Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah
Bulan lalu, Tabloid Kontan Edisi Khusus membahas asuransi unit link. Salah satu artikelnya membahas perbandingan asuransi unit link dengan mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah. Kontan membuat ilustrasi dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
- Produk asuransi jiwa + kecelakaan, nasabah diilustrasikan meninggal dunia pada tahun keenam.
- Uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 50 juta dan bonus 20 juta.
- Besar setoran premi per tahun Rp 10 juta
- Instrumen investasi pendapatan tetap dengan asumsi keuntungan 14% per tahun.
Menurut perhitungan Kontan, dengan unit link uang pertanggungan yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 105.040.000. Sedangkan jika mengambil terpisah, uang pertanggungan yang akan dibayarkan sebesar Rp 122,1 juta.
Kesalahan Perhitungan Tabloid Kontan
Walaupun demikian ada kesalahan perhitungan yang dilakukan Kontan. Menurut perhitungan saya seharusnya bukan Rp 122,1 juta, tetapi hanya Rp 63,3 juta + Rp 50,4 juta = Rp 113,7 juta. Selain itu asuransi yang digunakan Kontan berjenis whole life, sedangkan seharusnya yang diambil adalah yang berjenis term life. Pada ilustrasi yang dilakukan Kontan tersebut, nasabah membayar premi sebesar Rp 1.6 juta per tahun untuk uang pertanggungan Rp 50 juta. Sebagai perbandingan, besar premi asuransi term life untuk pria umur 30 tahun dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanyalah sebesar sekitar Rp 150 ribu per tahun saja. Selisihnya yang besar tersebut tentu lebih optimal jika disetorkan ke reksadana.
Di luar itu semua, saya tidak setuju dengan benchmark seperti ini karena hanya memperhitungkan satu skenario saja. Masih ada banyak skenario lainnya yang mungkin muncul dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ekstrim, saya bisa saja menggunakan uangnya untuk mengambil asuransi term life dengan uang pertanggungan sebesar Rp 1 milyar. Dan dengan skenario meninggal pada tahun ke-6, uang pertanggungan yang diperoleh jelas sangat jauh melebihi dua ilustrasi yang disajikan Tabloid Kontan tersebut, tetapi bukan berarti keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik.
Reaksi Agen Asuransi Unit Link
Sebagai pengamat asuransi dadakan, mau tidak mau saya terlibat pada perang opini. Apalagi artikel saya Asuransi Unit Link vs Reksadana –yang disinyalir mirip dengan artikel di Tabloid Kontan tersebut– kerap kali dijadikan bahan referensi oleh banyak pihak di berbagai forum.
Reaksi agen asuransi unit link pun bisa dengan mudah ditebak, mereka langsung mengeluarkan apa yang mereka anggap sebagai kartu as mereka, yaitu rider payor.
Pada asuransi jiwa ada manfaat yang namanya waiver of premium. Manfaat ini akan membebaskan pembayaran premi sampai batasan-batasan tertentu jika nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis atau tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya. Lebih jauh lagi, pada unit link manfaat payor bukan hanya akan membebaskan pembayaran premi asuransi jiwa, tetapi juga akan membebaskan setoran pada porsi investasi.
Jika pada ilustrasi unit link yang dilakukan Kontan tersebut di atas ditambahkan skenario nasabah menderita penyakit kritis dan polis unit link dilengkapi dengan perlindungan penyakit kritis serta payor, maka unit link-lah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.
Menggantikan Manfaat Payor Jika Mengambil Terpisah
Jika nasabah mengambil asuransi dan reksadana terpisah, jelas tidak ada layanan yang sama persis seperti payor pada unit link. Tetapi tidak sulit untuk mengambil manfaat yang setara dengan cara melakukan kompensasi berupa penambahan manfaat pada manfaat dasar dan penyakit kritis yang nilainya setara dengan payor di unit link.
Untuk menghitungnya cukup dengan menggunakan rumus standar ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ (present value of an annuity). Hal ini bisa dihitung secara manual, menggunakan fungsi PV() pada spreadsheet, atau menggunakan salah satu dari sekian banyak layanan kalkulator finansial yang ada di Internet.
Contoh soal: Pada sebuah polis asuransi unit link terdapat manfaat payor yang akan membayarkan Rp 12 juta setiap tahunnya sampai nasabah berusia 65 tahun jika nasabah didiagnosis menderita penyakit kritis. Sebagai informasi, usia nasabah saat ini adalah 35 tahun dan diasumsikan perkembangan investasi adalah sebesar 8% per tahun. Pertanyaannya, jika seandainya nasabah mengambil asuransi term life dan reksadana secara terpisah, berapa besar uang pertanggungan yang harus ditambahkan ke manfaat dasar dan penyakit kritis guna untuk mendapatkan manfaat yang setara dengan payor tersebut?
Jawaban: Gunakan rumus ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ dengan parameter-parameter suku bunga sebesar 8%, jumlah periode 65-35=30 dan besar pembayaran periodik Rp 12 juta. Jawabannya adalah Rp 135 juta.
Dari contoh tersebut, setelah mendapatkan uang pertanggungan, nasabah bisa menyetorkan Rp 135 juta secara sekaligus ke sebuah instrumen investasi dengan perkembangan 8%. Kemudian nasabah bisa saja menarik dana sejumlah Rp 12 juta setiap tahunnya dan uang tersebut tidak akan habis sampai nasabah berusia 65 tahun.
Praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja jika seandainya yang bersangkutan mengambil manfaat payor dari sebuah asuransi unit link.
Perbandingan Versi Saya
Dalam rangka memperingati Hari Asuransi 18 Oktober 2007 dan untuk menghilangkan segala keraguan di antara kita semua, maka kali ini saya ikut-ikutan membuat ilustrasi perbandingan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
- Budget sebesar Rp 9 juta per tahun
- Perkembangan investasi sebesar 17% per tahun
- Suku bunga deposito berjangka sebesar 6.5% per tahun (untuk keperluan perhitungan manfaat yang setara dengan payor)
- Manfaat kematian sebesar Rp 500 juta
- Manfaat penyakit kritis sebesar Rp 250 juta yang memotong manfaat kematian.
- Unit link menggunakan rider payor sebesar Rp 9 juta/tahun yang akan dibayarkan sampai nasabah berusia 55 tahun setelah nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis.
Perbandingan dilakukan selama 20 tahun. Sepanjang 20 tahun tersebut, asuransi term life dalam ilustrasi saya selalu memberikan manfaat yang paling tidak setara dengan yang diberikan oleh unit link. Perlu diperhatikan pula dalam beberapa kasus di ilustrasi ini, term life memberikan manfaat asuransi yang lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link. Walaupun dengan handicap seperti ini, mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah ternyata tetap bisa jauh mengungguli unit link secara terus menerus sepanjang periode. Pada akhir periode, reksadana + term life terpisah memberikan nilai tunai 37% lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link.
Data mentah spreadsheet dalam format OpenDocument dan Microsoft Excel.
Agen asuransi boleh saja terus berkutat dengan argumen “jika mengambil terpisah nasabah tidak akan mendapatkan manfaat payor“. Tetapi kenyataannya manfaat tersebut dapat dengan mudah direplikasikan jika nasabah mengambil terpisah, dan bukan hanya itu, hasil yang didapatkan masabah akan jauh lebih maksimal.
***
Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2007. Semoga Gerakan Sadar Asuransi tidak berhenti semata-mata pada tujuan memaksimalkan keuntungan bagi penjual produk asuransi, tetapi juga memberikan manfaat yang sepadan bagi nasabah asuransi.


(mungkin) pertamax!!!
dulu, baru baca
Lho… saya baru tahu lho kalau hari ini 18 Oktober adalah hari asuransi.
Ketigax! Hell aku jadi ketularan virus pertamax. Baca dulu ahh…
Aku ngikutin beberapa tulisan Pri tentang asuransi ini. Tulisannya reasonable dan secara pribadi aku setuju. Hanya saja aku masih ikut asuransi unit link karena dua hal:
1) Sudah terlanjur
2) Praktis
Alasan praktis sebetulnya bentuk kemalasan untuk melakukan-segalanya-secara-manual seperti yang disarankan Pri. Aku yang notabene masih sangat awam dunia keuangan harus meluangkan waktu lebih banyak untuk, 1) Ngitung-ngitung sendiri, 2) Menghubungi lebih banyak pihak untuk mengalokasikan dana, suatu hal yang bagi orang awam tidak mudah.
Sepertinya celah ini pula yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk memasarkan produknya. Seperti halnya banyak produsen lain memasarkan produk dalam bentuk “paket hemat” yang sebetulnya nggak bener-bener lebih hemat. Seperti alasan orang beli komputer Dell instead of rakit-sendiri-tanggung-sendiri-kalo-meleduk.
Ada baiknya hitung-hitungan Pri bukan sekedar dari angka nominal uang, tapi memasukkan (dan mengkonversi ke angka) unsur waktu, profil risiko, dan kecenderungan orang untuk tidak disiplin jika harus secara manual mendapatkan manfaat payor.
Halah, kok malah minta Pri ngitung lagi
Maap. Maap 
ikutan koment donk pak priyadiii… (yaahh… no.4 yaa???
)
dulu pernah dipaksa ikutan asuransi kecelakaan tuuh kalo bikin SIM, tapi ta tolak donk… ngurusnya ribettt !!! dan yang nawarinnya maksa lagi..
ini nyambung ama yang diatas ga ya??? gpp yaahh, yang penting bisa masuk di blog nya pak priyadi.. hehehe
emangnya ada hari Asuransi ya pak??? *bingung*
#4:
sebenernya gak perlu ngitung2 sendiri. masih lebih murah bayar orang ngitungin daripada beli unit link. dan sebenernya hitung2annya juga gak rumit kok.
soal subjektif itu sih masing2 saja. saya sudah kasih gambaran tentang overheadnya. jika biaya ekstra ini dianggap sebagai harga yang layak, ya silakan saja dibeli. tapi buat saya pribadi sih tidak, hehehe
unsur waktu: membeli term dan unit link itu sama repotnya. membeli reksadana jaman sekarang tidak lebih rumit daripada transfer uang ke akun bank dan fax bukti pembayarannya.
profil resiko: resiko investasi di unit link sama persis dengan resiko investasi di reksadana.
tidak disiplin: pengalaman saya disiplin itu gak bisa dibeli. dulu saya pernah punya polis unit link, tapi karena nilai tunainya gak sebanding dengan yang saya setorkan, saya jadi gak semangat dan akhirnya lapse juga. beda waktu saya beli reksadana, perkembangannya bisa dimonitor dari waktu ke waktu. dan jumlah unit saya gak pernah dipotong. saya jadi semangat mau nabung karena reward-nya bisa langsung terasa.
Waduh, saya masih kecil, ga ngarti ma beginian, hehe
kyknya Om pri jadi agen Asuransi sekarang…
“
Untung dulu kebantu buku “Personal Investment for Dummies”
Banyak jadi melek karena ini
pengen punya asuransi juga
gak ikutan asuransi secara sengaja
kecuali yg jd satu paket, spt asuransi yg jd satu ama SIM
hihiihihi
berasa de javu, kyk pernah baca artikel dgn tema ini di blognya andri gendut
dari udah sering di tawarin ikut asuransi, tapi sampai sekarang belum niat untuk ikutan asuransi, masih ragu, soalnya masih kurang pemahamannya
Persis seperti Mas Chen Hendrawan, saya juga udah terlanjur ikutan Unit Link, setelah bayar yang tahun pertama, saya menghubungi agen asuransi saya untuk menanyakan kemungkinan untuk menarik kembali uang saya, tetapi dia memberitahukan pada saya bahwa kalau dana di tarik sebelum tahun ke-lima, berarti dana saya tidak akan utuh diterima sesuai dengan yang saya setorkan. *gubrak*
Payah deh ikutan beginian tapi gak ngerti-ngerti amat sih, jadinya begini deh, terjerumus hehe.
Makasih buat artikelnya pak pri, btw ada rekomendasi kalau saya mau ikutan reksadana syariah dimana ya?
Om Pri, bahas soal yang syariah dong. Kan nanggung, mumpung di otak masih anget sekalian aja dibedah yang masih ada sambungannya.
Thanks
alumni 52, tugu
ngomong-2, asuransi jenis apa sih yg sebenarnya diambil sama mas priyadi ini? atau, investasi apa yang dilakukan? moga-2 direply…
yang ke berapa ya?
ikutan asuransi ah,,,
salam semua.
#13:
untuk reksadana syariah bisa coba PNM atau trimegah.
#14:
wah, nanti deh. lagian bahasannya beda banget kok
#15:
sama seperti yang pernah saya tulis. asuransi ambil term life. investasi ke reksadana saham + emas.
Makasih banget mas Pri, salut deh! Hehehe, akhirnya ada amunisi (+itungan2nya) buat menghadapi sales asuransi yg ngeyel “Lho pak ini kan sekalian investasi”, investasi tai kucing kali
Pokoknya nanti kalau aku dapat tawaran asuransi lagi aku ngontak Priyadi. Bener ini.
Terima kasih atas infonya yang memberikan pencerahan soal asuransi
Walopun dibilang ngga rumit tapi kok makin kerasa rumit yah?
“
walaupun saya masih cukup bingung, uraian Mas Pri lebih mencerahkan saya. Terima kasih banyak. Wah, saya ingin belajar lebih banyak di sini
Klo boleh tahu,
Pak Priyadi milih asuransi term life & reksadana_nya apa ya??
(sebutin brand-nya dong)
#21:
di sini keliatan rumit karena saya berusaha seadil2nya untuk membandingkan dua produk asuransi yang berbeda. kalau nasabah casual gak perlu hitung serumit ini, dia hanya perlu menghitung berapa besar resiko yang perlu diserahkan ke asuransi.
#23:
term life: axa mandiri jiwa sejahtera
reksadana: fortis, manulife, PNM (semuanya saham)
Jadi teringat film konspirasi Sicko - Roger Moore ..
Nonton Deh, Om…
Halooo just want to say hello to Mas Pri
apa kabar?, bagaimana si kecil sudah bisa apa sekarang?
wassalam
-rosgani-
Soal manipulasi angka Mas Priyadi emang mantap. Untuk sesaat saya hampir terkecoh, sayangnya mas Pri melakukan 1 kesalahan, yaitu perbedaan UP.
Pada Unit Link, Mas Priyadi hanya memberikan UP 500 juta (meninggal) dan 250 juta (critical illness). Sedangkan pada Term Life, Mas Priyadi memberikan UP 588,7 juta (meninggal) dan 338,7 juta (ceritical illness).
Saya akan coba menjelaskan dengan analogi yang sederhana :
“Beli Avanza VS Numpang Omprengan Avanza + Reksadana”
Dalam hitungan yang Mas Priyadi berikan, seolah mengatakan begini :
- Naik mobil omprengan bisa dari BSD-Thamrin
- Pakai Avanza hanya dari BSD-Slipi
Perbandingan time value of money :
- Dengan naik omprengan, uang yang seharusnya dipakai untuk beli Avanza bisa diinvestasikan dan hasilnya puluhan kali lipat untuk masa depan
- Beli Avanza harus keluar duit banyak, belum dihitung biaya perawatan dan bahan bakar yang sekarang tidaklah murah
Pertanyaan :
“Kenapa orang yang punya uang memilih beli Avanza daripada numpang omprengan ?”
Jika Mas Priyadi mampu menjawab pertanyaan tersebut, maka jawaban yang serupa juga pada nasabah yang memilih Unit Link.
#28:
ini bukan manipulasi, dan sudah saya jelaskan secara sangat panjang lebar sekali baik pada posting di atas maupun pada ilustrasi. selisih UP antara term life dan unit link adalah untuk mengkompensasi manfaat rider payor yang ada pada unit link.
sebelumnya anda bikin ilustrasi dengan menambahkan rider payor pada unit link, tetapi tidak menambahkan sesuatu apapun pada term life+reksadana.
supaya perbandingan menjadi adil hanya ada dua pilihan:
1. melepas rider payor dari unit link; atau
2. menambahkan kompensasi yang setara dengan rider payor pada term life
karena anda selalu menghindar kalau saya minta anda untuk menghapus rider payor pada ilustrasi anda, maka saya gunakan pilihan yang kedua.
semoga menjadi jelas.
#28
Bung, emang dgn UP lebih gede, kita bayar premi term life ngga lebih gede? tapi ternyata, bayar untuk premi lebih gede dan yang anda bilang hangus itu pun kita masih lebih untung kok. hehehe
UP yg lebih gede itu untuk menkompensasikan payor yg ngga ada di Unit link.
klo mau UP nya sama coba anda buang semua rider nya, trus terserah anda mau bikin UP berapa dengan budget 9 juta. BERANI?????
Sebelum Mas Priyadi dan Mbak bravo ber-alibi dan berkelit lebih jauh, tolong jawab ini dulu :
Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.
#31 Saya akan mencoba menunjukan case-by-case, ketidak-tahuan kalian berdua sbg “pengamat asuransi” ttg asuransi jiwa Unit Link.
——————————————–
Coba brosing2 deh, hampir semua Independent Financial Planner menyarankan terpisah. Lagian kenapa banget anda kebakaran jenggot banget. Katanya bukan agen insurance ?
Priyadi berkata:
reksadana (saya=priyadi): fortis, manulife, PNM (semuanya saham)
Pertimbangannya apa, strateginya apa(buy and hold atau ga ?) ? knp ga satu MI aja ? dan beli dimana ?, Kalau perlu pa pri juga membahas reksadana hitung2anny…mencari return optimal dan loss minimal.
saya dah hitung2 return pd saat ihsg jatuh2nya (16 agustus 2007) ke 11 oktober 2007 (cuma dua titik) (perubahan IHSG 38.2246 % pada periode yg sama) :
dlm persentase :
1.mega dana saham 49.00079274
2.si dana saham syariah 47.02075054
3.trim kapital 45.75906284
4.pratama saham 45.33474134
5.rd trim syariah saham 45.31790331
6.bahana dana prima 44.23594317
7.fortis infrastruktur plus 43.99122021
8.phinisi dana saham 42.99958289
9.nam investasi agresif 42.60989097
10.si dana saham optimal 42.4015608
11.maestrodinamis 42.38728768
12.dana ekuitas prima 42.24559527
13.fortis ekuitas 41.50710746
dana ekuitas andalan 41.20794921
aaa top gainer equity fund 41.11364111
si dana saham 41.02081363
rencana cerdas 40.8815795
manulife dana saham 39.88373837
platinum saham 39.1183377
first state indoequity sectoral fund 39.04460792
abn amro indonesia equity value fund 38.77192531
pnm ekuitas syariah 38.61453579
danareksa mawar 38.23294909
schroder dana prestasi plus 38.11408999
danareksa mawar agresif 38.07623737
bni berkembang 37.8832875
mahanusa dana ekuitas 37.72188158
gmt dana ekuitas 35.76104746
grow-2-prosper 34.80660355
fs indoequity dividend yield fund 34.74113732
lautandhana equity 34.23272889
rd makinta mantap 33.23386639
euro peregrine equity 32.87327619
optima saham 32.62354491
syariah fortis pesona amanah 31.98313507
paramitra premium 30.70543468
dana sentosa 30.65718203
capital equity fund 29.12752119
panin dana maksima 26.33002846
big nusantara 24.02206312
reliance equity fund 23.59348121
rd saham bumn 23.27077748
nikko saham nusantara 21.41059028
big palapa 21.31201289
Sedang CIMB syariah saham, belum masuk hitungan,,.. tp dalam sebulan (10/09/07 ke 11/10/07) dah return 29 % dia
# 31
Analogi anda lucu sekali dan walaupun ngga relevan, akan saya jawab. menjawab ini saya suka sekali hehehe
Ngga semua orang beli avanza walaupun org itu punya uang banyak.
Mau contoh?
hihihi, saya sendiri ngga punya mobil, walaupun untuk beli mobil uang saya jauh lebih dari cukup walaupun untuk beli BMW sekalipun apalagi cuma avanza.
Mau tau kenapa?
Alasan 1. jakarta macet, bensin mahal, parkir mahal.
dengan naik angkot (sekali2 naik taxi) kalo macet buat saya jauh lebih fleksibel naik angkot krn saya bisa turun dulu dan jalan sambil berolahraga baru naik angkot lagi klo udah ngga ketemu lancar.
Alasan 2. Saya blom merasa butuh mobil. ngapain pula saya beli pada saat blom butuh. Mendingan uang saya puter di bursa saham dan reksadana. Dengan modal uang setara 1 mobil dalam sethn dapet 2 mobil, kan jauh lebih menarik? kalo saya beli mobil maka modal saya habis cuma demi yang nama nya GENGSI (karena saya ngga butuh)
Inti nya ngga semua org BELI MOBIL walaupun MEREKA SANGGUP UNTUK ITU. saya buktinya JAUH LEBIH SUKA NAIK ANGKOT DARI PADA BELI AVANZA’
Btw, udah baca the millionaire next door? buku bagus yg mengungkapkan survey tentang kebiasaan org2 kaya di amerika hehehe.
#33
Kalo saya pake metode nabung rutin perbulan, trus masuk market pas lagi crash (seperti minggu2 ini rasanya akan big correction). trus hold minimal 10 thn.
Semoga membantu
#31: untuk om firesquid, silakan saja kalau mau buat ilustrasi tandingan. terserah mau UP berapa. syaratnya cuma satu. anda harus memperhitungkan skenario sepanjang periode seperti yang saya lakukan. bukan hanya memperhitungkan satu skenario saja seperti yang sudah2.
#33:
strategi buy and hold, top up tiap bulan. ambil manulife karena tidak ada load fee dan dulu belinya paling mudah (daftar langsung ke cikini). ambil fortis karena performance lebih tinggi dan management fee lebih rendah, dan bisa beli lewat internet banking commonwealth. beli pnm karena saya dapat deal potongan load fee.
Ternyata Priyadi orang kaya ya… hmmm… punya segitu banyak uang… dari mana yaa….
#38
Pembahasan udah ngga relevan lagi deh kayanya. Kok jadi nyerang pribadi?
Kalo ngga setuju dgn pendapat pak priyadi, counter pake logika dong…
atau jgn baca sekalian kalo ngerasa terganggu.
gimana mau conter pake logika wong ada unsur kepentingan dia . Maju terus Mas Pri

Mas Priyadi, ini benar2 cara cerdik u/ membuat perbandingan. Setelah liat excel-nya, kuncinya ada koreksi premi & manfaat meninggal. Excellent job.
Ternyata Unit Link rata2 20% lebih tinggi dari manfaat meninggal Terpisah. Saya hitung lagi, walaupun dengan biaya pengelolaan & penarik RD 1%, Terpisah masih lebih tinggi rata2 16% dr Unit Link.
20% dan 16% ini adalah “premium” Unit Link yg dicomot dr manfaat Terpisah. Namanya juga bisnis, pasti ada untungnya.
Boleh saja. Ini kan pertimbangan Anda yang NGA PUNYA MOBIL dan NGA MAU BELI MOBIL.
Bagaimana dengan pertimbangan orang yang PUNYA MOBIL?
Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.
Sama seperti pertimbangan orang yang memilih beli mobil sendiri daripada naik omprengan. Kalau mas Pri menganjurkan naik omprengan seumur hidup yah boleh saja, tapi tidak semua pertimbangannya demikian.
Ada hal lain yang tidak bisa dinilai dengan uang. Dan di tulisan blog lainnya Mas Priyadi pernah mengatakan mahalnya komisi agen, itu juga pendapat Mas Priyadi pribadi.
Saya sudah menghitung komisi agen cuma 15% dari total premi yang disetorkan. Tapi karena Mas Priyadi tidak ngerti ttg Unit Link, menuliskan 205%.
#42
Boleh saja. Ini kan pertimbangan Anda yang NGA PUNYA MOBIL dan NGA MAU BELI MOBIL.
Bagaimana dengan pertimbangan orang yang PUNYA MOBIL?____________________________________________________
Ngapain juga pake analogi MOBIL.
jelas2 beli mobil beda dgn beli asuransi.Jangan2 anda sendiri ngga tau bedanya? jadi ragu nih……sebenernya anda beli asuransi buat apa sih? biar CEPET KAYA? hehehe………BIAR HIDUP NYAMAN……?
karena anda suka sekali analogi AVANZA, sekarang saya balik deh. klo di dealer A jual AVANZA + aksesoris X harganya 150 juta., trus dealer B jual AVANZA dgn harga 80 juta dan dibengkel B juga dijual aksesoris X seharga 20 jt. Anda pilih yang mana?
dari tulisan anda seolah2 SEMUA ORANG punya uang harus beli AVANZA daripada NAIK OMPRENGAN.
Seolah2 semua org yg punya duit HARUS punya asuransi dan asuransi tsb berlabel UNIT LINK.
hehehe, kebutuhan setiap org beda mas, baik itu terhadap brg konsumsi(mobil), investasi maupun asuransi.
Dan ingat kita semua adalah NASABAH yg mencari deal terbaik, kita bukan agen asuransi atau sales reksadana atau apapun yg punya kepentingan terhadap produk yg dijual.CUMA NASABAH BIASA yg menurut kita beli terpisah jauh lebih menguntungkan buat arus kas kita. kalo anda ngga berkepentingan untuk JUALAN UNIT LINK, kenapa pula anda begitu sewot dan ngototnya?
#42:
anda yakin? karena menurut pengalaman saya dan rekan2, orang ikut unit link terutama karena tidak tahu kalau mereka punya alternatif untuk beli sendiri. agen unit link ‘lupa’ untuk memberi tahu kalau layanan yang mereka berikan hanyalah layanan nilai tambah yang tidak perlu dibeli jika nasabah tidak memerlukan atau menginginkannya.
silakan saja nasabah ambil unit link selama dia merasa ‘nilai tambah’ yang diberikan agen sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
total biaya akuisisi unit link P** adalah 205% dari setoran premi tahunan. sedangkan ada mungkin menghitung dari total bayaran premi setelah 10 atau 20 tahunan.
sebagai tambahan, saya sudah hitung potensi kehilangan pendapatan jika biaya akuisisi dikenakan dengan struktur 100% 60% 15% 15% 15% untuk 5 tahun pertama vs 15% untuk selamanya, detailnya bisa dilihat di: http://schtuff.priyadi.net/asuransi/biaya-akuisisi.xls. tetap jauh lebih rugi jika biaya akuisisi dikenakan di awal2 tahun pembayaran premi.
Masukan dari Fin. Planner yang aku kenal (sering ngisi acara di Hardrock FM):
Buat yang terlanjur beli unit link, JUAL sekarang!! daripada rugi lebih jauh
by Firesquid
Dari segi harga vs UP yang diterima, memang benar di asuransi tradisional lebih murah. Tapi orang ambil Unit Link bukan karena faktor murah atau mahal. Melainkan kenyamanan dan praktis.
——————————————————
Bro aku kira kenapa kok orang banyak pilih unitlink bukan hanya karena nyaman dan praktisnya lho… dari 5 orang temen yg ikut semua pada ngak ngerti tentang reksadana… dan tidak ada pilihan selain unitlink dg nabung 300 rb bisa buat investasi. jadi menganggap unitling adalah bentuk investasi yg lebih baik dari deposito.. (karena tolak ukurnya hanya bunga bank dan deposito). Jadi bisa kita katakan hampir 99,9% dari 5 temen yang memilih unitlink karena Tidak mengerti dan tahu bener tentang unitlink ama RD ini.
kalo mau bicara praktis Reksadana =
1. di bank commanwealth setor minim 2Jt bisa beli banyak macam RD….. kayak dari Fortis, manulife, schoder… (ini pemegang dana terbesar RD di indonesia)
2. bisa beli lewat internet banking dan jual tinggal fax di transfer deh uang kita ke rekening kita.. ( kalo mau jual beli RD yg online di HSBC tapi minimal 50Jt) jg banyak pegawai yg ngak sangup rasanya.
3. DI bank Mandiri juga lagi dibuka RD dg minimal setor 1jt dan pembelian selanjutanya (top up) minim dari 100rb, 250rb, 500rb.
#45
Sama, dari buku2 ttg perencana keuangan yg banyak saya baca (terbitan luar maupun dalam) juga menganjurkan beli asuransi berjangka(TERM)
Ra mudeng
mas
terima kasih pak priyadi.. tambah mantap aja nih ikut RD ama beli asuransi….. hehe
#42 Om Firesquid
Kayaknya perlu baca buku ekonomi teknik lagi
Analogi anda kayaknya NGAWUR. Walaupun Mbak Bravo dah menjawab, kayaknya anda tidak akan puas. Lah NGAWUR. Anda tidak menggunakan logika dengan baik dan benar.
Coba jawab pertanyaan saya: “Atas dasar apa anda meng-analogikan UL vs BTAID dengan AVANZA vs OMPRENGAN?”
Lagian Unit Link anda cuma 500rb/bln (dari cerita anda sendiri). Tanya kenapa?
Kalau anda yakin dengan kelebihan Unit Link, masukkan saja semuanya ke Unit Link. Toh ada Reksadana juga di dalamnya (bisa dipilih).
Repot mana: Beli Unit Link + Instrumen Investasi dengan Term Life + Instrumen Investasi???
Saya pribadi membeli mobil untuk GENGSI (makan tuh gengsi)
Saya beli Accord yang CC-nya besar padahal cuma dipake sendiri. Sebenernya Jazz atau Estillo lebih murah dan irit. Motor malah lebih enak
(kadang saya masih suka bawa motor juga sih). Untuk keluarga saya pilih Innova. Klo untuk Off Road, Wrangler. Ini gak bisa dianalogikan dengan Unit Link atau BTAID. Enak saja.
Tapi membeli Unit Link dan BTAID kan gak ada hubungannya dengan gengsi (atau ada ya?). Saya memiliki planning (misalnya):
1. Punya anuitas 20jt/bln setelah umur 55 thn (dengan inflasi 5%, 20jt pada 25 thn lagi ~ 6jt saat ini).
2. Punya uang sejumlah tertentu saat anak masuk SD, SMP, SMU, dan PT (kalau bisa lebih tinggi dari biaya sekolah saat itu, minimal sama lah).
3. DLL
Nah planning di atas lebih mudah dengan UL atau BTAID??? Itu saja yang penting. Polis Asuransi tidak akan saya pajang di ruang tamu atau dimanapun. Paling saya taruh di SBD (Safe Box Deposit).
Gak mau ribet itu kan senjatanya agen asuransi. Yang punya duit mau aja tuh ribet sedikit. Temen yang jadi supplier buah dan sayur ke supermarket mau aja tuh ribet2 nyari cargo yang murah, nyari packing yang murah, dll. Karena setiap margin yang didapat sama dengan profit. Gak karena mau praktis dia minta 1 agen untuk mengurus semuanya. Kalaupun dia mambayar orang untuk mengerjakan semua, pasti dipilih yang paling cost effective (ngerti gak?) Dan UL buat saya tidak Cost Effective.
Orang yang ngerti Reksadana tidak akan tertarik dengan UL. Percaya deh.
Dulu menyamakan TAXI dengan BAJAJ. Sekarang AVANZA SENDIRI dengan AVANZA OMPRENGAN. Gak bisa dong. Logikanya kemana???
Saya punya mobil Mas. Tapi pertimbangan membeli mobil atau naik omprengan jauh panggang dari api dengan pertimbangan membeli UL vs BTAID.
Kenapa harus pake analogi segala?
Analogi Mbak Bravo masih lebih logis (tapi mending gak usah analogi-analogian, bandingin aja langsung)
Analogi di atas lebih pas.
Nih gambarannya:
1. PT XXX menjual Term Life dan Unit Link. Unit Link dia porsi investasinya diserahkan ke Schroeders.
2. Tunas Motor menjual Avanza Standard dan Avanza Full Accessories. Accessoriesnya dikerjakan di Salon Mandiri.
Seharusnya dengan membeli 1 paket harga bisa lebih murah, tapi ternyata tidak….Harga Avanza Standard 105jt, aksesoris+pemasangan 20jt. Harga Avanza plus aksesoris 150jt. Ya seperti Mbak Bravo, saya pilih bawa sendiri Avanza Standard saya ke Salon Mandiri. Hemat 25jt. Hasil akhirnya sama saja.
Orang yang membeli Avanza Full Aksesories dari Tunas Motor kebanyakan tidak tahu bahwa mereka bisa membeli Avanza Standard dan membawanya ke Salon Mandiri dengan harga jauh lebih ekonomis.
Agen asuransi cuma menunjukkan kelebihan Avanza Full Aksesoris dan mengatakan ke nasabah bahwa beda harga Avanza Standard dan Avanza FA yang 45jt adalah wajar. Sering saya dengar agen unit link membandingkan unit link dengan asuransi biasa (term life). Sangat tidak fair.
Yang mau ambil Unit Link saja jadi mundur waktu saya sampaikan tabel perbandingan UL vs BTAID. Kalau semua orang (calon nasabah) tahu fakta seputar UL vs BTAID, kita bisa lihat berapa banyak yang masih mau membeli UL dengan kondisi seperti saat ini. Lain cerita kalau ternyata beda UL vs BTAID cuma di biaya administrasi 50rb/bln. Mungkin masih menarik.
Teman saya ada yang tergoda membuka Tabungan M** R** dari Bank M** karena diiming2i hadiah motor dan gratis asuransi. Begitu saya cek Term & Conditionnya dan di FV, ternyata motor dan asuransinya itu tidak benar2 gratis
Nice try… That money must come from somewhere…
Are you sure???
Kenyamanan dan Praktis. Suatu yang sangat subyektif dan kualitatif. Agak sulit meng-kuantifikasi-nya.
Jika saya punya Unit Link di XXX dan Reksadana di Schroeders, kira2 mana yang lebih MUDAH dan MURAH dicairkan??? Reksadana di Schroeders atau porsi investasinya Unit Link???
Bukannya lebih ribet ya di Unit Link??? Lebih mudah nyairin JAMSOSTEK kaleee
Ada kasus seperti ini:
Ada orang yang mau jual murah rumahnya (jual butuh 200jt saja). Harga rumah itu normalnya 350jt. Kalo kita punya reksadana tinggal cairkan dan beli rumah itu. Kita bisa jual 300jt. Masukkan lagi ke reksadana. Kalo Unit Link??? Bisa saja…Tapi….??? Kalo nilai investasinya saat itu pas cuma 200jt???
Praktis heh…???
Tadinya mo bilang,
Kayaknya seh unit link itu buat orang-orang yang dah males ngurusi duitnya…
Misal unit link paling cuma lost 10jt/month dengan income 1M dan investasi lain 5M rada malas dia mungkin untuk mengurusi tetek bengek asuransi….
But then again, gue bukan orang kaya jadi gak bisa bilang begitu…hehehe…
Ilustrasi mas rachmat 2 terakhir ini menarik….Especially tentang pencairan Unit Link…
Tapi bener seh, kalo diimingi sesuatu yang gratis kudu mikir dua kali….Ini gratisnya dateng darimana?….
Gratis dari duit kantong ndiri tanpa discount, gratis karena discount, ato gratis dari duit orang lain (undian)…keh keh keh…
DON’T EVER BUY anything else other than TERM LIFE.
WHOLE LIFE or any INVESTMENT LINKED LIFE INSURANCE is very front-end load heavy. Plus, they are never going to reveal the truth about what’s going on inside their investment house.
Learn about INVESTMENT from Malkiel. Do-It-Yourself. Buy no-front-load index fund. Or if you have a lot of money to invest, learn from Warren Buffet. Invest in businesses.
PS: Think like a Jew: “Don’t trust anyone to handle your money”. Take the responsibility to yourself only.
title terbaru Priyadi : Pakar Asuransi Unit Link vs Terpisah.
Kontan salah hitung… itu biasa…
Kontan suka ada errornya kok…
Lah kan Firesquid pernah bilang kalo dia adalah ‘calon agen‘. Ya kalo belum jadi agen sudah ada penghalang seperti ini ya jadi lebih berat kerjanya kan?
Coba kalo postingan Priyadi pro Unit Link. Kan minimal opini yang terbentuk lebih mendukung.
Amin.
Ngurus asuransi akan jadi seperti ngurus tabungan / deposito di bank jika kita memang sudah ‘melek asuransi‘
Untuk mobil bisa ambil TLO atau AR. Untuk rumah ada kebakaran, kebanjiran, kebongkaran (kemalingan), dll. Untuk diri dan keluarga bs Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, dll sesuai Kebutuhan, bukan gengsi kayak pas beli mobil.
Untuk investasi, banyak macam dan ragamnya. Reksadana Saham bisa jadi yang paling menarik saat ini. Saya kenal pensiunan VP perusahaan minyak yang saat ini aktif sharing’Berternak Uang di Pasar Saham‘.
Bisa juga invest di properti (tanah, rumah, ruko, dll). Atau emas (perhiasan/koin). Atau Forex.
Gak menutup kemungkinan juga invest langsung ke Saham (bukan reksadana saham lagi).
Atau di-deposito-kan saja per bulan ARO. Kalo perlu tinggal dicairkan saja.
Nah…Kalo sudah ‘cukup besar‘ investasinya, kita bisa menikmati passive income.
Misalnya kita punya dana 1M dan dimasukkan ke RDS dengan kinerja rata2 5%/bln. Return yang didapat 50jt. Kita bisa sisihkan (misalnya) 10jt untuk income kita. Sisanya akan menambah capital kita di RDS. Kalo return-nya kecil atau malah negatif (-)? Ya resiko lah. High Risk High Return.
Mau yang resikonya minimal ya ambil RD Fix Income. Dengan rata 12%/thn maka didapat 1%/bln. Tinggal dialokasikan saja berapa yang untuk nambah modal dan berapa untuk passive income.
Bisa juga digabungkan keduanya. Misalnya 50% RDS dan returnya ditambahkan ke modal, 50% RDFI dengan returnnya untuk passive income.
Atau dicampur sari dengan Emas, Property, dll. Misalnya 25% beli emas, 25% beli property, dan 50% sisanya RDS.
Mas Rachmat benar..
Idiom “yang kaya makin kaya, yang miskin …” sangat relevan.
Itu jg yang menyebabkan saya saat ini mengencangkan ikat pinggang satu lobang lebih ketat dari normal. Menunda kesenangan sesaat, untuk mencapai kemapanan finansial buat saya berikut istri dan anak2 di masa depan, ikut asuransi term life dan invest sedikit recehan yang tersisa di reksadana.
Mudah2an prinsip sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit bisa terwujud.
Amin..
Itu menurut Anda. Kalau saya masih belum sanggup gengsi-gengsian. Saat ini memang saya belum mampu beli mobil, Avanza yang saya punya masih pinjaman dari kantor. Saya berpendapat mobil digunakan untuk sarana transportasi. Tapi yang saya tau bawa mobil sendiri lebih nyaman daripada bayar omprengan tiap hari.
Saya baru baca di forum tetangga. Ada yang memberikan analogi yg bagus untuk Unit Link vs Term Life + Reksadana, analogi-nya sbb :
Unit Link = beli rumah
Term Life + Reksadana = ngontrak rumah + reksadana
Semua orang tau kok apa manfaat dari sebuah rumah. Baik sewa rumah ataupun beli rumah, manfaatnya sama saja. Sebagai tempat tinggal, melindungi penghuninya dari panas dan hujan.
Rata-rata orang pasti ngerti kenapa orang yang punya anggaran rela membayar cicilan tahunan yang mahal untuk dapatkan sebuah rumah daripada ngontrak rumah seumur hidup.
Saya memilih Unit Link juga karena prinsip yang sama. Saya memang bayar cicilan yang mahal. Tapi setelah 10 tahun saya tidak perlu setor lagi, dan saya tetap memiliki proteksi sampai tua.
Tapi hal ini kembali lagi ke masing-masing orang.
Saya baru ingat, waktu lebaran kemarin ketemu 1 teman lama yang perhitungan bgt soal uang, dan memilih ngontrak rumah seumur hidup. Padahal dia punya duit yang lebih dari cukup kalau mau beli 1 rumah di Jakarta. Katanya duit yang buat bayar cicilan rumah lebih baik diputar sendiri, dan lebih enak pindah-pindah tempat tinggal.
Mas Priyadi, Mas Rahmat, dan Mbak Bravo mungkin tipe orang yang sama seperti teman saya itu. Memang ada benarnya juga sih pemikiran spt itu.
Kalau saya pribadi.
mau masuk asuransi yang manfaatnya pasti di akhir asuransi (Habis Kontrak)
saya nggak mau, seperti teman2 yang terbuai dengan kata-kata “ASUMSI HASIL INVESTASI” yang begitu menggoda …
#58
Itu jg yang menyebabkan saya saat ini mengencangkan ikat pinggang satu lobang lebih ketat dari normal. Menunda kesenangan sesaat, untuk mencapai kemapanan finansial buat saya berikut istri dan anak2 di masa depan, ikut asuransi term life dan invest sedikit recehan yang tersisa di reksadana.
Mudah2an prinsip sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit bisa terwujud.
Amin..
——————————————-
#59
Rata-rata orang pasti ngerti kenapa orang yang punya anggaran rela membayar cicilan tahunan yang mahal untuk dapatkan sebuah rumah daripada ngontrak rumah seumur hidup.
_______________________________
masalah ngontrak rumah seumur hidup, siapa bilang?
pertama saya ngontrak, sisa uang cicilan saya investasikan dan kalo uang saya udah cukup saya beli rumah dong.Ini membuat uang saya bekerja dan beli rumah kita.
beli asuransi seumur hidup? OGAH AH…. ehe ehehe
pertama saya beli termlife dulu (ngontrak rumah), sisa saya nyicil untuk investasi, trus kalo uang saya udah banyak saya SELF INSURANCE (beli rumah sendiri)hihihi
Beli UNIT LINK? OGAH…. karena walaupun keliatannya punya rumah sendiri tapi tetap bayar CICILAN SEUMUR HIDUP yang diambil dari NILAI RUMAH. Lama kelamaan nilai rumah (aset investasi)saya malah turun karena digrogoti rayap (premi asuransi)yang semakin saya tua semakin gede.
#59
Saya memilih Unit Link juga karena prinsip yang sama. Saya memang bayar cicilan yang mahal. Tapi setelah 10 tahun saya tidak perlu setor lagi, dan saya tetap memiliki proteksi sampai tua.
________________________________
10 tahun ngga perlu bayar lagi? anda yakin? hihihi
belajar dulu deh polis unit link anda. cape dehhhh…..
Owh, 18 Oktober adalah hari asuransi toh.
Uhm, berarti anak saya lahir di hari Asuransi yah
*iyah, ini OOT*
Benernya saya nunggu ilustrasi si firesquid nih.
setahu saya ilustrasi insurance itu basicnya cuman 4.
- Nasabah idup sampe usia 99
- Nasabah kena criticall illness (akhirnya hidup atau mati)
- Nasabah kena cacat tetap
- Nasabah mati dengan sukses tanpa nunggu usia 99
Sebenarnya mau dimodel bagaimana sudah ada bempernya.
Perhitungannya simple banget. Kalo teori mas pri, anuitas direplikasikan kepada up termlife yang ditambah hasil hitungan present value of an annuity. Kalo kata orang asuransi namanya nilai ekonomis seseorang.
Sementara yang CI dan ADB sudah juga bisa direplikasikan di termlife.
Saya ini jadi ikut bingung. Sulitnya dimana, sehingga tidak bisa dimengerti dengan jelas.
Atau mungkin mas pri kudu menjelaskan seperti Safir Senduk. Setahu saya apa yang dia katakan sudah ada didalam otak kita selama ini. Dia hanya “nyentil” alam bawah sadar kita, dan Safir Senduk menjelaskannya dengan sangat simple. Sehingga seorang ibu2 pun tahu apa yang dimaksud perencanaan keuangan.
Bagaimana ? Setuju ibu2?
#65

Bagaimana ? Setuju ibu2?
——————————
C7
Sebenarnya, orang ngambil UL, atau term life + reksadana itu khan tergantung dari kebutuhan masing-masing. Walaupun ada yg bilang UL nggak menguntungkan (dibandinkan dengan Term life + RD terpisah), bukan hak seseorang untuk memvonis bahwa UL harus dijual, atau menyarankan nggak usah beli UL.
Saya sendiri punya UL, dan saya merasa fine-2 saja dg UL saya. Saya juga invest di property, kebun sawit + karet, dan juga saham (walaupun persentasenya sedikit), saya cuma mencoba untuk mendiversifikasi portofolio investasi saya. Kebetulan kami sekeluarga hidup dan tinggal di negeri orang, jadi bisa juga invest di forex, karena gaji yg saya terima dalam mata uang asing (yg fundamentalnya sangat kuat). Saya pilih UL karena merasa nyaman dan praktis, dan saya bisa konsentrasi penuh ke pekerjaan dan keluarga. Buat apa menghitung-2 uang hasil investasi kalau hal itu membuat pikiran dan hati kita nggak nyaman, terus dihantui oleh pergerakan saham, RD, dll. Jadi malah nggak berkah dech hidup kita.
So, saran saya. Nikmati saja hidup ini, yg penting rejeki kita barokah. barokah nggak ada korelasinya dengan kuantitas uang yg kita dapat (dari hasil investasi UL maupun term life + RD.
Saya bukan orang kaya, tetapi “merasa kaya” dengan apa yg saya miliki dan lakukan. Termasuk ikut UL yg kata orang “nggak menguntungkan”, yg penting saya masih bisa bayar zakat, kasih sedekah ke orang yg nggak mampu, menyantuni anak yatim, itu yg bisa bikin rejeki saya lancar. Bukan dari UL , RD, atau apalah…..
So, mari berpikir jernih dan gunakan hati nurani. Baik bagi Mas Pri blum tentu baik bagi orang lain, begitu juga sebaliknya.
O ya, saya lihat, perdebatan di blog nya Mas Pri ini cukup seru. Bahkan cenderung sudah “debat kusir” (CMIIW). Menurutku, nggak ada gunanya perdebatan ini dilanjutkan. Masing-2 kita punya preference dan argument yg beda-beda. Mari saling hargai atas apa yg dipilih oleh orang lain. BUkan hak kita untuk men”judge” bahwa suatu produk A lebih bagus dari produk B. Saya khawatir, walaupun perdebatan ini terjadi di ruang maya, akan lebih banyak membikin suasana nggak nyaman. So, mari saling hargai pilihan kita satu sama lain.