15 May 2008

Roti dan Sirkus

Posted under: at 03:04

Banyak yang tidak mengerti mengapa harga BBM selalu meningkat. Sebenarnya tidak sulit untuk dimengerti. Di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah. Tanggal 9 yang lalu, populasi manusia di Bumi menyentuh angka 6.666.666.666 untuk pertama kalinya. Sedangkan 80 tahun yang lalu, bumi baru dihuni oleh sebanyak dua milyar manusia saja.

Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat.

Lalu bagaimana cara manusia mengatasi kenyataan tersebut? Manusia akan beradaptasi dengan membatasi jumlah keturunan. Ada alasan mengapa semakin jarang ditemui sebuah keluarga dengan setengah lusin atau lebih anak, tidak seperti jamannya kakek nenek kita. Alasannya bukan karena program Keluarga Berencana telah berhasil, tapi karena kita merasa tidak mampu menanggung banyak anak. Secara tidak langsung manusia merespon gejala besar populasi yang berlebihan dan berusaha untuk menghindari bencana Malthus dengan membatasi jumlah keturunan.

Banyak yang memprediksi besar populasi manusia pada sekitar tahun 2050 akan stagnan. Atau dengan kata lain jumlah manusia yang meninggal akan sama dengan jumlah yang dilahirkan. Jika kondisi ini terjadi, ada kemungkinan harga-harga sumber daya alam yang terbarukan akan konstan pula. Tetapi sebaliknya, harga-harga sumber daya alam yang tidak terbarukan akan tetap meningkat, dan justru mungkin akan lebih cepat daripada sebelumnya. Mengapa? Karena efek konsumsi sumber-sumber daya alam ini di tahun-tahun sebelumnya juga akan dirasakan secara kumulatif pada masa kini.

Tetapi sudah menjadi naluri manusia untuk membenci kenaikan harga. Kenaikan harga selalu dihubung-hubungkan dengan kambing hitam seperti kinerja pemerintahan. Bisa jadi memang kinerja pemerintahan sedikit banyak ada sangkut pautnya, tetapi pemerintah tidak dapat selalu menjaga harga agar tidak naik. Untuk mengatasi ‘masalah’ ini, beberapa pemerintah bersikap populis dengan memberi subsidi. Subsidi ini diberikan untuk secara artificial menjaga supaya harga-harga tidak naik. Dengan subsidi, harga-harga menjadi lebih murah dan lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua menjadi senang dan segalanya menjadi indah. Benarkah?

Ternyata jauh dari itu. Jika disubsidi, maka secara tidak langsung konsumsi komoditas yang disubsidi tersebut akan semakin meningkat, dan ini akan mengakibatkan harga nyata komoditas tersebut meningkat lebih cepat daripada jika tidak disubsidi. Dan lebih buruk lagi, orang tua akan merasa mampu untuk menanggung anak lebih banyak daripada kemampuan mereka sebenarnya. Hal ini akan menyebabkan populasi manusia yang berlebih yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dan tentunya harga komoditas tersebut. Apalagi jika komoditas yang disubsidi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Mayoritas orang-orang yang tidak setuju subsidi dan mengatasnamakan rakyat miskin mungkin memang tulus ingin membantu rakyat miskin. Tetapi rasanya mereka tidak menyadari kalau perbuatan mereka justru akan menambah deretan jumlah rakyat miskin dalam jangka panjang.

Mencabut subsidi memang sulit, apalagi jika sudah ada sejak dulu. Rakyat menyukai subsidi, tetapi sedikit yang menyadari efek buruknya pada mereka. Subsidi adalah komoditas politik yang rawan dipolitisasi. Politisi dapat dengan mudah memperoleh dukungan hanya dengan bersikap populis menentang pencabutan subsidi. “Yang penting sekarang saya dapat dukungan, soal bagaimana efek buruknya, biar nanti penerus saya yang memikirkan,” barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Jika pada jaman dulu politisi Romawi kuno menggunakan roti dan sirkus untuk menggalang dukungan, kini giliran politisi Indonesia menggunakan subsidi BBM untuk melakukan hal yang sama. Bagi saya, subsidi atau janji subsidi termasuk bentuk korupsi terselubung: anda menggunakan dana negara demi kepentingan kampanye politik pribadi anda.

169 Responses

Trackback: Use this URI to trackback this entry. Use your web browser's function to copy it to your blog posting.

Comment RSS: You can track conversation in this page by using this page's Comments RSS (XML)

Gravatar: You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar.

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Warning: Comments carrying links to questionable sites will be removed!