahkan dengan dalih persahabatan, mereka selalu memaksa saya untuk ikut jd downlinenya (dengan alasan tidak pingin melihat saya jadi org kecil terus).
Tapi anehnya, sudah sekitar 5 tahun (lebih), kesejahteraan yg saya dapatkan (prestasi di studi+kerja konvensional) relatif masih lebih tinggi saya ketimbang mereka. Aneh bukan (padahal saya biasa-biasa aja hehe).
Penampilan para MLM-ers memang perlente dan meyakinkan. Pake jas, pantofel sambil naik motor (konsep berpakaian yg aneh .. apa nggak kepanasan ya? mendingan pake kaos/kemeja biasa aja spt saya).
Salah satu teman saya malahan aslinya bukan mahasiswa yg bodoh, IP selalu diatas 3.5 tiap semester. Tapi akhirnya karena MLM, dia berhasil dicuciotak dan keluar dari kuliah dan memegang teguh doktrin MLM yg merendahkan pendidikan dan profesi.
Alasan kemanusiaan dan sosial juga sering digunakan rekan saya tsb, sesuai slogan perusahaan MLM-nya yang “ingin membantu mensejahterakan masyarakat”, namun dengan cara mengunjungi setiap rumah sakit dan menawari para pasien dengan obat-obatan dan suplemen makanan yg harganya malah “tidak mensejahterakan”
Ah, entahlah, saya benar2 telah kehilangan mereka. Setiap kali saya bertemu, mereka telah menjadi robot yang selalu memaksa saya bergabung dengan alasan persahabatan.
Bisnis yang aneh … (setidaknya untuk saya yg baru 26th mengenal dunia).
Emang sebelum dan sesudah tanggal 16 September 2006 jalan
protokol di ibukota Jakarta tidak macet
bayangin deh, bensin dah tiris banget, yg klo gak diisi secepetnya dijamin bakal pake tenaga kuli, tiba2 musti kena macet selama -/+ 15 mnt gara2 si komo eh tiashi lewat, sampe gw mikir, ternyata jalanan bukan punya umum, tapi punya yg booking, kayak parpol klo lewat, ternyata yg diiklanin bukan cuma kesuksesan aja, tapi jg bikin jalanan macet dan menyerobot kepentingan umum demi kepentingan golongan sendiri… sigh…
abis topik ini, topik mlm apalagi yang akan dibahas?
mungkin om pri perlu mbahas spesifik ke mlm tertentu ( mlm yang sering di sebut2 disini) biar rame gitu..
kalo gak salah mlm nya namanya Tenisss eh TENS eh apa ya lupa aku
pengamat emang kadang lebih jago dari pemain. ngamatin doang = banyak omong doang, isinya kosong.
#79: ironis
#79 bukannya ngomentarin diri sendiri om?
baru 2 hr kenal blog ini dan kesan yg ku dapat, asik banget!! yap, walopun blom pernah join MLM tp aku udh dpt pelajaran dr ortu n om, mereka merugi!!!
taun 2004 lalu smpat terpikat ama rayuan AA utk join NMnya,untung ga jadi krn mesti biayain kuliah..
Ulasan yg menarik..
Salam Kenal buat Om Priyadi
Mas Pri cobalah untuk pelajari lagi MLM itu seperti apa sih sebenarnya?? Memang artikel yang anda muat diatas cukup mengesankan. Tp cobalah untuk berbicara disertai dengan fakta-fakta yang ada. Trims
#84: memangnya MLM itu menurut anda seperti bagaimana? fakta2 yang mana?
Ah Pri, sering bikin artikel - artikel gini supaya traffic-nya naek dari MLM fanboys nih!
Ya gw juga punya temen nih dari 3 tahun yang lalu udah join T***shi tapi kayaknya masih gitu - gitu aja duech. Padahal usaha-nya kalo gw liat udah maksimal bangedh. Jadi kasian ngeliatinnya…
MLM berawal dari direct marketing yang menginginkan model pemasaran yang beda dari model pemasaran konvensional yang sudah ada. pada model pemasaran konvensional dimana adanya peran distributor dan biaya tambahan yang muncul di belakangnya, termasuk biaya pemasaran yang mengakibatkan harga barang menjadi tinggi. (untuk membaca cara pemasaran konvensional dan rupiah yang digelontorkan untuk promosi bisa baca di majalah swa. itulah kenapa kita tidak bisa beli tupperware di carrefour, atau nyari sepatu sophie martin di matahari
pada direct marketing, mereka pantang pake yang namanya promosi, iklan (baik yg below the line maupun yang above the line) karena mereka berprinsip bahwa konsumen harus mendapat informasi ini dari kalangan mereka sendiri. karena prinsipnya mereka ingin memangkas jalur distribusi yang melewati distributor biasa (semua orang tau berapa ongkos listing di carrefour, juga biaya sewa gondola tahunannya, belum lagi biaya promo jika pengin masuk ke katalog. piuh, itu duit semua bo’).
nah dari direct marketing ini turunannya adalah yang dikenal sebagai directselling, network marketing, multi level marketing, dan yang lainnya. tapi belakangan mulai banyak iklan mlm di tv.
beberapa produk yg di jual secara direct marketing misalnya tupperware, sophie martin. nah kalo mbahnya mlm tidak lain adalah amway
yang juga disalurkan oleh bebeapa program mlm lain
pada model mlm, mustinya ada produk yang diperdagangkan, jika tidak tentu hanya money game biasa.
bener seperti yang dibilang diatas, bahwa tip sukses di bisnis mlm adalah “cari downline sebanyak banyaknya” atau kalo gak sanggup “jual produk sebanyak banyaknya”
kalo emang tertarik buruan daftar, jangan sampai upline menjadi panjang karena kelamaan mutusin ikut-ato-tidak. kalo emang alergi mlm, stay away, drugs is not child play (lhoh kok ?!?).
*bulan lalu baru di prospek, tapi gagal
*
MLM tidak jelek tapi Bullshit MLM. Janjinya setinggi langit. Bisa Dapet mobil lah, kapal pesiar lah, pesawat terbang lah.
Sejauh saya melihat, lebih banyak yang merasa tertipu dari ikut MLM daripada yang berhasil mencapai seperti yang dijanjikan.
Cara ajak join nya saja dah nipu: eh… temen gw mo nawarin kerjaan neh di PT yang nanti mo buka pada tahun 2007 nanti. Dia ada kenalan disana. Pas kesana, ujung2nya dicekokin MLM (padahal dah tau sih, ajakkan tidak jelas gitu pasti MLM).
Awalnya saja sudah nipu, apalagi dah join? pasti disuruh nipu calon yang lain lagi….
#87:
bukannya terbalik? justru dengan MLM harga barang akan menjadi jauh lebih tinggi.
Hehehe tulisan negatif lagi, ya gitulah emang.. Para pecundang biasa berteriak-teriak “langit akan runtuh- langit akan runtuh ” dan biasanya benar-benar runtuh menimpa mereka. Kalau dari awal kita udah negatif, pasti hasilnya negatif.
“Bedakan antara si hati-hati dan si pecundang”
#90: kesimpulannya? anda termasuk pecundang?
dari taun lalu gw perhatiin, blog ini hanya concern posting utk pertahankan rating doank.
belon 1 minggu aja ada bbrp topik yg diposting, mungkin krn target gak tercapai
ex: apabila di hr ke-2 kurang dari 50 yg comment, hari ke-3 posting
walaupun topiknya basbang
kayak MLM aja, ada tutup point (posting) spy dpt byk bonus (comment)
well, di sini gw bisa liat ada yg hyper MLM, anti, ragu2, netral & maniak rating 3 besar
MLM ambil positifnya aja..buat karir di kantor juga bagus kok..karena pelatihan pengembangan dirinya juga bikin saya naek pangkat 4 kali dalam kurun 5 tahun belakangan ini..kalo gak punya waktu..jangan paksain untuk njalanin..lebih baik ikut MLM untuk pengembangan diri..jaminan banget..Gak Rugi!saya Pede bikin presentasi di kantor dan melakukan pelatihan2 gara2 MLM.nothing to loose… gak sukses di MLM tapi sukses di karir..ujung2nya duit juga khan..?
#92: ah, itu cuma perasaan aja
. basbang? ngga dong. yang basbang itu yang komentar mendiskreditkan yang gak nyambung di topik yang udah basi.
iya gak bungdolf?
Robert T Kiyosaki punya 2 ayah, satu kurang berpendidikan tapi kaya, satu berpendidikan tapi miskin.
Anda masuk ayah yang mana ? Jelas bukan kedua-duanya dan jelas bukan termasuk kaya dan berpendidikan
#95: sebenarnya sih saya ayah dari seorang putri yang cantiiiik sekali
mau…
#97: bapaknya galak lho
Untuk pemasaran konvensional, selain pembagian keuntungan dari distributor besar sampai kecil, juga diperlukan iklan.
Distributor MLM menggantikan porsi iklan, jadi uang iklan dibayarkan kepada distributor.
MLM lebih efisien, karena setelah produk dijual (ada pemasukan), baru komisi dibayar. Kalau pemasaran biasa, iklan dulu (uang keluar dulu) baru ada penjualan.
Normalnya total pay out dari MLM kepada distributor berkisar antara 40% sampai 60% dari harga konsumen.
MLM nggak merekrut orang juga boleh, jadi konsepnya direct selling/single level marketing. Tapi tidak akan terjadi passive income. MLM menawarkan passive income dengan merekrut dan melatih orang dibawahnya/downline.
Sebenernya di perusahaan biasa juga seperti itu. Di bagian marketing, awalnya seseorang bergabung sebagai staff/junior marketing, setelah itu jadi supervisor, lalu senior, lalu branch dst .. intinya makin naik posisi, target juga berubah, jadi target grup. Jadi lebih kurang sama dengan MLM. Tetapi ada beberapa MLM yg tidak menerapkan target bulanan (contohnya tianshi).
MLM atau pemasaran biasa hanyalah salah satu cara memasarkan produk dari pabrik/produsen. Konsepnya lebih kurang sama, cuma seringkali ada yg menjalankan dengan cara salah/money game atau memang judul awalnya sudah money game.
#99:
saya tidak yakin ongkos iklan pada distribusi ‘tradisional’ lebih besar daripada 40% dan 60% harga produk. dengan demikian yang lebih efisien harusnya distribusi tradisional.
tapi ini baru perkiraan, nanti kalau ada waktu saya coba cari datanya.
kalau memang sama seperti itu sepertinya tidak ada masalah, tapi ada beberapa hal yang membedakan:
* setiap distributor diberi insentif lebih tinggi untuk merekrut sebanyak mungkin daripada menjual produk, seperti kata anda ‘Tapi tidak akan terjadi passive income’
* banyak mlm yang menerapkan biaya pendaftaran atau biaya rutin, entah secara terang2an atau terselubung. bahkan tidak jarang, biaya ini menjadi pemasukan bagi upline-nya. ini tidak terjadi pada perusahaan biasa
Ya, betul Pak, nanti kalo sudah ketemu perbandingan ongkos iklan dan harga dilaporkan lagi di tempat anda, karena saya cari belon dapet he..he.., supaya jadi bahan pembelajaran bagi saya dan mungkin rekan-rekan yg lain. Karena saya di mlm juga masih baru, masih harus banyak belajar. Dan saya suka mencari fakta, bukan katanya…
Memang lebih kurang sama tentu tidak sama persis. Karena intinya MLM adalah jaringan kita adalah aset kita. Ilustrasinya .. lebih baik punya 100 orang masing-masing jual satu barang, daripada 1 orang jual 100 barang dalam sebulan. Bagi perusahaan kan sama saja, yg penting 100 barang keluar dari pabrik. Tapi kalo dari yg 100 orang tersebut, katakanlah di bulan itu ada 10 orang sakit/berhalangan sebulan.. masih terjadi 90 barang terjual. Kalo yang 1 orang jual 100, begitu dia sakit sebulan… penjualan langsung nol.
Jadi bagi perusahaan MLM, tentu lebih seneng punya 100 orang jual 1, karena stabilitas lebih terjamin, makanya perusahaan mendorong orang untuk merekrut dan menduplikasikan.
MLM menggunakan prinsip multiply atau leverage. Kalau 1 orang bisa kerja 3 jam kerja.. kalao dia bisa menduplikasikan dirinya.. punya 99 orang yang juga bisa kerja 3 jam sehari.. dia dan jaringannya punya 100 x 3 jam kerja.. alias 300 jam kerja. Kalau dia kerja sendiri terus maksimal orang bisa kerja sehari kan cuma 24 jam, dengan efek multiply itu orang dan jaringannya tersebut bisa kerja 300 jam kerja yg pasti lebih menghasilkan omzet. Makanya orang tersebut diganjar dengan komisi yg lebih besar. Sama seperti branch manager gajinya lebih gede dari salesnya.
Di perusahaan biasa, jenjang karir kan juga makin tinggi, bisa saja suatu saat, seseorang yg dulunya cuma sales bisa jadi direktur… lalu dia beli saham perusahaan .. sehingga suatu saat dia sudah nggak kerja lagi.. tapi perusahaan tetep jalan dan memberikan uang / passive income. Atau kalo liat konglomerat.. banyak yg memulai merintis dari bawah.. sampe perusahaannya gede, ada sistemnya.. akhirnya mereka udah tinggal menikmatinya, karena sistem yg dia buat sudah bekerja untuk dia.
Di mlm, sistemnya sudah ada, tapi tentu harus kerja dulu.. merintis dulu dari bawah. MLM yg bener, nggak ada yang bilang invest duit 2-3 taon jadi kaya tanpa ngapa-ngapain, kalo ada yg gitu berarti anda ditipu. MLM yg bener, anda investasi uang dan waktu dan anda juga harus kerja, merintis dari bawah dengan dibantu upline/sistem, setelah itu baru dapet passive income.
Memang tidak semua MLM baik.. tentunya tidak semua MLM jelek. MLM yg baik dan benar pun kalo dijalankan oleh oknum/cara yg salah juga tetap saja berantakan.
Tidak benar kalo dibilang enak yg di atas… yg di atas tinggal menghisap yg bawah.. karena yg sekarang di atas.. toh dia dulu juga merintis dari bawah. Dia kerja lebih dulu, dan dia harus kerja bantu downlinenya supaya naik.. karena kalo downline naik, dia akan naik juga.
Tentunya kalo kita mau join.. kan maunya suatu saat naik ke atas juga. Masak kita udah kerja maunya di bawah terus. MLM yg bener, setiap downline bisa menyalip upline dalam peringkat/bonus. Jadi kalo upline nggak kerja, walopun dia di atas kita, tentunya peringkatnya juga nggak naik, kalo kita kerja, jadinya peringkat/bonus kita yg lebih tinggi. Jadinya lebih fair, siapa yg kerja lebih keras, rajin dan pintar.. bisa dapet peringkat/bonus yang lebih tinggi.
Kebetulan di tianshi, biaya pendaftaran cuma 85 ribu dan nggak perlu daftar ulang, cukup sekali selamanya.. karena bisa diwariskan.
Mohon maaf Pak Priyadi, saya cuma tamu disini, sori kalo ada kata-kata saya yg salah, sori kalo saya udah tulis banyak2 disini (menuh2in aja he..he…)
#101:
ya, ini inti dari tulisan saya di atas. pabrik tidak peduli siapa yang jual ke siapa, yang penting barangnya terjual, dan dia tetap untung. lain ceritanya dengan kelompok distributor. kalau dari 100 distributor hanya berhasil menjual 100 produk ke masyarakat non distributor, maka itu sangatlah tidak efisien, besar kemungkinan kelompok distributor akan merugi. bisa jadi ada sebagian kecil yang di atas akan mendapatkan untung, tetapi mayoritas tetap akan merugi dan secara keseluruhan pasti merugi.
iya, bagi perusahaan MLM, itu sebabnya saya bilang sistem MLM adalah sangat revolusioner dari sudut pandang produsen. lain ceritanya bagi distributor. kalau dari 100 orang menjual hanya 1, hampir bisa dipastikan kelompok distributor akan merugi.
produsen MLM tidak akan pernah mendapatkan kerugian yang diakibatkan oleh sistem penjualannya. sedangkan bagi distributor, syarat untuk mendapatkan keuntungan kolektif adalah jika dan hanya jika laba dari penjualan produk ke orang non distributor lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
perbedaannya, pada MLM, gaji ’sales’ bisa negatif, atau dengan kata lain ’sales’ membayar produsen. ini bisa berupa biaya pendaftaran, biaya rutin, pembelian yang diwajibkan, biaya pelatihan, etc.
pada perusahaan ‘biasa’, sales bisa saja punya pendapatan sangat kecil, bahkan di bawah UMR, tapi nilainya tetap positif.
seandainya penghasilan seorang distributor sebagian besar berasal dari setoran downlinenya, atau dengan kata lain performa seorang distributor dinilai terutama dari banyaknya downline, maka itu adalah penghisapan seperti yang anda bilang, terlepas dari apa posisi dia sebelumnya. karena dengan demikian hanya distributor yang dekat dengan puncak yang akan mendapatkan untung. sedangkan sebagian besar dipastikan merugi.
satu2nya cara agar sistem MLM sustainable dan saling menguntungkan adalah: profit dari penjualan ke masyarakat non distributor lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan oleh distributor. jika tidak, maka itu lebih tepat disebut sebagai skema piramida.
no problem
.
btw, apa bisa anda mendapatkan data2 untuk MLM yang anda ikuti seperti yang saya tulis di atas? misalnya berapa jumlah distributor, berapa pendapatan rata-rata distributor, perkembangan jumlah distributor dari tahun ke tahun, dsb.
Ada sebagian MLM yang membentuk jaringan pemakai. Mungkin kalau Pak Priyadi sebut semacam klub belanja.
Mungkin kata-kata saya agak salah, maksudnya kalo ada 100 orang jaringan pemakai/penjual, dan bukan berarti hanya 1 barang, namanya juga ilustrasi, biar gampang hitungnya saja.
Jadi konsep awalnya kan si distributor tersebut mengenalkan produknya kepada calon konsumen. Si calon konsumen tersebut bisa saja hanya beli produknya, atau bergabung dan beli produknya. Lain dari produk, ternyata bisnisnya juga menarik. Jadi memang kadang kala yg ditawarkan bisa dari produk atau bisnisnya.
Memang intinya return/hasil yg dicapai harus lebih besar daripada pengeluarannya baru bisa dibilang untung. Tapi kalau orang tersebut hanya sebagai pemakai produknya (tidak menjalankan bisnisnya), dan mendapat manfaat dari produknya, tentu dia bukanlah pihak yg dirugikan. Kalau rugi/tidak bermanfaat, tentu nggak belanja lagi.
Makanya MLM yg benar, produknya benar2 bagus/ bermanfaat, beda dgn MLM yang asal2an atau money game, nggak perduli produknya bermanfaat atau tidak. Money game harus jadi penjual produk/bisnisnya baru bermanfaat, kalo mlm yg benar, konsumsi produknya juga bermanfaat dan konsumen (member ataupun nonmember) tidak merasa rugi.
Keuntungan distributor berasal dari pembelian oleh nonmember dan member di jaringannya.
Jadi memang sebagian besar pendapatannya di dapat dari jaringan di bawahnya.
Katakanlah seorang marketing manager di perusahaan biasa, dia tentu lebih berkonsentrasi untuk membina anak buah di bawahnya daripada di berkonsentrasi menjual sendiri, dan performa dia dinilai perusahaan berdasarkan target/performance grupnya, apakah ini bukan penghisapan? Bukankah di perusahaan biasa juga kita sering dengar.. si Bos mah enak, tinggal suruh-suruh dan marah-marah kalo target nggak tercapai.
Justru di sinilah bedanya, di MLM, seorang leader yang kerjanya suruh-suruh dan marah-marah, tidak akan bisa sukses/berkembang jaringannya. Di mlm, tidak ada bos, adanya rekan kerja.
Skema piramid yg bagaimana yg dimaksud? Kalau saya tidak salah mengerti, yg dilarang adalah skema piramid atau binary, dimana diharuskan kanan kiri seimbang. Atau piramid yg dimaksud adalah yg di atas lebih sedikit orangnya dari yg dibawah.. bukankan dimana-mana juga begitu? Dari direktur ke manager dan ke staff/pegawai biasa, tentu polanya seperti itu. Coba kalo dibalik direkturnya 1000 pegawainya 10 orang.. apa bisa jalan perusahaan itu? Di mana-mana, orang sukses lebih sedikit dibanding orang yg tidak sukses. Cuma cara pandangnya seperti apa? Apa yg disebut sukses, apa yg disebut gagal?
Seseorang yg join mlm dan beli produk untuk ngobatin penyakitnya dan sembuh… walopun dia nggak jalanin bisnisnya, dan nggak dapet uang dari situ (paling2 dapet diskon/cashback dari harga distributor), menurut saya orang itu sukses.. karena tujuannya tercapai.. yaitu sembuh.
Bagi orang yg jalanin bisnisnya, nggak harus diatas baru dibilang sukses, waktu level pertengahan, dia sudah dapat income yng lebih besar dari pengeluarannya.. atau taraf hidupnya bisa lebih baik dari sebelumnya, bisa dibilang sudah lumayan sukses.
Sekali lagi, memang kita harus cari mlm yg tidak memberatkan kita. Di tianshi, tidak ada target bulanan, dan peringkat tidak bisa turun. Nggak ada sistem hangus/reset dari nol. Semua pembelanjaan diakumulasi. Target bulanan kita yg tentukan, mau dapet bonus gede ya kerja gede/keras. Bukankah ini sama dengan punya usaha/kerja sendiri (punya toko, jadi dokter, dll). Tapi kalau kita membina jaringan/aset kita.. suatu saat jaringan/aset kita sudah terbentuk.. disitulah kita punya passive income.
Ada lagi yg bilang… bener kan menghisap.. orang lain kerja si upline tinggal enak-enakan… (nggak inget si upline dulunya juga kerja, korban darah, keringat air mata).
Kalau ada yg bilang begitu, berarti orang pensiunan (udah nggak kerja), punya deposito, punya saham, nabung di bank, nabung di bank syariah (memang nggak dapet bunga, tapi kan sama aja… uangnya dipake untuk usaha orang lain, kalo untung bagi hasil, kalo rugi bagi rugi. tapi kan tetep nggak kerja, yg disetor cuma uang) semuanya adalah penghisap… karena (udah) nggak kerja tapi dapet duit. Kan aneh kalo orang nggak boleh punya passive income, nggak boleh punya aset.
Kalau mlm yg nipu atau money game.. memang menghisap.. karena tidak memberi nilai tambah.. MLM yg benar memberikan manfaat, dan tidak semuanya bernilai uang.. bisa uang, kesembuhan, pengembangan diri, keahlian berorganisasi, memanage orang dll. Memang sebagian besar orang, termasuk saya, mencari uang, apakah itu salah? Toh saya nggak nipu, yg saya lakukan saya memberi informasi yg sejelas-jelasnya kepada calon member/konsumen, join/beli atau tidaknya itu keputusan dia.
Untuk data saya tidak tau, bagus juga kalo ada data, biar lebih eksak, data tangible memang bisa dihitung, tapi intangible (kesembuhan, pengembangan diri dll) mungkin susah dihitung. Menurut berita, distributor tianshi Indonesia sekitar 1,2 sampai 1,5 juta orang. Tapi tentu data ini bisa bias, karena di tianshi tidak ada daftar ulang, sehingga ada beberapa orang yg daftar lagi di jaringan yg lain, jadi terdaftar lebih dari satu kali, belon lagi yg sudah tidak aktif (atau malah meninggal) karena tidak ada daftar ulang.
Sekali lagi maaf saya nulis terlalu banyak, kalo dianggap mengganggu diskusi lebih lanjut bisa kontak email saya. Atau kalo kita sama-sama di jakarta, boleh juga bertemu untuk diskusi lebih lanjut. Memang ada orang yg bilang saya sudah dibrain wash (cuci otak) oleh para leader saya… mungkin saja… kebanyakan dengerin kaset kali he..he… Tapi saya bukan orang fanatik terhadap satu bisnis (mlm maupun bukan), fanatik produk atau mlm tertentu juga tidak.
#103:
betul, ini yang saya maksud di atas sebagai keuntungan MLM sebagai ‘klub belanja’. kutipan tulisan saya di atas: “tetapi rasanya sebagian besar orang-orang memilih menjadi distributor bukan untuk mendapatkan produk-produk dengan harga diskon.”
sistem ekonomi antara perusahaan dan MLM sama saja. pendapatan seluruh perusahaan paling tidak harus lebih besar daripada usaha yang dikeluarkan perusahaan tersebut secara keseluruhan. jika tidak, perusahaan itu merugi.
sama saja dengan MLM. pendapatan seluruh distributor jika disatukan harus lebih besar daripada yang dikeluarkan oleh seluruh distributor tersebut. ini syarat mutlak untuk mendapatkan keuntungan. terlepas dari apakah si ‘boss’ ikutan jualan retail atau tidak.
skema piramida itu jika pendapatan satu distributor berasal dari pengeluaran distributor yang lain. jika dihitung jumlah pendapatan dari semua distributor, maka tidak akan pernah melebihi pengeluarannya.
dimana-mana memang yang sukses lebih sedikit daripada yang gagal, tapi sukses tersebut BUKAN berasal dari kegagalan yang lain tersebut. ini sudah saya tulis di komentar saya yang lain, pegawai tingkat paling rendah pun pasti punya gaji yang positif. artinya, pendapatan si boss sudah pasti bukan berasal dari setoran pegawainya.
jadi sebenarnya sama sekali tidak rumit: pendapatan harus lebih besar daripada pengeluaran. dalam MLM, artinya profit yang berasal dari penjualan retail ke masyarakat non distributor harus lebih tinggi daripada pengeluaran.
sedangkan penjualan ke distributor yang lain tidak termasuk, karena akan saling mengeliminasi. sehingga tidak bermanfaat bagi grup secara keseluruhan.
ini terlepas dari faktor2 subjektif seperti berguna atau tidaknya barang yang dijual dan sebagainya.
ps. sebenarnya saya tidak mau menyinggung MLM tertentu secara spesifik, tapi MLM anda, tianshi, termasuk yang paling parah dalam urusan ini.
Joint MLM atau tidak adalah pilihan hidup seseorang.
Yang penting
-dia menjalankannya dengan cara yg profesional (sama dgn jika jd employee, dll).
-dia mendapatkan hasilnya (bukan hanya duit).
Sy belum lama bergabung di TIENS tapi sy dapat bnyk hal dr TIENS dgn education di Support System nya.
Kalo hanya berorientasi masalah uang, sy tidak tertarik.Tp bnyk hal sy dapatkan di bisnis ini.
Orang joint MLM(yg beneran) punya motivasi sendiri2.
Klo hanya duit dan reward2nya…ehm….blm cukup menggerakkan sy udh menjalani bisnis ini.Sekedar diketahui, dari bisnis konvensional sy sudah lebih dari cukup utk hidup sy dan keluarga.Kalo hanya demi BMW,ehm…maaf sy udh pnya 2 dan mobil jerman 1.
Klo boleh sy saran…..cari informasi yg bener,Perusahaannya,Produknya,Systemnya,Pendidikannya,komunitasnya,Marketing Plan nya, dan Cara menjalankannya secara Profesional.
Memang Pak, kalo MLM dari segi pendapatannya tidak sama seperti orang kerja kantoran… tapi lebih seperti kalo kita punya usaha/toko sendiri. Makanya di mlm, pendapatannya tidak stabil, beda dgn kerja kantoran, ada gaji tetapnya.. plus bonus.
Jadi wajar kalo di awal2, orang buka usaha/toko kan keluar modal/rugi dulu. Setelah itu baru untung. Di dunia luar sana banyak orang buka usaha, katakanlah restoran.. trus bangkrut.. kira-kira salah usaha restorannya atau orangnya?
Memang pada intinya, harus overall pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Tapi kalo dibandingkan juga di mlm, lalu dibandingkan dengan pengeluaran dan pendapatan di sektor usaha konvensional (buka toko/restoran kecil2an).
Awal saya join tianshi juga saya berpikir ini money game, tapi setelah saya pelajari lebih dalam (kata orang dicuci otak oleh leader he..he..) pandangan saya berubah..
Untuk di tianshi sendiri.. kalau seseorang sudah *3, setiap kali dia belanja atas nama sendiri akan dapet cash back (berupa uang tunai, bukan barang) sebesar 20% dari harga distributor. Kalau dipakai sendiri bisa dibilang diskon, kalo dijual ke orang lain (non member) bisa dibilang keuntungan. Gross profit 20% mungkin masih cukup feasible, diharapkan net profitnya 5 sampai 10%. Tiap naik bintang/peringkat, naik 4%, sehingga seorang *8 dapet 40%.
Saya sangat tertarik dengan komentar terakhir Anda yg bilang di tianshi sangat parah dalam urusan ini. Kalo bisa diperjelas, di bagian mana (kalau bisa detail/jelas, karena saya agak oon he..he..) yg sangat parahnya. Saya akan sangat berterima kasih kepada Pak Priyadi kalau menjelaskan kepada saya. Karena saya masih baru di bisnis ini.. siapa tau jalan yg saya lalui memang salah, kalo bisa dikembalikan ke jalan yg benar tentu saya akan senang.
Karena waktu itu pernah ada orang kirim email ke saya, katanya saya sudah dicuci otak, dan saya disuruh mempelajari marketing plannya tianshi agar dapat melihat marketing trapnya. Waktu saya tanyakan apa saja marketing trapnya, dia belon membalas. Jadi kalo Pak Priyadi bisa memberitahukan dimana jebakan/ kekurangan atau parahnya di tianshi, tentu saya akan sangat berterima kasih.
Atau mungkin maksudnya Pak Priyadi parahnya dari segi piramidnya? Terlalu banyak yg di bawah, dan terlalu sedikit yg di atas?
Sebagai gambaran, saya join tianshi baru April 2006, masih baru, masih perlu banyak belajar di bisnis ini. Support system yg saya ikuti tidak menjalankan stagging/spill over matrix atau investasi (pasang2 orang). Dan saya sendiri anti money game. Jadi makin anti money game setelah melihat situs2 (salah satunya pembelajar.com) internet yg membahas hal tersebut, termasuk blognya Pak Priyadi.
Juga seperti kata Pak Perdana, join mlm adalah suatu pilihan. Jgn sampe kita tertipu oleh omongannya distributor. Ada beberapa orang yg sudah kaya, dia tetep join mlm, bukan buat cari uang, tapi ya macem2 motivasinya bisa kesembuhan, pengembangan diri, membantu orang lain, kemampuan berorganisasi/managing people dll deh yg saya belon tau, karena saya belon kaya he.he..
Kalo boleh tau Pak Priyadi sudah join berapa macem MLM dan berapa lama? Atau kalau belon pernah join, sudah mempelajari berapa banyak mlm?
Memang kita harus menjelaskan kepada semua orang, untung ruginya join di mlm, yg lebih penting lagi.. jangan sampai tertipu oleh mlm yg jelek atau malah money game. Saya juga tidak setuju kalo yg di atas mendapat keuntungan dari kerugian yg dibawahnya.. itu memang namanya money game/penghisapan.
Tapi bukan berarti orang yg belanja untuk konsumsi pribadi dan tidak menjalankan bisnisnya (nggak dapet uang) artinya dia sedang dihisap. Yg penting tujuannya tercapai dan kebetulan banyak sekali motivasinya.. bisa uang, kesembuhan, pengembangan diri, dll? Kalau tujuan itu tercapai dan dia tidak merasa dirugikan, tentu dia tidak sedang dihisap.
Tentu nanti ada lagi yg bilang.. itulah hebatnya mlm, orang sedang dihisap.. tapi tidak merasa kalo lagi dihisap/ditipu/dibodohi. Sebenarnya itu tergantung cara pandang/paradigma kita terhadap sesuatu hal.
Mungkin kebetulan yg dilihat oleh Pak Priyadi hanya masalah uang yg dikeluarkan dan uang yg didapat. Padahal mlm yg bener (bukan money game), uang keluar.. dapat produk yg berkualitas (karena memang beli produk), kalo jalankan bisnisnya, ada kemungkinan dapet uang dan lain-lain.
Tujuan Pak Priyadi mengangkat tema ini (bedah sistem mlm) sangatlah baik sebagai pembelajaran kita semua. Jgn bosen Pak he..he..
Terima kasih untuk diskusi yg menarik ini.
#106:
kalau buka usaha sendiri, kerugian di awal biasanya terkonversikan misalnya ke hal-hal seperti peningkatan brand recognition. sedangkan pada MLM, ada kecenderungan setoran dipakai semata-mata untuk profit bagi upline.
kemudian, jika perusahaan nyaris merah, salah satu cara untuk memperbaikinya adalah dengan downsizing. ini tidak bisa dilakukan di MLM, karena apapun yang terjadi setiap distributor diberi insentif tinggi untuk merekrut distributor lain.
* memberi reward sangat tinggi untuk merekrut distributor baru
* distributor baru diizinkan untuk ‘membeli posisi’
* adanya reward dan ‘paksaan’ untuk membeli produk
tentunya ini cuma anekdot, kondisi sebenarnya mungkin cuma mereka yang tahu. anda pun mungkin tidak tahu
sebenarnya tidak ada masalah jika seseorang masuk MLM sebagai ‘klub belanja’. tetapi bisa dipastikan hampir semua anggota yang masuk adalah yang niatnya paling tidak untuk memperoleh pemasukan tambahan. orang-orang seperti pak perdana ini mungkin cuma minoritas kecil.
sudah ada paling tidak 6-7 mlm yang mencoba untuk memrospek saya. semuanya jenis MLM yang buruk: akan sulit sekali untuk mendapatkan keuntungan selain dari kerugian downline. saya tidak ada menutup kemungkinan ada MLM yang baik, karena itu baru sebagian kecil dari selurh MLM yang ada di APLI.
ujung2nya kembali kepada: MLM yang sustainable adalah jika dan hanya jika keuntungan dari penjualan ke masyarakat non distributor lebih besar daripada total pengeluaran akibat mengikuti MLM tersebut. jika tidak, maka bisa dipastikan bahwa keuntungan seorang distributor berasal dari kerugian distributor lain, ini tidak ada bedanya dengan skema piramida.
untuk tianshi, kuncinya ada pada bonus eceran: “Bonus eceran adalah keuntungan yang didapat apabila anda menjual produk kepada konsumen tanpa konsumen tersebut menjadi member. Besarnya 15 % dari harga jual.” ini satu2nya jalan supaya grup distributor secara keseluruhan tidak dalam kondisi ‘merah’.
pertanyaannya sekarang, berapa kali dalam bulan ini anda dan grup anda melakukan penjualan eceran tanpa mengajak konsumen tersebut menjadi member? apakah keuntungan sebesar 15% tersebut dapat menutupi pengeluaran anda dan grup secara keseluruhan? jika iya, selamat, maka MLM anda (atau paling tidak grup anda) adalah MLM yang baik. jika tidak, maka pendapatan orang2 yang berada di dekat puncak grup dapat dipastikan berasal dari setoran orang2 yang berada di dekat dasar grup.
Memang ide dasarnya perusahaan mlm mendorong distributornya untuk mencari distributor/konsumen lainnya. Makanya distributor memang diberi insentif untuk mencari dan mendidik/menduplikasi distributor lainnya.
Karena itu, perusahaan mlm yg benar, produknya haruslah benar2 bermanfaat. Jadi kalo ada yg beli, dia tidak merasa rugi… paling tidak dia mendapat manfaat dari produknya.
Kalau saya tidak salah mengerti, cara pandang Pak Priyadi adalah.. kalo orang bergabung dan nggak dapet duit dari itu .. artinya rugi.. kalau ada downline yg belanja.. berarti dia rugi.. karena dia cuma setor uang ke upline.
Saya cara pandangnya berbeda.. walopun nggak dapet duit.. tapi kan dapet produknya. Dan harga jual produknya wajar segitu… nggak mahal dan nggak murah.. wajar deh dengan manfaatnya.
Lalu kalau ada orang yg menjalankan bisnisnya.. udah keluar uang (diluar beli produknya, karena beli produk kan ada produk yg didapat) untuk presentasi, ketemu orang, ikut pertemuan, habis waktu dan uang tetap tidak berhasil.. tentu kita lihat.. apakah sudah diikuti sistemnya dengan benar.. kalo semuanya sudah ok.. tetep aja gagal ya sudah… mungkin bukan rejekinya. Istilah lainnya.. namanya juga usaha.. ada aja yg gagal.
Kata kuncinya “sudah ikuti/jalankan sistemnya dengan benar”. Sebagai contoh.. kalo kita beli franchise, kan sudah ada sistemnya, kalo nggak ikuti/jalankan sistemnya.. perjanjian kerja samanya berakhir. Kalo mlm, ikuti sistemnya suka rela.. kalo diikuti dengan benar hasilnya positif, kalo nggak ikut ya hasilnya gagal.
Saya nggak gitu ngerti dengan mlm lain, tapi di Tianshi Indonesia karena nggak ada target bulanan ya nggak harus beli produknya lagi kan (setelah *3). Setelah *5 baru ada syarat personal sales 100 ribu untuk bisa dapet bonus. Ya kalo bonusnya bulan itu cuma 10 ribu .. ya nggak perlu belanja lah.. Kalo bonusnya katakanlah 1 juta.. beli produk 100 ribu kan nggak apa2, produknya juga bagus/bermanfaat.
Di tianshi, semakin tinggi peringkat nggak ada target grup harus menjual berapa banyak. Yg ada kalo mau dapet bonus ya harus menjual. Kan sama aja kaya buka toko, kalo nggak mau jualan ya nggak ada pemasukan. Kalau mau naik peringkat ya harus kerja, jual produk dan cari orang.
Memang cara pandangnya berbeda, kalo Pak Priyadi bilang kalo orang yg sudah tertarik produknya dan jadi member malah jadi masalah.. padahal itu memang tujuannya MLM.. kadangkala jual produknya dulu, dan cocok, baru deh jadi member..
Kalau Pak Priyadi cara pandangnya tetap sama.. bahwa kalo member/downline beli produk hanyalah menguntungkan upline dan dia sendiri rugi.. maka benarlah teori/kesimpulan Anda bahwa MLM tidak ubahnya money game terselubung.. bahwa yg atas menghisap yg bawah. Karena yg Bapak lihat adalah uang keluar dan uang masuk.. Bapak tidak melihat, bahwa uang keluar ada produk yg masuk, namanya juga beli produk.
Yg saya lihat apakah disebut rugi kalau dia sendiri beli produk karena dia butuh dan produknya bermanfaat melebihi harganya.. dan karena kalo dia jadi member bisa dapet harga lebih murah (saya tidak berbicara 15% beda harga distributor dan konsumen, karena umumnya member tianshi menjual ke nonmember pun dengan harga distributor) setelah belanja Rp. 2 juta awal (bintang 3) dia dapet cash back 20% untuk pembelanjaan selanjutnya.
Kalau dia tidak butuh bisnisnya dan produknya ya ngapain join?
Saya tidak mau merubah cara pandang Anda, tidak mengerti cara pandang saya (yg katanya udah dibrain wash he..he..) juga nggak apa-apa, cuma kebetulan kita punya cara pandang yg berbeda. That’s all.
Memang banyak sekali orang-orang yang menjalankan bisnis tianshi dengan cara yg tidak benar, sistemnya (beli posisi, staging dll) ataupun cara memaksa/menipu orang agar bisa ketemu/presentasi/join. Kenyataannya memang ada yg begitu, tapi bukan berarti semuanya begitu. Ada juga distributor mlm yg menghina orang yg nggak mau join.. istilahnya kalo join temen, kalo nggak mau join ya dimusuhin.
Dan ini seringkali yg membuat orang benci/alergi/anti dgn mlm walopun sebenernya tertarik dengan produk ataupun sistemnya. Sayapun dulu termasuk orang yg anti terhadap mlm, tapi pandangan saya berubah setelah mendapat informasi lebih lanjut dan mempelajari lebih dalam (kata orang di brain wash/cuci otak he..he..)
Join mlm atau tidak tentulah suatu pilihan, tapi alangkah baiknya apabila pilihan ditentukan setelah kita mendapat informasi yg sejelas-jelasnya tentang apa yg kita pilih.
Sukses bukan hanya ada di MLM, di luar sana banyak orang sukses juga.
Salam.
#108: sebenarnya point anda sudah saya bahas semua di tulisan saya di atas. ini saya ulangi lagi:
tapi yang harus dipertimbangkan adalah:
masalahnya, praktis hampir semua distributor mengikuti MLM karena ingin memperoleh keuntungan tambahan.
kembali ke point utama saya: jika hampir semua distributor yang mengikuti MLM dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan, maka satu-satunya cara keuntungan itu didapat adalah dengan menjual produk ke non distributor tanpa mengajaknya menjadi distributor.
ini sudah saya bahas di skenario 2 di atas. silakan baca kembali. tapi intinya, jangan lihat dari sudut pandang individu, tapi hitung dari sudut pandang kelompok distributor secara keseluruhan. jika individu2 ini membentuk sebuah kelompok usaha, tapi setelah menjadi kelompok, ternyata total asetnya berkurang daripada sebelumnya, maka untuk apa membentuk kelompok? lebih baik dibubarkan saja.
masalahnya ada yang namanya market saturation, pada kondisi ini, praktis anda tidak kan pernah dapat menjual lebih banyak produk, walaupun anda menambah salesforce anda. kecuali kalau memang salesforce anda sebenarnya adalah konsumen anda
dalam perusahaan konvensional, rekrutmen adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan matang2. jangan sampai karena merekrut, balance perusahaan menjadi rugi. dan sebaliknya, pegawai juga bisa dipecat jika diperlukan untuk memberbaiki balance.
disadari atau tidak, dalam MLM juga berlaku hukum ini, tetapi tidak memiliki mekanisme untuk membatasi jumlah salesforce. distributor baru akan keluar jika dia merasa sudah bangkrut.
ini masalah utamanya. jika semua distributor mengikuti apa yang diajarkan kebanyakan MLM (rekrut sebanyak2nya dan nikmati passive income), maka sudah dapat dipastikan dengan tingkat kepercayaan 100% bahwa kelompok distributor secara keseluruhan akan merugi. bagi perusahaan MLM ini tidak menjadi masalah, karena toh kelompok distributor ini adalah market bagi mereka untuk menjual produknya.
coba baca lagi skenario 1 saya di atas.
setuju sekali!
ini sebenarnya adalah niat dari tulisan saya
MENURUTKU MLM ATAUPUN NAMANYA BAIK, YANG TIDAK BAIK YANG TIDAK MASUK MLM.
kalo ikutan mLm yang baru masuk di Indonesia gmana? kemaren ikutan kaka kelas gw ke semacem penataran ato seminar suatu mLm, doi ikut mLm yang berasas network marketing, itu loh mlm nya syner** baru masuk indo sekiitar awal 2006 ini, uplinenya yang baru bekerja selama +- 6 bulan dah berpenghasilan 25 juta per bulan + bmw per berapa bulan sekali,, kaka kelas gw sendiri yang sudah ikut +- 2 bulan udah punya 4 downline dengan penghasilan dia sekitar 1-2 juta per bulan *untuk anak kuliah tingkat 1 segini kan lmayan abis*
dan gw sendiri yang anak sma, tiba di kejar kejar sama beberapa upline-er supaya gabung,, kebanyakan mereka pindahan tadi Ti*ns dan bilang kalo di syner** lebih baik dan ++ *entah karena lebih cepat dapet duit ato lebih banyak kenalan karena sampe luar negri*
pertanyaannya adalah,, dengan bukti dan godaan yang menggiurkan seperti ini, mLm tetap tidak menguntungkan?
#111:
pada MLM yang buruk (tidak ada atau minim penjualan retail), segelintir distributor secara individu bisa dan akan mendapat penghasilan yang sangat tinggi, bisa punya beberapa mobil mewah bahkan pesawat terbang. tapi, jika yang ditinjau kelompok distributor secara keseluruhan, maka kelompok ini merugi. dari mana uang yang didapatkan distributor yang ’sukses’ tersebut? tidak lain dan tidak bukan adalah dari setoran downline-downline-nya. nantinya downline2 ini harus merekrut orang lain supaya dia bisa dapat untung, dan downlinenya tersebut harus melakukan hal yang sama, dan seterusnya. akibatnya, kelompok distributor secara keseluruhan tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. keuntungan hanya didapatkan orang yang dekat dengan puncak dan itu didapatkan dari kerugian anggota yang lain.
pada MLM yang baik, semua profit berasal dari penjualan retail ke masyarakat non distributor. ini satu2nya cara untuk mendapatkan profit yang nyata.
jadi yang harus ditanyakan kepada yang memrospek anda paling tidak adalah: berapa banyak dalam sebulan rata2 penjualan produk ke orang non distributor TANPA mencoba untuk merekrutnya? dan apakah profit yang didapatkan bisa menutupi hal-hal yang dikorbankan untuk mengikuti MLM ini?
Kalau saya tidak salah mengerti, menurut pendapat Bapak, kalau seseorang konsumen yg nonmember.. maka tidak ada pihak yg dirugikan.. sedangkan apabila si konsumen nonmber lalu jadi member, maka dia akan dirugikan.
Betul Pak, banyak orang yg gabung karena ingin menjalankan bisnisnya, tetapi banyak juga yg gabung supaya dapat harga lebih murah. Selama ini, walopun hanya sebagai konsumen pun (tidak menjalankan bisnisnya), saya sarankan untuk tetap join, karena akan dapat 20% lagi diskon/cash back setelah pembelanjaan 2 juta awal. Jadi bukan masalah harga konsumen dan distributor yg 15%.
Mungkin juga karena cara pandang kita berbeda, saya memandang dari dgn cara pandang marketing plan tianshi, Bapak memandang dari cara pandang MLM umumnya.
Dulu saya sempat berpikir kalo tianshi juga money game, karena saya melihat dgn cara seperti ini.. Asumsi total pay out bonus 50%. Jadi contohnya harga produk tianshi, 500 rupiah, lalu dimark up 500 lagi sebagai money gamenya. Setelah dipikir-pikir lagi, sebenarnya harga barangnya memang 1000, kalo jadi member, bisa dapet harga lebih murah (diskon) dari 1000.
Tentunya harga MLM harus dibandingkan dengan harga produk yg jalur konvensional yg memakai iklan sebagai alat promosinya. Karena MLM adalah produk yang diklankan juga, bukan lewat media massa, tapi melalui distributornya.
Menurut saya, keuntungan akan didapat oleh penjualan kepada konsumen nonmember juga dari konsumen yg jadi member. Kalau member tersebut aktif, tentu lebih banyak lagi keuntungannya. Dan karena ide dasarnya MLM adalah lebih baik merekrut (paling tidak jadikan mereka konsumen yg jadi member/klub pemakai/klub belanja) dari pada terus menerus menjual kepada nonmember, maka tentunya MLM akan memberi insentif lebih untuk merekrut daripada menjual. Makanya dibilang usaha ini tidak fokus pada jualan. Walopun jualan juga baik.
Tentunya diharapkan para konsumen yg jadi member akan belanja sendiri, sehingga orang yg memperkenalkan produk itu nggak repot lagi, tapi tetep dapet incomenya (passive income). Dan dia berhak mendapatkan itu, karena dia sudah capek2 memperkenalkan/mengiklankan produk itu kepadanya.
Sampai saat ini saya tidak punya data, berapa banyak/persen yg join di tianshi karena produk/konsumsi saja atau tertarik untuk menjalankan bisnisnya. Tentu kalo ada data tersebut bisa dilihat lebih jelas lagi. Kebetulan di jaringan saya (yg belum besar), mereka tertarik kepada produk dan bisnisnya/marketing plannya, dan sebagian besar ya coba produknya dulu, kalo bener2 bermanfaat, mungkin mereka mau menjalankan bisnisnya.
Sebenernya yg mau menjalankan bisnisnya tidak banyak, yg cuma mau konsumsi (dan juga member) lebih banyak, jadi tidak salah kalo tujuan bisnis ini membentuk jaringan pemakai. Sehingga wajar juga kalo yg naik peringkat/dapet reward cuma sedikit. Karena mereka adalah orang yg bekerja/berusaha. Dan orang berusaha tentu perlu keluar/investasi uang, waktu, tenaga dll untuk suatu hasil yg tentunya diharapkan lebih besar dari yg dikeluarkan. MLM yg benar bukanlah program cepat kaya (get rich quick scheme), jadi perlu waktu dan kerja.
Sama di bisnis konvensional/non mlm, yg dapet uang adalah yg bekerja (distributor, agen besar sampai kecil, sales, dll), konsumen sampai kapanpun tidak akan dapet uang, paling2 dapet hadiah undian/langsung yg sebenernya diambil dari biaya promosi/marketing/iklan.
Tapi konsumen tidak merasa rugi karena mereka dapet produk dan mereka belanja melalui sistem distribusi yg ada yaitu toko, hipermarket, supermarket, minimarket, warung dll. Jadi si produsen dari sistem/aset yg dibuatnya dapat menikmati passive income juga.
Jadi awal dan akhirnya sama, produsen=awal dan konsumen=akhir, yg membedakan hanya cara mendistribusikannya saja. Konvensional, lewat toko, iklan, grosir, salesforce dll atau sensasional (karena bikin rame he.he..) lewat mlm. Dibanding perdagangan konvensional yg sudah berabad-abad, tentu MLM yg baru beberapa puluh tahun adalah hal yg masih baru (bisa dibilang masih bayi jika dibanding dengan sistem konvensional) yg tentu masih ada kekurangan di sana-sini. Untuk itulah memang perlu aturan main yg jelas dan konsep MLM sendiri tentu masih berubah-ubah/berevolusi/berkembang.
Salam.
#113:
maksud saya, setiap kali ada distributor baru, maka beban bagi kelompok distributor secara keseluruhan akan bertambah, dan akan lebih sulit untuk mencapai net positif.
perhatikan, saya meninjau ‘kelompok distributor secara keseluruhan’. bukan cuma si A yang peringkatnya tinggi, bukan cuma si B yang udah lama ikut tapi biasa2 saja, bukan cuma C yang baru ikutan. tapi ‘kelompok distributor secara keseluruhan’. syarat supaya bisnis ini adalah jika dan hanya jika pendapatan kelompok ini melebihi pengeluarannya. problemnya, pada MLM kita tidak tahu apakah kelompok secara keseluruhan merugi atau tidak.
kok saya sangat yakin yang ikutan 90%+ pasti niat awalnya untuk mendapatkan keuntungan tambahan
. dan kalau niatnya begini, 90%+ mereka dapat dipastikan akan merugi.
semua MLM dan bisnis apapun bisa dianalisis dengan cara ini, terlepas dari bagaimana sistem komisinya, model bisnisnya, etc. intinya cuma: pengeluaran tidak boleh lebih besar daripada pendapatan.
bagi distributor tersebut secara individu, dia memang mendapatkan keuntungan. tapi coba tinjau kelompok distributor secara keseluruhan. coba baca skenario 2 di atas.
inilah masalahnya. dengan demikian sudah dapat dipastikan kelompok distributor secara keseluruhan pada MLM ini merugi. ini harga pas, gak bisa ditawar2: seandainya insentif untuk merekrut lebih tinggi daripada insentif untku menjual, maka penjualan ke non distributor akan lebih sedikit daripada rekrutmen. dan dengan demikian kelompok distributor secara keseluruhan akan merugi.
saya lihat anda tidak mengerti konsep ’secara keseluruhan’. coba pikirkan jangan hanya untung rugi anda sebagai individu, tapi hitung untung rugi grup anda secara keseluruhan. kalau ada waktu nanti saya coba gambarkan diagramnya supaya lebih jelas lagi.
Skenario 1, kalau saya tidak salah mengerti ada kesalahan, dibilang mengalami kerugian sebesar 4x Rp. 1200. Mungkin maksudnya 4x Rp. 300 = Rp. 1200 dan ditambah biaya operasional Rp. 300
Skenario 1 adalah skenario money game, karena tidak ada barang yg diperjual belikan. Pada mlm yg benar memang biaya pendaftaran harusnya kecil dan upline tidak mendapat “income” dari pendaftaran, kalaupun ada, itu kecil sekali.
Pada skenario 2, Pak Priyadi tidak melihat kalau dia nonmember harganya 1.500 dan kalau jadi member harganya hanya 1000. Kan sudah ada “keuntungan”/benefit atau diskon seharga 500 dari harga produk yg Rp. 1500.
Sedangkan apa yg dimaksud dengan biaya operasinal 100 per bulan, sedangkan dia tidak menjalankan bisnisnya? Apakah itu biaya/ongkos yg dikeluarkan untuk membeli barang itu? Kalau iya, apa bedanya dengan non mlm, kalau mau beli barang kan juga perlu pergi ke toko/telepon yg juga biaya/ongkos?
Kalau saya tidak salah mengerti, maksudnya Pak Priyadi adalah berapa effort/biaya/usaha yg dikeluarkan oleh sekelompok distributor dan berapa yg didapat.
Dari cara pandang saya.. para member itu tercampur antara konsumen dan orang yg memang bekerja untuk cari uang. Kalo cuma konsumen yg jadi member (klub belanja), tidak ada yg dirugikan. Everybody happy/wins. Konsumen yg member dapet harga lebih murah, upline dapet komisi, produsen barangnya laku. Secara keseluruhan dapet nilai tambah. Nah inilah yg jadi tujuan oleh beberapa perusahaan MLM, membentuk jaringan pemakai/klub belanja/Network Marketing.
Skenario 3 juga bagus, jual produk ke nonmember juga diantisipasi dengan beda harga member dan nonmember, lebih lagi di tianshi, setelah *3, ada cash back/diskon lagi 20%. Jadi memperbesar keuntungan para distributor.
Di tianshi yg terjadi adalah lebih kurang seperti skenario 2 dan 3. Skenario 1 adalah money game dan itu dilarang. Di tianshi skenario 1 juga tidak bisa jalan, karena kalo untuk pendaftaran saja yaitu Rp. 85 ribu (bintang 1), tidak akan mendapat bonus apa-apa dari memiliki downline berapapun jumlahnya dan apapun peringkatnya.
Terima kasih buat diskusi ini, karena justru diskusi ini membuat saya makin mengerti sedikit demi sedikit apa tujuan dan bagaimana marketing plan tianshi.
Markting plan tianshi bukan dibuat oleh pendiri tianshi (Li Jinyuan), tetapi oleh ahlinya Michael Sheffield. Dengan memperhitungkan biaya produksi, kekurangan markting plan mlm lain (peringkat naik turun, dikejar omzet), dll maka lahirlah marketing plan tianshi. Tentu ini bukanlah yg terhebat, apalagi sempurna, tapi paling tidak saya cocok dengan yg ini.
Salam
Bapak sudah pernah mempelajari/melakukan investigasi secara mendalam tentang BKB dari Pt Usahajaya Ficooprasional ? Bagaimana pendapat Bapak tentang bisnis jaringan ini dibandingkan dengan bisnis MLM lain ?
#115:
thanks, sudah saya perbaiki
yup, itu benefit kelompok distributor sebagai ‘klub belanja’.
beberapa MLM menerapkan ‘iuran keanggotaan’, bisa secara terang2an atau terselubung dalam bentuk pembelian produk dengan paksa, biaya training, biaya ikut seminar, presentasi dsb. tapi seandainya pun biaya ini nol, maka hasilnya impas: zero-sum game.
yup, ini seandainya orang mengikuti MLM dengan niat selayaknya mendaftar matahari membership card. tapi seperti yang kita ketahui bersama, hampir semua distributor MLM mengikuti MLM dengan niat ingin memperoleh keuntungan.
bagi sebagian kecil anggota distributorship MLM yang niatnya untuk mendapat diskon, maka dia sudah puas sudah bisa membeli produk dengan harga diskon. sedangkan bagi yang niatnya ingin memperoleh profit, maka tentunya dia belum puas hanya dengan mendapatkan diskon. dan kelompok terakhir ini adalah yang mayoritas.
ini cuma trik saja. kenyataannya, harga tersebut tentunya masih di atas biaya produksi.
pada contoh di atas saya mengasumsikan bahwa jalur pendistribusian barang adalah sebagai berikut: produsen mengirim ke distributor, dan distributor mengirim ke konsumen non distributor. tapi tidak harus seperti ini, bisa saja produsen-kurir-konsumen, atau produsen-upline-downline-subdownline-konsumen atau produsen-upline-downline-kantorpos-konsumen, atau bahkan konsumen mengambil sendiri di kantor drop off. tapi bagaimanapun jalannya, hal ini tidak akan mempengaruhi garis besarnya seperti yang saya sebutkan di atas.
sama saja dengan pendistribusian uang. pada contoh saya di atas setelah penyederhanaan, konsumen memberi profit kepada distributor. kenyataannya mungkin jauh lebih rumit tergantung skema pemberian komisi. bisa jadi konsumen-produsen-distributor, atau konsumen-produsen-upline-distributor, atau konsumen-distributor-upline. atau konsumen-distributor-produsen, kemudian dibalikan 30% ke distributor. tapi secara garis besar tetap sama dan tidak akan mempengaruhi perhitungan. semua MLM dapat disederhanakan menjadi seperti ini.
seandainya 1 dilarang, mengapa saya masih melihat distributor MLM mencoba untuk merekrut orang untuk menjadi distributor? kenyataannya, contoh 1, 2 dan 3 adalah segala hal yang dilakukan oleh distributor MLM, yang membedakan hanyalah proporsinya. MLM yang baik lebih menekankan ke skenario 3 ketimbang 2 apalagi 1.
#116:
maaf, saya belum pernah.
Kalau Prudential itu ada modus MLM nya gak ya ? Soalnya diajakin ikutan jadi agen dapat sekian puluh atau ratus juta gituh
did u know? BKB UFO satu-satunya bisnis jaringan asli Indonesia yang pertama go internasional dalam rentang waktu 6 tahun sejak berdirinya tahun 2000, nggak kalah kan ama MLM-MLM luar negeri yang seabrek-abrek tumpah ruah di Indonesia nyedot devisa kita…
did u know? BKB UFO satu-satunya bisnis jaringan yang memiliki dewan pengawas syariah yang diketuai oleh ketua dewan fatwa MUI KH. Ma’ruf Amin, produk halal dan berkualitas dengan harga terjangkau dan sudah didukung support system yang professional
did u know? BKB UFO dihina direndahkan oleh orang Indonesia sendiri terutama dari member MLM-MLM luar negeri, tragis nggak tuh
more infomation:
please akses: http:\\www.ufo-commitment.com dan bisa juga download majalah INFOUFO dari edisi perdana 2003 sampai edisi bulan ini Septemeber 2006
MLM itu meking lop marketing ya?
Terima kasih Sdr. Aan atas penjelasan singkatnya. Pertanyaan itu Saya ajukan karena Saya mendapatkan kesan bahwa Bung Priyadi sepertinya belum pernah mengetahui apa & bagaimana sebenarnya sistem yang berlaku di BKB UFO. Sehingga tulisan beliau Tentang “Bedah Sistem MLM” dapat dimaklumi karena ybs memang belum paham tentang BKB UFO. BKB UFO tidak bisa disamakan dengan MLM meskipun keduanya sama-sama bisnis jaringan. Sebagai PBJ UFO Kita tentu memiliki kewajiban untuk terus mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang BKB UFO yang sebenarnya. Sehingga image buruk yang pernah tertanam di masyarakat akibat ulah tidak terpuji segelintir PBJ UFO bisa terus dieliminasi hingga titik terendah. Untuk Bung Priyadi, Saya salut kepada Anda yang telah mengangkat tema ini ke permukaan. Semoga kita dapat mengambil manfaat positif dari semua ini. Sukses Luar Biasa !
Di Dunia ini danya ada dua tipe BISNIS.
MLM dan non MLM.
Anda boleh ikut MLM, atau tidak bergabung sama sekali.
Tinggal dinikmati saja.
Adanya istilah MLM kan karena ada istilah selain MLM.
Relaks sajalah.
Kehadiran MLM karena ada bisnis yang bukan MLM.
Sebaliknya juga demikian.
Saya hanya ikut senang bila teman-teman berkecukupan dalam incomenya. Dan senang juga bila yang berkecukupan ikut berbagi sesama yang masih kekurangan.
Sebanyak apapun jumlah uang dibumi ini….ya hanya berputar-putar aja.
Salam//anung
#120, #122:
hmmm… saya sama sekali tidak sedang membahas secara spesifik tentang UFO, melainkan tentang MLM secara keseluruhan. kemudian anda bilang “BKB UFO tidak bisa disamakan dengan MLM meskipun keduanya sama-sama bisnis jaringan”. lalu kenapa musti repot2 berargumen di sini?
okelah, kalau saya memang tidak tahu apa2 tentang UFO. lalu apa yang musti saya pahami?
dari situs web yang anda berikan, keterangannya tidak cukup jelas. tapi rasanya kesimpulan tulisan saya di atas dapat diterapkan di MLM anda. yang menentukan adalah “Bonus penjualan langsung di dapat dari selisih antara harga customer dengan harga PBJ, berkisar antara 15-20% menurut jenisnya.”
MLM UFO baik jika dan hanya jika total pendapatan dari bonus ini untuk seluruh distributor lebih besar daripada pengeluaran yang dikeluarkan oleh seluruh distributor tersebut sebagai konsekuensi mengikuti MLM.
MLM itu bagus, sistem yg bagus, cumaaaaa didalamnya ada anggota2 yang gak professional dalam menjalankan bisnis ini, well.. tapi hal ini juga berlaku di semua bidang, termasuk di tempat komen yang sederhana ini, sistem komen ini sudah bagus, tapiiiii masih ada anggota2 yang gak professional dalam mengisi komen, example: “1″, “pertama kah?”, “hore nomor 1″ “3 besar”, dll
well, peace man
ELVINA M RAMBE
Menikmati Manisnya Bisnis MLM
Minggu, 30 Juli 2006
Bagi sebagian orang, mendengar kata bisnis multi level marketing (MLM) biasanya langsung ditanggapi dengan senyum kecut, dan langsung mengkaitkannya dengan bisnis tipu-tipu. Padahal, banyak individu yang meraup berkah dari bisnis MLM, dengan bonus yang nilainya cukup spektakuler bagi orang awam, karena angkanya mencapai ratusan juta rupiah.
Salah seorang yang merasakan manisnya madu dari bisnis MLM adalah Elvina M Rambe, ibu rumah tangga yang berhasil meraih peringkat Gold dalam jenjang karir MLM di PT Sun Hope (SH) Indonesia. Dalam kurun waktu lima tahun saja, bonus uang yang diterimanya mencapai Rp 250 juta. Itu belum termasuk hadiah mobil yang menemaninya untuk wara wiri membangun jaringan.
Elvina yang pada kesempatan itu ditemani sahabatnya yang juga peraih peringkat Gold, Etty Rahmawati, menuturkan, awalnya, ia termasuk orang yang tidak percaya dengan bisnis MLM. Keikutsertaannya pada bisnis itu karena ia ingin mendapatkan produk suplemen kesehatan untuk mengobati sakit yang diderita ibunya, By Nuryana Betty, dengan harga lebih murah.
“Ibu saya waktu itu menderita sejumlah penyakit yang membuatnya kesulitan berjalan. Sejumlah cara sudah dilakukan mulai dari berobat ke dokter hingga ke pengobatan alternatif. Sampai pada suatu hari, saya ditawari suplemen makanan keluaran Sun Hope. Demi mengejar harga yang lebih murah, kemudian saya ikut menjadi anggota,” ujarnya.
Kesembuhan ibunya dari penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun itu bukan saja menjadi “iklan” tetapi juga pendorong yang kuat untu memperkenalkan produk SH ke tetangga, sahabat hingga handai taulan. Tak heran dalam waktu tak lama, bonus yang diperoleh selama membangun jaringan di Sun Hope telah membuat rekeningnya terus menggembung.
“Kucuran bonus yang datang hampir setiap minggu membuat saya sadar bahwa bisnis ini memang ada dan sangat menguntungkan,” kata ibu dari 4 anak bernama Viman Julian Santoso, Imelia Martinovita Santoso dan Idealivin Meihar Santoso sambil tersenyum.
Investasi yang dibutuhkan pada awal memulai bisnis itu pun relatif kecil. Hanya memang dibutuhkan kerja keras untuk menyakinkan masyarakat terhadap produk yang akan dijual. Setelah itu me”rayu”nya agar mau menjadi member. Karena bonus yang diperoleh bisnis MLM diperoleh dari anggota baru dan jaringan yang dibangunnya.
“Selain menguntungkan, bisnis MLM produk Sun Hope ini juga membuat badan sehat. Sebab 9 jenis produk yang dipasarkan semuanya adalah makanan kesehatan,” kata Elvina seraya menyebut 9 produk andalan SH, antara lain, Deep Sea, Susu Colustrum, Multivitamin Mega Formula, Herdtea, Enzim, Macca, dan Spirulina.
Sun Hope International pada awalnya berdiri tahun 1978 di Los Angeles, California, Amerika. Finansial yang kuat, reputasi yang terkenal, dapat dipercaya, kokoh, serta realistis merupakan konsep yang dianut Sun Hope dalam melayani masyarakat.
Prestasi gemilang yang dicapai Sun Hope di Amerika telah menjadi dorongan semangat bagi Sun Hope untuk melakukan ekspansi usaha ke Asia. Untuk itu, pada tahun 1986 di Taipei, didirikan kantor pusat yang mencakup seluruh Taiwan. Pada Agustus 1993 diperluas dengan mendirikan Sun Hope di China, dengan kantor pusat di Tianjin dan merupakan salah satu dari perusahaan MLM yang mendapatkan ijin dari pemerintah China. Saat ini, tidak lebih dari 20 perusahaan MLM.
Berkat dukungan yang besar dari para distributor, akhirnya pada September 1997 berdiri Sun Hope di Indonesia. Sun Hope di Indonesia dijalankan dengan bendera PT Sanindohop Jaya Pratama dipimpin oleh Peter Chen dan Dewi Aryanie Hermanus.
Dengan manajemen yang piawai serta didukung oleh staf yang profesional, Sun Hope di Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Jaringan distributornya telah berkembang ke hampir seluruh kota besar di seluruh penjuru Indonesia, dari Banda Aceh di ujung pulau Sumatera, sampai kota Jayapura di pulau Irian. Dalam waktu singkat, telah lebih dari 200.000 orang terdaftar sebagai distributor Sun Hope.
Walau tergolong baru di Indonesia, Sun Hope telah mampu menyejajarkan diri dengan perusahan-perusahaan multilevel marketing lainnya. Saat ini Sun Hope telah memiliki gedung sendiri yang sekaligus sebagai kantor pusat Sun Hope di Indonesia.
Pegawai Kantoran
Bicara soal karir, Elvina sebelumnya adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah departemen. Pada tahun 1991, ia mengundurkan diri untuk memilih menjadi ibu rumah tangga dengan mengurusi keempat buah hatinya.
“Maju dan ber-kembang adalah keinginan setiap manusia. Pada tahun 1991 saya mengundurkan diri sebagai pegawai negeri di salah satu Departemen. Sebelas tahun lamanya saya mengabdi dengan cara kerja P9MN (Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan Potong Pinjaman). Karena untuk menutupi kebutuhan dan pengeluaran sehari-hari tidaklah cukup hanya dari gaji yang sangat minim.
Setelah tidak lagi bekerja di kantoran, Elvina melakukan sejumlah usaha dengan berjualan apa saja yang dititipikan teman, dari sepatu, kosmetik sampai makanan kecil hingga menjadi instruktur senam.
“Dari semua yang saya lakukan itu ternyata belum memadai untuk membantu dapur keluarga. Sayapun akhirnya ikut menjalankan usaha yang kita kenal dengan bisnis MLM ini,” kata istri dari Ir Imam Budi Santoso, karyawan PLN itu.
Ia kembali menegaskan, bisnis multi level markerting (MLM) bukan sekedar jualan mimpi. Kuncinya asal mau bekerja keras dan pantang menyerah, ia akan berhasil. Maka bonus demi bonus dengan nilai yang spektakuler bukan lagi menjadi angan-angan.
“Sistem pemasaran yang mudah sehingga bisa dijalankan berbagai lapisan masyarakat dan sudah terbukti distributor dari kalangan sederhana berhasil mencapai posisi tertinggi dalam waktu tidak begitu lama. Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat saya bergabung dengan memulai tujuh unit, karenadengan demikian berarti hasil yang paling maksimal akan saya dapatkan,” kata Elvina mengungkapkan rahasia suksesnya.
Ditanya target ke depan, Elvina mengatakan, ia akan tetap menggeluti bisnis MLM yang telah mengantar keluarganya menuju kehidupan yang sejahtera. “Saya tetap tertarik dengan bisnis ini, meski tidak lagi kerja keras seperti dulu. Karena bisnis ini bisa diwariskan, maka satu orang anak saya sudah siap meneruskan jaringan yang sudah saya bangun ini,” kata Elvina sambil tersenyum kecil.
Disela-sela wawancara, Elvina tampak terus menerus memencet-mencet handphonenya mengirim SMS ke sejumlah orang yang downline (kaki-kaki) bisnisnya. “Maafnya sambil SMS-an, soalnya ada banyak pertanyaan dari para downline yang bertanya soal produk dan poin yang telah diperolehnya,” ujar Elvina.
Selain sibuk menggaet orang untuk menjadi member dan membantu downlinenya yang kesulitan, waktu senggangnya dihabiskan untuk bernyanyi dan berolahraga- dua hobinya yang telah digeluti sejak lama. “Karena anak-anak sudah besar, selain mengembangkan bisnis MLM saya suka juga bernyanyi dan senam. Malah, ketika muda dulu saya sempat menjadi instruktur bersama-sama dengan pakar senam Berty Tilarso,” tuturnya.
Untuk urusan nyanyi, Elvina tidak hanya berkutat di kamar mandi. Ia kerap tampil menyanyi di setiap acara-acara yang digelar di kantor suaminya di PLN. “Nyanyi itu bisa menghilangkan stres, selain juga mengolah rasa kita,” katanya.
Cerita tentang aktivitas Elvina M Rambe sebenarnya hanyalah sebuah potret kecil dari perkembangan bisnis MLM di tanah air. Memang ada bisnis MLM yang nakal dengan aksi tipu-tipunya, tetapi tidak sedikit yang benar menjual produk bagus. Bisnis ini pun ternyata sanggup bertahan di tengah krisis ekonomi yang hingga kini masih membalut Indonesia. (Tri Wahyuni)
Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i
#111, kalau yang kamu dimaksud syner** adalah synergy worldwide, kok kayaknya gak mungkin punya 4 downline penghasilannya 1-2 juta, itu hanya provokasi, silakan pelajari baik-baik marketing plan synergy. memang bisa dapat bonus 6 digit dalam bulan kedua, tapi itu hasil bonus rekruitment, jadi bukan penghasilan yang akan rutin diterima setiap bulan. setiap merekrut 1 orang membar memang akan memperoleh $12.5 atau $37.5
6 bulan dapat 25 juta + BMW per brp bulan sekali ?????? di synergy gak ada bonus BMW, semua dalam bentuk uang dan kalau katanya 6 bulan dapat 25 juta, wah hebat banget tuh orang, jangan percaya provokasi, menurut saya itu hanya hitungan matematisnya saja, kenyataannya sangat-sangat sulit. saya sudah ikut 5 bulan, bonus terbesar saya pada suatu bulan hanya rp 1400.000-an. tapi saya memang optimis ikut mlm ini akan membawa keuntungan finansial bagi saya.
#72 : perusahaan MLM besar sih pasti punya banyak duit untuk mengadakan acara mewah seperti itu. kelompok distributor mengira kalau perusahaan MLM mendapatkan banyak keuntungan, maka otomatis mereka juga akan mendapatkan banyak keuntungan. tapi kenyataannya kan gak gitu, bahkan keuntungan dari perusahaan MLM sebagian besar berasal dari kerugian distributor.
Bisa kasi datanya?kok bisa bilang gitu?
ANDA DAPET DATA DARI MANA KOK BISA BERKESIMPULAN SEPERTI ITU? ANDA SEPERTINYA SERBA TAU YAH?ATAU SOK TAU???
#126:
exactly! itu cuma cerita tentang kesuksesan satu orang. entah yang lain gimana
#129:
silakan baca analisis saya di atas. seandainya perusahaan MLM bukan pabrik uang, maka uangnya cuma berputar2 di situ saja. tidak ada manfaat yang real bagi distributor secara keseluruhan.
Sepertinya Anda benar2 sok tau…Pendapat Anda sama sekali tidak berdasar pada data yang ada. Anda hanya menggeneralisir bahwa semua MLM seperti itu. Saya gak yakin Anda telah benar2 mempelajari sampe ke akar2nya sistem yang ada pada suatu perusahaan MLM terutama Tiens. Silahkan Anda pelajari benar-benar…Kalo perlu Anda datang ke China, datang langsung menemui Mr.Li (pendiri perusahaan MLM yang baru2 ini mengadakan perhelatan akbar di gelora Bung Karno). Tanya dari mana BMW itu bisa keluar..
Kalo Anda bilang karena perusahaannya berduit makanya bisa ngadain acara sebesar itu, satu hal : perusahaan tersebut memang punya banyak duit, Tiens adalah grup perusahaan berbasis bioteknologi. Bidang bisnisnya yang lain banyak, ada pendidikan, transportasi,dll. Menurut International Daily News May 2004, Mr.Li adalah orang nomor 2 terkaya di China.
Anda tau berapa orang yang datang ke gelora Bung Karno tempo hari? Kurang lebih ada 100 ribu orang. Harga tiket masuk 80 ribu…Anda bisa jumlah sendirilah berapa totalnya. Saya fikir dari penjualan tiket aja sudah cukup untuk meng-cover seluruh biaya acara tersebut…
Sekali lagi,pelajari dulu benar2…baru berpendapat. Jangan kebanyakan nganalisa.Apa emang udah kodratnya orang Indonesia bisanya cuma komentar n kritik doang, gak ngasi solusi…
Saya tanya sama Boss Pri…ada gak alternatif lain selain MLM yang bisa bikin saya 2-3 tahun bisa meng-hajikan bunda saya?Bisa gak Boss Pri yang cerdas ini kasi solusi kepada saya bagaimana dalam 2-3 tahun ke depan saya bisa membayar hutang saya sekitar 60 juta untuk biaya rumah sakit ayah saya?Kalo ada, let me know…
Nambah dikit : Dimana2 yang sukses pasti lebih sedikit dibanding dengan yang gagal. Dimana2 yang namanya Boss lebih sedikit dibanding dengan karyawannya.Dimana2 kalo balap mobil or motor yang jadi juara pasti cuma satu. Dimana2 orang kuliah yang IP-nya 4 jauh lebih sedikit, paling cuma 1-2 orang, yang lain?ke laut…
Dimana-mana yang dikedepankan adalah yang berhasil. Anda pernah baca autobiografi orang-orang gagal?gak pernah ada kan?Yang Ada selalu autobiografi orang2 berhasil…
#132:
seandainya faktor yang diperhitungkan hanyalah besarnya jumlah pendapatan (faktor moral sama sekali dikesampingkan), saya punya banyak alternatif: mencuri, merampok atau korupsi misalnya
intinya: percuma segelintir sukses dari suatu sistem, jika kebanyakan orang yang berada dalam sistem itu merugi. seseorang bisa saja ’sukses’ mendapatkan Rp 100 juta sebulan dari kegiatan mencuri, tapi sudah pasti ada pihak2 yang dirugikan sebesar Rp 100 juta. karena itu mencuri adalah kegiatan yang buruk.
exactly! testimoni dari satu dua orang belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya secara keseluruhan. hanya karena ada 1 orang yang dapat 250 juta dalam sebulan dari MLM, bukan berarti semua anggota MLM akan mendapatkan jumlah yang sama, bahkan bisa jadi akan ada yang merugi.
kesimpulannya saya tetap sama: syarat MLM yang baik adalah jika keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke orang2 di luar distributor lebih besar daripada pengeluaran yang merupakan konsekuensi menjalankan bisnis MLM
tidak seperti yang anda tuduhkan, saya tidak menggeneralisasi MLM secara keseluruhan. jika MLM anda baik, maka tentunya akan memenuhi syarat di atas.
Saya fikir Anda cukup cerdas memberi solusi. Masa sih
saya untuk meng-Hajikan orang tua saya harus merampok,
mencuri apalagi korupsi. Gak kebayang deh dosanya kayak
gimana? Ada solusi laen gak Boss?
Saya mau tanya sama Boss Pri…bisa gak kasi tau saya
So wajar kalo penghasilan mereka paling 1-3 juta/bulan. Saya fikir cukup aneh sih kalo seorang bintang 5 dengan beban kerja yang tidak begitu berat akan mendapatkan penghasilan sama dengan seorang Silver Lion yang kerja kerasnya luar biasa. Bahkan harus pulang pergi keluar negeri…Udah pasti si Silver Lion bakal protes…bener gak?
secara detail bentuk meruginya seperti ?Bener banget Boss, kalo ada satu orang yang bisa berpenghasilan 250 jt/bln bukan berarti semua anggota akan mendapatkan jumlah yang sama, BENER BANGET BO!!!
Mungkin saya adalah orang yang pertama langsung nolak
sistem bisnis dimana semua orang pasti akan memperoleh
penghasilan yang jumlahnya sama…semua mendapatkan 250
jt/bln..ITU PASTI BISNIS PENIPUAN BO!!!
Gini Boss, seorang Silver Lion di MLM saya adalah seorang yang mempunyai penghasilan kurang lebih 250
jt/bln. Kenapa dia bisa dapetin segitu banyak?Kerja
Keras dia jauh di atas rata2… Dia dah berhasil
mencetak 3 orang bintang 8 dalam organisasi bisnisnya.
Mencetak 3 orang bintang 8 adalah pekerjaan yang tidak
mudah. Pengorbanan waktu, fikiran semua dicurahkan
untuk membantu rekannya punya penghasilan rata2 40
juta/bln.Trus gimana dengan yang bintang 4…bintang
5…??Organisasi bisnis mereka masih kecil,kerjanya pun tidak sesulit dan serepot seorang Silver Lion. Area
bisnisnya pun paling baru Depok dan Jakarta aja. Itupun baru seputar UI Gunadarma sampe Lenteng Agung…
Ya..sebenernya gak beda sih Boss sama bisnis-bisnis
yang lain..Apalagi dengan kerja di kantoran. Penghasilan para Boss pasti jauh di atas para karyawan
dong?Bener gak?Ya..wajarlah para boss dapet penghasilan lebih tinggi…tanggung jawab mereka, beban kerja mereka, stressnya mereka pasti lebih dibandingkan dengan yang lain, apalagi dengan Office Boy yang mungkin kerjaannya cuma buka kantor, sedikit
bersih-bersih dan nyediain air minum buat para
karyawan.Buat para karyawan sih gak peduli masalah
bisnisnya para boss gimana,yang penting buat mereka
tiap bulan gajian lancar,bener gak? Ya…jadi aneh juga kalo office boy punya penghasilan sama dengan
boss…Masuk logika gak?
Menurut Boss Pri konteks “dirugikan-diuntungkan” dalam
kasus seperti di atas gimana?Kalo menurut saya justru
yang seperti itulah yang berada dalam konteks yang Anda maksud dari suatu “sistem yang merugikan”. Apalagi sang karyawan termasuk OB, kecil sekali kesempatannya menjadi sang Boss. Sang Boss tidak mungkin mengajarkan kepada seluruh karyawan sehingga suatu saat mereka bisa menjadi boss juga menggantikan dia.Ya..dimana2 yang namanya Direktur Utama selalu 1 tapi karyawannya puluhan bahkan ratusan,bahkan ribuan…
Di NM/MLM, okelah sang Silver Lion adalah seorang “sang boss” dan para bintang 5 adalah “sang
karyawan”(walaupun sebenernya tidak seperti itu).Tapi
ya..anggaplah seperti itu.Tapi “sang karyawan” punya
kesempatan yang luas sekali untuk bisa menjadi “sang
boss”. Dan “sang boss” akan dengan senang hati akan
mengajarkan kepada “sang karyawan” bagaimana mereka
juga bisa menjadi seorang “sang boss”. Memang…tidak
semua “sang karyawan” bisa menjadi “sang boss”, tapi
mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi “sang boss” asal mereka mau membayar harganya seperti apa yang telah dibayar oleh “sang boss”.
Di NM/MLM..jangan pernah bermimpi menjadi sukses
sebelum Anda men-sukseskan orang lain. Seorang Silver
Lion kenapa dia bisa menjadi SL karena dia berhasil
membantu 3 orang menjadi seorang bintang 8. Seorang
bintang 8,jangan pernah dia berharap menjadi seorang
bintang 8 sebelum dia berhasil membantu 3 orang menjadi bintang 7.
Beda sekali dengan kerja/usaha2 konvensional. Saat ini saya masih bekerja di kantor. Yang terjadi apa? untuk bisa menduduki suatu jabatan, saya melihat banyak sekali yang sikut sana sikut sini.Para manager saling melemparkan isu2 menjelek2an manager yang lain, untuk apa?biar dapet posisi yang enak dan disayang boss. Kejadian tragis juga menimpa adik ipar saya yang terpaksa keluar dari pekerjaannya karena disantet/diguna2 oleh rekan kerjanya yang mengincar posisinya. Ngeri Bo !!!!!
Ada salah satu leader di bisnis NM saya. Beliau saat
ini masih berada di posisi bintang 8. Tapi di
bawahnya/downline-nya sudah banyak yang Silver Lion,
Bronze Lion bahkan sudah dapet reward BMW,bahkan lebih
dari itu. Penghasilannya? sudah pasti juga jauh berbeda meski dia adalah uplinenya. Kesimpulannya apa? Belum tentu yang gabung duluan dan berada di atas PASTI lebih berhasil dibanding dengan downline2-nya.Belum tentu penghasilannya PASTI lebih tinggi dibanding downline2-nya. Semua tergantung siapa yang bekerja lebih keras…
Terakhir menanggapi tulisan Anda “syarat MLM yang baik
adalah keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke
orang2 diluar distributor lebih besar daripada
pengeluaran yang merupakan konsekwensi menjalankan
bisnis”.
Saya menangkap pernyataan Anda seperti ini:Berarti MLM
yang baik adalah MLM yang selalu memberikan keuntungan
yang lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran
operasional bisnis?Artinya ketika menjalankan bisnis
MLM bonus kita harus selalu lebih besar dari biaya
operasional kita?Artinya kalo suatu saat misalnya
ternyata bonus saya bulan ini 12 juta, tapi karena saya harus pergi ke Australia dan Malaysia karena harus membangun bisnis di sana, pengeluaran saya habis 12,5 juta. Berarti saya sedang menjalankan bisnis MLM yang gak bener?
Kalo seperti itu asumsi Anda, cukup perihatinlah saya
dengan Anda. Mungkin Anda belum begitu memahami yang
namanya bisnis. Coba Anda cari rekan Anda, teman Anda,
Sodara Anda yang sedang menjalankan bisnis, apapun
bisnisnya.Tanya mereka apakah setiap bulan pendapatan
mereka lebih besar dari apa yang telah mereka
keluarkan. 1-2 tahun aja mungkin mereka belum bisa
balik modal. Saya punya sodara sepupu. Beliau buka
Warnet di sekitar kampus UI. Modal dia sekitar 100 juta belum termasuk lokasi.Pendapatan dia perbulan kotor maksimal 10 juta.Bersihnya tarolah 5 juta..5 jutanya yang lain buat listrik, bayar speedy, bayar
karyawan.Berarti berapa lama beliau baru balik
modal…??20 bulan!! Artinya apa…Beliau selama 20 bulan sama sekali belum bisa menikmati hasil usaha yang sedang dia jalankan.Lalu apakah itu berarti usaha warnetnya tidak baik?? Dimana-mana yang namanya bisnis adakalanya untung adakalanya rugi…wajar sekali seperti itu. Jadi karyawan aja seperti itu bukan..Adakalnya pas, adakalanya lebih, tapi lebih sering tekornya bukan?
Sory neh kebanyakan…
Pencuri impian
Barusan abis baca blog-nya Dini Susanti , ada pages tentang pencuri -|- impian jadi teringat masa lalu, berkat baca judul tersebut jadi teringat dulu pernah menulis tentang pencuri impian juga di blog yang lama
Berhubung blog yang lama sudah rada rada error dan belum sempat diperbaiki lagi, dikutip ulang tulisannya de disini, untuk mengingatkan terutama diri sendiri agar selalu positif
Apakah sebenarnya pencuri impian itu?
Pencuri impian adalah saat kita memiliki sebuah impian (misalnya menjadi sukses di bisnis multi level atau yang lainnya) lalu tiba tiba karena seseorang kita menjadi kehilangan semangat , kehilangan gairah, begitulah.
Seorang pencuri impian bisa siapa saja , baik orang tua , teman , pacar (kekasih) atau bahkan diri kita sendiri dengan merasa malas. Jika kita mempunyai sebuah impian usahakanlah sekerasnya agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan karena dengan impian tersebut tentunya harapan kita adalah agar kita dapat bahagia, tahukah bahkan hanya dengan “HARAPAN” saja kita dapat menjadi jauh lebih bahagia.
Untuk mencapai tujuan dalam impian kita ada satu kiat utama yang harus diikuti yaitu BERPIKIR POSITIF , sebuah sikap yang akan membawa kita kepada kebahagiaan. Dengan berpikir positif segala hal akan dapat kita terima dengan ikhlas. Seandainya kita ditolak oleh orang, disakiti, dicaci dan sebagainya kita akan dapat melihat makna dibaliknya. kita tidak akan menjadi berpikir dan bertindak yang buruk akan tetapi akan selalu positif.
Hal lain yang cukup sering kita rasakan yang cukup negatif adalah rasa sebal (akan suatu hal baik itu kepada seseorang ataupun karena suatu hal). Rasa sebal tersebut disadari atau tidak adalah suatu tindakan yang sangat negatif, sangat sangat negatif. Coba kalau kita rengungkan, perlukah kita merasa sebal? jika kita merasa sebal (katakanlah selama 1 menit, hanya 1 menit saja) sadarkah kalau kita telah mencuri, mengambil, menghilangkan impian kita, tujuan kita untuk bahagia selama 1 menit tersebut, kita telah kehilangan kesempatan untuk bahagia !!
So untuk yang sekarang sedang - (negatif) sedang kesal atau kecewa, atau merasa bisnisnya sedang mandeg, hilangkan hal tersebut, berpikir positif!! mungkin 1 menit yang akan datang atau mungkin besok hari akan jauh lebih baik, jangan pernah menyerah, jangan sampai impian kebahagiaan kita hilang dicuri oleh diri kita sendiri
-Rakhmat Permana 2004
apakah blog ini termasuk sarang pencuri impian
#134:
selamat, anda masih punya moral. jadi anda mungkin cuma kurang informasi saja™ tentang ‘bisnis’ yang anda jalankan
saya tidak bilang begitu. seandainya syarat saya tidak dipenuhi, maka sudah dapat dipastikan bahwa penghasilan ornag yang di atas berasal dari kerugian orang yang berada di bawahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. dan ini terlepas dari berapa banyak jumlah orang yang berada di dalam jaringan. untuk lebih jelasnya lagi silakan baca baik2 tulisan saya.
dengan kata lain, jika syarat saya tidak dipenuhi, maka orang2 terbawah gajinya negatif, dan ini terlepas dari besar kecilnya jaringan. seandainya satu orang ikutan, pertama kali merugi, dan 3 bulan kemudian mendapat keuntungan. darimana keuntungan itu? sudah pasti dari kerugian orang2 yang berada di bawahnya. untuk mensukseskan satu orang butuh merugikan beberapa orang.
jadi sekali lagi: syarat MLM yang baik adalah jika keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke orang2 di luar distributor lebih besar daripada pengeluaran yang merupakan konsekuensi menjalankan bisnis MLM
#135-#136: saya cuma menyampaikan sesuai dengan realitas yang ada. mohon maaf jika hal tersebut tidak sesuai dengan mimpi anda, tapi ini bukan salah saya.
Sekali lagi…bisa gak Om Pri memberikan solusi lain ketika saya ingin dalam 2-3 tahun bisa meng-hajikan orang tua saya dan membayar hutang2 saya?Sekali lagi..bukan dengan mencuri, merampok atau korupsi…
Saya sangat menghargai opini-opini Anda, tapi saya akan lebih menghargai Anda ketika Anda tidak hanya mengkritik suatu sistem tapi juga memberikan solusi…
Thanks….
jadi pak pri yang harus saya lakukan adalah mencuri dan merampok,ya ampun.MLM salah!,konvesional perlu modal besar,wiraswasta??? modal???mencuri untuk naik haji?? azaaab!!!!
#139: contoh ekstrim aja yah (disclaimer: saya gak nuduh anda merampok), kalau misalnya ada perampok ditangkep polisi, masa terus dia tanya ke polisi “bisa gak pak polisi memberikan solusi selain merampok kalau saya ingin dalam 2-3 tahun bisa meng-hajikan orang tua saya dan membayar hutang2 saya”
di sini saya menunjukkan bahwa MLM yang tidak memenuhi syarat tersebut bukan merupakan solusi. bisa saja anda menaikhajikan ortu anda, tapi dengan demikian anda memiskinkan banyak orang lain. tentunya anda ingin ortu anda naik haji dengan uang yang baik.
jadi solusinya gimana? cuma anda yang tahu. saya sama sekali gak tahu latar belakang, kapital, pendidikan serta keahlian anda.
mohon maaf jika realitas yang ada tidak sesuai dengan mimpi anda, saya cuma menyampaikan apa adanya.
mas mao tanya
mas uda masuk brp mlm si???
Mmmh…sepertinya saya terpaksa berkesimpulan bahwa Bapak Priyadi yang sepertinya genius ini sebenernya tidak benar-benar mengerti tentang MLM…terutama marketing plan-nya.Beliau hanya tau sampai batas tataran teori dan asumsi-asumsi yang tidak didukung oleh data dan fakta yang ada.
Saya berani untuk mengadu data bahwa yang diasumsikan oleh Bapak Priyadi di atas bahwa “maka sudah dapat dipastikan bahwa penghasilan ornag yang di atas berasal dari kerugian orang yang berada di bawahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. dan ini terlepas dari berapa banyak jumlah orang yang berada di dalam jaringan” adalah KELIRU TOTAL !!!
Mungkin benar bahwa ada beberapa distributor yang mengalami “kerugian” di awal,namun itu adalah konsekwensi suatu bisnis apabila tidak dijalankan dengan cara yang telah diajarkan oleh Support System. Saya fikir itu adalah konsekwensi dari segala jenis bisnis apapun.
Saya punya banyak data yang menunjukan seorang distributor sama sekali tidak mengalami kerugian sedikitpun sejak dia awal bergabung bahkan bisa BEP dalam waktu 1-2 bulan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa apabila ada distributor yang mengalami income negatif bukan karena salah di systemnya namun salah orang yang menjalankan sistemnya atau mungkin dia sama sekali tidak menjalankan system sehingga malah dia gak dapet apa2..Sekali lagi saya bingung…dimana letak kerugian yang Bapak Priyadi maksudkan…?????
Hukum di MLM/NM : JANGAN BERHARAP UNTUNG SEBELUM BIKIN DOWNLINE2 UNTUNG”.iTU prinsip banget..
Saya kasi ilustrasi ke Anda…Misalnya Anda adalah retailer..atau jelek2nya Anda punya warung yang jualin beras RAMOS…Tapi ternyata penjualan Anda buruk dan Anda rugi. Namun agen/distributor di atas Anda tetep untung…karena mereka punya retailer lain selain Anda yang kinerjanya lebih baik. Kalo pake teori Anda berarti “bisnis BERAS RAMOS” tersebut gak bener juga dong…???
Di atas Anda menulis bahwa saya kurang informasi tentang bisnis yang sedang saya jalankan???? Masya Allah…Sekali lagi Anda benar2 sok tau..Saya tanya Anda…Anda pernah masuk MLM saya?Anda pernah pelajari benar2 seluruhnya,dari company profile, pendirinya, marketing plan-nya?ANDA PERNAH JALANKAN MLM SAYA?
Salut…Anda bener2 mirip seperti para komentator sepak bola…
Oh ya..katanya Anda seorang CEO yah…??? Cela sana Cela sini Enak Oiii !!!! Hahahha….
Kakak Angkat saya seorang CEO sejati…Sikap dan cara pandang dia sangat berbeda sekali dengan Anda..Dia selalu berusaha think out of the box…Memandang segala sesuatu dari kaca mata positif…
Ya udahlah…silahkan Anda bermain-main dengan teori2 hebat Anda…Buat saya adalah seberapa banyak hal-hal berguna yang telah saya lakukan untuk orang banyak…bukan seberapa banyak ucapan-ucapan yang saya lontarkan buat mereka.Pemimpin sejati adalah seorang yang lebih banyak tindakannya dibanding dengan ucapannya….
Terima kasih atas diskusinya….saya harus kembali ke “Medan Pertempuran”.Tenaga dan fikiran saya lebih dibutuhkan di sana dibanding di blog ini…
Saran saya buat Anda: Perbanyak baca buku2 positif sehingga blog2 Anda isinya berisi sesuatu yang positif juga…bukan berisi kritikan dan cercaan…Kalo saya liat sih beberapa isinya memang sangat provokatif sekali..meski kayaknya ada juga sih yang lumayan agak bagus…ya…buat nambah2 pengetahuan lah…
Semoga Sukses lah!!! Kapan2 saya kenalkan Anda dengan kakak angkat saya….kali aja sesama CEO bisa agak2 nyambung…
Billahitaufikwalhidayah Wa Af wa Minkum Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
#143:
heheheh, jangan bilang saya tidak benar2 mengerti, atau belum mempelajari marketing plannya
. anda tidak tahu berapa banyak waktu saya buang untuk mempelajari marketing plan dari beberapa MLM. bedanya, saya mencoba untuk melihat apa yang tidak diberitahu oleh marketing plan tersebut.
betul, kerugian memang konsekuensi menjalankan bisnis. tapi kita harus lihat secara global. dari seluruh penjual beras, ada berapa yang merugi? dan ada berapa yang untung. apakah ’sum’-nya positif atau negatif? satu sampel tidak dapat mewakili retailer beras secara keseluruhan.
pada MLM dimana profit dari penjualan retail tidak lebih tinggi daripada biaya menjalankan MLM, yang terjadi adalah keuntungan satu distributor pasti berasal dari distributor yang lain. dan ’sum’nya pasti negatif, karena pemilik MLMnya juga pasti ingin mendapatkan profit.
di awal satu orang bisa merugi, supaya dia tidak merugi, dia harus mengusahakan beberapa orang lain untuk merugi. suatu saat jumlah jaringan akan berada pada titik saturasi (anggota yang masuk == anggota yang keluar), sehingga praktis jumlah orang yang mendapatkan keuntungan dari ‘bisnis’ ini tidak akan bertambah lagi.
saya belum ikut MLM anda, tapi saya tahu bagaimana syarat sebuah MLM merugi: kalau keuntungan dari penjualan retail tidak dapat menutupi biaya operasional bisnis MLM.
sama saja seperti kalau ada bisnis yang biaya operasionalnya Rp 10 juta sebulan, tapi profitnya Rp 5 juta sebulan. saya tahu itu pasti merugi walaupun belum pernah menjalankan bisnis tersebut.
saya bilang, kalau keseluruhan keuntungan penjualan retail tidak lebih besar dari keseluruhan pengeluaran yang merupakan konsekuensi menjalankan MLM, maka bisa dipastikan jika ada yang mendapatkan keuntungan maka itu berasal dari kerugian anggota di bawahnya. ini terlepas dari apakah jumlah jaringan sebesar 10 orang, 1000 orang, 10 juta orang atau 10 milyar orang.
nah, kalau anda bilang saya keliru, pertanyaan satu milyar dari saya: jika profit dari penjualan retail tidak dapat menutupi biaya menjalankan bisnis MLM, bagaimana caranya supaya kelompok distributor secara keseluruhan tidak rugi? darimana uangnya berasal?
Opinion gw, MLM msh jadi pilihan profesi bagi bbrp orang (baik utama or sampingan). Diluar bad/good, gw kenal kok bbrp orang yg memang menghasilkan dr aktifitas MLMnya. Mungkin umumnya orang banyak protes soalnya blm bisa profit dr MLM yg diikutinya. Gw pun sblmnya ikut MLM tp gak profit, soalnya sulit jual produknya. So, ketimbang maksain orang beli produk yg gak dikenal, mending gw ikut system yg lbh profit.
Go to: http://www.*******.com/. Ini Australian-based company yang menerapkan Australian 2tiers system. Gw gak bs bilang ini cocok for all, tp gw ada proof payment & dokumentasi GUS DUR waktu ketemu ama President dari Krching di Bali.
Yang menarik? Binary system that works! Even member gets freeaway Oora Opals and I can show you the gemstone. PM gw aja untuk detailnya.
Gw jalanin Krching di Bali. Gw rasa sdh entry ke JKT tp gak tau dah pada tau/blm (makanya gw post disini). Contact gw di 0852 380 ****** or ************@yahoo.com.
Cheers,
Irvin
Terserah ape kate loe deh Bung Pri..Susah juga “ngisi gelas yang udah penuh..(or sok penuh…)
pri…pri…loe itu teteeeeeepp aja sok tau…mau jadi apeeee loe pri…okelah..mungkin someday gue bs nyadarin loe…goodluck fren
0818712947-0818166623 itu nomor saya, hub saya utk berdiskusi. Seperti pesan saya yang lalu, bacalah buku dari halaman 1 sampai selesai, jadi kita tau akhir buku itu seperti apa, oke saya orang Depok, undang saya utk diskusi boleh saya sendiri lawan 10 or 20 or 100 orang, ya kita cari hal yang baik aja oke
#148:
menurut saya, saya tidak negatif, tapi lebih kepada realistis.
kalau maling menggunakan argumen seperti ini, dia akan bilang “mencuri adalah salah satu pilihan dalam memulai bisnis”
kalau pemerintah melegalnya usaha semacam ini, artinya bukan berarti MLM adalah baik. justru sebaliknya, reputasi pemerintah menjadi menurun.
ini generalisasi, anda melihat orang anti MLM malakin pedagang dan mabuk2an. lalu anda berkesimpulan semua orang anti MLM seperti itu?
sekali lagi, kalau maling pakai argumen seperti ini: “maling adalah orang2 yang mau bekerja walaupun hujan badai menerpa dirinya”
no, MLM itu mengajak orang UNTUK bermimpi. bisa jadi hanya 1% dari seluruh peserta MLM yang dapat mencapai profit. dan tidak hanya itu, profit itu didapatkan dari kerugian 99% anggota lainnya.
rasanya saya cukup realistis di sini. kalau memang saya bilang negatif mungkin itu karena yang dibicarakan memang negatif. sekali lagi, kalau maling pakai argumen ini dia akan bilang “lebih baik jadi orang yang bijaksana melihat sesuatu dari segi positif”
yang lainnya no comment
saya ketawa aja deh 
kalau anda mau berdiskusi dengan baik. silakan baca tulisan saya dan beritahu saya dimana letak kesalahan tulisan saya.
sekali lagi, saya mencoba berbaik sangka dengan menulis syarat MLM yang baik: “jika profit dari penjualan retail lebih besar daripada pengeluaran akibat mengikuti MLM”. tapi kalau semua pro MLM tersinggung, artinya mungkin memang tidak ada MLM yang baik.
SALAM SAYA MAHASIWA FE USU
MAS MLM bukanlah hal yang baik or buruk. tetapi orang didalamnya.
yang bekerja keras pasti yang berhasil.
tapi yang banyak ngeluh MLM nya ginilah..gitulah doank…itu yang gak kan pernah berhasil……
saya juga gak setuju dengan pernyataan mas
syarat MLM yang baik adalah jika keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke orang2 di luar distributor lebih besar daripada pengeluaran yang merupakan konsekuensi menjalankan bisnis MLM
tapi harga barang yang bisa dua kali lipat dari harga produk lain yang sejenis di pasar dan mutu barang pun tidak melebihi produk lain saya bisa setuju klo ini harus diwaspadai… karena menghisap darah konsumen (distributor). Banyak MLM yang menyarankan pada distributor pada presentasinya harus JUAL MANFAAT BUKAN PRODUK
Saya juga setuju dng pernyatan mas mengenai Uang iuran bulanan baik yang terangan maupun tidak terangan…banyak distributor MLM yang harus membayar/membeli uang tiket presentasi ataupun malam penganugrahan kenaikan level untuk menarik distributor baru setiap minggunya. Dan adanya uang TRAINING yang diwajibkan kepada distributor.
Mas mo minta saran

analisi investor untuk mengambil keputusan investasi ke perusahaan MLM apa mas ya ?
klo CNI yang udah lama di indonesia menurut mas pri, merupakan MLM yang aman gak mas yaaa…?
#150:
jika syarat saya tidak dipenuhi, maka sebagian besar (hampir semua) orang yang menjadi distributor tidak akan berhasil, terlepas dari bekerja keras atau tidak. dan profit yang berhasil berasal dari kerugian yang gagal.
#150:
saya tidak MLM sebagai sebuah ‘investasi’
Jadi pengen tai..eh tau backgroundnya Om Priyadi deh…Kayaknya orangnya cerdas sekali…Om..Anda tuh lulusan mana sih…ambil major apa?sekarang ini kesibukannya apa aja..Punya perusahaan yah…Kalo iya bergerak dibidang apa sih…udah sukses banget nih kayaknya…Bagi2 ilmunya dong…MEnurut om Pri…kunci sukses itu apa sih…boleh dong bagi2 trik and tipsnya…Kalo kata orang2 MLM khan kunci sukses itu “impian”.Kalo menurut om apa?(Ya..kalo liat dari tulisan2 Om Pri sih kayaknya om Pri itu orang hebat lah….Makanya saya pengen belajar dari Anda…)..
Terima kasih sebelumnya lho….
jadi CNI AMAN GAK MAS (kawan aq dah prospek aku ni…)
APA YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN MENURUT MAS SEBELUM MASUK MLM…..
#154: bukan investasi kalau rata-rata yieldnya di bawah 0%
jd mas dah meneliti PT CNI INDONESIA gak..?
gimana tuh MLM aman gak ….?
Buat Moik…kalo nanya soal MLM jangan sama Priyadi…pasti pandangannya sama sekali tidak objektif. Dia orang yang sangat anti MLM.Jadi apapun jawaban dan tanggapan dia..pasti MLM itu semuanya buruk dan haram sama seperti Poligami..(ups..poligami itu mah halal yah…hehheh..tapi liat aja isi blognya si Priyadi soal poligami…). Yang bener cuma konsep dia aja…Kalo mau..tanya sama orang yang tepat…Sama orang yang bener2 sudah berhasil di MLM.Kalo perlu tanya aja Michael Gorbachev..Konon dia adalah salah seorang penasehat salah satu perusahaan MLM dari China….
#156: saya gak tahu persis, tapi silakan anda cari info lebih lanjut. kalau pendapatan yang berasal dari penjualan retail tidak dapat menutupi pengeluaran akibat mengikuti skema ini, maka sudah pasti itu mlm yang buruk.
#157: maaf, argument from authority dan ad hominem bukanlah teknik berargumen yang baik. mohon untuk fokus kepada hal yang didiskusikan.
Seru banget !
Seperti cerita silat mas Pri sebagai pendekar dengan jurus2 maut , yg selalu bisa mematahkan serangan lawan yg bertubi-tubi.
Seru seru !
Bagaimanapun kuatnya sanggahan dari yg pro MLM tidak akan dapat mematahkan pandangan mas Pri.
Mas Pri ini selalu senyum2 baca tanggapan yg menyerangnya , bahkan sampai ketawa terkekeh2 … ketika membaca comment yg emosional.
Yang pasti diskusi ini gak akan selesai…
Lha wong rel nya beda kok , kapan ketemune ?
Pandangan mas Pri diatas adalah pandangan dari sudut pandang bisnis non MLM. 1 orang menjual 100 produk = 100 (1×100=100)
Sedangkan cara MLM adalah 100 orang menjual 1 produk = 100 (100×1=100)
keuntungan penjualan retail ke org diluar distributor hrs lbh besar dari pengeluaran , kalau dari sisi ‘keuntungan uang’ mungkin bisa untung, tapi jelas MERUGI dari sisi waktu dan tenaga kalau hanya focus pada penjualan retail. Kondisi ini bisa terjadi hanya pada level bawah saja, tapi pada level lebih atas jelas pelakunya tidak akan mau melakukan.
Ada cerita, konon ada seorang pegawai rendahan (kurir) sebuah kantor bank yg melakukan bisnis MLM, dia lakukan bisnis MLM bersamaan dengan tugas ngantar surat-surat. Dia sodorkan katalog dan daftar harga pada orang yg ditemuinya. Dan dia enjoy dan untung dlm menjalankan bisnis MLM nya. Dia tidak bisa (mau) menjalankan MLM dg mencari prospek.
Inilah salah satu yg saya katakan rel nya beda.
Yang pakai cara 100×1 tidak mau lagi pakai cara 1×100
Yang biasa ngitung pakai komputer gak mau lagi pakai kalkulator apalagi pakai jari.
Masih banyak lagi yg beda. Sudut pandang nya beda. Dari sisi pas Pri melihat kotak rokok tebalnya 6 centi, sedangkan yg lain melihat tebal kotak rokok cuma 1.5 centi. Dari sudut pandang yg beda ini , semua saling ngotot dengan apa yg dilihatnya.
Baik atau buruk itu relatif, baik untuk siapa, buruk untuk siapa. Kalau kebenaran hanya milik Allah.
Ada baiknya ’semua’ pada BELAJAR LAGI. Mengapa begini mengapa begitu , belajar itu tidak ada akhirnya. Kalau belajar sudah tidak bisa (mau) berarti orang itu sudah mati.
Jangan bertanya soal sakit kepala pada seorang insinyur. Hasilnya bisa berbahaya.
Untuk pelaku MLM, pacu adrenalin anda untuk cari prospek, bukan disini. Go!
Untuk mas Pri.. Top banget !
Insya Allah semua akan menjadi lebih baik.
Amin!
#159:
maaf kalau saya kurang jelas dalam beberapa komentar terakhir. yang saya maksud dengan ‘distributor’ adalah kelompok distributor secara keseluruhan, bukan seorang distributor secara individu.
jika profit yang masuk ke dalam kelompok distributor ini lebih sedikit daripada daya dan upaya yang dikeluarkan, maka bisa dipastikan bahwa jika ada seorang distributor (secara individu) mendapatkan profit, itu berasal dari kerugian distributor lainnya (negative-sum game).
sedangkan profit yang real hanyalah profit yang berasal dari penjualan ke luar kelompok ini karena penjualan kepada sesama distributor tidak akan mempengaruhi profit kelompok secara keseluruhan. jika memang seperti ini keadaannya, satu2nya keuntungan dalam mengikuti MLM adalah untuk mendapatkan produk dengan harga diskon.
point anda adalah masalah utamanya, anggota MLM secara individu diberi insentif lebih tinggi untuk merekrut daripada menjual, walaupun secara kelompok hal tersebut akan merugikan mereka.
Oke
Jika ada MLM yg memberi keuntungan :
(a). 30% untuk penjualan langsung (ke konsumen).
(b). Bonus berjenjang :
- 3% jika omset sekian…/bln,
- 6% jika omset sekian…/bln,
- 9%, 12%, 15%, 18% tertinggi 21%
Perusahaan tidak memberi batasan apakah omset pribadi atau group. Kalau secara pribadi sanggup menembus 21% ya itulah yang dia dapat. Dan jika itu omset group maka 21% itu juga harus dibagi dalam groupnya sesuai porsinya masing2.
(c). Royalti 4% , jika mencapai 21% X 6bulan berturut-turut baik secara pribadi atau group
Perusahaan tidak menetapkan sistem tutup point.
Perusahaan tidak memberi imbalan apa-apa untuk perekrutan.
Anggota baru hanya dikenakan biaya admin 1 th sebesar 97ribu, untuk majalah dan kartu anggota. Dan perpanjangan keanggotaan 45ribu /th.
Lebih saya perjelas lagi.
Keuntungan 30% untuk penjualan langsung.
Bandingkan dg keuntungan cuma 21% max jika dia mengandalkan omset group.
Apakah point2 diatas menurut mas Pri masih tergolong MLM yg ‘menghisap’. Apakah masih tergolong MLM yg tidak baik.
Bagaimana mas, monggo…
Ada tambahan mas Pri :
Perusahaan MLM ini tidak mengharuskan (tidak ada) pembelian awal (front-loading). Hanya ada paket hemat (berupa semacam voucher) bila beli 30 hari sejak bergabung. Tapi tidak wajib!
#161:
hisap menghisapnya hanya mereka (pendiri MLM) yang tahu persis. yang jelas di sini kuncinya adalah pendapatan yang “30% untuk penjualan langsung (ke konsumen)”. jika pendapatan ini lebih besar daripada pengeluaran yang diakibatkan kegiatan mengikuti MLM ini, maka MLM ini tidak menghisap.
pertanyaan yang sebenernya mesti ditanyakan ke pendiri MLM adalah: “berapa profit rata-rata dari seluruh distributor yang sudah ikut duluan” dan bandingkan apakah ini sesuai dengan daya dan upaya yang perlu dikeluarkan untuk mengikuti MLM tersebut.
tapi yang aneh dengan angka2 di atas adalah profit margin. profit marginnya paling tidak 51% dan ini masih belum termasuk bonus lainnya dan profit untuk produsen. makin tinggi profit margin tentunya makin tinggi keuntungan untuk distributor, tapi di sisi lain akan semakin sulit untuk menjual ke masyarakat non distributor.
Sedikit intermezo..saya sebenernya sangat ingin tau sosok Priyadi ini…Kalo saya perhatikan kadang dia ada di Indonesia kadang ada di Australia.Tapi sedikit ada yang janggal…Tanggal 13 Desember jam 12:18 dia posting dari Australia, tapi ditanggal yang sama dia juga ada posting yang dikirimkan dari Indonesia jam 14:45…. So..siapakah sebenernya tokoh Priyadi ini..Hampir diwaktu yang bersamaan dia bisa posting di tempat yang berbeda jauh…Indonesia dan Australia. Gak tau sih kalo dia punya teleport
.. Mmmh..jadi si Priyadi ini sebenernya adalah sosok satu orang apa suatu “Sindikat” yah….
???
#164: ya, priyadi adalah sebuah sindikat internasional dengan anggota di berbagai negara.
tertanda,
sindikat priyadi cabang amerika serikat
#164 kan ada joko priyadi ama Michael priyadi….
mas udah baca daftar 40 orang terkaya se indonesia terbitan FORBEX Asia terbitan November 20..disana ada nama seorng MLMyuner…atas nama Karista Maru’ao
priyadi :sekali lagi, kalau maling pakai argumen seperti ini: “maling adalah orang2 yang mau bekerja walaupun hujan badai menerpa dirinya”
pertanyaan saya : emang MALING ada IJIN dari DEPERINDAG? lucu ya jawaban dari PRIYADI
priyadi: MLM itu mengajak orang UNTUK bermimpi. bisa jadi hanya 1% dari seluruh peserta MLM yang dapat mencapai profit. dan tidak hanya itu, profit itu didapatkan dari kerugian 99% anggota lainnya.
Bermimpi dan punya impian beda lho mas, bermimpi itu anda tidur dan mimpi. kami jelas orang yang punya impian, impian jadi sukses, dulu orang pergi ke bulan awalnya juga dari Impian tul ngga temen2, soal untung yang 1%, kalau di perusahaan manual yang 1% jelas hanya direktur dll, dan karyawan yang 99% hanya jadi pelengkap perusahaan saja dan tidak punya peluang untk jadi yang 1% itu, di MLM yang sukses 1% tapi yang 99% punya peluang yang sama dengan yang 1% itu, tul ngga?
setiap saya komentar saya selalu menyertakan no HP saya dan udah berapa minggu ini HP saya ngga pernah di hubungi oleh orang2 yang anti MLM dan itulah bedanya orang MLM dengan orang anti MLM orang MLM selalu GENTLE dan anti MLM ya itu, BANCIIII…, karena diskusi lewat tulisan bagi saya tidak menyelesaikan masalah makanya saya mengajak kepada teman2 dan Priyadi untk diskusi langsung dengan saya, anda dengan 100 orang yang anti MLM dengan saya seorang diri saja, kalau ketemu langsung biasanya lebih jelas oke kan… ngomong2 MALING ijin usahanya dari mana ya? dari POLISI atau dari DEPERINDAG? ha ha ha PRIYADI… PRIYADI…..kehabisan jawaban jadi jawabnya lucu….. 0818166623 or 0818712947 di nomor ini saya menunggu undangan
#168:
gini deh. seandainya mencuri tidak dilarang, apakah mencuri menjadi perbuatan yang terpuji? atau gini, membuang sampah sembarangan tidak dilarang di semua daerah di indonesia. lalu apakah dengan demikian membuang sampah sembarangan menjadi perbuatan yang terpuji di daerah yang melarangnya? atau gini, di beberapa daerah prostitusi dilegalkan, apakah dengan demikian prostitusi menjadi perbuatan yang terpuji?
baik atau buruknya sebuah perbuatan tidak ditentukan dari dilarang atau tidaknya perbuatan tersebut. justru sebaliknya, dilarang atau tidaknya perbuatan ditentukan dari baik buruknya perbuatan tersebut.
jadi, sebenernya sangat disayangkan jika deperindag justru melegalisasi MLM yang saya maksud di atas.
tidak
. uang yang didapatkan 1% berasal dari kerugian 99% sisanya. dengan demikian secara keseluruhan MLM yang seperti ini tidak membawa manfaat bagi anggotanya.
oh ya, mengata2i saya banci, tidak gentle dsb tentunya tidak lantas menjadikan MLM anda menjadi MLM yang baik
Hallooo..
Wah tambah seru aja diskusinya.
Saya sih ambil tengahnya aja.
Mau MLM apa gak, itu kan pilihan, ada orang mau dan tidak, akan selalu seperti itu.
Kaya pun begitu, ada yang ingin kaya kemudian berusaha (salah satunya lewat MLM) atau tetap dengan keadaan sekarang, sekali lagi itu pilihan.
Mau negatif apa positif MLM juga pilihan.
Semua benar tergantung sudut pandangnya, contoh kalau ada tabrakan semua pihak pasti ngerasa benar karena sudut pandangnya beda.
Jadi diskusi ini gak bakalan selesai karena tiap orang maksain sudut pandangnya sendiri-2, tidak berusaha memahami sudut pandang orang lain.
Jadi, silahkan teruskan perdebatan ini dan tidak ada hasilnya.. Atau selesaikan aja sampai di sini dan kembali ke kerjaan masing2, masih banyak yang harus diurusi selain membahas MLM.
(Kok gua ngurusin ini juga ya..?)
OK lah itu aja, byee..
Mau kontak gua di emperor@sby.dnet.net.id atau masuk ke ricojourney.blogspot.com
#170: ini jawaban klasik politically correct, tapi sebenarnya tidak
. faktanya adalah bahwa jika orang ikut MLM untuk mendapatkan keuntungan, maka sebagian besar tidak akan mencapai tujuannya tersebut, dan bahkan akan merugi.
ini dapat dengan mudah dibuktikan dari cashflownya dan darimana pun sudut pandang anda.
ps. saya tidak menuduh semua MLM seperti ini, hanya saja saya belum menemukan MLM yang tidak seperti ini.
Network Marketing - Ini sebuah Aset, Bukan Pekerjaan
Robert T. Kiyosaki
Kadang saya ditanya, “Mengapa hanya sedikit orang yang mampu berada di
posisi puncak di dalam sistem network marketing mereka?”
Kenyataannya adalah, posisi puncak di dalam sistem network marketing
adalah terbuka untuk semua orang — tidak seperti halnya sistem
perusahaan korporasi tradisional, yang mana hanya mengizinkan satu
orang saja untuk mencapai posisi puncak di dalam perusahaan. Alasan
mengapa banyak orang tidak dapat mencapai posisi puncak di dalam
sistem network marketing adalah sangat sederhana, karena mereka
memutuskan keluar terlalu cepat. Lalu mengapa seseorang keluar
sebelum mencapai puncak?
Banyak orang bergabung di dalam sistem network marketing adalah karena
ingin mendapatkan uang. Jika mereka tidak mendapatkannya dalam
beberapa bulan atau tahun, mereka kecewa dan keluar (dan mereka
seringkali menyebarkan fitnah pada industri ini!). Sebagaian keluar
dan pergi mencari sebuah perusahaan dengan perhitungan komisi yang
lebih baik, tapi dengan bergabung hanya untuk mendapatkan sedikit
uang adalah bukan alasan untuk masuk ke dalam bisnis tersebut.
Dua Alasan Paling Esensial untuk Bergabung di dalam Bisnis Network
Marketing.
—————
Alasan pertama adalah untuk membantu diri Anda. Alasan kedua adalah
untuk membantu orang lain. Jika Anda bergabung hanya karena salah satu
dari dua alasan ini, maka sistem network marketing tidak akan bekerja
untuk Anda.
Alasan pertama, maksudnya adalah Anda gabung ke dalam bisnis network
marketing yang utama adalah untuk berpindah kuadran — untuk berpindah
dari kuadran E (Employee/Karyawan) atau kuadran S (Self
Employee/Profesional) untuk menuju kuadran B (Pemilik Bisnis) atau
kuadran I (Investor).
Proses perpindahan ini normalnya sangat sulit bagi kebanyakan orang —
karena masalah uang. Orang dari kuadran E atau S sejati tidak akan mau
bekerja kecuali demi uang. Inilah salah satu alasan yang menyebabkan
orang tidak dapat mencapai posisi puncak di dalam sistem network
marketing: mereka ingin mendapatkan uang lebih dulu ketimbang mereka
ingin berpindah kuadran lebih dulu.
Seorang dari kuadran B atau I juga bekerja karena alasan uang, tetapi
dengan cara kerja yang berbeda. Seseorang dari kuadran B bekerja untuk
membangun atau menciptakan sebuah aset — dalam kasus ini, sebuah
sistem bisnis. Seseorang dari kuadran I berinvestasi di dalam aset
atau sebuah sistem.
Sebagai seorang B atau seorang I, terkadang Anda tidak mendapat
bayaran untuk jangka waktu beberapa tahun; ini kenyataan bagi orang
dari kuadran E atau S tidak akan pernah mau melakukannya. Ini bukan
bagian dari nilai inti/dasar mereka. Resiko dan menunda kesenangan
mengancam emosional mereka.
Menunda Kesenangan dan Kecerdasan Emosional
—————
Salah satu dari keindahan network marketing adalah fokus pada
pengembangan kecerdasan emosional Anda sebagai bagian dari kemampuan
bisnis Anda.
Kecerdasan emosional adalah sebuah perbedaan besar dari masalah
kecerdasan akademis. Secara umum, seseorang dengan kecerdasan
emosional yang tinggi akan lebih sering melakukan sesuatu lebih baik
dari seseorang dengan kecerdasan akademis yang tinggi tetapi lemah
pada kecerdasan emosionalnya. Ini menjelaskan sebagian, mengapa
beberapa orang yang mendapatkan prestasi baik di sekolahnya tidak
mendapatkan prestasi baik di dunia nyatanya.
Kemampuan untuk menunda kesenangan adalah tolak ukur dari kecerdasan
emosional. Di dalam sebuah penelitian belum lama ini mengenai
kecerdasan emosional, telah ditemukan bahwa seseorang yang mampu
menunda kesenangan lebih sering mendapatkan kesuksesan hidup dari
pada orang yang tidak mampu menunda kesenangan.
Ini mengapa sistem pendidikan dari sebuah peluang network marketing
yang baik tidak dapat dipisahkan dan juga sangat penting. Ini adalah
pendidikan emosional atau aspek kecerdasan emosional di dalam progam
mereka yang saya temukan yang dapat memberikan nilai bagi banyak
orang.
Banyak orang mengirim surat kepada saya dan menceritakan bahwa mereka
menyukai buku saya, Rich Dad Poor Dad, tapi saya khawatir banyak dari
mereka tidak mendapatkan poin paling penting dari buku tersebut:
Pelajaran Pertama, “Orang kaya tidak bekerja demi uang.”
Setelah saya membangun atau membeli sebuah aset, aset tersebut bekerja
keras untuk memberikan saya uang. Tetapi saya tidak bekerja demi
uang — Saya hanya akan bekerja untuk membangun atau membeli aset.
Aset tersebut membuat saya kaya dan kaya, sekalipun saya semakin
malas dan malas bekerja. Itulah yang dilakukan orang kaya. Orang-
orang miskin dan kelas menengah bekerja keras demi uang, kemudian
mereka membeli passiva sebagai ganti dari berinvestasi pada sebuah
aset.
Aset Jenis Apakah di dalam sebuah Bisnis Network Marketing?
———————
Ingatlah, terdapat dua alasan untuk dapat sukses di dalam network
marketing: untuk membantu diri Anda sendiri, dan membantu orang lain.
Alasan nomor satu maksudnya menolong diri Anda sendiri untuk berpindah
ke sisi kuadran B. Apa alasan nomor dua?
Keindahan dari banyak sistem network marketing adalah Anda tidak akan
pernah dapat membuat banyak uang sampai Anda menolong orang lain untuk
dapat meninggalkan E dan S kuadran dan sukses di kuadran B dan I.
Jika Anda berfokus untuk menolong orang lain untuk membuat perpindahan
kuadran ini, maka Anda akan sukses di bisnis ini. Jika Anda hanya
ingin mengajar diri Anda sendiri untuk belajar di kuadran B dan I,
maka sebuah sistem network marketing yang sesungguhnya tidak akan
dapat bekerja untuk Anda. Anda sebaiknya pergi untuk sekolah di
sebuah bisnis tradisional, yang hanya berfokus untuk menjadikan Anda
seorang kuadran B.
Keindahan dari sebuah bisnis network marketing adalah menciptakan goal
Anda membangun aset, dimana para kuadran B lain bekerja bersama di
bawah Anda — dan tugas mereka adalah menciptakan para kuadran B yang
lainnya yang bekerja bersama di bawah mereka. Di bisnis tradisional,
fokusnya adalah untuk menjadi seorang B saja dan para kuadran E dan S
bekerja di bawah mereka.
Tipe bisnis yang saya ajarkan adalah membangun bisnis dengan saya
berada di atas dan para kuadran E dan S berada di bawah. Sejujurnya
saya tidak memiliki posisi pimpinan lagi untuk para kuadran B
lainnya, yang mana ini yang ada di dalam bisnis saya. Saya betul-
betul merekomendasikan kepada semua karyawan saya untuk menerjuni
network marketing sebagai bisnis part-time mereka.
Sistem perusahaan tradisional sejujurnya adalah sebuah piramida,
karena di sana terdapat lebih sedikit para B dan para I di posisi
sebagai seorang pimpinan, dan lebih banyak para E dan S di bagian
bawah.
Salah satu tipe piramida adalah tipe tradisional, yang memiliki basis
di bagian bawah; tipe yang lain berbasis di atas. Ini adalah piramida
yang mendorong diri Anda ke atas sebagai ganti dari mendorong Anda ke
bawah. Sebuah bisnis network marketing memberikan akses kepada setiap
orang untuk memasuki wilayah orang-orang kaya.
#172:
ah, lagi2 kiyosaki
. jangan percaya dengan semua yang kiyosaki katakan 
Yup betul, jangan percaya semua kata² Kiyosaki..
Termasuk jangan percaya dengan semua yang Priyadi katakan..
#174: ya, kalo bisanya cuma mengandalkan penokohan, ujung2nya pasti appeal to authority, very lame indeed
. pernyataan di komen #172 itu salah, dan itu sudah semua dibahas oleh saya di atas. fakta bahwa itu ucapan kiyosaki tidak lantas menjadikan pernyataan tersebut benar.
Ok, bagaimana jika downline yang paling bawah tetap mendapatkan komisi yang sama dengan upline2nya? jadi tiap line mendapatkan komisi yang flat sama, katakanlah 5%? apakah ini cukup fair?
lalu komisi didapat apabila downline mengkonsumsi/membeli produk, komisi tidak dibayarkan apabila seorang upline hanya merekrut seorang downline, tanpa downline tersebut mengkonsumsi product. apakah hal ini fair enough?
Kemudian apakah perusahaan ini bisa dibilang perusahaan MLM yang bagus apabila produk yang dihasilkan memang terbukti bagus dan berkhasiat?
Mohon pencerahannya…..
#176:
saya gak bisa bilang fair atau tidak, karena ini bukan kriteria yang saya sebutkan di atas.
tidak. karena dengan demikian ini tidak mengubah kenyataan kalau ini adalah zero-sum game.
yang lebih fair adalah jika komisi didapatkan dari penjualan produk ke masyarakat non distributor. walaupun harus diperhitungkan apakah profit tersebut dapat menutupi biaya operasional.
bagus atau tidaknya produk tidak begitu relevan terhadap kualitas bisnis perusahaan MLM, walaupun semakin baik kualitas produk, maka semakin mudah bagi distributor untuk menjual produk tersebut.
yang harus dipertimbangkan tentang MLM adalah model bisnisnya. apakah potensi pendapatan sesuai dengan apa yang dijanjikan atau tidak. ini lebih karena orang mengikuti MLM terutama untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk mendapatkan produknya.
Pekerjaan saya hanyalah seorang karyawan swasta di sebuah RS di Semarang Bang Pri. Dari dulu saya ingin punya bisnis sendiri, tapi tidak mau jadi maling ato memakai slogan2 bisnis untuk membenarkan tindakan maling. Tapi saya punya prinsip begini, meskipun prinsip ini bisa dipakai oleh para maling atau pemain bisnis konvensional sekalipun : LEBIH BAIK JADI KEPALA AYAM DARIPADA JADI EKOR NAGA. Meskipun saat ini saya masih EKOR NAGA, tapi coba2 jadi KEPALA AYAM deh.
Ada 4 kriteria saya dalam memilih bisnis MLM, yaitu :
1. Tidak ada bonus recruitment/sponsor (kalo rekrut orang tidak dapat uang hasil recruit).
2. Mudah untuk menjalankan bisnisnya. Mis. : Produk unik (syukur2 bisa didemokan sesuai dengan literaturnya, mis. : sebuah produk kalo dimasukkan ke tangki bbm, lalu tangki bbmnya dibakar tidak meledak
3. Memiliki system penunjang yang baik (pelatihan2, stokis yang banyak) dan sama di seluruh dunia.
4. Biaya join murah (jangan sampai 2 jt dong) & sama untuk tiap orang (ndak bisa beli peringkat)
5. Bonusnya gede
6. Sudah banyak contoh orang yang sukses (org. dng penghasilan minimal. 5 jt/bln) dalam menjalankannya. Dan itu ndak cuma 1 s/d 10 orang doang dong.
Udah ding…. tadi janji saya cuma sampai 4 kok ini ngelantur sampai hampir 7
Ada lho mlm yang masuk kriteria seperti di atas Bang.
—- To be Continued —-
Sudahlah..akhiri saja TOPIK debat ga penting kaya gini.
Ga ada sesuatu yg positif bakal dihasilkan dari sebuah argumen perdebatan, yg perlu itu BUKTIKAN APA YG TELAH KITA PERDEBATKAN. ITU BARU LUAR BIASA
jgn terlalu bernafsu memperlihatkan tipikal “indonesia banget” itu..
Be positive.
#181:
silakan baca tulisan saya. semua bukti sudah ada, dan ini dapat dibuktikan secara matematis.
Slam kenal,
MLM adalah bagian dari ilmu marketing yang tidak terpisahkan,..anda salah jika melihat sebuah MLM hanya dari kacamata negatif, jika anda berfikir realistis, terima saja kenyataannya bahwa MLM itu bagian dari sisi fenomena ekonomi negeri ini yang sedang bertumbuh.
#183: betul, MLM memang sesuatu yang sudah menjadi bagian dari ekonomi kita, terlepas dari sifatnya yang cenderung negatif. saya rasa di tulisan ini saya cukup realistis dan objektif. jika ada pernyataan saya yang salah mohon ditunjukkan bagian mana yang salah. terima kasih.
YANG SALAH ORNG YANG SLALU BERPIKIR NEGATIF CAM “PRI…i” jadi orang kok negative thinking aja…. cam orang DESO..KATRO…KUNO…AMATIR… gitu….
UNTUK SMUA MITRA2 KU… MARI KITA BANGUN JARINGAN KITA DARI PADA KITA DSINI…..
>>>>> KEMBALI KE…LAP…TUJUAN MASING2
Menurut Priyadi MLM adalah maling, pencuri dlll, saya pengen tanya sama priyadi, klau anda punya Blog seperti ini pasti anda orang yang mampu, pasti anda punya sebuah perusahaan kan? Pertanyaan saya gaji karyawan anda berapa? 2X UMR atau sama dengan UMR atau dibawah UMR? Pertanyaan ini saya hubungkan dengan konsistennya seorang Priyadi terhadap pencuri uang dlll, kalau priyadi tidak suka dengan cara MLM, krn menurut priyadi cara MLM adalah cara maling, bagaimana dengan perusahaan yang menggaji karyawan dengan standar UMR? di Jakarta gaji UMR sebesar 900 ribu cukup buat apa? kalau Priyadi gaji karyawan berapa sih? ngga mungkin kan 3x UMR, bisa remuk perusahaannya, kalau orang digaji 900 rb di jakarta, yang didapat apa? apa itu bukan romusha? lebih sadis kan, orang bisa jadi maling kalau gaji kecil dan juga bisa mati karena kerja spt romusha, tahun lalu ada demo dari karyawan se jabotabek di DPR, ricuh yang ujung2nya gaji minta yang lebih wajar, nah pernahkah anggota MLM yang anggotanya jutaan orang melakukan demo menuntut perbaikan penghasilan? tidak akan pernah, kenapa? karena orang2 MLM sudah paham dan menerima dengan sistem yang ada di MLM itu. TKI indonesia kerja di Malaysia jadi buruh kelapa sawit dengan gaji 4-5 juta sebulan, kenapa di Indonesia gaji buruh kelapa sawit cuma 600-800 ribu sebulan? Padahal harga kelapa sawit dunia itu sama…. Apa ini yang disebut Priyadi sebagai perusahaan yang ideal? dan hampir semua perusahaan di Indonesia melakukan hal sama, memeras keringat pegawainya dengan imbalan yang hanya cukup untuk hidup 5 hari(termasuk perusahaan priyadi pastinya). Apa ini yang IDEAL? jadi kalau pegawai2 itu banyak yang mancari sampingan ya menjadi wajar jika sebagian pilihan kemudian di tujukan ke MLM,
Coba renungkan ini, anda pasti punya pembantu Rumah Tangga kan? anda gaji berapa pembantu rumah tangga anda? 400 rb? 500 rb? atau 1 juta? CUKUP PEMBANTU DENGAN GAJI SEGITU? MASUK AKAL? BUKAN ROMUSHA? JANGAN ANDA JADI SEPERTI ORANG SUCI TAPI ANDA SENDIRI MELAKUKAN HAL YANG TIDAK BAIK TERHADAP ORANG2 DI SEKELILING ANDA.
Selalu dengan senyum dan menunggu telpon dari Priyadi (yang seperti DEWA atau malah TUHAN?)
HANC3, 0818166623 - 0818712947
#186: anda terlalu banyak ngelantur ke mana2. saya gak bilang MLM == maling. saya cuma menganalogikan sesuatu hal yang kita berdua sudah pasti sepakat sebagai sesuatu yang negatif, anda tentunya sepakat jika maling adalah perbuatan negatif. ini untuk membantu anda mencerna jika logika anda salah. dan bukan untuk menyamakan MLM dengan maling.
dengan logika ini, maka pernyataan “MLM adalah salah satu pilihan dalam kita memulai sebuah bisnis” adalah salah, karena tidak membicarakan substansi yang sebenarnya, ini cuma trik klasik mengalihkan perhatian dari hal yang sedang dibicarakan.
tapi karena anda sulit untuk mengerti, saya tarik saja analogi dengan maling, dan mari kita ganti dengan istilah yang generik:
premis A: FOOBAR adalah sesuatu yang negatif
premis B: FOOBAR adalah satu pilihan untuk memulai bisnis
dari sini gampang dilihat bahwa premis B adalah salah, karena FOOBAR adalah sesuatu yang negatif. untuk mengetahui kebenaran premis B maka kita perlu mengetahui kebenaran atau kesalahan premis A, dan bukan sebaliknya seperti yang anda lakukan. sekarang anda (harusnya) sudah mengerti, silakan anda ganti FOOBAR dengan MLM.
soal yang lain2nya itu lebih ngelantur lagi
. dan gak ada hubungan dengan topik MLM yang dibicarakan. seandainya pun saya melakukan kesalahan, bukan berarti MLM sudah pasti benar 
soal samijaya, mungkin saya memang salah dengan hitung2annya. tapi ini disebabkan informasi yang kurang di situs webnya. informasi saya hanya berasal dari situs webnya. soal angka mungkin bisa jadi salah, tapi kesimpulannya tetap sama: samijaya itu skema piramid yang sudah dapat dipastikan akan merugikan anggotanya.
saya gak perlu buang2 pulsa untuk menelepon anda (mendingan uangnya untuk bayar pembantu hehehehe). jika anda memang memiliki argumen yang baik (walaupun sampai saat ini saya tidak bisa menemukannya), anda bisa kemukakan di sini. dan yang dibicarakan di sini adalah M-L-M, bukan saya, DPR, kelapa sawit, perusahaan saya, pegawai saya, pembantu saya, kucing saya, anjing saya atau hal2 lainnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik yang dibicarakan.
jika anda ragu, silakan baca tulisan asli saya di atas. jika anda menemukan kesalahan, silakan tunjukkan paragraf mana yang salah dan seperti apa yang benar.
no, MLM itu mengajak orang UNTUK bermimpi. bisa jadi hanya 1% dari seluruh peserta MLM yang dapat mencapai profit. dan tidak hanya itu, profit itu didapatkan dari kerugian 99% anggota lainnya.
Salam kenal,..
Kalau saya, pada prinsipnya MLM itu bagus,… dan rata2 semua pemain besar menerapkan sistim yang bagus… apalgi yg 2 tertiers…
Cuma, sperti semua kehidupan didunia, bahwa tidak semua orang akan jadi pemimpin, dari 220juta orang Indonesia aja cuma 1 presidennya,.. jelas kan! dan yg terpenting adalah bagaimana cara sang presiden menjadikan kemakmuran bagi 219 juta rakyatnya…. dan kembali lagi, apakah rakyatnya mau dan mampu mengikuti sang preesiden???
Sekali lagi,… hanya sistim yang mumpuni, tekad yg kuat, dan selalu berpikir positif dengan semua hal yang akan berbicara… satu lagi,… beramal dan bersyukur… itu aja cukup!!!!
keep d faith!!
#188:
dalam MLM, kemakmuran yang 1% berasal dari kerugian yang 99%. tidak mungkin bagi yang 1% membawa kemakmuran untuk yang 99%.
DON’t talk anything………….
Don’t ask anything………..
Don’t think anything…….
just try it……….
and do it….. itu smua “DUIT”……..
GBU
Mas pri, salam kenal, saya adalah pengagum tulisan2 anda…walaupun terus terang dari setiap tulisan anda selalu ada cacatnya juga, tapi setidaknya saya cukup senang mendapatkan wawasan yang cukup banyak dari blog anda ini…
Anda seorang yang sangat2 saya salut karena punya wawasan yang begitu luas, tapi terus terang mengenai MLM ada beberapa hal yang perlu dikoreksi.
Bisnis MLM murni, PARAMETER UTAMA adalah harga produk harus sebanding dengan nilainya…bukan dari segi marketing plan apakah binary atau matahari,dll
Dan harus maksimal sama atau lebih murah dibandingkan produk sejenis…
Jadi, jika ada mark-up harga yang belebihan, ini sudah termasuk money game, bahkan jika hal ini terjadi di bisnis MLM yang menggunakan sistem matahari..
Nah, jika nilai produk sebanding dengan uang yang dikeluarkan, maka TIDAK AKAN ADA yang dirugikan..
Jadi dalam bisnis MLM, seorang yang sukses TIDAK AKAN MUNGKIN berasal dari kerugian orang lain, karena harga produknya sebanding, dan manfaatnya ada (kecuali orang2 MLM bodoh yang menjual produk yang tidak jelas manfaatnya, dan orang2 bodoh yang mau ikut dalam bisnis MLM yang menjual produk yang tidak ada manfaatnya)…
Produk2 MLM murni sebagaian besar adalah produk2 hebat khususnya suplemen yang memang berkhasiat terbukti menyembuhkan berbagai penyakit yang tidak dapat disemubhkan oleh obat2an farmasi biasa…
Saya seorang pemain bisnis MLM, saudara2 dan tetangga saya banyak yang sembuh dengan produk2 yang saya jual, saya dapat puluhan juta dari bisnis MLM, dll..tapi terus terang satu hal dari bisnis MLM, sebagian besar mereka distributornya adalah dari orang2 yang berpendidikan rendah, contohnya adalah sebagian orang2 yang memberikan komen di blog ini..
jadi saya harap anda tidak iku terjebak dalam argmumen dengan mereka..sehingga akan menghabiskan waktu anda..
ok itu saja..
keep posting
saya mau sedikit menambahkan, bisnis MLM murni sebenarnya tidak ada yang salah…
intinya sederhana saja, ada selisih keuntungan yang dapat dibagikan kepada member, yang diperoleh dari TIDAK PROMOSI MELALUI IKLAN KONVENSIONAL dari produk2 tersebut,
sudah itu saja…dan ini berbicara jumlah yang sangatsangat besar..bener loh,
tidak peduli semua orang skeptis, konsep sederhana ini bisa membuat semua orang yang menjalankannya dapat duit ratusan juta..
TAPI DISINI SAYA MAU BICARA CACATnya bisnis MLM..
bisnis MLM seperti model tianshi, cni, dll produknya sangat-sangat bagus, gak ada yang berani membantah dalam dahl ini toh?
Semua produk MLM itu bagus..
produk MLM itu juga harus unik dan harus produk yang jarang dijumpai di pasar, jadi kalau ada perusahaan MLM yang menjuual produk seperti madu dan kebutuhan sehari-hari…berarti mereka tidak tahu konsep bisnis MLM..
orang-orang gak akan mau repot2 belanja dari perusahaan MLM..
Nah, CACAT BISNIS MLM begini:
MLM sistem matahari seperti tianshi,cni dll itu dibuat untuk diterapkan di negara2 maju,,dimana mereka sudah memiliki penghasilan yang cukup dari pekerjaan konvensional mereka..
motivasi mereka bukanlah untuk mendapatkan bonus uang bulanan, tetapi untuk mengkonsumsi produk suplemen setiap bulan..
nah, kemudian perusahaan menanmabhkan sistem reward seperti bonus mobil mewah dll untuk merangsang mereka2 lebih giat lagi belanja..
MLM sistem ini saya sebut dengan MLM karkteristik investasi, artinya setelah kita belanja terus menerus sampai beberapa waktu, dan terlebih jika kita berhasil mengajak orang2 untuk melakukan hal yang sama, kita suatu saat akan mendapatkan bonus tadi…
nah, sistem ini diterapkan di indonesia dimana notabene orang-orang masih berkutat untuk makan sehari hari masih susah,
inilah CACATNYA bisnis MLM yang tidak disadari banyak orang..
makan saja susah, tapi dijanjikan mobil mewah, kapal pesiar dll..
kan kejam sekali itu,
dimana mereka dipaksa h\untuk belanja tiap bulan jutaan rupiah sampai 1-2 tahun..
ya gitu deh..cape deh
tx
mas pri,
anda bisa menerbitkan buku yang sama hebohnya dengan Da Vinci Code nih hehehe…
satu hal yang ingin saya sampaikan, di dunia bisnis, selalu ada penjual dan pembeli. jadi mau itu MLM atau non MLM, sebuah bisnis tidak bisa disebut bisnis kalo tidak ada cash flow, tidak ada revenue harian dsb. kalo tidak ada revenue, tentu ongkos tidak bisa dibayar (dalam arti luas).
MLM atau bukan MLM, cash flow, adalah darah dari bisnis itu sendiri. negatif atau positif, sama seperti badan kita, kadang kena flu, kadang sehat. tapi badan kita pasti melakukan pembaharuan sel dan mental, sehingga selalu menjadi baru setiap detik. dalam bisnis juga demikian, makanya bisnis tidak boleh stagnant, karena stagnant artinya MATI.. tidak ada cashflow, tidak ikutan bersaing dsb. MLM juga pasti melakukan banyak terobosan. sekarang tergantung pelakunya, mau cepet kaya dengan mimpi saja, atau dia bekerja keras? semua orang yang bekerja keras akan menikmati hasilnya. apalagi semua orang yang bekerja keras, gagal dan bisa bangkit lagi.. dia akan jauh lebih sukses…
so… anda punya argumen sendiri, orang lain punya argumen sendiri… tidak ada yg salah, hanya realitasnya berbeda… (baca Retire Young, Retire Rich).
thanks, semoga bermanfaat.
hengky
nambah dong..
aku lagi browsing… dan menemukan situs yang menarik untuk diteliti nih.. mungkin mas pri juga pernah membacanya…
http://www.quatloos.com/mlm/mlm.htm
#191:
secara teknis setuju. masalahnya, ini adalah parameter yang subjektif. bagaimana caranya menentukan harga produk sebanding dengan nilainya?
dalam pasar bebas, gak ada salahnya memarkup produk setinggi2nya. gak ada yang melarang, tapi orang2 gak akan beli produk anda tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan. problemnya: MLM bukan pasar bebas, atau paling tidak, tidak disadari oleh anggotanya. anggota punya opsi untuk membeli produk lebih murah dan lebih bagus yang dijual di pasar bebas, tetapi mereka tidak melakukannya.
itu kalau tujuan mengikuti MLM adalah untuk mendapatkan produknya, dan bukan untuk mencari penghasilan. jika niat awalnya untuk mencari penghasilan tambahan, maka dapat dipastikan bahwa anggota secara keseluruhan akan merugi jika mereka tidak dapat menjual cukup banyak produk ke luar kelompok mereka.
manfaat produk sebenarnya hanyalah nilai artifisial. karena sesungguhnya anggota MLM juga memiliki opsi untuk membeli produk serupa yang dijual di pasar bebas: tanpa MLM-pun mereka bisa mendapatkan manfaat. tetapi mereka tidak melakukannya walaupun produk di pasar bebas umumnya berharga lebih murah.
jika niat awal ikut MLM adalah untuk mendapatkan manfaat produk, maka itu tidak ada gunanya, karena dalam pasar bebas produk dengan fungsi yang sama pasti tersedia di pasar bebas dengan harga yang lebih murah daripada yang dijual di MLM.
pengecualian untuk ini adalah jika produknya dipatenkan. paten adalah hak monopoli dengan batas waktu tertentu. dalam kasus ini bisa jadi tidak ada produk serupa yang dijual di pasar bebas.
soal kenapa harga pasar hampir pasti lebih murah daripada MLM itu lain kali akan saya ceritakan
#193:
oh tidak. dalam MLM yang tidak fokus dalam penjualan retail, sekeras apapun anda bekerja, akan ada orang lain yang merugi. jadi intinya adalah fokus, apakah ke rekrutmen atau penjualan.
Sebelum Anda menanggapi hal tersebut, alangkah baiknya kita membaca banyak referensi dari Robert Kiyosaki: The Cashflow Quadrant, Business School, dll.
Banyak hal yang dapat kita peroleh selain uang di bisnis MLM.
ANDA TAHU SALAH SATU ORANG SUKSES DI INDONESIA, AA GYM? BELIAU PUN MENGIKUTI SALAH SATU BISNIS MLM, YAITU TIENS.
MENGAPA DIA MENGIKUTI BISNIS MLM PADAHAL PERUSAHAANNYA SUDAH DIMANA-MANA DAN PENGHASILANNYA SUDAH MILIARAN RUPIAH?? PASTI ADA SESUATU YANG BAIK DI DALAMNYA YANG TAK PERNAH KITA TERIMA DI BISNIS MANAPUN.. SALAM HANGAT DARI ITB.
#198: duh saya kira setelah kejadian kemaren gak bakalan ada yang bawa2 nama aa gym lagi
.
soal kiyosaki bisa dibaca di http://priyadi.net/archives/2006/05/15/rich-dad-poor-dad-vs-ayah-kaya-tidak-kaya/, soal aa gym bisa dibaca di http://priyadi.net/archives/2006/12/08/aa-gym-dan-kultus-individu/
executive summary: tidak semua yang dibilang/dilakukan kiyosaki/aagym adalah benar.
mlm yang sistemnya tidak merugikan ada kok,yaitu perusahaan distributor obat-obatan herbal hpa(berasal dari malaysia),harga obatnya relatif lebih murah,kita menjual kesiapa saja (non distributor),keanggotaannya paling murah didunia (sepengetahuan saya)hanya 35.000 seumur hidup,tidak ada tutup point(kalau sudah jadi anggota dapet discount 25%hingga 30%,dan keuntungan lainnya),produknya sangat alami dan sangat manjur
sory ini bukan iklan,saya cuman kasih gambaran aja
selain itu bila anda menjadi anggotanya anda bisa memiliki kemampuan seperti dokter bahkan lebih kali(kalau anda mau belajar)
anda bisa mendiagnosa penyakit pasien melalui mata(iridologi),tangan,lidah,nadi,kiropraksi,bekam,akupuntur,refleksi dan lain2(ilmu kesehatan)
#200: tidak mengubah kesimpulan saya. jika MLM tersebut tidak menjual cukup banyak produk ke luar anggotanya, maka dapat dipastikan anggota secara keseluruhan akan merugi.
salam kenal buat mas Pri..salut buat mas Pri. dan salu buat semua yg pernah komen disini.salut juga buat org yg sekedar baca.
mas pri, saya ingin tanya: apakah KRCHING termasuk dalam MLM atau bukan?setau saya KRCHING adalah Buying Group bukan MLM. apa itu benar?
Apakah sistem yg dilakukan KRCHING sesuai dengan syarat2 yg mas Pri utarakan atau sebaliknya..?
terima kasih..
#203: wah maaf saya gak tahu apa itu KRCHING
ok.thx mas Pri..
lain kali kalo tau system http://www.KRCHING.com, kasih tau ya…bisa ke alamat jeprix@gmail.com
sukses buat mas Pri..
NB: saya telah belajar banyak dari blog ini.bukan hanya dari mas Pri, tapi smua org yg telah menulis dicomment ini.baik yg mencela, memuji, atau sekedar peng-amin. semua ini saya liat dari sudut pandang akan sadar BELAJAR.
conversation ini sudah ditutup ato emang udah ndak ada yang nanggapi ini mas pri?
asslm.wr.wb.aq mau komentar buat orang yang bilang,kalo MLM cm orientasi pada uang: mbk,mas,qt sBnernya g butuh uang,tapi kalo qt mau beli barang,qt dimintai uang kan ma pnjualnya…berarti yang butuh uang sapa/ qt cm btuh barangkan? g usah muna,emang sneng jadi orang MISKIN? kalo saya g mau d punya HOBI MISKIN!!!!alangkah baiknyya jika qtkaya,qt bisa bantu banyak orang
saya yakin hampir semua agama mengHARUSKAN qt untuk kaya,dgn bgitu,agama qt jg dapat terangkat…walaupun saya sudah kaya,tapi saya tetep ikut MLM,alsannya simpel,karena saya mau bantu orang lain untuk sukses.aq masih17 thn..emg oertuq mampu,tapi qt jg g bisa jamin apakah qt nantinya bisa kaya ortu qt..krn NASIB itu ditangan qt..”inallaha layu ghaitu ma bikaumin hatta yuu ghairu maa biang fusihim” allah tidak akan merubah nasib suatu kaum,sebelum qt merubah keadaan yang ada pada dirinya…walaupun nanti yang menentukan akhir adalah tuhan,tapi qt butuh usaha dulu…6bulan saya itkut MLM,saya bisa ajak temen2 saya yang duunya g punya apa2,g PD,tp skrg dia bisa berubah TOTAL,dari segi materi,ukhuwah,pengembangan kepribadian,dll.saya yang dulunya pendiam, kuper,sekarang bisa punya saudara di seluruh indonesia,bahkan di luar negeri…
saya harapsebelum bilang yang jelek2 tentang MLM,tlg cr info lbih lanjut dulu, g ada salahnya qt rendah hati menerima informasi,karena jika qt ngomong tanpa ilmu,ntar ditanya di kherat,njenengan mau jawab apa? apa cm mau bilang..”lha katanya si…mlm itu…”cari info pada orang yang tepat,jangan tanya rasa durian pada orang yang belum pernah makan.toh orng yang redah hati itu MULIA disisi tuhan kok…sebenernya masih banyak yang aq ingin sampaikan…walaupun tidak hanya MLM jalan SUKSES,tapi tolong cari info dulu,minimal anda g negatif,g ikut juga gpp,toh ini bukan bisnis pemaksaan..toloooong banget,jangan negatif sebelum dapat info yang lengkap..saya dulu juga spt anda2,..tapi saya g mau nantu dimintai pertanggung jawaban sn tuhan,dan saya g punya ilmu,makanya,sya cari info sebanyak2nya ttg MLM.saya punya banyak alasan,bukti2 ttg MLM,knp saya ikut…anda bisa sharing ke saya…saya juga bukan orang yang suka maksa…&saya g suka kenalan ma orang cuma buat ngajak ikut MLM,saya cm ingin berbagi ilmu…kan ilu kalo g ditularkan akan sia2..anda bisa sharing ma saya langsung,saya terbuka..bahkan anda bisa wanti2 saya untuk tidak mengajak anda ikut MLM,tp anda cm pngin tau info atau ilmunya aja,saya terbuka.tapi saya juga minta kerjsamanya untuk tidak mempermainkan say.terimakasih,wasslm wr.wb
tya: 085642050900 (tya_neverdie@yahoo.co.id) terimaksih atas kerjasamanya.
#208: saya yakin niat anda baik. tapi kalau MLM yang anda maksud tidak sesuai dengan kriteria yang saya jelaskan di atas, maka anda bukannya membantu teman anda untuk sukses, tetapi justru menjerumuskan teman anda sendiri.
mungkin saya mao sharing 1 mlm yang sangat masuk akal, sangat ekonomis, produk yang dijual merupakan produk kebutuhan pokok yang diproduksi sendiri, konsep awal dari mlm ini hanya memindahkan belanja konvensional ke produk ini, dengan imbalan bisa mendapatkan cash back, tapi yang menjadi masuk akal dari bisnis ini adalah tiap member cuman diwajibkan belanja 1kg doank ….
para temen2 yang kritis terhadap sistem marketing plan mlm, coba kalian bedah, apakah mlm ini termasuk fair ? dan bisa berjalan long term, mengingat produk merupakan produksi sendiri, untuk melihat marketing plannya :
http://www.dt-88.net/
kritik dan saran di tunggu…
#210: sama seperti mlm-mlm lainnya. syarat supaya baik adalah jika profit penjualan retail melebihi pengeluaran. dalam mlm ini adalah
mlm ini baik jika profit yang berasal dari bonus di atas melebihi pengeluaran yang diakibatkan sebagai konsekuensi menjalankan mlm ini.
Ketika Planet “B” dihuni 1000 orang dan semuanya ikut MLM “X”, maka :
1. Dapat dPastikan orang pertama yang meng-create MLM “X” (dan beberapa orang yang dibawahnya) dan tentu produsen produk MLM akan untung.
2. Keuntungannya = Harga jual produk - Biaya produksi
3. Anggota yang lain akan untung/rugi tergantung dari penjualan mereka ke downline mereka.
4. Kemudian dari mana anggota yang ke-… ke-… ke-997, anggota ke-998, anggota ke-999 dan anggota ke-1000 mendapat keuntungan?
5. TIDAK ADA KEUNTUNGAN yang diperoleh mereka karena mereka tidak bisa menjual produk ke SIAPAPUN.
Analogi ini dapat anda terapkan ke wilayah yang lebih besar dengan penduduk yang lebih besar lagi. (kita kesampingkan iuran anggota, biaya operasional, dll…. biar lebih mudah
)
Kemudian, ketika kita jadi orang yang pertama di sistem MLM “X” ini :
1. pernahkan anda berpikir bahwa akan ada orang yang ke-…, ke-… ke-999, orang ke-1000 yang tidak akan pernah mendapatkan keuntungan?
2. Pernahkan anda menghitung berapa besar uang yang digunakan orang yang ke-1000 untuk dibagikan kepada orang ke-1, ke-2, ke-3…. (sebagai konsekwensi sistem MLM)untuk membeli sebuah produk yang seharusnya harganya bisa lebih murah?
3.tidakkah hati anda mengatakan bahwa untuk sebuah kesuksesan anda, anda harus mengorbankan orang-orang ini?
4.Saya yakin, jika anda jujur, maka andapun akan berpikir ulang untuk ikut MLM.
saya tadi ada baca sekilas,tp gak minat ahh. commenct juga malas baca, karena yang Kontra MLM, pasti punya ciri yang sama
1. gak pernah join MLM / min ikut pertemuan mereka
2. yang pernah ditipu tentunya
3. yang pernah dapat Upline/sponsor sesat (gak benar)
tp buat yang pernah gagal kemudian mengatakan MLM gak bagus, tipu lah
padahal bisnis luaran juga sama aja kan, gak semua bisnis baru berkembang dan menjadi sukses, tp knp tidak ada yang mengatakan jelek atau tipu-tipu
apa karena tidak ada pendukung, menurut akoe seh, yaa seperti lagu Om Iwan Fals,
urus moral masing2, jgn ngebahas yang gak2 d, hargai dan hormati apapun pilihan masing2, karena bisnis apapun,siapapun, dan apapun pangkat anda… pasti akan saling membuthkan dan mempengaruhi..
^^
comment #212
sory tadi gak baca…. padahal menarik banget lho…
menurut akoe hal itu punya potensi terjadi…ketika semua penghuni bumi uda mandul kali yee…..
tp itu adalah pendapat yang paling gak rasional banget lho….kalo dgn permisalan bgt mah pasti para pengusaha sekolahan (SD-Perguruan tinggi) akan bangkrut kan, kan manusia itu hidup, berkembang dan bertambah umur, kalo gak ada pertambahan penduduk, jadi wajar dunk argumentasi saya….
tidak hanya MLM, tp setiap bisnis yang melibatkan interaksi org banyak emank harus dipikir ulang…
gak semua org isa team Work lho ^^
Pemisalan yang diambil memang terlalu ekstrim. Yang jelas, di planet “B” itu, penghuninya dapat dibagi 2, yaitu yang tertarik MLM (dapat dibagi 2 lagi: yang ikut, yang gak ikut) dan gak tertarik MLM. Jadi kalau gerakan yang dilakukan MLM “X” sukses, maka kelompok yang memang ikut MLM akan terjaring semua, nah di sini akan terjadi kejenuhan, sehingga akan terjadi orang yang ke-… ke-1000.
Setiap orang berakal sehat perlu pendidikan, tapi belum tentu tertarik ikut MLM. jadi bagi pengelola sekolah2, ga perlu kawatir
#213:
you assume too much. silakan baca lagi secara lengkap dan lebih hati2. rasanya tulisan saya cukup objektif terlepas dari pengalaman pribadi saya terhadap MLM.
saya tidak menuntut bisnis yang baik pasti selalu untung. bisnis yang baik tidak selalu pasti untung, bisnis yang baik adalah bisnis yang di dalamnya terjadi hubungan saling menguntungkan. pihak A mendapat manfaat dari pihak B dan pihak B mendapat manfaat dari pihak A. itu namanya hubungan saling menguntungkan.
di MLM, pihak A mendapat manfaat dari pihak B. tetapi untuk menutupi manfaat yang B berikan kepada A, pihak B harus mencari manfaat dari C. kemudian C harus mencari dari D, dan seterusnya. hubungan antara A dan B bukanlah hubungan yang saling menguntungkan, karena A mendapatkan keuntungan dari kerugian B.
hal ini bisa dihindari jika pada MLM yang dimaksud terjadi penjualan ke luar kelompok distributor yang profitnya dapat mencukupi pengeluaran yang merupakan konsekuensi mengikuti MLM.
#214:
ini jelas pikiran yang tidak realistis.
pertama, MLM membutuhkan pertumbuhan yang berupa deret geometris, sedangkan pertumbuhan penduduk bumi bukan merupakan deret geometris, bahkan suatu saat nanti pertumbuhan jumlah manusia di bumi praktis nol.
kedua, dapat dipastikan sebagian besar anggota MLM akan merugi, dan ini terlepas dari berapa jumlah anggota tersebut.
sekali lagi, hal ini bisa dihindari jika pada MLM yang dimaksud terjadi penjualan ke luar kelompok distributor yang profitnya dapat mencukupi pengeluaran yang merupakan konsekuensi mengikuti
#212 #214 teori tentang kejenuhan sangat ruar biasa !!!
Faktanya tidak ada MLM kehabisan prospek
Faktanya ada MLM yg bertahan beberapa generasi
lihat fakta baru bicara…
#217: kalau MLM bisa bertahan beberapa generasi dan bisa mempertahankan trend-nya, maka semua penduduk bumi saat ini sudah ikutan MLM.
kenyataannya MLM yang sudah beberapa generasi itu sudah mencapai titik jenuh, anggota yang masuk kurang lebih sama dengan anggota yang keluar.
#135 -
baru sadar kalau ada tulisanku yang dikutip di dalam guestbook sini pas nyari kueri dengan nama sendiri kok nyasar kesini
Sebenarnya tulisan tsb tidak relevan dengan topik yang sedang dibahas disini, kalau seandainya kita merasa tidak didukung atau dilecehkan seharusnya kita tidak menutup mata hati tentang apa yang sebenarnya disampaikan
Saya yakin mas pri sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan suatu MLM itu buruk, hanya saja seharusnya suatu MLM yang baik (Multi Level Marketing) itu menekankan pada marketing , dan harus dibedakan dengan Multi Level Rekrut atau apapun sejenisnya
bahasa sederhananya begini
Apabila suatu MLM mengajarkan pada anggotanya untuk mengajak anggota baru dengan cara mengatakan:
kamu harus menjual sekian ratus ribu atau sekian poin untuk mendapatkan bonus berarti itu adalah MLM yang baik
dan jika suatu MLM mengajarkan pada anggotanya untuk mengajak anggota baru dengan cara mengatakan:
kamu harus belanja sekian ratus ribu atau sekian poin untuk mendapat bonus berarti itu adalah MLM yang buruk
kedua kalimat ini tidak akan ada pada buku panduan MLM tsb akan tetapi perhatikan kalimat yang digunakan untuk merekrut anda, apabila yang pertama maka selamat, MLM anda adalah MLM yang baik, setidaknya upline anda tidak berniat buruk
apabila kalimat yang kedua yang digunakan untuk merekrut, maka dapat dipastikan MLM tersebut hanya memanfaatkan anda (distributor baru) untuk mendapat keuntungan , dan apabila ada upline yang mengelak tuduhan ini kemungkinannya adalah mereka tidak mengerti atau sudah menghalalkan cara ini untuk mendapatkan keuntungan
penjelasan diatas sebenarnya sama dengan thread awal yang dibuat oleh mas priyadi yang mungkin agak terlalu panjang untuk dibaca dengan kepala dingin
——-
penulis adalah anggota MLM yang masih aktif saat ini dengan lebih dari 70 downline pada jaringannya
p.s. yang paling parah dari semua MLM adalah MLM yang pas rekrut calon uplinenya bilang :
Kamu belanja dulu x rupiah terus nanti kalau kamu rekrut orang kamu suru juga dia belanja x rupiah nah nanti kamu dapet bonus de ,
apa bedanya dengan money game yang lebih gamblang bilang :kamu setor x rupiah terus nanti kamu rekrut orang dan suru dia setor x rupiah biar kamu dapet bonus
#bedanya kalau money game yang disetor x , kalau MLM model ini yang disetor adalah x + harga barangnya
khusus untuk MLM tiens yang merasa dipojokkan selama topik ini idup
IMHO tiens termasuk MLM yang baik, selama dijalankan dengan benar juga , selama tidak ada keharusan untuk setor sekian, selama pada proses rekrut kita diajarkan untuk menjual produk, dan bukannya belanja produk dan beli peringkat karena dengan menjual produk kita akan mendapatkan keuntungan yang akan menurunkan beban grup secara keseluruhan
#221: baik atau tidaknya MLM harus dilihat dari realisasi terhadap kelompok distributorship secara keseluruhan, bukan dari satu-dua individu saja. pertanyaannya: ada berapa banyak produk yang dijual oleh anggota ke orang selain anggota? apakah profitnya dapat menutupi biaya yang merupakan konsekuensi mengikuti tiens? untuk tiens, satu2nya jenis profit yang menentukan adalah komisi penjualan langsung sebesar 15%. jika profit dari ini bisa menutupi pengeluaran akibat mengikuti tiens, maka anda balik modal. jenis profit lainnya sama sekali tidak relevan terhadap sustainabilitas grup.
di tiens tidak ada keharusan setor sekian, tapi ada biaya pendaftaran dan insentif untuk menyetor dengan tujuan membeli peringkat, terlepas dari apakah dia butuh produk itu atau tidak.
MLM yang pernah saya tahu berprinsip “mencari penjual sebanyak-banyaknya” dengan dijadikan sebagai anggota, inilah yang membedakan dengan metode penjualanumu yaitu “mencari pembeli sebanyak-banyaknya” dengan menjadikan mereka konsumen. Bagaimana bisa untung kalau semua jualan, ga da yang beli……
#222:
Yup, tepat sekali, seperti ditulis pada nomor #221 apabila dijalankan dengan benar maka yang terjadi adalah penjualan dengan dengan profit 15% tersebut, apabila tidak dan ada dorongan untuk berbelanja membeli peringkat, maka tiens akan menjadi seperti #220 diatas , money game dalam selimut MLM
kalau menilai realisasi terhadap kelompok distributor secara keseluruhan sama saja dengan menilai kejujuran kelompok penegak hukum atau pegawai negri sipil
#224:
atau karena sistemnya sendiri memang memberi reward lebih tinggi untuk merekrut daripada menjual.
Hidup oriflame , senang jadi sales kosmetik
Allow rame juga neeh. slamat buat bung Pri yg berhasil melempar opini yg mendapat tanggapan banyak sekali baik yg pro, netral maupun kontra…
Jadi penasaran neeh, ingin ikutan kasi pendapat, boleh khan!!! Q sebagai yg netral dlm hal ini sedikit paham tentang MLM. Karena dulu pernah mempelajari fenomena MLM ini di Indonesia.

Dari beberapa yg q baca diatas rame juga silang pendapatnya, dan asik untuk di ikuti, q jd tertarik utk membukukan.he…he…
Ajang yg bagus ini sebaiknya dipergunakan utk berdiskusi tentang MLM, jangan sampai jadi ajang saling menghujat profesi masing-2. biarlah mereka yg memilih MLM qt dukung agar mereka sukses, dan mrk yg memutuskan tdk terjun di dunia MLM juga harus di hargai. Bagaimanapun masing-2 dr qt punya pandangan dan pemikiran untuk menentukan pilihan qt.
Bukankah MATI ITU PASTI TAPI SUKSES ADALAH SEBUAH PILIHAN. Dan orang sukses tdk harus di MLM maupun bisnis NON MLM. Semua tergantung kerja keras masing-2.
Yang perlu di tegaskan dalam hal ini adalah permasalahan bagaimana qt menyikapi bisnis MLM ini jangan sampai qt tdk mengerti, setengah-2 mengerti trus qt memutuskan bahwa MLM itu buruk, bullshit, penipu, dll. Tdk seperti itu! Yg q tau bnyak juga org-2 yg sukses di MLM, dan mrk dari berbagai macam latar belakang, ada yg dr direktur, manager, staff, sales, wiraswasta, penganguran, tukang ojek, dll latar belakang dan mereka mempunyai hak yg sama untuk mencapai peringkat puncak. Yang tdk mungkin di lakukan di bisnis non MLM.
Janganlah membeda-bedakan bisnis MLM dengan bisnis yang laen. ITU adalah SAMA. Dimana mrk yg lebih berprestasi akan sukses. Jangan bilang berprestasi dengan menipu bnyak org?? itu pasti dilakukan org / oknum yg belum sepenuhnya mengerti bisnis MLM tp dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan downline. Maka banyak yg berpendapat SAYA DITIPU/ dibohongi. Padahal yg sehrusnya di mengerti adalah mrk hnya ingin menunjukan informasi bahwa mrk sedang mengeluti sebuah bisnis, dan ingin berbagi informasi dgn bnyak org. permasalahan org itu gabung atau tdk, qt tdk bs memaksakan. Jika mrk sdh paham tetapi memutuskan tdk mau gabung ya itu hak mereka. Tetapi jangan sampai ketika qt belum paham betul maksudnya pikiran qt sdh di penuhi MLMSyndome (ketakutan/negative tentang MLM) qt memutuskan TIDAK dan mengajak org lain untuk tdk ikut. Yang q lakukan selama ini adalah menganjurkan mrk yg belum paham untuk datang ke undangan/pertemuan mereka, untuk bersama-2 memahami maksud dan tujuan setelah paham baru tentukan pilihan mau ambil peluan itu atau tidak. Dengan mengatakan terus terang “saya sdh paham tetapi belum tertarik untuk gabung” itu akan lebih menghargai dari pada qt lari menghindar. Begitupun sebaliknya jika qt (member MLM) akan mengajak org jangan sampai memaksa untuk JOIN. Karena akan merusak pandangan org tentang MLM.
Buat mrk yang pro MLM, hargai juga mrk yg memutuskan tdk terjun ke MLM. Buat mrk yg kontra MLM dan begitu negative sebaiknya simpan pendapat negative anda atau boleh di sampaikan sebatas saran untuk lebih berhati-2 dan selektif memilih MLM. Bukan untuk memfonis mrk tdk boleh ikut MLM.
Menurut Bung Pri qt harus selektif untuk memilih MLM dan dari syarat yg di sampaikan ada betulnya juga tetapi tdk sepenuhnya. Ada hal-2 yg mungkin sulit untuk di mengerti. Seperti halnya memperdebatkan soal keyakinan, tidak akan ada habisnya.
Banyaknya MLM memang nenuntut qt untuk selektif. Dan itu bisa dilihat dari berbagai macam factor marketing plan yang jelas dan realistis, tidak pyramid, ada support sistemnya. Sebaik apapun marketing plan tanpa support system di jamin tidak akan berhasil. Dan tolong di catat. Perusahaan MLM dimanapun tidak ada yg menjamin mereka akan untuk sukses, yg mereka harapkan pokonya produknya terjual. Yang menjamin dan mengaransi member MLM tersebut bisa sukses adalah support sistemnya. Makanya jangan salah setelah gabung cari org jualan kok ndak sukses-2 pasti ada yg salah, dan ini hampir 80% terjadi. Ini yg menyebabkan banyak yg negative. Yang banyak ditemui adalah MLM yang hanya menawarkan kesuksesan tanpa pembelian produk cukup merekrut org sebanyak-2nya pasti akan kaya. Itulah money game. Jika benar-2 MLM/Network Marketing (NM), qt bisa sukses jika bisa membuat org lain/downline qt sukses. Jadi jangan keliru bahwa MLM hanya membuat kaya mereka yang diatas/duluan gabung. Salah besar!. Yang benar adalah seberapa besar kerja keras mrk untuk membantu org untuk sukses. Jangan bilang memanfaatkan org lho….!. seorang Upline/Sponsor seharusnya membantu mereka yang baru terjun jd member untuk mengikuti langkah mereka supaya mrk bisa mandiri dan kemudian membantu yng lain begitu seterusnya. Mungkin ini yang disebut saling membantu untuk sukses bersama.
Tetapi ada juga oknum MLM setelah mengejar, mempengaruhi, memaksa untuk gabung e…setelah join di tinggal. Hindari hal-2 semacam ini.
Setelah q pelajari sebenarnya enak juga terjun di MLM tdk perlu syarat apapun (paling biaya pendaftaran yg rata-2 di bawah 100rb, plus beli produk antara 1-2jt an) gak ada modal usaha yg semurah MLM. Trus paling jobdis qt cuma disuruh mengikuti langkah-2 biasanya ada 5-7 langkah dan itu tidak terlalu sulit. Cukup dijalani aja 2-3 th pasti sukses. Cuma qt bisa gak atau qt tahan gak menghadapi cobaan selama 2-3 th, 1 langkah aja tidak di jalankan jangan harap akan menuai kesuksesan. Q rasa di kantoran manapun gak ada yg seenak itu, jika 1 job dis tdk di laksanakan pasti akan di tegur bahkan di pecat. Jika di MLM mungkin ini kelemahanya jika qt tidak menjalankan salah satu job dis tersebut tdk akan ada yg menegur atau bahkan memecat. Semua tergantung qt, tergantung seberapa cepat qt mau sukses.
Sebenarnya bakyak juga manfaatnya jika Join MLM jika qt tdk tertarik di bisnisnya sangat berguna juga pendidikannya yaitu seminar-seminarnya. Di bidang pekerjaanku sbagai manager di sebuah perusahaan real estate q mendapatkan pelajaran banyak hal tentang motivasi, manajerial, dll, dr pertemuan-2 yg q hadiri dr ajakan temenq yg ikut MLM. Positif aja, banyak juga kaset dan buku-2 yg q pelajari bs q terapkan di pekerjaanku. Dan terus terang pengembangan pribadiku meningkat penuh percaya diri, walaupun apa yg q katakana ke bawahanku sebagian besar q kutip dari kata org di seminar, kaset ,maupun dari buku. (gak papa kan….)
Tidak dapat manfaat dari bisnis MLM tetapi dapat manfaat dari seminar dan alat bantunya MLM. Lumayan 1 th q naik jabatan 2 kali.
Yang terakhir : Marilah kita saling membuka diri apa yg sudah kita tekuni sebagai pilihan qt betul-2 qt jalankan sepenuh hati tanpa harus saling mempengaruhi kejelekan profesi org lain. Jika memang profesi qt baik (paling tdk menurut qt sendiri) boleh dong di sampaikan ke org lain. Masalah mrk tertarik atau gak terserah pemikiran mrk…dan ingat Kehidupan yg kita jalani hari ini adalah keputusan kita hari sebelumnya dan keputusan hari ini akan menentukan kehidupan kita yang akan datang.
Salam buat semua SUKSES.
#228: inti saya sebenarnya cuma satu: MLM yang baik adalah jika keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke kelompok di luar distributor MLM melebihi biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi mengikuti MLM. jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka keuntungan satu pihak dapat dipastikan berasal dari kerugian pihak lainnya. tidak jauh berbeda daripada skema piramida, dan bahkan lebih buruk karena net-nya menjadi negatif.
sayangnya, sampai sekarang saya belum pernah menemukan MLM yang memenuhi kriteria tersebut.
soal berpikir positif yang kerap didengung2kan oleh MLM, saya pikir itu bukan berpikir positif, melainkan berpikir tidak realistis. harus dibedakan mana pikiran yang benar2 positif dan mana yang tidak realistis.
saya tidak pernah menuduh pengikut MLM buruk dan sebagainya hanya karena dia mengikuti MLM. sebaliknya, mereka semua adalah korban yang perlu kita bantu bersama.
Katakan bahwa ini adalah PRODUK saya, bukan ini adalah BISNIS PLAN saya
http://www.celotehku.com/Rakhmat/2007/06/27/mlm-bisnis-tipu-menipu/
#230: dalam MLM oriflame tetap ada yang namanya bonus yang berasal dari performa downline. jadi artinya tetap ada insentif untuk merekrut walaupun tidak ada insentif yang langsung diterima ketika melakukan perekrutan. sekarang yang harus diteliti apakah insentif untuk merekrut ini lebih besar atau lebih kecil daripada insentif untuk menjual.
ini mungkin bisa ditanyakan kepada diri sendiri, ketika bertemu dengan teman, apa yang akan dilakukan: menjual atau merekrut? jika lebih banyak merekrutnya, artinya ya sama saja dengan MLM lain.
cara yang lebih representatif yaitu dengan metoda sampling dan statistik. cari beberapa distributor dan tanyakan berapa profit mereka, hitung pendapatan rata2 dan lihat apakah bisa menutupi biaya dan usaha yang telah mereka keluarkan.
“saya tidak pernah menuduh pengikut MLM buruk dan sebagainya hanya karena dia mengikuti MLM. sebaliknya, mereka semua adalah korban yang perlu kita bantu bersama.”
Perlu q jalaskan lagi kalo bung Pri menganggap mrk “korban” yg perlu diselamatkan itu adalah salah, karena berarti itu masih membedakan bisnis MLM dengan bisnis yg lain, maksud q gini kita samakan dulu sudut pndang kt bahwa itu semua adalah suatu pekerjaan, (sama seperti asuransi, pkerja kantoran, swasta, polisi, maupun sampai ke tukang ojek bahkan ke tukang parkir, itu adalah sebuah pekerjaan atau profesi)
jika qt menganggap mrk korban berarti mrk yg bekerja di bidang lain yg tdk qt sukai atau bertentangan dgn qt adalah korban juga??
Sudah q ktkan di atas bhwa mrk yg memutuskan untuk memilih sebuah profesi adalah keputusan mrk dgn dasar pemikiran yg mungkin sdh matang (mnrut mrk) walaupun ada sebagian yg merasa terpakasa dgn pkerjaan mrk. di luar MLM jg trjadi dan bahkan lebih “kejam” dan lebih “tega”. karena waktu mereka di jual untuk mendapatkan uang, sedangkan di MLM waktu mrk di investasikan bukan di jual.
Jika memang qt mau menolong korban justru mrk yg penganguran qt tolong supaya mrk bs bekerja apa saja.termasuk di MLM.
sekali lagi jangan di bedakan ini bisnis MLM dan ini bisnis non MLM.
Mungkin menurut perhitungan bung Pri mengenai, “MLM yang baik adalah jika keuntungan yang berasal dari penjualan retail ke kelompok di luar distributor MLM melebihi biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi mengikuti MLM. jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka keuntungan satu pihak dapat dipastikan berasal dari kerugian pihak lainnya. tidak jauh berbeda daripada skema piramida, dan bahkan lebih buruk karena net-nya menjadi negatif.” ada benarnya tetapi q akan coba teliti lagi. karena sementara ini yg q tau jika netnya negatif ada yang salah di diri mrk sndiri bukan di grup!
OK! Bung Sukses buat semua.
O ya perlu q tambahkan lagi mungkin maksud bung Pri adalah mrk yg sdh ikut MLM tetapi tdk berkembang dan bahkan merugi karenanya.
lha kalo ini memang perlu sekali qt bantu. dengan cara jangan di downkan mentalnya. qt semangati mrk agar menekuni pilihan mrk, niscaya semua pekerjaan yg sdh di pilih walaupun di awal bukan mrpkan bidang pilihan qt, jika kita tekuni kt telateni bakal membuahkan hasil yg maksimal. satu contoh : q punya temen sebelum bekerja di tmpatku bekerja dia adalah OB (office boy) di sebuah kantoran, karena dia ikut sebuah perusahaan agen tenaga kerja, maka dia sering di pindahkan kerja. sdh 4x dia di pindah tugaskan, hingga akhirnya ditempatkan di tempat q bkerja. awalnya dia sama sekali bisa mengoperasikan yg namanya Internet, (kalo cuma pake komputer Ms office dia bisa, karena dulu pernah di ajari di SMA). krn suatu kebutuhan dia q ajari gmn itu internet, lama kelamaan mungkin dia memanfaatkan waktu piket jaga malam, di gunakan untuk belajar dan bahkan skarang sdh mahir. dia skrng udh keluar dr pt tmpat dia kerja, ternyata dia beli komputer di rumah..ee..malah dr blog dia punya penghasilan yang lumayan.
dari cerita itu bisa di ambil maknanya bahwa mrk yg di anggap korban adalah mrk yg belum sepenuhnya menjalani bisnis tersebut. bukankah waktu yang dijanjikan adalah 2-3 th (jika benar-2 mengikuti dan menjalani saran dari suport system masing-2) bisa di pastikan mrk akan sukses dgn pilihan mrk.

#232:
kalau begini, mungkin nanti pencuri merasa apa yang dikerjakannya sebagai ‘profesi’. saya tidak menyamakan pencuri dengan MLM, tapi baik tidaknya suatu pekerjaan tidak dinilai hanya dari apakah pekerjaan tersebut dianggap sebagai profesi oleh pelakunya atau tidak.
yang namanya investasi artinya rata-rata (sustained) yieldnya paling tidak harus di atas 0%. sedangkan pada MLM, rata2 yield dari seluruh anggotanya di bawah 0%, jadi bukan merupakan ‘investasi’ dalam pandangan saya.
mengajak pengangguran untuk ikut MLM bukanlah cara yang bijak. karena itu hanya akan membuat segelintir anggota menjadi kaya, sedangkan sebagian besar lainnya bertambah miskin. dengan mengajak pengangguran ikut MLM justru akan menambah beban sosial karena yang miskin dan mayoritas akan semakin miskin.
net positif atau negatif harus dilihat dari realisasi kondisi kelompok distributor secara keseluruhan, dan tidak bisa melihat satu atau dua orang saja.
#233:
saya tidak berniat mendownkan mental mereka. saya cuma berusaha agar orang2 bisa berpikir realistis.
seandainya MLM bisa membuat 1 orang menjadi berhasil, maka bisa jadi itu karena ada 10 orang yang menjadi lebih miskin daripada sebelumnya. dan 10 orang ini perlu mencari 100 orang lain supaya mereka balik modal. dan seterusnya. setekun apapun anda berusaha, maka anda hanya akan merugikan orang2 lain selain anda.
ps. MLM yang saya maksud dalam komentar di sini adalah MLM yang buruk, dan tidak berlaku dalam hipotesis saya tentang MLM yang baik.
Yap. betul sekali Bung Pri, tidak semua MLM memang memberikan hasil yang baik. tetapi anggapan anda tentang :
“seandainya MLM bisa membuat 1 orang menjadi berhasil, maka bisa jadi itu karena ada 10 orang yang menjadi lebih miskin daripada sebelumnya. dan 10 orang ini perlu mencari 100 orang lain supaya mereka balik modal. dan seterusnya. setekun apapun anda berusaha, maka anda hanya akan merugikan orang2 lain selain anda.”
Sepertinya masih harus di kaji lebih dalam lagi.MLM disini maksud bung Pri adalah “MLM yg buruk”. dan tidak berlaku untuk MLM yg baik.
untuk MLM yg baik jika sampai 1 org berhasil adalah krn bisa memBerhasilkan 10 org (bukannya merugikan 10 org). dan jika 10 org tersebut ingin lebih berhasil lagi maka harus bisa memBerhasilkan 100 org.(dan tidak perlu org sebanyak itu untuk membalik-modalkan modal mrk).
Q ambil satu contoh saja MLM yg saat ini menurut majalah SUKSES Thn IV-edisi 46-Des 2006. termasuk dalam 12 top MLM. yaitu TIANSI.
dari biaya pendaftaran Rp.85.000,-. qt anggap saja dia masuk *3 berarti penbelanjaannya 2jt tanpa merekrut downline pun dia sdh bisa mendapatkan keuntungan 15% dr penjualan produk 2jt tadi, berarti dia sudah balik modal dan bahkan untung Rp.215.000,-
jika dari keuntungan tersebut dia gunakan untuk mengikuti setiap pertemuan
a. 1xpertemuan Rp.50.000,- (3bl 1x)
b. 4xpertemuan Rp.10.000,- (1bl 4x)
maka selama keuntungan tersebut masih bisa di gunakan untuk 3 bulan pertemuan yg besarnya Rp. 170.000,-
maka dia masih punya sisa Rp. 45.000
itu perhitungan untuk 1 org ikut tiansi dan belum mendapatkan downline selan 3 bulan.
jika dalam 1 bulan dia biasa merekrut 1-2 downline saja maka akan dapat bonus. nah bonus ini pun tidak diambilkan dr kerugian downlinenya. dan bisa dihitung secara matematis pula jika duplikasi berjalan lambat (anggap lambat karena 1 bulan cuma 1 downline) maka dalam 18 bulan dia sdh masuk peringkat yg istilahnya Gold Lion.
mungkin itu sedikit penjelasan q jika bung pri masih kurang paham mungkin coba saja hadiri pertemuanya dan tanya pada pembicaranya.
Hal ini juga berlaku untuk MLM yg masuk 12 besar tersebut.
TQ. Sukses bung Pri.

#235:
walahhh. sejak kapan menjual ke diri sendiri menjadi profit?
dimana ini pemikirannya?
anda harus jual Rp 2 juta itu ke orang lain di luar kelompok distributor supaya 15% itu menjadi keuntungan yang real.
supaya lebih jelasnya lagi:
* anda keluar uang Rp 85 ribu (uang pendaftaran)
* anda keluar uang Rp 2 juta (beli ‘produk’)
* anda dapat produk
* anda mendapat Rp 300 ribu
total jendral anda tetap keluar uang Rp 1785000 + mendapatkan produk. apakah produk itu layak untuk dihargai Rp 1785 ribu itu memang bisa diperdebatkan. tapi kalau anda di sini punya tujuan untuk mendapatkan keuntungan tambahan (bukan untuk beli produk), jelas tujuan anda sama sekali tidak tercapai, bahkan anda harus cari2 cara untuk bisa balik modal sebanyak Rp 1785000.
ini mungkin salah satu bentuk sistem yang paling buruk: “memaksa distributor untuk membeli produk sebagai syarat mencapai kedudukan tertentu.” dengan demikian, kelompok ‘distributor’ di sini dalam pandangan produsen bukanlah penyalur produk2 tersebut, melainkan konsumen itu sendiri.
kalau mau menjalankan bisnis ini secara benar, satu2nya langkah yang tepat adalah dengan cara menjual produk2 ini ke masyarakat yang bukan anggota MLM, dan mendapatkan keuntungan sebesar 15% dari harga produk. membeli produk untuk diri sendiri sama sekali tidak akan pernah membawa group ke arah yang net-positif.
sekarang silakan anda tanyakan ini ke diri anda sendiri dan orang2 di kelompok anda: berapa kali anda menjual ke orang lain di luar kelompok distributor dan mendapatkan profit 15% dari harga produk? apakah besarnya keuntungan 15% tersebut dapat menutupi aktivitas anda menjalankan MLM?
jika jawaban terakhir adalah tidak bagi mayoritas pengikut MLM anda, maka bisa dipastikan bahwa MLM anda adalah MLM yang buruk.
mbah saya sangat menunggu MLM yang satu ini.karena produknya bagus untuk sawah nya,biasa panen perhektar 4-5 ton gabah kering pake produk MLM ini sampe 13-16 ton.sapi pakde ku yang biasa 1 tahun baru bisa jual,sekarang 3 bulan udah kaya gajah,lele yang menurut bpk PPL per 100 M hanya diisi 4000pcs,sekarang bisa diissi 10000pcs dengan waktu panen yang sama dan hasil lebih besar,mbah saya saya bangga dengan MLM ini karena mempunyai VISI indonesia makmur raya .MLM ini bergerak dibidang agro komplek,selain itu mbah saya sekarang ngerti jaringan penjualan hasil sawah dan ternaknya ,jadi ndak seperti dulu lewat tengkulak “terima kasih MLM” teriak mbahku
kalo tertarik belajar agrokomplek
(pertanian ,perikanan,pternakan,perkebunan) bisa kontak ke 0271 ******* merdeka!!!
bagaimana dengan MLM yang memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia ini bung PRI,MLM ini berasal dari YOyakarta punya lab alm di Pandan Simo Bantul,disana dipinggir pantai sejarak 25 m dari bbibir pantai ditanami Rojo lele yang berhasil panen sampe 10 TOn perhektar gabah kering,padahal ratat rata panen Indonesia hanya 4-5Ton perhektar,produknya murni Organik,padahal penjual pupuk terkenal drai jerman yang sekarang banyak dipakaai petani terbuat dari bahn Kimia,bahkan negri pembuat pupuk tersebut tidak mau menerima hasil jerih payah negara yang memakai produknya,saya praktekkan di tempat di surakarta berhasil naik dari 6ton ,menjadi 16ton,dengan harag rata rat berasnya 6 ribu perkilo(karena organik) ,tambak lele yg menurut PPL joja dipatok per 100 M 4000 pcs lele,dengan teknologi organik MLM ini mampu menampung 10000pcs dengan umur panen yang sama dan denga berat yang lebih baik,perkebunan Cacao yang biasanya panen musiman sekarang tiap hari panen ,produk ini punya Visi Indonesia Makmur raya karena jepang yang terkenal industri pertaniain hanya mampu 21ton perhektar,padahal kalo dilab kami (dengan keaadaan ideal )sudah mapu panen 30 ton perhektar,dengan keadaadn tersebut penduduk indonesia yang 75% petani dan 5% terkait dengan hasil pertaniain dan agrokomplek,mendapat manfaat yang luar biasa,sapi yang bias dijual dengan masa pembesaran 8-10bulan mampu dibesarkan 2-3bual dengan bobot yang lebih besar ,semua produk organik.Hidup MLM !!!!(buat yag tertarik agrokompleks /pertanian ,perikanan,pekebuanan,pternakan contact 0271 *******)

#237-#238: tulisan saya di atas membahas tentang sistem MLM-nya sendiri, bukan tentang kualitas produk yang ditawarkan MLM.
Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung. Perbedaannya terletak hanya pada status saja, resmi atau tidak resmi, legal atau tidak legal. Pengecualian ada pada MLM yang menitikberatkan penjualan produk ke masyarakat non distributor ketimbang melakukan perekrutan distributor baru……………………………………..
saya kira sangat bijaksana kalau Pak pri menganalisa sebuah kegiatan bisnis bukan hanya dari cara,tetapi dari semua unsur yang dibawa akibat dari kegiatan bisnis tersebut,karena dari penghakiman bapak tersebut diatas sangat terasa bahwa bapak belum begitu memahami inti dari sebuah kegiatan bisnis tersebut.
biasanya pelaku bisnis diatas mempunyai banyak ‘faktor motivasi utama “(bukan hanya uang)
1.menolong orang lain
2.mendapat kenalan baru
3.mengembangkan kepribadian
4.mendapat informasi dari network(jaringan) sejenis
5.mendapat kebebasan waktu
dll
pendidikan bisnis yang didapat bahkan pernah diulas robert kiyosaaki dan AA gym.yaitu mereka pernah mendapatkan pengalaman bisnis mereka selama bertahun tahun tapi setelah mereka mengikuti sistem pendidikannya mereka bilang bahwa sistem disana adlah persisi dengan apa yang dia pelajari selama bertahun tahun,tetpi diajarkan dalam waktu 1 tahun.
belum lagi produk yang mereka bawa biasanya adalah produk yang melelui penelitian dan berguna untuk banyak orang
salah satu produk pupuk organik kami,kalau dilaunching lewat pemasaran tradisional mungkin,teknologinya tidak sampai ketangan petani langsung,mungkin sudah di borong tengkulak dan disimpan menunggu harga tinggi dsb
I think its time to be wise .
#240: saya yakin sebagian besar yang ikut MLM punya motivasi salah satunya adalah ‘menolong orang lain’. tapi mungkin orang2 ini tidak tahu kalau dengan MLM mereka bukannya menolong orang lain, tetapi malah menjerumuskan orang lain.
ada berbagai macam motivasi dalam mengikuti MLM, tapi saya yakin motivasi utama adalah untuk mendapatkan penghasilan. ini gampang dilihat dari cara MLM-MLM memasarkan produk/sistemnya: “dengan ikut MLM Acme, anda bisa mendapatkan penghasilan sekian rupiah per bulan”, bukannya “dengan ikut MLM Acme, anda bisa mendapat kenalan baru”
kalau gak ada uangnya saya yakin gak bakalan banyak yang ikutan
. kalau niatnya cuma untuk mendapat kenalan baru dlsb, rasanya gak ikut MLM juga bisa.
soal penipuan kiyosaki, sudah saya bahas terpisah di sini
i think it’s time to be realistic
its wonderfull time I discussing with you,sir
coba contoh,bila ada seseorang yang menjual bajunya puluhan juta.menurut perhitungan industri,harga pokok produksi nya hanya beberapa ratus ribu rupiah,tambah overhead dan biaya pengiriman akan menjadi COGS(Cost of good sales)paling jutaan rupiah.bagi kebanyakan orang harga ini diluar batas,bahkan kalau menurut hitungan pak Pri,ini merugikan pembeli,
dalam promosinya penjual pakaian tersebut juga bilang dengan memakai pakaiannya orang tersebut akan merasakan manfaatnya,tambah PD,tambah cantik,tambah sexy,dan sebagainya,dengan asumsi akhir ,dia asampai kan mendapat manfaatnya sampai penghasilannya akan naik,
orang yang tidak tahu bagaimana hubungan antara pakaian yang harganya mahal,dengan penambahan pendapatan,bila dia membeli dia hanya akan mendapat rugi(karena hitungan yang dia tahu bahwa dengan membeli seharga puluhan juta dia akan mendapat kenaikan pendapatan)
padahal pakaian tersebut dirancang dari desaigner ternama untuk orang yang betul betul membutuhkan baju tersebut untuk pekerjaannya(penghidupannya)
.sama dengan MLM(yang benar)yang dirancang oleh desaigner(pengusaha) ,bahwa produk yang dia jual dengan harga yag lebih tinggi memang sudah diwanti wanti untuk orang yang pengin berada di jalur usaha,
bahkan biasanya mereka punya pendidikan,yang kalau orang tersebut mengikuti dengan benar dia berada dekat dengan apa yang diharapkannya.
so apa yag biasanya dikatakan oleh MLM adalah benar dengan syarat mengikuti pendidikan dengan betul ,peristant,postur dan terus menerus,dsb
impian uang hanyalah sebatas pemacu saja,beberapa pengusaha besar ikut dalam acara tersebut,dengan motivasi tanpa uang.coba bp wise mengikuti suatu sistem pendidikan selama setahun.it is more realistic


#242:
tulisan saya di atas ini tidak membahas tentang hubungan antara penjual dan pembeli, melainkan antara distributor dan distributor, atau upline dan downline.
pada hubungan antara penjual dan pembeli ada perpindahan manfaat timbal balik antara mereka. pembeli memberi manfaat kepada penjual dan sebaliknya, penjual memberi manfaat kepada pembeli. soal apakah manfaat yang dikeluarkan pembeli sepadan dengan manfaat yang didapatkannya, itu dapat diselesaikan oleh mekanisme pasar.
pada MLM, downline memberi manfaat kepada upline, tetapi untuk bisa ‘recoup’ manfaat tersebut, downline perlu mencarinya dari downline2nya. jadi tidak ada hubungan timbal balik saling memberi manfaat antara upline dan downline. atau jika ada, maka itu bukan merupakan hubungan yang sepadan. jika sepadan, maka downline tidak akan memiliki insentif untuk merekrut orang lain sebagai downlinenya.
saya gak pernah mempermasalahkan kalau produk di MLM mahal. dalam pasar bebas, siapapun boleh menjual produk semahal apapun, tapi soal apakah ada yang beli atau tidak itu urusan lain lagi. walaupun demikian, produk yang dijual melalui MLM tidak akan kompetitif jika ada produk serupa yang dijual di pasar bebas. ini akibat MLM bukanlah metode pemasaran yang efisien dan menuntut profit margin yang luar biasa tinggi.
produk MLM hanya bisa bersaing di kalangan distributor. oleh karena itu saya simpulkan bahwa distributorship MLM sebenarnya hanyalah sebuah klub belanja semata.
mulai anget ya pak..
trims karena anda udah maintain bloger ini lama,so saya mendapat “manfaat” dari anda walaupun anda bukan downline saya.
Coba cek Nova 728/XIII .safir senduk mengulas tentang manfaat bisnis jaringan.
/
Coba cek warta ekonomi 12?thn XII/26 Maret 2001,”profesi”termahal.distributor MLM menempati peringkat 1.
TGl 21 April kelompok tani saya di surakarta masuk “Kompas” karena panen perdana padi semi organik denga hasil 13-16 ton /Ha.(dua halaman lagi)
AA gym punya buku ttg bisnis jaringan.robert yang anda bahas dulu dengan luar biasa menggandeng orang tidak terkenal untuk membuat buku yang menentang teorinya disaat grafik penjualannya turun,sekarang penjualan buku beliau naik lagi sesudah menggandeng trump.beliau membuat buku tentang MLM.
mereka membuat buku dengan cara mengikuti pendidikan yang diajarkan selama 1 th terlebih dahulu baru komentar.
banyak manfaat yang jauh lebih besar ketimbang uang
bila anda bergabung minimal 1 tahun( juga di organisasi agro kompleks saya).karena untuk mengubah dari orang biasa menjadi seorang professiaonal dengan network seluruh dunia bukan hal mudah.
untuk bisa baca tulis saja rata rata orang butuh 2 tahun(TK A,B) apalagi untuk memahami dan menjalankan bisnis dengan benar.kalo yg (maaf()comment diatas udah belajar mengenal lebih dari 1 tahun dan tidak bisa merasakan manfaatnya anda boleh ketemu saya
dengan senang hati saya mau ajari free!!(plus dikirimi VCD belajar agro complex)
sebenarnya cuma ada 2 keputusan didunia ini
anda berubah (mau belajar)atau
anda dirubah oleh keadaan karena anda tidak pernah mau belajar dari apapun!!!
so call me for more (0271 *******)
\”
/
/
/
/
/
Go enterpreuner!!
Go agro compleks
Indonesia makmur raya telah muncul
#244:
wah, mungkin anda yang anget, saya sih pekerjaan sehari2 menjawab seperti ini, jawab satu lagi tidak menjadi masalah
soal argumen anda, maaf saya tidak bisa menerima argument from authority. ironisnya, sebagian tokoh2 yang anda sebut itu tidak sukses lewat MLM
.
tidak butuh banyak kemampuan untuk mengerti kalau dalam satu perusahaan, pengeluaran Rp 1 juta tapi pemasukan cuma 500 ribu, maka itu pasti rugi tanpa harus susah payah mengikutinya selama 1 tahun. dalam MLM, ini sebenarnya cuma perhitungan cashflow sederhana. jika MLM yang dimaksud mementingkan rekrutmen daripada penjualan, maka dapat dipastikan secara matematis bahwa kelompok distributor pasti merugi.
saya sama sekali tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang sukses di MLM, tapi pada MLM yang tidak baik, keuntungan tersebut dapat dipastikan berasal dari banyak anggota lain yang merugi.
jadi jika anda bilang “si A sukses karena MLM!”, maka itu berita lama untuk saya. yang lebih penting bukanlah fakta bahwa si A sukses karena MLM, melainkan asal muasal si A mendapatkan keuntungannya.
Dengan demikian kini saya berkeyakinan bahwa MLM adalah salah satu bentuk money game terselubung…………….
saya sama sekali tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang sukses di MLM…………………
pada MLM, downline memberi manfaat kepada upline, tetapi untuk bisa ‘recoup’ manfaat tersebut, downline perlu mencarinya dari downline2nya
jika MLM yang dimaksud mementingkan rekrutmen daripada penjualan, maka dapat dipastikan secara matematis bahwa kelompok distributor pasti merugi.
wek ke ke ke mbah darmo!!!
saya belum pernah menemui MLM yang anda bahas diatas! bisa disebutkan(pasti gak mau)?sms aja
jangan jangan ….
biasanya koment koment seperti diatas memang dari orang yang punya keterbatasan waktu membedah masalah,
orang orang yg saya sebutkan diatas memang bukan dari MLM(kalo dari sana namanya kalo tidak salah tdk obyektif)
tapi mereka mempertaruhkan namanya membahas MLM(yang kalo itu semata2 money game yg nota bene dilarang) pasti mereka takut. ato pura pura membahas tapi hanya membahas SATU POINT (ttg uang) yg bagi orang awam memang tidak terbiasa dengan
1.investasi
2.impian /goal
3.tidak mengerti bagaimana memulai bisnis
tanpa modal besar (hanya perbaikan demi perbaikan diri dan mau belajar)
maka kalo ada satu sistem maju yang dengan bekerja keras,walaupun dengan modal kecil akan sukses,maka sistem itu dipikir tidak logis(seperti pada waktu kecil saya tertawa melihat TV yg memberi tahu bahwa jam tangan bisa utk komunikasi) !!!

#246:
sebenarnya, semua MLM yang pernah saya pelajari tidak termasuk kriteria baik. MLM yang mana? silakan baca komentar2 sebelumnya.
daripada membahas saya, lebih baik anda jelaskan bagian mana dari tulisan saya yang menurut anda salah.
sebuah skema yang sustained yield-nya di bawah 0%, maka tidak dapat disebut sebagai sebuah investasi.
ini mungkin salah satu masalah terbesar dari MLM. terlalu menjual mimpi yang tidak realistis.
kalau baik buruknya suatu usaha dinilai hanya dari ‘modal kecil bisa sukses’, maka maling dan korupsi juga adalah ‘usaha’ yang baik. lebih jauh lagi daripada itu, baik buruknya suatu hal harus dinilai bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi darimana hasil akhir itu didapat.
saya tidak menyangkal ada yang bisa ‘dengan modal kecil jadi sukses’ melalui MLM, tetapi lebih jauh lagi, sebelum menilai baik buruknya, kita harus terlebih dulu menelaah darimana asalnya keuntungan tersebut. suatu keuntungan tidak akan ada artinya jika keuntungan tersebut berasal dari kerugian pihak lain.
quote:
Pada beberapa presentasi MLM yang saya ikuti (atau lebih tepatnya menjebak saya), mereka selalu melecehkan sistem penjualan door-to-door. “Untuk apa menjual seperti sales keliling, jika dengan merekrut distributor baru kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak?” Padahal pada kenyataannya sistem penjualan langsung ke masyarakat tanpa mengajak mereka menjadi distributor ternyata jauh lebih menguntungkan bagi kelompok distributor secara kolektif.
Singkatnya, menjual produk ke masyarakat non distributor sebanyak-banyaknya adalah sebenarnya yang harus dilakukan oleh kelompok distributor secara kolektif. Tetapi secara individu, merekrut masyarakat untuk dijadikan distributor jauh lebih menjanjikan.
jawaban:
maap pak. Anda tidak menjalankan network marketing, maka tidak mengerti bisnis ini. Dalam buku tahun pertama anda dalam network marketing, karangan mark yarnell dan rene yarnell, disebutkan bhw yg lebih banyak menjual saja dibanding membangun jaringan jarang ada yang berhasil. Anda perlu pahami dulu bhw networking adalah satu usaha yang unik tidak seperti sales yang dilakukan umumnya.
#248: