Bahan Bakar ‘Blue Energy’
Dalam satu minggu, Jawa Pos memuat beberapa artikel tentang yang diklaim penemunya sebagai ‘Blue Energy’:
Konon, ada seseorang yang menemukan bahan bakar ramah lingkungan. Sumber dasar bahan bakar ramah lingkungan tersebut adalah air laut! Dan ternyata, temuan ini sempat dipamerkan pada ajang Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali.
Sayangnya, dari semua pemaparan yang ada pada Jawa Pos, yang saya temukan hanyalah klaim-klaim semata. Klaimnya adalah bahan bakar ini berbahan dasar air. Selain itu sama sekali tidak ada penjelasan memadai bagaimana bahan bakar tersebut bisa diproduksi:
“Intinya adalah pemecahan molekul air menjadi H plus dan O2 min. Ada katalis dan proses-proses sampai menjadi bahan bakar dengan rangkaian karbon tertentu,” Untuk mesin dengan bahan bakar premium, solar, premix, hingga avtur, Joko mengaku telah menyiapkan bahan bakar pengganti sesuai dengan mesinnya. “Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya. Mau untuk mesin bensin, solar, sampai avtur ya sudah ada,” kata ayah enam anak itu.
Apa prinsip utama penemuan itu?
Pemisahan H plus dan H2 min dengan bantuan katalis-katalis dan proses tertentu sampai menjadi bahan bakar dengan jumlah ikatan karbon tertentu. Begini, ada C-C (karbon-karbon, Red) yang bergandengan, pacaran. Lalu kita ganggu, bagaimana kalau orang pacaran diganggu?
Tidak cukup meyakinkan? Saya pun berpikir demikian.
Sebenarnya bukan tidak mungkin mensintesis bahan bakar dari air. Yang paling populer dan mudah dilakukan adalah melalui proses elektrolisis, yaitu mengkonversi molekul air menjadi oksigen dan hidrogen. Namun, proses ini tentunya juga memerlukan banyak energi dalam bentuk listrik. Artinya proses ini hanyalah mengkonversi suatu bentuk energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dan tentunya energi yang diperlukan selalu lebih banyak daripada energi yang dihasilkan. Jika energi listrik tersebut berasal dari bahan bakar fosil, maka kita kembali lagi ke masalah semula. Air bukanlah sumber energi, setidaknya bukan dengan cara demikian.
Dugaan saya ternyata terbukti:
Sementara itu, Joko Suprapto mengungkapkan, blue energy bisa murah karena teknologi listrik yang murah pula. “Yang utama harus ada listrik murah. Kalau tidak, sama saja. Sebab, energi untuk membuat blue energy ini sangat besar,” ungkapnya.
Ternyata yang disebut sebagai sumber energi ini memang hanya mengkonversi satu energi dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Di tempat lain, penemunya mengatakan:
Ke depan, kata Heru, bahan bakar blue energy itu akan sangat membantu bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan. Sebab, dapat menghemat pengeluaran negara akibat subsidi BBM yang mencapai ratusan triliun per tahun. Ini dengan asumsi harga minyak dunia mencapai USD 90 ribu per barrel.
Jika ‘Blue Energy’ ini diproduksi masal, maka hal tersebut hanya akan memindahkan dana dari subsidi BBM ke subsidi listrik. Selain itu, PLN saat ini pun masih kesulitan untuk memenuhi permintaan dari masyarakat. Jika nantinya ‘Blue Energy’ ini diproyeksikan untuk menggantikan BBM, maka kita akan mendapatkan masalah lain.
‘Blue Energy’ memang dapat membantu dalam hal logistik energi jika memang proses tersebut dapat mengkonversi energi listrik menjadi energi yang dapat digunakan langsung pada mesin pembakaran internal dengan efisiensi yang lebih tinggi daripada teknologi yang sudah ada. Klaim ini tentunya harus dibuktikan melalui proses ilmiah yang benar. Sayangnya, bukan hal tersebut yang terlebih dahulu dilakukan, penemunya akan langsung melakukan tahap produksi yang didukung langsung oleh pejabat negara.
‘Blue Energy’ ini bisa benar bisa tidak. Walaupun demikian tanpa pembuktian yang jelas, saya pribadi tidak berharap terlalu banyak, dan besar kemungkinan hal ini hanya akan sedikit membuat malu nama Indonesia di ajang Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim. Mudah-mudahan tidak terjadi blunder lainnya di konferensi tersebut.
Update 7 Desember 2007
Kutipan dari Media Indonesia:
Blue energy merupakan jenis bahan bakar yang berbeda dari bahan fosil, karena blue energi tersusun dari hidrogen dan karbon tak jenuh sintetik yang dicampur BBM (Bahan Bakar Minyak) biasa.
Pernyataan tersebut kontradiktif karena BBM sendiri merupakan bahan bakar fosil.
Kutipan dari Blog Reuters:
The fuel is essentially a refined form of the liquid waste you get from oil drilling that would have otherwise have been pumped back underground. It has some element of hydrogen but it’s clearly not plain water.
Sama sekali tidak ada konsistensi dalam laporan media massa. Rasanya pemerintah terlampau tergesa-gesa dalam memberikan dukungan kepada proyek ini.
kayaknya harus dibuktikan secara ilmiah dulu deh, br bs dipake massal
Kalau memang bahan bakar alternatif itu berkembang. Trus bagaimana ya dengan nasib PERTAMAXXXX…
termasuk juga dengan Premiun, dan Solar
/
saya berharap banyak, optimis ajah
Artikel surat kabar biasanya jauh dari bahasa teknis, jadi agak sulit mengurai proses pembuatan Blue Energy dari sumber tersebut.
Kalo memang prinsipnya elektrolisis, itu tentu bukan hal baru lagi. Tapi anehnya koq bisa diikutkan di Konfrensi PBB Nusa Dua…
Thanks for the info! Menurut saya memang harus banyak dikaji, supaya valid ketika kita bikin klaim internasional.
#2
sama, kita sih cuma berharap aja
kalo belum liat dengan mata kepala sendiri, kok belum begitu yakin ya..
kalo butuh banyak sumber daya listrik untuk bisa memprodiksi tuh bahan bakar ya sama aja bohong.
Kalo saya liat di TransTV tadi malem tentang seorang bapak dari Sulawesi (kalo gak salah) yang bisa bikin mesin motor pake campuran bensin:air dengan ratio 1:4.
Dia praktekkan langsung cara mencampur dan mesinnya emang tetep tokcer dan bisa jalan/maju.
Cuma ya ga tau apakah tenaganya ngedrop apa tidak, bagaimana usia pakai sang mesin, dlsb.
Mungkin prinsipnya kaya kompor minyak campur air (see it somewhere - made in indonesia juga), apinya keliatan lebih bagus (biru) daripada kompor minyak biasa yang seringkali berwarna merah.
Beda dengan yang Wiki bilang ya?
yah, klo gitu sih keluar mulut buaya masuk mulut harimau dueh…
Kaji dulu lebih mendalam, jangan sampe “dapetnya baru dikit,ngomongnya dah banyak….”
Pemerintah sudah mengumumkan akan membatasi penggunaan premium
,
#9, Kalau bahan bakar dari air malah tambah susah deh kayaknya. Lha sekarang air mineral juga mahal kok
ada yang mo ngebahas lebih lanjut? Masih penasaran nih gw bacanya
Coba tengok disini:
http://auto.howstuffworks.com/salt-water-fuel.htm
Saya senang punya mas priyadi yang kritis terhadap banyak hal…Aku pikir kalau semua wong indonesia kayak mas pri pasti negara ini cepat majunya. Coba saya search di web lain tentang JS ini, wah beritanya dan teks nya persis. Tapi namanya politik….kadang kala butuh SURPRAIS…sensasi. Mudah 2 han gak memalukan aja.
Paling gak, ketergantungan pada energi fosil jadi berkurang.
Trus, gimana cara ngasilin energi listrik? Pake energi air??
Balik ke air lagi! =)
Bahas juga dong tentang Fuell Cell, yang katanya merupakan energi alternatif masa depan…
Kalo reaksi fusi yg menggunakan hidrogen, itu baru bener2 menghasilkan energi… hehehe.. kapan ya bisa diterapkan seperti itu?
Kalau proses elektrolisis kan baru merubah energi listrik menjadi bentuk oksigen dan hidrogen. Lha untuk merubahnya lagi menjadi energi gimana ? Ataukah seperti fuel cell ? Atau memang fuel cell ??? tapi katanya untuk menggantikan bensin kalau fuel cell kan langsung jadi listrik lagi. Di artikel disebutkan juga tentang rangkain karbon yang dapat di atur disesuaikan kebutuhan , bahan karbonnya dari mana yah ?
wah kayaknya emang harus lihat dan buktiin dulu deh baru percaya… kalo sekedar teori.. biar yang pinter2 aja yang mikirin.. saya mikirin yang lain aja, cari buat makan besok…
Yang aneh bagi Saya adalah, sudah banyak terdengar bentuk sumber energi alternatif yang ditemukan, termasuk yang sudah mulai diproduksi besar2an, yang berarti bukan hanya klaim semata. Namun, mengapa pengembangannya tidak digalakkan di masyarakat ? Apakah karena takut ntar Petroleum Industry Indonesia jadi bangkrut ?
Ingat Nutrisi Saputra? Kok modusnya mirip-mirip…
Mas Pri,
Mosok nyebut2 subsidi listrik,
emang mobil2 bertenaga listrik yang bertebaran di jalan,
perlu aliran listrik PLN ?
ya ndhak tho ?
khan langsung pake solar cell.
Artinya gak perlu subsidi listrik tho ?
iya, dari awal aku juga agak2 aneh dengan “Blue Energy” ini. Moga pak SBY tidak dipermalukan nanti
#24:
coba baca dulu tulisan saya
. untuk memproduksi bahan bakar ‘blue energy’ ini dibutuhkan listrik. gak ada hubungannya dengan solar cell.
#20:
hidrogennya dibakar
Jadi ingat pelajaran SD, bahwa energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Energi hanya bisa dirubah bentuknya dari satu bentuk energi ke energi lain.
Tapi bener juga, kalau proses pembuatan bahan bakar ini menggunakan banyak listrik, tetep aja boros di listrik
saya kok cenderung lebih memilih solusi lain untuk penghematan energi, karena BBM ini kan habisnya kebanyakan akibat masalah transportasi kita yang nggak beres. membludaknya kendaeraan pribadi akibat transportasi masal untuk publik tidak tersedia (yg tersedia pun tidak terawat).
dan yang pasti hasil penjualan ekploitasi sumber daya alam jangan dikorupsi … kan kalo masyarakat udah seneng, nggak bakal neko2 neko toh, apalagi minta subsidi, yang minta subsidi kan karena nggak mampu …
wait… emang air (H2O) punya ikatan karbon???
kalau ga salah ni ikatan kovalen (cmiiw)
lagipula gas hidrogen sangat ringan (golongan IA).
bisa po dicairkan dalam kondisi udara terbuka????
dari kutipannya aja bahan bakar ini bisa diisi langsung
“Ditemani Joko, Heru kemarin juga mengungkapkan bahwa untuk memakai blue energy, mesin tidak perlu dimodifikasi. “Sama sekali tidak perlu ada modifikasi apa-apa. Ini kami bawa mobil berlainan tahun, semua bisa pakai,” tandasnya.”
ga da informasi modifikasi penggunaan fuell cell maupun solar energi….
lalu yang dibakar itu apa???
wah apakah ini bakalan jadi kaya masalah nutrisi saputra ke dua, yang sama2 diambil dari laut???
cmiiw
Setidaknya orang - orang yang diberitakan diatas sudah mau melakukan sesuatu. Karena sebetulnya sangat jauh bedanya antara berkomentar dan bertindak. Dan tidak perlu skeptis menanggapi hal ini. Ingat iklan honda yang prototipe mobil hibrid berbahan bakar hidrogen dan oksigen yang beberapa saat lalu sering ditampilkan di TV? pada prinsipnya sama. dan prinsip reaksi fusi, kesulitan utamanya adalah bagaimana menghasilkan reaksi fusi itu pada kondisi mendekati ideal, karena memang untuk terjadinya reaksi fusi dibutuhkan energi “pemicu”, tetapi energi yang dihasilkan lebih besar dari energi yang dibutuhkan karena energi yang dihasilkan diperoleh dari energi ikatan atom pada molekul. Jadi hal seperti diatas sama sekali bukan teori ngawur tanpa alasan, apalagi disebutkan disitu menggunakan katalis yang kita tahu bisa mengubah rantai reaksi.
walau bagaimanapun pak joko dah susah payah loh meneliti…..,
kurasa segala yang dikerjakan dia, mesti dihargai
ya mudah2an penurunan pencemaran lingkungan bakal benar2 terjadi dengan adanya blue energy itu
Saya sih memang agak skeptis…. Saya lebih salut dengan ‘penemuan’ seorang mekanik(?) yang bisa menjalankan sebuah motor (4tak) dengan campuran bensin 1 bagian dan air 4 bagian. Sudah sering ditayangkan di TV dan kalau tidak salah beliau juga sempat mempresentasikan ‘penemuannya’ kepada Bapak SBY
Andaikan energy kilat/petir bisa disimpan
“
Untuk Sdr. Priyadi cepat mengangkat isu ini, karena dapat menjawab rasa penasaran saya perihal blue energy yang masih hangat ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak Joko Suprapto, saya setuju dengan opini Sdr. Priyadi bahwa penemuannya masih meragukan. Pemberitaan Jawa Pos terkesan meninabobokan masyarakat. Semestinya Jawa Pos mengulas juga dari segi logika keilmiahannya. Trims Sdr. Priyadi.
Untung Sdr. Priyadi cepat mengangkat isu ini, karena dapat menjawab rasa penasaran saya perihal blue energy yang masih hangat ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak Joko Suprapto, saya setuju dengan opini Sdr. Priyadi bahwa penemuannya masih meragukan. Pemberitaan Jawa Pos terkesan meninabobokan masyarakat. Semestinya Jawa Pos mengulas juga dari segi logika keilmiahannya. Trims Sdr. Priyadi.
Nganjuk, tak hanya hadir di acara Srimulat, tapi juga prestasi dunia. Saya lahir dan dibesarkan di sana. Nganjuk memang kota kecil yang sering dijadikan bahan lawakan. Tapi orang Nganjuk dilahirkan bukan untuk dilecehkan. Ijinkan saya suatu saat nanti bisa membesarkan namamu !
#31:
apakah kita harus terima begitu saja tanpa perlu berpikir? bukan itu masalahnya. semua klaim ilmiah harus lulus uji skeptisme, hal ini juga bukan pengecualian. kalau memang ‘betulan’, ya rasanya kita semua juga bisa menerima. extraordinary claims require extraordinary proof.
gak ada hubungannya dengan hidrogen karena tidak memerlukan modifikasi mesin mobil. dan yang jelas gak ada hubungannya dengan reaksi fusi
. katalis? katalisnya apa? untuk membantu reaksi apa? semuanya masih belum jelas.
#32:
benar atau tidaknya suatu klaim sains tidak ditentukan dari ’susah payah’ atau tidak. skeptisme bukan berarti tidak menghargai, tapi menagih bukti2 dari klaim tersebut.
setelah membaca artikel2 jawapos itu, saya meragukannya.
Masih bingung…

kenapa dinamakan ‘blue energy’???
blue energy sesungguhnya: energy dengan sumber tenaga dalam! cukup pake mobil ala flinstone! hihi..
Kenapa harus ada pejabat dan pemerintah dalam merealisasikan ide ini ? Mereka terkadang hanya bikin ‘blunder’ saja. Saya rasa, semua ide yang bisa dijual dapat dimulai dari pemodal, praktisi, dan media. Tunjukkan ide itu memang bermanfaat bagi masyarakat. Otomatis, pemerintah akan datang sendiri karena hasil dari ide itu akan bisa menyumbangkan pajak. Asal pajak lancar, maka pemerintah akan mendukung ide itu kok.
Mas Priyadi, semoga sukses sebagai hoax buster!! Saya hargai dan dukung usahanya!!!
blue energy
beda ya sama blue film?
paling enak emang jaman mojopahit yo. tinggal nunggang kuda, gak perlu mikir bbm, ato blue, red, green energy..
Saya terasuk yang meragukannya. Benar yg dikatakan mas Pri, asas dasar dari ilmu pengetahuan adalah skeptisme. Bukti harus cukup kuat dan reproducible sebelum kita bisa mengklaim suatu penemuan. Hal ini tidak ada hubungannya dg ‘tidak menghargai’, dan sejenisnya.
Terkait dengan sumber energi, yang harus dipertimbangkan adalah ‘total life cycle cost’ nya. Generasi awal dari fuel cell, misalnya, dianggap tidak ‘hijau’ karena meskipun proses kimia H2 + O2 menghasilkan Air, namun jika ditelusuri ke hulu, proses produksi H2 nya perlu sumber energi konvensional yg tak ramah lingkungan. Total jenderal, polusi yg dihasilkan dalam satu siklus masih sangat signifikan.
#38
Saya setuju pada apa yang disampaikan oleh Priyadi disini. Pengungkapan suatu fakta harap dibaca sebagai upaya untuk diskusi, bukan untuk melecehkan orang lain dan bukan juga untuk mencibir suatu hasil karya.
Tentu akan sangat baik jika fakta-fakta seputar blue energy ini agar bukan sekedar klaim semata. Andaikata benar toh tulisan ini bisa menjadi sumber untuk memperjelasnya.
Berbeda pendapat dalam diskusi tentu hal yang lumrah. AKan lebih baik jika pre-asumsi Priyadi ini disanggah dengan bukti secara empiris dan ilmiah.
Ayolah, don’t take it personally
/
gue juga agak2 bingung dgn proses dari air laut yang katanya merupakan bahan bakar dari blue energy tsb.
bukannya lebih jelasnya unsur api dan air sangat bertolak belakang, bagaimana air bisa menjadi sumber energi untuk menghidupkan mesin spt untuk kendaraan mobil.
#42
Jadi ada ide buat bikin blog Hoax Buster indonesia….
ada yang berminat daftar?
#38
Ya, tentunya saya juga setuju dengan pernyataan bung priyadi. Disini saya bukan bermaksud menyandingkan hasil temuan diatas dengan temuan2 serupa lainnya. apalagi berusaha melakukan klaim ilmiah yang harus lolos uji skeptisme
. Tapi kok rasanya ada yang janggal, kalau kita mencoba “menskeptisi” hal ini berdasarkan pemberitaan yang secuil dari media, yang kita tahu bukan merupakan sarana pengujian ilmiah. Saya hanya bermaksud mengambil posisi sebagai pihak yang non skeptis, dan saya cenderung lebih memilih untuk bersikap kritis daripada skeptis. dan saya yakin pihak2 yg terlibat diskusi disini bukan orang2 yang malas mikir (karena yg males mikir tentunya nggak mau repot2 berdiskusi).
Yang saya maksud dengan saya menyinggung2 reaksi fusi, bukan berarti penemuan diatas pasti ada hubungannya dengan reaksi fusi, tapi penekanan saya kepada “konversi energi” yang dinyatakan energi yang dibutuhkan selalu lebih besar dari energi yang dihasilkan, karena setahu saya pada reaksi fusi tidak demikian tetapi memang cenderung lebih sulit untuk dikendalikan daripada reaksi pembakaran biasa. Untuk masalah katalis saya sendiri tidak tahu katalis apa yg digunakan, yang jelas fungsi umum dari katalis diantaranya untuk mempersingkat waktu reaksi, untuk menurunkan energi yang dibutuhkan untuk terjadinya reaksi (termasuk mungkin supaya reaksi bisa terjadi pada suhu yang lebih dingin misalnya). Dan tentu masalah ini belum jelas, karena tidak mungkin rasanya jika memang betul pak joko yang telah melakukan penelitian bertahun2 bisa dijelaskan hasil penelitiannya oleh pemberitaan media. Kita tunggu saja jika pak joko berniat menerbitkan karya ilmiahnya, untuk menjelaskan pada publik.
#44
Saya tidak melihat adanya upaya pengungkapan fakta terhadap topik yang diangkat pada diskusi ini. (atau mungkin saya salah? karena mungkin ada yang sudah mencoba melakukan pembuktian secara ilmiah terhadap hasil karya pak joko?)
Akhirnya setelah diberitakan di Jawa Pos, ada juga artikel tentang blue energy ini di Reuters…
http://blogs.reuters.com/environment/2007/12/05/balis-magic-fuel/
… Dengan tinjauan yang jauh lebih kritis tentunya…
Itulah TREND SESAAT
sudah menjamah semua ASPEk… 
Kayaknya banyak hal disembunyikan di balik berita itu. Setuju sama #23, modusnya mirip Nutrisi Saputra. Dan saya masih belum begitu aware dengan berita-berita “panas” Jawa Pos, masih lebih banyak sisi sensasinya, daripada nilai berita dan daya kritisnya. Maju terus Pak Pri, biar rakyat Indonesia semakin kritis dan pintar
fyi,
dapat menampilkan sosok pak joko,
yg edisi cetak RADAR KEDIRI, Selasa, 04 Des 2007,
ada satu artikel lagi mengulas pribadi pak joko,
mungkin kawan yg dinganjuk (lirik 37
btw, imho, gasohol/etanol sepertinya lebih menjanjikan dan realistis
Air dipecah jadi H plus dan O2 min? ngarang ah
. O2 kan nggak bermuatan.
/
Kalo masih juga pake listrik berarti cuman mindah emisi & pemborosan ke pembangkit listrik.
Belum lama ini ada pengusaha tahu yang berhasil membuat bahan bakar gas dari limbah cuka untuk produksi tahu. Bisa untuk menghidupkan kompor dan lampu petromak. Cara pembuatannya cuma perlu didiamkan 1 mgg saja langsung keluar gas metan utk bhn bakar. Sederhana sekali, tapi brilian
/
ya..seperti PLTD saja pembangkit listrik tenaga dalam memang harus…..mmhhff..mmhhfff….hei! ngapain sih! dibungkam mulutnya akhirnya
#49:
kalau anda kritis, maka harusnya posisi default anda adalah skeptis. jangan samakan skeptis dengan denialis. skeptis itu kurang lebih tidak percaya selama tidak ada bukti2. kalau ada tukang obat pinggir jalan yang bilang ’saya jual obat yang bisa menyembuhkan semua penyakit!’, apa kita harus percaya begitu saja? tentu saja tidak.
jangan hanya karena ini buatan orang indonesia, atau karena sudah ada endorsement dari presiden, lalu kita kehilangan daya kritis kita begitu saja. semua klaim ilmiah harus lolos uji skeptisme sebelum bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya. kalau tidak, apa bedanya dengan tukang obat pinggir jalan?
net energi di reaksi fusi itu sendiri adalah positif, karena reaksi nuklir merupakan sumber energi. jelas tidak sama dengan ‘blue energy’ ini.
betul. mari kita tunggu hasil penelitiannya. sebenarnya harusnya ini dilakukan jauuuuuh sebelum ikutan UNFCCC. kalau begini cuma bikin malu bangsa aja
burden of proof ada di tangan yang melakukan klaim, dalam hal ini adalah pak joko, bukan kita semua.
air laut bisa jadi bahan bakar.. gubraks!!
#53,
Saya gak kenal dengan pak Joko. Saya juga gak setuju dengan cara pak Joko mempublish temuannya [itu pun juga jika benar]. Harusnya dia profesional. Dilempar ke ranah bisnis lebih baik dibandingkan via pejabat pemerintah. Kenapa kita tidak tegar dalam melakukan rintisan. Ingin serba instan dan hoax yang menyebar. Hasrat menghadirkan sensasi yang belum tentu terbukti. Kalau boleh curiga, jangan2 pak Joko hanya kambing hitam jika ternyata nanti ini hanya muslihat. Pejabat itu akan melimpahkan segenap kesalahan pada pak Joko “Umuk Nganjuk”. Dulu Harmoko, sekarang Joko. Malang nian nasibmu Nganjuk !
Kenapa juga politikus dan pejabat buru-buru ikutan meramaikan suasana? Jika nanti terbukti tidak feasible apa tidak malu ya presiden yang Doktor itu.
Terimakasih buat #50.
Klo emang untuk ngehasilin ‘blue energy’ ini pake energi listrik, saya pikir tidak masalah karena energi listrik ini merupakan energi yg terbarukan (misal dgn PLTA). Jadi dengan penemuan ini maka masalah tentang energi yg tidak terbarukan (minyak bumi) sudah menemukan setidaknya titik terang
setelah sekian lama ngunjungin blog mas pri, baru sekarang ikut komen.
sy salut dengan sikap kritis ms Pri.(meskipun kadang beda tipis apa ini kritis atau skeptis).
hmm.. sy ga begitu ngerti dengan ilmu alam karena background sy keuangan.
just wanna say: ”
Sandwich every bit of criticism between two thick layers of praise.”
Apapun bahan bakar yang kita gunakan, konsumsi energi indonesia sudah bisa bersaing dengan amerika dan jepang. Cuma bedanya, mereka udah maju kita aja yang belum
#62: i’ll reserve my praise after we’ve seen more than just claims, not before.
Apapun warnanya “blue - orange - yellow - red - dll” energy. Tetap 2030 Indonesia bakal 2x lipat menggunakan energi. Ah tidak………..
Secara pribadi saya ikut senang kalau memang di Indonesia ada yang menemukan fuel alternative. Tetapi membaca release tentang blue energy ini saya agak curiga dan sedikit muak dengan sesumbarnya pak joko…
Walaupun saya percaya bahwa dalam waktu 5-10 tahun ke depan akan ada mesin yang bisa digerakkan dengan bahan bakar air MURNI tanpa campuran bbm.
Pokoknya dukung aja ah. Bagaimana bangsa mau maju, kalo setiap temuan mendapat kritikan tak membangun.
#67:
karena tidak setiap ‘temuan’ itu betulan. justru kita akan jadi bangsa yang mundur kalau setiap ‘klaim’ langsung kita terima sebagai suatu kebenaran tanpa ada pemikiran kritis sama sekali.
buat saya pribadi, kejadian ini cuma bikin malu bangsa indonesia
kita boleh saja merasa malu dengan kejadian ini, tapi sebenarnya yang membuat kita pantas merasa malu adalah sikap para elit politik dan media yang terkesan hanya memanfaatkan momen seperti ini untuk keuntungan politis. Tapi bagaimanapun, jika suatu temuan bisa memberikan nilai tambah dalam bentuk apapun, patut kita pertimbangkan. Mungkin saja temuan pak joko dianggap sepele, karena saat ini nilai ekonomisnya belum “mencukupi” untuk bisa diterima masyarakat secara luas. Apa yang disampaikan di media memang saya rasa terlalu disederhanakan, sehingga memancing berbagai komentar rekan2 disini yang punya pemikiran cukup kritis dan ilmiah.
#69:
sebenarnya yang dilakukan pemerintah sudah benar. kalau memang ada yang membuat terobosan seperti ini ya memang harus didekati. yang salah di sini mereka tidak kritis sama sekali, sebelum melakukan ‘endorsement’, harusnya mereka cek terlebih dahulu klaim yang diberikan. sebelum dipamerkan di konferensi internasional, kita semua harusnya sudah tahu dulu latar belakangnya. lah ini belum juga apa2 sudah ‘diorbitkan’ di ajang internasional.
bukan karena nilai ekonomisnya belum mencukupi. tapi karena beliau berniat jualan tanpa mempedulikan sains di balik klaimnya. sebelum sainsnya bisa diterima, tetap harus menempuh dulu proses peer review. media massa memang tidak cukup untuk membahas masalah ini sampai detail, tapi paling tidak harusnya tidak simpang siur seperti sekarang. definisi blue energy dari satu media ke media lainnya jauh bertolak belakang. dan rasanya ini bukan karena inkompetensi media yang meliput.
Mudah-mudahan penemuan itu tidak bernasib sama dengan penemuan indonesia raya 3 stanza yang ndobos itu hehehe
Ini dengan asumsi harga minyak dunia mencapai USD 90 ribu per barrel.
=> pak Pri, itu maksudnya USD 90 dollar kali per barrel. bukan ribu.
Priyadi wrote:
bahkan bukan hanya tergesa-gesa, tp itu bukti kalo pemerintah, khususnya yg dibidang bersangkutan, emang amatir, tepatnya “tumpul”, orang om Priyadi ajah yg bukan pemerintah tau koq apa itu “Energi Biru”.
sehingga menurut hemat saya, pemerintah RI lebih baik dan emang lebih baik mendukung saja pembuatan “Blue Film”, saya siap menjadi produser-nya

Pejabat kita kebanyakan menjabat bukan karena “isi kepala” nya,melainkan karena “loby” dan “setoran” ..bahasa kerennya KKN,makanya rada malu-maluin…
Bung Pri, apa mungkin penemuan Pak Joko ini ada kaitannya dengan penemuan terbaru tentang bahanbakar dari air laut yang ditemukan oleh John Kanzius?
Coba cek di sini:
http://www.youtube.com/watch?v=h6vSxR6UKFM
#54… mungkin maksudnya Air (H2O) dipecah menjadi 2H(+) dan O(-2)
O2 nya emang gak bermuatan,tp O-nya bermuatan 2min (-2).
cmiiw
sory, bisa gak pembahasan blue energy lebih detail lg gw msh penasaran nih!
bisa jadi pak
#75:
kayanya bukan. karena ‘blue energy’ tidak memerlukan modifikasi mesin. selain itu penemuan john kanzius BUKAN tentang bahan bakar dari air laut, karena dibutuhkan energi lebih banyak untuk menghasilkan sinyal RF untuk membantu proses tersebut.
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Kanzius
wah kalo air dah bisa jadi BBM… banjir tahun depan mobil dah boleh lewat…. makin ngacir lagi…
Allhamdulillah segala usaha dan jerih payah yang dilakukan pak Joko dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi semua orang ……. paling tidak ini merupakan sebuah impian yang dapat terealisasikan. saya sebagai manusia biasa mendoakan mudah-mudahan ada pak joko yang lain, yang dapat memberikan masukkan dan ide cemerlang guna kesempurnaan penemuan ini Amiiien
Sempat bingung. Tadinya kukira ini bahasan tentang sumber energi yang hasilnya adalah air. Kalau itu sih memang ada: fuel cell. Penelitiannya juga sudah agak lama dan masih terus berjalan. Sayang energi yang dihasilkan kurang besar sehingga belum bisa menggantikan bahan bakar fosil.
@ Kilon: katalis ngga membelokkan jalan/rantai reaksi, hanya menurunkan energi aktivasi sehingga mempercepat jalannya reaksi. Produk yang dihasilkan sama, jumlahnya juga sama, ketimbang tidak pakai katalis.
Err… bukankah skeptis itu positif? Tidak berbeda semangat positifnya daripada kritis? Skeptis tidak sama dengan apatis, kan?
CMIIW.
*Pas amat, materi di sekolah semester ini tuh electrochemistry & alternative to fossil fuel hehehe*