Roti dan Sirkus
Banyak yang tidak mengerti mengapa harga BBM selalu meningkat. Sebenarnya tidak sulit untuk dimengerti. Di luar fluktuasi yang terjadi dari waktu ke waktu, tren harga komoditas dalam jangka panjang bisa dipastikan akan meningkat. Alasannya penduduk dunia selalu bertambah. Tanggal 9 yang lalu, populasi manusia di Bumi menyentuh angka 6.666.666.666 untuk pertama kalinya. Sedangkan 80 tahun yang lalu, bumi baru dihuni oleh sebanyak dua milyar manusia saja.
Semakin besar populasi manusia, maka akan semakin tinggi permintaan terhadap barang-barang yang dibutuhkan manusia. Manusia akan mencoba beradaptasi menyesuaikan tingkat permintaan ini dengan meningkatkan produksi barang-barang kebutuhan manusia tersebut. Tapi hal ini tentunya ada batasnya. Besar bumi dan apapun yang ada di dalamnya tetap sama. Kenyataan ini akan mengakibatkan harga-harga akan selalu meningkat.
Lalu bagaimana cara manusia mengatasi kenyataan tersebut? Manusia akan beradaptasi dengan membatasi jumlah keturunan. Ada alasan mengapa semakin jarang ditemui sebuah keluarga dengan setengah lusin atau lebih anak, tidak seperti jamannya kakek nenek kita. Alasannya bukan karena program Keluarga Berencana telah berhasil, tapi karena kita merasa tidak mampu menanggung banyak anak. Secara tidak langsung manusia merespon gejala besar populasi yang berlebihan dan berusaha untuk menghindari bencana Malthus dengan membatasi jumlah keturunan.
Banyak yang memprediksi besar populasi manusia pada sekitar tahun 2050 akan stagnan. Atau dengan kata lain jumlah manusia yang meninggal akan sama dengan jumlah yang dilahirkan. Jika kondisi ini terjadi, ada kemungkinan harga-harga sumber daya alam yang terbarukan akan konstan pula. Tetapi sebaliknya, harga-harga sumber daya alam yang tidak terbarukan akan tetap meningkat, dan justru mungkin akan lebih cepat daripada sebelumnya. Mengapa? Karena efek konsumsi sumber-sumber daya alam ini di tahun-tahun sebelumnya juga akan dirasakan secara kumulatif pada masa kini.
Tetapi sudah menjadi naluri manusia untuk membenci kenaikan harga. Kenaikan harga selalu dihubung-hubungkan dengan kambing hitam seperti kinerja pemerintahan. Bisa jadi memang kinerja pemerintahan sedikit banyak ada sangkut pautnya, tetapi pemerintah tidak dapat selalu menjaga harga agar tidak naik. Untuk mengatasi ‘masalah’ ini, beberapa pemerintah bersikap populis dengan memberi subsidi. Subsidi ini diberikan untuk secara artificial menjaga supaya harga-harga tidak naik. Dengan subsidi, harga-harga menjadi lebih murah dan lebih terjangkau oleh masyarakat. Semua menjadi senang dan segalanya menjadi indah. Benarkah?
Ternyata jauh dari itu. Jika disubsidi, maka secara tidak langsung konsumsi komoditas yang disubsidi tersebut akan semakin meningkat, dan ini akan mengakibatkan harga nyata komoditas tersebut meningkat lebih cepat daripada jika tidak disubsidi. Dan lebih buruk lagi, orang tua akan merasa mampu untuk menanggung anak lebih banyak daripada kemampuan mereka sebenarnya. Hal ini akan menyebabkan populasi manusia yang berlebih yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dan tentunya harga komoditas tersebut. Apalagi jika komoditas yang disubsidi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Mayoritas orang-orang yang tidak setuju subsidi dan mengatasnamakan rakyat miskin mungkin memang tulus ingin membantu rakyat miskin. Tetapi rasanya mereka tidak menyadari kalau perbuatan mereka justru akan menambah deretan jumlah rakyat miskin dalam jangka panjang.
Mencabut subsidi memang sulit, apalagi jika sudah ada sejak dulu. Rakyat menyukai subsidi, tetapi sedikit yang menyadari efek buruknya pada mereka. Subsidi adalah komoditas politik yang rawan dipolitisasi. Politisi dapat dengan mudah memperoleh dukungan hanya dengan bersikap populis menentang pencabutan subsidi. “Yang penting sekarang saya dapat dukungan, soal bagaimana efek buruknya, biar nanti penerus saya yang memikirkan,” barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Jika pada jaman dulu politisi Romawi kuno menggunakan roti dan sirkus untuk menggalang dukungan, kini giliran politisi Indonesia menggunakan subsidi BBM untuk melakukan hal yang sama. Bagi saya, subsidi atau janji subsidi termasuk bentuk korupsi terselubung: anda menggunakan dana negara demi kepentingan kampanye politik pribadi anda.
Tidak semua subsidi itu jelek, misalnya subsidi untuk pendidikan. Lucunya, di Indonesia BBM disubsidi besar-besaran sedangkan porsi untuk pendidikan tidak ada apa-apanya…
Begini soalnya mas, kalau subsidi pendidikan naik, pendidikan lebih terjangkau, manusia Indonesia makin cerdas. Lalu, mereka akan tahu pro-kontra subsidi barang-barang kebutuhan (BBM misalnya), kemudian waktu manusia-manusia terdidik tadi cukup tua untuk memilih di pemilu, bisakah mereka digoda dengan kata-kata manis soal menentang pencabutan subsidi?
dari zaman dulu subsidi + BBM selalu menjadi komoditi politik yang ‘laku’ keras.
Overkonsumsi itulah salah satu biangnya. Nanti iklan di luat pun akan habis karena ketamakan manusia yang didukung oleh teknologi penangkapan dan… pengawetan plus pengolahan lanjut. Soal anak, kayaknya ada dorongan (maaf) “primitif” dalam situasi ekstrem ya. Ketika terancam atau justru ketika merasa mapan maka sebagian manusia merasa perlu punya anak melebihi kapasitas.
Zero population growth dalam situasi nanti kayaknya memang tak terlalu menjanjikan keseimbangan. Soal roti dan sirkus? Yah gitu deh. 
berarti ini mah ujung2ny politik ya mas?
cari dukungan sebanyak-banyaknya..
tapi kan skrng juga bnyk tuh tokoh politik yg generasi muda..gmn pendapatnya mas?
orang Indonesia terlalu konsumtif sih, liat aja motor n mobil, apalagi mobil..klo diliat di jalan isinya cuma 1 org aja (supirny doank) di 1 mobil..padahal lagi macet2nya, coba mereka semua naik bus, kan jadi ga macet tuh..bnr ga mas? (maklum, ga punya mobil..:”>
jadi subsisi bbm malah dimanfaatkan oleh politisi sebagai komoditas politik ya….huh…opportunis banget….
Tata kelola pemerintahan juga menjadi biang kerok kok Pri. Brasil dan Argentina (dan belakangan Chile) sudah menyatakan bahwa mereka tidak lagi bergantung pada harga minyak dunia karena sudah mampu memenuhi kebutuhan energi mereka sendiri melalui biofuel (in some extent menghancurkan lingkungan).
Kita tidak siap menghadapi krisis global ini.
ujung2nya duit lagi..duit dan kekuasaan membutakan mata hati orang…..wuihhh cpd
Menaikan harga vs kurangi kesejahteraan pejabat…pilih mana hayo?
#2. tul ituuu… ;p
Indonesia?..
naik..naik..naik..terus….naik..naik..naik…
(
tapi gaji kok gak naik naik yaa….:
bbm naik tinggi susu tak terbeli
mo bbm naik silahkan. asal jangan ada yg demo, benci demo lebih dari kenaikan bbm
*mode oportunis* biarin!
Terkadang manusia lupa untuk mementingkan kepentingan jangka panjang dibanding kepentingan jangka pendek. Ini pertanda kurangnya tingkat kecerdasan dan pendidikan. Saya sangat setuju apabila pemerintah lebih menekankan subsidi pendidikan daripada BBM.
kenapa ya, manusia diciptakan cenderung rakus?
Yang ga pernah gue ngerti itu Bantuan Tunai Langsung. Kok pemerintah mikirnya kayak raja-raja di dunia dongeng ya… merasa keren memperhatikan rakyat dengan membagi-bagi uang.
Mungkin yang perlu dikecam bukanlah tindakan mengkambing hitamkan pemerintah, tapi ya tindakan mengkambing-hitamkan itu tadi.
Dalam satu kondisi yang melibatkan lebih dari satu orang, biasanya banyak faktor yang menjadi penyebab masalah, dan sampai level tertentu, kadang kelemahan manusia sendiri yang menyebabkan masalah.
Dalam hal kenaikan BBM, pemerintah tanpa mereka sadari memang bersalah karena sejauh ini “hemat” dan “irit” hanya sekedar kata komoditas politik belaka. Mereka2 yang bergaji puluhan juta masih menikmati mobil 3000CC dengan anak yang juga punya mobil lebih dari satu. Mereka jelas gak tersentuh masalah subsidi, karena merekalah pedagang subsidi. Rakyat juga mungkin punya salah karena kurang bisa memotivasi diri untuk bangkit dan menciptakan kultur baru tanpa mencontoh pemimpin mereka, yang secara alami memang harusnya jadi panutan.
Jujur aja, Pendidikan dan Motivasi adalah jawaban dari semua masalah negeri ini.
pada dasarnya Indonesia BISA hidup tanpa subsidi BBM sepeserpun. Ya, saya punya data faktanya. Well, at least menurut saya itu fakta yang masih masuk diakal. Coba cek di http://dasmania.com/sebar/Tidak_Ada_Subsidi_BBM.pdf dan renungkan sendiri.
Dan tolong hal ini disebarkan ke sebanyak mungkin orang supaya bangsa kita ini “MELEK” terhadap kebohongan - kebohongan publik selama ini
HAPUSKAN SUBSIDI BBM !!!
Pada dasarnya bangsa Indonesia ini BISA hidup tanpa subsidi BBM sepeserpun. Ya, saya punya data faktanya, Well at least saya anggap data - data yang saya punya ini masih masuk diakal. Cba cek di “dasmania . com / sebar / Tidak_Ada_Subsidi_BBM.pdf” ( sengaja saya kasih spasi diantara kata supaya tidak dianggap SPAM )
Dan tolong hal ini disebarkan sebanyak - banyaknya ke orang lain supaya bangsa kita ini “MELEK” terhadap kebohongan - kebohongan publik yang dilakukan selama ini.
HAPUS SUBSIDI BBM !!! DUKUNG UBER THOMAS !!!
BBM naik atau tidak, di subsidi atau tidak
biarin aja deh… nikmatin aja hidup ini.
Yang kaya, pastinya mampu beli, apalagi para bagi pejabat
BBM naik 500% pun bagi mereka tidak masalah, toh biaya operasional masih ada yang membiayai,
Bagi yang miskin, pun tidak masalah, ‘kan masih dapat BLT, jika tidak setuju…mengapa dulu milih mereka…
Secara pribadi bagi saya juga nggak ada masalah,
walaupun untuk jualan produk makanan, sebagai second career-ku cukup sulit, ‘kan masih ada career pertama, yaitu sebagai karyawan, sebagai sumber pemasukan.
harus para mahasiswa, juga mantan pejabat yang berdemo yang menolak bbm naik mesti baca dulu neh postingan mas pri yang ini.
jangan bisanya cuma demo aja dong, kita mestinya menelaah lebih jauh lagi, dan berusaha untuk lebih meningkatkan kinerja kita.
Ayo tolak subsisdi
#1 Subsidi pendidikan? “Sesuatu yang gratis itu nggak mendidik” kata dosen saya. Dan saya sudah membuktikan. Meskipun saya berpendapat bahwa pendidikan lah yg mampu mengatasi permasalahan2 yg ada ini, meskipun 3o tahun lagi akan pulih.
anak-anak kampus pada mau demo! masalah kenaikan BBM, ntar kalo ditanya kenapa BBM naek? pasti bingung
kalo BBM naek kita pasti hemat, berhemat itu wajib!
BLT itu kayak evita peron, bagi2 duit ke rakyat miskin untuk menjaga dukungan politis. yang ujung-ujungnya malah memacu inflasi.
subsidi juga bagus untuk sektor pendidikan, dan juga kesehatan. atau kalau perlu, pendidikan dan kesehatan itu gratis. efeknya ya sumber daya manusianya makin pintar dan makin banyak yang available, efek seterusnya ekonomi makin kuat.
Tak terasa, ternyata BUmi ini memang tambah sumpek..
Lucunya lagi, banyak ekonom yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu efek subsidi. Terutama ekonom yang dari partai politik. Mungkin ilmunya kalah dengan nafsu mendapatkan suara dan simpati sesaat.
Kalau BLT ada juga efek positifnya secara tidak langsung. Uang BLT akan dibelikan barang konsumsi –> menggerakkan ekonomi. Tapi efek positif terbesarnya bukan di penerima BLT melainkan di penjual, penyalur dan produsen barang/jasa yang dikonsumsi penerima BLT. Tapi yang paling bagus adalah langkah pemberdayaan, misalnya melalui program PNPM Mandiri .
wah baru kepikiran mas kalo subsidid tu efek sampingnya cukup bahaya..
#7:
untuk menggantikan 100% konsumsi BBM di Indonesia dengan biofuel membutuhkan pembukaan lahan sebesar 2x luas provinsi jawa barat. jadi bukan hal yang sederhana.
selain itu, ada sebabnya kenapa kita gak mampu memenuhi kebutuhan energi. ya karena subsidi juga. karena subsidi gak ada insentif untuk menggunakan sumber energi alternatif. BBF itu bahan bakar yang paling murah yang dapat diterima oleh masyarakat. sudah murah masih harus di-encourage pula dengan subsidi. dan ini termasuk ketika kita sudah masuk jadi net importir.
#16:
kalau cara menaikkan harganya seperti ini ya tetap harus BLT. masa yang gak kuat beli makanan harus dibiarkan kelaparan. harus ada yang mau bantu secara langsung, apa itu dari pemerintah atau orang lain. tapi yang jelas BLT gak boleh diberikan untuk selamanya. tujuannya harusnya untuk solusi sementara saja.
#18:
ini KKG-isme standar
. kalaupun hitung2annya sesederhana yang ada di situ (yang tentu saja tidak demikian), masih ada faktor opportunity cost: kalau kita duduk di atas 5 milyar barrel minyak, apakah membagi2kannya ke rakyat merupakan cara terbaik untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut? tentu saja tidak.
KKG gak mampu melakukannya waktu dia jadi menteri. gak ada alasan kenapa dia merasa pemerintah yang sekarang bisa melakukannya.
#22:
pendidikan itu hal yang produktif. lebih tepat disebut investasi daripada subsidi.
Sebagai orang bodoh yang dapet pendidikan dengan harga tidak murah tapi tak kunjung pintar, saya pun dulu sempet dibodohi dengan pernyataan “dengan memilih si anu, Sembako akan murah”. Untungnya sekarang ga sebodoh dulu walau tetep ga pinter. huehehe…
Ketika salah satu tokoh politik kita berkoar-koar tentang betapa ketika dia memimpin, kenaikan harga ga separah pemerintahan yg sedang berkuasa, saya cuma nyengir2. Ga nyadar apa dulunya naekin harga tapi dipirit2 supaya ga terlalu berasa.
Hidup subsidi pendidikan & subsidi kesehatan.
saya inget pernah bertanya kepada seorang rekan saya yang masih mahasiswa, kenapa dia demo menentang kenaikan bbm.
Jawabnya ? dia takut nanti klo harga naik dia gak bisa naik mobil pribadi lagi.
saya tanya lagi, kenapa gak naek angkutan umum ? gak bisa ngeceng, capek, dan berbagai alasannya.
saya selama kuliah gak pernah pake kendaraan pribadi, karena selain gak punya saya gak bisa.
the point is, gak selamanya yang demo itu demi rakyat, banyak yang menggunakan demo atas nama rakyat untuk kepentingan pribadi
Saya juga sangat tidak setuju dengan kehadiran metode BLT (Bantuan Langsung Tewas) ini baik dari segi etika (bagi2 duit sepertinya kurang sopan) maupun efek psikologis (ngaku2 miskin, miskin yes, miskin diperhatikan, ga usa kerja ah).
BLT terasa solusi yang sangat prematur dan instan. Sebenarnya menciptakan manusia Indonesia yang siap kerja dan kompetitif (visi dan mental) itu adalah tujuan jangka panjang yang utama.
Indonesia benar2 terpuruk sungguh kasihan, rakyat kecil sebenarnya merupakan depot terakhir dari seluruh arsitektur lingkaran setan yang ‘diciptakan’ oleh koruptor / pejabat yang sibuk memperkaya diri-nya sendiri.
Bahkan bencana alam-pun juga ‘diciptakan’ oleh oknum2 pejabat (lulusin rencana ubah hutan lindung jadi real estate, lulusin izin pembalakan hutan, dll.).
Kita memerlukan figur pemimpin bertangan besi namun berhati mulia.
Apakah tidak ada solusi lain selain menaikkan BBM ?
Secara matematis, ada hubungan dong, antara panambahan jumlah penduduk dengan kenaikan BBM, apabila merupakan sebuah persamaan, bisa dikatang berbanding lurus, kira-kira setiap penambahan juta penduduk kah akan terjadi kenaikan harga-harga Mas Pri ?
Mencabut subsidi BBM mungkin bukanlah langkah yang tepat dilakukan saat ini. Biar bagaimanapun juga rakyat (benar-benar rakyat) yang akan kena imbas dari dicabutnya subsidi BBM ini. Dengan subsidi spt skrg saja entah sudah berapa banyak dari rakyat kita yang kembang kempis utk dpt makan. Bagi mereka yang berkantong tebal tentu pengaruhnya hanya sedikit.
Namun subsidi BBM ini pun semestinya tidak dijadikan kebijakan jangka panjang karena justru malah akan semakin tidak mendidik rakyat Indonesia. Subsidi untuk pendidikan dan kesehatan harus dimulai dari sekarang, hitung-hitung utk investasi bangsa Indonesia.
Benang kusut permasalahan bangsa ini makin hari makin menjadi-jadi saja. Kuncinya mungkin dari sikap mental para pemimpin dan pejabat yang diberikan amanah oleh rakyat utk mengelola. Bagaimana mencetak pemimpin yg amanah, kuncinya lg mungkin bisa kita mulai dari diri kita sendiri lalu keturunan kita. Setidaknya jika bisa spt itu kita akan dpt berharap banyak pd anak cucu kita nantinya.
loh kok gada review2 printer lg sih???
gw kirain jd rutin
kalau manusia mempertahankan kerakusannya seperti sekarang, maka diperlukan lima planet bumi lagi untuk menampungnya …
“dunia diciptakan dengan segala isinya adalah cukup untuk semua manusia yg sedang dan akan hidup mendiaminya”, tetapi mengapa selalu ada sebagian kita yg kekurangan, “GREED” biang keroknya…
IMAGINE :
kita sekeluarga terjamin kesehatannya.
anak-anak kita terjamin pendidikannya.
kita bisa fokus untuk mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan yg positif dan bermanfaat bagi seluruh alam dari pada merusaknya… oh..what a world iam gonna lived there… is this possible??… yes it is… if there is no more “GREED” in every humans heart this world.
artikelnya bagus sekali mas Pri, saya jd sedikit tahu dan tercerahkan ttng masalah subsidi ini
cuma sbg org awam, masih ada yg belum sy mengerti…, kita ini kan negara yg memproduksi minyak, tetapi mengapa kita sendiri sepertinya sangat kesulitan untuk mendapatkannya ?
Setuju. Selain itu kalo disubsidi, BBM semakin banyak yang ditimbun atau disalah gunakan seperti di jual ke luar negeri. Kalo udah gini, bangsa kita sendiri yang rugi.
Herannya banyak juga mahasiswa yang menolak pencabutan subsidi. Sungguh miris, mahasiswa sekarang koq gak pinter2, isinya demo aja tanpa tau isinya
Disubsidi? mau dung….
hari gini gitu loh mas..
Tapi mang ada benernya juga, tidak selamanya subsidi berdampak baik. OOT, subsidi pendidikan keknya masih jadi TREN untuk politisi negara ini deh, termasuk miss Indonesia mengangkat pendidikan sebagai tema sentralnya…mudah2an gak hanya sekedar tema aja…
yang membuat saya heran : apakah para mahasiswa yang demo itu nggak ngerti fakta bahwa bahan bakar fosil itu non-renewable? Suatu saat nanti itu pasti akan habis. Sebelum habis, harganya pasti akan meroket terus. kenaikan harga BBM adalah hal yang wajar.
kalau harga dipertahankan dengan subsidi. maka semakin lama biaya yang harus ditanggung pemerintah semakin besar, sementara hasil (nilai balik) yang diperoleh oleh bangsa Indonesia ini tidak bertambah.
akan lebih baik apabila uang seperti itu dimasukkan ke investasi. misalnya untuk pendidikan (subsidi BBM itu masuk kategori pengeluaran/konsumsi, bukan investasi).
o ya, sebenarnya subsidi BBM bisa juga termasuk dalam investasi, namun BBM-nya adalah kategori BBM industri. jadi kalo menurut saya justru BBM industri-lah yang seharusnya disubsidi.
maaf kalo kepanjangan.
Setuju, bahwa harga BBM tak usah disubsidi. Nah yang menjadi bahan pemikiran kemudian adalah standar upah/gaji minimum nasional, masih cukup memadai untuk hidup? Kalau Upah/gaji naik apakah produksi masih bisa bertahan tanpa harus menaikkan harga produksinya. Jadi semuanya semacam lingkaran setan.
yah, saya sepakat untuk mencabut subsidi BBM, okelah ada BLT namun hanya sebagai solusi sementara saja. setelah itu harus ada berbagai program pengentasan kemiskinan yang lebih “manusiawi”.

ingat, semenderita-menderitanya rakyat indonesia, kita masih bisa bertahan dan bangkit.
selamat memperingati seabad kebangkitan nasional dan seabad penderitaan rakyat
disubsidi salah, ga disubsidi salah
waduh.. ini pencerahan banget buat saya. dr kemaren saya masih bingung knp ada orang yg setuju dgn kenaikan BBM. tp setelah baca review nya Om Pri, sedikit banyak nya sudah bisa menjawab kebingungan saya. makasi bgt Om Pri atas info nya.
berarti mulai bulan depan biaya hidup minimum naik juga.. hah.. ngga ada lelahnya
Subsidi memang harus dicabut! Menurut ramalan, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling akhir punahnya, karena rakyat indonesia terkenal ADAPTIF..seberapa susahnyapun, kita masih sanggup bertahan hingga saat ini..:”>. Nah, kita tunggu aja, apakah ramalan ini benar adanya, ato jangan2 Petinggi bangsa ini tau ramalan ini sehingga mereka dengan enaknya membuat aturan, korupsi,manipulasi dengan gampang? Wallahualam…
wah hidup semakin berat dari tahun ke tahun…
Hmmm.. ada benarnya juga nih Mas Priyadi, KKG dulu kan juga sempat jadi menteri ya …. ?
Memang kebiasaan saya adalah suka melihat data angka & lainnya yang “pasti” and “Logic”, dengan kurang memperhatikan “non-Logic” factor.
Thank’s for the reminder. Tapi aku tetep kurang setuju dengan kenaikan BBM disaat masyarakat sedang susah. Eh tapi kapan ya rakyat kita nggak susah … ???!?
BTW, Mas Pri, tukeran link yuk … hehehe ….
AYO DUKUNG THOMAS UBER !!!
heran sama pemerintah.
disatu sisi harga BBM dinaikkan. disisi lain duit dihambur2kan.
logika yg gak logis.
Wah, harga-harga naik terus, penghasilan tidak ikut bertambah.
Pelan-pelan jadi miskin nih…
Boleh deh subsidi BBM dihilangkan. Tapi kebijakan-kebijakan pemerintah tidak boleh lagi menciptakan kesmiskinan struktural yang lebih parah. Kebijakan yang sudah ada, harus diganti dengan yang baru, supaya kemiskinan struktural itu menjadi hilang.
Contoh, Pemerintah SBY-JK yang beberapa waktu lalu meminta nelayan-nelayan Thailand mengambil ikan di perairan Indonesia. Namun nelayan-nelayan Nusantara yang meminta bantuan modal untuk kapal penangkap ikan, bahkan perahu nelayan, justru ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah. Nelayan Thailand itu, tidak diminta saja sudah biasa mencuri ikan-ikan kita.
Terlalu banyak kebijakan yang tidak memajukan perekonomian yang berbasis pemberdayaan rakyat.
Harga minyak naik terus karena pengukurnya (uang kertas) bukan pengukur yang konsisten. Lain halnya jika pengukurnya emas.
Termasuk jika Anda ingin mengukur apakah gaji Anda saat ini lebih besar dari setahun yang lalu, jangan diukur dari nominalnya. Ukurlah dengan berapa gram emas yang mampu dibelinya. Meski nominalnya lebih besar jika gram emas yang mampu dibelinya berkurang sesungguhnya Anda sedang semakin miskin.
Pak priyadi coba bikin riset kecil2 an, 40 tahun yang lalu 1 barel minyak dibeli dengan berapa gram emas, begitupun saat ini. Niscaya relatif stabil.
Pada jaman nabi 1 ekor kambing kurang lebih senilai 1 dinar (emas 22 karat seberat 4,25 gram). Sekarang, 1400 tahun kemudian 1 ekor kambing tetap senilai kurang lebih 1 dinar. Lihat, jika pengukurnya konsisten sesungguhnya tidak akan ada inflasi.
Uang kertas yang nilai intrinsiknya nyaris nol mempunyai makna hanya karena dituliskan disitu angka yang diikuti sekian nol kemudian ditandatangani Gubernur Bank Central. Bahkan Bank Central sendiri mencipta uang dari awang-awang, dari kehampaan, karena mereka telah berlepas diri dari kewajiban untuk menjamin nilainya dengan cadangan emas.
Trend ke depan orang tidak lagi percaya kepada uang kertas. Orang akan - secara akal sehat - beralih ke hard currency, uang berbasis komoditi. Nilai uang diukur dari nilai intrinsiknya. Bukankan semua kitab suci mengajarkan emas sebagai medium of exchange (uang) ?
Nathan Lewis dalam bukunya Gold: The Once and Future Money mengatakan : Mungkin perlu waktu beberapa tahun atau beberapa puluh tahun, tetapi era uang kertas perlahan lahan akan berakhir; Dunia tidak memiliki pilihan lain kecuali kembali ke hard currency. Manfaat dari hard currency sungguh luar biasa. System hard currency masa depan akan berdasarkan emas, sama persis dengan yang terjadi di masa lampau”.
Kenapa Harus ada SUBSIDI? dan kenapa BBM beli? bukankah kita penghasil MINYAK?
#53:
sudah jelas, emas dan minyak bumi itu sama2 sumber daya alam yang tidak diperbarukan. otomatis peningkatan harga keduanya kurang lebih akan sama, tapi bukan berarti tidak ada inflasi. dengan sistem hard currency, inflasi akan tetap ada, tapi ukurannya bukan kenaikan harga, melainkan usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan hard currency tersebut. contoh soal: jika hari ini anda digaji 20 gram emas/bulan, maka 10 tahun kemudian, dengan asumsi pekerjaan dan prestasi anda sama persis dan inflasi 10%, gaji yang akan anda dapatkan hanyalah sekitar 7.7 gram emas/bulan.
kelebihan hard currency dibandingkan soft currency itu bukan ‘tidak ada inflasi’, tapi nilainya naik mengikuti inflasi jika kita simpan.
Kalau Bang Iwan Fals jadi ngerti tentang permasalahan subsidi ini, mungkin gak yah dia bikin lagu baru untuk merevisi lirik lagu lamanya:




“Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi…”
Nice approach Mr Priyadi. Saya juga memiliki pemikiran atau setidaknya seide dengan anda..
“Anda menggunakan dana negara untuk kepentingan kampanye” kirim ke semua no hape anggota dewan dan menteri di kabinet yg sekarang semoga mereka mengerti maknanya
klo gak ngerti saya suruh mampir kesini hohohoho
terkadang jadi miris ngeliat kondisi harga2 di negri ini, mungkin… walo ngga bisa di generalisasi… orang2 yg sudah bisa mengkonsumsi internet seperti kita2 ini g terlalu merasakan dampak kenaikan harga BBM, tapi bagaimana dengan mereka yg ada di kampung2.. i can’t imagine that
hallo mas pri..
Sedikit komen…
BBM naik besar hubungannya dengan harga minyak dunia yang melunjak terus. Dan harga dunia yang melunjak terus itu karena demand energi di cina dan india dan emerging nations di asia semakin tinggi, sementara oil reserves tidak bertambah, dan diperkirakan dalam 40 thn mendatang akan habis bis.
Seandainya kita belum memulai beralih ke energi alternatif (biofuel, hidrogen, nuklir, angin, solar/tenaga matahari, dll) , bisa dibayangkan dunia akan jadi apa. Gelap dan dingin, gak bisa beraktifitas, basically shut down. Dan untuk beralih ke energi alternatif dengan segala infrasturktur nya siap, bisa memakan waktu 30tahun lebih (untuk Brazil beralih ke biofuel sebagai energi utama untuk kendaraan2 bermotor memakan waktu 30thn, tp mereka sudah established sekarang).
Seandainya negara kita masih bergantung pada minyak dan tidak memulai untuk melongok ke energi alternatif, jangan berharap Indonesia akan mampu mensubsidi karena dengan demand minyak dunia yang semakin menaik dan cadangan (supply) yang tidak naik, harga minyak dunia akan menaik terus dan maka dari itu harga BBM Indonesia akan naik juga.
Bukan hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun terkena efek harga minyak yang melonjak drastis setahun belakangan.
Mas Pri, dah lama saya tunggu tulisan terbarunya..pas juga yangf di bahas kali ini mengenai kenaikan harga BBM.
Mau tidak mau suka tidak suka, emamg pemerintah harus mengambil keputusan sulit untuk menaikan harga BBM, karena kalau tidak bisa juga berbahaya bagi perekonomian bangsa kita, karena subsidi itu pemerintaj yang menbayar dari mana uangnya; salah satunya dengan pinjaman asing. berbahaya!!
Bangsa kita sudah sangat malas untuk bekerja dan berusaha dikarenakan dari dahulu sejak jaman orba, dimanjakan dengan subsidi2 pemerintah. dilain pihak bangsa ini belum mampu berjalan sendiri tanpa subsidi, ibaratnya anak masih sekolah, eh uang jajanya di potong..
Kita harus bergerak maju, jangan lengah, tetap berusaha.
jadi kesimpulan saya setuju sama point nya mas pri nih.. soalnya mana mungkin politisi2 itu tidak mengerti masalah minyak dunia ini, tp enak2nya cari suara.. agak2 manipulatif.
Lagi-lagi mikirin perut sendiri..
P.S: Sorry mas itu komen yang sbeleumnya accidently kepencet “submit comment” di tengah2, jadi ini sambungannya.
mudah2an nggak bikin langka *roti*, coba kayak satwa yang mulai langka, kan harus di cegah satwa punah!
Aku ga terlalu ngerti tentang permasalahan bbm dan itung2an ekonominya. Mungkin mas Pri punya komentar tentang info yang beredar di milis akhir2 ini tentang bahwa sebenarnya ga ada itu yang namanya subsidi bbm di indonesia. Kalo aku coba cari sendiri di CIA facts book data tahun 2006, bener sih kalo indonesia itu produksi minyak 1.07 juta barrel/hari sedang konsumsinya sebesar 1.1 jt/hari. Jadi kita cuma impor 0.03 juta. Info yang beredar di milis2 itu bisa di download di sini
http://www.ziddu.com/download.php?uid=caqilJWucbCZnJSlt6yZlJyiaa%2BWlZun9
Wah harus buat kriteria yang lebih jelas lagi nih mas, mana sumberdaya yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui.
belilah produksi pertanian dalam negeri, ikan yang ditangkap di laut sendiri, saya membawa pesan dari petani dan nelayan indonesia (wuzz iklan ha.ha.ha)
Saya kok bingung ya…….
dulu BBM murah banget…tapi negara gak koar-koar masalah APBN minus…..APA ini salah urus..atau gimana ya….
Mending review blog gue ( gratis akses internet )
http://www.tiphit.co.cc
ceileh..keren banget deh gua. wakakaka.
Selain mencari popularitas secara politik, penentangan terhadap pencabutan subsidi untuk sementara bisa mengalihkan isu korupsi yang sekarang lagi menimpa banyak politikus tersebut.
Untuk sementara, mereka bisa mengalihkan perhatian mereka dengan bertindak seperti pahlawan pembela rakyat kecil. Dasar politikus.
#64. Abah Oryza, email yang disebarkan itu menurut saya merupakan bentuk dari provokasi untuk memecah belah kesatuan dan mengalihkan perhatian masyarakat.
Sepengatahuan saya, produksi sekitar 1 juta barel lebih itu adalah produksi minyak mentah. Yang bisa diolah menjadi BBM di dalam negeri hanya sekitar 600-700 ribu barel perhari. Jadi yang diimpor untuk memenuhi konsumsi dalam negeri adalah sekitar 500-600 ribu barel per hari.
Demikian, agar kita tidak termakan oleh isi dari email yang tidak jelas asal usulnya tersebut. Banyak pihak yang ingin mengail di air keruh. Sungguh tidak berperasaan membuat rakyat yang sudah menderita menjadi semakin menderita dengan meneror masyarakat dengan berbagai cara.
yang sayah ga setuju itu bantuan langsung tunai nya…. ya tau lah… itu akan menguntungkan pihak kepala desa dll sajah….
gara2 naiknya BBM, barangku juga ikut naik
:”> :”> :”>
Kapan yah kita bisa meng-embargo minyak ke luar negeri??
Ora Mudeng… yak?
BBM naik !!! benar-benar mumet
Niat pemerintah menaikkan harga BBM di Indonesia, tiada lain karena pengaruh harga BBM dunia yang terus meroket. Namun sebenarnya jika mau mengakali kondisi tersebut tidaklah serta merta pemerintah harus melambungkan harga BBM, dengan mencabut subsidi tentunya. Karena masih ada hal untuk mengakalinya diantaranya:
(1) Memangkas anggaran “Study Banding” anggota DPR ke luar negeri, (2) Memangkas tunjangan-tunjangan yang ajaib bagi para anggota DPR (seperti tunjangan mesin cuci dsb) (3) Memperketat penggunaan anggaran biaya perjalanan dinas (4) Dan Sebagainya… pokoknya berhematlah untuk para penguasa diatas…
Subsidi dan pajak adalah salah satu strategi ekonomi di negara-negara berkembang untuk bisa bertahan dan bahkan maju, lihat saja china, taiwan atau jepang. Karena bila kita menghendaki atau ikut arus NEOLIB, khawatir kita malah akan terjajah kembali secara ekonomi…
haduh..

saya brusaha untuk mngerti tpi ga ngrti2 !!
Saya sangat menghargai pemerintah sekarang. Ketika Presiden menghimbau agar kita berhemat, saya sebisa mungkin tidak naik mobil ketika ke luar kota. Subsidi menghancurkan rakyat………
Saya sangat menghargai pemerintah sekarang. Ketika Presiden menghimbau agar kita berhemat, saya sebisa mungkin tidak naik mobil pribadi ketika ke luar kota. Subsidi menghancurkan rakyat………
jadi siapa nih yang agak O’on di masalah ini
siapa yg tidak pernah belajar
siapa yang tidak mau belajar
siapa yang hari-hari omong kosong
siapa yang cakep?
ya. subsidi menghancurkan rakyat.
Namun sebenarnya kasus sekarang itu bukan BBM yang disubsidi, tapi BBM yang masih mensubsidi sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dll. karena pemerintah itu masih untung dengan harga minyak 120 dolar.
mungkin lebih tepatnya, kata subsidi diganti dengan “penyesuaian harga BBM mengikuti harga dunia”.
bagaimanapun, saya tetap setuju dengan kebijakan “penyesuaian harga BBM mengikuti harga dunia”, dengan catatan harus diperhitungkan juga efek inflasi dan kesejahteraan rakyat (bukan hanya rakyat kecil, tapi rakyat secara keseluruhan termasuk kalangan industri. Kalau asal menaikkan harga, apalagi berpikir pendek dengan BLT seperti yang mau dilakukan ini, saya pikir langkah tersebut kurang bijak. aneh membagi2kan uang ke rakyat miskin begitu saja. kayak suap. malah memberi pendidikan yang negatif kepada rakyat bawah.
yang mengherankan juga, kenapa pemerintah selalu bodoh dalam melakukan perjanjian kontrak karya dengan oil gas company asing. Bisa dibilang, keuntungan yang mereka dapat dari sumber daya alam kita lebih besar daripada yang pemerintah dapatkan. dan kebodohan terbesarnya adalah, ada beberapa kasus yang seharusnya bisa kita kelola sendiri, tapi malah diberikan ke asing. cukup aneeh…
yah. walaupun sudah tidak untung lagi di 120 dolar per barel, tapi subsidinya tidak sampai 250~300 trilyun seperti yang disebutkan pak jusuf kala..
aah.. pusing pusing ^^;
Akhirnya… ada yang berpikiran sama dengan saya…
*berkaca-kaca….